Anda di halaman 1dari 19

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1


BAB 1 ..................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN .................................................................................................. 2
A. Latar Belakang Masalah ............................................................................... 2
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 3
BAB II ..................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN ..................................................................................................... 4
A. Pengertian Isbat Ruyatullah Bil Abshar Fil Akhirat ................................... 4
B. Dalil-Dalil Dan Pendapat Ulama Mengenai Ruyatullah Bil Abshar Fil
Akhirat ................................................................................................................. 5
C. Melihat Allah Di Dalam Mimpi ................................................................... 9
D. Melihat Wajah Allah yang Mulia ............................................................... 14
BAB III ................................................................................................................. 16
PENUTUP ............................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur yang dipanjatkan hanya kepada Allah yang telah
memberikan rahmat dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dengan lancar dan tuntas. Selain itu, penulis sangat bersyukur masih
bisa diberi kekuatan, kesabaran, kelancaran, dan kenikmatan dalam hidup,
terutama di dalam mengerjakanmakalahini.
Penulisan makalah dengan judul Istribat Ruyatullahi Bil Abshar Fil
Akhirat ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur mata kuliah
Ilmu Tauhid. Dalam kesempatan ini, penulis ucapkan terimakasih kepada Bapak
Dr. Mohamad Erihadiana, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Ilmu Tauhid. Penulis
juga berterima kasih kepada semua pihak yang membantu dan mendukung dalam
penulisan makalah ini. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai
pihak, penulis tidak dapat menyelesaikan dalam penulisan makalah ini dengan
tuntas.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan
sarannya yang membangun demi meningkatkan kualitas dari makalah ini.

Bandung, 5 Oktober 2016

Penulis

1
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tauhid merupakan pangkal dari keimanan seseorang. Seseorang dapat
dikatakan beriman jikalau dia meyakini bahwa tiada yang wajib disembah kecuali
Allah inilah yang disebut Tauhid Uluhiyah, dan dia juga meyakini bahwa yang
menciptakan, memelihara, serta menguasai langit dan bumi beserta isinya
hanyalah Allah semata inilah yang disebut Tauhid Rububiyyah, serta ia meyakini
dia dapat hidup berdampingan dengan manusia lain ataupun makhluk lainnya
dengan sifat kasih saying, suka menolong, saling memperhatikan karena
pemberian dari Allah semata inilah yang disebut dengan Tauhid Asma Wa Sifat.
Ruyatullah fil Akhirat merupakan sesuatu yang harus diyakini oleh setiap
manusia bahwa mereka akan bertemu dengan Allah. Akan tetapi, banyak
dikalangan manusia mengingkarinya bahwa merekadapat melihat Allah di akhirat
nanti. Para ulama juga ada yang berpendapat bahwa ruyatullah fil akhirat sesuatu
yang pasti dapat terjadi.
Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al Bajali bahwa dia berkata : Kami
duduk-duduk bersama dengan Rasulullah shallallahualaihi wa sallam, maka dia
melihat ke arah bulan pada tanggal empat belas. Maka dia berkata :
Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian dengan jelas, sebagaimana
kalian melihat ini. kalian tidak dihalangi dalam melihatnya. Diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim.
Dari hadis ini bahwa melihat Allah tanpa hijab dapat terjadi akan tetapi
masih banyak manusia mengingkari hal ini seperti golongan Mutazilah dan
Jahmiyyah yang berpendapat bahwa melihat Allah dengan mata telanjang itu
sesuatu yang mustahil.
Oleh karena kami ingin meneliti serta mengkaji mengenai hal ini dengan
menyusun makalah yang berjudul untuk mendapatkan
pengetahuan serta pemahaman mengenai permasalahan ini.

2
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan ruyatullah bil abshar fil akhirat?
2. Apa saja dalil-dalil yang berkenaan mengenai ruyatullah bil abshar fil
akhirat beserta pendapat ulama salafus shalih dan Ahlus sunnah wal jamaah
mengenai hal tersebut?
3. Bagaimana tanggapan ulama mengenai melihat Allah di dalam mimpi?
C. Tujuan Penulisan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan

untuk mengetahui dan menjelaskan;


1. Ruyatullah bil abshaar fil akhirat;
2. Dalil-dalil yang berkenaan mengenai ruyatullah bil abshaar fil akhirat
beserta pendapat ulama Salafus Shalih dan Ahlus Sunnah wal Jamaah
mengenai hal tersebut;
3. Melihat Allah di dalam mimpi
4. Melihat Wajah Allah yang Mulia

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Isbat Ruyatullah Bil Abshar Fil Akhirat
Isbat secara harfiah isbat berarti penyungguhan, penetapan, dan
penentuan.

Sedangkan Ruyatullah artinya adalah bertemu atau melihat Allah.


Dalam Al Quran dan hadits, Allah telah menjelaskan secara tersirat
tentang metode untuk menemui Allah dan melihat Allah (Ruyatullah)
yaitu :

Al-Kahfiayat110 :

. Barang siapa yang mengharapkan menemui Tuhannya, maka


kerjakanlah amal shaleh dan jangan lah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada-nya

Sebagai seorang mukmin kita meyakini bahwa Allah taala tidak


menciptakan kehidupan ini untuk tujuan yang sia-sia. Allah taala akan
mengumpulkan dan menghitung amal seluruh manusia kelak di hari
kiamat. Dan orang yang beriman akan ada yang masuk surge dan
selainnya akan masuk neraka.

Ruyatullah bil abshaar fil akhirat adalah melihat Allah dengan mata
telanjang tanpa hijab di akhirat kelak. Sebagaimana perkataan Anas r.a
bahwa manusia akan melihat Allah dengan mata kepala mereka.
Menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah, melihat Allah di akhirat nanti
adalah pasti kebenarannya dan barangsiapa yang mengingkarinya berarti
kafir. Orang-orang mukmin akan melihatNya pada hari kiamat dan ketika
mereka berada di dalam jannah sebagaimana dikehendaki oleh Allah.
Keyakinan seperti ini berdasarkan ijma' Ahlus Sunnah. Dasarnya adalah
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. "Artinya : Wajah-wajah (orang-orang

4
mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat RabbNya". (Al-
Qiyamah : 22-23)
Menurut Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, bahwa melihat Allah
merupakan kenikmatan yang tertinggi bagi penghuni jannah. Sedangkan
dunia kita ini adalah bukan tempat kenikmatan, akan tetapi merupakan
tempat bersusah payah, bersedih dan tempat pemberian beban (taklif) atau
tempat usaha. Jadi Allah tidak bisa dilihat di dunia sekarang ini, akan
tetapi di akhirat nanti orang-orang beriman akan melihatNya.
Oleh karena itu Kaum mukminin mengimani akan melihat Allah
dengan mata kepala sendiri di akhirat, termasuk salah satu wujud iman
kepada Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Mereka akan
melihatnya secara jelas, bagaikan melihat matahari yang bersih,
sedikitpun tiada terliputi awan. Juga bagaikan melihat bulan pada malam
purnama, tanpa berdesak-desakan.
B. Dalil-Dalil Dan Pendapat Ulama Mengenai Ruyatullah Bil Abshar Fil
Akhirat
Kaum mukminin mengimani akan melihat Allah dengan mata kepala
sendiri di akhirat, termasuk salah satu wujud iman kepada Allah, kitab-
kitabNya dan rasul-rasulNya. Mereka akan melihatnya secara jelas,
bagaikan melihat matahari yang bersih, sedikitpun tiada terliputi awan.
Juga bagaikan melihat bulan pada malam purnama, tanpa berdesak-
desakan.
Demikian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
menjelaskannya dalam Al Aqidah Al Wasithiyah. Dan ini merupakan
kesepakatan Salafush Shalih Radhiyallahu anhum.
Imam Ibnu Abi Al Izz Al Hanafi, pensyarah kitab Aqidah
Thahawiyah, menegaskan bahwa jelasnya kaum mukminin melihat Rabb-
nya pada hari akhirat nanti, telah dinyatakan oleh para sahabat, tabiin,
serta para imam kaum muslimin yang telah dikenal keimaman mereka
dalam agama. Begitu pula para ahli hadits dan semua kelompok Ahli
Kalam yang mengaku sebagai Ahli Sunnah Wal Jamaah.

5
Mengapa demikian? Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, salah
seorang ulama senior di Saudi Arabia, menjelaskan : Sebab Allah
Subhanahu wa Taala telah memberitakan hal tersebut dalam KitabNya ;
Al Quran Al Karim. Begitu pula Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
pun telah memberitakannya dalam Sunnahnya. Barangsiapa yang tidak
mengimani kejadian ini, berarti ia mendustakan Allah, kitab-kitabNya dan
rasul-rasulNya. Sebab orang yang beriman kepada Allah, kitab-kitabNya
dan rasul-rasulNya, akan beriman pula kepada segala yang
diberitakannya.
Dalil-dalilnya, seperti yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah dalil dari al
quran al karim;
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :


Wajah-wajah (orang-orang mumin) pada hari itu berseri-seri. Kepada
Rabb-nya mereka melihat.(Al Qiyamah : 22-23).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan maksudnya, yaitu
mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya yang akan
diketengahkan di bawah nanti Insya Allah.
Imam Ibnu Abi Al Izz rahimahullah mengatakan: Ayat di atas termasuk
salah satu dalil yang paling nyata. Selanjutnya, setelah beliau
mengemukakan akibat rusaknya tahrif (tawil), beliau mengatakan:
Dihubungkannya kata-kata nazhar (nazhirah, memandang) dengan wajah
(wujuh) yang merupakan letak pandangan. Ditambah dengan idiom ilaa
yang secara tegas menunjukkan pandangan mata, disamping tidak adanya
qarinah yang menunjukkan makna lain, maka jelas dengan ayat itu, Allah
memaksudkannya sebagai pandangan mata yang ada di wajah manusia,
memandang Allah Azza wa Jalla.
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

6
Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. (Al
Muthaffifin : 35).
Ibnu Katsir rahimahullah kembali menjelaskan arti memandang, yakni
mereka melihat Allah Azza wa Jalla.
Selanjutnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :


Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya. (Yunus:26).
Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan: ziyadah (tambahan dari
pahala yang terbaik) dalam ayat di atas, maksudnya ialah melihat Wajah
Allah, sebagaimana tafsir yang dikemukakan oleh Rasulullah tentangnya,
sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim (haditsnya akan di
ketengahkan di bawah, Insya Allah, Pen). Para Ulama Salaf juga
menegaskan tafsir yang demikian itu.
Demikianlah beberapa dalil dari Al Quran yang dikemukakan oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al Aqidah Al
Wasithiyah tentang melihatnya kaum muminin pada wajah Allah.
Sementara itu, berkaitan dengan mafhum dari firman Allah:

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar
terhalang dari (melihat) Rabb mereka. (Al Muthaffifin:15).
Imam Syafii rahimahullah, seperti dinukil oleh Ibnu Katsir
rahimahullah dalam tafsirnya menegaskan : Dalam ayat ini terdapat
dalil, bahwa kaum muminin akan melihat Rabb-nya pada hari (akhirat)
itu.
Di tempat lain (yaitu pada tafsir surat Al Qiyamah ayat 22-23), Ibnu
Katsir menukil perkataan Imam Syafii lainnya berkenaan dengan surat
Al Muthaffifin ayat 15. Yaitu: Orang kafir tidak tertutup pandangannya
dari melihat Allah, kecuali karena sudah difahami bahwa orang-orang
abrar (kaum muminin) akan melihat Allah Azza wa Jalla.
Adapun dalil-dalil dari hadits nabi shalalllahu 'alaihi wa sallam.
Sebenarnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dan lain lain,

7
hadits yang menyatakan bahwa kaum muminin akan melihat Allah di
akhirat secara nyata dan dengan mata kepala mereka, adalah merupakan
hadits mutawatir. Bahkan Ibnu Katsir menyatakan, bahwa kenyataan ini
tidak mungkin dapat ditolak. Hanya saja, disini Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah mencukupkan pemaparan satu hadits saja. Yaitu hadits yang
muttafaq alaih.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :






Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian
melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama).
Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la
tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah tanya, artinya: kalian tidak
akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian
mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh)
dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah.
(Shahih Bukhari, Fathul Bari, XIII/419, hadits no. 7434, dan Muslim
Syarah Nawawi, tahqiq Khalil Mamun Syiha, V/135, hadits no. 1432,
Bab Fadhli Shalati Ash Shubhi Wal Ashri Wal Muhafazhah Alaihima.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, no. 2551; Shahih Sunan At
Tirmidzi, III; Ibnu Majah, Shahih Sunan Ibni Majah, I, no. 147/176, dll).
Dalam riwayat lain dari riwayat Abu Bakar bin Abi Syaibah, ada
tambahan riwayat : Kemudian Rasulullah membacakan ayat :


Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya. (Lihat Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq Khalil
Mamun Syiha, III/19-20, hadits no. 448 & 449, Bab Itsbat Ruyatil
Muminin Fil Akhirah Rabbahum Subhanahu Wa Taala. Begitu juga
Shahih Sunan Tirmidzi, kitab Shifatil Jannah, Bab Ma Jaa fi Ruyatir
Rabbi Tabaraka Wa Taala, jilid III, no. 2552 dan Shahih Ibnu Majah, I,
no. 155/186, hml. 80)

8
Jadi hadits tersebut jelas menunjukkan, bahwa maksud ziyadah
(tambahan) pada ayat di atas ialah melihat Allah Azza wa Jalla, seperti
telah dipaparkan di muka.
Juga hadits Abu Hurairah berikut:

:
:


:
: .
:
... .
Sesungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya,Wahai,
Rasulullah. Apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat nanti?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam balik bertanya,Apakah kalian akan
mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat bulan pada
malam purnama? Mereka menjawab,Tidak, wahai Rasulullah. Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya lagi,Apakah kalian juga akan
mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat matahari yang
tanpa diliputi oleh awan? Mereka menjawab,Tidak, wahai Rasulullah.
Maka Beliau bersabda,Sesungguhnya, begitu pula ketika kalian nanti
melihat Rabb kaliansampai akhir hadits. (Hadits yang dikeluarkan oleh Al
Bukhari dalam Shahih-nya, no. 7437; Fathul Bari, XIII/419).
C. Melihat Allah Di Dalam Mimpi
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menjawab soal ini dalam
Fatawanya. Setelah beliau menjelaskan permasalahan apakah Nabi melihat
Allah ketika miraj, beliau menyimpulkan, Kesimpulannya, bahwa semua
hadits yang di dalamnya terdapat kalimat bahwa Nabi melihat Rabbnya
dengan mata kepala di bumi, bahwa kebun-kebun surga termasuk langkah-
langkah kebenaran, dan bahwa beliau menginjak batu besar Baitul Maqdis,
semua ini adalah dusta menurut kesepakatan ulama kaum muslimin dari
kalangan ahli hadits dan selain mereka.
Demikian pula, setiap orang yang mengaku melihat Allah dengan mata
kepalanya sebelum mati, maka klaimnya batil menurut ahlus sunnah wal
jamaah. Ahlus sunnah wal jamaah telah bersepakat bahwa orang mukmin
mana pun tidak dapat melihat Rabbnya dengan kedua mata kepalanya ketika
dia hidup.

9
Hal tersebut telah dinyatakan dalam Shahih Muslim dari Nawwas bin
Saman dari Nabi, ketika beliau menyebut Dajjal, beliau berkata, Ketahuilah
oleh kalian, bahwa tidak seorang pun dari kalian yang dapat melihat Rabbnya
sampai dia meninggal.
Begitu pula, diriwayatkan dari Nabi, dengan redaksi lain, bahwa beliau
memperingatkan umatnya dari fitnah Dajjal, dan beliau menjelaskan bahwa
tidak seorang pun dari mereka yang akan melihat Rabbnya sampai mati.
Maka, jangan ada seseorang yang menyangka bahwa Dajjal yang dilihatnya
adalah Rabbnya.
Akan tetapi, peristiwa yang terjadi pada orang-orang yang memiliki
keimanan yang sejati, berupa keyakinan hati kepada Allah dan keyakinan
hati, maka penyaksian dan penampakan marifat tersebut berada pada
tingkatan yang berbeda-beda.
Ketika Nabi ditanya oleh Jibril tentang ihsan, beliau menajwab, Ihsan
adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan
jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.
Kadang-kadang pula, orang mukmin melihat Rabbnya dalam mimpi
dalam bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan kadar keimanan dan
keyakinannya. Bila imannya benar maka akan melihat dalam bentuk yang
baik, dan jika imannya kurang maka akan melihat sesuai dengan kadar
imannya itu.
Melihat dalam mimpi tidak seperti melihat ketika sadar. Mimpi ini
memiliki takwil dan takbir (pengungkapan) karena di dalamnya terdapat
permisalan-permisalan dari kenyataan yang ada.
Kadangkala, sebagian orang yang tidak tidur mendapati penglihatan
yang mirip dengan mimpi orang yang tidur. Maka, dia akan melihat dengan
isi hatinya semisal apa yang dilihat dalam mimpi, dan kadang akan tampak
padanya kebenaran-kebenaran yang dia saksikan dengan hatinya. Ini semua
terjadi di dunia.
Terkadang, seseorang dikuasai oleh penglihatan hati dan inderanya,
lantas dia menyangka bahwa dia melihat Rabbnya dengan mata kepalanya.

10
Sampai dia bangun dan tahu bahwa ternyata yang dilihatnya tadi adalah
mimpi.
Terkadang pula, dia mengetahui dalam tidurnya bahwa dia bermimpi.
Begitulah hal yang diperoleh orang-orang yang tekun beribadah, berupa
musyahadah (penyaksian) hati yang menguasai dirinya sampai tidak
merasakan rasa inderawi-nya. Dia menyangka bahwa itu penglihatan mata
telanjang, tetapi ternyata dia salah. Semua orang yang tekun beribadah, baik
dari generasi awal atau akhir, yang berkata bahwa dia melihat Rabbnya
dengan mata kepalanya adalah orang yang tersalah menurut kesepakatan ahli
ilmi dan iman.
Benar bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah dengan mata
telanjang di surga. Hal ini juga dialami oleh manusia di pelataran hari kiamat,
seperti telah banyak diriwayatkan hadits dari Nabi, yaitu sabda beliau (yang
artinya),Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian
melihat matahari di tengah hari tidak terhalangi oleh awan, dan seperti
melihat bulan purnama di kala langit cerah tanpa awan. (Majmu Fatawa:
3/389390)
Syekh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan pula, Syekhul Islam Ibnu
Taimiyyah dan selainnya telah menyebutkan bahwa seseorang dimungkinkan
melihat Allah dalam mimpi. Namun yang dilihatnya bukan hakikat Allah
yang sebenarnya, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah
Subhanahu wa Taala. Allah berfirman,



Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha
Mendengar dan Maha Melihat. (Qs.asy-Syura: 11)
Maka, tidak ada satu pun makhluk yang menyerupai Allah. Oleh karena
itu, jika dia dapat melihat Allah dalam mimpi, bahwa Allah berbicara
kepadanya, maka bagaimana pun bentuk yang dia lihat itu bukan wujud Allah
Azza wa Jalla, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah
Subhanahu wa Taala. Tidak ada yang serupa dengan-Nya dan tidak ada pula
yang setara.

11
Syekh Taqiyuddin menyebutkan hal ini, bahwa keadaan melihat Allah
berbeda-beda sesuai dengan keadaan orang yang melihat. Jika orang tersebut
adalah orang yang paling shalih dan paling dekat dengan kebaikan, maka
penglihatannya lebih mendekati kebenaran dan kenyataan. Namun, wujud-
Nya tidak dalam bentuk atau sifat yang dilihat oleh orang tersebut, karena
pada hakikatnya tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah.
Mungkin saja terdengar suara, Begini dan lakukan ini!, tetapi di sana
tidak ada wujud yang terlihat yang serupa dengan makhluk, karena tidak ada
yang serupa dan semisal dengan Allah Subhanahu wa Taala.
Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau melihat Allah dalam mimpi. Dari
hadits Muadz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam melihat
Rabbnya. Pada beberapa jalan (sanad) dikatakan bahwa beliau melihat
Rabbnya, dan Allah Subhanahu wa Taala meletakkan tangan-Nya antara dua
pundak Nabi, sehingga beliau merasakan rasa dingin di dada. Al-Hafidz Ibnu
Rajab telah menulis kitab dalam masalah ini, yang dinamakan Ikhtiyarul
Aula fi Syarhi Hadits Ikhtishamil Malail Ala.
Ini menunjukkan bahwa para nabi kadang-kadang melihat Rabb mereka
dalam mimpi. Adapun melihat Allah di dunia dengan mata kepala adalah hal
yang tidak mungkin. Nabi telah menginformasikan bahwa tidak ada seorang
pun yang dapat melihat Rabbnya sampai dia mati. Hadits ini dikeluarkan oleh
Muslim dalam Shahihnya. Ketika beliau ditanya, Apakah engkau melihat
Rabbmu? Jawab beliau, Aku melihat cahaya. Dalam lafal lain, Ada
cahaya, bagaimana aku dapat melihatNya! Diriwayatkan oleh Muslim dari
hadits Abu Dzar.
Aisyah telah ditanya tentang hal ini, lantas beliau menyatakan bahwa
tidak ada seorang pun yang melihat-Nya di dunia, karena melihat Allah di
akhirat nanti merupakan nikmat paling besar bagi orang mukmin. Ini tidak
didapatkan, kecuali bagi penduduk surga dan orang yang beriman di akhirat
nanti. Demikian pula, ketika di pelataran kiamat.
Sedangkan dunia adalah kampung ujian dan cobaan dan kampung
orang-orang yang jelek dan baik. Tempat bersama bagi orang-orang tersebut
bukan tempat untuk melihat, karena melihat merupakan nikmat terbesar bagi

12
yang melihat. Maka nikmat tersebut disembunyikan oleh Allah bagi para
hamba-Nya yang beriman di kampung yang mulia dan di hari akhir.
Adapun melihat Allah yang diklaim banyak orang, maka berbeda-beda
sesuai dengan siapa orang yang melihat, seperti dikatakan oleh Syekhul
Islam. Sesuai dengan keshalihan dan takwanya. Kadang orang itu terkhayal
melihat Allah, padahal tidak, karena setan kadang-kadang menampak pada
mereka dan mereka menyangka itu adalah Rabb.
Seperti dikisahkan bahwa setan menampakkan dirinya kepada Abdul
Qadir Jailani bahwa setan tersebut berada di atas Arsy yang berada di atas air.
Setan itu berkata, Aku Rabbmu, aku telah membebaskan kamu dari beban
syariat. Maka, Syekh Abdul Qadir berkata, Celaka engkau, wahai musuh
Allah! Kamu bukan Rabbku, karena perintah Rabbku tidak gugur terhadap
orang-orang mukallaf, atau perkataan serupa.
Maksudnya, bahwa melihat Allah Subhanahu wa Taala ketika
seseorang sedang tidak tidur merupakan hal yang tidak diperoleh seorang pun
selama di dunia, bahkan para nabi sekalipun. Seperti telah berlalu
penyampaiannya pada hadits Abu Dzar, dan yang ditunjukkan pula oleh
firman Allah kepada Musa ketika dia memohon untuk melihat Allah, maka
Allah menjawab,

Engkau tidak dapat melihat-Ku. (Qs. Al-Araf: 143)
Akan tetapi, terkadang para nabi dan orang-orang shalih dapat melihat
Allah dalam mimpi, dalam bentuk yang tidak serupa dengan makhluk-Nya,
seperti telah berlalu penyampaiannya dalam hadits Abu Dzar. Maka, jika
sosok yang dilihatnya dalam mimpi itu memerintahkan sesuatu yang
menyelisihi syariat ini, maka itu adalah pertanda bahwa dia tidak melihat
Rabbnya, tetapi dia melihat setan.
Andaikan dia melihat, lantas yang dilihat berkata, Kamu jangan shalat,
aku telah bebaskan kamu dari beban syariat!, atau berkata, Tidak wajib
atasmu zakat, atau tidak wajib atasmu berpuasa Ramadhan, kamu tidak wajib
berbakti kepada orangtua, atau tidak ada dosa jika kamu makan riba. Semua

13
ini dan yang semisalnya merupakan tanda bahwa dia melihat setan, bukan
Rabb.
Adapun berita bahwa Imam Ahmad melihat Rabbnya, maka berita itu
tidak diketahui kebenarannya. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa
beliau melihat Rabbnya, namun pendapat tersebut tidak diketahui
kebenarannya. (Majmu Fatawa, Ibnu Baz: 6/463465). (Sumber: Majalah
Al-Furqon, edisi 7, tahun ke-4, 1426 H)

D. Melihat Wajah Allah yang Mulia


Salah satu kenikmatan yang disediakan Allah taala bagi orang mukmin
di dalam surga adalah mereka dapat memandang wajah Allah yang mulia.
Allah Taala berfirman,

Bagi orang-orang yang berbuatbaik, adapahala yang terbaik (surga)


dantambahannya.Dan mukamerekatidakditutupidebuhitamdantidak (pula)
kehinaan.Merekaitulahpenghunisurga, merekakekal di dalamnya. (QS.
Yunus: 26)

Kata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi, Bagi mereka yang baik
dalam beribadah kepada Allah adalah husna, yaitu mendapat balasan surga,
juga mendapat ziyadah yaitu melihat wajah Allah yang mulia dan mendengar
Allah Taala berbicara, mendapatkan ridho-Nya serta meraih kegembiraan
dengan berada di dekat Allah. (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 339)

Dalam ayat lain Allah Taala juga berfirman,

Muka mereka (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.


Kepada Rabbnya mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

14
Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat di atas menjelaskan, Orang
mukmin akan melihat Rabbnya secara nyata dengan mata kepala mereka, hal
ini sebagai mana terdapat dalam hadist riwayat Bukhari rahimahullah,
Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kalian
sendiri.(HR. Bukhari no. 485).

15
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Ruyatullah bil abshaar fil akhirat adalah melihat Allah dengan
mata telanjang tanpa hijab di akhirat kelak. Sebagaimana perkataan Anas
r.a bahwa manusia akan melihat Allah dengan mata kepala mereka.
Dalil-dalilnya, seperti yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah dalil dari al
quran al karim;
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :


Wajah-wajah (orang-orang mumin) pada hari itu berseri-seri.
Kepada Rabb-nya mereka melihat.(Al Qiyamah : 22-23).
Kemudian firman Allah


Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik
(surga) dan tambahannya. (Yunus:26).
Yaitu seperti dalam riwayat Muslim dari Shuhaib bin Sinan Ar
Rumi, bahwa maksud ayat tersebut adalah melihat Wajah Allah Yang
Mulia.
Juga hadits Abu Hurairah berikut:
: :

: .
:

:
... .
Sesungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya,Wahai,
Rasulullah. Apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat
nanti? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam balik bertanya,Apakah
kalian akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat
bulan pada malam purnama? Mereka menjawab,Tidak, wahai
Rasulullah. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya lagi,Apakah
kalian juga akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika

16
melihat matahari yang tanpa diliputi oleh awan? Mereka
menjawab,Tidak, wahai Rasulullah. Maka Beliau
bersabda,Sesungguhnya, begitu pula ketika kalian nanti melihat Rabb
kaliansampai akhir hadits. (Hadits yang dikeluarkan oleh Al Bukhari
dalam Shahih-nya, no. 7437; Fathul Bari, XIII/419).
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menjawab soal ini dalam
Fatawanya. Setelah beliau menjelaskan permasalahan apakah Nabi
melihat Allah ketika miraj, beliau menyimpulkan, Kesimpulannya,
bahwa semua hadits yang di dalamnya terdapat kalimat bahwa Nabi
melihat Rabbnya dengan mata kepala di bumi, bahwa kebun-kebun
surga termasuk langkah-langkah kebenaran, dan bahwa beliau
menginjak batu besar Baitul Maqdis, semua ini adalah dusta menurut
kesepakatan ulama kaum muslimin dari kalangan ahli hadits dan selain
mereka.
Hal tersebut telah dinyatakan dalam Shahih Muslim dari Nawwas bin
Saman dari Nabi, ketika beliau menyebut Dajjal, beliau berkata,
Ketahuilah oleh kalian, bahwa tidak seorang pun dari kalian yang dapat
melihat Rabbnya sampai dia meninggal.
Syekh Taqiyuddin menyebutkan hal ini, bahwa keadaan melihat
Allah berbeda-beda sesuai dengan keadaan orang yang melihat. Jika
orang tersebut adalah orang yang paling shalih dan paling dekat dengan
kebaikan, maka penglihatannya lebih mendekati kebenaran dan
kenyataan. Namun, wujud-Nya tidak dalam bentuk atau sifat yang dilihat
oleh orang tersebut, karena pada hakikatnya tidak ada sesuatupun yang
menyerupai Allah.
B. S ARAN
Penyusun memberikan saran kepada;
1. Teman-teman se-angkatan untuk senantiasa muraqabah di setiap
tingkah lakunya atau di setiap apa yang kalian akan lakukan.
2. meyakini bahwa pertemuan dengan Allah SWT di akhirat kelak
adalah suatu kepastian yang pasti akan terjadi. Dan segala bentuk
keingkaran mengenai hal itu hanyalah sebuah kekufuran.

17
DAFTAR PUSTAKA

Ahmas Faiz bin Asifuddin. 2011. Orang Mukmin Akan Melihat allah di
akhirat. [Online]. Tersedia Sumber: https://almanhaj.or.id/2984-orang-mukmin-
akan-melihat-allah-di-akhirat.html [3 Desember 2016]
Muhammad bin shalih al-Utsaimin. 2004. Melihat Allah di akhirat
[Online] Tersedia Sumber ( http://www.almanhaj.or.id/content/363/slash/0) [3
Desember 2016]

Ahmas Faiz bin Asifuddin. 2011. Orang Mukmin Akan Melihat allah di
akhirat. [Online]. Tersedia Sumber (http://almanhaj.or.id/content/2984/slash/0) [3
Desember 2016]

http://hilmannurularifin.blogspot.co.id/2011/04/melihat-allah-dengan-
mata-kepala-di.html?m=1

Isbat, diaksesdari situs KamusBesar Bahasa Indonesia, pada 7 Agustus 2013


pukul 04:50

https://muslim.or.id/22047-kenikmatan-melihat-wajah-allah.html

Umar Hasyim, Siapa Ahli Sunnah Waljamaah? BerlakunyaFahamSesat


Dan Penyelewengan, Al-Hidayah, 2008, hlm 133-134.

18