Anda di halaman 1dari 19

LANDASAN TEORI

POST PARTUM (PARTUS FISIOLOGIS)

A. Persalinan Normal
I. Defenisi persalinan normal
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang
dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina kedunia luar. Persalinan
imatur adalah persalinan saat kehamilan 20-28 minggu dengan berat janin
antara 500-1000gr. Persalinan premature adalah persalinan saat kehamilan
29-36 minggu dengan berat janin antara 1000-2500 gr.
Persalinan adalah suatu proses fisiologis yang memungkinkan
serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan
janinnya melalui jalan lahir (Hacker, 2001).
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung tidak lebih dari 18 jam tanpa
komplikasi baik bagi ibu maupun janin (Prawirohardjo, 2002).
Persalinan adalah proses untuk mendorong keluar (ekspulsi) hasil
pembuahan yaitu janin, plasenta dan selaput ketuban keluar dari dalam
uterus melalui vagina ke dunia luar (Farrer,1999).
Persalinan normal adalah proses kelahiran bayi dengan tenaga ibu
sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi. Persalinan
adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan ari) yang dapat hidup
ke dunia luar dan rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.
(Rustam Mochtar, 1998)
Pada saat persalinan ada 3 faktor yang perlu diperhatikan, yaitu
jalan lahir (tulang dan jaringan lunak pada panggul ibu), janin dan
kekuatan ibu. Kelainan satu atau beberapa faktor diatas dapat
menyebabkan distosia.
(KApita Selekta Kedokteran,2001)

1
II. Sebab-Sebab Yang Menimbulkan Persalinan
Penyebab persalinan belum pasti diketahui,namun beberapa teori
menghubungkan dengan factor hormonal,struktur rahim,sirkulasi
rahim,pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi.
a. Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormone
progesterone dan estrogen. Fungsi progesterone sebagai penenang
otot- otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh
darah sehingga timbul his bila progesterone turun.
b. Teori placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan
kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
c. Teori distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik
otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
d. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus franterrhauss).
Bila ganglion ini digeser dan di tekan misalnya oleh kepala janin akan
timbul kontraksi uterus.
B. Konsep Dasar Nifas
I. Pengertian Nifas
Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah partus
selesai dan berkahir setelah kira-kira 6 minggu (Kapita Selekta
Kedokteran,2001)
Masa puerpenium (nipas) adalah masa setelah partus selesai dan
berakhir kira-kira 6-8 minggu. Akan tetapi seluruh alat genetal baru pulih
kembali seperti sebelumnya ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Ilmu
Kebidanan,2007).
Masa nifas (peurpenium )adalah masa pulih kembali mulai dari
persalin selesai samapi alat kandung kembali seperti semula/pra hamil dan
lamanya berlangsung yaitu 6 minggu. (Obstetri Fisiologi,1998)

2
Masa nifas (poerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lama
masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 1998).
Post partum (puerperium) atau nifas adalah masa sesudah
persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-
alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas
berlangsung selama 6 minggu.(Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, 2002)
Post partum (puerperium )atau nifas adalah masa sesudah
persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang
lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983)
Jadi masa nifas adalah masa setelah melahirkan sampai alat
kandungan kembali seperti semula/seperti sebelum hamil.
II. Periode masa nifas
Masa nifas dibagi dalam 3 periode
1) Early post partum
Dalam 24 jam pertama.
2) Immediate post partum
Minggu pertama post partum.
3) Late post partum
Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.
III. Etiologi
Penyebab umum perdarahan postpartum adalah
1. Atonia Uteri
2. Retensi Plasenta
3. Sisa Plasenta dan selaput ketuban
- Pelekatan yang abnormal (plasenta akreta dan perkreta).
- Tidak ada kelainan perlekatan (plasenta seccenturia).
4. Trauma jalan lahir
- Epiostomi yang lebar
- Lacerasi perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim.
- Rupture uteri.

3
5. Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia /
hipofibrinogenemia. Tanda yang sering dijumpai yaitu :
- Perdarahan yang banyak,
- Solusio Plasenta
- Kematian janin yang lama dalam kandungan,
- Pre eklampsia dan eclampsia
- Infeksi, hepatitis dan syok septic.
6. Hematoma
7. Inversi Uterus
IV. Tujuan Asuhan Keperawatan
1. Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya.
2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun
bayinya.
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada
bayinya dan perawatan bayi sehat.
4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.
V. Tanda dan gejala
1. Perubahan Fisik
a. Sistem Reproduksi
- Uterus
- Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil.
Involusi adalah suatu keadaan dimana uterus secara berangsur-
angsur menjadi kecil sehingga akhirnya kembali seperti sebelum
hamil. Segera setelah plasenta lahir, TFU kurang lebih 2 jari
dibawah pusat. Pada hari ke-5 TFU setengah pusat. Simpisis dan
pada hari ke-12 uterus sudah tidak teraba lagi diatas simpisis dan
setelah 6 minggu uterus sudah mencapai ukuran normal (Arif
Mansjoer, 2000).

4
- Lochea
Komposisi
Jaringan endometrial, darah dan limfe.
Tahap
a. Rubra (merah) : 1-3 hari.
b. Serosa (pink kecoklatan)
c. Alba (kuning-putih) : 10-14 hari
Lochea terus keluar sampai 3 minggu.
Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri.
Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml.
- Siklus Menstruasi
Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu
tidak menyusui akan kembali ke siklus normal.
- Ovulasi
Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi
pada bulan ke-3 atau lebih.
Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi
mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk
mencegah kehamilan.
- Serviks
Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari,
struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar
dan tampak bercelah.
- Vagina
Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran
seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar,
produksi mukus normal dengan ovulasi.
- Perineum
Episiotomi
Penyembuhan dalam 2 minggu.
Luka pada vagina dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer.

5
Bila dilakukan episiotomy akan terjadi nyeri pada luka di
perineum, menyebabkan ibu takut BAB dan perih saat kencing
Laserasi
TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot
TK II : Meluas sampai dengan otot perineal
TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter
TK IV : melibatkan dinding anterior rektal
b. Payudara
Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak
karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang
tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting
mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan
mengecil pada 1-2 hari.
c. Sistem Endokrin
- Hormon Plasenta
HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak
terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus
menstruasi.
- Hormon pituitari
Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama,
menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH,
tidak ditemukan pada minggu I post partum.
d. Sistem Kardiovaskuler
- Tanda-tanda vital
Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena
dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi.
- Volume darah
Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4
minggu
Persalinan normal : 200 500 cc, sesaria : 600 800 cc.
- Perubahan hematologik
Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat.

6
- Jantung
Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3
minggu.
e. Sistem Respirasi
Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan
asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum.
f. Sistem Gastrointestinal
- Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.
- Nafsu makan kembali normal.
- Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.
g. Sistem Urinaria
- Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi
karena trauma.
- Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam.
- Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.
h. Sistem Muskuloskeletal
Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil.
Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum.
i. Sistem Integumen
Hiperpigmentasi perlahan berkurang.
j. Sistem Imun
Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.
VI. Perawatan Pasca Persalinan
1) Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang
selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring ke
kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya thrombosis dan
tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-
jalan dan hari 4-5 sudah diperbolehkan pulang.

7
2) Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan-
makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan
buah-buahan.
3) Miksi
Hendaknya kencing dilakukan sendiri secepatnya. Bila kandung kemih
penuh dan sulit tenang, sebaiknya dilakukan kateterisasi. Dengan
melakukan mobilisasi secepatnya tak jarang kesulitan miksi dapat
diatasi.
4) Defekasi
Bila terjadi obstipasi dan timbul koprostase hingga skibala tertimbun
di rectum, mungkin terjadi febris. Lakukan klisma atau berikan laksan
peroral ataupun perektal. Dengan melakukan mobilasasi sedini
mungkin tidak jarang kesulitan defekasi dapat diatasi.
5) Perawatan payudara
- Dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu lemas, tidak keras dan
kering sebagai persiapan untuk menyusui bayi
- Jika putting rata. Sejak hamil ibu dapat menarik-narik puting susu. Ibu
harus tetap menyusui agar putting selalu sering tertarik.
- Putting Lecet. Putting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau
perawatan payudara yang tidak benar dan infeksi monilia.
Penatalaksanaan dengan tehnik menyusui yang benar, putting harus
kering saat menyusui, putting diberi lanolin, monilia diterapi dan
menyusui pada payudara yang tidak lecet. Bila lecetnya luas menyusui
di tunda 24-48 jam dan ASI dikeluarkan dengan tangan atau dipompa.
- Payudara bengkak. Payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI
yang tidak lancar karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu
cepat disapih. Penatalaksanaanya dengan menyusui lebih sering,
kompres hangat. Susu dikeluarkan dengan pompa dan pemberian
analgesic.
- Mastitis. Payudara tampak edema, kemerahan dan nyeri yang biasanya
terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Penetalaksanaan dengan

8
kompres hangat/dingin, pemberian antibiotic dan analgesic, menyusui
tidak dihentikan.
- Abses payudara. Pada payudara dengan abses ASI dipompa, abses di
insisi, diberikan antibiotic dan analgesic.
- Bayi yang tidak suka menyusui. Keadaan ini dapat disebabkan
pancaran ASI yang terlalu kuat sehingga mulut bayi terlalu penuh,
bingung putting pada bayi yang menyusui diselang seling dengan susu
botol, putting rata dan terlalu kecil atau bayi mengantuk. Pancaran ASI
yang terlalu kuat diatasi dengan menyusui lebih sering, memijat
payudara sebelum menyusui, serta menyusui dengan terlentang dengan
bayi ditaruh diatas payudara. Pada bayi dengan bingung putting,
hindari dengan pemakaian dot botol dan gunakan sendok atau pipet
untuk memberikan pengganti ASI. Pada bayi mengantuk yang sudah
waktunya diberikan ASI, usahakan agar bayi terbangun.
- Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik
untuk kesehatan bayinya.
6) Laktasi
Disamping ASI merupakan makanan utama bayi yang tidak ada
bandingannya, Menyusui bayi sangat baik untuk menjelmakan rasa
kasih sayang antara ibu dan anak.
Setelah partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesterone
terhadap hipofisis hilang. Timbul pengaruh lactogen hormone
(prolaktin) kembali dan pengaruh oksitosin mengakibatkan
miopitelium kelenjar susu berkontraksi, sehingga terjadi pengeluaran
air susu. Umumnya produksi ASI berlangsung pada hari ke-2-3 pp.
Pada hari pertama, air susu mengandung kolostrum yang merupakan
cairan kuning lebih kental daripada susu, mengandung banyak protein
dan globulin
7) Perasaan mulas sesudah partus akibat kontraksi uterus kadang sangat
menggangu selama 2-3 hari pasca persalinan dan biasanya lebih sering
pada multipara dibanding primipara. Perasaan mulas lebih terasa saat
menyusui, dapat pula timbul bila masih ada sisa selaput ketuban, sisa

9
plasenta atau gumpalan darah dalam kavum uteri. Pasien dapat
diberikan analgesic atau sedative.
8) Latihan senam dapat diberikan mulai hari ke 2 misalnya:
- Ibu terlentang lalu kedua kaki ditekuk, kedua tangan diatruh di atas
dan menekan perut. Lakukan pernafasan dada lalu pernafasan perut.
- Dengan posisi yang sama, angkat bokong lalu taruh kembali.
- Kedua kaki diluruskan dan disilangkan, lalu kencangkan otot seperti
menahan miksi dan defekasi.
- Duduklah pada kursi, perlahan bunbgkukkan badan sambil tangan
berusaha menyentuh tumit.
9) Dianjurkan untuk mengambilan cuti hamil
10) Pemeriksaan pasca persalinan
- Pemeriksaan umum : TD, nadi, keluhan, dll
- Keadaan umum : suhu, selera makan, dll
- Payudara : ASI, putting susu
- Dinding perut : perineum, kandung kemih, rectum
- Sekret yang keluar misalnya lochea, flour albus
11) Nasehat untuk ibu post natal
- Sebaiknya bayi disusui
- Bawakan bayi untuk imunisasi
- Lakukanlah KB
- Fisioterapi post natal sangat baik bila diberikan
- Ibu diharapkan kembali memeriksakan diri pada 6 minggu pasca
persalinan. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat keadaan umum,
keadaan payudara dan putingnya, dinding perut apakah ada hernia,
keadaan perineum, kandung kemih dan adanya flour albus.
Kelainan yang dapat ditemukan selama nifas ialah infeksi nifas,
perdarahan pasca persalinan dan eklamsia puerpurale.
VII. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah lengkap
Hb, Ht, Leukosit, trombosit.
2. Urine lengkap

10
ASUHAN KEPERAWATAN
POST PARTUM FISIOLOGIS

I. PENGKAJIAN
A. Pemeriksaan Fisik
1. Monitor Keadaan Umum Ibu
- Jam I : tiap 15 menit, jam II tiap 30 menit
- 24 jam I : tiap 4 jam
- Setelah 24 jam : tiap 8 jam
2. Monitor Tanda-tanda Vital
3. Payudara
Produksi kolustrum 48 jam pertama.
4. Uterus
Konsistensi dan tonus, posisi tinggi dan ukuran.
5. Insisi SC
Balutan dan insisi, drainase, edema, dan perubahan warna.
6. Kandung Kemih dan Output Urine
Pola berkemih, jumlah distensi, dan nyeri.
7. Bowel
Pergerakan usus, hemoroid dan bising usus.
8. Lochea
Tipe, jumlah, bau dan adanya gumpalan.
9. Perineum
Episiotomi, laserasi dan hemoroid, memar, hematoma, edema,
discharge dan approximation. Kemerahan menandakan infeksi.
10. Ekstremitas
Tanda Homan, periksa redness, tenderness, warna.
11. Diagnostik
Jumlah darah lengkap, urinalisis.
B. Perubahan Psikologis
1. Peran Ibu meliputi:

11
Kondisi Ibu, kondisi bayi, faktor sosial-ekonomi, faktor keluarga, usia
ibu, konflik peran.
2. Baby Blues:
Mulai terjadinya, adakah anxietas, marah, respon depresi dan
psikosis.
3. Perubahan Psikologis
a. Perubahan peran, sebagai orang tua.
b. Attachment yang mempengaruhi dari faktor ibu, ayah dan bayi.
c. Baby Blues merupakan gangguan perasaan yang menetap,
biasanya pada hari III dimungkinkan karena turunnya hormon
estrogen dan pergeseran yang mempengaruhi emosi ibu.
4. Faktor-faktor Risiko
a. Duerdistensi uterus
b. Persalinan yang lama
c. Episiotomi/laserasi
d. Ruptur membran prematur
e. Kala II persalinan
f. Plasenta tertahan
g. Breast feeding

C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma mekanis, edema /
pembesaran jaringan atau distensi efek efek hormonal
2. Ketadakefektifan menyusui berhubungan dengan tingkat
pengetahuan, pengalaman sebelumnya, tingkat dukungan,
karakteristik payudara
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma
jaringan, penurunan Hb, prosedur invasive, pecah ketuban,
malnutrisi
4. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan efek hormonal,
trauma mekanis, edema jaringan, efek anastesi ditandai dengan

12
distensi kandung kemih, perubahan perubahan jumlah / frekuensi
berkemih
5. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan
dengan penurunan masukan / penggantian tidak adekuat,
kehilangan cairan berlebih (muntah, hemoragi, peningkatan
keluaran urine)
6. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, efek
progesteron, dehidrasi, nyeri perineal ditandai dengan perubahan
bising usus, feses kurang dari biasanya
7. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai perawatan diri
dan bayi berhubungan dengan kurang pemahaman, salah
interpretasi tidak tahu sumber sumber
8. Keterbatasan gerak dan aktivitas berhubungan dengan nyeri luka
jahitan perineum
D. Rencana keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma mekanis, edema / pembesaran
jaringan atau distensi efek efk hormonal
Tujuan dan Kreteria Hasil:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri ibu berkurang
dengan criteria evaluasi: skala nyeri 0-1, ibu mengatakan nyerinya
berkurang sampai hilang, tidak merasa nyeri saat mobilisasi, tanda
vital dalam batas normal. S = 36-370C. N = 60-80 x/menit, TD =
120/80 mmhg, RR= 18 20 x / menit
Intervensi dan Rasional:
a. Kaji ulang skala nyeri
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan dan intervensi yang tepat
b. Anjurkan ibu agar menggunakan teknik relaksasi dan distraksi
rasa nyeri
Rasional : untuk mengalihkan perhatian ibu dan rasa nyeri yang
dirasakan
c. Motivasi untuk mobilisasi sesuai indikasi

13
Rasional : memperlancar pengeluaran lochea, mempercepat
involusi dan mengurangi nyeri secara bertahap.
d. Berikan kompres hangat
Rasional : meningkatkan sirkulasi pada perineum
e. Delegasi pemberian analgetik
Rasional : melonggarkan system saraf perifer sehingga rasa nyeri
berkurang
2. Ketadakefektifan menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan,
pengalaman sebelumnya, tingkat dukungan, karakteristik payudara.
Tujuan dan Kreteria hasil:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan ibu dapat mencapai
kepuasan menyusui dengan criteria evaluasi: ibu mengungkapkan
proses situasi menyusui, bayi mendapat ASI yang cukup.
Intervesi dan Rasional:
a. Kaji ulang tingkat pengetahuan dan pengalaman ibu tentang
menyusui sebelumnya.
Rasional: membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini
agar memberikan intervensi yang tepat.
b. Demonstransikan dan tinjau ulang teknik menyusui
Rasional: posisi yang tepat biasanya mencegah luka/pecah putting
yang dapat merusak dan mengganggu.
c. Anjurkan ibu mengeringkan puting setelah menyusui
Rasional : agar kelembapan pada payudara tetap dalam batas
normal.
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan,
penurunan Hb, prosedur invasive, pecah ketuban, malnutrisi
Tujuan dan Kreteria hasil:
Setelah diberikan askep diharapkan infeksi pada ibu tidak terjadi
dengan KE : dapat mendemonstrasikan teknik untuk menurunkan
resiko infeksi, tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
Intervensi dan Rasional:

14
a. Kaji lochea (warna, bau, jumlah) kontraksi uterus dan kondisi
jahitan episiotomi.
Rasional : untuk dapat mendeteksi tanda infeksi lebih dini dan
mengintervensi dengan tepat.
b. Sarankan pada ibu agar mengganti pembalut tiap 4 jam.
Rasional : pembalut yang lembab dan banyak darah merupakan
media yang menjadi tempat berkembangbiaknya kuman.
c. Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : peningkatan suhu > 38C menandakan infeksi.
d. Lakukan rendam bokong.
Rasional : untuk memperlancar sirkulasi ke perinium dan
mengurangi udema.
e. Sarankan ibu membersihkan perineal dari depan ke belakang.
Rasional : membantu mencegah kontaminasi rektal melalui
vaginal.
4. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan efek hormonal, trauma
mekanis, edema jaringan, efek anastesi ditandai dengan distensi
kandung kemih, perubahan perubahan jumlah / frekuensi berkemih.
Tujuan dan Kreteria hasili:
Setelah diberikan askep diharapkan ibu tidak mengalami gangguan
eliminasi (BAK) dengan KE: ibu dapat berkemih sendiri dalam 6-8
jam post partum tidak merasa sakit saat BAK, jumlah urine 1,5-2
liter/hari.
Intervensi dan Rasional:
a. Kaji dan catat cairan masuk dan keluar tiap 24 jam.
Rasional: mengetahui balance cairan pasien sehingga diintervensi
dengan tepat.
b. Anjurkan berkamih 6-8 jam post partum.
Rasional: melatih otot-otot perkemihan.
c. Berikan teknik merangsang berkemih seperti rendam duduk,
alirkan air keran.

15
Rasional: agar kencing yang tidak dapat keluar, bisa dikeluarkan
sehingga tidak ada retensi.
d. Kolaborasi pemasangan kateter.
Rasional: mengurangi distensi kandung kemih.
5. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
penurunan masukan/penggantian tidak adekuat, kehilangan cairan
berlebih (muntah, hemoragi, peningkatan keluaran urine)
Tujuan dan Kreteria Evaluasi:
Setelah diberikan askep ibu diharapkan tidak kekurangan volume
cairan dengan KE : cairan masuk dan keluar seimbang, Hb/Ht dalam
batas normal (12,0-16,0 gr/dL)
Intervensi dan Rasional:
a. Ajarkan ibu agar massage sendiri fundus uteri.
Rasional: memberi rangsangan pada uterus agar berkontraksi kuat
dan mengontrol perdarahan.
b. Pertahankan cairan peroral 1,5-2 Liter/hari.
Rasional: mencegah terjadinya dehidrasi.
c. Observasi perubahan suhu, nadi, tensi.
Rasional: peningkatan suhu dapat memperhebat dehidrasi.
d. Periksa ulang kadar Hb/Ht.
Rasional: penurunan Hb tidak boleh melebihi 2 gram%/100 dL.
6. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, efek
progesteron, dehidrasi, nyeri perineal ditandai dengan perubahan
Tujuan dan Kreteria Evaluasi:
Setelah diberikan askep diharapkan konstipasi tidak terjadi pada ibu
dengan KE : ibu dapat BAB maksimal hari ke 3 post partum, feses
lembek.
Intervensi dan Rasional:\
a. Anjurkan pasien untuk melakukan ambulasi sesuai toleransi dan
meningkatkan secara progresif.
Rasional: membantu meningkatkan peristaltik gastrointestinal.

16
b. Pertahankan diet reguler dengan kudapan diantara makanan,
tingkatkan makan buah dan sayuran.
Rasional: makanan seperti buah dan sayuran membantu
meningkatkan peristaltik usus.
c. Anjurkan ibu BAB pada WC duduk.
Rasional: mengurangi rasa nyeri.
d. Kolaborasi pemberian laksantia supositoria.
Rasional: untuk mencegah mengedan dan stres perineal.
7. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai perawatan diri dan
bayi berhubungan dengan kurang pemahaman, salah interpretasi tidak
tahu sumber sumber
Tujuan dan Kreteria Evaluasi:
Setelah diberikan askep diharapkan pengetahuan ibu tentang perawatan
dini dan bayi bertambah dengan KE : mengungkapkan kebutuhan ibu
pada masa post partum dan dapat melakukan aktivitas yang perlu
dilakukan dan alasannya seperti perawatan bayi, menyusui, perawatan
perinium.
Intervensi dan Rasional:
a. Berikan informasi tentang perawatan dini (perawatan perineal)
perubahan fisiologi, lochea, perubahan peran, istirahat, KB.
Rasional: membantu mencegah infeksi, mempercepat penyembuhan
dan berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan fisik dan
emosional.
b. Berikan informasi tentang perawatan bayi (perawatan tali pusat, ari,
memandikan dan imunisasi).
Rasional: menambah pengetahuan ibu tentang perawatan bayi
sehingga bayi tumbuh dengan baik.
c. Sarankan agar mendemonstrasikan apa yang sudah dipelajari.
Rasional : memperjelas pemahaman ibu tentang apa yang sudah
dipelajari.
8. Keterbatasan gerak dan aktivitas berhubungan dengan nyeri luka jahitan
perineum

17
Tujuan dan Kreteria Evaluasi:
Setelah diberikan askep diharapkan gerak dan aktivitas terkoordinasi
dengan KE : sudah tidak nyeri pada luka jahitan saat duduk, luka
jahitan perinium sudah tidak sakit (nyeri berkurang).
Intervensi dan Rasional:
a. Anjurkan mobilisasi dan latihan dini secara bertahap.
Rasional : meningkatkan sirkulasi dan aliran darah ke ekstremitas
bawah.
b. KIE perawatan luka jahitan periniom.
Rasional : mempercepat kesembuhan luka sehingga memudahkan
gerak dan aktivitas.
c. Kolaborasi pemberian analgetik.
Rasional : melonggarkan sistem saraf parifer sehingga rasa nyeri
berkurang

18
DAFTAR PUSTAKA

- FKUI, Buku Pedoman Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal, Cetakan 1, 2002, Yayasan Bina Pustaka: Jakarta.

- FKUI, Ilmu Kebidanan, Edisi 3, 1999, Yayasan Bina Pustaka: Jakarta.

- FKUI, Obstetri Fisiologi, 1993, E. Leman: Bandung.

- Persis Mary Hamilton, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, 1995, EGC,


Jakarta.

- arpenito, L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta :


EGC.

- Doenges, M.E. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal Edisi 3.


Jakarta : EGC

- Farrer H. 1999. Perawatan Maternitas. Edisi 2. Jakarta. EGC

- Mochtar R, Prof. dr. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC

- Mansjoer, Arif,dkk. 2001.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3.Jakarta:


FKUI

- Prawirohardjo, S. 2000. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan


maternal dan

- neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

19