Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2010 tentang Standar


Akuntansi Pemerintahan, yang berbasis akrual, mengatur bahwa pendapatan
diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut atau ada aliran
masuk sumber daya ekonomi dan beban diakui pada saat timbulnya
kewajiban, terjadinya konsumsi aset atau terjadinya penurunan manfaat
ekonomi atau potensi jasa sedangkan belanja diakui berdasarkan terjadinya
pengeluaran dari rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas
pelaporan. Pengalaman implementasi SAP selama ini, khususnya pada saat
penutupan buku pada akhir tahun, menunjukkan masih terdapat berbagai
macam penafsiran dalam mengindentifikasi, mengukur, menyajikan dan
mengungkapkan pos-pos dalam laporan keuangan. Hal tersebut disebabkan
PSAP hanya menetapkan secara umum mengenai identifikasi, pengukuran,
penyajian dan pengungkapan pos-pos laporan keuangan, sehingga masih
memerlukan penjelasan atas pos-pos di neraca sesuai dengan
karakteristiknya

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pengakuan Pendapatan dan Piutang Berbasis Akrual.


2. Bagaimana Pengakuan Pendapatan dan Piutang Berbasis Kas Menuju
Akrual.

1.3 Tujuan dan Manfaat

1. Untuk Mengetahui Pengakuan Pendapatan dan Piutang Berbasis


Akrual.
2. Untuk Mengetahui Pengakuan Pendapatan dan Piutang Berbasis Kas
Menuju Akrual

2
BAB II

ISI

2.1 Pengertian Basis Akrual


Basis Akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi
dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa
memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Basis akuntansi
yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah daerah yaitu basis
akrual. Namun, dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan berdasar basis
kas, maka LRA disusun berdasarkan basis kas ( Permendagri No. 64 Tahun
2013, Lampiran I).

2.2 Pengertian Kas Menuju Akrual


Basis Kas Menuju Akrual adalah basis akuntansi yang mengakui
pendapatan, belanja dan pembiayaan berbasis kas serta mengakui aset, utang
dan ekuitas dana berbasis akrual.

2.3 Perbedaan Isi Pokok SAP Berbasis Akrual Dengan SAP Berbasis Kas
Menuju Akrual
Pasal 12 dan Pasal 13 UU Nomor 1 Tahun 2004, sebagaimana diacu dalam
Pasal 70 ayat (2), mengatur bahwa pengakuan pendapatan dan belanja pada
APBN/APBD menggunakan basis akrual. Di lain pihak, praktik
penganggaran dan pelaporan pelaksanaannya pada sebagian terbesar negara,
termasuk Indonesia, menggunakan basis kas. Untuk itu KSAP menyusun
SAP Berbasis Akrual yang mencakup PSAP berbasis kas untuk pelaporan
pelaksanaan anggaran (budgetary reports), sebagaimana dicantumkan pada
PSAP 2, dan PSAP berbasis akrual untuk pelaporan finansial, yang pada
PSAP 12 memfasilitasi pencatatan pendapatan dan beban dengan basis
akrual.

3
Laporan pelaksanaan anggaran yang berbasis kas terdiri dari Laporan
Realisasi Anggaran dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Bagi
Entitas Pelaporan di Pemerintah Pusat). Laporan finansial yang berbasis
akrual terdiri dari Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, dan
Laporan Perubahan Ekuitas.
Perbedaan mendasar SAP Berbasis Kas Menuju Akrual dengan SAP
Berbasis Akrual terletak pada PSAP 12 mengenai Laporan Operasional.
Entitas melaporkan secara transparan besarnya sumber daya ekonomi yang
didapatkan, dan besarnya beban yang ditanggung untuk menjalankan
kegiatan pemerintahan. Surplus/defisit operasional merupakan penambah
atau pengurang ekuitas/kekayaan bersih entitas pemerintahan
bersangkutan.

2.4 PPKD dan SKPD


1. PPKD adalah singkatan dari Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasya kepada kepala daerah
melalui sekretaris daerah. PPKD mempunyai tugas sebagai berikut :
Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah.
Menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD.
Melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan
dengan peraturan daerah.
Melaksanakan fungsi bendahara umum Daerah (BUD).
Menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD.
Melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh
kepala daerah.
PPKD selaku BUD berwenang:
Menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD.
Mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD.

4
Melakukan pengendalian pelaksanaan APBD.
Memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan
pengeluaran kas daerah.
Melaksanakan pemungutan pajak daerah.
Menetapkan SPD.
Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama
pemerintah daerah.
Melaksanakan inormasi keuangan daerah.
Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan
barang milik daerah.

PPKD dapat melimpahkan kepada pejabat lainnya dilingkungan SKPKD


untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut:
Menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD.
Melakukan pengendalian pelaksanaan APBD.
Melaksanakan pemungutan pajak daerah.
Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama
pemerintah daerah.
Melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah.
Menyajikan informasi keuangan daerah.
Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengellaan serta penghapusan
barang milik daerah.
2. SKPD adalah singkatan dari Satuan Kerja Perangkat daerah yang mana
Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang bertanggungjawab atas
pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah.
Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang
mempunyai tugas dan wewenang:
Menyusun RKA-SKPD.
Menyusun DPA-SKPD.

5
Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban
anggaran belanja.
Melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya.
Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran.
Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran.
Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
Mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas
anggaran yang telah ditetapkan.
Menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM).
Mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung
jawab SKPD yang dipimpinnya
Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang
dipimpinnya.
Mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya.
Melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya
berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.

2.5 Struktur Akuntansi Pemda


Struktur akuntansi di pemerintah daerah menggunakan konsep transaksi
Kantor Pusat-Kantor Cabang. Di pemda yang bertindak sebagai Kantor Pusat
adalah PPKD dan yang bertindak sebagai Kantor Cabang adalah SKPD.
Pelaksanaan akuntansi dan pelaporan keuangan dilakukan di tingkat SKPD
sebagai entitas akuntansi dan Pemda sebagai entitas pelaporan. Sebagai
konsekuensi dari struktur akuntansi tersebut diperlukan control pencatatan
antara PPKD dan SKPD melalui mekanisme akun resiprokal, yaitu akun
Rekening Koran-PPKD yang ada di SKPD dan akun Rekening Koran SKPD
yang ada di PPKD.
Akuntansi Rekening Koran-PPKD merupakan akuntansi ekuitas dana di
tingkat SKPD. Akun Rekening Koran-PPKD setara dengan akun Ekuitas
Dana, tetapi penggunaannya khusus SKPD. Hal ini dikarenakan SKPD

6
merupakan cabang dari Pemda, sehingga sebenernya SKPD tidak memiliki
ekuitas dana sendiri, melainkan hanya menerima ekuitas dana dari Pemda,
melalui mekanisme transfer.
2.6 Pendapatan
2.6.1 Pengkalsifikasian Pendapatan
Pendapatan diklasifikasi berdasarkan sumbernya, secara garis besar
ada tiga kelompok pendapatan daerah yaitu:
Pendapatan Asli Daerah (PAD),
Pendapatan Transfer/Pendapatan Dana Perimbangan,
Lain-lain pendapatan daerah yang sah

Permendagri 64/2013, Bagan Akun Standar KODE AKUN 4 dan


KODE AKUN 8, Pendapatan diklasifikasikan sebagai berikut:

2.6.2 Pengakuan Pendapatan


Dengan memperhatikan sumber, sifat dan prosedur penerimaan
pendapatan maka pengakuan pendapatan dapat diklasifkasikan
kedalam beberapa alternatif:

7
Pengakuan pendapatan ketika pendapatan didahului dengan adanya
penetapan terlebih dahulu
Pengakuan pendapatan yang didahului dengan penghitungan
sendiri oleh wajib pajak (self assessment) dan dilanjutkan dengan
pembayaran oleh wajib pajak berdasarkan perhitungan tersebut
Pengakuan pendapatan yang yang pembayarannya dilakukan di
muka oleh wajib pajak untuk memenuhi kewajiban selama
beberapa periode ke depan.
Pengakuan pendapatan yang didahului dengan penghitungan
sendiri oleh wajib pajak (self assessment) dan pembayarannya
diterima di muka untuk memenuhi kewajiban selama beberapa
periode ke depan
Pengakuan pendapatan yang tidak perlu ada penetapan terlebih
dahulu

Dalam Akuntansi Pemerintahan, terdapat dua pengakuan pendapatan yaitu :


1. Pendapatan-LO adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan
tidak perlu dibayar kembali.
Pendapatan-LO adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan
tidak perlu dibayar kembali. Pendapatan-LO merupakan pendapatan yang
menjadi tanggung jawab dan wewenang entitas pemerintah, baik yang
dihasilkan oleh transaksi operasional, non operasional dan pos luar biasa
yang meningkatkan ekuitas entitas pemerintah. Pendapatan-LO
dikelompokkan dari dua sumber, yaitu transaksi pertukaran (exchange
transactions) dan transaksi non-pertukaran (non-exchange transactions).
Pendapatan dari Transaksi Pertukaran adalah manfaat ekonomi yang
diterima dari berbagai transaksi pertukaran seperti penjualan barang atau
jasa layanan tertentu, dan barter. Pendapatan dari transaksi non-
pertukaran adalah manfaat ekonomi yang diterima pemerintah tanpa

8
kewajiban pemerintah menyampaikan prestasi balik atau imbalan balik
kepada pemberi manfaat ekonomi termasuk (namun tidak terbatas pada)
pendapatan pajak, rampasan, hibah, sumbangan, donasi dari entitas di
luar entitas akuntansi dan entitas pelaporan, dan hasil alam.

a. Pengakuan Pendapatan LO
PP 71/2010 PSAP 12, Pendapatan-LO diakui pada saat:

Timbulnya hak atas pendapatan, kriteria ini dikenal juga dengan


earned atau,
Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya
ekonomi baik sudah diterima pembayaran secara tunai (realized).

b. Pengukuran Pendapatan LO
Pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan pendapatan bruto, dan tidak mencatat jumlah
netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).
Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LO bruto
(biaya) bersifat variabel terhadap pendapatan dimaksud dan tidak
dapat di estimasi terlebih dahulu dikarenakan proses belum selesai,
maka asas bruto dapat dikecualikan.
2. Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum
Negara/Daerah yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode
tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan
tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah
Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum
Daerah yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun
anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah daerah dan
tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah daerah.

a. Pendapatan LRA diakui pada saat:


Diterima di Rekening Kas Umum Daerah; atau

9
Diterima oleh SKPD; atau
Diterima entitas lain diluar pemerintah daerah atas nama BUD.
b. Pengukuran Pendapatan-LRA:
Akuntansi Pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas
bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak
mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan
pengeluaran).
Pendapatan-LRA diukur dengan menggunakan nilai nominal
kas yang masuk ke kas daerah dari sumber pendapatan dengan
menggunakan asas bruto, yaitu pendapatan dicatat tanpa
dikurangkan/dikompensasikan dengan belanja yang
dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut
Dalam hal besaran pengurang terhadap Pendapatan-LRA bruto
(biaya) bersifat variabel terhadap pendapatan dimaksud dan
tidak dapat dianggarkan terlebih dahulu dikarenakan proses
belum selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan.
Pengecualian azas bruto dapat terjadi jika penerimaan kas dari
pendapatan tersebut lebih mencerminkan aktivitas pihak lain
dari pada pemerintah daerah atau penerimaan kas tersebut
berasal dari transaksi yang perputarannya cepat, volume
transaksi banyak dan jangka waktunya singkat.

c. Penyajian:
Pendapatan-LRA disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran dan
Laporan Arus Kas. Pendapatan LRA disajikan dalam mata uang
rupiah. Apabila penerimaan kas atas pendapatan LRA dalam mata
uang asing, maka penerimaan tersebut dijabarkan dan dinyatakan
dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata uang asing tersebut
menggunakan kurs pada tanggal transaksi.

2.6.3 Akuntansi Pendapatan

10
Akuntansi Pendapatan terdiri atas 2 bagian :
2.4.3.1 Akuntansi Pendapatan di SKPD
Akuntansi Pendapatan di SKPD
Pajak Daerah
Retribusi Daerah
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Lain-lain PAD yang Sah

Jurnal Standar di SKPD :

A. Prosedur Pajak Daerah


a) Pencatatan Pajak 1
Pengakuan pendapatan pajak ketika didahului dengan adanya
penetapan terlebih dahulu (official assesment).
Ilustrasi:
Tanggal 13 Februari 2015, Dinas Pendapatan mengeluarkan Surat
Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) sebagai ketetapan atas
PBB tahun 2015 sebesar Rp.2.500.000,-.

11
Pencatatan - Saat Diterima Pembayaran
Ilustrasi :
Tanggal 13 Juli 2015, wajib pajak melakukan pembayaran atas
PBB

Pencatatan Penyetoran Pendapatan Kas Daerah


Ilustrasi :
Tanggal 14 Juli 2015, Bendahara penerimaan menyetorkan
pendapatan PBB yang diterima ke Kas daerah

12
Pencatatan Jika WP Langsung menyetor ke Kas Daerah
Ilustrasi :
Tanggal 14 Juli 2015, wajib pajak melakukan pembayaran
langsung ke Rekening Kas Daerah

b) Pencatatan Pajak 2
Pengakuan pendapatan yang didahului dengan penghitungan
sendiri oleh wajib pajak (self assessment) dan dilanjutkan dengan
pembayaran oleh wajib pajak berdasarkan perhitungan tersebut.
Ilustrasi:
Tanggal 5 Mei 2015, Dinas Pendapatan menerima pembayaran
pajak hotel bulan April dari hotel Mekar sebesar Rp.7.500.000,-
Berdasarkan hal tersebut dicatat pengakuan pendapatan LO dan
pendapatan LRA dengan jurnal:

13
Pencatatan Jika WP Langsung menyetor ke Kas Daerah
Ilustrasi :
Tanggal 06 Mei 2015, Bendahara penerimaan menyetorkan
pendapatan Pajak Hotel yang diterima ke Kas daerah

14
Pencatatan Pajak Kurang Bayar
Ilustrasi :
Tanggal 10 Mei 2015, dilakukan pemeriksaan atas pajak hotel
yang dibayarkan oleh Hotel Mekar dan ditemukan adanya
pajak kurang bayar sebesar Rp.1.700.000,-.

Pencatatan Pajak Lebih Bayar


Ilustrasi :
Tanggal 10 Mei 2015, dilakukan pemeriksaan atas pajak hotel
yang dibayarkan oleh Hotel Mekar dan ditemukan adanya pajak
lebih bayar sebesar Rp.1.700.000,-.

c) Prosedur Pencatatan Pajak 3

15
Pengakuan pendapatan pajak yang pembayarannya dilakukan di
muka oleh wajib pajak untuk memenuhi kewajiban selama
beberapa periode ke depan
Ilustrasi:

Tanggal 01 September 2015, Dinas Pendapatan menerima


pembayaran pajak reklame yang dibayarkan untuk masa satu
tahun kedepan sebesar Rp.36.000.000,-.

Pencatatan - Penyetoran Pendapatan ke Kas Daerah


Ilustrasi :
Tanggal 02 September 2015, Bendahara penerimaan menyetorkan
pendapatan Pajak Reklame yang diterima ke Kas daerah

Pencatatan - Penyesuaian Pendapatan Diterima Dimuka


Ilustrasi :

16
Tanggal 31 Desember 2015, dilakukan penyesuaian atas
pendapatan diterima dimuka untuk melakukan pengakuan
pendapatan-LO dari pajak reklame untuk tahun 2015 dengan
menerbitkan bukti memorial. Berdasarkan perhitungan, jumlah
pendapatan reklame adalah sebesar Rp.12.000.000,- (1/09/15 s/d
31/12/15 atau 4 bulan)

d) Prosedur Pencatatan Pajak 4


Pengakuan pendapatan pajak yang didahului dengan penghitungan
sendiri oleh wajib pajak (self assessment) dan pembayarannya
diterima di muka untuk memenuhi kewajiban selama beberapa
periode ke depan
Ilustrasi:
Tanggal 01 September 2015, Dinas Pendapatan menerima
pembayaran pajak reklame dari PT ABC yang dibayarkan untuk
masa satu tahun kedepan sebesar Rp.36.000.000,-. Berdasarkan
hal tersebut dicatat pendapatan diterima dimuka dan pendapatan
LRA dengan jurnal:

17
Pencatatan - Penyetoran Pendapatan ke Kas Daerah
Ilustrasi :
Tanggal 02 September 2015, Bendahara penerimaan menyetorkan
pendapatan Pajak Reklame yang diterima ke Kas daerah.

e) sdmflk
*catatan : RK adalah rekening koran

Pencatatan - Penyesuaian Pendapatan Diterima Dimuka dan Pajak


Kurang Bayar
Ilustrasi :
Tanggal 31 Desember 2015, Dinas Pendapatan melakukan
perhitungan untuk pengakuan pendapatan-LO atas pajak reklame
sebesar Rp.12.000.000,-. Selain hal tersebut, Dinas Pendapatan

18
juga melakukan pemeriksaan atas pajak reklame yang dibayarkan
dari PT ABC. Hasil pemeriksaan ditemukan adanya pajak
kurang bayar pajak reklame sebesar Rp.1.200.000,-.

Pencatatan - Penyesuaian Pendapatan Diterima Dimuka dan Pajak


Lebih Bayar
Ilustrasi :
Tanggal 31 Desember 2015, Dinas Pendapatan melakukan
perhitungan untuk pengakuan pendapatan-LO atas pajak reklame
sebesar Rp.12.000.000,-. Selain hal tersebut, Dinas Pendapatan
juga melakukan pemeriksaan atas pajak reklame yang dibayarkan
dari PT ABC. Hasil pemeriksaan ditemukan adanya pajak lebih
bayar pajak reklame sebesar Rp.1.200.000,-.

B. Prosedur Retribusi Daerah


a) Prosedur Pencatatan Retribusi 1
Pengakuan pendapatan ketika pendapatan didahului dengan
adanya penetapan terlebih dahulu (official assesment).
Ilustrasi:

19
Tanggal 01 Mei 2015, Dinas Pendapatan mengeluarkan Surat
Ketetapan Retribusi Daerah atas Pemakaian Kekayaan Daerah dan
belum diterima pembayarannya dari wajib retribusi sebesar
Rp.48.000.000,-.

Pencatatan - Saat Diterima Pembayaran


Ilustrasi :
Tanggal 15 Mei 2015, wajib retribusi melakukan pembayaran

Pencatatan - Penyetoran Pendapatan ke Kas Daerah


Ilustrasi :
Tanggal 16 Mei 2015, Bendahara penerimaan menyetorkan
pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah yang diterima
ke Kas daerah

20
*catatan : RK adalah rekening koran

b) Prosedur Pencatatan Retribusi 2


Pengakuan pendapatan yang tidak perlu ada penetapan terlebih
dahulu

Ilustrasi:
Tanggal 16 Juli 2015, Dinas Perhubungan menerima pembayaran
retribusi Izin trayek sebesar Rp.5.600.000,-. Berdasarkan hal
tersebut dicatat pendapatan LO dan pendapatan LRA dengan
jurnal:

Pencatatan - Penyetoran Pendapatan ke Kas Daerah


Ilustrasi :
Tanggal 17 Juli 2015, Bendahara penerimaan menyetorkan
pendapatan Retribusi Izin Trayek yang diterima ke Kas daerah

21
2.4.3.2 Akuntansi Pendapatan di PPKD
Pajak Daerah
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Lain-lain PAD yang Sah
Pendapatan Transfer/Pendapatan Dana Perimbangan
Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

A. Prosedur Pencatatan PAD


a) Pajak Daerah
Ilustrasi:
Tanggal 1 Februari 2015, PPKD menerbitkan SKP Daerah atas
Pajak Hotel Mawar untuk bulan januari sebesar
Rp.12.000.000,- maka fungsi akuntansi akan mencatat dengan
jurnal:

22
Pencatatan - Saat Diterima Pembayaran
Ilustrasi :
Tanggal 10 Februari 2015, Berdasarkan Ketetapan Pajak, WP
melakukan pembayaran

b) Hasil Eksekusi Jaminan


Ilustrasi:
Tanggal 17 Maret, PPKD menerima uang jaminan dari pihak
ketiga bersamaan dengan pembayaran perizinan untuk
pemasangan iklan sebesar Rp.5.000.000,-.

Pencatatan saat Eksekusi Jaminan


Ilustrasi:
Tanggal 17 Maret, PPKD menerima uang jaminan dari pihak
ketiga bersamaan dengan pembayaran perizinan untuk
pemasangan iklan sebesar Rp.5.000.000,-.

23
c) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Ilustrasi:
Tanggal 05 Januari 2015, PPKD menerima hasil Rapat
UmumPemegang Saham (RUPS) tentang pembagian deviden
untuk Pemerintah Daerah sebesar Rp.250.000.000,-.

Pencatatan saat Penerimaan Dividen


Ilustrasi :
Tanggal 31 Januari 2015, PPKD menerima nota kredit dari
bank untuk pembayaran deviden pemerintah daerah

24
d) Tuntutan Gantian Kerugian
Ilustrasi:
Tanggal 27 Desember 2015, telah dilakukan sidang terkait
dengan adanya kerugian daerah. Berdasarkan hasil sidang
tersebut, diterbitkan SK pembebanan/SKP2K/SKTJM untuk
ganti kerugian daerah sebesar Rp.24.000.000,- yang akan
dibayar setiap bulan selama 12 bulan setiap tanggal 27.

Pencatatan Saat Penerimaan Angsuran TGR


Ilustrasi :

25
Tanggal 27 Januari 2016, Bendahara PPKD menerima nota
kredit bank sebesar Rp.2.000.000,- untuk angsuran kerugian
dari PNS atas tuntutan ganti kerugian daerah

B. Prosedur Pencatatan Pendapatan Transfer


a) Dana Transfer DAU
Ilustrasi:
Tanggal 2 Januari 2015 PPKD menerima PMK/Dokumen yang
dipersamakan atas penerimaan dana transfer/DAU untuk Tahun
2015 dari Pemerintah Pusat sebesar Rp.978.000.000.000,-.

26
Pencatatan Saat Penerimaan Pencairan DAU
Ilustrasi :
Tanggal 02 Januari 2015, PPKD menerima
pemindahbukuan/nota kredit dari Bank atas pencairan dana
transfer berupa DAU dari Pemerintah Pusat sebesar
Rp.81.500.000.000,-.

b) Dana Bagi Hasil Pajak


Ilustrasi:
Tanggal 01 Maret 2015, PPKD pemda ABC menerima Surat
Keputusan Kepala Daerah/Dokumen yang dipersamakan untuk
Dana Bagi hasil Pajak Provinsi untuk tahun 2015 sebesar
Rp.240.000.000,- yang akan dibayarkan tiap triwulan

27
Pencatatan - Saat Penerimaan Pencairan Dana Bagi Hasil
Pajak
Ilustrasi :
Tanggal 01 Juni 2015, PPKD menerima pemindahbukuan/
nota kredit dari Bank atas pencairan Dana Bagi Hasil Pajak
dari Pemerintah Provinsi untuk triwulan I (Januari s/d Maret
2015) sebesar Rp.60.000.000,-.

C. Prosedur Pendapatan Lain-lain yang Sah


a) Pendapatan Hibah

Ilustrasi:

Tanggal 1 Maret 2015, PPKD menerima Naskah Perjanjian Hibah


Daerah dari Pemerintah yang sudah ditandatangani sebesar
Rp.250.000.000,-. Berdasarkan Naskah Perjanjian Hibah Daerah

28
yang sudah ditandatangani tersebut, Fungsi Akuntansi PPKD
kemudian akan mencatat jurnal:

Pencatatan Saat Penerimaan Dana Hibah


Ilustrasi :
Tanggal 01 April 2015, PPKD menerima nota kredit bank atas
Hibah

29
30
31
2.7 Piutang Berbasis Akrual
2.7.1 Definisi Piutang

Piutang salah satu aset yang cukup penting bagi pemerintah


daerah, baik dari sudut pandang potensi kemanfaatannya maupun dari
sudut pandang akuntabilitasnya. Semua standar akuntansi menempatkan
piutang sebagai aset yang penting dan memiliki karakteristik tersendiri
baik dalam pengakuan, pengukuran maupun pengungkapannya.

Buletin Teknis SAP Nomor 02 tahun 2005menyatakan piutang


adalah hak pemerintah untuk menerima pembayaran dari entitas lain
termasuk wajib pajak/bayar atas kegiatan yang dilaksanakan oleh
pemerintah. Hal ini senada dengan berbagai teori yang mengungkapkan
bahwa piutang adalah manfaat masa depan yang diakui pada saat ini.

Penyisihan piutang tak tertagih adalah taksiran nilai piutang


yang kemungkinan tidak dapat diterima pembayarannya dimasa akan
datang dari seseorang dan/atau korporasi dan/atau entitas lain.Nilai
penyisihan piutang tak tertagih tidak bersifat akumulatif tetapi
diterapkan setiap akhir periode anggaran sesuai perkembangan kualitas
piutang.

Penilaian kualitas piutang untuk penyisihan piutang tak


tertagih dihitung berdasarkan kualitas umur piutang, jenis/karakteristik
piutang, dan diterapkan dengan melakukan modifikasi tertentu
tergantung kondisi dari debitornya. Mekanisme perhitungan dan
penyisihan saldo piutang yang mungkin tidak dapat ditagih, merupakan
upaya untuk menilai kualitas piutang.

32
2.7.2 Klasifikasi
Piutang dilihat dari sisi peristiwa yang menyebabkan
timbulnya piutang dibagi atas :
a. Pungutan
Piutang yang timbul dari peristiwa pungutan, terdiri atas:
i. Piutang Pajak Daerah Pemerintah Provinsi.
ii. Piutang Pajak Daerah Pemerintah Kabupaten/Kota.
iii. Piutang Retribusi.
iv. Piutang Pendapatan Asli Daerah Lainnya.
b. Perikatan
Piutang yang timbul dari peristiwa perikatan, terdiri atas:
i. Pemberian Pinjaman
ii. Penjualan
iii. Kemitraan
iv. Pemberian fasilitas
c. Transfer antar Pemerintahan
Piutang Transfer Antar Pemerintah Lainnya atau disebut juga
dengan (Piutang Kelebihan Transfer DAU, DAK, DBH).
i. Piutang Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak dan Sumber Daya Alam
dihitung berdasarkan realisasi penerimaan pajak dan
penerimaan hasil sumber daya alam yang menjadi hak daerah
yang belum ditransfer. Nilai definitif jumlah yang menjadi hak
daerah pada umumnya ditetapkan menjelang berakhirnya suatu
tahun anggaran. Apabila alokasi definitif menurut Surat
Keputusan Menteri Keuangan telah ditetapkan, tetapi masih
ada hak daerah yang belum dibayarkan sampai dengan akhir
tahun anggaran, maka jumlah tersebut dicatat sebagai piutang
DBH oleh pemerintah daerah yang bersangkutan.
ii. Piutang Dana Alokasi Umum (DAU) diakui apabila akhir tahun
anggaran masih ada jumlah yang belum ditransfer, yaitu
merupakan perbedaaan antara total alokasi DAU menurut

33
Peraturan Presiden dengan realisasi pembayarannya dalam satu
tahun anggaran. Perbedaan tersebut dapat dicatat sebagai hak
tagih atau piutang oleh Pemerintah Daerah yang bersangkutan,
apabila Pemerintah Pusat mengakuinya serta menerbitkan suatu
dokumen yang sah untuk itu.
iii. Piutang Dana Alokasi Khusus (DAK) diakui pada saat
Pemerintah Daerah telah mengirim klaim pembayaran yang
telah diverifikasi oleh Pemerintah Pusat dan telah ditetapkan
jumlah difinitifnya, tetapi Pemerintah Pusat belum melakukan
pembayaran. Jumlah piutang yang diakui oleh Pemerintah
Daerah adalah sebesar jumlah klaim yang belum ditransfer oleh
Pemerintah Pusat.
iv. Piutang Dana Otonomi Khusus (Otsus) atau hak untuk menagih
diakui pada saat pemerintah daerah telah mengirim klaim
pembayaran kepada Pemerintah Pusat yang belum melakukan
pembayaran.
Piutang transfer lainnya diakui apabila:

dalam hal penyaluran tidak memerlukan persyaratan,


apabila sampai dengan akhir tahun Pemerintah Pusat belum
menyalurkan seluruh pembayarannya, sisa yang belum
ditransfer akan menjadi hak tagih atau piutang bagi daerah
penerima;

dalam hal pencairan dana diperlukan persyaratan, misalnya


tingkat penyelesaian pekerjaan tertentu, maka timbulnya
hak tagih pada saat persyaratan sudah dipenuhi, tetapi
belum dilaksanakan pembayarannya oleh Pemerintah Pusat.

Piutang Bagi Hasil dari provinsi dihitung berdasarkan hasil realisasi


pajak dan hasil sumber daya alam yang menjadi bagian daerah yang
belum dibayar. Nilai definitif jumlah yang menjadi bagian

34
kabupaten/kota pada umumnya ditetapkan menjelang berakhirnya
tahun anggaran. Secara normal tidak terjadi piutang apabila seluruh
hak bagi hasil telah ditransfer. Apabila alokasi definitif telah
ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah, tetapi
masih ada hak daerah yang belum dibayar sampai dengan akhir
tahun anggaran, maka jumlah yang belum dibayar tersebut dicatat
sebagai hak untuk menagih (piutang) bagi pemda yang
bersangkutan.
Transfer antar daerah dapat terjadi jika terdapat perjanjian antar
daerah atau peraturan/ketentuan yang mengakibatkan adanya
transfer antar daerah. Piutang transfer antar daerah dihitung
berdasarkan hasil realisasi pendapatan yang bersangkutan yang
menjadi hak/bagian daerah penerima yang belum dibayar. Apabila
jumlah/nilai definitif menurut Surat Keputusan Kepala Daerah yang
menjadi hak daerah penerima belum dibayar sampai dengan akhir
periode laporan, maka jumlah yang belum dibayar tersebut dapat
diakui sebagai hak tagih bagi pemerintah daerah penerima yang
bersangkutan.
Piutang kelebihan transfer terjadi apabila dalam suatu tahun
anggaran ada kelebihan transfer. Apabila suatu entitas mengalami
kelebihan transfer, maka entitas tersebut wajib mengembalikan
kelebihan transfer yang telah diterimanya.
Sesuai dengan arah transfer, pihak yang mentransfer mempunyai
kewenangan untuk memaksakan dalam menagih kelebihan transfer.
Jika tidak/belum dibayar, pihak yang mentransfer dapat
memperhitungkan kelebihan dimaksud dengan hak transfer periode
berikutnya.
Peristiwa yang menimbulkan hak tagih berkaitan dengan TP/TGR,
harus didukung dengan bukti SK
Pembebanan/SKP2K/SKTJM/Dokumen yang dipersamakan, yang
menunjukkan bahwa penyelesaian atas TP/TGR dilakukan dengan

35
cara damai (di luar pengadilan). SK
Pembebanan/SKP2K/SKTJM/Dokumen yang dipersamakan
merupakan surat keterangan tentang pengakuan bahwa kerugian
tersebut menjadi tanggung jawab seseorang dan bersedia mengganti
kerugian tersebut. Apabila penyelesaian TP/TGR tersebut
dilaksanakan melalui jalur pengadilan, pengakuan piutang baru
dilakukan setelah ada surat ketetapan yang telah diterbitkan oleh
instansi yang berwenang.
d. Tuntutan Ganti Kerugian Daerah
Piutang yang timbul dari peristiwa tuntutan ganti kerugian Daerah
terdiri atas:
i. Piutang yang timbul akibat Tuntutan Ganti Kerugian Daerah
terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara
ii. Piutang yang timbul akibat Tuntutan Ganti Kerugian Daerah
terhadap Bendahara

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013, Piutang antara


lain diklasifikasikan sebagai berikut :

Bagian Lancar Tuntutan Ganti Kerugian Daerah

36
Piutang yang timbul dari peristiwa tuntutan ganti kerugian daerah, terdiri
atas:
1. Piutang yang timbul akibat Tuntutan Ganti Kerugian Daerah terhadap
Pegawai Negeri Bukan Bendahara.

2. Piutang yang timbul akibat Tuntutan Ganti Kerugian Daerah terhadap


Bendahara.

Piutang TP/TGR adalah piutang yang terjadi karena adanya proses


pengenaan ganti kerugian negara. Piutang TP dikenakan kepada bendahara
pada satuan kerja, sedangkan Piutang TGR dikenakan kepada pegawai
negeri bukan bendahara atau pejabat lain yang karena perbuatannya
melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya
secara langsung merugikan negara. Bagian Lancar TP/TGR merupakan
bagian TP/TGR yang jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah tanggal
pelaporan.
Sumber : PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 219/PMK.05/2013 TENTANG KEBIJAKAN
AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT

2.7.3 Pengakuan, Pengukuran, Penilaian, dan Pengungkapan Piutang


2.7.3.1 Pengakuan Piutang
Piutang diakui pada saat :
a) Diterbitkan surat ketetapan/dokumen yang sah; atau
b) Telah diterbitkan surat penagihan dan telah dilaksanakan
penagihan; atau
c) Belum dilunasi sampai dengan akhir periode pelaporan.
2.7.3.2 Pengukuran Piutang
Piutang dicatat dan diukur sebesar :
a) Disajikan sebesar nilai yang belum dilunasi sampai
dengan tanggal pelaporan dari setiap tagihan yang

37
ditetapkan berdasarkan surat ketetapan kurang bayar
yang diterbitkan; atau
b) Disajikan sebesar nilai yang belum dilunasi sampai
dengan tanggal pelaporan dari setiap tagihan yang telah
ditetapkan terutang oleh Pengadilan Pajak untuk WP
yang mengajukan banding; atau
c) Disajikan sebesar nilai yang belum dilunasi sampai
dengan tanggal pelaporan dari setiap tagihan yang masih
proses banding atas keberatan dan belum ditetapkan oleh
majelis tuntutan ganti rugi.

Piutang pendapatan diakui setelah diterbitkan surat tagihan


dan dicatat sebesar nilai nominal yang tercantum dalam tagihan.
Secara umum unsur utama piutang karena ketentuan perundang-
undangan ini adalah potensi pendapatan. Artinya piutang ini
terjadi karena pendapatan yang belum disetor ke kas daerah oleh
wajib setor. Oleh karena setiap tagihan oleh pemerintah wajib
ada keputusan, maka jumlah piutang yang menjadi hak
pemerintah daerah sebesar nilai yang tercantum dalam
keputusan atas penagihan yang bersangkutan. Pengukuran atas
peristiwa peristiwa yang menimbulkan piutang yang berasal dari
perikatan, adalah sebagai berikut:
1. Pemberian pinjaman
Piutang pemberian pinjaman dinilai dengan jumlah yang
dikeluarkan dari kas daerah dan/atau apabila berupa
barang/jasa harus dinilai dengan nilai wajar pada tanggal
pelaporan atas barang/jasa tersebut.
2. Penjualan
Piutang dari penjualan diakui sebesar nilai sesuai naskah
perjanjian penjualan yang terutang (belum dibayar) pada
akhir periode pelaporan. Apabila dalam perjanjian

38
dipersyaratkan adanya potongan pembayaran, maka nilai
piutang harus dicatat sebesar nilai bersihnya.

3. Kemitraan
Piutang yang timbul diakui berdasarkan ketentuan ketentuan
yang dipersyaratkan dalam naskah perjanjian kemitraan.
4. Pemberian fasilitas/jasa
Piutang yang timbul diakui berdasarkan fasilitas atau jasa
yang telah diberikan oleh pemerintah pada akhir periode
pelaporan, dikurangi dengan pembayaran atau uang muka
yang telah diterima.

Pengukuran piutang transfer adalah sebagai berikut:


1. Dana Bagi Hasil disajikan sebesar nilai yang belum diterima
sampai dengan tanggal pelaporan dari setiap tagihan yang
ditetapkan berdasarkan ketentuan transfer yang berlaku;
2. Dana Alokasi Umum sebesar jumlah yang belum diterima,
dalam hal terdapat kek urangan transfer DAU dari
Pemerintah Pusat ke kabupaten;
3. Dana Alokasi Khusus, disajikan sebesar klaim yang telah
diverifikasi dan disetujui oleh Pemerintah Pusat.

Pengukuran piutang ganti rugi berdasarkan pengakuan yang


dikemukakan di atas, dilakukan sebagai berikut:
1. Disajikan sebagai aset lancar sebesar nilai yang jatuh tempo
dalam tahun berjalan dan yang akan ditagih dalam 12 (dua
belas) bulan ke depan berdasarkan surat ketentuan
penyelesaian yang telah ditetapkan;
2. Disajikan sebagai aset lainnya terhadap nilai yang akan
dilunasi di atas 12 bulan berikutnya.

39
2.7.3.3 Penilaian
Piutang disajikan sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasikan (net realizable value).
Nilai bersih yang dapat direalisasikan adalah selisih antara
nilai nominal piutang dengan penyisihan piutang.
Penyisihan piutang tidak tertagih dilakukan melalui estimasi
berdasarkan umur piutang (aging schedule). Piutang dalam
aging schedule dibedakan menurut jenis piutang, baik dalam
menetapkan umur maupun penentuan besaran yang akan
disisihkan sesuai tabel berikut.
Contoh Tabel
Kebijakan Persentase Penyisihan Piutang
Berdasarkan Jenis dan Umur Piutang

Umur Piutang
Jenis
Nomor 1 >1 s.d. 2 >2 s.d. 3 >3
Piutang
Tahun Tahun Tahun Tahun
1 Piutang . 0% % % %
2 Piutang 0% % % %
3 Dst 0% % % %

2.7.3.4 Pengungkapan
Piutang disajikan dan diungkapkan secara memadai. Informasi
mengenai akun piutang diungkapkan secara cukup dalam
Catatan Atas Laporan Keuangan. Informasi dimaksud dapat
berupa:
Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penilaian,
pengakuan dan pengukuran piutang;
Rincian jenis-jenis, saldo menurut umur untuk mengetahui
tingkat kolektibilitasnya;
Penjelasan atas penyelesaian piutang;

40
Jaminan atau sita jaminan jika ada. Khusus untuk tuntutan
ganti rugi/tuntutan perbendaharaan juga harus diungkapkan
piutang yang masih dalam proses penyelesaian, baik
melalui cara damai maupun pengadilan.
2.7.4 Sistem Akuntansi Piutang
2.5.4.1 SKPD
Pihak Pihak Yang terkait :
1. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD).
2. Bendahara Penerimaan SKPD.
Dokumen yang digunakan :
1. Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKR Daerah)
2. SP2D
3. Dokumen yang dipersamakan

41
42
43
2.5.4.1 PPKD
Pihak Pihak Terkait
1. Pejabat Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD)
2. Bendahara Penerimaan

Dokumen yang digunakan :

1. Pejabat Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD)


2. Bendahara Penerimaan

44
45
Jurnal Standar
Telah diterbitkan SKP Daerah Pajak Hotel dan wajib pajak belum melakukan
pembayaran maka fungsi akuntansi akan melakukan jurnal standar:
Jurnal LO dan Neraca

Telah diterima Nota Kredit dari bank/ Bukti tanda terima pembayaran/bukti
penerimaan kas/dokumen yang dipersamakan dimana wajib pajak melakukan
pembayaran atas piutang pajak ke bendahara penerimaan maka fungsi akuntansi
melakukan jurnal standar :

46
Jurnal Standar
Telah diterima dokumen berupa PMK/Perpres/Surat Keputusan Kepala
Daerah/Kontrak/Surat Perjanjian/Dokumen yang dipersamakan dan belum
diterima pembayaran maka fungsi akuntansi akan melakukan jurnal standar:
Jurnal LO dan Neraca

Telah diterima Nota Kredit dari bank/ Bukti tanda terima pembayaran/bukti
penerimaan kas/dokumen yang dipersamakan dimana terjadi pemindah bukuan ke
kas daerah, oleh itu bendahara penerimaan akan mencatat sebagai penerimaan kas
untuk pelunasan piutang maka fungsi akuntansi melakukan jurnal standar :

47
BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

kesimpulan bahwa secara regulasi dan praktek, SAP berbasis akrual itu sendiri
belum sepenuhnya akrual. Hal ini dapat dilihat dari beberapa poin berikut,
diantaranya:
1. Basis yang digunakan dalam LRA masih diatur dengan basis kas karena
ketentuannya mengikuti penyusunan APBD yang masih berbasis kas.
2. Secara regulasi, peraturan terkait SAP Berbasis Akrual masih dalam tahap
revisi. Regulator dalam hal ini adalah Komite Standar Akuntansi
Pemerintah (KSAP) masih belum mengeluarkan ketentuan terbaru
mengenai penyusunan LRA berbasis akrual sehingga seluruh laporan
keuangan pemerintah bisa mengimplementasi basis akrual secara penuh.

48