Anda di halaman 1dari 15

Lampu Incandescent (Lampu Pijar)

Lampu Halogen
Lampu Fluorescent (Lampu TL)
Lampu Mercury
Lampu Sodium Tekanan Rendah (SOX)
Lampu Sodium Tekanan Tinggi (SON)
Lampu LED

Lampu Incandenscent (Lampu Pijar)

Karakteristik
Jenis lampu incandenscent ini biasa disebut lampu pijar,
lampu pijar akan memancarkan cahaya ketika ada arus listrik
melewati filamen kawat pijar pada lampu dan kemudian
memanasi filamen tersebut. Pembuatan lampu pijar juga
didasarkan pada beberapa faktor, yaitu temperatur filamen,
campuran gas yang diisikan, efficacy (im/W), dan umur lampu.
Tahanan filamen tungsten akan semakin tinggi jika temperatur
naik, sehingga kenaikan tegangan akan mengakibatkan
menaiknya tahanan yang juga akan terjadi sedikit kenaikan
arus yang mengalir. Tahanan filamen kira-kira seperempat
belas dari keadaan temperatur normal dalam keadaan dingin.
Salah satu yang perlu diperhatikan dalam karakteristik lampu
pijar ini adalah pengaruh perubahan tegangan terhadap
lampu.

Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari lampu pijar tersebut adalah dengan cara
menghubung singkat listrik pada filamen carbon (C) sehingga
terjadi arus hubung singkat pada yang mengakibatkan timbul
panas. Panas yang terjadi dibuat hingga suhu tertentu sampai
mengeluarkan cahaya,

Kontruksi
Jenis lampu ini lebih dikenal dengan sebutan lampu DOP,
termasuk juga lampu yang ditemukan pertama kali oleh Tomas
Alva Edison.

Lampu incandescent terdiri atas beberapa bagian utama yaitu


bulb atau bola lampu, base lamp, dan filamen kawat pijar

Brass Base
Bentuk dari alat ini biasanya bulat spiral yang biasanya
terbuat dari bahan yang tahan panas agar tidak leleh jika
dialiri arus listrik, dan bagian ini dirancang untuk tahan
terhadap korosi bahan ini berfungsi untuk menghubungkan
lampu dengan soket lampu/fitting

Filament Stem Base


Bagian ini berfungsi sebagai pembungkus filament
kawat,sebagai isolator,serta sebagai pondasi dasar kawat
filament, bagian ini terbuat dari kaca yang meniliki ketahanan
panas tinggi dan tidak mudah pecah.

Filament Stem
Berfungsi sebagai penopang posisi filamen kawat shingga tetap
tegak berdiri, sehingga performa lampu tetap terjaga.

Lamp Gases
Gas murni yang yang digunakan utuk mengisi ruangan udara di
dalam tabung kaca, biasanya diisi oleh gas aragon dn nitrogen,
serta gas krypton yang berfungsi sebagai penahan panas dalam
tabung lampu.

Filament Support
Bagian yang berfungsi sebagai penyangga filamen kawat agar
tidak bersentuhan, terdiri atas lima sampai enam kawat
penyangga.

Lampu incandescent terasa sangat panas karena temperatur


tabung umumnya mencapai 2700 kelvin, masa kerja lampu ini
antara 750-2000 jam
Penggunaan
Lampu pijar digunakan berdasarkan kelebihan-kelebihan yang
dimiliki, diantaranya :
i. Untuk penerangan yang membutuhkan pengontrolan cahaya
(dimmer) dan ON/OFF secara langsung, contoh tempat
penggunaannya:
Panggung / show
v Bioskop
v Studio
v Kamar tidur, dll
ii. Untuk penerangan yang membutuhkan variasi armatur dan
warna sehingga memberi suasana lebih menarik dan indah,
misalnya di :
v Ruang pertemuan / tamu
v Dekorasi
v Reklame
v Pameran, dll
iii. Untuk penerangan di ruangan, misalnya :
v Toilet
v Gudang kecil, dll

Jenis-jenis Lampu Pijar :


Lampu GLS

i. Lampu Bohlam Bening


ii. Lampu Argenta
iii. Lampu Superlux
iv. Lampu Bohlam Buram
v. Lampu Bohlam Lilin
vi. Lampu Luster

Lampu Reflektor
Berdasarkan kontruksi reflektornya, lampu ini terdiri dari 3
jenis. Yaitu:
i. Lampu reflektor pressed glass
Lampu reflector pressed glass ini reflektornya terbuat dari
gelas yang dipress sehingga tahan hujan. Lampu reflektor
pressed bisa digunakan untuk penerangan luar (outdoor),
misalnya lampu sorot di taman. Lampu ini tersedia dalam daya
100W, 125W, 150W dan 300W

ii. Lampu reflector blown bulb


Lampu reflector blown bulb ini reflektornya terbuat dari gelas
biasa dan tipis. Lampu ini hanya digunakan untuk penerangan
dalam (indoor), misalnya sebagai lampu sorot di panggung.
Lampu reflektor blown bulb tersedia dengan daya 25W, 40W,
60W, 75W, 100W, 150W dan 300W.
iii. Lampu disco
Lampu disco ini reflektornya terbuat sedemikian rupa sehingga
sesuai untuk penerangan disko. Lampu disco ini hanya tersedia
dalam wattase 40W.

Lampu Halogen

Prinsip Kerja
Lampu halogen termasuk dalam kelompok lampu pijar, sebab
prinsip kerja lampu halogen adalah karena memijarnya
filament.
Lampu ini dibuat untuk mengatasi masalah ukuran fisik dan
struktur yang dihadapi lampu pijar dalam pengunaannya untuk
lampu sorot, lampu side projector, dan lampu film
projector. Dalam bidang-bidang ini dibutuhkan ukuran
bohlam yang sekecil-kecilnya sehingga sistem pengontrolan
arah dan pemokusan cahaya dapat dilakukan dengan lebih
presisi.
Hal ini berarti kaca bohlam harus berada pada temperatur
tinggi dimana menyebabkan bohlam lampu menghitam akbat
tungsten yang berevaporasi. Kesulitan ini dapat diatasi dengan
penambahan halogen ke dalam bohlam lampu, proses kerjanya
disebut Tungsten Halogen Regenerative Cycle (Siklus
regenaratif tungsten halogen). Elemen-elemen halogen itu
sendiri terdiri dari iodine, bromine, fluorine, dan chlorine.
Iodine dan bromine adalah gas yang digunakan sebagai gas
tambahan terhadap gas normal (argon dan nitogen) dalam
produksi lampu-lampu halogen, sehingga lampu halogen juga
disebut sebagai lampu Iodine Quartz (Quartz Iodine Lamp).

Keterangan Gambar :
1. Terlihat gas halogen diantara gas-gas lainnya dalam lampu
halogen. Secara kimia, gas halogen (butir merah) akan
bereaksi dengan uap tungsten(butir hitam) yang kemudian
menghasilkan halida tungsten.
2. Pada saat filamen tungsten membara, tungsten akan
menguap.
3. Gas halogen mengikat uap tungsten tadi menjadi tungsten
halida. Ketika halida tersebut menyentuh tungsten filamen
yang sedang membara, senyawa tersebut kembali terpecah
dimana gas halogen kembali terlepas sementara tungsten
kembali melekat pada filamen.
4. Siklus ini berulang terus menerus yang menghasilkan cahaya
lampu yang stabil dan umur lampu yang panjang.

Kontruksi
Bohlam
Dikarenakan dinding bohlam dengan filament dekat, maka
dinding bohlam akan berada pada temperatur tinggi (minimal
75 C). Oleh karena itu, bohlam harus terbuat dari bahan
tahan panas,biasanya berupa quartz atau silika. Disamping
bohlam lampu yang harus dibuat bahan tahan panas, juga kaki
dan penyokong filamen. Kaki lampu halogen terbuat dari
porselin yang juga berupa bahan penyekat

Filament dan Penyokong


Bahan filament yang digunakan untuk lampu halogen sama
dengan bahan filament yang digunakan pada lampu pijar,
yaitu tungsten. Filamen ini harus bekerja pada temperatur
antara 2600 C sampai 3000 C untuk membuat gas halogen
berfungsi dalam mencegah terjadinya penghitaman pada
dinding bohlam lampu.
Filamen membutuhkan penyokong dalam bohlam karena
kontruksinya yang sedemikian rupa sehingga filamen tetap
dalam keadaan posisi lurus dalam bohlam. Biasanya penyokong
juga terbuat dari tungsten yang sama dengan bahan
filamennya sendiri

Jenis lampu
i. Lampu Halogen Berujung Ganda (Double Ended Halogen
Lamp)
Lampu ini biasa dipakai untuk lampu sorot, baik indoor
maupun outdoor. Dan tersedia dengan daya 200 W sampai
3000 W. Lampu ini hanya untuk pemasangan pada posisi
horizontal.
ii. Lampu halogen berujung tunggal (Single Ended Halogen
Lamp)
Lampu ini digunakan untuk penerangan di dalam ruangan
(indoor). Dapat dipasang dalam posisi sembarang

Armatur
Armatur untuk lampu halogen ini dapat digunakan untuk
penerangan indoor dan outdoor, ukurannya tergantung dari
wattase lampu yang dipasang di dalamnya. Misalnya ukuran
armatur lampu halogen 500 W tidak akan sama dengan ukuran
armatur untuk lampu halogen 1000 W dikarenakan perbedaan
ukuran panjang bohlam. Bentuk armatur lampu halogen jenis
berujung ganda untuk lampu sorot diperlihatkan oleh gambar
di bawah ini.

Penggunaan
Lampu halogen banyak digunakan di panggung (Stage Lighting)
ataupun studio untuk lampu sorot. Hal ini didasarkan pada
sifat-sifat yang dimiliki oleh lampu halogen yang dimana
pengaturan cahayanya (dimmer) lebih mudah dilakukan dan
ON/OFF dapat secara langsung, disesuaikan dengan kebutuhan
sistem penerangan panggung / studio yang diinginkan. Lampu
halogen juga digunakan untuk penerangan yang memerlukan
fisik lampu yang lebih kecil tetapi dengan fluks cahaya yang
tinggi (landasan pacu kapal terbang). Dengan alasan yang
sama lampu halogen juga banyak digunakan sebagai lampu
proyektor dalam overhead projector, lampu depan mobil,
dll

Lampu Floresen (TL)

Prinsip Kerja
Lampu floresen atau lebih dikenal dengan istilah lampu TL,
sudah dikembangkan sejak tahun 1980, lampu ini bekerja
menggunakan gas flour untuk menghasilkan cahaya, dimana
energi listrik akan membangkitkan gas di dalam tabung lampu
sehingga akan timbul sinar ultar violet. Sinar urtra violet itu
akan mebangkitkan phosphors yang kemudian akan bercampur
mineral lain yang telah dilaburkan pada sisi bagian dalam
tabung lampu sehingga akan menimbulakan cahaya. Phosphors
dirancang untuk meradiasi cahaya putih, sehingga sebagian
besar model jenis lampu ini berwarna putih.

Kontruksi
Kontruksi tabung lampu fluoresen ini terdiri dari gelas dimana
dinding bagian dilapisi serbuk phosphor sehingga tabung
kelihatan berwarna putih susu. Bentuk tabung lampu fluoresen
ada yang memanjang dan melingkar.
Panjang tabung lampu bervariasi tergantung besar daya, mulai
dari panjang 35 cm untuk yang 10 W sampai yang panjangnya
150 cm untuk 65 W. Pada kedua ujung tabung dipasang
filamen tungsten yang dilapisi suatu bahan yang dapat
beremisi, biasanya terdiri dari barium, strontium, dan
calcium. Untuk lampu tabung (Discharge Lamps) filamen ini
disebut juga elektroda, karena salah satu dari filamen harus
berfungsi sebagai katoda dan yang lainnya anoda. Ke dalam
tabung dimasukkan merkuri dan gas argon, yang dimana
merkuri akan berfungsi untuk menhasilkan radiasi ultraviolet.
Sedangkan gas argon berfungsi untuk keperluan start.

Kontruksi tabung lampu fluoresen

Rangkaian lampu TL

Armatur
Berdasarkan arah cara pemasangannya, armatur lampu
fluoresen dibagi menjadi 2 macam. Pertama, armatur yang
terpasang langsung pada plafon (surface mounted). Yang
berarti lampu fluoresen beserta armaturnya merupakan bagian
dari plafon. Kedua, armatur lampu yang digantungkan, dimana
tinggi lampu dari bidang kerja dapat diatur dan disesuaikan
dengan keperluan.
Banyaknya tabung lampu dalam setiap armatur bervariasi,
mulai dari satu tabung sampai dengan empat tabung.
Beberapa jenis armatur lampu fluoresen dapat dilihat dari
gambar berikut :

I. Dengan satu tabung terbuka


II. Dengan dua tabung terbuka
III. Dengan satu tabung terbuka
IV. Dengan satu tabung tertutup
V. Dengan dua tabung tertutup
Vi. Dengan dua tabung ke bawah

Penggunaan
Penggunaan lampu fluoresen didasarkan pada kelebihan-
kelebihannya, yaitu warna cahaya yang lebih menarik, efficacy
yang tinggi dan umur yang panjang. Karena itu lampu
fluoresen banyak digunakan untuk penerangan yang
memerlukan ketiga aspek tersebut, misalnya toko, kantor,
sekolah, industri, rumah sakit, atau bahkan untuk penerangan
jalan kecil di perkampungan.
Lampu Mercury

Prinsip Kerja
Prinsip kerja lampu merkuri sama dengan prinsip kerja lampu
fluoresen, yaitu cahaya yang dihasilkan berdasarkan
terjadinya loncatan elektron (electron discharge) didalam
tabung lampu.

Kontruksi
Lampu merkuri terdiri dari dua tabung, yaitu tabung dalam
(arc tube) dan tabung luar atau bohlam (bulb). Lampu merkuri
dengan bohlam bentuk elips cocok bila digunakan untuk
penerangan bidang kerja (downward lighting) di industri
dimana situasi kerja berdebu.

Cara Kerja
Lampu merkuri terdiri dari tabung dalam dan tabung luar.
Tabung dalam diisi merkuri untuk menghasilkan radiasi
ultraviolet dan gas argon yang berfungsi untuk keperluan
start. Sedangkan bohlam luar berfungsi sebagai rumah tabung
dan menjaga kestabilan suhu di sekitar tabung. Lampu merkuri
ini bekerja pada faktor daya yang rendah, oleh karena itu
harus menggunakan kapasitor untuk memperbaiki faktor daya
lampu.

Armatur
Bentuk armatur lampu merkuri tergantung jenis penggunaan
lamnpu yang bersangkutan. Armatur untuk penerangan jalan
berbeda dengan armatur untuk penerangan industri dan
seterusnya.
Berdasarkan jenis penggunaannya, armatur lampu merkuri
dapat dibagi menjadi 4 kelompok :

i. Armatur penerangan jalan


ii. Armatur penerangan taman
iii. Armatur penerangan industri
iv. Armatur penerangan sorot

Jenis Lampu Mercury


i) Lampu merkuri fluoresen
ii) Lampu merkuri reflektor
iii) Lampu merkuri blended
iv) Lampu merkuri halide (Metal Halide Lamp)

Lampu Sodium Tekanan Rendah (SOX)

Prinsip Kerja
Lampu SOX ini termasuk dalam kelompok lampu tabung
(discharge lamp). Oleh karena itu, prinsip kerja lampu ini
sama dengan prinsip kerja lampu tabung lainnya. Yaitu
berdasarkan terjadinya pelepasan elektron (electron
discharge) dalam tabung gas (arc tube). Tujuan dibuatnya
lampu sodium tekanan rendah adalah untuk mencapai efficacy
yang setinggi-tingginya, yaitu sampai 200 lm/watt.

Kontruksi
Tabung dalam berbentuk U dan di kedua ujungnya terpasang
elektroda yang biasanya terdiri dari filamen tungsten. Untuk
menjaga dinding tabung dari kerusakan akibat tekanan uap
sodium maka tabung gas dibuat dari gelas lime borate
khusus yang tahan terhadap tekanan uap sodium. Ke dalam
tabung gas dimasukkan campuran gas argon dann neon, dan
logam murni sodium. Gas argon dan neon dimaksudkan untuk
keperluan penyalaan awal, sedangkan logam sodium
dimaksudkan untuk menghasilkan cahaya kuning.

Cara Kerja
Jika rangkaian lampu dihubungkan terhadap sumber arus
bolak-balik, maka arus akan mengalir melalui ballast dan
seterusnya ke lampu. Pada saat yang sama argon dan neon
yang ada dalam tabung gas akan bekerja untuk menaikkan
temperatur dalam tabung gas, dalam tahap ini lampu akan
mengeluarkan cahaya kemerah-merahan. Setelah beberapa
menit, panas dalam tabung gas akan mencapai temperatur
tertentu sehingga sodium yang ada dalam tabung gas akan
berubah menjadi uap (vapour). Dengan demikian pelepasan
elektron yang terjadi melalui uap sodium akan menghasilkan
cahaya yang sebenarnya, yaitu cahaya kuning.

Armatur
Karena karakeristik lampu sodium tekanan rendah sedemikian
rupa, warna cahaya kuning, posisi pemasangan harus
horizontal, dan bentuk tabung yang memanjang, maka praktis
lampu ini hanya sesuai untuk penerangan jalan
Armatur penerangan jalan mempunyai ciri khas tersendiri,
yaitu intensitas cahaya yang dipancarkan ke samping kiri dan
kanan adalah lebih besar daripada ke bawah. Hal inilah yang
memungkinkan pemasangan lampu jalan dapat menempuh
jarak yang cukup jauh yaitu 40-60 m.
Setiap armatur dapat berisikan lebih dari satu lampu
tergantung jenis armaturnya. Umumnya, peralatan bantu
lampu seperti ballast, starter atau ignitor, dan kapasitor
perbaikan faktor daya ditempatkan di dalam armatur.
Berikut contoh gambar armatur lampu sodium tekanan rendah
(SOX)

Penggunaan
Alasan utama untuk penggunaan lampu SOX adalah
penghematan enrgi listrik dan jika colour rendering tidak
menjadi masalah. Lampu SOX mempunyai efficacy sampai 200
lm/watt, sedangkan lampu pijar hanya12 lm/watt dan lampu
merkuri yang memiliki efficacy sampai 90 lm/watt. Jadi,
lampu ini dapat menghemat energi listrik daripada lampu
lainnya karena memiliki efficacy yang paling tinggi. Kelebihan
lain lampu SOX adalah mempunyai umur yang panjang sampai
12.000 jam, tingkat kesilauan rendah, ketajaman penglihatan
(visual acuity) baik, dan juga dalam situasi berkabut atau
musim hujan cahaya lampu SOX ini akan lebih dapat
menembus dibandingkan cahaya lampu-lampu listrik lainnya.
Sehingga pilihan utama untuk penerangan jalan pada daerah
berkabut atau berhujan adalah lampu sodium tekanan rendah
(SOX).
Sedangkan warna objek yang disinari lampu SOX ini akan
berwarna kuning atau hitam, hal inilah yang yang menjadi
kekurangan lampu ini sehingga tidak digunakan untuk
penerangan yang memerlukan colour rendering yang baik.
Berdasarkan kelebihan-kelebihan dan kekurangannya, maka
lampu sodium tekanan rendah sesuai digunakan untuk
penerangan jalan-jalan bebas hambatan, jalan-jalan utama
menuju luar kota, dan sejenisnya yang tidak mengutamakan
colour rendering, dan khususnya pada daerah-daerah yang
berkabut dan berhujan.

Lampu Sodium Tekanan Tinggi (SON)

Prinsip Kerja
Lampu sodium tekanan tinggi sering juga disebut lampu SON.
Prinsip kerjanya sama dengan prinsip kerja lampu sodium
tekanan rendah, yaitu berdasarkan terjadinya pelepasan
elektron di dalam tabung lampu. Sesuai dengan namanya,
lampu ini mempunyai tekanan gas di dalam tabung kira-kira
1/3 atmosper (250mm merkuri), dibandingkan dengan tekanan
gas dalam lampu sodium tekanan rendah yang kira-kira hanya
10-3 mm merkuri. Disamping itu, temperatur kerja tabung
lampu sodium tekanan tinggi juga lebih tinggi.

Kontruksi
Lampu sodium tekanan tinggi terdiri dari dua tabung, yaitu:
i. Tabung Gas (arc tube)
Terbuat dari bahan yang tahan terhadap tekanan uap sodium
yang harus bekerja pada temperatur tinggi, misalnya stellox
ke dalam tabung gas dimasukkan sodium, merkuri yang
berfungsi untuk menaikkan tekanan gas dan tegangan kerja
lampu sampai batas tertentu, dan xenon untuk keperluan gas
start.
ii. Bohlam (bulb)
Terbuat dari gelas yang sama sekali terpisah dari udara luar
yang berfungsi untuk mencegah tabung gas terhadap
kerusakan akibat bahan kimia dan juga berfungsi untuk
mempertahankan kekonstanan temperatur tabung gas.

Cara Kerja
Lampu ini tidak mampu distart dengan tegangan nominal 220
Volt, maka dibutuhkan tegangan tinggi dan frekuensi tinggi
sesaat. Gas xenon terionisasi untuk memulai terjadinya
pelepasan elektron dalam tabung gas sampai mencapai
temperatur kerja yang dibutuhkan. Periode pemanasan ini
dapat berlangsung hingga kira-kira 10 menit karena tekanan
uap merkuri-sodium awalnya sangat rendah sekali yang tidak
dapat menjadikan pelepasan elektron dalam tabung gas.
Setelah lampu bekerja normal, merkuri tidak akan tercapai
yang menjadikan merkuri memancarkan cahaya.
Lampu sodium tekanan tinggi mempunyai dua jenis starter,
yaitu starter jenis snap yang bekerja berdasarkan panas
yang terdiri dari bimetal dengan kontak tertutup dan sebuah
kumparan pengontrol temperatur bimetal, dan starter jenis
solid state adalah start lampu lebih dapat dipercaya dan
dapat secara langsung, baik penyalaan awal maupun
penyalaan kembali.

Armatur
Jenis armatur lampu sodium tekanan tnggi sesuai dengan jenis
penggunaannya, misalnya armatur penerangan jalan, armatur
penerangan industri, armatur penerangan sorot, dll. Untuk
penggunan yang sama, bentuk dan konstruksi armatur lampu
sodium tekanan tinggi sama dengan armatur lampu merkuri.
Hal ini dapat terjadi karena bentuk lampu sodium tekanan
tinggi sama dengan bentuk lampu mercury.
i. Armatur penerangan industri
ii. Armatur penerangan jalan
iii. Armatur penerangan sorot

Penggunaan
Penggunaan lampu sodium tekanan tinggi didasarkan pada
sifat-sifat yang dimilikinya. Lampu ini memiliki efficacy yang
tinggi (90-120 lm/watt), umur yang tinggi (12.000-20.000
jam), tetapi mempunyai colour rendering yang kurang baik
(CRI hanya 26). Oleh karena itu, lampu sodium tekanan tinggi
digunakan untuk penerangan jalan.
Karena colour rendering lampu sodium tekanan tinggi kurang
baik dimana perubahan warna objek yang disinari sangat besar
dan warna cahayanya (colour appearance) putih keemasan
(yellowish) yang kurang memberi keindahan, maka
penggunaan lamnpu ini untuk penerangan jalan yang
berpenghuni kurang sesuai. Tetapi sesuai digunakan untuk
penerangan jalan bebas hambatan, jalan utama, jalan menuju
luar kota, penerangan highmast untuk jalan besar atau
persimpangan jalan bertingkat , dll yang tidak menuntut
colour rendering yang baik.

Jenis lampu SON


i. Berbentuk elips
ii. Berbentuk tubular

Lampu Light Emitting Diode (LED)

Prinsip kerja
Sebuah LED adalah sejenis dioda semikonduktor istimewa.
Seperti sebuah dioda normal, LED terdiri dari sebuah chip
bahan semikonduktor yang diisi penuh, atau di-dop, dengan
ketidakmurnian untuk menciptakan sebuah struktur yang
disebut p-n junction. Pembawa-muatan - elektron dan lubang
mengalir ke junction dari elektroda dengan voltase berbeda.
Ketika elektron bertemu dengan lubang, dia jatuh ke tingkat
energi yang lebih rendah, dan melepas energi dalam bentuk
photon.
Panjang gelombang dari cahaya yang dipancarkan, dan oleh
karena itu warnanya, tergantung dari selisih pita energi dari
bahan yang membentuk p-n junction. Sebuah dioda normal,
biasanya terbuat dari silikon atau germanium, memancarkan
cahaya tampak inframerah dekat, tetapi bahan yang
digunakan untuk sebuah LED memiliki selisih pita energi
antara cahaya inframerah dekat, tampak, dan ultraungu
dekat.

LED biru pertama yang dapat mencapai keterangan komersial


menggunakan substrat galium nitrida yang ditemukan oleh
Shuji Nakamura tahun 1993 sewaktu berkarir di Nichia
Corporation di Jepang. LED ini kemudian populer di
penghujung tahun 90-an. LED biru ini dapat dikombinasikan ke
LED merah dan hijau yang telah ada sebelumnya untuk
menciptakan cahaya putih.
LED dengan cahaya putih sekarang ini mayoritas dibuat dengan
cara melapisi substrat galium nitrida (GaN) dengan fosfor
kuning. Karena warna kuning merangsang penerima warna
merah dan hijau di mata manusia, kombinasi antara warna
kuning dari fosfor dan warna biru dari substrat akan
memberikan kesan warna putih bagi mata manusia.
LED putih juga dapat dibuat dengan cara melapisi fosfor biru,
merah dan hijau di substrat ultraviolet dekat yang lebih
kurang sama dengan cara kerja lampu fluoresen.
Metode terbaru untuk menciptakan cahaya putih dari LED
adalah dengan tidak menggunakan fosfor sama sekali
melainkan menggunakan substrat seng selenida yang dapat
memancarkan cahaya biru dari area aktif dan cahaya kuning
dari substrat itu sendiri.