Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

Sinusitis adalah peradangan pada satu atau lebih mukosa sinus paranasal
dengan gejala berupa buntu hidung, nyeri fasial dan pilek kental (purulen). 1,2 Secara
teoritik penyakit ini dapat ditemukan pada bayi/ (infant), karena sinus maksila dan
etmoid sudah terbentuk sejak lahir. Penderita sinusitis biasanya datang berobat ke
dokter umum atau Spesialis THT. Penyakit ini cukup sering diketemukan yaitu sekitar
20 % dari penderita yang datang di praktek dokter.3 Di Amerika tahun 1995, sinusitis
merupakan salah satu dari 10 penyakit terbanyak yang datang ke praktek dengan
estimasi 25 juta kunjungan ke dokter.2 Cukup banyak kasus sinusitis yang tidak dapat
diatasi dengan pengobatan konservatif sehingga harus ditangani dengan cara operasi.
Sampai sekarang sinusitis masih merupakan masalah kesehatan utama, baik di negara
berkembang maupun negara maju.1,4,5
Biaya pengobatan rinosinusitis tergolong mahal. Di Amerika tahun 1996,
pengeluaran total untuk pelayanan kesehatan yang berkaitan langsung dengan
rinosinusitis diperkirakan sebesar 5,8 milyar dollar. Dari angka tersebut, 58,7%
(sekitar 3,5 milyar dollar) berkaitan dengan rinosinusitis kronik. Diperkirakan
sebanyak 13,4 - 25 juta kunjungan ke dokter per tahun dihubungkan dengan
rinosinusitis dan / atau akibatnya. Meskipun rinosinusitis kebanyakan disebabkan oleh
infeksi virus dan sebagian besar sembuh tanpa terapi antibiotika, penyakit ini
dilaporkan sebagai salah satu dari lima penyakit terbanyak yang diberi antibiotika
dengan hampir 13 juta resep ditulis dokter setiap tahunnya. Tindakan operasi selama
tahun 1994 berupa bedah sinus dilakukan pada sekitar 170. 000 sampai 200.000
kasus.6
Pada tahun 1996, American Academy of Otolaryngology - Head and Neck
Surgery mengusulkan untuk mengganti terminologi sinusitis dengan rinosinusitis.
Istilah rinosinusitis dianggap lebih tepat karena menggambarkan proses penyakit
dengan lebih akurat. Hal ini mendukung konsep "one airway disease", yaitu penyakit
di salah satu bagian saluran napas akan cenderung berkembang ke bagian yang lain.1,2

1
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


- Nama : Ny. W
- Umur : 36 tahun
- Jenis kelamin : Perempuan
- Alamat : Payo Selincah
- Agama : Islam
- Pekerjaan : Guru
- Pendidikan : S1
- Pekerjaan ayah/ibu : Pedagang
- Pendidikan ayah/ibu : SD

2.2 Anamnesis
Keluhan Utama
Keluar cairan berbau dari lubang hidung kiri
Riwayat Perjalanan Penyakit
Keluar cairan dari lubang hidung kiri yang dialami sejak kurang lebih satu
tahun yang lalu. Cairan berwarna hijau kental dan berbau amis yang semakin
hari berubah menjadi berbau busuk. Cairan sering keluar terutama jika sedang
menunduk. Keluhan disertai rasa seperti tertelan lendir dari hidung bagian
belakang. Keluhan disertai rasa tersumbat pada hidung kiri disertai nyeri
kepala sebelah kiri. Os juga mengeluh sering keluar cairan dari liang telinga
kiri. Cairan jernih tidak berbau. Cairan sering keluar bersamaan jika keluhan
pada hidung sedang berlangsung. Keluhan keluar cairan dari telinga tidak
didahului nyeri telinga maupun demam. Os juga mengeluh telinga kiri
berdenging.
Riwayat Pengobatan
Os mulai berobat jalan di bagian THT sejak bulan April 2017 karena keluhan
keluar cairan berbau dari lubang hidung kiri, bau berkurang dengan cuci
hidung, disarankan irigasi sinus maksila.
Riwayat Penyakit Dahulu

2
Os mengaku sejak muda tidak tahan terpajan debu, jika terpajan sering
mengalami bersin-bersin dan hidung meler; Os memiliki riwayat sakit gigi dan
cabut gigi pada rahang kiri atas kurang lebih 1 tahun yang lalu; Tifoid (+);
Malaria (+); Riw. Pembedahan SC (+)
Riwayat Penyakit Keluarga
Alergi (-); Hipertensi (+); DM (-)

2.3 Pemeriksaan Fisik


- Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan
- Kesadaran : compos mentis
- Pernapasan : 20 i/x
- Suhu : 36,6 C
- Nadi : 84 i/x
- TD : 110/80 mmHg

a) Telinga
Daun Telinga Kanan Kiri
Anotia/mikrotia/makroti - -
a
Keloid - -
Perikondritis - -
Kista - -
Fistel - -
Ott hematoma - -
Liang Telinga Kanan Kiri
Atresia - -
Serumen prop - -
Epidermis prop - -
Korpus alineum - -
Jaringan granulasi - -
Exositosis - -
Osteoma - -
Furunkel - -
Membrana Timpani Kanan Kiri

3
Hiperemis - -
Retraksi - -
Bulging - -
Atropi - -
Perforasi - (+)
Bula - -
Sekret - -
Retro-aurikular Kanan Kiri
Fistel - -
Kista - -
Abses - -
Pre-aurikular Kanan Kiri
Fistel - -
Kista - -
Abses - -

b) Hidung
Rinoskopi Anterior Kanan Kiri
Vestibulum nasi Sekret (-), Hiperemis (-), Sekret (-), Hiperemis (-),
bisul(-), krusta (-), polip (-), bisul (-), krusta (-), polip (-),
edema (-) edema (-)
Kavum nasi Sekret (+), pucat (+), edema Sekret (+), pucat (+), edema
mukosa (-) mukosa (-)
Selaput lender Pucat (+) Pucat(+)
Septum nasi Deviasi (-) Deviasi (-)
Lantai + dasar hidung Dbn Dbn
Konka inferior Hipertrofi (+), pucat (+), Hipertrofi (+), pucat (+)
edema (+) edema (+)
Meatus nasi inferior Sekret (+) Sekret (+)
Konka media Edema (-), pucat (+), Edema (-), pucat (+),
hipertropi (-) hipertropi (-)
Meatus nasi media Sekret (-) Sekret (-)
Polip - -
Korpus alineum - -

4
Massa tumor - -
Rinoskopi Posterior Kanan Kiri

Kavum nasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan


Selaput lender Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Koana Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Septum nasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Konka superior Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Adenoid Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Massa tumor Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Transiluminasi Kanan Kiri
Sinus
Sinus Maxillaris Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sinus Frontalis Tidak dilakukan Tidak dilakukan

c) Mulut
Hasil
Selaput lendir mulut Dbn
Bibir Sianosis (-) raghade (-), sudut bibir (N), gerakan bibir (N)
Lidah Atropi papil (-),aptae (-),tumor (-), parese (-)
Gigi Karies (+)
Kelenjar ludah Dbn

d) Faring
Hasil
Uvula Bentuk normal, terletak ditengah, permukaan rata. Edema (-), hiperemis
(-)
Palatum mole Hiperemis (-)
Palatum durum Hiperemis (-)
Plika anterior Dbn
Tonsil Dekstra : tonsil T1, hiperemis (-), permukaan rata, kripta melebar (-),
detritus (-)
Mobilitas normal
Sinistra : tonsil T1, hiperemis (-), permukaan rata, kripta melebar (-),
detritus (-)
Mobilitas normal
Plika posterior Hiperemis (-)
Mukosa orofaring Hiperemis (-), granula (-)

5
e) Laringoskopi indirect
Hasil
Pangkal lidah Tidak dilakukan
Epiglottis Tidak dilakukan
Sinus piriformis Tidak dilakukan
Aritenoid Tidak dilakukan
Plika vocalis Tidak dilakukan
Massa Tidak dilakukan

f) Kelenjar Getah Bening Leher


Kanan Kiri

Regio I Dbn Dbn


Regio II Dbn Dbn
Regio III Dbn Dbn
Regio IV Dbn Dbn
Regio V Dbn Dbn
Regio VI Dbn Dbn
area Parotis Dbn Dbn
Area postauricula Dbn Dbn
Area occipital Dbn Dbn
Area supraclavicula Dbn Dbn

g) Pemeriksaan Audiologi
Tes Pendengaran Kanan Kiri
Tes rinne (+) (-)
Tes weber Tidak ada lateralisasi lateralisasi
Tes schwabach Sama dg pemeriksa/N memanjang
Kesimpulan : Fungsi Pendengaran telinga kiri curiga tuli konduktif

2.4 Diagnosis
1. Rinosinusitis Kronis Maksilaris Sinistra tanpa Polip
2. OMSK Benign stadium aktif Auricula Sinistra
3. Suspect Rhinitis Alergi

2.5 Diagnosis Banding


6
1. Rhinosinusitis Akut; Rhinitis Atrofi; Rhinosinusitis Dentogen;
Rinosinusitis Kronis maksila sinistra dengan polip
2. OMSK Maligna stadum aktif Auricula Sinistra
3. Rhinitis Vasomotor, NARES

2.6 Penatalaksanaan
Diagnostik
Darah Rutin
Uji cukit kulit/ Skin Prick Test
Sitologi Sekret Hidung
Kultur Bakteri
Nasoendoskopi
o Meatus medius sinistra pus (+)
o Prosesus Uncinatus sinistra menebal (+)
o Sekret Nasofaring (+)
X ray SPN : Posisi Waters
CT SCAN Kepala & Leher
o Sinusitis maksilaris sinistra
o Penebalan mukosa sinus maksilaris dekstra
o Konka Nasal Hipertrofi
Terapi
Cuci Hidung NaCl 0.9%
Ciprofloxacin 2 x 500 mg
Ambroxol HCl syr 30 mg 2 cth
Prednison topikal
Rhinos (pseudoefedrin HCl 15 mg + CTM 1 mg) syr

2.7 Monitoring
- Follow up keluhan
2.8 KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
- Menjelaskan kepada pasien mengenai tujuan dan manfaat pengobatan yang
diberikan

7
- Memberitahu pasien pentingnya follow up dan terapi yang adekuat
- Memberitahukan pasien menghindari kontak dengan debu
- Memberitahukan pasien untuk menjaga kebersihan rongga hidung dan mulut

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi & Fisologi Sinus Paranasal

8
Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi
hidung, sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior
dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrum highmore) dan sinus
sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan
lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung
melalui ostium masing-masing.7

Gambar 2.1 Sinus Paranasal


Pada meatus inferior terdapat muara duktus lakrimalis. Pada meatus
medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka inferior
rongga hidung, terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni
muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoidalis anterior. Pada meatus
superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media
terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid. Mukus yang
dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar mukosa didorong ke dalam hidung oleh kerja
silia-silia sel-sel silindris. Drainase mukus juga dibantu oleh tenaga menyedot
saat membuang ingus.7
Vaskularisasi
Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari arteri etmoidalis
anterior dan posterior yang merupakan cabang dari arteri oftalmika dari arteri
karotis eksterna. Bagian bawah mendapat pendarahan dari cabang arteri
maksilaris interna,diantaranya ialah ujung arteri palatine mayor dan arteri
sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina dan memasuki rongga
hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan septum
terdapat anastomosis dari cabang-cabang arteri sfenopalatina,arteri edmoidalis

9
anterior,arteri labialis superior dan arteri palatina mayor yang di sebut pleksus
kisselbach.7

Gambar 2.2 Vaskularisasi kavum nasi


Innervasi
Hidung luar diinervasi oleh divisi oftalmika mempercabangkan n.
Intocoklearis yang membawa sensasi dari dorsum nasi bagian tulang dan n.
Nasalis eksternus yang membawa sensasi atap hidung bagian caudal. Pada
kavum nasi dan sinus, N. Ethmoidalis anterior cabang n. Oftalmika membawa
sensasi dari kavum nasi bagian antro-superior, septum dan sinus ethmoidalis,
N.ethmoidalis posterior membawa sensasi dari cavum nasi posterior dan sinus
yang berdekatan, N. Supraorbital dan supratroclear membawa sensasi dari
sinus frontalis.7
Persarafan simpatis berasal dari N. Spinales T1-T2, menuju glandula
cervicalis, manuju n. Petrusus propundus bersama-sama dengan n. Superfisial
mayor ( canalis vidianus ) membentuk n. Sfenopalatinus yang berfungsi untuk
mengecilkan konka.7
Persarafan parasimpatis berasal dari nucleus salivatorius superior,
dibawa oleh n. Petrosus superfisialis mayor, melalui canalis n. Vidianus.
bersinapsis pada ganglion sphenopalatina menjadi n. Sphenopalatinus yang
berfungsi membengkakan konka misalnya dalam keadaan dingin.7
Limfatik
Drainase limfatik bagian luar dan bagian depan dari hidung drainase
kearah mandibular limfenodi kemudian bagian atas limfenodi jugulare
kemudian menuju limfe nodi retropharyngeal. drainase bagian atas dari
rongga hidung berhungan dengan ruangan subarachnoid sekitar nervus
olfactorius.7

10
Gambar 3.3 Hubungan sinus paranasal terhadap rongga hidung

Sinus paranasal merupakan ruang udara yang berada di tengkorak. Bentuk


sinus paranasal sangat bervariasi pada tiap individu dan semua sinus memiliki
muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Ada delapan sinus paranasal, empat
buah pada masing-masing sisi hidung. Anatominya dapat dijelaskan sebagai
berikut: sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan
posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sphenoid
kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan
mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui
ostium masing-masing8
Secara embriologis, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga
hidung dan perkembangannya pada fetus saat usia 3-4 bulan, kecuali sinus
frontalis dan sphenoidalis. Sinus maksilaris dan ethmoid sudah ada saat anak
lahir sedangkan sinus frontalis mulai berkembang pada anak lebih kurang
berumur 8 tahun sebagai perluasan dari sinus etmoidalis anterior sedangkan
sinus sphenoidalis berkembang mulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari
postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar
maksimum pada usia 15-18 tahun. Sinus frontalis kanan dan kiri biasanya tidak
simetris dan dipisahkan oleh sekat di garis tengah9.
Sinus paranasal divaskularisasi oleh arteri carotis interna dan eksterna serta
vena yang menyertainya seperti a. ethmoidalis anterior, a. ethmoidalis posterior

11
dan a. sfenopalatina. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara
konka superior dan konka media terdapat muara sinus ethmoid posterior dan
sinus sphenoid. Berdasarkan ukuran sinus paranasal dari yang terbesar yaitu
sinus maksilaris, sinus frontalis, sinus ethmoidalis dan sphenoidalis10.
Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi:
a. Grup Anterior:
Frontal, maksilaris dan ethmoidalis anterior
Ostia di meatus medius
Pus dalam meatus medius mengalir kedalam faring
b. Grup Posterior:
Ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis
Ostia di meatus superior
Pus dalam meatus superior mengalir kedalam faring
Sinus Maksilaris
- Terbentuk pada usia fetus bulan IV yang terbentuk dari prosesus maksilaris
arcus I.
- Bentuknya piramid, dasar piramid pada dinding lateral hidung, sedang
apexnya pada pars zygomaticus maxillae.
- Merupakan sinus terbesar dengan volume kurang lebih 15 cc pada orang
dewasa.
- Berhubungan dengan:
Cavum orbita, dibatasi oleh dinding tipis (berisi n. infra orbitalis) sehingga
jika dindingnya rusak maka dapat menjalar ke mata.
Gigi, dibatasi dinding tipis atau mukosa pada daerah P2 Mo1ar.
Ductus nasolakrimalis, terdapat di dinding cavum nasi.
- Suplai darah terbanyak melalui cabang dari arteri maksilaris. Inervasi mukosa
sinus melalui cabang dari nervus maksilaris.
Sinus Frontalis
- Sinus frontalis mulai terbentuk sejak bulan keempat fetus, berasal dari sel-sel
resessus frontal atau dari sel-sel infundibulum ethmoid. Sinus ini dapat
terbentuk atau tidak.

12
- Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya
2 cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-
lekuk.Tidak simetris kanan dan kiri, terletak di os frontalis.
- Volume pada orang dewasa 7cc.
- Bermuara ke infundibulum (meatus nasi media).
- Berhubungan dengan3:
Fossa cranii anterior, dibatasi oleh tulang compacta.
Orbita, dibatasi oleh tulang compacta.
Dibatasi oleh Periosteum, kulit, tulang diploic.
- Suplai darah diperoleh dari arteri supraorbital dan arteri supratrochlear yang
berasal dari arteri oftalmika yang merupakan salah satu cabang dari arteri
carotis inernal. Inervasi mukosa disuplai oleh cabang supraorbital dan
supratrochlear cabang dari nervus frontalis yang berasal dari nervus
trigeminus
Sinus Ethmoid
- Terbentuk pada usia fetus bulan IV.
- Saat lahir, berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil), saat dewasa terdiri dari 7-
15 cellulae, dindingnya tipis.
- Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon, terletak antara hidung
dan mata
- Berhubungan dengan3:
Fossa cranii anterior yang dibatasi oleh dinding tipis yaitu lamina cribrosa.
Jika terjadi infeksi pada daerah sinus mudah menjalar ke daerah cranial
(meningitis, encefalitis dsb).
Orbita, dilapisi dinding tipis yakni lamina papiracea. Jika melakukan
operasi pada sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah masuk ke
daerah orbita sehingga terjadi Brill Hematoma.
Nervus Optikus.
Nervus, arteri dan vena ethmoidalis anterior dan pasterior.
- Suplai darah berasal dari cabang nasal dari a. sphenopalatina. Inervasi
mukosa berasal dari divisi oftalmika dan maksilari nervus trigeminus
Sinus Sphenoidal
- Terbentuk pada fetus usia bulan III
- Terletak pada corpus, alas dan Processus os sphenoidalis.
13
- Volume pada orang dewasa 7 cc.
- Berhubungan dengan3:
Sinus cavernosus pada dasar cavum cranii.
Glandula pituitari, chiasma n.opticum.
Tranctus olfactorius.
Arteri basillaris brain stem (batang otak)
- Suplai darah berasal dari arteri carotis internal dan eksternal. Inervasi
mukosa berasal dari nervus trigeminus.
Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior
dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus
semilunaris yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid
anterior.
Kompleks Ostio-Meatal
Di meatus medius, ada muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus
frontal dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan sempit dan dinamakan
kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang
terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan
sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila10,11

3.2 Fisiologi
Sampai saat ini belum ada kesesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus
paranasal. Beberapa pendapat mengenai fungsi sinus paranasal antara lain12:
a. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah karena
ternyata tidak didapati pertukaran udara yang definitive antara sinus dan
rongga hidung. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan
kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.
b. Sebagai penahan suhu (termal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi
orbita dan fossa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
c. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang
muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan
14
memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori
dianggap tidak bermakna.
d. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi
sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator
yang efektif. Lagipula tidak ada korelasi antara resonansi suara dan
besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
e. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus.
f. Membantu produksi mucus
Jumlahnya kecil dibandingkan dengan mucus dari rongga hidung, namun
efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara
inspirasi karena mucus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling
strategis.

3.3 Rhinosinusitis
Definisi
Hingga saat ini telah banyak dikemukakan definisi rinosinusitis kronik
tanpa polip nasi oleh para ahli dengan kriterianya tersendiri, antara lain:13,14
1. Menurut Kennedy tahun 1993 (pada Konferensi Internasional Penyakit
Sinus, Princeton New Jersey), sinusitis kronik adalah sinusitis persisten
yang tidak dapat disembuhkan hanya dengan terapi medikamentosa,
disertai adanya hiperplasia mukosa dan dibuktikan secara radiografik. Pada
orang dewasa, keluhan dan gejala berlangsung persisten selama delapan
minggu atau terdapat empat episode atau lebih sinusitis akut rekuren,
masing-masing berlangsung minimal sepuluh hari, berkaitan dengan
perubahan persisten pada CT-scan setelah terapi selama empat minggu
tanpa ada pengaruh infeksi akut
2. Menurut Task Force on Rhinosinusitis (TFR) 1996 disponsori oleh
American Academy of Otolaryngology / Head and Neck Surgery (AAO-
HNS), disebut rinosinusitis kronik bila rinosinusitis berlangsung lebih dari
dua belas minggu dan diagnosa dikonfirmasi dengan kompleks faktor

15
klinis mayor dan minor dengan atau tanpa adanya hasil pada pemeriksaan
fisik. Tabel 1 menunjukkan faktor klinis mayor dan minor yang berkaitan
dengan diagnosis rinosinusitis kronik. Bila ada dua atau lebih faktor mayor
atau satu faktor mayor disertai dua atau lebih faktor minor maka
kemungkinan besar rinosinusitis kronik. Bila hanya satu faktor mayor atau
hanya dua faktor minor maka rinosinusitis perlu menjadi diferensial
diagnose.

Tabel 1. Faktor-faktor yang berkaitan dengan diagnosis rinosinusitis kronik, terdiri dari faktor mayor
(utama) dan faktor minor (pelengkap).7
Major factors Minor factors
Facial pain, pressure (alone does not constitute a suggestive Headache
history for rhinosinusitis in absence of another major symptom) Fever
Facial congestion, fullness (all nonacute)
Nasal obstruction/blockage Halitosis
Nasal discharge/ purulence/ discolored nasal drainage Fatigue
Hyposmia/anosmia Dental pain
Purulence in nasal cavity on examination Cough
Fever (acute rhinosinusitis only) in acute sinusitis alone does not Ear pain/pressure/
constitute a strongly supportive history for acute in the absence Fullness
of another major nasal symptom or sign

3. Definisi rinosinusitis kronik terbaru dinyatakan dalam makalah EP3OS


tahun 2007 yaitu suatu inflamasi pada (mukosa) hidung dan sinus
paranasal, berlangsung selama dua belas minggu atau lebih disertai dua
atau lebih gejala dimana salah satunya adalah buntu hidung (nasal
blockage / obstruction / congestion) atau nasal discharge (anterior /
posterior nasal drip) :13
nyeri fasial / pressure
penurunan / hilangnya daya penciuman
dan dapat di dukung oleh pemeriksaan penunjang antara lain
Endoskopik, dimana terdapat : polip atau sekret mukopurulen
yang berasal dari meatus medius dan atau udem mukosa primer
pada meatus medius
CT scan : perubahan mukosa pada kompleks ostiomeatal dan
atau sinus paranasal.

16
Berdasarkan definisi yang terakhir, dapat dilihat bahwa rinosinusitis
dapat dibedakan lagi menjadi kelompok dengan polip nasi dan kelompok
tanpa polip nasi. EP3OS 2007 menyatakan bahwa rinosinusitis kronik
merupakan kelompok primer sedangkan polip nasi merupakan
subkategori dari rinosinusitis kronik. Alasan rasional rinosinusitis kronik
dibedakan antara dengan polip dan tanpa polip nasi berdasarkan pada
beberapa studi yang menunjukkan adanya gambaran patologi jaringan
sinus dan konka media yang berbeda pada kedua kelompok tersebut.15

Etiologi dan Faktor Risiko


Kesehatan sinus bergantung pada sekresi mukus yang normal baik dari
segi viskositas, volume dan komposisi; transport mukosiliar yang normal
untuk mencegah stasis mukus dan kemungkinan infeksi; serta patensi
kompleks ostiomeatal untuk mempertahankan drainase dan aerasi.16
Kompleks ostiomeatal (KOM) merupakan tempat drainase bagi
kelompok sinus anterior (frontalis, ethmoid anterior dan maksilaris) dan
berperan penting bagi transport mukus dan debris serta mempertahankan
tekanan oksigen yang cukup untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Obstruksi
ostium sinus pada KOM merupakan faktor predisposisi yang sangat berperan
bagi terjadinya rinosinusitis kronik. Namun demikian, kedua faktor yang
lainnya juga sangat berperan bagi terjadinya rinosinusitis kronik. Interupsi
pada satu atau lebih faktor diatas akan mempengaruhi faktor lainnya dan
kemudian memicu terjadinya kaskade yang berkembang menjadi rinosinusitis
kronik dengan perubahan patologis pada mukosa sinus dan juga mukosa nasal,
seperti yang tergambar pada gambar 2 dibawah ini.16

17
Gambar 2. Siklus patologis rinosinusitis kronik, perubahan pada salah satu faktor
akan mengakibatkan terjadinya proses yang berkelanjutan dengan hasil akhirnya
adalah rinosinusitis kronik.

Etiologi rinosinusitis akut dan rinosinusitis kronik berbeda secara


mendalam. Pada rinosinusitis akut, infeksi virus dan bakteri patogen telah
ditetapkan sebagai penyebab utama. Namun sebaliknya, etiologi dan
patofisiologi rinosinusitis kronik bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya
diketahui; rinosinusitis kronik merupakan sindrom yang terjadi karena
kombinasi etiologi yang multipel. Ada beberapa pendapat dalam
mengkategorikan etiologi rinosinusitis kronik. Berdasarkan EP3OS 2007,
faktor yang dihubungkan dengan kejadian rinosinusitis kronik tanpa polip nasi
yaitu ciliary impairment, alergi, asma, keadaan immunocompromised, faktor
genetik, kehamilan dan endokrin, faktor lokal, mikroorganisme, jamur,
osteitis, faktor lingkungan, faktor iatrogenik, H.pylori dan refluks
laringofaringeal.16
Publikasi Task Force (2003) menyatakan bahwa rinosinusitis kronik
merupakan hasil akhir dari proses inflamatori dengan kontribusi beberapa
faktor yaitu faktor sistemik, faktor lokal dan faktor lingkungan. Berdasarkan
ketiga kelompok tersebut, maka faktor etiologi rinosinusitis kronik dapat
dibagi lagi menjadi berbagai penyebab secara spesifik, ini dapat dilihat pada
tabel 2 berikut. James Baraniuk (2002) mengklasifikasikan bermacam
kemungkinan patofisiologi penyebab rinosinusitis kronik menjadi rinosinusitis
inflamatori (berdasarkan tipe infiltrat selular yang predominan) dan
rinosinusitis non inflamatori (termasuk disfungsi neural dan penyebab lainnya
seperti hormonal dan obat).15 Rinosinusitis inflamatori kemudian dibagi lagi
berdasarkan tipe infiltrasi selular menjadi jenis eosinofilik, neutrofilik dan
kelompok lain.16

18
Tabel 2. Faktor etiologi rinosinusitis kronik, dikelompokkan masing-masing berdasarkan
faktor genetik/fisiologik, lingkungan dan struktural.

Genetic/PhysiologicFactors Environmental Factors Structural Factors


Airway hyperreactivity Allergy Septal deviation
Immunodeficiency Smoking Concha bullosa
Aspirin sensitivity Irritants/pollution Paradoxic middle
turbinate
Ciliary dysfunction Viruses Haller cells
Cystic fibrosis Bacteria Frontal cells
Autoimmune disease Fungi Scarring
Granulomatous disorders Stress Bone inflammation
Craniofacial anomalies
Foreign bodies
Dental disease
Mechanical trauma
Barotrauma

Epidemiologi
Berdasarkan data dari National Health Interview Survey 1995, sekitar 17,4 %
penduduk dewasa Amerika Serikat (AS) pernah mengidap sinusitis dalam jangka
waktu 12 bulan. Dari survei yang dilakukan, diperkirakan angka prevalensi
rinosinusitis kronik pada penduduk dewasa AS berkisar antara 13-16 %, dengan kata
lain, sekitar 30 juta penduduk dewasa AS mengidap rinosinusitis kronik. Dengan
demikian rinosinusitis kronik menjadi salah satu penyakit kronik yang paling populer
di AS melebihi penyakit asma, penyakit jantung, diabetes dan sefalgia. Kennedy
melaporkan pada tahun 1994 adanya peningkatan jumlah kunjungan pasien sinusitis
kronik sebanyak 8 juta menjadi total 24 juta pertahun antara tahun 1989 dan 1992.16
Dari Kanada tahun 2003 diperoleh angka prevalensi rinosinusitis kronik
sekitar 5 % dengan rasio wanita berbanding pria yaitu 6 berbanding 4 (lebih tinggi
pada kelompok wanita).1,3 Berdasarkan penelitian divisi Rinologi Departemen THT-
KL FKUI tahun 1996, dari 496 pasien rawat jalan ditemukan 50 % penderita sinusitis
kronik. Chalabi 5 menemukan 31 % kasus rinosinusitis dari 100 orang pasien dengan
deviasi septum. Insiden septum deviasi dengan rinosinusitis kronis 1 tahun terakhir di
bagian THT-KL RS. M.Djamil Padang, Oktober 2010-September 2011 adalah 12
kasus 35.3% dari 34 pasien dengan septum deviasi yang menjalani operasi.16,17

Patofisiologi
Kegagalan transport mukus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan faktor
utama berkembangnya sinusitis. Patofisiologi rinosinusitis digambarkan sebagai
lingkaran tetutup, dimulai dengan inflamasi mukosa hidung khususnya kompleks
ostiomeatal (KOM). Secara skematik patofisiologi rinosinusitis sebagai berikut:
Inflamasi mukosa hidung -> pembengkakan (udem) dan eksudasi -> obstruksi
(blokade) ostium sinus - gangguan ventilasi & drainase, resorpsi oksigen yang ada di
rongga sinus -> hipoksi (oksigen menurun, pH menurun, tekanan negatif) ->
permeabilitas kapiler meningkat, sekresi kelenjar meningkat -transudasi, peningkatan
eksudasi serus, penurunan fungsi silia -> retensi sekresi di sinus pertumbuhan
kuman.18
Sebagian besar kasus rinosinusitis disebabkan karena inflamasi akibat dari
colds (infeksi virus) dan rinitis alergi. Infeksi virus yang menyerang hidung dan sinus
paranasal menyebabkan udem mukosa dengan tingkat keparahan yang berbeda. Virus
penyebab tersering adalah coronavirus, rhinovirus, virus influenza A, dan respiratory
syncytial virus (RSV).18
Pada pasien rinitis alergi, alergen menyebabkan respons inflamasi dengan
memicu rangkaian peristiwa yang berefek pelepasan mediator kimia dan
mengaktifkan sel inflamasi. Limfosit T-helper 2 (Th-2) menjadi aktif dan melepaskan
sejumlah sitokin yang berefek aktivasi sel mastosit, sel B dan eosinofil. Berbagai sel
ini kemudian melanjutkan respons inflamasi dengan melepaskan lebih banyak
mediator kimia yang menyebabkan udem mukosa dan obstruksi ostium sinus.
Rangkaian reaksi alergi ini akhirnya membentuk lingkungan yang kondusif untuk
pertumbuhan bakteri sekunder seperti halnya pada infeksi virus.18
Klirens dan ventilasi sinus yang normal memerlukan mukosa yang sehat.
Inflamasi yang berlangsung iama (kronik) sering berakibat penebalan mukosa disertai
kerusakan silia sehingga ostium sinus makin buntu. Mukosa yang tidak dapat kembali
normal setelah inflamasi akut dapat menyebabkan gejala persisten dan-mengarah pada
rinosinusitis kronik. Bakteri yang sering dijumpai pada rinosinusitis kronik adalah
Staphylococcus coagulase negatif (51%), Staphylococcus aureus (20%), anaerob
(3%), Streptococcus pneumoniae, dan bakteri yang sering dijumpai pada rinosinusitis
akut bakterial.18
Faktor yang berperan pada kronisitas rinosinusitis
Beberapa faktor yang telah diuraikan diatas dan interaksi imun-mikroba
berkontribusi pada kronisitas sinusitis.
1. Obstruksi (blokade) ostium sinus
Patensi ostium sinus ini merupakan hal yang sangat penting. Kesehatan sinus
bergantung pada sekresi mukosa dengan viskositas, volume, dan komposisi yang
normal, aliran mukosilier yang normal untuk mencegah stasis mukus dan infeksi,
ostium sinus yang selalu terbuka untuk drainase dan humidifikasi yang memadai.
Obstruksi ostium sinus yang berlangsung lama oleh karena berbagai sebab sering
menyebabkan penebalan mukosa, disfungsi silia, kerusakan mukosa, penurunan
klirens mukosilier dan pembentukan jaringan (polip, kista retensi / mukokel)18
2. Kelainan anatomi
Kelainan anatomi di beberapa atau seluruh struktur kompleks ostiomeatal
dapat menyebabkan obstruksi mekanis drainase sinus paranasal yang berlangsung
lama. Variasi anatomi yang sering dijumpai adalah septum deviasi (tonjolan, taji /
spur), sel agger nasi, prosesus unsinatus (menekuk kearah lateral, double middle
turbinate, kontak dengan lamina papirasea atau konka), konka bulosa, bula
etmoidalis yang besar, sel Halleryang menyempitkan infundibulum etmoidalis.18
3. Kelambatan pemulihan fungsi mukosilier
Mukostasis, hipoksia, produk mikroba, dan inflamasi kronik dapat
menyebabkan penurunan fungsi mukosilier sinus paranasal. Faktor lain yang
berkontribusi pada kelambatan klirens mukosilier yaitu perubahan sifat
viskoelastik mukus, penurunan jumlah silia, dan tanda ultrastruktur lain dari
kerusakan epitel.18

Manifestasi Klinis & Diagnosis


Kriteria Diagnosis
Berdasarkan definisi rinosinusitis kronik tanpa polip nasi menurut TFR 1996,
terdapat faktor klinis/ gejala mayor dan minor yang diperlukan untuk diagnosis.
Selanjutnya menurut Task Force on Rhinosinusitis (TFR) 2003, ada tiga kriteria yang
dibutuhkan untuk mendiagnosis rinosinusitis kronik, berdasarkan penemuan pada
pemeriksaan fisik seperti ditampilkan pada tabel 3. Diagnosis klinik ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang meliputi
transiluminasi, pemeriksaan radiologi, endoskopi nasal, CT-scan dan lainnya.16

Tabel 3. Kriteria diagnosis rinosinusitis kronik terdiri dari durasi dan pemeriksaan
fisik. Bila hanya ditemukan gambaran radiologis namun tanpa klinis
lainnya maka diagnosis tidak dapat ditegakkan.

REQUIREMENTS FOR DIAGNOSIS OF CHRONIC RHINOSINUSITIS


(2003 TASK FORCE)
Duration Physical findings (on of the following must be present)
>12 weeks of continuous 1. Discolored nasal discharge, polyps, or polypoid swelling
symptoms (as described by on anterior rhinoscopy (with decongestion) or nasal
1996 Task Force) or physical endoscopy
findings 2. Edema or erythema in middle meatus on nasal endoscopy

3. Generalized or localized edema, erythema, or


granulation tissue in nasal cavity. If it does not involve the
middle meatus, imaging is required for diagnosis
4. Imaging confirming diagnosis (plain filmsa or
computerized tomography)b

Diagnosis rinosinusitis kronik tanpa polip nasi (pada dewasa) berdasarkan


EP3OS 2007 ditegakkan berdasarkan penilaian subyektif, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang lainnya. Penilaian subyektif berdasarkan pada keluhan,
berlangsung lebih dari 12 minggu:16
1. Buntu hidung, kongesti atau sesak
2. Sekret hidung / post nasal drip, umumnya mukopurulen
3. Nyeri wajah / tekanan, nyeri kepala dan
4. Penurunan / hilangnya penciuman
Pemeriksaan fisik yang dilakukan mencakup rinoskopi anterior dan posterior. 1
Yang menjadi pembeda antara kelompok rinosinusitis kronik tanpa dan dengan nasal
polip adalah ditemukannya jaringan polip / jaringan polipoid pada pemeriksaan
rinoskopi anterior.Pemeriksaan penunjang yang dilakukan antara lain endoskopi nasal,
sitologi dan bakteriologi nasal, pencitraan (foto polos sinus, transiluminasi, CT-scan
dan MRI), pemeriksaan fungsi mukosiliar, penilaian nasal airway, fungsi penciuman
dan pemeriksaan laboratorium.16
Anamnesis
Anamnesis yang cermat dan teliti sangat diperlukan terutama dalam menilai
gejala-gejala yang ada pada kriteria diatas, mengingat patofisiologi rinosinusitis
kronik yang kompleks. Adanya penyebab infeksi baik bakteri maupun virus, adanya
latar belakang alergi atau kemungkinan kelainan anatomis rongga hidung dapat
dipertimbangkan dari riwayat penyakit yang lengkap. Informasi lain yang perlu
berkaitan dengan keluhan yang dialami penderita mencakup durasi keluhan, lokasi,
faktor yang memperingan atau memperberat serta riwayat pengobatan yang sudah
dilakukan. Beberapa keluhan/gejala yang dapat diperoleh melalui anamnesis dapat
dilihat pada tabel 1 pada bagian depan. Menurut EP3OS 2007, keluhan subyektif yang
dapat menjadi dasar rinosinusitis kronik adalah:16
1) Obstruksi nasal
Keluhan buntu hidung pasien biasanya bervariasi dari obstruksi aliran udara
mekanis sampai dengan sensasi terasa penuh daerah hidung dan sekitarnya
2) Sekret / discharge nasal
Dapat berupa anterior atau posterior nasal drip
3) Abnormalitas penciuman
Fluktuasi penciuman berhubungan dengan rinosinusitis kronik yang mungkin
disebabkan karena obstruksi mukosa fisura olfaktorius dengan / tanpa alterasi
degeneratif pada mukosa olfaktorius
4) Nyeri / tekanan fasial
Lebih nyata dan terlokalisir pada pasien dengan rinosinusitis akut, pada
rinosinusitis kronik keluhan lebih difus dan fluktuatif.
Selain untuk mendapatkan riwayat penyakit, anamnesis juga dapat digunakan
untuk menentukan berat ringannya keluhan yang dialami penderita. Ini berguna bagi
penilaian kualitas hidup penderita. Ada beberapa metode/test yang dapat digunakan
untuk menilai tingkat keparahan penyakit yang dialami penderita, namun lebih sering
digunakan bagi kepentingan penelitian, antara lain dengan SNOT-20 (sinonasal
outcome test), CSS (chronic sinusitis survey) dan RSOM-31 (rhinosinusitis outcome
measure)16
Pemeriksaan Fisik
Rinoskopi anterior dengan cahaya lampu kepala yang adekuat dan kondisi rongga
hidung yang lapang (sudah diberi topikal dekongestan sebelumnya)1,2,18 Dengan
rinoskopi anterior dapat dilihat kelainan rongga hidung yang berkaitan dengan
rinosinusitis kronik seperti udem konka, hiperemi, sekret (nasal drip), krusta,
deviasi septum, tumor atau polip.16
Rinoskopi posterior bila diperlukan untuk melihat patologi di belakang rongga
hidung.16
Pemeriksaan Penunjang
Transiluminasi, merupakan pemeriksaan sederhana terutama untuk menilai
kondisi sinus maksila. Pemeriksaan dianggap bermakna bila terdapat perbedaan
transiluminasi antara sinus kanan dan kiri.16
Endoskopi nasal, dapat menilai kondisi rongga hidung, adanya sekret, patensi
kompleks ostiomeatal, ukuran konka nasi, udem disekitar orifisium tuba,
hipertrofi adenoid dan penampakan mukosa sinus. Indikasi endoskopi nasal yaitu
evaluasi bila pengobatan konservatif mengalami kegagalan. Untuk rinosinusitis
kronik, endoskopi nasal mempunyai tingkat sensitivitas sebesar 46 % dan
spesifisitas 86 %.16
Radiologi, merupakan pemeriksaan tambahan yang umum dilakukan, meliputi X-
foto posisi Water, CT-scan, MRI dan USG. CT-scan merupakan modalitas pilihan
dalam menilai proses patologi dan anatomi sinus, serta untuk evaluasi
rinosinusitis lanjut bila pengobatan medikamentosa tidak memberikan respon. Ini
mutlak diperlukan pada rinosinusitis kronik yang akan dilakukan pembedahan.
Contoh gambaran CT-scan rinosinusitis kronik tanpa polip nasi pada orang
dewasa dapat dilihat pada gambar

Gambar 4. CT-scan penampang koronal menunjukkan rinosinusitis kronik akibat


konka bulosa sehingga mengakibatkan penyempitan KOM.
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan antara lain:16
1. Sitologi nasal, biopsi, pungsi aspirasi dan bakteriologi
2. Tes alergi
3. Tes fungsi mukosiliar : kliren mukosiliar, frekuensi getar siliar, mikroskop
elektron dan nitrit oksida
4. Penilaian aliran udara nasal (nasal airflow): nasal inspiratory peakflow,
rinomanometri, rinometri akustik dan rinostereometri
5. Tes fungsi olfaktori: threshold testing
6. Laboratorium : pemeriksaan CRP ( C-reactive protein)

Tatalaksana
Prinsip penatalaksanaan rinosinusitis kronik tanpa polip nasi pada orang
dewasa dibedakan menjadi dua yaitu penatalaksanaan medikamentosa dan
pembedahan. Pada rinosinusitis kronik (tanpa polip nasi), terapi pembedahan
mungkin menjadi pilihan yang lebih baik dibanding terapi medikamentosa. Adanya
latar belakang seperti alergi, infeksi dan kelainan anatomi rongga hidung memerlukan
terapi yang berlainan juga.19
Terapi Medikamentosa
Terapi medikamentosa memegang peranan dalam penanganan rinosinusitis
kronik yakni berguna dalam mengurangi gejala dan keluhan penderita, membantu
dalam diagnosis rinosinusitis kronik (apabila terapi medikamentosa gagal maka
cenderung digolongkan menjadi rinosinusitis kronik) dan membantu memperlancar
kesuksesan operasi yang dilakukan. Pada dasarnya yang ingin dicapai melalui terapi
medikamentosa adalah kembalinya fungsi drainase ostium sinus dengan
mengembalikan kondisi normal rongga hidung.19,20
Jenis terapi medikamentosa yang digunakan untuk rinosinusitis kronik tanpa polip
nasi pada orang dewasa antara lain:19,20,21,
1. Antibiotika, merupakan modalitas tambahan pada rinosinusitis kronik
mengingat terapi utama adalah pembedahan. Jenis antibiotika yang digunakan
adalah antibiotika spektrum luas antara lain:
a. Amoksisilin + asam klavulanat
b. Sefalosporin: cefuroxime, cefaclor, cefixime
c. Florokuinolon : ciprofloksasin
d. Makrolid : eritromisin, klaritromisin, azitromisin
e. Klindamisin
f. Metronidazole
2. Antiinflamatori dengan menggunakan kortikosteroid topikal atau sistemik.
a. Kortikosteroid topikal : beklometason, flutikason, mometason
b. Kortikosteroid sistemik : banyak bermanfaat pada rinosinusitis kronik dengan
polip nasi dan rinosinusitis fungal alergi
3. Terapi penunjang lainnya meliputi:
a. Dekongestan oral/topikal yaitu golongan agonis -adrenergik
b. Antihistamin
c. Stabilizer sel mast, sodium kromoglikat, sodium nedokromil
d. Mukolitik
e. Antagonis leukotrien
f. Imunoterapi
g. Lainnya: humidifikasi, irigasi dengan salin, olahraga, avoidance
terhadap iritan dan nutrisi yang cukup
Gambar. Rekomendasi Terapi Rinosinusitis22
Terapi Pembedahan
Terapi bedah yang dilakukan bervariasi dimulai dengan tindakan sederhana
dengan peralatan yang sederhana sampai operasi menggunakan peralatan canggih
endoskopi. Beberapa jenis tindakan pembedahan yang dilakukan untuk rinosinusitis
kronik tanpa polip nasi ialah:23
1. Sinus maksila:
a. Irigasi sinus (antrum lavage)
b. Nasal antrostomi
c. Operasi Caldwell-Luc
2. Sinus etmoid:
a. Etmoidektomi intranasal, eksternal dan transantral

Gambar Skema Tatalaksana Rinosinusitis kronis pada orang dewasa di Fasilitas Kesehatan Primer 22

Komplikasi
CT-Scan penting dilakukan dalam menjelaskan derajat penyakit sinus dan
derajat infeksi di luar sinus, pada orbita, jaringan lunak dan kranium. Pemeriksaan ini
harus rutin dilakukan pada sinusitis refrakter, kronis atau berkomplikasi.
a. Komplikasi orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering.
Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut, namun sinus
frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan
infeksi isi orbita.
Terdapat lima tahapan:
1. Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi
sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak,
karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering
kali merekah pada kelompok umur ini.
2. Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi
isi orbita namun pus belum terbentuk.
3. Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang
orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.
4. Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita.
Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang
lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan
kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang
makin bertambah.
5. Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui
saluran vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu
tromboflebitis septik.
Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari:
a) Oftalmoplegia.
b) Kemosis konjungtiva.
c) Gangguan penglihatan yang berat.
d) Kelemahan pasien.
e) Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang berdekatan
dengan saraf kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan juga dengan otak.
b. Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam
sinus, kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut
sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya.
Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sphenoidalis, kista ini dapat membesar
dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat
bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat
menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sphenoidalis, kista dapat menimbulkan
diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya.
Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel
meskipun lebih akut dan lebih berat.
Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua
mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus.
c. Komplikasi Intra Kranial
1) Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah
meningitis akut, infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang
saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding
posterior sinus frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel
udara ethmoidalis.
2) Abses dura, adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium,
sering kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga
pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu
menimbulkan tekanan intra kranial.
3) Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau
permukaan otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.
4) Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka
dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak.Terapi
komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase secara
bedah pada ruangan yang mengalami abses dan pencegahan penyebaran
infeksi.
d. Osteomielitis dan abses subperiosteal
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis
adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala
sistemik berupa malaise, demam dan menggigil.24

Prognosis
Prognosis tergantung dari ketepatan serta cepatnya penanganan yang
diberikan. Semakin cepat maka prognosis semakin baik. Pemberian antibiotika serta
obat-obat simptomatis bersama dengan penanganan faktor penyebab dapat
memberikan prognosis yang baik. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) akan
mengembalikan fungsi sinus dan gejala akan semubuh secara komplit atau moderat
sekita 80-90% pada pasien dengan sinusitis kronis rekuren atau sinusitis kronis yang
tidak responsive terhadap medikamentosa.24
BAB IV
ANALISIS KASUS

Pada kasus ini telah dilaporkan seorang wanita berusia berusia 36 tahun yang datang
dengan keluhan utama berupa keluar cairan berbau dari lubang hidung kiri sejak kurang lebih
1 tahun yang lalu. Cairan yang keluar berbau amis semakin hari berbau busuk, kental dan
berwarna hijau. Cairan paling sering keluar saat posisi menunduk pasien juga merasa seperti
ada cairan yang turun dari belakang hidung ke tenggorokan. Keluhan disertai rasa tersumbat
dan nyeri kepala sebelah kiri. Gejala yang ditemukan ini sesuai dengan manifestasi klinis
rinosinusitis kronis yang tertera baik pada task force 1997 maupun EP3OS 2007 dimana
menurut task force 1997 dikatakan rinosinusitis bila ada dua atau lebih faktor mayor atau satu
faktor mayor disertai dua atau lebih faktor minor. Pada kasus ini ditemukan kriteria mayor
berupa Nasal obstruction/blockage dan Nasal discharge/ purulence/ discolored nasal
drainage serta Headache sebagai kriteria minor. Sedangkan menurut EP3OS 2007, dikatakan
rinosinusitis terdapat dua atau lebih gejala dimana salah satunya adalah buntu hidung (nasal
blockage / obstruction / congestion) atau nasal discharge (anterior / posterior nasal drip)
yang dapat disertai nyeri fasial / pressure dan penurunan daya penciuman. Jika gejala tersebut
berlangsung lebih dari 12 minggu, maka dapat disebut sebagai rinosinusitis kronis.13,16
Dari pemeriksaan fisik, tidak terdapat pembengkakan pada wajah pasien khususnya di
daerah sinus maksila dan frontal serta tidak terdapat nyeri ketuk sinus. Rinoskopi anterior
memperlihatkan kedua konka inferior hipertrofi, mukosa cavum nasi pucat, terdapat sekret
minimal berwarna jernih di meatus inferior sinistra. Dari pemeriksaan penunjang,
nasoendoskopi didapatkan sekret pada meatus medius sinistra, prosesus uncinatus sinistra
menebal, dan terdapat sekret di nasofaring. Hasil CT scan kepala dan sinus paranasal
didapatkan sinusitis maksilaris sinistra, penebalan mukosa sinus maksilaris dekstra dan
hipertrofi konka. Temuan dari pemeriksaan fisik dan penunjang sesuai dengan manifestasi
klinis menurut Task Force 1996 dan EP3OS 2007 yaitu dari pemriksaan fisik dapat
ditemukan
sekret purulent/Purulence in nasal cavity on examination dan dari pemeriksaan penunjang
endoskopi dapat juga ditemukan sekret mukopurulen yang berasal dari meatus medius dan
atau udem mukosa primer pada meatus medius serta pada CTScan dapat terlihat perubahan
mukosa pada kompleks ostiomeatal dan atau sinus paranasal.13,16
Pasien mulai berobat jalan di bagian THT sejak bulan April 2017, namun keluhan
dirasa hanya sedikit berkurang dengan terapi cuci hidung dan obat-obatan serta pasien
disarankan untuk irigasi sinus maksila. Dari riwayat pengobatan tersebut, diketahui bahwa
setelah menjalan terapi konservatif selama beberapa bulan hingga saat ini, terapi hanya
mampu mengurangi namun tidak dapat menghentikan keluhan sehingga disarankan terapi
dalam bentuk tindakan yang lebih invasif. Hal ini sesuai dengan algoritma terapi rinosinusitis
yang dikeluarkan oleh EPSOS 2012 dimana pasien dengan rinosinusitis kronis awalnya dapat
diterapi secara konservatif menggunakan kortikosteroid topikal dan cuci hidung namun jika
setelah 4 minggu dinilai tidak ada perbaikan atau perbaikan minimal serta telah mengganggu
aktivitas dan kualitas hidup pasien maka dapat dipertimbangkan untuk dilakukan tindakan
pembedahan dengan setelahnya di follow up dan diberikan kortikosteroid topikal, cuci
hidung, kultur dan pemberian antibiotik jangka panjang.13
BAB V
KESIMPULAN

Hingga saat ini telah banyak dikemukakan definisi rinosinusitis kronik tanpa polip
nasi oleh para ahli tersendiri termasuk oleh Task Force on Rhinosinusitis (TFR) 1996 dan
EP3OS tahun 2007, namun secara umum rinosinusitis adalah suatu inflamasi pada (mukosa)
hidung dan sinus paranasal, berlangsung selama dua belas minggu atau lebih. Penyebab
rinosinusitis kronik bersifat multifaktorial antara lain inflamasi kronis, gangguan patensi
Kompleks Osteomeatal (KOM), gangguan klirens mukosilier serta peningkatan pertumbuhan
bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus ethmoid dan maksilaris.
Gejala umum rhinosinusitis kronis yaitu hidung tersumbat disertai dengan nyeri/rasa tekanan
pada muka dan ingus purulent, yang seringkali turun ke tenggorol (post nasal drip).
Diagnosis rinosinusitis kronis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang umumnya merujuk pada kriteria diagnosis seperti Task Force
for Rhinosinusitis (TFR) 1997 ataupun EP3OS 2007. Bahaya dari rinosinusitis adalah
komplikasinya hingga ke daerah orbita dan intrakranial. Prinsip penatalaksanaan rinosinusitis
kronik tanpa polip nasi pada orang dewasa dibedakan menjadi dua yaitu penatalaksanaan
medikamentosa dan pembedahan. Pada rinosinusitis kronik (tanpa polip nasi) terutama yang
tidak membaik dengan tatalaksana medikamentosa, terapi pembedahan menjadi pilihan yang
lebih baik dibanding terapi medikamentosa.
DAFTAR PUSTAKA

1. Campbell GD. Pathophysiology of Rhinosinusitis. In: (Adult chronic sinusitis and its complication).
Pulmonary critical care update (PCCU), 2004 :16, lesson 20,7
2. Hickner JM, Bartlett JG, Besser RE, Gonzales R, Hoftman JR, Sande MA. Principles of appropriate
antibiotics use acute Rhinosinusitis in adult. Ann Intern Med, 2001:134 (6), 498 - 505
3. Hamilos DL. Chronic sinusitis. Current revieuws of allergy and clinical immunology. 2000:106,213-27
4. Ressel G. Sinus and allergy health partnership release report on adult chronic rhinosinusitis. American
Family Physic J Practice guidelines, May 1,2004
5. Puruckher M, Byrd R, Roy T, Krishmaswamy G. The diagnosis and management of Chronic
Rhinosinusitis. Departf medicine East Tennesse State Univ. Johnson City. E-mail:
Krishnas(S>etsu.edu.2 July 2004
6. Fagnan U. Acute sinusitis: A costefective approach to diagnosis and treatment. American family
physician, 19Sj Nov 15, 1-10
7. Lasiyo S. Rinosinusitis Akut. Ilmu Penyaki Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2012
8. Pletcher SD, Golderg AN. 2003. The Diagnosis and Treatment of Sinusitis. In advanced Studies in
Medicine. Vol 3 no.9. PP. 495-505
9. Damayanti dan Endang. Sinus Paranasal. Dalam: Efiaty, Nurbaiti, editor. Buku Ajar Ilmu Kedokteran
THT Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit FK UI, Jakarta 2002, 115 119.
10. Shyamal, Kumar DE. Fundamental of Ear, Nose and Throat & Head-Neck Surgery. Calcuta: The New
Book Stall; 1996. 191-8
11. Rukmini S, Herawati S. Teknik Pemeriksaan Telinga Hidung & Tenggorok. Jakarta: EGC; 2000. 26-48
12. Mangunkusumo, Endang, Soetjipto D. Sinusitis dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Dan Leher. FKUI. Jakarta 2007. Hal 150-3
13. Fokkens W, Lund V, Mullol J, et al. European position paper on rhinosinusitis and nasal polyps.
Rhinology, 2007; 45(suppl 20): 1-139.
14. Gosepath J, Mann WJ. Current concepts in therapy of chronic rhinosinusitis and nasal polyposis.
ORL,2005; 67: 125-136.
15. Clement PAR. Classification of rhinosinusitis. In Brook I, eds. Sinusitis from microbiology to
management. New York: Taylor & Francis, 2006; 15-34.
16. Selvianti, Kristyono I. Patofisiologi, Diagnosis Dan Penatalaksanaan Rinosinusitis Kronik Tanpa Polip
Nasi Pada Orang Dewasa. Bagian Ilmu Kesehatan THT FK Unair/RSU Soetomo Surabaya. 2007
17. Budiman JB, Azani S. Rinosinusitis dengan variasi Kavum Nasi. Bagian Ilmu Kesehatan THT FK
Unand/Rs. M. Djamil Padang. 2012
18. Kentjono WA. Rinosinusitis: Etiologi dan Patofisiologi. Bagian Ilmu Kesehatan THT FK Unair/RSU
Soetomo Surabaya. 2004
19. Mulyarjo. Terapi medikamentosa pada rinosinusitis. In Mulyarjo, Soedjak S, Kentjono WA, Harmadji
S, JPB Herawati S, eds. Naskah lengkap perkembangan terkini diagnosis dan penatalaksanaan
rinosinusitis. Surabaya: Dep./SMF THT-KL Univ.Airlangga,2004; 59-65.
20. Clerico DM. Medical treatment of chronic sinus disease. In Kennedy DW, Bolger WE, Zinreich SJ,
eds. Diseases of the sinuses diagnosis and management. Hamilton: BC Decker Inc,2001;155-165.
21. Chiu AG, Becker DG. Medical management of chronic rhinosinusitis. In Brook I, eds. Sinusitis from
microbiology to management. New York: Taylor & Francis, 2006; 219-229.
22. Fokkens WJ, Lund VJ, Mullol J, Bachert C, Alobid I, Baroody F, et al. European Position Paper on
Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012. Rhinol Suppl. 2012 Mar(23): 1-298.;
23. Siswantoro. Tatalaksana bedah pada rinosinusitis. In Mulyarjo, Soedjak S, Kentjono WA, Harmadji S,
JPB Herawati S, eds. Naskah lengkap perkembangan terkini diagnosis dan penatalaksanaan
rinosinusitis. Surabaya: Dep./SMF THT-KL Univ.Airlangga,2004; 67-74.
24. Iszar Ra. Rinosinusitis Kronis. Ilmu Kepaniteraan Bagian Telinga Hidung Dan Tenggorokan Fakultas
Kedokteran Universitas Yarsi Rsud Kota Cilegon. 2015