Anda di halaman 1dari 9

AKUNTANSI KEPRILAKUAN

PERTEMUAN 3

PENGENDALIAN KEUANGAN

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

1. Putu Intan Jaya Novitasari 1206305021


2. Nius Gwijangge 1406305063

PROGRAM REGULER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
I. PENGENDALIAN KEUANGAN

Pengendalian keuangan merupakan upaya yang dilakukan agar investasi, alokasi


biaya dan perolehan laba berjalan sesuai dengan rencana perusahaan. Pengendalian
keuangan merupakan tahap dimana rencana keuangan diimplementasikan, yaitu
menyangkut umpan balik dan proses penyesuaian yang diperlukan untuk menjamin bahwa
rencana terlaksana atau diubahnya rencana yang ada sebagai tanggapan terhadap berbagai
perubahan dalam lingkungan operasi.
Akhir-akhir ini, keterbatasan-keterbatasan dalam akuntansi menjadi luas karena
permintaan atau kebutuhan dan teknologi baru atas bagian yang selama ini dicari oleh
pemakai akuntansi sebagai bentuk dukungan dalam pelaporan akuntansi. Pada kesempatan
ini, akan dibicarakan masalah-masalah yang terkait dengan topic pengendalian dan dampak
dari desain serta implementasi dari sistem pengendalian keuangan.
Pengendalian/Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan
pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai
dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Tujuan pengendalian:
1. Supaya proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan dari rencana.
2. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan-penyimpangan
(deviasi).
3. Supaya tujuan yang dihasilkan sesuai dengan rencana.

1. Pentingnya Manajemen Keuangan


Manajemen keuangan adalah sebuah subjek yang sangat menarik saat kita
mendekati abad ke-21. Pentingnya prinsip keuangan ini digarisbawahi dengan adanya
perkembangan dramatis yang terjadi dalam pasar keuangan.

Radio dan Televisi menyajikan cerita-cerita yang dramatis tentang pertumbuhan


dan penurunan perusahaan-perusahaan, pengambilalihan perusahaan, dan berbagai
jenis restrukturasi perusahaan. Untuk dapat memahami perkembangan ini dan untuk
ikut serta didalamnya secara efektif diperlukan pengetahuan mengenai prinsip
keuangan.

2. Fungsi Keuangan
Fungsi keuangan yang utama adalah dalam hal pengambilan keputusan
mengenai investasi, perhitungan biaya, dan dividen untuk suatu organisasi. Dana
dikumpulkan dari sumber-sumber keuangan eksternal dan dialokasikan

1
untuk penggunaan yang berbeda-beda. Arus dana di dalam perusahaan dipantau.
Imbalan untuk sumber-sumber perhitungan ini dapat berupa tingkat pengembalian
(return), pembayaran kembali, serta produk dan jasa. Tujuan manajer keuangan adalah
membuat rencana guna memperoleh dan menggunakan dana, serta memaksimalkan
nilai organisasi. Berikut beberapa kegiatan yang terlibat, yaitu:
1. Dalam perencanaan dan peramalan, manajer keuangan berinteraksi denganpara
eksekutif yang bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan perencanaan strategis
umum.
2. Manajer keuangan harus memusatkan perhatiannya pada keputusan investasi dan
perhitungan biaya, serta segala hal yang berkaitan dengannya.
3. Manajer keuangan harus bekerja sama dengan para manajer lainnya
agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin karena semua keputusan
bisnis memiliki dampak keuangan.
4. Manajer keuangan menghubungkan perusahaan dengan pasar uang dan
pasar modal yang merupakan sumber perolehan dana dan tempat surat berharga
perusahaan diperdagangkan.
Kesimpulannya, tugas pokok manajer keuangan berkaitan dengan keputusan
investasi dan perhitungan biaya. Dalam menjalankan fungsinya, manajer keuangan
berkaitan langsung dengan keputusan pokok perusahaan yang berpengaruh terhadap
nilai perusahaan itu sendiri. Fungsi keuangan dalam organisasi biasanya dipisahkan
menjadi dua jabatan, yaitu bendahara dan administrasi pembukuan atau akuntansi
(kontroler).

3. Definisi Pengendalian Keuangan


1) Umpan Balik Mekanikal versus Respon Perilaku
Fokus utama dalam subsistem pengendalian keuangan adalah perilaku dari
orang-orang yang ada dalam organisasi. Oleh karena itu, pengendalian keuangan
dapat dipahami secara baik melalui penekanan pada pentingnya asumsi-asumsi
keperilakuan. Definisi pengendalian telah didasarkan pada konsep kepercayaan
dan kemungkinan. Para manajer membutuhkan suatu keyakinan tentang cara
dunia mereka bekerja dan dampak-dampak yang mereka harapkan dari suatu
inisiatif dipilih. Bagaimanapun, para manajer secara khusus memiliki peluang
untuk dapat mendeteksi hasil-hasil keperilakuan.
2) Perluasan Konsep-Konsep Tradisional

2
Dalam pendekatan perilaku, menghasilkan informasi bukanlah akhir dari
keterlibatan akuntan. Informasi akuntansi adalah bagian dari proses penandaan
yang dirancang untuk meningkatkan manfaat dari organisasi awal dengan
memengaruhi perilaku anggota-anggotanya. Tujuan pengendalian didasari oleh
keinginan untuk memilih suatu inisiatif yang akan mengubah kemungkinan
pencapaian hasil keperilakuan yang diharapkan. Perluasan dari konsep tradisional
atas pengendalian mengharuskan adanya perluasan lingkup pengendalian
akuntansi dan laporan keuangan guna mencakup proses administrasi organisasi.

4. Pengendalian Terpadu
Secara formal, sistem pengendalian komprehensif merupakan suatu kofigurasi
yang saling melengkapi, yaitu subsistem formal yang didukung proses administratif.
Untuk dapat diformalkan, suatu subsistem pengendalian seharusnya terstruktur dan
berkelanjutan, serta didesain dengan suatu proses yang tepat untuk mencapai tujuan
yang spesifik. Untuk bisa menjadi pengendalian yang komprehensif, suatu sistem
pengendalian seharusnya mencakup aktivitas berikut ini yaitu:
1) Perencanaan
Proses perencanaan dalam organisasi juga ditandai dengan istilah perilaku
penetapan tujuan. Aspek-aspek terpenting dari proses penetapan tujuan adalah
mengenai dasar dari organisasi dan komunikasi. Proses perencanaan akan
memunculkan pertanyaan-pertanyaan pengendalian yang dapat menjadi kunci
pengendalian yang efektif. Suatu perencanaan yang terlalu teknis atau terlalu logis
dapat menimbulkan kerusakan pada pengendalian bagi mereka yang kurang
waspada, karena tidak ada perhatian yang utuh pada implikasi pengendalian
terhadap implementasi rencana.
2) Operasi
Pengendalian operasi merupakan suatu proses perantara dan proses
perbaikan terhadap aktivitas-aktivitas operasi selama proses implementasi atas
rencana-rencana manajemen. Di berbagai organisasi, pengendalian pengoperasian
merupakan tanggung jawab manajer pemilik. Organisasi yang lebih kompleks
dituntut untuk lebih memformalkan pengendalian operasi guna menjamin suatu
standar yang efektif dan meningkatkan efisiensi operasi.
3) Umpan Balik

3
Umpan balik dalam organisasi berasal dari sumber formal dan informal
yang disusun dari komunikasi non-verbal. Komunikasi tersebut secara rutin
dihasilkan dari statistik yang ditabulasikan sebagai dasar untuk evaluasi
penyusunan. Evaluasi ini akan mempengaruhi distribusi kompensasi, pemberian
sanksi, dan perubahan atas proses perencanaan serta operasi sebagai akibat dari
umpan balik.
4) Interaksi Pengendalian
Saling keterkaitan diantara subsistem pengendalian juga memegang
peranan penting atas hasil yang kurang memuaskan. Logikanya, perencanaan lebih
dahulu ada dibandingkan dengan operasi dan ukuran umpan balik berasal dari
rencana-rencana operasi serta tujuan-tujuan yang ditetapkan. Hal yang berbeda
juga dapat terjadi antara perencanaan dan umpan balik. Proses perencanaan dapat
dipengaruhi secara mendalam oleh dampak-dampak umpan balik.

5. Faktor-Faktor Kontekstual
Konteks dapat menjadi penting untuk keberhasilan dalam mendesain dan
mengimplementasikan sistem pengendalian keuangan. Proses dalam
mengidentifikasikan faktor-faktor kontekstual yang penting merupakan subjek tertinggi
dan sangat temporer. Semua daftar dari faktor-faktor kontekstual kritis merupakan
subjek untuk melakukan perbaikan secara keseluruhan. Berikut adalah faktor-faktor
kontekstual yang akan dibahas, yaitu:
1) Ukuran
Ukuran dapat dipandang sebagai suatu peluang dan suatu hambatan.
Ukuran dipandang sebagai peluang jika berfungsi sebagai pemberi manfaat
ekonomi dan bukan sebagai strategi pengendalian. Ukuran dapat menjadi suatu
hambatan jika pertumbuhan ekonomi menyebabkan terjadinya eliminasi tehadap
strategi pengendalian.
2) Stabilitas Lingkungan
Desain pengendalian dalam lingkungan yang stabil dapat berbeda dari
desain pengendalian dalam lingkungan yang selalu berubah. Stabilitas dalam
lingkungan eksogen dapat dinilai dari gerakan yang secara eksternal menghasilkan
produk-produk yang memerlukan suatu tanggapan. Suatu lingkungan eksogen
yang stabil diasumsikan dalam banyak pembahasan sistem biaya standar dan
analisis hubungan antar varians biaya.

4
3) Motif Keuangan
Sistem pengendalian yang didasarkan pada motif dan ukuran-ukuran
profitabilitas sering kali tidak dapat diterjemahkan secara langsung pada konteks
nirlaba (non-profit). Ukuran-ukuran laba adalah penting dan meskipun sulit dapat
menjadi indikator dari keberhasilan. Manfaat terbesar yang berkaitan dengan
indikator berbasis laba adalah bahwa indikator tersebut secara statistik akan tampak
jelas jika diringkas. Ringkasan tersebut sering diartikan sebagai suatu ringkasan
atas keseluruhan keberhasilan dari sub-sistem yang kompleks dan sulit dipahami.
4) Faktor-faktor Proses
Suatu faktor proses penting dalam pengendalian biaya-biaya yang tidak
dapat dihindari dan biaya-biaya untuk melakukan rekayasa adalah biaya variabel.
Strategi pengendalian biaya untuk proses strategi biaya variabel sering kali berbeda
dalam hal substansi dengan strategi pengendalian biaya yang disesuaikan, seperti
aplikasi biaya tetap.

6. Pertimbangan-Pertimbangan Rancangan
1) Antisipasi terhadap Konsekuensi Logis
Antisipasi terhadap konsekuensi logis merupakan komponen-komponen inti
dalam mendesain pengendalian. Kondisi ini merupakan hal yang penting bagi
seorang manajer keuangan yang terbiasa untuk membuat pertimbangan
berdasarkan pada apakah hasil itu adalah baik atau buruk. Para manajer yang
berpengalaman sering kali mengantisipasi berbagai output yang berkaitan dengan
proses pengendalian yang mereka pahami. Suatu pengendalian akan berhubungan
dengan hasil atau konsekuensi, baik yang tepat maupun tidak.
a. Relevansi dengan Teori Agensi
Teori agensi menyangkut persoalan biaya dimana suatu
pendelegasian dengan asumsi keputusan-keputusan tertentu bersifat tidak jelas
atau dipengaruhi secara bersama-sama agar menjadi tidak nyata. Bentuk yang
paling sederhana dari keputusan yang tidak nyata adalah tindakan karyawan
atau agen yang memperhatikan tingkat kinerja dalam menjalankan tugasnya.
b. Pengelolaan Perubahan
Pengelolaan perubahan adalah sesuatu yang penting dalam menentukan
rancangan-rancangan pengendalian. Para manajer melaksanakan pengendalian
untuk mencapai tujuan-tujuan yang sering kali dihadapkan pada satu atau lebih

5
dilema bisnis. Dalam jangka panjang, perusahaan akan memelihara
lingkungan pengendalian lewat suatu proses perubahan dan kompensasi. Hal
ini terjadi ketika rancangan-rancangan pengendalian dimodifikasi melalui
proses regenerasi internal secara berkelanjutan atau ketika perubahan
disebabkan oleh faktor-faktor eksternal yang berdampak pada organisasi.

7. Pengendalian dalam Era Pemberdayaan


Untuk melindungi perusahaannya, para manajer senior didorong untuk
mendefinisikan ulang bagaimana mereka melaksanakan tugas-tugas mereka dan
bagaimana mereka yakin bahwa bawahan dengan bakat kewirausahaan tidak
membahayakan kelangsungan hidup perusahaan. Salah satu pemecahan dari hal
tersebut adalah kembali ke pengendalian fundamental dimana para manajer
melaksanakan pengendalian secara penuh terhadap pegawainya.
Namun, di kebanyakan organisasi yang beroperasi dalam pasar yang sangat
kompetitif, para manajernya tidak dapat menghabiskan seluruh waktu dan upaya guna
memastikan bahwa semua orang melaksanakan permintaannya. Dalam sistem
pengendalian, terdapat unsur-unsur yang memiliki tujuan yang berbeda bagi manajer
yang berupaya menajamkan kreativitas karyawan. Berikut ini adalah sistem-sistem
pengendalian, yaitu:
1) Sistem Pengendalian Diagnostik
Para manajer menggunakan sistem pengendalian ini untuk memonitor
tujuan dan profitabilitas serta memastikan kemajuan ke arah target. Namun, sistem
ini tidak cukup untuk memastikan pengendalian yang efektif. Salah satu tujuan
utama sistem pengendalian diagnostik adalah bertujuan untuk menghilangkan
beban manajer terhadap pengawasan yang konstan. Sekali tujuan ditetapkan,
penghargaan akan didasarkan pada tujuan tersebut.
2) Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan memengaruhi inspirasi para manajer untuk menciptakan
suatu peluang baru. Sistem ini dapat memotivasi individu untuk mencari cara-cara
baru dari nilai yang diciptakan. Sistem kepercayaan dapat meningkatkan
pengendalian diagnostik guna memberikan pengendalian yang lebih besar kepada
para manajer dewasa ini.
3) Sistem Batasan

6
Sistem ini didasarkan pada prinsip manajemen yang sederhana namun
mendasar, yang dapat disebut sebagai kekuatan pemikiran negatif. Memberi tahu
karyawan mengenai apa yang tidak boleh dilakukan memungkinkan inovasi, tetapi
dalam batasan yang jelas. Sistem batasan dan sistem kepercayaan membentuk
kesempatan secara bersama-sama tanpa batas kedalam domain yang terfokus,
dimana para manajer dan karyawan didorong untuk memanfaatkannya secara
efektif.
4) Sistem Pengendalian Interaktif
Sistem pengendalian interaktif merupakan sistem informasi formal yang
digunakan oleh para manajer untuk melibatkan diri secara terus menerus dan secara
personal dalam keputusan bawahan. Suatu sistem pengendalian dapat bersifat
interaktif jika ada perhatian dari seluruh pihak yang terlibat dalam perusahaan.
Keputusan manajer senior untuk menggunakan sistem ini adalah keputusan untuk
menginvestasikan waktu dan perhatian dalam pertemuan tatap muka untuk
meninjau informasi terbaru yang memberikan sinyal yang jelas mengenai hal yang
penting pada organisasi.
5) Penyeimbangan Pemberdayaan dan Pengendalian
Secara kolektif, keempat jenis pengendalian tersebut disusun dalam
kekuatan yang saling mendukung. Karena organisasi menjadi lebih kompleks, para
manajer akan selalu berhubungan dengan kesempatan dan kekuatan kompetitif
yang bertambah serta penurunan dalam waktu dan perhatian untuk mencapai
keuntungan dari inovasi dan kreativitas yang tidak dapat dicapai dengan
mengorbankan pengendalian.

7
DAFTAR RUJUKAN

Lubis, Arfan Ikhsan. 2011. Akuntansi Keperilakuan. Edisi ke 2. Jakarta: Salemba Empat.
http://lutfindahns.blogspot.co.id/2015/04/pengendalian-keuangan.html
http://aling-education.blogspot.co.id/2015/11/akuntansi-keperilakuan.html
http://www.himakaunitri.com/2016/04/pengendalian-keuangan.html