Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hemodialisis di Indonesia mulai tahun 1970 dan sampai sekarang telah
dapatdilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan. Kualitas hidup yang diperoleh cukup
baik dan panjang umur yang tertinggi sampai sekarang 14 tahun.Indonesia termasuk
Negara dengantingkat penderita gagal ginjal yang cukup tinggi.Saat ini jumlah penderita
gagal ginjalmencapai 4500 orang. Dari jumlah itu banyak penderita yang meninggal dunia
akibat tidakmampu berobat atau cuci darah (hemodialisis) karena biaya yang sangat
mahal.

B. Rumusan Masalah
Apa definisi dari hemodialisa
Apasaja etiologi dari hemodialisa
Bagaimana manifestasi klinis hemodialisa
Bagaimana patofisiologis dari hemodialisa
Apasaja indikasi dan kontra indikasi dari hemodialisa
Apasaja komplikasi dari hemodialisa

C. Tujuan
Untuk mengetahui definisi dari hemodialisa
Untuk mengetahui etiologi dari hemodialisa
Untuk mengetahui manifestasi klinis hemodialisa
Untuk mengetahui patofisiologis dari hemodialisa
Untuk mengetahui indikasi dan kontra indikasi dari hemodialisa
Untuk mengetahui komplikasi dari hemodialisa
LAPORAN PENDAHULUAN HEMODIALISA
RSUD SLEMAN

Disusun oleh Tya Kusumawati

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA


PROGRAM DIV KEPERAWATAN
2017
LAPORAN PENDAHULUAN HEMODIALISA

Konsep Hemodialisa
A. Definisi
Hemodialisa adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti fungsi ginjal untuk
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air,
natrium, kalium, hydrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semi
permeable sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses
difusi, osmosis dan ultra filtrasi (Kusuma & Nurarif, 2012).
Hemodialisa berasal dari kata hemo = darah, dan dialisis = pemisahan atau filtrasi.
Hemodialisis adalah suatu metode terapi dialis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan
produk limbah dari dalam tubuh ketika secara akut ataupun secara progresif ginjal tidak mampu
melaksanakan proses tersebut. Tetapi ini dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang
dilengkapi dengan membran penyaring semipermeabel (ginjal buatan). Hemodialisis dapat
dilakukan pada saar toksin atau zat beracun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan
permanen atau menyebabkan kematian (Mutaqin & Sari, 2011).
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan biokimiawi darah yang
terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan dengan menggunakan mesin hemodialisis.
Hemodialisis merupakan salah satu bentuk terapi pengganti ginjal (renal replacement
therapy/RRT) dan hanya menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisis
dilakukan pada penderita PGK stadium V dan pada pasien dengan AKI (Acute Kidney Injury)
yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Menurut prosedur yang dilakukan HD dapat dibedakan
menjadi 3 yaitu: HD darurat/emergency, HD persiapan/preparative, dan HD kronik/reguler
(Daurgirdas et al., 2007).
Hemodialisa adalah suatu tindakan untuk memisahkan sampah dan produk hail metabolic
esensial (sampah nitrogen dan sampah yang lain) melalui selaput membrane semi permiabel.
Dialisis adalah proses yang menggantikan secara fungsional pada gangguan fungsi ginjal
dengan membuang kelebihan cairan dan akumulasi toksin endogen atau eksogen. Dialisis paling
sering digunakan untuk pasien dengan penyakit ginjal akut atau kronis (tahap akhir).
(Doenges, 2000)
Tujuan dari hemodialisa adalah :
Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa metabolisme dalam
tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang lain.
Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya dikeluarkan
sebagai urin saat ginjal sehat.
Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.

B. Etiologi
Hemodialisa dilakukan kerena pasien menderita gagal ginjal akut dan kronik akibat dari :
azotemia, simtomatis berupa enselfalopati, perikarditis, uremia, hiperkalemia berat, kelebihan
cairan yang tidak responsive dengan diuretic, asidosis yang tidak bisa diatasi, batu ginjal, dan
sindrom hepatorenal.

C. Patofisiologi
Ginjal adalah organ penting bagi hidup manusia yang mempunyai fungsi utama untuk
menyaring / membersihkan darah. Gangguan pada ginjal bisa terjadi karena sebab primer ataupun
sebab sekunder dari penyakit lain. Gangguan pada ginjal dapat menyebabkan terjadinya gagal
ginjal atau kegagalan fungsi ginjal dalam menyaring / membersihkan darah. Penyebab gagal ginjal
dapat dibedakan menjadi gagal ginjal akut maupun gagal ginjal kronik. Dialisis merupakan salah
satu modalitas pada penanganan pasien dengan gagal ginjal, namun tidak semua gagal ginjal
memerlukan dialisis. Dialisis sering tidak diperlukan pada pasien dengan gagal ginjal akut yang
tidak terkomplikasi, atau bisa juga dilakukan hanya untuk indikasi tunggal seperti hiperkalemia.

D. Prinsip-prinsip yang Mendasari Hemodialisis


Ada tiga prinsip yang mendasar kerja hemodialisis yaitu: difusi, osmosis dan ultra filtrasi.
Toksin dan zat limbah di dalam darah di keluarkan melalui proses difusi dengan cara
bergerak dari darah yang memiliki konsentrasi lebih tinggi ke cairan dialisis dengan konsenterasi
yang lebih rendah.
Air yang berlebihan di keluarkan dari dalam tubuh di keluarkan melalui proses osmosis.
Pengeluaran air dapat di kendalikan dengan menciptakan gradien tekanan, dengan kata lain
bergerak dari daerah dengan tekanan yang lebih tinggi (tubuh pasien) ke tekanan yang lebih
rendah (cairan dialist).
Gradient ini dapat di tingkatkan melalui penambahan tekanan negatif yang dikenal sebagai
ultrafiltasi pada mesin dialis. Tekanan negatif diterapkan pada alat fasilitasi pengeluaran air.
Karena pasien tidak dapat mengekresikan air, kekuatan ini di perlukan untuk mengeluarkan cairan
hingga tercapai isovolemia (keseimbangan cairan).

E. Komponen Hemodialisa
1) Dialyzer / Ginjal Buatan
Suatu alat yang digunakan untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, bila fungsi kedua
ginjal sudah tidak memadai lagi, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, mengeluarkan
racun-racun atau toksin yang merupakan komplikasi dari Gagal Ginjal. Sedangkan fungsi
hormonal/ endokrin tidak dapat diambil alih oleh ginjal buatan. Dengan demikian ginjal buatan
hanya berfungsi sekitar 70-80 % saja dari ginjal alami yang normal. Macam-macam ginjal buatan
:
- Dialisis lempeng paralel, terdiri dari dua lapisan churophane yang dijepit oleh dua penyokong
yang kaku untuk membentuk suatu amplop yang disusun secara paralel. Dimana darah mengalir
melalui lapisan-lapisan membran, dan cairan dialisis dapat mengalir dalam arah yang sama, atau
dengan alat yang berlawanan.
- Hollow Fibre Dialyzer (dialisis serabut berongga), terdiri dari ribuan serabut mempunyai dinding
setebal 30 m, dan diameter sebesar 200 m, dan panjangnya 20 cm.. darah mengalir dari bagian
tengah tabung tabung kecil, dan cairan dialisis membasahi bagian luarnya. Aliran cairan dialisis
berlawanan dengan aliran darah.

2) Dialisat
Adalah cairan yang terdiri dari air, elektrolit dan zat-zat lain supaya mempunyai tekanan
osmotik yang sama dengan darah. Fungsi Dialisat pada dialisit:
- Untuk mengeluarkan dan menampung cairan dan sisa metabolisme
- Untuk mencegah kehilangan zat-zat vital dari tubuh selama dialisa
Tabel perbandingan darah dan dialisat :
Komponen elektrolit Darah Dialisat
Natrium/sodium 136mEq/L 134mEq/L
Kalium/potassium 4,6mEq/L 2,6mEq/L
Kalsium 4,5mEq/L 2,5mEq/L
Chloride 106mEq/L 106mEq/L
Magnesium 1,6mEq/L 1,5mEq/L

Ada 3 cara penyediaan cairan dialisat :


- Batch Recirculating
Cairan dialisat pekat dicampur air yang sudah diolah dengan perbandingan 1 : 34 hingga 120 L
dimasukan dalam tangki air kemudian mengalirkannya ke ginjal buatan dengan kecepatan 500
600 cc/menit.
- Batch Recirculating/single pas
Hampir sama dengan cara batch recirculating hanya sebagian langsung buang.
- Proportioning Single pas
Air yang sudah diolah dan dialisat pekat dicampur secara konstan oleh porpropotioning dari mesin
cuci darah dengan perbandingan air : dialisat = 34 : 1 cairan yang sudah dicampur tersebut dialirkan
keginjal buatan secara langsung dan langsung dibuang, sedangkan kecepatan aliran 400 600
cc/menit.

3) Akses Vaskular Hemodialisis


Untuk melakukan hemodialisis intermiten jangk apanjang, maka perlu ada jalan masuk kedalam
sistem vascular penderita. Darah harus keluar dan masuk tubuh penderita dengan kecepatan 200
sampai 400 ml/menit. Teknik akses vascular diklasifikasikan sebagai berikut:
- Akses Vaskuler Eksternal (sementara)
a. Pirau arteriovenosa (AV) atau system kanula diciptakan denga nmenempatkan ujung kanula dari
Teflon dalam arteri dan sebuah vena yang berdekatan. Ujung kanula dihubungkan dengan selang
karet silicon dan suatu sambungan teflon yang melengkapi pirau. Pada waktu dilakukan dialisis,
maka selang pirau eksternal dipisahkan dan dibuat hubungan dengan alat dialisis. Darah kemudian
mengalir dari ujung arteri, melalui alat dialisis dan kembali ke vena. Kesulitan utama pirau
eksternal adalah masa pemakaian yang panjang (9 bulan). Pirau eksternal dapat digunakan bila
terapi dialitik diperlukan dalam jangka waktu pendek seperti pada dialisis karena keracunan,
keebihan dosis obat, gagal ginjal akut, dan fase permulaan pada pengobatan gagal ginjal kronik.
b. Kateter vena femoralis sering dipakai pada kasus gagal ginjal akut bila diperlukan akses vascular
sementara, atau bila teknik akses vaskuler lain tidak dapat berfungsi. Terdapat dua tipe kateter
dialysis femoralis. Kateter shaldon adalah kateter berlumen tunggal yang memerlukan akses
kedua. Tipe kateter femoralis yang lebih baru memiliki lumen ganda, satu lumen untuk
mengeluarkan darah menuju alat dialysis dan satu lagi untuk mengembalikan darah ketubuh
penderita. Komplikasi pada kateter vena femoralis adalah laserasi arteria femoralis, perdarahan,
thrombosis, emboli, hematoma, dan infeksi.
c. Kateter vena subklavia semakin banyak dipakai sebagai alat akses vascular karena pemasangan
yang mudah dan komplikasinya lebih sedikit dibanding kateter vena femoralis. Kateter vena
subklavia mempunyai lumen ganda untuk aliran masuk dan keluar. Kateter vena subklavia dapat
digunakan sampai empat minggu sedangkan kateter vena femoralis dibuang setelah satu sampai
dua hari setelah pemasangan. Komplikasi yang disebabkan oleh katerisasi vena subklavia serupa
dengan katerisasi vena femoralis yang termasuk pneumotoraks robeknya arteria subklavia,
perdarahan, thrombosis, embolus, hematoma, dan infeksi.
- AksesVaskular Internal (permanen)
a. Fistula, yang lebih permanen dibuat melalui pembedahan yang (biasanya dilakukan pada lengan
bawah) dengan cara menghubungkan atau menyambungkan (anastomosis) pembuluh aretri
dengan vena secara side to-side (dihubungkan antar-sisi) atau end-to-side (dihubungkan antara
ujung dan sisi pembuluh darah). Segmen-arteri fistula diganakan untuk aliran darah arteri dan
segmen vena digunakan untuk memasukan kembali (reinfus) darah yang sudah didialisis. Umur
fistula AV adalah empat tahun dan komplikasinya lebih sedikit dengan pirau AV. Masalah yang
paling utama adalah nyeri pada pungsi vena terbentuknya aneurisma, trombosis, kesulitan
hemostatis pascadialisis, dan iskemia padatangan.
b. Tandur, dalam menyediakan lumen sebagai tempat penusukan jarum dialisis, sebuah tandur dapat
dibuat dengan cara menjahit sepotong pembuluh arteri atau vena dari sapi, material Gore-Tex
(heterograft) atau tandur vena safena dari pasien sendiri. Biasanya tandur tersebut dibuat bila
pembuluh darah pasien sendiri tidak cocok untuk dijadikan fistula.Tandur biasanya dipasang pada
lengan bawah, lengan atas atau paha bagian atas. Pasien dengan sistem vaskuler yang terganggu,
seperti pasien diabetes, biasanya memerlukan pemasangan tandur sebelum menjalani
hemodialisis. Karena tandur tersebut merupakan pembuluh darah artifisial risiko infeksi akan
meningkat. Komplikasi tandur AV sama dengan fistula AV.trombosis, infeksi, aneurisma dan
iskemia tangan yang disebabkan oleh pirau darah melalui prosthesis dan jauh dari sirkulasi distal.

F. Indikasi
- Gagal ginjal akut
- Gagal ginjal kronik, bila laju filtrasi gromelurus kurang dari 5 ml/menit
- Kalium serum lebih dari 6 mEq/l
- Ureum lebih dari 200 mg/dl
- pH darah kurang dari 7,1
- Anuria berkepanjangan, lebih dari 5 hari
- Intoksikasi obat dan zat kimia
- Sindrom Hepatorenal
- Fluid overload

G. Kontra Indikasi
- Gangguan pembekuan darah
- Anemia berat
- Trombosis/emboli pembuluh darah yang berat
- Suhu tubuh yang tinggi

H. Penatalaksanaan pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Jangka Panjang


- Diet dan masalah cairan, diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisis
mengingat adanya efek uremia. Apabila ginjal yang rusak tidak mampu mengeksresikan produk
akhir metabolisme, substansi yang bersifat asam ini akan menumpuk dalam serum pasien dan
bekerja sebagai racun atau toksik. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut secara kolektif
dikenal sebagai gejala uremik dan akan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Lebih banyak toksin
yang menumpuk, lebih berat gejala yang timbul. Diet rendah protein akan mengurangi
penumpukan limbah nitrogen dan dengan demikian meminimalkan gejala. Penumpukan cairan
juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gagal jantung kongestif serta edema paru. Dengan
demikian, pembatasan cairan juga merupakan bagian dengan resep diet untuk pasien ini.
- Pertimbangan medikasi, banyak obat yang dieksresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal.
Pasien yang memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung, antibiotik, antiaritmia,
antihipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar obat-obat ini dalam
darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik.

I. Komplikasi
- Kram otot, kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya hemodialisa sampai
mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot seringkali terjadi pada ultrafiltrasi
(penarikan cairan) yang cepat dengan volume yang tinggi.
- Hipotensi, terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat, rendahnya dialisat
natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati otonomik, dan kelebihan tambahan berat
cairan.
- Aritmia, hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa, penurunan kalsium,
magnesium, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh terhadap aritmia pada pasien
hemodialisa.
- Sindrom ketidakseimbangan dialisa, sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer
dapat diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang cepat
dibandingkan dari darah, yang mengakibatkan suatu gradien osmotik diantara kompartemen-
kompartemen ini. Gradien osmotik ini menyebabkan perpindahan air ke dalam otak yang
menyebabkan oedem serebri. Sindrom ini tidak lazim dan biasanya terjadi pada pasien yang
menjalani hemodialisa pertama dengan azotemia berat.
- Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu dimonitor pada pasien yang
mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.
- Perdarahan, uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat dinilai
dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama hemodialisa juga merupakan
faktor risiko terjadinya perdarahan.
- Ganguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang disebabkan karena
hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai dengan sakit kepala.
- Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.
- Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak adekuat ataupun
kecepatan putaran darah yang lambat.

Konsep Keperawatan
I. Pengkajian
a. Data demografi : berisi tentang nama, umur, alamat, jenis kelamin, pendidikan
b. Keluhan utama : klien dengan hemodialisa biasanya mengeluhkan; lemas, pusing, gata, baal-baal,
bengkak-bengkak, sesak, kram, BAK tidak lancar, mual, muntah, tidak nafsu makan, susah tidur
berdebar, mencret, susah BAB, penglihatan tidak jelas, sakit kepala, nyeri dada, nyeri punggung,
susah berkonsentrasi, kulit kering, nyeri otot, keringat dingin
c. Riwayat kesehatan saat ini : penderita gagal ginjal akut maupun kronik, ketidak seimbangan
elektrolit dalam tubuh, oedema, keracunan.
d. Riwayat kesehatan dahulu; menanyakan adanya infeksi saluran kemih atau infeksi organ lain,
riwayat kencing batu/obstruksi, riwayat mengkonsumsi oba-obatan atau jamu, riwayat trauma
ginjal, riwayat penyakit kardiovaskuler, riwayat penyakit endokrin, riwayat dehidrasi.
e. Riwayat kesehatan keluarga; apakah keluarga mempunyai riwayat penyakit diabetes, hipertensi,
penyakit ginjal. Dan mencantumkan genogram 3 generasi.
f. Psikospiritual : Penderita hemodialisis jangka panjang sering merasa kuatir akan kondisi
penyakitnya yang tidak dapat diramalkan. Biasanya menghadapi masalah financial, kesulitan
dalam mempertahankan pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang serta impotensi, dipresi
akibat sakit yang kronis dan ketakutan terhadap kematian. Prosedur kecemasan merupakan hal
yang paling sering dialami pasien yang pertama kali dilakukan hemodialisis.
g. Pengkajian persistem
- Respirasi; sesak nafas, ronchi
- Kardiovaskuler; lelah, lemah/malaise, letih, nyeri dada, anemia, hiperlipidemia, trombositopenia,
pericarditis, aterosklerosis, CHF, palpitasi, angina, hipertensi, distensi vena jugularis, disritmia,
pallor, nadi lemah/halus
- Digestif; edema/ peningkatan berat badan, dehidrasi/penurunan berat badan, mual, muntah,
anorexia, nyeri ulu hati, perhatikan turgor kulit, perdarahan gusi, lemak subkutan menurun,
distensi abdomen, rasa haus, ascites, diare, konstipasi
- Neurosensiori; insomnia, tonus otot menururn, ROM berkurang, sakit kepala penglihatan kabur,
sakit kepala
- Integumen; iritasi kulit, kram, baal-baal
- Reproduksi; penurunan libido, gangguan fungsi ereksi, infertil
- Urinari;edema periorbital-peritibial, poliuri pada awal gangguan ginjal, oliguri, dan anuri pada
fase lanjut, kaji warna urin, riwayat batu saluran kencing, uremia, asidosis metabolik, kejang-
kejang
- reaksi transfusi, demam, infeksi berulang, penurunann daya tahan tubuh,
h. Pemeriksaan penunjang : Kadar kreatinin serum diatas 6 mg/dl pada laki-laki, 4mg/dl pada
perempuan, dan GFR 4 ml/detik.

II. Daftar Diagnosa


Pre HD
a. Risiko Ketidakseimbangan elektrolit
b. kerusakan integritas kulit
c. ansietas
Intra HD
a. Hambatan mobilitas fisik
b. Nyeri akut
c. Risiko Infeksi
d. Risiko perdarahan

Post HD
a. Harga diri rendah : situasional
b. Risiko infeksi
III. Intervensi Keperawatan
1. Pre Hemodialisa
No Daftar Diagnosa NOC NIC
1 Resiko ketidakseimbangan elektrolit- Keseimbangan elektrolit dan asam basa Manajemen elektrolit
(00195) - Keseimbangan cairan - Lakukan dialisis jika perlu
Domain : nutrisi - Hidrasi - Konsultasikan dengan ahli gizi untuk
Kelas : hidrasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan memberikan diet pembatasan natrium.
Definisi:Beresiko mengalami selama 1x24 jam pasien mampu untuk: - Pantau hasil laboratorium yang relevan
perubahan kadar elektrolit serum1. Tercapainya keseimbangan elektrolit terhadap retensicairan (misalnya,
yang dapat mengganggu kesehatan dan asam-basa, dengan indikator: peningkatan berat jenis urine, peningkatan
- Jumlah elektrolit serum dalam batas BUN, penuranan hematocrit dan peningkatan
Faktor resiko normal kadar osmolalitas urine)
- Defisiensi volume cairan - Tanda-tanda vital seperti nadi dan - Observasi khususnya terhadap kehilangan
- Kelebihan volume cairan pernapasan dalam batas normal. cairan yang tinggi elektrolit (misalnya diare,
- Gangguan mekanisme regulasi (mis, - pH urine dalam batas normal drainasse luka, pengisapan nasogastric,
diabetes insipidus, sindrom2. Tercapainya keseimbangan cairan, diaphoresis, dan drainasse ileustomi)
ketidaktepatan sekresi hormon dengan indikator: - Laporkan abnormalitas elektrolit
antidiuretik) - Tidak ada asites Pemantauan elektrolit
- Muntah - Tidak ada edema perifer - Observasi khususnya terhadap kehilangan
- Disfungsi ginjal - Berat badan dalam keadaan stabil cairan yang tinggi elektrolit (misalnya diare,
- Mempertahankan output urine yang drainase luka, pengisapan nasogastrik,
sesuai dengan usia dan BB, BJ urine diaforesis, draninase ileostomi)
normal, HT normal - Kaji ekstremitas atau bagian tubuh yang
3. Mempertahankan hidrasi yang adekuat, edema terhadap gangguan sirkulasi dan
dengan indikator: integritas kulit
- Tidak mengalami haus yang tidak - Pantau secara teratur lingkar abdomen dan
normal ekstremitas
- Menunjukkan hidrasi yang baik
(membran mukosa lembab, mampu Manajemen cairan
berkeringat) - Pantau status hidrasi (misalnya, kelembapan
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi membran mukosa, keadekuatan nadi, dan
- Tidak demam tekanan darah ortostatik)
- Timbang berat badan setiap hari dan pantau
kecenderungannya
- Pertahankan keakuratan catatan asupan dan
haluaran
- Pantau indikasi kelebihan atau retensi cairan
(misalnya crakcle, peningkatan CVP atau
tekanan baji kapiler paru, edema, distensi
vena leher, dan asites), sesuai dengan
keperluan
- Berikan terapi IV, sesuai program
- Konsultasi ke dokter jika tanda dan gejala
kelebihan volume cairan menetap atau
memburuk
- Pasang kateter urine, jika perlu
- Berikan cairan, sesuai dengan keperluan
Manajemen cairan/elektrolit
- Identifikasi faktor terhadap bertambah
buruknya dehidrasi (misalnya obat-obatan,
demam, stres, dan program pengobatan)
- Kaji adanya vertigo ataun hipotensi postural
- Tentukan lokasi dan derajat edema
- Kaji komplikasi pulmonal atau
kardiovaskular yang diindikasikan dengan
peningkatan tanda gawat nafas, peningkatan
frekuensi nadi, peningkatan tekanan darah,
bunyi jantung tidak normal, atau suara nafas
tidak normal.
- Kaji efek pengobatan (misalnya steroid,
diuretik, litium) pada edema
- Berikan terapi IV sesuai program
Health Education:
- Ajarkan pasien tentang penyebab dan cara
mengatasi edema;pembatasan diit;dan
peggunaan, dosis, dan efek samping obat
yang digunakan
- Anjurkan pasien untuk menginformasikan
perawat bila haus
Terapi intravena (IV)
- Observasi daerah pemasangan infus secara
kontinyu
- Monitor tetesan infus
- Hindarkan pasien dari trauma selama terapi
IV
- Berikan posisi yang nyaman untuk pasien
- Kolaborasi dalam pemberian cairan IV
Health education:
- Anjurkan pasien untuk melaporkan
ketidaknyamanan selama pemasangan terapi
intravena.
- Anjurkan pasien melaporkan jika adanya
nyeri dan bengkak pada daerah sekitar
pemasangan infus.
Pemantauan cairan
- Kaji riwayat jumlah dan jenis intake cairan
dan eliminasi
- Pantau warna, jumlah dan frekuensi
kehilangan cairan
2 Kerusakan Integritas Kulit (00046) - Tissue Integrity : Skin and Mucous NIC
Domain : keamanan/perlindungan Membranes Pressure Management
Kelas : cedera fisik - Wound Healing : primer dan sekunder - Kaji lingkungan dan peralatan yang
Definisi : menyebabkan terjadinya tekanan.
Perubahan/gangguan epidermis Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Hindari adanya lipatan pada tempat tidur.
dan/atau dermis selama 3 x 24 jam kerusakan integritas - Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan
kulit teratasi dengan kriteria hasil : kering.
Batasan karakteristik - Capilarry refill < 3 detik - Lakukan mobilisasi pasien (ubah posisi
- Kerusakan pada lapisan kulit - Tidak ada pitting edema pasien) setiap dua jam sekali.
(dermis). - Integritas kulit yang baik bisa - Monitor integritas kulit akan adanya
- Kerusakan pada permukaan kulit dipertahankan (sensasi, elastisitas, kemerahan.
(epidermis) temperatur, hidrasi, pigmentasi - Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada
derah yang tertekan .
Faktor-faktor yang berubungan - Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien.
- Perubahan status cairan - Monitor status nutrisi pasien.
- Perubahan tugor - Mandikan pasien dengan sabun dan air
- Faktor perkembangan hangat.
- Ketidakseimbangan nurtisi
- Gangguan sirkulasi Healt Education
- Gangguan status metabolik - Anjurkan pasien untuk menggunakan
pakaian yang longgar.
3 Ansietas (00146) - Anxiety control Anxiety Reduction (penurunan
Kelas : koping/toleransi stres - Coping kecemasan)
Domain : respons koping - Gunakan pendekatan yang menenangkan
Definsi : Perasaan gelisah yang tak Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
jelas dari ketidaknyamanan atau selama 1x24 jam diharapkan kecemasan pelaku pasien
ketakutan yang disertai respon yang dirasakan klien berkurang dengan - Jelaskan semua prosedur dan apa yang
autonom (sumner tidak spesifik atau Kriteria Hasil : dirasakan selama prosedur
tidak diketahui oleh individu); - Klien mampu mengidentifikasi dan - Temani pasien untuk memberikan keamanan
perasaan keprihatinan disebabkan mengungkapkan gejala cemas dan mengurangi takut
dari antisipasi terhadap bahaya. - Mengidentifikasi, mengungkapkan dan - Berikan informasi faktual mengenai
Sinyal ini merupakan peringatan menunjukkan tehnik untuk mengontol diagnosis, tindakan prognosis
adanya ancaman yang akan datang cemas - Dorong keluarga untuk menemani anak
dan memungkinkan individu untuk - Vital sign dalam batas normal - Lakukan back / neck rub
mengambil langkah untuk - Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa - Dengarkan dengan penuh perhatian
menyetujui terhadap tindakan tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan - Identifikasi tingkat kecemasan
berkurangnya kecemasan - Bantu pasien mengenal situasi yang
Batasan karakteristik menimbulkan kecemasan
- Gelisah - Dorong pasien untuk mengungkapkan
- Insomnia perasaan, ketakutan, persepsi
- Resah - Instruksikan pasien menggunakan teknik
- Ketakutan relaksasi
- Sedih - Barikan obat untuk mengurangi kecemasan
- Fokus pada diri
- Kekhawatiran
- Cemas
2. Intra Hemodialisa
No Daftar Diagnosa NOC NIC
1 Nyeri Akut - Pain Level, Pain Management
Kelas : - pain control, - Lakukan pengkajian nyeri secara
Domain : - comfort level komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
Definisi : setelah dilakukan tindakan keperawatan durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
Sensori yang tidak menyenangkan selama 1x 24 jam diharapkan nyeri presipitasi
dan pengalaman emosional yang berkurang dengan Kriteria Hasil: - Observasi reaksi nonverbal dari
muncul secara aktual atau potensial - Mampu mengontrol nyeri (tahu ketidaknyamanan
kerusakan jaringan atau penyebab nyeri, mampu menggunakan - Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
menggambarkan adanya kerusakan tehnik nonfarmakologi untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
(Asosiasi Studi Nyeri Internasional): mengurangi nyeri, mencari bantuan) - Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
serangan mendadak atau pelan - Melaporkan bahwa nyeri berkurang - Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
intensitasnya dari ringan sampai dengan menggunakan manajemen nyeri - Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan
berat yang dapat diantisipasi dengan - Mampu mengenali nyeri (skala, lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri
akhir yang dapat diprediksi dan intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) masa lampau
dengan durasi kurang dari 6 bulan. - Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri - Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
berkurang dan menemukan dukungan
Batasan karakteristik : - Tanda vital dalam rentang normal - Kontrol lingkungan yang dapat
- Laporan secara verbal atau non mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
verbal pencahayaan dan kebisingan
- Fakta dari observasi - Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Posisi antalgic untuk menghindari - Pilih dan lakukan penanganan nyeri
nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter
- Gerakan melindungi personal)
- Tingkah laku berhati-hati - Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
- Muka topeng menentukan intervensi
- Gangguan tidur (mata sayu, tampak - Ajarkan tentang teknik non farmakologi
capek, sulit atau gerakan kacau, - Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
menyeringai - Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
- Terfokus pada diri sendiri - Tingkatkan istirahat
- Fokus menyempit (penurunan - Kolaborasikan dengan dokter jika ada
persepsi waktu, kerusakan proses keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
berpikir, penurunan interaksi dengan - Monitor penerimaan pasien tentang
orang dan lingkungan) manajemen nyeri
- Tingkah laku distraksi, contoh : Analgesic Administration
jalan-jalan, menemui orang lain - Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan
dan/atau aktivitas, aktivitas derajat nyeri sebelum pemberian obat
berulang-ulang - Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis,
- Respon autonom (seperti dan frekuensi
diaphoresis, perubahan tekanan - Cek riwayat alergi
darah, perubahan nafas, nadi dan
dilatasi pupil)
- Perubahan autonomic dalam tonus - Pilih analgesik yang diperlukan atau
otot (mungkin dalam rentang dari kombinasi dari analgesik ketika pemberian
lemah ke kaku) lebih dari satu
- Tingkah laku ekspresif (contoh : - Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe
gelisah, merintih, menangis, dan beratnya nyeri
waspada, iritabel, nafas - Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian,
panjang/berkeluh kesah) dan dosis optimal
- Perubahan dalam nafsu makan dan - Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk
minum pengobatan nyeri secara teratur
- Monitor vital sign sebelum dan sesudah
Faktor yang berhubungan : pemberian analgesik pertama kali
- Agen injuri (biologi, kimia, fisik, - Berikan analgesik tepat waktu terutama saat
psikologis) nyeri hebat
- Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)
2 Hambatan mobilitas fisik Ambulasi Ambulasi
Definisi : Pergerakan Terkoordinasi 1. Kaji kebutuhan belajar klien
Mobilitas
Keterbatasan dalam pergerakan fisik 2. Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan
mandiri dan terarah pada tubuh atau kesehatan daari lembaga kesehatan dirumah
satu ektremitas atau lebih. Tingkat 2 Tujuan dan Kriteria Hasil: sakit dan alat kesehatan yang tahan lama
: memerlukan bantuan dari orang 3. Instrusikan klien untuk menyangga berat
badannya
lain untuk pertolongan, pengawasan Setelah dilakukan tindakan keperawatan
4. Instrusikan dan dukung klien untuk
atau pengajaran. 2 x 24 jam mobilitas fisik teratasi dengan menggunakan trapeze atau pemberat untuk
Kelas : indicator : meningkatkan serta mempertahankan
Domain : Melakukan aktifitas kehidupan sehari- kekuatan ektremitas atas
Batasan Karakteristik : 5.
hari secara mandiri dengan alat bantu Instrusikan klien untuk memperhatikan
Penurunan waktu reaksi misalnya kursi roda kesejajaran tubuh yang benar
Kesulitan membolak-balik posisi Meminta bantuan untuk 6. Gunakan ahli terapi fisik dan okupasi sebagai
aktifitas
tubuh mobilisasi, jika diperlukan suatu sumber untuk mengembangkan
Dispnea saat beraktifitas Menggunakan kursi roda secara efektif perencanaan dan mempertahankan atau
Perubahan cara berjalan (misalnya meningkatkan mobilitas
penurunan aktifitas dan kecepatan 7. Gunakan sabuk penyongkong saat
berjalan, kesulitan untuk memulai memberikan bantuan ambulasi atau
berjalan, langkah kecil, berjalan perpindahan
dengan menyeret kaki, pada saat 8. Awasi sluruh upaya mobilitas dan bantu
berjalan badan mengayuh ke klien jika diperlukan
samping) HE
Tremor yang diinduksi oleh 9. Ajarkan dan dukung klien dalam latihan
pergerakan ROM aktif atau pasif untuk mempertahankan
Ketidakstabilan postur tubuh (saat atau meningkatkan kekuatan dan ketahanan
melakukan rutinitas aktivitas otot
kehidupan sehari-hari)
Melambatnya pergerakan
Faktor yang berhubungan : 10. Ajarkan dan bantu klien dalam proses
Perubahan metabolisme sel berpindah (misalnya dari tempat tidur ke
Intoleran aktivitas dan penurunan kursi roda)
kekuatan dan ketahanan 11. Ajarkan tekhnik ambulasi dan berpindah
Nyeri yang aman
Gangguan neuromuscular
Kaku sendi atau kontraktur
2 Resiko Infeksi (00004) - Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)
Domain : keamanan/perlindungan - Knowledge : Infection control - Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien
Kelas : infeksi - Risk control lain
Definisi : - Pertahankan teknik isolasi
Peningkatan resiko masuknya Setelah dilakukan tindakan keperawatan- Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci
organisme patogen dalam 1x24 jam diharapkan klien tangan
terhindar dari resiko infeksi dengan- Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
Faktor-faktor resiko : Kriteria Hasil : tindakan kperawtan
- Prosedur Infasif - Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi- Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
- Trauma - Jumlah leukosit dalam batas normal pelindung
- Kerusakan jaringan dan peningkatan - Pertahankan lingkungan aseptik selama
paparan lingkungan pemasangan alat
- Agen farmasi (imunosupresan) - Ganti letak IV perifer dan line central dan
- Peningkatan paparan lingkungan dressing sesuai dengan petunjuk umum
patogen
- Ketidakadekuatan imum buatan - Gunakan kateter intermiten untuk
- Tidak adekuat pertahanan sekunder menurunkan infeksi kandung kencing
(penurunan Hb, Leukopenia, - Tingktkan intake nutrisi
penekanan respon inflamasi) - Berikan terapi antibiotik bila perlu
- Tidak adekuat pertahanan tubuh
primer (kulit tidak utuh, trauma Infection Protection (proteksi terhadap
jaringan, penurunan kerja silia, infeksi)
cairan tubuh statis, perubahan - Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
sekresi pH, perubahan peristaltik) dan lokal
- Monitor hitung granulosit, WBC
- Monitor kerentanan terhadap infeksi
- Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase
- Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
- Laporkan kecurigaan infeksi
2. Risiko Perdarahan (00206) - Status sirkulasi Pencegahan Perdarahan
Domain : keamanan/perlindungan - Status koagulasi - Memonitor pasien secara ketat untuk
Kelas : cedera fisik - Prosedur pengobatan perdarahan
Definisi : - Kontrol resiko - Catatan tingkat hemoglobin / hematokrit
Beresiko mengalami penurunan sebelum dan sesudah kehilangan darah,
volume darah yang dapat Setalah dilakukan tindakan keperawatan seperti yang ditunjukkanMemantau tanda-
mengganggu kesehatan selama 1x24 jam diharapkan klien tidak tanda dan gejala perdarahan yang persisten
mengalami perdarahan dengan kriteria (misalnya memeriksa semua sekresi atau
Faktor resiko hasil: darah okultisme)
- Aneurisme - TTV dalam batas normal - Melindungi pasien dari trauma, yang dapat
- Defisiensi pengetahuan - Adanya pembentukan bekuan darah menyebabkan perdarahan
- Koagulopati inheren (mis., - Pengetahuan mengenai tindakan - Menginstruksikan pasien untuk
trombositoenia) pengobatan yang dijalani meningkatkan asupan makanan yang kaya
- Trauma - Resiko perdarahan dapat dikenali vitamin K
- Efeksamping terkait terapi - Menginstruksikan pasien dan / atau keluarga
pada tanda-tanda perdarahan dan tindakan
yang tepat (misalnya, memberitahukan
perawat)
Perawatan Sirkulasi
- Lakukan penilaian yang komprehensif dari
sirkulasi perifer (misalnya, memeriksa
denyut nadi perifer, edema, pengisian
kapiler, warna, dan suhu ekstremitas)
- Evaluasi edema dan tekanan perifer
- Turunkan ekstremitas untuk meningkatkan
sirkulasi arteri, yang sesuai
- Ubah posisi pasien minimal setiap jam 2,
yang sesuaiMendorong berbagai latihan
gerak pasif atau aktif selama istirahat di
tempat tidur, yang sesuai
- Mempertahankan hidrasi yang adekuat untuk
mencegah viskositas darah meningkat
- Memantau Status cairan, termasuk intake
dan output
3. Post Hemodialisa
No Daftar Diagnosa NOC NIC
1. Harga Diri rendah : situasional - Adaptasi Adaptasi
(00120) - Support system - Rencana memperkenalkan pertemuan
Domain : persepsi diri - Manajemen perasaan aktivitas sehari-hari
Kelas : harga diri Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Support system yang baik dari kelompok
Definisi : selama 1x 24 jam diharapkan perasaan - Fasilitasi lingkungan dan kegiatan yang akan
Perkembangan persepsi negatif harga diri rendah klien dapat berkurang meningkatkan harga diri klien
tentang harga diri rendah sebagai dengan kriteria hasil: - Pantau kegiatan yang dilaksanakan klien
respon terhadap situasi saat ini - Klien dapat menyesuaikan dengan - Membuat pernyataan positif tentang
(terapi) kemampuan verbal klien/apa yang sudah klien lakukan
Support system
Batasan karakteristik - Bantu klien mengenali keuntungan dan
- Evaluasi diri bahwa individu tidak ketidakuntungan masing-masing alternative
mampu menghadapi peristiwa support system
- Evaluasi diri bahwa individu tidak - Fasilitasi teman yang bisa diajak kerjasama
mampu menghadapi situasi untuk membuat keputusan
- Ekspresi ketidakberdayaan - Menjalani hubungan antara klien daan
keluarga
Faktor yang berhubungan Manajemen Perasaan
- Perubahan perkembangan - Pantau status fisik klien
- Gangguan citra tubuh - Ajarkan klien dalam kemampuan membuat
- Gangguan fungsional keputusan sebagai kebutuhannya
- Perubahan peran sosial - Gunakan dengan simple, konkret, belajar
untuk berinteraksi dengan kesadaran yang
disetujui klien.
2. Resiko Infeksi (00004) - Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)
Domain : keamanan/perlindungan - Knowledge : Infection control - Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien
Kelas : infeksi - Risk control lain
Definisi : - Pertahankan teknik isolasi
Peningkatan resiko masuknya Setelah dilakukan tindakan keperawatan- Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci
organisme patogen dalam 1x24 jam diharapkan klien tangan
terhindar dari resiko infeksi dengan- Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
Faktor-faktor resiko : Kriteria Hasil : tindakan kperawtan
- Prosedur Infasif - Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi- Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
- Trauma - Jumlah leukosit dalam batas normal pelindung
- Kerusakan jaringan dan peningkatan - Pertahankan lingkungan aseptik selama
paparan lingkungan pemasangan alat
- Agen farmasi (imunosupresan) - Ganti letak IV perifer dan line central dan
- Peningkatan paparan lingkungan dressing sesuai dengan petunjuk umum
patogen - Gunakan kateter intermiten untuk
- Ketidakadekuatan imum buatan menurunkan infeksi kandung kencing
- Tingktkan intake nutrisi
- Tidak adekuat pertahanan sekunder - Berikan terapi antibiotik bila perlu
(penurunan Hb, Leukopenia,
penekanan respon inflamasi) Infection Protection (proteksi terhadap
- Tidak adekuat pertahanan tubuh infeksi)
primer (kulit tidak utuh, trauma - Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
jaringan, penurunan kerja silia, dan lokal
cairan tubuh statis, perubahan - Monitor hitung granulosit, WBC
sekresi pH, perubahan peristaltik) - Monitor kerentanan terhadap infeksi
- Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase
- Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
- Laporkan kecurigaan infeksi
Daftar Pustaka

http://askepdanlp.blogspot.co.id/2017/03/laporan-pendahuluan-askep-hemodialisa.html

http://blog-nyaners.blogspot.co.id/2015/12/laporan-pendahuluan-hemodialisa.html

http://studioners.blogspot.co.id/2016/02/laporan-pendahuluan-hemodialisa.html