Anda di halaman 1dari 7

Apresiasi Seni Budaya Nusantara

A. Pengertian Apresiasi
Apresiasi secara etimologi: appreciatie (Belanda), appreciation (Ing), menurut kamus
Inggris, to appreciate, yaitu bentuk kata kerja yang berarti: to judge the value of;
understand or enjoy fully in the right way (Oxford), to estimate the quality of; to estimate
rightly; to be sensitively aware of (Webster). Secara umum apresiasi seni atau
mengapresiasi karya seni berarti, mengerti sepenuhnya seluk-beluk sesuatu hasil seni
serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetika. Apresiasi dapat juga diartikan berbagi
pengalaman antara penikmat dan seniman, bahkan ada yang menambahkan,
menikmati sama artinya dengan menciptakan kembali. Tujuan pokok penyelenggaran
apresiasi seni adalah menjadikan masyarakat melek seni sehingga dapat mencrima
seni sebagaimana mestinya. Dengan kata-kata yang lebih lengkap, apresiasi adalah
kegiatan mencerap (menangkap dengan pancaindera), menanggapi, menghayati
sampai kepada menilai sesuatu (dalam hal ini karya seni). Kegiatan apresiasi seni atau
mengapresiasi karya seni dapat diartikan sebagai upaya untuk memahami berbagai
hasil seni dengan segala permasalahannya serta terjadi lebih peka akan nilai-nilai
estetika yang terkandung di dalamnya. Hal ini ditegaskan oleh Soedarso (1990:77)
bahwa apresiasi adalah: Mengerti dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk sesuatu
hasil seni serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetiknya sehingga mampu
menikmati dan menilai karya tersebut dengan semestinya. Sementara itu Rollo May
(Alisyahbana, 1983:81) menambahkan bahwa berapresiasi terhadap suatu kreasi baru
atau hasil seni juga merupakan suatu tindakan kreatif.

Mengapresiasi karya seni itu penting sekali karena akan membuat hidup lebih nikmat,
gembira, sehat. Bayangkan, bagaimana jika ada orang yang tidak mampu sekali
menikmati karya seni (dalam arti luas, termasuk seni di luar seni rupa). Dalam
kehidupan sehari-hari, secara disadari atau tidak, orang melakukan apresiasi pada
tingkat tertentu: menonton pameran, mendengarkan musik, menonton film di TV,
memilih motif kain dan sebagainya.

B. Langkah-langkah Apresiasi
Dalam menganalisis dan menanggapi karya seni rupa secara garis besar ada dua cara
yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan ukuran subyektif, artinya menilai
bagus tidaknya berdasarkan pertimbangan sendiri, misalnya karya ini sangat bagus
atau indah karena kita memandang benda seni itu amat menyenangkan. Penilaian
dengan ukuran objektif artinya, menilai bagus tidaknya karya seni atas dasar ukuran
kenyataan dan objek (karya seni rupa) itu sendiri. Bila karyanya memiliki ukuran secara
objektif bagus, maka kita katakan bagus. Demikian juga sebaliknya. Setiap karya seni
tentunya memiliki ciri khas, yang berbeda satu sama lain. Mengungkapkan karakteristik
karya seni rupa dua dimensi tentu berbeda dengan karya seni rupa yang tiga dimensi.
Karakteristik karya seni dua dimensi terilihat dari (1) segi bentuk atau wujudnya; (2)
teknik yang digunakan dan (3) fungsi serta maknanya. Ketiga bagian itu saling
berhubungan. Bentuk karya terwujud karena teknik dan proses pembuatan. Bentuk juga
berkaitan dengan kegunaan atau fungsi. Demikian bentuk berkait dengan makna. Untuk
itu usaha mengapresiasi karya seni rupa Nusantara yang ada di daerah anda akan
memperhatikan ketiga ukuran tersebut.
Coba perhatikan dua karya seni rupa di daerah anda (sebuah gambar ilustrasi atau dua
dimensi dan sebuah karya patung atau tiga dimensi). Perhatikan dari segi bentuk-nya,
proses pembuatanya, terutama teknik pengrjaannya. Apakah ada perbedaan? Membuat
gambar ilustrasi dengan menggunakan pensil atau ballpoint di atas kertas. Sedangkan
membuat patung (kayu atau bahan lainnya) tidak menggunakan pensil tapi peralatan
cukilan atau pahatan. Perkirakan juga kesulitan dalam pembuatannya, waktu yang
digunakan untuk membuat dan hal- hal lain yang berhubungan dengm teknik
pembuatan. Nyatakan tanggapan tersebut sesuai dengan penilaian subyektif dan
objektif. Menganalisis dan menanggapi karya seni rupa tiga dimensi akan berbeda
dengan karya seni rupa yang dua dimensi. Karya tiga dimensi bisa jadi lebih menarik,
karena pada karya tiga dimensi bendanya lebih nyata. Dari segi gagasan tentu akan
beragam. Dari segi bahan juga bermacam-macam, bahkan segi teknikya terlihat
berbeda. Biasanya dalam pengerjaan karya tiga dimensi lebih lama dibandingkan
dengan karya dua dimensi. Karena di lingkungan kita (daerah setempat) karya seni rupa
dua dumensi dan tiga dimensi bermacam-macam, maka tentu saja gagasan, bahan
atau bentuk dan tekniknya bermacam-macam pula. Pada masing-masing karya akan
memiliki arti yang berbeda. Sebenarnya upaya menganalisis dan menanggapi masing-
masing karya seni rupa yang ada di lingkungan anda sendiri dimaksudkan agar anda
menjadi penilai atau apresiator yang baik. Dengan mengetahui keberagaman bentuk,
teknik dan funginya, anda menghargai apa yang dibuat oleh para seniman yang ada di
daerah setempat. Bila anda menekuni dan mencermati pekerjaan tersebut anda akan
merasakan bahwa apa yang dikerjakan para pekerja seni itu bukan sesuatu yang
mudah. Anda akan turut merasa terlibat atau berempati dan mengagumi pekerjaan seni
rupa. Adakah cara yang dapat diupayakan agar anda dapat melakukan apresiasi karya
seni dengan lebih bermutu? Ada. Selain banyak melihat, membaca, mendengarkan
atau membiasakan menghayati karya seni, anda dapat menggunakan apa yang disebut
dengan pendekatan dan pentahapan apresiasi.

C. Fungsi Apresiasi Seni


Apresiasi dalam seni memiliki manfaat atau fungsi. Seperti yang sudah disebutkan
mengenai pengertian dari apresiasi pada seni, terdapat kegiatan mengenali, memberi
penilaian, juga menghargai di mana akan memperngaruhi karya seni tersebut serta
seniman atau pembuat seni yang terlibat.
Ada empat fungsi yang menjadi utama dan dapat kamu kenali agar lebih memahami
mengenai apresiasi pada seni. Keempat fungsi tersebut sebagai berikut.

1. Untuk Meningkatkan Kecintaan Terhadap Karya Seni


Fungsi pertama adalah untuk meningkatkan kecintaan terhadap karya seni. Atau
dapat juga dikatakan sebagai sarana yang mampu meningkatkan rasa cinta
terhadap karya seni khususnya karya seni yang dibuat oleh anak-anak Indonesia.
2. Untuk Menciptakan Penilaian
Fungsi yang kedua adalah untuk menciptakan penilaian. Penilaian ini berupa
sarana dalam menikmati, memberi empat, mendapatkan hiburan, serta menambah
wawasan dan pengetahuan atau edukasi.
3. Untuk Mengembangkan Kemampuan
Fungsi ketiga adalah untuk mengembangkan kemampuan. Kemampuan yang
merupakan keanggupan diri sendiri dapat berupa mampu menciptakan karya seni
atau lain-lain. Sebagai penikmat seni yang memberi apresiasi, terkadang banyak
bagian dari kegiatan apresiasi tersebut yang mengasah kemampuan.
4. Untuk Membangun Hubungan
Fungsi keempat atau terakhir ialah untuk membangun hubungan. Hubungan
tersebut berupa hubungan timbal-balik yang positif antara pembuat seni dengan
penikmat seni.

D. Tujuan Apresiasi Seni


Selain memiliki empat fungsi atau manfaat, apresiasi seni juga memiliki dua macam
tujuan yaitu tujuan pokok dan tujuan akhir.
Tujuan pokok dari apresiasi pada seni berupa memperkenalkan atau mempublikasi
karya seni tersebut agar karya seni lebih dapat dinikmati oleh publik atau masyarakat
juga maksud serta tujuannya tersampaikan.
Terkadang sebagai penikmat seni yang memang sekadar penikmat, kita tidak langsung
dapat mengerti maksud dan tujuan dibuatnya karya seni tersebut.
Dengan adanya apresiasi seni maka kita dapat lebih mudah mengerti maksud dan
tujuannya. Sementara itu untuk tujuan akhir, ada tiga poin. Ketiga poin tujuan akhir
tersebut sebagai berikut.
Mengembangkan nilai estetika karya seni
Estetika adalah kepekaan terhadap keindahan atau seni. Hal ini membuat kita lebih
cepat menyadari unsur seni pada karya seni.
Mengembangkan daya kreasi
Selain estetika, tujuan akhir berikutnya ialah mengembangkan kreasi. Karena kita
menjadi lebih peka dan mengerti maksud dari karya seni, maka daya kreasi kita
juga dapat bertambah.
Menyempurnakan
Apresiasi pada karya-karya seni juga sebagai penyempurna dari karya-karya seni
itu sendiri.

E. Tingkatan Apresiasi
Dalam apresiasi seni atau karya seni terdapat tingkatan-tingkatan yang
mendeskripsikan apresiasi seni tersebut. Tiga tingkatan dalam apresiasi seni meliputi
Empatik, Estetis, dan Kritik.
Berikut penjelasan mengenai tiga tingkatan tersebut beserta contohnya.
Tingkat Empatik
Empatik dalam kamus berarti melibatkan pikiran dan perasaan. Tingkat apresiasi
seni ini lebih berupa tangkapan indrawi aatau tangkapan dari indera-indera.
Contohnya ketika mendengar sebuah karya seni musik, kita merasa nyaman dan
betah mendengar karya tersebut, lalu timbulah penilaian bahwa karya tersebut
bagus.
Tingkat Estetis
Estetis dalam kamus merupakan penilaian terhadap keindahan tersebut. Tingkat
apresiasi seni ini berupa pengamatan dan penghayatan.
Di tingkat ini kita sebagai penikmat seni memberi apresiasi yang lebih pada
pengamatan, bagaimana bentuk dari karya seni tersebut, atau mengapa karya seni
tersebut dapat menjadi karya seni.
Contohnya saat menyaksikan pagelaran seni teater, kita berpikir bagaimana adega
tersebut dapat dibuat dan apa fungsi daria degan tersebut. Apakah pas dan bagus,
atau tidak.
Tingkat Kritik
Kamu pastinya sudah dapat membayangkan bagaimana tingkatan pada tingkat
apresiasi ini. Kritik di sini dapat berbentuk klarifikasi, deskripsi, menjelaskan,
menganalisis, evaluasi, hingga mengambil kesimpulan.
Contohnya kamu dapat melihat juri-juri dalam ajang-ajang yang ada di televisi
misalnya ajang bernyanyi.
Tingkat apresiasi mereka sudah berada di tingkat ini di mana akan memberi
masukan, menilai dengan tidak lupa memberi penjelasan, dan memberi evaluasi
juga kesimpulan.
Itu dia bagian-bagian dalam apresiasi seni yang tidak dapat dipisahkan.
Ada pun pengertian yang dikemukan oleh para ahli di antaranya menurut Brent G.
Wilson, apresiasi pada seni meliputi feeling, valualing, dan emphatizing.
Ketiga poin tersebut adalah suatu tindakan atau kegiatan yang berhubungan
dengan perasaan, penilaian, dan rasa empati.
Bentuk rupa dari ketiga poin itu juga berbeda dan tergantung pasa masing-masing
penikmat seni. Agar kamu lebih mengerti lagi mengenai apresiasi dalam karya seni,
di bawah ini ada beberapa contoh apresiasi seni yang dapat kamu telusuri.
F. Pendekatan dan Metode Apresiasi
Apresiasi seni dapat dilakukan dengan berbagai metode atau pendekatan sebagai
berikut :
1. Pendekatan aplikatif
Apresiasi melalui pendekatan aplikatif ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan
berkarya seni secara langsung, di studio, di kampus, di rumah atau di mana saja.
Melalui praktek berkarya, apresiasi tumbuh dengan serta merta akibat dari
pertimbangan dan penghayatan terhadap proses berkarya dalam hal keunikan
teknik, bahan, dsb. Melalui berkarya seni, kita dapat merasakan berbagai
pertimbangan teknik yang digunakan oleh seniman dalam proses berkarya. Tidak
jarang keunikan teknik atau bahan tertentu menumbuhkan gagasan yang unik bagi
seorang perupa. Berkarya menggunakan medium batu misalnya, tentu akan
meberikan sensasi yang berbeda dibandingkan dengan menggunakan medium
tanah liat yang lunak, walaupun kedua medium tersebut dapat digunakan untuk
mewujudkan karya seni patung. Semakin banyak pengetahuan kita tentang teknik,
alat dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni rupa, akan semakin
bertambah pula wawasan kita dalam mengapresiasi karya seni rupa. Pendekatan
aplikatif dapat juga dilakukan dengan melihat proses berkarya seorang perupa
secara langsung. Kita dapat mengunjungi sanggar, studio atau sentra-sentra
kerajinan yang ada di daerah kita atau didaerah lain untuk melihat secara langsung
bagaimana para perupa dan pengrajin bekerja mewujudkan karya seni rupanya.
Dengan kemajuan teknologi saat ini, proses berkarya seni yang dilakukan oleh para
perupa tersebut dapat juga kita saksikan melalui tayangan film dalam bentuk video
atau CD. Dengan demikian wawasan kita tentang proses berkarya seni akan
semakin kaya.
2. Pendekatan kesejarahan
Apresiasi dengan pendekatan ini ditumbuhkan melalui pengenalan sejarah
perkembangan seni. Dalam praktek sehari-hari secara sederhana, kita dapat
mencoba meneliti asal usul sebuah karya seni rupa dengan bertanya kepada orang
tua kita di rumah, ayah, ibu, paman atau siapa saja tentang riwayat sebuah karya
seni. Pertanyaan tersebut berkisar pada soal fungsi karya pada saat dibuat
dibandingkan dengan fungsinya saat ini, siapa (seniman) yang membuatnya,
tempat karya seni diproduksi, serta kapan waktu pembuatannya.
Apresiasi dengan pendekatan kesejarahan tidak cukup dengan mengunjungi
musium atau melihat berbagai karya peninggalan perupa-terdahulu. Seperti telah
disebutkan di atas, apresiasi dengan pendekatan ini membutuhkan kemauan untuk
mengethui lebih jauh tentang karya-karya seni yang kita lihat. Berbagai model
pertanyaan dapat kita buat untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya
tentang karya-karya tersebut. Beberapa pertanyaan yang dapat kita ajukan
diantaranya sebagai berikut:

LINGKUP PERTANYAAN
1. Siapa yang membuat karya itu?
2. Di mana karya itu berada?
3. Bagaimana cara karya itu dihadirkan?
4. Bilamana karya itu datang?
5. Siapa yang memperoleh karya itu?
6. Mengapa ?
7. Berapa harga karya itu?
8. Siapa saja yang melihat karya pada saat itu?
9. Siapa yang melihat karya itu saat ini?
10. Bagaimana cara karya tersebut diperkenalkan/dihadirkan
11. Apa artinya pada saat itu?
12. Apa artinya karya itu pada saat ini?
13. Apa yang terjadi yang ditunjukkan pada/dengan karya itu?
14. Apakah (itu) karya satu-satunya?
15. Bagaimana kondisi karya?
16. Terbuat dari apakah karya (itu)?
17. Untuk siapa karya (itu) dibuat?
18. Benda/karya apakah (itu)?

JAWABAN

1. seniman/kriyawaan
2. Saat ini dan dulu
3. Proses pemindahan
4. Peristiwa yg melatarbelakangi kedatangan karya
. Pemilik karya itu dulu dan sekarang
6. Latar belakang kepemilikan
7. Harga saat ini
8. individu/komunitas/masyarakat
9. individu/komunitas/masyarakat
10. Pameran/musium/galeri/public space
11. Arti/fungsi pada saat itu
12. Arti/fungsi saat ini
13. Deskripsi objek
14. Varian/jenis karya yang serupa
15. Utuh/rusak dsb/perubahan yg terjadi
16. Material/alat/bahan
17. Latar belakang pembuatan karya
18. Jenis karya seni

unsur dan prinsip-prinsip seni rupa) yang terdapat dalam sebuah karya seni. Langkah
selanjutnya adalah mengetahui ukuran karya, mengenali teknik dan bahan-bahan yang
digunakan, tema yang diangkat dan objek yang dipilih.

Langkah-langkah dalam mengapresiasi karya seni rupa Apresiasi seni dapat dilakukan
dengan menggunakan pendekatan kritik, seperti yang dikemukakan oleh Edmund
Feldman (dalam: Aland & Darby, 1991: 8) dalam mengapresiasi karya seni rupa ada 4
tahap, yaitu deskripsi, analisis, interpretasi, dan pemberian keputusan atau penilaian.
Dengan menggunakan empat langkah tersebut akan diperoleh informasi penting yang
membantu kita dalam memahami dan mengapresiasi suatu karya seni.

a. Deskripsi
Langkah pertama dan yang terpenting dari empat langkah apresiasi adalah deskripsi,
karena dalam deskripsi akan diperoleh informasi dasar yang akan digunakan dalam
pembahasan langkah-langkah berikutnya. Hal pertama yang dilakukan dalam membuat
deskripsi adalah mengidentifikasi karya dengan mengenali judulnya, seniman
penciptanya, dan kapan karya tersebut diciptakan. Di samping itu perlu juga diketahui
bahan dan media apa yang dipakai untuk mencipta karya tersebut. Informasi awal ini
akan memberikan petunjuk awal tentang makna dan tujuan karya seni tersebut dibuat.
Selanjutnya perlu dibuat daftar tentang apa saja yang dapat ditangkap dengan indera
mata (penglihatan). Tidak perlu terlalu rinci, yang penting bentuk visual apa yang
terlihat, misalnya sosok binatang, manusia, pepohonan, dan sebagainya.
Pengamatan tersebut harus dilakukan secara objektif tanpa ada penafsiran. Apabila
unsur-unsur karya tersebut tidak diketahui nama atau maknanya maka buatlah daftar
tadi dengan hanya menyebutkan bentuk, raut, bidang, atau warna, misalnya sebutkan
saja ada lingkaran berwarna merah, segitika biru kecil, warna lembut kehijauan dan
sabagainya. Pada bagian akhir deskripsi ini adalah masalah teknis. Di sini perlu
diungkap dengan cara apa karya tersebut dibuat. Apabila yang diapresiasi sebuah
lukisan maka perlu diketahui jenis cat dan kanvas yang dipakai, alat yang dipakai
apakah menggunakan kuas atau pisau palet. Teknik bahan dan alat tersebut akan
dapatmenghasilkan efek khusus dan bermakna khusus pula. Jadi langkah deskripsi ini
hanya mengungkap data dan kondisi fisik visual yang terlihat atau dapat diraba atau
diindera.

b. Analisis

Tahap atau langkah kedua ini berfokus pada hubungan antara sesuatu yang dapat
dilihat pada sebuah karya. Pertimbangkan hubungan antara bentuk dan objek-objeknya,
ukuran dari suatu objek atau bentuk akan menunjukkan posisinya pada ruang.
Bentuk besar mengarahkan kedekatan dan ukuran objek kecil menunjukkan adanya
jarak yang agak jauh. Hubungan antara objek dengan bentuk-bentuk tertentu yang
berbeda ukurannya dalam suatu karya juga menimbulkan perbedaan. Objek yang besar
cenderung lebih dominan dalam sebuah karya, dan menunjukkan bahwa ia memiliki
kedudukan yang lebih penting dibanding objek lainnya dalam sebuah karya. Demikian
halnya dengan bentuk yang tidak sama antara satu objek dengan objek-objek lainnya,
juga warna atau unsur lainnya. Biasanya bentuk/ warna/ tekstur/ raut yang berbeda jauh
dengan yang ada di sekelilingnya cenderung lebih menarik perhatian dan cenderung
dominan dan memiliki posisi yang lebih penting. Ini semua mengarah pada kompisisi
yang diterapkan pada karya tersebut, atau dengan kata lain dalam tahap analisis ini
perlu diungkap aspek komposisinya, yaitu bagaimana unsur-unsur visual dipadukan
atau dikomposisikan. Di samping itu perlu dilihat perencanaannya dan bagaimana karya
tersebut didesain.

c. Penafsiran atau interpretasi

Tahapan ini oleh Feldman mungkin dianggap paling sulit, tapi juga sekaligus paling
kreatif dan bermanfaat dalam empat tahapan ini. Cara terbaik untuk menjelaskan
interpretasi ini adalah saat untuk menjelaskan tentang arti atau makna karya tersebut.
Namun demikian penting juga dipakai data hasil pengamatan dan pengetahuan yang
diperoleh pada dua tahapan sebelumnya untuk mendukung dan membenarkan
penjelasan yang dibuat (Aland & Darby, 1991: 13). Dengan uraian tersebut pada
tahapan interpretasi ini ingin diungkap makna suatu karya, dan pesan apa yang ingin
disampaikan oleh penciptanya lewat karya yang dibuatnya tersebut.

d. Penilaian dan penghargaan

Pada tahapan ini dilakukan pengambilan keputusan tentang nilai sebuah karya seni.
Penentuan atau keputusan akan nilai karya yang diapresiasi bisa saja dipengaruhi oleh
faktor besarnya harga nominal atau nilai historis atau hirarkis karya tersebut.
Pada tahapan ini karya seni yang diapresiasi dinilai kualitas estetiknya, apakah karya
tersebut termasuk karya yang berhasil atau gagal. Pengambilan keputusan ini tentu saja
berdasarkan atas fakta dan analisis serta interpretasi dari penilai yang diperoleh melalui
tiga tahapan sebelumnya. Selanjutnya bisa juga dinilai bagaimana atau di mana
kedudukan karya seni tersebut kalau dibandingkan dengan karya yang sejenis. Namun
demikian ada juga faktor luar yang mempengaruhi penilaian suatu karya misalnya
dikaitkan dengan besarnya harga nominal karya seni tersebut atau pengaruh dari ahli
yang sudah menyatakan bahwa karya tersebut termasuk berhasil baik.
Pengaruh tersebut bisa berpengaruh bisa juga tidak, karena pada dasarnya suka atau
tidak suka tidak bisa dipaksakan, jadi seorang apresiator bebas dalam memberi
komentar atau penilaian pada karya yang diapresiasinya.

3. Kegiatan mengapresiasi karya seni murni dan terapan


Dilihat dari jenis fisiknya maka karya seni rupa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu seni
rupa dwimatra dan seni rupa trimatra. Dwimatra berarti memiliki dua matra atau ukuran
dalam hal ini adalah ada panjang dan lebar karya. Karena berbentuk dwimatra, karya
tersebut hanya dapat dilihat dari satu arah pandang saja yaitu dari arah depan. Karya
seni rupa dwimatra ini meliputi: seni lukis, seni grafis, gambar, dan sebagainya.
Sedangkan seni rupa trimatra memiliki tiga ukuran/ matra, yaitu kecuali panjang, lebar,
juga ada ruang atau volume.

Karya trimatra ini mestinya dapat diamati dari berbagai arah yaitu dari depan, samping,
atas, bahkan dari belakang. Karya seni rupa yang termasuk trimatra antara lain patung
atau arca, keramik, seni bangun, monumen, dan sebagainya. Di samping itu ada
beberapa karya yang secara fisik berupa karya trimatra, tetapi memiliki permasalahan
dwimatra, misalnya relief, kolase, dan karya-karya lain yang bervolume tapi hanya dapat
dilihat dari satu arah saja.

Dilihat dari aspek fungsi maka karya seni rupa dapat dibedakan menjadi dua bagian
yaitu seni murni dan seni terapan.

Seni murni adalah suatu karya seni rupa yang diciptakan melulu sebagai media
ekspresi estetik seniman penciptanya untuk mengungkapkan ide atau gagasan secara
bebas tanpa terikat akan fungsi tertentu. Sedangkan seni terapan merupakan karya seni
rupa yang diciptakan walaupun tidak terlepas dari ekspresi penciptanya tidak dapat
lepas dari fungsi karya yang mengikatnya.

Contoh karya seni rupa murni antara lain seni lukis, seni patung,seni grafis, seni
keramik, dan sebagainya. Sedangkan seni terapan misalnya seni bangun (arsitektur),
seni kerajinan tangan, seni animasi, karikatur, komunikasi visual, seni dekorasi, dan
sebagainya.