Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL HEWANI

Pengolahan Susu Susu Pasteurisasi

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Mikrobial yang diampu
oleh: Mustika Nuramalia Handayani, S.TP., M.Pd.

Disusun oleh :

Iqbal Rizki Pratama (1500431)


Kemal Ahmad Rivai (1507116)
Galuh Raka Fauzi (1506928)
Putri Audia Aneti Kallista (1504063)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI AGROINDUSTRI


FAKULTAS PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2017
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suhu tinggi diterapkan baik dalam pengawetan maupun dalam


pengolahan pangan. Pemberian suhu tinggi pada pengolahan dan pengawetan
pangan didasarkan kepada kenyataan bahwa pemberian panas yang cukup
dapat membunuh sebagian besar mikroba dan menginaktifkan enzim. Selain
itu makanan menjadi lebih aman karena racun-racun tertentu rusak karena
pemanasan. Salah satu pengawetan makan dengan suhu tinggi adalah dengan
menggunakan metode pasteurisasi.

Pasteurisasi merupakan suatu proses pemanasan yang menggunakan suhu


rendah dibawah 100oC. Tujuan pasteurisasi adalah untuk mengurangi
populasi mikroorganisme pembusuk sehingga bahan pangan yang
dipasteurisasi tersebut akan mempunyai daya awet beberapa hari (seperti
produk susu pasteurisasi) sampai beberapa bulan (seperti produk sari buah
pasteurisasi).

Selain itu, pasteurisasi juga bertujuan untuk menonaktifkan enzim-enzim


dan memeperpanjang daya simpan. Pasteurisasi dapat dilakukan menjadi dua,
yaitu LowTemperature Long Time atau LTLT dengan suhu 63 oC selama 30
menit dan High Temperature Short Time atau HTST dengan suhu 72 oC
selama 15 detik.

1.2 Tujuan
1.3.1. Mengetahui karakteristik pada susu pasteurisasi
1.3.2. Mengetahui prinsip pembuatan susu pasteurisasi
1.3.3. Mengetahui prosedur pembuatan susu pasteurisasi
1.3.4. Mengetahui perbedaan susu pasteurisasi full cream, dan susu
pasteurisasi skim.
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Susu Pasteurisasi


Pada umumnya proses pasteurisasi dilakukan dengan mamanaskan susu
pada suhu 62C selama 30 menit. Bila ingin lebih cepat dapat digunakan suhu
72C selama 15 detik. Meskipun bakteri patogen sudah dimusnahkan, tetapi
bakteri non patogen, terutama bakteri pembusuk masih hidup. Jadi susu
pasteurisasi, buka merupakan susu awet. Dalam penyimpanannya, biasanya
susu pasteurisasi digabungkan dengan metode pendinginan (Agung, 2012).

Untuk memperpanjang daya simpannya, susu pasteurisasi disimpan pada


suhu maksimal 10C, lebih dingin lebih baik. Pada suhu tersebut mikroba
pembusuk meskipun tidak mati, tetapi tidak dapat tumbuh dan berkembang.
Pada saat pasteurisasi, bukan hanya bakteri patogen yang mati, tetapi
beberapa jenis enzim juga dimatikan. Enzim yang terpenting adalah
posfatase. Enzim tersebut memiliki daya tahan panas yang sedikit lebih tinggi
daripada bakteri patogen penyebab tbc. (Koswara, 2009)

Pemanasan dilakukan dengan tekanan tinggi untuk menghasilkan


perputaran dan mencegah terjadinya pembakaran susu pada alat pemanas.

Ciri ciri fisik susu:

a. Warna
Warna air susu dapat berubah dari satu warna kewarna yang lain,
tergantung dari bangsa ternak, jenis pakan, jumlah lemak, bahan padat dan
bahan pembentuk warna. Warna air susu berkisar dari putih kebiruan
hingga kuning keemasan. Warna putih dari susu merupakan hasil dispersi
dari refleksi cahaya oleh globula lemak dan partikel koloidal dari casein
dan calsium phosphat. Warna kuning adalah karena lemak dan caroten
yang dapat larut. Bila lemak diambil dari susu maka susu akan
menunjukkan warna kebiruan
b. Rasa
Air susu terasa sedikit manis, yang disebabkan oleh laktosa,
sedangkan rasa asin berasal dari klorida, sitrat dan garam-garam mineral
lainnya. Cita rasa yang kurang normal mudah sekali berkembang di dalam
susu dan hal ini mungkin merupakan akibat dari:
a. Sebab-sebab fisiologis seperti cita rasa pakan sapi misalnya alfalfa,
bawang merah, bawang putih, dan cita rasa algae yang akan masuk ke
dalam susu jika bahan-bahan itu mencemari pakan dan air minum
sapi.
b. Sebab-sebab dari enzim yang menghasilkan cita rasa tengik karena
kegiatan lipase pada lemak susu.
c. Sebab-sebab kimiawi, yang disebabkan oleh oksidasi lemak.
d. Sebab-sebab dari bakteri yang timbul sebagai akibat pencemaran dan
pertumbuhan bakteri yang menyebabkan peragian laktosa menjadi
asam laktat dan hasil samping metabolik lainnya yang mudah
menguap.
e. Sebab-sebab mekanis, bila susu mungkin menyerap cita rasa cat yang
ada disekitarnya, sabun dan dari larutan klor.
c. Tekstur
Tekstur air susu dipengaruhi oleh viskositas air susu. Seperti BJ maka
viskositas air susu lebih tinggi daripada air. Viskositas air susu biasanya
berkisar 1,5 2,0 cP. Pada suhu 20C viskositas whey 1,2 cP, viskositas
susu skim 1,5 cP dan susu segar 2,0 cP. Bahan padat dan lemak air susu
mempengaruhi viskositas. Temperatur ikut juga menentukan viskositas air
susu. Sifat ini sangat menguntungkan dalam pembuatan mentega.
d. Aroma
Bau air susu mudah berubah dari bau yang sedap menjadi bau yang
tidak sedap. Bau ini dipengaruhi oleh sifat lemak air susu yang mudah
menyerap bau disekitarnya. Demikian juga bahan pakan ternak sapi dapat
merubah bau air susu.
Adapun menurut SNI 01-3951-1995 sebagai berikut :

2.2 Prinsip Pembuatan Susu Pasteurisasi


Proses pasteurisasi termasuk proses pemanasan yang dapat didefenisikan
sebagai berikut: pasteurisasi adalah proses pemanasan setiap komponen
(partikel) dalam susu pada suhu 62C selama 30 menit, atau pemanasan pada
suhu 72C selama 15 detik, yang segera diikuti dengan proses pendinginan
(Saleh, 2004).

Ada 2 macam cara pasteurisasi yaitu:

1. Pasteurisasi lama (LTLT= Low Temperature Long Time) dengan suhu


62C- 65C selama 30 menit.
2. Pasteurisasi sekejap (HTST= High Temperature Short Time) dengan suhu

85C 95C selama 1-2 menit.

Sedangkan menurut (Fitriani, 2015) metode pasteurisasi dikenal beberapa


macam suhu pemanasan pasteurisasi yaitu: low temperature long time
(LTLT), yakni susu dipanaskan pada suhu 62- 65C selama 30-32 menit.
High temperature short time (HTST), yakni susu dipanaskan dalam waktu
yang sangat singkat pada suhu 71-74C selama 15-30 detik atau pada suhu
85-127C selama 8 detik. Ultra high temperature (UHT), susu dipanaskan
pada suhu 140-150C selama 1-2 detik. Pada kondisi pemanasan 10 menit
dengan suhu 63C hubungan waktu dengan temperatur belum cukup untuk
mendestruksi beberapa organisme yang menyebabkan demam, sehingga
Dinas Kesehatan Amerika Serikat merekomendasikan lama pasteurisasi
diperpanjang menjadi 30 menit.

2.3 Prosedur dan Diagram Proses Pembuatan Susu Pasteurisasi

No Urutan Kerja Uraian

1. Persiapan e. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan


f. Timbang semua bahan sesuai kebutuhan

2. Pemanasan Apabila dikehendaki, tambahkan stabilizer ke


Pendahuluan dalam susu
Aduk rata dan minimalisir terjadinya gumpalan
Panaskan susu pada suhu 50-55C sambil terus
diaduk

3. Homogenisasi Lakukan homogenisasi pada tekanan minimal 150


bar agar lemak benar-benar merata
Ulang perlakuan apabila lemak masih menggumpal
dan segera lakukan pasteurisasi pasca homogenisasi

4. Pasteurisasi Tambahkan gula dan garam ke dalam susu


Lakukan pasteurisasi pada suhu 75oC selama 15
menit
Pastikan selama proses susu diaduk agar bahan
tambahan larut secara merata
Setelah suhu pasteurisasi tercapai, lakukan
penambahan perisa buah dan pewarna makanan
atau coklat bubuk

5. Penurunan Suhu Lakukan penurunan suhu hingga mencapai suhu 2-


8C secara cepat
Apabila hal ini tidak dimungkinkan, maka abaikan
proses ini dan lakukana pengemasan susu dalam
kondisi panas untuk meminimalisir kontaminasi

6. Pengemasan 3. Lakukan pengemasan sesuai volume yang


dikehendaki baik menggunakan botol atau cup
4. Bahan pengemas harus terbuat dari bahan yang
dapat melindungi produk agar tidak kontak
langsung dengan sinar matahari

7. Inspeksi 1. Lakukan pengecekan kebocoran secara teliti


2. Lakukan pengemasan ulang atau tetapkan sebagai
produk afkir
3. Lanjutkan dengan merendam cup-cup susu dalam
bak pendingin yang berisi air yang mengalir

8. Penyimpanan Susu Simpan susu pasteurisasi pada refrigerator suhu 2-


8C
Lama simpan 7 hari

9. Distribusi f. Selama distribusi susu harus dalam keadaan


dingin dan setelah dibuka harus segera dikonsumsi
hingga habis

(Sumber : Widi Roseli (Widyaiswara BBPP-Batu))


2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Susu Pasteurisasi
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pasteurisasi:
1. Suhu Pemanasan
Suhu pemanasan untuk pasteurisasi dibedakan menjadi 3 golongan,
antara lain;
a. Proses pasteurisasi dengan suhu rendah yaitu pada suhu 61oC (LTLT).
b. Proses pasteurisasi dengan suhu cukup tinggi yaitu pada suhu 71,7-
75oC (HTST).
c. Proses pasteurisasi dengan suhu tinggi yaitu pada suhu 131oC (UHT).
2. Jenis produk pangan (susu) yang diproses
Pasteurisasi pada susu, pemanasan dilakukan dengan tekanan tinggi
untuk menghasilkan perputasan dan mencegah terjadinya pembakaran
susu pada alat pemanas.
3. Waktu pemanasan
Proses pasteurisasi dengan penanganan suhu yang tidak tepat dapat
mengakibatkan loss nutrition, yaitu hilangnya nutrisi-nutrisi penting yang
terkandung dalam susu. Penanganan suhu yang salah juga dapat
mengakibatkan bakteri patogen yang tetap hidup didalam susu, sehingga
mengakibatkan ketahanan susu menjadi berkurang, serta beresiko
menyebabkan bakteri dalam tubuh manusia.
Waktu pemanasan untuk pasteurisasi dibedakan menjadi 3 golongan,
antara lain:
a. Waktu pemanasan pasteurisasi dengan waktu yang lama yaitu selama
30 menit (LTLT).
b. Waktu pemanasan pasteurisasi dengan waktu singkat yaitu selama 15-
16 detik (HTST).
c. Waktu pemanasan pasteurisasi dengan waktu sangat singkat yaitu
selama 0,5 detik (UHT).
4. Media penghantar panas
Media yang digunakan untuk proses pasteurisasi adalah media yang
dapat menghantarkan panas dengan baik dan merata.
5. pH produk
6. Resistensi mikroba

2.5 Perbedaan Susu Pasteurisasi Full Cream, Pasteurisasi Skim, dan lain
lain

Susu pasteurisasi dapat bertahan selama 12 sampai 16 hari dari tanggal


atau hari pemrosesan, jika disimpan pada suhu yang ideal, yaitu 30 60C.
Karenanya, susu pasteurisasi harus disimpan dalam lemari es. Sebagai
catatan, umur simpan selama itu (sampai 16 hari) hanya untuk susu
pasteurisasi yang belum dibuka. Setelah kemasan dibuka, susu harus segera
dihabiskan.

Pasteurisasi efektif membunuh bakteri-bakteri yang berpotensi patogenik


di dalam susu. Namun proses ini ternyata tidak dapat mematikan sporanya,
terutama spora bakteri yang bersifat termoresisten alias tahan terhadap suhu
tinggi. Proses UHT (Ultra High Temperature) adalah sterilisasi parsial yang
diterapkan pada produk-produk pangan, termasuk susu, untuk melenyapkan
semua bakteri pembusuk maupun pathogen berikut sporanya. Dalam proses
ini, susu dipanaskan pada suhu tinggi yang melampaui titik didihnya
(minimal 1300 C) selama 0,5 detik, dan selanjutnya susu dikemas dalam
kemasan yang aseptik

Berbeda dengan susu hasil pasteurisasi metode LLT dan HTST, susu
hasil pasteurisasi dengan metode UHT jauh lebih panjang dari susu
pasteurisasi dengan metode LLT dan HTST, bisa tahan selama 6 bulan tanpa
refrigerasi (pendinginan). Tetapi ini hanya berlaku untuk susu UHT yang
kemasannya belum dibuka. Begitu kemasannya dibuka, susu UHT akan
mudah terkontaminasi dengan bakteri pembusuk. Oleh karena itu, setelah
dibuka susu harus disimpan di dalam refrigerator/ lemari es (suhu 3-5 0C) dan
sebaiknya segera habiskan dalam jangka waktu 7 sampai 10 hari. Selain umur
simpan, perbedaan antara susu pasteurisasi dengan susu UHT terletak pada
rasa. Susu UHT memiliki cita rasa yang lebih 'matang' dari susu pasteurisasi.
(EG dari berbagai sumber)
Metode Pasteurisasi yang umum digunakan adalah sebagai berikut :

1. Pasteurisasi dengan suhu tinggi dan waktu singkat (High Temperature


Short Time/HTST), yaitu proses pemanasan susu selama 1516 detik
pada suhu 71,775 oC dengan alat Plate Heat Exchanger.

2. Pasteurisasi dengan suhu rendah dan waktu lama (Low Temperature Long
Time/LTLT) yaitu proses pemanasan susu pada suhu 61 oC selama 30
menit.

3. Pasteurisasi dengan suhu sangat tinggi (Ultra High Temperature/UHT)


yaitu memanaskan susu pada suhu 131 oC selama 0,5 detik. Pemanasan
dilakukan dengan tekanan tinggi untuk menghasilkan perputaran dan
mencegah terjadinya pembakaran susu pada alat pemanas.

Jenis yang paling banyak dikonsumsi adalah susu skim dan Susu Full
Cream. Susu Full Cream biasanya dianjurkan bagi anak-anak dan remaja
karena sangat penting bagi pertumbuhan. Sedangkan, susu skim sering
dianjurkan bagi pria dan wanita yang berusaha menurunkan berat badan. Hal
ini karena salah satu perbedaan utama antara Susu Full Cream dan susu skim
adalah jumlah lemak susu yang dikandungnya. Susu Full Cream mengandung
semua jenis lemak susu yang lengkap di dalamnya. Umumnya, susu sapi
mengandung 3,5% lemak susu untuk setiap cangkir susu. Susu skim, adalah
susu sapi yang mengalami proses skimming, yang berfungsi untuk
menghilangkan kandungan lemak susu sebanyak mungkin. Hal ini
memungkinkan seseorang dapat mengonsumsi susu untuk mendapatkan
kalsium dan protein tanpa mengonsumsi lemak susu.

Hal tersebut menimbulkan perbedaan lain antara Susu Full Cream dan
susu skim. Lemak Susu yang terkandung dalam Susu Full Cream
menyebabkan rasa susu lebih creamy dan lebih lezat dari susu skim.
Kebanyakan orang yang minum susu skim akan merasakan kalau susu skim
lebih hambar. Hal tersebut dikarenakan banyak kandungan rasa dalam lemak
susu yang dihilangkan, lalu digunakan untuk membuat berbagai produk lain
yang berbahan dasar susu seperti keju dan mentega. Inilah sebabnya susu
jenis ini disebut dengan susu full cream. Sedangkan susu skim seringkali
disebut sebagai susu rendah lemak karena susu skim masih mengandung
sejumlah lemak susu di dalamnya, atau sekitar 0,5% lemak susu.

Hal tersebut menimbulkan perbedaan lain antara Susu Full Cream dan
susu skim. Lemak Susu yang terkandung dalam Susu Full Cream
menyebabkan rasa susu lebih creamy dan lebih lezat dari susu skim.
Kebanyakan orang yang minum susu skim akan merasakan kalau susu skim
lebih hambar. Hal tersebut dikarenakan banyak kandungan rasa dalam lemak
susu yang dihilangkan, lalu digunakan untuk membuat berbagai produk lain
yang berbahan dasar susu seperti keju dan mentega. Inilah sebabnya susu
jenis ini disebut dengan susu full cream. Sedangkan susu skim seringkali
disebut sebagai susu rendah lemak karena susu skim masih mengandung
sejumlah lemak susu di dalamnya, atau sekitar 0,5% lemak susu.

Susu skim ialah susu yang telah melewati proses skimming. Tujuannya
adalah untuk mengurangi kandungan lemak yang ada di dalam susu tersebut
menjadi serendah mungkin. Rata-rata susu skim hanya mengandung lemak
dengan konsentrasi di bawah 0,5 persen. Itu sebabnya, susu ini cocok sekali
dikonsumsi oleh Anda yang ingin menurunkan berat badan secara sehat. Tapi
jangan kaget ya kalau rasanya agak sedikit hambar. Dinamakan susu full
cream karena susu ini mengandung lemak dalam komposisi yang penuh,
yakni sekitar 3,5 persen. Karena kandungan gizinya masih utuh, susu ini
sangat bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan, terutama bagi anak-anak
dan remaja. Susu full cream juga terasa lezat dan kental di mulut.

a. Apa bedanya susu full cream dan susu skim?


Kedua jenis susu ini dibedakan dari kandungan lemak yang ada di
dalamnya. Susu full cream mempunyai kandungan lemak yang lebih
tinggi dibandingkan dengan susu skim. Pada proses produksi, kandungan
lemak dalam susu skim sengaja dihilangkan sehingga menjadi sangat
rendah, kurang dari 0,5%. Sedangkan, kandungan lemak dalam susu full
cream sekitar 3,25%. Karena kandungan lemaknya inilah, susu full
cream memiliki kalori yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu skim.
Kandungan lemak dalam susu yang berbeda umumnya tidak
memengaruhi nutrisi lainnya yang ada dalam susu. Nutrisi antara susu full
cream dan susu skim tetap sama, seperti vitamin D, vitamin A, kalsium,
fosfor, vitamin B2, dan vitamin B12. Namun, kandungan asam lemak
omega-3 pada kedua jenis susu tersebut berbeda. Semakin banyak
kandungan lemak dalam susu tersebut, maka semakin tinggi juga
kandungan asam lemak omega-3 dalam susu. Asam lemak omega-3
sangat bermanfaat untuk kesehatan jantung dan otak Anda. Bahkan
sebuah penelitian yang menghubungkan kandungan asam lemak omega-3
dalam susu dengan diabetes menunjukkan bahwa mereka yang minum
susu dengan kandungan asam lemak omega-3 tinggi memiliki
kemungkinan 44% lebih rendah untuk terkena diabetes.
b. Benarkah susu skim lebih sehat dari susu full cream?
Saat Anda memilih susu skim, Anda memilih susu dengan kandungan
lemak yang lebih sedikit. Sedangkan, susu full cream mengandung lemak
yang lebih banyak, tapi belum tentu tidak sehat bagi Anda.
Susu memang mengandung lemak jenuh yang menurut beberapa
penelitian berhubungan dengan penyakit jantung. Sehingga, orang lebih
memilih susu skim yang mengandung lemak lebih sedikit dibanding susu
full cream. Namun, beberapa penelitian belakangan ini juga telah
menunjukkan bahwa kandungan lemak jenuh dalam susu tidak
menyebabkan penyakit jantung.
Jadi, susu full cream tidak seburuk yang ada di pikiran Anda. Bahkan,
penelitian yang dipublikasikan oleh Scandinavian Journal of Primary
Health tahun 2013 menunjukkan bahwa lemak susu berhubungan dengan
tingkat yang lebih rendah dari obesitas abdominal dibandingkan dengan
susu dengan lemak lebih rendah. Partisipan dalam penelitian ini yang
memiliki asupan susu tinggi lemak memiliki risiko 48% lebih rendah
terkena obesitas abdominal. Sedangkan, yang mengonsumsi susu rendah
lemak memiliki risiko 53% lebih tinggi untuk mengalami obesitas
abdominal.
Penelitian lain yang dipublikasikan oleh Nutrition Research 2014
juga melaporkan bahwa susu full cream dapat mengurangi risiko obesitas,
khususnya obesitas abdominal alias perut buncit. Dalam salah satu ulasan,
sejumlah 11 dari 16 penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi susu
tinggi lemak berhubungan dengan risiko obesitas yang lebih rendah.
Beberapa ahli berpendapat bahwa kandungan lemak dalam susu yang
lebih tinggi dapat membuat seseorang puas dan kenyang setelah
mengonsumsinya sehingga ia tidak makan lebih banyak lagi. Dengan kata
lain, konsumsi susu full cream lebih bisa membantu Anda dalam
mengontrol berat badan. Beberapa penelitian pun telah membuktikan
bahwa konsumsi susu full cream dapat membantu mencegah kenaikan
berat badan.
c. Bagaimana dengan susu skim?
Susu skim bisa menjadi pilihan terbaik bagi Anda yang sedang diet.
Kandungan lemaknya yang rendah membuat kalori yang terkandung
dalam susu skim menjadi lebih sedikit. Namun, susu skim tetap bisa
menyediakan protein yang Anda butuhkan, sekira delapan gram protein
per gelas susu. Susu skim juga mengandung kalsium tinggi, sekitar 300
mg per gelas.
Namun, hati-hati, walaupun susu skim mengandung lemak yang lebih
sedikit, tetapi belum tentu juga mengandung gula yang lebih sedikit.
Biasanya makanan atau minuman berlabel rendah lemak atau bebas lemak
mempunyai kadar gula yang lebih tinggi. Gula lebih banyak ditambahkan
pada produk ini untuk meningkatkan rasa, setelah kandungan lemak
dikurangi. Perlu Anda ketahui bahwa semakin banyak kandungan lemak,
tentu semakin enak rasa sebuah makanan atau minuman.
d. Jadi, pilih susu full cream atau susu skim?
Semuanya tergantung pada pilihan dan kesukaan Anda. Apapun
pilihannya, keduanya bisa menjadi pilihan yang sehat dalam diet Anda.
Susu full cream atau susu skim sama-sama memiliki nutrisi yang
dibutuhkan oleh tubuh Anda. Sebaiknya, sesuaikan juga dengan
kebutuhan dan makanan yang Anda makan dalam sehari jika Anda ingin
mengonsumsi susu full cream atau susu skim. Jika Anda sedang ingin
menurunkan berat badan, mungkin susu skim pilihan yang tepat. Namun,
setelah minum susu skim dan Anda belum merasa kenyang, sebaiknya
Anda tidak melebihkan porsi makan Anda dari biasanya untuk mencegah
kenaikan berat badan.
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
1. Pasteurisasi merupakan proses pemanasan setiap komponen susu pada
suhu 62C selama 30 menit yang biasa disebut dengan LTLT (low
temperature long time) atau pemanasan pada suhu 72C selama 15 detik
yang biasa disebut dengan HTST ( high temperature short time), yang
segera diikuti dengan proses pendinginan.
2. Pasteurisasi dengan suhu tinggi dan waktu singkat (High Temperature
Short Time/HTST), yaitu proses pemanasan susu selama 1516 detik pada
suhu 71,775 oC dengan alat Plate Heat Exchanger.
3. Pasteurisasi dengan suhu rendah dan waktu lama (Low Temperature Long
Time/LTLT) yaitu proses pemanasan susu pada suhu 61 oC selama 30
menit.
4. Pasteurisasi dengan suhu sangat tinggi (Ultra High Temperature/UHT)
yaitu memanaskan susu pada suhu 131 oC selama 0,5 detik. Pemanasan
dilakukan dengan tekanan tinggi untuk menghasilkan perputaran dan
mencegah terjadinya pembakaran susu pada alat pemanas.
DAFTAR PUSTAKA

Agung, S. (2012). Teknologi Pengolahan Susu. Surakarta.

Fitriani. (2015). Kualitas Organoleptik dan Nilai pH Susu. Skripsi.

Koswara, S. (2009). Teknologi Pengolahan Susu. eBookPangan.

Saleh, E. (2004). Teknologi Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. USU
digital Library.

http://bbppbatu.bppsdmp.pertanian.go.id/membuat-susu-pasteurisasi/