Anda di halaman 1dari 4

Nama/NIM/Kelompok : Windi Astika Yuniarti/13811110/A

Learning Objek Skenario 2 Block 2


Apa pentingnya Procurement ?
1. Review seleksi obat
2. Menentukan kuantitas kebutuhan
3. Menyeimbangkan antara kebutuhan dan anggaran (1)
Dalam literatur lain mengatakan pentingnya procurement dalam perbekalan farmasi dirumah sakit
adalah untuk menentapkan jenis dan jumlah perbekalan farmasi sesuai dengan pola penyakit dan
kebutuhan pelayanan kesehatan dirumah sakit (2). Procurement sangat penting karena memiliki manfaat
yaitu menghindari tumpang tindih penggunaan anggaran, keterpaduan dalam evaluasi, penggunaan dan
perencanaan, kesamaan persepsi antara pemakai obat dan penyedia anggaran, estimasi kebutuhan obat
lebih tepat, koordinasi antara penyedia anggaran dan pemakai obat, pemanfaatan dana pengadaan obat
dapat lebih optimal(3).

Peraturan/regulasi dari procurement ? Jelaskan poin-poin pokok ?


Regulasi procurement diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.:
1121/MENKES/SK/XII/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik Dan Perbekalan Kesehatan,
dari peraturan tersebut maka dapat dijelaskan tahapan kegiatan pengadaan alat kesehatan dan obat
obatan, sebagai berikut :
1) Perencanaan pengadaan
2) Pengadaan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan obat perbekalan kesehatan adalah kriteria obat dan
perbekalan kesehatan, persyaratan pemasok, penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat,
penerimaan dan pemeriksaan obat dan perbekalan kesehatan dan pemantauan status pesanan (3).

Metode perencanaan ?
Metode perencanaan ada 3 yaitu
1. Metode Konsumsi
Perhitungan kebutuhan dengan metode konsumsi didasarakan pada data riel konsumsi
perbekalan farmasi periode yang lalu, dengan berbagai penyesuaian dan koreksi (3).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka menghitung jumlah perbekalan farmasi yang
dibutuhkan adalah :
a. Pengolahan dan pengumpulan data
b. Analisa data untuk informasi dan evaluasi
c. Perhitungan perkiraan kebutuhan perbekalan farmasi
d. Penyesuaian jumlah kebutuhan perbekalan farmasi dengan alokasi dana (4).
2. Metode Epidemiologi/morbiditas
Dinamakan metode morbiditas karena dasar perhitungan adalah jumlah kebutuhan
perbekalan farmasi yang digunakan untuk beban kesakitan ( morbidity load ) yang harus dilayani.
Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan perbekalan farmasi berdasarkan pola
penyakit, perkiraan kenaikan kunjungan dan waktu tunggu ( load time ).
Langkah langkah dalam metode ini adalah :
a. Menentukan jumlah pasien yang akan dilayani
b. Menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan prevalensi penyakit
c. Menyediakan formularium/standar/pedoman perbekalan farmasi
d. Menghitung perkiraan kebutuhan perbekalan farmasi
e. Penyesuaian dengan alokasi dana yang tersedia (4).
Metode Kombinasi antara metode konsumsi dan metode morbiditas disesuaikan dengan anggaran
yang tersedia. Acuan yang digunakan adalah :
1. DOEN, formularium rumah sakit, standar terapi rumah sakit, Standar Treatment Guidline (STG),
kebijakan setempat yang berlaku.
2. Data catatan medik dan reka medik
3. Anggaran yang tersedia
4. Penetapan prioritas
5. Pola penyakit
6. Sisa persediaan
7. Data penggunaan periode yang lau
8. Rencana pengembangan(4).

Jelaskan skala prioritas perencanaan ?


Untuk menentukan prioritas pemilihan obat menggunakan analisa :
1. Analisa ABC
Analisa ABC mengelompokkan item obat berdasarkan kebutuhan dananya, yaitu :
- Kelompok A
kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan
dana sekitar 70% dari jumlah dana obat keseluruhan.
- Kelompok B
kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan
dana sekitar 20%.
- Kelompok C
kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan
dana sekitar 10% dari jumlah dana obat keseluruhan (3).
2. VEN
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana obat yang terbatas adalah
dengan mengelompokkan obat yang didasarkan kepada dampak tiap jenis obat pada kesehatan.
Semua jenis obat yang tercantum dalam daftar obat dikelompokkan kedalam tiga kelompok
berikut :
- Kelompok V
kelompok obat yang vital, yang termasuk dalam kelompok ini antara lain: obat penyelamat
(life saving drugs), obat untuk pelayanan kesehatan pokok (vaksin, dll), obat untuk mengatasi
penyakitpenyakit penyebab kematian terbesar.
- Kelompok E
kelompok obat yang bekerja kausal, yaitu obat yang bekerja pada sumber penyebab
penyakit.
- Kelompok N
merupakan obat penunjang yaitu obat yang kerjanya ringan dan biasa dipergunakan untuk
menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan (3).
3. Kombinasi antara analisa ABC dan analisa VEN
Jenis perbekalan farmasi yang termasuk kategori A dari analisis ABC adalah bener
benar jenis perbekalan farmasi yang diperlukan untuk penanggulan penyakit terbanyak. Dengan
kata lain, statusnya harus E dan sebagian V dari VEN. Sebaliknya, jenis perbekalan farmasi
dengan status N harusnuya masuk katagori C (3).
Metode gabungan ini digunakan untuk melakukan pengurangan obat. Mekanisme adalah :
a. Obat yang masuk dalam katagori NC menjadi prioritas utama untuk dikurangi atau
dihilangkan dari rencana kebutuhan. Bila dana masih kurang maka obat katagori NB menjadi
prioritas selanjutnya dan obat yang masuk dalam katagori NA menjadi prioritas berikutnya.
Jika dilakukan dengan metode ini dana masih kurang maka dilakukan langkah selanjutnya (4).
b. Pendekatnnya sama dengan pada saat pengurangan obat pada kriteria NC, NB, NA dimulai
dengan pengurangan obat katagori EC, EB, EA (4).

Metode pengadaan ?
Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui
melalui :
1. Pembeliaan
a. Tender terbuka
- Berlaku untuk semua rekanan terdaftar, sesuai kriteria
- Butuh Konsolidasi dan team yang kuat
b. Tender terbatas lelang tertutup
- Berlaku untuk rekanan tertentu terbatas dan punya reputasi baik
- Harga dapat dikendalikan, beban kerja lebih ringan daripada lelang terbuka
c. Pembelian negosiasi dan kontrak kerja
- Dilakukan pendekatan langsung dengan rekanan terpilih untuk tawar menawar untuk
mencapai persyaratan spesifik, harga, penetapan jumlah, service delivery, dibuat suatu
perjanjian
d. Pembelian langsung ke distribusi untuk persediaan yang perlu segera tersedia (5).
2. Produksi / pembuatan sediaan farmasi
Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk dan pengemasan kembali sediaan steril atau
non steril untuk memenuhi pelayanan kesehatan dirumah sakit. Kegiatan produksi meliputi :
a. Produksi non steril
OBH, OBP, solutio lugol, pengemasan kembali, desinfektan, antiseptic, pengemasan kembali
lubrican
b. Produksi steril
Produksi sediaan steril dengan standar sterilisasi yang tercantum dalam farmakope indonesia
edisi IV tahun 1995
- Aquadest 500ml, 200ml
- Aquabidest 100ml, 250ml, 500ml
- NaCl 0.9% 250 ml
- Pengemasan kembali sitostatiska(5).
3. Hibah / sumbangan.

Kapan dilakukannya pengadaan dan siapa saja pihat yang terkait dalam pengadaan ?
Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat dan perbekalan kesehatan. Waktu
pengadaan dan kedatangan obat dari berbagai sumber anggaran perlu ditetapkan berdasarkan hasil
analisa dari data:
1. Sisa stok dengan memperhatikan waktu (tingkat kecukupan obat dan perbekalan kesehatan).
2. Jumlah obat yang akan diterima sampai dengan akhir tahun anggaran.
3. Kapasitas sarana penyimpanan.
4. Waktu tunggu(5).
Siapa saja pihak yang terkait dalam kegiatan pengadaan yaitu :
1. Bagian pengedaan
2. Komite farmasi dan terapi (KFT)
3. Apoteker
4. Komite tender(5).

Evaluasi dalam proses pengadaan ?


Indikator yang harus tercapai dalam proses pengadaan adalah :
1. Memperoleh obat yang berkualitas dengan cos effectiveness yang paling baik dengan kuantitas
yang sesuai saat dibutuhkan (avaibility)
2. Memilih PBF yang dapat dipercaya dengan produk berkualitas tinggi dan menjamin obat datang
tepat waktu
3. Mencapai total cost yang serendah rendahnya (5).

Daftar Pustaka
(1). Albert, C., Banneberg, W., Bates, J., 2012, Managing Access to Medicines and Health
Technologies, VA: Management Sciences for Health, Arlington.
(2). Siregar, C., J., P., 2003, Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan, EGC, Jakarta.
(3). Anonim, 2008, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1121/MENKES/SK/XII/2008 Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
(4). Anonim, 2008, Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
(5). Quick, D.J., 1997, Managing drug supply, USA : Kumarian Press Inc.