Anda di halaman 1dari 36

Bab 10.

Analisis Investasi Perusahaan

BAB 10
ANALISIS INVESTASI PERUSAHAAN

Tujuan bab ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang bagaimana


melakukan analisis dalam rangka menilai investasi perusahaan yang difokuskan
pada investasi di sektor keuangan. Secara khusus, setelah mempelajari bab ini,
pembaca diharapkan memiliki kemampuan untuk:
Menggunakan analisis fundamental dalam menilai investasi;
Menggunakan analisis teknikal dalam menilai investasi;
Menggunakan model-model penilaian sekuritas dalam menilai investasi;
Menggunakan model keseimbangan dalam menilai investasi.

Pendahuluan
Investasi merupakan suatu pengeluaran modal saat ini untuk megharapkan
pengembalian atau hasil pada masa yang akan datang. Keputusan atas suatu
investasi pada umumnya didasarkan pada pertimbangan investor terhadap
besarnya return (pengembalian) yang diharapkan serta risiko yang diperkirakan
akan dihadapi. Hubungan antara risiko dengan return bersifat positif artinya
apabila risiko tinggi maka return yang diharapkan juga akan tinggi. Sebagai
ilustrasi, apabila seorang detektif memiliki misi untuk membongkar suatu sindikat
perampokan maka besarnya bayaran yang ditawarkan bergantung besarnya risiko
yang akan dihadapi dalam menjalankan tugas.
Analisis investasi (investment analysis) dimaksudkan sebagai upaya untuk
memperkirakan prospek suatu investasi di masa yang akan datang. Analisis ini
sangat diperlukan dengan pertimbangan bahwa kondisi investasi masa yang akan
datang bersifat tidak pasti (uncertainty). Hasil analisis investasi ini akan menjadi
pertimbangan bagi para investor dalam mengambil keputusan atas investasinya.
Analisis investasi meliputi analisis fundamental, analisis teknikal, model-model
valuasi investasi, serta model-model keseimbangan dalam menilai investasi. Pada
pembahasan analisis investasi ini, penulis lebih banyak mengungkapkan teori
hasil kompilasi dari beberapa pakar serta hasil penelitian, baik yang dilaksanakan
di dalam negeri (Indonesia) maupun di luar negeri.

68
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Kerangka Pembahasan

Analisis Investasi
Perusahaan

Analisis Analisis Model- Model-model


fundamental teknikal model keseim-
penilaian bangan

Analisis Investasi: Analisis Fundamental


Analisis fundamental merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan
dalam menganalisis suatu sekuritas. Menurut Jones (2007) bahwa Fundamental
analysis at the company level involves analyzing basic financial variables in
order to estimate the companys intrinsic value. Selanjutnya, Jones (2007)
menyatakan bahwa The end result of fundamental analysis at the company level
is good understanding of the companys financial variables and an assessment of
the estimated value and potential of the company. Selanjutnya, Reilly dan Brown
(2006) mengemukakan bahwa Fundamental analysts believe that, at any time
there is a basic intrinsic value for the aggregate stock market, various industries,
or individual securities and that these values depend on underlying economic
factors.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa analisis fundamental dilakukan untuk
menentukan nilai intrinsik (nilai yang sebenarnya) suatu sekuritas, misalnya
saham yang didasarkan pada faktor-faktor fundamental, seperti faktor-faktor
ekonomi, industri, dan faktor-faktor finansial perusahaan.

Copeland, Weston, dan Shastri (2005) mengemukakan beberapa faktor yang


menentukan harga sekuritas adalah transaksi perdagangan (permintaan dan
penawaran) antar investor yang secara garis besar dipengaruhi oleh tiga faktor

69
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

yaitu pilihan waktu untuk melakukan investasi dan produktivitas investasi dalam
menghasilkan return, ekspektasi investor mengenai keadaan masa yang akan
datang, serta sikap investor terhadap risiko.
Investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran dana saat ini untuk
mengharapkan pengembalian (hasil) pada masa yang akan datang, baik jangka
pendek maupun jangka panjang. Berbagai pilihan investasi akan dihadapi oleh
para investor, baik investor individu maupun investor kelompok. Berdasarkan
bentuknya, investasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Investasi pada sektor riil, seperti peralatan, properti, dll.
b. Investasi pada sektor finansial, baik instrumen investasi pada pasar uang
maupun instrumen investasi pada pasar modal, seperti obligasi dan saham
maupun derivatifnya.
Berdasarkan analisis faktor risiko yang kemudian menentukan return saham
tersebut akan menjadi pertimbangan bagi investor dalam mengambil keputusan.
Keputusan investor merupakan perwujudan dari suatu perilaku atas respon
investor dari berbagai faktor yang mempengaruhi iklim investasinya. Faktor
utama yang menjadi pertimbangan investor atas keputusan investasinya adalah
ekspektasi terhadap return dan risiko.
Beberapa konsep dasar yang diperlukan dalam melakukan analisis
fundamental adalah:
1. Return investasi individual
Tujuan utama suatu kegiatan investasi adalah untuk menghasilkan return
(hasil) sebagaimana dikemukakan oleh Penman (2003) bahwa The objective of
investing is to earn returns, and the objective of fundamental analysis is to
forecast and value this returns. Pada dasarnya seluruh jenis investasi mempunyai
return yang sama yaitu berupa net cash inflow yang dihasilkan dari kegiatan
investasi. Namun komponen pembentuk return akan berbeda bagi setiap jenis
investasi. Return dapat diartikan sebagai hasil atau pengembalian dari investasi
berupa pendapatan bunga, pendapatan dividen, capital gain, dll. Fischer dan
Jordan (1995) mengemukakan bahwa Return is the motivating force and the

70
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

principal reward in the investment process, and it is the key method available to
investors in comparing alternative investments.
Bagi investasi riil, return berupa net cash flow yang dihasilkan dari aktivitas
operasi atas proyek investasi; bagi investasi obligasi akan menghasilkan return
berupa pendapatan bunga atas obligasi (bond yield); sedangkan bagi investasi
saham akan menghasilkan return berupa pendapatan dividen (dividend yield) dan
pendapatan dari selisih harga (capital gain).
Jadi total return suatu investasi aktiva finansial dapat dihitung secara
matematis: Return = Hasil + Perubahan harga. Menurut Salomon Brothers (1989)
dalam Elton dkk (2007) bahwa terdapat tujuh variabel yang dapat mempengaruhi
return sekuritas yaitu: (1) pertumbuhan ekonomi, (2) siklus bisnis, (3) tingkat
suku bunga jangka panjang, (4) tingkat suku bunga jangka pendek, (5) inflasi, (6)
kurs mata uang, dan (7) indeks pasar.
Return dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu return ekspektasi dan return
aktual. Menurut Rose, Westerfield, dan Jaffe (2010) bahwa Expected return is
the return that an individual expects a stock to earn over the next period. Untuk
mengukur besarnya return saham aktual digunakan rumus (Jogiyanto, 2008)
sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan 10.1.
Pt Pt 1 Dt
Ri t ........................................................ (10.1)
Pt 1

Keterangan:
Rit = Return individual realisasi pada periode t
Pt = Harga saham pada periode t
Pt-1 = Return individual realisasi pada periode t-1
Dt = Dividen pada periode t

Untuk menjelaskan penghitungan return saham di atas, sebagai ilustrasi digunakan


data harga pasar saham dan pembayaran dividen PT United Tractors Tbk di Bursa
Efek Indonesia sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 10.1.

71
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Tabel 10.1. Harga pasar saham, pembayaran dividen, dan return saham PT United
Tractors Tbk
Harga pasar Pembayaran Capital Dividend Return
Tahun
(Rp) dividen*) (Rp) gain (%) yield (%) saham (%)
2005 5.400 0
2006 7.550 0 39,81 0 39,81
2007 10.900 0 44,37 0 44,37
2008 4.400 0 (59,63) 0 (59,63)
2009 15.500 0 252,27 0 252,27
Sumber: Fact book Bursa Efek Indonesia
Keterangan *) Asumsi penulis
Berdasarkan Tabel 10.1 di atas menunjukkan bahwa harga pasar saham PT
United Tractors Tbk sangat fluktuatif. Apabila diasumsikan tidak ada pembayaran
dividen maka return saham aktual sama dengan capital gain yang ditunjukkan
pada kolom return saham. Nilai return saham akan berfluktuasi sejalan dengan
harga pasar saham.

2. Risiko investasi

Risiko dapat diartikan sebagai variabilitas return terhadap return yang


diharapkan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Jones (2007) bahwa Risk is
defined here as the chance that the actual return on an investment will be different
from its expected return. Apa yang menyebabkan timbulnya risiko bagi aktiva
finansial? Menurut Jones (2007) terdapat delapan faktor yang dapat menyebabkan
timbulnya risiko bagi suatu aktiva finansial, yaitu: (1) risiko tingkat suku bunga,
(2) risiko pasar, (3) risiko inflasi, (4) risiko bisnis, (5) risiko finansial, (6) risiko
likuiditas, (7) risiko nilai tukar, (8) risiko Negara.

3. Return dan risiko pasar


Setiap investasi yang dilakukan oleh investor, baik investasi pada sektor riil
maupun investasi finansial tidak terlepas dari pengaruh pasar. Oleh karena itu,
pada analisis investasi perlu memperhitungkan return dan risiko pasar. Return
pasar merupakan pengukuran return portofolio pasar yang dihitung berdasarkan
perubahan indeks pasar modal sebagai proksi indeks pasar. Rumus yang

72
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

digunakan sebagaimana dikemukakan oleh Jogiyanto (2008) ditunjukkan pada


Persamaan 10.2.
IHSGt IHSGt 1
RMt ......................................... (10.2)
IHSGt 1
Untuk menjelaskan penghitungan return pasar di atas, sebagai ilustrasi digunakan
data indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel 10.2.

Tabel 10.2. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia
Tahun IHSG Return Pasar (%)
2001 392
2002 425 8,39
2003 679 59,86
2004 1.000 47,24
2005 1.163 16,24
2006 1.806 55,34
2007 2.746 52,05
2008 1.355 -50,66
2009 2.534 87,01
Sumber: Bank Indonesia
Berdasarkan Tabel 10.2 di atas menunjukkan return pasar saham di Indoensia
mengalami fluktuasi. Nilai return pasar akan berfluktuasi sejalan dengan fluktuasi
indeks harga saham gabungan. Fluktuasi return pasar juga dapat dilihat pada
Gambar 10.1.

Gambar 10.1. Return pasar saham di Indonesia


Sedangkan risiko pasar menunjukkan risiko yang timbul karena adanya
pengaruh faktor pasar yang tidak dapat dihilangkan dengan cara diversifikasi
investasi.

73
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Untuk menghitung besarnya risiko pasar digunakan rumus varians return pasar
(Jogiyanto, 2008) sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan 10.3.
i 2 ei 2
M 2
............................................................ (10.3)
i 2

Keterangan:
M2 = varians pasar (tingkat risiko pasar)
i2 = Varians saham individual (risiko saham individual)
ei2 = Varians residual saham individual
i2 = Beta kuadrat

4. Tingkat return aktiva bebas risiko


Untuk mengukur tingkat return aktiva bebas risiko digunakan pendekatan
tingkat suku bunga, sebagaimana disebutkan oleh Brigham, Gapenski, dan
Ehrnhardt (1999) generally taken to be the yield on a long-term U.S. Treasury
bond. Pada penelitian-penelitian pasar modal yang dilakukan di Indonesia
digunakan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai proksi
tingkat return aktiva bebas risiko.
5. Beta Saham
Risiko yang relevan dalam permasalahan investasi saham adalah risiko yang
tidak dapat dihilangkan sama sekali atau risiko sistematisnya, sehingga dalam hal
ini risiko yang diperhitungkan adalah risiko sistematis yang diukur dengan beta.
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Jogiyanto (2008) bahwa beta
adalah pengukur risiko sistematis dari suatu saham atau portofolio relatif terhadap
risiko pasar. Menurut Elton, gruber, Brown, dan Goetzmann (2007) bahwa Beta
is risk measure that arises from the relationship between the return on a stock,
and the return on the market.
Pada umumnya, ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menghitung
beta, yaitu:
1) Menurut Elton, Gruber, Brown, dan Goetzmann (2007) untuk mengestimasi
beta dapat digunakan pendekatan pasar atau Model Indeks Tunggal dengan
menggunakan teknik statistik regresi. Rumus yang digunakan sebagaimana
ditunjukkan pada Persamaan 10.4.

74
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Rit ai i Rmt it .......... .......... .......... .......... .......... .......... .. (10.4)


Keterangan:
Rit = Return saham I pada periode t
Rmt = Return saham pada periode t
i = Konstanta (unique return)
i = Beta saham
it = Residual error saham i pada periode t.
2) Menurut Radcliffe (1997) untuk mengestimasi beta dapat dilakukan dengan
mengukur volatilitas antara return suatu saham dengan return pasar. Rumus
yang digunakan sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan 10.5.

im Cov ( Ri , Rm )
i
m2 Var ( Rm ) . (10.5)

Keterangan:
i = Beta saham
im = Covarians antara return saham i dengan return pasar
m2 = Varians pasar
Rm = Return pasar pada periode t
Ri = Return saham i pada periode t.

Menurut Rose, Westerfield, dan Jaffe (2010) bahwa Variance and standard
deviation are many ways to assess the volatility of a securitys return. One of
the most common is variance, which is a measure of the squared deviations of
a securitys return from its expected return. Selanjutnya, Rose, Westerfield,
dan Jaffe (2010) bahwa Covariance and Correlation is a return on individual
securities are related to one another.
Menurut Jogiyanto (2008) bahwa Beta untuk portofolio pasar adalah bernilai
1. Suatu sekuritas yang mempunyai Beta lebih kecil dari 1 dikatakan berisiko
lebih kecil dari risiko portofolio pasar. Sebaliknya, suatu sekuritas yang
mempunyai nilai Beta lebih besar dari 1 dikatakan dikatakan mempunyai
risiko sistematik yang lebih besar dari risiko pasar. Jika suatu sekuritas
mempunyai Beta sama dengan Beta portofolio pasar atau sama dengan 1,
maka diharapkan sekuritas ini mempunyai return ekspektasi yang sama
dengan return ekspektasi portofolio pasar atau E(R M). Untuk sekuritas

75
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

individual yang mempunyai Beta lebih kecil (besar) dari satu, maka
diharapkan akan mendapatkan return ekspektasi lebih kecil (besar)
dibandingkan dengan return ekspektasi portofolio pasar.
Jadi berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis
fundamental (fundamental analysis) merupakan suatu upaya untuk mengestimasi
harga sekuritas di masa yang akan datang dengan mempertimbangkan faktor-
faktor fundamental secara top-down. Kerangka analisis fundamental secara top-
down ditunjukkan pada Gambar 10.2.

Analisis Fundamental Ekonomi

Analisis Fundamental Industri

Analisis Fundamental Perusahaan

Gambar 10.2. Model analisis fundamental secara top-down

Berdasarkan kerangka pada Gambar 10.2 di atas menunjukkan bahwa analisis


fundamental meliputi:
1. Analisis faktor-faktor makroekonomi
Faktor-faktor fundamental ekonomi merupakan variabel-variabel
makroekonomi dan industri yang menjadi indikator kinerja perekonomian yang
dicapai oleh suatu negara. Variabel ini menggambarkan fundamental ekonomi
suatu negara. Faktor-faktor fundamental ekonomi dipandang dalam konteks
lingkungan ekonomi dari suatu sistem bisnis. Pasar modal sebagai suatu sistem
bisnis tentunya akan mendapat pengaruh dari lingkungan ekonominya.
Variabel-variabel makroekonomi yang dianggap berpengaruh terhadap return
saham adalah: tingkat inflasi, pendapatan nasional, jumlah uang beredar, tingkat
suku bunga, nilai tukar mata uang asing, neraca pembayaran, APBN, dan tingkat
pengangguran.
1) Tingkat Inflasi

76
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Inflasi (inflation) dapat diartikan sebagai kecenderungan kenaikan harga


barang-barang dan jasa yang berlaku secara umum dan berlangsung relatif lama.
Inflasi berpengaruh terhadap return saham. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Reilly dan Brown (2006) bahwa when investors anticipated an increase in rate
of inflation, they would increase their required rates of return by a similar amount
to derive constant rates of return. Menurut Dornbusch, Fischer, dan Startz (2008)
bahwa The inflation measure in the figure is the rate of change of the consumer
price index (CPI), the cost of a given basket of goods representing the purchases
of a typical urban consumer.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa variabel Inflasi


merupakan salah satu indikator perekonomian suatu negara. Inflasi berpengaruh
terhadap daya beli masyarakat sehingga juga berpengaruh terhadap pendapatan riil
masyarakat. Semakin tinggi Inflasi suatu negara maka semakin rendah daya beli
(purchasing power) masyarakat sehingga pendapatan riil juga menurun. Daya beli
masyarakat akan berpengaruh terhadap permintaan (demand) barang dan jasa
yang dihasilkan oleh produsen sebagai emiten. Semakin tinggi daya beli
masyarakat maka semakin tinggi pula permintaan barang dan jasa. Permintaan
akan berpengaruh terhadap pendapatan produsen. Artinya semakin tinggi
permintaan suatu produsen maka akan semakin tinggi pula pendapatan produsen
tersebut. Dan pada akhirnya apabila pendapatan meningkat maka cenderung
diikuti pula peningkatan laba. Selanjutnya, para investor akan merespon kondisi
tersebut sehingga akan berpengaruh terhadap nilai suatu sekuritas. Apabila para
investor merespon positif terhadap kinerja emiten maka nilai sekuritas yang
diterbitkan emiten tersebut cenderung meningkat. Demikian pula sebaliknya,
apabila para investor merespon negatif maka nilai sekuritas yang diterbitkan
emiten tersebut cenderung menurun.

2) Tingkat Suku Bunga


Tingkat suku bunga (interest rates) dapat diartikan sebagai biaya atas dana
pinjaman atau pendapatan atas investasi pada pasar uang. Hal ini sejalan dengan

77
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

pernyataan Dornbusch, Fischer, dan Startz (2008) bahwa The interest rate states
the rate of payment on a loan or other investment, over and above principal
repayment, in terms of an annual percentage.
Zafar, Urooj, dan Durrani (2008) telah melakukan penelitian tentang
volatilitas tingkat suku bunga dan return saham pada Pasar Saham Karachi. Hasil
penelitiannya menyimpulkan bahwa conditional market returns and variance
parameters are very close to each other for both the models. Conditional market
returns have a negatively significant relation with the interest rates as in USA and
Korea. Thus we can easily predict the stock returns by analyzing interest rates.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat suku
bunga merupakan salah satu indikator perekonomian suatu negara. Suku bunga
berpengaruh terhadap dua hal yaitu (1) daya beli untuk konsumsi masyarakat dan
(2) selera investasi masyarakat. Semakin tinggi suku bunga pada suatu negara
maka semakin rendah daya beli (purchasing power) masyarakat. Kondisi ini pula
akan mengubah selera investasi masyarakat yang cenderung mengalihkan
investasinya dari pasar modal ke pasar uang. Daya beli masyarakat akan
berpengaruh terhadap permintaan (demand) barang dan jasa yang dihasilkan oleh
produsen sebagai emiten. Semakin tinggi daya beli masyarakat maka semakin
tinggi pula permintaan barang dan jasa. Permintaan akan berpengaruh terhadap
pendapatan produsen. Artinya semakin tinggi permintaan suatu produsen maka
akan semakin tinggi pula pendapatan produsen tersebut. Dan pada akhirnya
apabila pendapatan meningkat maka cenderung diikuti pula peningkatan laba. Di
samping itu, adanya perubahan selera investasi masyarakat yang cenderung
mengalihkan investasinya dari pasar modal ke pasar uang sehingga harga
sekuritas pada pasar modal cenderung menurun. Selanjutnya, para investor akan
merespon kondisi tersebut sehingga akan berpengaruh terhadap nilai suatu
sekuritas. Apabila para investor merespon positif terhadap kinerja emiten maka
nilai sekuritas yang diterbitkan emiten tersebut cenderung meningkat. Demikian
pula sebaliknya, apabila para investor merespon negatif maka nilai sekuritas yang
diterbitkan emiten tersebut cenderung menurun.

78
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

3) Jumlah Uang Beredar


Jumlah uang beredar (money supply) dapat diartikan sebagai nilai uang yang
beredar di masyarakat, kecuali bank komersial dan kas Negara. Variabel jumlah
uang beredar juga salah satu indikator perekonomian suatu negara. Jumlah uang
beredar akan berpengaruh terhadap inflasi yang mana apabila jumlah uang beredar
meningkat maka cenderung tingkat inflasi akan meningkat. Demikian pula
sebaliknya, apabila jumlah uang beredar menurun maka tingkat inflasi cenderung
menurun. Pengaruh selanjutnya adalah sama dengan pengaruh inflasi terhadap
nilai suatu sekuritas.

4) Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional (national income) merupakan salah satu indikator kinerja
perekonomian yang dicapai oleh suatu Negara. Pendapatan nasional dapat
memberikan pengaruh terhadap iklim berinvestasi, termasuk iklim berinvestasi di
pasar modal. Salah satu konsep pengukuran pendapatan nasional adalah Produk
Domestik Bruto (gross domestic product).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa variabel PDB
merupakan salah satu indikator perekonomian suatu negara. Apabila PDB suatu
negara mengalami peningkatan maka perekonomian negara tersebut mengalami
kemajuan. PDB berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Semakin tinggi PDB
suatu negara maka semakin tinggi pula daya beli (purchasing power) masyarakat.
Daya beli masyarakat akan berpengaruh terhadap permintaan (demand) barang
dan jasa yang dihasilkan oleh produsen sebagai emiten. Semakin tinggi daya beli
masyarakat maka semakin tinggi pula permintaan barang dan jasa. Permintaan
akan berpengaruh terhadap pendapatan produsen. Artinya semakin tinggi
permintaan suatu produsen maka akan semakin tinggi pula pendapatan produsen
tersebut. Dan pada akhirnya apabila pendapatan meningkat maka cenderung
diikuti pula peningkatan laba. Selanjutnya, para investor akan merespon kondisi
tersebut sehingga akan berpengaruh terhadap nilai suatu sekuritas. Apabila para
investor merespon positif terhadap kinerja emiten maka nilai sekuritas yang
diterbitkan emiten tersebut cenderung meningkat. Demikian pula sebaliknya,

79
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

apabila para investor merespon negatif maka nilai sekuritas yang diterbitkan
emiten tersebut cenderung menurun.

5) Nilai Tukar Mata Uang Asing


Nilai tukar mata uang asing (foreign exchange rate) dapat diartikan sebagai
perbandingan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang Negara lainnya.
Misalnya, rupiah terhadap dollar AS. Menurut Dornbusch, Fischer, dan Startz
(2008) bahwa The exchange rate is the price of foreign currency.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa variabel nilai tukar
merupakan salah satu indikator perekonomian suatu negara. Nilai tukar
berpengaruh terhadap dua hal yaitu (1) daya beli untuk konsumsi masyarakat baik
domestik maupun luar negeri dan (2) selera investasi masyarakat. Apabila mata
uang domestik mengalami depresiasi terhadap mata uang asing maka ekspor
negara tersebut cenderung mengalami peningkatan dan sebaliknya impor negara
tersebut cenderung mengalami penurunan. Kondisi ini pula akan mengubah selera
investasi masyarakat yang cenderung mengalihkan investasinya dari pasar modal
ke pasar uang. Daya beli masyarakat akan berpengaruh terhadap permintaan
(demand) barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen sebagai emiten. Semakin
tinggi daya beli masyarakat maka semakin tinggi pula permintaan barang dan jasa.
Permintaan akan berpengaruh terhadap pendapatan produsen. Artinya semakin
tinggi permintaan suatu produsen maka akan semakin tinggi pula pendapatan
produsen tersebut. Dan pada akhirnya apabila pendapatan meningkat maka
cenderung diikuti pula peningkatan laba. Di samping itu, adanya perubahan selera
investasi masyarakat yang cenderung mengalihkan investasinya dari pasar modal
ke pasar uang sehingga harga sekuritas pada pasar modal cenderung menurun.
Selanjutnya, para investor akan merespon kondisi tersebut sehingga akan
berpengaruh terhadap nilai suatu sekuritas. Apabila para investor merespon positif
terhadap kinerja emiten maka nilai sekuritas yang diterbitkan emiten tersebut
cenderung meningkat. Demikian pula sebaliknya, apabila para investor merespon
negatif maka nilai sekuritas yang diterbitkan emiten tersebut cenderung menurun.

80
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

6) Neraca Pembayaran
Neraca pembayaran (balance of payment) merupakan salah satu indikator
makroekonomi yang menunjukkan perimbangan antara arus dana masuk dari luar
negeri ke dalam negeri dengan arus dana keluar dari dalam negeri ke luar negeri.
Neraca pembayaran dapat mempengaruhi aktivitas perekonomian suatu Negara
karena akan menentukan cadangan devisa. Komponen utama dari neraca
pembayaran adalah transaksi berjalan (neraca perdagangan) yang merupakan
perimbangan ekspor dan impor. Apabila neraca perdagangan dalam kondisi defisit
maka neraca pembayaran juga akan cenderung defisit kecuali dapat ditutupi oleh
transaksi modal. Hal ini yang akan mempengaruhi kegiatan perekonomian
sehingga akan berpengaruh terhadap iklim investasi, baik pada sektor riil maupun
sektor keuangan.

7) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)


APBN (budgets) merupakan anggaran yang disusun oleh pemerintah berkaitan
dengan keuangan Negara. APBN merupakan pedoman bagi pemerintah dalam
mengatur keuangan Negara. Menurut Bodie, Kane, dan Marcus (2009) bahwa
The budget deficit of the federal government is the difference between
government spending and revenues. Any budgetary shortfall must be offset by
government borrowing. Large amounts of government borrowing can force up
interest rates by increasing the total demand for credit in the economy.
8) Pengangguran
Pengangguran (unemployment) merupakan suatu keadaan dimana angkatan
kerja tidak mendapatkan pekerjaan. Pengangguran juga merupakan salah satu
indikator perekonomian suatu negara. Pengangguran akan mengakibatkan
pendapatan masyarakat berkurang serta cenderung terjadi ketidakstabilan
keamanan dalam suatu negara. Apabila Tingkat Pengangguran dalam suatu negara
mengalami peningkatan maka perekonomian negara tersebut mengalami
penurunan. Pengangguran berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Semakin
tinggi Tingkat Pengangguran dalam suatu negara maka semakin rendah pula daya
beli (purchasing power) masyarakat. Daya beli masyarakat akan berpengaruh

81
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

terhadap permintaan (demand) barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen
sebagai emiten. Semakin rendah daya beli masyarakat maka semakin rendah pula
permintaan barang dan jasa. Permintaan akan berpengaruh terhadap pendapatan
produsen. Artinya semakin rendah permintaan suatu produsen maka akan semakin
rendah pula pendapatan produsen tersebut. Dan pada akhirnya apabila pendapatan
menurun maka cenderung diikuti pula penurunan laba. Selanjutnya, para investor
akan merespon kondisi tersebut sehingga akan berpengaruh terhadap nilai suatu
sekuritas. Apabila para investor merespon negatif terhadap kinerja emiten maka
nilai sekuritas yang diterbitkan emiten tersebut cenderung menurun. Demikian
pula sebaliknya, apabila para investor merespon positif maka nilai sekuritas yang
diterbitkan emiten tersebut cenderung meningkat.
Secara grafis hubungan antara variabel-variabel makroekonomi terhadap nilai
suatu sekuritas ditunjukkan pada Gambar 10.3.

Pendapatan
Domestik Bruto
Nilai
Respon
Pasar
Pendapatan Positif
Inflasi Meningka
Riil
t
Nilai
Suku Bunga Daya Beli Respon Pasar
Masyarakat Investor Sekurita
s
Jumlah Uang
Beredar Selera
Respon
Investasi
Negatif
Pengangguran

Permintaan Nilai
dan Pasar
Nilai Tukar
Penawaran Menuru
Sekuritas n

_____________________________________
Gambar 10.3. Hubungan antara variabel-variabel makroekonomi terhadap nilai
pasar sekuritas

Hasil-hasil penelitian 10 tahun terakhir tentang hubungan antara faktor-faktor


fundamental ekonomi dengan return saham sebagai berikut:

82
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

1. Flannery dan Protopapadakis (2002) telah meneliti tentang hubungan antara


variabel-variabel makroekonomi dengan return saham. Pada penelitian ini,
mereka mengkaji faktor inflasi dan pertumbuhan uang. Hasil penelitiannya
menyimpulkan bahwa return saham secara signifikan berkaitan dengan inflasi
dan pertumbuhan uang.
2. Boyer dan Filian (2004) telah melakukan penelitian tentang faktor-faktor
fundamental ekonomi yang menentukan return saham perusahaan-perusahaan
minyak dan gas Kanada. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa return pasar
saham Kanada, dan peningkatan harga minyak mentah dan gas alam
berhubungan positif dengan return saham. Sedangkan tingkat suku bunga,
volume produksi, dan pelemahan dollar Kanada terhadap dollar Amerika
Serikat berhubungan negatif dengan return saham.
3. Goriaev (2004) telah melakukan penelitian tentang faktor-faktor fundamental
yang merupakan sumber risiko pada Pasar Saham Rusia. Pada faktor-faktor
fundamental ekonomi yang diteliti adalah oil, currency, bond spreads, dll.
4. Poitras (2004) telah melakukan penelitian tentang variabel-variabel ekonomi
makro kaitannya dengan return saham. Hasil penelitiannya menyimpulkan
bahwa tidak ada pengaruh secara signifikan pengumuman variabel-variabel
ekonomi makro terhadap harga saham.
5. Al-Zubi dan Salameh (2007) telah melakukan penelitian tentang hubungan
antara variabel-variabel ekonomi dengan return saham pada sektor industri di
Jordania. Pada penelitian ini, mereka mengkaji empat variabel ekonomi yaitu
industrial production, expected inflation, unanticipated inflation, dan term
structure. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa apabila
mempertimbangkan return tanpa dividen maka hanya ada dua variabel yang
benar-benar mempengaruhi return saham yaitu expected inflation dan
unanticipated inflation sedangkan apabila mempertimbangkan dividen maka
hanya ada satu variabel yang mempengaruhi return saham yaitu unticipated
inflation.
6. Kandir (2008) telah melakukan penelitian tentang peranan faktor-faktor
makroekonomi dalam menjelaskan return saham Turki. Pada penelitian ini,

83
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Kandir menggunakan faktor growth rate of industrial production index,


change in consumer price index, growth rate of narrowly defined money
supply, change in exchange rate, interest rate, growth rate of international
crude oil price, dan return on the MSCI World Equity Index. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa exchange rate, interest rate, dan world
market return mempengaruhi seluruh return portofolio, sementara inflation
rate hanya signifikan pada tiga dari 12 return portofolio. Sedangkan industrial
production, money supply dan oil prices tidak mempunyai pengaruh secara
signifikan terhadap return saham.

2. Analisis industri
Industri dapat diartikan sebagai kelompok perusahaan yang sejenis. Analisis
terhadap suatu industri diperlukan dengan pertimbangan bahwa setiap industri
memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memberikan dampak risiko yang
berbeda terhadap investasi saham pada pasar saham. Dengan demikian berarti
bahwa setiap jenis industri pada waktu yang bersamaan akan memberikan tingkat
return yang berbeda.
Pada setiap pasar modal di setiap negara telah melakukan pengklasifikasian
berdasarkan jenis-jenis industri. Misalnya, Bursa Efek Indonesia telah
mengklasifikasi emiten ke dalam sembilan sektor industri.
Di samping itu, analsis terhadap karakteristik industri dapat dibedakan dari
kinerja masing-masing industri yang dapat diukur dengan beberapa faktor antara
lain: (1) Return on equity, (2) Earnings per share, (3) Industrys operating profit
margin, (4) Price earnings ratio, (5) Price/book value ratio, (6) Price/cash flow
ratio, dan (7) Price/sales ratio.
Hasil-hasil penelitian terdahulu tentang hubungan antara return saham dengan
faktor-faktor industri adalah sebagai berikut:
1) Bauer, Pavlov, dan Schotman (2004) telah meneliti tentang prediksibilitas
return saham berdasarkan data panel saham-saham individual kaitannya
dengan pengaruh karakteristik industri. Hasil penelitiannya menemukan
bahwa efek industri signifikan yang diindikasikan oleh ukuran (size) dan

84
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

momentum. Selanjutnya, mereka menemukan bahwa return ekspektasi pada


umumnya berkaitan dengan cash flow-to-price ratio dan analyst earnings
revisions sebagai momentum.
2) Hou dan Robinson (2006) telah meneliti tentang konsentrasi industri
kaitannya dengan return saham. Pada penelitian ini, mereka mengkaji
beberapa faktor fundamental perusahaan yang mempengaruhi return saham
antara lain: size, book-to-market, dan momentum. Hasil penelitiannya
menyimpulkan bahwa perusahaan yang berada dalam industri yang semakin
terkonsentrasi akan menghasilkan return yang lebih rendah.
3) Chan, Lakonishok, dan Swaminathan (2007) telah meneliti tentang klasifikasi
industri dengan pergerakan return saham pada pasar modal Amerika Serikat.
Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa industri dapat berpengaruh terhadap
volatilitas return saham sebagaimana menyatakan bahwa their common
response to industry effects may be drowned out by the higher volatility in
small stock returns.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis industri
bertujuan menentukan jenis-jenis industri yang menguntungkan sebagai sebagai
suatu kegiatan investasi, baik investasi tunggal maupun investasi portofolio.
Variabel-variabel analisis industri adalah:
1) Estimasi tingkat keuntungan industri
Tingkat keuntungan industri merupakan tingkat keuntungan rata-rata seluruh
perusahaan yang berada dalam industri tersebut. Suatu industri yang
diestimasi memiliki tingkat keuntungan yang cenderung menurun maka
industri tersebut cenderung direspon negatif oleh investor. Untuk menilai
tingkat keuntungan industri dapat dilakukan prosedur sebagai berikut:
Tahap I. Tentukan parameter atau indikator yang digunakan, seperti ROA,
ROE, GPM, OPM, NPM.
Tahap II. Identifikasi nilai-nilai parameter setiap perusahaan tersebut
kemudian hitung rata-rata tingkat keuntungan industri.
Tahap III. Lakukan forecasting terhadap nilai-nilai parameter tersebut
Tahap IV. Lakukan analisis terhadap tingkat keuntungan industri tersebut.

85
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

2) Estimasi earning per share (EPS) industri


EPS industri merupakan EPS rata-rata seluruh perusahaan yang berada dalam
industri tersebut. Suatu industri yang diestimasi memiliki EPS yang cenderung
menurun maka industri tersebut cenderung direspon negatif oleh investor.
Untuk menilai tingkat keuntungan industri dapat dilakukan prosedur sebagai
berikut:
Tahap I. Identifikasi nilai-nilai EPS setiap perusahaan kemudian hitung
rata-rata EPS industri.
Tahap II. Lakukan forecasting terhadap nilai-nilai EPS tersebut
Tahap III. Lakukan analisis terhadap EPS industri tersebut.
3) Persaingan dan return industri yang diharapkan
4) Estimasi earning multiplier industri

3. Analisis perusahaan
Faktor-faktor fundamental perusahaan ditunjukkan oleh kinerja keuangan dan
keputusan-keputusan penting pada fungsi keuangan perusahaan yang merupakan
indikator kinerja manajemen perusahaan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan
perusahaan adalah emiten-emiten yang terdaftar pada Bursa Efek. Analisis
terhadap kinerja keuangan emiten dapat dilakukan melalui analisis terhadap
laporan keuangan sedangkan analisis terhadap keputusan-keputusan strategis di
bidang keuangan adalah keputusan-keputusan yang berimplikasi jangka panjang
di bidang keuangan.
Analisis terhadap laporan keuangan merupakan metode yang digunakan para
pengguna untuk mencari informasi guna menjawab pertanyaannya tentang
perusahaan (Penman, 2003).
Analisis terhadap kinerja keuangan emiten menggambarkan kekuatan dan
kelemahan aspek finansial suatu perusahaan sehingga akan merefleksikan suatu
risiko bagi suatu perusahaan.
Analisis terhadap kinerja keuangan emiten dapat dikelompokkan ke dalam
lima bagian yaitu: (1) Analisis Likuiditas, (2) Analisis Solvabilitas, (3) Analisis

86
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Profitabilitas, (4) Analisis Pertumbuhan Perusahaan, dan (5) Analisis Nilai


Tambah. Sebagian besar analisis ini telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Hasil-hasil penelitian terdahulu tentang pengaruh faktor-faktor fundamental
perusahaan terhadap return saham ditunjukkan sebagai berikut:
1. Quiros dan Timmermann (2000) telah melakukan penelitian tentang ukuran
perusahaan kaitannya dengan return saham. Hasil penelitiannya
menyimpulkan bahwa perusahaan yang berukuran kecil memiliiki risiko yang
relatif besar terhadap resesi dan memiliki return yang sangat sensitif terhadap
siklus perekonomian.
2. Lewellen (2000) telah meneliti tentang prediksibilitas return saham
berdasarkan book-to-market ratio kaitannya estimasi risiko. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa: (1) return saham dapat diprediksi secara
cross-section dan secara time series, dan (2) sesuai dengan penetapan harga
yang rasional, book-to market signifikan menentukan risiko tetapi tidak
memberikan informasi tambahan tentang return ekspektasi.
3. Liu dan Thomas (2000) telah meneliti tentang penggunaan laba akuntansi
untuk menjelaskan return saham. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
kesimpulan tentang kesesuaian nilai laba akuntansi yang dibuat dari regresi
sederhana unexpected returns atas current unexpected earnings adalah
menyesatkan.
4. Penman dan Zhang (2002) telah melakukan penelitian tentang kualitas laba
(return on net operating asset) yang dipengaruhi oleh investasi serta kaitannya
dengan return saham. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kualitas laba
dapat digunakan untuk memprediksi return saham.
5. Kothari, Lewellen, dan Warner (2003) telah melakukan penelitian tentang
return saham kaitannya dengan laba. Hasil penelitiannya menyimpulkan dua
hal yaitu: (1) return tidak berkaitan dengan laba masa lalu dan menyarankan
bahwa harga saham kurang bereaksi bukan berlebihan reaksi terhadap
pengumuman laba agregat, dan (2) agregat return berkorelasi secara negatif
dengan laba berjalan.

87
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

6. Balke dan Wohar (2006) telah meneliti tentang pertumbuhan dividen


kaitannya harga saham. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa ekspektasi
pertumbuhan dividen di masa yang akan datang merupakan penentu utama
terhadap pergerakan harga saham.
7. Majumdar dan Bacon (2007) telah melakukan penelitian tentang pengaruh
variabel-variabel keuangan yang signifikan terhadap risiko. Pada penelitian ini
mereka menjelaskan return sebagai fungsi variabel keuangan yang meliputi:
price to earnings per share ratio, price to book ratio, financial leverage,
dividend yield, firm size, dan beta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
beta, firm size, dan dividend yield sebagai variabel independen yang
menentukan return saham.
8. Park (2007) telah melakukan penelitian tentang dividendprice ratio untuk
memprediksi return saham. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa
dividend-price ratio tidak konsisten untuk digunakan dalam memprediksi
return saham. Sebagaimana ia menyatakan bahwa the dividend-price ratio
shows strong predictive power during a certain period, while it has weak or
no predictive power at other times. However, this paper shows that the
predictive power of the dividend-price ratio varies over time depending on its
persistence.
9. Chaopricha, Chan, dan Pollard (2007) telah melakukan penelitian tentang
pengaruh karakteristik perusahaan terhadap return saham. Pada penelitian ini,
mereka mengkaji karakteristik perusahaan yang dicirikan oleh market-to-book
value ratio, size, dan price-earning ratio.
10. Martani, Mulyono, dan Khairurizka (2009) telah melakukan penelitian tentang
nilai-nilai yang relevan atas informasi akuntansi dalam menjelaskan return
saham pada pasar modal Indonesia. Pada penelitian ini, mereka mengkaji
berbagai faktor fundamental perusahaan, seperti profitabilitas, likuiditas,
leverage, rasio pasar, ukuran perusahaan, dan arus kas sebagai informasi
akuntansi. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa profitabilitas, rasio
turnover dan rasio pasar mempunyai pengaruh signifikan terhadap return
saham.

88
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

11. Senthilkumar (2009) telah melakukan penelitian tentang hubungan antara


ekspektasi return saham (expected stock return) dengan ukuran perusahaan
(size) dan market-to-book ratio (M/B ratio) pada lima industri di India. Hasil
penelitiannya menyimpulkan bahwa:
1) Faktor Size (ukuran) perusahaan mempunyai hubungan negatif dengan
return saham tetapi kurang signifikan pengaruhnya. Namun demikian,
perusahaan kecil mempunyai rata-rata return yang lebih tinggi dari
perusahaan besar.
2) Faktor M/B ratio mempunyai hubungan positif dan peranan yang sangat
kuat terhadap rata-rata return.
12. Allen dan Bujang (2009) telah melakukan penelitian tentang return saham dan
kaitannya dengan fundamental perusahaan di Malaysia. Pada penelitian ini,
mereka mengkaji tentang dividend price ratio dan dividend yields sebagai
faktor fundamental perusahaan. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa
dividend price ratio dan dividend yields model mempunyai pengaruh yang
signifikan dan merupakan prediktor return saham yang superior.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis perusahaan
bertujuan menentukan perusahaan yang memiliki prospek yang baik dalam
industri yang terpilih sebagai tempat berinvestasi, baik investasi tunggal maupun
investasi portofolio.

Analisis Investasi: Analisis Teknikal


Analisis teknikal merupakan suatu upaya untuk mengestimasi harga sekuritas
berdasarkan pola pergerakan harga sekuritas pada masa lalu. Teknik-teknik
analisis yang dapat digunakan dalam analisis teknikal adalah:
1. Teori Dow
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Charles H. Dow yang bertujuan
untuk mengidentifikasi trend harga pasar saham dalam jangka panjang dengan
berdasar pada data historis harga pasar saham. Teori ini menjelaskan bahwa
pergerakan harga saham bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1) Trend primer (primary trend)

89
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Trend primer merupakan pergerakan harga saham dalam jangka waktu


yang lama (beberapa tahun).
2) Trend sekunder (secondary trend)
Trend sekunder merupakan pergerakan harga saham yang terjadi selama
pergerakan harga dalam trend primer yang biasanya terjadi dalam
beberapa minggu atau beberapa bulan.
3) Trend minor (minor trend)
Trend minor merupakan fluktuasi harga saham yang terjadi setiap hari.
Untuk menggambarkan pola pergerakan harga-harga saham dalam trend
primer dapat ditemukan dua kondisi, yaitu:
a. Pasar dalam kondisi bergairah (bull market = bullish) yaitu ketika
pergerakan harga-harga saham cenderung untuk naik.
b. Pasar dalam kondisi lesu (bear market = bearish) yaitu ketika pergerakan
harga-harga saham cenderung menurun.
2. Metode Grafik
Teknik lain untuk menggambarkan pergerakan harga pasar saham adalah
dengan menyusun grafik dari pergerakan harga saham secara individual
selama waktu tertentu. Metode grafik dapat berupa diagram batang (bar chart)
atau diagram kombinasi angka dan gambar (point-and-figure chart).
3. Metode rata-rata bergerak
Teknik rata-rata bergerak (moving average) adalah salah satu teknik yang
dipakai dalam analisis teknikal untuk mendeteksi dan menganalisis pergerakan
harga saham baik saham individual maupun seluruh saham di pasar modal.
Data yang dipakai adalah data harga penutupan saham (closing price) untuk
waktu tertentu (misalnya 200-harian).

4. Analisis kecenderungan

90
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Analisis kecenderungan dapat digunakan untuk meramal harga saham secara


time-series dengan asumsi bahwa fluktuasi harga saham tidak dipengaruhi
faktor-faktor lain, selain karena pengaruh waktu.
5. Analisis regresi
Metode regresi dapat digunakan untuk meramalkan harga pasar saham pada
masa yang akan datang dengan asumsi bahwa fluktuasi harga saham
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Apabila hanya satu faktor yang
mempengaruhi dapat digunakan regresi sederhana dan apabila lebih dari satu
faktor dapat digunakan regresi berganda.

Analisis Investasi: Model-model Penilaian Sekuritas


Sekuritas Jangka Panjang
Sekuritas jangka panjang merupakan sekuritas yang diterbitkan oleh emiten
dengan batas jatuh tempo lebih satu tahun (jangka panjang). Sekuritas jangka
panjang diperdagangkan di pasar modal berupa saham dan obligasi. Saham
merupakan surat tanda kepemilikan sedangkan obligasi merupakan surat tanda
utang. Di samping itu, sekuritas jangka panjang juga dapat diterbitkan oleh
pemerintah.
Penilaian terhadap sekuritas jangka panjang dapat ditinjau dari tiga konsep,
yaitu:
1. Nilai Buku (Book Value/BV)
Nilai buku merupakan nilai historis dari suatu aktiva. Nilai buku dari suatu
aktiva sekuritas adalah nilai perolehan sekuritas tersebut.
2. Nilai Pasar (Market Value/MV)
Nilai pasar merupakan nilai aktiva berdasarkan mekanisme pasar (permintaan
dan penawaran) pasar. Semakin tinggi permintaan pasar maka semakin tinggi
nilai aktiva tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi penawaran pasar maka
semakin rendah nilai aktiva tersebut.

3. Nilai Intrinsik (Intrinsic Value/IV)

91
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Nilai intrinsik suatu aktiva sekuritas merupakan harga sekuritas yang


seharusnya jika dihargai secara benar berdasarkan faktor-faktor penunjangnya.
Penilaian terhadap sekuritas jangka panjang diperlukan baik oleh emiten
maupun investor. Bagi emiten, penilaian terhadap sekuritas diperlukan untuk
mengestimasi respon investor terhadap sekuritas yang diterbitkan sedangkan bagi
investor berguna untuk mengestimasi prospek keuntungan yang akan diperoleh
investor. Secara umum, penilaian terhadap sekuritas dilakukan untuk mengukur
besarnya nilai intrinsik (nilai sebenarnya) atas suatu sekuritas yang kemudian
akan dibandingkan dengan harga pasar sekuritas tersebut. Apabila hasil
perhitungan nilai intrinsik dibandingkan dengan nilai pasar maka akan ditemukan
tiga kemungkinan, yaitu:
1. Nilai intrinsik lebih besar dari nilai pasar
Apabila nilai intrinsik suatu sekuritas lebih besar dari nilai pasarnya maka
sekuritas tersebut dalam keadaan undervalued. Jadi sebaiknya current investor
menahan sekuritas tersebut sedangkan bagi potential investor sebaiknya
membeli sekuritas tersebut. Hal ini dilakukan untuk mencapai keuntungan
yang lebih besar.
2. Nilai intrinsik sama dengan nilai pasar
Apabila nilai intrinsik suatu sekuritas sama dengan nilai pasarnya maka
keputusan bagi investor besifat relatif (fifty-fifty). Sebenarnya keadaan seperti
ini sangat sulit ditemukan.
3. Nilai intrinsik lebih kecil dari nilai pasar
Apabila nilai intrinsik suatu sekuritas lebih kecil dari nilai pasarnya maka
sekuritas tersebut dalam keadaan overvalued. Jadi sebaiknya current investor
melepas sekuritas tersebut sedangkan bagi potential investor sebaiknya tidak
membeli sekuritas tersebut. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian
yang lebih besar.

Konsep Nilai Sekarang dan Nilai akan Datang

92
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Konsep nilai sekarang atau present value (PV) dan nilai akan datang atau
future value (FV) sangat penting keberadaannya dalam penilaian terhadap
sekuritas jangka panjang. Kedua konsep ini dasarkan pada prinsip time value of
money dimana nilai uang akan berbeda pada waktu yang berbeda pula. Nilai
uang sekarang lebih rendah dari nilai uang yang lalu dan lebih tinggi dari nilai
uang yang akan datang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor
inflasi.
Perhitungan present value dan future value didasarkan atas dua jenis bunga,
yaitu bunga sederhana (simple interest) dan bunga majemuk (compound interest).
Bunga sederhana adalah bunga yang dibayar atau diterima berdasarkan jumlah
modal awal sedangkan bunga majemuk adalah bunga yang dibayar atau diterima
berdasarkan bunga sebelumnya yang dibayar atau diterima.
1. Nilai Sekarang (Present Value/PV)
Penilaian atas Present Value dibedakan berdasarkan kedua jenis bunga di atas:
a) Bunga Sederhana
FVn
PV0 P0
1 (i)(n)
(10.6)
b) Bunga Manjemuk
FVn 1
PV0 P0 FVn (10.7)
(1 i)n (1 i)n
PV0 FVn PVIFi,n (10.8)

2. Nilai Masa Depan (Future Value/FV)


Penilaian atas Future Value dibedakan berdasarkan kedua jenis bunga di atas:
a) Bunga Sederhana
FVn P01 i n (10.9)

b) Bunga Majemuk
FVn P0 1 i
n
(10.10)
PVn P0 FVIFi,n (10.11)

Model-model Penilaian Sekuritas Jangka Panjang

93
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Penilaian terhadap Sekuritas Jangka Panjang menggunakan model yang


berbeda sesuai dengan jenis sekuritasnya. Dalam konteks ini terdapat dua jenis
sekuritas jangka panjang yaitu Obligasi (Bond) dan Saham (Stock).
1. Penilaian terhadap Obligasi (Bond Valuation)
Penilaian terhadap obligasi berbeda untuk setiap jenis obligasi. Secara umum
terdapat dua jenis obligasi yaitu obligasi tanpa batas jatuh tempo (perpetual
bonds) dan obligasi dengan jatuh tempo terbatas (bond with a finite maturity).
Penilaian terhadap kedua jenis obligasi tersebut menggunakan pendekatan
yang berbeda sebagai berikut:
a) Obligasi tanpa batas jatuh tempo
Untuk menilai obligasi ini digunakan pendekatan nilai sekarang (present
value). Oleh karena itu, nilai intrinsik (intrinsic value) obligasi adalah nilai
sekarang (present value) atas arus kas (cash flow) yang diterima selama
periode yang tidak terbatas. Model matematis yang dapat digunakan untuk
menghitung nilai intrinsik obligasi ini dapat digunakan Persamaan 10.12,
10.13., dan 10.14 sebagai berikut:



I
V I PVIFA kd (10.12)
t 1 1 k d
t

I I I
V ..... (10.13)
1 k d 1 k d
1 2
1 k d
I
V (10.14)
kd

b) Obligasi dengan jatuh tempo terbatas


Penilaian terhadap jenis obligasi ini dapat digunakan dua model yaitu:
Non-Zero Coupon Bonds
n
I MV
V (10.15)
t 1 1 k d 1 k d n
t

I I I MV
V .... (10.16)
1 k d 1 k d
1 2
1 k d 1 k d n
n

Zero Coupon Bonds

V
MV

MV PVIFkd ,n (10.17)
1 kd n

94
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

2. Penilaian terhadap Saham Preferen


Penilaian terhadap Saham Preferen digunakan pendekatan present value
dengan Persamaan 10.18 sebagai berikut:
D
V P (10.18)
kP

3. Penilaian terhadap Saham Biasa


1) Model Pertumbuhan Konstan (Costant Growth Model)
Model pertumbuhan konstan merupakan salah satu model yang digunakan
untuk menilai harga saham biasa. Model ini mengasumsikan bahwa:
o Tidak semua laba (EPS) dibagi tetapi ada sebagian yang ditahan
o Laba yang ditahan diinvestasikan kembali sehingga bisa menghasilkan
keuntungan (ROE)
o Laba per lembar saham (EPS) dan deviden yang dibagikan akan
berkembang dari periode dengan tingkat pertumbuhan yang sama
o Tingkat pertumbuhan yang sama pada masa yang akan datang tidak
terbatas
Penilaian terhadap Saham Biasa dengan Model Pertmbuhan Konstan dapat
digunakan Persamaan 10.19.
D 1 g D 1 g D 1 g
2 N
P .... .... (10.19)
1 k s 1 k s 1 k s
atau secara sederhana diformulasikan dalam persamaan sum of geometric
progression sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan 10.20 sebagai
berikut:
D
P 10.20
kg

Persamaan 6.15 di atas diturunkan dari Persamaan 10.21 sebagai berikut:

95
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

N
D 1 g
1
1 ks 1 k
P (10.21)
1 g
1
1 ks

Keterangan:
P = nilai per lembar saham
D = deviden per lembar saham
k = rate of return
g = tingkat pertumbuhan

2) Discounted Cash Flow Model


Model ini didasarkan pada konsep bahwa nilai saham yang adalah sama
dengan present value dari cash flow yang dapat diterima dari saham tersebut
oleh investor. Present value cash flow tersebut merupakan present value
tersebut merupakan present value dari seluruh dividen yang akan datang. Hal
ini diasumsikan bahwa pemegang saham cenderung menahan saham untuk
satu periode. Pada periode ini, pemegang saham akan menerima dividen dan
nilai saham tersebut pada saat dijual.
Untuk menghitung nilai saham biasa dengan Model Discounted Cash Flow
dapat digunakan Persamaan 10.22 sebagai berikut:
Nilai saham jika dividen dibagi pada akhir periode:
Dt 1 Pt 1
Pt (10.22)
1 ks (1 ks )
Keterangan :
Pt = harga saham pada peride t
D t-1 = dividen yang diterima pada periode t-1
P t-1 = harga saham pada periode t-1
Ks = discount rate yang sesuai

Perkiraan harga saham yang akan dijual pada satu periode yang akan
datang dapat dihitung dengan Persamaan 10.23 sebagai berikut:
Dt 2 Pt 2
Pt 1 (10.23)
1 k s 1 k s

96
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Jadi pada akhirnya nilai saham dapat dihitung dengan Persamaan 10.24
sebagai berikut:
Dt 1 D D D
Pt t 2 2 t 3 .... t n n11 (10.24)
1 ks 1 ks 1 ks 1 k
3) Cross-Sectional Model
Model ini merupakan analisis yang dilakukan terhadap banyak saham untuk
periode waktu yang sama. Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui
bagaimana posisi suatu saham terhadap saham-saham lainnya dengan
menggunakan variabel tertentu.

Analisis Cross-Sectional untuk penilaian saham dilakukan dengan cara


membandingkan kewajaran harga suatu saham terhadap saham-saham lainnya.
Analisis ini dapat dilakukan dengan menggunakan analisis present value
maupun analisis price earning ratio (PER).
Analisis Cross-Sectional dengan menggunakan Price Earning Ratio
Salah satu faktor yang mempengaruhi Price Earning Ratio (PER) adalah
pertumbuhan dividen yang berarti juga laba. Semakin tinggi pertumbuhan
dividen, semakin tinggi PER apabila faktor-faktor lain konstan. Oleh
karena itu, salah satu cara untuk memperkirakan PER adalah dengan
menghubungkannya dengan pertumbuhan. Dari analisis Elton & Gruber
ditemukan hubungan antara PER dengan pertumbuhan sebagaimana
ditunjukkan pada Persamaan 10.25 sebagai berikut:
PER 4 2,3 Pertumbuhan Laba (10.25)

Apabila PER dipengaruhi beberapa faktor, maka teknik yang digunakan


adalah teknik regresi berganda yang menggunakan tiga variabel yang
mempengaruhi PER, yaitu (1) tingkat pertumbuhan, (2) devidend payout rate,
dan (3) mempunyai hubungan negatif. Dari hasil analisis ditemukan
persamaan PER sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan 10.26 sebagai
berikut:
PER 8,2 1,50Tingkat Pertumbuhan 0,067 Dividend Payout Rate
0,200 Deviasi S tan dard Tingkat Pertumbuhan (10.26)

97
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Selanjutnya Elton & Gruber menganalisis model Cross-Sectional pada kondisi


pasar modal bullish (membaik) dan bearish (memburuk). Pada kondisi bullish,
model satu variabel sebagaimana dirumuskan pada Persamaan 10.27 sebagai
berikut:
PER 4 2,3 Pertumbuhan Laba (10.27)

Sedangkan pada kondisi bearish dirumuskan pada Persamaan 10.28 sebagai


berikut:
PER 3 1,8 Pertumbuhan Laba (10.28)

Apabila suatu saham mempunyai PER yang ditawarkan lebih rendah dari PER
yang diharapkan (diperkirakan), maka saham tersebut potensi untuk dibel.
Sedangkan apabila menawarkan PER yang lebih tinggi dari PER yang
diharapkan, maka saham tersebut potensi untuk dilakukan short selling.
Analisis Cross-Sectional Dengan Pendekatan dividen (cash flow). Dalam
pendekatan ini ditunjukkan hubungan positif antara tingkat keuntungan
yang diharapkan (r) dengan risiko (), kemudian diregresikan, dimana r
merupakan variabel depeden dan merupakan variabel independen. Dari
hasil analisis ditemukan hubungan antara r dengan sebagai berikut:
Tabel 10.3. Analisis cross-section dengan pendekatan dividen (cash flow)
Saham Tingkat keuntungan Risiko ()
Yang diharapkan (r)
1 0,20 1,10
2 0,175 0,80

Apabila suatu saham menawarkan r yang lebih rendah dari r yang


diharapkan, maka sebaiknya saham tersebut dijual karena dinilai kurang cukup
untuk menutupi risiko yang diterima atau memperoleh Excess return negatif.
Sebaliknya, apabila suatu saham menawarkan r lebih tinggi dari r yang
diharapkan, maka sebaiknya saham tersebut dibeli karena memperoleh Excess
return positif.

Analisis Investasi: Model-model Keseimbangan

98
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Pada analisis investasi dikenal pula model-model keseimbangan. Tujuan


model keseimbangan adalah untuk menilai suatu investasi melalui penentuan
hubungan antara risiko dan return. Salah satu model keseimbangan yang akan
dibahas pada bagian ini adalah capital asset pricing model (CAPM).Teori Capital
Asset Pricing Model (CAPM) dapat diaplikasikan oleh investor dalam
pengambilan keputusan tentang rencana investasinya.
Pada dasarnya Capital Asset Pricing Model (CAPM) merupakan hasil
pengembangan teori ilmu ekonomi keuangan modern untuk memprediksi
hubungan antara risiko suatu aktiva dan return (keuntungan) yang diharapkan.
1. Garis pasar modal
Garis pasar modal (GPM) atau capital market line (CML) merupakan
gambaran tentang hubungan risiko dan return pada pasar yang seimbang untuk
portofolio-portofolio yang efisien (Eduardus Tandelilin, 2010). Rumus yang
digunakan sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan 10.30.
E ( RM ) R BR E ( RM ) RBR
CML . M atau E ( R p ) RBR p ... (10.30)
M M
Secara grafis CML ditunjukkan pada Gambar 10.3.
E(Rp) GPM
RRp)
Garis pasar modal
E(RM)
M Q
Premium risiko
RBR Risiko Portofolio
Pasar

0 M p

Gambar 10.4. Garis Pasar Modal (Capital Market Line)

Sumber: Jogiyanto, 2008, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, p. 468.

2. Garis pasar sekuritas


Garis pasar sekuritas (GPS) atau security market line (SML) menunjukkan
tradeoff antara risiko dan return ekspektasi untuk sekuritas individual (Jogiyanto,

99
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

2008). Rumus yang digunakan untuk menentukan Garis Pasar Sekuritas


sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan 10.31.

E ( Ri ) R f i E ( RM ) R f ................................................ (10.31)

Secara grafis Security Market Line (SML) atau Garis Pasar Sekuritas (GPS)
ditunjukkan pada Gambar 10.5.
E(Ri)
GPS

E(RM)

RBR
0 1,0
Gambar 10.5. Garis pasar sekuritas (security market line)
Sumber: Jogiyanto, 2008, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, p. 474.

Beberapa hasil penelitian yang dilaksanakan di Indonesia yang menjelaskan


tentang analisis investasi di Indonesia dikemukakan sebagai berikut:
1. Bahri (2003) menyimpulkan bahwa faktor-faktor: nilai tukar, tingkat suku
bunga, jumlah uang beredar, dan tingkat inflasi secara signifikan berpengaruh
terhadap indeks harga saham sektoral.
2. Dhita Ayudia Wulandari (2009) menyimpulkan: (1) Kinerja manajemen kedua
industri baik pertambangan maupun pertanian menunjukkan pertumbuhan
dari tahun ke tahun yang ditandai dengan meningkatnya jumlah laba bersih,
jumlah ekuitas, jumlah asset dan jumlah harga saham rata - rata bila
dibandingkan dengan jumlah saham umum yang beredar, jumlah hutang, dan
jumlah pajak per tahun, (2) pada tahun 2004 hingga tahun 2008 terdapat
beberapa saham yang selalu memiliki beta lebih dari 1 yaitu saham PTBA,
APEX, LSIP, UNSP, BTEK.dan BUMI, (3) pada industri pertambangan dan
pertanian diperoleh Angka R Square adalah 1.00. Hal ini berarti 100% dari
variasi harga saham bisa dijelaskan oleh variabel independen, (4) pada industri
pertambangan uji Anova atau F.test menunjukkan Fhitung dengan tingkat

100
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

signifikansi 0.00, maka model regresi bisa dipakai untuk memprediksi harga
saham. Atau bisa dikatakan semua variabel independen secara bersama sama
berpengaruh terhadap harga saham. Pada industri pertanian hanya variabel
EPS, PER, BVS, ROI, PBV, DER, serta Beta yang secara bersama sama
berpengaruh terhadap harga saham, dan (5) Pada industri pertambangan, Uji t
menunjukkan angka SIG berada jauh di bawah 0.025. Dapat dikatakan bahwa
semua variabel independen secara individu berpengaruh terhadap harga
saham. Sedangkan pada industri pertanian,hanya variabel EPS, PER, BVS,
ROI, PBV, DER, serta Beta yang secara individu berpengaruh terhadap harga
saham.

Ringkasan
Analisis investasi merupakan suatu cara untuk mengestimasi nilai investasi
pada masa yang akan datang. Salah satu jenis investasi yang perlu dianalisis
adalah investasi pada pasar modal, berupa saham, obligasi, atau derivatifnya.
Ketiga jenis sekuritas ini merupakan jenis investasi yang berisiko, terutama saham
dan derivatif. Oleh karena itu, analisis investasi pada pasar modal difokuskan pada
penentuan risiko dan return.
Berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis investasi pada
pasar modal adalah: analisis fundamental, analisis teknikal, penggunaan model-
model penilaian sekuritas, serta penggunaan model-model keseimbangan, seperti
capital asset pricing model (CAPM). Analisis fundamental merupakan analisis
yang dilakukan secara top-down yang mengasumsikan bahwa return sekuritas
dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental, seperti faktor makroekonomi,
faktor industri, dan faktor kinerja perusahaan. Analisis teknikal mengasumsikan
bahwa return sekuritas masa yang akan datang bergantung pada pola pergerakan
return pada periode sebelumnya. Penggunaan model-model penilaian sekuritas
adalah untuk menentukan nilai instrinsik berdasarkan arus kas dengan
menggunakan konsep nilai sekarang dan nilai akan datang. Penggunaan model-
model keseimbangan adalah untuk menentukan hubungan antara risiko dengan
return sekuritas.

101
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

Pertanyaan
10.1 Jelaskan apa yang dimaksud dengan analisis fundamental dan analisis
teknikal? Kemudian jelaskan perbedaan kedua jenis analisis ini.
10.2 Jelaskan apa yang dimaksud dengan model penilaian sekuritas? Kemudian
jelaskan beberapa konsep nilai (value) dalam model penilaian sekuritas.
10.3 Jelaskan apa yang dimaksud dengan capital asset pricing model?
Kemudian jelaskan perbedaan antara garis pasar modal dengan garis pasar
sekuritas.
10.4 Jelaskan bagaimana pendapat Saudara apabila nilai pasar saham lebih
tinggi dari nilai intrinsiknya? Bagaimana keputusan Saudara sebagai
investor? Jelaskan.
10.5 Jelaskan bagaimana pendapat Saudara apabila return ekspektasi saham A
lebih tinggi dari return ekspektasi berdasarkan garis pasar sekuritas?
Bagaimana keputusan Saudara sebagai investor? Jelaskan.

Studi Kasus
1. Melakukan analisis dengan pendekatan secara fundamental. Analisis ini
meliputi:
a. Analisis terhadap fundamental Makroekonomi
b. Analisis terhadap fundamental industri
c. Analisis terhadap fundamental perusahaan
2. Melakukan analisis dengan pendekatan secara teknikal. Analisis ini meliputi:
a. Analisis dengan menggunakan Metode Moving Average (Rata-rata
Bergerak)
b. Analisis dengan menggunakan Metode Trend
c. Analisis dengan menggunakan Metode Regresi
3. Melakukan kalkulasi nilai intrinsik saham dan obligasi dengan menggunakan
berbagai model penilaian sekuritas. Kemudian berikan komentar mengenai
keputusan investor.

102
Bab 10. Analisis Investasi Perusahaan

4. Melakukan kalkulasi ekspektasi return saham dengan menggunakan capital


asset pricing model. Kemudian berikan komentar mengenai keputusan
investor.

103

Anda mungkin juga menyukai