Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN ASFIKSIA NEONATORUM

TULIP , RSUD Dr. ADHYATMA, MPH SEMARANG

DISUSUN OLEH :

DYAH PUJI PRAVITASARI

P.1337420917011

PRODI NERS SEMARANG

JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

Jalan Tirto Agung Padalangan Banyumanik Semarang 50268

Tahun Ajaran 2017/2018


ASFIKSIA NEONATORUM

A. KONSEP DASAR

1. Definisi
Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan mungkin
meningkatkan C02 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut.

2. Etiologi
a. Faktor Ibu
1) Hipoksia ibu, ini terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik
atau anestesi dalam.
2) Gangguan aliran darah uterus, mengurangnya aliran darah pada uterus akan
menyebabkan berkurangnya pengaliran O2 ke placenta dan demikian pula ke
janin. Hal ini sering ditemukan pada keadaan :

i. Gangguan kontraksi uterus : hipertoni, hipotoni, atau tetani uterus karena


obat.
ii. Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
iii. Hipertensi pada eklamasia
b. Faktor Placenta, misal :
1) Lilitan tali pusat
2) Tali pusat pendek
3) Simpul tali pusat
4) Prolapsus tali pusat
c. Faktor neonatus
Depresi pusat pernafasan pada BBL dapat terjadi karena pemakaian obat anestesia
yang berlebihan pada ibu.
d. Faktor antepartum
Umur ibu > 35 tahun, kehamilan kurang bulan, kehamilan ganda, dismatur, riwayat
IUFD infeksi pada ibu, kecanduan obat pada ibu, cacat bawaan, ibu dengan DM,
anemia, perdarahan trimester II / III, oligohidramnion.

e. Faktor Intra partum


Sectio Caesaria, persalinan kurang bulan, pemakaian anestesi umum, KPD > 24
jam.
3. Manifestasi Klinis
a. Pada Kehamilan
1) Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt,
halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
2) Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
3) Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia
4) Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat
b. Pada bayi setelah lahir
1) Bayi pucat dan kebiru-biruan
2) Usaha bernafas minimal atau tidak ada
3) Hipoksia
4) Asidosis metabolik atau respiratori
5) Perubahan fungsi jantung
6) Kegagalan sistem multiorgan
7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik,
kejang, nistagmus dan menangis kurang baik/tidak baik
Ada 2 macam kriteria Asfiksia:

Perbedaan Asfiksia Pallida Asfiksia Livida


1. Warna kulit 1. Pucat 1. Kebiru-biruan
2. Tonus otot 2. Sudah kurang 2. Masih baik
3. Reaksi rangsangan 3. Negative 3. Positif
4. Bunyi jantung 4. Tak teratur 4. Masih teratur
5. Prognosis 5. Jelek 5. Lebih baik

APGAR SCORE
Tanda O 1 2
Frekwensi Tidak ada < 100 / menit > 100 / menit
jantung
Usaha bernafas Tidak ada Lambat tak teratur Menangis kuat
Tonus otot Lumpuh Extremitas fleksi Gerakan pasif
sedikit
Reflek Tidak ada Gerak sedikit Menangis
Warna Biru / pucat Tubuh kemerahan, Tubuh ekstremitas
extremitas biru kemerahan
Tingkatan asfiksia
a. Asfiksia ringan / bayi normal : nilai apgar score 7-10
b.Asfiksia sedang : nilai apgar score 4-6
c. Asfiksia berat : nilai apgar 0-3
Asfikia Neonaiorum dapat dibagi dalam :
a. "Vigorous baby'' skor apgar 7-10, dalam hal ini bayi dianggap sehat dan
tidak memerkikan istimewa.
b. "Mild-moderate asphyxia" (asfiksia sedang) skor apgar 4-6 pada
pemeriksaan fisis akan terlihat frekuensi jantung lebih dari lOOx/menit,
tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refick iritabilitas tidak ada
c. Asfiksia berat: skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisis ditemukan'
frekuensi jantung kurang dari l00x/menit, tonus otot buruk, sianosis
berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada
Asfiksia berat dengan henti jantung yaitu keadaan :
1) Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelu
lahir lengkap.
2) Bunyi jantung bayi menghilang post partum.

4. Patofisiologi
Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa
kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia
ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap
sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar lerjadi Primarg
gasping yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan.
Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan
persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi
fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan
gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya
asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea)
disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan
usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada
penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada
dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada tingkat ini ditemukan bradikardi
dan penurunan tekanan darah.
Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan
pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan
pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut
dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen
tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkuang.asam
organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan tumbuhnya asidosis
metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang
disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam
jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan
mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan
kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan
menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi
darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan
gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak.
Kerusakan sel otak yang terjadi menimbuikan kematian atau gejala sisa pada
kehidupan bayi selanjutnya.

C. PENATALAKSANAAN KLINIS
1. Tindakan Umum
a. Bersihkan jalan nafas : kepala bayi dileakkan lebih rendah agar lendir mudah
mengalir, bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir
dari saluran nafas ayang lebih dalam.
b. Rangsang reflek pernafasan : dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan
bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles.
c. Mempertahankan suhu tubuh.
2. Tindakan khusus
a. Asfiksia berat
Berikan O2 dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal. dapat
dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang
diberikan tidak 30 cm H 20. Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message
jantung dengan ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80 100 x/menit.
b. Asfiksia sedang/ringan
Pasang relkiek pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila
gagal lakukan pernafasan kodok (Frog breathing) 1-2 menit yaitu : kepala bayi
ektensi maksimal beri Oz 1-2 1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup
mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke atas-bawah secara teratur 20x/menit
c. Penghisapan cairan lambung untuk mencegah regurgitasi

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Anamnesis
Anamnesis diarahkan untuk mencari faktor risiko terhadap terjadinya asfiksia
neonatorum.
a. Gangguan/ kesulitan waktu lahir
b. Cara dilahirkan
c. Ada tidaknya bernafas dan menangis segera setelah dilahirkan (Ghai, 2010).
2. Pemeriksaan fisik
a. Bayi tidak bernafas atau menangis
b. Denyut jantung kurang dari 100x/menit
c. Tonus otot menurun
d. Bisa didapatkan cairan ketuban ibu bercampur mekonium, atau sisa mekonium
pada tubuh bayi
e. BBLR (berat badan lahir rendah) (Ghai, 2010).
3. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium: hasil analisis gas darah tali pusat menunjukkan hasil asidosis pada
darah tali pusat jika: PaO2 < 50 mm H2O,PaCO2 > 55 mm H2 dan pH < 7,30
(Ghai, 2010)
b. Pemeriksaan pH darah janin dengan menggunakan amnioskopi yang dimasukkan
lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin dan diambil contoh darah
janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH.
Apabila pH itu sampai turun dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya
(Wiknjosastro, 2007).
c. Analisa Gas Darah: Analisa dilakukan pada darah arteri, penting untuk mengetahui
adanya asidosis dan alkalosis respiratorik/metabolik. Hal ini diketahui dengan
tingkat saturasi SaO2 dan PaO2. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui
oksigenasi, evaluasi tingkat kemajuan terapi (Muttaqin, 2008).
d. Elektrolit Darah: Komplikasi metabolisme terjadi di dalam tubuh akibatnya
persediaan garam-garam elektrolit sebagai buffer juga terganggu
kesetimbangannya. Timbul asidosis laktat, hipokalsemi, hiponatremia, hiperkalemi.
Pemeriksaan elektrolit darah dilakukan uji laboratorium dengan test urine untuk
kandungan ureum, natrium, keton atau protein (Harris, 2009).
e. Gula darah: Pemeriksaan gula darah dilakukan uji laboratorium dengan test urine
untuk kandungan glukosa. Menurut Harris (2009), penderita asfiksia umumnya
mengalami hipoglikemi.
f. Pemeriksaan radiologik: Pemeriksaan radiologik seperti ultrasonografi
(USG),computed tomography scan (CT-Scan) dan magnetic resonance imaging
(MRI) mempunyai nilai yang tinggi dalam menegakkan diagnosis
g. USG ( Kepala )
h. Penilaian APGAR score
i. Pemeriksaan EGC dab CT- Scan
j. Foto polos dada (Ghai, 2010)

E. PENATALAKSANAAN
1. Terapi dan pengobatan pada bayi baru lahir dengan asfiksia menurut Wiknjosastro
(2008) adalah sebagai berikut:

a. Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu
tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel jaringan sehingga kebutuhan
oksigen meningkat, perlu diperhatikan untuk menjaga kehangatan suhu bayi baru
lahir dengan:
1) Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak
2) Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar
3) Bungkus bayi dengan kain kering
b. Pembersihan jalan nafas
Lakukan tindakan A-B-C-D (Airway/ membersihkan jalan nafas, Breathing/
mengusahakan timbulnya pernafasan/ ventilasi, Circulation/ memperbaiki sirkulasi
tubuh, Drug/ memberikan obat).
A : Memastikan saluran nafas terbuka
1)Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi, bahu diganjal.
2)Menghisap mulut, hidung dan trakhea, Saluran nafas bagian atas segera
dibersihkan dari lendir dan cairan amnion, kepala bayi harus posisi lebih
rendah sehingga memudahkan keluarnya lendir.
3)Bila perlu, masukkan pipa ET untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.
B : Memulai pernafasan
1) Memakai rangsangan taktil untuk memulai pernafasan atau rangsangan nyeri
pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telapak kaki bayi,
menekan tendon achilles atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini
berfungsi memperbaiki ventilasi.
2) Memakai VTP bila perlu, seperti sungkup dan balon, pipa ET dan balon,
mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
C : Mempertahankan sirkulasi darah: Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah
dengan cara kompres pada daerah dada.
D : Pemberian obat-obatan
1) Epineprin
a) Indikasi : diberikan apabila frekuensi jantung tetap di bawah
80 x/mnt walaupun telah diberikan paling sedikit 30 detik
VTP adekuat dengan oksigen 100 % dan kompresi dada atau
frekuensi jantung. Dosis 0,1 0,3 ml/kg untuk larutan
1:10000. Cara pemberian dapat melalui intravena (IV) atau
melalui pipa endotrakheal.
b) Efek : Untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatan konstraksi jantung
2) Volume ekspander (darah/ whole blood, cairan albumin-salin 5%, Nacl,
RL).
a) Indikasi : digunakan dalam resusitasi apabila terdapat
kejadian atau diduga adanya kehilangan darah akut dengan
tanda-tanda hipovolemi. Dosis 10 ml/ kg. Cara pemberian IV
dengan kecepatan pemberian selama waktu 5-10 menit.
b) Efek : meningkatkan volume vaskuler, meningkatkan
asidosis metabolik.
3) Natrium Bikarbonat
a) Indikasi : digunakan apabila terdapat apneu yang lama yang
tidak memberikan respon terhadap terapi lain. Diberikan
apabila VTP sudah dilakukan.
b) Efek : memperbaiki asidosis metabolik dengan meningkatkan
ph darah apabila ventilasi adekuat, menimbulkan penambahan
volume disebabkan oleh cairan garam hipertonik.
4) Nalakson hidroklorid/ narcan
a) Indikasi : depresi pernafasan yang berat atau riwayat
pemberian narkotik pada Ibu dalam 4 jam sebelum
persalinan.
b) Efek : antagonis narkotik.
2. Menurut Perinasia (2010), Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan asfiksia,
antara lain:
a. Asfiksi Ringan (Apgar score 7-9)
Caranya:
1) Bayi dibungkus dengan kain hangat
2) Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian mulut
3) Bersihkan badan dan tali pusat
4) Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke dalam inkubator
b. Asfiksia sedang (Apgar score 4-6)
Caranya:
1) Bersihkan jalan napas
2) Berikan oksigen 2 liter per menit
3) Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada reaksi,
bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag)
4) Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat
7,5%sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan melalui vena
umbilikus secara perlahan-lahan, untuk mencegah tekanan intra kranial
meningkat
c. Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)
Caranya:
1) Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag
2) Berikan oksigen 4-5 liter per menit
3) Bila tidak berhasil lakukan ETT
4) Bersihkan jalan napas melalui ETT
5) Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan natrium
bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc.

F. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan menghilangkan atau
meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Derajat kesehatan wanita, khususnya
ibu hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan dan melahirkan harus
dihindari. Upaya peningkatan derajat kesehatan ini tidak mungkin dilakukan dengan
satu intervensi saja karena penyebab rendahnya derajat kesehatan wanita adalah akibat
banyak faktor seperti kemiskinan, pendidikan yang rendah, kepercayaan, adat istiadat
dan lain sebagainya. Untuk itu dibutuhkan kerjasama banyak pihak dan lintas sektoral
yang saling terkait (Perinasia, 2009).

G. PENCEGAHAN SAAT PERSALINAN


Pengawasan bayi yang seksama sewaktu memimpin partus adalah penting, juga
kerja sama yang baik dengan Bagian Ilmu Kesehatan Anak.
Yang harus diperhatikan:
1. Hindari forceps tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, sertapemberian
pituitarin dalam dosis tinggi.
2. Bila ibu anemis, perbaiki keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan oksigen dan
darah segar.
3. Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat, dan jangan menunggu lama
pada kala II (Perinasia, 2009).

KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengkajan adalah data dasar utama proses keperawatan yang tujuannya adalah
untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien
yang memungkinkan perawat asuhan keperawatan kepada klien
1. Identitas Pasienyaitu: mencakup nama pasien, umur, agama, alamat, jenis kelamin,
pendidikan, perkerjaan, suku, tanggal masuk, no. MR, identitas keluarga, dll.
2. Keluhan Utama : Biasanya bayi setelah partus akan menunjukkan tidak bias
bernafas secara spontan dan teratur segera setelah dilahirkan keadaan bayi ditandai
dengan sianosis, hipoksia, hiperkapnea, dan asidosis metabolic
3. Riwayat kehamilan dan kelahiran
a. Prenatal
Kemungkinan ibu menderita penyakit infeksi akut, infeksi kronik, keracunan
karena obat-obat bius, uremia, toksemia gravidarum, anemia berat, bayi
mempunyai resiko tinggi terhadap cacat bawaan dan tejadi trauma pada waktu
kehamilan.
b. Intranatal
Biasanya asfiksia neonatus dikarenakan kekurangan o2 sebab partus lama,
rupture uteri yang memberat, tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada
placenta, prolaps fenikuli tali pusat, pemberian obat bius terlalu banyak dan
tidak tepat pada waktunya, perdarahan bayak, placenta previa, sulitio plasenta,
persentase janin abnormal, lilitan tali pusat, dan kesulitan lahir
c. Postnatal
Biasanya ditandai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea, asidosis metabolic,
perubahan fungsi jantung, kegagalan system multi organ.
4. Riwayat kesehatan
a. RKD
Kemungkinan ibu menderita penyakit infeksi akut, infeksi kronik, keracunan
karena obat-obat bius, uremia, toksemia gravidarum, anemia berat, bayi
mempunyai resiko tinggi terhadap cacat bawaan dan tejadi trauma pada waktu
kehamilan.
b. RKS
Biasanya bayi akan menunjukkan warna kulit membiru, terjadi hipoksia,
hiperkapnea, asidosis metabolic, usaha bernafas minimal atau tidak ada,
perubahan fungsi janutng, kegagalan system multi organ, kejang, nistagmus
dan menagis kurang baik atau tidak menangis.
c. RKK
Biasanya faktor ibu meliputi amnionitis, anemia, diabetes, hipertensiyang
diinduksi oleh kehamilan dan obat-obat infeksi.
5. Pemeriksaan fisik
a. Kulit
Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru, pada bayi
preterm terdapat lanugo dan verniks.
b. Kepala
Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-
ubun besar cekung atau cembung.
c. Mata
Warna konjungtiva anemis/tidak anemis, tidak ada bleeding konjungtiva,
warna sclera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
d. Hidung
Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
e. Mulut
Bibir berwarna pucat atau merah, ada lendir atau tidak.
f. Telinga
Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan.
g. Leher
Perhatikan kebersihannya karena leher neonatus pendek.
h. Thorax
Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan
ronchi, frekuensi bunyi jantung kurang/lebih dari 100 x/menit.
i. Abdomen
Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah arcus costae pada garis
papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites/tumor,
perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1-2 jam setelah
masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna.
j. Umbilikus
Tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan/tidak, adanya tanda- tanda infeksi
pada tali pusat.
k. Genitalia
Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara
uretra pada neonatus laki-laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan
labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.
l. Anus
Perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna
dari faeces.
m. Ekstremitas
Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau
adanya kelumpuhan saraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
n. Refleks
Pada neonates preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah.
Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan saraf
pusat atau adanya patah tulang.
B. DIAGNOSA
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi
2. Hipotermi berhubungan dengan terpapar lingkungan dingin
3. Pola makan bayi tidak efektif b.d kegagalan neurologik
4. Resiko infeksi berhubungan dengan presedur invasif

C. INTERVENSI
NO DIAGNOSA TUJUAN : KH INTERVENSI

1 Pola napas tidak NOC NIC


efektif b.d Status Respirasi : Manajemen Jalan Napas
hipoventilasi. Ventilasi (0403) : (3140) :
Batasan 1. Pernapasan pasien 1. Buka jalan napas
2. Posisikan bayi untuk
karakteristik : 30-60X/menit.
2. Pengembangan memaksimalkan ventilasi dan
Bernapas
dada simetris. mengurangi dispnea
menggunakan
3. Irama pernapasan 3. Auskultasi suara napas, catat
otot napas
teratur adanya suara tambahan
tambahan. 4. Tidak ada retraksi 4. Identifikasi bayi perlunya
Dispnea
dada saat bernapas pemasangan alat jalan napas
Napas pendek
5. Inspirasi dalam
Frekwensi buatan
tidak ditemukan 5. Keluarkan sekret dengan suctin
napas < 25 kali /
6. Saat bernapas tidak 6. Monitor respirasi dan ststus
menit atau > 60
memakai otot oksigen bila memungkinkan
kali / menit
napas tambahan Monitor Respirasi (3350) :
7. Bernapas mudah
1. Monitor kecepatan, irama,
tidak ada suara
kedalaman dan upaya bernapas
napas tambahan 2. Monitor pergerakan,
kesimetrisan dada, retraksi
dada dan alat bantu pernapasan
3. Monitor adanya cuping hidung
4. Monitor pada pernapasan:
bradipnea, takipnea,
hiperventilasi, respirasi
kusmaul, cheyne stokes, apnea
5. Monitor adanya penggunaan
otot diafragma
6. Auskultasi suara napas, catat
area penurunan dan
ketidakadanya ventilasi dan
bunyi napas.
2 Hipotermi b.d NOC NIC
terpapar lingkungan Termoregulasi Pengobatan Hipotermi (3800) :
dingin. Neonatus (0801) : 1. Pindahkan bayi dari
Batasan 1. Suhu axila 36-37 lingkungan yang dingin ke
karakteristik : C tempat yang hangat (di dalam
2. RR : 30-60
Pucat incubator atau di bawah lampu
Kulit dingin X/menit
sorot)
Suhu tubuh di 3. Warna kulit merah
2. Bila basah segera ganti
bawah rentang muda
pakaian bayi dengan yang
4. Tidak ada distress
normal
hangat dan kering, beri selimut
Menggigil respirasi
3. Monitor suhu bayi
Kuku sianosis 5. Tidak menggigil
4. Monitor gejala hipotermi :
Pengisian 6. Bayi tidak gelisah
7. Bayi tidak letargi fatigue, lemah, apatis,
kapiler lambat
Bradicardia perubahan warna kulit.
Thachycardia 5. Monitor status pernapasan
Hipoxia 6. Monitor intake/output

3 Pola makan bayi NOC NIC


tidak efektif b.d Enteral Tube Feeding (1056) :
1. Berat badan sesuai
kegagalan 1. Pasang NGT / OGT
dengan usia
2. Monitor ketepatan insersi NGT
neurologik 2. Tinja sesuai
/ OGT
Batasan dengan usia
3. Cek peristaltic usus
3. Urin sesuai dengan
karakteristik : 4. Monitor terhadap muntah /
usia
Tidak mampu distensi abdomen
5. Timbang BB bayi
dalam
6. Observasi bentuk, frekuensi
menghisap,
BAB dan BAK
menelan dan 7. Cek residu 4-6 jam sebelum
bernafas pemberian enteral
Tidak mampu
dalam memulai
atau menunjang
penghisapan
efektif
Tidak mampu
dalam
mempertahanka
n penghisapan
efektif
4 Resiko infeksi NOC NICHJ
Faktor Resiko : Status Imun (0702) : Mengontrol Infeksi (6540) :
Prosedur invasif 1. RR : 30-60X/menit 1. Bersihkan box / incubator
Ketidak adanya 2. Irama napas teratur
setelah dipakai bayi lain
3. Suhu 36-370 C
pera-watan 2. Pertahankan teknik isolasi
4. Integritas kulit
imun buatan bagi bayi ber-penyakit
baik
Malnutrisi
5. Integritas nukosa menular
Perubahan PH
3. Batasi pengunjung
baik
4. Instruksikan pada
6. Leukosit dalam
pengunjung untuk cuci
batas normal
tangan sebelum dan sesudah
berkunjung
5. Gunakan sabun antimikrobia
untuk cuci tangan
6. Cuci tangan sebelum dan
sesudah mela-kukan tindakan
keperawatan
7. Pakai sarung tangan dan baju
sebagai pelindung
8. Pertahankan lingkungan
aseptik selama pemasangan
alat
9. Ganti letak IV perifer dan
line kontrol dan dressing
sesuai ketentuan
10. Tingkatkan intake nutrisi
11. Beri antibiotik bila perlu.
Mencegah Infeksi (6550)
1. Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
2. Batasi pengunjung
3. Skrining pengunjung
terhadap penyakit menular
4. Pertahankan teknik aseptik
pada bayi beresiko
5. Bila perlu pertahankan teknik
isolasi
6. Beri perawatan kulit pada
area eritema
7. Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, dan drainase
8. Dorong masukan nutrisi
yang cukup
9. Berikan antibiotik sesuai
program

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 3. Jakarta : Informedika

Carpenito. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC

Amin Huda, 2015. Aplikasi Asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis & NANDA
NIC NOC. Edisi Revisi. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai