Anda di halaman 1dari 5

Keadaan Migas Indonesia

Permasalahan migas di Indonesia nantinya dari tahun ke tahun akan semakin mudah untuk
diselesaikan, yakni ketika cadangan migas di Indonesia sudah hampir habis terekplorasi. Karena
perlu di ingat kembali bahwa migas adalah sumber energi yang tidak terbarukan. Saat kondisinya
seperti itulah perdebatan tentang migas di Indonesia tidak akan terdengar lagi atau setidaknya
tidak akan menjadi topik utama yang banyak di perbincangkan oleh masyarakat seperti sekarang
ini.

Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2012, cadangan terbukti minyak bumi sebesar 3,47
miliar barel dan cadangan terbukti gas bumi sebesar 103,35 triliun kaki kubik (TCF). Bahkan
diperkirakan potensi pemanfaatan gas bumi hanya akan bertahan sampai hampir 33 tahun lagi,
sedangkan untuk minyak bumi akan bertahan untuk 12 tahun mendatang, hal ini dapat terjadi
bila tidak ditemukan cadangan baru.

Hal penting yang harus kita ingat adalah sumber energi di Indonesia bukan hanya migas atau sumber
energi fosil. Sumber energi baru dan terbarukan seperti energi air (hydro), energi laut, energi angin,
energi matahari, biomassa dan panas bumi, jumlahnya sangat melimpah dan belum banyak
termanfaatkan.

Sebelum kita membicarakan dampak pemakaian bahan bakar fosil terlebih dahulu kita harus
mengetahui apa itu bahan bakar fosil? Bahan bakar fosil sebenarnya adalah sisa-sisa dari
makhluk hidup zaman dahulu yang telah lama mati, apa itu berarti jasad-jasad dinosaurus?
Bukan.. sebagian bahan bakar fosil terbentuk dari jasad renik tumbuhan, binatang, dan alga yang
hidup sekitar 300 juta tahun yang lalu, lebih tua 100 tahun daripada dinosaurus. Masa-masa itu
diseut dengan periode karbon.

Setelah ratusan taun tertimbun di bawah panas dan tekanan yang hebat, maka organisme-
organisme tersebut terkonveksi menjadi sumber energy yang berwujud padat, cair dan gas.
Masing-masinng adalah batu bara (padat), minyak bumi (cair) dan gas alam (gas).

Di zaman yang modern ini kita sangat banyak menemukan kepraktisan yang luar biasa, dimulai
sejak ditemukannya listrik dan alat tranportasi perkembangan ilmu pengetahuan melaju sangat
pesat, teknologi canggih semakin sering bermunculan. Tentunya, setiap teknologi membutuhkan
energy dan tentunya semakin maju pemikiran manusia maka tidak mustahil bahwa manusia
dapat memanfaatkan energy agar hidupnya lebih praktis. Buktinya pada zaman sekarng kita
sangat mudah menemukan bahan bakar sebagai sumber energy di sekeliling kita. Namun,
tahukan anda bahwa bahan bakar yang selama ini kita nikmati dengan sangat praktis merupakan
bahan bakar yag tidak akan selamanya ada. Listrik yang milyaran orang nikmati saat ini tentunya
tidak muncul secara ajaib, begitu juga dengan bahan bakar transportasi seperti bensin, avture dll.
Semua sumber bahan bakar itu harus melalui sebuah mekanise transformasi energy agar dapat
kita nikmati dan tanpa kita sadari hampir semua sumber energy yang membuat peradaban
manusia maju ini bersumber dari energy fosil.
Dari penjelasan tentang bahan bakar fosil diatas kita ketahui bahwa bahan bakar fosil yang
berwujud padat, cair dan gas tadi yang nantinya kita gunakan untuk dibakar. Loh kok dibakar?
Iya, erlu karena untuk bias dikonveksi ke bentuk energy lain seperti listrik, bensin dll.

Jika ada sesuatu yang dibakar tentunya akan menghasilkan gas emisi yang kita semua tau yaitu
CO2, dan ternyata pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan kadar CO2 di atmosfer
meningkat. Pertanyaan selanjutnya adalah terus kenapa kalau kadar CO2 di atmosfer meningkat?
Tahukah anda jika CO2 sangat berpengaruh pada kondisi suhu suatu planet? Mengapa planet
mars memiliki suhu rata-rata -55C sedangkan planet venus justru memiliki suhu rata-rata
mencapai 462C! apa yang membuat perbedaan sangat besar antar kedua planet tersebut?
Kuncinya adalah pada CO2.

Mars mempunyai atmosfer yang lebih tipis dari bumi sehingga energy dari matahari yang masuk
dengan mudahnya akan lepas lagi. Disisi lain atmosfer Venus jauh lebih tebal dan kadar CO2-
nya 300x lipat lebih banyak daripada bumi. Makanya atmosfer venus bisa menjebak banyak
panas.

Contoh lain katakanlah planet Merkurius yang lebih dekat dengan matahari disbanding venus.
Pada siang hari suhu Merkurius dan Venus sama panasnya karena terpapar langsung sinar
matahri, namun pada malam hari suhu pada Merkurius jauh dibawah titik beku sedangkan venus
tidak. Mengapa? hal tersebut terjadi karena merkurius tidak memiliki atmosfer sehingga tidak
bias menjebak panas, sedangkan Venus memiliki atmosfer yang kandungan rata-ratanya adalah
CO2 yang mampu menjebak panas sehingga suhunya pada malam hari sama dengan siang hari.
Maka jelas bahwa CO2 sangat berpengaruh pada kenaikan suhu sebbuah planet

Sekarang bayangkan jika kadar CO2 bumi terus meningkat, maka suhu rata-rata bumi akan
meningkat dan yang terjadi adalah terjadinya Global warming. Ini bukan sekedar isu, fakta
membuktikan pada Annual Global CO2 Emissions from Fossil Fuel and Cement bahwa emisi
gas CO2 sangat meningkat tajam dari 1988-2014 dimana saat-saat itu adalah era perindustrian
yang tentunya sangat banyak memakai bahan bakar fosil.

Maka dari itu kita membutuhkan bahan bakar alternative untuk mencegah terjadinya Global
warming tersebut, belum lagi ketersediaan bahan bakar fosil yang semakin menipis. Apa

solusinya? Tunggu artikel berikutnya

Mungkin yang pertama kali tersirat adalah perkataan bahwa minyak bumi dan gas akan habis beberapa tahun
mendatang. Di tahun 1980-an, dikatakan minyak bumi hanya cukup sampai 30 tahun mendatang; artinya tahun 2010
manusia tidak lagi memiliki persediaan minyak bumi. Tapi buktinya? Sampai tahun ini minyak masih cukup banyak
dan bahkan ditemukan sumber-sumber baru yang amat melimpah di benua Amerika yang siap menggantikan
sumber-sumber di Timur Tengah. Oleh karena itu, bukan masalah persediaan ternyata yang mendesak kita untuk
menggeser mode energi kita.

Pemanasan Global yang TerkenalAlasan yang paling nyata dan paling mudah dipahami adalah pemanasan global.
Penyebab utama pemanasan global adalah gas karbondioksida (CO2) yang memiliki efek rumah kaca (percayalah,
saya sudah berusaha tidak menggunakan bahasa-bahasa ilmiah ini, tapi saya harus). Gas rumah kaca (GRK) ini
dihasilkan dari pembakaran minyak bumi dan gas (LPG dan LNG).
Kalau dulu, waktu manusia belum sebanyak sekarang dan minyak bumi masih melimpah, tak perlu kita terlalu
khawatir dengan isu lingkungan. Tapi sekarang, karena minyak bumi berada di lokasi hutan dan desa yang
sebelumnya belum terjamah eksplotasi dan berada di kedalaman bumi yang lebih dalam dan sulit ditambang, ongkos
lingkungannya besar sekali.Hutan harus dibebaskan sehingga semakin banyak penggundulan hutan, gas-gas sisa
penambangan dibakar dan dibuang ke udara (menambah polusi dan menambah gas rumah kaca), air-air tanah
tercemar rembesan minyak bumi dan gas, dan pencemaran laut akibat pengerukan dan tumpahan minyak.

Produk yang tersedia secara komersial dimana data konstruksi dan kinerja manufaktur tersedia untuk
menggambarkan proses pemodelan panel PV. Kami kemudian membangun model panel PV ini dan
membandingkan hasil prediksi dari model dengan data produsen.

Sebagai contoh, saya secara acak memilih panel untuk produsen yang memiliki reputasi baik (di mana ada
datasheet yang tersedia). Panelnya adalah produk polikristalin Kanada SolarCS6P (modul 255P) dengan
output daya nominal 255 W. Anda dapat menemukan link ke datasheet di bagian bawah catatan.

Ada beberapa program yang dapat digunakan untuk memodelkan sistem PV; Catatan ini menggunakan
MatLab Simulink. Modul SimElectronics perangkat lunak ini berisi sumber sel surya siap yang siap untuk
tujuan kita. Begitu model panel dibangun, menggunakan MatLab akan bisa kita integrasikan ini adalah
berbagai sistem penyimpan energi dan model distribusi tenaga pada tahap selanjutnya.

Implementasi sel surya mengikuti rangkaian ekuivalen ini yang ditunjukkan kecuali menggunakan dua
dioda. Dioda kedua dapat memberikan model yang lebih akurat (walaupun untuk contoh ini, saya tidak
mencoba dan mengoptimalkan parameter untuk dioda kedua).

Implementasi sel surya mengikuti rangkaian ekuivalen seperti yang ditunjukkan pada catatan Perhitungan
Listrik Photovoltaic (PV) kami, kecuali penggunaan dua dioda bukan satu. Dioda kedua dapat
memberikan model yang lebih akurat (walaupun, untuk contoh ini, saya tidak mencoba dan
mengoptimalkan parameter untuk dioda kedua).
Kadar CO2 yang tinggi di lapisan atmosfer dapat menghalangi pantulan panas dari bumi ke atmosfer sehingga permukaan bumi menjadi lebih
panas. Peristiwa ini disebut dengan efek rumah kaca
(green house effect). Efek rumah kaca ini mempengaruhi terjadinya kenaikan suhu udara di bumi (pemanasan global). Pemanasan global adalah
kenaikan suhu rata-rata di seluruh dunia dan menimbulkan dampak berupa berubahnya pola iklim.

Efek Rumah Kaca

Gambar ini merupakan proses efek rumah kaca

Permukaan bumi akan menyerap sebagian radiasi matahari yang masuk ke bumi dan memantulkan sisanya. Namun, karena meningkatnya CO2 di
lapisan atmosfer maka pantulan radiasi matahari dari bumi ke atmosfer tersebut terhalang dan akan kembali dipantulkan ke bumi. Akibatnya,
suhu di seluruh permukaan bumi menjadi semakin panas (pemanasan global). Peristiwa ini sama dengan yang terjadi di rumah kaca. Rumah kaca
membuat suhu di dalam ruangan rumah kaca menjadi lebih panas bila dibandingkan di luar ruangan. Hal ini dapat terjadi karena radiasi matahari
yang masuk ke dalam rumah kaca tidak dapat keluar.

1. Dampak Pada Hewan :


- Penurunan hasil panen perikanan.

2. Dampak Pada Tumbuhan :


- Penurunan hasil panen pertanian dan perubahan keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati dapat berubah karena kemampuan setiap jenis tumbuhan untuk
bertahan hidup berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.

2. Hujan asam
Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polusi industri di Inggris. Hujan asam adalah hujan yang
memiliki kandungan pH (derajat keasaman) kurang dari 5,6.

Proses terbentuknya hujan asam

SO2 dan NOx (NO2 dan NO3) yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil (kendaraan bermotor) dan pembakaran batubara (pabrik
dan pembangkit energi listrik) akan menguap ke udara. Sebagian lainnya bercampur dengan O2 yang dihirup oleh makhluk hidup dan sisanya
akan langsung mengendap di tanah sehingga mencemari air dan mineral tanah. SO2 dan NOx (NO2 dan NO3) yang menguap ke udara akan
bercampur dengan embun. Dengan bantuan cahaya matahari, senyawa tersebut akan diubah menjadi tetesan-tetesan asam yang kemudian turun
ke bumi sebagai hujan asam. Namun, bila H2SO2 dan HNO2 dalam bentuk butiran-butiran padat dan halus turun ke permukaan bumi akibat
adanya gaya gravitasi bumi, maka peristiwa ini disebut dengan deposisi asam.

1. Dampak Pada Hewan :


-Menyebabkan pH air turun di bawah normal sehingga ekosistem air terganggu.

2. Dampak Pada Tumbuhan :


- Merusak kehidupan ekosistem perairan, menghancurkan jaringan tumbuhan (karena memindahkan zat hara di daun dan menghalangi
pengambilan Nitrogen) dan mengganggu pertumbuhan tanaman.

- Melarutkan kalsium, potasium dan nutrient lain yang berada dalam tanah sehingga tanah akan berkurang kesuburannya dan akibatnya pohon
akan mati
3. Penipisan Lapisan Ozon
Ozon (O3) adalah senyawa kimia yang memiliki 3 ikatan yang tidak stabil. Di atmosfer, ozon terbentuk secara alami dan terletak di lapisan
stratosfer pada ketinggian 15-60 km di atas permukaan bumi. Fungsi dari lapisan ini adalah untuk melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet
yang dipancarkan sinar matahari dan berbahaya bagi kehidupan.

zat kimia buatan manusia yang disebut sebagai ODS (Ozone Depleting Substances) atau BPO (Bahan Perusak Ozon) ternyata mampu merusak
lapisan ozon sehingga akhirnya lapisan ozon menipis. Hal ini dapat terjadi karena zat kimia buatan tersebut dapat membebaskan atom klorida
(Cl) yang akan mempercepat lepasnya ikatan O3 menjadi O2. Lapisan ozon yang berkurang disebut sebagai lubang ozon (ozone hole).

1. Dampak Pada Hewan :


- Menimbulkan kanker mata pada sapi, terganggunya atau bahkan putusnya rantai makanan pada tingkat konsumen di ekosistem perairan karena
penurunan jumlah fitoplankton.

2. Dampak pada Tumbuhan


- Merusak tanaman, mengurangi hasil panen (produksi bahan makanan, seperti beras, jagung dan kedelai), penurunan jumlah fitoplankton yang
merupakan produsen bagi rantai makanan di laut.

E. Dampak Pencemaran Udara bagi Manusia


Pencemaran udara juga berdapak pada manusia itu sendiri, karena rusaknya lingkungan terhadap manusia, maka itu juga berdapak negatif pada
manusia, dan ini hubangan timbal balik anatar manusia dan lingkungannya.

Dampak Pencemaran udara terhadap manusia antar lain :

1. Karbon monoksida (CO)


Mampu mengikat Hb (hemoglobin) sehingga pasokan O2 ke jaringan tubuh terhambat. Hal tersebut menimbulkan gangguan kesehatan berupa;
rasa sakit pada dada, nafas pendek, sakit kepala, mual, menurunnya pendengaran dan penglihatan menjadi kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi
motorik menjadi lemah. Bila keracunan berat (70 80 % Hb dalam darah telah mengikat CO), dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan
kematian.

2. Nitrogen dioksida (SO2)


Dapat menyebabkan timbulnya serangan asma.

3. Hidrokarbon (HC)
Menyebabkan kerusakan otak, otot dan jantung.

4. Chlorofluorocarbon (CFC)
Menyebabkan melanoma (kanker kulit) khususnya bagi orang-orang berkulit terang,
katarak dan melemahnya sistem daya tahan tubuh
5. Timbal (Pb)
Menyebabkan gangguan pada tahap awal pertumbuhan fisik dan mental serta
mempengaruhi kecerdasan otak.
6. Ozon (O3)
Menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan terasa terbakar dan memperkecil paru-paru.
7. NOx
Menyebabkan iritasi pada paru-paru, mata dan hidung.