Anda di halaman 1dari 11

KEPERAWATAN INDUSTRI DAN KELAUTAN

DASAR DASAR TOKSIKOLOGI


By KELOMPOK V

1. BENYAMIN LO
2. HERLINA
3. RIDWAN
4. NURLINDA CORA
5. HIJRIANA
6. SURIANTI
7. LINDARI R. MAKASSAR
8. NURLAILA S.TAHIR
9. ILHAM BUAMONA
10. NAZRIA NUR

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011
DASAR DASAR TOKSIKOLOGI

A. Defenisi Toksikologi
Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari sumber, sifat serta khasiat racun, gejala-gejala
dan pengobatan pada keracunan, serta kelainan yang didapatkan pada korban yang
meninggal.
Defenisi Toksikologi menurut beberapa ahli :
Ahli Kimia Toksikologi adalah ilmu yang bersangkut paut dengan efek-efek dan
mekanisme kerja yang merugikan dari agent-agent Kimia terhadap binatang dan manusia.
Ahli Farmakologi Toksikologi merupakan cabang Farmakologi yang berhubungan
dengan efek samping zat kimia didalam sistem biologik.
Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik yang dalam dosis
toksik akan menyebabkan gangguan kesehatan atau mengakibatkan kematian.
B. Sejarah Toksikologi
1. Zaman Purbakala :
Manusia-manusia purbakala dahulu sadar benar mengenai bahaya keracunan dari bisa-
bisa binatang dan tumbuh-tumbuhan beracun. Pengetahuan-pengetahuannya digunakan
untuk berburu, untuk lebih efektif berperang dan mungkin untuk menyingkirkan
kelompok-kelompok kecil yang tidak diinginkan dari masyrakat yang masih sederhana.
Papyrus Eber barangkali merupakan medical record yang pertama (1500 S.M) yang
berisi informasi yang meluas sampai berabad-abad kebelakang. Lebih dari 800 resep
yang diberikan, beberapa diantaranya mengenai racun yang dikenal. Untuk contoh,
orang menjumpai mengenai beracun yang belakangan dikenal sebagai racun dari
Greek, Aconite, suatu racun anak panah dari Cina purbakala.
Hippocrates, ketika memperkenalkan pengobatan yang layak sekitar 400 SM
menambahkan sejumlah racun-racun. Selanjutnya dia menuliskan pelajaran-pelajaran
yang bisa dipertimbangkan sebagai dasar-dasar sederhana dari Toksikologi, dalam
bentuk usaha-usaha untuk mengawasi absorpsi bahan-bahan beracun dalam
pengobatan dan dosis berlebihan.

2
Theophratus (370-286 S.M), seorang murid Aristoteles memasukkan sejumlah besar
rujukan-rujukan mengenai tumbuh-tumbuhan beracun dalam De Historia Plantarum.
Dioscorides, seorang ahli fisika Greek di kekaisaran Nero membuat usaha pertama
menggolongkan racun-racun yang disertai oleh uraian-uraian dan gambaran-
gambarannya. Pemisahan kedalam raun-racun tumbuh-tumbuhan binatang dan
mineral yang dia gunakan, tidak saja menjadi standard selama 16 abad, tetapi sampai
sekarang masih merupakan penggolongan yang cocok.
2. Abad Pertengahan :
Pada masa ini tukang racun telah menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan masyarakat, sedikitnya sebagai alat politik. Catatan-catatan dari dewan seperti
Florence, dan terutama dewan 10 dari Venice, berisi banyak kesaksian mengenai
pemakaian racun secara politik. Korban-korban disebut namanya, harga-harga dibuat,
kontrak dicatat, dan apabila pembunuhan telah selesai, pembayaran dilaksakanakan.
Figur yang terkenal pada saat itu adalah seorang wanita bernama Toffana yang
menjajakan kosmetik yang dipersiapkan secara khusus mengandung Arsen (Aqua
Toffana).
3. Abad Terang :
Pada akhir abad pertengahan, orang yang terkenal dalam ilmu dan kedokteran
adalah P.A.T.B von Hohenheim-Paracelcus (1493-1541). Dia mengangkat fokus
mengenai " toksikon" yang merupakan zat kimia yang sungguh-sungguh ada. Satu
pandangan yang diberikan oleh Paracelcus yang menjadi sumbangan yang dijunjung
tinggi adalah :
percobaan merupakan hal yang penting dalam pemeriksaan respon-respon terhadap
zat kimia.
orang harus membedakan mengenai sifat-sifat pengobatan dan sifat-sifat racun dari
suatu zat kimia.
sifat-sifat ini kadang-kadang, tetapi tidak selalu, sukar dibedakan kecualioleh Dosis.
orang harus menegaskan tentang tingkat kespesifikan dari zat-zat kimia dan effek
pengobatan dan effek toksisnya.
Sumbangan penting lainnya adalah bukunya yang berjudul Bergsucht yang
berisikan penjelasan mengenai penyakit-penyakit akibat kerja dari penambang-
penambang.
3
4. Toksikologi Modern :
Mattieu Yoseph Bonaventura Orfilla (1787-1853), Orfilla adalah orang pertama yang
berusaha menghubungkan secara sistematis diantara informasi kimia dan biologis dari
racun. Dia juga menetapkan toksikologi sebagai suatu disiplin ilmu dan menetapkan
toksikologi sebagai satu pelajaran mengenai racun-racun. Orfilla juga mengajukan
hubungan kimia dengan ilmu hukum.
Farancois Magendi (1783 -1855) menghabiskan sebagian waktunya dalam memahami
mengenai mekanisme kerja dari emetin dan strikhnin. Dia juga tertarik dengan racun-
racun anak panah yang digunakan suku-suku primitif dan memulai pemahaman kerja
mereka.
Louis Lewin (1854-1929) Dia banyak menerbitkan tulisan-tulisan mengenai
toksikologi Diantara penerbitan-penerbitannya antara lain adalah :
1. A Toxicologist's View of World Histry
2. A Text book of Toxicology
C. Peran-peran Toksikologi
Toksikologi modern menunjukkan perkembangan yang lebih luas dari perkembangan
sederhana dizamannya orfilla. Ini terlihat dari minat dan aktifitas yang hebat dalam
menguraikan Toksikologi:
Pada pengolahan makanan-makanan sering ditambahkan bahan additif guna
pengawetannya maupun kesegarannya dan kelezatannya. Dalam hal ini toksikologi
berperan penting dalam menjamin keamanan dari bahan yang ditambahkan.
Pada obat-obatan yang digunakan dimana rumusnya semakin rumit, kekuatan
semakin besar, jenisnya semakin bermacam-macam, disini toksikologi berperan
sekali mengenai masalah keamanan penggunaan obat-obatan ini.
Untuk mencegah dan mengatasi bahaya-bahaya industri, toksikologi juga penting
peranannya. Para ahli Toksikologi akan menentukan apakah suatu hasil produksi
aman atau tidak bagi kesehatan manusia.
D. Bidang-Bidang Toksikologi
Dalam perkembangannya, toksikologi mempunyai beberapa bidang, yaitu:

4
1. Deskriptiv Toksikologi
Deskriptiv Toksikologi secara langsung berhubungan dengan pengujian-pengujian sifat
racun. Pengujian-pengujian racun yang tepat dalam binatang-binatang percobaan
ditemukan menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk menilai bahaya yang
ditujukan ke manusia dan lingkungan oleh pemaparan ke bahan-bahan kimia tertentu..
2. Mekanistik Toksikologi
Machanistik toksikologist aktifitasnya berhubungan dengan penguraian mekanisme yang
dipergunakan oleh zat-zat kimia dalam mengembangkan effek-effek toksis mereka pada
organisme-organisme hidup. Hasil pemahaman-pemahaman ini sering mengarah ke
pengujian-pengujian yang merupakan ramalan yang sensitive yang berguna dalam
memperoleh informasi untuk menaksir bahaya, untuk membantu berkembangnya bahan-
bahan kimia yang lebih aman atau menyarankan pengobatan yang masuk akal untuk
gejala-gejala keracunan. Mekanistik Toksikologi aktif di universitas, institut-institut
penelitian yang didukung oleh pemerintah ataupun pihak-pihak swasta, dan didalam
industri obat-obatan dan kimia.
3. Regulator Toksikologi
Bidang ini memiliki tanggung jawab langsung memutuskan atas dasar data yang
disediakan oleh descriptive toxicology apakah satu obat atau zat kimia mempunyai
bahaya yang cukup rendah untuk dipasarkan bagi penggunaan yang dijelaskan. F.D.A (=
Food and Drug Adminsitration) bertanggung jawab untuk pengakuan terhadap obat-
obatan, kosmetika bahan additif pada makanan-makanan yang dipasarkan.mE.P.A (=
Environmental Protection Agency) bertanggung jawab untuk pengaturan banyak zat-zat
kimia yang lain.mRegulatory Toxicologist juga terlibat dalam penegakkan standard-
standar untuk jumlah bahan-bahan kimia yang diizinkan dalam udara sekitar, dalam air
minum,dalam atmosfir industri.

5. Forensi Toksikologi
Adalah satu bentuk campuran dari kimia analisa dan asas-asas dasar toksikologi. Dia
terutama berhubungan dengan aspek-aspek medicolegal (=keabsahan secara kedokteran)
dari effek yang merugikan dari zat-zat kimia pada manusia dan binatang. Keahlian para

5
ahli Toksikologi Forensic utamanya dimohonkan untuk membantu penetapan penyebab
kematian dan pengungkapan kejadian itu dalam satu penyelidikan post mortem.
6. Toksikologi Klinik
Menunjukkan bahwa didalam ilmu kedokteran ada satu bidang keahlian yang dengan
tegas berhubungan dengan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh atau disertai secara
khusus, zat-zat toksis. Dalam bidang ini usaha-usaha dilakukan yang ditujukan pada
pengobatan patien-petien yang keracunan dengan obat-obatan atau zat-zat kimia lain dan
pada perkembangan dari tehnik baru utuk mengobati keracunan ini.
7. Toksikologi Lingkungan
Cabang toksikologi ini mempelajari efek membahayakan zat-zat kimia yang terdapat
dalam lingkungan. Zat-zat kimia ini masuk ke dalam tubuh secara tidak sengaja karena
terdapat dalam atmosfer (misal. CO2 dan SO2), dalam lingkungan kerja (misal\; timbal
dalam pabrik aki) atau terdapat dalam makanan dan air.
8. Toksikologi ekonomik
Toksikologi ekonomik adalah cabang toksikologi yang mempelajari efek membahayakan
zat-zat kimia yang secara sengaja dimasukkan ke dalam organisme hidup untuk mencapai
tujuan tertentu. Zat-zat kimia yang termasuk dalam ruang lingkup toksikologi ekonomik
ialah :
a) obat untuk manusia dan hewan
b) zat-zat kimia yang dipergunakan sebagai zat tambahan makanan dan minuman serta
kosmetika
c) zat-zat kimia yang dipergunakan manusia untuk memusnahkan spesies lain secara
selektif (dalam hal ini, manusia dianggap sebagai spesies ekonomik, sedangkan
spesies yang tdiak dikehendaki atau yang akan dimusnahkan : serangga dianggap
sebagai spesies nonekonomik).
E. Penggolongan Agen-Agen Toksik
Agent-agent toksis bisa juga digolongkan berdasarkan :
Sifat fisiknya : gas, debu, logam-logam
Kebutuhan labellingnya : mudah meledak, mudah terbakar, pengoksidir
Kimianya : turunan-turunan anilin, Hidro Karbon dihalogenasi dan seterusnya
Daya racunnya : sangat-sangat toksis, sedikit toksis dan lain-lain.
Discorides yang membagi racun-racun kedalam racun-racun binatang, tumbuh-tumbuhan.
6
Sumber Binatang:
Dalam penggolongan permulaan ini meliputi bisa-bisa dan toxin-toxin yang dihasilkan
didalam organ-organ khusus dari ular, laba-laba dan binatang-biatang laut.
Sumber Tumbuhan:
Pada system penggolongan mutakhir yang berdasarkan sumber tanaman ini berisi bentuk
tumbuh-tumbuhan yang lebih rendah (Kingdom Protista) dalam penggolongan menurut
Haeckle) karena mereka adalah sumber antibiotik, jamur penghasil agent-agent seperti
ergot.
F. Lintasan Dan Tempat Pemaparan
Lintasan-lintasan utama yang dipakai oleh agent-agent toksis untuk membebani tubuh
adalah:
melalui Tractus Gastro Intestinalis (menelan)
paru-paru (menghirup)
kulit (topical)
pemberian melalui parenteral
G. Zat-Zat Beracun
1. Timah hitam (Pb)
Darah : anemia mikrositik hipokromiksering terjadi
Sistem saraf : neuropati perifer, ensefalopati
Ginjal : kerusakan interstisial pada ginjal, gout akut, kerusakan ginjal dan hipertensi
Organ reproduksi : penurunan fertilitas pada wanita, strelisasi dan atrofi pada pria
Sal.pencernaan : hilang nafsu makan, nyeri kolik abdomen dan konstipasi
2. Arsen (As)
Bersifat korosif pada lapisan epitel sal.pernafasan dan sal.cerna, kulit dan jaringa lain
Akut : mual yang hebat, muntah, nyeri abdomen, iritasi kulit, laryngitis dan bronchitis
Kronik : perforasi septum nasal, iritasi kulit, neuropati sensori, rambut rontok, depresi
sumsum tulang, dll
3. Merkuri (Hg)
Akut : Nyeri dada dan nafas pendek, rasa logam pada lidah, mual dan muntah.
Kerusakan ginjal akut dapat ditemukan kemudian
Kronik : Gingivitis, perubahan warna gusi dan rontoknya gigi
7
H. Dasar Penilaian Tingkat Toksikologis
Prosedur pemeriksaan toksisitas obat dan zat kimia menjadi sangat rumit dan semuanya
dilakukan untuk mencegah kejadian yang dapat merugikan konsumen atau pasien. Tetapi perlu
disadari bahwa uji keamanan yang ketat sekalipun tidak dapat menjamin kemanan konsumen
100%. Setiap zat kimia pada dasarnya bersifat racun dan terjadinya keracunan ditentukan oleh
dosis dan cara pemberian. Pancelsus pada tahun 1564 telah meletakkan dasar penilaian
toksikologis dengan mengatakan, bahwa dosis menentukan apakah suatu zat kimia adalah racun
(dosis sola facit venenum). Sekarang dikenal banyak faktor yang menentukan apakah suatu zat
kimia bersifat racun, namun dosis tetap merupakan faktor utama yang terpenting. Untuk setiap
zat kimia, termasuk air, dapat ditentukan dosis kecil yang tidak berefek sama sekali, atau suatu
dosis besar sekali yang dapat menimbulkan keracunan dan kematian. Untuk zat kimia dengan
efek terapi, maka dosis yang adekuat dapat menimbulkan efek farmakoterapeutik.

I. Toksikologi Eksperimental

Percobaan toksisitas sangat bervariasi dan suatu protokol yang kaku akan membuat penelitian tidak
relevan atau menghasilkan kesimpulan yang tidak sahih. Karena itu jenis pemeriksaan toksisitas harus
didasarkan pada sifat zat (kimia atau obat) yang akan digunakan serta cara pemakaiannya. Penilaian
komprehensif dapat diperoleh melalui penyelidikan farmakokinetik, farmakodinamik dan toksikologi.

1. Uji Farmakokinetik

Uji farmakokinetik diperoleh melalui penelitian nasib obat dalam tubuh, yang menyangkut
absorpsi, distribusi, redistribusi, biotransformasi dan ekskresi obat. Pengetahuan mengenai hal ini
penting untuk menafsrkan tidak saja efek terapi tetapi, toksisitas suatu zat. Karasteristik absorpsi
penting untuk diketahui ;zat kimia serta derajat ionisasi yang rendah akan mudah diserap melalui
dinding sel. Sebaliknya, alkaloid dan gugus molekul yang berionisasi baik akan sukar diabsorpsi.
Banyak sekali faktor yang mempengaruhi absorpsi ini, sehingga akan mempengaruhi dosis dan
toksisitasnya. Cara absorpsi yang diteliti sebaiknya disesuaikan dengan cara pemakaiannya.
Setelah diabsorpsi semua, zat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.
Distribusi ini mungkin tidak akan merata dan akumulasi sering dilihat dalam organ tubuh tertentu.
Efek toksik obat dapat tergantung dari akumulasi ini seperti juga efek terapinya. Pengikatan suatu
zat oleh protein plasma dapat mengurangi efektivitas/toksisitasnya. Otak mempunyai emacam
sawar yang menghalangi beberapa zat dengan sifat tertentu untuk masuk ke dalamnya. Keadaan
distribusi ini tidak statis tetapi sangat dinamis sehingga selalu obat akan mengalami redistribusi

8
dalam cairan dan organ tubuh. Setiap obat atau zat akan dianggap oleh tubuh sebagai bahan asing.,
sehingga tubuh merombaknya menjadi bentuk yang dapat diekskresi (lebih larut dalam air, lebih
polar). Metabolit yang terbentuk biasanya tidak aktif lagi dan toksisitas biasanya berkurang,
walaupun kadang-kadang dapat terjadi sebaliknya, sehingga mungkin metabolit lebih toksik. Alat
ekskresi terpenting ialah hati dan ginjal. Ekskresi obat dapat terjadi dalam bentuk asalnya maupun
bentuk metabolit. Pengetahuan mengenai ini penting dalam toksikologi karena pada keracunan,
usaha untuk meningkatkan diuresis hanya dapat bermanfaat bila obat yang bersangkutan
dikeluarkan melalui urin dalam bentuk aktif dan bukan dalam bentuk metabolit inaktif.

2. Uji Farmakodinamik
Sebelum suatu obat dapat digunakan untuk indikasi tertentu, harus diketahui dahulu efek apa yang
terjadi terhadap semua organ dalam tubuh yang sehat. Screening efek farmakodinamik ini sangat
diperlukan. Jarang terdapat suatu obat yang hanya memiliki satu jenis efek;hampir semua obat
mempunyai efek tambahan dan mampu mempengaruhi fungsi berbagai macam alat dan faal tubuh.
Efek yang menonjol , biasanya merupakan pegangan dalam menentukan penggunaannya,
sedangkan perubahan lain merupakan efek samping yang bahkan dapat bersifat toksik. Seringkali
sifat toksik suatu obat meruapakan lanjutan dari efek farmakodinamik atau efek terapinya.
3. Menguji Keamanan Zat Kimia
Tidak menimbulkan efek merugikan (NEL)
NEL : Jumlah konsentrasi suatu zat kimia yang ditemukan melli pen atau observasi, tidak
menimbulkan kelainan, perubahan fungsi organ, perubahan pertumbuhan
Keamanan : 10 x 10 perbedaan antara manusia

perbedaan hewan dan manusia

10 x 10 = ADI (Acceptable Daily Intake)

100

ADI = NEL mg/kg BB/hr

100

Bila bahan kimia diakumulasi di dalam tubuh Tidak digunakan sebagai bahan tambahan
pada makanan.

MPC (Maximal Permission Consentration)

9
MPC = ADI x BB (kg) = ppm

Faktor makanan (kg)

I. Faktor Yang Mempengaruhi Keracunan


1. Cara masuk
Keracunan paling cepat terjadi jika masuknya racun secara inhalasi. Cara masuk lainsecara
berturut-turut melalui intravena, intramuskular, intraperitoneal, subkutan, peroral danpaling
lambat ialah melalui kulit yang sehat.
2. Umur.
Orang tua dan anak-anak lebih sensitiv misalnya pada barbiturat. Bayi prematur lebih
rentan terhadap obat oleh karena eksresi melalui ginjal belum sempurna dan aktifitas
mikrosom dalam hati belum cukup.
3. Kondisi tubuh
Penderita penyakit ginjal umumnya lebih mudah mengalami keracunan. Pada penderita
demam dan penyakit lambung absorbsi jadi lebih lambat.
4. Kebiasaan
Berpengaruh pada golongan alkohol dan morfin di karenakan terjadi toleransi pada orang
yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol.
5. Idiosinkrasi dan alergi pada vitamin E, penisilin, streptomisin dan prokain.
Pengaruh langsung racun tergantung pada takaran, makin tingi takaran maka akan makin
cepat (kuat) keracunan. Konsentrasi berpengaruh pada racun yang bersifat lokal, misalnya
asam sulfat.

J. Bentuk-Bentuk Keracunan
1. Keracunan akut
penyerapan terjadi dengan cepat dan paparan sangat mendadak dan berat, mis : menelan
syanida
2. Keracunan sub akut
keracunan timbul akibat paparan yang sering dan berulang, mis : penggunaan penyemprot
insektisida

10
3. Keracunan kronik
paparan yang berulang selama jangka waktu yang lama oleh benda toksik yang dapat
berakumulasi dalam tubuh, mis : makan makanan yang mengandung bahan toksik dalam
jumlah kecil.
K. Dasar dalam menangani kasus keracunan
Mencegah pemaparan yang lebih lanjut terhadap racun
Mengeluarkan racun yang belum diabsorbsi
Penggunaan antidotum
Mengeluarkan racun yang sudah sempat diabsorbsi
Pengobatan simptomatik
Penggunaan antidotum:
1. Antidotum mekanis,misalnya:
banyak makan
albumin telur
zat arang
2. Antidotum kimia,misalnya:
Asam lemah dan basa lemah
Jeruk nipis
PK
Antidotum universal
3. Antidotum fisiologis,misalnya:
fisostigmin atau neostigmin
bemegrid
nalorfin
Barbiturate

11