Anda di halaman 1dari 7

Kelompok 3:

Komang Desi Adi Pratiwi (1506305017 / Absen 2)


Ni Putu Nugraheni (1506305035 / Absen 4)

METODOLOGI PENELITIAN AKUNTANSI (EKA 400 BP2)


SAP 5
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

5.1 Review Literatur (Buku Teks dan Hasil Penelitian)


Review literatur merupakan uraian tentang teori, temuan dan bahan penelitian lain
yang diperoleh dari bahan acuan untuk dijadikan landasan kegiatan penelitian. Uraian
dalam review literatur ini diarahkan untuk menyusun kerangka pemikiran yang jelas
tentang pemecahan masalah pada perumusan masalah. Sekaran (2010) mendefinisikan
review literatur sebagai tahapan proses yang didalamnya terdiri dari identifikasi terhadap
hasil kerja baik yang dipublikasikan maupun tidak dari berbagai sumber data sekunder,
melakukan evaluasi terhadap hasil kerja tersebut dalam kaitannya dengan masalah, dan
yang terakhir mendokumentasikan hasil.
Review literatur dapat dilakukan terhadap beberapa sumber, diantaranya:
1. Buku teks
Buku teks biasanya memuat teori-teori yang relevan terhadap suatu topik atau area
tertentu. Tinjauan pustaka dilakukan untuk mencari landasan teori yang relevan
terhadap penelitian. Sugiyono (2012) menyatakan bahwa landasan teori perlu
ditegakkan agar penelitian memiliki dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan
coba-coba (trial and error). Landasan teori menunjukkan bahwa penelitian yang
dilakukan merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data-data yang akan digunakan.
Keunggulan buku teks adalah biasanya hal dibahas lebih luas cakupannya daripada
jurnal. Kelemahannya biasanya kurang up to date jika dibandingkan dengan jurnal.
2. Jurnal
Penting bagi peneliti untuk memilih jurnal yang digunakan sebagai sumber
literatur ilmiah. Pada jurnal peneliti dapat memperoleh informasi penelitian terdahulu
yang relevan, baik tujuan, metode, maupun hasil, yang dapat membantu mahasiswa
dalam melakukan penelitian.

1
3. Tesis
Tesis atau skripsi atau hasil karya tulis ilmiah mahasiswa dapat dijadikan sebagai
sumber literatur selama memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Peneliti bisa memilih
hasil karya ilmiah peneliti lain yang memang layak dijadikan sumber literatur
penulisan ilmiah.

5.2 Deskripsi Teori


Teori adalah suatu konseptualitas antara asumsi, konstruk, dan proposisi untuk
menerangkan suatu fenomena yang diperoleh melalui proses sistematis, dan harus dapat
diuji kebenarannya. Teori semacam ini mempunyai dasar empiris, dimana harus melalui
proses eksperimen, penelitian atau observasi, sehingga teori dapat dikatakan berhasil.
Menurut Mark (1963) dalam (Sugiyono,2012) membedakan adanya tiga macam teori.
Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris, teori ini antara lain:
1. Teori deduktif yang memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan, atau
pikiran spekulatis tertentu kearah data akan diterangkan.
2. Teori induktif yang cara menerangkannya adalah dari data ke arah teori.
3. Teori fungsional, disini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan
teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali
mempengaruhi data.
Deskripsi teori adalah suatu rangkaian penjelasan yang mengungkapkan suatu
fenomena atau realitas tertentu yang dirangkum menjadi suatu konsep gagasan,
pandangan, sikap dan atau cara-cara yang pada dasarnya menguraikan nilai-nilai serta
maksud dan tujuan tertentu yang teraktualisasi dalam proses hubungan situasional,
hubungan kondisional, atau hubungan fungsional di antara hal-hal yang terekam dari
fenomena atau realitas tertentu. Dalam suatu penelitian, deskripsi teori merupakan uraian
sistematis tentang teori dan hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti.
Berapa jumlah teori yang perlu dikemukakan/dideskripsikan, akan tergantung pada
luasnya permasalahan dan jumlah variabel yang diteliti.
Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang
diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai
referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar
variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.

2
5.3 Langkah-Langkah Mendeskripsikan Teori
Beberapa langkah dalam pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan nama variabel dan jumlah variabel yang diteliti.
2. Mencari sumber-sumber bacaan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
3. Memilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti.
4. Mencari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan,
membandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan memilih definisi
yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5. Membaca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti,
melakukan analisis, dan membuat rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap
sumber bacaan yang dibaca.
6. Mendeskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk
tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang
digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.

5.4 Kerangka Berfikir


Menurut Sekaran (1996) dalam buku ajar I Ketut Rahyuda, dkk (2004) kerangka
berfikir adalah a conceptual model of how one theorizes the relationship among the
several factors that have been identifield as impotant to the problem kerangka berfikir
merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai
faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting.
Kerangka berfikir diperlukan apabila penelitian tersebut berkenan dengan dua atau
lebih variabel. Untuk penelitian kategori ini biasanya dirumuskan hipotesis yang
berbentuk hubungan atau komparasi. Penelitian yang berkenan dengan satu variabel atau
lebih variabel mandiri maka peneliti, disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk
masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi variabel yang diteliti.
Kerangka berfikir yang dibuat merupakan penjelasan sementara yang terhadap gejala-
gejala yang menjadi obyek permasalahan. Sugiyono (2000) dalam buku ajar I Ketut
Rahyuda, dkk (2004) menyebutkan agar dapat meyakinkan sesame ilmuan, maka
kerangka berfikir memuat kriteria utama yaitu alur-alur pikiran yang logis dalam
membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa
hipotesis. Kerangka berfikir dihasilkan dari sintesa/kesimpulan dari membaca buku-buku
dan hasil-hasil penelitian terdahulu untuk suatu variabel tertentu.

3
Kerangka berpikir yang meyakinkan hendaklah memenuhi kriteria kriteria sebagai
berikut.
1. Teori yang digunakan dalam berargumentasi hendaknya dikuasai sepenuhnya serta
mengikuti perkembangan teori yang muktahir.
2. Analisis filsafat dari teori-teori keilmuan yang diarahkan kepada cara berpikir
keilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut harus disebutkan secara tersurat
semua asumsi, prinsip atau postulat yang mendasarinya.

5.5 Langkah-langkah Penyusunan Kerangka Berfikir


Proses kerangka berfikir untuk perumusan hipotesis memerlukan enam langkah
(Sugiyono, 2000, dalam buku ajar I Ketut Rahyuda, dkk, 2004) sebagai berikut:
1. Menetapkan variabel yang diteliti
2. Membaca buku dan hasil penelitian
3. Mendeskripsikan teori dan hasil penelitian
4. Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian
5. Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian
6. Sintesa dan kesimpulan
Sakeran (1996) dalam buku ajar I Ketut Rahyuda,dkk (2004) menyebutkan, suatu
kerangka berfikir yang baik memuat hal-hal sebagai berikut .
1. Variabel-variabel yang diteliti harus dijelaskan.
2. Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukan dan menjelaskan pertautan
atau hubungan antar variabel yang diteliti dan atau teori yang mendasari.
3. Diskusi juga harus dapat menunjukan dan menjelaskan apakah hubungan antar
variabel ini positif atau negative, berbentuk simetris, kausal atau timbal balik.
Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram
(paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka piker yang
dikemukakan dalam penelitian.

5.6 Bentuk-bentuk Hipotesis


Hipotesis dapat juga dipandang sebagai konklusi yang sifatnya sementara atau
jawaban sementara dari masalah yang dihadapi. Dikatakan sementara karena hipotesis
disusun berdasarkan teori yang relevan, belum berdasarkan fakta-fakta empiris. Hipotesis
dibedakan menjadi hipotesis penelitian dan hipotesis statistik.

4
1. Hipotesis penelitian yaitu jawaban sementara atas masalah penelitian, atau hioteis
yang hasilnya didapat dari hasil pengujian/teori. Hipotesis penelitian dibedakan antara
hipotesis kerja dengan hipotesis nol (nihil). Hipotesis kerja yaitu hipotesis yang akan
diuji kebenarannya. Hipotesis ini disusun atas teori yang teruji kehandalannya,
sedangkan hipotesis nol disusun dari teori yang dipandang kurang kehandalannya.
2. Hipotesis statistik ada kalau peneliti bekerja dengan sampel, atau hasil dari hipotesis /
penelitian menggunakan sampel, Apabila peneliti tidak bekerja dengan sampel maka
tidak ada hipotesis statistik. Untuk penelitian yang bekerja dengan populasi mungkin
akanada hipotesis penelitian, tetapi tidak ada hipotesis statistik.
Bila dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada
tiga yaitu: rumusan masalah deskriptif, komparatif dan asosiatif. Oleh karena itu, maka
bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu:
1. Hipotesis deskriptif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah deskriptif.
2. Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang
berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.
3. Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif,
yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Sedangkan menurut Pratiknya (2001), hipotesis dapat digolongkan dalam beberapa
jenis yaitu:
1. Hipotesis Kerja
Hipotesis ini menunjukkan hubungan-hubungan antar variabel yang merupakan
pernyataan dalam bentuk kalimat.hipotesis kerja ada dua macam, yaitu hipotesa satu
arah/satu pihak dan hipotesa dua arah/dua pihak.
2. Hipotesis nihil/ hipotesis nol
Hipotesis nol berarti secara statistik tidak ada hubungan atau tidak ada perbedaan
antar variabel yang dinyatakan dalam hipotesa kerja.
3. Hipotesis tandingan
Adalah hipotesis luar atau variabel pengganggu atau variabel yang tidak
dikehendaki, tetapi ada dan mempengaruhi variabel pengaruh. Variabel pengganggu
ini harus dikontrol agar pengaruhnya dapat dihilangkan.

5.7 Merumuskan Hipotesis

5
Hipotesis merupakan dugaan sementara yang mengandung pernyataan-pernyataan
ilmiah, tetapi masih memerlukan pengujian. Oleh karena itu, hipotesis dibuat berdasarkan
hasil penelitian masa lalu atau berdasarkan data-data yang telah ada sebelum penelitian
dilakukan secara lebih lanjut yang tujuannya menguji kembali hipotesis tersebut. Akan
tetapi, peneliti tidak boleh memanipulasi data sedemikian rupa sehingga mengarah
ketidakterbuktian hipotesis. Ia harus bersikap objektif terhadap data yang terkumpul.
Awal terbentuknya hipotesis dalam sebuah penelitian biasanya diawali atas dasar
terkaan atau conjecture peneliti. Meskipun hipotesis berasal dari terkaan, namun sebuah
hipotesis tetap harus dibuat berdasarkan paca sebuah acuan, yakni teori dan fakta ilmiah.
1. Teori sebagai Acuan Perumusan Hipotesis
Untuk memudahkan proses pembentukan hipotesis, seorang peneliti biasanya
menurunkan sebuah teori menjadi sejumlah asumsi dan prostulat. Asumsi-asumsi
tersebut dapat didefinisikan sebagai anggapan atau dugaan yang mendasari hipotesis.
Berbeda dengan asumsi, hipotesis yang telah diuji dengan menggunakan data melalui
proses penelitian adalah dasar untuk memperoleh kesimpulan.
2. Fakta Ilmiah Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis
Selain menggunakn teori sebagai acuan, dalam merumuskan hipotesis dapat pula
menggunakan acuan fakta. Secara umum, fakta dapat didefinisikan sebagai kebenaran
yang dapat diterima oleh nalar dan sesuai dengan kenyataan yang dapat dikenali
dengan panca indera. Fakta Ilmiah sebagai acuan perumusan hipotesis dapat diperoleh
dengan berbagai cara, misalnya:
a. Memperoleh dari sumber aslinya
b. Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan dan menafsirkannya dari
sumber yang asli.
c. Fakta yang diperoleh dari orang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya
dalam bentuk abstract reasoning (penalaran abstrak).
Selain teori dan fakta ilmiah, hipotesis dapat pula dirumuskan berdasarkan
beberapa sumber lain, yakni (1) Kebudayaan dimana ilmu atau teori yang relevan
dibentu; (2) Ilmu yang menghasilkan teori yang relevan; (3) Analogi; dan (4) Reaksi
individu terhadap sesuatu dan pengalaman.

6
DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Jogiyanto. 2013. Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta: BPFE.


Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2014. Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta:
BPFE.
Rahyuda, Ketut. 2008. Metode Penelitian Bisnis. Denpasar: Udayana University Press.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Tindakan Komprehensif. Yogyakarta: Alfabeta.