Anda di halaman 1dari 7

LIPIDA BIOAKTIF

Disusun Oleh:

Rhama Darmawan

151710101113/THP B

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JEMBER

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

2017
1. Pengertian lipida bioaktif
senyawa minor yang ada dalam makanan dan pengaruhnya terhadap kesehatan
biasanya dikelompokkan dalam komponen bioaktif, karena mempunyai efek
fisiologis yang positif dan negatif. Komponen-komponen bioaktif dalam makanan
dapat terbentuk secara alami atau terbentuk selama proses pengolahan makanan.
Komponen bioaktif ini meliputi senyawa yang berasal dari karbohidrat, protein
dan lemak.
Lipida bioaktif berarti komponen bioaktif yang berasal dari lemak
(komponen lipida terbesar). Lipida merupakan komponen senyawa organik yang
terdapat di dalam mahluk hidup yang larut di dalam pelarut organik atau pelarut
non-polar, tapi tidak larut di dalam air. Lemak merupakan ester dari gliserol dan
tiga asam lemak sehingga disebut triasilgliserol atau trigliserida. Senyawa bioaktif
yang berasal dari lemak tidak hanya trigliserida saja, tetapi semua komponen yang
termasuk golongan lipida. Misalnya saja pada susu yang merupakan produk
dengan kandungan lemak cukup tinggi. Menurut Subroto (2008) beberapa
komponen bioaktif dalam susu yang memiliki efek kesehatan antara lain
kaseinfosfopeptida (CPP), peptida susu antihiperteensi, laktoferin,
glikomakropeptida, asam linoleat konjugasi (CLA), asam miristat, spingomyelin,
asam butirat, dan asam laurat.

2. Golongan Lipid yang Tergolong Lipida Bioaktif

2.1 Asam Lemak Rantai Pendek (Short chain fatty acid)


Short chain fatty acid merupakan asam lemak rantai pendek yang terdiri dari
asetat, propionat, dan n-butirat. Asam lemak ini diproduksi dari proses fermentasi
polisakarida, oligosakarida, protein, peptide, prekursor glikoprotein, turunan serat
pangan, dan pati resisten secara anaerobik di usus besar (Andoh et al., 2003).
Pada manusia, umumnya sebaran SCFA adalah asetat > propionat > butirat.
Konsentrasi total SCFA biasanya antara 70-140 mM pada proximal colon dan 20-
70 mM pada distal colon. Beberpa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
perbedaan struktur polisakarida dan serat menghasilkan asam lemak dengan rasio
komposisi C2-C4 yang berbeda. Produksi asam lemak rantai pendek terbukti
bermanfaat bagi kesehatan karena terkait dengan metabolisme kolesterol, glukosa,
dan pencegahan kanker kolon

2.2 Asam Lemak Rantai Sedang (Medium-Chain Fatty Acids)


Merupakan asam lemak yang mengandung 8-10 karbon atom, terutama
caprilik (C8: 0) dan capric (C10: 0)asam, yang dimetabolisme secara berbeda saat
dibandingkan dengan asam lemak rantai panjang (14 atau lebih atom karbon).
Trigliserida rantai menengah (MCT) mengandung asam lemak rantai sedang
(MCFA) yang tersusun pada tulang punggung gliserol biasanya benar-benar
terhidrolisis untuk menghasilkan asam lemak oleh lipase dalam sistem
gastrointestinal. Saat diserap langsung, MCT masuk sistem peredaran darah
melalui pembuluh darah portal dan dibawa ke hati di mana mereka dioksidasi
keton Hal ini karena di dalam mitokondria, pengangkutan MCT tidak memerlukan
karnitin palmitoyltransferase, enzim pembatas laju b -oksidasi katabolik
kebanyakan MCFA terbukti dengan fakta bahwa MCT diet berkurang kadar
trigliserida darah selama intervensi manusia percobaan. Dengan demikian, MCT
diet menginduksi thermogenesis dan tidak berkontribusi terhadap kenaikan berat
badan sejak mereka tidak disimpan di jaringan adiposa. Dan MCT mampu
mengatur ungkapan lipase lipoprotein, yang merupakan enzim utama yang
bertanggung jawabuntuk lipolisis.

2.3 Asam Lemak Rantai Panjang (Long-Chain Fatty Acids)

2.3.1 Monounsaturated Fatty Acids (MUFA)


Asam lemak tak jenuh tunggal menghasilkan penurunan 28% pada tingkat
Apolipoprotein B (ApoB), yaitu karena menurunkan tingkat produksi LDL ApoB.
Ada juga jumlah partikel LDL yang beredar dalam plasma. Asam oleat juga telah
diusulkan untuk memiliki peran potensial dalam mengurangi gangguan terkait
otak seperti demensia dan penyakit Alzheimer. Di antara tak jenuh asam lemak
yang diuji, asam oleat memiliki kadar tertinggi Penghambatan in vitro
endopeptidase prolyl (PEP), enzim yang diyakini berperan dalam amiloid
pembentukan di otak Kekurangan lemak asam untuk PEP yang diukur dengan
konstanta inhibisi (berbanding terbalik dengan afinitas) adalah ~ 27, 51, 89, 91,
dan 248 M, untuk oleat, linoleat, docosahexaenoic, arachidonic, dan asam
eicosapentaenoic. Tingkat PEP telah ditemukan diregulasi pada pasien penyakit
Alzheimer, dan percobaan tikus telah menunjukkan peningkatan kognitif
berfungsi bila diberikan dengan inhibitor PEP. Sedangkan studi in vivo wajib
ditentukan mekanisme tindakan yang tepat, awal pekerjaan menunjukkan bahwa
konsumsi asam oleat diet bisa memberi efek bermanfaat pada otak berfungsi
dengan mengurangi aktivitas PEP.

2.3.2 Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA)


Asam lemak essensial terdiri dari asam lemak linoleat (LA) (18:2 n-6) dan
linolenat (LNA) (18:3 n-3) yang juga termasuk omega-3. Omega-3 berantai
panjang yang tidak essensial yakni asam lemak yang biasanya memiliki ikatan
rangkap lebih dari dua (poly unsaturated fatty acid=PUFA) dan ikatan rangkap
yang paling terakhir terdapat pada atom karbon ketiga dari ujung rantai asam
lemak tersebut. Karena itu, sering disebut poly usaturated fatty acids omega-3
(PUFA n-3). 18,19.

3. Sifat fungsional kesehatan dari lipida bioaktif


Aspek klinis yang menguntungkan dari mengkonsumsi asam lemak omega-3
adalah anti arterosklerosis, anti trombosis dan anti arthritis. Hal ini diduga karena
adanya sifat antagonis asam lemak omega-3 yang dapat menurunkan aktivitas
konversi asam linoleat menjadi asam arakhidonat,serta konversi oksidatif asam
arakhidonat menjadi eikosanoid.
Efek kurkumin dan PUFA omega 3 dapat meningkatkan kadar adiponektin
dan sebagai anti-infalamasi maka penelitian ini dilakukan untuk melihat efek dari
pemberian kombinasi kurkumin dan PUFA omega 3 pada toleransi glukosa
terganggu dan untuk menggalakkan penggunaan sumber alami demi mencegah
dan mengobati toleransi glukosa terganggu.
4. Mekanisme aksi lipida bioaktif
Efek klinis dari asam lemak omega-3 dalam menurunkan kadar kolesterol
darah diduga disebabkan pengaruhnyaterhadap mekanisme produksi lipoprotein
transport dalam hati yang disekresikan kedalamdarah. Kolesterol dalam darah
pada dasarnya ada dalam bentuk lipoprotein. Berdasarkanberat jenisnya
lipoprotein dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok yaitu Very LowDensity
Lipoprotein (VLDL), Low Density Lipoprotein (LDL), High Density
Lipoprotein(HDL). Asam lemak tidak jenuh khususnya omega-3dapat
menghambat sintesa VLDLdan sebagai akibatnya produksi LDL pun berkurang.
Tingginya kadar VLDL dan LDLyang disekresikan dapat menimbulkan endapan
kolesterol dalam darah, karena VLDLdan LDL merupakan protein transporrt yang
membawa trigliserida, kolesterol danfosfolipid dari hati ke seluruh jaringan.
Sedangkan HDL justru akan mengangkutkolesterol ke dalam hati selanjutnya
dipecah menjadi asam empedu dan dibuang melaluiekskresi tubuh.
Dalam percobaan ini metode yang digunakan adalah uji pada hewan.Dua
jenis ikan yang mengandung asam lemak omega-3 diuji responnya melalui diet
yang diberikan kepada tikus-tikus percobaan,setelah terlebih dahulu diberikan diet
yang mengandung asam lemak jenuh. Setelah dilakukan penelitian asam lemak
omega-3 dari ikan dapat menurunkan komponen-komponen biokimia serum darah
tersebut. Kandungan B-lipoprotein pada serum darah tikus yang diberi diet asam
lemak jenuh mengalami penurunan yang nyata, sedangkan kadar glukosa dan
protein tidak berubah, baik pada kelompok tikus yang diberi diet asam lemak
omega-3 30% dan 10% maupun kelompok tikus kontrol.Tekanan darah pada
kelompok tikus yang diberi diet asam lemak jenuh mempunyai tekanan darah
yang lebih tinggi dari grup tikus yang tak diberi diet asamlemak omega-3.
Disisi lain terdapat percobaan, metode yang digunakan adalah uji efek pemberian
kombinasi kurkumin dan pufa omega-3 terhadap adiponektin pada subyek
toleransi glukosa terganggu. Hasil tersebut berbeda dengan hasil penelitian
Gammelmark dkk sebelumnya yang menunjukkan pemberian suplementasi dua
kapsul fish oil yang mengandung 1,1 gram PUFA omega 3 selama 6 minggu pada
subyek overweight memperlihatkan peningkatan bermakna kadar adiponektin
serum. Qu dkk melakukan penelitian invitro terhadap jaringan adiposa subkutan
abdomen dan jaringan adiposa perirenal pada laki-laki dengan batu ginjal
didapatkan 100 mikrogram/ml curcumin setelah kultur 6 jam dapat meningkatkan
sekresi adiponektin. Weisberg dkk melaporkan terjadi peningkatan adiponektin
pada tikus obes yang mendapatkan kurkumin dosis tinggi. membuktikan
pemberian EPA dengan dosis 1,8 gram setiap hari selama 3 bulan dapat
meningkatkan konsentrasi adiponektin plasma pada subyek manusia. Kondo dkk,
membuktikan diet ikan yang mengandung omega 3 PUFA 3 gram setiap hari
selama 8 minggu dapat meningkatkan adiponektin serum pada subyek perempuan
dari 13, 5 4,6 menjadi 15,8 5,2gr/mL tapi tidak pada laki-laki 8,72,8
menjadi 8,7 2,5 gr/mL.
DAPUS
Dr. Ir. Muhammad Subroto. 2008. Real Food True Health. Jakarta: PT.
Agromedia Pustaka.
Andoh, A., Tsujikawa, T., and Fujiyama, Y. 2003. Role Of Dietary Fiber And
Short-Chain Fatty Acids In The Colon. In Nugent, A.P. 2005. Review
Health Properties of Resistant Starch. J. Br Nutr. 30:27-54.