Anda di halaman 1dari 22

makalah pelanggaran etika bisnis

BAB.1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam menjalankan usahanya suatu perusahaan sering kali melakukan berbagai hal agar
mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tetapi beberapa hal yang dilakukan untuk
mendapatkan keuntungan seringkali dapat merugikan pihak lain. Oleh karena itu dibuatlah suatu
etika bisnis dalam menjalankan usaha mereka.
Dalam pelaksanaan etika bisnis sering timbul beberapa masalah pelanggaran etika antara
lain seperti, dalam hal mendapatkan ide usaha, memperoleh modal, melaksanakan proses
produksi, pemasaran produk, pembayaran pajak, pembagian keuntungan, penetapan mutu,
penentuan harga, pembajakan tenaga professional, blow-up proposal proyek, penguasaan pangsa
pasar dalam satu tangan, persengkokolan, mengumumkan propektis yang tidak benar, penekanan
upah buruh dibawah standar, insider traiding dan sebagainya. Biasanya faktor keuntungan
merupakan hal yang mendorong terjadinya perilaku tidak etis dalam berbisnis.
Seiring dengan munculnya masalah pelanggaran etika dalam bisnis menyebabkan dunia
perdagangan menuntut etika dalam berbisnis segera dibenahi agar tatanan ekonomi dunia
semakin membaik. Sebuah bisnis yang baik harus memiliki etika dan tanggung jawab sosial
sesuai dengan fungsinya baik secara mikro maupun makro. Dalam bisnis tidak jarang berlaku
konsep tujuan menghalalkan segala cara, bahkan tindakan yang identik dengan kriminalpun
ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis
tampaknya tidak menampakkan kecendrungan tetapi sebaliknya, semakin hari semakin
meningkat. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih lanjut mengenai
pelanggaran etika bisnis
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pelanggaran etika bisnis ?
2. Apa saja macam pelanggaran etika bisnis ?
3. Dampak negative dari pelanggaran etika bisnis ?

C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Etika dan
Komunikasi Bisnis, selain itu bertujuan untuk :
1. Mengetahui definisi dari pelanggaran etika bisnis
2. Mengetahui macam-macam pelanggaran etika bisnis
3. Mengetahui dampak negative dari pelanggaran etika bisnis
BAB. 2
ISI

Etika bisnis (business ethic) dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang tata caraa ideal
pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku
secara universal dan secara ekonomi/social, dan pengetrapan norma dan moralitas ini menunjang
maksud dan tujuan kegiatan bisnis (Muslich dalam Hardjanto, 2005). Karena etika tdak hanya
menyangkut masalah pemahaman terhadap aturan penyelenggaraan perusahaan, maka Hardjanto,
2005 mengartikan etika bisnis sebagai batasan-batasan social, ekonomi, dan hukum yang
bersumber dari nilai-nilai moral masyarkat yang harus dipertanggungjawabkan oleh perusahaan
dalam setiap aktivitasnya.
Meningkatnya persaingan antara kelompok bisnis menjadikan masing-masing pelaku
bisnis meningkatkan daya saingnya melalui peningkatan keunggulan bersaing (competitive
advantage) agar tetap bertahan (survive) dan meningkatkan kinerja perusahaan (performance
corporate) secara keseluruhan (Hardjanto,2005). Dalam menghadapi persaingan yang terjadi tak
jarang ada perusahaan atau kelompok bisnis tertentu yang melakukan pelanggaran etika bisnis.
Pelanggaran etika bisnis adalah penyimpangan standar standar nilai (moral) yang
menjadi pedoman atau acuan sebuah perusahaan (manajer dan segenap karyawannya) dalam
pengambilan keputusan dan mengoperasikan bisnis yang etik. Paradigma etika dan bisnis adalah
dunia berbeda yang sudah saatnya dirubah menjadi paradigma etika terkait dengan bisnis atau
mensinergikan antara etika dengan laba. Justru di era kompetisi yang ketat ini, reputasi
perusahaan yang baik yang dilandasi oleh etika bisnis merupakan sebuah competitive advantage
yang sulit ditiru. Oleh karena itu, perilaku etik penting untuk mencapai sukses jangka panjang
dalam sebuah bisnis.
Banyak hal yang berhubungan dengan pelanggaran etika bisnis yang sering dilakukan
oleh para pebisnis yang tidak bertanggung jawab di Indonesia. Praktek bisnis yang terjadi selama
ini dinilai masih cenderung mengabaikan etika, rasa keadilan dan kerapkali diwarnai praktek-
praktek tidak terpuji atau moral hazard.
Masalah etika dalam bisnis dapat diklasifikasikan kedalam lima kategori yaitu :
suap(bribery), paksaan (coercion), penipuan (deception), pencurian (theft), diskriminasi tidak
jelas (unfair discrimination), yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut :
1. Suap (Bribery), adalah tindakan berupa menawarkan , member, menerima,atau meminta sesuatu
yang berharga dengan tujuan mempengaruhi tindakan seorang pejabat dalam melaksanakan
kewajiban public. Suap dimaksudkan untuk memanipulasi seseorang dengan membeli pengaruh.
Pembelian itu dapat dilakukan dengan baik dengan membayarkan sejumlah uang atau barang,
maupun pembayaran kembali setelah transaksi terlaksana. Supan kadangkala tidak mudah
dikenali. Pemberian cash atau penggunaan callgirls dapat dengan mudah dimasukkan sebagai
caa suap, tetapi pemberian hadiah (gift) tidak selalu dapat disebut dengan suap, tergantung dari
maksud dan respons yang diharapkan oleh pemberi hadiah.
2. Paksaan (Coercion), adalah tekanan, batasan, dorongan dangan paksa atau dengan menggunakan
jabatan atau ancaman. Coercion dapat berupa ancaman untuk mempersulit kenaikan jabatan,
pemecatan, atau penolakan insustri terhadap seorang individu.
3. Penipuan (Deception), adalah tindakan memperdaya, menyesatkan yang sengaja dengan
mengucapakn atau melakukan kebohongan.
4. Pencurian (Theft), adalah merupakan tindakan mengambil sesuatu yang buakn hak kita atau
mengambil property milik orang lain tanpa persetujuan pemiliknya. Properti tersebut dapat
berupa property fisik atau konseptual.
5. Diskriminasi tidak jelas (Unfair discrimination), adalah perlakuan tidak adi atau penolakan
terhadap orang-orang tertentu yang disebabkan oleh ras, jenis kelamin, kewarganegaraan , atau
agama. Suatu kegagalan untuk memperlakukan semua orang deangan setara tanpa adanya
perbedaan yang beralasan antara mereka yang disukai dan tidak.
Contoh Pelanggaran Etika Bisnis
1. Pelanggaran etika bisnis terhadap hukum
Sebuah perusahanan X karena kondisi perusahaan yang pailit akhirnya memutuskan untuk
melakukan PHK kepada karyawannya. Namun dalam melkaukan PHK itu, perusahaan sama
sekali tidak memberikan pesangon sebagaimana yang diatur dalam UU No. 13/2003 tentang
Ketenagakerjaan. Dalam kasus ini perusahaan x dapat dikatakan melangggar prinsip kepatuhan
terhadap hokum.
2. Pelanggaran etika bisnis terhadap transparansi
Sebuah yayasan x menyelenggarakan pendidikan setingkat SMA. Pada tahun ajaran baru sekolah
mengenakan biaya sebesar Rp 500.000,- kepada setiap siswa baru. Pungutan sekolah ini sama
sekali tidak diinformasikan kepada mereka saat akan mendaftar, sehingga setelah diterimamau
tidak mau mereka harus membayar. Disamping itu tidak ada informasi maupun penjelasan resmi
tentang penggunaan uang itu kepada wali murid. Setelah didesak oleh banyak pihak, yayasan
baru memberikan informasi bahwa uang itu dipergunakan untuk pembelian seraga guru. Dalam
kasus ini, pihak yayasan dan sekolah dapat dikategorikan melanggar prinsip transparansi.
3. Pelanggaran etika bisnis terhadap akuntabilitas
Sebuah RS Swasta melalui pihak Pengurus kepada seluruh karyawan yang akan mendaftar PNS
secara otomatis dinyatakan mengundurkan diri. A sebagai salah seorang karyawan di RS Swasta
itu mengabaikan pengumuman dari pihak pengurus karena menurut pendapatnya ia diangkat oleh
Pengelola dalam hal ini direktur, sehingga segala hak dan kewajiban dia berhubungan dengan
Pengelola bukan pengurus. Pihak Pengelola sendriri tidak memberikan surat edaran resmi
mengenai kebijan tersebut. Karena sikapnya itu, A akhirnya dinyatakan mengundurkan diri. Dari
kasus ini RS Swasta itu dapat dikatkan melanggar prinsip akuntabilitas karena taidak ada
kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban antara Pengelola dan Pengurus Rumah
Sakit.
4. Pelanggaran etika bisnis terhadap perinsip pertanggungjawaban
Sebuah perusahaab PJTKI di Jogja melakukan rekrutmen untuk tnaga baby sitter. Dalam
pengumuman dan perjanjian dinyatakan bahwa perusahaan berjanji akan mengirimkan calon TKI
setelah 2 bulan mengikuti training dijanjikan akan dikirim ke Negara-negara tujuan. Bahkan
perusahaan tersebut menjanjikan bahwa segala biaya yang dikeluarkan pelamar akan
dikembalikan jika mereka tidak jadi berangkat kenegara tujuan. B yang tertarik dengan tawaran
tersebut langsung mendaftr dan mengeluarkan biaya senbanyak Rp 7 juta untuk ongkos
administrasi dan pengurusan visa dan paspor. Namun setelah 2 bulan training, B tak kunjung
diberangkatkan, bahkan hinggga satu tahun tidak ada kejelasan. Ketika dikonfirmasi, perusahaan
PJTKI itu selalu berkilah ada penundaan, begitu seterusnya. Dari kasus ini dapat disimpulkan
bahwa Perusahaan PJTKI tersebut sudah melanggar prinsip pertanggungjawaban dengan
mengabaikan hak-hak B sebagai calon TKI yang seharusnya diberangkatkan ke Negara tujuan
untuk bekerja.
5. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kewajaran
Sebuah perusahaan property ternama di Yogjakarta tidak memberikan surat ijin membangun
rumah dari developer kepada dua orang konsuennya dikawasan kavling perumahan milik
perusahaan tersebut. Konsumen pertama sudah memenuhi kewajibannya membayar harga tanah
sesuai kespakatan dan biaya administrasi lainnya. Sementara konsumen kedua masih mempunyai
kewajiban membayar kelebihan tanah, karena setiap kali akan membayar pihak developer selalu
menolak dengan alas an belum ada ijin dari pusat perusahaan (pusatnya di Jakarta). Yang aneh
adalah kwasan kavling itu hanya dua ornag ini yang belum mengantongi izin membangun rumah,
sementara 30 konsumen lainnya sudah diberi izin dan rumah mereka sudah dibangun semuanya.
Alasan yang dikemukakan perusahaan itu adalah ingin memberikan pelajaran kepada dua
konsumen tadi karena dua orang itu telah memprovokasi konsumen lainya untuk melakukan
penuntutan segera pemberian izin pembangunan rumah. Dari kasus ini perusahaan property
tersebut telah melanggar prinsip kewajaran (fairness) karena tidak memenuhi hak-hak
stakeholder (konsumen) dengan alas an yang tidak masuk akal
6. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kejujuran
Sebuah perusahaan di Sleman membuat kesepakatan dengan sebuah perusahaan kontraktor untuk
membangun sebuah perumahan. Sesuai dengan kesepakatan pihak pengembang memberikan
spesifikasi bangunan kepada kontraktor. Namun dalam pelaksanannya, perusahaan kontraktor
melakukan penurunan kualitas spesifikasi bnagunan tanpa sepengetahuan perusahaan
pengembang. Selang beberapa bulan kondisi bangunan mengalami kerusakan serius. Dalam
kasus ini pihak perusahaan kontraktor dapat dikatakan telah melanggar prinsip kejujuran karena
tidak memenuhi spesifikasi banguanan yang telah disepakati bersama dengan perusahaan
pengembang.
7. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip empati
Seorang nasabah, sebut saja x, dari perusahaan pembiayaan terlambat membayar angsuran mobil
sesuai tanggal jatuh tempo karena anaknya sakit parah. X sudah memberitahukan kepada pihak
perusahaan tentang keterlambatannya membayar angsuran, namun tidak mendapatkan respon
dari perusahaan. Beberapa minggu setelah jatuh tempo pihak perusahaan langsung mendatangi x
untuk menagih angsuran dan mengancam akan mengambil mobil yang masih diangsur itu. Pihak
perusahaan menagih dengan cara yang tidak sopan dan melakukan tekanan psikologis kepada
nasabah. Dalam kasus ini kita dapat mengategorikan pihak perusahaan telah melakukan
pelanggaran prinsip empati pada nasabah karena sebenarnya pihak perusahaan dapat
memberikan peringatan kepada nasabah itu dengan cara yang bijak dan tepat.
Berikut adalah beberapa kasus pelanggaran etika bisnis yang telah terjadi di beberapa perusahan
besar
1. Kasus PT Dirgantara
Terungkapnya penyelewengan anggaran negara oleh BPK pada 20 April 1995. Sebagai akuntan
negara, BPK telah berperan dengan baik dan memenuhi tanggung jawab dasar auditor yaitu
memeriksa dan mengkomunikasikan temuan pada publik. Auditor telah bekerja dengan integritas
dan moral motive yang tepat. Di sisi lain, pada kasus ini perusahaan melanggar norma dasar etika
(bribery, deception, coercion, dan theft), karena perusahaan telah melakukan manipulasi tender
dan pelelangan. Dalam proses manipulasi tersebut akan melibatkan Transaksi dibalik layar.
Pelanggaran etika juga dilakukan akuntan perusahaan. Hal tersebut dapat dilihat dari manipulasi
catatan yang mencoba untuk menyembunyikan fakta. Manipulasi juga melanggar konsep
utilitarianism mengingat perusahaan merupakan perusahaan pemerintah yang bertanggungjawab
pada rakyat. Kasus pelanggaran etika kedua terjadi ketika perusahaan memecat dengan tidak
hormat Salah satu karyawan pada 15 April 1996, setahun setelah pengungkapan penyimpangan
oleh BPK. Karyawan tersebut merupakan karyawan yang mengungkapkan manipulasi tender
kepada BPK. Pada kasus ini perusahaan telah jelasjelas melakukan diskriminasi dan melanggar
konsep deontology yang menganut kebenaran mutlak. Indikasi lain dari terjadinya diskriminasi
adalah timbulnya demo karyawan pada 29 Oktober 1997 yang menuntut keadilan jenjang karir.
Pada kasus pemecatan karyawan yang mengungkapkan penyimpangan di IPTN juga terjadi
pembalikan dan manipulasi konsep kebenaran. Pada kasus tersebut tampak bahwa orang menjadi
salah karena mengungkapkan suatu kebenaran. Kasus yang melibatkan pelanggaran konsep etika
paling banyak adalah kasusPemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan secara besar
besaran(Nugroho,2012).
2. Kasus Enron
Enron mengumumkan kebangkrutan pada akhir tahun 2001. Tentu saja kebangkrutan ini
menimbulkan kehebohan yang luar biasa. Bangkrutnya Enron dianggap bukan lagi semata-mata
sebagai sebuah kegagalan bisnis, melainkan sebuah skandal yang multidimensional, yang
melibatkan politisi dan pemimpin terkeuka Amerika Serikat (Hartman,2002). Hal ini bisa dilihat
dari beberapa fakta yang cukup mencengangkan seperti :
Dalam waktu sangat singkat perusahaan yang pada tahun 2001 sebelum kebangkrutannya masih
membukukan pendapatan US$ 100 miliar, ternyata tiba-tiba melaporkan kebangkrutannya
kepada otoritas pasar modal. Sebagai entitas bisnis, nilai kerugian Enron diperkirakan mencapai
US$ 50 miliar. Sementara itu, pelaku pasar modal kehilangan US$ 32 miliar dan ribuan pegawai
Enron harus menangisi amblasnya dana pensiun mereka tak kurang dari US$ 1 miliar.
Saham Enron terjun bebas hingga berharga US$ 38. Padahal sebelumnya pada Agustus 2000
masih berharga US$ 80 per lembar. Oleh karenanya banyak pihak yang mengatakan
kebangkrutan Enron ini sebagai kebangkrutan terbesar dalam sejarah bisnis di Amerika Serikat
dan menjadi bahan pembicaraan dan ulasan di berbagai media bisnis dan ekonomi terkemuka
seperti Majalah Time, Fortune, dan Business Week.
Sebab-sebab Bangkrutnya Enron
Dalam proses pengusutan sebab-sebab kebangkrutan itu Enron dicurigai telah
melakukan praktek window dressing. Manajemen Enron telah menggelembungkan (mark up)
pendapatannya US$ 600 juta, dan menyembunyikan utangnya sejumlah US$ 1,2 miliar . Hal ini
tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dengan trik-trik
manipulasi yang tinggi dan tentu saja orang-orang ini merupakan orang bayaran dari mulai analis
keuangan, para penasihat hukum, dan auditornya.

Dari beberapa kasus diatas terlihat bahwa pelanggaran terhadap etika bisnis berdampak
besar terhadap keberlangsungan hidup suatu perusahaan. Dan juga dapat melahirkan persepsi
yang buruk di mata masyarakat, dampak negatif lainnya adalah menurunnya moral karyawan
akibat beban psikologis karena bekerja pada perusahaan yang memiliki citra buruk, terpaksa
dikeluarkannya biaya untuk mengatasi citra buruk yang ada, dan ketidakpercayaan publik
terhadap segala tindakan yang dilakukan perusahaan di masa depan.
BAB. 3
PENUTUP

Kesimpulan
1. Pelanggaran etika bisnis adalah penyimpangan standar standar nilai (moral) yang menjadi
pedoman atau acuan sebuah perusahaan (manajer dan segenap karyawannya) dalam pengambilan
keputusan dan mengoperasikan bisnis yang etik
2. Beberapa hal yang masuk pada pelanggaran etika bisnis adalah Pelanggaran etika bisnis terhadap
hukum seperti PHK tanpa pesangon, pemalsuan, pencurian, penipuan dll, Pelanggaran etika
bisnis terhadap transparansi, Pelanggaran etika bisnis terhadap akuntabilitas, Pelanggaran etika
bisnis terhadap perinsip pertanggungjawaban, Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip
kewajaran, dan Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kejujuran
3. Pelanggaran terhadap etika bisnis berdampak besar terhadap keberlangsungan hidup suatu
perusahaan. Dan juga dapat melahirkan persepsi yang buruk di mata masyarakat, dampak negatif
lainnya adalah menurunnya moral karyawan akibat beban psikologis karena bekerja pada
perusahaan yang memiliki citra buruk, terpaksa dikeluarkannya biaya untuk mengatasi citra
buruk yang ada, dan ketidakpercayaan publik terhadap segala tindakan yang dilakukan
perusahaan di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA

Hardjanto, Amirullah Imam. 2005.Pengantar Bisnis.Yogyakrta:Graha Ilmu.


Hartman, Laura P dan Joe Desjardins.2002.Etika Bisnis.Jakarta:Erlangga.
Nugroho, Marhendra Adhi.2012. KONSEP TEORI DAN TINJAUAN KASUS ETIKA BISNIS PT
DIRGANTARA INDONESIA (1960 2007), Jurnal Economia.Volume 8, Nomor 1, April 2012
Tugas Makalah Kasus Pelanggaran Etika Bisnis

Tugas Makalah Kasus Pelanggaran Etika Bisnis

PELANGGARAN HAK PATEN,

Pelanggaran Smartphone Apple Terhadap Samsung, Apple VS Samsung Galaxy

Disusun Oleh :

Kemas Agus Balluthi

01110013

Fakultas Ekonomi

Akuntansi

UNIVERSITAS NAROTAMA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

1.1 Latar Belakang

Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada pelaku bisnis untuk melakukan
kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Disini pula pelaku bisnis
dibiarkan bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme pasar. Peluang-peluang yang
diberikan pemerintah telah memberi kesempatan pada usaha-usaha tertentu untuk melakukan
penguasaan pangsa pasar secara tidak wajar.

Keadaan tersebut didukung oleh orientasi bisnis yang tidak hanya pada produk, promosi dan
kosumen tetapi lebih menekankan pada persaingan sehingga etika bisnis tidak lagi diperhatikan
dan akhirnya telah menjadi praktek monopoli, persengkongkolan dan sebagainya. Masalah
pelanggaran etika sering muncul antara lain seperti, dalam hal mendapatkan ide usaha,
memperoleh modal, melaksanakan proses produksi, pemasaran produk, pembayaran pajak,
pembagian keuntungan, penetapan mutu, penentuan harga, pembajakan tenaga professional,
blow-up proposal proyek, penguasaan pangsa pasar dalam satu tangan, persengkokolan,
mengumumkan propektis yang tidak benar, penekanan upah buruh dibawah standar, insider
traiding dan sebagainya. Biasanya faktor keuntungan merupakan hal yang mendorong terjadinya
perilaku tidak etis dalam berbisnis.

BAB II

2.1 Landasan Teori

Etika bisnis merupakan pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi atau bisnis dan
semua pihak yang terkait dengan para kompetitor untuk menghindari penyimpangan-
penyimpangan ilmu ekonomi dan mencapai tujuan atau mendapatkan profit, sehingga kita harus
menguasai sudut pandang ekonomi, hukum, dan etika atau moral agar dapat mencapai target
yang dimaksud. Moralitas berarti aspek baik atau buruk, terpuji atau tercela, dan karenanya
diperbolehkan atau tidak, dari perilaku manusia. Moralitas selalu berkaitan dengan apa yang
dilakukan manusia, dan kegiatan ekonomis merupakan suatu bidang perilaku yang sangat
penting. Tetapi belum pernah etika bisnis mendapat begitu banyak perhatian seperti sekarang.

Perlu diketahui tentang pendekatan diskritif etika dan moral yang meneliti dan membahas secara
ilmiah, kritis, rasional atas sikap dan perilaku pembisnis sebagai manusia yang bermoral
manusiawi. Pendekatan ini menganalisa fakta-fakta keputusan bisnis dan patokan bermoral serta
mampu menggambarkan pengambilan sikap moral dan menyusun kode etik atau kitab UU
berdasarkan keyakinan moral. Oleh sebab itu didefenisikan secara kritis istilah etika seperti
keadilan, baik, yang utama atau prioritas, tanggung jawab, kerahasiaan perusahaan, kejujuran
dan lain-lain, maka bisnis juga mempunyai kode etik dan moral. Dalam berbisnis kita juga harus
mengetahui tentang deontologi karena deontologi didasarkan prinsip-prinsip pengelolaan ilmu
ekonomi yang berproses pada kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi sebelum pengambilan
keputusan bisnis dan didasarkan pada aturan-aturan moral atau etika yang mengatur proses yang
berakhir pada keputusan bisnis. Jadi deontologi menilai baik buruknya aturan-aturan dan prinsip-
prinsip yang mendahului keputusan bisnisnya, serta menguji apakah prinsip-prinsip sudah
dijalankan serta merupakan kewajiban bagi pelaku atau yang terlibat didalam proses
pengambilan keputusan dan pelaksanaan bisnis tersebut..
Perilaku tidak etis dalam kegiatan bisnis sering juga terjadi karena peluang-peluang yang
diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang kemudian disahkan dan disalah gunakan
dalam penerapannya dan kemudian dipakai sebagai dasar untuk melakukan perbuatan-perbuatan
yang melanggar etika bisnis.

2.2 Contoh Kasus

Seperti yang kita ketahui bahwa Samsung, Android dan Apple saling berselisih, diberbagai
belahan Dunia saling tuduh menuduh tentang hak paten dan seakan tak berkesudahaan. Perang
Hak paten antara perusahaan Tehnology terbesar ini ada artikelnya ada pada laman situs
Bussinesweek yang amat panjang, tetapi menarik untuk di baca. Pada atikel BussinesWeek itu
memaparkan perang paten antara Apple dan berbagai produsen yang memproduksi produk-
produk Android dan juga artikel itu memberikan rincian bagaimana Apple terlibat dalam litigasi
paten dengan sejumlah pembuat smartphone Android, termasuk Samsung, Motorola dan HTC.

Dalam perang paten telepon pintar (smartphone), banyak hal yang dipertaruhkan. Perusahaan
terkait tak akan ragu mengeluarkan uang banyak demi menjadi pemenang, kata pengacara dari
Latham & Watkins, Max Grant, dikutip dari Bloomberg, Jumat, 24 Agustus 2012. Menurut dia,
ketika persoalan hak cipta sudah sampai di meja hijau, maka perusahaan tidak lagi memikirkan
bagaimana mereka harus menghemat pengeluaran keuangan.
Sebagai gambaran, Grant mengatakan, pengacara Apple diketahui memperoleh komisi US$
1.200 atau sekitar Rp 11,3 juta per jamnya untuk meyakinkan hakim dan juri bahwa Samsung
Electronics Co telah menyontek atau mencuri desain smartphone Apple. Perusahaan yang
dipimpin Tim Cook itu juga sudah menghabiskan total US$ 2 juta atau sekitar Rp 18,9 miliar
hanya untuk menghadirkan saksi ahli.

Meski kelihatan besar, uang untuk pengacara dan saksi ahli tersebut sebenarnya tergolong kecil
dan masih masuk akal di kantong Apple ataupun Google. Sebagai contoh, biaya US$ 32 juta
yang dikeluarkan Apple dalam perang paten melawan Motorola Mobility setara dengan hasil
penjualan Apple iPhone selama enam jam.

Keduanya diminta menghentikan penjualan produk tertentu. 10 produk Samsung, termasuk


Galaxy SII, tak boleh dijual lagi; 4 produk Apple, termasuk iPad 2 dan iPhone 4, juga demikian.
Oleh pengadilan Korea, Samsung diminta membayar denda 25 juta Won, sedangkan Apple
dikenakan denda sejumlah 40 juta Won atau setara US$ 35.400

BAB III

3.1 Kesimpulan

Upaya hukum pihak Apple pada bulan Februari lalu sempat mengalami kemunduran saat hakim
Koh menolak permintaan Apple untuk melarang penjualan perangkat Samsung di Amerika
Serikat. Menurut Koh, paten desain Apple terlalu luas dan bahkan beberapa di antaranya
memiliki kemiripan dengan konsep yang ada di serial Knight Rider tahun 1994. Atas putusan
tersebut Apple melakukan upaya banding dan menyewa sebuah firma hukum terkenal di Los
Angeles untuk meningkatkan upaya perang paten yang sedang berlangsung.

Keduanya diminta menghentikan penjualan produk tertentu. 10 produk Samsung, termasuk


Galaxy SII, tak boleh dijual lagi; 4 produk Apple, termasuk iPad 2 dan iPhone 4, juga demikian.
Oleh pengadilan Korea, Samsung diminta membayar denda 25 juta Won, sedangkan Apple
dikenakan denda sejumlah 40 juta Won atau setara US$ 35.400

3.2 Saran

Pelanggaran yang dilakukan kedua perusahaan technology terbesar ini tentu akan membawa
dampak yang buruk bagi perkembangan ekonomi, bukan hanya pada ekonomi tetapi juga
bagaimana pendapat masyarakat yang melihat dan menilai kedua perusahaan technology ini
secara moral dan melanggar hukum dengan saling bersaing dengan cara yang tidak sehat. Kedua
kompetitor ini harusnya professional dalam menjalankan bisnis, bukan hanya untuk mencari
keuntungan dari segi ekonomi, tetapi harus juga menjaga etika dan moralnya dimasyarakat yang
menjadi konsumen kedua perusahaan tersebut serta harus mematuhi peraturan-peraturan yang
dibuat.

Sumber :

http://www.BussinesWeek.com

http://bestseoeasy.blogspot.com/2012/08/apple-vs-samsung-apple-akhirnya.html
TUGAS ETIKA BISNIS : MAKALAH PELANGGARAN ETIKA BISNIS
Posted on October 8, 2012

TUGAS ETIKA BISNIS

DISUSUN OLEH :

FAUREZA DITA AJI PERDANA

( 01111013 )

FAKULTAS EKONOMI PRODI AKUNTANSI

UNIVERSITAS NAROTAMA

SURABAYA

I. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan tentang perilaku bisnis terutama
menjelang mekanisme pasar bebas. Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada
pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan
ekonomi. Disini pula pelaku bisnis dibiarkan bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme
pasar.

Dalam sistem perekonomian pasar bebas, perusahaan diarahkan untuk mencapai tujuan
mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin, sejalan dengan prinsip efisiensi. Namun, dalam
mencapai tujuan tersebut pelaku bisnis kerap menghalalkan berbagai cara tanpa peduli apakah
tindakannya melanggar etika dalam berbisnis atau tidak.

Hal ini terjadi akibat manajemen dan karyawan yang cenderung mencari keuntungan semata
sehingga terjadi penyimpangan norma-norma etis, meski perusahaan perusahaan tersebut
memiliki code of conduct dalam berbisnis yang harus dipatuhi seluruh organ di dalam organisasi.
Penerapan kaidah good corporate governace di perusahaan swasta, BUMN, dan instansi
pemerintah juga masih lemah. Banyak perusahaan melakukan pelanggaran, terutama dalam
pelaporan kinerja keuangan perusahaan.

Peluang-peluang yang diberikan pemerintah pada masa orde baru telah memberi kesempatan
pada usaha-usaha tertentu untuk melakukan penguasaan pangsa pasar secara tidak wajar.
Keadaan tersebut didukung oleh orientasi bisnis yang tidak hanya pada produk dan kosumen
tetapi lebih menekankan pada persaingan sehingga etika bisnis tidak lagi diperhatikan dan
akhirnya telah menjadi praktek monopoli, persengkongkolan dan sebagainya.

Akhir-akhir ini pelanggaran etika bisnis dan persaingan tidak sehat dalam upaya penguasaan
pangsa pasar terasa semakin memberatkan para pengusaha menengah kebawah yang kurang
memiliki kemampuan bersaing karena perusahaan besar telah mulai merambah untuk menguasai
bisnis dari hulu ke hilir. Perlu adanya sanksi yang tegas mengenai larangan prakti monopoli dan
usaha yang tidak sehat agar dapat mengurangi terjadinya pelenggaran etika bisnis dalam dunia
usaha.

II. PEMBAHASAN

2.1. LANDASAN TEORI

Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah Ethos, yang berarti watak
kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral
yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu Mos dan dalam bentuk jamaknya Mores,
yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang
baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang
sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau
moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian
sistem nilai-nilai yang berlaku. Etika adalah Ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan
buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.

Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu:


Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang
lebih baik (su).

Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.

Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelaskan tentang pembahasan Etika,
sebagai berikut:

Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu
pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat)
yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian
baik dan buruk suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.

Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya; antara
lain:

1. Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The
principles of morality, including the science of good and the nature of the right)

2. Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan
manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human actions)

3. Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual. (The science of
human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)

4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty)

5. Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam
pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah:

Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral.

Kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak

Nilai mengenai yang benar dan salah yang dianut masyarakat.

Etika terbagi atas dua :

a. Manusia Etika umum ialah etika yang membahas tentang kondisi-kondisi dasar bagaimana itu
bertindak secara etis. Etika inilah yang dijadikan dasar dan pegangan manusia untuk bertindak
dan digunakan sebagai tolok ukur penilaian baik buruknya suatu tindakan.
b.Etika khusus ialah penerapan moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus misalnya olah
raga, bisnis, atau profesi tertentu. Dari sinilah nanti akan lahir etika bisnis dan etika profesi
(wartawan, dokter, hakim, pustakawan, dan lainnya).

Bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis
lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari
kata dasar busy yang berarti sibuk dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat.
Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.

Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk
untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan
operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang
mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis
koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi
pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras
dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat
umum, atau serikat pekerja.

Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk
melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata bisnis sendiri memiliki tiga
penggunaan, tergantung skupnya, penggunaan singular kata bisnis dapat merujuk pada badan
usaha, yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau
keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya
bisnis pertelevisian. Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh aktivitas yang
dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa. Meskipun demikian, definisi bisnis yang
tepat masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini. Secara sederhana yang dimaksud dengan
etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek
yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Kesemuanya ini
mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku,
dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat.

Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang
lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan bisnis
seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh ketentuan hukum.

Von der Embse dan R.A. Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Jouurnal (1988),
memberikan tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis, yaitu :

a) Utilitarian Approach : setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh karena
itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat
sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya
serendah-rendahnya.

b) Individual Rights Approach : setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak
dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari
apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.
c) Justice Approach : para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama, dan
bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun
secara kelompok.

Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk
suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan
menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya
dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan
didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara
konsisten dan konsekuen.

Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan
perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena :

1. Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern
perusahaan maupun dengan eksternal.
2. Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
3. Melindungi prinsip kebebasan berniaga.
4. Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.

Tidak bisa dipungkiri, tindakan yang tidak etis yang dilakukan oleh perusahaan akan memancing
tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif, misalnya
melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi dan lain sebagainya. Hal ini
akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan. Sedangkan perusahaan yang
menjunjung tinggi nilai-nilai etika bisnis, pada umumnya termasuk perusahaan yang memiliki
peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir
tindakan yang tidak etis, misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier.
Karyawan yang berkualitas adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan. Oleh karena itu,
perusahaan harus semaksimal mungkin harus mempertahankan karyawannya.

Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah:

1. Pengendalian diri
2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility)
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya
perkembangan informasi dan teknologi
4. Menciptakan persaingan yang sehat
5. Menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan
6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha
ke bawah
9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang berupa
peraturan perundang-undangan

Etika bisnis merupakan aspek penting dalam membangun hubungan bisnis dengan pihak lain.
Sukses atau gagalnya suatu bisnis sangat ditentukan oleh etika bisnis seseorang. Etika bisnis
yang baik juga dapat membangun komunikasi yang lebih baik dan mengembangkan sikap saling
percaya antarsesama pebisnis. Ada dua hal yang harus Anda perhatikan dalam berbisnis. Yang
pertama adalah memerhatikan kepentingan dan menjaga perasaan orang lain. Yang kedua adalah
mencegah terjadinya salah paham dengan orang lain, karena masing-masing budaya atau negara
mempunyai etika bisnis yang berbeda. Meski begitu, terdapat beberapa etika yang berlaku
umum. Perilaku dan sikap Anda bisa mencerminkan tentang diri Anda. Perilaku juga
mencerminkan watak Anda sehingga ada beberapa hal yang harus dihindari. Perilaku yang hanya
mementingkan diri sendiri, tidak disiplin, dan tidak bisa dipercaya, dapat membuat bisnis tidak
berkembang. Etika bisnis yang tepat dapat membangkitkan sifat-sifat yang positif. Tunjukkan
sifat positif Anda. Misalnya, Anda perlu tahu kapan harus menunjukkan perhatian dan belas
kasih tanpa menjadi emosional. Tanamkanlah rasa percaya pada diri sendiri tanpa harus bersifat
sombong. Dengan mempelajari etika bisnis, Anda akan menunjukkan bahwa diri Anda memiliki
pikiran yang terbuka, sehingga akan membuat Anda dihargai oleh orang lain.

Semua etika bisnis yang baik harus didasari dengan kepekaan dan tenggang rasa. Sebaiknya
Anda pelajari etika umum (termasuk juga dari negara-negara lain), mulai dari cara merespon,
menyapa, dan sebagainya. Hal ini akan mampu membangun hubungan bisnis yang kuat. Anda
juga harus berbicara secara hati-hati. Saat bicara pada rekan bisnis sebaiknya pikirkan kata-kata
yang tepat, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti misalnya membuat orang
tersinggung. Etika bisnis mendorong kehati-hatian dalam berkomunikasi dan memilih bentuk-
bentuk ekspresi yang bisa diterima. Cobalah untuk berpakaian secara tepat, berdiri dan duduk di
tempat sesuai dengan posisi Anda pada waktu yang tepat. Jaga postur tubuh yang baik, sehingga
akan menciptakan kesan yang baik dan menghindari kesalahpahaman.

Perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika pada umumnya perusahaan yang memiliki
peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir
tindakan yang tidak etis misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier.
Karyawan yang berkualitas adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan oleh karena itu
semaksimal mungkin harus tetap dipertahankan. Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan
dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan
kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik
(code of conduct), memperkuat sistem pengawasan, menyelenggarakan pelatihan (training)
untuk karyawan secara terus menerus.

2.2. CONTOH KASUS

KASUS ETIKA BISNIS INDOMIE DI TAIWAN

Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan tentang perilaku bisnis terutama
menjelang mekanisme pasar bebas. Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada
pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan
ekonomi. Disini pula pelaku bisnis dibiarkan bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme
pasar. Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam memperoleh
keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis, bahkan melanggar peraturan yang
berlaku. Apalagi persaingan yang akan dibahas adalah persaingan produk impor dari Indonesia
yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta kualitas yang tidak kalah dari produk-
produk lainnya.

Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung
bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung
dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat
tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat
(08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari
peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak
memasarkan produk dari Indomie.

Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera memanggil
Kepala BPOM Kustantinah. Kita akan mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait
produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini, kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka
Tjiptaning, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/10/2010). Komisi IX DPR akan
meminta keterangan tentang kasus Indomie ini bisa terjadai, apalagi pihak negara luar yang
mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat berbahaya yang terkandung di dalam produk
Indomie.

A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di
dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan
pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini
umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri
pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%. Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan
tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan
bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam
mie instan tersebut. tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan
aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah. Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan
aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per
kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang
bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.

Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision,


produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan
kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie
yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di
antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie ini.

III. PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk
suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan
menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya
dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan
didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara
konsisten dan konsekuen.

Seperti pada kasus Indomie masalah yang terjadi dikarenakan kurangnya pengetahuan dan
informasi mengenai kandungan-kandungan apa saja yang terkandung dalam produk mie tersebut
sehingga Taiwan mempermasalahkan kandungan nipagin yang ada dalam produk tersebut.
Padahal menurut BPOM kandungan nipagin yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam
mie instan tersebut, kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman
untuk dikonsumsi. Selain itu standar di antara kedua Negara yang berbeda Indonesia yang
merupakan anggota Codex Alimentarius Commision dan karena Taiwan bukan merupakan
anggota Codec sehingga harusnya produk Indomie tersebut tidak dipasarkan ke Taiwan.

3.2. SARAN

Bagi perusahaan Indomie sebaiknya memperbaiki etika dalam berbisnis, harus transparan
mengenai kandungan-kandungan apa saja yang terkandung dalam produk mie yang mereka
produksi agar tidak ada permasalah dan keresahan yang terjadi akibat informasi yang kurang
bagi para konsumen tentang makanan yang akan mereka konsumsi.

SUMBER REFERENSI :

http://rkarinanovianaputri.blogspot.com/2009/10/minggu-18-oktober-2009-makalah-etika.htm

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/etika-bisnis-dan-pendidikan.html

http://aslanstil.blogspot.com/2011/02/makalah-etika-profesietika-bisnis-dan.html

http://erniritonga123.blogspot.com/2010/01/definisi-etika.htm

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/definisi-dan-pengertian-bisnis/

http://galih-chess.blogspot.com/2010/01/pengertian-etika-bisnis.html

http://www.ciputraentrepreneurship.com/bina-usaha/49-rencana-bisnis/6350-etika-bisnis-yang-
baik.html

http://niknok.blogspot.com/etika-bisnis.html

http://imandarmawan01.blogspot.com/2011/11/contoh-kasus-etika-bisnis-indomie-di.html

http://novrygunawan.wordpress.com/2010/11/28/contoh-kasus-etika-bisnis-kasus-di-tolaknya-
indomie-di-taiwan-tugas-etika-bisnis-ke-2/