Anda di halaman 1dari 4

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kehidupan Thalassodendron ciliatum

Inilah beberapa parameter yang mempengaruhi keberadaan dan kehidupan lamun


Thalassodendron ciliatum yaitu :
1. Suhu
Suhu merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme
dilautan,karena suhu mempengaruhi aktifitas metabolisme ataupun
perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986).
Toleransi suhu dianggap sebagai faktor penting dalam menjelaskan biogeografi
thalassodendron ciliatum dan suhu yang tinggi di perairan dangkal dapat juga
menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies (Larkum et al., 1989).
Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun untuk perkembangan adalah 28C-
30C, sedangkan untuk fotosintesis Thalassodendron ciliatum membutuhkan suhu
optimum antara 25C-35C dan pada saat cahaya penuh. Pengaruh suhu bagi
Thalassodendron ciliatum sangat besar, suhu mempengaruhi proses-proses fisiologi
yaitu fotosintesis, laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses-proses fisiologi
tersebut akan menurun ajam apabila suhu pereairan berada diluar kisaran tersebut
(Berwick, 1983).
2. Arus
Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang dapat disebabkan oleh
tiupan angin, perbedaan densitas air laut dapat pula disebabkan oleh gerkan periodik
jangka panjang. Arus yang disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini
antara lain arus yang disebabkan oleh pasang surut (pasut). Arus yang disebabkan
oleh pasang surut biasanyaa banyak diamati diperairan teluk dan pantai
(Nontji,1993).
Kecepatan arus peraiaran berpengaruh pada produktifitas lamun Thalassodendron
ciliatum. Turtle grass dapat menghasilkan hasil tetap ( standing crop) maksimal pada
kecepatan arus 0.5m/det (Dahri et al., 1996). Arus tidak mempengaruhi penetrasi
cahaya, kacuali jika ia mengangkat sedimen sehingga mengurangi penetrasi cahaya.
Aksi menguntungkan dari arus terhadap organisme terletak pada transport bahan
makanan tambahan bagi organisme dan dalam hal pengangkutan buangan (Moore,
1958). Pada daerah yang arusnya cepat,sedimen pada padang lamun terdiri dari
lumpur halus dan detritus. Hal ini menunjukkan kemampuan ciliatum untuk
mengurangi pengaruh arus sehingga mengurangi transport sedimen (Berwick, 1983
dalam Mintane,1998).
3. Salinitas
Salinitas atau kadar garam yaitu jumlah berat semua garam (dalam gram) yang
terlarut dalam satu liter air, biasanya dinyatakan dalam satuan /oo (permil). Sebaran
salinitas dilaut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan,
curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1993). Thalassodendron ciliatum mempunyai
toleransi yang berbeda-beda, namun sebagaian kisaran yang lebar yaitu 10 /oo -
40/oo. Nilai optimum toleransi lamun terhadap salinitas air laut pada nilai 35 /oo
(Dahuri et al,. 1996).
4. Kecerahan
Kecerahan perairan menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan
air pada kedalaman tertentu. Pada perairan alami, kecerahan sangat penting karena
erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Kebutuhan cahaya yang tinggi bagi lamun
untuk kepentingan fotosintesis terlihat dari sebarannya yang terbatas pada daerah
yang masih menerima cahaya matahari (Berwick, 1983 dalam Mintane, 1998). Nilai
kecerahan perairan sangat dipengaruhi oleh kandungan Lumpur, kandugan plankton,
dan zat-zat terlarut lainnya (Birowo et al dalam Mintane 1998).
5. Kekeruhan
Kekeruhan secara tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan
Thalassodendron ciliatum karena dapat menghalangi penetrasi cahaya yang
dibutuhkan oleh lamun untuk berfotosintesis masuk ke dalam air. Kekeruhan dapat
disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-partikel hidup
seperti plankton maupun partikel-partikel mati seperti bahan-bahan organik, sedimen
dan sebagainya. Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor
pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo 1997).
6. Kedalaman
Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal.
Thalassodendron ciliatum tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga
mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang
didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia,
Sedangkan Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo
1997). Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan
pertumbuhan lamun.

7. Oksigen Terlarut (DO)


Kadar oksigen terlarut di perairan dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan turbulensi
air. Kadar oksigen terlarut berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian
atau altitude dan berkurangnya tekanan atmosfer (Effendi,2000).Kelarutan oksigen
penting artinya dalam mempengaruhi keseimbangan komunitas dan kehidupan
organisme perairan. Selain itu kandungan oksigen terlarut mempengaruhi
keanekaragaman organisme suatu ekosistem perairan. Menurut Effendi(200) perairan
yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan sebaikknya memilih kadar oksigen
tidak kurang ari 5mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l mengakibatkan efek
yang kurang menguntungkna bagi hampir semua organisme akuatik. Sumber oksigen
terlarut bisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan
aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan Olem, 1994
dalam Effendi,2000).
8. Substrat
Thalassodendron ciliatum membutuhkan dasar yang lunak untuk ditembus oleh
akar-akar dan rimpangya guna menyokong tumbuhan ditempatnya. Lamun dapat
memperoleh nutrisi baik dari air permukaan melalui helai daun-daunnya, maupun dari
sedimen melalui akar dan rimpangnya (Mc Roy dan Barsdate,1970). Kesesuaian
substrat yang paling utama bagi perkembangan lamun ditandai dengan kandungan
sedimen yang cukup. Semakin tipis substrat (sedimen) perairan akan menyebabkan
kehidupan lamun yang tidak stabil, sebaliknya semakin tebal substrat,
Thalassodendron ciliatum akan tumbuh subur yaitu berdaun panjang dan rimbun
serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi. Peranan kedalaman
substrat dalam stabilitas sedimen mencakup dua hal,yaitu :1) pelindung tanaman dari
arus laut.; 2) tempat pengolahan dan pemasok nutrien (Berwick, 1983).
Padang lamun hidup diberbagia tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai
sedimen dasar yang terdiri dari 40% endapan Lumpur dan fine mud (Dahuri et al.,
1996). Semua tipe substrat dihuni oleh tumbuhan lamun mulai dari lumpur lunak
sampai batu-batuan, tetapi lamun yang paling luas dijumpai pada substrat yang lunak.
Berdasarkan tipe karakteristik tipe substratnya padang lamun yang tumbuh diperairan
Indonesia dapat dikelompokkan menjai 6 kategfori, yaitu : 1) Lumpur, 2) Lumpur
pasiran, 3) Pasir, 4) Pasir lumpuran, 5) Puing karang dan 6) Batu karang.
Pengelompokkan tipe substrat ini berdasarkan ukuran pertikelnya dengan
menggunakan Segitiga Milla.
9. Nutrien
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan
ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi fektor pembatas pertumbuhan,
kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo 1997). Unsur N
dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan
dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat dipertukarkan yang dapat dimanfeatkan
oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Ditambahkan bahwa kapasitas sedimen
kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen,
dimana sedimen hahis mempunyai kapasitas penyerapan yang paling tinggi.
Penyerapan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun
umumnya tidak terlalu besar terutama di daerah tropik (Dawes 1981). Penyerapan
nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Erftemeijer 1993).