Anda di halaman 1dari 2

Nama : Cindra Pramesthi Wandansari

NIP : 20174011021
Tuga : PR Tutorial Klinik Insomnia

1. Bagaimana hubungan antara peningkatan gula darah (diabetes melitus) dengan kejadian
insomnia? Berapa kadar gula darah yang bisa menyebabkan insomnia?
Diabetes mellitus merupakan suatu masalah kesehatan yang di tandai dengan berbagai macam
gejala. Poliuria, polidipsi, poliphagi merupakan beberapa gejala dan tanda pada penderita diabetes
mellitus. Rasa ingin berkemih yang berlebihan pada malam hari menyebabkan penderita kesulitan
mendapatkan kualitas tidur yang bermakna. Dampak dari rendahnya kualitas tidur seseorang dapat
menyebabkan aktivitas dihari berikutnya menjadi terganggu bahkan menyebabkan masalah fisik
yang lain bahkan kecelakaan.
Insomnia adalah ketidakpuasan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur, kesulitan dalam memulai
tidur dan mempertahankan istirahat tidur yang akan menyebabkan masalah lebih berat jika terjadi
dalam waktu yang lama atau kronis. Insomnia dapat terjadi pada siapa saja, dapat dipengaruhi oleh
faktor usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan dan komorbiditas.
Terdapat hubungan antara insomnia dengan peningkatan kadar gula darah, dengan arah
hubungan positif yang berarti semakin tinggi kadar gula darah makan akan di ikuti dengan
peningkatan skor insomnia. Hal ini sesuai dengan pendapat Surani.,et al, 2015 yang menyatakan
bahwa penderita diabetes mellitus dapat mengalami insomnia berupa insomnia karena nokturia,
insomnia karena hipoglikemia nokturnal, sindroma kaki gelisah, neuropati perifer dan sleep apnea.
Nokturia yang terjadi sebagai akibat tingginya kadar gula darah sehingga menyebabkan diuresis
osmosis, kondisi inilah yang memicu gangguan kualitas tidur pada penderita diabetes melitus.
Pendapat lain menyatakan bahwa terjadinya insomnia pada pasien diabetes melitus akibat
perubahan metabolisme endokrin didalam tubuh yang mempengaruhi mekanisme kompensasi
hormonal sehingga kualitas tidur penderita diabetes melitus buruk. Kondisi ini menyebabkan
penderita diabetes melitus mengalami perubahan tidur pada fase N-REM 4, dimana fase tersebut
akan terjadi penurunan GH dan terjadi peningkatan kortisol. Penderita diabetes yang juga
mengalami insomnia disebabkan komorbiditas fisik dan psikologis yang merupakan salah satu
epidemologi dari insomnia. Diabetes mellitus merupakan salah satu komorbiditas yang memicu
terjadinya insomnia sebagai akibat perubahan hormonal yang memicu perubahan fase tidur N-REM
4. Selain itu cemas, gangguan jiwa dan adanya nyeri juga memicu gangguan tidur.
Insomnia pada pasien diabetes melitus juga disebabkan karena gangguan stres dan kecemasan
yang menurunkan waktu istirahat tidur. Penderita diabetes melitus umumnya mengalami rasa
cemas dikarenakan kadar gula darah dapat sewaktu-waktu meningkat tanpa penyebab yang jelas.
Kondisi yang sama disampaikan oleh Perfect & Elkins bahwa penderita diabetes melitus cenderung
mengalami stres yang akan mengganggu siklus istirahat tidur sehingga menyebabkan
ketidakefektifan manajemen diabetes melitus.
Kadar glukosa darah bisa menyebabkan insomnia adalah ketika kadar glukosa darah puasa
lebih dari 126 mg/dl atau 2 jam setelah makan lebih dari 200 mg/dl yang telah muncul gejala
nocturia dan poliphagia (sering haus).
2. Bagaimana hubungan antara peningkatan kreatinin dengan kejadian insomnia? Berapa kadar
kreatinin yang bisa menyebabkan insomnia?
Kreatinin dalam darah merupakan salah satu indikator untuk menilai fungsi ginjal. Nilai
normal kratinin pada kisaran 0,5-1,3 mg/dl.
Peningkatan kadar kreatinin tinggi biasanya terjadi pada gagal ginjal kronik. Gejala sakit gagal
ginjal kronik adalah intensitas buang air kecil yang lebih besar pada malam hari. nafsu makan
pun akan menurun sehingga berpengaruh terhadap berat badan yang menurun pula. Cairan
yang menumpuk juga bisa menyebabkan pembengkakan pada bagian tangan dan kaki. Jika
penumpukan terdapat didekat jantung maka bisa menimbulkan nyeri dada sampai bisa
menyebabkan sesak napas. Rasa nyeri dada sampai mengalami gangguan pernapasan yang
membuat tidak nyaman. Hal ini tentu akan mengganggu kualitas dan kuantitas dari tidur pasien.
Tingginya kadar kreatinin dalam darah juga mengurangi suplai oksigen dan eritrosit yang
sehat yang diperlukan untuk menunjang fungsi-fungsi organ tubuh termasuk sisem saraf.
Kreatini yang tinggi dapat menyebabkan seseorang sulit untuk berkensentrasi, mengalami
perubahan kepribadian, dan mengalami gangguan pada pembuluh darahnya.