Anda di halaman 1dari 19

Satuan Acara Penyuluhan

Topik : Pencegahan Primer Pada Penyakit Mata Katarak

Hari/tanggal : Rabu, 06 April 2016

Waktu : 09.00 selesai (45 Menit)

Tempat : Ruangan 2.4 STIKes Yogyakarta

Sasaran : Masyarakat Nitikan Baru

I. Latar Belakang

Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi
akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau terjadi
akibat kedua-duanya (Ilyas, 2009). Kekeruhan ini dapat mengganggu jalannya
cahaya yang melewati lensa sehingga pandangan dapat menjadi kabur hingga
hilang sama sekali. Penyebab utama katarak adalah usia, tetapi banyak hal lain
yang dapat terlibat seperti trauma, toksin, penyakit sistemik (seperti diabetes),
merokok dan herediter (Vaughan & Asbury, 2007). Berdasarkan studi potong
lintang prevalensi katarak pada usia 65 tahun adalah 50% dan prevalensi ini
meningkat hingga 70% pada usia lebih dari 75 tahun (Vaughan & Asbury,
2007).
Katarak merupakan masalah penglihatan yang serius karena katarak
dapat mengakibatkan kebutaan. Menurut WHO pada tahun 2002 katarak
merupakan penyebab kebutaan yang paling utama di dunia sebesar 48% dari
seluruh kebutaan di dunia. Setidaknya terdapat delapan belas juta orang di
dunia menderita kebutaan akibat katarak. Di Indonesia sendiri berdasarkan
hasil survey kesehatan indera 1993-1996, katarak juga penyebab kebutaan
paling utama yaitu sebesar 52%.
Katarak memang dianggap sebagai penyakit yang lumrah pada lansia.
Akan tetapi, ada banyak faktor yang akan memperbesar resiko terjadinya
katarak. Faktor-faktor ini antara lain adalah paparan sinar ultraviolet yang
berlebihan terutama pada negara tropis, paparan dengan radikal bebas,
merokok, defesiensi vitamin (A, C, E, niasin, tiamin, riboflavin, dan beta

1
karoten), dehidrasi, trauma, infeksi, penggunaan obat kortikosteroid jangka
panjang, penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, genetik dan myopia.
II. Tujuan
a. Tujuan Umum
Setlah di lakukan penyuluhan ini selama 45 menit, di
harapkan audiens/masyarakat dapat mengerti dan memahami
pencegahan primer terhadap penyakit mata katarak.
b. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan ini di harapkan agar
audiens/masyarakat dapat :
1) Menjelaskan tentang Pengertian Katarak
2) Menjelaskan tentang Penyebab Katarak
3) Menjelaskan tentang Macam-macam Katarak
4) Menjelaskan tentang Patofisiologi Katarak
5) Menjelaskan tentang Tanda dan gejala Katarak
6) Menjelaskan tentang Pemeriksaan Diagnostik Katarak
7) Menjelaskan tentang Penatalaksanaan Katarak
8) Menjelaskan tentang Pencegahan Katarak
9) Menjelaskan tentang Komplikasi Katarak
III. Kegiatan Penyuluhan
a. Materi
1) Pengertian Katarak
2) Penyebab Katarak
3) Macam-macam Katarak
4) Patofisiologi Katarak
5) Tanda dan gejala Katarak
6) Pemeriksaan Diagnostik Katarak
7) Penatalaksanaan Katarak
8) Pencegahan Katarak
9) Komplikasi Katarak
b. Strategi Pelaksanaan
1) Persiapan

2
a) Survey karakter dan lokasi sasaran
b) Koordinasikan dengan pihak Kampus
c) Menyiapkan alat dan bahan
2) Pelaksanaan

No Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Audiens Waktu


1 1. Tahap Pembukaan
1.1 Membuka pertemuan dan Membalas salam
2 Menit
memberikan salam
1.2 Memperkenalkan diri Memperhatikan
2 2. Tahap Apersepsi
2.1 Menanyakan pengetahuan Memperhatikan dan menjawab
5 Menit
audiens tentang penyakit pertanyaan
katarak
3 3. Tahap Informasi
3.1 Memberikan informasi Mendengar dan memperhatikan
tentang topik yang akan Mendengar dan memperhatikan
3 Menit
disampaikan
3.2 Menjelaksan tujuan
penyuluhan
4 4. Tahap Penyuluhan
4.1 Menjelaskan :
a. Pengertian Katarak Mendengar dan memperhatikan
b. Penyebab Katarak Mendengar dan memperhatikan
c. Macam-macam Katarak Mendengar dan memperhatikan
d. Patofisiologi Katarak Mendengar dan memperhatikan 30
e. Tanda dan gejala Mendengar dan memperhatikan Menit
Katarak
f. Pemeriksaan Diagnostik Mendengar dan memperhatikan
Katarak
g. Penatalaksanaan Mendengar dan memperhatikan
Katarak

3
h. Pencegahan Katarak Mendengar dan memperhatikan
i. Komplikasi Katarak Mendengar dan memperhatikan
4.2 Memberikan pasien Bertanya, mendengar dan
kesempatan bertanya memperhatikan
5 5. Tahap Penutup :
5.1 Penyaji mengajukan Menjawab Pertanyaan
beberapa pertanyaan
secara lisan dan tertulis
untuk mengevaluasi
tingkat pemahaman
masyarakat tentang materi 5 Menit
yang diberikan.
5.2 Moderator menyimpulkan Mendengar dan memperhatikan
materi tentang katarak
5.3 Moderator menutup acara Mendengar dan menjawab
dengan mengucapkan salam
salam.

IV. Sarana Penunjang


a. Metode
Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah :
1) Ceramah
2) Tanya jawab
b. Media dan alat bantu
Media dan alat bantu yang digunakan dalam penyuluhan ini
adalah :
1) Laflet
2) Microsoft Word
3) Power Point
4) Laptop
5) Infokus (proyektor)
6) Mike

4
7) Video

V. Evaluasi
a. Struktur
1. Ruang kondusif untuk kegiatan
2. Peralatan memadai dan berfungsi
3. Media dan materi tersedia dan memadai
b. Proses
1. Ketetapan waktu pelaksanaan
2. Peran serta aktif audiens/masyarakat
3. Kesesuaian peran dan fungsi dari penyuluhan
4. Faktor pendukung dan penghambat kegiatan
c. Hasil
Terkait dengan tujuan yang ingin di capai :
1. Tes lisan
a) Penyaji mengajukan beberapa pertanyaan kepada
audiens tentang meteri penyuluhan yang telah
dijelaskan.
b) Bila audiens dapat menjawab 60% dari pertanyaan
yang diajukan, maka dikategorikan pengetahuan baik.
2. Tes tertulis
Penyaji memberikan pertanyaann sebanyak 5 pertanyaan,
dengan jawaban benar > 3 atau dengan nilai/score 57%
penyuluhan dinyatakan berhasil.

5
LAMPIRAN MATERI

A. Pengertian

Definisi katarak menurut WHO adalah kekeruhan yang terjadi pada


lensa mata, yang menghalangi sinar masuk ke dalam mata. Katarak terjadi
karena faktor usia, namun juga dapat terjadi pada anak-anak yang lahir dengan
kondisi tersebut. Katarak juga dapat terjadi setelah trauma, inflamasi atau
penyakit lainnya

Katarak berasal dari bahasa yunani kataarrhakies yang berarti air


terjun. Dalam bahasa Indonesia, katarak disebut bular, yaitu penglihatan
seperti tertutup air terjuan akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap
keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan
cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya ( Ilyas,1999 cit
Anas Tamsuri, 2011 : 54 )..

B. Penyebab

Beberapa pandangan teoritis oleh beberapa ahli tentang penjabaran


penyebab terjadinya penyakit (etiologi) katarak :

Penyebab dari katarak adalah usia lanjut (senile) tapi dapat terjadi
secara kongenital akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin, genetik, dan
gangguan perkembangan, kelainan sistemik, atau metabolik, seperti diabetes
melitus, galaktosemi, atau distrofi mekanik, traumatik: terapi kortikosteroid,
sistemik, rokok, dan konsumsi alkohol meningkatkan resiko katarak
(Mansjoer,2000).

6
Penyebab utama katarak adalah penuaan. Anak dapat menerima
katarak yang biasanya merupakan penyakit yang sedang diturunkan,
peradangan dalam kehamilan. Faktor lain yaitu diabetes mellitus dan obat
tertentu, sinar UV B dari cahaya matahari, efek racun, rokok, dan alkohol, gizi
kurang vitamin E dan radang menahun didalam bola mata, serta adanya cidera
mata (Ilyas,1997).

Katarak terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat
kelahiran (katarak kongenital) dapat juga berhubungan dengan trauma mata
tajam/tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemis,
seperti dibetes melitus atau hiperparatiroidisme, pemajanan radiasi,
pemajanan sinar matahari (sinar ultraviolet) atau kelainan mata lain seperti
uveitis anterior (Smeltzer,2002).

Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya


usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun
keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu
terinfeksi virus pada saat hamil muda.

Penyebab katarak lainnya meliputi :

a. Faktor keturunan.
b. Cacat bawaan sejak lahir.
c. (congenital) Masalah kesehatan, misalnya diabetes
d. Operasi mata sebelumnya.
e. Trauma (kecelakaan) pada mata. Faktor-faktor lainya yang belum
diketahui

C. Klasifikasi
Macam-macam katarak :
1. Katarak senile
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang
terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Pada katarak
senil akan terjadi degenerasi lensa secara perlahan-lahan. Tajam

7
penglihatan akan menurun secara berangsur-angsur hingga
tinggal proyeksi sinar saja. Katarak senil merupakan katarak yang
terjadi akibat terjadinya degenerasi serat lensa karena proses
penuaan.
Katarak senil dapat terbagi dalam berberapa stadium :
a) Katarak insipiens, dimana mulai timbul katarak akibat
proses degenerasi lensa. Kekeruhan lensa berbentuk
bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Pasien akan
mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda
dengan satu matanya. Pada stadium ini proses degenerasi
belum menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga
akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang
normal, iris dalam posisi biasa disertai dengan kekeruhan
ringan pada lensa. Tajam penglihatan pasien belum
terganggu.
b) Katarak imatur, dimana pada stadium ini lensa yang
degeneratif mulai terserap cairan mata ke dalam lensa
sehingga lensa menjadi cembung. Terjadi pembengkakan
lensa yang disebut sebagai katarak intumesen. Pada
katarak imatur maka penglihatannya mulai berangsur-
angsur menjadi berkurang, hal ini diakibatkan media
penglihatan tertutup oleh kekeruhan lensa yang menebal.
c) Katarak matur, merupakan proses degenarasi lanjut lensa.
Terjadi kekeruhan seluruh lensa. Tekanan cairan di dalam
lensa sudah keadaan seimbang dengan cairan dalam mata
sehingga ukuran lensa akan menjadi normal kembali.
Tajam penglihatan sangat menurun dan dapat hanya
tinggal proyeksi saja.
d) Katarak hipermatur, dimana pada stadium ini terjadi
proses degenerasi lanjut lensa dan korteks lensa dapat
mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam
korteks lensa ( katarak morgagni). Pada stadium ini terjadi

8
juga degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa ataupun
korteks lensa yang cair keluar dan masuk ke dalam bilik
mata depan. Pada stadium hipermatur akan terlihat lensa
yang lebih kecil dari pada normal, yang akan
mengakibatkan iris trimulans, dan bilik mata depan
terbuka.
Perbedaan stadium katarak senile

Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif

Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans ( )

Bilik mata Normal Dangkal Normal Dalam


depan

Sudut bilik Normal Sempit Normal Terbuka


mata

Shadow test Negatif Positif Negatif Pseudo positif

Penyulit - Glaukoma - Uveitis, glaukoma

2. Katarak congenital
Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa yang
didapatkan sejak lahir, dan terjadi akibat gangguan perkembangan
embrio intrauterin. Katarak kongenital yang terjagi sejak
perkembangan serat lensa terlihat segera setelah bayi lahir sampai
usia 1 tahun. Katarak ini terjadi karena gangguan metabolisme
serat-serat lensa pada saat pembentukan serat lensa akibat
gangguan metabolisme jaringan lensa pada saat bayi masih di
dalam kandungan. Pada bayi dengan katarak kongenital akan
terlihat bercak putih di depan pupil yang disebut sebagai
leukokoria (pupil berwarna putih). Setiap bayi dengan lekokoria
sebaiknya difikirkan diagnosis bandingan seperti retinoblastoma,

9
endoftalmitis, fibroplasi retroletal, hiperplastik viterus primer, dan
miopia tinggi disamping katarak sendiri.

Beberapa macam jenis katarak kongenital :

1) Katarak lamelar atau zonular


Bila pada permulaan perkembangan serat lensa normal dan
kemudian terjadi gangguan perkembangan serat lensa.
Biasanya perkembangan serat lensa selanjutnya normal
kembali sehingga nyata terlihat adanya gangguan
perkembangan serta lensa pada satu lamel daripada
perkembangan lensa tersebut. Katarak lamelar bersifat
herediter yang diturunkan secara dominan dan biasanya
bilateral. Tindakan pengobatan atau pembedahan dilakukan
bila fundus okuli tidak tampak pada pemeriksaan
funduskopi.
2) Katarak polaris posterior
Katarak polaris posterior ini terjadi akibat arteri hialoid
yang menetap (persisten) pada saat tidak dibutuhakan lagi
oleh lensa untuk metabolismenya. Ibu dan bayi akan
melihat adanya leukokoria pada mata tersebut. Pada
pemeriksaan akan terlihat kekeruhan di dataran belakang
lensa. Bila dilakukan pemeriksaan funduskopi akan terlihat
serat sisa arteri hialoid yang menghubungkan lensa bagian
belakang dengan papil saraf optik. Adanya arteri hialoid
yang menetap ini dapt dilihat dengan pemeriksaan
ultrasonografi. Bila fundus okuli masih terlihat, maka perlu
tindakan bedah pada katarak polar posterior ini karena tidak
akan terjadi ambilopia eksanopsia. Bila fudus okuli tidak
tampak, maka dialakukan tindakan bedah iridektomi optik
atau bila mungkin dilakukan lesenktomi. Ekstrasi linear
ataupun disisio lentis merupakan kontra indikasi karena
akan terjadi tarikan arteri hialoid dengan papil yang dapat
mengakibatkan ablasi retina.

10
3) Katarak polaris anterior
Katarak polaris arterior atau piramidalis arterior akibat
gangguan perkembangan lensa pada saat mulai
terbentuknya plakoda lensa. Pada saat ibu dengan
kehamilan kurang dari 3 bulan mendapat infeksi virus,
maka amnionya akan mengandung virus. Plakoda lensa
akan mendapat infeksi virus hingga rubela masuk ke dalam
vesikel akan menjadi lensa. Gambaran klinis akan terjadi
ialah adanya keluhan ibu karena anaknya mempunyai
leukokoria. Pada pemeriksaan subjektif akan terlihat
kekeruhan pada kornea dan terdapatnaya fibrosis di dalam
bilik mata depan yang menghubungkan kekeruhan kornea
dengan lensa yang keruh. Kekeruhan yang terlihat pada
lensa terletak di polus anterior lensa dalam bentuk piramid
dengan puncak di dalam bilik mata depan. Kekeruhan lensa
pada katarak polar anterior ini tidak progresif. Pengobatan
dilakukan bila kekeruhan mengakibatkan tidak terlihatnya
fundus bayi tersebut. Tindakan bedah yang dilakukan
adalah disisio lentis atau suatu ekstraksi linear.
4) Katarak sentral
Katarak sentral merupakan katarak halus yang terlihat pada
bagian nukleus embrional. Katarak ini terdapat 80% orang
normal dan tidak menggangu tajam penglihatan.
Pengobatan tidak dilakukan pada katarak sentral karena
tidak menggangu tajam penglihatan dan fundus okuli dapat
dilihat dengan mudah.
3. Katarak traumatic
Katarak traumatik adalah katarak yang terjadi akibat trauma lensa
mata, serta robekan pada kapsul sebagai akibat dari benda tajam.
Apabila terjadi lubang yang besar pada kapsul lensa, maka humor
akuosus akan masuk ke dalam lensa dan menyebabkan penyerapan
lensa, serta menyebabkan uveitis.

11
4. Katarak juvenil
Katarak juvenile adalah katarak yang terlihat setelah usia 1 tahun
dapat terjadi karena:
a) Lanjutan katarak kongenital yang makin nyata.
b) Penyulit penyakit lain, katarak komplikata, yang dapat terjadi
akibat :
Penyakit lokal pada satu mata,seperti akibat uveitis anterior,
glaukoma, ablasi retiana, miopia tinggi, ftsis bulbi, yang
mengenai satu mata.
Penyakit sistemik, seperti diabetes, hipoparatiroid, dan
miotonia distrofi,yang mengenai kedua mata akibat trauma
tumpul ataupun tajam
Biasanya katarak juvenil ini merupakan katarak yang
didapat dan banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor.
5. Katarak komplikata
Katarak komplikata terjadi akibat gangguan keseimbangan susunan
sel lensa faktor fisik atau kimiawi sehingga terjadi gangguan
kejernihan lensa. Katarak komplikata dapat terjadi akibat
iridosiklitis, miopia tinggi, abalasi retina dan glaukoma. Katarak
komplikata dapat terjadi akibat kelainan sistemik yang akan
mengenai kedua mata atau kelainan lokal yang akan mengenai satu
mata.
6. Katarak diabetika
Katarak diabetika adalah katarak yang disebabkan oleh penyakit
diabetes.

D. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih(bening),
transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi
yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral
terdapat nukleus, di ferifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya
adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukeus

12
mengalami perubahan warna menjadi cokelat kekuningan. Di sekitar opasitas
terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada
kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak
seperti kristal salju pada jendela.

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya


transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang
dari badan silier ke daerah di luar lensa,misalnya,dapat menyebabkan
penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat
menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan
menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan
terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa.
Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan menggangu transmisi
sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam
melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dan tidak ada
pada pasien yang menderita katarak. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun
menpunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma
maupun sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya merupakan proses
penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan
matang ketika seseorang memasuki dekade ketujuh. Katarak dapat bersifat
kongenital dan harus diidentifikasikan awal, karena bila tidak terdiagnosa
dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor
yang paling sering menyebabkan terjadinya katarak meliputi sinar UV B,obat-
obatan,alkohol,merokok,diabetes,dan asupan vitamin antioksi dan yang
kurang dalam waktu yang lama.

13
E. Tanda dan Gejala

Gejala umum gangguan katarak meliputi :


1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek
2. Peka terhadap sinar atau cahaya
3. Dapat melihat dobel pada satu mata
4. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca
5. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu

14
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kartu mata snellen/mesin telebinokuler : mungkin terganggu
dengan kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan
refraksi, penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina.
2. Lapang Penglihatan : penuruan mngkin karena massa tumor,
karotis, glukoma.
3. Pengukuran Tonografi : TIO (12 25 mmHg)
4. Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glukoma.
5. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe gllukoma
6. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng
optik, papiledema, perdarahan.
7. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
8. EKG, kolesterol serum, lipid
9. Tes toleransi glukosa : kotrol DM

G. Penatalaksanaan

Gejala-gejala yang timbul pada katarak yang masih ringan


dapat dibantu dengan menggunakan kacamata, lensa pembesar, cahaya yang
lebih terang, atau kacamata yang dapat meredamkan cahaya. Pada tahap ini
tidak diperlukan tindakan operasi.

Tindakan operasi katarak merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki


lensa mata, tetapi tidak semua kasus katarak memerlukan tindakan operasi.
Operasi katarak perlu dilakukan jika kekeruhan lensa menyebabkan
penurunan tajam pengelihatan sedemikian rupa sehingga mengganggu
pekerjaan sehari-hari. Operasi katarak dapat dipertimbangkan untuk dilakukan
jika katarak terjadi berbarengan dengan penyakit mata lainnya, seperti uveitis
yakni adalah peradangan pada uvea. Uvea (disebut juga saluran uvea) terdiri
dari 3 struktur:

1. Iris : cincin berwarna yang melingkari pupil yang berwarna hitam

15
2. Badan silier : otot-otot yang membuat lensa menjadi lebih tebal
sehingga mata bisa fokus pada objek dekat dan lensa menjadi lebih
tipis sehingga mata bisa fokus pada objek jauh
3. Koroid : lapisan mata bagian dalam yang membentang dari ujung otot
silier ke saraf optikus di bagian belakang mata.

Sebagian atau seluruh uvea bisa mengalami peradangan. Peradangan


yang terbatas pada iris disebut iritis, jika terbatas pada koroid disebut
koroiditis. Juga operasi katarak akan dilakukan bila berbarengan dengan
glaukoma, dan retinopati diabetikum. Selain itu jika hasil yang didapat setelah
operasi jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan risiko operasi yang
mungkin terjadi. Pembedahan lensa dengan katarak dilakukan bila
mengganggu kehidupan social atau atas indikasi medis lainnya.( Ilyas,
Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)

Indikasi dilakukannya operasi katarak :

1. Indikasi sosial: jika pasien mengeluh adanya gangguan penglihatan


dalam melakukan rutinitas pekerjaan
2. Indikasi medis: bila ada komplikasi seperti glaucoma
3. Indikasi optik: jika dari hasil pemeriksaan visus dengan hitung jari dari
jarak 3 m didapatkan hasil visus 3/60

Ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu:

1. ICCE ( Intra Capsular Cataract Extraction)


Yaitu dengan mengangkat semua lensa termasuk kapsulnya. Sampai
akhir tahun 1960 hanya itulah teknik operasi yg tersedia.
2. ECCE (Ekstra Capsular Cataract Extraction) terdiri dari 2 macam
yakni :
a) Standar ECCE atau planned ECCE dilakukan dengan
mengeluarkan lensa secara manual setelah membuka kapsul lensa.
Tentu saja dibutuhkan sayatan yang lebar sehingga penyembuhan
lebih lama.
b) Fekoemulsifikasi (Phaco Emulsification). Bentuk ECCE yang
terbaru dimana menggunakan getaran ultrasonic untuk

16
menghancurkan nucleus sehingga material nucleus dan kortek
dapat diaspirasi melalui insisi 3 mm. Operasi katarak ini
dijalankan dengan cukup dengan bius lokal atau menggunakan
tetes mata anti nyeri pada kornea (selaput bening mata), dan
bahkan tanpa menjalani rawat inap. Sayatan sangat minimal,
sekitar 2,7 mm. Lensa mata yang keruh dihancurkan
(Emulsifikasi) kemudian disedot (fakum) dan diganti dengan lensa
buatan yang telah diukur kekuatan lensanya dan ditanam secara
permanen. Teknik bedah katarak dengan sayatan kecil ini hanya
memerlukan waktu 10 menit disertai waktu pemulihan yang lebih
cepat.

Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka


pendek. Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika
bekas insisi telah sembuh. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru
dapat dilakukan lebih cepat dengan metode fakoemulsifikasi. Karena pasien
tidak dapat berakomodasi maka pasien akan membutuhkan kacamata untuk
pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan kacamata untuk jarak jauh. Saat
ini digunakan lensa intraokular multifokal. Lensa intraokular yang dapat
berakomodasi sedang dalam tahap pengembangan

Apabila tidak terjadi gangguan pada kornea, retina, saraf mata atau
masalah mata lainnya, tingkat keberhasilan dari operasi katarak cukup tinggi,
yaitu mencapai 95%, dan kasus komplikasi saat maupun pasca operasi juga
sangat jarang terjadi. Kapsul/selaput dimana lensa intra okular terpasang pada
mata orang yang pernah menjalani operasi katarak dapat menjadi keruh.
Untuk itu perlu terapi laser untuk membuka kapsul yang keruh tersebut agar
penglihatan dapat kembali menjadi jelas.

H. Pencegahan

Perawat sebagai anggota penting tim perawatan kesehatan, dan


sebagai pendidik dan praktiksi kebiasaan kesehatan yang baik, dapat
memberikan pendidikan dalam hal asuhan mata, keamanan mata, dan

17
pencegahan penyakit mata. Perawat dapat mencegah membantu orang belajar
bagaimana mencegah kontaminasi silang atau penyebaran penyakit infeksi
kepada orang lain melalui praktek higiene yang baik. Perawat dapat
mendorong pasien melakukan pemeriksaan berkala dan dapat
merekomendasikan cara mencegah cedera mata.

Kapan dan seringnya mata seseorang harus diperiksa tergantung pada


usia pasien, faktor resiko terhadap penyakit dan gejala orkuler. Orang yang
mengalami gejala orkuler harus segera menjalani pemeriksaan mata. Mereka
yang tidak mengalami gejala tetapi yang berisiko mengalami penyakit mata
orkuler harus menjalani pemeriksaan mata berkala. Pasien yang menggunakan
obat yang dapat mempengaruhi mata, seperti kortekosteroid,
hidrokksikloroquin sulfat, tioridasin HCI, atau amiodarone, harus diperiksa
secara teratur. Yang lainya harus menjalani evaluasi glaukoma rutin pada usia
35 dan reevaluasi berkala setiap 2 sampai 5 tahun.

I. Komplikasi

Ambliopia sensori, penyulit yang terjadi berupa : visus tidak akan


mencapai 5/5. Komplikasi yang terjadi : nistagmus dan strabismus dan bila
katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan menimbulkan
komplikasi berupa glukoma dan uveitis.

18
DAFTAR PUSTAKA
Amin,Hardi.2013. Buku Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosis medis & NANDA Edisi revisi jilid 2. Yogyakarta: Mecation
Istiqomah, Indriana N. 2004. Asuhan Keparawatan Klien Gangguan
Mata.Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media
Aesculapius
Reeves, Charlene J. 2001. Keparawatan Medical Bedah Edisi pertama.
Jakarta: Penerbit Salemba
Sunart dan sudarth. Keparawatan Medical Bedah edisi Ketiga.

19