Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


PT. PLN (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang
berbentuk Perusahaan Perseroan (Persero) memiliki kewajiban untuk
menyediakan listrik bagi kepentingan umum dengan tetap memperhatikan
tujuan perusahaan yaitu menghasilkan keuntungan sesuai dengan Undang-
undang No. 19 th. 2000.
PT. PLN (Persero) wilayah KALTIMRA (Kalimantan Timur &
Kalimantan Utara) memiliki 2 unit Sektor Pembangkitan, salah satunya adalah
Sektor Pembangkitan dan Penyaluran Mahakam merupakan unit yang terbentuk
berdasarkan Keputusan Direktur Utama PT. PLN (Persero) No :
045.K/023/DIR/1996 tanggal 06 Mei 1996 dan merupakan unit kesepuluh di
lingkungan PT. PLN (Persero). PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap)
Tanjung Batu didirikan pada tanggal 10 Oktober 1996 bersamaan dengan
berdirinya Sektor Mahakam. Dengan luas wilayah 30 Hektar yang berlokasi di
dusun Tanjung Batu, Kecamatan Tenggarong Sebrang, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Kalimantan Timur.
PLTGU Tanjung Batu di bawah tanggung jawab PT. PLN (Persero)
Wilayah KALTIMRA Sektor Pembangkitan Mahakam mulai beroprasi sejak 15
Januari 1997 dengan kapasitas daya 60 MW. PLTGU Tanjung Batu dalam
mengoprasikan tidak hanya pembangkit yang dikelola PT. PLN Sektor
Mahakam tetapi juga pembangkit yang dikelola oleh perusahaan diluar PT. PLN
yang selanjutnya disebut pembangkit sewa. Pembangkit sewa yang berada di
PLTGU Tanjung Batu yaitu PT. Kaltimex Energi dengan sistem PLTMG
(Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas) yang memiliki 8 engine dengan
kapasitas daya terpasang (8 x 1 MW). Pembangunan PLTGU didasarkan untuk
memenuhi sebagian target dari beban kerja dan tanggung jawab PT. PLN
(Persero) Wilayah KALTIMRA Sektor Pembangkitan Mahakam.
PLTGU merupakan pembangkit modern yang sedang dikembangkan saat
ini, yaitu gabungan dari dua jenis pembangkit listrik PLTG dan PLTU. PLTG
Open Cycle merupakan pembangkit yang cepat untuk start dan mempunyai
respon yang baik terhadap perubahan beban, tetapi mempunyai kelemahan yaitu
konsumsi energinya besar (efisiensinya rendah) sehingga tidak menguntungkan
bila dioprasikan sebagai base load.
Gas buang dari PLTG yang umumnya mempunyai laju alir yang tinggi
dan temperatur yang tinggi yaitu di atas 400C, dimanfatkan (dialirkan) ke
dalam ketel uap PLTU untuk menghasilkan uap penggerak turbin uap. Dengan
cara ini, umumnya didapat PLTU dengan daya sebesar 50% daya PLTG. Ketel
uap yang digunakan untuk memanfaatkan gas buang PLTG mempunyai desain
khusus untuk memanfaatkan gas buang yang biasanya disebut HRSG (Heat
Recovery Steam Generator). Dengan cara tersebut dapat menaikkan efisiensi
keseluruhan dan dapat memanfaatkan energi secara optimal. (Marsudi,
2005:116)
Keuntungan PLTGU yaitu :
1. Efisiensi termalnya tinggi
2. Biaya pemakaian bahan bakar (konsumsi energi) lebih rendah
3. Pembangunannya relative cepat
4. Kapasitas dayanya bervariasi dari kecil hingga besar
5. Menggunakan bahan bakar gas yang bersih dan ramah lingkungan
6. Fleksibilitasnya tinggi
7. Tempat yang diperlukan tidak terlalu luas, sehingga biaya investasi lahan
lebih sedikit.
8. Waktu yang dibutuhkan untuk membangkitkan beban maksimum relatif
singkat.
Pada tahun 2012, di wilayah PLTGU Tanjung Batu dibangunlah PLTG
Peaking dengan kapasitas (2 x 60 MW).PLTG yang dibangun PT. PLN ini telah
terhubung dengan Sistem Mahakam sehingga secara langsung sudah
memberikan kontribusi bagi pemenuhan listrik masyarakat.
PLTG yang berada dibawah pengawasan PLTGU Tanjung Batu ini
mempunyai 2 unit Gas Turbine.Unit pertama resmi beroprasi pada 17 Maret
2014 dan unit kedua resmi beroprasi pada 18 April 2014.
Sesuai namanya, Peaking yang berarti memuncak, maka PLTG Peaking
ini dibangun untuk mem-backupSistem Mahakam saat beban puncak pada jam-
jam puncak pemakaian listrik masyarakat.

1.2 Deskripsi Proses di PLTGU Tanjung Batu


Combined Cycle Power Plant (CCPP) adalah jenis pembangkit listrik yang
paling efisien dibandingkan dengan pambangkit tenaga listrik lainnya. Sistem
dayanya disebut siklus kombinasi (combined cycle) yang merupakan perpaduan
antara siklus turbin gas atau siklus terbuka atau siklus Brayton (PLTG) dan
siklus turbin uap atau siklus tertutup atau siklus Rankine (PLTU). Di PLTGU
Tanjung Batu, penggunaan siklus kombinasi ini dilakukan agar gas buang dari
turbin gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energy untuk
menggerakkan turbin uap, karena gas buang dari turbin gas yang masih
bertemperatur tinggi 750C dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air
sehingga menghasilkan superheated. Alat yang digunakan untuk memanfaatkan
panas gas buang dari turbin gas adalah HRSG (Heat Recovery System
Generator) yang prinsip kerjanya sama dengan boiler. Gas buang dari turbin gas
tidak langsung dibuang melalui bypass stack akan tetapi sebagian masuk ke
HRSG. Setelah masuk ke HRSG maka gas sisa pembakaran tadi dimanfaatkan
untuk memanaskan air dan akan berubah menjadi uap bertekanan tinggi yang
kemudian digunakan untuk memutar turbin. Hasil pembuangan akan
dikondensasi dan dialirkan kembali ke HRSG. Begitu seterusnya sehingga
terbentuk siklus tertutup.

gambar 1.1 Siklus combined cycle power plant


1.3 Ruang Lingkup Magang Industri
Ruang lingkup kegiatan magang indutsri di PLTGU Tanjung Batu adalah
meihat gambaran umum pada plant operation, water treatment plant,
laboratorium dan process engineering.

1.3.1 Tujuan Magang Industri


Pelaksanaan Program Magang Industri bagi mahasiswa Politeknik Negeri
Samarinda khususnya program pendidikan Teknologi Kimia Industri memiliki
tujuan sebagai berikut :
1. Memenuhi persyaratan akademik, yaitu Mata Kuliah Magang Industri yang
wajib diikuti oleh Mahasiswa S1 Terapan Program Studi Teknologi Kimia
Industri Politeknik Negeri Samarinda yang dilaksanakan minimal 4 bulan.
2. Sebagai salah satu syarat kelengkapan kurikulum dalam menempuh
pendidikan S1 Terapan Program Studi Teknologi Kimia Industri Politeknik
Negeri Samarinda .
3. Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman bagi Mahasiswa S1 Terapan
Program Studi Teknologi Kimia Industri Politeknik Negeri Samarinda agar
dapat menghubungkan ilmu yang didapat di bangku kuliah dengan praktik
yang dijumpai di lapangan.

1.3.2 Pelaksanaan Magang Industri


Dalam pengumpulan data (informasi) penulis melakukan studi lapangan
dan studi pustaka.
1. Studi Lapangan
Data yang kami peroleh dari studi lapangan berasal dari:
a. Pengamatan selama magang 4ontrol4.
b. Bimbingan mentor, kru 4ontrol dan narasumber lain.
2. Studi Pustaka
Yaitu mencari informasi dengan cara mempelajari jurnal, dokumen dan
buku-buku yang berhubungan.
BAB II
TATA LETAK PABRIK, ORGANISASI DAN SEGI EKONOMIS
PERUSAHAAN

2.1 Tata Letak Pabrik


PLTGU Tanjung Batu terletak di Tanjung Batu, Desa Embalut,
Tenggarong Sebrang Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Jarak
tempuh sekitar 25 km ke arah barat daya Samarinda dengan waktu tempuh 45
menit jalan darat dan 60 menit menyusuri Sungai Mahakam.
Luas area PLTGU Tanjung Batu ini 20 Ha dari 183 Ha yang disediakan
Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur.

Gambar 2.1 Denah PLTGU Tanjung Batu


Keterangan
1. Kantor PLTGU Tanjung 7. PT. Semco
Batu 8. Gas Skid
2. Gudang 9. Clorination Plant
3. Workshop 10. Pump House Water
4. Tangki Bahan Bakar 11. Blackstart Diesel
5. Tangki Busa 12. Service Water Tank
6. Gas Plant 13. HRSG 1 & 2
14. Water Treatment Plant 21. Kantor Rolls Royce
15. Steam Turbine Area (Custome Building)
16. Gas Turbine 22. Lokasi Evakuasi
17. UCP GT 1 & 2 23. Security
18. Main Trafo 20 KV 24. Pump House Hydrant
19. Ruangan Operator (DCS) 25. Dermaga Bahan Bakar
20. Switch Yard 26. Demine Water Tank
Tata letak pabrik PLTGU Tanjung Batu terlihat seperti gambar 2.1. Dari
gambar keseluruhan PLTGU Tanjung Batu akan dijelaskan tata letak unit
produksi yang terdiri dari unit PLTG dan PLTU.
Unit PLTG yang terdiri dari Kompresor, Combustion Chamber (Ruang
Bakar), Gas Turbine (1 & 2) dan Generator terletak dalam satu area yang
ditunjukkan oleh nomor 16, yang letaknya bersebelahan dengan HRSG (1 & 2)
yang ditunjukkan oleh nomor 13 karena gas buang dari Gas Turbine langsung
menuju HRSG.
Unit PLTU yang terdiri dari HRSG (1 & 2), Steam Turbine dan Generator.
Untuk Steam Turbine dan Generator terletak dalam satu area yang ditunjukkan
oleh nomor 15, area ini bersebelahan dengan Unit Utilitas (Water Treatment
Plant)dan bersebelahan dengan area PLTG.
Berikut adalah gambar dari PLTGU Tanjung Batu :

GAMBARNYA MANA?????
2.2 Organisasi dan Segi Ekonomis Perusahaan
2.2.1 Struktur Organisasi
PLTGU Tanjung Batu dipimpin oleh Manager Unit PLTGU yang

bertanggung jawab kepada Manager Sektor Mahakam yang dibantu oleh

beberapa kepala seksi menurut fungsinya.Sedangkan dalam lingkup pembangkit,

Kepala PLTGU bertanggung jawab atas semua bidang kegiatan pembangkitan

listrik.

Gambar 2.3 Struktur Organisasi PLTGU Tanjung Batu


Dalam lingkup proses produksi listrik, ada beberapa jabatan yang

mempunyai peranan dalam pengoperasian mesin, antara lain;

1. Operator bertugas untuk mengoperasikan mesin pembangkit listrik dengan

aman, mencatat parameter-parameter mesin, membuat laporan gangguan mesin

yang terjadi serta pencatatan-pencatatan dan pelaporan atas kondisi abnormal

yang terjadi pada mesin yang sedang beroperasi.

2. Maintenance bertugas untuk melakukan pemeliharaan pada sisi mekanikal

peralatan, melakukan perbaikan, pemeriksaan dan analisa terhadap mesin

pembangkit listrik yang beroperasi maupun tidak beroperasi serta menjaga

kebersihan lingkungan area mesin.

3. Staff Harlist (Pemeliharaan listrik) bertugas melakukan pemeliharaan pada sisi

elektrikal, pemeriksaan dan pencegahan kerusakan terhadap mesin pembangkit

listrik serta menjaga kebersihan pada panel-panel bertegangan.

4. Staff administrasi dan lingkungan kegiatan administrasi terhadap surat keluar-

masuk, laporan agenda bulanan dan pengawasan lingkungan kerja.

2.2.2 Segi Ekonomis Perusahaan


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Bahan
3.1.1 Bahan Utama
Bahan utama yang diguanakan oleh PLTGU Tanjung Batu adalah
HSD (High Speed Diesel).HSD merupakan bahan bakar jenis solar yang
digunakan untuk mesin diesel yang memiliki performa untuk jumlah
cetane 45-48. Pada dasarnya bahan bakar ini diperuntukkan untuk
kendaraan bermotor dan bahan bakar peralatan industri.
HSD (High Speed Diesel) pada Pembangkit Listrik di Tanjung
Batu disuplai oleh PT.KPM dan PT.AKR. Penggunaan HSD di PLTGU
Tanjung pada bulan Januari 2016 adalah 5.870.839 Liter dan pada bulan
Februari 2017 mencapai 1.990.769 kiloLiter. Jumlah Pemakaian HSD
tidak tentu jumlahnya, bergantung pada lamanya operasi dan beban
pembangkit yang dihasilkan karena semakin besar beban yang dihasilkan
maka putaran turbin akan semakin cepat sehingga memerlukan
pembakaran yang lebih besar.
3.1.2 Bahan Penunjang
Pada PLTGU Tanjung Batu, air dari Sungai Mahakam
merupakan bahan baku untuk HRSG di unit PLTU. Air yang tingkat
kekeruhannya (turbidity) masih tinggi diproses menjadi air jernih
(Service Water) yang kemudian di proses menjadi Demin Water. Standar
air yang diizinkan masuk ke HRSG (boiler) adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Feed Water

Feed Water Analysis

Appearance Clear and colourless


Total Iron (as Fe) (ppm) 0.01 max
Total Copper (as Cu) (ppm) 0.003 max
Oil and grease (ppm) 0.1 max
Hardness Not detectable
Carbonates Not detectable
Bicarbonates Not detectable
Conductivity (s/cm) 0.2 max
Silica (as SiO2) (ppm) 0.02 max
TDS (ppm) 0.1 max
pH (after dosing) 8.5 to 9.2 *
Dissolved O2 (after dosing) (ppm) 0.02 max *
Sumber : Operation & Maintenance Instruction Samarinda CCPP, 1995

Tabel 3.2 Boiler Water


HP CIRCUIT LP CIRCUIT
Appearance Clear & colourless Clear & colourless
Total hardness Not detectable Not detectable
Molar ratio (Na)/(PO4) < 2.8 < 2.8
Dissolved oxygen (ppb)
with reducing agent in Not detectable Not detectable
excess
pH at 25oC 9.5 to 10.5 9.5 to 10.5
Total iron (ppb) < 0.5 < 1.0
Total copper (ppb) < 0.1 < 0.3
Conductivity (S/cm)-
< 1400 < 5000
recommended value
Silica (ppm SiO2) < 10 < 100
Phosphate (ppm PO4) 1 to 15 10 to 20

3.2 Sistem Proses


Combined Cycle Power Plant (CCPP) adalah jenis pembangkit listrik
yang paling efisien dibandingkan dengan pambangkit tenaga listrik lainnya.
Sistem dayanya disebut siklus kombinasi (combined cycle) yang merupakan
perpaduan antara siklus turbin gas atau siklus terbuka atau siklus Brayton
(PLTG) dan siklus turbin uap atau siklus tertutup atau siklus Rankine(PLTU). Di
PLTGU Tanjung Batu, penggunaan siklus kombinasi ini dilakukan agar gas
buang dari turbin gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energy untuk
menggerakkan turbin uap, karena gas buang dari turbin gas yang masih
bertemperatur tinggi 750C dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air
sehingga menghasilkan superheated. Alat yang digunakan untuk memanfaatkan
panas gas buang dari turbin gas adalah HRSG (Heat Recovery System
Generator) yang prinsip kerjanya sama dengan boiler. Gas buang dari turbin gas
tidak langsung dibuang melalui bypass stack akan tetapi sebagian masuk ke
HRSG. Setelah masuk ke HRSG maka gas sisa pembakaran tadi dimanfaatkan
untuk memanaskan air dan air tersebut akan berubah menjadi uap bertekanan
tinggi yang kemudian digunakan untuk memutar turbin. Hasil pembuangan akan
dikondensasi dan dialirkan kembali ke HRSG. Begitu seterusnya sehingga
terbentuk siklus tertutup.

Gambar 2.1 Siklus Combined Cycle Power Plant

3.2.1 PLTG (Siklus Turbin Gas)


Prinsip kerja PLTG di PLTGU Tanjung Batu sama halnya dengan
prinsip kerja di PLTG Peaking, yaitu udara bebas dihisap oleh kompresor
untuk menghasilkan udara bertekanan yang digunakan sebagai udara
pembakaran. Kompresor menghasilkan tekanan udara terkompresi
mencapai 10,5 barg. Akibat dari meningkatnya tekanan, maka suhu udara
keluar kompresor juga naik mencapai 280 315C.
Udara bertekanan tersebut dikabutkan dengan bantuan nozzle
menuju Combustion Chamber (ruang bakar) bersama dengan bahan
bakar (bahan bakar yang digunakan PLTGU Tanjung Batu adalah
HSD).Gas panas hasil pembakaran yang memiliki temperatur 600 -
800C diarahkan untuk memutar turbin gas.Turbin berputar, generator
pun ikut berputar dan listrik pun dihasilkan.
Berbeda dengan PLTG Peaking, yang mana gas sisa dari memutar
turbin gas hanya dibuang ke atmosfir melali bypass stack. Gas buang dari
turbin di PLTGU Tanjung Batu yang masih bertemperatur 750C tidak
langsung dibuang melalui bypass stackakan tetapi sebagian masuk ke
HRSG.
3.2.2 PLTU (Siklus Turbin Uap)
Di siklus turbin uap, mula mula air demin dipompa oleh demin
transfer pump menuju bagian bawah kondensor yang disebut hot well.
Dari hot well air dipompakan dengan condensate extraction pump ke
deaeratoruntuk menghilangkan O2 dan gas-gas lain yang terkandung
dalam air, disamping itu juga deaerator berfungsi sebagai pemanas air
namun suhunya dipertahankan < 100C tidak sampai titik didih air agar
tidak banyak air yang terbuang menjadi uap. Dari deaerator air demin
tersebut dibagi menjadi 2 aliran sebagai umpan HRSG yaitu
HPCircuitdan LP Circuit.
Sebelum dipompakan menuju HRSG air umpan tersebut
diinjeksikan dengan Hydrazine (N2H4).Hydrazine merupakan suatu
reduktor yang memiliki hasil samping nitrogen dan air.Oleh karena itu,
Hydrazinedigunakan sebagai inhibitor korosi yang dapat mengontrol
konsentrasi oksigen terlarut untuk mengurangi korosi.
Selanjutnya pada HPCircuit air umpan dipompakan oleh HP Feed
Pump menuju HP Economizer. Di HP Economizer air yang sudah
bersuhu hampir 100C dipanaskan hingga mencapai suhu 140C.Setelah
dipanaskan di economizer air tersebut dialirkan menuju HP Steam Drum.
Dari HP Steam Drum air yang sudah menjadi uap basah berada di
bagian atas yang kemudian masuk ke HP Superheater dan air yang
belum menjadi uap disirkulasikan dengan HP Circulation Pump ke HP
Evaporator untuk mengubah air yang sudah berada pada titik didih
menjadi uap basah dan kemudian akan dikembalikan menuju HP Steam
Drum sebagai uap basah dengan temperatur 460C yang selanjutnya
masuk ke HP Superheater.
Di HP Superheater uap basah akan dirubah menjadi uap kering
yang memiliki temperatur 500-550C, uap kering tersebut kemudian
digunakan untuk memutar HPSteam Turbine.Uap buangan dari HP
Steam Turbineyang masih bersuhu 450Cselanjutnya digunakan untuk
memutar LP Steam Turbine.
Pada LP Circuit air umpan dari deaeratordipompakan oleh LP
Feed Pump menuju LP Economizer. Sama halnya dengan HP
Economizer, di LP Economizer air yang sudah bersuhu hampir 100C
dipanaskan hingga mencapai suhu 140C. Setelah dipanaskan di
economizer air tersebut dialirkan menuju LP Steam Drum.
Dari LP Steam Drum air yang sudah menjadi uap basah berada di
bagian atas yang kemudian masuk ke LP Superheater dan air yang belum
menjadi uap disirkulasikan dengan LP Circulation Pump ke LP
Evaporator untuk mengubah air yang sudah berada pada titik didih
menjadi uap basah dan kemudian akan dikembalikan menuju LP Steam
Drum sebagai uap basah dengan temperatur 210C yang selanjutnya
masuk ke LP Superheater.
Di LP Superheater uap basah akan dirubah menjadi uap kering
yang memiliki temperatur 250C. Uap kering dari LP Superheater
bersamaan dengan uap panas buangan dari HP Steam Turbine digunakan
untuk memutar LP Steam Turbine.
HP & LP Steam Turbin berputar maka generator pun ikut
berputar dan menghasilkan listrik.
Uap panas buangan dari LP Steam Turbine selanjutnya
dikondensasikan di kondensor yang kemudian disirkulasikan kembali ke
Hot Well sebagai umpan boiler hingga menjadi uap kering, begitu
seterusnya sehingga membentuk siklus tertutup.
GAMBARNYA

PLTGU Tanjung Batu menggunakan jenis unfired, dimana energi


gas buang digunakan sebagai input energi.
PLTGU Tanjung Batu memiliki 2 Gas Turbin, 2 HRSG dan 1
Steam Turbin. Total daya yang di hasilkan sebesar 60 MW.

3.3 Sistem Pemroses dan Instrumentasi

3.4 Produk?????

3.5 Utilitas dan Pengolahan Limbah


3.5.1 Unit Utilitas atau Water Treatment Plant (WTP)
Unit utilitas atau Water Treatment Plant di PLTGU Tanjung Batu
dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu Pre-Treatment dan Demineralisasi.
1. Pre-Treament
Pre Treatment adalah proses pengolahan air tahap awal, di mana
air sungai yang tingkat kekeruhannya (turbidity) masih tinggi diproses
menjadi air jernih. Air olahan dari Pre Treatment disebut air service.
Berikut Flow Diagram Pre-Treatmentdi PLTGU Tanjung Batu:
Gambar 3.2 Flow Diagram Pre-treatment PLTGU Tanjung Batu
Air sungai Mahakam sebagai intake di PLTGU Tanjung Batu di
filter oleh Bar Screen atau bangunan penangkap air untuk menghilangkan
kotoran-kotoran yang hanyut bersama air sungai. Bangunan penangkap
air terdiri dari 3 bagian yaitu :
a. Pintu air yang dilengkapi dengan saringan besar untuk menghambat
kotoran-kotoran besar seperti kayu-kayu hanyut yang berukuran besar.
Pintu air ini terletak pada pinggir sungai, yang kerapatan saringannya
kurang lebih 10 cm x 100 cm, luas 10 m x 2,5 m.
b. Penyaring sedang sebagai penangkap kotoran kotoran yang agak
besar yang lolos dari saringan besar.
c. Strainer merupakan penyaring yang ada pada pompa.
Air sungai yang sudah bebas dari kotoran dipompakan menuju
Reactivator Clarifier.Pompa air sungai terdiri dari 2 jenis pompa, yaitu :
a. 2 unit pompa otomatis : Pompa ini bekerja secara otomatis pada level
air aman atau level air tidak rendah.
b. Pompa emergency : Pompa ini dioperasikan jika pompa otomatis
rusak atau level air sungai berada pada low level.
Sebelum masuk ke unit Reactivator Clarifier dilakukan
penambahan Alumunium Sulfat pada air di dalam pipa, hal ini dilakukan
agar Alumunium Sulfat bereaksi terlebih dahulu dengan kotoran dari air
sungai sebelum bereaksi dengan Polyelectrolyte. Reaksi Alumunium
Sulfat dalam air adalah sebagai berikut :
Al2(SO4)3 . 18 H2O + 6 H2O 2Al(OH)3 + 3H2SO4 +18 H2O ... (1)
H2SO4 yang dihasilkan dari penambahan Alumunium Sulfat akan
menyebabkan air bersifat asam, oleh karena itu selain Alumunium Sulfat
diinjeksikan pulaLime pada air di dalam pipa untuk mengoptimalkan nilai
pH agar reaksi kimia pada proses berjalan dengan baik. Injeksi Lime
dilakukan apabila pH air berada pada <7.
Penambahan Lime juga dilakukan pada Reactivator Clarifier.Selain
untuk menetralkan pH, Lime juga dapat digunakan untuk melunakkan air
sadah. Karena air sadah mengandung ion-ion Ca2+ dan Mg2+ yang dapat
membentuk endapan berupa kerak yang akan menempel pada mesin-
mesin. Untuk itulah ditambah Lime agar membentuk endapan kapur dan
magnesium :
Ca(HCO3)2 + Ca(OH)2 2CaCO3+ 2H2O (2)
Mg(HCO3)2 + Ca(OH)2 MgCO3+ CaCO3 + 2H2O (3)
Pada Reactivator Clarifier ditambahkan pula Polyelectrolyte.
Polyelectrolyte ditambahkan untuk membantu koagulan yang bertindak
untuk menjembatani bergabungnya pratikel dan gumpalan yang sudah
terbentuk menjadi pratikel-partikel yang berukuran lebih besar (Flok)
sehingga dapat mengendap dengan sendirinya (karena gravitsai), proses
flokulasi dilakukan dengan cara pengadukan lambat (Slow Mixing).
Air bersih hasil klarifikasi dialirkan ke Break Tank sebagai tempat
penampungan sementara.
Dari Break Tank air dipompa dengan Clarified Water Pump
menuju Dual Media Filter untuk disaring kembali. Bagian isian Dual
Media Filter adalah :
a. Bagian bawah :Bagian ini berisi pasir besar yang memiliki ukuran 8
16 mesh sebanyak 300 liter.
b. Bagian tengah :Bagian ini berisi pasir yang memiliki ukuran 14 25
mesh sebanyak 1900 liter.
c. Bagian atas :Pada bagian ini berisi arang antrachite sebanyak 1100
liter.
Partikel tersuspensi yang ada pada air akan terkumpul di Dual
Media Filter akibat proses filtrasi. Terbentuknya padatan dalam filter
secara berahap akan menyebabkan media filter tersumbat sehingga
meningkatkan differential pressure dan dalam jangka waktu tertentu akan
menyebabkan berkurangnya kecepatan aliran. Oleh karena itu perlu
dilakukan backwash secara berkala untuk menghilangkan padatan yang
terakumulasi. Backwash pada Dual Media Filter di PLTGU Tanjung
Batu biasanya dilakukan saat differential pressure pada alat
menunjukkan tekanan sebesar 0.4 bar.
1. Dwell
Dwell dilakukan selama 1 menit, yaitu mendiamkan isi vessel sebelum
proses Backwash.
2. Drain Down
Drain down dilakukan selama 3,15 menit/189 detik, yaitu proses
pengeluran air sisa produksi dari dalam vessel.
3. Air Scour
Air Scour merupakan proses pengadukan isi vessel menggunakan
udara agar padatan yang menyumbat di filter dapat terpisah dari media
filter. Proses ini dilakukan selama 10 menit.
4. Dwell
Isi vessel didiamkan kembali selama 1 menit agar media filter kembali
ketempatnya semula setelah proses pengadukan oleh udara.
5. Backwash
Mengalirkan air dari bawah keatas dengan filter backwash pump
selama 8 menit agar kotoran pada filter dapat keluar.
6. Dwell
Isi vessel didiamkan kembali selama 1 menit agar media filter kembali
ketempatnya semula setelah proses backwash.
7. Refill
Pengisian ulang tangki Dual Media Filter dengan air service.
8. Rinse
Air diumpankan masuk dari atas vessel untuk menghilangkan sisa-sisa
kotoran yang tertinggal dipermukaan, dinding ataupun di dasar vessel,
kemudian kotoran tersebut dibuang keluar bersama air bilasan. Rinse
dilakukan selama 4,4 menit.
Air yang telah difilter disebut dengan Service Water yang dialirkan
menuju Service Water Storage Tank sebagai tempat penampungan air
yang telah melalui proses Pre-Treatment.

2. Demineralisasi
Untuk menghasilkan air dengan kemurnian yang tinggi dilakukanlah
proses Demineralisasi. Air ini sering disebut dengan air demin. Di
PLTGU Tanjung Batu, air demin ini digunakan sebagai air umpan untuk
boiler. Demineralisasi berfungsi untuk membebaskan air dari unsur-
unsur silika, sulfat, chloride (klorida) dan karbonat dengan menggunakan
resin. Berikut Flow Diagram dari proses Demineralisasi di PLTGU
Tanjung Batu :

Gambar 3.3 Flow Diagram Demineralisasi PLTGU Tanjung Batu


Air Service dari Service Water Storage Tank di pompa oleh
Demin Feed Pump menuju Activated Carbon Filters. Di dalam Activated
Carbon Filters air service kembali di filter dengan bahan karbon seperti
arang aktif, air yang keluar dari unit ini memiliki konduktifitas yang
lebih rendah dari pada sebelummnya, memiliki kadar turbiditi yang lebih
rendah dan menghilangkan bau pada air.Dari Activated Carbon Filter air
dialirkan menuju Cation Units.Cation Unitbertujuan untuk
menghilangkan unsur-unsur logam yang berupa ion-ion positif yang
terdapat dalam air seperti Ca2+, Mg2+, dan Na+ ditukar dengan ion H+
yang dimiliki resin sehingga kation-kation tersebut terikat dengan resin
dan air yang keluar hanya mengandung ion H+. Reaksi reaksi yang
dapat terjadi di Cation Unitssebagai berikut :
CaSO4 + -C-SO3-H+-C-SO3Ca2+ + H2SO4 (4)
MgCl + -C-SO3-H+-C-SO3Mg2++ HCl (5)
NaHCO3 + -C-SO3-H+ -C-SO3 Na+ + H2CO3 (6)
Selanjutnya air yang sudah bebas dari ion-ion positif dialirkan
menuju Anion Units. Pada Anion Units terjadi pengikatan ion-ion negatif
oleh resin, anion-anion tersebut seperti SO42-, Cl-, dan CO32- ditukar
dengan anion OH- yang dimiliki resin sehingga air yang keluar dari unit
ini hanya memiliki anion OH-. Reaksi reaksi yang terjadi di Anion
Units sebagai berikut :
HCl+ CH2N(CH3)3-OH- C-NH4-Cl- + H2O (7)
H2SO4 + CH2N(CH3)3-OH-C-NH4-SO42- + H2O (8)
H2CO3+ CH2N(CH3)3-OH-C-NH4-CO32- + H2O (9)
H2SiO3 + CH2N(CH3)3-OH- C-NH4-SiO3- + H2O ..(10)
Reaksi-reaksi diatas menghasilkan air murni yang hanya
mengandung unsur H2O, oleh karena itu air demin selalu bersifat netral.
Selanjutnya air outletAnion Units masuk ke Mix Bed Units, unit
ini merupakan gabungan dari unit kation dan unit anion.Bagian atas unit
ini adalah unit anion dan bagian bawah unit ini adalah unit kation.Mix
Bed Units ini berfungsi untuk menghilangkan sisa-sisa logam atau asam
dari proses sebelumnya, sehingga diharapkan air yang keluar dari Mix
Bed Units memiliki tingkat kemurnian yang cukup tinggi.
Air yang bebas mineral tersebut atau disebut air demin
dimasukkan ke Demin Water Storage Tank yang selanjutnya digunakan
sebagai air umpan boiler.
Standar dari Demin Water adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Demin Water Analysis
Demin WaterAnalysis
Appearance Clear and colourless
Total iron (as Fe) (ppm) 0.01 max
Total copper (ac Cu) (ppm) 0.003 max
Oil and grease (ppm) 0.1 max
Hardness Not detectable
Carbonates Not detectable
Bicarbonates Not detectable
Conductivity (S/cm) 0.2 max @ 25C
Silica (as SiO2) (ppm) 0.02 max
TDS (ppm) 0.1 max
Sumber : Operation & Maintenance Instruction Samarinda CCPP, 1995

Sampai bulan Februari 2016 produksi Demin Water adalah 200-


300 m3/bulan.
Unit anion, kation, dan mix bed dapat mengalami kejenuhan yaitu
kondisi dimana resin-resin yang berada didalam unit sudah penuh
mengikat ion-ion positif dan negatif sehingga tidak mampu lagi untuk
mengikat ion-ion positif dan negatif yang berada pada air service.
Untuk menghindari hal tersebut dilakukanlah regenerasi agar ion-
ion positif maupun negatif yang terikat pada resin terlepas sehingga resin
dapat digunakan kembali untuk mengikat ion-ion yang ada pada air
service.
Regenerasi di Water Treatment Plant PLTGU Tanjung Batu
dilakukan setiap produksi air demin telah mencapai volume 180 m3.
Proses regenerasi unit anion dan kation dilakukan dengan langkah-
langkah sebagai berikut :
1. Dwell: mendiamkan isi tangki selama 1 menit.
2. Sub Surface Backwash :air demin dari Demin Storage Tank dipompa
dengan Demin Feed Pump selama 10 menit, dialirkan melalui dasar
tangki dengan kecepatan yang sangat tinggi bertujuan untuk
membuang/membersihkan sisa kotoran yang menempel pada pada
resin.
3. Settle: menenangkan resindi dalam tangki kation selama 4 menit dan
14 menit untuk tangki anion.
4. Drain Down : membuang hasil sub surface backwash.
5. Acid Pre-Inject :mengalirkan air demin sebelum injeksi acid.
Caustic Pre-Inject : mengalirkan air demin sebelum injeksi caustic.
6. Acid Inject: menginjeksikan HCl 3,5% pada unit kation
menggunakan HCl Pump dan Regen Water Pump dilakukan selama
32 menit, hal ini bertujuan untuk mengikat kation pada resin.
Caustic Inject : menginjeksikan NaOH 2,8% pada unit anion
menggunakan NaOH Pump dan Regen Water Pumpdilakukan selama
25 menit, hal ini bertujuan untuk mengikat anion pada resin.
7. Acid Displacement: membuang sisa acid di stream kation dengan
Regen Water Pumpselama 35 menit.
Caustic Displacement : membuang sisa caustic di stream anion
dengan Regen Water Pumpselama 42 menit.
8. Refill : mengisi ulang tangki kation selama 4,7 menitdantangki anion
selama 12,3 menit dengan air demin yang dipompa melalui Demin
Feed Pump.
9. Rinse to Drain : pembilasan dan pengangkatan kotoran yang telah
diproses menggunakan air demin selama 8 menit pada unit kation
dan selama 12,3 menit pada unit anion.
10. Recycle: tahap terakhir dari proses regen dengan mengalirkan air dari
tangki demin masuk ke unit kation maupun anion selama 25 menit
sampai memperoleh kondisi terbaik yaitu konduktivitas 300 s/cm
dan pH 3-4 untuk unit kation dan kondisi terbaik untuk unit anion
adalah konduktivitas 10 s/cm, silica 0,02 ppm, dan pH 8-10.
Proses regenerasi pada Mix Bed Units adalah sebagai berikut :
1. Dwell: mendiamkan isi tangki selama 1 menit.
2. Backwash:Mengalirkan air dari bawah keatas dengan Demin Feed
Pumps selama 10 menit agar kotoran pada resin dapat keluar.
3. Settle: menenangkan resin didalam tangki selama 5 menit.
4. Caustic Pre-Inject : mengalirkan air demin sebelum injeksi caustic.
5. Caustic Pre-Inject dan Acid Pre-Inject : mengalirkan air demin
sebelum injeksi caustic dan acid selama 1 menit dengan Regen
Water Pump.
6. Caustic Inject dan Acid Inject: menginjeksikan HCl 3,5% dan NaOH
2,8% menggunakan HCl Pumps, NaOH Pumps, dan Regen Water
Pumps dilakukan selama 20 menit.
7. Caustic Displacement dan Acid Displacement: membuang sisa
causticdan acid di stream menggunakan Regen Water Pumpsselama
26 menit.
8. Drain Down: membuang hasil backwash.
9. Air Blow: menghamburkan resin dengan cara pengadukan
menggunakan udara.
10. Forced Settle: menenangkan resin secara cepat selama 1 menit
menggunakan Regen Water Pump agar resin kembali ke posisi
semula sesuai dengan massa jenisnya masing-masing, kation berada
diatas dan anion berada dibawah.
11. Refill: mengisi ulang tangki dengan air demin yang dipompa melalui
Regen Water Pumps.
12. Rinse: pembilasan dan pengangkatan kotoran yang telah diproses
menggunakan air demin yang dipompa dengan Demin Feed Pumps
selama 2,5 menit.
13. Recycle: tahap terakhir dari proses regen dengan mengalirkan air dari
tangki demin dengan Demin Feed Pump ke unit Mix Bed selama 15
menit sampai memperoleh kondisi terbaik yaitu konduktivitas 0,2
s/cm, silica 0,02 ppm, dan pH 6-7.

3.5.2 Unit Pengolahan Limbah


Limbah yang dihasilkan oleh PLTGU Tanjung Batu dan PLTG
Peaking adalah limbah cair yang berupa campuran antara air, solar, dan
oli. Sumber-sumber dari limbah cair tersebut yaitu :
1. Hasil regenerasi di WTP (Water Treatment Plant)
2. Air bilasan saat pemisahan solar dan impuritsnya di separator yang
dilakukan setiap dua jam sekali, yang mana efisiensi pemisahan tidak
sempurna 100% sehingga ada solar yang terikut keluar bersama air
bilasan
3. Rembesan oli pelumas mesin di unit-unit PLTGU dan PLTG
4. Kebocoran yang terjadi pada pipa-pipa solar dan oli.
Limbah tersebut bercampur menjadi satu karena memiliki aliran drainase
yang sama.
Selanjutnya limbah tersebut diolah di WWTP (Waste Water
Treatment Plant).Di WWTP limbah ditampung di Collecting Pond.
Dengan Collection Transfer Pump limbah dipompakan dari Colleting
Pond menuju Oil Trap Tank dimana air dan minyak dipisahkan
berdasarkan perbedaan massa jenis menggunakan Scrapper.
Limbah minyak yang sudah terpisah masuk ke Waste Oil Pond
yang selanjutnya akan diolah oleh pihak ketiga yaitu PT. Putra Daerah
Mandiri Jaya (PT. PDMJ). Sedangkan limbah air masuk ke
Neutralization Tank dimana terjadi proses treatment koagulasi dan
flokulasi serta penginjeksian acid ataupun caustic untuk menjaga pH
limbah tetap netral 7. Limbah air yang sudah ditreatment tersebut
kemudian masuk ke Oil Trap untuk mengendapkan sisa minyak yang
masih terikut, kemudian air tersebut langsung dibuang ke Sungai
Mahakam. Berikut Flow Diagram WWTP secara sederhana :
Gambar 3.4 Flow Diagram WWTP
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Dari magang industri yang telah dilakukan di PLTGU Tanjung Batu dapat
disimpulkan bebrapa hal, yaitu :
1. PLTGU Tanjung Batu di bawah tanggung jawab PT. PLN (Persero) Wilayah
KALTIMRA Sektor Pembangkitan Mahakam mulai beroprasi sejak 15
Januari 1997 memiliki 2 unit produksi utama yaitu PLTGU Tanjung Batu
dan PLTG Peaking yang dibangun pada tahun 2012.
2. PLTGU Tanjung Batu merupakan salah satu pembangkit listrik yang
menggunakan siklus kombinasi (Combined Cycle) yaitu perpaduan antara
siklus turbin gas atau siklus Brayton (PLTG) dan siklus turbin uap atau siklus
Rankine (PLTU).
3. PLTGU Tanjung Batu merupakan salah satu pembangkit listrik yang efisien
dibandingkan pembangkit lainnya, karena sisa gas buang dari turbin gas
PLTG di manfaatkan sebagai sumber energi pada HRSG di PLTU.
4. Bahan bakar yang digunakan oleh PLTGU Tanjung batu adalah solar jenis
HSD (High Speed Diesel).
5. Selain dua unit utama, PLTGU Tanjung Batu memiliki Unit Utilitas yang
menyediakan kebutuhan air bagi keperluan pabrik dan community.
6. Limbah yang dihasilkan PLTGU Tanjung Batu adalah limbah cair yang
berupa campuran antara solar, oli , dan air.
7. Pengolahan limbah yang berupa campuran solar, oli, dan air di PLTGU
Tanjung Batu dan PLTG Peaking adalah pemisahan berdasarkan prinsip
massa jenis

4.2 Saran
1. Sebaiknya bahan bakar yang digunakan adalah gas alam karena panas yang
dihasilkan jauh lebih besar serta hasil pembakaran yang bersih dan hampir
tidak menghasilkan emisi buangan yang dapat merusak lingkungan
(memancarkan 60-90% lebih sedikit polutan asap).
2. Melakukan perawatan alat secara berkala agar alat dapat digunakan dalam
jangka waktu yang lama dan kinerja pabrik dapat berjalan lancar, aman dan
lebih efisien.
3. Sebaiknya drainase limbah antara air hasil regen dan solar-oli dapat
dibedakan agar mudah dalam penanganannya.