Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Endurance Vol 1 No.

3 Tahun 2016 Kopertis Wilayah X

STRES KERJA DAN KEPUASAN KERJA DENGAN KUALITAS HIDUP


PERAWAT ICU DI RS TIPE B

Hardani
Ilmu Keperawatan, STIKes Indonesia, Padang, Sumatera Barat
Email: hardani_87@yahoo.com

Submitted :25-08-2016, Reviewed:25-09-2016, Accepted:25 -09-2016

Abstrak
Penelitian ini untuk mengetahui hubungan stress kerja, kepuasan kerja dan karakteristik individu dengan
kualitas hidup perawat ICU Rumah Sakit Umum Tipe B Sumatera Barat. Penelitian dilakukan dari tanggal
12 Juni sampai 7 Juli 2015, Penelitian deskriptif ini menggunakan rancangan cross sectional dengan
pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menyimpulkan terdapat hubungan usia (p value = 0,04), status
pernikahan (p value = 0,02), stress kerja (p value = 0,004) dan kepuasan kerja (0,04) dengan kualitas
hidup Perawat. Namun tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p value = 1,00) dan tingkat
pendidikan (p value = 0,9) dengan kualitas hidup perawat. Faktor paling dominan yang berhubungan
dengan kualitas hidup adalah stress kerja. Stres kerja akan mempengaruhi kualitas hidup perawat yang
bekerja diruangan ICU.

Kata Kunci : Karakteristik Individu, Stres Kerja, Kepuasan Kerja, Kualitas Hidup Perawat

Abstract
The purpose of this study to determine the relationship of job stress, job satisfaction and individual
characteristics with Nurses Quality of Life in Type B Hospital, West Sumatra. The study was conducted
from June 12 to July 7, 2015, this descriptive study using cross sectional design with quantitative approach.
The study concluded there is a relationship of age (p value = 0.04), marital status (p value = 0.02), job
stress (p value = 0.004) and job satisfaction (0.04) with the quality of life of nurses. However, there was no
correlation between gender (p value = 1.00) and the level of education (p value = 0.9) with the quality of
life of nurses. The most dominant factor related to quality of life is stressful work. Work stress will affect
the quality of life of nurses in ICU.

Keywords: Characteristics of individual, Job Stress, Job Satisfaction, Nurses Quality of Life
DOI : Hardani

PENDAHULUAN berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa


Kualitas hidup adalah penilaian subjektif lebih dari 40% perawat mengalami
individu mengenai posisi kehidupannya saat ketidakpuasan kerja dan 33% perawat
ini pada beberapa aspek kehidupan yang berumur kurang dari 30 tahun bermaksud
penting baginya (Nofitri, 2009) keluar dari pekerjaan mereka (Wuryanto,
Kualitas hidup individu tersebut 2010). Kepuasan kerja berkontribusi
biasanya dapat dinilai dari kondisi fisik, terhadap prestasi kerja, ketika individu
psikologis, hubungan sosial dan merasakan puas terhadap pekerjaannya,
lingkungannya (Larasati, 2009). Sedangkan maka seorang pekerja akan berupaya
faktor lainnya yaitu adanya pengaruh dari semaksimal mungkin dengan segenap
variabel karakteristik individu seperti, status kemampuan yang dimiliki untuk
pernikahan, tingkat pendidikan, usia, dan menyelesaikan tugasnya, yang akhirnya akan
jenis kelamin terhadap kualitas hidup (Rifiani menghasilkan kinerja dan pencapaian yang
& Sulihandari, 2013). kualitas hidup juga baik bagi perusahaan/organisasi.
dipengaruhi oleh Tingkat stress dan kepuasan Peristiwa-peristiwa dari dalam dan dari
kerja (Cimete, Gencalp & Keskin, 2013). luar tempat kerja dapat memicu terjadinya
Hasil penelitian menunjukkan tingginya stress kerja pada karyawan. Stress kerja yang
tingkat stres kerja perawat, yang dapat dialami individu merupakan hubungan yang
mempengaruhi kualitas hidup mereka. timbal balik antara sesuatu yang berada di
Menurut hasil penelitian quality of life (QOL) dalam diri individu dengan sesuatu yang
perawat laki-laki dan perempuan memiliki berada di luar individu tersebut. Hubungan
kualitas hidup yang berbeda, perawat laki- antara sesuatu yang berada di dalam dan di
laki memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi luar individu juga berlaku pada peristiwa-
dibandingkan perawat perempuan. Faktor peristiwa yang menyebabkan stress kerja
pekerjaan, kepuasan dan sikap positif lainnya pada perawat ICU. Perawat ICU berbeda
dari perawat akan mempengaruhi semua dengan perawat lain. Tingkat pekerjaan dan
dimensi kualitas hidup dan stres kerja pengetahuan perawat ICU lebih kompleks
perawat tersebut (Junaidy & Surjaningrum, dibandingkan dengan perawat bagian lain di
2014) rumah sakit, karena bertanggungjawab
Stres kerja adalah stres yang muncul mempertahankan homeostasis pasien untuk
karena adanya rangsangan yang berada berjuang melewati kondisi kritis/terminal
didalam lingkungan kerja atau diluar yang mendekati kematian (Kristanto, Dewi,
pekerjaan yang menjadikan stres dan tidak & Dewi, 2012). Karena kompleksitas,
dapat mengatasinya, sehingga akan aktivitas dan dynamicity, pada intensif care
menimbulkan gangguan yang membawa unit (ICU) secara terus menerus
akibat lanjut dari adanya stres ini, yakni menyebabkan stres dan penggunaan
mempengaruhi kelancaran dalam melakukan peralatan teknis canggih dianggap sebagai
kinerja (Christian, 2005). Intensitas yang salah satu penyebab stress kepada perawat
tinggi antara perawat dengan pasien dan ICU. Hasil penelitian oleh Farhadian
keluarga terutama pada pasien yang sulit dan menunjukkan bahwa rata-rata perawat ICU
kompleks merupakan salah satu pemicu mengalami stress kerja (Javadi, Parandeh,
timbulnya stres kerja pada perawat Ebadi A, & Z Haji Amini, 2010)
(Kurniadi, 2013) Rumah sakit Tipe B yang memiliki
Selain stress kerja, saat ini rumah sakit ruang ICU di Sumatera Barat diantaranya
justru mengalami berbagai masalah yang adalah RSUP. Dr. M. Djamil Padang, RSUD
berhubungan dengan tenaga keperawatan dan Achmad Muchtar Bukittinggi dan RSSN
pelayanan keperawatan. Masalah-masalah Bukittinggi. Rumah Sakit Umum Kelas B
tersebut berhubungan dengan kekurangan harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
jumlah perawat, ketidakpuasan kerja perawat pelayanan medik paling sedikit 4 (empat)
dan buruknya lingkungan kerja perawat. Pelayanan Medik Spesialis Dasar, 4 (empat)
Berbagai penelitian yang dilakukan Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, 8
tentang kepuasan kerja perawat (delapan) Pelayanan Medik Spesialis
menunjukkan bahwa perawat banyak Lainnya dan 2 (dua) Pelayanan Medik
mengalami ketidakpuasan kerja. Penelitian di Subspesialis Dasar. Pelayanan Penunjang
DOI : Hardani

Klinik terdiri dari Perawatan intensif, Berdasarkan penelitian Mealer didapatkan


Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi hasil bahwa dari 230 perawat ICU, terdapat
Instrumen dan Rekam Medik. Karakteristik 54 responden yang mengalami PTSD (24%),
perawat ICU, yaitu memiliki tingkat sedangkan dari 121 responden dari perawat
pengetahuan dan keterampilan yang lebih umum terdapat 17 responden yang
baik dari pada perawat lain dalam menangani mengalami PTSD (14%). Dengan
pasien yang memiliki kondisi kritis. Perawat kekurangan jumlah perawat dalam
ICU minimal memiliki sertifikat BTCLS memberikan asuhan keperawatan di ICU,
(Basic Training Cardiac Life Support). beban kerja yang tinggi, akan mempengaruhi
Perawat U juga rentan mengalami Post stres kerja perawat, kepuasan kerja serta
Traumatic Stress Disorder (PTSD) mempengruhi kualitas hidup perawat ICU di
dibandingkan dengan perawat umum. rumah sakit.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian deskriptif ini menggunakan prediksi. Penelitian dilaksanakan pada
rancangan cross sectional dengan tanggal 12 Juni sampai 7 Juli 2015.
pendekatan kuantitatif, yaitu suatu penelitian Pengumpulan data dengan menggunakan
untuk mempelajari hubungan antara faktor kuesioner pada variabel karakteristik
sebab dengan akibat yang terjadi pada objek individu, stress kerja dengan Nursing Stress
penelitian dan dikumpulkan dalam waktu Scale (NSS) yang dikembangkan oleh Damit,
yang bersamaan. Analisis yang digunakan kepuasan kerja dengan Muller Satisfaction
adalah univariat untuk menggambarkan Scale (MSS) yang dikembangkan oleh Damit
distribusi frekuensi semua variabel, analisis dan kualitas hidup dengan WHOQOL Breef.
bivariat untuk mengetahui hubungan antara Populasi adalah seluruh perawat ICU pada
variabel indpenden dengan dependent yaitu tiga rumah sakit tipe B, jumlah sampel
dengan uji Chi-Square dan analisis sebanyak 34 perawat, dengan metode
multivariat untuk melihat faktor yang paling pengambilan sampel adalah purposive
dominan mempengaruhi kualitas hidup sampling, dengan kriteria inklusi perawat
perawat digunakan uji regresi logistik pelaksana dan ketua
tim, bersedia menjadi responden sedangkan sakit tipe B yaitu rumah sakit Dr. M. Djamil,
kriteria ekslusi yaitu mengundurkan diri saat rumah sakit Ahmad Mochtar Bukittinggi dan
penelitian. Tempat penelitian di tiga rumah rumah sakit Stroke Nasional Bukittiggi

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1 Hubungan Stres Kerja, Kepuasan Kerja, Usia Perawat, Jenis Kelamin dan Status
Pernikahan dengan Kualitas Hidup Perawat
Stress kerja
Kualitas Hidup Total P OR
Kurang baik Baik Value (95%CI)
f % f % f %
Tinggi 12 66,7 6 33,3 18 100 0,004 14,0
Rendah 2 12,5 14 87,5 16 100 2,370-82,717
Kepuasan Kerja
Rendah 12 57,1 9 42,9 21 100 7,333
Tinggi 2 15,4 11 84,6 13 100 0,04 1,291-41,652
Usia Perawat
Dewasa 14 51,9 13 48,1 27 100
muda 0,02 0,481
Dewasa 0 0,0 7 100 7 100 0,326-0,712
madya
Jenis Kelmain
Laki-laki 1 33,3 2 66,7 3 100 0,692
perempuan 13 41,9 18 58,1 31 100 1,00 0,057-8,470
Pendidikan Perawat
DOI : Hardani

D3 10 41,7 14 58,3 24 100 0,9 0,1


S1 3 37,5 5 62,5 8 100
S2 1 50,0 1 50,0 2 100
Status Pernikahan
Nikah 6 26,1 17 73,9 23 100
Belum 8 72,7 3 27,3 11 100 0,027 0,132
menikah 0,026-0,669

Dari tabel 1 dapat dilihat, hasil uji statistik 0,02), jenis kelamin perawat dengan kualitas
yang dilakukan kepada variabel Stress kerja hidup perawat (p value = 1,00), pendidikan
dengan kualitas hidup perawat (p value = perawat dengan kualitas hidup perawat (p
0,004), kepuasan kerja dengan kualitas hidup value = 0,9) dan status pernikahan perawat
perawat (p value = 0,04), usia perawat dengan kualitas hidup perawat (p value =
dengan kualitas hidup perawat (p value = 0,027),

Gambaran Faktor Paling Dominan yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Perawat ICU
Tabel 2 Model Tahap Akhir Kualitas Hidup Perawat ICU

No Variabel B SE Wald Sign. Exp(B)


1. Usia 21.556 13406.778 .000 .999 2300693
2 Stress kerja 2.996 1.008 8.827 .003 20.000

Empat variabel yang dimasukkan kedalam perawat, yaitu varibel stress kerja, dengan
pemodelan regresi logistik prediksi, sign sebesar 0,003, kemudian yang paling
didapatkan variabel yang paling dominan dominan kedua dalah usia perawat dengan
mempengaruhi variabel kualitas hidup nilai sign 0,999.

Modernisasi kehidupan dan dari perawat. Di seluruh dunia, ada banyak


meningkatnya penggunaan teknologi penenlitian kualitas hidup dan faktor terkait
canggih, tempat kerja telah menjadi semakin dan beberapa dari penelitian telah
kompetitif. Dengan demikian, masalah fisik, mempelajari kualitas hidup perawat (Javadi
mental, dan spiritual yang disebabkan oleh et al., 2010)
stres yang berhubungan dengan pekerjaan Stress kerja yang dialami perawat ICU
juga meningkat. Stres kerja dapat merupakan suatu kondisi dimana perawat
menyebabkan rendahnya tingkat kepuasan ICU harus mempertahan homestatis dari
kerja, tingginya tingkat kejadian yang tidak pasien, dimana semua pasien yang dirawat di
diinginkan, dan fisik dan mental hasil yang ICU adalah pasien dengan GCS yang rendah.
tidak menguntungkan kesehatan. Pada abad Perawat ICU juga harus memberikan asuhan
kedua puluh satu, salah satu faktor utama keperawatan total care dan itu merupakan
yang membahayakan kesehatan adalah sebuah tantangan yang besar sehingga
tingkat tingginya stres kerja, dan menimbulkan stress kerja perawat, masalah
keperawatan adalah salah satu bidang lain yang muncul adalah dengan terbatasnya
pekerajaan dengan tekanan tinggi. Stres kerja jumlah perawat yang dinas diruang ICU.
yang tinggi dapat menghasilkan tingkat Beberapa kondisi inilah yang menyebabkan
turnover tinggi serta rendahnya kualitas perawat memiliki stress yang tinggi sehingga
pelayanan dan efisiensi organisasi (Chen et mempenagaruhi kepada dimensi hidupnya
al., 2014) dan kualitas hidupnya.
Rumah sakit sebagai organisasi dapat Moorse dalam Wuryanto (2010)
menempatkan klien dan perawat di bawah mengemukakan bahwa pada dasarnya
beban stres yang serius, yang kemudian kepuasan kerja tergantung kepada apa yang
mempengaruhi kesehatan fisik dan diinginkan seseorang dari pekerjaannya dan
emosional mereka. Kondisi kerja di apa yang mereka peroleh. Hasil penelitian
keperawatan, menunjukan bahwa stres kerja menemukan ada hubungan antara kepuasan
dapat berdampak besar pada kualitas hidup kerja dan kualitas hidup perawat. Kepuasan
DOI : Hardani

kerja yang rendah, yang menyebabkan kelamin tidak memiliki hubungan dengan
tingginya tingkat kelelahan, niat keluar, dan kualitas hidup perawat (Noras & Sartika,
bahkan penyakit. Perawat rumah sakit sering 2012)
mengalami kelelahan yang disebabkan oleh Jenis kelamin merupakan salah satu
kurangnya kepuasan kerja, serta dapat komponen yang menjadi pembeda antara
menyebabkan turnover (Chen et al., 2014) perawat, secara kebutuhan antara perawat
Kepuasan kerja perawat ICU laki-laki dan perempuan akan berbeda, dari
cenderung rendah pada penelitian ini, hasil segi emosional juga akan berbeda yang
ini juga sesuai dengan penelitian Noras & tentunya akan mempengaruhi kepada
Sartika yang mengatakan kepuasan perawat perbedaan kualitas hidup antara perawat laki-
itu kurang (Noras & Sartika, 2012). Dengan laki dan perawat perempuan. Namun pada
meningkatanya kepuasan kerja perawat penelitian ini diperoleh bahwa tidak terdapat
kepada pekerjaannya maka akan hubungan yang signifikan antara jenis
mempengaruhi kepada kualitas hidup kelamin perawat dengan kualitas hidup
perawat. Perawat dengan kepuasan kerja perawat.
tinggi akan mempersepsikan kualitas Hasil uji statistik tidak terdapat
hidupnya tinggi, begitu juga sebaliknya, jika hubungan antara tingkat pendidikan dengan
perawat merasakan kepuasan kerja rendah kualitas hidup perawat. Hasil penelitian
maka akan memiliki kualitas hidup yang sejalan dengan hasil penelitian yang
rendah juga. dilakukan oleh Jafari di rumah sakit
Hasil uji statistik ada hubungan antara Universitas Zanjan Iran, yang menyatakan
usia dengan kualitas hidup Perawat ICU, bahwa tidak terdapat hubungan yang
hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian signifikan antara tingkat pendidikan dengan
yang dilakukan oleh Yu, Hung, Wu, Tsai, kualitas hidup perawat.
Wang, Lin untuk mengeksplorasi Kualitas Peneltian ini menunjukan bahwa
hidup di tujuh rumah sakit di kabupaten tingkat pendidikan perawat tidak
Yunlin dan Chiayi dengan hasil usia berpengaruh kepada kualitas hidup perawat,
berhubungan secara signifikan dengan dimana responden pada peneltian ini adalah
kuailitas hidup perawat. perawat pelaksana, semua responden
Perubahan usia mempengaruhi bersifat memiliki posisi yang sama dalam
fisik, kesehatan dan kekuatan tenaga fisik memberikan asuhan keperawatan tanpa
mencapai puncaknya, secara psikis muncul membedakan tingkat pendidikan dari
keinginan dan usaha pemantapan, sering perawat. Semua perawat diperlakukan sama
mengalami keteganggan emosi karena apakah perawat D3, S1 dan S2 sehingga
kompleksitas persoalan, kemampuan mental kualitas hidup mereka jika dikaitkan dengan
seperti penalaran, mengingat dan kreatif pada tingkat pendidikan tidak berhubungan secara
posisi puncak. Pada Perawat berusia madya signifikan. Penerapan memberikan asuhan
menemukan adanya kontribusi dari faktor keperawatan kepada pasien belum
usia terhadap kualitas hidup subjektif menggunakan kewenangan klinis secara
individu yang disebabkan karena individu mutlak, perawat dengan latar belakang
pada masa usia madya sudah melewati masa sarjana maupun diploma III akan sama-sama
usia muda sehingga mereka cenderung memberikan asuhan keperawatan kepada
mengevaluasi hidupnya dengan lebih positif pasien.
dibandingkan saat masa mudanya. Semakin Hasil uji statistik terdapat hubungan
tinggi usia seseorang maka akan semakin yang bermakna antara status pernikahan
tinggi status kualitas hidupnya (Yu et al., dengan kualitas hidup perawat. Hasil
2008) penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian
Hasil uji statistik tidak ada hubungan yang dilakukan oleh Cimete, yang
antara jenis kelamin dengan kualitas hidup menemukan hubungan yang signifikan antara
Perawat ICU. Hasil penelitian ini sejalan kualitas hidup dengan status pernikahan
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh perawat. Beberapa penelitian menemukan
Moradi, Fini & Maghaminejad yang meneliti bahwa status pernikahan merupakan
tentang faktor yang terakit dengan kualitas prediktor dari kualitas hidup secara
hidup perawat di Iran dengan hasil jenis keseluruhan. Penelitian empiris di Amerika
DOI : Hardani

secara umum menunjukkan bahwa individu usia perawat, status pernikahan perawat dan
yang menikah memiliki kualitas hidup yang faktor yang paling dominan mempengaruhi
lebih tinggi daripada individu yang tidak kualitas hidup perawat ICU adalah stress
menikah (Lee, 1998 dalam Nofitri 2009) kerja yang dialami perawat.
Status menikah merupakan salah satu
kebutuhan dari individu, sehingga akan SIMPULAN
menjadi prediktor baik untuk individu dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari. Individu Dari uraian diatas dapat diambil beberapa
yang menikah akan cenderung memiliki simpulan : Stress kerja mempeganruhi
kepuasan hidup yang baik dan akan terhadap kualitas hidup perawat ICU.
mempengaruhi kepada kualitas hidup. Degan Kepuasan kerja berhubungan dengan kualitas
status menikah maka akan terjadi pembagian hidup perawat ICU. Usia perawat
peran dengan pasangan hidup, pekerjaan berhubungan dengan kualitas hidup perawat
rumah cenderung akan menurun seiring ICU. Jenis kelamin perawat tidak
kerjasama dengan pasangan, sehingga fokus berhubungan dengan kualitas hidup perawat
kepada pekerjaan sebagai professional ICU. Pendidikan perawat berhubungan
perawat akan lebih maksimal. dengan kualitas hidup perawat ICU. Status
Berdasarkan hasil analisis regresi pernikahan perawat berhubungan dengan
logistik prediksi terhadap sejumlah variabel kualitas hidup perawat ICU
yang berhubungan dengan kualitas hidup
perawat, didapatkan variabel yang paling DAFTAR PUSTAKA
berpengaruh terhadap kualitas hidup adalah
stress kerja. Hasil penelitian ini sejalan Chen, M.-C., Huang, Y.-W., Sun, C.-A.,
dengan beberapa penelitian yang telah Lee, C.-H., Hsiao, S.-M., Chou, Y.-C.,
dilakukan oleh Cimete mengatakan stress Tsan Yang. (2014). Factors
Influencing the Quality of Life of
kerja adalah prediktor terbaik yang
Nurse Anesthetists and the Correlations
mempengaruhi kualitas hidup perawat Among Work Stress, Job Satisfaction,
(Cimete, Gencalp, & G Keskin, 2003) and Quality of Life: A Case Study of
Stress kerja pada penelitian ini Three Medical Centers in Southern
ditemukan sebagai faktor utama dalam Taiwan. World Journal of Medicine
mempengaruhi kualitas hidup perawat ICU. and Medical Science, 2(2), 117.
Stress kerja akan mempengaruhi semua Christian, M. (2005). Jinakkan Stress (Kiat
Hidup Bebas Tekanan). bandung: nexx
semua dimensi atau domain kualitas hidup
media.
seseorang. Stress kerja akan berkontribusi Cimete, G., Gencalp, N., & G Keskin.
pada domain fisik yaitu seseorang yang (2003). Quality of Life and Job
mengalami stress kerja akan mengalami Satisfaction of Nurses. Journal of
gangguang kesehatan seperti kelemahan Nursing Care Quality, 18(2), 151158.
fisik, mudah terserang penyakit. Stress kerja Javadi, M. A., Parandeh, A., Ebadi A, & Z
berpengaruh pada domain psikologis, Haji Amini. (2010). Comparison of life
quality between special care units and
seseorang yang mengalami stress kerja akan
internal- surgical nurses. Irinian
memiliki kondisi psikologi yang tertekan dan Journal of Critical Care Nursing, 3(3),
mempengaruhi kepada kesehatan mentalnya. 113117.
Stress kerja akan mempengaruhi kepada Junaidy, D., & Surjaningrum, endang retno.
domain hubungan sosial, seseorang yang (2014). perbedaan kualitas hidup pada
mengalami stress kerja memiliki hubungan dewasa awal yang bekerja dan tidak
bekerja. Jurnal Universitas Airlangga,
sosial yang kurang baik dengan manusia lain
3(2), 102107.
karena berada pada kondisi yang tidak Kristanto, andreas agung, Dewi, kartika
mengenakkan, stress kerja akan sari, & Dewi, endah kumala. (2012).
mempengaruhi kepada domain lingkungan Faktor-faktor penyebab stress kerja
karena seseorang yang mengalami stress pada perawat ICU rumah sakit tipe C
kerja cenderung tidak memperhatikan di kota semarang. universitas
lingkungannya. selain stress kerja dan diponegoro.
Kurniadi, A. (2013). Manajemen
kepuasan kerja, ada beberapa faktor lain yang
keperawatan dan prosfektifnya: teori,
mempengaruhi kualitas hidup perawat yaitu konsep dan aplikasi. Jakarta: FK UI.
DOI : Hardani

Larasati, T. (2009). Kualitas Hidup Pada Prinsip-Prinsip Dasar. Keperawatan


Wanita Yang Sudah Memasuki Masa (1st ed.). Jakarta: Dunia Cerdas.
Menopause. Jurnal Fakultas Psikologi Wuryanto, E. (2010). Hubungan lingkungan
Universitas Gunadarma, 1(1), 119. kerja dan karakteristik individu dengan
Nofitri. (2009). Kualitas hidup penduduk kepuasan kerja perawat di rumah sakit
dewasa di Jakarta. Universitas umum daerah Tugurejo Semarang.
Indonesia. Universitas Indonesia.
Noras, J. U., & Sartika, R. A. D. (2012). Yu, Y., Hung, S., Wu, Y., Tsai, L., Wang,
Perbandingan Tingkat Kepuasan Kerja H., & Lin, C. (2008). Job satisfaction
Perawat dan Kepuasan Pasien. Jurnal and quality of life among hospital
Kesehatan Masyarakat Nasional, 6(5), nurses in the Yunlin-Chiayi Area. Hu
234240. Li Za Zhi The Journal Of Nursing,
Rifiani, N., & Sulihandari, H. (2013). 55(2), 2938.