Anda di halaman 1dari 56

PRODUKSI OBAT GEL MATA ( ALOEVENTO ) DARI SENYAWA

BIOAKTIF ANTRAKUINON EKSTRAK LIDAH BUAYA (Aloe vera)


DALAM PENGOBATAN KONJUNGTIVITIS

Disusun oleh :

Mochammad Arfin Fardiansyah Nasution ( 1606841742 )


Agustinus C B Kantale ( 1606931233 )
Nurjanah ( 1606958916 )
Dian Princessa Oktasea N ( 1706081580 )
Resky Dwi Cahyati ( 1706081624 )
Elsafira Ariavianti ( 1706989065 )

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS INDONESIA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Organ mata merupakan salah satu organ terpenting bagi manusia, dengan
mata yang normal manusia mampu melihat berbagai hal, termasuk mendapatkan
informasi secara visual.Namun, gangguan pada penglihatan seringkali terjadi, hal
tersebut dapat disebabkan beberapa faktor diantaranya, kontaminasi oleh debu,
bakteri, virus, jamur, atau pun disebabkan alergi tertentu. Gangguan penglihatan
saat ini merupakan masalah penting bagi masyarakat modern, karena di era
teknologi digital, hampir segala hal melibatkan visualisasi, sehingga perlu adanya
penanganan yang tepat pada gangguan tersebut. Penglihatan yang terganggu dapat
menyebabkan kualitas hidup seseorang menurun, hal ini dapat terlihat dari
berkurangnya kemampuan dalam melakukan berbagai aktivitas harian. Selain itu,
masalah yang ditimbulkan adalah pasien akan terisolasi secara sosial, serta resiko
kecelakaan fisik, seperti terjatuh semakin tinggi (Asroruddin, 2014).
Gangguan mata yang paling sering dialami oleh orang Indonesia, menurut
dr. Johan Hatauruk, spesialis mata dari Jakarta Eye Center pada sebuah acara
seminar kesehatan, diantaranya, refraksi, konjungtivitis, pterigium, katarak, dan
glaukoma (National Geographic Indonesia, 2013). Obat mata yang beredar di
masyarakat sebagian besar merupakan obat untuk gangguan jenis konjungtivitis,
yaitu terjadinya peradangan pada konjungtiva (Ilyas, 2010). Penderita
konjungtivitis biasanya mengeluhkan gejala seperti, mata merah, terdapat kotoran
pada mata, mata terasa panas seperti ada benda asing yang masuk, mata berair,
belekan, pseudoptosis (mata susah dibuka karena infiltrat pada otot muller),
penglihatan terganggu, serta mudah menular mengenai kedua mata (Ilyas, 2008).
Obat mata konjungtivitis yang banyak beredar di kalangan masyarakat Indonesia
berupa obat tetes, yaitu suspensi atau larutan steril dengan pH mirip air mata,
digunakan untuk mata, dengan cara meneteskannya pada selaput lendir disekitar
kelopak mata (Andriyani, dkk., 2017). Obat tetes mata yang banyak diperjual-
belikan di Indonesia umumnya memiliki kandungan bahan sintetis kimia dengan
beberapa efek samping.Diantara efek samping yang dapat ditimbulkannya adalah
mata perih, iritasi yang semakin parah, mata berair, timbul rasa sakit pada
tenggorokan, demam, memar dan gatal pada area mata (American Academy of
Ophthalmology, 2011).Karena alasan efek samping tersebut, perlu dikembangkan
obat alternatif bagi penderita gangguan mata.
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman tanaman, sebagian
besar dari tanaman tersebut memiliki manfaat bagi kesehatan, salah satu tanaman
yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal adalah lidah buaya.Salah satu
keuntungan dari penggunaan lidah buaya sebagai obat alternatif adalah tanaman
ini mudah dijumpai di Indonesia, sehingga tidak perlu biaya mahal untuk
pengembangannya.Lidah buaya dikenal memiliki kandungan protein, vitamin,
serta senyawa-senyawa aktif seperti aloin dan antrakuinon yang bermanfaat bagi
kesehatan (Hartawan, 2012).Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyarankan
penggunaan obat tradisional atau herbal sebagai alternatif untuk pengobatan.
Disamping itu, WHO menyarankan perlu adanya peningkatan keamanan serta
khasiat dari obat herbal tersebut (Sewta, dkk., 2015).
Lidah buaya dapat digunakan baik secara internal maupun eksternal pada
manusia dalam pengobatan alternatif, sebagaimana pertolongan pertama di rumah,
karena dipercaya aman dan memiliki efek samping yang rendah.Lidah buaya
sendiri telah menunjukkan aktivitas antiinflamasi, immunomodulator, antiparasit,
antioksidan, perlindungan UV, antitumor, dan antidiabetes (Wozniak dan Paduch,
2012). Aksi farmakologi dari ekstrak lidah buaya sangat terkait erat dengan
pemeliharaan jaringan sitokin atau tingkat stabilisasi radikal antara lain pada
jaringan mata. Aktivitasnya sebagai antioksidan dan immunomodulator berkaitan
dengan kemampuannya sebagai obat alternatif herbal bagi gangguan mata
(Wozniak dan Paduch, 2012).
Berdasarkan uraian diatas mengenai efek samping dari obat tetes yang
beredar di masyarakat, serta adanya obat alternatif herbal lidah buaya yang
memiliki beberapa keunggulan seperti, tanaman mudah dijumpai dan sebagaimana
obat herbal pada umumnya yang memiliki efek samping lebih rendah, maka pada
penelitian ini akan dikembangkan obat mata herbal dari ekstrak lidah buaya.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rancangan penelitian ini memiliki
berbagai macam rumusan masalah:
1. Apakah ekstrak dan kandungan senyawa bioaktif dari tanaman Aloe vera
dapat dijadikan sebagai bahan dasar obat berbentuk gel sebagai obat
konjungtivitis,
2. Adakah efek samping dari senyawa bioaktif pada tanaman Aloe vera pada
aplikasinya sebagai obat konjungtivitis,
3. Apakah formulasi yang tepat untuk merancang gel padat dengan bahan
dasar senyawa bioaktif pada tanaman Aloe vera sebagai obat
konjungtivitas, dan
4. Bagaimanakah metode yang efektif untuk memasarkan produk gel padat
dengan bahan dasar senyawa bioaktif pada tanaman Aloe vera sebagai obat
konjungtivitas.

1.3.Tujuan
Mengacu pada latar belakang maupun rumusan masalah diatas, maka
tujuan dari rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui kandungan utama dari ekstrak senyawa bioaktif dari tanaman
Aloe vera sebagai bahan dasar obat berbentuk gel sebagai obat
konjungtivitis,
2. Mengetahui efek samping dan resiko toksisitas dari senyawa bioaktif pada
tanaman Aloe vera pada aplikasinya sebagai obat konjungtivitis melalui
studi in vitro, in vivo, dan fasa klinikal,
3. Menemukan formulasi yang tepat untuk merancang gel padat dengan
bahan dasar senyawa bioaktif pada tanaman Aloe vera sebagai obat
konjungtivitas, dan
4. Memperoleh metode pemasaran yang efektif terhadap produk gel padat
dengan bahan dasar senyawa bioaktif pada tanaman Aloe vera sebagai obat
konjungtivitas.
1.4.Hipotesis
Berdasarkan pada rumusan masalah dan tujuan pada subbab sebelumnya,
maka hipotesis pada rancangan penelitian ini dapat dibuat sebagai berikut:
1. Kandungan utama dari ekstrak senyawa bioaktif dari tanaman Aloe vera,
yakni luteolin, aloe-emodin, rhein, dan aloe-emodin-9-anthrone, dapat
dijadikan sebagai bahan baku gel padat sebagai obat konjungtivitis,
2. Formulasi obat, berbasis bahan baku dari ekstrak senyawa bioaktif
tanaman Aloe vera, yang dirancang pada penelitian ini memiliki efek
samping dan resiko toksisitas yang minimal dibandingkan dengan obat
konjungtivitis yang telah beredar di pasaran, dan
3. Metode pemasaran yang dirancang pada penelitian ini memiliki efektivitas
tinggi didasari dari besarnya permintaan pasar dan luasnya target
konsumen.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lidah buaya (Aloe vera)


Lidah buaya adalah tumbuhan yang banyak diterapkan sebagai tumbuhan
obat di seluruh dunia.Aloe adalah tumbuhan asli Afrika Utara dan Spanyol,
sekarang juga dapat tumbuh di daerah kering dan panas dari Asia, Eropa, dan
Amerika.Lidah buaya dapat tumbuh dari daerah dataran rendah hingga daerah
pegunungan.Di dataran tinggi lidah buaya dapat menghasilkan bunga.Di daerah
dengan suhu 28-32oC, lidah buaya dapat tumbuh dengan baik, namun apabila
ditanam di daerah basah dengan curah hujan tinggi adalah banyaknya serangan
cendawan, terutama Fusarium Sp yang menyerang pangkal daun (Ariane,
2009).Aloe vera yang sering dianggap mirip seperti kaktus ini memiliki 250
spesies yang tumbuh di seluruh dunia dimana Aloe barbadensis Miller dan Aloe
arborescens adalah dua spesies tumbuhan lidah buaya yang tumbuh komersial dan
sangat terkenal (Manvitha et al., 2014). Lidah buaya mempunyai nama yang
bervariasi tergantung dari negara atau wilayah tempat tumbuh yaitu ghikumar
(India), kumari (Sanskrit), laloi (Haiti), lohoi (Vietnam), luhui (China), nohwa
(Korea), rokai (Jepang), sabilla (Kuba), subr (Arab), crocodiles tongues (inggris),
jadam (Malaysia), savilla (Spanyol) dan natau (Filipina) (Raksha et al.,2014).

Lidah buaya memiliki bentuk daun tombak dengan helaian memanjang,


berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan, mempunyai lapisan
lilin di permukaan serta bersifat sekulen yakni mengadung air, getah, atau lendir
yang mendominasi daun. Bagian atas daun dari tumbuhan lidah buaya rata, bagian
bawahnya cembung, sepanjang tepi daun berjajar gerigi atau duri yang tumpul dan
tidak berwarna, batangnya pendek dan tidak terlihat karena tertutup oleh daun
yang rapat dan sebagian terbenam dalam tanah, akarnya serabut memiliki panjang
berkisar antara 50-100 cm, dan bunganya berwarna kuning atau kemerahan berupa
pipa yang mengumpul, keluar dari ketiak daun, panjangnya dapat mencapai 1
meter. Bunga biasanya muncul bila ditanam di pegunungan (Ariane, 2009).
Lidah buaya memiliki banyak kegunaan salah satunya sering digunakan
untuk pengawet makanan dan obat-obatan.Selama bertahun-tahun, tumbuhan
lidah buaya sudah digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit seperti
demam, luka, diabetes, AIDS, masalah kesuburan, dan berbagai penyakit kulit. Di
Indonesia, tumbuhan lidah buaya awalnya dikenal sebagai tumbuhan hias dan
penyubur rambut. Pada tahun 1990, petani di Kalimantan Barat memanfaatkan
lidah buaya sebagai produk minuman.Sekarang tumbuhan lidah buaya juga
dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat di Indonesia. Dalam bidang industri farmasi,
lidah buaya sudah diproduksi dalam bentuk salep, gel, tablet dan kapsul
(Manvitha et al., 2014).

2.1.1 Klasifikasi Tanaman

Klasifikasi tanaman lidah buaya (Aloe vera) adalah sebagai berikut


(NRCS, 2017):
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Liliidae
Ordo : Liliales
Famili : Aloaceae
Genus : Aloe
Spesies : Aloe vera L.

Gambar 1. Tanaman Lidah Buaya (Aloe vera) (The Plant Observatory, 2010)
2.1.2 Khasiat Aloe vera
Lidah buaya memiliki banyak khasiat yaitu sebagai antiinflamasi,
antijamur, antibakteri, membantu proses regenerasi sel, mengontrol tekanan darah,
menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat
digunakan sebagai nutrisi pendukung penyakit kanker HIV/AIDS. Menurut Drug
and Cosmetic Journal, kandungan nutrisi yang banyak adalah salah satu alasan
lidah buaya memiliki beragam khasiat diataranya yakni polisakarida (terutama
glukomannan) yang bekerja sama dengan asam-asam amino esensial dan
sekunder, enzim oksidase, katalase, dan lipase terutama enzim-enzim pemecah
protein (protease). Enzim ini membantu memecahkan jaringan kulit yang sakit
sebagai akibat kerusakan tertentu dan membantu memecah bakteri, sehingga gel
lidah buaya bersifat antibiotik, sekaligus peredam rasa sakit.Sementara itu, asam
amino berfungsi menyusun protein pengganti sel yang rusak.Lidah buaya bersifat
merangsang pertumbuhan sel baru pada kulit.Zat lignin yang terdapat dalam lendir
lidah buaya mampu menembus dan meresap ke dalam kulit. Lendir ini akan
menahan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit sehingga kulit tidak cepat
kering dan terlihat awet muda. Lidah buaya dapat mengatasi bengkak sendi pada
lutut, batuk, luka dan membantu mengatasi sembelit atau susah buang air besar
karena lendirnya bersifat pahit dan mengandung laktasit, sehingga merupakan
pencahar yang baik

Lidah buaya memiliki zat manosa asetilatyang meupakan imunostimulan


yang kuat dan berfungsi meningkatkan sistem imun. Kandungan aloin dan aloe
emodin memiliki efek antipiretik atau dapat mengatasi demam. Lidah buaya
mengandung saponin yang berfungsi sebagai antiseptik sehingga dapat mengatasi
luka yang terbuka dan berfungsi sebagai pembersih. Adanya zat aloesin B yang
terdapat dalam lendir lidah buaya mampu mengatasi eksim, luka bakar, sekaligus
memberikan lapisan pelindung pada bagian yang rusak sehingga dapat
mempercepat proses penyembuhan (Armiati, 2015).

2.1.3 Kandungan Tanaman


Lidah buaya memiliki hampir 98,5% kandungan air di bagian daging,
dalam daun dimana 99,5 % berupa gel. pH yang dimiliki sekitar 4-5. Sisanya
sekitar 0,5-1% beruppa padatan terlarut yang mengandung vitamin, mineral,
enzim, polisakarida, senyawa fenol, dan asam organik (Raksha et al., 2014).
Kandungan senyawa kimia dari daun Aloe vera sudah dilakukan dan dirangkum
dalam tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Senyawa Kimia dari Aloe vera (Raksha et al., 2014)

Zat Manfaat
Antrakuinon Aloe-emodin, asam aloectic, antranol, aloin A dan B,
isobarbaloin, emodin dan ester dari asam sinamik.
Karbohidrat Galaktogalakturan, arabinogalaktan,
galaktoglukoarabinomanan, senyawa pektik, xylan,
selulosa,kromons, isoaloeresin-D, isoarabaikromon, dan
neoaloesin A.
Enzim Posfatase, amylase, karboksipeptidase, katalase,
siklooksidase, siklosigenase, lipase, oksidae,
posfoenolpiruvat karboksilase, dan superoksida
dismutase.
Senyawa anorganik Kalsium, klorin, kromium, tembaga, besi, magnesium,
mangan, kalium, fosfor, natrium, dan zink.
Senyawa organik Asam arasidonik, asam linolenik, trigliserida,
dan lemak triterpenoid, giberelins, lignin, kalium sorbat, asam
salisilik, dan asam urik.
Asam amino Hidroksiprolin, isoleusin, leusin, metionin, fenilalanin,
essensial dan pralin, treonin, tirosin, dan valin.
nonessensial
Protein Lektin
Sakarida Manosa, glukosa, L-ramnosa, dan aldopentosa
Vitamin B1, B2, B6, C, beta karoten, kolin, asam folik, alfa
tokoferol.
Sterol Kampesterol, kolesterol, dan beta sitosterol.
2.1.4Bioaktivitas Senyawa Aktif Aloe vera

Tanaman Aloe vera memiliki beragam senyawa yang memiliki bentuk


kerangka senyawa yang beragam. Analisis yang dilakukan oleh Arunkumar
&Muthuselvam pada tahun 2009 menyebutkan bahwa secara uji kualitatif,
tanaman Aloe vera memiliki komponen fitokimia yang terdiri dari tannin, saponin,
dan flavonoid (Arunkumar & Muthuselvam, 2009). Komponen senyawa-senyawa
ini turut berperan aktif dalam karakteristik dan bioaktivitas senyawa aktif pada
Aloe vera, beberapa diantaranya adalah sebagai anti-inflamasi, anti-mikroba, anti-
jamur, anti-diabetes, dan anti-ulkus. Lebih lanjut, komponen senyawa pada Aloe
vera juga sudah jamak digunakan pada industri kosmetik dan perawatan kulit
(Arunkumar & Muthuselvam, 2009; Klein & Penneys, 1988). Secara umum,
sebagaimana telah dianalisis sebelumnya oleh Boudreau & Beland pada tahun
2006 dan Lopez-Lazaro pada tahun 2009, kandungan senyawa aktif utama pada
Aloe vera dapat diklasifikasikan menjadi empat senyawa, yakni luteolin (golongan
flavonoid), aloe-emodin, rhein, dan aloe-emodin-9-anthrone (golongan
antrakuinon/anthron)(Boudreau & Beland, 2006; Lpez-Lzaro, 2009).

a. Luteolin

Luteolin (Nama IUPAC: 2-(3,4-dihydroxyphenyl)-5,7-dihydroxy-4H-


chromen-4-one) merupakan senyawa flavonoid alami yang umum terdapat pada
beberapa spesies tanaman, seperti Aloe vera,Bacopa moneirra(daun air), dan
Momordica charantia(pare) (M. Agarwal & Kamal, 2007; Kumar & Pandey,
2013; Lpez-Lzaro, 2009). Selain itu, beberapa buah dan sayuran seperti brokoli,
apel, paprika, kol, dan wortel juga diketahui banyak mengandung senyawa
luteolin (Y. Lin, Shi, Wang, & Shen, 2008). Beragam tumbuhan yang diketahui
kaya akan kandungan luteolin sudah sering digunakan sedari dahulu sebagai obat
hipertensi, penyakin inflamasi, dan kanker (Harborne & Williams, 2000). Secara
struktural, luteolin memiliki struktur C6-C3-C6 dan dua cincin benzena serta
cincin yang mengandung atom oksigen, berikut dengan tiga buah karbon dengan
ikatan rangkap (double bond).Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.x.
Gambar 2.x. Struktur kimia dari luteolin

b. Aloe-emodin

Aloe-emodin (Nama IUPAC: 1,8-dihydroxy-3-


(hydroxymethyl)anthracene-9,10-dione) adalah senyawa golongan antrakuinon
yang merupakan senyawa khas dari tumbuhan dari genus Aloe, dimana umumnya
senyawa ini terdapat di bagian getah dan daun tumbuhan tersebut. Berdasarkan
hasil studi yang telah dilakukan, senyawa aloe-emodin diketahui memiliki
berbagai macam bioaktivitas yang sangat bermanfaat bagi manusia, salah satunya
sebagai anti-kanker, anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-fungal, anti-viral, dan anti-
mikroba (S. K. Agarwal, Singh, Verma, & Kumar, 2000; Huang et al., 2013; Li et
al., 2014; C. W. Lin et al., 2008; Park, Kwon, & Sung, 2009; Pecere et al., 2000;
Pellizzoni, Ruzickova, Kalhotka, & Lucini, 2012).

Secara struktural, senyawa aloe-emodin memiliki karakteristik berupa


gugus kuinon, yang diapit oleh dua cincin benzena.Lebih lanjut, senyawa aloe-
emodin mempunyai tiga gugus hidroksi (-OH); dimana dua diantaranya berikatan
dengan rantai karbon aromatik, disertai dengan satu gugus hidroksi yang berikatan
dengan rantai karbon metal alifatik.Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.x.
berikut.

Gambar 2.x. Struktur kimia dari aloe-emodin


c. Rhein
Rhein (Nama IUPAC: 4,5-dihydroxy-9,10-dioxo-9,10-dihydroanthracene-
2-carboxylic acid) merupakan senyawa golongan antrakuinon yang biasanya
terdapat pada tanaman kelembak (Rheum rhabarbarum) dan Aloe vera. Rhein
umumnya diisolasi dalam bentuk glikosidanya seperti rhein-8-glukosida atau
glukorhein (Mehta, 2012). Studi terbaru menunjukkan bahwa senyawa rhein
meniliki aktifitas anti-bakteria terhadap Staphylococcus aureus(Yu et al., 2008).
Selain itu, rhein diketahui juga memiliki aktivitas sebagai anti-kanker
(Duraipandiyan, Baskar, Ignacimuthu, Muthukumar, & Al-Harbi, 2012; Yang,
Sun, Yang, & Wang, 2011). Sebagaimana dengan senyawa aloe-emodin, senyawa
rhein memiliki gugus kuinon yang diapit oleh dua cincin benzena dan dua gugus
aril hidroksi. Namun, gugus hidroksi alifatik pada senyawa ini tergantikan oleh
gugus karboksilat (-COOH). Sebagaimana dapat dilihat secara seksama di
Gambar 2.x.

Gambar 2.x. Struktur kimia dari rhein

d. Aloe-emodin-9-anthrone

Senyawa aloe-emodin-9-anthrone (IUPAC Name: 1,8-dihydroxy-3-


(hydroxymethyl)anthracen-9(10H)-one) adalah senyawa golongan antrone yang
memiliki bentuk molekul yang hampir identik dengan senyawa aloe-emodin.
Namun, sebagai ganti dari gugus kuinon, gugus anthrone (C=O tunggal di rantai
siklik bagian tengah) lah yang terdapat pada senyawa ini. Sampai saat ini,
senyawa aloe-emodin-9-anthrone diketahui memiliki aktivitas sebagai anti-tumor
terhadap berbagai macam sel ganas.Namun aktivitas lainnya perlu dipelajari lebih
lanjut.Struktur dari Aloe-emodin-9-anthrone dapat dilihat pada Gambar 2.x.
Gambar 2.x. Struktur kimia dari aloe-emodin-9-anthrone

2.1.5Studi ADME-Tox Secara Komputasi Terhadap Senyawa Bioaktif Aloe


vera

Pemanfaatan kemampuan komputasi sejauh ini dapat dilakukan untuk


memprediksi sifat, karakteristik, maupun prediksi karakter suatu senyawa sebelum
senyawa tersebut diujikan lebih lanjut ke tahap yang lebih lanjut.Salah satu
pengujian yang dapat dilakukan secara komputasi adalah dengan melihat sifat
mutagenitas dan karsinogenitas ligan yang didasari oleh aturan Benigni-
Bossa.Aturan ini memperkirakan sifat mutagenitas maupun karsinogenitas ligan
berdasarkan keberadaan fragmen maupun gugus fungsi yang terdapat pada suatu
senyawa. Secara umum, aturan ini menerangkan bahwa suatu senyawa dapat
mempunyai potensi untuk memiliki sifat mutagenik maupun karsinogenik apabila
memiliki gugus fungsi asil halida, haloalkana, epoksida, halogen alifatik,
aldehida, hidrazin, alkil nitrat, isosianat, poliaromatik hidrokarbon, kumarin, diazo
aromatik, alkil/aril nitro, azida, eter benzensulfonik, alkil halida dan tiokarbonil
(Benigni, Bossa, Jeliazkova, Netzeva, & Worth, 2008). Secara komputasi,
pengujian prediksi mutagenitas dan karsinogenitas senyawa dapat dilakukan
dengan menggunakan software Toxtree v2.6.13.(Toxtree - Toxic Hazard
Estimation by decision tree approach, n.d.).

Tidak hanya itu, pengujian sifat molekular dan farmakokinetik juga


penting untuk melihat afinitas suatu senyawa untuk dapat terserap dalam tubuh
dan kemampuan senyawa tersebut ketika nantinya diadministrasikan secara oral.
Pada pengujian ini, software SWISS-ADME dapat digunakan untuk mengetahui
sifat-sifat obat ini secara keseluruhan (Daina, Michielin, dan Zoete, 2017).
Pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi dilakukan pertama pada senyawa
luteolin, Analisis secara komputasi menunjukkan bahwa memiliki kelarutan
terhadap air yang baik, dan memiliki kemampuan bioavailabilitas oral yang tinggi;
ditinjau dari kelarutan dan sifat dasar senyawa luteolin.Selain itu, senyawa ini
juga memiliki resiko karsinogenik dan mutagenik yang rendah, ditinjau dari
kandungan fragmen dan gugus fungsi yang terdapat pada senyawa
luteolin.Karenanya, secara komputasi menunjukkan bahwa senyawa luteolin aman
digunakan sebagai obat dan memiliki resiko toksisitas yang rendah.Hasil analisis
secara komputasi terhadap senyawa luteolin dapat dilihat Gambar 2.x.

Selanjutnya, analisis komputasi yang dilakukan berdasarkan ketiga


software (Toxtree, OSIRIS DataWarrior, dan SWISS-ADME) terhadap senyawa
aloe-emodin menunjukkan bahwa senyawa ini mempunyai penyerapan
gastrointestinal yang tinggi, kelarutan dengan air yang sangat baik, dan
bioavailabilitas oral yang tinggi. Namun, senyawa ini juga diprediksi memiliki
potensi sebagai senyawa karsinogenik; diduga hal ini terjadi karena gugus kuinon
memiliki kecenderungan untuk mempunyai sifat karsinogenik (Benigni et al.,
2008).

Pengujian ketiga dilakukan terhadap senyawa rhein, serupa dengan


senyawa aloe-emodin, studi komputasi terhadap senyawa ini menunjukkan bahwa
aktivitas karsinogenik pada senyawa ini terdeteksi akibat keberadaan gugus
kuinon yang terdapat pada rhein(Benigni et al., 2008). Namun demikian, studi
farmakokinetik secara komputasi memperlihatkan bahwa senyawa rhein memiliki
solubilitas terhadap air yang baik dan bioavailabilitas oral yang
menjanjikan.Karenanya, potensi senyawa ini untuk bisa dijadikan sebagai obat
perlu ditinjau lebih lanjut dengan menggunakan studi in vitro maupun in vivo.

Pengujian terakhir dilakukan pada senyawa aloe-emodin-9-


anthrone.Berdasarkan hasil analisis oleh ketiga software, senyawa aloe-emodin-9-
anthrone memiliki karakteristik berupa solubilitas air yang tinggi, bioavailabilitas
oral yang baik, dan penyerapan gastrointestinal yang tinggi.Selain itu, studi
komputasi terhadap senyawa ini menunjukkan bahwa aktivitas karsinogenik
maupun mutagenik tidak terdeteksi, ditinjau dari fragmen gugus yang terdapat
pada senyawa aloe-emodin-9-anthrone.Oleh karenanya, senyawa ini dapat pula
dijadikan sebagai lead-drug untuk pengadministrasian secara oral.

Seluruh hasil pengujian secara komputasi yang dilakukan pada proposal ini
dilampirkan pada Lampiran xx

2.2 Penyakit Mata

Penyakit mata yang sering dialami oleh kebanyakkan orang adalah


konjungtivitis yaitu terjadi peradangan pada konjungtiva (Ilyas, 2010). Pasien
biasanya mengeluh mata merah, edema konjungtiva dan keluar sekret berlebih (Azari dan
Barney, 2013).

2.2.1 Anatomi Konjungtiva


Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis dan transparan yang
melapisi bagian anterior bola mata dan bagian dalam palpebra(Vaughan,
2010).Konjungtiva dibagi tiga bagian yaitu konjungtiva palpebra, konjungtiva
bulbar dan forniks(Haqet al., 2013).

Konjungtiva palpebra melapisi bagian dalam palpebra, dibagi lagi menjadi tiga
bagian yaitu marginal, tarsal dan orbital. Bagian marginal terletak di tepi palpebra hingga
2mm ke dalam palpebra, bagian tarsal melekat di tarsal plate, sedangkan bagian orbital
terletak di antara konjungtiva tarsal dan forniks. Di konjungtiva palpebra terdapat kelenjar
henle dan sel goblet yang memproduksi musin(Cantor et al, 2014).
Konjungtiva bulbar melapisi bagian anterior bola mata dan dipisahkan dengan sklera
anterior oleh jaringan episklera. Konjungtiva yang berbatasan dengan kornea disebut limbal
conjunctiva. Di konjungtiva bulbar terdapat kelenjar manz dan sel goblet(Cantor et al,
2014).
Konjungtiva forniks merupakan penghubung konjungtiva palpebra dengan
konjungtiva bulbar. Daerah tersebut memiliki kelenjar lakrimal aksesoris yaitu
kelenjar krause dan wolfring yang menghasilkan komponen akuos air mata(Cantor
et al, 2014).
Gambar 1. Anatomi Konjungtiva (Haqet al., 2013).

2.2.2 Konjungtivitis

2.2.2.1 Pengertian

Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva atauradang


selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Tanda dan gejala
umum pada konjungtivitis yaitu mata merah, terdapat kotoran pada mata, mata
terasa panas seperti ada benda asing yang masuk, mata berair (Lakrimasi atau
epifora), Eksudasi (belekan), Pseudoptosis (mata susah dibuka bukan karena saraf,
tapi karena infiltrat pada otot Muller), penglihatan terganggu, serta mudah
menular mengenai kedua mata (Ilyas, 2008).Konjungtivitis juga dapat
dikelompokkan berdasarkan waktu yaitu akut dan kronik.Pada kondisi akut, gejala
terjadi hingga empat minggu, sedangkan pada konjungtivitis kronik, gejala lebih
dari empat minggu(Cantor et al, 2014).

2.2.2.2 Penyebab
Penyebab paling sering konjungtivitis bakterial adalah mikroorganisme
gram positif yaitu: Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia,
Streptococcus viridians, dan Staphylococcus epidermidis. Konjungtivitis dapat
juga disebabkan oleh mikroorganisme gram negatif, diantaranya Escherichia coli,
Klebsiella pneumonia, Serratia marcescens, Proteus, Enterobacter, dan
Pseudomonas species. (Oliveret al, 2009, Afjeieeet al, 2013).Pada anak-anak

penyebab tersering adalah Haemophilus influenza, Streptococcus pneumonia, dan


Moraxella species (Tarabishy dan Jeng, 2008)
Konjungtivitis sering terjadi bersama atau sesudah infeksi saluran napas dan
umumnya terdapat riwayat kontak dengan pasien konjungtivitis viral.Penyebaran virus
umumnya terjadi melalui tangan, peralatan mandi yang digunakan bersama, bantal kepala
yang digunakan bersama atau kontak dengan alat pemeriksaan mata yang
terkontaminasi(Cantor et al, 2014).

2.2.2.3 Klasifikasi Konjungtivitis

Konjungtivitis dibagi menjadi empat yaitu konjungtivitis yang diakibatkan


karena bakteri, virus, allergen dan jamur ( Ilyas, et al., 2010).

a. Konjungtivitis bakteri
Konjungtivitis bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh
Staphylococcus, Streptococcus, Pneumococcus, dan Haemophillus ( James,et al.,
2005). Konjungtivitis bakteri ini mudah menular dari satu matake mata
sebelahnya dan dengan mudah menular ke orang lainmelalui benda yang dapat
menyebarkan kuman. Konjungtivitis bakteri dapat diobati dengan antibiotik
tunggalseperti neospirin, basitrasin, gentamisin, kloramfenikol,tobramisin,
eritromisin, dan sulfa selama 2-3 hari (Ilyas, et al., 2014).

b. Konjungtivitis Virus

Konjungtivitis virus merupakan penyakit umum yang disebabkan oleh


berbagai jenis virus. umumnya disebabkan adenovirus tipe 3,4 dan 7.
Konjungtivitis ini biasanya diakibatkan karena demam faringokonjungtiva, dan
memberikan gejala demam, faringitis, secret berair dan sedikit, folikel pada
konjungtiva yang mengenai satu atau kedua mata. Konjungtivitis ini mudah
menular terutama anak-anak yang disebarkan melalui kolam renang. Masa
inkubasi konjungtivitis virus 5-12 hari, yang menularkan selama 12 hari, dan
bersifat epidemik. Pengobatan konjungtivitis virus hanya bersifat suportif karena
dapat sembuh sendiri. Diberikan kompres, astringen, lubrikasi, dan pada kasus
yang berat dapat diberikan antibotik dengan steroid topical ( Ilyas,et al., 2014).

c. Konjungtivitis alergi
Konjungtivitis alergi merupakan bentuk alergi pada mata yang paling
sering dan disebabkan oleh reaksi inflamasi padakonjungtiva yang diperantarai
oleh sistem imun (Cuvillo et al.,2009). Gejala utama penyakit alergi ini adalah
radang (merah, sakit,bengkak, dan panas), gatal, silau berulang dan menahun.
Tandakarakteristik lainnya yaitu terdapat papil besar pada konjungtiva,datang
bermusim, yang dapat mengganggu penglihatan. Walaupunpenyakit alergi
konjungtiva sering sembuh sendiri akan tetapi dapatmemberikan keluhan yang
memerlukan pengobatan (Ilyas,et al., 2014).

Pengobatan konjungtivitis alergi yaitu dengan menghindarkanpenyebab


pencetus penyakit dan memberikan astringen, sodiumkromolin, steroid topical
dosis rendah kemudian ditambahkankompres dingin untuk menghilangkan
edemanya. Pada kasus yangberat dapat diberikan antihistamin dan steroid sistemik
(Ilyas et al., 2014).

d. Konjungtivitis Jamur
Konjungtivitis jamur biasanya disebabkan oleh Candida albicans dan
merupakan infeksi yang jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak
putih yang dapat timbul pada pasien diabetes dan pasien dengan keadaan sistem
imun yang terganggu. Selain candida sp, penyakit ini juga bisa disebabkan oleh
Sporothtrix schenckii, Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis
walaupun jarang (Vaughan, 2010).

2.2.2.4. Penularan Konjungtivitis

Sumber penularan konjungtivitis secara umum adalah cairan yang keluar dari
mata yang sakit yang mengandung bakteri atau virus. Salah satu media penularannya
yaitu tangan yang terkontaminasi cairan infeksi, misalnya melalui jabatan tangan.
Bisa pula melalui cara tidak langsung, misalnya tangan yang terkontaminasi
memegang benda yang kemudian terpegang oleh orang lain, penggunaan handuk
secara bersama-sama, penggunaan sapu tangan atau tisu secara bergantian, dan
penggunaan bantal atau sarung bantal secara bersama-sama (Ilyas, 2008; Chaerani,
2006; Indriana, 2012).

2.2.2.5 Pencegahan Konjungtivitis


Konjungtivitis dapat dicegah yaitu dengan tidak menyentuh matayang
sehat sesudah mengenai mata yang sakit, tidak menggunakanhanduk dan lap
secara bersama-sama dengan orang lain, serta bagiperawat dapat memberikan
edukasi kepada pasien tentang kebersihankelopak mata (Hapsari & Isgiantoro,
2014).Selain itu pencegahan konjungtivitis diantaranya sebelum dansesudah
membersihkan atau mengoleskan obat, pasien konjungtivitisharus mencuci
tangannya agar tidak menulari orang lain, menggunakan lensakontak sesuai
dengan petunjuk dari dokter dan pabrik pembuatnya,mengganti sarung bantal dan
handuk yang kotor dengan yang bersihsetiap hari, menghindari penggunaan
bantal, handuk dan sapu tanganbersama, menghindari mengucek-ngucek mata,
dan pada pasien yangmenderita konjungtivitis, hendaknya segera membuang tissu
atausejenisnya setelah membersihkan kotoran mata (Ramadhanisa, 2014).

2.2.2.6 Pengobatan Konjungtivitis Konvensional


a. Menggunakan ASI
Beberapa dokter beranggapan bahwa konjungtivitis memang dapat diobati
dengan menggunakan ASI. Namun, ASI hanya dioleskan di ujung mata dekat
hidung saja bukan dengan meneteskannya secara. Menurut Hegar (2008) ada
banyak manfaat dari ASI yaitu ASI telah terbukti sangat bermanfaat dalam
mencegah berbagai penyakit seperti infeksi saluran cerna baik akut maupun
kronik, infeksi saluran cerna lainnya, infeksi saluran nafas, mengandung antivirus
dan antibakteri, dan faktor antiparasit. Hal tersebut karena ASImengandung
beberapa zat yaitu protein, enzim, calcium, phospor, vitamin D dan vitamin
lainnya, besi, zinc, cuprum, dan hormon.
b. Menggunakan Saliva
Mengobati konjungtivitis dengan saliva dilakukan dengan caramengoleskan
saliva pada mata anak mereka dan membersihkan darisekret. Peran saliva dalam
mulut yaitu sebagai pelumas yangmelapisi mukosa dan membantu melindungi
jaringanmulut terhadapiritasi mekanis, termal, dan zat kimia. Beberapa orangtua
mengobatianaknya menggunakan saliva karena saliva mengandung antimikroba yang
efektif dalam mengobati konjungtivitis bekteri. Aktivitas antimikroba melibatkan
immunoglobulin A, lisozim, laktoferin dan myeloperoxide (DePaola, 2008).

c. Menggunakan Daun Sirih

Menurut dokter spesialis mata dan Direktur Jakarta Eye Center,Dr. Johan
Hutahuruk, MD, bahwa konjungtivitis dapat disembuhkandengan air perasan daun
sirih karena dapat membunuh kuman yangmenyebabkan iritasi pada mata. Namun
dalam penggunaannya tidakboleh sembarangan dan harus steril. Jika penggunaan
tidak tepat,maka akan beresiko menyebabkan mata menjadi jamuran ataubahkan
merusak kornea.

Daun sirih mengandung fenol lima kali lebih efektifdibandingkan dengan


fenol biasa. Senyawa fenol dan turunannya inidapat mendenaturasi
(menghancurkan) protein sel bakteri. Airrebusan daun sirih dapat digunakan
sebagai antiseptik karenamengandung minyak astiri yang mampu melawan bakteri
grampositif dan gram negatif (Moeljanto et al, 2003).

2.3 Bakteri
Bakteri merupakan mikroorganisme uniseluler dan prokariot yang
berukuran mikrometer (m). Ukuran bakteri berkisar 0,1 m sampai 0,3 m. Sel
beberapa spesies bakteri memiliki panjang melebihi 100 m dengan diameter
berkisar 0,1 - 0,2 m. Bakteri memiliki bentuk seperti elips, bola, batang
(silindris) dan spiral (heliks).Sel bakteri yang berbentuk bola atau elips dinamakan
kokus.Sel bakteri berbentuk silindris dinamakan basilus.Umumnya bakteri
tumbuh pada suhu ekstrim (0-9000C) (Pelczar dan Chan, 1988).

Berdasarkan struktur dan dinding sel, bakteri dibedakan menjadi bakteri


gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif adalah bakteri yang
memiliki lapisan peptidoglikan yang tebal.Tebalnya peptidoglikan ini
menyebabkan bakteri tahan terhadap sifat osmosis yang dapat memecah sel
bakteri itu.Lapisan peptidoglikan pada bakteri gram negatif lebih tipis tetapi
memiliki membran luar yang tebal sehingga bersama-sama dengan peptidoglikan
membentuk mantel pelindung yang kuat untuk sel. Bakteri gram positif dan gram
negatif dapat dibedakan dengan pewarnaan gram.Bakteri gram positif dapat
menahan zat warna ungu (metilviolet, kristalviolet, gentianviolet) dalam tubuhnya
meskipun telah didekolorisasi dengan alkohol atau aseton.Sebaliknya, bakteri
gram negatif tidak dapat menahan zat warna. Setelah dekolorisasi dengan alkohol
maka akan kembali menjadi tidak berwarna. Bila diberikan pengecatan dengan zat
warna kontras akan berwarna sesuai dengan zat warna tersebut (Hogg, 2005).

Gambar 12. Bakteri Gram positif dan Bakteri Gram Negatif(Murray et al., 2009)
Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang dapat
menyebabkan infeksi kulit, hidung, uretra, vagina, dan ususpada manusia(Harris
et al., 2002). Bakteri ini berbentuk kokus, berdiameter 0,8-1,0 m, dapat tumbuh
dengan baik pada suhu 37C, tetapi paling baik pada suhu kamar (20C) dengan
pH optimum 7,0-7,5. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, bakteri ini
resistan terhadap antibiotik seperti penicillin, methicillin, dan vancomycin (Harris
et al.,2002). Genus Staphylococcus tumbuh dengan cepat pada beberapa tipe
media dengan aktif melakukan metabolisme, melakukan fermentasi karbohidrat
dan menghasilkan bermacam-macam pigmen dari warna putih hingga kuning
gelap. Klasifikasi dari bakteri Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut
(UniProt, 2014) :
Kingdom : Bacteria
Filum : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Bacillales
Famili : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies :Staphylococcus aureus

Gambar 13. Bakteri Staphylococcus aureus(Dewi,2013)

2.4 Metode PemisahanEkstraksi


Ekstraksi adalah metode penarikan suatu senyawa dari campurannya
dengan menggunakan pelarut yang sesuai.Pelarut yang umum digunakan
diantaranya pelarut polar seperti metanol dan etanol; pelarut semi polar seperti
kloroform, etil asetat, dan diklorometana; pelarut non polar seperti n-heksana.
Metode ekstraksi dilakukan untuk melarutkan senyawa-senyawa yang terdapat
dalam jaringan ke dalam pelarut yang dipakai pada proses ekstraksi tersebut
(Kristantiet al.,2008).
Metode ekstraksi senyawa bahan alam yang biasa digunakan antara lain
maserasi, perkolasi, dan sokletasi. Pemilihan metode ekstraksi dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu sifat jaringan tanaman yang diekstraksi dan sifat kandungan
zat aktif dalam tanaman yang akan diisolasi. Ekstraksi dibedakan menjadi dua
macam berdasarkan bentuk campurannya yaitu ekstraksi padat-cair dan ekstraksi
cair-cair. Ekstraksi padat-cair adalah ekstraksi dimana substansi yang diekstraksi
terdapat di dalam campuran yang berbentuk padat contohnya proses maserasi.
Ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi dimana substansi yang diekstraksi terdapat di
dalam campuran yang berbentuk cair contohnya proses fraksinasi (Kristanti et al.,
2008).

Maserasi merupakan proses peredaman sampel berbentuk padat dengan


pelarut organik pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam
proses isolasi senyawa bahan alam karena akan terjadi pemecahan dinding dan
membran sel akibat peredaman tekanan antara di dalam dan di luar sel sehingga
metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut
organik. Metode maserasi dapat digunakan untuk menghindari rusaknya senyawa-
senyawa akibat pemanasan (Mukhriani, 2014).

Ekstraksi senyawa dengan metode maserasi akan sempurna tergantung


dari pemilihan pelarut yang sesuai dan waktu perendaman. Secara umum pelarut
metanol merupakan pelarut yang paling banyak digunakan dalam proses senyawa
bahan alam karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder
(Darwis, 2000).
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Pengambilan sampel bertempat di kota Pontianak Kalimantan Barat.


Sedangkan analisis dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium
Bioinformatik, Laboratorium Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Laboratorium Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia, Depok.

3.2 Bahan Dan Alat Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit daun lidah
buaya (Aloe vera ) yang tua yaitu daun yang terletak paling bawah, etanol 96%,
HCl pekat, logam Mg, pereaksi FeCl3 1 %, NaOH 1 N, dimetil sulfoksida
(DMSO), HPMC, poloxamer 407, propilenglikol, nipagin, aquadest, buffer fosfat
pH 7,4, bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, antibiotik standar berupa
kloramfenikol, sel kornea manusia (10.014 pRSV-T), kolagen pureultra 3,1
mg/mL, faktor pertumbuhan sel endothelial 75 g/mL, ekstrak, bovine pituitary
0,05 mg/mL, hydrocortisone dan bovine insulin 0,0005 mg/mL, antibiotik (100
U/mL penicillin, 100 g/mL streptomycin), larutan 0,4% NR, CaCl2 1%,
paraformaldehid 4%, asam asetat 1%, larutan etanol 50%, larutan MTT, sodium
dodecyl sulfate 10%, larutan DPPH, reagen Griess 100 L, H3PO4 3%, sodium
nitrit 0,5-25 M, medium K-SFM, larutan paraformaldehid 10%, dan larutan
Triton X-100.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas yang
umum digunakan, neraca analitik, kertas saring, alat penguap vakum putar/rotary
evaporator. Untuk uji antibakteri digunakan instrumen laboratorium mikrobiologi
yaitu jarum ose, petri dish, inkubator, laminar flow, waterbath, pH meter,
viskometer, alat difusi Franz, spektrofotometer UV, dan mikro pipet, tabung
kultur 25 cm2, plate well-96, mikrotiter bertutup datar, microplate reader.
3.3 Prosedur Penelitian

3.3.1 Tahapan Pembuatan Ekstrak Kulit Daun Lidah Buaya


Ekstrak kulit daun lidah buaya dibuat dengan metode maserasi. Lidah
buaya diperoleh dari Pontianak, Kalimantan Barat. Bagian lidah buaya (Aloe vera)
yang dipakai adalah kulit daun lidah buaya (Aloe vera) yang tua yaitu daun yang
terletak paling bawah. Sebanyak 2 kg kulit daun lidah buaya (Aloe vera) dicuci
bersih kemudian ditiriskan dan dipotong potong tipis. Selanjutnya potongan
daun lidah buaya dijemur di bawah sinar matahari. Penjemuran dilakukan
beberapa hari, sampai potongan daun lidah buaya benarbenar kering dan mudah
dipatahkan dengan tangan. Potongan daun lidah buaya yang sudah kering,
selanjutnya dibuat serbuk (simplisia) dengan cara dihancurkan dengan blender,
lalu simplisia yang dihasilkan ditimbang. Simplisia siap dimaserasi dengan
merendam ke dalam pelarut etanol 96% sebanyak 7,5 liter sampai terendam
seluruhnya selama 24 jam, kemudian disaring dengan kertas penyaring. Residu
kembali dimaserasi lagi dengan cara yang sama, sampai tiga kali. Ekstrak atau
filtrat hasil maserasi ditampung menjadi satu dan diuapkan untuk memisahkan
pelarutnya. Dengan menggunakan Rotary evaporator pada suhu 45 - 50C,
dilakukan penguapan eksrak sampai pelarut habis menguap, sehingga diperoleh
ekstrak kental daun lidah buaya (Dewi, 2010).

3.3.2 Skrining Fitokimia


3.3.2.1 Uji Flavonoid
Uji flavonoid dilakukan dengan menggunakan pereaksi
Willstater/Sianidin. Sebanyak 2 mL ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi
dan ditambah 0.5 mL asam klorida pekat dan 3-4 pita logam Mg. Adanya
flavonoid ditandai dengan warna merah, jingga dan hijau tergantung pada struktur
flavonoid yang terkandung dalam sampel tersebut (Markham, 1988).

3.3.2.3 Uji Fenolik dan Saponin


Uji fenolik dilakukan dengan menggunakan pereaksi FeCl3 1 %. Sebanyak
2 mL ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah 0.5 mL FeCl3 1%.
Adanya senyawa fenolik ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru atau biru
keunguan. Untuk uji saponin dilakukan dengan cara, tabung reaksi dikocok kuat,
bila berbentuk busa selama 15 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes
asam klorida pekat menunjukkan adanya saponin (Markham, 1988).

3.3.2.4 Uji Kuinon


Ekstrak sebanyak 2 mL ditambahkan dengan 0,5 mL NaOH 1 N. Jika
terbentuk warna merah maka positif adanya senyawa golongan kuinon (Markham,
1988).

3.3.3 Uji Antimikroba


3.3.3.1 Pembuatan Media Agar Mueller-Hinton
Ditimbang 41 gram bubuk agar Mueller-Hinton dimasukkan ke dalam
erlenmeyer yang berisi 1500 mL akuades steril (75 petri) dan dilarutkan.
Diautoclave dengan tekanan 121 atm selama 15 menit. Didinginkan dengan
waterbath hingga suhu 50C, ditambahkan 75 mL darah kambing dan
dihomogenkan. Setelah itu dituang ke dalam cawan petri dan didinginkan. Ambil
5% dari jumlah total petri yang berisi media dan diinkubasi selama 24 jam pada
suhu 37C. Keesokan harinya dicek sterilitas dari pada media, kalau steril bisa
dipakai untuk media penanaman Staphylococus aureus.

3.3.3.2 Uji Antibakteri


Uji aktivitas antibakteri dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri
ekstrak etanol lidah buaya (Aloe vera). Uji antibakteri menggunakan antibiotik
standar kloramfenikol dalam bentuk paper disc. Ekstrak dilarutkan dalam dimetil
sulfoksida (DMSO) hingga dihasilkan variasi konsentrasi. Paper disc dicelupkan
pada ekstrak atau fraksi kemudian dikeringanginkan. Paper disc antibiotik
digunakan sebagai standar. Paper disc dari masing-masing ekstrak digunakan
sebagai sampel. Paper disc dari DMSO digunakan sebagai kontrol negatif. Semua
paper disc dimasukkan ke dalam media Mueller Hinton yang telah ditumbuhi
bakteri dan diinkubasi selama 1 x 24 jam pada suhu 37oC. Diameter zona bening
yang dihasilkan dari paper disc diamati dan ditentukan konsentrasi hambat
minimum (Das, et al. 2010).
3.3.4 Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Daun Lidah Buaya (Aloe vera)
Uji toksisitas ekstrak etanol daun lidah buaya dilakukan pada kultur
in vitro sel kornea manusia (10.014 pRSV-T).

3.3.4.1 Kultur sel


Sel dikultur sebagai lapisan tunggal dalam tabung kultur 25 cm2 dilapisi
dengan kolagen pureultra pada konsentrasi 3,1 mg/mL. Baris sel dipertahankan
dalam K-SFM (medium bebas serum-keratinocyte) disuplementasi dengan 75
g/mL faktor pertumbuhan sel endothelial, 0,05 mg/mL ekstrak bovine pituitary,
hydrocortisone dan bovine insulin 0,0005 mg/mL serta antibiotik (100 U/mL
penicillin, 100 g/mL streptomycin) pada 37oC dalam atmosfer lembab dengan
5% CO2.

3.3.4.2 Inkubasi sel dengan ekstrak aloe vera


Prosedur selanjutnya adalah inkubasi sel dengan ekstrak aloe vera. Jumlah
total sel diperkirakan dengan dihitung menggunakan haemocytometer Thoma.
Dosis dari 100 L suspensi sel (1105 sel/mL) ditambahkan pada plate well-96
mikrotiter bertutup datar (metode MTT dan NR). Setelah 24 jam inkubasi, media
dibuang dan dignati yang baru, dengan konsentrasi ekstrak yang sesuai. Sebagai
kontrol, diinkubasi juga selama 24 jam, digunakan media kultur sel dalam 100 L,
jumlah total sel ekuivalen dengan yang ada pada wells sampel. Kontrol negatif
hanya terdiri dari medium kultur. Inkubasi dilakukan selama 24 jam, dengan
aktivitas sitotoksisitas dan antiproliferative dari ekstrak diperkirakan dengan
metode spektrofotometrik (uji MTT dan NR).

3.3.4.3 Pengujian penyerapan Neutral Red (NR)


Selanjutnya dilakukan uji penyerapan Neutral Red (NR). Uji sitotoksisitas
NR didasarkan pada penyerapan dan akumulasi lisosomal zat warna supravital,
Neutral Red. Sel yang mati atau rusak tidak membawa pewarna (Ganbold et al.,
2010). Sel ditumbuhkan dalam multiplate well-96 pada medium kultur 100 L (K-
SFM) dengan suplemen dan ekstrak aloe vera pada tiga dosis (25, 75, dan 125
g/mL) dan standar. Kemudian, medium dibuang dan ditambahkan medium laruta
0,4% NR untuk setiap well. Plate diinkubasi selama 3 jam pada 37oC dalam
kelembaban 5% CO2/95% inkubator udara. Setelah inkubasi, medium yang
mengandung pewarna di hilangkan, sel dipertahankan dengan 1% CaCl2 dalam
4% paraformaldehid, setelah itu zat warna yang dimasukkan, dilarutkan
menggunakan 1% asam asetat dalam 50% larutan etanol (100 L). Plate
digoyangkan dengan lembut selama 20 menit pada suhu kamar dan absorbansi
ekstrak zat pewarna diukur secara spektrofotometrik pada 540 nm menggunakan
microplate reader.

3.3.4.4 Pengujian MTT


Langkah selanjutnya adalah uji MTT. Sensitivitas sel terhadap ekstrak aloe
vera ditentukan dalam spektrofotometrik standar 3-(4,5-dimethylthiazole-2-yl)-
2,5-diphenyltetrazolium bromida (MTT) pengujian mengacu pada Mosmann
(1983). Uji MTT didasarkan pada konversi garam tetrazolium kuning dengan sel
aktif menjadi kristal ungu formazan. Reaksi dikatalis dengan mitochondrial
succinyl dehydrogenase. Pertumbuhan sel pada multiplate well-96 dalam medium
kultur 100 L diinkubasi selama 3 jam dengan larutan MTT (5 mg/mL, 25
L/well). Garam tetrazolium kuning dimetabolisme dengan sel hidup menjadi
kristal ungu formazan. Reaksi dikatalis dengan mitochondrial succinyl
dehydrogenase. Kristal dilarutkan semalaman dalam 10% sodium dodecyl sulfate
dalam 0,01 M campuran HCl. Produk diukur secara spektrofotometri dengan
pengukuran absorbansi pada panjang gelombang 570 nm menggunakan sebuah
Emax microplate reader.

3.3.4.5 Uji scavenging radikal bebas DPPH


Langkah selanjutnya adalah pengujian scavenging radikal bebas DPPH.
Aktivitas scavenging radikal bebas dari ekstrak diukur melalui uji 1,1-diphenyl-2-
picrylhydrazine (DPPH). Metode ini didasarkan pada kemampuan antioksidan
untuk mereduksi ungu gelap stabil radikal DPPH menjadi diphenyl-
picrylhydrazine yang berwarna kuning. Secara singkat, larutan DPPH 100 L (0,2
mg/mL dalam etanol) ditambahkan pada 100 L konsentrasi ekstrak (25-125
g/mL) dan standar. Trolox pada peningkatan konsentrasi (1-50 g/mL)
digunakan sebagai standar untuk aktivitas scavenging radikal bebas. Setelah 20
menit inkubasi pada suhu kamar, absorbansi larutan diukur pada 515 nm;
absorbansi yang lebih rendah, aktivitas scavenging radikal bebas oleh ekstrak
lebih tinggi. Aktivitas dari setiap ekstrak ditentukan dengan membandingkan
absorbansinya dengan larutan kontrol (reagen tanpa ekstrak) dan standar.
Kemampuan untuk scavenging radikal bebas DPPH dihitung melalui persamaan
berikut:

Efek scavenging DPPH (%) = [(Xkontrol Xekstrak/Xkontrol)100]

Dimana Xkontrol adalah absorbansi dari kontrol dan Xekstrak adalah absorbansi
dengan adanya ekstrak (Wozinak dan Paduch, 2012).

3.3.4.6 Pengukuran NO
Prosedur pengujian selanjutnya adalah pengukuran NO. Nitrat, sebuah
produk akhir stabil dari NO, ditentukan dalam kultur supernatan melalui metode
spektrofotometrik yang didasarkan pada reaksi Griess. Tingkat nitrit
merefleksikan produksi NO (Muzitano et al., 2011). Secara singkat, sel kornea
diinkubasi selama 24 jam dengan dua konsentrasi aloe vera: 8 dan 20 g/mL dan
kemudian kultur supernatan dikumpulkan. Lalu, 100 L supernatan di sepuh
dalam plate well-96 bertutup datar ke dalam tiga rangkap dan diinkubasi dengan
100 L reagen Griess (1% sulfanilamida/0,1% N-(1-naphthyl)etilendiamin
dihydrochloride) dalam 3% H3PO4 pada suhu kamar selama 10 menit. Densitas
optikal diukur pada 570 nm menggunakan microplate reader. Kurva standar
didapat menggunakan 0,5-25 M sodium nitrit (NaNO2) untuk kalibrasi (Wozniak
dan Paduch, 2012).

3.3.4.7 ELISA
Tingkat dari IL-1, IL-6, TNF- dan IL-10 manusia diuji secara
immunoenzimatik (ELISA) dalam kultur supernatan menggunakan kits yang
tersedia secara komersial (Diaclone) mengacu pada instruksi manufaktur.
Kerapatan optikal pada 450 nm dengan panjang gelombang koreksi 570 nm dari
setiap sampel ELISA ditentukan menggunakan microplate reader. Konsentrasi
IL-1, IL-6, TNF- dan IL-10 dihitung berdasarkan kurva standar: 7 pg/mL (IL-
1), 2 pg/mL (IL-6), 8 pg/mL (TNF-) dan 5 pg/mL (IL-10) merupakan batas
deteksi (Wozniak dan Paduch, 2012).
3.3.4.8 Label dari cytoskeleton F-actin
Pewarnaan phalloidin merupakan alat yang berguna untuk mengamati
distribusi dari F-actin pada sel. Sel diinkubasi dalam well-4 slide chamber pada 1
mL medium kultur dengan ekstrak tanaman. Setelah inkubasi, sel dibilas dengan
medium K-SFM dan diekspos dengan larutan paraformaldehid (10%, v/v) selama
20 menit, bilas tiga kali dalam garam buffer fosfat (PBS), diekspos dengan larutan
Triton X-100 (0,2%, v/v) selama 5 menit dan dibilas tiga kali dengan PBS.
Volume 0,5 mL PBS mengandung tetramethyl-rhodamine-isothiocyanate-
phalloidin (TRITC-phalloidin, 1 g/mL) ditambahkan untuk setiap well dan
diinkubasi dalam gelap pada 37oC/5% CO2 selama 30 menit. Pengamatan sel
dilakukan dibawah mikroskop fluorescence. Analisis kuantitatif dari gambar
fluorescent dilakukan melalui sistem analysis imaging software (Wozniak dan
Paduch, 2012).

3.3.4.9 Analisis statistika


Hasil ditampilkan sebagai rata-rata SD dari tiga percobaan. Data
dianalisis menggunakan satu cara analisis varian dengan uji Dunnett post hoc.
Perbedaan dari p 0,01 dianggap signifikan.

3.3.5 Pembuatan Sediaan Gel Mata Sediaan Lidah Buaya (Aloe vera)
Sediaan gel mata yang akan di buat sesuai dengan formula pada tabel di
bawah ini.

Tabel 1. Fomula Sediaan Gel


No. Bahan Komposisi
1 Ekstrak etanol lidah buaya (Aloe vera) 1,0 g
2 HPMC 0,05 %
3 Poloxamer 407 17,5%
4 Propilenglikol 10%
5 Nipagin 0,02%
6 Aquadest 100 mL

Sediaan gel lidah buaya (Aloe vera) dibuat dengan kombinasi basis HPMC
dan poloxamer 407 sesuai dengan formula pada Tabel 1. Poloxamer 407 dan
HPMC ditimbang dan dilarutkan dalam aquadest. Kemudian larutan basis tersebut
disimpan dalam lemari es semalaman. ekstrak etanol lidah buaya (Aloe vera)
ditimbang dan ditambahkan ke dalam propilenglikol. Nipagin juga ditambahkan
dalam larutan propilenglikol dan diaduk sampai homogen.

Disiapkan sebanyak empat buah botol-botol vial yang berukuran 100 ml.
Masing-masing bahan diisikan ke dalam botol (HPMC, poloxamer 407, larutan
ekstrak etanol lidah buaya (Aloe vera) dan aquadest). Kemudian keempat botol
disterilisasi dengan autoklaf selama 15 menit pada suhu 121oC. Pembuatan
sediaan gel mata dan proses pencampuran bahan gel dilakukan didalam ruang
LAF secara aseptis (Shahank, et al., 2012).

3.3.6 Evaluasi Sediaan Gel Lidah Buaya (Aloe vera)


3.3.6.1 Pengujian Organoleptis Sediaan

Pengujian organoleptis diamati dari parameter warna, kejernihan dan bau


yang timbul dari sediaan. Pengamatan dilakukan selama 28 hari.

3.3.6.2 Pengujian pH Sediaan

Pengujian nilai pH dilakukan dengan alat pH meter yang dikalibrasi


terlebih dahulu dengan standar pH 7 dan standar pH 4. Sampel sediaan ditimbang
sebanyak 1 gram dan dilarutkan dalam 10 ml aquadest. Kemudian dilakukan
pengukuran pH. Pengamatan dilakukan selama 28 hari.

3.3.6.3 Pengujian Viskositas Sediaan

Pengukuran viskositas dilakukan dengan viskometer. Spindle nomor 3


dicelupkan ke dalam 150 ml sediaan gel yang disimpan dalam gelas khusus dan
diamati nilai yang muncul pada layar viskometer. Pengamatan dilakukan selama
28 hari.

3.3.6.4 Pengujian Sterilitas Sediaan

Uji sterilitas diawali dengan pembuatan media uji, yaitu media Trypticase
Soy Broth (TSB) dan Fluid Thioglycollate medium (FTM), evaluasi media uji,
serta uji sterilitas dari sediaan gel mata yang telah dibuat.
3.3.6.5 Pengujian Kadar Sediaan Gel Lidah Buaya (Aloe vera)

Penentuan kadar obat ditentukan dengan mengambil 0,2 ml sediaan dan


diencerkan menggunakan larutan buffer fosfat pH 7,4 pada labu ukur sampai
volume 20 ml. Absorbansi gel lidah buaya (Aloe vera) ditetapkan pada panjang
gelombang maksimum menggunakan spektrofotometer UV. Konsentrasi sediaan
gel lidah buaya (Aloe vera) diperoleh dengan memasukkan nilai absorbansi pada
persamaan kurva kalibrasi yang telah dibuat (Maheswara, et al., 2011).
Pengamatan dilakukan selama 28 hari.

3.3.6.6 Pengujian Difusi Sediaan

Uji difusi dilakukan dengan metode sel difusi franz secara in vitro
menggunakan membran kornea mata kelinci diletakkan dalam sel difusi.
Sebanyak 1 gram sediaan gel dituang dalam sel difusi. Aliran buffer fosfat pH 7,4
dalam alat difusi Franz diatur pompa dengan kecepatan putaran 4 ml/menit.
Sampel diambil sebanyak 5 ml dalam periode waktu tertentu, yaitu 5 menit, 15
menit, 30 menit, 45 menit, 60 menit, 120 menit, 180 menit, dan seterusnya sampai
480 menit. Pengukuran kadar obat dilakukan dengan spektrofotometer ultraviolet
pada panjang gelombang maksimum (Shahank, et al., 2012).

3.3.7 Uji Toksisitas Sediaan Gel Daun Lidah Buaya (Aloe vera)
Uji toksisitas akan dilakukan secara in vitro dan in vivo lebih lanjut
menggunakan metode yang tepat dan sesuai.

3.3.8 Uji Klinik Sediaan Gel Daun Lidah Buaya (Aloe vera) Pada Manusia
Uji akan klinik sediaan gel daun lidah buaya (aloe vera) pada manusia
dilakukan secara in vitro dan in vivo lebih lanjut menggunakan metode yang tepat
dan sesuai.

3.3.9 Packaging

Proses pengemasan merupakan tahapan penting dalam pembuatan obat.


Karena pada tahapan ini sangat mempengaruhi stabilitas dan mutu produk
akhir.Bahkan belakangan ini, faktor kemasan dapat menjadi gambaran ukuran
bonafiditas suatu produk/perusahaan farmasi (Kurniawan, 2012).Pengemasan
adalah wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau mengurangi
terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas/dibungkusnya.
Pengemas diartikan sebagai wadah, tutup dan selubung sebelah luar, artinya
keseluruhan bahan kemas, dengannya obat ditransportasikan dan/atau disimpan
(Voigt, 1995).

3.3.9.1 Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas (kontak


produk dengan kemasan)
a. Kemasan primer

Kemasan primer yaitu emasan yang langsung mewadahi atau


membungkus bahan yang dikemas. Misalnya kaleng susu, botol minuman,
strip/blister, ampul, vial dan lain-lain.

b. Kemasan sekunder

Kemasan sekunder yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi


kelompok-kelompok kemasan lain. Misalnya kotak karton untuk wadah susu
dalam kaleng, kotak kayu untuk buah yang dibungkus dan sebagainya.

c. Kemasar tersier, kuartener

Kemasar tersier, kuartener yaitu kemasan untuk mengemas setelah


kemasan primer, sekunder atau tersier. Kemasan ini digunakan untuk pelindung
selama pengangkutan.Misalnya jeruk yang sudah dibungkus, dimasukkan ke
dalam kardus kemudian dimasukkan ke dalam kotak dan setelah itu ke dalam peti
kemas (Julianti dan Nurminah 2006).

3.3.10 Fungsi Dan Peranan Kemasan

Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan


melindungi produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga lebih mudah disimpan,
diangkut dan dipasarkan. Secara umum fungsi pengemasan pada bahan pangan
adalah :

1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen,


agar produk tidak tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran
2. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar
ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari
kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk.
3. Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai
alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang
terdapat pada kemasan.
4. Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu
kemasan berisi 10, 1 lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan
pengiriman dan penyimpanan. Hal ini penting dalam dunia perdagangan..
5. Melindungi pengaruh buruk dari luar, Melindungi pengaruh buruk dari
produk di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk
yang berbau tajam, atau produk berbahayaseperti air keras, gas beracun
dan produk yang dapat menularkan warna, maka dengan mengemas
produk ini dapat melindungi produk-produk lain di sekitarnya (Julianti dan
Nurminah 2006).

3.3.10.1 Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pengemasan:

1. Harus selalu mengikuti dan mematuhi prosedur tertulis yang sudah dibuat.
2. Harus selalu mengikuti dan menjalankan in process control.
3. Pra penandaan pada bahan pengemas harus selalu dilakukan.
4. Sebelum melakukan pengemasan, kesiapan jalur pengemasan harus selalu
diperiksa.
5. Hanya obat yang berasal dari satu batch saja yang boleh ditempatkan
dalam satu palet.
6. Produk yang rupa dan bentuknya sama tidak boleh dikemas pada jalur
yang berdampingan.
7. Pada jalur pengemasan, nama dan nomer batch harus terlihat jelas.
8. Produk antara dan produk jadi yang masih dalam proses pengemasan harus
selalu diberi label identitas dan jumlah.
9. Produk yang telah diisikan kedalam wadah akhir tapi belum diberi label,
harus dipisah dan diberi tanda.
10. Peralatan pengemasan tidak boleh bersentuhan langsung dengan produk.
11. Bahan untuk pengemasan seperti: pelincir, perekat, tinta, cairan
pembersih, ditempatkan dalam wadah berbeda dari wadah untuk produk
(Kurniawan, 2012).

Dalam hal material, tidak semua bahan dapat berfungsi sebagai pengemas
demikian pula persyaratan dan spesifikasi bahan pengemas untuk keperluan yang
satu berbeda dengan yang lain. Beberapa persyaratan bahan pengemas adalah :

a. Memiliki permeabilitas terhadap udara (oksigen dan gas lain) yang baik
b. Harus bersifat tidak toksik dan tidak bereaksi (inert), sehingga tidak terjadi
reaksi kimia yang dapat menyebabkan atau menimbulkan perubahan
warna, flavor dan citarasa produk yang dikemas
c. Harus mampu menjaga produk yang dikemas agar tetap bersih dan
merupakan pelindung terhadap pengaruh panas, kotoran dan kontaminan
lain
d. Harus mampu melindungi produk yang dikemasnya dari kerusakan fisik
dan gangguan dari cahaya (penyinaran)
e. Harus mudah dibuka dan ditutup dan dapat meningkatkan kemudahan
penanganan, pengangkutan dan distribusi
f. Harus mampu menjelaskan identifikasi dan informasi dari bahan yang
dikemasnya, sehingga dapat membantu promosi atau memperlancar proses
penjualan.
Dengan banyaknya persyaratan yang diperlukan untuk bahan kemas, maka
tentu saja bahan kemas alami tidak dapat memenuhi semua persyaratan tersebut
sehingga manusia dengan bantuan teknologi berhasil membuat bahan kemas
sintetik yang dapat memenuhi sebagian besar dari persyaratan minimal yang
diperlukan (Anonim, 2006).

Aloevento produk kami kemasan primernya adalah kemasan gel dan


kemasan sekundernya adalah kertas karton kotak.Selain ekonomis juga ringan
untuk dibawa.
Gambar perkiraan kemasan produk Aloevento

Kemasan gel yang terdiri dari logam timah 15%, aluminium 60%, dan
timbale 25%. Jika produk tidak dapat bercampur dengan logam-logam tersebut
bagian dalamnya dapat disiram dengan suatu formula semacam lilin atau dengan
larutan resin, meskipun resin atau lacquer biasanya disemprotkan keatasnya.Tube
dengan larutan epoxy biayanya kira-kira 25%lebih besar daripada jika tube
tersebut tidak diberi lapisan.
Lapisan yang menggunakan lilin paling sering digunakan pada produk
yang mengandung air di dalam tube timah, dan fenol, epoxy serta vinil dipakai
pada tube aluminium, memberikan perlindungan yang lebi baik daripada lilin,
tetapi dengan biaya yang lebih tinggi. Lapisan fenol paling efektif bagi produk
asam epoxy memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap bahan-bahan
alkali

3.3.10 Pemasaran

Dalam pemasaran hal yang terlebih dahulu kita harus lakukan adalah
analisis pemasarannya, guna untuk menentukan nama produk, harga dan lain-lain.
Dengan demikian kita dapat dengan mudah menentukan bagaimana strategi
pemasaran yang ingin kita lakukan untuk mencapai tujuan pemasaran.

1. Analisis Pemasaran
Ada bebrapa aspek yang perlu kita analisis terlebih dahulu sebelum memasuki
strategi pemasaran :
1.1. Demografi
Di Indonsia populasi usia dewasa antara 15-65 tahun ke atas adalah yang
paling besar yaitu 71,2 persen. Di usia kisaran ini, aktivitas menggunakan
penglihatan sangat aktif. Apalagi pada zaman teknologi, penggunaan handphone,
computer dan gadget lainnya. Kita tahu penambahan umur atau semakin seringnya
penglihatan ke layar akan sejalan dengan penurunan daya penglihatan. Salah satu
cara untuk meningkatkan daya penglihatan adalah mengkonsumsi obat herbal.
Populasi usia inilah yang kami jadikan pasar sasaran.

1.2. Ekonomi
Pada tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi menimbulkan dampak
social ekonomi pada kehidupan masyarakat.Kondisi itu menyebabkan harga
barang impor termasuk obat farmasi mahal sehingga menyebabkan daya beli
masyarakat menurun.Hal ini menjadi factor penyebab masyarakat beralih kepada
obat herbal yang terbuat dari tanaman yang harganya jauh lebih murah.Keadaan
social ekonomi ini juga masih terbawa sampai saat ini, bahwa harga obat herbal
masih lebih murah dibandingkan obat farmasi.Kondisi semakin mahalnya harga
obat farmasi menunjukkan salah satu peluang yang dapat kami ambil.
1.3. Teknologi
Kemajuan teknologi dapat menciptakan pasar baru, menghasilkan
perkembangan produk baru dan lebih baik, serta mengubah posisi biaya
bersaing.Hal ini menyebabkan produksi herbal harus mampu bersaing dengan
obat farmasi.Termasuk didalamnya kualitas di sertakan uji-uji memenuhi standar,
penyajian dan pengemasan yang tidak kalah menarik dengan obat farmasi oleh
industri.Maka dari itu, penyajian dan pengemasan akan dibuat semenarik mungkin
yang mampu bersaing dengan produk laiinya. Dan kami akan melakukan uji-uji
terlebih dahulu pada produk kami sebelum dipasarkan.
1.4. Politik dan Hukum
Pemerintah memiliki peranan besar dalam pelaksanaan kegiatan suatu
usaha.Kebijakan pemerintah dapat menjadi peluang sekaligus ancaman bagi
sektor industri obat.Peraturan pemerintah masih dianggap belum melindungi dan
mengangkat industri obat herbal.Obat herbal masih disamakan dengan obat-
obatan farmasi yang banyak dikembangkan oleh industri besar, padahal industri
obat herbal masih didominasi oleh Usaha Kecil Menengah (UKM). Selama ini
produk obat herbal harus mengikuti peraturan yang dirancang dengan standar
obat-obatan farmasi dari negara-negara barat, mulai dari uji klinis, tata bahasa
periklanan, serta ketentuan lain yang menyebabkan industri obat herbal tidak
berkembang optimal di pasar dalam negeri.

1.5. Sosial Budaya


Pemakaian obat-obatan dari tanaman sudah menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat Indonesia secara umum.Masyarakat Indonesia menggunakan tanaman
obat dalam sistem pengobatan yang mereka lakukan berdasarkan pengalaman
empiris yang akhirnya menjadi kebiasaan turun temurun.Seiring dengan adanya
konsep back to nature yang memberikan kesan aman dikonsumsi seluruh
keluarga, maka obat herbal menjadi pilihan utama.Selain itu minum obat
tradisional sudah menjadi kebiasaan dan masyarakat meyakini khasiat dari obat-
obatan tradisional sejak zaman nenek moyang.Hal diatas merupakan peluang bagi
kami untuk terus mengembangkan produk obat herbal.

1.6. Nama Produk dan Lambang


Nama produk dan lambang dalam suatu usaha merupakan hal yang sangat
penting, karena akan tercipta hak paten dari produksi tersebut agar
orang/perusahaan lain tidak bisa meniru/plagiat. Selain itu agar masyarakat mudah
mengenal obatnya dan nama perusahaannya. Dalam nama dan lambang juga
biasanya tersirat makna dari produk tersebut. Kami memberi nama produk kami
adalah Aloevento yang berarti bahan baku dari produk kami adalah Aloevera
(tanaman lidah buaya).

1.7. Pesaing & Harga


Adapun persaingan dalam industri obat herbal dengan obat sintetik
industri belum tergolong banyak.Terkhususnya produk yang menggunakan lidah
buaya sebagai bahan utama.Beberapa perusahan yang sukses mengeluarkan
produk obat herbal dan sintetik untuk mata tertera pada tabel berikut.
Tabel 2. Daftar Harga Produk Pesaing.

Nama Perusahaan Kemasan produk Nama Harga Jenis


Brand

PT. Pharma Health Botol Tetes 7,5 Insto Rp Sintetik


Care ml 15000

Botol tetes Otem Rp Herbal


35000

PT. Cendo Botol Tetes 5ml Protagenta Rp Sintetik


51000

Botol Tetes 10ml Miracle Rp Herbal


Betel 40000

MetabolUI Botol Gel Aloevento Rp Herbal


10000

Harga yang kami tentukan sudah kami sesuaikan dengan harga kasar
pembelian bahan baku, modal dan lain-lain. Alasan lain adalah karena obat herbal
kami ini merupakan produk baru, harga tersebut haruslah harga yang terjangkau di
masyarakat dan juga sebagai untuk permulaan pengenalan produk kami di
masyarakat guna mendapatkan kepercayaan terlebih dahulu.

1.8. Pelanggan
Populasi usia dewasa antara 15-65 tahun ke atas di Indonesia paling besar
yaitu 71,2 persen. Usia ini biasanya konsumen yang melakukan pembelian untuk
keluarga sehingga merupakan konsumen yang potensial bagi obat herbal dapat
dikonsumsi untuk seluruh keluarganya. Kami juga akan melakukan edukasi pasar
atau persuasi terhadap pelanggan ini untuk mengkonsumsi obat herbal kami bagi
dirinya dan keluarga untuk menjaga daya penglihatan.
1.9. Pemasok
Dalam pembuatan obat herbal ini kami menggunakan tanaman lidah buaya.
Pembelian bahan baku akan kami lakukan sesuai dengan setiap target produksi.
Pembelian dilakukan dengan melihat kualitas bahan baku dan penawaran harga.
Setiap melakukan pembelian, kami akan melakukan negosiasi harga. Kami
akanmemilih pemasok yang menawarkan harga paling rendah dengan kualitas
sesuai standar. Dan akan mencoba mengajak menjadi mitra usaha.

1.10. Manajemen
Struktur manajemen kami terbilang sederhana dengan pembagian kerja yang
masing-masing saling membantu dan saling dirundingkan. Meliputi pembelian
bahan baku, pembuatan obat sampai dikemas, administrasi dan keuangan, bagian
produksi, bagian pemasaran. Dimana kelompok usaha kami adalah mahasiswa
pascasarjana Kimia Universitas Indonesia.

2. Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang
bertujuan memberikan informasi mengenai barang atau jasa yang ditawarkan
dalam kaitannya dengan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Strategi
pemasaran merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam
mengembangkan usaha. Dalam strategi pemasaran, promosi harus menonjolkan
keunggulan-keunggulan produk di banding produk lain. Memperkenalkan
identitas produk dan membandingkan perbedaan dengan produk dengan yang lain.
Mengkomunikasikan konsep produk, manfaat dan kelebihannya.Mengarahkan
pemakaian produk.Memberitahukan tempat penjualan atau pembelian untuk
merangsang pemasaran yang lebih cepat.Meningkatkan penjualan.Membangun
citra produk dan menjaga kemampuan produk dalam pandangan masyarakat.
Adapun keungulan produk Aloevento kami adalah:

- Produk Aloevento kami memiliki harga yang kompetitif dibandingkan


pesaingnya. Harga jual satu botol (Rp 10000) lebih murah dibandingkan
pesaingnya.
- Produk Aloevento berbahan Herbal dimana diketahui jauh lebih aman
dibandingkan sintetik.
- Produk Aloevento suplemen mata yang aman dikonsumsi terus menerus.
- Produk Aloevento berkhasiat mengobati berbagai penyakit mata.
- Produk Aloevento dingin sehingga menyegarkan mata.
- Produk Aloevento dibuat oleh mahasiswa pascasarjana dari universitas
terkemuka di Indonesia
Strategi pemasaran masih terbatas dalam mempromosikan hal ini dikarenakan
kendala biaya promosi. Cara pemasaran yang akan kami lakukan berupa promosi
melalui offline maupun online antara lain :

2.1.Offline
1. Brosur
Penyebaran brosur Aloevento belum mempunyai distributor dalam
memasarkan produk-produk.Sehingga brosur masih dipasarkan terbatas di klinik
pengobatan, di apotik, di pameran, di minimarket.

2. Penjualan Secara langsung


Juga dengan cara lisan, hal ini juga menekan biaya promosi. Termasuk efektif
karena calon pembeli mendapatkan kepercayaan secara langsung. Yang
dibutuhkan adalah bagaiman cara meyakinkan calon pembeli disertakan
keramahan agar penjualan berhasil dan untuk menjalin komunikasi yang baik
antara kami sebagai penjual dengan para konsumen guna meningkatkan penjualan
serta mendapat kepercayaan yang tinggi dari konsumen. Namun yang menjadi
kelemahan adalah memerlukan waktu yang panjang.

2.2. Online
Wawan (2006) menjelaskan perdagangan online adalah kegiatan komersial
dengan penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui
sistem elektronik seperti internet atau televisi, atau jaringan komputer lainnya
dapat mempermudah dalam memasarkan produk dan memperluas penjualan
produknya.Meningkatkan penjualan yang besar, salah satu cara yang paling
efektif adalah komuniksi terhadap konsumen di dunia digital. Saat ini banyak
brand yang menggunakan dunia digital sebagai sarana menarik konsumen.Bahkan
konsumen sendiri memang sudah banyak beralih menggunakan platform digital
untuk mengakses beragam informasi yang mereka inginkan.
Kami juga akan menarik pelanggan dari para pengguna media sosial untuk
memperlebar pemasaran. Agar Aloevento produk kami dapat dengan mudah
ditemukan dan diingat, kami telah membuat tagline yang cukup kreatif, yakni
#matasehataloevento.Selain ekonomis, penyebaran promosinya sangat cepat atau
waktunya singkat dibandingkan offline.Maka kami juga harus mampu mengikuti
perkembangan teknologi dalam pemasaran. Adapun pemasaran yang kami
lakukan secara online adalah melalui :

1. Website
Jika internet dulunya hanya untuk social media dan juga sarana pencarian
informasi, sekarang sudah ada penambahan fitur yaitu dengan istem online
shop.Berdasarkan data APJJ (asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia) didapat
kebanyakan pengguna internet sekarang digunakan untuk belanja online, istilah
sekarang adalah online shop. Kami merancang website untuk penjualan produk
Aloevento kurang lebih seperti berikut:

2. Facebook Ads
Sruvey dari TechinAsia facebook merupakan konten media social yang
paling sering dikunjungi. Kini facebook sudah menyediakan media untuk aktivitas
iklan , yaitu Facebook Ads. Facebook Ads membebaskan pengguna untuk
mengatur pengeluaran dan jumlah target.Kelebihan dari facebook.ads adalah
pengguna mampu mengatur kisaran umur untuk iklan yang ditampilkan. Dengan
begitu pemasaran akan menjadi terarah. Jadi, kami juga akan melakukan
pemasaran melalui facebook ads ini.
3. Google Adwords
Google adalah mesin pencari nomor satu yang digunakan
didunia.Sehingga pemasaran dari google sangat menjanjikan dalam hal
pemasaran.Kini google sudah menyediakan media untuk aktivitas periklanan yaitu
google adwords.Jadi google adwords adalah perusahaan penyedia iklan yang
berasal dari google. Dengan cara kerja akan muncul saat dipencarian, dengan
tanda tertera iklan.
4. Twitter Ads
Hampir sama dengan facebook diatas, kini twitter sudah menyediakan
media untuk aktivitas iklan. Twitter berada di tingkat kedua setelah facebook. Jadi
kami juga akan menggunakan twitter sebagai media pemasaran produk kami.
DAFTAR PUSTAKA

Agarwal, M., & Kamal, R. (2007). Studies on flavonoid production using in vitro
cultures of Momordica charantia L. Indian Journal of Biotechnology, 6(2),
277279.

Agarwal, S. K., Singh, S. S., Verma, S., & Kumar, S. (2000). Antifungal activity
of anthraquinone derivatives from Rheum emodi. Journal of
Ethnopharmacology, 72(12), 4346. https://doi.org/10.1016/S0378-
8741(00)00195-1

Andriyani, dkk. (2017). Teknologi Penyalutan Tablet Salut Enterik. Universitas


Halu Oleo: Kendari
Anief.(2000). IlmuMeracikObatTeoridanPraktik.Yogyakarta :GadjahMada
University Press. p. 25.
Ariane, I. (2009). Pengaruh Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera) Terhadap
Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Pada Pasien Osteomielitis Bangsal
Cempaka Rumah Sakit Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta Invitro.

Armiati, I. G. K. (2015). Ekstrak Etanol Kulit Daun Lidah Buaya (Aloe Vera
Barbadensis Miller) Konsentrasi 100% Dapat Menurunkan Akumulasi Plak
Gigi Dan Jumlah Koloni Bakteri Streptococcus Mutans, 2434.

Arunkumar, S., & Muthuselvam, M. (2009). Analysis of phytochemical


constituents and antimicrobial activities of Aloe vera L. against clinical
pathogens. World Journal of Agricultural Sciences, 5(5), 572576. Retrieved
from http://www.idosi.org/wjas/wjas5(5)/9.pdf

Asroruddin, M. (2014).
DampakGangguanPenglihatandanPenyakitMataterhadapKualitasHidupterkait
penglihatan (vision-related quality of
life) padaPopulasiGangguanPenglihatanBeratdanButa di Indonesia. Tesis:
Universitas Indonesia

Azari, A. A., dan Barney, N. P. (2013). Conjunctivitis:a systemic review of


diagnosis and treatment. JAMA, 310(6): 1721-9.

Benigni, R., Bossa, C., Jeliazkova, N., Netzeva, T. I., & Worth, A. P. (2008). The
Benigni/Bossa rulebase for mutagenicity and carcinogenicity-a module of
Toxtree. EUR.

Boudreau, M. D., & Beland, F. A. (2006). An Evaluation of the Biological and


Toxicological Properties of Aloe Barbadensis (Miller), Aloe Vera. Journal of
Environmental Science and Health, Part C, 24(1), 103154.
https://doi.org/10.1080/10590500600614303

Cantor, L. B, Rapuano, C.J, Cioffi, G. A. (2014), External disease and cornea.


Italia: American Academy of Ophtalmology;.

Cuvillo, A del., et al., 2009. Allergic Conjunctivitis and H1 Antihistamines. J


investing Allergol Clin Immunol 2009; Vol. 19. Suppl. 1: 11-18.

Daina, A., Michielin, O., & Zoete, V. (2017). SwissADME: a free web tool to
evaluate pharmacokinetics, drug-likeness and medicinal chemistry
friendliness of small molecules. Scientific Reports, 7, 42717.
https://doi.org/10.1038/srep42717

Das, K., Tiwari, R. K. S., & Shrivastava, D. K. (2010). Techniques for evaluation
of medicinal plant products as antimicrobial agent: Current methods and
future trends, 4(2), 104111. https://doi.org/10.5897/JMPR09.030
Dewi, F. K. (2010). Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Daun lidah buaya
(aloe vera) (Morinda Citrifolia, Linnaeus) Terhadap Bakteri Pembusuk
Daging Segar. Surakarta : Jurusan Biologi MIPA, Univ. Sebelas Maret.
Duraipandiyan, V., Baskar, A. A., Ignacimuthu, S., Muthukumar, C., & Al-Harbi,
N. A. (2012). Anticancer activity of Rhein isolated from Cassia fistula L.
flower. Asian Pacific Journal of Tropical Disease, 2(SUPPL.1).
https://doi.org/10.1016/S2222-1808(12)60213-8

Ganbold M, Barker J, Ma R, Jones L, Carew M. (2010). Cytotoxicity and


bioavailability studies on a decoction of Oldenlandia diffusa and its
fractions separated by HPLC. J Ethnopharmacol, 131, 396403.
Harborne, J. B., & Williams, C. A. (2000). Advances in flavonoid research since
1992. Phytochemistry. https://doi.org/10.1016/S0031-9422(00)00235-1

Haq, A., Haseebullah W., dan Narbeh K. 2013. Infective Conjunctivitis Its
Pathogenesis, Management and Complications. Inggris : Intech.

Huang, P. H., Huang, C. Y., Chen, M. C., Lee, Y. T., Yue, C. H., Wang, H. Y., &
Lin, H. (2013). Emodin and Aloe-Emodin suppress breast cancer cell
proliferation through ER?? inhibition. Evidence-Based Complementary and
Alternative Medicine, 2013. https://doi.org/10.1155/2013/376123

Ilyas HS, 2010. Ilmu Penyakit Mata.Edisi ke-3. Jakarta: FKUI. h. 120-145

Ilyas, S., 2008. Kelainan Adneksa dan Kelopak Mata. Dalam: Ilyas, S. (ed).
Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 44
Ilyas, S., 2008. Mata Merah. Dalam: Ilyas, S. (ed). Penuntun Ilmu Penyakit Mata.
Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 64-77.

Jukianti, Elisa dan Mimi Nurminah, 2006, Buku Ajar TeknologiPengemasan,


Universitas Sumatera Utara Press : Sumatera

Klein, A. D., & Penneys, N. S. (1988). Aloe vera. Journal of the American
Academy of Dermatology, 18(4), 714720. https://doi.org/10.1016/S0190-
9622(88)70095-X

Kumar, S., & Pandey, A. K. (2013). Chemistry and biological activities of


flavonoids: An overview. The Scientific World Journal, 2013.
https://doi.org/10.1155/2013/162750

Kurniawan, F.2014.Pengembanganaplikasipenjualanobatapotikadisehat

Li, S. W., Yang, T. C., Lai, C. C., Huang, S. H., Liao, J. M., Wan, L., Lin, C.
W. (2014). Antiviral activity of aloe-emodin against influenza A virus via
galectin-3 up-regulation. European Journal of Pharmacology, 738, 125132.
https://doi.org/10.1016/j.ejphar.2014.05.028

Lin, C. W., Wu, C. F., Hsiao, N. W., Chang, C. Y., Li, S. W., Wan, L., Lin, W.
Y. (2008). Aloe-emodin is an interferon-inducing agent with antiviral activity
against Japanese encephalitis virus and enterovirus 71. International Journal
of Antimicrobial Agents, 32(4), 355359.
https://doi.org/10.1016/j.ijantimicag.2008.04.018

Lin, Y., Shi, R., Wang, X., & Shen, H.-M. (2008). Luteolin, a flavonoid with
potential for cancer prevention and therapy. Current Cancer Drug Targets,
8(7), 634646. https://doi.org/10.2174/156800908786241050

Lpez-Lzaro, M. (2009). Distribution and biological activities of the flavonoid


luteolin. Mini Reviews in Medicinal Chemistry, 9(1), 3159.
https://doi.org/10.2174/138955709787001712

Maheswara, R.C., Firoz, S., Rajalakshmi, R., and Kumar, C.K. (2011). Design
and Evaluation of Chloramphenicol Thermoreversible Insitu Gels for
Occular Drugs Delivery. International Journal of Innovative Pharmaceutical
Research. India: Sree Vidyanikethan College of Pharmacy.
Markham, K. R. (1988), Cara mengidentifikasi Flavonoid, a.b. Kosasih
Padmawinata, Penerbit ITS, Bandung.
Mehta, S. (2012). Pharmacognosy of Rhubarb. Retrieved October 17, 2017, from
http://pharmaxchange.info/press/2012/12/pharmacognosy-of-rhubarb/
Mosmann T. (1983). Rapid colorimetric assay for cellular growth and
cytotoxicity. J Immunol Methods, 65, 5563.
Muzitano MF, Bergonzi MC, De Melo GO, Lage CL, Bilia AR, Vincieri
FF, Rossi-Bergmann B, Costa SS. (2011). Influence of cultivation
conditions, season of collection and extraction method on the content of
antileishmanial flavonoids from Kalanchoe pinnata. J Ethnopharmacol, 133,
132137.
Nandal, U., & Bhardwaj, R. L. (2012). Aloe vera: A valuable wonder plant for
food, medicine and cosmetic use - a review. International Journal of
Pharmaceutical Sciences Review and Research, 13(1), 5967.

Oliver GF, Wilson GA, Everts RJ. Acute infective conjunctivitis: evidence review
and management advice for New Zealand practitioners. The New Zealand
Medical Journal. 2009;122:69-75

Park, M.-Y., Kwon, H.-J., & Sung, M.-K. (2009). Evaluation of Aloin and Aloe-
Emodin as Anti-Inflammatory Agents in Aloe by Using Murine
Macrophages. Bioscience, Biotechnology, and Biochemistry, 73(4), 828832.
https://doi.org/10.1271/bbb.80714

Pecere, T., Gazzola, M. V., Mucignat, C., Tumors, N., Parolin, C., Vecchia, F. D.,
Palu, G. (2000). Aloe-emodin Is a New Type of Anticancer Agent with
Selective Activity against Neuroectodermal Tumors Advances in Brief Aloe-
emodin Is a New Type of Anticancer Agent with Selective Activity against.
Cancer Research, 60(LoVo 109), 28002804.

Pellizzoni, M., Ruzickova, G., Kalhotka, L., & Lucini, L. (2012). Antimicrobial
activity of different Aloe barbadensis Mill. and Aloe arborescens Mill. leaf
fractions. Journal of Medicinal Plants Research, 6(10), 19751981.
https://doi.org/10.5897/JMPR11.1680

Raksha, B. (2014). Bioactive Compounds and Medicinal Properties of Aloe Vera


L.: An Update. Journal of Plant Sciences (Science Publishing Group), 2(3),
102. https://doi.org/10.11648/j.jps.20140203.11

Sewta, C. A., Mambo, C., Wuisan, J. (2015). Uji Efek Ekstrak Daun Lidah
Buaya(Aloe vera L.) Terhadap Penyembuhan Luka Insisi Kulit Kelinci
(Oryctolagus cuniculus). Jurnal e-Biomedik, 3(1), 1-7

Shahank, N. N., Bharani, S. S., and Thakur, R. S. (2012). Formulation and


Evaluation of pH Trigeered In Situ Ophthalmic Gel of Moxiflocacin
Hydrochloride. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical
Sciences, 4. India: Krupanidhi College of Pharmacy.
Tarabishy AB, Jeng BH. Bacterial conjunctivitis: A revies for internist. Cleveland
Clinic Journal of Medicine. 2008;75:507-512

Toxtree - Toxic Hazard Estimation by decision tree approach. (n.d.). Retrieved


from http://toxtree.sourceforge.net/

Vaughan D., 2010, Opthalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika, Jakarta.

Voight,Rudolf,1995,BukuPelajaranTeknologiFarmasi,
UniversitaGadjahMadaPree: Yogyakarta
Wozniak, A., Paduch, R. (2012). Aloe veraextract activity on human cornealcells.
Pharmaceutical Biology, 50, 147-154
Yang, X., Sun, G., Yang, C., & Wang, B. (2011). Novel Rhein Analogues as
Potential Anticancer Agents. ChemMedChem, 6(12), 22942301.
https://doi.org/10.1002/cmdc.201100384

Yu, L., Xiang, H., Fan, J., Wang, D., Yang, F., Guo, N., Deng, X. (2008).
Global transcriptional response of Staphylococcus aureus to Rhein, a Natural
Plant Product. Journal of Biotechnology, 135(3), 304308.
https://doi.org/10.1016/j.jbiotec.2008.04.010

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/inilah-lima-penyakit-mata-
tersering-di-indonesia-i, diakses tanggal 13 Oktober 2017 pukul 15.35 WIB
LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi terhadap


senyawa luteolin menggunakan software SWISS-ADME.
Lampiran 2. Hasil pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi terhadap
senyawa luteolin menggunakan software Toxtree.
Lampiran 3. Hasil pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi terhadap
senyawa aloe-emodin menggunakan software SWISS-ADME.
Lampiran 4. Hasil pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi terhadap
senyawa aloe-emodin menggunakan software Toxtree.
Lampiran 5. Hasil pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi terhadap
senyawa rhein menggunakan software SWISS-ADME.
Lampiran 6. Hasil pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi terhadap
senyawa rhein menggunakan software Toxtree.
Lampiran 7. Hasil pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi terhadap
senyawa aloe-emodin-9-anthrone menggunakan software SWISS-
ADME.
Lampiran 8. Hasil pengujian analisis ADME-Tox secara komputasi terhadap
senyawa aloe-emodin-9-anthrone menggunakan software Toxtree.