Anda di halaman 1dari 55

KEPERAWATAN KRITIS

LAPORAN PENDAHUUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


KRITIS PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN NEUROVASKULER :
CEDERA KEPALA BERAT, STROKE, SGB (SINDROM GUILLAIN-
BARRE), POST CRANIOSTOMY

Tugas ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Kritis yang
diampu oleh Farida Aini, S.Kep.,Ns.,M.Kep., Sp.KMB

DISUSUN OLEH :

GIYASTUTI DEWI APRIYANTI (010115A047)

HABIBATUZZAKIYA (010115A048)

HANNA KARUNIA ARUM NARWASTU (010115A049)

HAPIANA (010115A050)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

UNGARAN

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa ,karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Kritis Program Studi S1
Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo.
Makalah berisikan Tentang Laporan Pendahuluan Dan Asuhan
Keperawatan Kritis Dengan Gangguan Neurovaskuler ini merupakan bentuk
pertanggungjawaban atas tugas yang diberikan Dosen dalam mata kuliah
Keperawatan Kritis, sekaligus salah satu syarat untuk memenuhi nilai kami.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen pengampu mata kuliah
Keperawatan Kritis serta rekan rekan yang telah banyak membantu dalam
membuat makalah ini.
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca, kami menyadari
bahwa dalam menyusun makalah ini masih mempunyai kekurangan,oleh sebab itu
dengan dada lapang serta tangan dan hati terbuka kami mengharapkan saran dan
kritiknya yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Ungaran, 21 September 2017

Penyusun

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Seiring majunya zaman semakin banyak teknologi canggih yang
menyebabkan gaya hidup manusia semakin modern. Hal ini menyebabkan
berbagai penyakit bermunculan karena gaya hidup manusia semakin tidak
sehat, baik penyakit yang disebabkan karena bakteri, virus, jamur serta
penyakit yang disebakan akibat tabrakan lalu lintas, adapun salah satunya
adalah cidera kepala. Adapun pengertian dari cidera kepala itu sendiri adalah
suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak
yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada
kepala. Penyebab cidera kepala itu sendiri berbagai macam, Menurut Hudak
dan Gallo (1996 : 108) mendiskripsikan bahwa penyebab cedera kepala
adalah karena adanya trauma yang dibedakan menjadi 2 faktor yaitu
diantaranya trauma primer, terjadi karena benturan langsung atau tidak
langsung (akselerasi dan deselerasi) dan trauma sekunder yaitu terjadi akibat
dari trauma saraf (melalui akson) yang meluas, hipertensi intrakranial,
hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi sistemik,penyebab lainya diakibatkan
karena trauma akibat persalinan, Kecelakaan, kendaraan bermotor atau
sepeda, dan mobil, kecelakaan pada saat olahraga, jatuh dan cedera akibat
kekerasan.
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat
utama, oleh karena itu setiap manusia berhak memiliki kesehatan. Namun
pada kenyataannya tidak semua orang memiliki derajat kesehatan yang
optimal dikarenakan berbagai masalah, misalnya lingkungan yang tidak baik,
sosial ekonomi yang rendah, pola hidup yang tidak sehat mulai dari makanan,
kebiasaan maupun lingkungan sekitarnya. Hal tersebut merupakan pemicu
berbagai macam penyakit, salah satunya adalah stroke (Misbach, 2011).

3
Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga di negara maju setelah
penyakit jantung dan kanker pada kelompok usia lanjut, sedangkan di
Indonesia menduduki peringkat pertama. Stroke juga penyebab utama
kecacatan didunia (Sutrisno, 2007). Angka kejadian stroke di Indonesia
meningkat tajam. Saat ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah
penderita stroke terbesar di Asia (Yastroki, 2007).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep teori dari cedera kepala berat ?
2. Bagaimana konsep teori dari penyakit stroke ?
3. Bagaimana konsep teori pada pasien post craniotomy ?
4. Bagaimana konsep asuhan keperawatan kritis pada gangguan
nuerovaskuler ?

C. TUJUAN
1. Mahasiswa mengetauhi kosep teori dari cedera kepala berat
2. Mahasiswa mengetauhi dari konsep teori penyakit stroke
3. Mahasiswa mengetauhi dari konsep teori pasien post craniotomy
4. Mahasiswa mampu menerapkan konsep asuhan keperawatan kritis pada
pasien dengan gangguan neurovaskuler

4
BAB II

KONSEP TEORI

A. CEDERA KEPALA BERAT


1. Definisi
Menurut Brunner dan Suddart (2001), cedera kepala adalah cedera yang
terjadi pada kulit kepala, tengkorak dan otak, sedangkan Doenges, (1999)
cedera kepala adalah cedera kepala terbuka dan tertutup yang terjadi
karena, fraktur tengkorak, kombusio gegar serebri, kontusio memar,
leserasi dan perdarahan serebral subarakhnoid, subdural, epidural,
intraserebral, batang otak. Cedera kepala merupakan proses dimana
terjadi trauma langsung atatu deselerasi terhadap kepala yang
menyebabkan kerusakan tengkorak dan otak (Pierce & Neil.2006).
adapun menurut Brain Injury Assosiation of America (2009), cedera
kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kogenital
ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik
dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana
menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.
Beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa cedera kepala
adalah trauma pada kulit kepala, tengkorak, dan otak yang terjadi baik
secara langsung ataupun tidak langsung pada kepala yang dapat
mengakibatkan terjadinya penurunan kesadaran bahkan dapat
menyebabkan kematian.
2. Macam-macam cedera kepala
Menurut, Brunner dan Suddarth, (2001) cedera kepala ada 2 macam yaitu:
a. Cedera kepala terbuka
Luka kepala terbuka akibat cedera kepala dengan pecahnya tengkorak
atau luka penetrasi, besarnya cedera kepala pada tipe ini ditentukan
oleh massa dan bentuk dari benturan, kerusakan otak juga dapat

5
terjadi jika tulang tengkorak menusuk dan masuk kedalam jaringan
otak dan melukai durameter saraf otak, jaringan sel otak akibat benda
tajam/tembakan, cedera kepala terbuka memungkinkan kuman
patogen memiliki abses langsung ke otak.
b. Cedera kepala tertutup
Benturan kranial pada jaringan otak didalam tengkorak ialah
goncangan yang mendadak. Dampaknya mirip dengan sesuatu yang
bergerak cepat, kemudian serentak berhenti dan bila ada cairan akan
tumpah. Cedera kepela tertutup meliputi: kombusio gagar otak,
kontusio memar, laserasi.
3. Klasifikasi cedera kepala
Rosjidi (2007), trauma kepala diklasifikasikan menjadi derajat
berdasarkan nilai dari Glasgow Coma Scale (GCS) nya, yaitu :
a. Ringan
GCS = 13-15
Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi
kurang dari 30 menit
Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral,
hematoma.
b. Sedang
GCS = 9-12
Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24
jam
Dapat mengalami fraktur tengkorak.
c. Berat
GCS = 3-8
Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24
jam.
Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hemtoma
intrakranial.
4. Etiologi

6
Rosjidi (2007), penyebab cedera kepala antara lain:
a. Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan
mobil.
b. Kecelakaan pada saat olahraga, anak dengan ketergantungan.
c. Cedera akibat kekerasan.
d. Benda tumpul, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana
dapat merobek otak.
e. Kerusakan menyebar karena kekuatan benturan, bisanya lebih berat
sifatnya.
f. Benda tajam, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana
dapat merobek otak, misalnya tertembak peluru atau benda tajam.
5. Manifestasi
Gejala-gejala yang muncul pada cedera lokal bergantung pada jumlah dan
distribusi cedera otak. Nyeri yang menetap atau setempat, biasanya
menunjukkan adanya fraktur.
Fraktur kubah kranial menyebabkan bengkak pada sekitar fraktur, dan
karena alasan ini diagnosis yang akurat tidak dapat ditetapkan tanpa
pemeriksaan dengan sinar-x.
Fraktur dasar tengkorak cenderung melintas sinus paranasal pada tulang
frontal atau lokasi tengah telinga di tulang temporal, juga sering
menimbulkan hemorogi dari hidung, faring, atau teling dan darah terlihat
di bawah konjungtiva. Suatu area ekimosis, atau memar, mungkin terlihat
di atas mastoid (tanda Battle). Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika
CSS keluar dari telinga (otorea cairan serebrospinal) dan hidung (rinorea
serebrospinal). Keluarnya cairan serebrospinal merupakan masalah serius
karena dapat menyebabkan infeksi seperti meningitis, jika organisme
masuk ke dalam isi kranial melalui hidung, telinga atau sinus melalui
robekan pada dura.Laserasi atau kontusio otak ditunjukkan oleh cairan
spinal berdarah.
6. Patofisiologi

7
Cedera memang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat
ringannya konsekuensi patofisologi dari suatu kepala. Cedera percepatan
aselerasi terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang
diam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul, atau karena kena
lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan deselerasi adalah bila kepala
membenturobjek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil
atau tanah.
Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat
gerakankepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi bila
posisi badandiubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasi
denganpengubahan posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma
regangandan robekan pada substansi alba dan batang otak.
Berdasarkan patofisiologinya, kita mengenal dua macam cedera otak,yaitu
cedera otak primer dan cedera otak sekunder. Cedera otak primer adalah
cedera yang terjadi saat atau bersamaan dengan kejadian trauma,
danmerupakan suatu fenomena mekanik. Umumnya menimbulkan lesi
permanen. Tidak banyak yang bisa kita lakukan kecuali membuat fungsi
stabil, sehinggasel-sel yang sedang sakit bisa mengalami proses
penyembuhan yang optimal.
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena
memarpada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau
hemoragi karena terjatuh, dipukul, kecelakaan dan trauma saat lahir yang
bisamengakibatkan terjadinya gangguan pada seluruh sistem dalam tubuh.
Sedangkan cedera otak sekunder merupakan hasil dari proses
yangberkelanjutan sesudah atau berkaitan dengan cedera primer dan
lebihmerupakan fenomena metabolik sebagai akibat, cedera sekunder
dapat terjadisebagai kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak
ada pada areacedera. Cidera kepala terjadi karena beberapa hal diantanya,
bila trauma ekstrakranial akan dapat menyebabkan adanya leserasi pada
kulit kepala selanjutnyabisa perdarahan karena mengenai pembuluh
darah. Karena perdarahan yangterjadi terus- menerus dapat menyebabkan

8
hipoksia, hiperemi peningkatanvolume darah pada area peningkatan
permeabilitas kapiler, serta vasodilatasiarterial, semua menimbulkan
peningkatan isi intrakranial, dan akhirnyapeningkatan tekanan intrakranial
(TIK), adapun, hipotensi (Soetomo, 2002).
Namun bila trauma mengenai tulang kepala akan menyebabkanrobekan
dan terjadi perdarahan juga. Cidera kepala intra kranial
dapatmengakibatkan laserasi, perdarahan dan kerusakan jaringan otak
bahkan bisaterjadi kerusakan susunan syaraf kranial tertama motorik yang
mengakibatkanterjadinya gangguan dalam mobilitas (Brain, 2009).

9
7. Pathway
Kecelakaan, jatuh

CEDERA KEPALA

Ekstra kranial Tulang kranial Intrakranial

Terputusnya kontinuitas Terputusnyakontinui Jaringan otak rusak


jaringan kulit, otot dan tasjaringantulang (kontusio, laserasi)
vaskuler

Perubahan
-Perdarahan Gangguan outoregulasi
suplai darah
-Hematoma Resti
infeksi Kejang
Peningkatan
TIK Iskemia Penurunan
Resti
kesadaran
injuri
Hipoksia

Peregangan Kompresi Perubahan


duramen dan batang perfusi Bedrest Akumulasi
pembuluh otak jaringan total cairan
darah serebral

Bersihan
jalan napas
Nyeri tidak
efektif

Resti gangguan
Gangguan
integritas kulit
mobilisasi
fisik

10
8. Komplikasi
Rosjidi (2007), kemunduran pada kondisi klien diakibatkan dariperluasan
hematoma intrakranial edema serebral progresif dan herniasi
otak,komplikasi dari cedera kepala adalah:
a. Edema pulmonal
Komplikasi yang serius adalah terjadinya edema paru, etiologi
mungkinberasal dari gangguan neurologis atau akibat sindrom
distress pernafasandewasa. Edema paru terjadi akibat refleks
cushing/perlindungan yangberusaha mempertahankan tekanan
perfusi dalam keadaan konstan. Saattekanan intrakranial meningkat
tekanan darah sistematik meningkat untukmemcoba
mempertahankan aliran darah keotak, bila keadaan semakinkritis,
denyut nadi menurun bradikardi dan bahkan frekuensi
respirasiberkurang, tekanan darah semakin meningkat. Hipotensi
akan memburuk dan, harus dipertahankan tekanan perfusi paling
sedikit 70 mmHg,yang membutuhkan tekanan sistol 100-110 mmHg,
pada penderita kepala.
Peningkatan vasokonstriksi tubuh secara umum menyebabkan lebih
banya darah dialirkan ke paru, perubahan permiabilitas pembuluh
darah paru berperan pada proses berpindahnya cairan ke alveolus.
Kerusakandifusi oksigen akan karbondioksida dari darah akan
menimbulkanpeningkatan TIK (tekanan intrakranial) lebih lanjut.
b. Peningkatan TIK
Tekanan intrakranial dinilai berbahaya jika peningkatan hingga 15
mmHg,dan herniasi dapat terjadi pada tekanan diatas 25 mmHg.
Tekanan darahyang mengalir dalam otak disebut sebagai tekan
perfusi rerebral. Yang merupakan komplikasi serius dengan akibat
herniasi dengan gagalpernafasan dan gagal jantung serta kematian.
c. Kejang

11
Kejang terjadi kira-kira 10% dari klien cedera otak akut selama fase
akut.Perawat harus membuat persiapan terhadap kemungkinan
kejang denganmenyediakan spatel lidah yang diberi bantalan atau
jalan nafas oraldisamping tempat tidur klien, juga peralatan
penghisap. Selama kejang,perawat harus memfokuskan pada upaya
mempertahankan, jalan nafaspaten dan mencegah cedera lanjut.
Salah satunya tindakan medis untukmengatasi kejang adalah
pemberian obat, diazepam merupakan obat yangpaling banyak
digunakan dan diberikan secara perlahan secara intavena.Hati-hati
terhadap efek pada system pernafasan, pantau selama
pemberiandiazepam, frekuensi dan irama pernafasan.
d. Kebocoran cairan serebrospinalis
Adanya fraktur di daerah fossa anterior dekat sinus frontal atau
darifraktur tengkorak basilar bagian petrosus dari tulangan temporal
akanmerobek meninges, sehingga CSS akan keluar. Area drainase
tidak boleh dibersihkan, diirigasi atau dihisap, cukup diberi bantalan
steril di bawah hidung atau telinga. Instruksikan klien untuk tidak
memanipulasi hidungatau telinga.
e. Infeksi
9. Pemeriksaan penunjang
a. Scan CT (tanpa/denga kontras)
Mengidentifikasi adanya sol, hemoragik, menentukan ukuran
ventrikuler, pergeseran jaringan otak.
b. MRI
Sama dengan scan CT dengan atau tanpa kontras.
c. Angiografi serebral
Menunjukan kelainan sirkulasi serebral, seperti pengeseran jaringan
otak akibat edema, perdarahan, trauma
d. EEG
Untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya
gelombangpatologis.

12
e. Sinar X
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran
struktur dari garis tengah (karena perdarahan, edema), adanya
fragmen tulang.
f. BAER (Brain Auditory Evoked Respons)
Menentukan fungsi korteks dan batang otak.
g. PET (Positron Emission Tomography)
Menunjukan perubahan aktifitas metabolisme pada otak.
h. Fungsi lumbal, CSS
Dapat menduka kemungkinan adanya perdarahan subarachnoid.
i. GDA (Gas Darah Artery)
Mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan
dapat meningkatkan TIK.
j. Kimia /elektrolit darah
Mengetahui ketidak seimbangan yang berperan dalam peningkatan
TIK/perubahan mental.
k. Pemeriksaan toksikologi
Mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap
penurunan kesadaran.
l. Kadar antikonvulsan darah
Dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup fektif
untuk mengatasi kejang.

10. Penataaksanaan
Fraktur tulang impresi, umumnya tidak memerlukan tindakan
pembedahan, tetapi memerlukan observasi pasien yang ketat. Fraktur
tulang tanpa impresi memerlukan intervensi pembedahan. Kulit kepala
dicukur dan dibersihkan dengan banyak cairan salin untuk menghilangkan
semua jaringan mati, dan fraktur dipajankan. Fragmen-fragmen tulang
tengkorak dievaluasi dan di daerah ini dibersihkan. Penutupan dura
dilakukan bila memungkinkan dan luka ditutup. Kerusakan yang luas

13
pada tengkorak dapat diperbaiki selanjutnya dengan lempeng logam atau
plastik bila diperlukan. Pada sat membersihkan luka dan dura utuh,
fragmen yang terangkat dapat dikembalikan posisinya pada saat
pembedahan pertama, yang tidak perlu lagi melakukan kranioplastik.
Luka penetrasi membutuhkan pembedahan debridemen untuk
mengeluarkan benda-benda asing dan memperbaiki keadaan vital jaringan
otak dan untuk mengontrol hemoragi. Pengobatan antibiotik direncanakan
segera, dan terapi komponen darah diberikan bila diindikasikan.
Fraktur dasar tengkorak merupakan keadaan serius karena biasanya
terbuka (mengenai sinus paranasal atau telinga bagian tengah atau
eksternal) dan dapat menyebabkan bocornya cairan serebrospinal. Tanda
hallo, yang merupakan kombinasi darah yang dikelilingi oleh noda
berwarna kekuning-kuningan, yang terlihat pada linen tempat tidur atau
balutan kepala dan ini merupakan kesan yang pasti adanya kebocoran
cairan serebrospinal. Nasofaring dan telinga eksternal harus
dipertahankan bersih dan selalu menutup telinga dengan gumpalan kapas
steril atau bantalan kapas steril dapat ditempel menutup lubang hidung
atau pada telinga untuk mengumpulkan cairan yang keluar. Pasien yang
sadar dianjurkan menahan bersin dan menekan hidung. Kepala biasanya
ditinggikan 300 untuk menurunkan TIK dan meningkatan keluarnya
cairan yang bocor secara spontan(beberapa ahli bedah saraf lebih suka
tempat tidur dalam keadaan datar). Rinorea atau otorea cairan spinal
menetap biasanya memerlukan intervensi pembedahan.
a. Dexamethason/ kalmetason sebagai pengobatan anti edema serebral,
dosissesuai dengan berat ringannya trauma.
b. Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat) untuk
mengurangivasodilatasi.
c. Pemberian analgetik.
d. Pengobatan antiedema dengan larutan hipertonis yaitu; manitol
20%,glukosa 40% atau gliserol.

14
e. Antibiotik yang mengandung barier darah otak (pinicilin) atau
untukinfeksi anaerob diberikan metronidazole.
f. Makanan atau caioran infus dextrose 5%, aminousin, aminofel (18
jampertama dari terjadinya kecelakaan) 2-3 hari kemudian diberikan
makananlunak.
g. Pembedahan.

B. STROKE
1. Definisi
Stroke menurut WHO (World Health Organization) adalah gangguan
fungsi serebral yang terjadi baik fokal maupun global yang terjadi
mendadak dan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam atau meninggal
disebabkan oleh gangguan pembuluh darah.
Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak akut fokal maupun
global akibat terhambatnya peredaran darah ke otak. Gangguan peredaran
darah otak berupa tersumbatnya pembuluh darah otak atau pecahnya
pembuluh darah di otak. Otak yang seharusnya mendapat pasokan
oksigen dan zat makanan menjadi terganggu. Kekurangan pasokan
oksigen ke otak akan memunculkan kematian sel saraf. Gangguan fungsi
otak ini akan memunculkan gejala stroke ( Junaedi, 2011).
Stroke adalah gangguan fungsi saraf akut yang disebabkan oleh
gangguan peredaran darah otak. Gangguan fungsi saraf tersebut timbul
secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam
beberapa jam) dengan gejala dan tanda yang sesuai daerah fokal otak
yang terganggu.
Stroke adalah disfungsi neurologis yang disebabkan oleh infark serebral,
spinal maupun retina. Definisi infark pada susunan saraf pusat
berdasarkan temuan neurologis, imajing atau bukti obyektif lain atau
adanya bukti klinis yang membuktikan adanya iskemik fokal dari
serebral, spinal maupun retina.

15
2. Klasifikasi
Berdasarkan jenisnya, stoke dibagi atas:
a. Stroke non hemoragic
Stroke jenis ini pada dasarnya disebabkan oleh oklusi pembuluh
darah otak yang kemudian menyebabkan terhentinya pasokan
oksigen dan glukosa ke otak. Stroke ini sering diakibatkan oleh
trombosis akibat plak aterosklerosis arteri otak atau suatu emboli
dari pembuluh darah di luar otak yang tersangkut di arteri otak.
Jenis stroke ini merupakan jenis stroke yang tersering didapatkan,
sekitar 80% dari semua stroke. Stroke jenis ini juga bisa
disebabkan oleh berbagai hal yang menyebabkan terhentinya aliran
darah otak antara lain, syok, hipovolemia, dan berbagai penyakit
lain. Disebut stroke non hemoragik karena tidak ditemukanya
perdarahan otak. Stroke non hemoragik dapat dijumpai dalam 4
bentuk klinis yaitu:
Serangan Iskemia Sementara/Transient Ischemic Attack
(TIA)
Pada bentuk ini gejalah neurologik yang timbul akibat
gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam
waktu kurang dari 24 jam.
Defisit Neurologik Iskemia Sementara/Reversible Ischemic
Neurological Deficit (RIND).
Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam
waktu lebih dari 24 jam hingga 21 hari.
Stroke progresif (Progressive Stroke/Stroke in evolution)
Gejala neurologik semakin lama semakin berat.
Stroke komplet (Completed Stroke/Permanent Stroke)
Gejala klinis sudah menetap. Stroke non hemoragik terjadi
akibat penutupan aliran darah ke sebagian otak tertentu,
maka terjadi serangkaian proses patologik pada daerah
iskemik. Perubahan ini dimulai dari tingkat seluler berupa

16
perubahan fungsi dan bentuk sel yang di ikuti dengan
kerusakan fungsi dan integritas susunan sel yang
selanjutnya terjadi kematian neuron.

Stroke non hemoragik dibagi lagi berdasarkan lokasi


penggumpalan, yaitu:
Stroke Non Hemoragik Embolik
Pada stroke non hemoragik tipe ini embolik tidak terjadi
pada pembuluh darah otak, melainkan di tempat lain seperti
di jantung dan sistim vaskuler sistemik. Embolisasi
kardiogenik dapat terjadi pada penyakit jantung dengan
shunt yang menghubungkan bagian kanan dengan bagian
kiri atrium atau ventrikel. Penyakit jantung rheumatoid akut
atau menahun yang meninggalkan gangguan pada katup
mitralis, Fibralisi atrium, Infark kordis akut dan embolus
yang berasal dari vena pulmonalis. Kelainan pada jantung
ini menyebabkan curah jantung berkurang biasanya muncul
disaat penderita tengah beraktivias fisik seperti berolah
raga.
Stroke Non Hemoragik Trombus
Stroke trombolitik terjadi karena adanya penggumpalan
pada pembuluh darah ke otak. Dapat dibagi menjadi stroke
pada pembuluh darah besar (termasuk sistem arteri karotis)
merupakan 70 persen kasus stroke non hemoragik trombus
dan pembuluh darah kecil (termasuk sirkulus Willisi dan
sirkulus posterior). Trombosis pembuluh darah kecil terjadi
ketika aliran darah terhalang, biasanya ini terkait dengan
hipertensi dan merupakan indikator penyakit
atherosklerosis.

17
b. Stroke hemoragic
Stroke jenis ini merupakan sekitar 20% dari semua stroke. Stroke
jenis ini diakibatkan oleh pecahnya suatu mikro aneurisma di otak.
Stroke ini dibedakan atas: perdarahan intraserebral, subdural, dan
subaraknoid (Sudoyo, 2007). Menurut WHO, dalam International
Statistical Classification of Diseases and Related Health Problem
10th Revision, stroke hemoragik dibagi atas:
Perdarahan Intraserebral (PIS)
Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah perdarahan yang
primer berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak
dan bukan disebabkan oleh trauma. Perdarahan ini banyak
disebabkan oleh hipertensi, selain itu faktor penyebab
lainnya adalah aneurisma kriptogenik, diskrasia darah,
penyakit darah seperti hemofilia, leukemia,
trombositopenia, pemakaian antikoagulan angiomatosa
dalam otak, tumor otak yang tumbuh cepat, amiloidosis
serebrovaskular.
Perdarahan Subarakhnoidal (PSA)
Perdarahan Subarakhnoidal (PSA) adalah keadaan
terdapatnya/masuknya darah ke dalam ruangan
subarakhnoidal. Perdarahan ini terjadi karena pecahnya
aneurisma (50%), pecahnya malformasi arteriovena atau
MAV (5%), berasal dari PIS (20%) dan 25% kausanya tidak
diketahui.
Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi akibat
robeknya vena jembatan ( bridging veins) yang
menghubungkan vena di permukaan otak dan sinus venosus
di dalam durameter atau karena robeknya araknoidea.

18
Pada stroke hemoragik terjadi keluarnya darah arteri ke
dalam ruang interstitial otak sehingga memotong jalur
aliran darah di distal arteri tersebut dan mengganggu
vaskularisasi jaringan sekitarnya. Stroke hemoragik terjadi
apabila susunan pembuluh darah otak mengalami ruptur
sehingga timbul perdarahan di dalam jaringan otak atau di
dalam ruang subarakhnoid.
3. Etiologi
a. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi:
Usia
Risiko terkena stroke meningkat pada usia 45 tahun. Setiap
penambahan usia tiga tahun akan meningkatkan risiko stroke
sebesar 11-20%. Dari semua stroke, orang yang berusia lebih
dari 65 tahun memiliki risiko paling tinggi yaitu 71%,
sedangkan 25% terjadi pada orang yang berusia 65-45 tahun,
dan 4% terjadi pada orang berusia <45 tahun. Menurut
penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan
dengan desain case control, umur berpengaruh terhadap
terjadinya stroke dimana pada kelompok umur 45 tahun
risiko terkena stroke dibandingkan kelompok umur < 45 tahun.
Jenis Kelamin
Menurut data dari 28 rumah sakit di Indonesia, ternyata laki-
laki banyakmenderita stroke dibandingkan perempuan.Insiden
stroke 1,25 kali lebihbesar pada laki-laki dibanding
perempuan.
Ras/bangsa
Orang kulit hitam lebih banyak menderita stroke dari pada
orang kulitputih. Hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan
dan gaya hidup.Padatahun 2004 di Amerika terdapat penderita
stroke pada laki-laki yangberkulit putih sebesar 37,1% dan
yang berkulit hitam sebesar 62,9%sedangkan pada wanita yang

19
berkulit putih sebesar 41,3% dan yangberkulit hitam sebesar
58,7%.
Hereditas
Gen berperan besar dalam beberapa faktor risiko stroke,
misalnyahipertensi, jantung, diabetes dan kelainan pembuluh
darah. Riwayat strokedalam keluarga, terutama jika dua atau
lebih anggota keluarga pernahmengalami stroke pada usia
kurang dari 65 tahun, meningkatkan risiko. terkena stroke.
b. Faktor risiko yang dapat dirubah:
Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke.
Hipertensi meningkatkan risiko terjadinya stroke sebanyak 4
sampai 6 kali. Semakintinggi tekanan darah kemungkinan
stroke makin besar karena terjadinyakerusakan pada dinding
pembuluh darah sehingga memudahkan
terjadinyapenyumbatan/perdarahan otak. Sebanyak 70% dari
orang yang terserangstroke mempunyai tekanan darah tinggi.
Diabetes Melitus
Diabetes melitus merupakan faktor risiko untuk stroke, namun
tidak sekuat hipertensi. Diabetes melitus dapat mempercepat
terjadinya aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah) yang
lebih berat sehingga berpengaruh terhadap terjadinya stroke.
Penyakit Jantung
Penyakit jantung yang paling sering menyebabkan stroke
adalah fibrilasi atrium/atrial fibrillation (AF), karena
memudahkan terjadinya penggumpalan darah di jantung dan
dapat lepas hingga menyumbat pembuluh darah di otak. Di
samping itu juga penyakit jantung koroner, kelainan katup
jantung, infeksi otot jantung, pasca operasi jantung juga
memperbesar risiko stroke. Fibrilasi atrium yang tidak diobati
meningkatkan risiko stroke.

20
Obesitas
Obesitas berhubungan erat dengan hipertensi, dislipidemia, dan
diabetes melitus. Obesitas meningkatkan risiko stroke sebesar
15%. Obesitas dapat meningkatkan hipertensi, jantung,
diabetes dan aterosklerosis yang semuanya akan meningkatkan
kemungkinan terkena serangan stroke.
Hiperkolesterolemia
Kondisi ini secara langsung dan tidak langsung meningkatkan
faktor risiko, tingginya kolesterol dapat merusak dinding
pembuluh darah dan juga menyebabkan penyakit jantung
koroner. Kolesterol yang tinggi terutama Low Density
Lipoprotein (LDL) akan membentuk plak di dalam pembuluh
darah dan dapat menyumbat pembuluh darah baik di jantung
maupun di otak. Kadar kolesterol total > 200 mg/dl
meningkatkan risiko stroke 1,31-2,9 kali.
Merokok
Merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri di
seluruh tubuh (termasuk yang ada di otak dan jantung),
sehingga merokok mendorong terjadinya aterosklerosis,
mengurangi aliran darah, dan menyebabkan darah mudah
menggumpal.
Alkohol
Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat mengganggu
metabolisme tubuh, sehingga terjadi dislipidemia, diabetes
melitus, mempengaruhi berat badan dan tekanan darah, dapat
merusak sel-sel saraf tepi, saraf otak dan lain-lain. Hal ini
mempermudah terjadinya stroke. Konsumsi alkohol berlebihan
meningkatkan risiko terkena stroke 2-3 kali.
Stres
Hampir setiap orang pernah mengalami stres. Stres
psiokososial dapat menyebabkan depresi. Jika depresi

21
berkombinasi dengan faktor risiko lain (misalnya,
aterosklerosis berat, penyakit jantung atau hipertensi) dapat
memicu terjadinya stroke. Depresi meningkatkan risiko
terkena strokesebesar 2 kali.
4. Manifestasi klinis
Gejala stroke non hemoragik
Gejala stroke non hemoragik yang timbul akibat gangguan peredaran
darah di otak bergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darah
dan lokasi tempat gangguan peredaran darah terjadi, maka gejala-gejala
tersebut adalah:
1) Gejala akibat penyumbatan arteri karotis interna.
a. Buta mendadak (amaurosis fugaks).
b. Ketidakmampuan untuk berbicara atau mengerti bahasa lisan
(disfasia) bila gangguan terletak pada sisi dominan.
c. Kelumpuhan pada sisi tubuh yang berlawanan (hemiparesis
kontralateral) dan dapat disertai sindrom Horner pada sisi
sumbatan.
2) Gejala akibat penyumbatan arteri serebri anterior.
a. Hemiparesis kontralateral dengan kelumpuhan tungkai lebih
menonjol.
b. Gangguan mental.
c. Gangguan sensibilitas pada tungkai yang lumpuh.
d. Ketidakmampuan dalam mengendalikan buang air
e. Bisa terjadi kejang-kejang.
3) Gejala akibat penyumbatan arteri serebri media.
a. Bila sumbatan di pangkal arteri, terjadi kelumpuhan yang lebih
ringan. Bila tidak di pangkal maka lengan lebih menonjol.
b. Gangguan saraf perasa pada satu sisi tubuh.
c. Hilangnya kemampuan dalam berbahasa (aphasia).
4) Gejala akibat penyumbatan sistem vertebrobasilar.
a. Kelumpuhan di satu sampai keempat ekstremitas.

22
b. Meningkatnya refleks tendon.
c. Gangguan dalam koordinasi gerakan tubuh.
d. Gejala-gejala sereblum seperti gemetar pada tangan (tremor),
kepala berputar (vertigo)
e. Ketidakmampuan untuk menelan (disfagia).
f. Gangguan motoris pada lidah, mulut, rahang dan pita suara
sehingga pasien sulit bicara (disatria).
g. Kehilangan kesadaran sepintas (sinkop), penurunan kesadaran
secaralengkap (strupor), koma, pusing, gangguan daya ingat,
kehilangan dayaingat terhadap lingkungan (disorientasi).
h. Gangguan penglihatan, sepert penglihatan ganda (diplopia),
gerakan arahbola mata yang tidak dikehendaki (nistagmus),
penurunan kelopak mata(ptosis), kurangnya daya gerak mata,
kebutaan setengah lapang pandangpada belahan kanan atau kiri
kedua mata (hemianopia homonim).
i. Gangguan pendengaran
j. Rasa kaku di wajah, mulut atau lidah.
5) Gejala akibat penyumbatan arteri serebri posterior
a. Koma
b. Hemiparesis kontra lateral.
c. Ketidakmampuan membaca (aleksia).
d. Kelumpuhan saraf kranialis ketiga.
e. Gejala akibat gangguan fungsi luhur
f. Aphasia yaitu hilangnya kemampuan dalam berbahasa. Aphasia
dibagi dua yaitu, Aphasia motorik adalah ketidakmampuan
untuk berbicara, mengeluarkan isi pikiran melalui
perkataannya sendiri, sementara kemampuannya untuk
mengerti bicara orang lain tetap baik. Aphasia sensorik adalah
ketidakmampuan untuk mengerti pembicaraan orang lain,
namun masih mampu mengeluarkan perkataan dengan lancar,

23
walau sebagian diantaranya tidak memiliki arti, tergantung dari
luasnya kerusakan otak.
g. Alexia adalah hilangnya kemampuan membaca karena
kerusakan otak.
Dibedakan dari Dyslexia (yang memang ada secara
kongenital), yaitu Verbal alexia adalah ketidakmampuan
membaca kata, tetapi dapat membaca huruf. Lateral alexia
adalah ketidakmampuan membaca huruf, tetapi masih dapat
membaca kata. Jika terjadi ketidakmampuan keduanya
disebut Global alexia.
h. Agraphia adalah hilangnya kemampuan menulis akibat adanya
kerusakan otak.
i. Acalculia adalah hilangnya kemampuan berhitung dan mengenal
angka setelah terjadinya kerusakan otak.
j. Right-Left Disorientation & Agnosia jari (Body Image) adalah
sejumlah tingkat kemampuan yang sangat kompleks, seperti
penamaan, melakukan gerakan yang sesuai dengan perintah
atau menirukan gerakan-gerakan tertentu. Kelainan ini sering
bersamaan dengan Agnosia jari (dapat dilihat dari disuruh
menyebutkan nama jari yang disentuh sementara penderita
tidak boleh melihat jarinya).
k. Hemi spatial neglect (Viso spatial agnosia) adalah hilangnya
kemampuan melaksanakan bermacam perintah yang
berhubungan dengan ruang.
l. Syndrome Lobus Frontal, ini berhubungan dengan tingkah laku
akibat kerusakan pada kortex motor dan premotor dari
hemisphere dominan yang menyebabkan terjadinya gangguan
bicara.
m. Amnesia adalah gangguan mengingat yang dapat terjadi pada
trauma capitis, infeksi virus, stroke, anoxia dan pasca operasi
pengangkatan massa di otak.

24
n. Dementia adalah hilangnya fungsi intelektual yang mencakup
sejumlah kemampuan.
Gejala Stroke Hemoragik
Gejala Perdarahan Intraserebral (PIS)
Gejala yang sering djumpai pada perdarahan intraserebral adalah:
nyeri kepalaberat, mual, muntah dan adanya darah di rongga
subarakhnoid padapemeriksaan pungsi lumbal merupakan gejala
penyerta yang khas. Serangansering kali di siang hari, waktu
beraktivitas dan saat emosi/marah. Kesadaranbiasanya menurun
dan cepat masuk koma (65% terjadi kurang dari setengahjam, 23%
antara 1/2-2 jam, dan 12% terjadi setelah 3 jam).
Gejala Perdarahan Subarakhnoid (PSA)
Pada penderita PSA dijumpai gejala: nyeri kepala yang hebat, nyeri
di leherdan punggung, mual, muntah, fotofobia. Pada pemeriksaan
fisik dapatdilakukan dengan pemeriksaan kaku kuduk, Lasegue dan
Kernig untukmengetahui kondisi rangsangan selaput otak, jika
terasa nyeri maka telahterjadi gangguan pada fungsi saraf. Pada
gangguan fungsi saraf otonom terjadidemam setelah 24 jam. Bila
berat, maka terjadi ulkus pepticum karenapemberian obat
antimuntah disertai peningkatan kadar gula darah,
glukosuria,albuminuria, dan perubahan pada EKG.
Gejala Perdarahan Subdural
Pada penderita perdarahan subdural akan dijumpai gejala: nyeri
kepala, tajampenglihatan mundur akibat edema papil yang terjadi,
tanda-tanda defisitneurologik daerah otak yang tertekan. Gejala ini
timbul berminggu-mingguhingga berbulan-bulan setelah terjadinya
trauma kepala.
5. Patofisiologi
Dalam keadaan fisiologis, jumlah darah yang mengalir ke otak adalah
5060 ml per 100 gram otak per menit. Jadi jumlah darah untuk seluruh
otak, yang kira-kira beratnya antara 1200-1400 gram adalah 700-840 ml

25
per menit. Dari jumlah darah itu, satu pertiganya disalurkan melalui tiap
arteri karotis interna dan satu pertiga sisanya disalurkan melalui susunan
vertebrobasilar. Daerah otak tidak berfungsi karena secara tiba-tiba tidak
menerima suplai darah lagi karena arteri yang memperdarahi daerah
tersebut putus atau tersumbat. Penyumbatan itu bisa terjadi secara
mendadak atau secara berangsur-angsur (Mardjono, 2008).
Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola yang berdiameter
100-400 mcmeter mengalami perubahan patologik pada dinding
pembuluh darah tersebut berupa hipohialinosis, nekrosis fibrinoid serta
timbulnya aneurisma tipe Bouchard. Arteriol-arteriol dari cabang-cabang
lentikulostriata, cabang tembus arteriotalamus dan cabang-cabang
paramedian arteria vertebro-basilar mengalami perubahan-perubahan
degeneratif yang sama. Kenaikan darah yang abrupt atau kenaikan
dalam jumlah yang secara mencolok dapat menginduksi pecahnya
pembuluh darah terutama pada pagi hari dan sore hari. Jika pembuluh
darah tersebut pecah, maka perdarahan dapat berlanjut sampai dengan 6
jam dan jika volumenya besarakan merusak struktur anatomi otak dan
menimbulkan gejala klinik. Jika perdarahan yang timbul kecil ukurannya,
maka massa darah hanya dapat merasuk dan menyela di antara selaput
akson massa putih tanpa merusaknya. Pada keadaan ini absorbsi darah
akan diikutioleh pulihnya fungsi-fungsi neurologi. Sedangkan pada
perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak, peninggian tekanan
intrakranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak pada
falk serebri atau lewat foramen magnum.
Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak,
dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang
otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus
perdarahan otak di nukleus kaudatus, talamus dan pons. Selain kerusakan
parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan
mengakibatkan peningian tekanan intrakranial dan mentebabkan
menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak.

26
Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat
menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah
yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi. Jumlah darah yang
keluar menentukan prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60 cc
maka resiko kematian sebesar 93 % pada perdarahan dalam dan 71 %
pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebelar
dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian
sebesar 75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah
berakibat fatal. (Jusuf Misbach, 1999).
6. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang penting untuk mendiagnosis secara tepat stroke
dan subtipenya, untuk menidentifikasi penyebab utamanya dan penyakit
terkait lain, untuk menentukan terapi dan strategi pengelolaan terbaik,
serta untuk memantau kemajuan pengobatan. Pemeriksaan yang
dilakukan akan berbeda dari pasien ke pasien.
a. CT dan MRI
Pemeriksaan paling penting untuk mendiagnosis subtipe dari stroke
adalah Computerised Topography (CT) dan Magnetic Resonance
Imaging (MRI) pada kepala. Mesin CT dan MRI masing-masing
merekam citra sinar X atau resonansi magnet. Setiap citra
individual memperlihatkan irisan melintang otak, mengungkapkan
daerah abnormal yang ada di dalamnya.
Pada CT, pasien diberi sinar X dalam dosis sangat rendah yang
digunakan menembus kepala. Sinar X yang digunakan serupa
dengan pada pemeriksaan dada, tetapi dengan panjang ke radiasi
yang jauh lebih rendah. Pemeriksaan memerlukan waktu 15 20
menit, tidak nyeri, dan menimbulkan resiko radiasi minimal keculi
pada wanita hamil. CT sangat handal mendeteksi perdarahan
intrakranium, tetapi kurang peka untuk mendeteksi stroke iskemik
ringan, terutama pada tahap paling awal. CT dapat memberi hasil

27
negatif-semu (yaitu, tidak memperlihatkan adanya kerusakan)
hingga separuh dari semua kasus stroke iskemik.
Mesin MRI menggunakan medan magnetik kuat untuk
menghasilkan dan mengukur interaksi antara gelombang-
gelombang magnet dan nukleus di atom yang bersangkutan
(misalnya nukleus Hidrogen) di dalam jaringan kepala. Pemindaian
dengan MRI biasanya berlangsung sekitar 30 menit. Alat ini tidak
dapat digunakan jika terdapat alat pacu jantung atau alat logam
lainnya di dalam tubuh. Selain itu, orang bertubuh besar mungkin
tidak dapat masuk ke dalam mesin MRI, sementara sebagian lagi
merasakan ketakutan dalam ruangan tertutup dan tidak tahan
menjalani prosedur meski sudah mendapat obat penenang.
Pemeriksaan MRI aman, tidak invasif, dan tidak menimbulkan
nyeri. MRI lebih sensitif dibandingkan CT dalam mendeteksi
stroke iskemik, bahkan pad stadium dini. Alat ini kurang peka
dibandingkan CT dalam mendeteksi perdarahan intrakranium
ringan.
b. Ultrasonografi
Pemindaian arteri karotis dilakukan dengan menggunakan
gelombang suara untuk menciptakan citra. Pemindaian ini
digunakan untuk mencari kemungkinan penyempitan arteri atau
pembekuan di arteri utama. Prosedur ini aman, tidak menimbulkan
nyeri, dan relatif cepat (sekitar 20-30 menit).
c. Angiografi otak
Angiografi otak adalah penyuntikan suatu bahan yang tampak
dalam citra sinar-X kedalam arteri-arteri otak. Pemotretan dengan
sinar-X kemudian dapat memperlihatkan pembuluh-pembuluh
darah di kepala dan leher. Angiografi otak menghasilkan gambar
paling akurat mengenai arteri dan vena dan digunakan untuk
mencari penyempitan atau perubahan patologis lain, misalnya

28
aneurisma. Namun, tindakan ini memiliki resiko kematian pada
satu dari setiap 200 orang yang diperiksa.
d. Pungsi lumbal
Pungsi lumbal kadang dilakukan jika diagnosa stroke belum jelas.
Sebagai contoh, tindakan ini dapat dilakukan untuk menyingkirkan
infeksi susunan saraf pusat serta cara ini juga dilakukan untuk
mendiagnosa perdarahan subaraknoid. Prosedur ini memerlukan
waktu sekitar 10-20 menit dan dilakukan di bawah pembiusan
lokal.
e. EKG
EKG digunakan untuk mencari tanda-tanda kelainan irama jantung
atau penyakit jantung sebagai kemungkinan penyebab stroke.
Prosedur EKG biasanya membutuhkan waktu hanya beberapa
menit serta aman dan tidak menimbulkan nyeri.
f. Foto toraks
Foto sinar-X toraks adalah proses standar yang digunakan untuk
mencari kelainan dada, termasuk penyakit jantung dan paru. Bagi
pasien stroke, cara ini juga dapat memberikan petunjuk mengenai
penyebab setiap perburukan keadaan pasien. Prosedur ini cepat dan
tidak menimbulkan nyeri, tetapi memerlukan kehati-hatian khusus
untuk melindungi pasien dari pajanan radiasi yang tidak diperlukan
(Feigin, 2009).
g. Pemeriksaan darah dan urine
Pemeriksaan ini dilakukan secara rutin untuk mendeteksi penyebab
stroke dan untuk menyingkirkan penyakit lain yang mirip stroke.
Analisis urine mencakup penghitungan sel dan kimia urine untuk
mengidentifikasi infeksi dan penyakit ginjal (Feigin, 2009). Hitung
darah lengkap untuk melihat penyebab stroke seperti trombositosis,
trombositopenia, polisitemia, anemia (termasuk sikle cell disease).
Laju endap darah untuk medeteksi terjadinya giant cell arteritis
atau vaskulitis lainnya. Serologi untuk sifilis. Glukosa darah untuk

29
melihat DM, hipoglikemia, atau hiperglikemia. Lipid serum untuk
melihat faktor risiko stroke (Greenberg, 2002).
7. Penatalaksanaan
Penderita stroke non hemoragik atau stroke iskemik biasanya diberikan:
a. Anti agregasi platelet : Aspirin, tiklopidin, klopidogrel,
dipiridamol, cilostazol
b. Trombolitik : Alteplase (recombinant tissue plasminogen activator
(rt-PA))
Indikasi : Terapi trombolitik pada stroke non hemoragik akut.
Terapi harus dilakukan selama 3 4,5 jam sejak onset terjadinya
simptom dan setelah dipastikan tidak mengalami stroke perdarahan
dengan CT scan.
Kontra Indikasi : rtPA tidak boleh digunakan pada pasien yang
mengalami resiko tinggi perdarahan, pasien yang menerima
antikoagulan oral (warfarin), menunjukkan atau mengalami
perburukan pendarahan, punya riwayat stroke atau kerusakan
susunan saraf pusat, hemorrhage retinopathy, sedang mengalami
trauma pada external jantung (<10 hari), arterial hipertensi yang
tidak terkontrol, adanya infeksi bakteri endocarditis, pericarditis,
pancreatitis akut, punya riwayat ulcerative gastrointestinal disease
selama 3 bulan terakhir, oesophageal varicosis, arterial aneurisms,
arterial/venous malformation, neoplasm dengan peningkatan resiko
pendarahan, pasien gangguan hati parah termasuk sirosis hati,
portal hypertension (oesophageal varices) dan hepatitis aktif,
setelah 18 operasi besar atau mengalami trauma yang signifikan
pada 10 hari, pendarahan cerebral, punya riwayat cerebrovascular
disease, keganasan intrakranial, arteriovenous malformation,
pendarahan internal aktif. Dosis : dosis yang direkomendasikan
0,9mg/kg (dosis maksimal 90 mg) secara infusi selama 60 menit
dan 10% dari total dosis diberikan secara bolus selama 1 menit.
Pemasukan dosis 0,09 mg/kg (10% dari dosis 0,9mg/kg) secara iv

30
bolus selama 1 menit, diikuti dengan 0,81 mg/kg (90% dari dosis
0,9mg/kg) sebagai kelanjutan infus selama lebih dari 60 menit.
Heparin tidak boleh dimulai selama 24 jam atau lebih setelah
penggunaan alteplase pada terapi stroke.

Karakteristik pasien yang dapat diterapi dengan Alteplase (rt-PA) :

Terdiagnosis stroke non hemoragik.


Tanda-tanda neurologis tidak bisa terlihat jelas secara
spontan.
Simptom stroke tidak mengarah pada perdarahan
subarachnoid.
Onset simptom kurang dari 3 jam sebelum dimulai terapi
dengan Alteplase.
Tidak mengalami trauma kepala dalam 3 bulan terakhir.
Tidak mengalami myocardial infarction dalam 3 bulan
terakhir.
Tidak terjadi gastrointestinal hemorrhage atau hemorrhage
pada saluran kencing dalam 21 hari terakhir.
Tidak melakukan operasi besar dalam 14 hari terakhir.
Tidak mengalami arterial puncture pada tempat-tempat
tertentu dalam 7 hari terakhir.
Tidak mempunyai riwayat intracranial hemorrhage.
Tidak terjadi peningkatan tekanan darah (sistolik kurang dari
185 mmHg dan diastolik kurang dari 110 mmHg).
Tidak terbukti mengalami pendarahan aktif atau trauma akut
selama pemeriksaan.
Tidak sedang atau pernah mengkonsumsi antikoagulan oral,
INR 100 000 mm3.
Kadar glukosa darah >50 mg/dL (2.7 mmol/L).

31
Tidak mengalami kejang yang disertai dengan gangguan
neurologi postictal residual.
Hasil CT scan tidak menunjukkan terjadinya multilobar
infarction (hypodensity kurang dari 1/3 cerebral hemisphere).
c. Antikoagulan : heparin, LMWH, heparinoid (untuk stroke emboli)
d. Neuroprotektan.

Terapi komplikasi:
1. Antiedema : larutan Manitol 20%
2. Antibiotik, antidepresan, antikonvulsan : atas indikasi
3. Anti trombosis vena dalam dan emboli paru.
Penatalaksanaan faktor risiko
1. Antihipertensi : fase akut stroke dengan persyaratan tertentu
2. Antidiabetika : fase akut stroke dengan persyaratan tertentu
3. Antidislipidemi : atas indikasi.
Terapi non medikamentosa
1. Operatif
2. Phlebotomi
3. Neurorestorasi (dalam fase akut) dan rehabilitasi medik
4. Low Level Laser Therpahy (ekstravena/intravena)
5. Edukasi (aktifitas sehari-hari, latihan pasca stroke, diet).

C. POST CRANIOSTOMY
1. Definisi
Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung
kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan
otak. Kraniotomi mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan
untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial (Brunner &
Suddarth, 2002).

32
2. Komplikasi
a. Edema cerebral
b. Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral
c. Hypovolemik syok
d. Hydrocephalus
e. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes
Insipidus)
f. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah
operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas
dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai
emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu
latihan kaki post operasi, ambulatif dini.
g. Infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi.
Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah
stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus
mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang
paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik
dan antiseptik.
h. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau
eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka
adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab
dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu
pembedahan.
3. Penatalaksanaan keperawatan
a. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
b. Mempercepat pnyembuhan.
c. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum
operasi.

33
d. Mempertahankan konsep diri pasien.
e. Mempersiapkan pasien pulang.

4. Perawatan pasca pembedahan


a. Tindakan keperawatan post operasi
Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-
hati, jangan sampai drain tercabut.
Perawatan luka operasi secara steril.
b. Makanan
Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan
makanan sesudah pembedahan. makanan yang dianjurkan pada pasien
post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein
sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka, sedangkan vitamin
C yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan
tubuh untuk pencegahan infeksi.
pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral)
Biasanya makanan baru diberikan jika:
Perut tidak kembung
Peristaltik usus normal
Flatus positif
Bowel movement positif
Mobilisasi
c. Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar
keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga
harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus.
Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk
melakukan ambulasi dini.
d. Pemenuhan kebutuhan eliminasi
Sistem Perkemihan.

34
Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam
post anesthesia inhalasi, IV, spinal.
Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi retensio urine.
Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah
(distensi buli-buli).
Dower catheter kaji warna, jumlah urine, out put urine < 30
ml / jam komplikasi ginjal.
Sistem Gastrointestinal.

Mual muntah 40 % klien dengan GA selama 24 jam


pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan
dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta
TIO meningkat.
Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.
Kaji paralitic ileus suara usus (-), distensi abdomen, tidak
flatus.
jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam.
Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post
operatif dengan decompresi dan drainase lambung.
1) Meningkatkan istirahat.
2) Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
3) Memonitor perdarahan.
4) Mencegah obstruksi usus.
5) Irigasi atau pemberian obat.

Proses penyembuhan luka

1. Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak /
rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana
serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.

35
2. Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh
pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru
tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
3. Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul
jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
4. Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.

Upaya untuk mempercepat penyembuhan luka

1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin C.


2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
3. Pencegahan infeksi.
4. Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan
latihan napas dan batuk efektif, latihan mobilisasi dini.

36
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA PASIEN DENGAN


GANGGUAN NEUROVASKULER

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien dan Penaggung Jawab
2. Primary Survey
Primary survey menyediakan evaluasi yang sistematis, pendeteksian
dan manajemen segera terhadap komplikasi akibat trauma parah yang
mengancam kehidupan. Tujuan dari Primary survey adalah untuk
mengidentifikasi dan memperbaiki dengan segera masalah yang
mengancam kehidupan. Prioritas yang dilakukan pada primary survey
antara lain:
Airway maintenance dengan cervical spine protection
Breathing dan oxygenation
Circulation dan kontrol perdarahan eksternal
Disability-pemeriksaan neurologis singkat
Exposure dengan kontrol lingkungan
Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain
a) General Impressions
Memeriksa kondisi yang mengancam nyawa secara umum.
Menentukan keluhan utama atau mekanisme cedera
Menentukan status mental dan orientasi (waktu, tempat, orang)
b) Pengkajian Airway
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa
responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk
memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. Pasien yang
tidak sadar mungkin memerlukan bantuan airway dan ventilasi.
Tulang belakang leher harus dilindungi selama intubasi endotrakeal

37
jika dicurigai terjadi cedera pada kepala, leher atau dada. Obstruksi
jalan nafas paling sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada
kondisi pasien tidak sadar.
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien
antara lain :
Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat
berbicara atau bernafas dengan bebas?
Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara
lain:
Adanya snoring atau gurgling
Stridor atau suara napas tidak normal
Agitasi (hipoksia)
Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest
movements
Sianosis
Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian
atas dan potensial penyebab obstruksi :
Muntahan
Perdarahan
Gigi lepas atau hilang
Gigi palsu
Trauma wajah
Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas
pasien terbuka.
Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada
pasien yang berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang.
Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas
pasien sesuai indikasi :
Chin lift/jaw thrust
Lakukan suction (jika tersedia)

38
Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway,
Laryngeal Mask Airway
Lakukan intubasi

c) Pengkajian Breathing (Pernafasan)


Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan
jalan nafas dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Jika pernafasan
pada pasien tidak memadai, maka langkah-langkah yang harus
dipertimbangkan adalah: dekompresi dan drainase tension
pneumothorax/haemothorax, closure of open chest injury dan
ventilasi buatan.
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada
pasien antara lain :
Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan
oksigenasi pasien.
Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah
ada tanda-tanda sebagai berikut : cyanosis, penetrating
injury, flail chest, sucking chest wounds, dan
penggunaan otot bantu pernafasan.
Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling
iga, subcutaneous emphysema, perkusi berguna untuk
diagnosis haemothorax dan pneumotoraks.
Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien
jika perlu.
Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih
lanjut mengenai karakter dan kualitas pernafasan pasien.
Penilaian kembali status mental pasien.
Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan
Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan /
atau oksigenasi:

39
Pemberian terapi oksigen
Bag-Valve Masker
Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi
penempatan yang benar), jika diindikasikan
Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced
airway procedures
Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya
dan berikan terapi sesuai kebutuhan.

d) Pengkajian Circulation
Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi
pasien, antara lain :
Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk
digunakan.
Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan
pemberian penekanan secara langsung.
Palpasi nadi radial jika diperlukan:
Menentukan ada atau tidaknya
Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
Regularity
Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau
hipoksia (capillary refill).
Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
e) Pengkajian Level of Consciousness dan Disabilities
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan
skala AVPU :
A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya
mematuhi perintah yang diberikan

40
V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara
yang tidak bisa dimengerti
P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat
tungkai jika ekstremitas awal yang digunakan untuk
mengkaji gagal untuk merespon)
U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik
stimulus nyeri maupun stimulus verbal.

f) Expose, Examine dan Evaluate


Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada
pasien. Jika pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang
belakang, imobilisasi in-line penting untuk dilakukan. Lakukan log
roll ketika melakukan pemeriksaan pada punggung pasien. Yang
perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan pada pasien
adalah mengekspos pasien hanya selama pemeriksaan eksternal.
Setelah semua pemeriksaan telah selesai dilakukan, tutup pasien
dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien, kecuali jika
diperlukan pemeriksaan ulang.
Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma
yang mengancam jiwa, maka Rapid Trauma Assessment harus
segera dilakukan:
Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien
Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam
nyawa pasien luka dan mulai melakukan transportasi pada
pasien yang berpotensi tidak stabil atau kritis.

3. Secondary Assessment
Survey sekunder merupakan pemeriksaan secara lengkap yang
dilakukan secara head to toe, dari depan hingga belakang. Secondary
survey hanya dilakukan setelah kondisi pasien mulai stabil, dalam

41
artian tidak mengalami syok atau tanda-tanda syok telah mulai
membaik.
a. Anamnesis
Pemeriksaan data subyektif didapatkan dari anamnesis riwayat
pasien yang merupakan bagian penting dari pengkajian pasien.
Riwayat pasien meliputi keluhan utama, riwayat masalah kesehatan
sekarang, riwayat medis, riwayat keluarga, sosial, dan sistem.
Pengkajian riwayat pasien secara optimalharus diperolehlangsung
daripasien, jika berkaitan dengan bahasa, budaya,usia, dan
cacatatau kondisipasienyang terganggu, konsultasikan dengan
anggota keluarga, orang terdekat, atau orang yang pertama kali
melihat kejadian. Anamnesis yang dilakukan harus lengkap karena
akan memberikan gambaran mengenai cedera yang mungkin
diderita. Beberapa contoh:
a. Tabrakan frontal seorang pengemudi mobil tanpa sabuk
pengaman: cedera wajah, maksilo-fasial, servikal. Toraks,
abdomen dan tungkai bawah.
b. Jatuh dari pohon setinggi 6 meter perdarahan intra-kranial,
fraktur servikal atau vertebra lain, fraktur ekstremitas.
c. Terbakar dalam ruangan tertutup: cedera inhalasi, keracunan
CO.
Anamnesis juga harus meliputi riwayat AMPLE yang bisa didapat
dari pasien dan keluarga (Emergency Nursing Association, 2007):
A : Alergi (adakah alergi pada pasien, seperti obat-obatan,
plester, makanan)
M : Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti
sedang menjalani pengobatan hipertensi, kencing manis,
jantung, dosis, atau penyalahgunaan obat
P : Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti
penyakit yang pernah diderita, obatnya apa, berapa dosisnya,
penggunaan obat-obatan herbal)

42
L : Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi,
dikonsumsi berapa jam sebelum kejadian, selain itu juga
periode menstruasi termasuk dalam komponen ini)
E : Events, hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera
(kejadian yang menyebabkan adanya keluhan utama)

4. Pola Kesehatan Fungsional (Gordon)


a. Pola persepsi kesehatan dan penanganan kesehatan : klien
merasakan kondisi kesehatan dan bagaimana cara menangani
b. Pola nutrisi/metabolik : gambaran pola makan dan kebutuhan
cairan b/d kebutuhan metabolik dan suplai nutrisi
c. Pola eliminasi :
gambaran pola fungsi pembuangan (BAB, BAK, melalui kulit)
d. Pola aktifitas/olah raga : gambaran pola aktifitas, olahraga,
santai, rekreasi
e. Pola tidur-istirahat :
gambaran pola tidur, istirahat, dan relaksasi
f. Pola kognitif dan perceptual :
gambaran pola konsep diri klien dan persepsi terhadap dirinya
g. Pola peran/hubungan :
gambaran pola peran dalam berpartisipasi /
berhubungan dengan orang lain
h. Pola seksualitas/reproduksi
gambaran pola kenyamanan/tidak nyaman dengan pola
seksualitas dan gambaran pola reproduksi
i. Pola koping/toleransi
stress: gambaran pola koping klien secara umum dan efektifita
s dalam toleransi terhadap stress
j. Polanilai/keyakinan: gambaran pola nilai-nilai, keyakinan-
keyakinan (termasuk aspek spiritual), dan tujuan yang dapat
mengarahkan menentukan pilihan/keputusan.

43
B. APLIKASI NANDA NIC NOC

Diagnosa keperawatan NOC NIC


(NANDA)
(00132) Nyeri akut Setelahdilakukantindakana 1. Manajemen Nyeri (1400)
Definisi :pengalaman sensori suhankeperawatanselama 3
Intervensi:
dan emosional tidak x 24 jam,
- lakukanpengkajiannyerikom
menyenangkan yang muncul diharapkankliendapat:
prehensif yang
akibat kerusakan jaringan 1. Kontrolnyeri(1605)
meliputilokasi, karakteristik,
aktual atau potensial atau
Definisi :tindakanpribad onset/durasi, frekuensi,
yang digambarkan sebagai
iuntukmengontrolnyeri kualitas,
kerusakan (international
Kriteriahasil : intensitasatauberatnyanyeri,
Association for the Study of
(160502) danfaktorpencetusObservasi
Pain); awitan yang tiba-tiba
mengenalikapannyeriter adanyapetunjuknon verbal
atau lambat dari intensitas
jadiditingkatkandariskal mengenaiketidaknyamanan,
ringan hingga berat dengan
a 2 keskala 5 terutamakepadamereka yang
akhir yang dapat diantisipasi
(160505) tidakdapatberkomunikasi
atau diprediksi.
menggunakananalgestik secara efektif
Batasankarakteristik :
yang - Gunakan strategikomunkasi
Ekspresiwajahnyeri
direkomendasikanditing terapeutik
Keluhantentangintensitasm
katkandariskala 1 untukmengetahuipengalaman
enggunakanstandarskalany
keskala 4 nyeridansampaikanpenerima
eri
(160511) anpasienterhadapnyeri
Mengekspresikanperilaku melaporkannyeri yang - Galipengetahuandankepercay
Faktor yang berhubungan : terkontrolditingkatkand aanpasienterhadapnyeri
Agenscederabiologis ariskala 3 keskala 5 - Pertimbangkanpengaruhbuda
yaterhadapresponnyeri
2. Kontrolgejala (1680) - Tentukanakibatdaripengalam
Definisi annyeriterhadapkualitashidup
:tindakanseseoranguntu pasien
kmengurangiperubahan - Galibersamapasienfaktor-
fungsifisikdanemosi faktor yang
yang dirasakan. dapatmenurunkanataumempe
rberatnyeri
- Evaluasibersamatimkesehata
nlainnyatentang keefektifan
Kriteriahasil : dari tindakan mengontrol
(168002) memantau nyeri yang telah

44
lama digunakansebelumnya
bertahannyagejaladiting
katkandariskala 2 2. Pemberian Analgesik (2210)
keskala 5
Intervensi:
(168003)
- Tentukan lokasi nyeri,
memantaukeparahangej
karakteristik, kualitas,dan
aladitingkatkandariskal
keparahan sebelum
a 3 keskala 5
pengobatan
(168004)
- Cekperintahpengobatanmelip
memantaufrekuensigeja
utiobat, dosis,
laditingkatkandariskala
danfrekuensiobatanalgesik
1 keskala 5
yang diresepkan
- Cekadanyariwayatalergiobat
3. Tingkat nyeri (2102)
- Evaluasikemampuanpasienun
Definisi
tukberperansertadalampemili
:keparahannyeri yang
hananalgesik, rute,
diamatiataudilaporkan.
dandosisdanketerlibatanpasie
Kriteriahasil :
n, sesuaikebutuhan
(210206)
- Pilih analgetik secara tepat
ekspresinyeriwajahditin
/kombinasi lebih dari satu
gkatkandariskala 2
analgetik jika telah
keskala 5
diresepkan
(212019) focus
- Tentukan pilihan analgetik
menyempitdariskala 1
(narkotik, non narkotik,
keskala 4
NSAID) berdasarkan tipe dan
(212009)
keparahan nyeri
keteganganototditingkat
- Monitor tanda-tanda vital,
kandariskala 2 keskala
sebelumdansesudahpemberia
3
nanalgetik
- Monitor reaksi obat dan
efeksamping obat
- Dokumentasikan respon dari
analgetik dan efek-efek yang
tidak diinginkan
- Lakukan tindakan-tindakan
untuk menurunkan efek
analgetik
(konstipasi/iritasilambung)
3. Manajemen lingkungan :

45
kenyamanan
Intervensi :
- Tentukantujuanpasiendankel
uargadalammengelolalingku
ngandankenyamanan yang
optimal

- Pilihlah ruangan dengan


lingkungan yang tepat
- Cepatbertindakjikaterdapatpa
nggilanbel, yang
harusselaludalamjangkuan
- Tentukan hal-hal yang
menyebabkan
ketidaknyamanan seperti
pakaian lembab
- Sediakan tempat tidur yang
nyaman dan bersih
- Tentukan temperatur ruangan
yang paling nyaman
- Sediakan lingkungan yang
tenang
- Perhatikan hygiene pasien
untuk menjaga kenyamanan
- Aturposisi pasien yang
membuat nyaman.

(00201) Risiko Setelah dilakukan tindakan (2550) Peningkatan perfusi


ketidakefektifan perfusi keperawatan selama 3x24 jaringan
jaringan otak jam, diharapkan pasien Definisi;
Definisi : mampu mengatasi (0406) Peningkatan perfusi jaringan
Rentan mengalami perfusi jaringan : serebral. adekuat dan pembatasan
penurunan sirkulasi jaringan Definisi kecukupan aliran terjadinya komplikasi pada
otak yang dapat mengganggu darah melalui pembuluh pasien yang mengalami atau
kesehatan. darah otak untuk berisiko mengalami perfusi
Faktor resiko : mempertahankan fungsi serebral yang inadekuat.
Neoplasma otak otak. Aktivitas-aktivitas:
Dengan kriteria hasil : Konsultasikan dengan dokter
(040602) tekanan untuk menentukan parameter
intrakranial hemodinamik dan

46
ditingkatkan dari skala pertahankan parameter
2 (deviasi yang cukup hemodinamik sesuai yang
besar dari kisaran telah ditentukan.
normal) ke skala 4 Konsultasikan dengan dokter
(deviasi ringan dari untuk menentukan tinggi
kisaran normal) kepala tempat tidur yang
(040602) tekanan optimal (missal 15 atau 30
darah sistolik derajat) dan monitor respon
ditingkatkan dari skala pasien terhadap pengaturan
2 (deviasi yang cukup posisi kepala.
besar dari kisaran Berikan dan monitor efek
normal ke skala 4 diuretik osmotic dan loop-
(deviasi ringan dari active dan kortikosteroid.
kisaran normal) Monitor status neurologi
(010614) tekanan Monitor TIK pasien dan
darah diastolik respon neurologi terhadap
ditingkat dari skala 2 aktivitas perawatan.
Ketidakefektifan perfrusi Setelah dilakukan tindakan Perawatan sirkulasi: insufisiensi
jaringan perifer (00204) keperawatan selama 3x24 arteri (4062)
Definisi: penurunan sirkulasi jam pasien diharapkan Aktivitas:
darah ke perifer yang dapat mampu: Lakukan pemeriksaan
mengganggu kesehatan a. Perfusi fisik sistem krdiovaskuler
Batasan karakteristik: jaringan:serebral atau penilaian yang
Edema (0406) komprehensif pada
Perubahan tekanan Indikator: sirkulasi perifer.
darah di ekstremitas (040602) Tekanan Monitor tingkat
Klaudikasi intermiten intrakranial . ketidaknyamanan atau
Faktor berhubungan: ditngkatkan dari nyeri saat melakukan
Hipertensi skala 3 ke skala 4 olahraga dimalam hari
(040613) Tekanan atau saat istirahat
darah sistolik . Ubah posisi pasien
ditingkatkan 3 ke setidaknya setiap 2 jam
skala 4 dengan tepat.
(040614) tekanan
darah diastolik .
ditingkatkan dari
skala 3 ke skala 4
(040617) nilai rata-
rata tekanan darah .
ditingkatkan dari

47
skala 3 ke skala 4
b. Status neurologi
(0912)
Indikator:
(091207) aktivitas
kejang .
ditingkatkan dari
skala 2 ke skala 3
(091209) fleksi
abnormal.
Ditingatkan dari
skala 2 ke skala 3
(091210) ekstensi
abnormal
ditingatkan dari
skala 2 ke 3
(091212) tidak
sadarkan diri.
Ditingkatkan dari
skala 2 k 3
(091214) koma .
ditingkatkan dari
skal 2 ke 3

(00004) Resikoinfeksi Setelah dilakukan tindakan (00004) Resikoinfeksi


Definisi keperawatan selama 3 x 24 Definisi
:rentanmengalamiinvasidan jam :rentanmengalamiinvasidanmulti
multiplikasi organism diharapkanpasienmampu: plikasi organism patogenik yang
patogenik yang -(1908) DeteksiRisiko dapatmengganggukesehatan.
dapatmengganggukesehatan. Definisi
:tindakanindividuuntukmen
gidentifikasiancamankeseh
atandiri. Factor risiko :
Factor risiko : KriteriaHasil : Kurangpengetahuanuntuk
Kurangpengetahuanu -(190801) menhindaripemajanan
ntukmenhindaripemaj mengenalitandadangejala pathogen.
anan pathogen. yang
PertahananTubuh Primer
mengidentifikasirisiko,
PertahananTubuh Primer TidakAdekuat
dariskala 3

48
TidakAdekuat ditingkatkanpadaskala 5 Gangguanintegritaskulit.
Gangguanintegritasku -(190806)
PemajananTerhadapPatogenLin
lit. mengetahuiriwayatpenyaki
gkunganMeningkat
tdalamkeluarga,
PemajananTerhadapPatoge Terpajanpadawabah .
dipertahankanpadaskala 5
nLingkunganMeningkat
-(190809)
Terpajanpadawabah .
memanfaatkansumber-
sumberuntukmengetahuiris
ikokesehatanpribadi,
dariskala 3
ditingkatkanpadaskala 5
-(190812)
mendapatkaninformasiterk
aitperubahangayahidupunt
ukkesehatan,
dipertahankanpadaskala 5
-(190813) memonitor
status kesehatan, dariskala
3 ditingkatkanpadaskala 5
Hambatan Mobilitas Fisik Setelah dilakukan tindakan a. Peningkatan latihan
(00085) keperawatan selama 3x24 peregangan (0202)
Definisi: Keterbatasan dalam jam pasien diharapkan Aktivitas:
gerakan fisik atau satu atau mampu : Bantu mengembangkan
lebih ekstremitas secara a. Ambulasi (0200) jadwal latihan yang
mandiri dan terarah. Indikator: sesuai dengan usia, status
Batasan Karakteristik: (02001) Menopang fisik, tujuan, motivasi,
Gerakan lambat berat badan. dan gaya hidup.
Gerakan spastik ditingkatkan dari Intruksikan untuk
Keterbatasan rentang skala 2 ke 3. memulai latihan rutin
gerak (02002) Berjalan untuk pada kelompok
Ketidaknyamanan dengan langkah otot/ sendi yang tidak
Penurun kemampuan yang efektif. kaku atau pegal dan
melakukan ditingkatkan dari secara bertahap pindah
ketrampilan motorik skala 2 ke 3. ke kelompok otot/sendi
kasar (02003) Berjalan yang lebih kaku.
Faktor yang berhubungn: dengan pelan. Monitor kepatuhan
Gangguan ditingkatkan dari terhadap teknik dan
neuromuskular skala 2 ke 3. jadwal pada waktu tindak
Gangguan b. Pergerakan (0208) lanjut.
Muskuloskeletal Indikator: Monitor toleransi

49
(020801) aktivitas latihan selama
Keseimbangan. latihan.
Ditingkatkan dari Evaluasi kembali rencana
skala 2 ke 3 latihan jika gejala
(020809) toleransi menetap setelah
Koordinasi. pengehentian latihan.
Ditingkatkan dari Kolaborasi dengan
skala 2 ke 3 anggota keluarga dalam
(020803) Gerakan perencanaan pengajaran
otot. ditingkatkan dan pemantauan recana
dari skal 2 ke 3 latihan.
(020804) Gerakan b. Terapi latihan: ambulasi
sendi. ditingkatkan (02210)
dari skala 2 ke 3 Aktivitas:
Konsultasikan pada ahli
terapi fisik mengenai
rencana ambulasi, sesuai
kebutuhan.
Terapkan/sediakan alat
bantu
(tongkat,walker,atau
kursi roda) untuk
ambulasi, jika pasien
tidak stabil.
Monitor penggunaan
kruk pasien atau alat
bantu berjalan lainnya.
Bantu pasien untuk
berdiri dan ambulasi
dengan jarak tertentu dan
dengan sejumlah staf
tertentu.
c. Terapi latihan:
mobilitas (pergerakan
sendi)
Bantu pasien
mendapatkan
posisi tubuh yang
optimal untuk
pergerakan sendi

50
pasif maupun
aktif.
Dukung latihan
ROM aktif, sesuai
jadwal yang
teratur dan
terencana.
Lakukan latihan
ROM pasif atau
ROM dengan
bantuan, sesuai
indikasi.
Instruksikan
pasien/keluarga
cara melakukan
latihan ROM
pasif, ROM
dengan bantuan
atau ROM aktif.
Bantu pasien
untuk membuat
jadwal latihan
ROM aktif.
d. Monitor neurologi
(2620)
Aktivitas:
Monitor kekuatan
pegangan
Monitor reson cara
berjalan
Monitor karakteristik
berbicara: kelancaran
Tingkatkan frekuensi
pemantauan neurologis
yang sesuai
Beritahu dokter
mengenai perubahan
kondisi pasien
Mulailah melakukan tindakan

51
pencegahan sesuai peraturan jika
perlu
Hambatan komunikasi verbal Setelah dilakukan tindakan Peningkatan komunikasi :
yang berhubungan dengan keperawatan selama x24 Kurang Bicara (4976)
penurunan sirkulasi ke otak. jam diharapkan pasien Aktivitas-aktivitas :
Definisi : penurunan, mampu : Monitor proses kognitif,
perlambatan, atau ketiadaan Komunikasi: anatomis, dan fisiologi yang
kemampuan untuk Mengekspresikan (0903) terlibat dalam kemampuan
menerima,memproses, Dengan kriteria hasil : berbicara.
mengirim, dana tau - (090304) kejelasan Sediakan metode alternative
menggunakan system berbicara ditingkatkan untuk berkomunikasi dengan
simbol. dari skala 2 ke skala 4 berbicara
Batasan karakteristik : (090306) menggunakan Instruksikan pasien untuk
Kesulitan menggunakan Bahasa isyarat ditingkatkan bicara pelan
ekspresi tubuh dari skala 3 ke skala 4 Kolaborasi bersama keluarga
Kesulitan menggunakan dan ahli terapis Bahasa patologis
ekspresi wajah untuk mengembangkan rencana
Pelo agar bisa berkomunikasi secara
Sulit bicara efektif.
Sulit mengungkapkan
kata-kata
Perubahan
penyimpangan dada
Faktor yang berhubungan :
Gangguan fisiologis
(penurunan sirkulasi ke
otak)
Gangguan system saraf
pusat

(00046) kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan (3500) manajemen tekanan


kulit keperawatan selama 3x24 Definisi :
Definisi : jam, diharapkan pasien Meminimalkan tekanan pada
Kerusakan pada epidermis mampu meningkatkan bagian tubuh.
dan/atau dermis. (1101) integritas jaringan : Aktivitas-aktivitas :
Batasan karakteristik : kulit dan membran Berikan pakaian yang
Kerusakan integritas mukosa. tidak ketat pada pasien
kulit Definisi : Balikkan posisi pasien
Faktor yang berhubungan : Keutuhan struktur dan minimal setiap 2 jam

52
Cedera kimiawi kulit fungsi fisiologis kulit dan sesuai jadwal khusus
(mis., luka bakar, selaput lendir secara Monitor area kulit dari
kapsaisin, metilen normal. adanya kemerahan dan
klorida, agens Dengan kriteria hasil : adanya pecah-pecah
mustrad) (110101) suhu kulit Monitor mobilitas dan
Hipotermia ditingkatkan dari aktivitas pasien
Gangguan turgor skala 2 ke skala 4 Monitor status nutrisi
kulit (110104) hidrasi pasien
Gangguan volume ditingkatkan dari Monitor sumber tekanan
cairan skala 2 ke skala 4 dan gesekan
(110113) integritas
kulit ditingkatkan
dari skala 2 ke
skala 4

53
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Menurut Brunner dan Suddart (2001), cedera kepala adalah cedera yang
terjadi pada kulit kepala, tengkorak dan otak, sedangkan Doenges, (1999)
cedera kepala adalah cedera kepala terbuka dan tertutup yang terjadi
karena, fraktur tengkorak, kombusio gegar serebri, kontusio memar,
leserasi dan perdarahan serebral subarakhnoid, subdural, epidural,
intraserebral, batang otak.
Stroke menurut WHO (World Health Organization) adalah gangguan
fungsi serebral yang terjadi baik fokal maupun global yang terjadi
mendadak dan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam atau meninggal
disebabkan oleh gangguan pembuluh darah. Stroke diklasifikasikan
menjadi dua yaitu stroke non hemoragic dan stroke hemoragic.
Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung
kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan
otak. Kraniotomi mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan
untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial (Brunner &
Suddarth, 2002).
Pada konsep asuhan keperawatan kritis pada pasien dengan gangguan
neurovaskuler perlu dilakukan pengkajian yaitu primary survey,
seocondary survey. Pada primary survey yang perlu dikaji adalah airway,
breathing, circulation, disability, exposure, folley catheter. Lalu untuk
secondary survey yang perlu dikajia adalah AMPLE.

54
DAFTAR ISI

Brunner and suddart. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition.
J.B. Lippincott Campany, Philadelpia.

Bulechek, Gloria M, dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) sixth


edition. St. Louis : Elsevier.

Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. EGC, Jakarta.

Elsevier.2013.Nursing Interventions Classification (NIC) edisi


keenam.Yogyakarta: Mocomedia.
Elsevier.2013.Nursing Outcomes Classification (NOC) edisi kelima.Yogyakarta:
Mocomedia.
Herdman, T. Heather. 2015. Diagnosis Keperawatan : Definisi & Klasifikasi
2015-2017 Edisi 10. Jakarta : EGC.

NANDA Internasional Inc. Diagnosis Keperawatan: definisi & klasifikasi 2015-


2017/editor, T.Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru ; alih bahasa, Budi
Anna Keliat ... [et al].; editor penyelaras, Monica Ester.Ed.
10.Jakarta:EGC,2015.

55