Anda di halaman 1dari 7

Publis:

Artikel asli
MEDICINA ,Volume 51 Nomor 2 Mei 2020
e-ISSN:2540-8321 p-ISSN 2540-8313

Ekspresi elastin ligamentum sakrouterina pada wanita pasca-menopause lebih


rendah daripada wanita pre-menopause

Wahyudi Wirawan, Ketut Suwiyoga, I Wayan Megadhana

Bagian Obstetri dan Ginekologi


Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
RSUP Sanglah, Bali
Email : wahyudi_wirawan83@yahoo.com

Abstrak

Menopause merupakan proses alami wanita ditandai perubahan anatomi dan


fisiologi terkait perubahan hormon estradiol. Pasca-menopause menggambarkan waktu
setelah menopause terjadi. Penurunan kadar estradiol saat menopause mempengaruhi
banyak hal, salah satunya memberikan pengaruh pada ekspresi elastin ligamentum
sakrouterina. Hal ini menjadi penting karena kondisi menopause mempengaruhi
ekspresi elastin ligamentum sakrouterina, dimana ligamentum sakrouterina bermanfaat
dalam menjaga dan mempertahankan organ panggul wanita agar tetap pada posisi
normal. Elastin adalah protein matriks ekstraselular yang mengubah bahan-bahan
biokimia untuk ekstensibilitas, fleksibilitas dan rekoil jaringan. Ekspresi elastin ikut
menurun seiring dengan pertambahan usia seorang wanita yang memasuki masa
pascamenopause. Tujuan penelitian membuktikan perbedaan ekspresi elastin
ligamentum sakrouterina pada wanita pre-menopause dan pasca-menopause. Penelitian
menggunakan observasional analitik metode potong lintang (cross sectional), yang
melibatkan 60 pasien (consecutive sampling) dari populasi terjangkau yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dilakukan histerektomi abdomen total di bagian
obstetri dan ginekologi RSUP Sanglah, Denpasar. Pemeriksaan imunohistokimia
dikerjakan untuk menilai ekspresi elastin. Pemeriksaan ekspresi elastin dikerjakan di
Laboratorium Patobiologi Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Dilakukan
pengolahan data dengan SPSS 17 untuk windows. Berdasarkan hasil analisis dengan uji
t-independent didapatkan bahwa terdapat perbedaan ekspresi elastin pada wanita pre-
menopause dibandingkan wanita pasca-menopause secara bermakna (P<0,05).
Kesimpulan penelitian ini diketahui bahwa terdapat perbedaan ekspresi elastin pada
wanita pre-menopause dan pasca-menopause. Perbedaan yang didapatkan yaitu adanya
ekspresi elastin wanita pasca-menopause yang lebih rendah daripada wanita pre-
monopause.

1
http://ojs.unud.co.id/index.php/eum
Kata kunci: Pre-menopause, pasca-menopause, ekspresi elastin, ligamentum
sakrouterina.

Abstract

Menopause is a natural process for every woman characterized by an anatomical


and physiological changes associated with changes in estradiol hormone. Post
menopausal describes the time after menopause occured. A decreased in estradiol levels
during menopause affects many things, one of which influences the elastin expression
of the sacrouterine ligament, which is useful in preserving and maintaining the female
pelvic organs to remain in a normal position. Elastin is an extracellular matrix protein
that converts biochemical materials to extensibility, flexibility and recoil in the tissues.
The elastin expression decreases along with the aging of a woman entering post
menopausal period. This study was done to prove the difference in elastin expression of
sacrouterine ligament in pre-menopausal and post-menopausal women. Observational
analytic with cross sectional design was done for this study. The study samples were 60
patients (consecutive sampling), who performed a total abdominal hysterectomy at
Sanglah Hospital Denpasar. They were selected for the affordable population who
fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Immunohistochemical examination was
performed to assess the elastin expression. Investigation of elastin expression in the
Laboratory Pathobiology of Veterinary Medicine of Udayana University. Test with
SPSS 17 for windows. Based on the results of the analysis with t-independent test it was
found that there was a significant difference of elastin expression in premenopausal
women compared with postmenopausal women (P<0.05). Conclusion for this study, that
there are differences in elastin expression in pre-menopausal and post-menopausal
women. The difference is that elastin expresion in postmenopausal women is lower than
elastin expression in premonopausal women.

Keyword: Premenopausal, postmenopausal, elastin expression, sacrouterine ligament.

2
http://ojs.unud.co.id/index.php/eum
Pendahuluan panggul. Protein yang memegang
peranan memperkuat ligamentum
Menopause ditandai oleh sakrouterina, yaitu: kolagen, elastin.
serangkaian siklus dengan fase folikuler Elastin adalah protein matriks
yang lebih pendek, siklus yang tidak ekstraselular yang mengubah bahan-
teratur dan siklus anovulatorik bahan biokimia untuk penambahan
Defisiensi estrogen secara tradisional panjang dan rekoil pada suatu jaringan.
dianggap bagian terpenting pada Elastin berperan dalam ekstensibilitas
menopause.1 Menurut WHO tahun dan rekoil elastik.3 Protein elastin
2003, jumlah wanita di dunia yang mengalami perubahan selama masa
memasuki menopause diperkirakan transisi menopause sampai pasca-
mencapai 1,2 milyar orang. Hasil sensus menopause. Protein elastin pada traktus
penduduk tahun 2010, di Indonesia saat reproduksi wanita justru mengikuti
ini termasuk dalam lima besar negara masa reproduksi dalam siklus
dengan jumlah penduduk lanjut usia kehidupan wanita. Faktor yang
terbanyak di dunia yakni 18,1 juta jiwa meningkatkan insiden pada masa pasca-
atau 9,6% dari jumlah penduduk. menopause karena hipoestrogen. Elastin
Berdasarkan proyeksi Bappenas, jumlah berperanan penting dalam menyanggah
penduduk lansia 60 tahun atau lebih organ pelvis sebagaimana terlihat pada
diperkirakan akan meningkat dari 18,1 beberapa penelitian pada tikus dan
juta (2010) menjadi 29,1 juta (2020) wanita dengan gangguan genetik
dan 36 juta (2025). Dengan metabolisme elastin (cutis laxa)
meningkatnya jumlah lanjut usia, akan menunjukkan terjadinya risiko prolaps
diikuti dengan meningkatnya organ panggul.4
permasalahan khususnya di bidang Tujuan penelitian ini untuk
kesehatan, salah satunya adalah mengetahui perbedaan ekspresi elastin
menopause Pada usia 40 tahun fungsi pada wanita pre-menopause dan pasca-
ovarium mengalami perubahan berupa menopause. Dengan diketahuinya
keletihan yang progresif dari folikel- perbedaan ini dapat dilihat kualitas
folikel ovarium yang menjurus ke perbedaan ekspresi elastin ligamentum
insufisiensi ovarium primer yang sakrouterina yang ada pada wanita pre-
hipergonadotropik. Keadaan ini menopause dibandingkan pasca-
menyebabkan penurunan pembentukan menopause.
estrogen di dalam ovarium.2 Untuk
gangguan jangka panjang dapat berupa Bahan dan Metode
osteoporosis, penyakit kardiovaskular,
Alzheimers disease, stroke dan prolaps Penelitian ini menggunakan
organ panggul (POP) wanita. observasional analitik dengan
Karakteristik status menopause rancangan metode potong lintang (cross
terbanyak didapatkan pada menurunnya sectional). Dilakukan di bagian Obstetri
kadar estradiol di ligamentum dan Ginekologi RSUP Sanglah
sakrouterina seperti kasus prolaps organ Denpasar dimulai Januari 2016 sampai
3
http://ojs.unud.co.id/index.php/eum
dengan November 2016. Sampel mendapatkan laik etik dari Komisi Etik
penelitian melibatkan 60 pasien wanita, FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar-
30 wanita dengan pasca-menopause dan Bali. Dilakukan uji normalitas dengan
30 wanita dengan pre-menopause, Shapiro-Wilk Test, uji homogenitas
pasien berumur 40-75 tahun, yang dengan Levene test dan uji t-
dilakukan histerektomi abdominal total independent menggunakan bantuan
di RSUP Sanglah Denpasar, dipilih SPSS 17 for windows version.
secara consecutive sampling dari
populasi terjangkau setelah memenuhi Hasil
kriteria inklusi dan eksklusi. Setelah
menandatangani informed consent, Pada studi potong lintang ini
penderita dilakukan operasi dilakukan uji t-independent terhadap
histerektomi abdominal total. Bahan variabel umur, paritas, dan IMT. Seperti
diambil dari ligamentum sakrouterina terlihat pada Table 1, variabel paritas,
wanita pre-menopause dan pasca- dan Indeks Massa Tubuh (IMT)
menopause sepanjang 1,5 cm mulai dari didapatkan nilai P untuk masing-masing
serviks. Lalu bahan ini dilakukan blok variabel adalah >0,05, yang menyatakan
parafin, selanjutnya dibuat preparat bahwa tidak adanya perbedaan antara
imunohistokimia. Pemeriksaan kedua kelompok. Sedangkan variabel
imunohistokimia dikerjakan untuk umur nilai P<0,05, yang menyatakan
menilai ekspresi elastin yang didapat bahwa umur wanita pre-menopause
kemudian dilakukan analisis dan berbeda dengan umur wanita pasca-
pelaporan. Pemeriksaan ekspresi elastin menopause secara bermakna.
dikerjakan di Laboratorium Patobiologi
Kedokteran Hewan Universitas
Udayana. Penelitian ini telah
Tabel 1
Distribusi karakteristik umur, paritas, dan IMT pada kedua kelompok
Kelompok pasca- Kelompok pre-
menopause menopause
Faktor risiko (n=30) (n=30) P
Rerata SB Rerata SB
Umur (tahun) 55,07 9,55 42,77 6,37 0,001
Paritas 2,20 1,54 2,00 1,26 0,584
IMT 23,90 3,53 24,16 2,86 0,752

Untuk mengetahui perbedaan menopause digunakan uji t-


ekspresi elastin pada wanita pre- independent. Hasil analisis disajikan
menopause dibandingkan wanita pasca- pada Tabel 2.

Tabel 2
Perbedaan ekspresi elastin pada wanita pre-menopause dibandingkan wanita pasca-
menopause
Rerata
Kelompok subjek n ekspresi SB t P
elastin

4
http://ojs.unud.co.id/index.php/eum
Wanita pre-menopause 30 9,13 3,63
8,07 0,001
Wanita pasca-menopause 30 3,65 0,85

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa Perlekan) dan glikoprotein (Fibronektin,


terdapat perbedaan ekspresi elastin pada Tenascin, Link protein, Fibromodulin,
wanita pre-menopause dibandingkan wanita Osteopontin). Dimana fibroblast
pasca-menopause secara bermakna merupakan sel penyusun jaringan ikat
(P<0,05). ligamentum sakrouterina yang paling
Diskusi dominan dan berperan penting dalam
sintesa matriks ekstraseluler termasuk
Hasil penelitian didapatkan rerata kolagen.5 Pada menopause terjadi
umur wanita pasca-menopause adalah penurunan progresif dari fungsi ovarium
55,079,55 tahun dan rerata umur wanita yang berhubungan dengan perubahan
pre-menopause adalah 42,776,37 tahun, spesifik pada organ dan jaringan termasuk
dengan nilai P = 0,001. Hal ini berarti atrofi dari labia, vagina dan uterus.6 Setelah
bahwa terdapat perbedaan umur antara menopause, sekresi utama ovarium adalah
wanita pasca- menopause dengan wanita androstenedion dan testosteron. Kadar
pre- menopause secara bermakna. Rerata androstenedion pasca-menopause dalam
paritas wanita pasca-menopause adalah sirkulasi sekitar satu setengah lebih banyak
2,201,54 dan rerata paritas wanita pre- dibandingkan saat menopause.
menopause adalah 2,001,26, dengan nilai Androstenedion berasal dari kelenjar
P = 0,584. Hal ini berarti bahwa tidak adrenal, dan hanya sedikit dihasilkan oleh
terdapat perbedaan paritas antara wanita ovarium. Dehidroepiandrosteron (DHA)
pasca-menopause dengan wanita pre- dan Dehidroepiandrosteronsulfate
menopause. Rerata IMT wanita pasca- (DHEAS), berasal dari kelenjar adrenal,
menopause adalah 23,903,53 dan rerata mengalami penurunan sesuai pertambahan
IMT wanita pre- menopause adalah usia. Dengan hilangnya folikel dan
24,162,86, dengan nilai P = 0,752. Hal ini estrogen, maka hormon gonadotropin yang
berarti bahwa tidak terdapat perbedaan IMT meningkat memicu ovarium mensekresi
antara wanita pasca-menopause dengan testosteron. Sel-sel ovarium sudah tidak
wanita pre-menopause. Dengan uji t- dapat lagi menghasilkan hormon steroid
independent didapatkan bahwa terdapat karena telah mengalami atresia dimana
perbedaan ekspresi elastin pada wanita pre kapabilitas steroid menurun.7
menopause dibandingkan wanita pasca- Elastin berperan dalam
menopause secara bermakna (P<0,05). ekstensibilitas, fleksibilitas jaringan dan
Ekspresi elastin ligamentum sakrouterina rekoil elastik, sedangkan mikrofibril yang
pada wanita pasca-menopause lebih rendah disusun oleh protein yang berbeda bersifat
daripada wanita pre-menopause. tidak ekstensibel dan merupakan struktur
Hasil ini dapat dijelaskan bahwa yang stabil. Beberapa penelitian
ligamentum sakrouterina terdiri dari sel menunjukkan penurunan kadar elastin pada
(fibroblast atau jaringan ikat fibrous, ligamentum sakrouterina pada prolaps
chondrocytes atau kartilago, osteoblasts organ panggul.8 Mekanisme molekuler dari
dan osteocytesa atau tulang), matriks gen elastin manusia pada berbagai kondisi
ekstraseluler yang terdiri dari fiber (kolagen sebagian besar tidak diketahui. Serat elastin
dan elastin), proteoglikan terdiri dari protein menyerupai karet elastin
(Aggrekan,Versikan, Biglykan, Dekorin, terbentuk diatas tangga-tangga mikrofibril.
2
http://ojs.unud.co.id/index.php/eum
Sejumlah protein elastin diperlukan untuk jaringan, termasuk organ panggul wanita.
penggabungan serat elastik agar mencapai Elastin memungkinkan jaringan untuk
kemampuan khususnya untuk meregang meregang dan kembali ke bentuk asli tanpa
dan melingkar. Sifat mekanis jaringan juga masukan energi. Hal ini dianggap penting
bergantung pada proporsi elastin, yaitu pada jaringan reproduksi karena dapat
suatu polimer larut yang dibentuk oleh mengakomodasi ekspansi yang besar dalam
suatu monomer tropo-elastin yang diikuti kehamilan dan involusi setelah persalinan.9
oleh katalisis suatu formasi cross-link oleh
lysyl oxidases (LOX).9 Kesimpulan
Elastin memungkinkan jaringan
untuk meregang dan kembali ke bentuk asli Berdasarkan hasil penelitian
tanpa masukan energi. Hal ini dianggap didapatkan simpulan sebagai berikut:
penting pada jaringan reproduksi karena terdapat perbedaan berupa penurunan
dapat mengakomodasi ekspansi yang besar ekspresi elastin pada ligamentum
dalam kehamilan dan involusi setelah sakrouterina wanita pasca-menopause
persalinan. Produksi elastin sangat unik dibandingkan dengan wanita pre-
diantara protein jaringan penyangga. Pada menopause. Diharapkan dilakukan
sebagian besar organ, biosintesis elastin penelitian lebih lanjut untuk mengetahui
terbatas pada periode singkat dari besarnya penurunan ekspresi elastin pada
pertumbuhan. Anyaman serat elastin matur wanita yang telah memasuki masa pasca-
pada saat sintesis tropo-elastin telah menopause.
berhenti. Ditemukan bahwa LOX sangat
penting untuk hemostasis serat elastis pada

Daftar pustaka

1. Schifren JL, Schiff I. Menopause. Dalam: Berek JS, penyunting. Berek &
Novaks Gynecology. Edisi ke 14 Lippincott Williams & Wilkins. 2007. h.
1323-1336.
2. Kemenkes RI, Sehat dan aktif di usia lanjut, Jakarta [diakses 21 Novermber
2012]. Diunduh dari: URL: http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-
release/2143-sehat-dan-aktif-di-usia-lanjut.html.
3. Hasnawati AI, Moeljono ER. Perbandingan ekspresi elastin ligamentum
sakrouterina pada perempuan dengan prolaps organ panggul dan tanpa prolaps
organ panggul. Bagian Obstetri dan Ginekologi UNHAS, Makassar. 2010.
4. Zong W, Stein SE, Starcher B, Meyn LA, Moalli PA. Alteration of vaginal
elastin metabolism in women with pelvic organ prolapse. Obstet Gynecol.
2010;115:95361.
5. Soderbeg MW. Studies on the extracelullar matrix of the dysfunctional pelvic
floor. Departement of Woman and Child Health, Karolinska Institutet,
Stockholm, Sweden, 2008
6. Shahryarinejad A, Vardy. Comparison of human to macaque uterosacral-
cardinal ligament complex and its relationship to pelvic organ prolapse : A
monkey model of pelvic organ prolapse. Toxicol Pathol. 2008;36:101S-107S.
7. Speroff L, Fritz MA. 2011. Clinical gynecologic endocrinology & infertility,
Seventh edition. Lippincott Williams & Wilkins. h. 628-640.
8. Moon YJ, Choi RJ, Jeon MJ. Alteration of elastin metabolism in women with
pelvic organ prolapse. Journal of Urology. 2011; 185: 1786-1792.
5
http://ojs.unud.co.id/index.php/eum
9. Kerkhof MH, Hendriks L, Brolmann HAM. Changes in connective tissue in
patient with pelvic organ prolapse a review of the current literature. Int
Urogynecol J. 2009;20: 461-474.

2
http://ojs.unud.co.id/index.php/eum