Anda di halaman 1dari 11

Secara kodrati, manusia diciptakan berpasang-pasangan (Q.S.

Ar-Ruum : 21) dengan harapkan


mampu hidup berdampingan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dari sini tampak bahwa sampai
kapan pun, manusia tidak mampu hidup seorang diri, tanpa bantuan dan kehadiran orang lain.

Salah satu cara yang dipakai untuk melambangkan bersatunya dua insan yang berlainan
jenis dan sah menurut agama dan hukum adalah pernikahan. Masing-masing daerah mempunyai
tata upacara pernikahannya sendiri-sendiri. Dalam bahasan ini, penulis akan mencoba
mendeskripsikan tata upacara pernikahan adat Jawa dipandang dari sudut pandang semiotika.

B. PEMBAHASAN
Budaya Jawa merupakan salah satu kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia yang di
dalam tradisinya memiliki nilai-nilai keluhuran dan kearifan budaya yang menjadi ciri khas
masyarakat Jawa. Setiap tradisi dalam masyarakat Jawa memiliki arti dan makna filosofis yang
mendalam dan luhur, yang mana tradisi ini sudah ada sejak zaman kuno saat kepercayaan
masyarakat Jawa masih animisme-dinamisme dan tradisi-tradisi Jawa ini semakin berkembang
dan mengalami perubahan-perubahan seiring masuknya agama Hindu-Budha hingga Islam ke
tanah Jawa.

Dalam arti sempit, tradisi adalah kumpulan benda material dan gagasan yang diberi
makna khusus dan berasxal dari masa lalu. Di dalam tradisi Jawa tersebut khas dengan adanya
sesaji yang dibuat berdasarkan kegunaan masing-masing yang mempunyai makna dan tujuan
berbeda satu sama lain. Dalam adat istiadat masyarakat Jawa, sesaji atau biasa disebut dengan
sajen adalah sajian yang berupa makanan, hewan atau buah-buahan yang dipersembahkan
kepada arwah leluhur serta kekuatan gaib yang ada dalam upacara yang diselenggarakan.
Tradisi dalam masyarakat Jawa masih mengenal sesaji. Bahkan sampai sekarang masih
ada banyak masyarakat Jawa yang meneruskan tradisi sesaji. Namun yang telah menjadi tradisi
masyarakat Jawa ini, oleh masyarakat modern dianggap klenik, mistik, irasional, dan segala jenis
sebutan lain yang di anggap miring atau negatif. Hanya ada beberapa saja yang menganggap
sesaji sebagai manifestasi lain dari sebuah doa.
Ada bermacam-macam sesaji dalam kehidupan masyarakat Jawa sesuai dengan upacara
yang diselenggarakan, salah satunya sesaji dalam pernikahan adat Jawa. Di dalam sesaji
pernikahan sendiri ada empat jenis sesaji, yaitu: sesaji pasang tarub, sesaji siraman, sesaji
midodareni, sesaji panggih atau temu. Tradisi kuno masyarakat Jawa memiliki tata cara lengkap
dalam pernikahan, sebelum pernikahan, hari pelaksanaan, dan sesudah pelaksanaan pernikahan.
Meskipun zaman semakin berkembang dan mengglobal, namun masih ada masyarakat Jawa
mempunyai kebiasaan untuk tetap mempertahankan tradisi dari nenek moyang. Setiap sesaji
mempunyai makna sendiri-sendiri, bahkan cara pembuatan dan penyajiannya juga berbeda-beda.
Kekayaan makna dalam sesaji ini menggambarkan roda hidup, liku-liku dan naik turun
kehidupan manusia dari lahir hingga kematian.
Sebelum upacara pernikahan dilakukan, harus ada prosesi yang dilakukan oleh pihak
laki-laki maupun pihak perempuan. Adapun tata cara pernikahan adat Jawa adalah sebagai
berikut:
1. Tahap I (Tahap Pembicaraan)
Yaitu pemicaraan antara pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga
calon pengantin perempuan, mulai pembicaraan pertama sampai tingkat melamar dan
menentukan hari pernikahan atau gethok dina.
2. Tahap II (Tahap Kesaksian)
Tahap ini merupakan tahap peneguhan pembicaraan yang disaksikan oleh pihak ketiga, yaitu
warga, kerabat atau para sesepuh yang ada disekeliling tempat tinggalnya melalui acara-acara
sebagai berikut:

a. Srah-srahan
Yaitu menyerahkan seperangkat perlengkapan untuk melancarkan pelaksanaan acara sampai
dengan hajat berakhir. Ada beberapa simbol barang-barang yang mempunyai arti dan makna
khusus seperti: cincin, seperangkat busana putri, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih,
dan uang. Adapun makna dari simbol barang-barang itu adalah :
Cincin emas
Cincin emas berbentuk bulat yang tiada putusnya. Hal itu mempunyai makna agar cinta mereka
abadi tidak terputus sepanjang hidup.
Seperangkat busana putri
Barang ini mempunyai makna bahwa dimasing-masing pihak harus pandai menyimpan rahasia
terhadap orang lain.
Perhiasan yang terbuat dari emas, intan, dan berlian
Mengandung makna agar calon pengantin putri selalu berusaha untuk tetap bersinar dan tidak
membuat kecewa.
Makanan tradisional
Makanan tradisional ini terdiri dari jadah, wajik, dan jenang. Semua makanan tersebut terbuat
dari beras ketan. Wujud beras ketan sebelum dimasak hambur, tetapi setelah dimasak akan
menjadi lengket. Begitu juga harapan yang tersirat, semoga cinta kedua calon pengantin akan
selalu lengket selama-lamanya.
Buah-buahan
Bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan buah kasih yang bermanfaat bagi
keluarga dan masyarakat.
Daun sirih
Muka dan punggung daun sirih mempunyai rupa yang berbeda. Tetapi kalau digigit akan sama
rasanya. Jadi, daun sirih ini mempunyai makna satu hati, berbulat tekad tanpa harus
mengorbankan perbedaan.

b. Peningset
Peningset adalah lambang kuatnya pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan yang
ditandai dengan tukar cincin antara kedua calon pengantin.
c. Asok tukon
Yaitu penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan keuangan
kepada keluarga calon pengantin perempuan.
d. Gethok dina
Menetapkan kepastian untuk pelaksanaan ijab qobul dan acara resepsi. Untuk mencari
hari, tanggal, dan bulan biasanya dimantakan saran oleh orang yang ahli dalam perhitungan
Jawa.
3. Tahap III (Tahap Siaga)
Pada tahap ini, yang punya hajat akan mengundang para sesepuh ataupun sanak saudara
untuk membentuk panitia guna melaksanakan kegiatan acara-acara sebelum pernikahan, acara
pernikahan, dan sesudah acara pernikahan. Ada beberapa acara dalam tahap siaga ini, yaitu:
a) Sedhahan
Yaitu acara mulai merakit hingga membagi undangan.
b) Kumbakarna
Kumbakarna adalah pertemuaan membentuk panitia hajatan mantu, dengan cara:
i. Pemberitahuan dan permohonan bantuan kepada sanak saudara, keluarga, dan tetangga.
ii. Adanya rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.
iii. Mencukupi segala kerepotan dan keperluan selama hajatan.
iv. Pemberitahuan tentang pelaksanaan hajatanserta telah selesainya pembuatan undangan.
c) Jenggolan atau jonggolan
Yaitu calon pengantin laki-laki melapor ke KUA. Tata cara ini sering disebut tandhakan atau
tandhan. Artinya memberitahukan dan melapor kepada pencatatan sipil bahwa akan ada acara
hajatan pernikahan yang dilanjutkan dengan pembekalan pernikahan.
4. Tahap IV (Tahap Rangkaian Upacara)
Sebelum pada acara pernikahan biasanya ada beberapa tata cara yang dilakukan oleh
masyarakat Jawa pada umumnya, yaitu:
a. Pasang bleketepe dan tarub
Biasanya sehari sebelum acara pernikahan, pintu gerbang di rumah calon pengantin perempuan
dipasangi tarub dan bleketepe. Dan dibuat gapura yang dihiasi dengan tanaman dan dedaunan
yang mempunyai makna simbolis.
Di kiri dan kanan gapura dipasangi pohon pisang yang telang berbuah dan sudah matang. Hal itu
mempunyai makna bahwa suami akan menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan masyarakat.
Seperti pohon pisang yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungannya.
Sepasang tebu wulung, pohon tebu yang berwarna kemerahan merupakan simbol mantapnya
kalbu, pasangan ini akan membina dengan sepenuh hati keluarga mereka kelak. Cengkir
gadhing, buah kelapa kecil yang berwarna kuning ini mempunyai makna kencangnya atau
kuatnya pikiran baik, sehingga pasangan ini sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan bersama
yang saling mencintai.
Berbagai macam dedaunan yang digunakan untuk menghiasi tarub adalah beringin, mojokoro,
alang-alang, dadap srep. Itu semua merupakan harapan agar pasangan ini nantinya hidup dan
tumbuh dalam keluarga yang selalu selamat dan sejahtera.
Selain pemasangan hiasan berupa tumbuhan dan dedaunan pada gapura tarub, anyaman daun
kelapa yang biasa disebut bleketepe digantungkan pada gapura tarub. Hal ini memunyai makna
untuk mengusir segala gangguan dan roh jahat serta menjadi pertanda bahwa di rumah ini ada
acara perkawinan.
Ada beberapa sesaji khusus sebelum pemasangan tarub dan bleketepe. Sesaji tersebut terdiri dari:
nasi tumperng, bermacam-macam buah-buahan termasuk pisang dan kelapa, berbagai macam
lauk pauk, kue, minuman, bunga, jamu, daging kerbau, gula kelapa dan sebuah lentera. Sesaji
tersebut mempunyai makna agar mendapat berkah dari Tuhan dan restu dari para leluhur serta
untuk menolak godaan dari para makhluk jahat. Sesaji biasanya diletakkan di tempa-tempat
tertentu seperti: dapur, kamar mandi, pintu depan rumah, bawah tarub, jalan dekat rumah, dan
lain-lain.
b. Kembar mayang
Kembar mayang juga sering disebut dengan Kalpataru Dewandaru, sebagai lambang
kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasa dipasang di panti atau asasana wiwara yang
digunakan dalam acara panebusing kembar mayang dan upacara panggih. Apabila acara sudah
selesai, kembar mayang akan dibuang di perempatan jalan, sungai, atau laut agar kedua
mempelai selalu ingat asal muasalnya.
c. Pasang tuwuhan atau pasren
Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan dipasang dipasang di tempat duduk pengantin atau tempat
pernikahan. Tuwuhan ini melambangkan isi alam semesta dan memiliki makna tersendiri dalam
budaya Jawa.
Sebelum dimulainya acara pernikahan ada beberapa rangkaian upacara, yaitu sebagai
berikut:
a. Upacara siraman
Upacara siraman mengandung arti memandikan calon pengantin yang disertai dengan niat
membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir serta batinnya. Calon pengantin perempuan
dimandikan di rumah orang tuanya, dan calon pengantin laki-laki juga dimandikan di rumah
orang tuanya. Ada beberapa sesaji yang diperlukan dalam upacara siraman ini, yaitu: ayam
panggang bumbu ketumbar dan bawang, dua buah kelapa yang baru tumbuh, tumpeng robyong,
dan jajanan pasar.
Ada beberapa langkah dalam pelaksanaan upacara siraman, yaitu:
a. Persiapan tempat untuk upacara siraman
b. Daftar orang yang ikut memandikan. Selain kedua orang tuanya, ada orang lain yang juga ikut
memandikan. Biasanya adalah orang yang sudah sepuh, mempunyai anak cucu, dan reputasi
kehidupan yang baik.
c. Menyiapkan barang yang diperlukan dalam upacara
d. Sesaji untuk upacara siraman, salah satunya seekor ayam jago
e. Pihak keluarga pengantin perempuan mengantarkan sebaskom air kepada pihak keluarga
pengantin laki-laki. Air itu disebut sebai air suci perwitosari, yang artinya sari kehidupan. Air
tersebut dicampur dengan berbagai macam bunga dan ditaruh di wadah yang bagus. Air suci
perwitosari ini sebagai campuran untuk memandikan calon pengantin laki-laki.
f. Pihak terakhir yang memandikan calon pengantin adalah pamaes, yang menyirami calon
pengantin dengan air dari sebuah kendi. Ketika air dalam kendi itu sudah habis, maka sesepuh
yang telah ditunjuk akan memecahkan kendinya dan berkata wis pecah pamore. Artinya calon
pengantin yang cantik atau gagah sudah siap untuk menikah.
b. Adol dhawet
Setelah selesai upacara siraman, maka segera dilakukan penjualan dawet. Yang menjadi penjual
adalah ibu dari calon pengantin peermpuan yang dipayungi oleh ayah calon pengantin
perempuan. Kemudian yang menjadi pembeli adalah para tamu yang hadir, dengan
menggunakan pecahan genting sebagai uangnya.
c. Paes
Paes adalah upacara menghilangkan rambut halus di sekitar dahi agar tampak bersih dan
wajahnya bercahaya, kemudian merias calon pengantin. Paes ini menyimbolkan harapan
kedudukan yang luhur diapit lambing bapak ibu serta keturunan. Dalam upacara paes juga ada
sesajinya, yaitu sama dengan sesaji pada upacara siraman.
d. Upacara midodareni
Upacara ini berarti menjadikan calon pengantin perempuan secantik Dewi Widodari. Dalam
upacara ini, orang tua pengantin perempuan akan memberi anaknya makan untuk terakhir
kalinya, karena mulai besok dia akan menjadi tanggungjawab suaminya. Ada sesaji khusus
dalam upacara midodareni, yaitu pisang raja yang bagus berjumlah genap satu tangkep, seikat
daun sirih yang bagus, jajanan pasxar lengkap, bunga setaman atau kembang telon, nasi gurih,
ingkung ayam jantan lengkap dengan jeroannya, sambel goreng, lalapan (timun dan kemangi).
Khusus intuk pengantin perempuan dibuat pindang antep, yaitu jeroan ayam dibumbu pindang
dan dimakan dengan nasi gurih setelah pukul 12 malam.
e. Nyanti atau nyantrik
Nyantrik adalah pacara penyerahan dan penerimaan yang ditandai dengan datangnya calon
pengantin laki-laki beserta pengiringnya. Jika acara ijab dilakukan besok, maka acara ini
dimanfaatkan untuk bertemu dan berkenalan dengan sanak saudara terdekatdi tempat mempelai
laki-laki. Apabila ada kakak perempuan yang dilangkahi, maka acara penting lainnya adalah
pemberian restu dan hadiah sesuai dengan kemampuan mempelai sebagai plangkahan.
5. Tahap V (Tahap puncak dari rangkaian acara dan merupakan inti acara)
a. Upacara ijab
Sebagai prosesi pertama pada acara iniadalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu
dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai
resmi menjadi suami istri.
b. Upacara panggih
Setelah upacara ijab selasai, kemudian dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:
Liron kembar mayang atau saling menukar kembar mayang dengan makna dan tujuan bersatu
cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan.
Gantal atau lempar sirih, mempunyai makna agar semua godaan hilang karena lemparan itu.
Ngidak endhog atau pengantin laki-laki menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci
kakinya oleh pengantin perempuan, hal itu mempunyai makna bahawa seksual kedua mempelai
sudah pecah pamornya.
Minum air kelapa yang menjadi lambang air suci, air hidup, air mani dan dilanjutkan dengan
dikepyok bunga warna warni dengan harapan keluarga mereka dapat berkembang segala-galanya
dan bahagia lahir batin.
Sindur, yaitu menyampirkan kain (sindur) ke pundak pengantin dan menuntun pasangan
pengantin ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi
tantangan hidup.
Setelah upacara panggih, kedua mempelai diantar duduk ke sasana rinengga.
Kemudian acarapun dilanjutkan.
Timbangan yaitu kedua mempelai duduk di pangkuan ayah pengantin perempuan sebagai
simboh bahwa sang ayah mengukur keseimbangan masing-masing pengantin.
Kacar kucur, dijalankan dengan cara pengantin laki-laki mengucurkan penghasilan kepada
pengantin perempuan berupa uang receh beserta kelengkapannya. Hal itu mempunyai makna
bahwa sang laki-laki bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga.
Dulangan, kedua mempelai saling menyuapi. Hal itu mengandung laku perpaduan kasih
pasangan laki-laki dan perempuan, sebagai simbol seksual. Namun, ada juga yang memaknai
lain, yaitu tutur adilinuwih atau seribu nasihat yang adiluhung yang dilambangkan dengan
sembilan tumpeng.
c. Upacara bubak kawak
Upacara ini khusus dilakukan untuk keluarga yang baru pertama kali menikahkan anak
perempuan sulungnya.ditandai dengan membagi-bagikan harta benda berupa uang receh, beras
kuning, umbi-umbian, dan lain-lain.
d. Tumplak punjen
Numplak berarti menumpahkan, sedangkan punjen berarti berbeda beban di atas bahu. Jadi,
makna dari tumplak punjen adalah lepas sudah darma orang tua kepada anaknya. Tata cara ini
dilakukan pada keluarga yang tidak akan bermenantu lagi atau semua anaknya sudah menikah.
e. Sungkeman
Sungkeman dilakukan sebagai ungkapan bakti kepada orang tua sekaligusx meminta doa restu.
f. Kirab
Kirab adalah istilah yang digunakan untuk pengantin yang meninggalkan tempat duduknya untuk
berganti busana.
C. PENUTUP

KESIMPULAN

Demikianlah tata upacara pernikahan Jawa yang sampai saat ini masih digunakan dalam
pernikahan di Jawa. Jika diamati secara detail, prosesi pernikahan di Jawa terkesan njlimet
atau rumit. Hal ini dikarenakan banyaknya perlambang yang dipakai di dalamnya.
Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri, karena sampai saat ini masyarakat Jawa masih senang
menggunakan simbol atau perlambang dalam kehidupannya.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber :
http://azharmind.blogspot.com/2012/12/tahapan-perkawinan-adat-jawa.html
http://www.weddingku.com/traditional/tradition/1/1/jawa
http://candracahyono.blogspot.com/2012/11/pengertian-budaya-jawa.html