Anda di halaman 1dari 9

Melatih bayi belajar bicara sejak dini akan melatih membantu kemampuan komunikasi dan

interaksi sosial anak dengan lingkungan. Apa yang kita katakan, akan tersimpan dalam
memorinya dan suatu saat anak akan meniru apa yang dia dengarkan, baik yang di ajarkan
orang tua maupun oleh orang-orang di sekitarnya. Satu hal yang paling penting adalah
mengajarkan anak bicara dengan kata-kata yang positif, meskipun dia belum bisa bicara,
karena ini akan mengasah rasa percaya diri mereka. Berikut Di bawah ini tips mengajar si
kecil berbicara:

. Ajak bayi berbicara sesering mungkin, sejak dini, meskipun dia belum waktunya berbicara.

. Bicaralah dengan menggunakan suara yang lembut, karena mereka lebih suka mendengar
suara yang lembut.

. Selalu berbicara perlahan dan jelas padanya. Jangan lupa untuk melakukan kontak mata
dengan si kecil.

. Saat kita sedang bermain dengan di kecil, sebaiknya matikan radio atau televisi.Suara radio
dan televidi bisa mengacaukan konsentrasinya.

. Pilihlah kalimat sederhana.

. Ajukan pertanyaan yang memancing jawaban lebih dari satu suku kata. Mungkin
jawabannya tidak jelas, tapi kita harus tetap menghargainya dan menunggu responnya.

. Ajaklah si kecil bermain. Mengajarinya berbicara bisa melalui permainan, misalnya ciluk
ba, bermain tebak -tebakan,atau juga melalui kegiatan sehari-harinya, dari mandi, makan,
berjalan-jalan, dll.

. Cari kata yang mudah untuk memahaminya.

. Ulangi apa yang dia katakan, atau yang sedang di coba mengatakannya.Ini akan
memperjelas maknanya.

. Hindari bicara kasar dan buruk di depan mereka.Karena apa yang kita ucapkan akan
tersimpan di memori otak anak, dan suatu saat kata-kata buruk dan kasar akan di tiru oleh
mereka.

. Beri dia perhatian pada bayi jika dia mulai mengoceh.Tatap matanya seolah kita tahu apa
yang sedang di ucapkannya. Ini akan membuat mereka senang untuk berbicara.

. Beri tanggapan untuk ocehannya, ingat ,selalu gunakan bahasa yang benar,dan tidak di
cadel-cadelkan.

. Jangan menyalahkan apa yang dia katakan. Ulangi apa yang mereka sampaikan meskipun
salah dengan kata yang benar dan berulang-ulang.

. Kenalkan bayi pada di rinya sendiri, misalnya menunjukan mana mata, hidung, telinga,dll.

. Kenalkan juga pada benda-benda sekitar {kursi,l ampu, dll} dan juga orang-orang di
sekitarnya {kakek, nenek, dll}.
. Ceritakan kegiatan yang sedang kita lakukan, misalnya: memandikan bayi, membacakan
cerita, membuat susu,dll.

. Putarkan lagu anak-anak sambil turut serta bernyanyi.lebih baik lagi jika kita ikut menari
dan bergoyang-goyang sambil bertepuk tangan.

. Bacakan buku cerita. Pilih buku cerita dengan gambar yang menarik. Gambar yang
berwarna-warni akan membuat si kecil semakin tertarik.

. Tanggapi kemampuan atau perilakunya dengan positip. Misalnya jika dia bisa mulai
tengkurap, puji dia jika dia bisa menghabiskan makanannya,beri dia ciuman,dll.

. Lihat respon si kecil saat di ajak bicara,jika mereka masih memperhatikan kita, dapat terus
di ajak bicara.Tetapi jika tidak dan mulai memperhatikan ke hal lain,kita basa memperhatikan
waktu berbicara untuk sementara,dan di ulang lagi di lain waktu. Mungkin saja si kecil
mulai bosan dan jangan di paksa.

Intinya: banyak-banyaklah berbicara pada si kecil. Makin banyak stimulasi yang kita berikan,
maka semakin cepat pula dia mengembangkan kemampuan berbicaranya.

Banyak sekali Mommies baik yang berdomisili di dalam maupun di luar negeri yang
berusaha agar anak- anak mereka jangan sampai telat kemampuannya dalam berbicara.
Rupanya, penggunaan bahasa kedua di luar bahasa Ibu yang semakin membudaya, seiring
dengan banyaknya TBA atau play-group yang mengajarkan bahasa Inggris di Ibukota dan
sekitarnya, menambah rasa ingin tahu para Mommies mengenai Speech Delay.

Sementara bagi Mommies yang berdomisili di luar negeri masalah ini menjadi tantangan
utama karena bahasa yang dipakai di dalam rumah, dengan bahasa di luar rumah dan televisi
berbeda, sehingga seringkali anak-anak memerlukan waktu hingga dapat berbicara secara
lancar dalam masing-masing bahasa.

Seorang Mommy yang mempunyai anak berumur 22 bulan, mengeluh karena sampai seumur
ini baru bisa berbicara satu dua tiga patah kata. Mommyyang sudah khawatir sejak lama,
sudah memeriksakan anak tercinta ke berbagai dokter dan klinik di Jakarta. Dari Klinik
Tumbuh Kembang di RS Bunda, Play-Art Gymboree, Klinik TUmbuh Kembang THT
Proklamasi, Speech Therapy Kemang, Klinik Tumbuh Kembang RS Pondok Indah,
kesemuanya memberikan komentar yang berbeda. Meskipun DSAnya menyatakan bahwa
keseluruhan evaluasi anak baik, sang Mommy masih merasa khawatir. Speech therapisnya
hanya mengatakan bahwa sang anak memerlukan latihan dan stimulasi. Sedangkan seorang
dokter di RS PI mengatakan hanya memerlukan kelas behavior bagi anak
di bawah umur 3 tahun. Kelas speech therapy baru diperlukan bila usia anak sudah melebihi 3
tahun namun masih belum bisa berbicara. Sementara banyak yang menyarankan sang
Mommy untuk memasukkan anaknya ke pre-school begitu mencapai usia 2 tahun.

Sharing pengalaman dan pendapat serta saran dari para Mommies dari berbagai penjuru dunia
terbagi menjadi dua:
1. Agar Mommy bersabar menunggu sampai anak berusia 3 tahun, sampai jelas apakah anak
memang mempunyai masalah dalam berbicara, baru memutuskan untuk memberikan
speech therapy pada anak. Agar jangan buru-buru memberi label speech delay kepada anak,
mengingat usianya yang masih di bawah 2 tahun, dan masih terbuka banyak kemungkinan
bahwa sang anak tidak menderita speech delay.
2. Agar Mommy waspada akan kemungkinan speech delay pada sang anak dan segera mencari
cara untuk mengatasi permasalahan ini sesegera mungkin. Masalah apapun perlu ditangani
secara serius meskipun tetap dengan kepala dingin. Kalau memang memerlukan
terapi,sebaiknya sesegera mungkin memberikan terapi kepada anak. Meskipun batas bagi
pemberian diagnose speech delay pada anak adalah hingga berusia 5 tahun, namun bila
sejak usia 2 tahun segera diterapi, akan lebih memudahkan anak dan terapisnya untuk
mencari cara penanggulangan

BAGAIMANA CARA MENGETAHUI SPEECH DELAY PADA ANAK?

Dari sebuah artikel dari American Association of Family Physician yang dikirimkan oleh
seorang Mommy, yang dapat dilihat aslinya pada
http://www.aafp.org/afp/990600ap/990600d.html/Speech,

Kita dapat melihat apakah anak kita sudah dapat melakukan hal-hal sbb:

1. Mengucapkan perulangan suku kata antara umur 12-15 bulan.


2. Mengerti kata-kata sederhana ( seperti tidak dan stop) setelah mencapai umur sekitar
18 bulan
3. Berbicara dengan kalimat pendek setelah mencapai umur sekitar 3 tahun.
4. Bercerita mengenai cerita sederhana saat berumur antara 4-5 tahun.

Penyebab timbulnya speech delay pada anak:

1. Kehilangan pendengaran
2. Kelambatan perkembangan anak
3. Mental Retardasi
4. Penyebab lainnya, a.l: bilingual (memakai 2 bahasa utama di dalam rumah), terlantar secara
psikologis (anak tidak mendapatkan cukup waktu untuk berbicara dengan orang dewasa),
anak kembar, autis (masalah pada otak), anak tidak mau berbicara, CP/cerebral palsy
(kelainan dalam pergerakan tubuh karena kerusakan otak)

Dokter memeriksa kemampuan anak dalam berbicara dan juga memeriksa perkembangan
mental anak. Anak juga akan mendapat tes pendengaran untuk memastikan apakah anak
mempunyai masalah dengan pendengaran atau tidak. Menurut artikel ini, bila anak ternyata
didiagnose dengan speech delay, dokter akan memberikan pengobatan disesuaikan dengan
penyebabnya.Kadangkala ada anak yang tidak memerlukan pengobatan, karena beberapa
anak hanya memerlukan waktu yang lebih lama untuk mulai berbicara.

Dokter akan menjelaskan penyebab dari speech delay anak, dan menjelaskan cara-cara
pengobatan yang dapat memperbaikinya. Seorang speech dan language patologis akan
membantu di dalam
perencanaan pengobatan. Ia juga dapat memperlihatkan cara bagaimana membuat anak
berbicara lebih banyak dan lebih baik.
Ahli medis lain yang dapat membantu a.l:
audiologis (dokter pendengaran), psikolog (specialis dalam masalah sikap/behavior),
okupasional therapis (akan mengajarkan cara mendengar dan membaca bibir ) dan pekerja
sosial (membantu masalah keluarga). Dokter keluarga akan merefer kepada ahli yang
diperlukan.

Diskusi kemudian berkembang kepada cara-cara menstimulasi anak agar lancar berbicara.
Mommies yang menyumbangkan saran baik dari sudut psikologis, kedokteran, maupun
sebagai orang tua dari
anak yang mempunyai masalah yang hampir serupa, menyarankan hal-hal sebagai berikut :

1. Mengetahui apa itu speech delayed (SD) = bandingkan dengan tahapan perkembangan dari
ahli (nanti akan dimuat di web infoterapi) atau bandingkan dgn anak seusianya.
2. SD bisa merupakan indikasi gangguan yang lebih serius: autism spectrum disorder (ASD),
keterbelakangan mental, gangguan belajar, dsb. Tetapi bisa juga benar-benar cuma
developmental delayed atau keterlambatan perkembangan anak.
3. Anak SD perlu STIMULASI. Stimulasi bisa diperoleh dari tempat terapi atau dilakukan di
rumah. Lebih ideal lagi bila dilakukan keduanya. ENGAGEMENT (keterlibatan emosi,
interaksi) adalah hal yang perlu dijalin pertama kali. (Berbeda dengan sistem terapi lama
yang menekankan pada kepatuhan). Stimulasi di tempat terapi saja tidak cukup (2-3 jam
seminggu). Namun, terapi di rumah saja juga ada kekurangannya orang tua perlu
mengetahui cara-cara mendekati anak, materi kurikulum, sarana/alat terapi, dll. Idealnya
kedua cara tersebut digabung. Orang tua harus hadir saat terapi (Singapura mewajibkan
hadir oang tua saat terapi, tanpa kehadiran orang tua tak ada terapi).Terapi wicara
sebenarnya adalah latihan oral motor (bibir, rahang, dsb) di Indonesia masih bercampur
antara terapi wicara dengan isi ABA, dan terapi okupasi. Sehingga masih diperlukan supervisi
dari
4. Berbicara tidak sama dengan komunikasi. Cobalah cek apakah anak dapat menceritakan
kembali pengalaman yang dilaluinya. Apakah anak dapat mengerti bila dibacakan cerita dan
dapat menceritakan kembali dengan bahasa yang sederhana? Bila anak dapat melakukan
semua itu, berarti tidak ada masalah dalam pengertian dan kemampuan bicara anak.

orang ke tiga yang akan memantau kemajuan terapi.

ANAK BERBAKAT NAMUN MEMILIKI MASALAH BERBICARA ?

Satu hal yang menarik diutarakan oleh seorang Mommy yang mempunyai anak yang
bermasalah dengan kemampuan berbicaranya, namun setelah ditelusuri ternyata sang anak
tercinta memiliki intelejensia yang sangat tinggi. Menurut sang Mommy, sampai saat ini
kajiannya belum ada, jadi anak- anak late talker yang ternyata kelaknya diperkirakan akan
berkembang dan bicara tanpa bantuan terapi namun ternyata mengalami learning disabilities,
tidak terlacak sejak awal. Banyak kasus saat ini, anak ternyata sudah cerewet tetapi jika
diajak bicara sulit menjawab. Dalam pelajaran matematika baik, tetapi kesulitan dalam
pelajaran bahasa. Dalam pelajaran dengan menggunakan analisis baik, tetapi sulit dalam
pelajaran menghapal.

Kajian untuk kelompok anak seperti ini di Indonesia belum ada. Tapi kelompok
pemerhatinya sudah banyak. Indonesia agak ketinggalan memang, sayang sekali. Padahal
kelompok anak yang late
talker, semuanya oke termasuk inteligensianya, namun tetap termasuk juga sebagai kelompok
anak berresiko. Resikonya (tergantung dari perkembangannya) adalah kelak akan mengalami
learning
disabilities (gangguan belajar) perkembangan sosial khusus (lebih introvert), atau kesulitan
lainnya selama di sekolah, kerja tim, dan bermain.

Keterlambatan bicara dengan inteligensia normal sampai tinggi, bisa ditelusuri dalam
bahasan Centrum Auditory Processing Disorder (CAPD) bagian dari otologi-neurologi,
ataupun THT. Di berbagai Universitas di Indonesia belum ada yang sanggup melakukan
deteksinya. Karena CAPD ini juga mempunyai spektrum mulai dari ringan sampai berat.
Tetapi penelitiannya di berbagai negara sudah mulai banyak, bahkan beberapa negara sudah
punya pusat kajiannya. Bagaimana terapi dan stimulasinya juga sudah mulai banyak
dibicarakan. Mailing listnya juga sudah mulai banyak.

Mommy dengan anak berbakat ini menyampaikan, bahwa anak tercintanya. sampai umur satu
setengah tahun bisa berbicara banyak, bisa berhitung, bisa bernyanyi macam-macam
namun lama-lama bukannya malah berkembang tapi malah mundur, baru berbicara lagi mulai
umur 3 dan baru bisa berkomunikasi dua arah umur 5 tahun. Pernah mengikuti speech terapi
mulai umur 5,5 selama dua tahun. Sekalipun bisa komunikasi tapi toh ada gangguan dalam
kemampuan ekspresi verbalnya.

Di dalam kelompok seperti anak berbakat ini banyak yang harus menerima speech terapy,
dan mengalami gangguan belajar yang disebabkan karena kemampuan pengertian bacaan
tidak memadai.Meskipun mempunyai inteligensia normal sampai tinggi, tetapi mengalami
kelainan perkembangan komunikasi (communication development disorder) . Penyebabnya
bukan karena kurang stimulasi lingkungan, bukan karena pendengaran terganggu, bukan
karena oral motornya terganggu, tetapi gangguan proses informasi di bagian otak yang
mengatur pengolahan informasi dan bentuk gangguan komunikasi ekspresif.

Berbicara dalam Kongres autisme yang diadakan oleh IDAI/IDAJI/PERDOSI dua tahun lalu ,
sang Mommy melakukan pertemuan- pertemuan dengan para orang tua late talker. Ada 4
(empat) anak anak
yang semula mulai bicara tetapi ternyata perkembangannya tidak ada. Mereka didiagnosa
dengan autisme. Ternyata waktu di atas umur 5 tahun mereka keluar dari kriteria autisme,
tetapi tetap tidak bisa bicara. Mereka dinyatakan Afasia (tidak bisa bicara) dan kemampuan
bicaranya sulit sekali, kosa kata tidak berkembang, cenderung jika dalam bahasa
Indonesianya dikategorikan sebagai gagu.

Karena perkembangan seorang anak sulit kita ramal kedepannya. Saran dari Mommy ini
adalah untuk selalu siap memperhatikan, siap mendukung dan menstimulasi diri anak agar
perkembangannya tidak melenceng jauh. Ada anak yang mempunyai perkembangan diri yang
lambat, ada yang normal, ada justru sangat cepat. Ada yang simultan secara harmonis
berkembang secara bersamaan, ada yang
satu aspek perkembangan maju cepat tetapi aspek lain tertinggal.

Sumber: balita-anda
CARA MENDIDIK ANAK

Mendidik Anak agar menjadi anak yang baik segalanya mungkin adalah hal yang sulit bagi
sebagian orangtua, terlebih jika anak itu telah mengetahui lingkungan dan kondisi
sekitarnya. Berbagai cara mungkin telah dilakukan oleh anda namun hasilnya belum
maksimal. Ya ini dikarenakan Cara Mendidik Anda yang mungkin salah ketika anak itu
masih belum mengenal lingkungan.

Anak sangat mudah mengikuti perkembangan dilingkungannya, cara bicara, kondisi psikis,
kondisi dan berbagai kondisi sangat mudah di ingat dalam pikiran anak walau anak itu
sebenarnya belum bisa berinteraksi dengan lingkungan. Oleh karena itu berhatilah anda jika
sedang dekat dengan anak anda yang masih kecil, berhati-hati gimana? Berhati-hati untuk
tidak berbicara kasar, berhati-hati untuk tidak meluapkan emosi, berhati-hati untuk tidak
membiasakan bergombal dan bergosip dengan orang lain di depan anak anda. Karena itu
akan direkamnya dan ingatannya kuat hingga anak itu muncul dewasa dan meniru yang
anda lakukan dulunya didepan anak anda.

Mendidik Anak bukanlah perkara yang mudah sehingga jika anda orangtua baru anda pertu
benar-benar memperhatikan anak anda, karena waktu itulah anak akan merekam kondisi
psikis dan tingkah anda.

Cara Mendidik Anak yang Benar sehingga anak anda dikategorikan sebagai anak yang baik
segalanya, yakni baik dalam tingkahnya, baik dalam sikap dan pikirannya, baik dalam
pikiran dan fisiknya, baik dalam fisik dan hatinya.

Namun jika sudah terlanjur anak anda bersikap tidak seperti yang anda impikan dulu,
misalnya anak anda telah mengetahui uang sehingga meminta uang terus untuk belanjanya
(beli makanan atau barang di warung) yang berlebihan, atau anak anda susah untuk
didiamkan, anak anda nakal berlebihan atau lainnya.

Baiklah, sebelumnya anda harus tahu bahwa seorang anak nakal itu biasa karena mereka
belum mengetahui yang benar dan salah, namun jika nakalnya berlebih maka anda harus
mencari cara mendidik anak yang benar sehingga anak anda tidak terlalu nakal dan
tentunya mudah untuk di atur sehingga akan bertumbuh kembang dengan baik sesuai
dengan harapan anda untuk kebaikan anak anda.

Berikut cara mudah Mendidik Anak dengan cepat agar tidak nakal:

Berikan perhatian anda untuk anak anda dalam segala hal yang memang anak anda
butuhkan, namun jangan berlebihan karena berlebihan inilah yang akan direkam
anak anda sehingga akan berus meminta lebih dari anda.
Jangan biarkan anak anda mengenal lingkungan luar tanpa sepengetahuan anda,
karena inilah faktor yang cukup besar merubah sifat anak anda.
Berikanlah video atau rekaman hal baik yang dilakukan orang lain, bukan film anak
yang sekarang ada di TV, seperti kartun atau lainnya yang cenderung membawakan
sifat malas, pemarah dan brontak.
Jangan sampai anda memberikan anak anda uang, jika bisa anda tidak boleh
memberikan uang jika anak itu tidak membutuhkannya, cukup anda berikan barang
bukan uangnya.
Bersikaplah keras dalam membimbing anak anda.
Tunjukan sayang anda kepada anda anda dengan acuh tak acuh, namun anda harus
tetap memperhatikan tingkah laku anak anda.
Jangan pernah jadikan anda atau keluarga anda sebagai tempat perlindungan ketika
dia anda marahi, hilangkan perlindungan jika anak anda salah, namun ingat anda
tetap harus menyayanginya.
Jangan anda memanjakan anak anda walaupun anda benar menyayanginya.

Itu bebarapa cara mendidik anak dengan benar sehingga anak anda akan baik disegalanya.
Cara ini telah saya terapkan kepada keponakan saya dan hasilnya,

Kesalahan-kesalahan dalam Mendidik Anak

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam
mendidik anak Anda :

1. Kurang Pengawasan

Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies


Universitas Indiana, Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga,
dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua. Nah sekarang tahu
kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah,
usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi
berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana
sendirian. Anak Anda butuh perhatian.

2. Gagal Mendengarkan

Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian
cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan, contohnya Aisyah pulang
dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut
secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya.
Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang
menceritakannya.

3. Jarang Bertemu Muka

Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan
anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk
mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan
Anda.

4. Terlalu Berlebihan

Menurut Judy Haire, banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan
rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka. Anak perlu waktu sendiri untuk
merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.

5. Bertengkar Dihadapan Anak

Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah
bertengkar dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya
anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak
dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan
diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua
berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman
dan ketakutan pada anak.

6. Tidak Konsisten

Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon
dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.

7. Mengabaikan Kata Hati

Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan
biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan.
Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam
tentang sesuatu.

8. Terlalu Banyak Nonton TV

Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3
jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar.
Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu
aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif
yang tidak mendidik.

9. Segalanya Diukur Dengan Materi


Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, anak sekarang mempunyai banyak
benda untuk dikoleksi. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang
mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time
bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi
sesuatu dan diam.

10. Bersikap Berat Sebelah

Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil
menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung
terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit
disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang
tidak dapat diinterupsi.