Anda di halaman 1dari 38

AKUNTANSI PEMERINTAHAN

AKUNTANSI KEWAJIBAN DAN PEMBIAYAAN (PENERIMAAN)

Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Akuntansi Pemerintahan
Tahun Ajaran 2017/2018

Disusun Oleh :

Kelompok 2

1. Evi Arviyani 0114103026


2. Sri Wahyuni 0114103027
3. Widdy Azendri M. 0114104002

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS WIDYATAMA

BANDUNG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Meskipun penyusunan makalah ini belum begitu sempurna tetapi
penulis berusaha untuk menghasilkan yang terbaik. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah Akuntansi Pemerintahan dengan materi pembahasan tentang
AKUNTANSI KEWAJIBAN DAN PEMBIAYAAN (PENERIMAAN) .
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah
agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Bandung, Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 4
1.1. Latar Belakang ................................................................................................................. 4
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................ 4
1.3. Tujuan............................................................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................... 6
2.1. Kewajiban......................................................................................................................... 6
2.1.1 Definisi ...................................................................................................................... 6
2.1.2 Klasifikasi ................................................................................................................. 6
2.1.3 Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, dan Pengungkapan .......................................... 7
2.1.4 Sistem Akuntansi Kewajiban di SKPD................................................................... 12
2.1.5. Ilustrasi Sistem Akuntansi Kewajiban di SKPD ..................................................... 17
2.1.6. Sistem Akuntansi Kewajiban di PPKD................................................................... 23
2.1.7. Ilustrasi Sistem Akuntansi Kewajiban di PPKD ..................................................... 26
2.2. Pembiayaan Penerimaan ................................................................................................ 30
2.2.1 Definisi .................................................................................................................... 30
2.2.2 Klasifikasi ............................................................................................................... 31
2.2.3 Pengakuan, Pengukuran, Penyajian di Laporan Keuangan, dan Pengungkapan .... 31
2.2.4 Sistem Akuntansi Pembiayaan ................................................................................ 32
2.2.5 Ilustrasi Akuntansi Pembiayaan Penerimaan .......................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ xxxviii

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Akuntansi keuangan pemerintah daerah merupakan bagian dari akuntansi sektor publik, yang
mencatat dan melaporkan semua transaksi yang berkaitan dengan keuangan daerah. Yang disebut
keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang, termasuk di dalamnya segala bentuk
kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.
Ruang lingkup keuangan negara yang dikelola langsung oleh Pemerintah Pusat adalah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan yang dikelola langsung oleh Pemerintah
Daerah adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Baik APBN maupun APBD
merupakan inti dari akuntansi keuangan pemerintahan. Oleh karena itu, kedudukan APBN dan
APBD dalam penatausahaan keuangan dan akuntansi pemerintahan sangatlah penting.
Setelah dikeluarkannya paket Undang-Undang Keuangan Negara yaitu UU No. 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, UU No.
15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, maka
informasi keuangan negara yang meliputi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dilengkapi
dengan informasi Neraca, Laporan Arus Kas, Catatan atas Laporan Keuangan, selain informasi
mengenai Laporan Realisasi APBN/APBD. Pelaporan keuangan pemerintah selanjutnya harus
mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintah seperti yang tertuang dalam PP 71 Tahun 2010.
Berdasarkan dari uraian diatas, makalah ini akan membahas Kewajiban dan Pembaiyaan
Penerimaan

1.2. Rumusan Masalah


Pada penulisan makalah ini yang menjadi rumusan masalah dan akan dicari pemecahan dengan
penjelasan penjabarannya sebagai berikut :

1. Bagaimana metode pengakuan, Pengukuran, Pengungkapan dan Penyajian Kewajiban


dalam Akuntansi Pemerintahan?
2. Bagaimana metode pengakuan, Pengukuran, Pengungkapan dan Penyajian Pembiayaan
Penerimaan dalam Akuntansi Pemerintahan

4
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:

1. Untuk Pengetahui metode pengakuan, Pengukuran, Pengungkapan dan Penyajian


Kewajiban dalam Akuntansi Pemerintahan
2. Untuk Pengetahui metode pengakuan, Pengukuran, Pengungkapan dan Penyajian
Pembiayaan Penerimaan dalam Akuntansi Pemerintaha

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kewajiban

2.1.1 Definisi
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Lampiran I PSAP Nomor 09
tentang Kewajiban menjelaskan bahwa kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa
masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi
pemerintah daerah. Kewajiban pemerintah daerah dapat muncul akibat melakukan pinjaman
kepada pihak ketiga, perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintahan, kewajiban
kepada masyarakat, alokasi/realokasi pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban kepada
pemberi jasa. Kewajiban bersifat mengikat dan dapat dipaksakan secara hukum sebagai
konsekuensi atas kontrak atau peraturan perundang-undangan. Sistem akuntansi kewajiban
yang diatur dalam modul ini terdiri atas sistem akuntansi kewajiban di SKPD dan sistem
akuntansi kewajiban di PPKD. Sistem akuntansi kewajiban adalah suatu proses yang dimulai
dari pembelian/pengadaan barang/jasa (secara kredit) yang dibuktikan dengan dokumen yang
sah sampai kepada proses penyelesaian/pembayaran utang yang bersangkutan. Kewajiban
merupakan utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan
aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah daerah.

2.1.2 Klasifikasi
Kewajiban dikategorisasikan berdasarkan waktu jatuh tempo penyelesaiannya, yaitu
kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. Pos-pos kewajiban menurut PSAP
Berbasis Akrual Nomor 09 tentang Kewajiban antara lain:

a. Kewajiban Jangka Pendek

Kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban yang diharapkan dibayar dalam waktu
paling lama 12 bulan setelah tanggal pelaporan. Kewajiban jangka pendek antara lain
utang transfer pemerintah daerah, utang kepada pegawai, utang bunga, utang jangka

6
pendek kepada pihak ketiga, utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), dan bagian lancar
utang jangka panjang.

b. Kewajiban Jangka Panjang

Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang diharapkan dibayar dalam waktu
lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Selain itu, kewajiban yang
akan dibayar dalam waktu 12 bulan dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka
panjang jika:

1) Jangka waktu aslinya adalah untuk periode lebih dari 12 bulan.


2) Entitas bermaksud untuk mendanai kembali (refinance) kewajiban tersebut atas
dasar jangka panjang.
3) Maksud tersebut didukung dengan adanya suatu perjanjian pendaan kembali
(refinancing), atau adanya penjadwalan kembali terhadap pembayaran, yang
diselesaikan sebelum pelaporan keuangan disetujui.

Dalam Bagan Akun Standar, kewajiban diklasifikasikan sebagai berikut:

2.1.3 Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, dan Pengungkapan


A. Pengakuan
Kewajiban diakui pada saat kewajiban untuk mengeluarkan sumber daya ekonomi
di masa depan timbul. Kewajiban tersebut dapat timbul dari:
1) Transaksi dengan Pertukaran (exchange transactions)

7
Dalam transaksi dengan pertukaran, kewajiban diakui ketika pemerintah
daerah menerima barang atau jasa sebagai ganti janji untuk memberikan uang
atau sumberdaya lain di masa depan, misal utang atas belanja ATK.
2) Transaksi tanpa Pertukaran (non-exchange transactions)
Dalam transaksi tanpa pertukaran, kewajiban diakui ketika pemerintah daerah
berkewajiban memberikan uang atau sumber daya lain kepada pihak lain di
masa depan secara cuma-cuma, misal hibah atau transfer pendapatan yang
telah dianggarkan.
3) Kejadian yang Berkaitan dengan Pemerintah (government-related events)
Dalam kejadian yang berkaitan dengan pemerintah daerah, kewajiban diakui
ketika pemerintah daerah berkewajiban mengeluarkan sejumlah sumber daya
ekonomi sebagai akibat adanya interaksi pemerintah daerah dan
lingkungannya, misal ganti rugi atas kerusakan pada kepemilikan pribadi yang
disebabkan aktivitas pemerintah daerah.
4) Kejadian yang Diakui Pemerintah (government-acknowledge events)
Dalam kejadian yang diakui pemerintah daerah, kewajiban diakui ketika
pemerintah daerah memutuskan untuk merespon suatu kejadian yang tidak
ada kaitannya dengan kegiatan pemerintah yang kemudian menimbulkan
konsekuensi keuangan bagi pemerintah, misal pemerintah daerah memutuskan
untuk menanggulangi kerusakan akibat bencana alam di masa depan.

B. Pengukuran
Kewajiban pemerintah daerah dicatat sebesar nilai nominalnya. Apabila
kewajiban tersebut dalam bentuk mata uang asing, maka dijabarkan dan
dinyatakan dalam mata uang rupiah menggunakan kurs tengah bank sentral pada
tanggal necara. Penggunaan nilai nominal dalam pengukuran kewajiban ini
berbeda untuk masing-masing pos mengikuti karakteristiknya. Berikut ini akan
dijabarkan mengenai pengukuran untuk masing-masing pos kewajiban.
Pengukuran kewajiban atau utang jangka pendek pemerintah daerah berbeda-beda
berdasarkan jenis investasinya. Berikut ini akan dijabarkan bagaimana
pengukuran kewajiban untuk masing-masing jenis kewajiban jangka pendek.

8
1) Pengukuran Utang kepada Pihak Ketiga
Utang Kepada Pihak Ketiga terjadi ketika pemerintah daerah menerima hak
atas barang atau jasa, maka pada saat itu pemerintah daerah mengakui
kewajiban atas jumlah yang belum dibayarkan untuk memperoleh barang atau
jasa tersebut. Contoh: Bila kontraktor membangun fasilitas atau peralatan
sesuai dengan spesifikasi yang ada pada kontrak perjanjian dengan
pemerintah, jumlah yang dicatat harus berdasarkan realisasi fisik kemajuan
pekerjaan sesuai dengan berita acara kemajuan pekerjaan.
2) Pengukuran Utang Transfer
Utang transfer adalah kewajiban suatu entitas pelaporan untuk melakukan
pembayaran kepada entitas lain sebagai akibat ketentuan perundang-
undangan. Utang transfer diakui dan dinilai sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
3) Pengukuran Utang Bunga
Utang bunga dicatat sebesar nilai bunga yang telah terjadi dan belum dibayar
dan diakui pada setiap akhir periode pelaporan sebagai bagian dari kewajiban
yang berkaitan.
4) Pengukuran Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
Utang PFK dicatat sebesar saldo pungutan/potongan yang belum disetorkan
kepada pihak lain di akhir periode.
5) Pengukuran Bagian Lancar Utang Jangka Panjang
Bagian lancar utang jangka panjang dicatat sejumlah yang akan jatuh tempo
dalam waktu 12 bulan setelah tanggal pelaporan.
6) Pengukuran Kewajiban Lancar Lainnya
Pengukuran kewajiban lancar lainnya disesuaikan dengan karakteristik
masing-masing pos tersebut. Contoh: biaya yang masih harus dibayar pada
saat laporan keuangan disusun. Contoh lainnya adalah penerimaan
pembayaran di muka atas penyerahan barang atau jasa oleh pemerintah
kepada pihak lain.

9
Kewajiban atau utang jangka panjang pemerintah daerah juga diukur berdasarkan
karakteristiknya. Terdapat dua karakteristik utang jangka panjang pemerintah
daerah, yaitu:

1) Utang yang tidak diperjualbelikan


Utang yang tidak diperjualbelikan memiliki nilai nominal sebesar pokok utang
dan bunga sebagaimana yang tertera dalam kontrak perjanjian dan belum
diselesaikan pada tanggal pelaporan, misal pinjaman dari World Bank.
2) Utang yang diperjualbelikan
Utang yang diperjualbelikan pada umumnya berbentuk sekuritas utang
pemerintah. Sekuritas utang pemerintah dinilai sebesar nilai pari (original face
value) dengan memperhitungkan diskonto atau premium yang belum
diamortisasi. Jika sekuritas utang pemerintah dijual tanpa sebesar nilai pari,
maka dinilai sebesar nilai parinya.

Jika sekuritas utang pemerintah dijual dengan harga diskonto, maka nilainya akan
bertambah selama periode penjualan hingga jatuh tempo. Sementara itu, jika
sekuritas dijual dengan harga premium, maka nilainya akan berkurang selama
periode penjualan hingga jatuh tempo.

C. Penyajian
Kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang pemerintah daerah
disajikan dalam neraca disisi pasiva. Berikut adalah contoh penyajian kewajiban
jangka pendek dan kewajiban jangka panjang dalam Neraca Pemerintah Daerah.

10
D. Pengungkapan
Dalam pengungkapan pada Catatan atas Laporan Keuangan terkait dengan
kewajiban, harus diungkapkan pula hal-hal sebagai berikut:
1) Jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan jangka panjang yang
diklasifikasikan berdasarkan pemberi pinjaman.
2) Jumlah saldo kewajiban berupa utang pemerintah berdasarkan jenis sekuritas
utang pemerintah dan jatuh temponya.
3) Bunga pinjaman yang terutang pada periode berjalan dan tingkat bunga yang
berlaku.
4) Konsekuensi dilakukannya penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo.

11
5) Perjanjian restrukturisasi utang meliputi:
a. Pengurangan pinjaman.
b. Modifikasi persyaratan utang.
c. Pengurangan tingkat bunga pinjaman.
d. Pengunduran jatuh tempo pinjaman;
e. Pengurangan nilai jatuh tempo pinjaman; dan
f. Pengurangan jumlah bunga terutang sampai dengan periode pelaporan.
6) Jumlah tunggakan pinjaman yang disajikan dalam bentuk daftar umur utang
berdasarkan kreditur.
7) Biaya pinjaman:
a. Perlakuan biaya pinjaman.
b. Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi pada periode yang
bersangkutan, dan
c. Tingkat kapitalisasi yang dipergunakan.

2.1.4 Sistem Akuntansi Kewajiban di SKPD


Akuntansi kewajiban di SKPD terdiri atas penerimaan utang, pembayaran utang
khususnya utang jangka pendek.

1. Pihak-pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi kewajiban si SKPD terdiri atas: PPTK,
PPK-SKPD dan PPKD.
a) Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PPTK melaksanakan fungsi untuk pengadaan
barang/jasa kegiatan, dengan memiliki tugas sebagai berikut:
i. Melakukan pembelian/pengadaan barang/jasa berdasarkan kebutuhan kegiatan
dengan menggunakan nota pesanan/ dokumen lain yang dipersamakan.
ii. Menerima barang berdasarkan nota pesanan dengan dibuktikan dengan Berita
Acara Serah Terima Barang (BAST).
iii.Menyiapkan dokumen pembayaran.

12
b) Pejabat Penatausahaan Keuangan - SKPD
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PPK-SKPD melaksanakan fungsi akuntansi pada
SKPD dengan memiliki tugas sebagai berikut:
i. Mencatat transaksi/kejadian investasi lainnya berdasarkan bukti-bukti transaksi
yang sah ke Buku Jurnal Umum.
ii. Memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian investasi ke dalam Buku Besar
masing-masing rekening (rincian objek).
iii. Menyusun laporan keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran
(LRA), Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Neraca
dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
c) Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PPKD terlibat dalam hal pengadaan barang/jasa
oleh SKPD dilakukan dengan mekanisme pembayaran LS, sehingga fungsi akuntansi
PPKD memiliki tugas:
i. Menyampaikan dokumen transaksi yang dilakukan dengan mekanisme LS kepada
SKPD.
ii. Melakukan pengecekan terhadap transaksi konsolidasi antara PPKD dan SKPD
untuk meyakinkan kebenaran pencatatan yang dilakukan oleh fungsi akuntansi
SKPD.
d) Pengguna Anggaran (PA / KPA)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PA/KPA menandatangani laporan keuangan yang
telah disusun oleh Fungsi Akuntansi SKPD.

2. Dokumen yang Digunakan Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi kewajiban
antara lain:
a) Peraturan Kepala Daerah tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah.
b) Nota Pesanan.
c) Berita Acara Serah Terima.
d) Kuitansi.
e) Surat Perjanjian Kerja.
f) SP2D UP/GU/TU.

13
g) SP2D LS.
h) Surat Pernyataan PA tentang tanggungjawab PA terhadap laporan keuangan SKPD.

3. Jurnal Standar
Akuntansi kewajiban di SKPD terdiri atas pencatatan atas terjadinya utang dan
pembayaran utang.
Ketika SKPD melakukan suatu transaksi pembelian barang dan jasa yang telah
dilaksanakan dan pelunasan belum dilakukan, PPK-SKPD akan mengakui adanya utang.
Pencatatan atas pengadaan/pembelian barang/jasa dapat dilakukan dengan menggunakan
2 (dua) pendekatan, yaitu: (1) Pendekatan Beban dan (2) Pendekatan Aset.
2.1.1 Transaksi pengakuan terjadinya utang pada saat pengadaan/pembelian ATK yang
telah dilaksanakan dan pelunasan belum dilakukan.
1) Jika menggunakan pendekatan beban, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi
akuntansi SKPD adalah:

2) Jika menggunakan pendekatan aset, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi
akuntansi SKPD adalah:

2.1.2 Transaksi pembayaran utang pada saat dilakukan pembayaran/pelunasan dengan


asumsi menggunakan mekanisme UP/GU, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi
akuntansi SKPD adalah:

14
1) Jika menggunakan pendekatan aset, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi
akuntansi SKPD adalah:

Jika menggunakan pendekatan aset, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi
akuntansi SKPD adalah:

2.1.3 Transaksi pembayaran utang pada saat dilakukan pembayaran/pelunasan dengan


asumsi menggunakan mekanisme LS, maka jurnal yang dibuat oleh fungsi akuntansi
SKPD adalah:

15
Catatan : Pengakuan adanya utang terkait dengan transaksi pembelian/pengadaan
barang dan jasa harus mempertimbangkan ketersediaan anggaran/dana untuk
menyelesaikan/membayar utang.

16
2.1.5. Ilustrasi Sistem Akuntansi Kewajiban di SKPD

a) Pada tanggal 9 April 2015, SKPD N menerima ATK dari supplier senilai
Rp5.000.000,00 yang dibuktikan dengan Berita Acara Serah Terima Barang, tapi barang
tersebut belum dibayar. Pada tanggal 11 April 2015 SKPD N membayar ATK tersebut
kepada supplier dengan menggunakan mekanisme UP.
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS
(Permendagri Nomor 64 Tahun 2013)

17
b) Pada tanggal 19 April 2015, SKPD N membeli 5 unit personal komputer dari vendor
senilai Rp25.000.000,00. Pembayaran dilakukan dengan mekanisme LS barang setelah
SP2D keluar, yaitu pada tanggal 25 April 2015.

Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS


(Permendagri Nomor 64 Tahun 2013)

18
c) Pada tanggal 21 Maret 2015, SKPD N menerima 100 eksemplar barang cetakan dari
percetakan ABC senilai Rp10.000.000,00, tapi barang tersebut belum dibayar. Pada
tanggal 25 April 2015, SKPD N membayar belanja cetak tersebut kepada supplier
menggunakan uang UP/GU.

Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS


(Permendagri Nomor 64 Tahun 2013)

19
d) Pada tanggal 1 April 2015, SKPD N membeli 2 unit sepeda motor dari vendor senilai Rp
25.000.000. Pada tanggal 7 April 2015 dilakukan pembayaran dengan mekanisme LS
dengan menerbitkan SP2D-LS.

Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS


(Permendagri Nomor 64 Tahun 2013)

20
e) Pada tanggal 1 Juli 2015, SKPD N menerima Berita Acara Kemajuan Pekerjaan atas
kegiatan Pembangunan Gedung Kantor dengan bobot tingkat kemajuan 35%. Hasil
pemeriksaan fisik dinilai sebesar Rp350.000.000,00. Pada tanggal 3 Juli 2015 dilakukan
pembayaran dengan mekanisme LS dengan menerbitkan SP2D-LS.

Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS


(Permendagri Nomor 64 Tahun 2013)

f) Pada tanggal 15 Juli 2015, Bendahara Pengeluaran SKPD A melakukan pemotongan


pajak atas pembelian barang dan jasa (UP/GU/TU) senilai Rp4.000.000,00. Pada tanggal
16 Juli 2015, Bendahara Pengeluaran SKPD A melakukan penyetoran pajak atas
pembelian barang dan jasa (UP/GU/TU) senilai Rp4.000.000,00.

21
g) Pada tanggal 1 September 2015, SKPD N menerima pendapatan sewa lods pasar untuk 1
tahun sebesar Rp36.000.000,00.

Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS


(Permendagri Nomor 64 Tahun 2013)

h) Pada tanggal 31 Desember 2015, SKPD N melakukan penyesuaian atas pendapatan yang
diterima pada tanggal 1 september 2015.

22
2.1.6. Sistem Akuntansi Kewajiban di PPKD

Akuntansi kewajiban PPKD terdiri atas penerimaan utang, pembayaran utang, dan
reklasifikasi utang yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu : (1) Akuntansi kewajiban, dan (2)
akuntansi pembiayaan.

1. Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi kewajiban di PPKD terdiri atas : Fungsi
Akuntansi PPKD, BUD dan PPKD.
a. Fungsi Akuntansi - PPKD Dalam sistem akuntansi kewajiban, fungsi akuntansi pada
PPKD dengan memiliki tugas sebagai berikut:
i. Mencatat transaksi/kejadian investasi lainnya berdasarkan bukti-bukti transaksi
yang sah ke Buku Jurnal Umum.
ii. Memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian investasi ke dalam Buku Besar
masing-masing rekening (rincian objek).
iii.Menyusun laporan keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran
(LRA), Laporan Perubahan SAL (LP-SAL), Laporan Operasional (LO), Laporan
Perubahan Ekuitas (LPE), Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
b. Bendahara Umum Daerah (BUD)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, BUD melakukan fungsi mengadministrasi
penerimaan utang, pembahayaran utang dan reklasifikasi utang, sehingga BUD
memiliki tugas:
i. Menyiapkan dokumen transaksi penerimaan, pembayaran dan reklasifikasi utang.

23
ii. Menyiapkan bukti memorial untuk pencatatan akuntansi oleh Fungsi Akuntansi
PPKD yang sebelumnya disahkan oleh Kepala SKPKD.
c. Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD)
Dalam sistem akuntansi kewajiban, PPKD memiliki tugas menandatangani laporan
keuangan Pemerintah Daerah sebelum diserahkan kepada BPK.

2. Dokumen Yang Digunakan


Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi kewajiban PPKD antara lain
a) Peraturan Kepala Daerah tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah.
b) Surat Perjanjian Utang.
c) Nota Kredit.
d) SP2D LS.

3. Jurnal Standar

a) Penerimaan Utang Berdasarkan Perjanjian Kredit Jangka Panjang antara Pemda


XYZ dengan Bank ABC, Pemda XYZ menerima Nota Kredit yang
menunjukkan telah masuknya uang ke rekening kas daerah. Dari informasi tersebut,
fungsi Akuntansi PPKD mengakui adanya kewajiban jangka panjang dengan
mencatat jurnal.

24
b) Pembayaran Utang Berdasarkan SP2D LS PPKD untuk pembayaran kewajiban yang
telah jatuh tempo. Fungsi Akuntansi PPKD mencatat jurnal:

c) Reklasifikasi Utang Berdasarkan Dokumen Perjanjian Utang, Fungsi Akuntansi


PPKD menyiapkan bukti memorial terkait pengakuan bagian utang jangka panjang
yang harus dibayar tahun ini. Setelah diotorisasi oleh PPKD, bukti memorial tersebut
menjadi dasar bagi Fungsi Akuntansi PPKD untuk melakukan pengakuan
reklasifikasi dengan mencatat Kewajiban Jangka Panjang di debit dan Bagian
Lancar Utang Jangka Panjang di kredit dengan jurnal:

25
2.1.7. Ilustrasi Sistem Akuntansi Kewajiban di PPKD

a) Penerimaan Utang
Pada tanggal 3 Mei 2015, Pemerintah Kota Sentosa menerima pinjaman dari Bank ABC
senilai Rp300.000.000,00 dengan tingkat bunga 12% pertahun. Bunga dibayar tiap
tanggal 3 Mei dan 3 November. Jatuh tempo pinjaman pada 2 Mei 2020.
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri Nomor 64
Tahun 2013)

26
b) Pembayaran Bunga Kewajiban 1
Pada tanggal 5 November 2015, terbit SP2D LS untuk membayar bunga atas pinjaman
Pemerintah Kota Sentosa kepada Bank ABC sebesar Rp18.000.000,00.
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri Nomor 64
Tahun 2013)

c) Penyesuaian Beban Bunga Pinjaman


Pada tanggal 31 Desember 2015, dilakukan penyesuaian terhadap bunga pinjaman yang
belum dibayar pada tahun 2015 selama 2 bulan (november s/d desember 2015) sebesar
Rp6.000.000,00.

27
d) Pembayaran Bunga Kewajiban 2
Pada tanggal 3 Mei 2016, terbit SP2D LS untuk membayar bunga atas pinjaman
Pemerintah Kota Sentosa kepada Bank ABC sebesar Rp18.000.000,00.
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri Nomor 64
Tahun 2013)

e) Pembayaran Pokok Utang


Pada tanggal 2 Mei 2016, Pemerintah Kota Sentosa membayar pokok utang pinjamannya
kepada bank ABC yang telah jatuh tempo sebesar Rp60.000.000,00. Untuk pembayaran
kewajiban jangka panjang ini, diterbitkan SP2D LS.
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri Nomor 64
Tahun 2013)

28
f) Reklasifikasi Utang
Pada tanggal 31 Desember 2015, Pemerintah Kota Sentosa melakukan reklasifikasi
bagian lancar hutang jangka panjang kepada Bank ABC atas hutang yang akan jatuh
tempo senilai Rp60.000.000,00.

g) Utang PFK (Perhitungan Fihak Ketiga) - Pemotongan Pajak


Pada tanggal 30 November 2015, Bendahara PPKD melakukan pemotongan pajak atas
pembayaran gaji bulan Desember senilai Rp6.000.000,00. Pada tanggal 1 Desember
2015, Bendahara PPKD melakukan penyetoran pajak atas pembayaran gaji bulan
Desember senilai Rp6.000.000,00.

29
2.2. Pembiayaan Penerimaan

2.2.1 Definisi
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 PSAP Nomor 02 Paragraf
50 mendefinisikan pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah,
baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang
dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau
memanfaatkan surplus anggaran.

Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman, dan hasil divestasi.
Sementara, pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok
pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.

30
2.2.2 Klasifikasi
Pembiayaan diklasifikasi kedalam 2 (dua) bagian, yaitu penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan. Pos-pos pembiayaan menurut PSAP Berbasis Akrual Nomor 02,
dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Penerimaan Pembiayaan
Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Daerah antara
lain berasal dari penerimaan pinjaman, penjualan obligasi pemerintah, hasil privatisasi
perusahaan daerah, penerimaan kembali pinjaman yang diberikan kepada fihak ketiga,
penjualan investasi permanen lainnya, dan pencairan dana cadangan.

2) Pengeluaran Pembiayaan
Pengeluaran pembiayaan adalah semua pengeluaran Rekening Kas Umum
Negara/Daerah antara lain pemberian pinjaman kepada pihak ketiga, penyertaan modal
pemerintah, pembayaran kembali pokok pinjaman dalam periode tahun anggaran tertentu,
dan pembentukan dana cadangan.

2.2.3 Pengakuan, Pengukuran, Penyajian di Laporan Keuangan, dan Pengungkapan


A. Pengakuan
Penerimaan pembiayaan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum
Negara/Daerah.

B. Pengukuran
Pengukuran pembiayaan menggunakan mata uang rupiah berdasarkan nilai
sekarang kas yang diterima atau yang akan diterima oleh nilai sekarang kas yang
dikeluarkan atau yang akan dikeluarkan.
Pembiayaan yang diukur dengan mata uang asing dikonversi ke mata uang rupiah
berdasarkan nilai tukar (kurs tengan Bank Indonesia) pada tanggal transaksi
pembiayaan.
C. Penyajian di Laporan Keuangan

31
Penerimaan pembiayaan pemerintah daerah disajikan dalam laporan realisasi
anggaran. Berikut adalah contoh penyajian penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Daerah.

D. Pengungkapan
Dalam pengungkapan pada Catatan atas Laporan Keuangan terkait dengan
pembiayaan, harus diungkapkan pula hal-hal sebagai berikut:
1) Penerimaan dan pengeluaran pembiayaan tahun berkenaan setelah tanggal
berakhirnya tahun anggaran.
2) Penjelasan landasan hukum berkenaan dengan penerimaan/pemberian
pinjaman, pembentukan/pencairan dana cadangan, penjualan aset daerah yang
dipisahkan, penyertaan modal Pemerintah Daerah.
3) Informasi lainnya yang diangggap perlu.

2.2.4 Sistem Akuntansi Pembiayaan


A. Pihak-pihak terkait
Pihak-pihak yang terkait dengan sistem akuntansi pembiayaan antara lain Fungsi
Akuntansi PPKD dan PPKD.

32
1. Fungsi Akuntansi - PPKD
Dalam sistem akuntansi pembiayaan, fungsi akuntansi pada PPKD memiliki
tugas sebagai berikut:
a) Mencatat transaksi/kejadian investasi lainnya berdasarkan bukti-bukti
transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum.
b) Memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian investasi ke dalam Buku
Besar masing-masing rekening (rincian objek).
c) Menyusun laporan keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran (LRA), Laporan Perubahan SAL (LP-SAL), Laporan
Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Laporan Arus Kas,
Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

2. BUD
Dalam sistem akuntansi pembiayaan, BUD melakukan fungsi
mengadministrasi transaksi penerimaan pembiayaan dan pengeluaran
pembiayaan, sehingga BUD memiliki tugas menyiapkan dokumen transaksi
untuk pencatatan akuntansi oleh Fungsi Akuntansi PPKD yang sebelumnya
disahkan oleh Kepala SKPKD.

3. PPKD
Dalam sistem akuntansi pembiayaan, PPKD memiliki tugas menandatangani
laporan keuangan Pemerintah Daerah sebelum diserahkan kepada BPK.
B. Dokumen yang Digunakan
Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi kewajiban antara lain:
1. Peraturan Daerah terkait transaksi pembiayaan;
2. Naskah Perjanjian Kredit;
3. SP2D LS sebagai dokumen pencairan dari rekening kas umum daerah;
4. Nota Kredit;
5. Dokumen lainnya.

C. Jurnal Standar

33
Pada dasarnya transaksi pembiayaan dilaksanakan oleh PPKD. Berikut adalah
jurnal standar pengakuan penerimaan pembiayaan maupun pengeluaran
pembiayaan yang bersumber dari transaksi kewajiban, sebagai berikut:

2.2.5 Ilustrasi Akuntansi Pembiayaan Penerimaan


A. Penerimaan Pinjaman
Berdasarkan Perjanjian Kredit Jangka Panjang untuk jangka waktu 5 tahun antara
Pemerintah Daerah XYZ dengan Bank ABC, Pemerintah Daerah XYZ
menerima Nota Kredit yang menunjukkan telah masuknya uang ke rekening kas
daerah sebesar Rp500.000.000,00. Dari informasi tersebut, fungsi Akuntansi
PPKD mengakui adanya kewajiban jangka panjang dengan mencatat jurnal:
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri
Nomor 64 Tahun 2013)

34
B. Penerbitan Obligasi

Berdasarkan Perda tentang Obligasi Daerah, Pemerintah Daerah ABC


menerbitkan surat utang obligasi untuk 5 tahun mulai berlaku 1 Maret 2015 dan
berakhir 28 Februari 2020 sebanyak 1000 lembar @ Rp500.000,00 dengan suku
bunga 12%/tahun dibayar setiap 6 bulan per 1 Maret dan 1 September. Dari
informasi tersebut, fungsi Akuntansi PPKD mengakui adanya kewajiban jangka
panjang dengan mencatat jurnal:
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri
Nomor 64 Tahun 2013)

35
C. Penerimaan Kembali Pinjaman

Pemerintah Daerah menerima kembali pinjaman yang telah diberikan kepada


Perusda ABC sebesar Rp250.000.000,00. Dari informasi tersebut, fungsi
Akuntansi PPKD mengakui adanya pengurangan piutang dengan mencatat jurnal:
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri
Nomor 64 Tahun 2013)

36
D. Pencairan Dana Cadangan
Berdasarkan ilustrasi pada pembentukan dana cadangan, pada tahun ke-5
dilakukan pencairan dana cadangan dengan menerbitkan surat perintah
pemindahbukuan dari rekening Dana Cadangan ke rekening Kas Umum Daerah.
Dari informasi tersebut, fungsi Akuntansi PPKD mengakui penerimaan Kas di
Kas Umum Daerah dengan mencatat jurnal:
Asumsi pelaksanaan anggaran mengikuti kode rekening BAS (Permendagri
Nomor 64 Tahun 2013)

37
DAFTAR PUSTAKA

Afiah, Nunuy Nur. 2008. Implementasi Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah. Bandung :
Kencana Prenada Media Group

Halim, Abdul dan Kusufi, Muhammad Syam. 2011. Akuntansi Keuangan Daerah Edisi 4.
Yogyakarta : Salemba Empat

http://keuda.kemendagri.go.id/asset/dataupload/paparan/modul-penerapan-akuntansi-berbasis-
akrual/modul3/04.SAPD-Pembiayaan.pdf . Diakses Pada 31 Oktober 2017

http://keuda.kemendagri.go.id/asset/dataupload/paparan/modul-penerapan-akuntansi-berbasis-
akrual/modul3/13.SAPD-Kewajiban.pdf Diakses Pada 31 Oktober 2017

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomer 64 Tahun 2013

Peraturan Pemerintan Nomer 71 Tahun 2010

xxxviii