Anda di halaman 1dari 37

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya,
kami dapat menyelesaikan laporan tutorial ini dengan baik dan tepat waktu.
Laporan tutorial ini disusun dalam rangka memenuhi tugas blok
TROPICAL INFECTIOUS DISEASE (TID) yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
Laporan tutorial ini disusun mengacu kepada jalannya proses tutorial ke 3,
dengan suatu judul skenario yaitu Gambar Pasien dengan penyakit infeksi
helminth.
Kami mengucapkan terima kasih kepada :
Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan
dalam penyusunan laporan ini.
Tutor kami, yang telah membimbing kami dalam proses tutorial.
Teman-teman yang telah menyediakan waktu,tenaga dan pikirannya untuk
menyelesaikan tugas tutorial ini dengan baik.
Orang tua yang telah memberikian kami fasilitas untuk membuat laporan
ini.
Kepada para pembaca diharapkan juga saran dan kritik yang sifatnya
membangun dalam penyempurnaan dan revisi laporan tutorial ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi proses pembelajaran
selanjutnya dan bagi semua pihak yang membutuhkan.

Bandar Lampung, 22 November 2015

Kelompok Tutorial 4

1
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar..1

Daftar Isi................................................................................................ 2

BAB I Pembahasan ............................................................................... 3

I.1 Ilustrasi Kasus (skenario)................................................................. 3

I.2 Laporan Tutorial Pertemuan Pertama4

Step 1 ............................................................................................. 4

Step 2 ............................................................................................. 4

Step 3 ............................................................................................. 5

Step 4 ............................................................................................. 9

Step 5 ........................................................................................... 23

I.3 Laporan Tutorial Pertemuan Kedua

Step 6 ........................................................................................... 24

Step 7 ........................................................................................... 25

Daftar Pustaka.......................................................................................36

2
BAB I

PEMBAHASAN

I.1 . Ilustrasi Kasus (Skenario)

Gambar 1

Gambar 2

3
I.2 Laporan Tutorial Pertemuan Pertama

STEP 1 : -

STEP 2

Pada tutorial kali ini terdapat 2 gambar yaitu gambar seseorang dengan
ekstremitas bawah dan daerah genital yang membesar dan gambar siklus hidup
dari schiostosoma haematobium.

Untuk gambar 1 :
1. Parasit apa saja yang dapat menyebabkan oedem pada skenario gambar 1 ?
2. Penyakit apakah yang dialami oleh pasien tersebut ?
3. Bagaimanakah morfologi dari parasit yang menimbulkan penyakit diatas?
4. Bagaimanakah manifestasi klinis dari penyakit tersebut?
5. Bagaimana cara mendiagnosis dan tatalaksana dari penyakit tersebut?
6. Bagaimanakah proses pathogenesis dan patofisiologi dari penyakit
tersebut?
7. Bagaimanakah cara pencegahan penyakit tersebut?
8. Apakah ada hubungan dari gambar 1 dan gambar 2 pada scenario?

Untuk gambar 2 :
1. Bagaimanakah siklus hidup parasit schiostosoma haematobium tersebut?
2. Tergolong parasit apakah s. haematobium itu sendiri?
3. Bagaimanakah manifestasi klinis dari penyakit akibat parasit tersebut?
4. Bagaimana cara mendiagnosis dan tatalaksana dari penyakit tersebut?
5. Bagaimanakah proses pathogenesis dan patofisiologi dari penyakit
tersebut?
6. Bagaimanakah cara pencegahan penyakit tersebut?

4
STEP 3

1. Parasit apa saja yang dapat menyebabkan oedem pada skenario gambar 1 ?
Penyakit yang dialami diskenario adalah filariasis. Parasit yang
menyebabkannya yaitu termasuk golongan trematoda darah yaitu
1. Wurchereria bancrofti
2. Brugia Malayi
3. Brugia Timori

2. Siklus Hidup cacing filaria Wurchereria bancrofti

3. Manifestasi Klinis yang ditimbulkan oleh penyakit Filariasis :

a. Manifestasi Klinis Akut


- Limfadenitis
- Limfangitis

5
- Adenolimfangitis disertai demam, sakit kepala, rasa lemah dan
timbulnya abses
- Oorkitis
- Epididimitis
- Funikulitis

b. Manifestasi klinis Kronis


- Limfedema
- Lymph Scrotum
- Kiluria
- Hydrocele

4. Patofisiologi dan Patogenesis

PATOGENESIS
Skenario 1 Filariasis
Pada tubuh penderita
o Larva 3 > mikrofilaria > cacing dewasa > manifestasi klinis
Pada Tubuh nyamuk
o Larva stadium 1 > Larva stadium 2 > Larva stadium 3

Skenario 2 Sistosomiasis
Pada tubuh manusia
o Serkaria > menembus kulit > schistosomola > dewasa dan
berkopulasi > telur > keluar melalui feses/urin
DI air (mirasidium)
Hospes Perantara (siput)
o Sporokista 1 > Sporokista 2

PATOFISIOLOGI
Skenario 1 Filariasis
Cacing dewasa > Obstruksi Pembuluh Limfe > Dilatasi > Manifestasi Klinis

6
Respon imun > inflamasi > symptom

Skenario 2 Sistosomiasis
Cacing dewasa > Telur pada jaringan > Manifestasi Klinis sesuai jaringan yang
terinfeksi dan spesies Schistosoma

5. Diagnosis dan tatalaksana


Filariasis: Diagnosis filariasis bila di temukan mikrofilaria dalam darah
Tatalaksana : Tirah Baring, Mengikat daerah edema, pemberian antibiotik,
dan obat Dietilcarbamazin.

Diagnosis dan tatalaksana sistosomiasis pada gambar 2 dijadikan


Learning Objective

6. Pencegahan dari penyakit di skenario antara lain :


1. Memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis tentang
cara cara penularan dan pemberantasan penyakit ini.
2. Buang air besar dan buang air kecil di jamban yang saniter agar telur
cacing tidak mencapai badan badan air tawar yang mengandung
keong sebagai inang antara.
3. Memperbaiki cara cara irigasi dan pertanian, mengurangi habitat
keong dengan membersihkan badan badan air dari vegetasi atau
dengan mengeringkan dan mengalirkan air.
4. Mencegah kontak dengan air yang terkontaminasi.
5. Persediaan air untuk minum, mandi dan mencuci hendaknya bebas
dari serkaria.
6. Obati penderita di daerah endemis dengan praziquantel.
7. Parawisatawan yang berkunjung ke daerah endemis harus diberikan
edukasi.

7
7. Perbedaan dari penyakit SK 1 dan SK 2 adalah
1. Dari agen penginfeksi
2. Dari hospes perantara

8
STEP 4

1. Parasit apa saja yang dapat menyebabkan oedem pada skenario gambar 1 ?
Filariasis adalah penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di
wilayah tropika seluruh dunia. Di Indonesia filariasis (penyakit kaki gajah)
disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu :
a. Wuchereria bancrofti
b. Brugia malayi
c. Brugia timori

khk

Morfologi

A. Wurchereria Bancrofti
- Hospes definitif : manusia
- Habitat : saluran dan kelenjar limfa, mikrofilaria terdapat di dalam
darah.
- Cacing betina ukurannya 80-100 mm x 0,24-0,30 mm.

9
- Cacing jantan ukurannya 40 mm x 0,1 mm, ujung kaudal
melengkung ke ventral. Terdapat 2 spikula dengan gubernakulum
yang berbentuk bulan sabit.
- Mikrofilaria ukurannya (244-296) x (7,5-10) m, ujungng anterior
tumpul sedangkan ujung posterior lebih tajam. Intinya teratur,
bagian ekor kosong (tidak terdapat inti). Cephalic space dengan
perbandingan ukuran panjang = lebar.
- Cacing betina mengeluarkan mirofilaria, dan pada umumnya
ditemukan dalam darah tepi pada waktu malam hari (periodisitas
nocturna).
- Vektornya nyamuk Culex, Anopheles dan Aedes.
- W. bancrofti di daerah pasifik mempunyai periodisitas sub-
periodik diurna, hospes perantaranya adalah Ae. polynesiensi yang
mengisap darah siang hari.
- W. bancrofti yang sub-periodik nocturna terdapat di Thailand,
vektornya Ae. Niveus.

A. Brugia Malayi
- Cacing jantan ukurannya (13,5-23,5) mm x (70-80) m. Terdapat dua
spikula yang panjangnya tidak sama.
- Cacing betina ukurannya (43,5-55) mm x (120-170) m.
- Mikrofilaria ukurannya (170-260) x (5-6) m, lekuk badan kaku
bersudut, ujung posterior agak tumpul. Intinya berkelompok tidak
teratur. Cephalic space panjang dua kali lebarnya.

B. Brugia Timori
- Cacing jantan ukurannya 2 cm x 70 mm, ekornya melengkung.
Terdapat spikula 2 buah, tidak sama panjang.
- Cacing betina ukurannya 3 cm x 100 mm.
- Mikrofilaria ukurannya 287-341 m, badan kaku dan patah-patah,
ujung ekor agak tumpul. Intinya berkelompok tidak teratur.
Perbandingan panjang dan lebar dari cephalic space 3 : 1.

10
2. Siklus Hidup Cacing Filaria Wurchereria bancrofti
Seseorang dapat tertular filariasis apabila orang tersebut mendapat
gigitan nyamuk infektif, yaitu nyamuk yang mengandung larva infektif
(larva stadium 3-L3). Pada saat nyamuk infektif menggigit manusia maka
larva L3 akan keluar dari proboscis dan tinggal di kulit sekitar lubang
gigitan nyamuk, pada saat nyamuk menarik probosisnya larva L3 akan
masuk melalui luka bekas gigitan nyamuk dan bergerak menuju ke sistem
limfe. Didalam saluran limfe larva akan berkembang biak menjadi cacing
dewasa. Cacing dewasa yang mati disaluran limfe akan memicu respon
imun tubuh untuk terjadinya proses inflamasi. Cacing deasa yang mati
akan berada disaluran limfe dan akan terjadi penumbatan. Dan terjadi
pembengkakan bila sudah menahun.

3. Manifestasi klinis yang ditimbulkan oleh penyakit filariasis:


a. Manifestasi Klinis Akut
- Limfadenitis : peradangan pada kelenjar limfe
- Limfangitis : peradangan pada saluran limfe
- Adenolimfangitis disertai demam, sakit kepala, rasa lemah dan
timbulnya abses
- Oorkitis : peradangan buah pelir
- Epididimitis : peradangan epididimis
- Funikulitis : peradangan funikulus spermaticus

b. Manifestasi klinis Kronis

- Limfedema : Pada infeksi W.bancrofti terjadi


pembengkakan seluruh kaki, seluruh
lengan, skrotum, penis, vulva vagina dan
payudara, sedangkan pada infeksi Brugia
terjadi pembengkakan kaki dibawah lutut,

11
lengan dibawah siku dimana siku dan lutut
masih normal.

- Lymph Scrotum : Adalah pelebaran saluran limfe superfisial


pada kulit scrotum, kadang-kadang pada
kulit penis, sehingga saluran limfe tersebut
mudah pecah dan cairan limfe mengalir
keluar dan membasahi pakaian. Ditemukan
juga lepuh (vesicles) besar dan kecil pada
kulit, yang dapat pecah dan membasahi
pakaian. Ini mempunyai resiko tinggi
terjadinya infeksi ulang oleh bakteri dan
jamur, serangan akut berulang dan dapat
berkembang menjadi limfeda skrotum.
Ukuran skrotum kadang-kadang normal
kadang-kadang sangat besar.

- Kiluria : Adalah kebocoran atau pecahnya saluran


limfe dan pembuluh darah di ginjal (pelvis
renal) oleh cacing filaria dewasa spesies
W.bacrofti sehingga cairan limfe dan darah
masuk ke dalam saluran kemih. Gejala yang
timbul adalah sebagai berikut:

Air kencing seperti susu karena air


kencing banyak mengandung lemak,
dan kadang-kadang di sertai
(haematuria).

Sukar kencing

Kelelahan tubuh

Kehilangan berat badan

12
- Hydrocele : Adalah pelebaran kantung buah zakar
karena tertumpuknya cairan limfe di dalam
tunica vaginalis testis. Hydrocele dapat
terjadi pada satu atau dua kantung buah
zakar dengan gambaran klinis dan
epidemiologis sebagai berikut:

Ukuran skrotum kadang-kadang


normal tetapi kadang-kadang sangat
besar sekali, sehingga penis tertarik
dan tersembunyi.

Kulit pada skrotum normal, lunak


dan halus .

Kadang-kadang akumulasi cairan


limfe di sertai dengan komplikasi
yaitu komplikasi dengan Chyle
(Chylocele), darah (Haematocele)
atau nanah (Pyocele). Uji
transiluminasi dapat di gunakan
untuk membedakan hidrokel dengan
komplikasi dan hidrokel tanpa
komplikasi. Uji transiluminasi ini
dapat di kerjakan oleh dokter
puskesmas yang telah di latih.

Hydrocele banyak ditemukan di


daerah endemis W.bancrofti dan di
gunakan sebagai indikator adanya
infeksi W,bancrofti.

13
4. Patogenesis dan Patofisiologi
PATOGENESIS
Skenario 1 Filarasis
Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria
yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori.6 Filaria
mempunyai siklus hidup bifasik dimana perkembangan larva terjadi pada
nyamuk (intermediate host) dan perkembangan larva dan cacing dewasa
pada manusia (definive host).

Pada tubuh penderita


Infeksi diawali pada saat nyamuk infektif menggigit manusia,
maka larva L3 akan keluar dari probosisnya kemudian masuk melalui
bekas luka gigitan nyamuk menembus dermis dan bergerak menuju sistem
limfe. Larva L3 akan berubah menjadi larva L4 pada hari 9-14 setelah
infeksi dan akan mengalami perkembangan menjadi cacing dewasa dalam
6-12 bulan, setelah inseminasi, zigot berkembang menjadi mikrofilaria.
Cacing betina dewasa akan melepaskan ribuan mikrofilaria yang yang
mempunyai selubung ke dalam sirkulasi limfe lalu masuk ke sirkulasi
darah perifer. Cacing betina dewasa aktif bereproduksi selama lebih
kurang 5 tahun. Cacing dewasa berdiam di pembuluh limfe dan
menyebabkan pembuluh berdilatasi, sehingga memperlambat aliran cairan
limfe. Sejumlah besar cacing dewasa ditemukan pada saluran limfe
ekstremitas bawah, ekstremitas atas dan genitalia pria.

Pada nyamuk
Nyamuk menghisap mikrofilaria bersamaan saat menghisap darah.
Dalam beberapa jam mikrofilaria menembus dinding lambung,
melepaskan selubung/sarungnya dan bersarang diantara otot-otot toraks.
Mula mula parasit ini memendek menyerupai sosis dan disebut larva
stadium 1 (L1). Dalam kurang dari 1 minggu berubah menjadi larva
stadium 2 (L2), dan antara hari ke-11 dan 13 L2 berubah menjadi L3 atau

14
larva infektif. Bentuk ini sangat aktif, awalnya bermigrasi ke rongga
abdomen kemudian ke kepala dan alat tusuk nyamuk.
Hingga saat ini telah teridentifikasi 23 spesies nyamuk dari 5 genus
di Indonesia yaitu Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres
yang menjadi vektor filariasis.

Terdapat beberapa hal yang menyebabkan penelitian terhadap terjadinya


penyakit ini terhambat. Diduga 4 faktor berperan pada patogenesis filariasis:
cacing dewasa hidup, respon inflamasi akibat matinya cacing dewasa, infeksi
sekunder akibat bakteri, dan mikrofilaria. Cacing dewasa hidup akan
menyebabkan limfangiektasia. Karena pelebaran saluran limfe yang difus dan
tidak terbatas pada tempat dimana cacing dewasa hidup ada, diduga cacing
dewasa tersebut mengeluarkan substansi yang secara langsung atau tidak
menyebabkan limfangiektasia. Pelebaran tersebut juga menyebabkan terjadinya
disfungsi limfatik dan terjadinya manifestasi klinis termasuk limfedema dan
hidrokel. Pecahnya saluran limfe yang melebar menyebabkan masuknya cairan

15
limfe ke dalam saluran kemih sehingga terjadi kiluria dan kilokel. Matinya cacing
dewasa menyebabkan respon inflamasi akut yang akan memberikan gambaran
klinis adenitis dan limfangitis.

Skenario 2 dijadikan Learning Objective dan dibahas pada pertemuan kedua

PATOFISIOLOGI
Skenario 1
Perkembangan klinis filariasis dipengaruhi oleh faktor kerentanan individu
terhadap parasit, seringnya mendapat tusukan nyamuk, banyaknya larva infektif
yang masuk ke dalam tubuh dan adanya infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur.
Secara umum perkembangan klinis filariasis dapat dibagi menjadi fase dini dan
fase lanjut. Pada fase dini timbul gejala klinis akut karena infeksi cacing dewasa
bersama-sama dengan infeksi oleh bakteri dan jamur. Pada fase lanjut terjadi
kerusakan saluran limfe kecil yang terdapat di kulit. Pada dasarnya perkembangan
klinis filariasis tersebut disebabkan karena cacing filaria dewasa yang tinggal
dalam saluran limfe menimbulkan pelebaran (dilatasi) saluran limfe dan
penyumbatan (obstruksi), sehingga terjadi gangguan fungsi sistem limfatik.
o Penimbunan cairan limfe menyebabkan aliran limfe menjadi lambat dan
tekanan hidrostatiknya meningkat, sehingga cairan limfe masuk ke
jaringan menimbulkan edema jaringan. Adanya edema jaringan akan
meningkatkan kerentanan kulit terhadap infeksi bakteri dan jamur yang
masuk melalui luka-luka kecil maupun besar. Keadaan ini dapat
menimbulkan peradangan akut (acute attack).
o Terganggunya pengangkutan bakteri dari kulit atau jaringan melalui
saluran limfe ke kelenjar limfe. Akibatnya bakteri tidak dapat dihancurkan
(fagositosis) oleh sel Reticulo Endothelial System (RES), bahkan mudah
berkembang biak dapat menimbulkan peradangan akut (acute attack).
o Kelenjar limfe tidak dapat menyaring bakteri yang masuk dalam kulit.
Sehingga bakteri mudah berkembang biak yang dapat menimbulkan
peradangan akut (acute attack).

16
o Infeksi bakteri berulang menyebabkan serangan akut berulang (recurrent
acute attack) sehingga menimbulkan berbagai gejala klinis sebagai berikut:
o Gejala peradangan lokal, berupa peradangan oleh cacing dewasa bersama-
sama dengan bakteri, yaitu :
(1) Limfangitis, peradangan di saluran limfe.
(2) Limfadenitis, peradangan di kelenjar limfe
(3) Adenolimfangitis, peradangan saluran dan kelenjar limfe.
(4) Abses
(5) Peradangan oleh spesies Wuchereria bancrofti di daerah genital
(alat kelamin) dapat menimbulkan epididimitis, funikulitis dan
orkitis.
o Gejala peradangan umum, berupa; demam, sakit kepala, sakit otot, rasa
lemah dan lain-lainnya.
o Kerusakan sistem limfatik, termasuk kerusakan saluran limfe kecil yang
ada di kulit, menyebabkan menurunnya kemampuan untuk mengalirkan
cairan limfe dari kulit dan jaringan ke kelenjar limfe sehingga dapat terjadi
limfedema.
o Pada penderita limfedema, adanya serangan akut berulang oleh bakteri
atau jamur akan menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit,
hiperpigmentasi, hiperkeratosis dan peningkatan pembentukan jaringan
ikat (fibrouse tissue formation) sehingga terjadi peningkatan stadium
limfedema, dimana pembengkakan yang semula terjadi hilang timbul
(pitting) akan menjadi pembengkakan menetap (non pitting).

Skenario 2 dijadikan Learning Objective dan dibahas pada pertemuan


kedua.

5. Diagnosis dan Tatalaksana


Filariasis
Diagnosis
Diagnosis yang efisien dan efektif sangatlah penting dan menjadi faktor
penentu dalam penatalaksanaan penyakit. Terdapat beberapa cara :

17
- Pemeriksaan klinis : tidak sensitif dan tidak spesifik untuk
menentukan adanya infeksi aktif.
- Pemeriksaan parasitologi dengan menemukan mikrofilaria
dalam sediaan darah, cairan hidrokel atau cairan kiluria
pada pemeriksaan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa,
tehnik Knott, membrane filtrasi dan tes provokasi
DEC.12,21,22 Sensitivitas bergantung pada volume darah
yang diperiksa, waktu pengambilan dan keahlian teknisi
yang memeriksanya. Pemeriksaan ini tidak nyaman, karena
pengambilan darah harus dilakukan pada malam hari antara
pukul 22.00-02.00 mengingat periodisitas mikrofilaria
umumnya nokturna.12,21 Spesimen yang diperlukan 50l
darah dan untuk menegakan diagnosis diperlukan 20
mikrofilaria/ml (Mf/ml).21
- Deteksi antibodi: Peranan antibodi antifilaria subklas IgG4
pada infeksi aktif filarial membantu dikembangkannya
serodiagnostik berdasarkan antibodi kelas ini. Pemeriksaan
ini digunakan untuk pendatang yang tinggal didaerah
endemik atau pengunjung yang pulang dari daerah
endemik.3,21 Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan
infeksi parasit sebelumnya dan kini, selain itu titer antibodi
tidak menunjukkan korelasi dengan jumlah cacing dalam
tubuh penderita.
- Deteksi antigen yang beredar dalam sirkulasi.3,21,23
Pemeriksaan ini memberikan hasil yang sensitif dan spesies
spesifik dibandingkan dengan pemeriksaan makroskopis.
Terdapat dua cara yaitu dengan ELISA (enzyme-linked
immunosorbent) dan ICT card test
(immunochromatographic).3,4,21,22 Hasil tes positif
menunjukkan adanya infeksi aktif dalam tubuh penderita,
selain itu, tes ini dapat digunakan juga untuk monitoring
hasil pengobatan.3 Kekurangan pemeriksaan ini adalah

18
tidak sensitif untuk konfirmasi pasien yang diduga secara
klinis menderita filariasis. Tehnik ini juga hanya dapat
digunakan untuk infeksi filariasis bancrofti. Diperlukan
keahlian dan laboratorium khusus untuk tes ELISA
sehingga sulit untuk di aplikasikan di lapangan. ICT adalah
tehnik imunokromatografik yang menggunakan antibodi
monoklonal dan poliklonal. Keuntungan dari ICT adalah
invasif minimal (100 l), mudah digunakan, tidak
memerlukan teknisi khusus, hasil dapat langsung dibaca
dan murah. Sensitivitas ICT dibandingkan dengan
pemeriksaan sediaan hapus darah tebal adalah 100%
dengan spesifisitas 96.3%.
- Deteksi parasit dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).
Tehnik ini digunakan untuk mendeteksi DNA W. bancrofti
dan B. malayi.1,3,21 PCR mempunyai sensitivitas yang
tinggi yang dapat mendeteksi infeksi paten pada semua
individu yang terinfeksi, termasuk individu dengan infeksi
tersembunyi (amikrofilaremia atau individu dengan antigen
+).21 Kekurangannya adalah diperlukan penanganan yang
sangat hati-hati untuk mencegah kontaminasi spesimen dan
hasil positif palsu. Diperlukan juga tenaga dan laboratorium
khusus selain biaya yang mahal.
- Radiodiagnostik
- Menggunakan USG pada skrotum dan kelenjar inguinal
pasien, dan akan tampak gambaran cacing yang bergerak-
gerak (filarial dancing worm). Pemeriksaan ini berguna
terutama untuk evaluasi hasil pengobatan.
Limfosintigrafi menggunakan dextran atau albumin yang
ditandai dengan zat radioaktif yang menunjukkan adanya
abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada pasien dengan
asimptomatik milrofilaremia.

19
Tatalaksana
Istirahat

Bed rest dalam keadaan akut


Perban elastis untuk menahan edema, elefantiasis
Kain penahan untuk orkitis dan epedidimitis

Diet
Medikamentosa

Obat pertama :

Diethylcarbamazine (DEC), obat pilihan, Dosis 3 x 2 mg/hari, mulai


dosis kecil lalu ditingkatkan 3 x 3 mg selama 21 hari
DEC untuk terapi massal: 100 (1 tablet) per minggu untuk umur > 10
tahun selama 40 minggu: umur > 2-9 tahun dosis 50 mg (1/2 tablet)
Invermectin. Dosis tunggal 200 ug/kg BB dikuti 400 ug; masih perlu
DEC
Antimikroba bila ada infeksi sekunder

Diagnosis dan tatalaksana sistosomiasis pada gambar 2 dijadikan Learning


Objective

6. Untuk pencegahan terhadap semua penyakit sebenarnya sama, yaitu


dengan :
a. Memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis
tentang cara cara penularan dan pemberantasan penyakit ini.
Setiap penduduk di suatu daerah terutama daerah yang endemis
dengan penyakit tertentu, harus diberikan edukasi tentang cara
cara penyakit tersebut menginfeksi baik dari vektornya, gejala
gejala yang mungkin timbul dan cara cara penularan, serta cara
pemberansannya.

20
b. Buang air besar dan buang air kecil di jamban yang saniter agar
telur cacing tidak mencapai badan badan air tawar yang
mengandung keong sebagai inang antara. Pengawasan terhadap
hewan yang terinfeksi S. Haematobium perlu dilakukan tetapi
biasanya tidak praktis. Sanitasi air harus tetap terjaga agar dapat
terhindar dari infeksi.
c. Memperbaiki cara cara irigasi dan pertanian, mengurangi habitat
keong dengan membersihkan badan badan air dari vegetasi atau
dengan mengeringkan dan mengalirkan air. Irigasi harus benar
benar teraliri dengan baik dan memberikan edukasi keada para
petani untuk waspada terhadap agen gaen yang dapat menularkan
penyakit, seperti keong dan lainnya. Memberantas tempat
perindukan keong dengan moluskisida
d. Mencegah kontak dengan air yang terkontaminasi oleh agen agen
penyebab penyakit, dapat dilakukan dengan segera menggunakan
handuk apabila terjadi kontak dengan air yang terkontaminasi serta
dapat menggunaakn alkohol 70% sebagai tindakan pencegahan
penularan penyakit.
e. Persediaan air untuk minum, mandi dan mencuci hendaknya bebas
dari serkaria. Serkaria yang berada pada air yang akan dikonsumsi,
digunakan untuk mandi dan mencuci akan senang berada pada air
yang tawar dan kurang sanitasinya. Serkaria ini tidak akan mati.
Sebeum digunakan, lebih baik menggunakan iodine atau clorine
dan dibiarkan selama 48-72 jam sebelum digunakan.
f. Obati penderita di daerah endemis dengan praziquantel.
Praziquantel adalah obat pilihan pertama untuk infeksi cacing
selain pyrantel palmoat dan mebendazol. Dosis yang dapat
digunakan untuk mengobati penderita dengan infeksi
scistosomiasis adalah untuk infeksi S. Japonicum yaitu dengan
pemberian 2 x 30 mg/kgBB dengan interval 4-6 jam, infeksi S.
Mansoni yaitu dengan pemberian 40 mg/kgBB dosis tunggal atau
dengan 3 x 20mg/kgBB dengan interval 4-6 jam, dan infeksi

21
S.haematobium dengan pemberian 40 mg/kgBB dosis tuggal atau
dosis tunggal 20mg/kgBB dengan interval 4-6 jam.
g. Parawisatawan yang berkunjung ke daerah endemis harus
diberikan edukasi mengenai apa yang perlu dilakukan selama
berada di daerah endemis.

7. Perbedaan dari penyakit SK 1 dan SK 2 adalah


1. Dari agen penginfeksi
Pada SK1, agen penginfeksinya adalah W.bancrofti, B.malayi dan B.
Timori sedangkan pada SK2, agen penginfeksinya adalah
S.haematobium, S. Manosni dan S. Japonicum.
2. Dari hospes perantara
Pada SK1, hospes perantaranya adalah nyamuk aedes, anopheles dan
culex, sementara pada SK2, hospes perantaranya adalah dari siput
dengan genus Bullinus, Sumisulcospira dan lainnya.

22
STEP 5

1. Jelaskan farmakologi dari obat filariasis?


2. Jelaskan epidemiologi dari filariasis khususnya diIndonesia
3. Sebutkan macam macam DD dari filariasis
4. Sebutkan dan jelaskan manifestasi atau cara penularan dari parasit tsbt
5. Jelaskan secara lengkap mengenai schiostosmiasis

23
STEP 6
Sumber pembelajaran untuk LO (learning objective) yaitu :
Tim Penyusun . 2014 . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 . Bab 8 :
Penyakit Infeksi Tropik. Jakarta : FK UI.
Staf Pengajar . 2010 . Buku Ajar Parasitologi Kedokteran . Edisi 4 .
Jakarta : Fakultas Kedokteran UI.
Tim Penyusun . 2008 . Penyakit Infeksi . Edisi 6 . Jakarta : FK UI
Behrman., Kliegman. & Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Edisi
15. Jakarta: EGC
Elysabeth,dkk.2012. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. FKUI. Jakarta
Garna herry,dkk.2012. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. IDAI. Jakarta
Katzung. 2014. Farmakologi dasar dan klinik ,Edisi 12 Vol.2. Jakarta:
EGC.
Soetomo. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI Jilid 1. Jakarta :
Interna Publishing
Alwi, Idrus. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI edisi VI jilid
I. Jakarta : Interna Publishing.

24
STEP 7
1. Jelaskan farmakologi dari obat filariasis?
Fokus pengobatan yang terbukti efektif adalah pengobatan di
komunitas. Hal ini dilakukan melalui penurunan angka mikrofilaremia
dengan pemberian dosis satu kali per tahun. Pengobatan perorangan ditujukan
untuk menghancurkan parasit dan mengeliminasi, mengurangi, atau
mencegah kesakitan. Hingga saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) mendapatkan Dietilcarbamazine (DEC) sebagai satu-satunya obat
yang efektif, aman, dan relatif murah. Pengobatan dilakukan dengan
pemberian DEC 6 mg/kg BB/hari selama 12 hari. Pengobatan ini dapat
diulang 1 hingga 6 bulan kemudian bila perlu, atau DEC selama 2 hari
per bulan (6-8 mg/kg BB/hari).
Obat lain yang dapat digunakan adalah Ivermektin. Meski
Ivermektin sangat efektif menurunkan kadar mikrofilaremia, tampaknya
tidak dapat membunuh cacing dewasa, sehingga terapi tersebut tidak dapat
diharapkan menyembuhkan infeksi secara menyeluruh. Albendazil bersifat
makrofilarisidal untuk W. Bancrofti dengan pemberian setiap hari selama 2-3
minggu. Namun, dari penelitian dikatakan obat ini masih belum optimal. Jadi
untuk mengobati individu, DEC msih digunakan. Efek samping DEC dibagi
dalam 2 jenis. Yang pertama bersifat farmakologis, tergantung dosisnya.
Yang kedua adalah respons dari hospes yang terinfeksi terhadap kematian
parasit; sifatnya tidak tergantung pada dosis obat, tapi pada jumlah parasit
dalam tubuh hospes.
Ada 2 jenis reaksi :
Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam, berupa sakit kepala,
sakit pada berbagai bagian tubuh, sendi-sendi, pusing, anoreksia,
lemah, hematuria transien, reaksi alergi, muntah, dan serangan
asma. Reaksi ini terjadi karena kematian filaria dengan sepat dapat
menginduksi banyak antigen sehingga merangsang sistem imun
dan dengan demikian menginduksi berbagai reaksi. Reaksi ini terjadi
beberapa jam setelah pemberian DEC dan berlangsung tidak lebih dari
3 hari. Demam dan reaksi sistemik jarang terjadi dan tidak terlalu

25
hebat pada dosis kedua dan seterusnya. Reaksi ini akan hilang dengan
sendirinya.
Reaksi lokal dengan atau tanpa demam, berupa limfadenitis,
abses, ulserasi, transien limfedema, hidrokel, funikulitis, dan
epididimis. Reaksi ini cenderung terjadi kemudian dan berlangsung
lebih lama sampai beberapa bulan, tetapi akan menghilang
dengan spontan. Reaksi lokal cenderung terjadi pada pasien
dengan riwayat adenolimfangitis; berhubungan dengan keberadaan
cacing dewasa atau larva stadiuum IV dalam tubuh hospes. Efek
samping pada pemberian Ivermektin, patogenesisnya sama dengan
pada pemberian DEC, hanya lebih ringan pada penderita filariasis
malayi dibandingkan filariasis bankrofti.

2. Epidemiologi Filariais
Penyakit kaki gajah mulai ramai diberitakan sejak akhir tahun
2009, akibat terjadinya kematian pada beberapa orang. Sebenarnya
penyakit ini sudah mulai dikenal sejak tahun 1500 oleh masyarakat, dan
mulai diselidiki lebih mendalam ditahun 1800 untuk mengetahui
penyebaran, gejala serta upaya mengatasinya. Baru tahun 1970 obat yang
lebih tepat untuk mengobti filarial ditemukan.
Di Indonesia filariasis telah tersebar luar hamper di semua
provinsi, berdasarkan laporan survey pada tahun 2000 tercatat sebanyak
6500 kasus kronis di 1553 desa pada 231 kabupaten di 26 Provinsi. Pada
tahun 2005 kasus kronis dilaporkan sebanyak 10273 orang yang tersebar
di 373 Kabuparen / Kota di 33 Provinsi.

3. Diagnosis Banding
Pembesaran Ekstremitas
Limfangitis bakterial akut, limfadenitis kronik,LImfogranuloma inguinale dan
limfadenitis tuberkulosis dapat menyebabkan limfedema ekstremitas bawah.5
Trauma pada saluran limfe akibat operasi juga dapat menyebabkan limfedema.
Pasien dengan limfedema tanpa adanya riwayat serangat akut berulang dikenal

26
sebagai cold lymphedema merupakan kelainan bawaan.8 Tumor dan
pembentukkan jaringan fibrotik juga dapat menyebabkan tekanan pada saluran
limfe dan menurunkan aliran limfe sehingga terjadi limfedema secara perlahan.
Mastektomi dengan limfedenektomi merupakan salah satu hal penyebab
terjadinya limfedema pada ekstremitas atas.

Lipedema
Pembesaran kronik akibat jaringan lemak yang berlebihan, biasanya pada
tungkai atas dan pinggul. Kelainan simetris, telapak kaki normal. Kelainan ini
terjadi pada saat pubertas atau 1-2 tahun sesudahnya.

Hernia inguinalis
Kelainan ini dapat menyerupai hidrokel. Pada hernia batas atas masuk kedalam
perut,testis teraba, isi dapat keluar masuk dan pada auskultasi bising usus (+).
Pada saat pasien berdiri terlihat dasar hidrokel menyempit berbeda dengan
hernia yang dasarnya melebar.

Knobs
Knobs/lump dengan pertumbuhan cepat dengan atau tanpa perdarahan dapat
disebabkan oleh kanker kulit. Misetoma dan kromoblastosis juga dapat
memberikan gambaran benjolan/nodus. Misetoma merupakan infeksi kronik
yang disebabkan oleh jamur yang ditemukan pada tanah dan tumbuhan. Jamur
masuk melalui luka kemudian terbentuk abses, sinus dan fistel yang multiple.
Didalam sinus terdapat butir-butir (granules) yang merupakan kumpulan dari
jamur tersebut. Kromoblastosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur
berpigmen yang ditemukan pada kayu, tumbuhan dan tanah. Perlu dibedakan
kromoblastomikosis dengan limfedema stadium 6 yang memberikan gambaran
mossy foot.

Kiluria
Keadaan ini dapat juga disebabkan oleh trauma, kehamilan, tumor atau diabetes
mellitus. Pada diabetes mellitus, kiluria terjadi akibat pus. Untuk membedakan

27
ke dua keadaan ini, pasien diminta menampung urin dalam wadah transparan
dan membiarkan urin selama 30-40 menit. Jika terjadi pemisahan antara sedimen
dan urin, maka pasien tidak menderita kiluria.15,19

4. Penularan schistosomiasis akibat schistosoma hematobium


- Lingkungan
Schistosomiasis disebabkan oleh telur dari schistosoma yang
keluar dari tinja atau urin seseorang yang terinfeksi schistosoma dan
orang tersebut BAB/BAK tidak ditempat seharusnya melainkan
misalnya di sungai. Kemudian telur yang keluar bersamaan dengan
tinja/urin tadi menetas di dalam air tawar dan berubah menjadi larva
(mirasidium), mirasidium ini siap menginfeksi keong ( hospes
peratara s. hematobium siput genus bulinus).

- Vektor
Schistosoma hematobium yang habitatnya di vena mesentrika
inferior, v. haemorrhoidalis, v. pudendalis dan plexus vesicalis.

- Hospes perantara
Siput genus bulinus. Ketika siput sudah terinfeksi maka
mirasidium akan mengalami perkembangan hingga menjadi serkaria
(bentuk infektif), kemudian serkaria meninggalkan siput dan siap
untuk menginfeksi manusia melalui kulit dan mukosa mulut orang
orang yang berkontak dengan air yang tercemar ini.

- Hospes definitive
Bisa diperoleh ketika berenang, menyebrangi, meminum air
ataupun mandi dari air yang mengandung serkaria ini.
Ketika seseorang sudah terinfeksi melauli kulit, kemudian masuk
ke kapiler darah, mengalir ke jantung kanan, lalu ke paru paru dan
kembali ke jantung kiri, kemudian masuk ke sistem peredaran darah
besar, ke cabang cabang vena pota dan menjadi dewasa di hati.

28
Setelah dewasa cacing ini bermigrasi ke vena di kandung kemih dan
cacing betina bertelur setelah berkopulasi. Telur dilepaskan pada
dinding kandung kemih, kemudian dengan adanya sekresi zat lisis,
beberapa telur dapat sampai keluar bersama tinja/urin.

5. SISTOSOMIASIS
a) Etiologi dan morfologi
Schistosoma yang penting ada 3 jenis:
- S. mansoni
- S. hematobium
- S. japonicum

b) Habitat :
- S. mansoni : vena mesentrika inferior
- S. hematobium: vena mesentrika inferior, v. haemorrhoidalis, v.
pudendalis dan plexus vesicalis.
- S. japonicum: vena mesentrika superior

c) Hospes perantara:
- S. mansoni : siput air genus Biomphalaria, Auatralorbis,
Tropicorbis, terutama B. glabrata dan B. Alexandra
- S. hematobium: siput air genus bulinus dan planorbarius
- S. japonicum: siput air genus onchomelania nosophora, o.
formosana, o hupensis lindoensis di danau Lindu Sulawesi
Tengah.

d) Hospes definitif:
- S. mansoni: manusia, kera dan rodensia
- S. hematobium: manusia, kera, baboon, sipanse
- S. japonicum: manusia, kucing, anjing, tikus, sapi, kerbau, babi,
kuda, biri biri, dan kambing.

29
e) Morfologi:
- Tidak hermafrodit
- Bentuk silindris, tidak pipih
- Telur tidak beroperkulum, sebagai gantinya memiliki duri yang
letaknya berbeda. Telur akan segera menetas bila kontak dengan
air.

Cacing dewasa jantan berukuran kira kira 1,3cm dan yang betina kira kira 2,0cm.

30
31
A B C

Keterangan:

a. Telur dari s. mansoni


b. Telur dari s. hematobium
c. Telur dari s. japonicum

f) Patogenesis & Patofisiologi


Kelainan yang ditimbulkan oleh infeksi Schistosma japonicum
sangat berhubungan dengan respon imun hospes terhadap antigen dari
cacing dan telurnya. Respon imun hospes ini sendiri dipengaruhi oleh
faktor genetik, intensitas infeksi, sensitisasi in utero terhadap antigen
schistosoma dan status coinfeksi. Respon imun pada penderita
schistosomiasis mempengaruhi perjalanan penyakit, antara lain
menimbulkan perubahan patologi berupa pembentukan granuloma dan
gangguan terhadap organ, mempunyai efek proteksi terhadap kejadian
infeksi berat atau bahkan cacing schistosoma dapat bertahan selama
bertahun tahun meskipun hospes mempunyai respon imun yang kuat.
Organ yang sering diserang adalah saluran pencernaan makanan dan
hati.

32
g) Manifestasi Klinis
a. Masa tunas biologic

- Eritema dan papula disertai perasaan gatal dan panas


- Dermatitis
- Utikaria
- Edema angioneurotik
- Demam
- Batuk dengan dahak jika erat bisa seperti asma
- Malaise
- Anoreksia
- Mual dan muntah

b. Stadium akut

- Demam

33
- Malaise
- Lemas
- BB menurun
- Diare
- Hepatospleenomegali

c. Stadium Kronis (menahun)

- Hepar yang membesar mulai fibrosis


- Hipertensi portal
- Spleenomegali
- Edema pada tungkai bawah atau alat kelamin
- Asites dan Ikterus
- Hematemesis

h) Diagnosis sistosomiasis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau
jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk
membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi dapat dipakai adalah
COPT (Circumoval precipitin test), IHT (Indirect Haemagglutation test), CFT
(Complement fixation test), FAT (Fluorescent antibody test) dan ELISA
(Enzyme linked immuno sorbent assay).

i) Tatalaksana
Tatalaksana dari schiostomasis yaitu dengan diberi obat , akan tetapi obat
tersebut agak toksis karena akan melepaskan cacing dewasa dari lumen usus
dan masuk ke sirkulasi portal atau biasa disebut hepatica shift.
Obat yang tersedia yaitu :
1. Niridzol
Bersifat membunuh cacing dewasa dan telur
Di konsumsi dengan cara oral
Efektif untuk s. haematobium , s.mansoni dan s.haematobium
Melabolisme didalam hati

34
Apabila niridzol terserap oleh anging betina maka akan
menimbulkan degenerasi ovarium
Efek samping obat niridzol :
- Gangguan psikois
- Halusinasi
- Confusior
- Pusing
- Sakit kepala
- Kadang epilepsy

Dose : 25 mg/kgBB kurang lebih dikonsumsi selama 10 hari


beturut turut.

2. Prazikuintel
Merupakan obat pilihan pertama
80 % obat terikat ke protein plasma
Waktu paruh sekitar 0,8 1,5 jam
Obat tersebut di ekskresikan lewat ginjal melalui urin
Efek samping obat tersebut adalah :
- Nyeri kepala
- Pusing
- Mengantuk
- Lesu
- Mual muntah
- Nyeri abdomen
- Tinja cair
- Demam ringan

Dose : 20 mg/kg BB per-dosis


Dengan 2 dosis untuk mansoni dan s. haematobium
Dengan 3 dosis untuk s.japonicum dan s.mekong

35
DAFTAR PUSTAKA

Behrman., Kliegman. & Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Edisi 15.
Jakarta: EGC

Elysabeth,dkk.2012. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. FKUI. Jakarta

Garna herry,dkk.2012. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. IDAI. Jakarta

Katzung. 2014. Farmakologi dasar dan klinik ,Edisi 12 Vol.2. Jakarta: EGC

Soetomo. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI Jilid 1. Jakarta : Interna
Publishing

Alwi, Idrus. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI edisi VI jilid I.
Jakarta : Interna Publishing.
Laksana Terkini Tatalaksana Demam Tifoid. Pdf (Divisi Penyakit Tropik dan
Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM-Jakarta)
Yaramis A, Yildirim I, Katar S, Ozbek MN, Yalcin I, Tas MA, et al. Clinical and
Laboratory Presentation of Typhoid Fever. International Pediatrics.
2001;16(4):227-31.

Lesser CF, Miller SI.Salmonellosis. In: Braunwald E, FauciAS, Kasper DL,


Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrison's principles of internal
medicine [CD-ROM]. 15thed. New York: McGraw-Hill; 2001.

Astrawinata DAW. Diagnosis laboratoriumdemamtifoid. In: Suryaatmadja M,


editor. Pendidikanberkesinambunganpatologiklinik 2002. Jakarta:
DepartemenPatologiKlinikFakultasKedokteranUniversitas Indonesia; 2002.

Bopp CA, Brenner FW, Fields PI, Wells JG, Strockeine NA. Escherichia,
Shigella, and Salmonella. In: Murray PR, Baron EJ, Jorgensen JH, Pfaller MA,
Yolken RH, editors. Manual of clinical microbiology. 8th ed. Washington, DC:
ASM Press; 2003. p. 654-71.

Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines and Biological

36
WHO. Background document: the diagnosis, treatment and prevention of typhoid
fever. Geneva: WHO; 2003.

Freeman BA. Burrows Textbook of Microbiology. 22nd ed. Philadelphia:


WB.Saunders Co.; 1985.

Mardi Santoso dan Angelia. 2005. Pola pengobatan pada pasien demam tifoid di
RSUD Koja periode 2001-Juni 2005. Meditek. 13: 28.

37