Anda di halaman 1dari 4

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Perusahaan

Tangkelek berdiri pada tahun 2009 dengan Distro pertama berada di Plaza Andalas. Tiga
bulan kemudian, distro kedua dibuka di Bukittinggi. Distro khas Minangkabau pertama di
Sumatera Barat ini didirikan oleh Fefry Rusji dan Khalid Arafah yang merupakan alumni
Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Padang.

Menurut Manager Tangkelek Bukittinggi Bambang Idaman, brand Tangkelek diambil dari
nama sendal kayu khas Sumatera Barat yang terkenal dengan ketahanannya.

Tangkelek tetap berusaha tumbuh meski pada 2009 pernah terdampak gempa. Saat itu distro
pertama di Plaza Andalas Padang ikut roboh sehingga mereka mendirikan Distro baru di Kota
Padang yang berada di Jalan S. Parman Ulak Karang Padang.

tujuan utama Tangkelek berdiri adalah untuk membuka lapangan pekerjaan. Dengan modal
awal Rp 50 juta, Tangkelek berdiri dengan desain yang dilakukan sendiri tapi konveksi
dilakukan di Bandung. Namun semenjak 2013, Tangkelek telah memiliki konveksi sendiri
yang kini berada di Tanggerang.

Tangkelek saat ini memproduksi empat jenis t-shirt, pertama produk Kantau seharga
Rp40.000, Tampurung Rp65.000, Tangkelek Rp75.000, dan Tangkelek Premium Rp115.000.
Sementara jenis premium hanya diproduksi terbatas, tergantung pesanan.

4.2 Identifikasi Permasalahan

Sistem harga transfer sejatinya merupakan suatu harga jual khusus yang dipakai dalam
pertukaran antar divisional untuk mencatat pendapatan divisi penjual (selling division)
dan biaya divisi pembeli (buying divison) (Henry Simamora, 1999:272) serta
terkadang digunakan untuk mengevaluasi kinerja divisi dan memotivasi manajer divisi
penjual dan divisi pembeli menuju keputusan-keputusan yang serasi dengan tujuan
perusahaan secara keseluruhan. (Joshua Ronen and George McKinney, 1970:100-
101). Namun praktik yang dilakukan oleh perusahaan ini sebagai perusahaan konveksi
baju sering tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka lakukan atau tidak sesuai
dengan mekanisme sistem harga transfer yang sesungguhnya. Dimana perusahaan
melakukan praktik transfer pricing ini hanya untuk menghindari pungutan pajak dalam
negeri supaya penghasilan perusahaan atau pemegang saham menjadi lebih tinggi.

4.3 Pembahasan Harga Transfer pada Tangkelek

Konveksi Tangkelek memiliki dua Departemen (Departemen Produksi dan Departemen


Penjualan & Pemasaran) yang dibentuk sebagai pusat laba. Departemen Produksi
menghasilkan bahan baku untuk konveksi baju dan dijual di pasar luar sebanyak 10% dan
sisanya ditransfer ke Departemen penjualan & pemasaran. Manajer Departemen Produksi dan
Departemen Penjualan-Pemasaran sedang mempertimbangkan penentuan harga transfer
untuk bahan baku konveksi tersebut untuk tahun anggaran 2017. Menurut anggaran,
Departemen Produksi akan beroperasi pada kapasitas normal sebanyak 1000 unit dengan
taksiran biaya benuh untuk tahun anggaran 2017 sebagai berikut :

Biaya produksi Rp. 30.000.000

Biaya administrasi dan umum Rp. 5.000.000

Biaya pemasaran Rp. 10.000.000

-------------------- +

TOTAL biaya penuh Departemen Produksi Rp. 45.000.000

Total aktiva yang diperkirakan pada awal tahun anggaran adalah sebesar Rp. 100.000.000
dan laba yang diharapkan yang dinyatakan dalam ROI = 20%

Langkah awal kita harus mengetahui terlebih dahulu berapa harga transfer untuk
bahan baku konveksi tersebut :

Perhitungan Markup :
Biaya administrasi & umum Rp. 10.000.000

Biaya pemasaran Rp. 20.000.000


Laba yang diharapkan : 20% x Rp. 100.000.000 Rp. 20.000.000

-------------------- +

Jumlah Rp. 50.000.000

Biaya Produksi Rp. 45.000.000

---------------------

Markup 111%

Perhitungan Harga Transfer :


Biaya Produksi Rp. 45.000.000

Markup 111% x Rp. 45.000.000 Rp. 49.950.000

-------------------- +

Jumlah harga jual Rp. 94.950.000

Volume produksi 1.000 unit

Harga transfer perunit Rp. 94.950

Disini Tangkelek menjual dari Departemen Produksi ke Departemen penjualan & pemasaran
sebesar Rp. 100.000,- dengan dalih menurunkan laba agar pajak yang nantinya dikenakan
bisa diturunkan. penghitungan untuk usaha perseorangan/pribadi yang tidak mempunyai
badan usaha tetap seperti CV, PT, atau Firma, mengacu pada Undang Undang Pajak
Penghasilan No. 10 Tahun 1994 yang diubah dengan Undang Undang PPh Tahun 2008
yang mulai berlaku tahun 2009 dengan tarif sebagai berikut:

LAPISAN PENGHASILAN KENA PAJAK

TARIF

s/d Rp 50.000.000 5%

Di atas Rp 50.000.000 s/d Rp 250.000.000 15 %


Di atas Rp 250.000.000 s/d Rp 500.000.000 25 %

Di atas Rp 500.000.000 30 %