Anda di halaman 1dari 9

MATA KULIAH GREEN

ARSITEKTUR
SUSTAINABLE ARCHITECTURE
10/25/2017

DEDE TRIANTO
F 221 14 005

PRODI S1 ARSITEKTUR
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
Sustainable building adalah bangunan yang memberikan Kesejahteraan (yang meliputi
Health, Relief, Safety, Comfort, Sense) besar serta memiliki dampak Kerusakan pada lingkungan
(life cycle energy, life cycle CO2, life cycle Cost) sekecil-kecilnya.
Beberapa Konsep Sustainable Architecture (Reduce, Reuse, Recycle)
Dapat diartikan sebagai arsitektur yang berkelanjutan, yaitu arsitektur bukan semata -
mata membuat bangunan yang sekedar indah / sesuai keinginan pemilik / nyaman bagi
pengguna saja, tetapi seharusnya memberikan dampak yang baik bagi lingkungan sekitar
juga.
Sustainable Architecture adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk
mendukung konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar
bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan
lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri,
kehutanan, dan tentu saja arsitektur.
Berbagai konsep dalam arsitektur yang mendukung arsitektur berkelanjutan, antara lain
dalam efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan lahan, efisisensi penggunaan
material, penggunaan teknologi dan material baru, dan manajemen limbah.
Proses keberlanjutan arsitektur meliputi keseluruhan siklus masa suatu bangunan, mulai
dari proses pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran bangunan. Visi
arsitektur berkelanjutan tidak saja dipacu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (glass
houses effect), juga mengandung maksud untuk lebih menekankan pentingnya sisi
kualitas dibanding kuantitas ditinjau dari aspek fungsional, lingkungan, kesehatan,
kenyamanan, estetika dan nilai tambah.
Intinya, sebuah bangunan yang sustainable diharapkan mampu memberikan kenyamanan
dan manfaat bagi pengguna, masyarakat sekitar, alam dan aspek - aspek lainnya secara
global.
Beberapa Pendapat Terkait Arsitektur Berkelanjutan
Menurut Ahmad Tardiyana, permasalahan konstruksi berkelanjutan di Indonesia diantaranya:
Kekuatan market dalam profesi arsitektur sangat dominan
Sebagian arsitek masih mementingkan look daripada essence
Belum ada kebijakan atau peraturan pemerintah yang mengikat
Rendahnya kesadaran pengembang atau pembangun untuk menerapkan konsep
sustainable
Minimnya pengenalan isu sustainable architecture dalam dunia pendidikan
Eko Prawoto memiliki pemikiran mengenai sustainability sebagai berikut:
Bukan tren sesaat yang tengah digemari
Bukan sekedar upaya penghematan ekonomi
Sustainability terjadi bukan hanya dengan perwujudan artefaknya, namun lebih pada
adanya kepercayaan atas nilai-nilai yang mendasarinya, yaitu penghargaan dan
pemahaman untuk menjaga keselarasan alam
Tantangan implementasi pembangunan berkelanjutan di Indonesia menurut Jimmy Priatman:
Kurangnya insentif
Keterbatasan riset dan eksperimen
Kurangnya kebersamaan visi untuk menyelamatkan lingkungan
Keterbatasan sumber daya manusia
Keterikatan pada budaya paling murah
Penerapan Arsitektur Berkelanjutan
Dalam efisiensi penggunaan energi :
Memanfaatkan sinar matahari untuk pencahayaan alami secara maksimal pada siang hari,
untuk mengurangi penggunaan energi listrik.
Memanfaatkan penghawaan alami sebagai ganti pengkondisian udara buatan (air
conditioner).
Menggunakan ventilasi dan bukaan, penghawaan silang, dan cara-cara inovatif lainnya.
Dalam efisiensi penggunaan lahan :
Menggunakan seperlunya lahan yang ada, tidak semua lahan harus dijadikan bangunan,
atau ditutupi dengan bangunan, karena dengan demikian lahan yang ada tidak memiliki
cukup lahan hijau dan taman. Menggunakan lahan secara efisien, kompak dan terpadu.
Potensi hijau tumbuhan dalam lahan dapat digantikan atau dimaksimalkan dengan
berbagai inovasi, misalnya pembuatan atap diatas bangunan (taman atap), taman gantung
(dengan menggantung pot-pot tanaman pada sekitar bangunan), pagar tanaman atau yang
dapat diisi dengan tanaman, dsb.
Menghargai kehadiran tanaman yang ada di lahan, dengan tidak mudah menebang pohon-
pohon, sehingga tumbuhan yang ada dapat menjadi bagian untuk berbagi dengan
bangunan.
Dalam efisiensi penggunaan material :
Memanfaatkan material sisa untuk digunakan juga dalam pembangunan, sehingga tidak
membuang material, misalnya kayu sisa dapat digunakan untuk bagian lain bangunan.
Memanfaatkan material bekas untuk bangunan, komponen lama yang masih bisa
digunakan, misalnya sisa bongkaran bangunan lama.
Dalam penggunaan teknologi dan material baru :
Memanfaatkan potensi energi terbarukan seperti energi angin, cahaya matahari dan air
untuk menghasilkan energi listrik domestik untuk rumah tangga dan bangunan lain secara
independen.
Memanfaatkan material baru melalui penemuan baru yang secara global dapat membuka
kesempatan menggunakan material terbarukan yang cepat diproduksi, murah dan terbuka
terhadap inovasi, misalnya bamboo.
Pemanfaatan teknologi hemat energi. Contoh: lampu dengan sensor, kloset dengan
double flush (flush besar untuk air besar dan flush kecil untuk air kecil - sehingga
menghemat pengeluaran air), wastafel dengan sistem sensor / tekan sehingga
menghemat air.
Dalam manajemen limbah :
Membuat sistem pengolahan limbah domestik seperti air kotor (black water, grey water)
yang mandiri dan tidak membebani sistem aliran air kota.
Cara-cara inovatif yang patut dicoba seperti membuat sistem dekomposisi limbah organik
agar terurai secara alami dalam lahan, membuat benda-benda yang biasa menjadi limbah
atau sampah domestik dari bahan-bahan yang dapat didaur ulang atau dapat dengan
mudah terdekomposisi secara alami.
Sustainable Construction Assessment Tools (Scat)
SCAT merupakan alat bantu untuk mengukur dan memberi penilaian apakah sebuah
bangunan cukup sustainable atau tidak. Software ini dikembangkan oleh Departemen Sustainable
Construction PT Holcim Indonesia Tbk.
Ada 3 indikator utama yang diangkat menjadi isu utama alat bantu ini. Tiap indikator utama
tersebut membawahi beberapa sub-point kriteria yang harus diberi penilaian secara kuantitatif.
Indikator sosial meliputi:
Kenyamanan pengguna bangunan
Akses dalam bangunan
Kemudahan akses menuju lokasi bangunan
Partisipasi dan kontrol
Segala hal yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan keselamatan
Indikator ekonomi meliputi:
Pendayagunaan komponen lokal demi memajukan pendapatan lokal
Efisiensi bangunan
Fleksibilitas dalam tata ruang dalam dan luar bangunan
Biaya biaya yang keluar sejak proyek bangunan akan dimulai
Alokasi total dana yang dipakai untuk membangun
Indikator Lingkungan meliputi:
Penggunaan air
Penggunaan energi
Pengolahan limbah
Pemilihan material dan komponen bahan
Situasi site
Aspek aspek sustainable :
Sosial
Hampir mencakup semua kriteria yang ada, kenyamanan pengguna benar benar
diperhatikan dengan menciptakan bukaan bukaan yang tinggi (3,75 m) sehingga hanya
1 m area lantai kantor yang tidak terkena cahaya matahari. Pencahayaan alami terbukti
meningkatkan tingkat produktivitas kerja. Selain itu, lokasi bangunan berada di daerah
strategis sehingga memudahkan pencapaian ke gedung ini dengan transportasi publik.
Ekonomi
Pemilik grha ini melibatkan kontraktor dan arsitek lokal dalam pembangunannya, serta
sebagian besar komponen dan material menggunakan produk lokal.
Efisiensi bangunan ditunjukkan melalui tingkat hunian yang tinggi yaitu mencapai 85%,
dengan jam operasional 8 jam sehari.
Efisiensi berinteraksi juga dipertimbangkan dengan mengalokasikan satu lantai untuk
satu divisi.
Fleksibilitas ruang ditunjukkan antara lain dengan plafon dengan tinggi lebih dari 3 m,
dan tiap lantainya tidak menggunakan partisi permanen sehingga dapat dibongkar dan
dengan mudah dialihfungsikan untuk kebutuhan yang lain.
Lingkungan
Mematikan AC secara otomatis pada jam istirahat dan pada jam 16.00
Pemanfaatan potensi cahaya matahari sebagai penerangan alami pada jam jam kerja,
lampu hanya dinyalakan saat kondisi cuaca ekstrem, misalnya mendung.
Dari sisi penghematan air, dilakukan efisiensi system plumbing yang dipusatkan dalam
satu area core plumbing.
Dampak yang signifikan dari penghematan energi ini adalah running cost bias ditekan
sampai 40% jika dibandingkan bangunan bangunan lain yang berskala hampir sama.

Contoh bangunan Sustainable


A. CH2, Melbourne
CH2 atau Council House 2 terletak di pusat kota Melbourne, adalah bangunan yang
mendapatkan penghargaan PBB untuk design yang berkelanjutan dan efesiensi energi. Bangunan
ini mempunyai pendinginan termal massa, sel surya, turbin angin, daur ulang limbah, langit
langit dingin dan permadani menakjubkan yang berasal dari daur kayu fotovoltaik dan
mempromosikan banguanan ramah lingkungan yang sehat.

Pada tahun 2004, Kota Melbourne dihadapkan dengan dilema akomodasi. Staf yang
bertempat tinggal di gedung perkantoran, meskipun terletak ke arah Balai Kota.
Dewan memulai rencana ambisius untuk membangun gedung kantor baru, Council House 2
(CH2), yang akan memenuhi persyaratan tata ruang dan memimpin jalan dalam pengembangan
lingkungan hijau holistik.
CH2 telah dirancang untuk tidak hanya menghemat energi dan air, tetapi meningkatkan
kesejahteraan penghuninya melalui kualitas lingkungan internal gedung. CH2 terletak di 240
Little Collins Street, Melbourne.
Saat ini CH2 disebut-sebut sebagai bangunan yang paling sustainable di dunia karena dinilai
mampu mengurangi penggunaan listrik sebesar 85 persen, penggunaan air sebesar 72 persen,
penggunaan gas sebagai penghangat ruangan sebesar 87 persen dan hanya menghasilkan emisi
sebesar 13 persen. CH2 dirancang tidak hanya untuk meningkatkan penghematan energi dan air,
tetapi juga untuk meningkatkan kenyamanan penghuninya melalui kualitas internal lingkungan
gedung yang baik.
H2 memberikan pendekatan baru dalam mendesain perkantoran, menciptakan model bagi
orang lain untuk belajar dan meniru. Pada tahun 2010, CH2 berhasil mendapatkan predikat 6
Green Star dan sejumlah penghargaan lainnya di bidang arsitektur (sustainable
architecture, green building dan best commercial architecture) dan lingkungan.
Cara kerja bangunan CH2:

Menghemat energi dan air

Efisiensi energi di CH2 dicapai melalui serangkaian terintegrasi fitur berfokus pada pemanasan,
pendinginan dan penggunaan kembali air.
Elemen yang bekerja sama untuk mencapai tujuan ini meliputi:
Desain berdasarkan ekologi dan iklim
Cahaya alami
Sistem pendingin
Sistem pemanas
Langit-langit berkubah beton
Jendela kayu Barat
Pengobatan jendela
Konservasi air
Pembangkit energi
Pengelolaan limbah CH2
Lingkungan internal

CH2 dirancang pada prinsip bahwa lingkungan internal berkualitas, lengkap dengan udara segar
dan bahan yang dipilih dengan hati-hati, dapat memiliki dampak positif pada kesejahteraan
penghuninya.
Catatan info lebih lanjut tentang CH2 ini meliputi dengan meninjau :
kualitas udara
kualitas lingkungan dalam ruangan
pemilihan bahan
CH2 memiliki sistem pendingin internal yang terintegrasi. Saat malam hari jendela gedung
akan terbuka sehingga udara dingin dari luar gedung akan masuk dan mendinginkan udara di
dalam ruangan serta panel-panel pendingin yang menempel pada langit-langit dan pondasi
ruangan. Panel yang telah didinginkan berfungsi untuk membuat ruangan di pagi hingga siang
hari tetap sejuk.
Air juga memiliki peran yang sangat penting pada sistem ini. Ketika siang hari, beberapa
menara setinggi 15 meter akan mengalirkan air dingin (shower). Beberapa bagian di antaranya
akan menguap sehingga mendinginkan ruangan di tiap-tiap lantai gedung. Sebagian lainnya akan
berfungsi untuk mendinginkan panel-panel pendingin ruangan.
Penggunaan air pada sistem ini bersifat reusable (berulang). Uap air yang telah digunakan akan
mengalami peningkatan suhu dari 22 derajat celcius menjadi 25 derajat celcius, sehingga dengan
sendirinya ia akan naik ke atas.Turbin angin yang berada pada atap gedung juga membantu
proses tersebut. Kemudian uap air ditampung dalam sebuah kolam yang berada pada atap gedung
untuk kemudian digunakan kembali.
Ornamen kayu yang menempel di bagian timur dinding CH2 dibentuk sedemikian rupa
sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan ketika jam kerja sedang berlangsung.
Dengan demikian, penggunaan cahaya lampu dapat dikurangi. CH2 sendiri menggunakan sistem
cahaya buatan untuk penerangan lampu. Dengan menggunakan sistem tersebut, intensitas cahaya
lampu secara otomatis akan menyesuaikan terhadap tingkat aktivitas dalam suatu ruangan.
Pada atap gedung juga dipasang panel surya seluas 25 meter persegi yang berfungsi sebagai
sumber energi listrik CH2. Listrik yang dihasilkan dari panel tersebut sebesar 3,5 kW. Namun,
panel tersebut belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan listrik gedung. Oleh karena itu,
30% kebutuhan listrik dari CH2 berasal dari pembangkit mini berbahan bakar gas. Selain listrik,
pembangkit yang terletak di atap gedung ini berfungsi menghasilkan panas sehingga CH2
mengurangi ketergantungannya pada jaringan listrik umum. Pembangkit listrik ini menghasilkan
emisi karbon dioksida jauh lebih rendah dari pembangkit listrik batu bara.
Saat ini Melbourne menetapkan persyaratan green star sebagai standar minimum bagi
pengembangan tiap bangunan baru maupun renovasi. Green star melakukan penilaian terhadap
sistem lingkungan pada gedung-gedung di Australia. Program ini diperkenalkan pada tahun 2003
oleh Green Building Council of Australia. Program ini mempertimbangkan beberapa hal yang
dapat mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, seperti inovasi bangunan yang
berkelanjutan, kesehatan penghuni, dan penghematan biaya.
Green star memiliki tiga kategori kualitas lingkungan pada suatu bangunan: (1) Best
Practice, (2) Australian Excellence, dan (3) World Leadership. Pengelompokan ini didasarkan
atas penilaian dari sembilan hal, antara lain: manajemen, kualitas lingkungan di dalam ruangan,
transportasi, energi, air, bahan material, penggunaan lahan dan ekologi, inovasi dan emisi. Best
practice atau 4 Green Star merupakan kategori terendah dengan hasil penilaian sebesar 45-
59. Australian Excellence atau 5 Green Star sebesar 60-74, dan yang terbaik adalah World
Leadership atau 6 Green Stardengan hasil penilaian sebesar 75-100.
CH2 sendiri menjadi gedung pertama yang mendapatkan predikat sebagai World
Leadership. Bahkan sejak adanya CH2 dan diluncurkannya program Green Star, semakin
banyak gedung-gedung di Melbourne, juga di Australia, yang mengikuti langkah CH2 menjadi
gedung ramah lingkungan, baik itu sebagai gedung baru maupun hasil renovasi dari gedung-
gedung sebelumnya. Semoga kota-kota di Indonesia bisa meniru dan bahkan mengembangkan
konsep ecocity seperti Kota Melbourne.