Anda di halaman 1dari 20

DAUR SIKLUS BIOGEOKIMIA

MAKALAH
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekologi
Yang dibimbing oleh Desi Kartikasari, M.Pd

Oleh:

1. Putri Pramita Sari (17208153040)


2. Ifa Hani Nuryana (17208153049)
3. Handika Nur Arofiq (17208153062)

JURUSAN TADRIS BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
November 2016

KATA PENGANTAR

1
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik,
inayah, dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyusun makalah yang
berjudul Daur Siklus Biogeokimi ini dengan baik.

Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas matakuliah
Ekologi. Dalam menyelesaikan makalah ini, penyusun banyak mendapat bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penyusun bermaksud
mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Maftukhin, M. Ag selaku Rektor IAIN Tulungagung.


2. Desi Kartikasari, M.Pd. selaku dosen matakuliah Sosiologi Pendidikan
yang telah banyak memberi dorongan dan masukan.
3. Orang tua yang selalu memberi motivasi kepada kami.
4. Serta semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu,penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak untuk mengevaluasi makalah ini. Penyusun
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semuanya.

Tulungagung, November 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN.... 1

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah....... 2
C. Tujuan Penulisan 2

BAB II : PEMBAHASAN.... 3

A. Pengertian Siklus Biogeokimia.......................................... 3


B. Proses Siklus Nitrogen (N2)............................................... 4
C. Proses Siklus Fosfor (P)..................................................... 6
D. Proses Siklus Karbon (C)................................................... 7
E. Proses Siklus Sulfur (S)..................................................... 12
F. Proses Siklus Air................................................................ 14

BAB III : KESIMPULAN 16

DAFTAR PUSTAKA.................................................................. 17

3
BAB I

PENDAHULUAN

Pada Bab I ini diuraikan 1) latar belakang, 2) rumusan masalah, dan 3)


tujuan penulisan yang dipaparkan dibawah ini.

A. Latar Belakang
Suatu ekosistem terdiri dari interaksi yang menguntungkan antara
organisme-organisme dengan lingkungannya di mana terjadi pertukaran dari
sejumlah besar material-material dalam bentuk siklus, yang dikenal dengan siklus
materi. Siklus materi menyangkut bagaimana aliran atau perjalanan materi yang
terdiri dari bahan-bahan kimia dari satu media ke media lainnya di dalam
lingkungan, termasuk di dalamnya media kehidupan. Bahan-bahan kimia yang
termasuk penyusun kehidupan yang paling banyak antara lain: karbon, nitrogen,
oksigen, belerang, dan fosfor.
Secara struktural setiap siklus materi terdiri dari bagian cadangan dan
bagian yang mengalami pertukaran. Di dalam bagian cadangan, unsur kimia
tersebut akan terikat dan sulit bergerak, atau pergerakannya lambat. Di dalam
bagian pertukaran, unsur kimia tersebut aktif bergerak atau mengalami pertukaran.
Dalam siklus nitrogen, fosfor maupun belerang, terdapat organisme-
organisme yang mempunyai peranan penting untuk berlangsungnya siklus
tersebut, misalnya organisme penambat nitrogen bebas. Pengetahuan mengenai
peranan organisme dalam siklus materi dapat dimanfaatkan manusia, misalnya
dalam bidang pertanian. Siklus materi yang satu dengan yang lain dapat saling
terkait atau mempengaruhi. Hal ini dapat dilihat misalnya pada siklus
belerang.Aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi siklus materi. Sebagai
contohnya adalah kegiatan pabrik dan mesin-mesin kendaraan bermotor dapat
meningkatkan kandungan senyawa-senyawa oksidasi beterang, dan oksida
nitrogen di udara.

4
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian siklus biogeokimia?
2. Bagaimanakah proses siklus nitrogen (N2)?
3. Bagaimanakah proses siklus fosfor (P)?
4. Bagaimanakah proses siklus karbon (C)?
5. Bagaimanakah proses siklus sulfur (S)?
6. Bagaimanakah proses siklus air?
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan tentang pengertian siklus biogeokimia.
2. Menjelaskan tentang proses sklus nitrogen (N2).
3. Menjelaskan tentang proses siklus fosfor (P).
4. Menjelaskan tentang proses siklus karbon(C).
5. Menjelaskan tentang proses siklus sulfur (S).
6. Menjelaskan tentang proses siklus air.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Siklus Biogeokimia

Salah satu proses fundamental dalam ekosistem adalah siklus materi atau
dikenal juga sebagai siklus biogeokimia. Meskipun secara definitif tidak banyak
berbeda namun dalam pemakaiannya istilah siklus biogeokimia sering kali
dikaitkan dengan proses yang lama bahkan menyangkut waktu geologis,
sedangkan siklus materi atau siklus hara biasanya mengacu pada proses
perpindahan materi pada ekosistem lokal. Materi yang menyusun tubuh organisme
berasal dari bumi.Materi berupa unsur-unsur terhadap dalam senyawa kimia yang
merupakan material dasar makhluk hidup dan tak hidup.

Siklus biogeokimia atau siklus organik-anorganik adalah siklus unsur atau


senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi
ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme,
tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga
disebut siklus biogeokimia1. Siklus-siklus tersebut antara lain siklus oksigen,
siklus karbon, siklus nitrogen,siklus sulfur dan siklus air.

Gambar A.1 Siklus Biogeokimia

1
Amin Setyo Leksono, EKOLOGI Pendekatan Deskriptif dan Kuantitatif, (Malang: bayumedia
Publishing), 2007 hal: 177.

6
1. SIKLUS NITROGEN (N2)

Gas nitrogen terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas
dapat ditambah/difiksasi, terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya
tumbuhan Leguminacae) dan beberapa jenis ganggang.Nitrogen bebas juga dapat
bereaksi dengan hydrogen atau oksigen dengan bentuan kilat/petir.Tumbuhan
membutuhan nitrogen dari dalam tanah berupa ammonium (NH4+), ion nitrit
(NO2), dan ion nitrat (NO3).

Tahap Pertama

Beberapa bakteri berperan penting dalam proses fiksasi nitrogen. Bakteri


tersebut terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella
crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen
secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostidium sp.
yang bersifat anaerob.Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu
membuat nitrogen. Proses reaksi kimia yang terjadi dan organism yang berperan
dapat dilihat pada tabel 1.1.

Tahap Kedua

Nitrogen yang diikat biasanya dalam bentuk ammonia. Gas ammonia


(NH3) diperoleh dari hasil pengaraian jaringan yang mati oleh bakteri. Ammonia
ini akan dinitrifokasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus
sehingga menghasilkan nitrit yabg akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya
oleh oleh bakteri dinitrifikan, mengubah nitrat menjadi ammonia kembali dan
amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara siklus
nitrogen akan berulang dalam ekosistem2.

2
Ibid., Hal 178

7
Tabel 1.1 Proses Reaksi Kimia yang Penting dalam Siklus Nitrogen.

Proses Bakteri/Organisme

Fiksasi nitrogen Marsiella crenata

N2 + 3H2 2NH3 Azotobacter sp.

Clostridium sp.

Nostoc sp. dan

Anabaena sp

Nitrifikasi Nitrosomonas spp.

NH3 + 1,5 O2 HNO2 + H2O &Nitrosococcus spp.

KNO2 + 1,5 O2 KNO3

Denitrifikasi Pseodonomas
denitrificans
C6H12O6 + 24 KNO3 6CO2 + 3H2O + 6KOH
+3N2O

5C6H12O6 + 24KNO3 30CO2 +18H2O +


24KOH + 12N2

Aminifikasi Beberapa jenis bakteri,


tumbuhan, dan hewan
C2H5NO2 + 1.5 O2 2CO2 + H2O +NH3

8
Gambar 1.1 Siklus Nitrogen di Alam

2. DAUR/SIKLUS FOSFOR (P)

Seperti halnya nitrogen, fosfor merupakan unsur penting bagi


organisme.Fosfor merupakan unsur penyusun asam nukleat, membrane sel, dan
berperan dalam struktur dan fungsi ATP.Siklus fosfor lebih sederhana daripada
siklus nitrogen.Siklus ini tidak melalui pengumpulan di atmosfer.Di alam, fosfor
terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan
hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).Fosfat organik dalam
tumbuhan dapat dikonsumsi oleh hewan herbivora. Fosfat organik dari hewan dan
tumbuhan yang mati akan diuraikan oleh komposer (pengurai) menjadi fosfat
anorganik3.Tumbuhan mengambil pospor dari tanah dalam bentuk ion PO4 untuk
membentuk protein dan asam nukleat.Seperti halnya tumbuhan, hewan dan
manusia membutuhkan unsur P untuk membentuk asam nukleat, tulang dan gigi4.

Fosfat anorganik dapat diserap kembali oleh tumbuhan secara difusi.


Fosfat anorganik yang larut dalam air tanah atau air laut akan terkikis dan
mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfatbanyak terdapat di batu karang
dan fosil .fosfat dari batu dan fosil dapat mengalami pelapukan dan pengikisan.

3
Ibid., Hal 180
4
Wiwik Endang Mardiastutik, Mengenal Ekosistem, (Bekasi: Mitra Utama), 2013. hal24.

9
Tulang dan gigi tetap terpendam dalam tanah, setelah lama menjadi fosil.Posfat
terlarut yang masuk ke laut dangkal kemudian membentuk fosfat anorganik yang
terlarut di air tanah dan laut5.Tumbuhan laut dimakan ikan, kemudian ikan
dimakan burung laut. Burung laut akan mengeluarkan kotorannya yang
mengandung unsur P. Kotoran burung laut yang banyak mengandung unsur P
disebut pupuk guano. Oleh karena itu bila unsur P masuk ke laut dangkal masih
bisa kembali ke daratan. Tetapi bila masuk ke laut dalam, maka akan hilang
karena menjadi sedimen di laut dalam. Unsur P di laut dalam bisa kembali ke
permukaan tanah bila ada letusan gunung berapi6. Fosfat yang ada dilaut bisa
mengalami proses geologis uplifting. Secara diagramatis, proses ini dapat dilihat
pada Gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1 Siklus Fosfor di Alam

3. DAUR/SIKLUS KARBON (C)

Di atmosfer terdapat kandungan CO2 sebanyak 0,03%. Siklus karbon adalah


siklus biogeokimia di mana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer,
hidrosfer, dan atmosfer bumi.Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon

5
Ibid., Hal 180
6
Ibid., Hal 24-25

10
utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut
adalah:

1. Atmosfer
2. Biosfer Teresterial, meliputi freshwater sistem dan material nonhayati
organik seperti soil karbon (karbon tanah)
3. Lautan, meliputi karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati atau
nonhayati
4. Sedimen, meliputi bahan baker fosil

Pertukaran karbon antara reservoir terjadi karena proses kimia, fisika, geologi,
dan biologi yang bermacam-macam.

1. Karbon di Atmosfer

Kandungan karbon terbesar yang terdapat diatmosfer bumi adalah gas


karbondioksida (CO2) sebesar 0.03%. Sumber-sumber CO2 di udara berasal
dari respirasi tumbuhan, manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran
batubara, minyak bumi, dan asap rokok, karbon dioksida di udara di
manfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen
yang digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi.Meskipun jumlah
gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh gas yang ada di
atmosfer,selama beberapa tahun terakhir ini juga berperan dalam peningkatan
pemanasan global.

Karbon dapat diambil dari atmosfer dengan berbagai cara, antara lain:

a. Melalui proses fotosintesis


Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesis untuk
mengunbah karbondioksida menjadi karbohidrat dan melepaskan oksigen
ke atmosfer. Karbon pada proses ini akan banyak di serap oleh tumbuhan
yang baru saja tumbuh atau pepohonan pada hutan yang sedang di
reboisasi sehingga membutuhkan pertumbuhan yang cepat
b. Melalui sirkulasi termohalin
Pada permukaan laut di daerah kutub, air laut menjadi lebih dingin
dan karbondioksida lebih mudah larut dalam air. Karbondioksida yang

11
larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa
massa air di permukaan yang lebih berat menuju ke dalam laut. Di laut
bagian atas , pada daerah yang poduktivitasnya tinggi organisme
membentuk cangkang karbonat dengan bagian-bagian tubuh lainnya yang
keras. Proses ini menyebabkan aliran karbon menuju ke bawah.
c. Melalui pelapukan batu silikat
Proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap
untuk kembali ke atmosfer seperti dua proses sebelumnya. Pelapukan
batuan silikat tidak memilki efek yang terlalu besar terhadap
karbondioksida pada atmosfer karena ion karbonat pada atmosfer yang
terbentuk terbawa oleh air laut dan selanjutnya akan dipakai untuk
membuat karbonat laut.
Karbon dapat kembali lagi ke atmosfer dengan beragai cara pula
antara lain:
d. Melalui respirasi tumbuhan dan binatang
Proses ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga
penguraian glukosa menjadi karbohidrat dan air.
e. Melalui pembusukan, tumbuhan, dan binatang
Jamur dan bakteri menguraikan senyawa karbon pada tumbuhan
dan binatang yang mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida
jika tersedia aksigen atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen
f. Melalui pembakaran material organik
Proses ini berlangsung dengan cara mengoksidasi karbon yang
terkandung pada material organik menjadi karbondioksida. Pembakaran
bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam akan
melepaskan karbon yang tersimpan di dalam geosfer, sehingga
menyebabkan kadar karbon dioksida di atmosfer semakin bertambah.
g. Melalui produksi semen
Salah satu komponen semen yaitu kapur atau kalium oksida
dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur yang akan menghasilkan
karbon dioksida dalam jumlah banyak.

12
h. Melalui erupsi vulkanik
Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepasakan gas
ke atmosfer. Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan
belerang. Jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer hampir sama
dengan jumlah karbon dioksida yang hilang dari atmosfer akibat
pelapukan batuan silikat.
i. Melalui pemanasan permukaan laut
Di permukaan laut, ketika air laut menjadi lebih hangat, karbon
dioksida yang larut dalam air akan dilepas ke atmosfer sebagai uap air.
2. Karbon di Biosfer

Dalam biosfer terdapat sekitar 1900GtC gas karbon dioksida dan


oksigen. Karbon adalah bagian yang penting dalam menunjang kehidupan di
bumi, karena karbon berperan dalam strutur biokimia dan nutrisi pada semua
sel makhluk hidup. Proses-proses perpindahan karbon di biosfer sama dengan
proses perpindahan karbon di atmosfer, karena semua proses yang terjadi di
atmosfer harus melalui biosfer terlebih dahulu.

3. Karbon di Laut

Laut mengandung sekitar 36000 GtC ion karbonat yang merupakan


kandungan umum. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan
karbon-karbon atau karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksi yang
terjadi pada air. Pertukaran karbon penting untuk mengontrol pH di laut dan
dapat di jadikan sebagai sumber. Proses pertukaran karbon antara atmosfer
dengan lautan diawali dengan pelepasan karbon ke atmosfer yang terjadi di
daerah upwelling (lautan bagian atas), kemudian pada daerah downwelling
(laut bagian bawah), karbon berpindah dari atmosfer kembali ke lautan. Pada
saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk dengan reaksi kimia:

CO2 + H2O H2CO3

Reaksi tersebut memiliki sifat dua arah untuk mencapai suatu


kesetimbangan kimia. Reaksi lain yang penting dalam mengontrol nilai pH

13
larutan adalah pelepasan ion hidrogen dan bikarbonat, dimana dapat
menyebabkan perubahan yang besar pada pH, yaitu H2CO3 H+ + HCO3-

Terdapat lebih banyak persenyawaan karbon yang dikenal daripada


persenyawaan unsur lain kecuali hydrogen. Kebanyakan dikenal sebagai zat-
zat kimia organic. Keistimewaan karbon yang unik adalah kecenderungannya
secara alamiah mengikat dirinya sendiri dalam rantai-rantai atau cincin-cincin
, tidak hanya dengan ikatan tunggal, C-C, tetapi juga mengandung ikatan
ganda, C=C atau C=C . Di atmosfer terdapat kandungan CO2 sebanyak
0.03%. Sumber-sumber CO2di udara berasal dari respirasi manusia dan
hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Karbon
dioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan
menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan
hewan untuk berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang
lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan
lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara.

Di ekosistem perairan, pertukaran CO2 dengan atmosfer berjalan


secaara tidak langsung. Karbondioksida berikatan dengan air membentuk
asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah
sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka
sendiri dan organism heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air
berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat.Jumlah
bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO2 di air

14
Gambar 3.1 Siklus Karbon dan Oksigen di Alam

4. DAUR/SIKLUS SULFUR

Siklus belerang relative kompleks dimana melibatkan berbagai macam


gas, mineral-mineral yang sukar larut dan beberapa spesies lainnya dalam larutan.
Siklus ini berkaitan dengan siklus oksigen dimana belerang bergabung dengan
oksigen membentuk gas belerang oksida, SO2, sebagai bahan pencemar air. Unsur
S (sulfur) merupakan unsur untuk membentuk protein. Sulfur di alam terdapat di
atmosfer dalam bentuk Hidrogen Sulfida (H2S) dan Sulfur dioksida (SO2). Di
tanah juga terdapat unsur sulfur dalam bentuk SO4 dan berupa sedimen tanah.

Tumbuhan mengambil sulfur dari tanah dalam bentuk SO4 untuk


membentuk protein. SO4 di tanah berasal dari penguraian mahkluk hidup yang
mati. Selain itu di tanah juga terjadi oksidasi sulfur oleh bakteri. Sedangkan sulfur
di udara yang berupa H2S dan SO2 berasal dari pembakaran mesin, proses reduksi
sulfur dan penguapan.

Keberadaan SO2 di udara terkadang juga menyebabkan masalah. Karena


bila SO2 berikatan dengan air hujan, maka akan terbentuk hujan asam. Hujan asam
adalah air hujan yang bersifat asam. Hujan asam akan merugikan manusia, karena

15
dapat menyebabkan besi berkarat, sehingga banyak kendaraan dan gedung cepat
keropos atau rusak.

Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di


bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena
karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk
sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena
membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan
binatang.

Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor


dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen
membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer
dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang
mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan
meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya
bagi kehidupan ikan dan tanaman7.

Belerang dari daratan cenderung terbawa air ke laut. Namun belerang di


daratan tak tampak habis setelah jutaan tahun. Kapan belerang kembali ke darat?
Melalui penguapan, kata ilmuwan zaman dulu. Tapi tak ada bukti bahwa laut
menguapkan hidrogen sulfida yang baunya bukan main itu ke angkasa. Laut selalu
berhawa segar.

Pertanyaan ini baru terjawab beberapa belas tahun yang lalu. Tumbuhan
laut, yang memiliki sel2 sederhana. Tumbuhan ini berusaha hidup dengan
menahan masuknya garam (NaCl) ke dalam selnya. Ini dilakukan dengan
membentuk senyawa penahan yang berbahan baku belerang, karena pasok
belerang di laut banyak sekali, datang dari daratan. Waktu sel mereka terurai,
senyawa penahan ini pecah dan menghasilkan gas dimetil sulfida (DMS) yang
lepas ke atmosfir. Kita pasti mengenali bau senyawa ini: segar, mirip ikan segar
yang baru diangkat dari laut. Setiap saat, sejumlah besar senyawa ini dilepas ke
atmosfir, dan syukurnya, senyawa ini mampu menjadi inti kondensasi uap air.

7
wikipedia.org/wiki/Hujan_asam

16
Pada gilirannya, terbentuk awan, yang menjadi hujan. Saat hujan jatuh di darat,
senyawa belerang ini dikembalikan ke daratan untuk dimanfaatkan makhluk
daratan. Lalu ampasnya, dalam dibuang lagi ke laut, untuk diolah kembali oleh
tanaman alga.Yang merupakan bagian dari siklus belerang yang sangat penting
adalah adanya gas SO2 sebagai bahan pencemar dan H2SO4 dalam atmosfer. Gas
SO2 dikeluarkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung belerang.
Efek utama dari belerang dioksida dalam atmosfer adalah kecenderungan untuk
teroksidasi menghasilkan asam sulfat. Asam ini dapat menyebabkan terjadinya
hujan asam (Achmad, Rukaesih; 2004).

Gambar 4.1 Siklus Sulfur di Alam

5. DAUR/SIKLUS AIR

Semua mahkluk hidup membutuhkan air.Karena air merupakan komponen


terpenting dalam tubuh mahkluk hidup dan sebagian besar tubuh mahkluk hidup
terdiri dari air.Selain itu air juga sebagai pelarut, sehingga sangat penting dalam
kegiatan metabolisme sel dalam tubuh mahkluk hidup.

Kita bayangkan apa yang akan terjadi bila di alam ini telah kehabisan air,
pasti tidak ada kehidupan lagi. Kita tahu betapa pentingnya air bagi mahkluk
hidup, untuk itu kita harus menjaga agar keberadaan air di alam tetap

17
terjaga.Untuk menjaga agar air tetap ada, kita harus memahami siklus air di alam
ini8. Lihatlah gambar siklus air dibawah ini.

Gambar 5.1 Siklus Air di Alam

1. Mahkluk hidup (tumbuhan dan hewan) mengalami evapotranspirasi.


Evapotranspirasi adalah penguapan pada mahkluk hidup. Sedangkan air di laut
atau di danau mengalami evaporasi (penguapan).
2. Evaporasi dan traspirasi membentuk awan
3. Awan mengalami kondensasi menjadi hujan
4. Air hujan sebagian ada yang meresap menjadi air tanah, kemudian air tanah
dimanfaatkan oleh mahkluk hidup dan sebagian lagi menjadi air aliran bawah
tanah atau masuk sungai hingga mengalir sampai ke laut9.

Demikian siklus atau daur air di alam.Air terus berputar di alam ini.Dalam
siklusnya, air melibatkan kegiatan alam dan mahkluk hidup, terutama tumbuhan.
Tetapi sekarang banyak tumbuhan yang sangat membantu terjadinya siklus air
ditebang oleh manusia.

8
Ibid., Hal 20-21
9
Ibid., Hal 21

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Siklus biogeokimia atau siklus organik-anorganik adalah siklus unsur
atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali
lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui
organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik
sehingga disebut siklus biogeokimia, meliputi siklus oksigen, siklus karbon, siklus
nitrogen, siklus sulfur dan siklus air.
Gas nitrogen terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen
bebas dapat ditambah/difiksasi, terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar
(misalnya tumbuhan Leguminacae) dan beberapa jenis ganggang.
Siklus fosfor lebih sederhana daripada siklus nitrogen. Siklus ini tidak
melalui pengumpulan di atmosfer. Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk,
yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat
anorganik (pada air dan tanah).Siklus karbon adalah siklus biogeokimia di mana
karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer bumi.
Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan
pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan
oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke
atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat
yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan.Dalam siklusnya, air
melibatkan kegiatan alam dan mahkluk hidup, terutama tumbuhan.

19
Daftar Pustaka

Leksono, Amin Setyo. 2007. EKOLOGI Pendekatan Deskriptif dan


Kuantitatif. Malang: Bayumedia Publishing.

Mardiastutik, Wiwik Endang. 2013. Mengenal Ekosistem. Bekasi: Mitra


Utama.

http// wikipedia.org/wiki/Hujan_asam (online) 17.25

20