Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN 1

PRAKTIKUM ANTENA DAN PROPAGASI


ANTENA PEMANCAR, ANTENA PENERIMA, DIAGRAM POLAR
ANTENA DAN PENGUKURAN PENGUATAN

KELOMPOK 1

OLEH :
MALIKHATUL FAUZIAH
1531130043

TT 3A

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
PERCOBAAN 1
ANTENA PEMANCAR

1. Tujuan
1.1 Mengoperasikan pemancar UHF dan mengetahui daya yang diradiasikan
1.2 Mengerti kondisi match dan mis-match, antara beban pada ujung saluran koaksial
dan antena pemancar
1.3 Mengerti dasar-dasar antena pemancar yang digunakan sebagai beban
1
1.4 Mengenal hubungan asymmetric, antena antara 2 (rod antenan) dan antena dipole
1
symetric , menggunakan rangkaian simetri dengan saluran koaksial
2
1.5 Mengenal kualitas dan efektivitas rangkaian simetri ini, saat antena matching
1
1.6 Mengukur distribusi arus dan tegangan sepanjang dipole dan sepanjang rod
2
antenna
1.7 Menentukan dengan pengukuran, polarisasi gelombang yang diradiasikan
1.8 Mengerti perubahan pada ciri-ciri antena,menghasilkan perubahan perbandingan
yang baik

2. Alat-alat dan Komponen yang Digunakan :


1. 1 Pemancar UHF.
2. 1 Antena 2-elemen.
1
3. 1 Antena Floded Dipole 2 (dari Antena Yagi).
4. 1 Kabel Koaksial (50 ), panjang 1 m.
5. 1 Hand Probe untuk indikasi arus.
6. 1 Hand Probe untuk indikasi tegangan.

3. Set-Up Perangkat
1. Menyiapkan alat dan instrument yang digunakan.
2. Pasang kabel power pada pemancar dan penerima UHF.
3. Hubungkan antena folded dipole dengan pemancar UHF menggunakan kabel
koaksial (500 ).
4. Nyalakan saklar listrik.
5. Nyalakan power pemancar UHF.
6. Atur Pout pemancar 0.5 Watt.
a. Antena Pemancar

S1
1
S2
0

P Out Sensitivitas

b. Pengukuran pemancar dan antena

S1 S1
1 1
S2 S2
0 0

P Sensitivitas P Sensitivitas
Out Out

c. Pengukuran polarisasi

S1 S1
1 1
S2 S2
0 0

P Sensitivitas P Out Sensitivitas


Out

d. Pengukuran distribusi arus dan tegangan

Distribusi Arus

Distribusi Tegangan
4. Prosedur Percobaan

4.1 Pemancar
4.1.1 Pengoperasian
Pemancar membangkitkan frekuensi 434 MHz. Daya keluaran dapat diukur
dengan kontrol 1 (Pout) antara 0 sampai 2 Watt.

Meter menunjukkan daya yang dibangkitkan oleh pemancar, saat switch S1 pada
posisi Pout, untuk mengatur daya output.

Untuk pengukuran matching, dihubungkan secara langsung didalambya antara unit


pemancar dan output BNC socket, dengan salah satu penunjukkan:

a. Tegangan maju (forward voltage), switch S1 ke SWR (Standing Wave


Ratio), ketika S2 ke UF
b. Untuk keadaan mis-match, tegangan balik (Reflected Voltage), ketika S2
diatur ke UR

Kontrol 2 (Sensitivity), digunakan untuk mengatur sensitivitas meter untuk


pengukuran SWR.

Contoh, kontrol ini mengatur penunjukkan jarum 100% (f.s.f) untuk forward voltage,
dengan mengatur S2 pada UR, reflection factor fapat dibaca langsung dari skala
meter.
SWR diperoleh dari reflection factor, menggunakan persamaan
1+r Ur
SWR = , dengan r =
1r Uf

Antena dapat dipasang pada pipa (tiang) penyangga pada bahan dielektrik yang telah
tersedia, secara langsung pada pemancar.

4.1.2 Pengukuran Pemancar


Hubungkan folded dipole dengan kabel koaksial ke output pemancar.

S1 ke posisi Pout dan S2 pada Ur, amati perubahan daya output dengan
mengatur kontrol 1 antara 0 sampai 2 Watt.
Amati daya pemancar untuk perubahan saat obyek logam dibawa atau dekat
antena. Hindarai hal ini, agar pengoperasiannya dalam kondisi normal.
Hitung panjang gellombang pada frekuensi 434 MHz, menggunakan
persamaan,
c
= f , dengan c= 300.000km/sec. Kecepatan cahaya

Hindari obyek logam yang dekat atau dibawah antena, amati perubahan daya
pemancar untuk pengoperasian dalam kondisi normal.

4.2 Antena Pemancar


4.2.1 Antena yang dimaksud adalah dua jenis antena yang dipergunakan dalam
percobaan :
a. Folded dipole, di match dengan kabel koaksial 50 yang menggunakan
stub /2 seperti gambar 17, dan

b. Double Dipole, terdiri dari 2 dipole lurus yang menurut aturan kopling
induktif persial dan transformasi impedansi feeder, dapat juga
dihubungkan dengan kabel koaksial.

Susunan antena ini, satu dipole dengan panjang lurus terhadap yang lain dan
antena ini diarahkan sesuai yang diinginkan, seperti pada bagian sebelumnya.

4.3 Pengukuran Pemancar Antena


4.3.1 Mengukur matching antena
Salah satu bagian yang paling penting pada pengukuran antena pemancar.
Hubungkan folded dipole dengan kabel koaksial pada output pemancar dan atur
daya output 2 W. Set switch pada SWR, set tegangan Uf pada 100%.

Dalam pensetting switch Ur, presentase reflected forward voltage dapat


langsung dibaca pada meter.
Tentukan faktor refleksi dari antena :
Ur
r= Uf

Hitung reflekted power, PR

PR = r 2 . Pout

Hitung daya yang diradiasikan oleh antena, P


P = Pout - PR = Pout (1 r 2 )

Hitung SWR antena


1+r
SWR = 1r

Tunjukkan bagaimana besar fluktuasi tegangan yang direfleksikan ketika obyek


logam yang menimbulkan pengaruh pada antena dan hal ini harus dihindari dalam
praktek.
Ulangi pengukuran dan perhitungan di atas, menggunakan antena double dipole.

4.3.2 Pengukuran Polarisasi


Penunjukkan polarisasi radiasi dari antena yang digunakan, seperti pada
Gambar 3, 6 dan 7, bila perlu.

Pasang antena folded dipole pada tiang seperti pada gambar untuk
menghasilkan horisontal (seperti Gambar 22)

Atur daya output pemancar mendekati 0,5W.

Gunakan Hand probe untuk indikasi tegangan dan pada jarak kurang lebih
1cm, tunjukkan bidang polarisasi. Periksa tegangan yang ditunjukkan hand
probe saat probe diputar hingga 90 pada bidang polarisasi.
Ulangi pengukuran, dengan menggunakan antena double dipole.

Putar tiang, bersama dengan double dipole 180 dan amati pada hand probe,
perbedaan dalam radiasi pada posisi depan dan belakang antena.
Amati juga, bidang polarisasi.

4.3.3 Pengukuran Distribusi Tegangan


Untuk tujuan pengetesan, double dipole lurus digunakan secara inisial.

Atur daya pemancar mendekati 0,5 W. Gerakkan hand probe untuk indikasi
tegangan sepanjang antena, pada jarak mendekati 1cm dari antena.
Amati respon probe (dengan mengatur sensitivitas probe pada level yang
sesuai), pada kuat medan E dan bandingkan dengan medan E.
Ulangi pengukuran dengan folded dipole.
Dostribusi arus diukur dengan hand probe indikasi arus.
Kurangi daya pemancar kurang lebih 0,1 W.

Gerakkan hand probe indikasi arus sepanjang dipole. Amati penyimpanngan


pada probe meter dan bandingkan distribusi arus seperti ditunjukkan Gambar
24.

5. Data Hasil Percobaan


5.1 Hasil Pengukuran Matching Antena
Antena Folded Dipole
Pout = 2W
Ur = 22%
Uf = 100%
Ur 22%
1. r = = 100% = 0,22
Uf
2. PR = r 2 . Pout = (0,22)2 . 2W = (0,0484). 2W = 0,0968
3. P = Pout - PR = 2W (0,0968) = 1,9032
1+r 1+0,22 1,22
4. SWR = = = 0,78 = 1,564
1r 10,22

Antena Double Dipole


Pout = 2W
Ur = 18%
Uf = 100%
Ur 18%
1. r= = 100% = 0,18
Uf
2. PR = r 2 . Pout = (0,18)2 . 2W = (0,0324). 2W = 0,0648
3. P = Pout - PR = 2W (0,0648) = 1,9352
1+r 1+0,18 1,18
4. SWR = = = 0,82 = 1,439
1r 10,18

5.2 Hasil Pengukuran Arus


Tabel 1. Hasil Pengukuran Arus dengan hand probe

Panjang(cm) Level Arus


0 0
3 1,5
6 3,4
9 4,5
12 5
15 6
18 5,5
21 4,5
24 4
27 3
30 1,5
33 0

Level Arus
7

3 Level Arus

0
0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33

Grafik 1. Nilai Level Arus


PERCOBAAN I

ANTENA PENERIMA

1. Tujuan :
1.1 Mengerti keperluan matching polarisasi antena pemancar dan penerima.
1.2 Mengenal kemungkinan isolasi sinyal oleh pengoperasian sistem yang
menggunakan diversi polarisasi.
1.3 Mengerti hambatan dalam transmisi antara pemancar dan penerima, dapat
menyebabkan interferensi pada sinyal.
1.4 Menghitung pelemahan ruang bebas (free space) antar pemancar dan penerima.
1.5 Menentukan perbedaan level sinyal dan pelemahan dalam decibel (dB).
1.6 Mengukur penurunan kuat medan sinyal, dengan bertambahnya jareak antena
penerima.
1.7 Menentukan beberapa jenis antena yang menunjukan perbedaan pengarahan dan
dapat perbedaan kuat sinyal pada penerima dari daya pemancar yang sama.

2. Alat alat dan komponen yang digunakan :

1. 1 pemancar UHF dengan antena.


2. 1 penerima UHF dengan antena.
3. 1 antena dipole 2 elemen.
4. 1 folded dipole setengah-gelombang, dari antena yagi.
5. kabel koaksial dengan konektor BNC (50).
6. 1 hard probe untuk indikasi tegangan.
7. 1 tiang pemasangan dengan beberapa elemen ditector ( dari antena yagi).

3. Set-up Perangkat

1. Menyiapkan alat dan instrument yang digunakan.


2. Pasang kabel power pada pemancar dan penerima UHF.
3. Letakkan pemancar dan penerima UHF berjarak 0,5m.
4. Pasang antenna folded dipole pada pemancar UHF dan antenna double dipole
pada penerima UHF secara horizontal kemudian vertical (antenna bergantian).
5. Pasang kabel koaksial (50) pada antenna dan sambungkan ke pemancar atau
penerima UHF.
6. Nyalakan saklar listrik.
7. Nyalakan power pemancar dan penerima UHF.

Rangkaian Percobaan
a. Antena pemancar dan penerima dalam posisi Horisontal
Antena Folded Dipole Antena Double Dipole

D= 0,5

RF In DETECTOR
S1
1 1
S2 SENS
0 0

P Sensitivitas UHF RECEIVER


Out

b. Antena pemancar dalam posisi horizontal dan antenna penerima dalam


posisi vertical
Antena Double Dipole
Antena Folded Dipole

D= 0,5 m

RF In DETECTOR
S1
1
1
S2 SENS
0
0

P Sensitivitas UHF RECEIVER


Out

c. Cross-Polarisasi

Antena Double Dipole


Antena Folded Dipole

Elemen Director Antena Yagi

RF In DETECTOR
S1
1 1
S2 SENS
0 0

P Sensitivitas
UHF RECEIVER
Out
d. Co-Polarisasi

Antena Double Dipole


Antena Folded Dipole

Elemen Director Antena Yagi

RF In DETECTOR
S1
1 1
S2 SENS
0 0

P Sensitivitas
UHF RECEIVER
Out

4. Prosedur percobaan :
a. Unit Penerima

Gambar 2. Unit Pemancar dan Penerima

Pemancar diletakkan berjauhan dengan penerima

1. Frekuensi tinggi, melalui detector HF dan mengatur penguatan d.c, dapat


dihubungkan ke test meter pada socket BNC Penerima UHF .
2. Antena penerima dipasang pada tiang yang telah disediakan pada unit
penerima, tiang dapat diputar dan sudutnya dapat dirubah atau diatur sesuai
dengan pembacaan pada skala yang ada untuk pengaturan antena.
3. Jarak antena pemancar dan penerima , dalam praktek, lebih kecil 10 kali
dari panjang gelombang signal yang ditransmisikan.
4. Tidak boleh ada bahan logam yang sifatnya memantulkan dalam ruang atau
daerah pengukuran. Hal ini menyebabkan terjadinya gelombang berdiri (
standing wave ).

Berdasarkan pertimbangan secara teoritis, dua point terakhir merupakan alasan


mengapa hasil penugukuran tidak tepat.
b. Co-Polarisasi dan Cross-Polarisasi
i. Dari gambar 3 seperti dibawah ini, macam polarisasi digambarkan kembali.

Gambar 3. Polarisasi Horizontal dan Vertikal

1. Pasang antena folded dipole horizontal pada pemancar dan atur daya
pemancar 0,1 W.
2. Pasang antean 2 elemen pada penerima, juga horizontal, dengan dipole
yang lebih pendek diarahkan ke pemancar.
3. Hubungkan input penerima dan atur kontrol Sensitivity untuk
penyimpanan jarun yang lebih besar.
4. Amati pembacaan pada meter penerima dan catat hasilnya.
5. Sekarang pasang antena 2-elemen pada penerima dengan posisi vertikal.
Amati pembacaan pada meter penerima dan catat hasilnya.
6. Apa yang terjadi pada pembacaan meter penerima. Bila daya penerima
dinaikkan . perkirakan pelemahan yang dihasilkan oleh pimilihan
polarisasi yang salah, misalnya apakah dengan adanya polarisasi isolasi
tersebut lebih besar ( atau cross-polarisasi) dapat dicapai?

c. Pengukuran dan Perhitungan untuk pelemahan antara Antena Pemancar dan


Penerima.
i. Menggunakan Nomograph , tentukan pelemahan ruang bebas pada frekuensi 434
MHz, untuk jarak transmisi seperti dalam tabel :
Jarak 3m 30 m 300 m 3 km 30 km
Pelemahan
35 dB 54 dB 75 dB 95 dB -
ruang bebas
1. Tempatkan pemancar dan penerima dengan jarak antena sekitar 0.5 m
2. Kurangi daya pemancar kurang lebih 0,1 W untuk penyimpangan skala
tengah pada meter penerima.
3. Tambahkan jarak antena pemancar dan penerima sekitar 1 m.
4. Naikkan daya pemancar, sehingga diperoleh pembacaan meter yang sama
pada penerima sebelumnya.

Gambar 4.

5. Bandingkan, berapa daya pemancar yang dinaikkan antara kedua antena,


sehingga diperoleh sinyal penerimaan yang sama sebelum jarak dinaikkan.
6. Bila memungkinkan, naikkan jarak antena dari 1 m sampai 2 m. Sekali lagi,
amati daya pemancar, bila perlu, pertahankan penerimaan signal konstan.
7. Pertahankan handprobe untuk indikasi tegangan di tengah, antara antena
pemancar dan penerima, pada posisi co polarisasi dan cross polarisasi.
8. Apa pengaruh pada meter penerima?.
9. Tempatkan elemen director antena Yagi, dalam sumbu radiasi antara antena
pemancar dan penerima, juga dalam posisi co polarisasi dan cross
polarisasi.
10. Amati apa pengaruhnya?

5. Data Percobaan
a. Pelemahan ruang bebas pada frekuensi 434 MHz, untuk jarak transmisi seperti
dalam tabel :
Jarak 3m 30 m 300 m 3 km 30 km
Nomograph
35 dB 54 dB 75 dB 95 dB -
Pelemahan ruang bebas
Jarak 3m 30 m 300 m 3 km 30 km
4R
Perhitungan (20log ( )) 34,73 dB 54,73 dB 74,73 dB 94,73 dB 114,73 dB

(Pelemahan ruang bebas)

b. Co-polarisasi dan Cross-Polarisasi


i. Tabel Co-polarisasi
Jarak Power Pemancar Skala Penerima (RFin)
0.5 meter 0.1 watt 50%
1 meter 0.22 watt 50%
1,8 meter 0.75 watt 50%
ii. Tabel Cross-Polarisasi
Jarak Power Pemancar Skala Penerima (RFin)
0.5 meter 0.1 watt 0%
1 meter 0.4 watt 0%
1,8 meter 0.6 watt 0%
PERCOBAAN 1
DIAGRAM POLAR ANTENA DAN PENGUKURAN PENGUATAN

1. Tujuan
1.1 Menentukan karakteristik pengarahan, celah antenna atau jarak antenna elemen.
1.2 Menggambarkan diagram polar horizontal dan vertical antenna dari pengukuran
yang dilakukan pada linier atau koordinat polar.
1.3 Mengartikan gambar diagram polar, sehingga mengerti bentuk Side-lobe, zero-
point dan Front-to-back ratio antenna.
1.4 Mengenal hubungan antara maksud pengarahan dan penguatan antenna.
1.5 Menentukan penguatan antenna dengan perhitungan atau pengukuran.
1.6 Mengenal arti penguatan antenna pemancar dan penerima dengan menghitung level
signal.
1.7 Mengetes kemungkinan untuk memperbaiki penguatan antenna dan maksud
pengarahan, dengan menambah elemen director dan reflector, menggunakan antenna
Yagi sebagai contoh.

2. Alat/Instrumen/Komponen yang digunakan :


1. 1 Pemancar UHF, dengan antenna
2. 1 Penerima UHF, dengan antenna yang dapat diputar
3. 1 Antena 2-elemen
4. 1 Folded dipole
5. 1 Antena Yagi
6. Kabel koaksial dengan konektor BNC (50 )

3. Set-Up Perangkat
1. Menyiapkan alat dan instrument yang digunakan.
2. Pasang kabel power pada pemancar dan penerima UHF.
3. Letakkan pemancar dan penerima UHF berjarak 0,5m.
4. Pasang antenna folded dipole pada pemancar UHF dan antenna double dipole
pada penerima UHF secara horizontal kemudian vertical (antenna bergantian).
5. Pasang kabel koaksial (50) pada antenna dan sambungkan ke pemancar atau
penerima UHF.
6. Nyalakan saklar listrik.
7. Nyalakan power pemancar dan penerima UHF.
8. Atur Pout pemancar 0.5 watt.
9. Atur sensitivity pada penerima UHF sehingga diperoleh RFin maksimal.

4. Prosedur Percobaan
4.1 Polar Horizontal
Diagram polar antena horizontal, antena dua elemen dan dipole folded.

Gambar 1. Layout Percobaan Pemancar dan Pemerima.


Pertama menggunakan folded dipole pada pemancar, dipasang pada tiang dielektrik,
secara horisontal.
Seebagai antena uji, antena 2-elemen dipasang pada tiang penerima, juga secara
horisontal.
Pemasangan kedua antena seperti Gambar 9 dan atur daya pemancar untuk
pembacaan maksimum pada meter penerima, dengan daya pemancar 0,1 W, jarak 0,5
sampai 1m.
Putar antena penerima 180, perstep 10. Searah jarum jam, perhatikan nilai pada
meter penerima untuk tiap step dan semua nilai sesuai dengan pengaturan sudut, pada
diagram koordinat polar.
Sekarang, ganti dua antena dengan yang lain dan ulani pengukuran untuk folded
dipole pada penerima.
Tambahkan reflektor pada folded dipole, seperti Gaambar 10, ulangi pengukuran
untuk mengeplot diagram polar horisontal (menggunakan lembar diagram polar)
Gambar 2. Folded Dipole dengan reflektor.
4.2 Pola vertikal

Gambar 3. Layout Percobaan Pemancar dan Penerima.


Pertama menggunakan folded dipole pada pemancar, dipasang pada tiang dielektrik
secara vertikal.
Sebagai antena tes, antena 2-elemen dipasang pada tiang penerima, juga secara
vertikal.
Pemasang kedua antena seperti Gambar 11 dan atur daya pemancar untuk
pembacaan maksimum pada meter penerima.
Putar antena penerima 180, perstep 10, searah dengan jarum jam, perhatikan harga
pada meter penerima untuk tiap step dan semua harga sesuai dengan pengaturan
sudut, pada diagram koordinat polar.
Sekarang, ganti dua antena dengan yang lain dan ulangi pengukuran folded dipole
pada penerima.
Tambahkan reflektor pada folded dipole, seperti Gambar 10, ulangi pengukuran
untuk mengeplot diagram polar vertikal (gunakan lembar diagram polar secara
terpisah).
5. Data Hasil Percobaan
5.1 Pola Horizontal
Pengukuran diagram antena horisontal, antena dua elemen dan dipole folded pada
jarak (1 m)
Sudut Nilai
0 100%
10 46%
20 28%
30 18%
40 8%
50 2%
60 0%
70 0%
80 2%
90 0%
100 6%
110 20%
120 10%
130 20%
140 12%
150 19%
160 18%
170 30%
180 42%
Diagram polar antena horisontal
100%
Diagram Polar Horizontal 0
180 10

170 20

46%
160 42% 30

30% 28%

150 40
18% 18%
19% 8%
12% 2%
140 0% 50
20% 0%
10% 0% 2%
6%
20%
130 60

120 70

110 80
100 90
5.2 Pola Vertikal
Pengukuran diagram antena vertikal, antena dua elemen dan dipole folded pada
jarak (1 m)
Sudut Nilai
0 100%
10 52%
20 32%
30 36%
40 20%
50 24%
60 40%
70 10%
80 14%
90 2%
100 8%
110 36%
120 8%
130 40%
140 14%
150 10%
160 6%
170 12%
180 16%
Diagram polar antena vertikal
100%
Diagram Polar Vertikal
0
180 100% 10
90%
170 80% 20

70% 52%
60%
160 30
50%

40% 32%
16%
30% 36%
150 12% 40
20%
6%
10% 20%
10%
0%
14% 24%
140 50

8% 10%
2%
40% 40%
8% 14%

130 60
36%

120 70

110 80

100 90