Anda di halaman 1dari 6

DIH, Jurnal Ilmu Hukum

Pebruari 2015, Vol. 11, No. 21, Hal. 39 - 44

EFEKTIVITAS PIDANA PENJARA


DALAM MEMBINA NARAPIDANA

I Wayan Putu Sucana Aryana


Dosen Fakultas Hukum
Universitas Ngurah Rai
e-mail : sucana.aryana@gmail.com

Abstract

Imprisonment is the most frequent primary sanction imposed by the judge. It is influenced
by classical thinking about retaliation against the perpetrators. Implementation of
imprisonment has not been effective to provide coaching and preparing the former inmates
to return to society. Prison will only be a place for someone to learn about committing
crimes more professional. Negative stigma always attached to ex-prisoners, so they are
hard to get back into his social life. One attempt to minimize the imposition of
imprisonment is to resolve the criminal matter amicably out of court (through penal
mediation). Completion of a criminal case in a peaceful manner will reduce the workload
for law enforcement and provide better justice for perpetrators, victims and their families.
Keywords: imprisonment, inmates and penal mediation.

1
PENDAHULUAN tempat penyiksaan. Penjara menjadi tempat
Penjara merupakan istilah yang sangat pembalasan terhadap perbuatan yang pernah
dilakukan oleh terpidana.
familiar dalam sistem pidana di Indonesia.
Pidana penjara menjadi jenis sanksi yang
Penjara memiliki makna ganda yakni sebagai
paling dominan diambil oleh hakim di
salah satu jenis sanksi pidana sebagaimana Indonesia. Mengenai pidana penjara ini,
yang diatur dalam Pasal 10 KUHP dan sebagai Roeslan Saleh menyebutkan bahwa pidana
tempat bagi terpidana untuk menjalani penjara adalah pidana utama diantara pidana
hukuman. Pidana penjara sudah dikenal sejak hilang kemerdekaaan dan pidana penjara ini
abad XVI. Embrio pidana penjara pertama- dapat dijatuhkan untuk seumur hidup atau
tama dijalankan di Inggris. Pada tahun 1955 2
untuk sementara waktu. Perumusan ancaman
kastil Bridewell di London digunakan oleh
Raja Edward VI sebagai tempat berteduh bagi pidana penjara yang bersifat imperatif di
Indonesia tersebut merupakan warisan dari
pengemis, gelandangan dan anak terlantar.
pemikiran aliran klasik yang menetapkan
Setelah itu di tempat-tempat lain di Inggris 3
didirikan Bridewell- Bridewell yang menjadi pidana dengan definite sentence. Penjatuhan
bentuk-bentuk dari rumah penjara (houses of
correction). Tempat tersebut awalnya 1
R.A. Koesnoen, 1964, Susunan Pidana Dalam Negara
digunakan untuk menampung pengemis, Sosialis Indonesia, Sumur, Bandung, h. 90-91.,
gelandangan dan anak terlantar tadi namun (selanjutnya disebut R.A. Koesnoen I).
lama-kelamaan diubah fungsinya menjadi 2 Tolib Setiady, 2010, Pokok-pokok Hukum Penitensier
Indonesia, Alfabeta, Bandung, h. 92.
3 Barda Nawawi Arief, 1994, Kebijakan Legislatif
dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana

39
I Wayan Putu Sucana Aryana

pidana penjara dipandang paling layak untuk rapan hukum positif tersebut. 2) ketidak
memberikan efek jera bagi pelaku. paduan antara keadaan yang diharapkan (das
Dominasi pemilihan pidana penjara sebagai sollen) dengan kenyataan (das sein) me-
jenis sanksi yang utama berimplikasi terhadap nimbulkan tanda tanya mengenai apa sebenar-
pengelolaan lembaga pemasyarakatan. Sistem nya permasalahan hukum dari segi normatif.
database pemasyarakatan mencatat, jumlah 3) apa yang diharapkan terjadi akibat pene-
penghuni lapas per 31 Desember 2011 se- rapan hukum tersebut ternyata tidak berfungsi
banyak 136.145 orang. Setahun kemudian, 31 seperti yang diharapkan atau justru hanya
Desember 2012, angka itu bertambah menjadi menimbulkan konflik yang menyebabkan
150.592 orang. Akhir 2013, peningkatannya ketidakadilan, ketidak-tertiban dan ketidak-
menjadi 160.061 orang. Terakhir, data per per pastian hukum dalam masyarakat yang sebe-
17 Juli 2014 ada 167.163 napi yang menghuni narnya bertentangan dengan cita-cita hukum
rutan di seluruh Indonesia. Peningkatan itu 6
itu sendiri.
sangat tidak berbanding lurus dengan kebera-
daan lapas. Pada tahun 2014 terdapat 463 lapas PEMBAHASAN
dan rumah tahanan di seluruh Indonesia yang
hanya sanggup menampung 109.231 tahanan 1. Transformasi Penjara Menuju Lemba-
dan narapidana. Artinya, ada 167.163 ga Pemasyarakatan
4
orang harus berdesakan di ruang hunian. Secara etimologi, kata penjara berasal dari
Kelebihan kapasitas di lembaga pemasya- kata penjoro (kata dari bahasa Jawa) yang
rakatan ini akan bertendensi lebih cepat berarti taubat atau jera, dipenjara berarti dibuat
7
menimbulkan kerusuhan. Upaya pembinaan jera. Penjara dipandang sebagai suatu tempat
bagi narapidana akan sulit dilakukan meng- penjeraan bagi mereka yang pernah melaku-
ingat jumlah petugas yang tidak seimbang kan kejahatan. Hukuman penjara ditujukan
dibandingkan dibandingkan warga binaan. kepada penjahat yang menunjukkan watak
8
buruk dan nafsu bejat. Secara umum, di dunia
Rumusan Masalah terdapat tiga sistem kepenjaraan yakni:
a. Sistem Pensylavania. Sistem ini menekan-
Bagaimanakah efektivitas pidana penjara
kan pada penutupan secara terasing terha-
dalam pembinaan narapidana?
dap narapidana agar insyaf dan menyesal
atas perbuatannya dan agar merasakan
METODE PENELITIAN
pidananya. Menurut sistem ini narapidana
Penelitian ini adalah penelitian hukum dimasukkan dalam sel, narapidana menda-
normatif, yaitu: penelitian hukum yang dila- patkan pekerjaan di selnya masing-masing
5 dan mendapat bacaan kitab Injil. Sistem
kukan dengan cara meneliti bahan pustaka,
Ilmu hukum normatif, yang dikaji antara Pensylvania banyak dianut negara-negara
lain:1) kajian terhadap penerapan aturan Eropa. Dalam sistem ini, narapidana tidak
hukum yang didukung oleh teori dan konsep- diberi kesempatan menerima pengunjung,
konsep di bidang hukum dihadapkan pada dan tanpa diberi kesempatan berbicara
fakta hukum yang memunculkan ketidak dengan orang lain.
paduan antara kajian teoretis dengan pene-

Penjara, Universitas Diponegoro, Semarang, h. 201-


202. 6 Myrizal, Prosedur Penelitian Hukum Normatif dalam
http://myrizal-76.blogspot. com/ 2011/03/penelitian-
4
Jawa Pos, 2014, Over Kapasitas Lapas Tembus 153 hukum-normatif.html, diunduh tanggal 18 September
Persen Pemerintah Optimalkan Pemberian Hak Napi, 2013
http://www.jawapos.com/baca/artikel/5878/over-
kapasitas-lapas-tembus-153-persen 7 R.A. Koesnoen, I., op.cit., h. 9.
5Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan 8
Leden Marpaung, 2008, Asas-Teori-Praktik Hukum
Singkat, Rajawali Pers, Jakarta, 2012, hlm. 13-14.
Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, h. 108.

40
Efektivitas Pidana Penjara Dalam Membina Narapidana

b. Sistem Auburn. Sistem ini pertama kali selanjutnya disebut lapas adalah tempat untuk
dilaksanakan di penjara Kota Auburn di melaksanakan pembinaan Narapidana dan
Negara Bagian New York, kemudian Anak Didik Pemasyarakatan. Pembinaan
karena sistem tersebut menunjukkan keber- bertujuan untuk meningkatkan kualitas Warga
hasilan maka pada tahun 1925 sistem ini Binaan Pemasyarakatan agar menyadari
juga dilaksanakan di penjara Sing Sing. kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak meng-
Menurut sistem ini, narapidana pada malam ulangi tindak pidana sehingga dapat diterima
hari harus tinggal di dalam sel, sedangkan kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat
pada siang hari mereka melakukan peker- aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat
jaan secara bersama-sama, tetap antara hidup secara wajar sebagai warga yang baik
narapidana satu dengan lainnya dilarang dan bertanggung jawab.
berbicara. Sistem ini banyak dipraktikkan Pidana penjara merupakan suatu pidana
di Amerika. berupa pembatasan kebebasan bergerak dari
c. Sistem Irlandia. Sistem ini menghendaki seorang terpidana, yang dilakukan dengan
agar para narapidana pada awalnya ditem- menutup orang tersebut dalam sebuah lembaga
patkan terus-menerus dalam sel. Tetapi pemasyarakatan dengan mewajibkan orang itu
kemudian dipekerjakan bersama-sama. menaati semua peraturan tata tertib yang
Pada tahap ke tahap narapidana diberikan berlaku dalam lembaga pemasyarakatan yang
kelonggaran untuk bergaul antara nara- dikaitkan dengan suatu tindakan tata tertib
pidana satu dengan lainnya. akhirnya bagi mereka yang melanggar peraturan ter-
setelah menjalani (tiga per empat) dari 11
sebut. Pemikiran-pemikiran mengenai pem-
lama pidana yang harus dijalani, binaan bagi narapidana sangat maju diban-
9
narapidana dibebaskan dengan syarat. dingkan dengan kondisi lembaga pemasya-
Indonesia tidak menganut secara tegas rakatan yang sebenarnya. Kelebihan kapasitas
salah satu dari tiga kepenjaraan tersebut. di lembaga pemasyarakatan seringkali menye-
Perbaikan terhadap fungsi pidana penjara babkan konflik di dalam lembaga pemasya-
terus-menerus dilakukan. Pada tahun 1918 rakatan, seperti pembakaran yang pernah
mulai berlaku Reglemen Penjara Baru terjadi Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan,
(Gestichten Reglement). Reglemen ini menjadi Bali, pada tahun 2012 lalu.
suatu keharusan dan kewajiban bagi para yang Lembaga pemasyarakatan tetap menjadi
berwajib untuk menyusun reglemen penjara school of crime bagi warga binaan. Prisonisasi
baru yang mengatur bagaimana narapidana terhadap warga binaan sulit untuk dihindari,
harus diperbaiki agar menjadi seorang terlebih jika pengawasan oleh petugas tidak
10 dilakukan secara optimal. Warga binaan yang
manusia yang susila. Pembinaan menjadi
tadinya dipidana karena pencurian ringan,
fungsi utama dari pemenjaran. Hal ini ber-
setelah menjalani masa hukuman di lembaga
kembang seiring dengan meningkatnya kesa-
pemasyarakatan dan kembali ke masyarakat
daran akan perlindungan hak asasi manusia.
dapat melakukan kejahatan yang lebih besar
Reorientasi fungsi pembinaan bagi narapi- seperti penjualan narkotika. Hal ini disebab-
dana ditunjukkan dengan transformasi penjara kan karena narapidana telah belajar melakukan
menjadi sebuah lembaga pemasyarakatan. kejahatan selama berada di dalam lembaga
Berdasarkan Pasal 1 angka 3 Undang-undang pemasyarakatan. Kejahatan seperti penjualan
Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasya- narkotika, penganiayaan dan judi juga dila-
rakatan dinyatakan bahwa yang dimaksud kukan di dalam lembaga pemasyarakatan.
dengan Lembaga Pemasyarakatan yang
Kondisi lain yang juga menjadi penyebab
9 residivis adalah stigmatisasi negatif mantan
Widodo, 2009, Sistem Pemidanaan Dalam Cyber warga binaan oleh masyarakat. Mantan warga
Crime, Laksbang Mediatama, Yogyakarta, h. 11-12.
binaan seringkali dilabelisasi sebagai penjahat
10
R.A. Koesnoen, 1961, Politik Penjara Nasional,
Sumur, Bandung, h. 44, (selanjutnya disebut R.A. 11
Tolib Setiady, loc.cit.
Koesnoen II).

41
I Wayan Putu Sucana Aryana
yang harus diwaspadai. Akibatnya, mereka katan 12 Pemikiran mengenai
konsensus.

sulit untuk mendapatkan pekerjaan kembali. pentingnya mediasi penal dalam penyelesaian
Satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk perkara pidana sebenarnya sudah sering
memenuhi kebutuhan hidup adalah dengan dibahas oleh para ilmuwan hukum, namun
melakukan kejahatan sepeti menjadi preman hingga kini legitimasi yuridis terhadap penye-
jalanan, terjun ke dunia prostitusi, menjadi lesaian perkara dengan cara damai ini belum
penjual narkotika dan sebagainya. Kondisi diatur dalam undang-undang.
tersebut tentu sangat memprihatinkan, oleh Mediasi penal hanya didasarkan pada
sebab itu diperlukan upaya untuk memini- diskresi kepolisian saja. Kondisi ini tentu akan
malisasi pidana penjara. mebuka celah bagi penyuapan atau gratifikasi
kepada penyidik. Keabsahan penggunaan
2. Mediasi Penal Sebagai Sebuah Alternatif mediasi penal hanya terbatas pada penyele-
Pidana penjara merupakan pidana hilang saian perkara anak sebagaimana yang diatur
dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012
kemerdekaan yang menimbulkan penderitaan
tentangg Sistem Peradilan Pidana Anak.
yang sangat besar bagi narapidana. Tindakan
Penyelesaian perkara anak dilakukan dengan
mengisolasi narapidana menghilangkan
diversi yakni dengan pengalihan penyelesaian
banyak hak-hak narapidana sebagai seorang
perkara Anak dari proses peradilan pidana ke
manusia. Setidaknya dengan menjalani masa
proses di luar peradilan pidana melalui
hukuman di lembagapemasyarakatan, nara-
restorative justice model. Restorative justice
pidana telah kehilangan hak untuk berinteraksi
model mempunyai beberapa karakteristik
secara bebas, hak atas keamanan, hak atas 13
yaitu:
kebutuhan biologis, hak atas pendidikan dan
a. Kejahatan dirumuskan sebagai pelanggaran
pekerjaan. Dengan kondisi psikis yang penuh
seorang terhadap orang lain dan diakui
ketertekanan, pembinaan terhadap warga
sebagai konflik;
binaan akan sulit untuk dilaksanakan. Kehi-
b. Titik perhatian pada pemecahan masalah
dupan penjara yang sangat keras dan interaksi
pertanggungjawaban dan kewajiban pada
yang sangat terbatas akan merubah watak
masa depan;
manusia, yang dikhawatirkan akan berperilaku
c. Sifat normatif dibangun atas dasar dialog
semakin buruk.
dan negosiasi;
Perubahan paradigma terhadap penghu-
d. Restitusi sebagai sarana perbaikan para
kuman masih didominasi dengan pemikiran
pihak, rekonsiliasi dan restorasi sebagai
akan pembalasan. Penjara menjadi pilihan
tujuan utama;
utama untuk membalas tindakan pelaku
e. Keadilan dirumuskan sebagai hubungan-
kejahatan, oleh sebab itu, jenis pidana penjara
hubungan hak, dinilai atas dasar hasil;
hampir selalu dijatuhkan oleh hakim. Salah
f. Sasaran perhatian pada perbaikan kerugian
satu upaya untuk meminimalisir penjatuhan
sosial
pidana penjara adalah dengan melegitimasi
g. Masyarakat merupakan fasilitator di dalam
mediasi penal atau penyelesaian perkara
proses restoratif;
secara damai dalam hukum pidana atau
h. Peran korban dan pelaku tindak pidana
disebut juga dengan istilah mediation in
diakui, baik dalam masalah maupun penye-
criminal casesataumediation in penal matters.
lesaian hak-hak dan kebutuhan korban.
Mediasi penal sebenarnya bukan hal baru
Pelaku tindak pidana didorong untuk ber-
dalam sistem hukum di Indonesia. Penye-
tanggung jawab;
lesaian dengan cara damai ini berakar dari
budaya Indonesia yang selalu menempatkan
12
musyawarah untuk mengambilkan suatu kepu- Mushadi, 2007,Mediasi dan Resolusi Konflik di
tusan yang berdampak luas. Perlu disadari Indonesia, Walisongo Mediation Center, Semarang, h.
bahwa secara historis, kultur masyarakat 38
13
Indonesia sangat menjunjungtinggi pende- Muladi, 1996, Kapita Seleksi Hukum Pidana, Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, h. 125.
42
Efektivitas Pidana Penjara Dalam Membina Narapidana

i. Pertanggungjawaban si pelaku dirumuskan DAFTAR PUSTAKA


sebagai dampak pemahaman terhadap per-
buatan dan untuk membantu memutuskan Barda Nawawi Arief, 1994, Kebijakan Legis-
yang terbaik; latif dalam Penanggulangan Kejahatan
j. Tindak pidana dipahami dalam konteks Dengan Pidana Penjara, Universitas Dipo-
menyeluruh, moral, sosial dan ekonomis; negoro, Semarang.
k. Stigma dapat dihapus melalui tindakan
Koesnoen, R.A., 1961, Politik Penjara
restoratif
Nasional, Sumur, Bandung.
Penyelesaian perkara pidana dengan cara ___, 1964, Susunan Pidana Dalam Negara
damai akan mengurangi beban kerja penegak Sosialis Indonesia, Sumur, Bandung.
hukum, setidaknya bagi jaksa untuk tidak
melakukan penuntutan dan hakim tidak lagi Leden Marpaung, 2008, Asas-Teori-Praktik
melaksanakan persidangan. Hal ini tentu saja Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta.
akan memberikan keringanan secara finansial Muladi, 1996, Kapita Seleksi Hukum Pidana,
terhadap anggaran penegakan hukum. Penye- Badan Penerbit Universitas Diponegoro,
lesaian perkara di luar pengadilan tentu akan Semarang.
memberikan win-win solution bagi pelaku
maupun korban, berikut keluarga. Dengan Mushadi, 2007, Mediasi dan Resolusi Konflik
kesepakatan ganti rugi tentu akan membantu di Indonesia, Walisongo Mediation Center,
korban dan keluarga korban. Pelaku juga tidak Semarang.
perlu melaksanakan hukuman di penjara dan Tolib Setiady, 2010, Pokok-pokok Hukum
ini tentunya akan mengurangi kapasitas di Penitensier Indonesia, Alfabeta, Bandung.
dalam lembaga pemasyarakatan. Dengan tidak
dipenjara maka pelaku dapat bekerja seperti Widodo, 2009, Sistem Pemidanaan Dalam
biasa dan dapat pula memenuhi kebutuhan Cyber Crime, Laksbang Mediatama, Yog-
hidup keluarganya. Stigma negatif pun tidak yakarta.
akan melekat pada diri pelaku.
Jawa Pos, 2014, Over Kapasitas Lapas
KESIMPULAN Tembus 153 Persen Pemerintah Optimal-
Pelaksanaan pidana penjara belum efektif kan Pemberian Hak Napi, http://www.
untuk memberikan pembinaan dan menyiap- jawapos.com/baca/artikel/5878/over-
kan mantan warga binaan untuk kembali ke kapasitas-lapas-tembus-153-persen.
masyarakat. Penjara hanya akan menjadi
tempat bagi seseorang untuk belajar tentang Profil Penulis :
melakukan kejahatan yang lebih profesional.
Kelebihan kapasitas di lembaga pemasya- I Wayan Putu Sucana Aryana lahir di Denpasar
rakatan akan menyebabkan tendensi keru- Bali dan saat ini aktif mengajar di Universitas
suhan yang semakin besar. Penjatuhan pidana Ngurah Rai bidang pidana. Selain mengajar,
penjara hendaknya dihindari, salah satunya telah menjadi konsultan hukum DPRD
dengan mengesahkan mediasi penal untuk propinsi Bali dan beberapa kabupaten di Bali.
menyelesaikan perkara pidana. Mediasi penal Sehari-hari aktif membina mahasiswa dalam
sementara ini hanya dilakukan terhadap tindak berorganisasi.
pidana yang dilakukan oleh anak. Legitimasi
terhadap mediasi penal hendaknya dilakukan
melalui undang-undang.

43
I Wayan Putu Sucana Aryana

44