Anda di halaman 1dari 4

Nama/NIM/Kelompok : Windi Astika Yuniarti/13811110/A

Learning Objek Skenario 1 Block 2

Apa pentingnya proses seleksi obat dirumah sakit dan kriteria seleksi obat menurut WHO dan DOEN ?
1. Untung mengelola biaya pembelanjaan perbekalan obat dan alat kesehatan yang ada dirumah
sakit agar efektif dan efisien mengingat bahwa biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit
terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan.
2. Untuk identifikasi pemilihan terapi, dosis dan bentuk obat, pemilihan mengutamakan obat
obat esensial, memperbahuri standar standar terapi untuk mencapai pengobatan yang
rasional.
3. Pengendalian dan penggunaan obat yang sesuai dengan formularium sehingga dapat
mengurangi resiko medical error(1).
Seleksi obat menurut WHO adalah :
1. Obat harus Cost benefit
2. Pemilihan obat berdasarkan pola penyakit, keadaan pasien, efektivitasnya, keamanannya,
demografi pasien, stabilitas dalam berbagai kondisi, efisien biaya perawatan terhadapa pasien
3. Dipilih obat yang single coumpond
4. Dibandingkan antara obat obatan mengenai biaya total pengobatan tidak hanya persatuan
obat(2).
Seleksi obat menurut DOEN adalah :
1. Menguntungkan dalam hal penerimaan dan kepatuhan pasien
2. Memiliki ratio manfaat yang paling menguntungkan
3. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan dan mudah diperoleh
4. Mutu terjamin termasuk stabilitas dan bioavaibilitas (3).
Jelaskan organisasi dan fungsi KFT di Rumah sakit ?
Komite farmasi dan terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara staf medis
dengan staf farmasi(4).
Tujuan dibentuk Komite Farmasi dan Terapi (KFT) adalah :
1. Menerbitkan kebijakan kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat da evaluasinya
2. Menempatkan staf medik yang profesional dalam bidang kesehatan dengan pengetahuan
terbaru mengenai obat dan penggunaan obat sesuai kebutuhan (4).
Fungsi dari Komite Farmasi dan Terapi dirumah sakit adalah :
1. Mengembangkan formularium di rumah sakit dan merevisinya. Pemilihan obat untuk
dimasukkan dalam formularium harus didasarkan pada evaluasi secara subjektif terhadap efek
terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat,
kelompok dan produk obat yang sama.
2. Panitia farmasi dan terapi harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru
atau dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medis.
3. Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan yang termasuk dalam kategori
khusus.
4. Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap kebijakan-kebijakan dan
peraturan-peraturan mengenai penggunaan obat di rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku
secara local maupun nasional
5. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat dirumah sakit dengan mengkaji medical record
dibandingkan dengan standar diagnose dan terapi. Tinjauan ini dimaksudkan untuk
meningkatkan secara terus menerus penggunaan obat secara rasional.
6. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat (4).

Jelaskan peran apoteker dalam KFT ?


Peran apoteker sangat penting karena kebijakan dan peraturan dalam mengelola dan
menggunakan obat di seluruh unit rumah sakit ditentukan oleh panitia ini. Agar dapat mengemban tugas
dengan baik dan benar, para apoteker harus secara mendasar dan mendalam dibekali ilmu ilmu
farmokologi, farmokologi klinik, farmakoepidiemologi, farmakoekonomi serta ilmu ilmu lain yang dapat
memperlancar hubungan yang profesional antar petugas lain yang ada dirumah sakit (4).
Tugas Apoteker dalam Komite Farmasi dan Terapi adalah :
1. Menjadi salah satu anggota KFT yaitu Wakil ketua / sekertaris
2. Menetapkan jadwal pertemuan
3. Mengajukan acara yang akan dibahas dalam pertemuan
4. Memberikan dan menyiapkan semua informasi yang dibutuhkan dalam pertemuan
5. Mencatat hasil keputusan dalam rapat dan melaporkan kepada kepala rumah sakit
6. Menyebarkan luaskan semua keputusan yang telah disetujui pimpinan kepada syaf yang terkait
7. Melaksanakan keputusan yang telah disyahkan dalam pertemuan (4).

Jelaskan apa yang dimaksud dengan sistem formularium dan outputnya ?


Sisem formularium adalah sistem bagi staf medik secara periodik dalam melakukan evaluasi,
seleksi obat untuk formularium, pemeliharaan formularium dan penyelenggaraan informasi (3). Out put
dari sistem formularium berupa standar terapi, formularium list dan formularium manual. Formularium
sendiri adalah himpunan obat yang telah diterima dan disetujui oleh KFT untuk digunakan dirumah sakit
yang dapat direvisi sesuai waktu yang ditentukan (4).

Tujuan dan indikator Drug Use Evaluation terkait dengan seleksi obat ?
Tujuan dari Drug Use Evaluation adalah
1. Menggambarkan pola pengguanaan obat
2. Mengkoreksi masalah yang ditimbulkan karena penggunaan obat
3. Melakukan monitoring penggunaan obat
4. Membuat pedoman (kriteria) untuk pemanfaatan obat yang sesuai.
5. Mengevaluasi efektivitas terapi obat.
6. Meningkatkan tanggung jawab/akuntabilitas dalam proses penggunaan obat.
7. Biaya obat terkendali.
8. Mencegah masalah terkait obat, misalnya efek samping obat, kegagalan pengobatan,
penggunaan berlebihan, dibawah penggunaan, dosis yang salah dan penggunaan obat-obatan
non-formularium.
9. Mengidentifikasi bidang-bidang dimana dibutuhkan informasi lebih lanjut dan pendidikan yang
mungkin dibutuhkan oleh penyedia layanan kesehatan (5).
Indikator indikator dalam Drug Use Evaluation ada 2 yaitu :
1. Indikator peresepan meliputi rata-rata jumlah obat per resep, persentase obat yang diresepkan
dengan nama generic, persentase obat yang diresepkan dengan antibiotic, persentase obat yang
diresepkan dengan injeksi, persentase obat yang diresepkan dari formularium.
2. indicator pelayanan kepada pasien meliputi rata-rata waktu konsultasi, rata-rata waktu
dispensing, persentase obat yang bisa dilayani, persentase obat dengan label yang tepat,
pemahaman pasien tentang dosis obat yang(6).

Hubungan Drug Use Evaluation dengan sistem formularium ?


merupakan sistem evaluasi yang berkelanjutan, sistematis, kriteria berbasis penggunaan obat
yang akan membantu memastikan bahwa obat yang digunakan tepat (pada tingkat individu pasien). Jika
terapi dianggap tidak pantas, intervensi dengan penyedia atau pasien akan diperlukan untuk
mengoptimalkan terapi obat(5). Drug Use Evaluation digunakan untuk merevisi kembali formularium
untuk sebagai acuan penyusunan formularium baru. Kenapa harus dilakukan Drug Use Evaluation karena
perkembangan obat baru sekarang sangat pesat, agar formularium tidak out of date, untuk mengevaluasi
pelayan yang ada dirumah sakit, untuk mengevaluasi peresepan yang ada dirumah sakit, pengelolaan
dan penggunaan obat yang rasional (7). Sistem evaluasi ini yang akan berpengaruh pada metode
pembuatan formularium atau disebut sistem formularium di periode yang akan datang dengan
mempertimbangkan produk obat yang ada di pasaran dimana berhubungan dengan kesejahteraan
pasien.

Bagaimana evaluasi kerja dari seleksi ?


Jenis evaluasi ditentukan berdasarkan waktu pelaksanaan evaluasi, dibagi tiga jenis program
evaluasi:
1. Prospektif: program dijalankan sebelum pelayanan dilaksanakan. Contoh: pembuatan standar,
perijinan
2. Konkuren: program dijalankan bersamaan dengan pelayanan dilaksanakan. Contoh: memantau
kegiatan konseling apoteker, peracikan resep oleh asisten apoteker
3. Retrospektif: program pengendalian yang dijalankan setelah pelayanan dilaksanakan. Contoh:
survey konsumen, laporan mutasi barang(4).
Metode evaluasi meliputi:
1. Audit (pengawasan)
dilakukan terhadap proses hasil kegiatan apakah sudah sesuai standar.
2. Review (penilaian)
Terhadap pelayanan yang telah diberikan, penggunaan sumber daya, penulisan resep.
3. Survey
Untuk mengukur kepuasan pasien, dilakukan dengan angket atau wawancara langsung.
4. Observasi
Terhadap kecepatan peayanan antrian, ketepatan penyerahan obat (4).
Adapun menurut undang-undang evaluasi kinerja dari proses seleksi obat
1. Dalam penyelenggaraan rumah sakit harus dilakukan audit
2. Audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa audit kinerja dan audit medis.
3. Audit kinerja dan audit medis sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2) dapat dilakukan secara
internal dan eksternal.
4. Audit kinerja eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan oleh tenaga
pengawas.
5. Pelaksanaan audit medis berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri (8).

Daftar Pustaka
1. Anonim, 2008, Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
2. WHO, 2001, Criteria For Selection of Essential Medicines, Action Programme on Essential Drugs,
Switzerland.
3. Anonim, 2011, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2500/MENKES/SK/XII,2011 Tentang Daftar Obat Esensial Nasional 2011, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
4. Anonim, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1197/MENKES/SK/X/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
5. WHO, 2004, Drug and Therapeutics Committees: A Practical Guide, Department of Essential
Drugs and Medicines Policy Geneva, Switzerland.
6. WHO, 1993, How To Investigate Drug Use in Health Facilities: Selected Drug Use Indicators,
Action Programme on Essential Drugs, Switzerland.
7. Yusi Anggraini dan Dwi Pudjaningsih, 2008, Pengaruh Proses pengembangan dan Revisi
Formularium di Rumah Sakit Terhadap Pengadaan dan Stock obat, Jurnal Ilmu Farmasi Indonesia,
Yogyakarta.
8. Anonim, 2009, Undang-Undang Republik Indonesia No.44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.