Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM METALURGI FISIK

LAPORAN AKHIR

MODEL PRAKTIKUM : METALURGI KUANTITATIF


TANGGAL PRAKTIKUM : 10 DESEMBER 2016
NAMA ASISTEN : ENGKOS
NAMA PRAKTIKAN :
NIM/KELOMPOK :
KELAS : EKSTENSI MESIN A
REKAN KERJA : NAMA / NIM

LABORATOTIUM TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Tujuan
Praktikum metalurgi fisik ini dilakukan guna menunjang teori yang sedang
atau telah diberikan pada mata kuliah metalurgi fisik. Adapun tujuan praktikum
mampu metalografi kuantitatif ini adalah Untuk menentukanbesaran butir rata
rata menggunakan cara metalografi kuantitatif (Heyn). Selain itu tujuan lainnya
diuraikan sebagai berikut :
1. Mengetahui bentuk-bentuk fasa dari logam
2. Menganalisa ukuran butir dan membandingkan dengan grain size ASTM
3. menjelaskan hubunngan antara struktur micro dan arakteristik butir terhadap
bahan

1. 2. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Tungku muffle.
2. Strukturmikro IF-Steel (Marshalls reagent, 400x)
3. Plastic mikatransparan
4. Penggaris
5. Spidolpermanen
BAB II
DASAR TEORI

2. 1. Teori Dasar (Modul)


Metalografikuantitatif (stereology) adalah bidang metalografi yang
mempelajari secara kuantitatif hubungan antara pengukuran pada 2 dimensi dengan
besaran struktur mikro dalam 3 dimensi dari satu logam dan paduannya.
Sifat sifat logam dan paduannya dengan mudah dapat dipelajari dari struktur
mikronya, melalui pemeriksaan metalografi kuantitatif diantaranya:
1. Pengukuran besar butir
2. Pengukuran fraksi voume
3. Pengukuran permukaan spesifik
4. Pengukuran panjang garis spesifik
5. Pengukuran kerapatan titik

Pengukuran besar butir


Besar butir dapat diukur dengan menggunakan:
1. Metoda ASTM
2. Metoda garisHeyndan interception
3. Metoda bidang datar circle danPlani metric

A. Metoda perbandingan ASTM

Besar butir suatu logam dan juga bentuk seta ukuran grafits rapih dan juga
grafit bulat dari besi cor dapat ditentukan dengan standar ASTM. Besar butir
nomeor G menurut ASTM didefinisikan sedemikian rupa sehingga 2G-1 adalah
sama dengan banyaknya butir per inci persegi pada pembesaran 100X.
Nomor standar ASTM ini sangat bermanfaat sekali dalam memperkirakan
ukuran besar butir atau ukuran panjang grafits rapih atau ukuran besar grafit
bulat. Standar ukuran menurut ASTM dapat dilihat padaMetal handbook ASM
vol 7, Atals of Micristructure of Metal Alloys.

Tabel Nomorukuranbutir ASTM


B. Metoda grafis

Metoda Heyn
Metoda Heyn atau metoda besar butir rata rata,
yaitu panjang rata-
rata segmen segmen garis suatu pengujian yang melintasi batas butir
batasbutir.

.

=
.
Dimana:
Lk :besarbutir rata rata (mm)
n :Jumlahgarisuji
l: Panjanggarisuji (mm)
v: pembesaranfoto
: Jumlahbatasbutir yang terpotong

Gambar Metoda Grafis

Untuk menentukan nomor ASTM, dapat diperoleh dengan cara konversi (table 4)
Tabel Konversi nomor ASTM

Metoda garis potong

Metoda garis potong (intercept) ditentukan oleh banyaknya butir yang


terpotong oleh sebuah garis lurus (setidaknya 50 butir)


=
.
Dimana:
Lk: jarakpotong rata rata (mm)
l: panjanggarislurus (mm)
v: pembesaranfoto
n: banyaknyabutir yang terpotong

Untuk menentukan nomor ASTM ukuran butirnya maka diperoleh dengan


cara konversi (Tabal 5). Untuk butir yang non equiaxial, besar butir ditentukan oleh
garis lurus pada berbagai arah.
Gambar Metoda garis potong.

Tabel Hubungan Ukuran Butir


C. Metoda bidang datar
Metoda lingkaran, besar butir rata rata (Fm) dalam mm2 ditentukan dengan
persamaan


Fm =
(0,67+).
Dimana:
Fm: besarbutir rata rata (mm2)
Fk: lingkaran (mm2)
Z: banyaknyabutirdalamlingkaran
V: pembesaranfoto

Gambar MetodaLingkaran

Metoda Planimetric

Metoda ini dilakukan untuk mengukur besar butir yang terelongasi yaitu
dengan cara pengukuran besar butir metoda garis pada berbagai arah
(misalnya: 0o,30o, 60o, 90o). Hasilnya kemudian diplot secara grafis atau

dihitung ratio antara

Gambar MetodaPlanimetrik

Untuk menentukan fraksi unsur / fasa dapat dibantu dengan metoda garis potong.

Gambar Metoda garis potong

Maka:
% karbonditentukandarihubungan:
0,8% C = 100% P
(%P adalah % volume atau % luasdariperlit)

D. Metoda Hillard


G= -10-6,64 Log
.
`Hubungan ukuran butir dengan jumlah butiran per in2 (N) dalam pembesaran
100x adalah: N=2G-1

E. Metoda Point Count


Metoda ini (ASTM Spesification E562) dapat dipergunakan untuk menghitung
jumlah fasa tertentu.
100%
% fasa yang ditinjau =


PT=
Contoh:

Titik uji yang berada di tengah fasa dihitung Satu


Titik uji yang berada di tepi fasa dihitung setengah

2. Peralatan untuk metalografi kuantitatif


Secara umum dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: peralatan yang didasarkan pad acara
cara manual, cara cara semi otomatis dan cara cara otomatis
a. Cara manual
Cara ini menggunakan data garis garis lurus / titik titik (grid titik) pada
kertas/kaca transparan (mikrograf) yang dapat diletakan di atas gambar struktur
mikro specimen.

b. Cara semi otomatis


Prinsipnya sama dengan cara manual tapi perhitungannya lebih mudah, disamping
itu pergeseran specimen dilakukan otomatis, tetapi interpretasi (misalnya:
identifikasi fasa dilakukan oleh operator)

c. Cara otomatis
Fasa fasa dikelompokan berdasarkan pada perbedaan kontras sinyal sinyal
listrik, disampingitu, mikroskop dihubungkan dengan computer.

2. 2. Teori Tambahan
Metalografi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari karakteristik
mikrostruktur dan makrostruktur suatu logam, paduan logam dan material lainnya
serta hubungannya dengan sifat-sifat material, atau biasa juga dikatakan suatu
proses umtuk mengukur suatu material baik secara kualitatif maupun kuantitatif
berdasarkan informasi-informasi yang didapatkan dari material yang diamati.
Dalam ilmu metalurgi struktur mikro merupakan hal yang sangat penting untuk
dipelajari. Karena struktur mikro sangat berpengaruh pada sifat fisik dan mekanik
suatu logam. Struktur mikro yang berbeda sifat logam akan berbeda pula. Struktur
mikro yang kecil akan membuat kekerasan logam akan meningkat. Dan juga
sebaliknya, struktur mikro yang besar akan membuat logam menjadi ulet atau
kekerasannya menurun. Struktur mikro itu sendiri dipengaruhi oleh komposisi
kimia dari logam atau paduan logam tersebut serta proses yang dialaminya.

Metalografi bertujuan untuk mendapatkan struktur makro dan mikro suatu


logam sehingga dapat dianalisa sifat mekanik dari logam tersebut. Pengamatan
metalografi dibagi menjadi dua cara, diantaranya yaitu:
1. Metalografi makro, yaitu penyelidikan struktur logam dengan pembesaran
10 100kali.
2. Metalografi mikro, yaitu penyelidikan struktur logam dengan pembesaran
1000 kali.

Untuk mengamati struktur mikro yang terbentuk pada logam


tersebut biasanya memakai mikroskop optik. Sebelum benda uji diamati
pada mikroskop optik, benda uji tersebut harus melewati tahap-tahap
preparasi. Tujuannya adalah agar pada saat diamati benda uji terlihat
dengan jelas, karena sangatlah penting hasil gambar pada metalografi.
Semakin sempurna preparasi benda uji, semakin jelas gambar struktur yang
diperoleh.

Metalografi Kuantitatif adalah ilmu yang mempelajari secara


kuantitatif hubungan antara pengukuran-pengukuran yang dibuat pada
bidang dua dimensi dengan besaran-besaran struktur mikro dari suatu
spesimen berdimensi tiga. Metalografi kuantitatif juga meruapakan
pengukuran gambar struktur dari potongan, replika, atau lapisan tipis dari
logam-logam yang dapat diamati dengan mikroskop optik dan mikroskop
elektron. Obyek yang diukur fasa dan butir yang meliputi :

a. Fraksi volume
Perhitungan fraksi volume dilakukan untuk menentukan fraksi volume
dari fasa tertentu atau dari suatu kandungan tertentu. Teknik yang paling
sederhana yaitu dengan melihat struktur mikro, memperkirakan fraksi
luas. Atau dengan membandingkan struktur mikro dengan pembesaran
tertentu terhadap standar tertentu yang terdiri dari beberapa jenis dan
gambar struktur yang ideal dengan persentase yang berbeda.
Dengan metode perhitungan ada dua cara. Cara yang pertama adalah
dengan analisa luas yang diperkenalkan pertama kali oleh Delesse,
Geologis Jerman pada tahun 1848, yang menunjukkan fraksi luas Aa,
dari potongan dua dimensi adalah suatu perhitungan fraksi volume :

Vv = A /AT

Dimana A adalah jumlah luas fasa yang dimaksud AT adalah luas


total pengukuran. Pengukuran dapat dengan metode planimetri atau dengan
memotong foto fasa yang dimaksud dan mencoba membandingkan lebar 11
fasa yang dimaksud dengan lebar foto yang dimaksud. Metode ini kurang
sesuai untuk fasa halus.
Cara yang kedua adalah dengan analisa garis, metode ini
diperkenalkan oleh Reziwal seorang Geologis Jerman pada tahun 1898. Ia
mendemonstrasikan ekuivalensi antara fraksi garis LL dan fraksi volum.
Pada analisa garis, total panjang dari garis-garis yang ditarik sembarangan
memotong fasa yang diukur L dibagi dengan total panjang garis LT untuk
memperoleh fraksi garis :

LL = L /LT = Vv

Cara yang kedua yaitu dengan perhitungan titik, diperkenalkan oleh


Thomson 1933, Glagolev 1933, Chalkley 1943. Metode ini menggunakan
point grind dua dimensi. Caranya test grind diletakkan pada lensa okuler
atau dapat diletakkan di depan layar proyeksi atau foto dengan bantuan
lembaran plastik. Pembesaran harus cukup tinggi sehingga lokasi titik uji
terhadap struktur tampak jelas. Pembesaran sekecil mungkin dimana hasil
memungkinkan pembesaran disesuaikan dengan daya pisah dan ukuran area
untuk ketelitian statistik. Semakin kecil pengukuran semakin banyak daerah
yang dapat dianalisa dengan derajat ketelitian statistik tertentu. Titik potong
adalah perpotongan 2 garis grind:

Pp = P /PT = L /nPo

Dimana n adalah jumlah perhitungan dan Po jumlah titik dari grind.


Jadi PT = nPo, jumlah total titik uji pada lensa okuler umumnya
menggunakan jumlah titik terbatas yaitu 9, 16, 25, dan seterusnya dengan
jarak teratur. Sedangkan untuk grind yang digunakan didepan screen
mempunyai 16, 25, 29, 64 atau 100 titik. Fraksi volume sekitar 50% sangat
baik menggunakan jumlah grind yang sedikit, seperti 25 titik. Untuk volume
fraksi yang amat rendah baik digunakan grind dengan jumlah titik yang
banyak dalam kebanyakan pekerjaan, fraksi volume dinyatakan dengan
persentase dengan dikalikan 100. Ketiga metode dapat dianggap
mempunyai ketelitian yang sama.

V V = A A = L L = P

b. Ukuran /besar butir


Metode perhitungan besar butir ada dua cara. Cara yang pertama adalah
metode Planimetri yang diperkenalkan oleh Jefferies. Metodenya yaitu
dengan rumus :

G = [3,322 Log (NA) 2,95]

Dimana NA adalah jumlah butir/ mm2 = (F) (n1+ n2/2) = NA


F adalah bilangan Jefferies = M2 / 5000.
5000 mm2 = Luas lingkaran.
No butir dapat dilihat di table ASTM

Metoda yang kedua adalah dengan metode Intercept yang diperkenalkan


oleh Heyne yaitu dengan rumus :

G = [6,646 log 9L3) 3,298]

PL = P / (LT/M)
Panjang garis perpotongan ;
-L3 = 1 / PL
P = Jumlah titik potong batas butir deng an lingkaran
LT = Panjang garis total
M = Perbesaran
P1 atau L3 dapat dilihat di table besar butir ASTM

Sebenarnya masih banyak obyek-oblek pengukuran metalografi kuantitatif


lainnya yang belum disebutkan. Seperti mengukur luas permukaan dan panjang
garis volume, dan distribusi ukuran partikel dengan metode yang berbeda-beda.
Semuanya dipakai sesuai dengan permintaan analisa metalografinya. Tetapi yang
paling sering menjadi obyek dalam metalografi kuantitatif biasanya adalah
perhitungan fraksi volume dan perhitungan besar atau ukuran butir.

Pemeriksaan Makroskopik dan Mikroskopik


a. Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan makroskopik adalah sebuah pemeriksaan untuk mengamati
struktur dengan perbesaran 10-100 kali, biasanya digunakan mikroskop
cahaya.

b. Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik adalah sebuah pemeriksaan untuk mengamati
struktur dengan perbesaran diatas 100 kali, biasanya digunakan mikroskop
cahaya ataupun mikroskop elektron dan mikroskop optik.
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3. 1. Prosedur Percobaan
Prosedur percobaan untuk metalografi kuantitatif adalah :
1. Membuat garis di atas plastic mika trasnparan dengan ukuran 50mm x
100mm, banyak garisnya 6.
2. Meletakan plastic mika yang sudah digarisi di atas gambar mikro yang telah
disediakan.
3. Menentukan jumlah batas butir yang terpotong berdasarkan peletakan
plastic mika di atas gambar struktur mikro specimen.
4. Menghitung besar butir rata rata dengan persamaan Heyn, didapatkan
satuan mm lalu konversi ke micron untuk dikonversipada table ASTM
5. Mengkonversi hasil hitungan melalui table ASTM.
6. Menentukan hubungan ukuran butir melalui tabel yang disediakan.
BAB IV
ANALISA

4. 1. Analisa Data

Gambar 1 Struktur mikro IF-Steel untuk metalografi kuantitatif

4. 2. Analisa Matematis
Dari data metalografi kuantitatif didapat :
Jumlah garis uji (n) =6
Panjang gari uji (L) = 100 mm
Pembesaran foto (v) = 400
batas butir yang terpotong ( ) = 74

Maka besar butir rata-ratanya adalah :

.

= .

6 100

= 400 74
= 0,02 = 20

Dari hasilperhitungandidapatkannilai 20, lalu dikonversikan ke dalam


table ASTM didapatkannilai ASTM adalah 8.Angka 8 ini kemudian digunakan
untuk menentukan hubungan ukuran butir yang dapat diperoleh dari table, hasilnya
sebagai berikut:
Tabel 1 Konversi Tabel ASTM
4. 1. Analisa Teoritis
Secara teoritis metalografi kuantitatif ini adalah ilmu yang mempelajari
secara kuantitatif hubungan antara pengukuran-pengukuran yang dibuat pada bidang
dua dimensi dengan besaran-besaran struktur mikro dari suatu spesimen berdimensi
tig. Pengukuran pengukurannya berupa gambar struktur dari potongan, replika,
atau lapisan tipis dari logam-logam yang dapat diamati dengan mikroskop optik dan
mikroskop elektron.
Pada praktikum ini, hasil yang didapat dari data metalografi kuantitatif
adalah :
Jumlah garis uji (n) =6
Panjang gari uji (L) = 100 mm
Pembesaran foto (v) = 400
batas butir yang terpotong ( ) = 74

Maka besar butir rata-ratanya adalah :


= 0,02 = 20

Sehingga angka ASTM nya sebesar 8


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1. Kesimpulan
Setelah melakukan pengujian dan perhitungan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Besar butir rata-rata pada metalografi kuantitatif sebesar 0,02 = 20
2. Dari besar butir rata-rata sebesar 20 mm , didapat angka ASTM nya sebesar 8
3. Karakteristik struktur logam atau paduan logam memiliki sifat fisis dan mekanis
yang berbeda tergantung dari jenis perlakuan panas dan proses pendinginannya.

5. 2. Saran
Adapun saran setelah melakukan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Perhatikan dalam menentukan jumlah batas butir yang terpotong berdasarkan
peletakan plastic mika di atas gambar struktur mikro specimen.
2. Perhatikan dan teliti dalam menghitung besar butir rata rata dengan
persamaan Heyn, didapatkan satuan mm lalu konversi ke micron untuk
dikonversipada table ASTM.
3. Teliti dalam mengkonversi hasil hitungan melalui table ASTM.
DAFTAR PUSTAKA

1. ASM Metal Hand Book Metallography and Micro structures Vol 9, Metal Park,
1980.

2. Materi kuliah ilmu bahan. ITS. Surabaya

3. Surdia Tata, 19987, Pengetahuan Bahan Teknik , Jakarta : Pradnya Pramita


LAMPIRAN TUGAS
1. Jelaskan hubungan (Hall-Petch) antara besar butir dengan sifat mekanik suatu
material

Material dengan butir yang halus akan lebih keras dan kuat dibanding butiran yang
kasar, disebabkan karena mempunyai jumlah permukaan lebih besar pada total area lapisan
butir yang akan menghambat pergerakan dislokasi. Penurunan ukuran butir biasanya lebih
baik dalam meningkatkan ketangguhan. Dalam banyak hal, variasi yield strength dengan
ukuran butir mengacu pada persamaan Hall-Petch
y =0 +ky d
Dimana 0 adalah tegangan geser yang berlawanan arah dengan pergerakan
dislokasi pada butir, d adalah diameter butir dan k adalah suatu konstanta yang
merepresentasikan tingkat kesulitan untuk menghasilkan suatu dislokasi baru pada butir
berikutnya Walaupun demikian, pengaruh ukuran butir terhadap sifat mekanis
memiliki batasan dimana butir yang terlalu halus (<10nm) akan menurunkan sifat mekanis
akibat grain boundary sliding.
Diameter ukuran butir d dapat di kontrol melalui :
laju pembekuan (solidification),
deformasi plastis, dan
Perlakuan panas (heat treatment) yang sesuai.

Struktur butir dengan kehalusan tinggi pada material baja dapat diperoleh dengan
kombinasi dari proses pengerjaan panas dan pendinginan terkendali serta pengaruh
penambahan paduan. Dalam hal ini ukuran butir dikendalikan melalui pengaturan
temperatur dan besar deformasi dalam suatu konsep perlakuan thermomekanik atau
TMCP.

2. Apakah hubungan tersebut diatas berlaku juga untuk besi cor? Jelaskan

Hall-Petch berkaitan dengan besi Cor. Karena pada besi cor tidak hanya ada satu
bahan material logam, bias terdapat beberapa unsur logam yang nantinya akan membentuk
paduan logam. Apa bila kita ingin membentuk keandalan bahan tersebut kita bias
memberikan heat treatment bahan tersebut setelah dingin sehingga nantinya kita
mendapatkan keandalan benda tsb sesuai dengan yang kita inginkan.

3. Jelaskan mengapa perkiraan kandungan karbon hanya dapat ditentukan terhadap


material baja karbon dalam kondisi annealing.
Pada saat anealling, benda atau material akan memuai dan terlihat strukturnya. Perbedaan
jenis logam antara karbon dengan logam lain akan terlihat karena proses ini