Anda di halaman 1dari 14

PROMOSI KESEHATAN

A. Konsep Promosi Kesehatan


1. Perkembangan Konsep Dasar Promosi Kesehatan
Konsep promosi kesehatan merupakan pengembangan dan konsep pendidikan
kesehatan, yang berkembang sejalan dengan perubahan paradigm kesehatan masyarakat (
Public Health ). Perubahan padigma kesehatan masyarakat terjadi antara lain akibat
perubahan pola penyakit, gaya hidup kondisi kehidupan lingkingan kehidupan demografi
dan lain lain.
Pada awal perkembangannya, kesehatan masyarakat difokuskan pada factor
factor yang menimbulkan resiko kesehatan seperti udara, air, penyakit penyakit
bersumber makanan serta penyakit penyakit yang buruk. Dalam perkembangan
selanjutnya disadari bahwa kondisi kesehatan juga dipengaruhi oleh gaya hidup
masyarakat. Sejak saaat itu, pendidikan kesehatan menjadi perhatian dan merupakan
bagian dari upaya kesehatan masyarakat yang difokuskan kepada :
a. Perilaku beresiko seperti : Merokok, Makanan rendah serat, dan Kurang gerak
b. Pelayanan kedokteran pencegahan
c. Deteksi dini pencegahan.
Deklarasi Alam Ata (1978) menghasilkan strategi utama dalam pencapaian
kesehatan bagi semua (Health For All) melalui pelayanan kesehatan dasar (Primary Healt
Care). Salah satu komponen didalam pelayanan kesehatan dasar itu adalah pelayanan
kesehatan, yang di Indonesia pernah juga disebut penyuluhan kesehatan.
Pada tahun 1986 di Ottawa, Canada, dilangsungkan konferensi internasional promosi
kesehatan yang menghasilkan piagam Ottawa (Ottawa Charter) yang menjadi acuan bagi
promosi kesehatan, termasuk di Indonesia. Sesuai dengan piagam Ottawa, aktivitas
promosi kesehatan adalah Advokasi (Advocating), Pemberdayaan (Enabling), dan
Mediasi (Mediating).
Selanjutnya piagam Ottawa juga merumuskan lima komponen utama promosi
kesehatan yaitu :
a. Membangun kebijakan public berwawasan kesehatan (Built Health Public
Policy), artinya mengupayakan agar para pembantu kebijakan diberbagai sector
dan tingkatan administrasi mempertimbangkan dampak kesehatan dari setiap
kebijakan yang dibuatnya.
b. Menciptakan lingkungan yang mendukung (Create Supportive Environtments)
artinya menciptakan suasana lingkungan (baik fisik maupun social politik) yang
mendukung sehingga masyarakat termotivasi untuk melakukan upaya upaya
yang positife bagi kesehatan.
c. Memperkuat gerakan masyarakat (Streghthen community action) artinya
memberikan dukungan terhadap kegiatan masyarakat agar lebih berdaya dalam
upaya mengendalikan factor factor yang mempengaruhi kesehatan.
d. Mengembangkan ketrampilan individu (Develop personal skill) artinya
mengupayakan agar masyarakat mampu membuat informasi, pendidikan dan
pelatihan memadai. Upaya ini akan lebih efektiv dan efisien bila dilakukan
melalui pendekatan tatanan (setting).
e. Reorient pelayanan kesehatan (Reorient Health Service) artinya mengubah
orientasi pelayanan kesehatan agar lebih mengutamakan upaya preventive dan
promotivetanpa mengesampingkan upaya curative dan rehabilitative

2. Definisi Promosi Kesehatan


Promosi kesehatan adalah proses advokasi kesehatan yang dilaksanakan untuk
meningkatkan kemampuan baik di tingkat personal, swasta, maupun pemerintah. Promosi
Kesehatan adalah suatu kegiatan penyampaian ilmu dan informasi kesehatan kepada
individu kelompok, keluarga dan komunitas dengan tujuan dari tidak mampu menjadi
mampu merubah kebiasaan yang sesuai dengan prinsip kesehatan dalam berbagai aspek
kehidupannya secara mandiri dan menerapkan sepanjang hidupnya.
Proses untuk meningkatkan kemampuan orang dalam meningkatkan dan mengendalikan
kesehatan, maka seseorang/ kelompok harus mengidentifikasi dan menyadari aspirasi,
mampu memenuhi kebutuhan dan merubah lingkungannya (piagam Ottawa,1986)

3. Strategi Promosi Kesehatan


Strategi promosi kesehatan menurut WHO ( internasional)
a. Advokasi; pendekatan terencana yang ditujukan kepada para penentu kebijakan
dalam rangka mendukung suatu isu kebijakan yang spesifik. Advokasi yang berhasil
akan menentukan keberhasilan kegiatan promosi kesehatan pada langkah selanjutnya
sehingga keberlangsungan program dapat lebih tejamin.
b. Mediasi. kegiatan promosi kesehatan tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus
melibatkan lintas sector dan lintas program. Mediasi berarti menjembatani
pertemuan diantara beberapa sector yang terkait . Karenanya masalah kesehatan
tidak hanya dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga
perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut. Sebagai contoh, kegiatan promosi
kesehatan terkait kebersihan lingkungan harus melibatkan unsure kimpraswil dan
pihak lain yang terkait sampah.
c. Memampukan masyarakat (enable), adalah kegiatan pemberian pengetahuan dan
keterampilan kepada masyarakat agar mereka mampu menjaga dan memelihara serta
meningkatkan kesehatannya secara mandiri. Kemandirian masyarakat dalam menjaga
dan meningkatkan kesehatanya merupakan tujuan dari kegiatan promosi kesehatan.
Strategi Promosi Kesehatan berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, yaitu:
a. Strategi Promosi Kesehatan Primer
Tindakan pada fase ini adalah untk mencegah terjadinya kasus penyakit. Berfokus
pada masyarakat yang masih daam keadaan sehat.
b. Strategi Promosi Kesehatan Sekunder
Strategi promosi kesehatan sekunder berfokus pada masyarakat yang beresiko
untuk mengalami penyakit.
c. Strategi Promosi Kesehatan Tersier
Dalam tahap ini, strategi kesehatan difokuskan pada masyarakat yang sudah
terkena penyakit. Focus penanganan yaitu dengan rehabilitasi untuk mencegah
kecacatan/ kemunduran lebih lanjut dari penyakitnya tersebut.

4. Sasaran Promosi Kesehatan


a. Indvidu atau keluarga
Dengan diberikannya promosi kesehatan individu diharapkan memperoleh
informasi baik secara langsung ataupun melalui berbagai media, mempunyai
kemampun untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya, dapat
melakukan tindakan hidup bersih dan lingkungan yang sehat, ikut berperan dalam
kegiatan sosial yang berkaitan dengan kesehatan.
b. Masyarakat atau LSM
Diharapkan dapat mengembangkan upaya peningkatan kesehatan dan saling
bekerjasama serta saling membantu untuk mewujudkan lingkungan sehat.
c. Lembaga pemerintah
Diharapkan dapat perduli dan mndukung upaya mengembangkan perilaku sehat
dan lingkungan sehat, membuat kebijakan yang berhubungan dengan bidang
kesehatan.
d. Institusi
Diharapkan dapat meningkatkan mutu kesehatan yang dapat memeberi kepuasan
pada masyarakat.
B. Persepsi Dalam Promosi Kesehatan
1. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu proses otomatis yang terjadi dengan sangat cepat dan
kadang tidak kita sadari, di mana kita dapat mengenali stimulus yang kita terima.
Persepsi yang kita miliki ini dapat mempengaruhi tindakan kita. Robbin (2003)
mendefinisikan persepsi sebagai proses di mana seseorang mengkeordinasiakan dan
menginterpretasikan sensasi yang di rasakan dengan tujuan untuk member makna
terhadap lingkungannya.

2. Macam-Macam Persepsi
a. Sensasion adalah proses sensasi atau merasakan yang menyangkut sensoris
(sesuatu / stimulus yang bias di rasakan oleh kulit).
b. Proses persepsi yang menyangkut interpretasi kita terhadap obyek yang kita lihat,
kita dengar atau kita lihat.
Sensasi
Sebuah obyek berupa stimulus di terima oleh panca indra melalui elemen
sensitif yang di sebut reseftor.reseftor ini berhubungan dengan saraf otak. Ketika
indra kita di
Persepsi
Setelah stimulus di terima oleh system saraf , proses selanjutnya adalah
menginterpretasikan stimulus tersebut. Interpretasi adalah suatu perintah yang
keluar dari kepala kita, sedangkan sensasi adalah apa yang kita terima dari luar
dan masuk ke dalam kepala kita.

3. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi


a. Faktor eksternal adalah faktor yang melekat pada objek.
b. Faktor internal adalah faktor yang terdapat pada orang yang mamperspsikan
stimulus tersebut.

4. Bentuk dan Latar


Dalam mempersepsi stimulus visual berupa bentuk,kita akan manggolongkannya
menjadi dua bagian, yaitu objek dan latar. Objek adalah benda atau bentuk yang
masuk dalam fokus perhatian kita. Sedangkan latar adalah tanpa bentuk dan
membantu kita untuk menetapkan lokasi dari objek yang kita lihat. Dengan demikian
persepsi visual suatu objek visual bergantung dari bagian mana yang kita anggap
sebagai objek dan bagian mana yang kita anggap sebagai latar. Konsep ini oleh para
ahli psoikologi disebut sebagai figure and ground.
Yang membedakan antara figur dan latar adalah kontur. Kontur terbentuk jika ada
perbedaan yang tajam dari warnanya. Jika warna berubah secara bergradasi dan
tidak secara tajam, maka kita tidak dapat menemukan konturnya. Kontur akan
memberikan bentuk pada suatu objek karena akan membedakan antara figur dan
latarnya. Jika kontur tidak jelas maka figur akan sulit ditemukan.

5. Gaya Persepsi Kognitif


Manusia memiliki keunikan tersendiri dalam mempersepsikan objek di
sekitarnya. Setiap manusia memiliki gaya yang berbeda dalam mempersepsikan
stimulus yang diterimanya.
Ada dua gaya yang berbeda dalam proses persepsi ini, yaitu:
1. Kelenturan versus kekakuan: seseorang dengan fleksibilitas yang tinggi akan
memiliki rentang perhatian yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang
dengan fleksibilitas yang rendah atau cendrung kaku.
2. Ketergantunagan versus ketidaktergantungan terhadap situasi. Hal ini berkaitan
dengan persepsi terhadap keseluruhan atau bagiannya. Orang yang memiliki
ketergantungan yang tinggi akan mengalami kesulitan dalam memecahkan
persepsinya dalam bagian-bagiannya.

C. Motivasi Dalam Promosi Kesehatan


Kita hanya dapat mengetahui motivasi seseorang dengan menyimpulkan prilaku,
perasaan, dan perkataannya ketika mereka ingin mencapai tujuannya. Selain motivasi
adalah konsep yang komplek karena manusia adalah mahkluk yang komplek. Para
penganut freudian menganggap bahwa hal yang kita tekan ke alam bawah sadar. Freudian
percaya bahwa alam bawah sadar dapat mendorong kita untuk berperilaku tertentu.
1. Definisi Motivasi
Motofasi berasal dari bahasa latin yang berarti to move. Secara umum mengacu
pada adanya kekuatan dorongan yang menggerakkan kita untuk berprilaku
tertentu.dalam mempelajari motivasi kita akan berhubungan dengan hasrat,
keinginan, dorongan dan tujuan. Di dalam konsep motivasi kita juga mempelajari
sekelompok fenomena yang mempengaruhi sifat, kekuatan dan ketetapan dari tingkah
laku manusia.
2. Berbagai Pendekatan dalam Mempelajari Motivasi
1. Pendekatan Instink
Pada awalnya motivasi dipelajari dengan mempelajari instink. Instink
adalah pola prilaku yang kita bawa sejak lahir yang secara biologis diturunkan.
Beberapa instink yang mendasari adalah instink untuk menyelamatkan diri dan
instink untuk hidup. Seks adalah salah satu contoh dari instink untuk hidup,
karena terkait dengan fungsi reproduksi.
2. Pendekatan Pemuasan Kebutuhan
Teori yang menekankan pada apa yang menarik seseorang untuk
berprilaku atau drive theori ini menjelaskan motivasi dalam suatu gerak sirkuler.
Manusia terdorong untuk berprilaku tertentu guna mencapai tujuannya sehingga
tercapailah keseimbangan.
3. Pendekatan Insentif
Berlawanan dengan teori dorongan yang memfokuskan diri pada yang
mendorong seseorang untuk berperilaku teretentu, maka posh theory lebih tertarik
untuk mempelajari apa yang dapat menarik seseorang untuk melakukan prilaku
tertentu.
Insentif merupakan stimulus yang menerik seseorang untuk melakukan
sesuatu, karena dengan melakukan prilaku tersebut, maka kita akan mendapat
imbalan. Pendekatan insentif ini mempelajari motif yang berasal dari individu
yang bersangkutan atau disebut dengan motif ekstrinsik. Denga demikian,
motivasi seseorang dapat dibentuk dengan memberikan insentif dari luar.
4. Pendekatan Arousal
Pendekatan ini mencari jawaban atas tingkah laku dimana tujuan dari
perilaku ini adalah memelihara atau meningkatkan rasa ketegangan.Pandangan
Hedonistik mengatakan bahwa manusia selalu mencari kenikmatan atau hal-hal
yang membuatnya senang dan menghindari hal-hal yang tidak
menyenangkan.Dalam teori ini dikatakan pula bahwa manusia selalu berusaha
memelihara kadar stimulasi dan aktivitas tertentu. seperti pada teori dorongan,
maka jika stimulasi atau aktivitas kita terlalu tinggi, maka manusia akan berusaha
menguranginya.
5. Pendekatan kognitif
Menjelaskan bahwa motivasi merupakan produk dari pikiran, harapan, dan tujuan
seseorang,
a. Motif intrinsik yaitu motif yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu
aktivitas guna memenuhi kesenangan bukan karena ingin mendapatkan pujian.
b. Motif ekstrinsik adalah motif yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu
aktivitas karena ingin mendapatkan pujian.

3. Teori motivasi
Ada dua aliran teori motivasi
1. Content Theory
Teori ini mengajukan cara untuk menganalisis kebutuhan yang mendorong
seseorang untuk bertingkah laku tertentu.
2. Process Theory
Teori ini mengajukan cara untuk berusaha memahami proses berfikir yang ada
yang dapat mendorong seseorang untuk berperilaku tertentu.

4. Jenis motivasi
Motivasi dibagi menjadi dua jenis motif
1. Motif biologis
Motif yang tidak kita pelajari dan sudah ada sejak kita lahir, misalnya rasa
lapar, haus dan seks.
2. Motif social
Motif yang kita pelajari atau yang tidak kita bawa sejak lahir, misalnya motif
untuk mendapatkan penghargaan atau untuk berkuasa.

5. Pengukuran Motivasi
Motivasi tidak dapat diobservasi secara langsug namun harus diukur pada
umumnya yang yang banyak diukur adalah motivasi sosial dab bioligis, ada beberapa
caranya:
1. Tes proyekyif
Apa yang kita katakana akan merupakan cerminan dari pa yang ada dalam diri
kita, demikian juga dengan memahami orang lain. Salah satunya teknik proyektif
yang banyak dikenal dengan Tnematic apperception test (TAT) ditest ini klien diberi
gambar dan disuruh menceritakan isi dari gambar yang di lihatnya.
2. Kuesioner
Adalah dengan meminta klien untuk mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan
yang dapat memenancing motivasi klien , contoh EPPS bersoal 210 yang disuruh
memilih salah satu jawaban dari dua jawaban dn dari situ kita dapat melihat kebuthan
klien kita mana yang lebih dominan.
3. Observasi pelaku
Cara lain untuk mengukur motivasi adalah dengan membuat situasi sehingga klien
dapat memunculkan perilaku yang mencerminkan motivasinya, misal untuk
mengukur keinginan berprestasi ,klien diminta untuk memproduksi orgami dgn batas
waktu yang ditentukan ,apakah klien mengutamakan kualitas atau kuantitas.

6. Motivasi Untuk Berprilaku Sehat


Untuk perilaku sehat diperlukan 3 hal yaitu :
1. Pengetahuan yang tepat
2. Motivasi
3. Ketrampilan untuk berprilaku sehat
Jika tidak memiliki ketrampilan untuk berprilaku shat maka skill deficits untuk
berprilaku sehat kita harus memberikan berbagai pelatihan namun jika seseorang
memiliki pengetahuan dengan ketrampilan tidak memiliki motivasi maka disebut
dengan performance deficits cara menimbulkan motivasi dengan menggunakan
modifikasi perilaku dari aliran kaum behavioristic
Pada dasarnya kita hidup didunia ini tidak ada yang menginginkan sakit (kecuali
seseorang yang mengalami gangguan psikologis)namun mengapa seringkali
melakukan sesuatu yang beresiko buat kesehatan kita misalnya : merokok,padahal
kita sudah tahu bagaimana bahaya rokok itu tetapi tetap saja tidak
memperdulikannya.
Masalah lain yang menyebabkan seseorang sulit termotivasi untuk berprilaku seha
adalah karena perubahan perilaku dari yang tidak sehat tidak menimbulkan dampak
secara cepat,bahkan mungkin tidak menimbulkan dampak apa-apa terhadap
penyakitnya.
Memotivasi orang sehat lebih sulit dari pada memotivasi orang yang sakit.lebih
lagi factor lingkungan dapat mempersulit motivasi seseorang untuk berprilaku sehat
jika lingkungan keluarga tidak mendukung perilaku sehat.

D. Komunikasi Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat dalam Promosi Kesehatan


Komunikasi Kesehatan menjadi semakin populer dalam upaya promosi kesehatan
selama 20 tahun terakhir. Contoh, komunikasi kesehatan memegang peranan utama atau
pengontribusi dalam pemenuhan 219 dari 300 tujuan khusus dalam Healthy People 2010.
Apabila digunakan secara tepat, komunikasi kesehatan dapat mempengaruhi sikap,
persepsi, kesadaran, pengetahuan dan norma sosial yang kesemuanya berperan sebagai
precursor dapa perubahan prilaku. Komunikasi kesehatan sangat efektif dalam
mempengaruhi prilaku karena didasarkan pada psikologi sosial, pendidikan kesehatan,
komunikasi massa, dan pemasaran untuk mengembangkan dan menyampaikan promosi
kesehatan dan pesan pencegahan pencegahan.
Karya awal yang mempengaruhi perkembangan komunikasi kesehatan di susun
oleh National Cancer Institute (NCI) dan diberi judul Making Health Communication
Programs Work: A Planners Guide. Panduann ini menyatakan bahwa bidang ilmu seperti
pendidikan kesehatan, pemasaran sosial, dan komunikasi massa secara bersama
mendefinisikan komunikai kesehatan. Bukan hal luar biasa apabila mendengar peryataan
bahwa komunikasi kesehatan bahkan merupakan nama yang lebih baik untuk profesi
daripada promosi kesehatan atau pendidikan kesehatan bahwa segala sesuatu yang
dilakukan dalam promosi kesehatan melibatkan komunikasi untuk kesehatan.
Kenyataannya, komunikasu kesehatan telah didefinisikan secara luas oleh Everett
Rogers, seorang pelopor dalam bidang komunikasi, sebagai segala jenis komunikasi
manusia yang berhubungan dengan kesehatan.
Komunikasi kesehatan juga dapat mencerminkan bagaimana persoalan kesehatan
diterima oleh audiens tertentu. Contoh, NCI mendefinisikan komunikasi kesehatan
sebagai seni dan teknik menyampaikan informasi, mempengaruhi, dan memotivasi
individu, institusi, dan audiens public tentang pentingnya persoalan kesehatan. The
Centers of Disease Control and Prevention (CDC) mendefinisikan komunikasi kesehatan
sebagai suatu ilmu dan sebagai penggunaan strategi komunikasi untuk menyampaikan
informasi dan mempengaruhi keputusan individu dan masyarakat yang dapat
meningkatkan kesehatan. Walau begitu, masih ada orang yang membicarakan konsep
tersebut dengan menekankan berbagai bentuk aplikasinya , termasuk advokasi media,
komunikasi resiko, pendidikan hiburan, materi cetak, dan komunikasi interaktif.
Jadi, komunikasi kesehatan diperlukan di bidang kesehatan karena komunikasi dalam
kesehatan merupakan kunci pencapaian peningkatan tarap atau tingkat kesehatan
masyarakat. Sejauh ini komunikasi senantiasa berkembang seiring berkembangnya dunia
teknologi komunikasi. Komunikasi yang dulunya biasa dilakukan dengan penyuluhan
yang secara langsung berhadapan dengan masyarakat dan dilakukan dengan media
audio/radio sekarang lebih popular dengan penyampaian pesan atau informasi kesehatan
melalui media internet maupun media cetak dan elektronik. Tidak hanya bernilai praktis
namun mempunyai nilai ekonomis dan tampilannya lebih menarik. Media yang
berkembang tersebut sangat membantu dalam ketercapaian komunikasi kesehatan karena
tercapai atau tidaknya komunikasi kesehatan lebih dikarenakan penggunaan media
informasi yang tepat, pesan yang sistematis dan mudah dimengerti.
Banyak tantangan yang harus dihadapi pada masa datang, yang diperkirakan akan
semakin kompleks. Globalisasi di satu pihak dapat membuka lebih banyak peluang dan
kesempatan. Tetapi globalisasi, yang juga ditandai meningkatnya persaingan bebas, akan
mengharuskan segenap komponen bangsa meningkatkan daya saing.
Dengan demikian globalisasi dapat memperlemah pengawasan pemerintah
terhadap faktor-faktor yang berdampak negatif terhadap kesehatan. Penetrasi budaya
negatif yang datang dari luar juga sulit sekali dicegah.
Sementara itu, desentralisasi yang diharapkan dapat lebih mendekatkan aspirasi
rakyat kepada tujuan pembangunan serta meningkatkan peran aktif mereka dalam
pembangunan, masih dalam masa transisi. Desentralisasi masih berkutat pada bidang
politik (itupun baru bersifat formal), sedangkan cita-cita desentralisasi yang sebenarnya
masih jauh dari kenyataan.
Dengan beberapa pengecualian, banyak daerah yang justru mengalami
kemerosotan dalam pelayanan kesehatannya. Pembangungan kesehatan kurang
memperoleh perhatian, organisasi dinas kesehatan di daerah rancu, penempatan tenaga
dan mutasi jabatan tidak berdasarkan kemampuan dan keahlian dan lain-lain.
Ketika posisi promosi tidak jelas maka akan pomeo lama berulang kembali
health education is everybody business, but in reality it is nobody bussiness .
Profesionalisme tenaga kesehatan sendiri, banyak dipertanyakan masyarakat. Dalam
pelayanan kesehatan ditengarai terjadi dehumanisasi, sedangkan perilaku negatif
masyarakat di bidang kesehatan terasa semakin meningkat.
Tantangan tersebut di masa mendatang akan menjadi semakin besar dan
kompleks. Tentu saja promosi kesehatan mempunyai andil besar dalam menjawab
tantangan tersebut.

E. Metode dan Media Dalam Promosi Kesehatan


1. Metode Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu
sehingga memperoleh pengetahuan kesehatan yang lebih baik diharapkan dapat
membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran. Untuk mencapai tujuan
pendidikan yaitu perubahan perilaku maka dipengaruhi banyak faktor :
a. Input, proses dan output.
b. Metode, materi atau pesannya, pendidik atau petugas, alat bantu.

Metode adalah taktik untuk melakukan perubahan pada kelompok sasaran.


a. Metode Promosi Individual (Perorangan)
Dalam promosi kesehatan, metode yang bersifat individual ini digunakan
untuk membina perilaku baru, atau membina seseorang yang telah mulai tertarik
kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Misalnya, seorang ibu yang baru
saja menjadi akseptor atau seorang ibu hamil yang sedang tertarik terhadap
imunisasi tetanus toxoid (TT) karena baru saja memperoleh atau mendengarkan
penyuluhan kesehatan. Pendekatan yang digunakan agar ibu tersebut menjadi
akseptor lestari atau ibu hamil segera minta imunisasi, ia harus didekati secara
perorangan. Perorangan di sini tidak hanya berarti harus hanya kepada ibu-ibu
yang bersangkutan, tetapi mungkin juga kepada suami atau keluarga dari ibu
tersebut.
Dasar digunakannya pendekatan individual ini karena setiap orang
mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan
penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan mengetahui
dengan tepat serta membantunya maka perlu menggunakan metode (cara) ini.
Bentuk pendekatan ini, antara lain:
a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counceling)
Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif. Setiap
masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya.
Akhirnya klien akan dengan sukarela, berdasarkan kesadaran, dan penuh
pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku).
b. Interview (wawancara)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan.
Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi
mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, ia tertarik atau belum
menerima perubahan, untuk mempengaruhi apakah perilaku yang sudah atau
yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat.
Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
b. Metoda Promosi Kelompok
Dalam memilih metode promosi kelompok, harus mengingat besarnya
kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Untuk kelompok
yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektivitas suatu
metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.
a. Kelompok Besar
Yang dimaksud kelompok besar di sini adalah apabila peserta penyuluhan
itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini seperti
ceramah.
b. Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut
kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil ini antara
lain:
Diskusi Kelompok.
Curah Pendapat (Brain Strorming)
Bola Salju (Snow Balling)
Kelompok-kelompok Kecil (Buzz Group)
Permainan Simulasi (Simulation Game)
c. Metode promosi kesehatan massa
Metode promosi kesehatan secara massa dipakai untuk
mengomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat
yang sifatnya massa atau publik. Dengan demikian cara yang paling tepat adalah
pendekatan massa. Oleh karena itu sasaran sasaran promosi ini bersifat umum,
dalam arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status
sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan sebagainya

2. Media Promosi Kesehatan


Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan sebagai alat
bantu untuk promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau
dicium, untuk memperlancar komunikasi dan penyebar-luasan informasi.
Biasanya alat peraga digunakan secara kombinasi, misalnya menggunakan papan
tulis dengan photo dan sebagainya. Tetapi dalam menggunakan alat peraga, baik
secara kombinasi maupun tunggal, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Alat peraga harus mudah dimengerti oleh masyarakat sasaran
2. Ide atau gagasan yang terkandung di dalamnya harus dapat diterima oleh
sasaran
Alat peraga yang digunakan secara baik memberikan keuntungan-keuntungan:
a. Dapat menghindari salah pengertian/pemahaman atau salah tafsir. Dengan
contoh yang telah disebutkan pada bagian atas dapat dilihat bahwa salah tafsir
atau salah pengertian tentang bentuk plengsengan dapat dihindari.
b. Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah ditangkap.
c. Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat, terutama hal-hal yang
mengesankan.
d. Dapat menarik serta memusatkan perhatian.
e. Dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjurkan.
Alat-alat peraga dapat dibagi dalam 4 kelompok besar :
1. Benda asli, yaitu benda yang sesungguhnya baik hidup maupun mati. Merupakan
alat peraga yang paling baik karena mudah serta cepat dikenal, mempunyai
bentuk serta ukuran yang tepat. Tetapi alat peraga ini kelemahannya tidak selalu
mudah dibawa ke mana-mana sebagai alat bantu mengajar. Termasuk dalam
macam alat peraga ini antara lain :
Benda sesungguhnya, misalnya tinja di kebun, lalat di atas tinja, dsb
Spesimen, yaitu benda sesungguhnya yang telah diawetkan seperti cacing
dalam botol pengawet, dll
Sample yaitu contoh benda sesungguhnya untuk diperdagangkan seperti oralit,
dll
2. Benda Tiruan, yang ukurannya lain dari benda sesungguhnya. Benda tiruan bisa
digunakan sebagai media atau alat peraga dalam promosi kesehatan. Hal ini
dikarena menggunakan benda asli tidak memungkinkan, misal ukuran benda asli
yang terlalu besar, terlalu berat, dll. Benda tiruan dapat dibuat dari bermacam-
macam bahan seperti tanah, kayu, semen, plastik dan lain-lain.
3. Gambar/Media grafis, seperti poster, leaflet, gambar karikatur, lukisan, dll.
Poster
Adalah sehelai kertas atau papan yang berisikan gambar-gambar dengan
sedikit kata-kata. Kata-kata dalam poster harus jelas artinya, tepat pesannya
dan dapat dengan mudah dibaca pada jarak kurang lebih 6 meter. Poster
biasanya ditempelkan pada suatu tempat yang mudah dilihat dan banyak
dilalui orang misalnya di dinding balai desa, pinggir jalan, papan
pengumuman, dan lain-lain. Gambar dalam poster dapat berupa lukisan,
ilustrasi, kartun, gambar atau photo. Poster terutama dibuat untuk
mempengaruhi orang banyak, memberikan pesan singkat. Karena itu cara
pembuatannya harus menarik, sederhana dan hanya berisikan satu ide atau
satu kenyataan saja. Poster yang baik adalah poster yang mempunyai daya
tinggal lama dalam ingatan orang yang melihatnya serta dapat mendorong
untuk bertindak.
Leaflet
Leaflet adalah selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat
yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana.
Ada beberapa yang disajikan secara berlipat. Leaflet digunakan untuk
memberikan keterangan singkat tentan suatu masalah, misalnya deskripsi
pengolahan air di tingkat rumah tangga, deskripsi tentang diare dan
penecegahannya, dan lain-lain. Leaflet dapat diberikan atau disebarkan pada
saat pertemuanpertemuan dilakukan seperti pertemuan FGD, pertemuan
Posyandu, kunjungan rumah, dan lain-lain. Leaflet dapat dibuat sendiri
dengan perbanyakan sederhana seperti di photo copy.
4. Gambar alat optik. seperti photo, slide, film, dll
Photo
Sebagai bahan untuk alat peraga, photo digunakan dalam bentuk :
a. Album, yaitu merupakan foto-foto yang isinya berurutan, menggambarkan
suatu cerita, kegiatan dan lain-lain. Dikumpulkan dalam sebuah album.
Album ini bisa dibawa dan ditunjukan kepada masyarakat sesuai dengan
topik yang sedang di diskusikan. Misalnya album photo yang berisi
kegiatan-kegiatan suatu desa untuk merubah kebiasaan BABnya menjadi
di jamban dengan CLTS sampai mendapat pengakuan resmi dari Bupati.
b. Dokumentasi lepasan. Yaitu photo-photo yang berdiri sendiri dan tidak
disimpan dalam bentuk album. Menggambarkan satu pokok persoalan atau
titik perhatian. Photo ini digunakan biasanya untuk bahan brosur, leaflet,
dll
Slide
Slide pada umumnya digunakan dengan sasaran kelompok atau grup. Slide ini
sangat effektif untuk membahas suatu topic tertentu, dan peserta dapat
mencermati setiap materi dengan cara seksama, karena slide sifatnya dapat
diulang-ulang
Film
Film lebih kearah sasaran secara masal, sifatnya menghibur namun bernuansa
edikatif.