Anda di halaman 1dari 13

RUBELLA PADA KEHAMILAN

(Disusun untuk Memenuhi Tugas Epidemiologi)

Oleh :
Kelompok 3
Dhea Fernindi 1515371012
Riska Puspita Fitriana 1515371029
Tardania Santia 1515371035
Yeni Rahmayanti 1515371037
Yunita Ratna Sari Sutyo 1515371040
Suci Permata Sari 1414245037

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
PROGRAM STUDI KEBIDANAN METRO
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi virus Rubella dan Rubeola merupakan penyakit ringan pada anak
dan dewasa, tetapi apabila terjadi pada ibu yang sedang mengandung virus ini
dapat menembus dinding plasenta dan langsung menyerang janin. Rubella atau
dikenal juga dengan nama Campak Jerman adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus Rubella. Virus biasanya menginfeksi tubuh melalui
pernapasan seperti hidung dan tenggorokan.
Sindroma rubella kongenital terjadi pada 25% atau lebih bayi yang lahir dari
ibu yang menderita rubella pada trimester pertama. Jika ibu menderita infeksi ini
setelah kehamilan berusia lebih dari 20 minggu, jarang terjadi kelainan bawaan
pada bayi. Kelainan bawaan yang bisa ditemukan pada bayi baru lahir adalah tuli,
katarak, mikrosefalus, keterbelakangan mental, kelainan jantung bawaan dan
kelainan lainnya.
Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial
untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan
lainnya. Berpikir kritis telah lama menjadi tujuan pokok dalam pendidikan sejak
1942. Penelitian dan berbagai pendapat tentang hal itu, telah menjadi topik
pembicaraan dalam sepuluh tahun terakhir ini. Definisi berpikir kritis banyak
dikemukakan para ahli.

B. Tujuan
1. Mampu mengetahui pengertian Rubella
2. Mampu menjelaskan etiologi Rubella
3. Mampu menyebutkan tanda dan gejala Rubella pada ibu hamil
4. Mampu mengetahui pencegahan dan pemeriksaan Rubella
5. Mampu menjelaskan critical thinking (berfikir kritis) dalam asuhan
kebidanan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Rubella

Rubella atau campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan suatu virus
RNA dari golongan Togavirus. Penyakit ini relatif tidak berbahaya dengan
morbiditas dan mortalitas yang rendah pada manusia normal. Tetapi jika infeksi
didapat saat kehamilan, dapat menyebabkan gangguan pada pembentukan organ
dan dapat mengakibatkan kecacatan. Virus penyebab rubela atau campak Jerman
ini bekerja dengan aktif khususnya selama masa hamil. Akibat yang paling
penting diingat adalah keguguran, lahir mati, kelainan pada janin, dan aborsi
terapeutik, yang terjadi jika infeksi rubela ini muncul pada awal kehamilan,
khususnya pada trimester pertama. Apabila seorang wanita terinfeksi rubela
selama trimester pertama, ia memiliki kemungkinan kurang lebih 52% melahirkan
bayi dengan sindrom rubela kongenital (CRS, Congenital Rubella Syndrome).

Angka tersebut akan meningkat menjadi 85%, jika ibu terinfeksi rubela
pada usia kehamilan kurang dari 8 minggu. Kelainan CRS yang paling sering
muncul adalah katarak, kelainan jantung, dan tuli. Kemungkinan lainnya adalah
glaukoma, mikrosefalus, dan kelainan lain, termasuk kelainan pada mata, telinga,
jantung, otak, dan sistem saraf pusat. Janin dengan CRS sering kali mengalami
retardasi pertumbuhan intrauteri dan pascanatal. Infeksi rubela yang terjadi pada
usia kehamilan lebih dari 12 minggu jarang menyebabkan kelainan.

Rubella Pada Kehamilan


10 15% wanita dewasa rentan terhadap infeksi Rubella. Perjalanan
penyakit tidak dipengaruhi oleh kehamilan dan ibu hamil dapat atau tidak
memperlihatkan adanya gejala penyakit. Derajat penyakit terhadap ibu tidak
berdampak terhadap resiko infeksi janin. Infeksi yang terjadi pada trimester I
memberikan dampak besar terhadap janin. Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi
pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika
infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan
adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya
menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists,
1981).
Bila ibu hamil yang belum kebal terserang virus Rubella saat hamil kurang
dari 4 bulan, akan terjadi berbagai cacat berat pada janin. Sebagian besar bayi
akan mengalami katarak pada lensa mata, gangguan pendengaran, bocor jantung,
bahkan kerusakan otak. Infeksi Rubella pada kehamilan dapaT menyebabkan
keguguran, bayi lahir mati atau gangguan terhadap janin Susahnya, sebanyak 50%
lebih ibu yang mengalami Rubella tidak merasa apa-apa. Sebagian lain
mengalami demam, tulang ngilu, kelenjar belakang telinga membesar dan agak
nyeri. Setelah 1-2 hari muncul bercak-bercak merah seluruh tubuh yang hilang
dengan sendirinya setelah beberapa hari. Tidak semua janin akan tertular. Jika ibu
hamil terinfeksi saat usia kehamilannya < 12 minggu maka risiko janin tertular
80-90 persen. Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu, maka
risiko janin terinfeksi turun yaitu 10-20 persen.
Namun, risiko janin tertular meningkat hingga 100 persen jika ibu
terinfeksi saat usia kehamilan > 36 minggu. Untungnya, Sindrom Rubella
Kongenital biasanya terjadi hanya bila ibu terinfeksi pada saat umur kehamilan
masih kurang dari 4 bulan. Bila sudah lewat 5 bulan, jarang sekali terjadi infeksi.
Di samping itu, bayi juga berisiko lebih besar untuk terkena diabetes melitus,
gangguan tiroid, gangguan pencernaan dan gangguan syaraf.

B. Etiologi

Virus yang ditularkan melalui kontak udara maupun kontak badan. Virus ini
bisa menyerang usia anak dan dewasa muda. Pada ibu hamil bisa mengakibatkan
bayi lahir tuli. Penularan virus rubella adalah melalui udara dengan tempat masuk
awal melalui nasofaring dan orofaring. Setelah masuk akan mengalami masa
inkubasi antara 11 sampai 14 hari sampai timbulnya gejala. Hampir 60 % pasien
akan timbul ruam. Penyebaran virus rubella pada hasil konsepsi terutama secara
hematogen. Infeksi kongenital biasanya terdiri dari 2 bagian : viremia maternal
dan viremia fetal. Viremia maternal terjadi saat replikasi virus dalam sel trofoblas.
Kemudian tergantung kemampuan virus untuk masuk dalam barier bayi-bayi lain,
disamping bagi orang dewasa yang rentan dan berhubungan dengan bayi tersebut.

C. Tanda Dan Gejala Rubella Pada Ibu Hamil

1. Flu
Gejala Rubella yang pertama ini sebenarnya mirip dengan gejala flu biasa. Akan
tetapi selain hidung tersumbat dan rentang waktu yang cukup lama, cairan hidung
atau ingus yang yang relatif cair juga dapat dijadikan indikator untuk segera
berkonsultasi dengan dokter.
2. Sakit kepala
Sakit kepala biasanya selalu diremehkan sebagai sakit pendamping lelah ataupun
flu karena pasokan oksigen ke otak yang kurang teratur. Namun berbeda bila yang
menderita adalah ibu hamil karena dapat memicu hilangnya nafsu makan sehingga
imunitas tubuh pun secara otomatis akan menurun. pada kasus Rubella, gejala
sakit kepala dalam kurun waktu sekitar 10-14 hari beruntun merupakan indikasi
positif terinfeksi. Indikasi tersebut diperkuat dengan munculnya gejala flu secara
bersamaan. Apalagi bila sang ibu sudah merasa mudah kehilangan kesadaran.
3. Kulit ruam
Ciri infeksi Rubella yang paling mudah dikenali adalah munculnya ruam
berbentuk bercak pada kulit. Dimulai dari sekitar kelenjar getah bening di sekitar
telinga yang menjadi pusat serangan virus, dan akan menjalar ke wajah dan
bagian tubuh lainnya. Ruam yang muncul mudah dibedakan karena bukan
disebabkan oleh biang keringat ataupun gatal (karena bakteri). Tanpa dipicu oleh
faktor-faktor tertentu, ruam dapat muncul secara tiba-tiba setelah 48-60 jam
setelah terinfeksi, dan kemudian menyebar dengan kecepatan penyebaran kurang
lebih 4 hari ke bagian tubuh lain.

4. Pembengkakan kelenjar getah bening


Gejala utama Rubella selain ruam adalah peradangan pada kelenjar getah bening
di area leher tepat dibelakang bawah telinga. Peradangan telinga tersebut
menyebabkan pembengkakan yang terlihat amat jelas yang diawali rasa ngilu
pada bagian tersebut. Sebagian ahli berpendapat bahwa 2 gejala ringan yaitu flu
dan sakit kepala merupakan efek yang muncul akibat proses peradangan ini.
5. Mudah lelah dan nyeri sendi
Ciri selanjutnya setelah 2 gejala utama telah muncul adalah perubahan terhadap
daya tahan dan fleksibilitas tubuh. Orang yang terinfeksi secara berangsur akan
merasa mudah lelah dan lemas. kondisi ini dikarenakan efek kombinasi gejala-
gejala yang telah muncul sebelumnya. Dampak lebih jauh dari turunya kondisi
imunitas adalah nyeri sendi. akan tetapi, umumnya penderita yang sampai
mengalami nyeri sendi adalah kalangan perempuan.
6. Demam
Demam merupakan gejala intermediet yang muncul dalam kasus Rubella.
Karakter demam yang muncul mirip dengan demam pada umumnya. Hanya saja
demam yang terjadi hanyalah demam ringan yang tidak melebihi suhu 39
derajat celcius. Perbedaan lainnya adalah demam akan berlangsung cukup lama,
yaitu antara 4-7 hari.
7. Mual berlebihan
Bagi ibu hamil, mual merupakan suatu hal yang biasa. Hal tersebut wajar karena
pengaruh perubahan metabolisme diusia kehamilan yang masih muda. Tapi
bagaimana bila mual terjadi secara berlebihan ?. Mual yang biasa dapat dikurangi
dengan meminum minuman hangat dan tidak berlangsung lebih dari 10 minggu
awal usia kandungan. Apabila mual terasa berlebih dalam kurun waktu lebih
lama, segeralah periksakan kondisi kesehatan karena bisa jadi hal itu merupakan
efek gejala infeksi virus rubella.
8. Iritasi mata
Sakit mata juga biasanya dikategorikan sebagai sakit yang biasa, dengan dasar
gangguan debu dan polusi udara yang menyebabkan iritasi hingga kornea mata
memerah. Meski demikian, tetap harus diwaspadai karena iritasi mata biasanya
akan menimbulkan gangguan yang cukup merepotkan pada ibu hamil. Belum lagi,
iritasi mata yang berlangsung 3 hari atau lebih juga bisa dikatakan sebagai
indikasi infeksi Rubella.
9. Kulit kering
Pada penderita rubella, kulit kering kerap muncul sebagai gejala pendamping
ruam atau bercak merah. Pada umumnya dampak ini muncul diarea badan.
Meskipun bukan merupakan gejala utama, tetap perlu berhati hati agar tidak
memberikan dampak lanjutan.

10. Jari kaku


Gejala terakhir dari Rubella pada ibu hamil yang kita bahas adalah jemari kaku.
Meskimasih berhubungan, apabila nyeri sendi umumnya diderita oleh perempuan,
maka jari kaku ini dapat dirasakan oleh siapa saja termasuk anak anak. Efek ini
tidak begitu saja muncul. Hanya terjadi apabila penderita berada dalam kondisi
tengah mengalami 9 gejala yang telah disebutkan sebelumnya secara bersamaan.
Oleh karena itu, gejala ini dapat menjadi indikasi bahwa kondisi penderita
tarutama ibu hamil dalam keadaan terlemah sehingga perlu penanganan intensif.

D. Pencegahan
Vaksinasi sejak kecil atau sebelum hamil. Untuk perlindungan terhadap
serangan virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang
sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal
sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella).Vaksin Rubella diberikan pada
usia 15 bulan. Setelah itu harus mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun. Bila
belum mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun, harus tetap diberikan umur 11-12
tahun, bahkan sampai remaja. Vaksin tidak dapat diberikan pada ibu yang sudah
hamil.
Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya
memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi
TORCH lainnya.
Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti Anda pernah terinfeksi atau
sudah divaksinasi terhadap Rubella. Anda tidak mungkin terkena Rubella lagi,
dan janin 100% aman. Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella
IgM dan anti-Rubella IgG positif, berarti anda baru terinfeksi Rubella atau baru
divaksinasi terhadap Rubella. Dokter akan menyarankan Anda untuk menunda
kehamilan sampai IgM menjadi negatif, yaitu selama 3-6 bulan.
Jika anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM negatif berarti anda tidak
mempunyai kekebalan terhadap Rubella. Bila anda belum hamil, dokter akan
memberikan vaksin Rubella dan menunda kehamilan selama 3-6 bulan. Bila anda
tidak bisa mendapat vaksin, tidak mau menunda kehamilan atau sudah hamil,
yang dapat dikerjakan adalah mencegah anda terkena Rubella. Bila sudah hamil
padahal belum kebal, terpaksa berusaha menghindari tertular Rubella dengan cara
berikut: Jangan mendekati orang sakit demam Jangan pergi ke tempat banyak
anak berkumpul, misalnya Playgroup sekolah TK dan SD. Jangan pergi ke tempat
penitipan anak Sayangnya, hal ini tidak dapat 100% dilaksanakan karena situasi
atau karena orang lain yang terjangkit Rubella belum tentu menunjukkan gejala
demam. Kekebalan terhadap Rubella diperiksa ulang lagi umur 17-20 minggu.
Bila ibu hamil mengalami Rubella, periksalah darah apa benar terkena Rubella.
Bila ibu sedang hamil mengalami demam disertai bintik-bintik merah, pastikan
apakah benar Rubella dengan memeriksa IgG danIgM Rubella setelah 1 minggu.
Bila IgM positif, berarti benar infeksi Rubella baru. Bila ibu hamil mengalami
Rubella, pastikan apakah janin tertular atau tidak Untuk memastikan apakah janin
terinfeksi atau tidak maka dilakukan pendeteksian virus Rubella dengan teknik
PCR (Polymerase Chain Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban
(cairan amnion). Pengambilan sampel air ketuban harus dilakukan oleh dokter ahli
kandungan & kebidanan, dan baru dapat dilakukan setelah usia kehamilan lebih
dari 22 minggu.

E. Pemeriksaan
Pemeriksaan rubella harus dikerjakan pada semua pasien hamil dengan
mengukur IgG . Mereka yang non-imune harus memperoleh vaksinasi pada masa
pasca persalinan. Tindak lanjut pemeriksaan kadar rubella harus dilakukan oleh
karena 20% yang memperoleh vaksinasi ternyata tidak memperlihatkan adanya
respon pembentukan antibodi dengan baik. Infeksi rubella tidak merupakan kontra
indikasi pemberian ASI tidak ada terapi khusus terhadap infeksi Rubella dan
pemberian profilaksis dengan gamma globulin pasca paparan tidak dianjurkan
oleh karena tidak memberi perlindungan terhadap janin.Pemeriksaan
Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM.
Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya
kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan,
dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama
sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan
risiko infeksi rubella bawaan.

F. Terapi Antivirus
1. Acyclovir adalah anti virus yang digunakan secara luas dalam kehamilan
2. Acyclovir diperlukan untuk terapi infkesi primer herpes simplek atau virus
varicella zoster yang terjadi pada ibu hamil
3. Selama kehamilan dosis pengobatan tidak perlu disesuaikan
4. Obat antivirus lain yang masih belum diketahui keamanannya selama
kehamilan : Amantadine dan Ribavirin

G. Critical Thinking (Berfikir Kritis) dalam Asuhan Kebidanan


Berpikir kritis adalah cara berpikir tentang subjek, konten, atau masalah yang
dilakukan oleh pemikir secara aktif dan terampil secara konseptual dan
memaksakan standar yang tinggi atas intelektualitas mereka. Dapat juga diartikan
sebagai proses berfikir secara aktif dalam menerapkan, menganalisis, mensintesis,
dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dan atau dihasilkan melalui
observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai acuan dalam
meyakini suatu konsep dan atau dalam melakukan tindakan. Dalam
pelaksanaannya, hal ini didasarkan pada nilai-nilai universal intelektual yang
melampaui cabang suatu ilmu yang meliputi: kejelasan, akurasi, presisi,
konsistensi, relevansi, bukti suara, alasan yang baik, kedalaman, luasnya ilmu, dan
keadilan.
Dengan adanya proses berfikir kritis diharapkan dapat:
1. Menimbulkan pertanyaan penting terkait topik/masalah yang sedang
difikirkan, kemudian dapat merumuskan masalah dengan jelas dan tepat
2. Mengumpulkan dan menilai informasi yang relevan, menggunakan ide-ide
abstrak untuk menafsirkan secara efektif terkait kesimpulan yang
beralasan dan solusi pemecahan masalah, menguji alternatif pemecahan
masalah terhadap kriteria dan standar yang relevan
3. Berpikir terbuka dalam sistem pemikiran alternatif, mampu mengakui dan
menilai setiap permasalahan dengan asumsi yang beralasan, dapat
menimbulkan implikasi, dan konsekuensi praktis
4. Berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dalam mencari tahu solusi
untuk masalah yang kompleks.
Proses berfikir kritis memerlukan komunikasi yang efektif dan kemampuan
pemecahan masalah serta komitmen untuk mengatasi sikap egois dan tertutup,
dengan prosedur:
1. Mengenali masalah untuk menemukan cara-cara yang bisa diterapkan
guna memecahkan masalah tersebut
2. Memahami pentingnya prioritas dan urutan prioritas dalam pemecahan
masalah
3. Mengumpulkan dan menyusun informasi yang terkait (relevan)
4. Mengenali asumsi yang tak tertulis dan nilai-nilai
5. Memahami dan menggunakan bahasa dengan akurat, jelas, dan tajam
6. Menafsirkan data untuk menilai bukti dan mengevaluasi argument/
pendapat
7. Menyadari keberadaan hubungan logis antara proposisi
8. Menarik kesimpulan dan generalisasi yang dibenarkan
9. Menguji kesimpulan dan generalisasi masalah
10. Merekonstruksi pola yang telah diyakini atas dasar pengalaman yang lebih
luas
11. Memberikan penilaian yang akurat tentang hal-hal tertentu dan kualitas
dalam kehidupan sehari-hari.
Singkatnya, tiga kunci utama untuk dapat berfikir kritis: RED (Recognize
assumptions, Evaluate arguments dan Draw conclusions) = mengenali masalah,
menilai beberapa pendapat, dan menarik kesimpulan. Dalam menyimpulkan hasil
pemikiran kritis, diperlukan upaya gigih untuk memeriksa setiap keyakinan atau
pemahaman akan pengetahuan berdasarkan dukungan bukti ilmiah (evidence
based) yang mendukung kecenderungan pengambilan kesimpulan tersebut.
Proses berfikir kritis merupakan kerangka dasar bidan dalam memberikan
asuhan kebidanan, dalam bingkai manajemen kebidanan. Sehingga, apabila bidan
memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan menerapkan prinsip-prinsip
manajemen kebidanan dengan sistematis dan terpola, maka bidan tersebut telah
menerapkan proses berfikir kritis. Penerapan dalam asuhan kebidanan ibu hamil
adalah dengan melaksanakan antenatal care sesuai dengan program yang telah
disepakati sebagai upaya pencegahan dan penanganan secara dini penyulit dan
kegawatdaruratan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan, dengan menerapkan
manajemen kebidanan, sehingga diharapkan proses kehamilan dapat berjalan
dengan baik, ibu dapat melahirkan bayinya dengan sehat dan selamat.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Rubella atau campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan suatu virus
RNA dari golongan Togavirus. Penyakit ini relatif tidak berbahaya dengan
morbiditas dan mortalitas yang rendah pada manusia normal. Tetapi jika infeksi
didapat saat kehamilan, dapat menyebabkan gangguan pada pembentukan organ
dan dapat mengakibatkan kecacatan. Virus penyebab rubela atau campak Jerman
ini bekerja dengan aktif khususnya selama masa hamil. Rubella yang menyerang
pada ibu hamil tentu sangat membahayakan janin. Untuk itu. Para ibu hamil
diharapkan agar selalu cepat tanggap saat menemukan beberapa gejala yang
menjadi penyebab penyakit rubella.
Berpikir kritis adalah cara berpikir tentang subjek, konten, atau masalah yang
dilakukan oleh pemikir secara aktif dan terampil secara konseptual dan
memaksakan standar yang tinggi atas intelektualitas mereka. Dapat juga diartikan
sebagai proses berfikir secara aktif dalam menerapkan, menganalisis, mensintesis,
dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dan atau dihasilkan melalui
observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai acuan dalam
meyakini suatu konsep dan atau dalam melakukan tindakan.

B. Saran
Menjaga kesehatan saat hamil tidaklah sulit. Tapi ini tergantung kemauan.
Jika ingin melahirkan bayi yang sehat, sebaiknya para ibu hamil lebih bisa
menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan. Masa hamil juga sebaiknya
dimanfaatkan dengan olahraga kecil seperti jalan kaki. Ini nantinya agar dapat
membantu proses kelahiran dengan lebih mudah
DAFTAR PUSTAKA

Adam JMF. Survei diabetes melltitus pada wanita hamil. Penelitian Universitas
Hasanuddin. 1986. Amankwah KS, Prentile RL, Fleury FJ. The incidence of
gestational diabetes. Obstetric and Gynecology 1977; 49:497-498.
Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan
Ginekologi. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi
I.Jakarta : EGC