Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah kesehatan yang dihadapi Indonesia saat ini
dipengaruhi oleh pola hidup dan pola makan. Perubahan gaya
hidup terutama di kota-kota besar menyebabkan terjadinya
peningkatan penyakit di masyarakat, salah satunya adalah asam
urat. Makanan yang tinggi purin dapat meningkatkan kadar asam
urat di dalam darah yang pada akhirnya akan menimbulkan
penumpukan asam urat atau sering disebut hiperurisemia
(Sangging dan Utama, 2017).
Asam urat (uric acid) adalah produk akhir katabolisme purin
atau degradasi asam nukleat dari sisa makanan (Sangging dan
Utama, 2017). Penyakit asam urat berkaitan erat dengan ginjal,
karena ginjal merupakan suatu organ yang berfungsi sebagai
tempat pembuangan asam urat yang berlebihan. Ketika ginjal tidak
mempunyai kekuatan untuk membuang asam urat yang berlebihan,
maka hal ini yang menjadi salah satu penyebab terjadinya asam
urat (Asaidi, 2010).
Obat-obat konvensional yang secara umum digunakan untuk
menurunkan produksi asam urat adalah golongan xantin oksidase
inhibitor seperti allopurinol (Artini dkk, 2012). Penyakit asam urat
dapat diredam bila tubuh memiliki penangkap radikal bebas.
Namun beberapa hasil penelitian telah membuktikan bahwa
senyawa antiradikal bebas seperti butylatedhydroxytoluena (BHT)
dan butylatedhydroxyanysole (BHA) berpotensi sebagai
karsinogenik terhadap efek reproduksi dan metabolisme (Hemani,
2005). Selain dengan pengobatan konvensional dapat juga diatasi
dengan tanaman obat atau herbal. Banyak sekali jenis tanaman
obat yang bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan asam urat,
salah satunya adalah daun Sirsak (Annona muricata L).
Annona muricata L adalah tanaman yang mengandung
senyawa flavonoid, fitosterol, kalsium oksalat dan alkaloid.
Kandungan flavonoid dalam daun sirsak ini dapat bersifat sebagai
antioksidan. Hasil riset menyatakan, Sirsak mengandung
asetogenin yang mampu melawan 12 jenis sel kanker (Adjie, 2011).
Berdasarkan penelitian Sukandar dkk menunjukkan bahwa
ekstrak etanol daun Sirsak dapat berefek sebagai hiperurikemia
pada dosis 200 mg/KgBB tikus. Untuk mempermudah
penggunaannya maka ekstrak etanol daun Sirsak dapat di
formulasikan menjadi sediaan suspensi.
Berdasarkan latar belakang di atas maka kami memutuskan
untuk memformulasi ekstrak etanol daun Sirsak menjadi sediaan
suspensi.

B. Rumusan masalah
Apakah ekstrak etanol daun Sirsak dapat diformulasikan menjadi
sediaan suspensi?

C. Tujuan
Untuk membuat sediaan suspensi dari ekstrak etanol daun Sirsak
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Preformulasi
Preformulasi adalah tahap awal dari tiap formulasi yang
baru yang berupa pengkajian untuk mengumpulkan keterangan-
keterangan dasar tentang karakteristik fisikokimia zat obat yang
dibuat menjadi bentuk sediaan farmasi. Preformulasi dibutuhkan
sebelum produk yang sebenarnya dimulai (Ansel, 1989).

B. Tujuan Preformulasi
1. Tujuan untuk memformulasi dan mendesain sediaan farmasi
adalah suatu proses ketika formulator memastikan agar jumlah
zat yang tepat mencapai tempat yang tepat dalam tubuh,
dihantarkan dalam jangka waktu yang memadai, sedangkan
keutuhan kimia dan zat aktif terlindungi sampai ke tempat yang
diinginkan. Hal ini akan berbeda tergantung pada tujuan zat
aktif yang dipersyaratkan untuk digunakan efek lokalnya
(misalnya tablet knyah untuk efek local dalam lambung) atau
efek sistemik.
2. Formulasi sediaan farmasi didesain untuk memberikan suatu
zat akif yang dapat diterima oleh pasien dan sesuai bagi dokter
penulis resep. Dalam hal ini, pilihan jenis bentuk sediaan yang
paling banyak digunakan adalah tablet/kapsul.
Dalam sudut produksi farmasetik, hal yang harus diperhatikan
adalah bentuk sediaan dapat dibuat dengan mudah, ekonomis dan
repodusibel. Jika ada bets yang gagal memnuhi spesifikasi,
peralatan standar yang lebih baik dan bahan tambahan yang
benar-benar dikarakterisasi harus digunakan. Akan tetapi, kurang
dibenarkan untuk mendesai formula yang tersedia hayati, stabil dan
baik jika sediaan itu sendiri tidak dapat dibuat dalam produksi
berbasis rutin. Sehubungan dengan itu, penting dilakukan falidasi
formulasi akhir dan proses pembuatan sedini mungkin dalam
program pengembangan (Fatmawaty, 2012).

Alasan pemilihan zat aktif


Daun sirsak (Annona muricata L.) digunakan secara
tradisional untuk menangani berbagai penyakit termasuk untuk
menurunkan asam urat. Dalam penelitian Sukandar dkk (2012)
telah dilakukan uji antihiperurikemia ekstrak etanol daun sirsak
dosis 100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb dan 400 mg/kg bb pada tikus
Wistar betina yang diberi asam urat 1 g/kg bb dan kalium oksonat
200 mg/kg bb. Hasil menunjukkan ekstrak etanol daun sirsak dosis
100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb dan 400 mg/kg bb dapat menurunkan
kadar asam urat

Alasan penambahan zat tambahan


1. Na CMC digunakan sebagai bahan pensuspensi kerena bersifat
tiksotropi yaitu dapat menghasilkan suspensi yang stabil,
mempunyai konsentrasi yang tinggi dalam wadah tetapi mudah
dituang.
2. Na benzoat digunakan sebagai pengawet saat ditambahkan
pada suspensi, benzoat akan terlarut, anion benzoat akan
teradsorbsi pada partikel suspensi. Na benzoat tidak
inkomptabel dengan alkaloid, tanin maupun flavonoid yang
terdapat pada ekstrak. Na benzoat bersifat antibakteri maupun
anti jamur (Rowe dkk, 2009)
3. Sukrosa digunakan sebagai pemanis dalam sediaan, sukrosa
merupaka pemanis alami yang sering digunakan dalam sediaan
farmasi (Rowe dkk, 2009)
4. Propilen glikol digunakan sebagai wetting agent dan co-solvent
yang mempermudah dalam pencampuran/kelarutan dalam
sediaan suspensi. PG tidak memiliki inkomp dengan senyawa
alkaloid, tanin maupun flavonoid yang terdapat pada ekstrak.
(Rowe dkk, 2009)

Kestabilan Zat Aktif

Quercetin merupakan flavonol yang ada pada buah dan


sayuran Dalam makanan, quercetin terikat dengan komponen
gula, asam fenolik, alkohol dll. setelah dicerna, kuersetin
dihidrolisis sebagian besar di saluran cerna dan kemudian
diserap dan dimetabolisme. Molekul mengandung lima gugus
hidroksil yang keberadaannya menentukan aktivitas biologis
senyawa tersebut. Kelompok utama turunan kuersetin adalah
glikosida dan eter serta substituen sulfat dan prenil. Lebih dari
setengah struktur flavonol yang diidentifikasi adalah senyawa
yang mengandung substituen alkil dalam molekulnya. Meskipun
ada lima kelompok hidroksil, molekul kuersetin memiliki
karakter lipofilik. Kuersetin dapat berupa lipo-filik dan hidrofilik,
tergantung pada jenis substituen dalam molekul. Penyerapan
dan metabolisme diperkirakan 100 mg sampai 1 gram per hari.
(Materska M, 2008)
Uraian bahan
1. Na CMC
Nama Resmi : Carboxymethyl Cellulose Sodium
Nama Lain : Carbose D, CMC Sodium
Kelas Fungsional :Suspending AGent
Konsentrasi : 0,25-1,0 %
Pemerian : Warna : Putih/Hampir Putih
Rasa : Tidak Berasa
Bau : Tidak Berbau
Bentuk : Serbuk Granul
Kelarutan : Dalam air : Mudah terdispersi dalam air di
semua suhu
Dalam pelarut lain : Praktis tidak larut dalam
aseton, etanol (95%), eter dan toluena.
pH : 2,0-10,0
Titik Lebur : 227-252 oC
Informasi Lain :Sebagai bahan pensuspensi, peningkat
viskositas, coating agent, stabilizing agent, dan penyerap air.
Sebagai zat tambahan digunakan baik pada sediaan oral atau
topikal.
Stabilitas : CMC Na bersifat stabil meskipun sifatnya
higroskopis. Pada kondisi dengan kelembaban tinggi CMC Na
dapat menyerap air > 50%.
Inkompatibilitas : CMC Na tidak tercampur pada larutan yang
bersifat asam kuat dan dengan garam-garam logam yang dapat
larut seperti Al, Hg, Zn.
Penanganan : CMC Na dapat menyebabkan iritasi pada
mata. Perlindungan mata direkomendasikan.
Toksisitas : LD 50 (Marmut, oral)= 16 gram/kg
LD 50 (Rat, oral)=27 gram/kg
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan kering.
2. Na. Benzoat
Nama Resmi : Sodium Benzoate
Nama Lain : Benzoic acid sodium
Kelas Fungsional : Pengawet
Konsentrasi :
Pemerian : Warna : Putih
Rasa : Manis dan saun yang tidak enak
Bau : Tidak Berbau/bau benzoin
samar
Bentuk : Butiran, kristal, sedikit bubuk
Kelarutan : Dalam air : 1-1,8 bagian, 1-1,4 bagian pada
suhu 100 OC
Dalam pelarut lain : Etanol 95% 1-75 bagian,
etanol 90% 1-50 bagian.
pH : 8,0
Stabilitas : Larutan berair dapat disterilkan dengan
autoklaf atau filtrasi.
Inkompatibilitas : Tidak sesuai dengan senyawa kuartener,
gelatin, garam besi, garam kalsium, dan garam logam berat,
termasuk perak.
Penanganan : Garam benzoat dapat ditoleransi dengan
baik dalam jumlah banyak, misal 6 gram natrium benzoat dalam
200 mL air.
Toksisitas : Toksisitas benzoat sistemik mrip dengan salisilat.
Penyimpanan : Di simpan dalam wadah tertututp rapat, ditempat
sejuk dan kering.

3. Sukrosa
Nama Resmi : Sucrose
Nama Lain : Beet sugar, cane sugar
Kelas Fungsional : Pemanis
Konsentrasi : 67%
Pemerian : Warna : Tidak berwarna
Rasa : Manis
Bau : Tidak Berbau
Bentuk : Kristal, massa/balok, serbuk
kristal
Kelarutan : Dalam air : 1-0,5 bagian, 1-0,2
pada suhu 100oC
Dalam pelarut lain : Kloroform tidak
larut,Etanol 1-400, etanol 95% 1-170,
propanolol 1-400.
pKa : 12,62
Titik Lebur : 160-186 OC
Stabilitas : Sukrosa memiliki stabilitas yang baik pada
suhu kamar dan sedang kelembaban relatif sedang.
Inkompatibilitas : Bubuk sukrosa bisa terkontaminasi dengan
jejak berat logam, yang dapat menyebabkan ketidakcocokan.
Penanganan : Sukrosa dihidrolisis dalam usus kecil oleh
enzim sucrase menghasilkan dextrosa dan fruktosa yang
kemudian diserap.
Penyimpanan : Di simpan dalam wadah tertututp rapat,
ditempat sejuk dan kering.

4. Aquadest
Nama Resmi : Aquadestilata
Nama Lain : Air suling
Kelas/Fungsional : Pembawa
Pemerian : Warna : Tidak berwarna
Rasa : Tidak berasa
Bau : Tidak Berbau
Bentuk : Cairan
RM : 18,02
BM : H2O

5. Propilenglikol
Propilen glikol
Nama Resmi : PROPYLEN GLYCOLUM
Nama Lain : Propilen glikol
RM/BM : C3H8O2/76,10
Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, rasa agak manis, Higroskopik.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol
(95%) P. Dan dengan kloroform P., larut dalam 6 bagian eter P.
Tidak dapat campur dengan eter minyak tanah P. Dan dengan
minyak lemak.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : pengawet
Inkomp : Inkomp dengan agen pengoksida kuuat
dan Kalium Permanganat.
konsentrasi : 10%

Rancangan formula

untuk 15 mL sendok teh mengandung:

Ekstrak daun sirsak 2,24 g

Na CMC 1%

PG 10 %

Natrium benzoat 0,2 %

Sukrosa 25 %
Aquadest ad 100 %

Perhitungan

Ekstrak daun sirsak sebagai hiperurisemia dengan dosis 200 mg/kg


BB tikus
Konversi menggunakan tikus
untuk 200 g tikus = 200 g x 0.2
= 40 mg/200 g tikus
Konversi dosis ke manusia
Ds = 40 mg x 56
= 2.240 mg/70 kg manusia

Formulasi untuk 60 ml

Ekstrak daun sirsak = 60 ml / 15 ml x 2,24 g = 8,96 g

Na CMC 1% = 1 x 60 mL
100
= 0,6 g
PG 10% = 10 x 60 mL
100
=6g
Na benzoat = 0.2 x 60 mL
100
= 0.12 g
Sukrosa = 25 x 60 mL
100
= 15 g
DAFTAR PUSTAKA

Artini K., Wahyuni S., Sulihingtyas W D ., (2012). Ekstrak daun sirsak


sebagai antioksidan pada penurun kadar asam urat tikus wistar.
Jurrnal kimia. 6(2)
Asaidi M. (2010). Waspadai asam urat. Dwi press. yogyakarta
Adjie S. (2011). Dahsyatnya sirsak tumpas penyakit. Pustaka bunda.
jakarta
Hernani. (2005). Tanaman berkhasiat antioksidan. penebar swadaya.
Depok.
Materska M. (2008). Quercetin And Its Derivatives: Chemical Structure
And Bioactivity A Review. Pol. J. Food Nutr. 58(4):407-413.
Rowe, R. C., Sheskey, P. J., dan Owen, S. C. (2009). Handbook of
Pharmaceutical Excipients. Pharmaceutical Press, London.
Sangging P R dan Utama A S. (2017). efek pemberian infus daun sirsak
terhadap penurunan kadar asam urat. Mayoriti. 6(2). Lampung
Sukandar E Y., Adnyana I K., Readi S. (2012). Uji Efek Antihiperurikemia
Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata L.) pada Tikus Betina
Galur Wistar. Acta Pharmaceutica Indonesia, 37(2):71.