Anda di halaman 1dari 7

A.

Definisi Kolaborasi:

1. Jonathan (2004) mendefinisikan kolaborasi sebagai proses interaksi di antara

beberapa orang yang berkesinambungan.

2. Menurut Kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama

khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran.

3. American Medical Assosiation (AMA, 1994) mendefinisikan istilah kolaborasi

sebagai sebuah proses dimana dokter dan perawat merencanakan dan praktik bersama

sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktik

mereka dengan berbagi nilai-nilai, saling mengakui dan menghargai terhadap setiap

orang yang berkontribusi untuk merawat individu, keluarga dan masyarakat.

4. ANA (1992) menambahkan, kolaborasi hubungan kerja di antara tenaga kesehatan

dalam memberikan pelayanan kepada pasien adalah dalam melakukan diskusi tentang

diagnosa, melakukan kerjasama dalam asuhan kesehatan, saling berkonsultasi dengan

masing-masing bertanggung jawab pada pekerjaannya.

5. Kolaborasi merupakan proses kompleks yang membutuhkan sharing pengetahuan

yang direncanakan yang disengaja, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk

merawat pasien, dan kadangkala itu terjadi dalam hubungan yang lama antara tenaga

profesional kesehatan (Lindeke dan Sieckert, 2005).

Dari berbagai definisi yang dikemukakan para ahli, dapat disimpulkan bahwa

kolaborasi adalah suatu proses interaksi yang kompleks dan beragam, yang

melibatkan beberapa orang untuk bekerja sama dengan menggabungkan pemikiran

secara berkesinambungan dalam menyikapi suatu hal dimana setiap pihak yang

terlibat saling ketergantungan di dalamnya. Apapun bentuk dan tempatnya, kolaborasi

meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang memberikan perspektif kepada

seluruh kolaborator.
Jelaskan pengertian kolaborasi:

Menurut Carpenter (1990), kolaborasi mempunyai 8 karakteristik, yaitu:

1. Partisipasi tidak dibatasi dan tidak hirarkis.

2. Partisipan bertanggung jawab dalam memastikan pencapaian kesuksesan.

3. Adanya tujuan yang masuk akal.

4. Ada pendefinisian masalah.

5. Partisipan saling mendidik atau mengajar satu sama lain.

6. Adanya identifikasi dan pengujian terhadap berbagi pilihan.

7. Implementasi solusi dibagi kepada beberapa partisipan yang terlibat.

8. Partisipan selalu mengetahui perkembangan situasi.

B. Elemen kunci efektivitas kolaborasi

1. Kerjasama atau Menghargai pendapat orang lain dan bersedia untuk memeriksa

beberapa alternatif pendapat dan perubahan kepercayaan.

2. Asertivitas Merupakan hal yang penting ketika individu dalam tim mendukung

pendapat mereka dengan keyakinan. Tindakan asertif menjamin bahwa pendapatnya

benar-benar didengar dan konsensus untuk dicapai.

3. Tanggung jawab atau mendukung suatu keputusan yang diperoleh dari hasil

konsensus dan harus terlibat dalam pelaksanaannya.

4. Komunikasi atau Setiap anggota bertanggung jawab untuk membagi informasi

penting mengenai isu yang terkait.

5. Otonomi atau Kemandirian anggota tim dalam batas kompetensinya.


6. Koordinasi atau Efisiensi organisasi yang dibutuhkan dalam perawatan pasien,

mengurangi duplikasi dan menjamin orang yang berkualifikasi dalam menyelesaikan

permasalahan.

7. Kolegalitas atau Saling menghargai.

8. Konsep dengan arti yang sama atau Mutualitas dimana individu mengartikannya

sebagai suatu hubungan yang memfasilitasi proses dinamis antara orang-orang yang

ditandai oleh keinginan maju untuk mencapai tujuan dan kepuasan setiap anggota.

9. Kepercayaan atau Konsep umum untuk semua elemen kolaborasi. Tanpa rasa

pecaya, kerjasama tidak akan ada, asertif menjadi ancaman, menghindar dari

tanggung jawab, terganggunya komunikasi.

C. Manfaat kolaborasi

1. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan keahlian

unik profesional.

2. Memaksimalkan produktivitas serta efektivitas dan efesiensi sumber daya.

3. Meningkatkan profesionalisme, loyalitas, dan kepuasan kerja.

4. Meningkatkan kohesivitas antar tenaga kesehatan profesional

5. Memberikan kejelasan peran dalam berinteraksi antar tenaga kesehatan profesional,

D. Elemen-elemen kolaborasi

1. Struktur

Praktik kolaborasi mengganti pendekatan pengelompokan hirarkis dengan pendekatan

yang mendorong interaksi antara sesama anggota. Model hirarkis menekankan

komunikasi satu arah, terdapat tokoh yang dominan. Model praktik kolaboratif

menekankan komunikasi dua arah, tetapi tetap menempatkan salah satu tokoh pada

posisi utama. Model melingkar menekankan kontinuitas, kondisi timbal balik satu
dengan yang lain dan tak ada satu pemberi pelayanan yang mendominasi terus

menerus.

2. Proses

Ruble dan Thomas (1976) dalam jurnal Organizational Behavior and Human

Performance telah mengembangkan suatu ilustrasi yang dapat membantu interpretasi

hubungan kolaborasi. Gambar di bawah ini memperlihatkan bagaimana struktur dan

proses saling memperkuat.

3. Hasil akhir

Hasil akhir merupakan penentu alasan kolaborasi, sulit mengatakan kolaborasi apabila

tidak ada hasilnya. Dengan meneliti hasil akhir yang tercapai, maka mereka yang

membentuk atau mengevaluasi suatu praktik dapat mengevaluasi proses lainnya.

E. Pengertian Negosiasi

1. Menurut Marquis dan Huston (1998), negosiasi pada umumnya sama dengan

kolaborasi. Pada organisasi, negosiasi juga dapat diartikan sebagai suatu pendekatan

kompetitif. Negosiasi sering dirancang sebagai suatu pendekatan kompromi jika

digunakan sebagai strategi menyelesaikan konflik. Selama negosiasi berlangsung

berbagai pihak yang terlibat menyerah dan lebih menekankan waktu mengakomodasi

perbedaan-perbedaan antara keduanya (Nursalam, 2011).

2. Menurut Smeltzer (1991) mengidentifikasikan dua tipe dasar negosiasi, yakni

kooperatif (setiap orang menang) dan kompetitif (hanya satu orang yang menang).

Satu hal yang penting dalam negosiasi adalah apakah salah satu atau kedua belah

pihak menghendaki adanya perubahan hubungan yang berlangsung dengan

meningkatkan hubungan yang lebih baik. Jika kedua pihak menghendaki perbaikan

hubungan maka akan timbul tipe kooperatif. Tapi jika salah satunya maka akan timbul

kompetitif.
3. Terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi sebelum manajer setuju untuk memulai

proses negosiasi, yaitu: masalah harus dinegosiasikan, negosiator harus tertarik pada

take and give selama proses negosiasi dan mereka harus saling percaya (Nursalam,

2011).

4. Negosiasi adalah komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan

pada saat kedua belah pihak memiliki kepentingan yang berbeda.

5. Proses interaksi dan komunikasi yang dinamis dan beraneka ragam, mengandung seni

dan penuh rahasia, untuk mencapai suatu tujuan yang dianggap menguntungkan para

pihak

Jelaskan pengertian negosiasi:

G. Prasyarat Negosiasi yang Efektif

1. Para pihak bersedia bernegosiasi secara sukarela berdasarkan kesadaran yang penuh

(willingness)

2. Para pihak memiliki kesiapan untuk melakukan negosiasi (preparednees)

3. Para pihak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan (authoritative)

4. Para pihak memiliki kekuatan yang relatif seimbang (relative equal bargaining

power)

5. Para pihak memiliki kemauan menyelesaikan masalah (sense problem solving)


Apa syarat melakukan negosiasi:

H. Kunci Sukses Dalam Negosiasi

1. Lakukan

a. Jelaskan tujuan negosiasi, bukan posisinya. Pastikan bahwa anda mengetahui

keinginan orang lain.

b. Perlakukan orang lain sebgai teman dalam menyelesaikan masalah, bukan sebagai

musuh. Hadapi masalah yang ada bukan orangnya.

c. Ingat, bahwa setiap orang menginginkan/mengharapkan penyelesaian yang

diterima, jika anda dapat menyajikan sesuatu dengan baik dan menarik.

d. Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan dan apa yang tidak. Perhatikan gerakan

tubuhnya.

e. Lakukan sesuatu yang sederhana, tidak berbelit-belit.

f. Antisipasi penolakan.

g. Tahu apa yang anda berikan.

h. Tunjukan beberapa alternatif pilihan.

i. Tunjukan keterbukaan dan ketaatan jika orang lain sepakat terhadap pendapat

anda.

j. Bersikap asertif, bukan agresif.

k. Hati-hati, anda mempunyai sesuatu kekuasaan untuk memutuskan.


l. Pergunakan gerakan tubuh, jika anda menyetujui dan tidak terhadap suatu

pendapat.

m. Konsisten terhadap apa yang anda anggap benar (Nursalam, 2011).

2. Hindari

a. Sikap yang tidak baik, seperti sinis, kasar, dan menyepelekan.

b. Trik yang tidak baik, seperti manipulasi.

c. Distorsi.

d. Tergesa-gesa dalam proses negosiasi.

e. Tidak berurutan.

f. Membuat hanya satu pilihan.

g. Memaksakan kehendak.

h. Berusaha menekan pada satu pendapat (Nursalam, 2011).

Tugas kelompok:

1. Buatlah 5 kelompok belajar


2. Berikan contoh dan jelaskan negosiasi dan kolaborasi antar perawat
dan dokter, dokter dan bidan, perawat dan perawat, perawat dengan
apoteker, perawat dengan ahli gizi.
3. Diskusikan bersama kelompok
4. Persentasikan Hasil diskusi