Anda di halaman 1dari 13

ILMU BAHAN DAN KOROSI

KRISTAL TETRAGONAL

Disusun Oleh:

Kelompok 4

Nur Hasanah (1506673504)


Alwendo Gunawan (1506723452)
Samson Patar Sipangkar (1506723774)
Sendy Winata (1506724991)
Ferlita Feliana (1506725110)
Ameninta Cesanina S. (1506725262)
M. Sofwan R. (1506728081)
Yazidie Rizqi Isnaidi (1506728434)
Sesia Fitri A. (1506729866)
Kevin Julian (1506730262)

Departemen Teknik Kimia

Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Depok, September 2017


Kata Pengantar

Kami mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
berkat dan rahmat-Nya, penyusunan tugas ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Tugas yang berjudul Kerapatan Kristal: Tetragonal ini bertujuan untuk memenuhi
pembuatan tugas mata kuliah Ilmu Bahan dan Korosi. Selain itu, tujuan dalam penulisan makalah
ini adalah untuk memberikan informasi mengenai kerapatan dari kristal berstruktur tetragonal.
Dalam penyelesaian tugas ini, kami mengalami beberapa kesulitan, terutama disebabkan
oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat bimbingan, dukungan dan kerjasama kelompok
dari berbagai pihak, akhirnya tugas ini dapat terselesaikan. Karena itu, sepantasnya jika kami
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Tilani, yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk membuat tugas ini,
serta memberikan pengarahan dan bimbingannya kepada kami, dan
2. Semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang
tidak dapat disebutkan satu per satu.
Kami berharap tugas yang sederhana ini dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai
cara perhitungan kerapatan suatu kristal pada umumnya dan kerapatan kristal tetragonal
khususnya, serta bermanfaat bagi rekan mahasiswa dan semua kalangan masyarakat. Apabila
terdapat kekurangan kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif dan bersifat
membangun agar tugas ini dapat menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.

Depok, 14 September 2017,

Tim Penulis

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................................... ii

Daftar Isi ............................................................................................................................. iii

BAB I .................................................................................................................................. iv
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. iv
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ iv
1.3 Batasan Masalah ............................................................................................................... iv

BAB II .................................................................................................................................. 1
2.1 Kristal Tetragonal..............................................................................................................1
2.2 Menghitung Kerapatan Tetragonal....................................................................................6

Daftar Pustaka .................................................................................................................... .9

iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semua yang berada di alam ini dilahirkan unik. Unik disini berarti bahwa setiap komponen
yang ada di alam mempunyai karakteristiknya masing-masing dan hal tersebut lah yang
membedakannya dari yang lain. Begitu juga dengan kerapatan dari suatu sistem kristal,
dikatakan unik karena suatu struktur kristal tertentu memiliki kerapatan masing-masing yang
membedakannya dengan bentuk sistem kristal yang lain. Perbedaan kerapatan ini juga akan
menjadi pertimbangan dalam menggunaan suatu kristal sebagai campuran. Semakin rapat
suatu kristal, maka akan lebih sulit untuk memadunya dengan kristal lain, dan semakin
renggang suatu kristal, maka akan lebih mudah memadukannya dengan kristal lain untuk
membentuk suatu komposit. Dalam sistem kristal dikenal banyak struktur kristal. Namun,
dalam tugas ini hanya akan di bahas sistem kristal tetragonal dan algoritma perhitungan
kerapatan strukturnya.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah yang dimaksud dengan kristal tetragonal?
Bagaimana cara menghitung besar kerapatan kristal tetragonal?

1.3 Batasan Masalah


Sistem kristal tetragonal

iv
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Kristal Tetragonal

Dalam kristalografi, sistem kristal tetragonal adalah salah satu dari 7 kelompok kisi titik.
Kristal tetragonal kisi hasil dari peregangan kisi kubik sepanjang salah satu vektor kisi,sehingga
menjadi kubus prisma empat persegi panjang dengan dasar persegi (a) dan tinggi (c). Ada dua
tetragonal kisi Bravais yaitu: Tetragonal Sederhana (dari peregangan kisi sederhana-kubik) dan
Tetragonal Berpusat (dari peregangan baik wajah-berpusat atau berpusat badan kisi kubik).

Gambar 1. Tetragonal kisi Bravais


Sistem Tetragonal sama dengan sistem isometrik, karena sistem kristal ini mempunyai tiga
sumbu kristal yang masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a1 dan a2 mempunyai satuan
panjang sama, sedangkan sumbu c dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada umumnya
lebih panjang.
Pada kondisi sebenarnya, Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a1 = a2
c , yang artinya panjang sumbu a1 sama dengan sumbu a2 tapi tidak sama dengan sumbu c, dan
juga memiliki sudut kristalografi = = = 90. Hal ini menunjukkan bahwa semua sudut sistem
memiliki sudut kristalografi ( , dan ) yang tegak lurus satu sama lain (90).

1
Gambar 2. Sistem tetragonal
Sistem kristal tetragonal memiliki perbandingan sumbu a1 : a2 : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada
sumbu a1 ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu a2 ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c
ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Sudut antara a1 dengan a2
= 90o, sudut antara a2 dengan a3 = 90o, sudut antara a3 dengan a1 = 90o, sedangan sudut antara a1
dengan a2 = 30o. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a1 memiliki nilai 30 terhadap sumbu
a2.

Gambar 3. Visualisasi Kristal Tetragonal

2
Terdapat 7 jenis atom tetragonal berdasarkan point group yang akan dipaparkan pada tabel
dibawah ini.

Tabel 1. 7 jenis atom tetragonal

Tabel 2. Contoh dari masing-masing kelas atom tetragonal.


No Nama Penjelasan
1 Pinnoite Pinnoite adalah mineral magnesium borate
dengan formula MgB2O(OH)6 atau
MgB2O43(H2O). Pinnoite terkristalisasi pada
sistem kristal tetragonal dan terbentuk dari tak
berwarna sampai berwarna kuning atau hijau
muda berbentuk gugusan bulat atau terkadang
kristal pendek prismatik

3
2 Cahnite Cahnite adalah mineral berwarna putih kusam
atau tak berwarna yang memiliki belahan
sempurna dan biasanya transparan. Cahnite
biasanya membentuk kristal berbentuk tetragonal
dan memiliki kekerasan 3 mohs. Persamaan
kimia dari cahnite adalah Ca2B[AsO4](OH)4.
Cahnite terbentuk dari 26.91% kalsium, 3.63%
boron, 25.15% arsenik, 1.35% hidrogen, 42.96%
oksigen.

3 Leucite Leucite adalah mineral penyusun batuan yang


tersusun dari potassium dan aluminium
tectosilicate dengan rumus kimia K[AlSi2O6].
Leucite memiliki kekerasan mohs sebesar 5.5 dan
specific gravity sebesar 2.47. Pada awalnya
leucite dikenal sebagai white garnet karena
warna dan bentuk dari kristalnya.
4 Cristobalite Mineral cristobalite adalah polimorf temperatur
tinggi dari silika, yang berarti ia memiliki
persamaan kimia yang sama dengan quartz yaitu
SiO2 tetapi memiliki struktur kristal yang
berbeda. Baik quartz maupun cristobalite adalah
polimorf dengan anggota dari golongan quartz,
yang termasuk didalamnya coesite, tridymite dan
stishovite. Cristobalite terbentuk sebagai
oktahedral putih atau spherulite pada batuan
vulkanik asam dan pada simpanan diatomaceus
terkonversi di Formasi Monterey di California,
Amerika Serikat dan sekitarnya. Cristobalite
stabil hanya pada suhu di atas 1470o C.

4
5 Diaboleite Diaboleite adalah mineral berwarna biru dengan
formula Pb2CuCl2(OH)4. Diabolite berbentuk
kristal tabular dengan ukuran diatas 2 cm (0.8 in)
sebagai pararel subagregat. Bentuk vicinal dari
kristal tabular memiliki garis luar berbentuk
kotak atau oktagonal dan jarang menunjukkan
hemihedralisme piramid. Diaboleite terbentuk
pada batuan mangan oksida, sebagai mineral
sekunder pada timbal dan batuan copper oxide.
6 Chalcopyrite Chalcopyrite adalah mineral tembaga besi sulfida
yang terkristalisasi pada sistem tetragonal.
Chalcopyrite memiliki rumus kimia CuFeS2.
Chalcopyrite memiliki warna kuning cerah
hingga keemasan dan kekerasan 3.5 4 skala
Mohs. Pada paparan dengan udara, chalcopyrite
teroksidasi menjadi berbagai oksida, hidroksida
dan sulfat. Mineral tembaga yang berhubungan
adalah bornite, chalcocite, covelitte, dan digenite.
Chalcopyrite adalah batuan tembaga yang
terpenting, dengan struktur kristalografi yang
berhubungan erat dengan ZnS (sphalerite).
7 Pyrolusite Pyrolusite adalah mineral yang tersusun dari
mangan dioksida (MnO2) dan merupakan batuan
manganat yang penting. Pyrolusite berwarna
hitam yang memiliki struktur granular, fibrous
atau kolumnar dan terkadang membentuk lipatan
reniform. Pyrolusite memiliki luster metalik dan
garis hitam atau biru kehitaman. Specific gravity
dari pyrolusite adalah sebesar 4.8. Pyrolusite
terbentuk berhubungan dengan manganite,
hollandite, hausmannite, braunite, goethite, dan

5
hematite pada kondisi oksidasi dalam
penyimpanan hidrotermal. Pyrolusite juga
terbentuk dalam bogs dan dihasilkan dari
perubahan manganite.

2.2 Menghitung Kerapatan Tetragonal

Gambar 4. Kerapatan kristal body centered tetragonal

Kerapatan dari struktur kristal tetragonal bergantung pada parameter a (pada bagian alas
tetragonal) dan parameter c (pada sumbu z). kerapatan struktur kristal sendiri dapat diartikan
sebagai fraksi volume maksimum dari struktur tersebut yang dapat ditempati oleh atom tanpa
saling tumpang tindih. Oleh sebab itu, kerapatan dapat dituliskan sebagai berikut:


() = =

Struktur kristal tetragonal dapat berupa simple tetragonal (8 x 1/8 atom) dan juga berupa body
centered tetragonal. Pada body centered tetragonal, terdapat masing-masing 1/8 atom pada setiap
titik sudut (8 titik) dan satu buah atom di tengah, sehingga berjumlah 2 atom per unit.

Untuk Primitive Tetragonal Lattice terdapat dua regime yaitu:



Untuk nilai 0 < < 1

Pada rentang ini, jarak antar atom di dalam sel terbatas, dan radius dari atom menjadi
terbatas menjadi:
= /2
Maka, kerapatannya menjadi

6
4 3 3
2 3 = 3 = ( )
2
= =
2 2 6

Untuk nilai > 1

Pada rentang ini, jarak antar atom di dalam sel terbatas, dan radius dari atom menjadi
terbatas menjadi:
= /2
Maka, kerapatannya menjadi
4 3 3
2

= = 3 = 3 =
2 2 6(/)

Jika diplot kurva yang menunjukkan pengaruh nilai c/a terhadap kerapatannya diperoleh:

Grafik pengaruh c/a terhadap f


untuk Primitive Tetragonal
0.6

0.4

0.2

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3

Grafik 1. Pengaruh c/a terhadap f untuk Primitif Tetragonal

Untuk sel jenis Body Centered Tetragonal, kerapatannya juga sangat bergantung pada rasio c/a.
ada tiga rejim yang perlu diperhatikan, yaitu:


Untuk nilai < 2/3

Pada rentang ini, jarak antar atom di dalam sel terbatas, dan radius dari atom menjadi
terbatas menjadi:
= /2
Maka, kerapatannya menjadi
4 3 3
2 3 = 3 = ( )
2
= =
2 2 3

7

Untuk nilai 2/3 < < 2

Pada rentang ini, jarak antar atom terbatas pada diagonal ruang dari sel. Pada kasus ini
radius dari atom menjadi dari diagonal ruang sel.
1
= 22 + 2
4
Maka, kerapatannya menjadi
4 3 4 (22 + 2 )3/2
2
2 3 3 43
= = 2
= 2

3/2
1 2
= [( ) + 2]
24 (/)


Untuk nilai > 2

Pada rentang ini jarak antar atom dibatasi oleh bidang alas. Radius atom menjadi setengah
dari panjang bidang alas.
= /2
Maka, kerapatannya menjadi
4 3 3
2 3 3 =
= = =
2 2 3(/)

Jika diplot kurva yang menunjukkan pengaruh nilai c/a terhadap kerapatannya diperoleh:

kerapatan (%) vs c/a


80
60
40
20
0
-0.5 0.5 1.5 2.5 3.5

Grafik 2. Perbandingan kerapatan terhadap c/a

8
Daftar Pustaka

Ashcroft, N.W., Mermin, N.D. (1976). Solid State Physics. Belmont, CA: Brooks/Cole.
Azaroff, L.V. (1960) Introduction to Solids. New York, NY: McGraw-Hill.

Callister, Jr., William D. 2001. Fundamentals of Material Science and Engineering Fifth Edition.
New York : John Wiley & Sons, Inc.

Dunlap, R.A., (2012). The Symmetry and Packing Fraction of The Body Centered Tetragonal
Structure. European J of Physics Education.
Feng, D., Jin, G.J. (2005) Introduction to Condensed Matter Physics, Vol. 1. Singapore, World
Scientific.
Generalic, E. (2012) "EniG Periodic Table of the Elements" (http://www.periodni.com/in.html)
accessed 30-05-2012.

Kittel, C. (1996) Introduction to Solid State Physics, 7th ed. New York, NY: Wiley. Wolfram
Alpha (2012) "Indium" http://www.wolframalpha.com/entities/elements/indium/sv/0q/u)
accessed 30-05-2012.

Definition of crystal - Chemistry Dictionary. 2016. Definition of crystal - Chemistry Dictionary.


[ONLINE] Available at: http://www.chemicool.com/definition/crystal.html. [Accessed 13
September 2017]

About.com Education. 2016. Crystal: Chemistry Glossary Definition. [ONLINE] Available at:
http://chemistry.about.com/od/chemistryglossary/a/crystaldef.htm. [Accessed 13 September
2017].

What is a Crystal? Crystals Defined. 2016. What is a Crystal? Crystals Defined. [ONLINE]
Available at: http://www.chemistry.co.nz/crystals_defined.htm. [Accessed 13 September 2017].

Solid State Chemistry: Describing Crystalline Solids. 2016. Solid State Chemistry: Describing
Crystalline Solids. [ONLINE] Available at:
http://www.seas.upenn.edu/~chem101/sschem/solidstatechem.html. [Accessed 13 September
2017].