Anda di halaman 1dari 15

RADIO REVOLUSI KEDUA

MAKALAH

Diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta


Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Media Pembelajaran

Disusun Oleh:
Wartiningsih NIM.17707251008

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
dengan judul: Radio Revolusi Kedua.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Media
Pembelajaran dengan dosen pengampu Dr. Sunaryo Soenarto M.Pd. Penyusun
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan
dalam menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah masih banyak kekurangan
baik isi maupun penulisannya. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun untuk perkembangan penyempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul .............................................................................................. i


Kata Pengantar ................................................................................................. ii
Daftar Isi .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A.Latar Belakang ................................................................................. 1
B.Rumusan Masalah ............................................................................ 1
C.Tujuan Penulisan .............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 2
A. Konsep Dasar Radio Pendidikan..................................................... 3
B. Penggunaan Radio dalam Kelas ...................................................... 4
C. Aplikasi Radio menjadi Revolusi Kedua Pendidikan ..................... 7
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 11
Kesimpulan .......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pada tahun 1920an, jumlah guru sangat terbatas untuk mengajar di AS.
Guru pun juga belum banyak melakukan pengembangan media pembelajaran.
Selain itu, perbedaan secara geografis, perkotaan, pedesaaan, budaya
masyarakat, serta sekolah yang belum terjangkau dengan listrik juga masih
menjadi permasalahan dalam pendidikan. Kala itu, radio telah menjadi bagian
integral kehidupan di semua negara maju, dan adanya film-film ini
memberikan banyak hiburan bagi masyarakat. Di AS, para visioner melihat
potensi penggunaan radio dalam mengajar di tahun 1920an. Mereka
melakukan gerakan terpadu untuk mengembangkan jaringan radio pendidikan,
namun pada akhirnya mereka kehilangan frekuensi radio yang diinginkan,
karena ditutup oleh industri radio komersial. Pada akhir 1930an, periode
pertumbuhan radio pendidikan mulai ditolak. Dengan dimulainya Perang
Dunia II, aktivitas profesional di radio pendidikan berhenti dan gagal untuk
bangkit kembali. (Saettler, 1990, hal 197)

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar radio pendidikan?
2. Bagaimana penggunaan radio dalam kelas?
3. Bagaimana aplikasi radio menjadi revolusi kedua pendidikan?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui konsep dasar radio pendidikan.
2. Mengetahui penggunaan radio dalam kelas.
3. Mengetahui aplikasi radio menjadi revolusi kedua pendidikan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Radio Pendidikan


1. Pengertian
Radio ditemukan oleh Penemu Guglielmo Marconi tahun 1895.
Radio merupakan media audio yang penyampaian pesannya dilakukan
melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar (Dina
Indriana, 2011). Pemberi pesan secara langsung dapat
mengkomunikasikan pesan atau informasi melalui suatu alat yang
kemudian diolah dan dipancarkan ke seluruh penjuru melalui gelombang
elektromagnetik. Sedangkan anak didik dapat menerima pesan dari
pesawat radio dan mendengarkannya secara langsung di ruang kelas.
Penggunaan radio dalam ruang pembelajaran atau kelas membutuhkan
pengkondisian waktu dan siaran yang sesuai dengan tema yang diajarkan,
sehingga tema harus ditentukan terlebih dahulu, kemudian disesuaikan
dengan acara radio tersebut, baik dalam hal tema maupun waktunya.

Menurut Oeumar Hamalik (1980), radio adalah suatu perlengkapan


elektronik yang diciptakan berkat kemajuan dalam bidang teknologi
modern. Melalui alat ini orang dapat mendengar siaran tentang berbagai
peristiwa, kejadian-kejadian yang penting dan baru, masalah-masalah
dalam kehidupan, semuanya dipancarkan dari stasiun radio tertentu. Radio
menjadi media pendidikan yang berguna bagi semua bentuk pendidikan
karena memperkaya pengalaman pendidikan dan ide-ide yang kreatif. Ini
berarti alat tersebut memiliki potensi dan kekuatan yang berpengaruh
dalam pendidikan.

2. Manfaat Radio bagi Pendidikan


a. Memberikan berita yang up to date.
Berita radio yang baik, dipancarkan sesorang atau transcript adalah
berita up to date, karena dapat melengkapi kekurangan-kekurangan
buku pelajaran. Selain itu, dapat memperkaya bidang pendidikan,

2
ekonomi, pembangunan, politik, dan sebagainya. Semuanya dapat
didengar di kelas walaupun jarak jauh.
b. Menarik minat.
Siaran radio menarik minat anak, menyajikan masalah-maslaah
kehidupan sehari-hari dan disampaikan dengan cara menyenangkan.
c. Beritanya otentik
Program radio memberikan keterangan-keterangan yang sebenarnya,
asli, dan dapat dipercaya.
d. Berdasar pada kenyataan
Berita radio pada umumnya berdasarkan pada hal-hal yang nyata,
memberi gambaran jelas, terperinci.
e. Memiliki tinjauan yang luas
Melalui program radio sesuatu persoalan dapat ditinjau dari berbagai
segi. Semua golongan dapat mengemukakan pandangannya tentang
sesuatu hal secara bebas. Berita-berita tentang masyarakat yang jauh
letaknya dapat diketahui melalui siaran radio.
f. Memberi gambaran deskripsi yang jelas.
Program radio memberikan latar belakang yang lengkap tentang
peristiwa atau ide baru.
g. Mendorong kreativitas.
Radio, baik secara langsung atau pun tidak langsung dapat mendorong
kreativitas pada anak-anak dalam musik, drama, sajak, dan sebagainya.
Mereka diberi kesempatan untuk mendengarkan berbagai kreasi orang
lain untuk merangsang kreativitasnya.
h. Mendorong berpikir rasional.
Radio berpengaruh terhadap pembentukan pribadi seseorang,
mendorong berpikir rasional dan komparatif.

Kedudukan media pengajaran ada dalam komponen metode mengajar


sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru dengan
siswa dan siswa dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu, fungsi utama
dari media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar, yakni menunjang

3
metode mengajar yang dipergunakan guru. Melalui penggunaan media
pengajaran diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar
yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa.
Beberapa jenis media yang biasa digunakan dalam kegiatan pendidikan dan
pengajaran dapat digolongkan menjadi media grafis, media fotografis, media
tiga dimensi, media proyeksi, media audio dan lingkungan sebagai media
pengajaran.

B. Penggunaan Radio dalam Kelas


1. Prosedur penggunaan radio di dalam kelas
Ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan radio dalam
kelas, yaitu:
a) Penggunaan waktu pada siaran
Pengaturan waktu diperlukan dengan tujuan agar mendidik anak
menggunakan waktu sebaik-baiknya dan untuk kepentingan urutan
kontinuitas program. Para pendengar sendiri tentu merasa terganggu
apabila siaran radio berhenti beberapa waktu lamanya berhubung
belum tersedia acara siaran lebih lanjut.
b) Tempat
Tempat harus diatur sedemikian rupa, misalnya: tempat duduk, meja,
kursi, dan sebagainya. Ruangan hendaknya memiliki ventilasi yang
baik. Perlengkapan dan fasilitas harus berjalan dengan baik.
Pengaturan volume suara disesuaikan dengan keinginan kelas dan
kondisi ruangan. Penempatan alat penerima hendaknya ditempatkan
pada anak dapat mendengar dengan baik. Hindarkan gangguan-
gangguan dari dalam maupun luar kelas. Tempat dan kondisi harus
diperhatikan karena akan mempengaruhi belajar siswa.

Langkah-langkah prosedur penggunaaan radio dalam kelas yaitu:


a) Persiapan
Kegiatan persiapan sebelum mengikuti siaran perlu dilakukan oleh
guru bersama siswa. Tujuannya ialah agar siaran itu bermanfaat bagi

4
pendidik mereka. Dalam kegiatan ini memang harus diperhatikan
berbagai faktor, seperti tujuan program, jenis program, dan umur
siswa. Dengan mengikutsertakan siswa dalam persiapan dimaksudkan
agar mereka menyadari tujuan yang hendak dicapai, dan bersedia
menerima tugas-tugas individu.
Para siswa memerlukan persiapan untuk menerima siaran karena
mereka perlu bimbingan dan latihan. Dalam hubungannya dengan
persiapan ini, maka kelas sebaiknya mengumpulkan bahan-bahan
tentang siaran, misalnya: buku petunjuk, buku pegangan dan bila
diperlukan skrip siaran. Selain itu diperlukan pula, daftar nama-nama
tempat, konsep, kunci pertanyaan. Untuk perlengkapan diperlukan
pamflet, gambar-gambar, majalah, Koran agar menjadikan siaran lebih
bermakna. Guru bersama siswa membuata persiapan sedemikian rupa
agar siaran memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi kelas dan
mendidik anak-anak.
b) Penerimaan
Dalam langkah ini guru dan siswa melakukan kegiatan mendengarkan
siaran dengan seksama. Guru harus duduk di depan kelas. Kegiatan-
kegiatan guru mungkin berupa membuat catatan-catatan, menulis kata-
kata baru atau sulit, mendemonstrasikan ritme di papan tulis, membuat
suatu tanda pada peta dan lain sebagainya. Kegiatan siswa adalah
membuat catatan tentang pokok-pokok yang dianggap penting,
membuat pertanyaan-pertanyaan, mengikuti demonstrasi, mengadakan
appresiasi, menulis kata-kata dan kalimat-kalimat tertentu. Kegiatan-
kegiatan dalam langkah ini adalah pelaksanaan dari hal-hal yang telah
direncanakan sebelumnya.
c) Kegiatan Lanjutan sebagai follow up
Langkah lanjutan ini adalah bagian yang penting dalam pelajaran
penggunaan radio. Biasanya terdapat petunjuk dalam buku pegangan
guru untuk kegiatan berikutnya. Guru seharusnya mengetahui hal-hal
yang bernilai bagi pendidikan. Dalam hal ini, dapat dilakukan kegiatan
seperti, diskusi, debat, forum, menarik kesimpulan, membaca buku-

5
buku, membaca peta, mengadakan trip, wawancara dengan orang-
orang tertentu, menulis, atau mengadakan dramatisasi. Kegiatan yang
penting dalam follow up ini ialah mengintegrasikan pengetahuan yang
telah diperoleh sebelumnya dengan yang baru diperoleh melalui radio.

2. Kelebihan dan Kelemahan Radio Pendidikan


a. Kelebihan
1) Memiliki variasi program yang cukup banyak, sehingga bisa
memilih tema pengajaran yang cukup variatif;
2) Bisa dibawa kemana-mana dan dapat disesuaikan denan tema
yang diinginkan dengan mengganti gelombang frekuensinya;
3) Mampu mengembangkan imajinasi siswa;
4) Siswa dapat memusatkan perhatiannya pada kata, kalimat, atau
musik, sehingga sangat cocok untuk pengajaran bahasa
5) Jangkauannya sangat luas sehingga dapat didengar oleh jumlah
anak didik yang banyak dalam satu ruangan;
6) Relatif murah dan mudah didapatkan.

b. Kelemahan
1) Pengajar harus menyesuaikan tema, waktu, dan acara dengan
program radio yang bersangkutan, dan dalam hal ini tentu akan
memunculkan kesulitan tersendiri karena jadwal guru sudah diatur
dan ditentukan sedemikian rupa;
2) Sifat komunikasi yang diberikan media radio ini bersifat satu arah;
3) Anak didik akan cepat bosan jika acaranya tidak variatif atau
monoton;
4) Tidak bisa dikendalikan oleh guru atau anak didik dalam suatu
ruangan kelas, karena memang sudah diprogram oleh banyak
penyiar radio yang tidak ada sangkut pautnya dengan program
sekolah;
5) Sifat siaran hanya selintas dan tidak bisa diulang-ulang, sehingga
anak didik kesulitan dalam menyesuaikan kemampuan belajarnya.

6
C. Aplikasi Radio menjadi Revolusi Kedua Pendidikan
1. Aplikasi Radio Pendidikan secara Umum
Di AS, para visioner melihat potensi penggunaan radio dalam pengajaran
pada tahun 1920an. Literatur AS memuji adanya stasiun radio komersial
yang menyediakan lima jam pelajaran radio selama seminggu di negara-
negara seperti Inggris, Australia dan Selandia Baru, Swedia, Finlandia dan
Denmark. Sekolah tersebut memiliki akses ke lima atau enam jam siaran
sekolah setiap hari selama seminggu. Pemerintah segera menyadari
kekuatan radio publik untuk menginformasikan kepada masyarakat luas.
Para pemimpin fasis seperti Hitler dan Mussolini mengakui peran radio
sebagai alat 'pendidikan'. Radio, seperti film sebelumnya, dianggap
memiliki kekuatan untuk merevolusi pengajaran, dan banyak pemerintah
Commonwealth Eropa dan Inggris menganggarkan dana yang besar untuk
radio ini.

Radio memiliki daya tarik yang besar baik muda maupun tua di tahun-
tahun pertengahan abad ke-20. Perlu diingat bahwa seseorang berbicara
tentang masa ketika radio adalah raja, dan di mana semua kelompok usia
masyarakat menyesuaikan diri dengan program reguler mereka, apakah
serial, drama, kuis, olahraga atau berita. Oleh karena itu, dipandang logis
untuk menggunakan media baru untuk memperkaya pengajaran. Di
Australia pada tahun 1932, siaran baru yang didanai secara nasional,
Australian Broadcasting Commission (ABC. Kekurangan dana pada tahun
1930an dan Perang Dunia II menghambat perkembangannya.

Setelah perang, ABC berhasil bekerja sama dengan masing-masing negara


untuk memproduksi sekitar enam jam pemrograman, Senin sampai Jumat.
Preferensi diberikan mencakup area paling sesuai dengan media dan di
mana ada kekurangan guru. Tema yang mendapat perhatian khusus
seperti; membaca, pendidikan anak usia dini, sains dan musik. Untuk
melengkapi program radio disediakan teks khusus dan buku musik.

Program seperti 'Kindergarten of the Air' menjadi bagian dari cerita rakyat
Australia.

7
Penggunaan siaran radio sekolah tumbuh pada tahun 1950an dan mencapai
tujuannya, sedangkan puncaknya di tahun 1960-an. Siaran televisi ABC
melaporkan bahwa selama tahun 1956-57, 88 persen sekolah
menggunakan program pendidikan, dengan 20 persen di luar area
jangkauan stasiun pemancar '(ABC, 1979). Selama periode 1965-75
penggunaan program radio reguler sekolah menjadi umum
penggunaannya. Pada tahun 1965, ada 94 persen sekolah menggunakan
radio program secara teratur, dan pada tahun 1969 angka ini telah
mencapai 97 persen. Penting untuk dicatat bahwa ABC menyediakan
angka-angka ini dan ditunjukkan dalam wawancara dengan mantan
anggota pendidikan nasional ABC, pada saat unit siaran radio sekolah
sedang bertempur untuk kelangsungan keberadaannya terhadap ancaman
televisi pendidikan.

Ada beberapa faktor yang membedakan penggunaan radio dengan film,


penggunaan siaran radio sekolah di sekolah menengah dan Sekolah dasar
sangat minim. Penggunaan dibatasi pengaturan organisasi dan akses
kontrol teknologi. Sementara siaran radio sekolah selalu diulang,
kesempatan waktu pelajaran bertepatan dengan waktu siaran program yang
kecil.

Sebagian besar sekolah dasar dan menengah siaran radio disebarkan


sekolah melalui sistem public address (PA). Dengan sistem itu guru hanya
memiliki kontrol volume pada speaker di kelas, dan tergantung pada staf
kantor depan yang mengaktifkan PA.

Kenyataan lainnya adalah bahwa guru tidak memiliki kendali atas


pelajaran ditawarkan. Mereka harus menggunakan paket itu secara penuh.
Perlu juga diingat bahwa bahkan di negara maju sekalipun, banyak
sekolah di pedesaan tidak memiliki listrik sampai akhir 1960an, dan hanya
sedikit yang memiliki penerimaan radio. Sekolah dasar pedesaan yang
hanya memiliki satu dan dua guru sekolah dasar, di mana tersebut
mengajarkan tanpa batasan usia dan kelompok kemampuan dalam satu
atau dua kelas. Di sekolah-sekolah itu kebutuhannya jauh lebih individual.

8
Guru bisa menjadwalkan pengajaran mereka di sekitar jam siaran. Yang
terpenting, baik guru maupun muridnya langsung kontrol penerima radio
(siswa menggunakan radio di beranda sekolah sedangkan guru mengajar
kelas lebih bawah di kelas.)

Faktor penting yang mempengaruhi penggunaan radio di sekolah pedesaan


di Australia adalah bahwa para guru bisa mencatat dalam buku pelajaran
mereka bahwa mereka mengikuti pelajaran musik pada pukul 2.30 sore
pada hari Kamis sore.

Terdapat perbedaan antara penggunaan radio sekolah kecil. Pada sekolah


besar penggunaan sangat ekstensif, siaran radio dibuat oleh para guru di
sekolah yang meliputi musik, studi alam dan membaca. Dia mencatat yang
memiliki penerima radio sendiri di bawah kendali guru.

Pada awal 1970-an, radio sebagai hiburan di rumah telah digantikan oleh
televisi. Seperti halnya film, pola yang sama pun dibuktikan dengan
penggunaan siaran radio karena anggaran negara dialihkan ke media baru
ini. Kemunculan televisi membuat siaran sekolah berakhir.

Ironisnya, saat penyiaran radio berakhir, muncullah di banyak sekolah


menengah yang besar terutama di dalam studi media program radio yang
diproduksi dan didistribusikan oleh pelajar. 1970-an dan seterusnya
sekolah menengah besar memiliki stasiun radio pelajar sendiri, dan
dibangun dengan tujuan.

Pelajaran secara umum enggan menggunakannya, guru bahasa Inggris


menggunakan sebagai media pembelajaran. Tahun 1970an dan
seterusnya, gerakan itu terbantu dengan ketersediaan rekaman teknologi
audio dan editing yang murah dan berkualitas. Sekolah bisa mudah
membeli perekam audio, meja mixing, amplifier, turntable dan mikrofon
yang dibutuhkan untuk produksi radio pelajar.

Tahun 1970-an juga melihat kemunculan stasiun radio berbasis


masyarakat, dan siswa bekerjasama dengan stasiun radio komunitas. Pada
tahun 2000an, para siswa masih memproduksi di stasiun radio.

9
Penggunaan radio yang diproduksi siswa sampai tahun 2000an. Hanya
perbedaannya di tahun 2008 penggunaan dibuat dari digital dan bukan
teknologi analog.

2. Aplikasi radio pendidikan di Indonesia


Perkembangan radio pendidikan di Indonesia tahun 1950an, 1960an dan
bahkan awal 1970an. Siaran radio waktunya tidak bersesuaian dengan
waktu yang tersedia di sekolah, bahkan ada juga sekolah yang sama sekali
tidak memiliki program mendengarkan siaran. Dalam keadaan demikian
guru yang berminat menggunakan radio dapat merekamnya dengan tape
recorder. Kalau guru rajin merekam program siaran, maka sekolah akan
mempunyai perpustakaaan rekaman. Bagi sekolah-sekolah yang besar dan
cukup biaya dapat mengadakan siaran sendiri, yakni siaran dari para siswa
yang bertindak sebagai produser, pelaku, dan teknisinya. Sekolah bisa
membuat pemancar radio sendiri atau menggunakan fasilitas yang telah
ada dari masyarakat guna kepentingan pendidikan.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Radio merupakan media audio yang penyampaian pesannya dilakukan
melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar (Dina
Indriana, 2011). Penggunaan siaran radio sekolah tumbuh pada tahun 1950an
dan mencapai tujuannya, sedangkan puncaknya di tahun 1960-an. Sekolah
dapat mengikuti siaran radio yang dipancarkan dari luar mengenai masalah-
masalah yang berkenaan dengan pelajaran di kelas, dan apabila
memungkinkan sekolah dapat juga mendirikan pemancar radio pendidikan
sendiri. Pada awal 1970-an, radio sebagai hiburan di rumah telah digantikan
oleh televisi. Namun, pada tahun 1970an dan seterusnya, studio radio sekolah
terbantu dengan ketersediaan rekaman teknologi audio dan editing yang
murah dan berkualitas.

11
DAFTAR PUSTAKA

Dina Indriana. (2011). Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Yogyakarta: Diva
Press.
Mal Lee and Arthur Winzenriedin. (2009). The Use of Technology Instructional.
Victoria: ACER Press
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. (1990). Media Pengajaran: Penggunaan dan
Pembuatannya. Bandung: CV Sinar Baru Bandung
Oemar Hamalik. (1980). Media Pendidikan. Bandung: Alumni

12