Anda di halaman 1dari 57
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 50/MPP/KEP/2/1997 TENTANG ‘TATACARA PEMBERIAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI DAN IZIN PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, Menimbang a. Mengingat =: 1. 7 % 10. bbahwa dalam rangka plaksanaan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomar4] Tahun 1996 tentang Kawasan Industri, maka dipandang perlu menetapkan kembali Tata Cara Pemberian Izin Usaha Kawasan Industsi dan Iain Perluasan Kawasan Industri, bbahwa untuk itu perlu dikeluarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengefoiaan Lingkungan Hidup (Lemabaran Negara Tahun 1982 Nomor 18, Tambahaa Lembaran Negara Nomor 3225); ‘Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 ‘Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274); Undangsundang Nomor24 Tahun 1992tenlang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tan 1922 ‘Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); Perauran Pentcrintalt Republiz Indonesia Nomor 37 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pen- galuran, Pembinaan Dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 23, ‘Tambahan Lembaran Negara Nomor 3330); Peraturan Pemezintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingktngan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara ‘Nomor 3538); Peraturan Pemeriniab Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1995 tentang Izin Usaha Industri (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomot 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3596); Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Takun 1974 tentang Pokok-pokok Organisasi Departemes; Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1987 tentang Peayederhanaan Pem- berian trin Usaha Indastei; Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembctukan Kabinet Pembangunan VI sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 389/M Tahun 1995; Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1996 tentang Perubahan Keputusan Presiden Republik indonesia Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan Orgaaisasi Depariemen sebagaimana telah diubah Dua Pulub Lima Kali Terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1995; WARTA PERUNDANG-UNDANGAN rd | 11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomtor 42 Tabun 1996 tentang Kawasan Industri, 12, Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomar 150/M/SK/7/1995 tentang Tata Cara Pemberian ain Usaha Industri Dan Izia Perluasan; 13, Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 29/MPP/SK/2/1996 jo. Nomor SU/MPP/Kep/s/i996 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindusteian dan Per- dagangan; 14, Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 30/MPP/SKI2/1996 tentang Penctapan Jenis-jcnis Industri Dalam Pemberiaa izin Usaba Industri dan Izin Usaha Kawasan Industti Dilingkungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan; 15. Surai Keputusan Menteri Perindusirian dan Perdagangan Nomor 84/MPP/SK/G/1996 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan Di Propinsi Dan Kantor Departemen Perindsutrian dan Perdagangan Di Kabupaten/Kotamadya, MEMUTUSKAN = Mencabut +t. Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 291/M/SK/10/1993 tentang Tata Cara Perizinan Dan Standor Teknis Kawasan Industri, 2. Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 230/M/SK/10/1993 tentang Perubahan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomot 291/M/SK/10/1989 tentang Tata Cara Perizinan Daw Standar Teknis Kawasan Industri Menetapkan ; KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK IN- DONESIA TENTANG TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI DAN JZIN PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI, BAB KETENTUAN UMUM Pasat £ Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan Kawasan Industri adalat sebagaimans dimaksud dalam Pasal f angka 1 Kepulusan Presiden Republik indonesia Nomor 41 Tahun 1996 tentang Kawasaa Industri, Industri adalah sebagaimana dintaksud dalam Pasal 1 angka 2 Undang-undung Nomor § Tahun 1984 tentang Perindustrian, Perusahaan Kawasan Industri adafah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 3 Keputusza Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1996 tentang Kawasaa Industri, Pengusahaan Kawasan Industri adalah kegiatan yang melipati pengembangan dan pengetotaan Kawasaa Yodustsi, Kawasaa Peruntukkan Industri adalah sebagaimana dimtaksud dalam Pasal 1 angka 4 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tabun 1996 tentang Kawasan industri. Perusahaan Pongelola Kawasan Industri adalah badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di tndonesia, yang dituajuk oleh dan/atau menerima pengalihan hak dan kewajiban dari Perusahaan Kawasan Industri khusus untuk rmelaksanakan pengelolaan sebagian atau seluruh Kawasan Industri, WARTA PERUNDANG-UNDANGAN b2 7. Pengembangan Kawasan Industri adalah kegiatan yang meliputi penguasaan dan pematengen tanah, penyediaan Prasarana dan Sarana pentinjang, penyiapan kapling dan atau bangunan industri siap bangun dan atau siap pakai serta kegiatan penjualan dan atau penyewaannya, 8, Pengelolaan Kawasan Industri adalah kegiatan yang meliputi pengoperasian dan atau pemeliharaan prasarana dan sarana penunjang kawasan industri termasuk kegiatan pelayanan jasa bagi industri di dalam Kawasan Industri. 9, Prasarana Kawasan Industri adalah meliputi jaringan jalan, saluran air hujan, instalasi penyedinan air bersih, in stalasi/jaringan distribusi dan pembangkit tenaga listrik,jaringan distribusi telekomunikasi, saluran pengumpulan ait Timbah industri, instalasi pengolahan air limbah, penampungan sementara limbah padat, penerangan jalan, unit pemadam kebakaran dan pagar Kawasan Industri 10. Sarana Penunjang Kawasan Industri adalah meliputi Kantor pengelola bank, kantor pos, kantor pelayanan tclekomunikasi, potiklinik, kantin, sarana ibadah, perumakan karyawan industri dan mess transito, pos Keamanaa, sarana kesegaran jasmani, halte angkutan umum dan fasilitas penunjang, lainnya. 31. Tata Tentib Kawasan Industei adalah peratucan yang ditetapkan oleh Perusahaan Kawasan Industri, yang mengatur hak dan kewajiban Perusahaan Kewasan Indust, Perusahaan Pengelota Kawasan Industri dan Perusahaan Industti dalam pengetolaan dan pemanfaatan Kawasan Industri, 12, Menteri adalah Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Pasal 2 Kewenangan pengaturan, pembinaan dan pengembangan Kawasan Industri berada pada Menteri BAB II JZIN USAHA KAWASAN INDUSTRE Pasal 3 (2) Setiap pendirian Perusahaan Kawasan Industri yang melakukan kegiatan Pengusahaan Kawasan Industri waji memperoleh Izin, 2) tein sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dar a. Izin Usaha Kawasan Industri. b. Trin Perluasan Kawasan Induste. Pusal 4 (2) Tein Usaha Kawasan Industri dan Izin Perluasan Kawesan Industri bagi Perusahaan Kawasan Industri yang berstatus Non PMA/PMDN diberikan oleh Menteri (2) Menteri melimpahkan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Sekretaris Jenderal, (3) Menteri menugaskan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya, Wilayah Industsi dan Lingkungan Hidup, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan untuk melaksanakan penelitian administrast dan substansi setiap permintaan Izin Usaha Kawasan Industri dan Izin Perluasan Kawasan Industri. Pasal § (@) Iain Usaha Kawasan Industri dan tein Perluasan Kawasan Industri bagi Perusahaan Kawasan Industei yang berstatus PMA/PMDN diberikan oleh Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal atas nama Menteri.. WARTA PERUNDANG-UNDANGAN 13 2) Pelimpahan wewenang pemberian fzin Usaha Kawasan Industei dan Tzin Perluasan Kawasan Industri dari Menteri kepada Ketua BPM bagi Perusahaan Kawasan Industri yang berstatus PMA/PMDN ditetapkan tersendiri dengan Keputusan Mentesi. (3) Tata Cara Pemberian Fein Usaha Kawasan Indust dan Jzin Pesluasan Kawasan Industri sebagaimmana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan datam Keputusan Mentert ini Pasal 6 (GQ) Tein Usaha Kawasan Industri diberiken kepada Perusahaan Kawasan Jadustri yang telah memenuhi semua ketentuan sebagai berikut : a. mongisi Formulir Model PMK JIL dengan mclampiskan informast terakhir kemajuan pembangunan Proyek Kawasan Industri (Formuli Model PMK-11);, b. telah memiliki Rencana Tapak Tanah (site plan) Kawasan Industri yang dimohon dan telah disahkan oleh Pemerintah Dacrah berdasarkan Rencana Tata Ruang Witayaly; c. telah menyclesaikan pembelian tanah sesuai Izin Lokasinya; d. telah menyelesaikan kewajiban membuat Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Kawasan Industri, yang lat disetujut oleh Menteri; €. telah membuat Tata Terlib Kawasan Industri {. telah siap untuk dioperasikannya sebagian dari prasarana Kawasan Industri sekurang-kurangnya metiputl jatan masuk ke Kewasen Industei, jaringan jalan dao saluran aig hujan dalam Kawasan Industri serta instalast peng: olahan air imbah bagi Kawasan Industri sesuai dengan AMDAL nya; g- telah dibuat Berita Acara Pemeriksaan Lapangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dengan menggunakan Formulir Model PIK-II. (2) Sctelah memiliki Izin Usaha Kawasan Industri, Perusahaan Kawasan Industri harus menyelesaikan pembangunan prasarana dan sarana penunjang Kawasan Industri secara lengkap sebagaimana imaksud Pasal f angka 9 dan 10, Pusal 7 (1) Win Usaha Kawasan Industri bagi Perusahaan Kawasan Industri yang berstatus Non PMA/PMDN dan yang berstatus PMDN, herlaku sclama Perusahaan Kawasan Industri yang bersangkutan melakukan kegiatan Pengusahaan Kawasan Industri. ) lin Usaha Kawasan Industri bagi Perusahaan Kawasan Industri yang berstatus PMA. berlaku untuk 30 (tiga puluh) tabun sepanjang masih memenuhi ketentvan dalam peraturan perundang-undangan yang berfaku, Pasal 8 (1) Luas Kawasan Indust sekurang-kurangnya 20 (dua pulth) hektar, (2) Bagi Perusahaan Kawasan Industri yang memiliki Juas kawasan lebih dari 20 (dua puluh) hektar, Izin Usaha Kawasan Industrinya dapat diberikan secara bertahap dengan ketentuan pemberian Izin Usaha Kawasan Industri yang pertama kali minimat sefuas 20 (dua pufuh) hektar. @) Tanah yang telah dimiliki oleh satu perusahaan atau beberapa perusahaan Yang luasnya sekurang-kurangnya 10 Gsepuluh) hektar dan berada di dalam Kawasan Peruntukan Jndusti seria sudab dimanfaalkan untuk kegiatan industri, dapat ditetapkan sebagai Kawasan Industri. WARTA PERUNDANG-UNDANGAN La Pasal 9 (2) Untuk memperoteh fin Usaha Kawasan fadustsi dipeslukan tahap Persetujuan Prinsip, (2) Persetujuan Prinsip diberikan kepada Perusahaan Kawasa Industri watuk dapat mengajukan permohonan Yzin Lokasi, melakukan persiapan penyediaan tanah, perencanaan, penyusunan rencana tapak tanah di Kawasan Industri dan ‘pembangunan, pengaduan prasarana dan sarana Kawasan Industri. Pasal 10 Pengajuan Permintaan Persetujuan Prinsip, I2in Usaha Kawasan Industri dan Yin Perluasan Kawasan Industri menggunakan Formulir + .. 1, Model PMK-1, untuk permintaan Persetujan Prinsip 2. Model PKI, untuk permintaan Izin Usaha Kawasan Industri 3. Model PMK-1V, untuk permintaan Tzin Perluasan Kawasan Industri, Pasal 1 (1) Permintaan Persetujuan Prinsip bagi Perusahaan Kawasan Industri digiukan kepada Sekretaris Jenderal dengan mengisi Formulir Mode! PMK-I. @) Setelah Formulir Model PMK-I diterima secara lengkap, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hati kerja Sekretaris Jenderal telah mengeluarkan Persetujuan Prinsip dengan menggunakan Formulir Model PIK-] atou menolak-pem- berian Persetvjuan Prinsip, (3) Persetujuan Prinsfp dapat diubak dee diperpanjang, sesvai dengan permintaan dari yang bersangkutan. (4) Persetujuan Prinsip berlaku sefamajangkawaktw 4 (empat) tahun, dan diperpanjang2 (dua) kali masing-masing selama 2 (dua) tabun apabila belum memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. () Pada saat mulai pembangunaa Kawasan Industei, Perusahaan Kawasan Industri dapat menyampaikan Surat Per- mohonan Impor Peralatan dan bahan untuk pembangunan fisik dan pengendalian pencemaran sesuai dengan keten- tuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, . (6) Dalam melaksanakan Persctujuan Prinsip, Perusahaan Kawasan Industri wajib menyampaikan informasi kemajuan perabangunan Proyek Kawasan Industri setiap f (satu) (ahun sekal paling lambat pada tanggal 31 Januari pada tahun besikutnya dengan menggunakan Formulir Model PMK-It, ‘Pasal 12 (1) Permintaan Tain Usaha Kawasan Industri diajukan kepada Sekretaris Jenderal dengan mengisi Formulir Model PMK.IIT dan melampirkan Formulir Model PMK-II. (2) Selambat-lambataya 14 {empat belas) hari kerja sejak ditesimanya permintaan Izin Usaha Kawasan_ Industri, Tim yang, dibentuk oleh Sekretaris Jenderal yang beranggotakan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan, KANWIL Departemen Perindustrian dan. Perdagangan, KANDEP Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Perindustrian atau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Tingkat 11 Percontohan sctempat telah melaksanakan pemeriksaan ke lokasi Kawason Industri guna memastikan kesiapan Kawasan Indust, (3) Hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dengan ‘mengguvakan Formulir Model PIK dan selambat-lambatnya 5 (ima har kerja tetah citsporkan kepada Sekretaris Jenderal (@) Sclambat-tambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya laporan hasil pemeriksaan schagoimana dimaksud pada ayat (3), Sckretaris Jenderal mengeluarkan Izin Usaha Kawasan Industri dengan menggunakan Formulir Madel PIK-AH atau menundanya dengan menggunakan Formulir Model PIK-V apabila Perusahaan Kawasan industri yang bersangkutan belum siap beroperasi WARTA PERUNOANG-UNDANGAN 1s Pasal 13 (1) Sotiap Perusahaan Kawasan Industri yang telah memiliki Izia Usaha Kawasan Industri yang akan melakukan perluasan areal Ksyvasan Industri wajib memperoleh Izin Perluasan Kawasan Industri, (2) Tein Pertuastn Kawasan Industei diberikan secara langsung apabila Perusahaan Kawasan Industri yang bersangkutan telah memperoleh Izin Usaha Kawasan Industri dengan ketentuan : ‘a. lokasinya berbatasan dengan lokasi Kawasan Industri yang telah diizinkan; b.lahan yang direncanakan sebagai areal perluasan telah dikuasai; c. _berada dalam Kawasan Pertuntukan Industri, (8). Permintaan Yzin Perluasan Kawasan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada Sekretaris Jenderal dengan menggunakan Formulir Model PMK-1V denman silengkapi tein Lokasi (4 Selambat-lambataya 14 (cinpat belas) hari kerja sciak dliterimanya permintaun Fin Perfuasan Kawasan Industri, Sekretaris Jenderat wajib mengeluarkan Yzin Perluasan Kawasan Industri dengan menggunakan Formulir Model PIKAY, (5) Apabita pertuasan Kawasan Industri tidak berbatasan dengan lokasi Kavasan Industri yang telah diizinkan dan atau lohan yang direncanakan scbagai areal perfuasan befum dikuasai, make permintaza Yzin Perluasan dimulai dengan permintoan Persetujuan Prinsip. BAB It HAK DAN KEWAJIBAN PERUSAHAAN KAWASAN INDUSTRI Pasal 14 (2) Perusahaan Kawasan Industri Capat menjual atau menyeweken kapling industri dan atau bangunan industei kepada Perusahaan Industri yang berada di dalam Kawasan Industrinya, (2) Perusahaan Kawasan Industsi bethak mendapat imbalan/pendapatan dari jasa penguasahaan Kawasan Industri terhadap kegiatan antara lain: a, penjualan atac penyewaen kapling industri maupon bangunan industri; 'b. _pengoperasian dan pemeliharaan prasarana dan sarana penunjang; ¢ pengamanan kawasan industri dan 4, jasa informasi. Pasal 18 Setiap Perusahoan Kawasan Industei yang telah memiliki Hein Usaha Kawasan Industri wa 1, membante mengurus perminisan pesizinan bagi perusahaan industei yang berada dalam Kawasan Industrinya; 2. mematuhi ketentuan dalam Reacana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) yang telah disetujui oleh Menteri. 3. memberlakukan ketentuan Tata Tertib Kawasan Industri bagi Perusahaan Industri yang berada di dalam Kawasan Industrinya, 4, menyampaikan Informasi dua kali dalam setahun kepada Sekretaris Jenderal mengenai Kegiatan usahanya ntenuru jadwal sebagai berikut : a. Untuk kegiatan sentcatara pertama tahun yang bersangkutan selambat-Jambatnya sctiap tanggal 31 Juli dengan ‘menggunakan Formulir Model PMK-V. WARTA PERUNDANG-UNDANGAN 16 b, Untuk kegiatan tabunan sefambat-fambatnya tanggat 31 Januari pada tahun berikuinya, dengan menggunakan Formulir Model PMK-VJ, Pasal 16 Perusahaan Kawasan Industri wajib melaksanakan Standar Teknis sebagaimana tercantum dalam Lampiran If Keputusan ini, . BAB IY . PENGALIHAN PENGELOLAAN KAWASAN INDUSTRI Pasal 17 (1) Perusahaan Kawasan Industri yang telah memiliki Izin Usaha Kawasan Industri dan telah beroperasi dapat mer kan pengeiolaan Kawasan Industrinya kepada Perusahaan Pengelola Kawasan Industri, sehingga hak dan kewajiban dalam pengelotaan Kawasan Industri sebagian atau selurubnya beralih kepada Perusahaan PengelolaKawasan Industri sesuai dengan perjanjian Pengalihan Pengelolaan yang dibuat secara tertulis antara kedua befak pikak. (2) Pengalihan Pengelolaan Kawasan Industri dilaksanakan apabila Perusahaan Kawasan Industri telah memenuhi ketentuan sebagai berikut : a. telsh memiliki Izin Usaha Kawasan Industri; b. (elah membuet perjenfian pengalihan pengelolaan antara Perusahaan Kawasan Industri dengan Perusahaan Pengelola Kawasan Industri, c. _ kapling Kawastn Indust? yang akan dialihkan pengelolaannya telah mempunyai HGB. (3) Untuk metaksanakan pengetolaan, Perusahaan Pengefola Kawasan Industri wajib memenuhi ketentuan perizinan yang bertaku, (4) Jangka waktu berlakunya Petjanjian Pengafihan Pengefolaan Kawasan Industri adalah sesuai dengan kesepakatan yang diperjanjikan, (8) Perjanjian Pengalihan Pengelofaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi kegiatan sebagal berikut : a. mematuhi ketentuan dalam RKL dan RPL Kawasan Industri, b, _memberlakukan ketentuan Tata Tertib Kawasan Industri bagi Perusahaan Industri yang berada dalam Kawasan Industri, ©. Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana dan sarana penunjang. ._ pengamanan Kawasan Industri dan fe. jasa informast © Peruschaan Pengelola Kawasan Industri berhak mendapat imbalan/pendapatan dari jasa pengelolaan Kawasan ‘ust Pasal 18 Dengan adanya perjanjian pengalihan pengelotaan Kawasan Industri tidak mengurangi j r n i tanggung jawab Perusahaan Kavasan aut terhadap pengusahaan Kawasan Indust sesual dengan Iain Usaha ‘Kawasan. Industei yang WARTA PERUNDANG-UNDANGAN 17 Pasal 19 (1) Untuk mendorong pongembangan industri keci Perusahaan Kawasan Industsiharus mencadangkan minimal 2% (dua persen) dari luas kapting industri Kawasan Indust yang dimilikinya. (2) Apabita dalam wake 5 (ima) tabun kapling industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditmanfaatkan maka dapat digunakan olch Perusahaan Industri lainnya. ) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) akan diatur lebih lanjut oleh Menteri atau Pejabst yang, dicunjurk. BABY TATA CARA PERIZINAN PERUSAHAAN INDUSTRI DI DALAM KAWASAN INDUSTRI Pasat 20 Pelaksanaan pemberian Jzin Usaha Industri bagi Perusahaan Industri yang berada dalam Kawasan Industri batk ‘yang berstalus non PMA/PMDN maupun PMA/PMDN dilaksanakan sesuai dengan Perateraa Pemerintsh Nomor 1B Tahur 1995 tentang Izin Usaha Industri dan peraturan pelaksanaannya, Pasal 21 (2) Perusshaan Industri yang mempunyai potensidampak peating dan yang tidak berdampak pentinayyang berada di dalam Kawasan Industri yang telah dilengkapi studi AMDAL dibebaskan dari kewajiban membuat ANDAL, dan kewajiban memperolek Izin Undang- undang Gangguan, tetapi wajib disusun UKL dan UPL berdasarkan RKL dan RPL Kawasan Industri yang bersangkutan, @) Perusahaan Industri yang mempunyai dampak terhadap lingkungan hidup diluar ketentuan dampak sebagaimana ‘dimaksud pada ayat (1) wajib disusun SPL, (3) Perusahaan Industri yang berada di dalam Kawasan Industri selain melaksanakan Kewajiban scbagaimana tersebut pada ayat (1), dan ayat (2) divajibkan mefaksanakan ketentuan-ketentuaa dalam Tata Tertib Kawasan Industri sebagaimana tercantum alam Lampiran I Keputusan ini Pasal 22 | GQ) Perusahaan Industri yang berada di dalam Kawasan Industel yang telah memiliki Join Usaha Kawasan Industri, dapat langsung memperoteh tzin Usaha ladustritanpa melaluitahap Persetujuan Prinsip apabilatelah ditetapkan kaplingnya berdasarkan Surat Keterangan dasi Perusahaan Kawasan Industri yang bersangkutan. (2) Pemberian Izin Usaha Industri bagi Perusahaan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlepas dari izin-ivin yang diharuskan oleh peraturan perundfangan fainaya, (9) Surat Pemberitabuan Persetujuan Presiden bagi Perusahaan Industri yang berstatus PMA atau Surat Persetujuan Penanaman Modal bagi Perusahaan Industri yang berstatus PMDN yang berada di dalam Kawasan Industri dan tclalt ditetapkan kaplingnya berdasarkan Surat Kelerangan dari Perusaaan Kawasan Industri yang bersangkulan diber- Takukan sebagat lzin Usaha fndustr. (4) Perusahaan industri di dalam Kawasan Industri wajib menyelesaikan perizinan lain sesuai dengan peraturan perun- dang-undangan yang berlaku dan pembangunan pabrik dan sarana produksi, selambat- fambatnya ¢ (eatpat} tahun terhitung sejak diterbitkannya Izin Usaha Industri, &) Kesanggupan untuk menyclesaikan pengurusan perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan membuat Surat Pernyataan dengan menggunakan Formulir Model PMK-VII, WARTA PERUNDANG-UNDANGAN re RAB VL PENUNDAAN/PENOLAKAN TERHADAP PERMINTAAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI DAN IZIN PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI Pasal 23, (1) ‘Terhadap permintaan Izin Usaha Kawasan Industri atau Izin Perluasan Kawasan Industti yang diterima dan ternyata belum memenubi ketentuan sebagaimana dimaksud dafam Pasat6, ataka sejakiditerimanya Berita Acara Pemesiksaan, Sekretaris Jenderal selambut-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan disertai alasan- alasan dengan mengguinakan Formulir Mode! PIK-V. (2) Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Perusahaan Kawasan Industri yang bersangkacan dibert kesenipaten untuk melengkapi persyaratan Yang belum dipenuhi sclambat- lambatnya 6 (enam) bulan’sejak diterimanya Surat Penundaan, (3) Apabila jangka waktu yang ditentukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui, Perusahaan Kawasan, Industri belum memenuhi ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2), maka Sekretaris Jenderal menolak permintaan Izin Usaha Kawasan Industri atau Izin Perluasan Kawasan Industri dengan menggunakan Surat Penolakan sesuai Formulir Model PIK-VI. Pasal 24 (1) Terhadap Surat Penotakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (3), Perusahaan Kavasan Industri selambat- lambatnya 30 (tiga pufuh) hari kerja sejak dikeluarkan Surat Penolakan dapat mengajukan permohonan banding. kepada Menteri, (2) Menteri selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari Kerja sejak diterimanya Permohonan banding dapat mencrima atau menolak permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara tertulis dengan mencantumkan alasan- alasan, BAB VIL PENCABUTAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI DAN IZIN PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI Pasaf 25 Izin Usaha Kawasan Industri atau Izin Perluasan Kawasan Industri yang telaft diperofeh Perusahaan Kawasan Industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut apabila tidak memenuhi salah satu ketentuan sebagai berikut : 1, Perusahaan Kawasan Industri melakukan perluasan tanpa memili Keputusan ini: Tain Perluasan Kawasan Industri sesuai dengan 2. Perusahaan Kawasan Industri tidak meayampaikan informasi secara berturut-turut 3 (tiga) kali atau dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar; 3. Perusahaan Kawasan Indust elakukan pemindahan hak atas Izin Usaha Kawasan Industri atau Izin Perluasan Kawasan Industri tanpa Persetujuan dari Sekretaris Jenderal Perusahaan Kawasan Industri melakukan kegiatan usaha tidak sestai dengan ketentuan yang, yang telah diperolehnya; tapkan dalam fzin 5. Perusahaan Kawasan Industri menimbulkan kerusakan dan atau pencemaran akibat kegiatan usaha kawasan in- dustrinya terhadap lingkungan hidup yang melampaui Baku Mutu Lingkungan yang berlaku; 6, Tidak dipenubinya ketentuan datam Izin Usaha Kawasan Industri dan atau Izin perluasan Kawasan Industri serta Standar Teknis Kawasan Industri sebagaimana tercantum dafam Lampiran I Keputasan ini; WARTA PERUNDANG-UNDANGAN 19 7. Apabila tidak dapat menyelesaikan pembangunan prasarana dan sarana penunjang Kawasan Industri secara lengkap sebagaimana dimaksud datam Pasal 6 ayat (2). Pasal 26 (1) Pelaksaaean pencabutan zin Usaha Kawasan Industri atau Izin Perluasan Kawasan Industri sebagainiana dimaksud dalam Pasa} 25 dilakukan setelah dikeluarkan : a. Peringatan secara tertulis dengan menggunakan Formulit Model PIK- Vit kepada yang bersangkulan sebanyak 3 (tiga) kali berturut- turut dengan tonggang waktu masing-masing 2 (dua) balan; b, Pembekuan Izin Usaha Kawasan Industri atau fzin Perluasan Kawasan Jndustsi untuk jangka waktu 6 (enam) bilan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiaten useha Kawasan Industri dengan menggunakan Formulir Model PIK-VIII. @) Pembekuan fzin sata Kaseasae Iaduste atau Iain Perluasan Kawasan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hurut 6, dapat dicabut dact Izin Usaha Kawasan Industri kembali apabila Perusahaan Kawasan Industri yang ber- sangkutan sefama masa pembekuan telah melskukan perbaikan-perbaikan sesuai dengan ketentuan yang bertak @) Apabita dalam masa pembekuan Izin Usaha Kawasan Industri atau Izin Perluasan Kawasan Industri, Perusahaan Kawasam industri tidak melakukan pesbaikan, maka Izin Usaha Kawasan Industri dan atau fain Perlvasan Kawasan Industei yang bersangkutan dicabut dengan menggunakan Formulir Model PIK-IX, (@) Pejabat yang berwenang untuk mencabut Win Usaha Kawasan {ndustri dan izin Perluasan Kawasan Industsi adalah Sekretaris Jenderal, Pusat 27 (1) Tethadap pencabutan feini Usaha Kawasan Industri atau Izin Peslvasan Kawasan Industri yang dilaksanakan Sekretatis, Jenderal, Perusahaan Kawasan Industri yang bersangkutan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya Keputusan Pencabutan Izin Usaka Kawasan Industri dan atau Tin Perluasan Kawasan Industri fapat ‘mengajukan banding kepada Meateri, @ Selambat-lambataya 30 (tiga puluh) hari Kerja sejak diterimanya permohonan banding, Menteri dapat menerima atatt menolak permokonan banding secara tertulis disertai alasan-alasan, BAB VIE PEMBINAAN Pesal 28 (1) Pelaksanaan pembinaaa terhadap Perusahasn Kawasan Industri yang telah mendapat Izin Usaha Kawasan Industri ditaksanakan oleh Sekretaris Jenderal, @) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pelaksanaan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Menteri, BAR IX KETENTUAN-KETENTUAN LAIN Pasa) 29 Bentuk dan Model Formuli yang dipergunakan untuk pelaksanaan Keputusan ini adalah sebagaimana tercantum datam Lampiran HY Keputvsan ini, WARTA PERUNDANG-UNDANGAN Fo Pasal 30 Perusahaan Kawasan Industti yang telah mendapat {in Usake Kawasap Sndustei yang melakukan perubahan terhadap nama, alamet dan/ataupedangguing jaweb perusahaan wajib memberitahukan secara tertulis kepada Sckretaris Jenderal sefambat-tambataya 1 (salu) bulan setelah perubahan dilaleukan, Pasa} 31 Sesuai dengan fein Usahe Kawasan Industri yang diperolehnya Perusshaan Kawasan Industri wali J, Melaksanakan Rencana Pengetolaan Lingkungan (RRL) dan Rencana Pemaptauan Lingkungan (RPLL) untuk moncegah terjadiaya kerusakan dan atau pencemaran akiat kegiatan Kawasan industrinya terhadap lingkungan hidup, 2. Mclaksanakan upaya yang menyangkut keamanan dan keselartatan Kerja, BAB X KETENTUAN PIDANA. Pasal 32 (2) Perusahaan Kawasaa Industri yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dafam Pasal 3 aya (1), Pasal 25 angka 4 Keputusan ini dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan pidana sebagaimana ercintum dalam Pasal 24 ‘Undarig-undang Nomor S‘Tahun 1984 tentang Perindustrian, (2) Perusahaan Kawasun Industri yang tidak melaksanakan ketentuan Pasal 31 angka 1 sehingga mengakibatkan timbulnya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan yang melampavi Baku Mutu Lingkungan yang berlaku, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan pidana sebagaimana tercantum daiam Pasal27 Undang-undang Nomor 5 Tabun 1984 tentang Perindustrian. ) Tata cara pelaksanaan Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, BAB XI KETENTUAN PERALIHAN Pasat 23 (i) Persetujuan Prinsip Kawasan Industri yang telah dimiliki oleh Perusahaan Kawasan Industri baik yang betstates Non PMA/PMDN maupun berstatus PMA/PMDN sebelum mulai berfakunya Keputusan ini dinyatakan tetap berlaku sebagai salah satu tahap untuk memperoleh Izin Usaha Kawasan Industri. (2) Jain Tetap Kawasan industri yang berstatus Non PMA/PMDN dan Perusattaact Kawasan Industri sebelum mulai berlakunya Keputusan i masa berlakut Izin Tetap Kawasan Industei yang bersangkutan. status PMA/PMDN yang telah dimiliki oleh dinyatakan tetap berlaku sampat berakhimnya (3) lin Tetap Kawasan industriyang tetah dimiliki sebelum ditetapkanaya Keputusan ini dinyatakan tetap berlaku sebagai fain Usalta Kawasan Industsi sesvai dengan ketentuan dalam Keputusan ini. (4) Dengan berlakunya Keputusan ini, semua ketentuan yang bethubungan dengan Kawasan Industei dan Perusahaan Industri di dalam Kawasan Industri dinyatakan (etap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan ini WARTA PERUNDANG-UNDANGAN rn BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal. 34 Keputusaa igh myloi berlaku pada tanggal ditetapkan, Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 20 Februari 1997 MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI, td, ARIWIBOWO » LAMPIRAN I (Bersamibung) WARTA PERUNDANG-UNDANGAN FR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 50/MPP/KEP/2/1997 TENTANG ® TATACARA PEMBERIAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI DAN IZIN PERLUASAN KAWASANiiINDUSTRI ‘© (Sambungan Warta Perundang-undangan No. 1623) s LAMPIRAN I r 1 POKOK-POKOK MATERI YANG DIATUR DALAM TATA TERTIB KAWASAN INDUSTRI 1, ‘Tata Tertib Kawasan Industridisusun oleh Perusahaan Kawasan Industri dengan maksud untuk memperinci ketentwan mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terkait dalam pengelolaan Kawasan Industri yaitu pihak ~ Perusahaan Kawasan Industri, Perusahaan Pengelola Kawasan Industri dan pihak Perusahaan Industri yang berada di dalam Kawasan Industri, a 2. Tata Tertib Kawasan Industri sekurang-kurangnya berisi informasi tentang : = Ketentuan peraturan perundangan yang perlu ditaati oleh masing-masing pibak, - Ketentuan yang berkaitan dengan hasil studi AMDAL Kawasan Industri terutama ketentuan pengendalian dampak yang harus dilakukan baik oleh Perusahaan Kawasan Industji, Perusahaan Pengelola Kawasan Industri maupun oleh masing-masing Perusahaan Industri, + Ketentuan spesifik yang berkaitan dengan rencana Perusahaan Kawasan Industri dengan yang bersangkutan, 3, Tata tertib Kawasan Industri menjadi lampiran yang tidak terpisahkan dari perjanjian tentang pengelolaan Kawasan Industri dan penggunaan kapling industri antara Perusahaan Kawasan Industri dengan Perusahaan Pengelolaan Kawasan Industri dan Perusahaan Industri, sehingga masing-masing pihal terikat kepada kesepakatan yang disctujui dalam perjanjian. 4 Susunan Tata Tertib Kawasan Industri harus moncakup hal-hal pokok sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN, berisi penjelasan tentang Kawasan Industri, Perusahaan Kawasan Industri dan Perusahaan Pengelolaan Kawasan Industri, BAB II MAKSUD DAN TUSUAN, berisi penjelasa tentang maksud dan tujuan Tata Tertib Kawasan Industei yang, mengikat Perusahaan Kawasan Industri, Perusahaan Pengelola Kawasan Industri dan Perusahaan Industri yang berlokasi di dalam Kawasan Industri sesuai hak dan kewajibannya. BAB Il PENGERTIAN, berisi penjelasan tentang istiah yang digunakan di dalam Tata Tertib Kawasan Industri seperti Hak, Ates Tanah, perzina-perzinan yang diperian, peraturan bangunan, Kepislan pengendalian dampak dan lain-ain, : WARTA PERUNDANG-UNDANGAN Yer BAB IV JENIS INDUSTRI YANG DAPAT DITAMPUNG DI DALAM KAWASAN INDUSTRI, berisi penjelasan tentang Jenis industei yang dapat ditampung dalam Kawasan Industri, terutama yang terkait dengan daya dukung lingkungan ‘Kawasan Industst yang bersangkutan, Dalam BAB ini juga dijelaskan mengenai persyaratan yang harus dipenuhi oleh masing-masing perusahaan industri, sesust jenis industriaya agar pengalokasian dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia seria program pengendalian dampak di dalam Kawasan Industri dapat terlaksana sestiai dengan rencana dan ketentuan yang ads. BAB V a PRASARANA DAN SARANA PENUNIANG KAWASAN INDUSTRI, berisi penjelasan tentang prasarana dan sarana pentinjang yang sudal/akan disediakan oleh Perusahaan Kawasan Industri termasuk ketentuan tentang Kapasitas, jadwal pembangunapenyediaan, pemanfaatan, pemeliharaan dan pola pembiayaannya. i BAB VI 6 é LINGKUP PELAYANAN KAWASAN INDUSTRI, berisi penjelasan tentang pelayanan Perusahaan Kawasan Industri atau Perusahaan Pengelolaan Kawasaa Industri yang ditawarkan kepada Perusahaan industri sesuai dengan rencana Perusahaan Kawasan Industri, BAB VIL HAK DAN KEWAJIBAN PERUSAHAAN KAWASAN INDUSTRI ATAU PERUSAHAAN PENGELOLA KAWASAN INDUSTRY, berisi penjelasan tentang hak serta kewajiban Perusahaan Kawasan Industri atau Perusalican Pengefola Kawasan Industri, BAB VIII nd LAK PAN KEWAJIBAN PERUSAHAAN INDUSTRI, berisi pnjctasan tentang hak serta Kewjiban Perusahaan industri. BAB IX PERATURAN BANGUNAN, berisi penjelasan tentang ketentuan bangunan industri di dalam Kawasan Industri sebagai tindak lanjut dari Petaturan Meateri Pekerjaan Umum Nomor 66/PRT/1993 tentang Bangunan Industri, BAB X PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN, berisi penjelasan yang berkaitan dengan program pengendalian dampak sebagai tindak lanjut dari AMDAL Kawasan Industri WARTA PERUNDANG-UNDANGAN Ya LAMPIRAN It KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN STANDAR TEKNIS KAWASAN INDUSTRI 1. Standar teknis yang berlaku bagi Perusahaan Kawasan Industri, 1. Perusahaan Kawasan Industri wajtb meneadangkan tanah Kawasan Industri menurut ketentuan penggunaan tanah ci dalam Kawasan Industri sebagai berikut : 6 r LUAS LAHAN DAPAT DIJUAL (MAKSIMAL 70%) Laas Kapling Kapling Jalan dan Sarana {Ruang Kawasan Industri Kornersial Perumahan Penuinjang ‘Terbuka Hijau Industri Lainnya 10-20ha ——65%-70% ——_aksimal 10% smaksimall0% minimal 10% 2SOha —65%-70% — smaksimal 10% maksimal 10% sesuaikebutuhan minimal 107% 50-100ha — 60%-70% — maksimal 124/2% maksimal 15% _ tseswai kebutuhan inimal 10% 100-200 ha $0%-70% | maksimal 15% maksimal 20% sesuai kebutahan minimal 10% 200-500 ha 45%-70% | maksimal 171/2% — 10%-25% sesuaikebutuhan ——riinimal 109% 500 ha 40%-T0% —— maksimal 20% 10%-30% Isesuai kebutuhan minimal 10% Keterangan : a 1) Kapling komersial adalah kapling yang disediakan oleh Perusahaan Kawasan Industri untuk sarana penuinjang seperti perkantoran, bank, pestokoan/tempat berbelanja, (empat tinggal sementara, kantin dan sebagainya, 2) Kapling perumahan adalah kapling yang disediakan olch Perusahaan Kawasan Industri untuk perumahan pekerja termasuk fasilitas penunjangnya seperti tempat olah raga dan sarana ibadah, 3) fasilitas yang, termasuk prasarana penunjang lainnya antara lain adalah pusat kesegaran jasmani (fitness center) pos pelayanan telekomunikasi, saluran pembuangan air hujan, instalasi penycdiaan tenaga listrik, instalast pengelolaan limbah industri, unit pemadam kebakaran, 4) Persentase mengenal penggunaan tanah untuk jalan dan sarana penunjang lainnya di kebutukan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah dacrah Tingkat II yang bersangkutan. 5) Persentase ruang terbuka hijau ditetapkan minimal 10% sepanjang tidak bestentangan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah yang bersangkutan, Ketentuan tentang pemanfaatan tanah untuk bangunan diatur sestai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, Perusahaan Kawasan Industri wajil berikut : mengusahakan penyediaan prasarana & sarana sekurang-kurangaya sebagai a, Jaringan jalan lingkungan dalam Kawasan Industri seswai dengan ketentuan teknis yang berlaku; b. Saluran pembuangan air hujan (drainase) yang bermuara kepada saluran pembuangan sesuai dengan ketentiwan (cknis Pemerintah Daerah setempé WARTA PERUNDANG-UNDANGAN ¥3 J t Instalasi penyediaan air bersih termasuk saluran distsibusi ke setiap kapling industri, yang kapasitasnys dapat ‘memenui permintaan yang sumber airnya dapat berasal dari Perusahaan Air Minum (PAM) danfataudarisistem, yang diusahakan sendiri oleh Perusahaan Kawasan Industri; Instalasi penyediaan dan jaringan distribusi tenaga fistrik sesua} dengan ketertuan PLN yang stimber tenaga listriknya dapat berasal dari PLIN dan/atau dari sumber tenaga lstrik. yang diusabakan sendis} oleh Perusahaan Kawasan Industri dan atau Perusahaan Industri di dalam Kawasan Industri; jaringan telckomunikasi seswai dengan ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku; Sarana pengendalian dampak misalaya: pengolahan air limbal industri, penampungan scmentara liebe padat ‘sesuai dengan kepatusan persetujuan ANDAL, RKL dan RPL Kawasan Industri Penerangan jalan pada tiap jalur jalan sesuai dengsa ketentuas yang berbakus Unit perkantoran Perusahaan Kawasan Industri/perusahaan Pengelola kawasan {ndustsis Unit pemadam kebakaran; Perumahan bagi pekerja industri dengan harga yang terjangkaw untuk Kawasan Industri yang lwasnya lebih dati 200 hektar. Ya WARTA PERUNDANG-UNDANGAN LAMPIRAN Ill KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR SO/MPP/Kep/2/1997 1, }FORMULIR PERMOHONAN Permintaan Persetujuan Prinsip Kemajuan Pembangunan Proyek Kawasan Industri ‘Untuk Permintaan Y2in Usaha Kawasan Industri Daftar Isian Untuk Permintaan Izin Perluasan kawasan Industri Informasi Kegiatan Usaha Kawasan Industri (Semester 1) Informasi Kegiatan Usaha Kawasan Industri (Laporan Tahunan) Surat Pernyataan 2, FORMULIR ISIAN OLEH PEJABAT YANG DITUNJUK yD 2) 3) 4) 9 6) Persetujuan Prinsip Berita Acara Pemeriksaan Untuk Izin Usaha K.1 /izin Perluasan K.1. Izin Usaha Kawasan Industri Tain Perluasan kawasan Industst Penundaan Tin Usaha kawasan Industri/izin Perluasan Kawasan Industri Penolakan Permintaan Izin Usaha Kawasan Induste/Izin Perluasan Kawasan Industri ‘Teguran Ke .. tentang Pelaksanaan Ketontuan Perizinan Kawasan Industri Pembekuan Tain Usaha Kawasan Industri/izin Perluasan Kawasan Industri Pencabutan Izin Usaha Kawasan Industri/Izin perluasan Kawasan Yndustti WARTA PERUNDANG-UNDANGAN Model PMK-1 Model PMK-IT Model PMK-IIl Model PMK-IV. Model PMK-V Model PMK-VI Model PMK-VIL Model PIK-1 Model PIK-II Model PIK-IIT Model PIK-IV Model PIK-V Model PIK-VI Model PIK-VIL «Model PIK-VIIT Model PIK-IX Ys KOP SURAT PERUSAHAAN Diisi oleh Pemohon Model PMK-I Nomor : Kepada Yth. Lampiran ww Perihal : ‘Yermintaan Persetujuan Prinsip ‘Sekretaris Jenderal Dep. Perindustrian dan Perdagangan d- JAKARTA Dengan inj kami mengajukan permintaan untuk mendapatkan Persetujuan Prinsip, dengan data sebagai berikut: i. Nama pemohon/ perusahaan t 2. NPWP 3. Alamat pemohon/ perusahaan 4, Bidang Usaha Kewasan Industri 5. Rencana Lokasi (Desa, Kec, KalyKodya, Prop) te \ 6. Luas tanah echo 1 7. Nia Investasi 2 RR 8 Status Investasi : Non PMA/PMDN 9. Jumlah Tenaga Kerja - ‘Tenage Kerja Perusahaan Kawasan Industri sa OFANg, : - Proyeksi Jumlah Tenaga Kerja Perusahaan Industri tu OFAN Sebogai bahan pertimbangan, bersama ini kami lampirkan : 1, Foto copy Alte Pendisian Perusahaan 2. Foto copy kartu NPWP 3. Sketsa Rencana Lokasi (Desa, Kee, Kab/Kodya, Prop) 4, Surat Pernyataan dari Perusahaan Kawasan Industei bahwa "Rencana lokasi terletak dalam kawasan peruntukan industri RUTR/RDTR, dan tidak terletak pada lahan yang beririgasi teknis". WARTA PERUNDANG-UNDANGAN ¥6 Sekian, atas perhatian Bapak kami sampaikan terima kasih. ‘TEMBUSAN : 1. Menteri Perindustrian dan Perdagangan, 2 Mentesi Negara Agratia/Kepala BPN, 3. Inspektur Jerideral Departemen Perindustrian dan Perdagangan. ‘, Kepala Balithang Industri dan Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 5. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. 6. Bupati Kepala Daerah Tingkat H/Walikotamadya 7. Kepala PUSDATIN Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 8. KAKANWIL Departemen Perindustrian dan Perdagangan Propinsi 9. KAKANWIL Pertanahan Propinsi 10. Pertinggal. WARTA PERUNDANG-UNDANGAN ‘Nama dan tandatangan pemohon {asli bermeterai Rp-2.000,-) yr 4 KOP SURAT PERUSAHAAN Diisi Oleh Perusahaan Nomor Lampiran —: Perihal Proyek Kawasan Industri, I, KETERANGAN UMUM. 1 2. 3. 2 10. Nama Perusahaan NPWP Alamat Kantor! Alamat Perusahaan Nomor Telepon/Telex/Fax Lokasi Kawasan Industri (Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kotamadya, Propinsi) Akte Pendirian Perusahaan Nama Notaris dan Nomor Penanggung Jawab Perusahaan, Nama Direksi dan Dewan Komisaris Nomor dan Tanggal Persetujuan Prinsip WARTA PERUNDANG-UNDANGAN Taformasi Kemajuan Pembangunan © Model PMK.II (Bersambung) Model PMK-II Kepada Yeh, Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian dan Perdagangan die JAKARTA, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 50/MPP/KEP/2/1997 TENTANG TATACARA PEMBERIAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI DAN IZIN PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI (Gambungan Warta Perundang-undangan No. 1624) Model PMK-II Il, PENYELESAIAN PERIZINAN Iein-izin yang telah diperoleh : 3. 4 + 6 7. 8. dan seterusnya terlampir. Mm. PENYELESAIAN DOKUMEN 1. Rencana Tata Ruang wilayah 2 belum ada/sedang dibuat/ada *) 2, Rencana tapak tanah (Site Plan) Kawasan Industri yang disahkan oleh Pemerintah Daerah + belum ada/sedang dibuat/ada *) 3. Hasil studi AMDAL (ANDAL, RKL, RPL) yangtelah disetujui : _belum ada/sedang dibuat/ada *) 4, Tata Tertib Kawasan Industri: _belunt ada/sedang dibuat/ada *) I RESIAPAN FISIK 1. Pembebasan tanah (a) rencana pembebasantanah —:,.. ha Tahap Luas (ha) Jadwal (Tahun) Prosentase (%) 0 mr WV (b) _ Realisasi Pembebasan Tanah Lokasi.. ha (... %) (lampirkan peta 1: 10,000). WARTA PERUNDANG-UNDANGAN XI ‘Pembentukan muka tanah (cut & fill) Rencana . ha, reaisasi. a ( w %) 3. Pelaksanaan Pembangunan Prasarana Prasarana Rencana Realisasi% 1, Jaringan jalan km km 2, Saluran air hujan km ken 3. Iastalasi penyediaan air bersih mjjam m3fjam 4, Jaringan distribusi air bersih km km 5. Instalasi Tenaga Listrik MVAIKVA MVAKVA 6. Jaringan distribust tenaga listrik km km 7. Sambungan telkom ss ss 8. Jaringan Distribusi Telkom km km 9, Instalasi pengolahan air limbah m3jjam m3 jam 10, Jaringan pengumpul air limbah Industri km) km 11. Penampungan sementara limbah padat (B3) m3 m3 12, Penampungan sementara limbah padat Non (B3) m3 m3 13, Penerangan jalan Umuant (PSU) unit vnit 34, Pagar Kawasan Industri m m 4. Pelasakanaan Pembangunan Sarana Penunjang Sarena PenunjangRencanaRealisasi7% 1. Kantor Pengelola Kawasan Industri unit nit 2. Fasilitas Bank m2 m2 3. Fasilitas kantor Pos m2 m2 4, Kantor Pelayanan Telekomunikasi m2 m2 S. Poliklinik m2 m2 6. Kantin m2 m2 7, Sarana Ibadah m2 m2 8 Rumah Penginapan Sementara m2, m2 9, Pos Keamanan m2 m2 10, Sarana Kesegaran Jasmani m2 m2 11. Halte Pengangkutan Umum m2 m2 12, Unit Pemadam Kebakaran unit unit 13. Perumahan keryawan Industei unit unit 14. Fasiltas Penunjang lainaya unit unit 5. Pelaksanaan Pembangunan Prasarana Eksternal : 2. Jaringan tranmisi tenaga listrik ke kawasan Industri + ada/belum b, jaringan pipa air baku ke Kawasan Industri + ada/belum ©. Saluran air hujea pembuangan akhir dari Kawasan Industri : ada/belum d, Jalan akses ke Kawasan Industri: ada/belum WARTA PERUNDANG-UNDANGAN x2 \,_RENCANA OPERASI KOMERSIAL KAWASAN INDUSTRI 1, Reneana mulai dipasarkan tahun... luas .. ha 2, Rencana pemasaran selanjutnya (lampirkan rencana pemasaran tahunan). VI. MASALAH YANG DIHADAPI Nama dan Tanda Tangan Cap Perusahaan (Direktur) TEMBUSAN : 1, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, 2. Menteri Negara Agraria/Kepala BPN. 3. Inspektur Jenderal Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 4. Kepala Balitbang Industri dan Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I .. —. Bupati Kepala Daerah Tingkat I1/Walikotamady: 7. Kepala PUSDATIN Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 8 Kepala KANWIL Departemen Perindustsian dan Perdegengan Propins um 9. Pertinggal. *) Coret yang tidak perlu WARTA PERUNDANG-UNDANGAN x3 Diisi Oleh Pemohon Model PMK-IIT DAFTAR ISIAN UNTUK PERMINTAAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI I. KETERANGAN UMUM 1. Pemohon a. Nama pemohon/kuasa b. Alamat be c. NomorTelepon/Tele/Fax iw 2, Perusahaan Nama Perusahaan NPWP Alamat Kantor Nomor Telepon/TelexFax Bidang Usaha Kawasan Industri ‘Akte Pendirian Perusahaan! Notaris tee g. Nomor dan Tanggal Persetujuan Prinsip bh, zin-izin yang telah diperoleh dst. terlampir i. Pimpinan Perusahaan (busunan Direksi dan Komisaris Perusahaan terlampit) Il, PROYEK YANG DIMOHON dengan form PMK-I1) 1. a Lokasi Kawasan Industri (Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kotamadya, Propinsi b. — Luas Kawasan Industri nd c. Penggunaan 1) Kapling industei ha (..%) 2) Kapling untuk Bangunan Pabrik Siap Pakai (BPSP) :.. ha (..%) 3) Luas jalur prasarana tu. ha (96) 4) Luas Ruang Terbuka/Hijau :... ha 0) 5) Luas kapling untuk sarana penunjang soa (96) ARTA PERUNDANG-UNDANGAN Jumlah (ampirkan peta rencana peruntukan Iahan) ses ha (96) 2. Reneana Pelaksanaan/Pembangunan Clampirkan jadwal/target penyelesaian pembangunan prasarana dan sarana penunjang baik yang ada dalam Kawasan Industri maupua sarana peruinjang eksternal). 111, NILALINVESTASI 1, Nilai Investast 2. Modal Pinjaman 3. Modal Senditi (lampirkan proyeksi biaya pembebasan tanah dan pematangan tanah) : Rp. IV, TENAGA KERJA Penggunaan tenaga kerja Indonesia a. Lakielaki - orang >. Wanita orang Sumlah orang 2. Penggunaan tenage kerja Asing a. Laki-faki . orang b. Wanita 0 OFAN Jumlah OFAN Negara asal e 4. Keahlian ©. Jangka Waktu di Indonesia. bulan «tahun Demikian Daftar Isian ini dibvat dengan sebenarnya, dan apabila ternyata tidak benar kami bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Nama dan tandatangan pemohon (asli bermeterai Rp. 2,000,-) TEMBUSAN Seaaws Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Menteri Negara Agraria/Kepala BPN. Inspektur Jenderal Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Balitbang Industri dan Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bupati Kepala Daerah Tingkat Il/Walikotamdya .. Kepala PUSDATIN Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Kepala KANWIL Departemen Perindustrian dan Perdagangan Propinsi . Pertinggal. WARTA PERUNDANG-UNDANGAN XS Diisi Oleh Pemohon 1, KETERANGAN UMUM 1, Pemohon 2. Nama pemohon/kuasa b. Alamat © Nomor/Telepon/Telex/Telefax 2 Perusahaan a. Nama Perusahaan b. NPWP ec. Alamat Kantor d. Nomor Telepon/Telex/Tetefax € Bidang Usaha £ Nomor Akte Pendirian Perusahaan/Nama Notaris Penanggung Jawab Perusahaan h, Nama Direksi dan Dewan Komisaris Nomor dan Tanggal Persetujuan Prinsip J. Tein-izin yang telah diperoteh (Lain Lokasi, IMB, HGB, ANDAL, RKL & RPL, Tzin Usaha Kawasan Industri) k. Pimpinan Perusahaan (Susunan Direksi dan Komisaris Perusahaan terlampir) Model PMK:IV DAFTAR ISIAN UNTUK PERMINTAAN IZIN PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI Kawasan Industri dst. terlampir I, PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI YANG DIMOHON 1, a, Lokasi Kawasan Industri (Besa, Kecamatan Kabupaten/Kotamadya, Propinsi) b, _Luas Kawasan Industri yang dimohon WARTA PERUNDANG-UNDANGAN