Anda di halaman 1dari 16

I.

Formula
Tiap 100 mL mengandung :
Metronidazole 500 mg
NaCl 808 mg
Natrium Fosfat qs
Asam Sitrat 0,005%
Aqua Pro Injeksi ad 100 %
II. Rancangan Desain Sediaan
- Rencana nomor registrasi : DKL 1700500149A1
- Rencana nomor bets : H 710493
- Rencana klam etiket : Larutan untuk injeksi
- Rencana bahan kemas primer : Botol kaca
- Rencana bahan kemas sekunder : Dus
- Rencana bahan label/etiket : Kertas
- Rencana bahan leaflet/brosur : Kertas
- Rencana alat penakar : Botol infus 100 mL
- Rencana indikasi sediaan : Pengobatan dan profilaksis
infeksi bakteri anaerob sebelum dan sesudah operasi
III. Dasar Formulasi
1. Mengapa bahan aktif anda perlu diformulasi menjadi bentuk
sediaan dengan sistem yang anda pilih ?
Jawab : Karena metronidazole diketahui dapat menjadi inaktif
secara biologi jika dibuat menjadi lempengan padat (tablet).
Konsentrasi maksimum metronidazol yang dapat terlarut dalam air
(10 mg/ml) dan pada konsentrasi ini tidak ditemukan toksisistas
pada kelinci dan sperma manusia, sehingga metronidazole cocok
dibuat dalam sediaan cair (infus) agar mendapatkan konsentrasi
yang maksimum (Turgut dan ozyazici, 2014).
2. Apa keuntungan jika metronidazole diformulasikan menjadi bentuk
sediaan dengan sistem yang pilih?
Jawab : metronidazole dapat rusak pada cairan lambung
(Sweetman S. C., 2009). Sehingga dipilih sediaan infus, karena
sediaan infus tidak melalui saluran pencernaan. Selain itu infus
dapat bekerja dengan cepat sehingga cepat pula memberikan efek
yang diinginkan (Syamsuni, 2005).
3. Adakah tujuan khusus yang ingin dicapai dengan memformulasi
bahan aktif menjadi sediaan yang pilih?
Jawab : Tujuan khusus dari sediaan infus dapat diberikan dalam
jumlah besar dan terus-menerus. Juga cocok sebagai pengobatan
antibiotik pada operasi dengan resiko tinggi terhadap infeksi bakteri
aerob (Mesulgen, 2016).
III.2 Dasar pemilihan bahan aktif
1. Jelaskan tentang mengapa zat aktif dipilih untuk pengobatan
penyakit dengan indikasi yang ditetapkan!
Jawab : digunakan metronidazol karena metronidazole dapat
mengobati urethritis dan vaginitis, amoebiasis, mencegah infeksi
anaerob paska operasi dan gardiasis (ISO Indonesia Vol 48)
2. Jelaskan tujuan spesifik lain pemilihan bahan aktif jika ada
(misalnya efek samping yang lebih sedikit atau lainnya)
Jawab : tujuan lain dalam pemilihan bahan aktif yaitu bioavaibilitas
metronidazol tersedia dalam banyak bentuk dosis, penetrasinya
bagus kedalam jaringan dan harga yang murah (Turgut & Ozyazici,
2014).
3. Jelaskan dasar pemilihan kekuatan sediaan
Jawab : untuk pengobatan infeksi anaerobik dosis metronidazol
yang digunakan 500 mg/100 ml dapat diberikan setiap 8 jam jika
diindikasikan secara medik. Dosis untuk 15 mg/kg BB dapat
diberikan pada awal pengoabatan dan durasi pengobatan
tergantung dari efek pengobatan. Dibanyak kasus, jangka waktu
pengobatan yang cukup adalah 7 hari. Jika diindikasi secara klinik,
pengobatan dapat berlanjut lewat dari 7 hari, jadi kekuatan dosis
ditentukan dari pengobatan infeksi anaerobik metronidazol yaitu
500 mg/100 ml yang akan bertambah sesuai respon individual
pasien (Melsulgen, 2016).
III.3 Dasar pemilihan bahan tambahan
1. Natrium Fosfat
Natrium fosfat digunakan sebagai pendapar agar dapat
mempertahankan pH sediaan (Lachman, 2008) karena pH sediaan
infus diharapkan 7,4 atau isohidris dan tidak mengalami perubahan
selama penyimpanan. Keuntungan natrium fosfat yaitu dapat di
sterilkan menggunakan autoclav (Rowe dkk, 2009)
2. NaCl
Natrium klorida merupakan salah satu larutan fisiologis yang mirip
dengan cairan tubuh sehingga secara spesifik digunakan sebagai
pengisotonis agar tidak terjadi pertukaran cairan akibat perbedaan
konsentrasi sediaan dan konsentrasi di dalam sel (Lukas, 2011).
3. Asam Sitrat
Asam sitrat dibutuhkan sebagai antioksidan sebab menurut
Shahraen (2005) bahwa metronidazol dengan terpapar cahaya yang
berlebih selama penyimpanan akan mengalami degradasi karena
metronidazol mudah teroksidasi. Menurut Genarno (1990) juga jika
metronidazol teroksidasi akan berubah warnanya menjadi
buram/gelap. keuntungan asam sitrat yaitu asam sitra merupakan
bahan tambahan yang diperoleh dari alam yang bersifat non toksik
(Rowe dkk, 2009)
4. Aqua Pro Injeksi
Aqua pro injeksi digunakan sebagai pembawa sediaan infus karena
dimurnikan dengan cara penyulingan yang memenuhi standar dan
tidak menghasilkan iritasi jaringan serta bebas pirogen (Lachman,
2008).
III.4 Dasar pemilihan bahan kemas (Lukas, 2011)
1. Jelaskan tujuan penggunaan bahan kemas (primer) anda !
Jawab : Tujuan penggunaan bahan pengemas yaitu untuk
mempertahankan jumlah obat steril dengan tujuan pemberian
parenteral dengan wadah yang kedap udara sebagai dosis tunggal.
2. Jelaskan keunggulan bahan kemas (primer) yang anda pilih
dikelasnya !
Jawab : Bahan kemas yang digunakan yaitu wadah terbuat dari
gelas tipe I (gelas borosilikat) karena jenis gelas ini dikhususkan
untuk sediaan parenteral. Tipe gelas ini transparan sehingga
memudahkan pemeriksaan isi sediaan.
3. Apakah bahan kemas yang anda akan gunakan dibutuhkan secara
spesifik dalam formulasi bahan aktif anda ? jelaskan !
Jawab : Wadah spesifik yang digunakan dalam infus adalah bentuk
botol atau bolf berukuran 50-100 ml untuk cairan infus dasar atau
kombinasi.
III.5 Dasar pemilihan metode
1. Uraikan jika terdapat alasan bahan aktif anda harus dibuat dengan
metode tertentu !
Jawab : sediaan infus merupakan sediaan steril sehingga
pembuatannya sedapat mungkin tidak terkontaminasi dengan
mikroorganisme atau pembuatan dilakukan dengan metode
aseptis, yaitu cara atau usaha yang dilakukan menggunakan
tehnik yang dapat memperkecil cemaran kuman seminimal
mungkin ( Fatmawaty dkk, 2012).
IV Informasi Bahan Aktif
IV.1 Uraian farmakologi
Nama : Metronidazol
Kelas : Antibiootik
farmakologi
Indikasi : Pencegahan dan pengobataan infeksi anaerob
dan infeksi ganda anaerobik, trinomomiasis,
amubiasis, giardiasis, dan rambiasis
Mekanisme kerja : Dalam organisme atau bakteri gugus nitro
direduksi oleh enzim dan membentuk zat zat
antara yang merintangi sintesa DNA atau
merusak DNA, sehingga sintesa asam nukleat
terganggu (Gunawan.2012)
Kontra indikasi : Penderita hipersensitif terhadap metronidazole
lainnya, trimester pertama kehamilan (ISO vol.
40)
Efek samping : Ringan dan berupa gangguan saluran cerna,
muut kering dan rasa logam, punsing atau sakit
kepala, rash kulit dan adakalanya leukopenia
(Tjay & Raharja.2010)
Toksisitas : Metronidazole dan metabolitnya bersifat
mutagenik, pemberian kronik dosis besar
menyebabkan tumor genitasitas belum punah
secara jelas dikaitkan dengan pemakaian obat
pada manusia.
Dosis dan : Untuk amubiasis 3x750 mg/hari selama 5-10
pemberian hari
Untuk trikomuniasis 3x250 mg/hari selama 7-10
hari
Untuk giardiasis 3x250 mg/hari selama 5 hari
Terapi oral(Gunawan.2012)
Interaksi obat : Dikonsumsi dengan simvastatin akan
menimbukan interaksi pada fase metabolisme,
metronidazole akan mempengaruhi enzin,
disuatu enzim (YP3A4) efek simvastatin
menningkat
Farmakokinetik : Absorbs berlansung dengan baik sesudah
pemberian oral. Obat ini diekskresi melalui urin
dalam bentuk kisaran 8-10 jam
(Gunawan.2012)
IV.2 Uraian sifat fisika-kimia bahan aktif
Nama resmi : Metrinidazole
Nama lain : Metronidasol
RM : C6H9N3O3
BM : 210
RB

Pemerian : Warna : Putih/kuning gading


Rasa : pahit dan agak asin
Bau : bau lemah
Bentuk : serbuk hablur
Kelarutan : Dalam air : larut dalam 100 bagiian
Dalam pelarut lain : larut dalam 200 bagian
etanol (95%)P dan dalam 250 bagian kloroform
P, sukar larut dalam eter P.
pKa dan pH : PKa : 2,83 pH : 4,7 7,0
larutan
Titik lebur : 159o - 162o
Polimorfisme : Tablet, infus, supus
Informasi :
tambahan
IV. 3 Uraian stabilitas
Stabilitas Suhu : 15-20C
Suhu : terlindung dari cahaya
PH : 5-7
Air : -
Lainnya : tidak boleh disimpan dibawah
refrigerator karena akan membentuk kristal
didiamkan di suhu ruang akan melarut kembali
Inkompatibilitas Ion logam : larutan metronidazol yang tidak
terdisolusi dapat bereaksi dengan aluminium
pada peralatan seperti jarum menghasilkan
senyawa berwarna merah kecoklatan dan
dapat terbentuk endapan dengan sediaan
metronidazol yang siap digunakan jika terjadi
kontak selama 6 jam atau lebih.
Senyawa tertentu : obat-obatan lain harusnya
tidak ditembahkan kedalam larutan IV.
Metronidazol karena bersifat inkompatibel
terhadap PH metronidazol yang rendah
V. Informsi bahan tambahan (sifat fisika kimia dan stabilitas)
1. Asam Sitrat (FI Ed. III hal. 50 & Handbook of Pharmaceutical
Excipients 6th edition hal. 181-183)
Nama resmi : ACIDUM CITRICUM
Nama lain : asam sitrat, sitric acid monohidrat
Kelas fungsional : Antioksidant
Konsentrasi : 2,0 %
RM : C6H8O7
BM : 210,14
Pemerian : warna : tidak berwarna atau putih
rasa : sangat asam
bau : tidak berbau
bentu : serbuk
Kelarutan : Dalam air : larut dalam 1 bagian air
Dalam pelarut lain : larut dalam 1,5 bagian
etanol (95 %) P, sukar larut dalam eter P
pka : 3,128 at 25oc pka : 4,761 pka : 6,396
PKa & ph larutan : pH : 3
Titik lebur : 100oC
Stabilitas : asam sitrat monohidrat kehilangan air
(menguap) didalam udara kering/ketika
dipanaskan sekitar 40oC. asam sitrat
monohidrat sedikit meleleh dalam udara
lembab, melarutkan asam sitrat yang
encer: asam sitrat inkom dengan
potassium tatrat, alkali, tanah karbonat
dan bikarbonat, asetat dan sulfida. Talk
kompatibel termasuk zat pengoksi dan
Inkompatibilitas : dengan kalium tartrat, alkali dan karbonat
alkali tanah dan bikarbonat, asetat dan
sulfat. Tidak cocok dengan agen
pengoksidsi basa, pereduksi, nitrat.
Penanganan : dianjurkan untuk memakai pelindung mata
dan sarung tangan, masker debu harus
dipakai
Toksisitas : kontak langsung dengan mata bisa
menyebabkan kerusakan serius
Penyimpanan : wadah tertutup rapat
2. Aqua Pro Injeksi (FI Ed. III hal. 97 & Handbook of Pharmaceutical
Excipients 6th edition hal. 766-770)
Nama resmi : AQUA PRO INJECTION
Nama lain : aqua, hidrogen oksida, sterile water for
injection, air untuk injeksi
Kelas fungsional : pelarut isolvent
Konsentrasi : 100 %
RM : H2O
BM : 18,02
Pemerian : warna : tidak berwarna
rasa : tidak berasa
bau : tidak berbau
bentuk : larutan
Kelarutan : Dalam air, dalam pelarut lain larut pada
pelarut polar
PKa & ph larutan : pH 5,0-7,0
Titik lebur : 0oC
Stabilitas : air steril secara kimia dalam semua
keadaan
Inkompatibilitas : dalam formula farmasetika air dapat
bereakasi dengan obat dan eksipien yang
rentan terhadap hidrolisis (penguraian)
dengan adanya air (uap air) pada suhu
lingkungan. Air dapt bereaksi cepat
dengan logam alkali seperti kalium oksida
dan magnesium oksida. Air juga dapat
bereaksi dengan garam anhidrat
membentuk hidrat
Penanganan : perhatikan tindakan pencegahan yang
sesuai dengan keadaan dan jumlah bahan
yang ditangani
Toksisitas : air bersifat sedikit toksik jika ditujukan
pada hewan coba daripada larutan garam
seperti larutan ringer. Konsumsi air yang
berlebih dapat menyebabkan toksisitas
dengan terganggunya keseimbangan
elektrolit
Penyimpanan : disimpan dalam wadah tertutup kedap.
Jika disimpan dalam wadah bertutup
kapas berlemak harus digunakan dalam
waktu 3 hari setelah pembuatan. Disimpan
dalam wadah dosis tunggal, lebih disukai
wadah kaca tipe I atau tipe II, tidak lebih
dari ukuran 1000 ml
3. Natrium Fosfat
Nama resmi : NATRII PHOSPATE
Nama lain : Disodium hydrogen phosphate
Kelas fungsional : Buffering agent
Konsentrasi : -
RM : Na2HPO4
Rumus Struktur :

BM : 141,96
Pemerian : Warna : Putih / hampir putih
Rasa : Tidak berasa
Bau : Tidak berbau
Bentuk : Serbuk
Kelarutan : Dalam air : Sangat larut dalam airDalam
pelarut ini : praktis tidak larut dalam etanol
95% P
PKa & ph larutan : 9,1
Titik lebur : -
Stabilitas : Digunakan sebagai zat peyangga atau
asam penyerap tidak boleh dibiarkan
bersama dengan garam aluminium, kalsium
karena mengikat fosfat dan dapat
mengganggu penyerapan di gastrointestinal
stabil dan dapat disterilkan di autoklaf
Inkompatibilitas : Natrium basic phospat tidak kompatibel
dengan alkaloid, anti aspirin klorhidrat,
timbal asetat pirogangliol,resorsinol dan
kalsium glukonat dan ciprofloksasin
interaksi antara kalsium dan fosfat yang
tidak larut
Penanganan : dapat menyebabkan iritasi pada kulit mata
selaput lendir perlindungan mata dan
sarung tangan
Toksisitas : -
Penyimpanan : Wadah kedap udara, disimpan ditempat
yang sejuk dan kering
4.NaCl
Nama resmi : NATRII CHLORIDUM
Nama lain : Natrium klorida
Kelas fungsional : Agen tonisitas
Konsentrasi : -
RM : NaCl
Rumus Struktur :

BM : 58,44
Pemerian : Warna : Putih
Rasa : Asin
Bau : Tidak berbau
Bentuk : Serbuk
Kelarutan : Dalam air : 2,8 bagian air, 2,7 air mendidih
Dalam pelarut lain : kurang lebih 10 bagian
gliserol p, sukar larut dalam etanol 95% p
PKa & ph larutan : 6,7 7,3
Titik lebur : 80oC
Informasi Lain : NaCl adalah garam terpenting dalam tubuh
untuk menjaga tegangan osmotic darah dan
jaringan
Stabilitas : Larutan NaCl bersifat stabil tetapi dapat
menyebabkan pemisahan partikel kaca
pada tipe wadah gelas tertentu, larutan
NaCl dapat disterilkan dengan
autoklaf/filtrasi. Bahan padat stabil dan
harus disimpan pada wadah tertutup rapat
ditempat sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : Larutan NaCl korosif terhadap besi juga
bereaksi untuk membentuk Kristal dan
garam perak, timbale dan merkuri.
Oksidator kuat membebaskan dari larutan
NaCl yang diasamkan
Penanganan : Diperhatikan tindakan pencegahan yang
sesuai dengan jumlah material yang
ditangani. Jika dipanaskan pada suhu
tinggi dapat berubah menjadi uap yang
mengiritasi mata
Toksisitas : 0,5 1g/kBB NaCl pada dewasa
Saran : Wadah tertutup rapat disimpan ditempat
penyimpanan yang sejuk dan kering (Rowe,2006)
VI. Peralatan parameter kritis dan spesifikasi produk jadi

VI Peralatan, parameter kritis dan spesifikasi produk jadi


VI.1 Peralatan
Tuliskan peralatan yang direncanakan untuk digunakan pada tabel
berikut
No ID Alat Nama Alat/Merk Jumlah No.Sop
1 EM1 Erlenmayer 250 ml 1 M1/STF/17
2 EM2 Erlenmayer 100 ml 2 M2/STF/17
3 LB1 Labu tentukur 100 ml 1 M3/STF/17
4 CR1 Corong 1 M4/STF/17
5 KS1 Kertas Saring 1 M5/STF/17
6 BT1 Batang Pengaduk 1 M6/STF/17
VI.2 Parameter Kritis
Tentukan Parameter Kritis dan pengujiannya
No Tahap Parameter Kritis Pengujian
1 Pelarutan Homogen Uji Homogenitas
2 Pencampuran Homogen Uji Homogenitas
3 Penyaringan Jernih Uji Kejernihan
4 Sterilisasi Bebas Mikroba Uji Mikrobiologi
Rancangan Spesifikasi Sediaan
VI. 3 Tentukan Spesifikasi Produk akhir (dan produk ruahan)
No Kriteria Spesifikasi
1 Organoleptis Larutan jernih dan tidak berwarna
2 pH 7,4
3 Viskositas encer dengan aliran newton
4 Volume terpindahkan 100 ml
5 Identifikasi Metronidazol infus
6 Kadar 500 mg/100 ml.

VII. Rancangan pengemasan


VII.1 Kemasan primer
Jenis : botol kaca
Bahan : kaca
Dimensi : 3 dimensi
Volume : 100 ml
VII.2 Kemasan sekunder
Jenis : dus
Bahan : dus
Dimensi : 3 dimensi
Volume : 100 ml
VII.3 Leaflet
Jenis : kertas
Bahan : kertas
Dimensi : 2 dimensi
VII.4 Label
Jenis : kertas
Bahan : kertas
Dimensi : 2 dimensi

VIII. Perhitungan batch trial, produksi, dan perhitungan lain


Setiap 100 mL mengandung metronidazole 500 mg
Untuk 100 botol : metronidazole = 500 mg x 100 = 50.000 mg = 50 g
Perhitungan tonisitas :
0,9
B = 100 ( )

= 0,009 x 100 (0,5 x 0,1836)


= 0,9 0,0915
= 0,808 g
NaCl yang ditimbang = 808 mg NaCl/100ml
Cara ekivalensi NaCl (Syamsuni, 2007)
0,005
Asam sitrat = x 100 ml
100

= 0,005 g
= 5 mg
IX. Tabel sterilisasi alat
No Nama alat dan bahan Jumlah Metode sterilisasi
1 Erlenmayer 250 ml 1 Autoclave suhu 121,5 C selama 15 menit
2 Erlenmayer 100 ml 2 Autoclave suhu 121,5 C selama 15 menit
3 Labu tentukur 100 ml 1 Autoclave suhu 121,5 C selama 15 menit
4 Corong 1 Oven 170 C selama 1 jam
5 Kertas Saring 1 Autoclave suhu 121,5 C selama 15 menit
6 Batang Pengaduk 1 Oven 170 C selama 1 jam
7 Botol infus 1 Oven 170 C selama 1 jam
X. Rancangan proses produksi
1. Penyiapan alat dan bahan
- Disterilkan alat gelas yang tidak mempunyai skala (botol infus,
batang pengaduk dan corong) dalam oven pada suhu 150 170
C selama 1-2 jam
- Disterilkan alat gelas yang mempunyai skala (labu tentukur dan
erlenmeyer) dalam autoklaf pada suhu 121,5 selama 15 menit
dan alat alat karet (penutup botol infus) dibebas sulfurkan
dengan Na2CO3 yang dipanaskan selama 15 menit kemudian
dibilas dengan API
- Tunggu sampai proses sterilisasi berakhir
- Keluarkan alat yang telah di sterilkan
2. Pembuatan sediaan
- Timbang bahan secara aseptik sesuai dengan perhitungan
- Aktifkan norit pada oven dengan suhu 120OC selama 15 menit
- Masing-masing bahan dilarutkan dengan aqua pro injeksi
secukupnya
- Bahan yang sudah larut dicampurkan kedalam erlenmeyer 250 mL
diaduk hingga homogen
- Campuran dipindahkan kelabu takar 100 mL menggunakan
corong
- Ad aqua pro injeksi 100 ml tambahkan norit, diaduk
- Disaring hingga jernih
- Masukkan dalam wadah
- Beri Etiket
XI. Hasil Evaluasi Sediaan

Hasil Evaluasi Sediaan


No Evaluasi sediaan Sebelum Setelah
penyimpanan Penyimpanan (1 minggu)
1 Organoleptik Cairan jernih Cairan jernih
2 Volume terpindahkan 100 ml 100 ml
X. Daftar Pustaka

Ansel, H. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press. Jakarta.

Fatmawaty dkk. (2012). Teknologi Sediaan Farmasi. Sekolah Tinggi Ilmu


Farmasi. Makassar
Gunawan. (2012). Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen
Farmakologi dan Terapeutik, Fakultas Kedokteran, Universitas
Indonesia. Jakarta
Lachman dkk. (2008). Teori Dan Praktek Farmasi Industri.. UI Press.
Jakarta
Lukas. (2011). Farmasi Steril. Cv. Andi Ofset. Yogyakarta

Mesulgen. (2016). Direction for Use: Metronidazole B. Brown 5 mg/ml


solution infusion. Melsungen. Germany
Rowe, R. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition.
Pharmaceutical Press and American Pharmacits Association,
Washington Dc.
Sweetman S C,. (2009). Martindale The Complete Drug Reference.
Pharmaceutical Press. London
Syamsuni. (2005). Ilmu Resep. Penertbi Buku Kedokteran. Jakarta

Turgut dan Ozyazici. (2004). Bioavaibility File; Metronidazole. FABAD J.


Pharm Science 29 (39-49). Faculty of Pharmacy Departement
of Pharmaceutical Technology. Turkiye
Tjay dan Rahardja. (2007). Obat-Obat Penting. Gramedia, Jakarta.