Anda di halaman 1dari 6

Nama : Krisnawan

Mata Kuliah : Sejarah gerakan pentakosta


Dosen : Pdt. Karel Schubert
Tugas : Laporan baca buku

Pada bagian pertama dalam buku ini, penulis menjelaskan sedikit mengenai
otobiografi tentang Moesje Alt. Dalam bab ini juga dijelaskan mengenai darimana saja
sumber-sumber yang dipakai oleh penulisa dalam menuliskan buku ini. Dalam menuliskan
buku ini penulis mendapatkan sumber yang utama yaitu dari catatan pribadi dari Moesje Alt
sendiri yang beliau selesaikan menjelang wafatnya. Dalam bab ini terdapat penjelasan
mengenai latar belakang historis Indonesia. Bersamaan dengan penjajahan dari belanda, ini
menjadi suatu jalur dimana di Indonesia injil dapat masuk dan tersebar di Indonesia. Dalam
bab ini dijelaskan banyak pendatang dari belanda yang mencoba untuk memberitakan Injil di
Indonesia, salah satunya adalah Moesje Alt. Selain itu juga terdapat penjelasan yang
bagaimana Moesje Alt dapat masuk dan dapat memberitakan Injil di Indonesia ini.
Buku ini menjelaskan juga mengenai sejarah tentang misi Kekristenan di pulau Jawa
pada awal abad 20, namun dalam buku ini dijelaskan bahwa masuknya kekristenan di pulau
Jawa terjadi pada abad pertengahan abad 19. Dalam buku ini dijelaskan bahwa Willem yang
adalah seorang raja, ia bermisi untuk membangun sebuah gereja protestan tunggal di palau
Jawa. Misi ini tidaklah terlaksana. Dalam perjalanan misi tersebut, banyak orang-orang
berkebangsaan Eropa yang juga merupakan orang-orang protestan mereka tinggal di kota-
kota besar di Indonesia. Pada saat itu NZG memiliki suatu rancangan untuk mengirim
misionaris-misionaris ke Maluku, Timor dan Sulawasi. Dalam hal ini Margot dalam dua
tahun pertamanya, dia melayani di Jawa Tengah. Pelayanan yang dilakukan oleh Margot
pertama dimulai pada tahun 1910.
Dalam bab selanjutnya dijelaskan mengenai latar belakang dari kehidupan Moesje
Alt. Moesje Alt lahir dalam keluarga Johanes David (Jan) dan Johanna Margaretha Wigleven.
Dari bab ini terdapat penjelasan yang lebih mendetail mengenai latar belakang kehidupan
tokoh dalam buku ini yaitu adalah Moesje Alt. Pada bagian pertama dalam bab ini
menjelaskan mengenain latar belakang ayah dari tokoh, dimana ayat dari Tokoh terbebut
berbuat zina Jan dengan Anna berpisah. Setelah berpisah Jan menikah kembali sampai dia
menikah dua kali lagi sesudah berpisah dengan Anna. Dalam bagian kedua dalam bab ini
menjelaskan mengenai latar belakang dari tokoh yang akan diceritakan dalam buku ini.
Dalam buku ini menjelaskan bahwa Margot mengasuh satu anak, dan nama anak yang
diasuhnya yang pertama dengan diberikan nama Anna, seperti nama dari ibunya. Margot di
baptis digereja Hervormd. Ibu dari Margot meninggal pada tanggal 2 Agustus 1887. Setelah
berjalan beberapa tahun Margot mengambil keputusan untuk berangkat ke Indonesia. Pada
tahun 1903 Margot naik kapal menuju ke Indonesia pada zaman belanda kedua sepupu itu
hadir dalam perpisahannya.
Di dalam bab yang selanjutnya dijelaskan dari saat Margot masih kanak-kanak sampai
kepada pertumbuhan kerohaniannya ketika ia sudah dewasa. Pada saat kanak-kanak Margot
bersekolah di Christelijke Vereniging Licht, Liefde en Leven di Noordwal. Setelah itu ia
mengikuti sekolah dasar di Sekolah Negeri Umum untuk anak laki-laki dan perempuan di
jalan Korte Lombard. Sejak tahun 1894 Margot mengikuti kelas menyanyi paduan suaru
disekolah musik. Dalam bab ini juga dijelaskan mengenai kehidupan sang tokih ketika berada
di sekolah musik. Selain itu dalam bab ini juga dijelaskan bagwa Margot gagal dalam ujian
menyanyi dan hal ini membuat sanga tokoh menjadi sangat kecewa. Dan Margot seka\rang
ingin belajar menjadi seorang penulis. Namun tidak sesuai dengan keinginannya, Margot
dikirim ke Haagsche Kookschool / sekolah masak. Dalam bagian ini dijelaskan bahwa
Margot jatuh cinta dengan Dirk de VisserSmits. Bab ini menjelaskan lebih mendetail tentang
keadaan sang tokoh ketika berada di sekolah kepandaian putri.
Bab ini juga menjelaskan bahwa ia tidak bergantung lagi dengan kakek dan neneknya,
dia mencari uang sendiri untuk kehidupannya. Margot bekerja sebagai pengasuh anak-anak
kepada keluarga keturunan Indonesia yang memiliki empat anak. Pada akhir Mei 1903 ia
berangkat ke Indonesia pada zaman Hindia Belanda, negeri yang sangat ia rindukan. Dalam
hal ini dijelaskan lebih lagi dalam bab ini. Bab ini juga menceritakan mengenai pertumbuhan
rohani dari Margot. Dijelaskan dalam bab ini begaimana Margot mengalami pertumbuhan
kerohanian dalam kehidupannya.
Dalam perjalanan kisahnya, Margot menjadi seorang pengasuh anak, namun dalam
keadaan seperti itu, Margot merasakan bahwa dalam pekerjaan tersebut dia merasakan
tertekan bagaikan hidup didalam sangkar. Namun dalam kehiduapannya dia tidak menyerah
meskipun harus mengalami situsi yang seperti ini. Hal yang harus Margot alami ketika
menjadi seorang pengasuh ini dia bukan hanya merasakan tekanan saja, namun dia juga
merasakan sakit dan dia hampir meninggal di rumah sakit Cikini di Jakarja, namun dia segar
kembali. Selain dia menjadi seorang pengasuh anak, dalam bab ini dijelaskan bahwa setelah
menjadi pengasuh anak, Margot menjadi pelajar perawatan di Lawang. Pada tahun 1906
kontrak kerja Margot sebagai seorang pengasuh anak-anak telah berakhir, pada saat yang
sama Margot diperhadapkan dengan dua pilihan, apakah mau pulang ke Belanda atau pindah
ketempat yang lebih sejuk. Hal ini dikarenakan sakit malaria yang dialami oleh Margot.
Dalam buku ini menjelaskan bahwa Margot memilih untuk tinggal di tempat yang
lebih sejuk, dibandingkan harus pulang ke Belanda. Margot dalam buku ini dijelaskan dia
melamar untuk menjadi perawat pelajar di institusi psikiatri Sumber Porong di Lawang, Jawa
Timur, Morgot diterima. Dalam sebuah perjalan dari jakarta ke Lawang yang dilakukan oleh
Margot, margot singgah di Magelang untuk mengunjungi sebuah panti asuhan yang didirikan
oleh Johannes van der Steur. Pada saat itu, Margot terpanggil untuk melayani anak-anbak
yang tidak diakui oleh ayahnya yang adalah tentara Belanda, sedangkan ibu mereka adalah
wanita-wanita Jawa.
Dalam buku ini juga dijelaskan bahwa pada tahun 1906 Margot mengkuti kursus,
setelah selesai mengeikuti kursus tersebut Margot mendapat 2 ijazah yaitu bidang
keperawatan umum dan pengetahuan psikiatris. Pada saat itu, Margot melayani khusus orang-
orang yang mengalami gangguan jiwa. Margot merupakan seorang yang gemar membaca
buku karangannya Elise van Calacar dan Marie Coreli. Kedua tokoh yang diceritakan dalam
buku tersebut, yang menjadi impian Margot dan membuat Margot merasa tenang. Selain itu
dalam buku ini juga dijelaskan bahwa Margot dari kecil sudah diberikan kebenaran Firman
Tuhan dalam dirinya. Namun, pada saat itu Margot tidak memiliki Alkitab sehingga Margot
tak dapat membaca Alkitab seperti pada saat Margot masih kecil neneknya sering membaca
Alkitab untuk Margot dan Abangnya. Sejak Margot dewasa dan hidup melyani Tuhan di
Negara yang begitu jauh dari tanah kelahirannya, ini merupakan suatu pergumulan tersendiri
dalam kehidupan Margot. Karena situasi yang terjadi pada saat itu di Margot dirinya untuk
mempelajari buku-buku yang berhubungan denga spiritualisme dan buku-buku yang
mempelajari kehidupan orang mati, atau kuasa kegelapan.
Ada seorang teman dari Margot yang sama-sama bekerja di rumah sakit dan dalam
kehidupan temannya tersebut banyak menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia. Temannya
ini menghabiskan waktu pekerjaannya untuk mempelajari kehidupan jenazah atau orang yang
meninggal, hal ini jua sangat mempengaruhi Margot sehingga Margot pun mengikuti apa
yang dilakukan oleh temannya tersebut, yaitu menunggu arwah-arwah orang mati. Melalui
hal ini Margot merasakan dalam hidupnya kering dan jauh dari Tuhan, dan hal ini sering
membuat Margot tidak merasakan ketenangan dalam dirinya, Margot terkadang merasa
bahwa dirinya sedang diganggu oleh roh jahat. Dari kejadian tersebut, ada seorang dokter
yang menyarankan kepada semua parawat agar mereka jangan sampai mengalami ketegangan
saraf. Hal ini disebabkan karena ada seorang perawat yang menjadi gila sedang berada di
rumah sakit.
Pada saat itu Margot hidup dalam keadaan dikuasai oleh kuasa kegelapan, saat itu
Margot sangat merasakan jauh dari Tuhan, dan melalui hal ini juga Margot merasakan
kenyamanan yang diberikan oleh iblis kala itu. Namun dalam hal ini Tuhan tidak membiarkan
Margot terus hidup dalam kenyamannya sendiri. Tuhan memberikan teguran kepada Margot
melalui penyakit yang begitu parah. Namun, melalui penyakit yang dirasakan oleh Margot,
Margot kembali kepada Tuhan. Setelah beberapa lama Margot tidak berdoa maka saat
mengalami sakit itulah Margot berdoa kepada Tuhan dan Tuhan menyembuhkan penyakitnya.
Saat itu Margot mengalami perubahan hidup yang luar biasa dalam dirnya.
Buku ini juga menceritakan kisah percintaan yang dialami oleh Margot dengan seorang
pria yang bernama Dirk de Visser Smits. Dirk adalah seorang yang belum mengenal Tuhan
dalam hidupnya. Hal ini yang menjadi alasan mengapa Margot memutuskan untuk berpisah
dengan Dirk. Dirk juga tidak melayani Tuhan dalam hidupnya hal ini terbukti dari sebuah
tulisan yang ditulis oleh Margot sendiri yang mengatakan bahwa Dirk berkali-kali
merendahkan nama Allah. Saya tidak akan pernah bahagia dengannya sepanjang ia tidak
melayani Tuhan. Margot memegang ayat firman Tuhan yang berkata bahwa seseorang boleh
menikah dengan siapa saja asalkan orang itu sudah percaya. Dengan hal ini membuat Margot
merasa tidak cocok dengan Dirk.
Pada 1910-1914 Pangungsen di Tayu, sejak pertobatan Margot ia merasa dirinya
berbeda dari yang lain. Tahun-tahun ini merupakan tahun awal Margot melayani di Indonesia,
sampai ia menjadi pelopor gerakan pentakosta yang ada di Indonesia bukan hanya di Jawa
Tengah saja, namun dia juga melayani di Jawa Timur, Papua, dan masih banyak lagi tempat ia
melayani dan membuka perintisan.
A. 1. Tanggapan terhadap isi buku:
a. Manfaat buku bagi mahasiswa secara umum !!!
Jawab:
Buku ini memberikan masnfaat yang sangat banyak bagi mahasiswa secara umum,
manfaat dari buku ini adantara lain adalah sebagai berikut ini:
1. Dengan adanya buku ini, mahasiswa akan mampu memahami bagaimana
sejarah pentakosta yang ada di Indonesia ini.
2. Mahasiswa mampu mengerti tentang tahun dan tokoh-tokoh yang membawa
gerakan pentakosta di Indonesia ini.
3. Dengan buku ini mahasiswa dapat belajar bagaimana tokoh-tokoh gerakan
pentakosta ini memberitakan injil kepada orang-orang Indonesia yang mayoritas belum
mengenal Yesus sebagai juru selamat.
4. Mahasisa akan mampu belajar dari kehidupan sang tokoh, bagaimana sang
tokoh mempertahankan iaman dan pangilannya, meskipun harus mengalami sakit
penyakit. Dari hal ini dapat diambil suatu pelajran bahwa penyakit tidak menjadi
alasan untuk membuat seseorang menjadi patah semangat dalam melayani Tuhan
dalam hidupnya.

b. Manfaat bagi mahasiswa secara pribadi dalam hubungan dengan pernyataan iman !!!
Jawab:
Manfaat bagi saya sevara pribadi setelah saya membaca buku ini, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Saya semakin dibangkitkan lagi semangat saya untuk tetap melayani Tuhan
dalam diri saya, seperti Moesje Alt ini walaupun dia mengalami penyakit yang
mengancam nyawanya tetapi dia tetap semangat untuk melayani Tuhan dan terus
menjaga panggilannya.
2. Setelah saya membaca buku ini membuat saya semakin percaya lagi bahwa
ketika saya melayani Tuahn dengan sepenuh hati saya, Tuhan akan selalu menyertai
saya.
3. Dengan buku ini membuat saya semakin yakin lagi bahwa peristiwa tidak
hanya berhenti di saat pencurahan Roh Kudus pada zaman para rasul.
4. Dengan buku ini juga saya dapat melihat sejarah yang benar-benar luar bisa
yang selama ini saya hanya mengerti sekilas tentang tempat dimana saya dibesarkan.
Dengan hal ini saya semakin mengerti dan percaya bahwa peristiwa yang saya dengar
ketika saya belum masuk ke STT Berea ini benar-benar terjadi.

c. Manfaat bagi pelayanan gereja !!!


Jawab:
Manfaat buku ini untuk gereja adalah sebagai berikut:
1. Gereja akan mengeri tentang sejarah gerakan pentakosta yang ada di
Indonesia, sehingga dengan hal ini diharapkan gereja tetap menjaga api pentakosta
yang pernah terjadi di Indonesia.
2. Gereja akan menjadi gereja yang semakin kuat dan yakin bahwa pentakosta
tidak hanya berhenti di zaman para rasul saja.
3. Gereja akan terus bersyukur terdapat pelopor-pelopor yang membawa gerakan
pentakosta di Indonesia ini.