Anda di halaman 1dari 159

RAGAM TEKNIK PENGOLAHAN EMAS

- PENGOLAHAN MENGGUNAKAN RAKSA


- PENGOLAHAN MENGGUNAKAN SIANIDA
- PENGOLAHAN MENGGUNAKAN THIOSULFAT
- PENGOLAHAN MENGGUNAKAN AIR RAJA

Disusun Oleh : Tim Sumundo


PENGANTAR

Industri pengolahan emas dari batuan akhir-akhir ini berkembang pesat disebabkan
peraturan penambangan yang makin mudah diperoleh, tersebar luasnya mineral
emas di seantero negeri, harga komoditas emas yang makin menarik, serta makin
mudahnya memperoleh akses informasi mengenai teknik pengolahan maupun
ketersediaan bahan kimia yang makin mudah diperoleh.

Dalam proses pengolahan yang umum masih terdapat berbagai kelemahan yang
ditemui, sehingga hasil yang diperoleh tak signifikan terhadap emas yang
terkandung pada batuan. Rendahnya persentase perolehan emas mengakibatkan
sebagian dari proses-proses yang dilakukan tak luput dari kerugian secara materi.
Disamping itu, para pengusaha yang baru bergelut di sektor ini kerap mengalami
kerugian disebabkan minimnya informasi tentang cara-cara yang benar dalam
pengolahan emas.

Buku ini dibuat dalam rangka memberikan informasi cara pengolahan batuan emas
yang tepat dan murah, sehingga potensi-potensi kerugian yang akan terjadi dapat
dihindarkan.

Dengan membaca buku ini diharapkan para pemula yang akan terjun dalam dunia
pertambangan emas tak mengalami kesulitan berarti dalam industri pengolahannya.
Begitupun bagi para pengusaha atau praktisi yang telah mendalami usaha ini,
petunjuk-petunjuk di buku ini sangat membantu dalam pelurusan sistem proses
yang sebenarnya.

Diakui, masih banyak dari bagian dan isi buku ini yang perlu diperbaiki ataupun
diperkaya pada edisi-edisi selanjutnya. Akhir kata, semoga buku ini memiliki
manfaat yang besar bagi para pembacanya.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
DAFTAR ISI

Pengantar

I. Pendahuluan

II. Pengenalan Kimia Dasar

III. Sifat Sifat Kimia dan Fisika Emas Dan Perak

IV. Jenis jenis Batuan Emas

V. Pengolahan Emas Menggunakan Merkuri

VI. Proses Penghalusan Batuan

VII. Proses Pengujian Mineral Emas

VIII. Ekstraksi Arang Aktif

IX. Ekstraksi Electrowinning

X. Ekstraksi KTK Zinc dan Timbal

XI. Peralatan Pengolahan Emas

XII. Pengolahan Menggunakan Sianida

XIII. Pengolahan Menggunakan Thiosulfat

XIV. Pengolahan Limbah Sianida

XV. Pengolahan Menggunakan Air Raja

XVI. Pemurnian Logam Emas dan Perak

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
I. PENDAHULUAN

Logam emas dan berbagai jenis logam mulia lainnya berasal dari alam dan
diperoleh dengan berbagai jenis proses ; dari yang paling sederhana (proses
pendulangan bijih logam kasar pada pasir jenis alluvial), hingga berbagai jenis
proses yang lebih rumit pada batuan emas primer.

Emas dalam batuan umumnya bercampur dengan mineral logam lain dan
kwarsa.Logam - logam pengikut antara lain perak (Ag) yang dapat berupa perak
murni (Ag) paduan perak dan emas (AgAu), atau senyawa garam perak (perak
sulfida Ag2S, perak klorida AgCl, perak oksida Ag2O). Tembaga adalah unsur
dominan yang terkandung dalam batuan emas (disamping timbal, besi, zink,
arsenik, mangan). Umumnya tembaga (Cu), timbal (Pb), besi (Fe), dan zink (Zn)
membentuk senyawa dalam batuan. CuFeS2 (chalcopyrite) adalah contoh
perpaduan antara tembaga dan besi dalam bentuk sulfida logam, ada juga
chalcosite (CuS) dan malasite [Cu+(CO3)2(OH)2] yang adalah garam tembaga
dalam batuan.

Merkuri telah digunakan sebagai media penangkap logam emas sejak ratusan
tahun yang lalu, dan penggunaannya masih terus dilakukan hingga saat ini.
Raksa/merkuri bekerja menggunakan prinsip dasar ikatan antar logam, namun
karena perbedaan titik cair yang sangat jauh dengan logam emas/perak, maka
logam merkuri hanya melakukan ikatan dengan permukaan (kulit luar) logam emas,
sehingga pencampuran secara homogen tak terjadi.

Tak semua jenis logam dapat berikatan dengan merkuri, ada sebagian darinya tak
dapat berikatan. Besi misalnya ; logam ini tak akan berikatan dengan merkuri dalam
berbagai kondisi. Logam logam jenis lainnya antara lain ; platina (Pt) dan
sebagian logam golongan platina lainnya, wolfram, dan beberapa jenis unsur
lainnya. Dalam proses ikatan merkuri dengan emas (biasa disebut amalgamasi),
logam cair merkuri hanya mampu melapisi permukaan emas yang bebas dari
berbagai pengotor (defenisi pengotor disini adalah unsur logam ataupun non logam
yang tak dapat berikatan dengan logam merkuri).

Alkali sianida (NacN dan KCN) melarutkan emas dan perak secara perlahan dan
lambat. Keistimewaan pelarut ini hanya bereaksi dengan logam logam tertentu
seperti emas, perak, tembaga, dan beberapa jenis logam lain, sehingga pelarutan
yang terjadi benar benar selektif. Atas dasar sifat sifat yang istimewa inilah alkali
sianida banyak digunakan sebagai pelarut emas dan perak dari batuan. Beragam
teknik pengolahan menggunakan sianida telah diterapkan dalam pemrosesan hasil
tambang, antara lain metoda leaching konvensional, dump / heap leach.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Sebagai pelarut, sianida memiliki berbagai keunggulan dan juga kelemahannya.
Selektifitas merupakan salah satu keunggulannya, disamping kemampuan karbon
yang cukup baik menyerap cairan garam kompleksnya. Kelemahannya adalah sulit
melarutkan emas dan perak dari batuan berjenis refraktory. Refraktory di sini
diartikan sebagai sulit larut akibat adanya unsur pengganggu. Batuan sulfdida
tinggi, batuan dengan jumlah logam perak sangat dominan, batuan mengandung
karbon, adalah batuan yang tergolong refraktory. Kelemahan lainnya adalah sifat
sianida yang sangat toksik (racun), sehingga penggunaannya sangat dibatasi
melalui tata niaga yang ketat. Adanya peraturan ini menyebabkan terus naiknya
harga sianida, sehingga penggunaannya pun harus makin selektif agar potensi
kerugian yang akan timbul karena tingginya harga bahan kimia dapat dihindarkan.

Pada batuan bersulfida tinggi, sebagian dari emas tidaklah berwujud logam,
melainkan berupa senyawa cair yang terbekukan. Contoh batuan jenis ini adalah
arsenopyrite, pyrite, galena, chalcopyrite. Pada batuan ini emas membentuk
senyawa dengan logam-logam lain beserta belerang sebagai anionnya. Sebagian
dari batuan pyrite mengandung logam emas hingga 1500 gram/ton (arsenopyrite),
namun untuk memproses batuan jenis ini memerlukan kecermatan dan metoda
yang berbeda dari yang biasa digunakan. Penggunaan merkuri sebagai ekstraktor
akan mengalami kegagalan, bahkan potensi kehilangan sebagian besar logam
merkuri dapat terjadi jika digunakan sebagai ekstraktor batuan berjenis sulfida
tinggi. Batuan dengan kandungan sulfida tinggi merupakan salah satu batuan
tergolong refraktory; sehingga penggunaan sianida sebagai pelarut juga tidaklah
tepat.

Thiosulfat adalah senyawa yang sangat tepat digunakan sebagai pelarut emas pada
batuan berjenis refraktory, karena kemampuannya melarutkan emas dan perak dari
batuan sulfida tinggi maupun batuan yang mengadung karbon.

Emas larut dengan cepat dalam air raja (aqua regia). Namun penggunaan air raja
mengakibatkan pelarutan logam logam lain seperti tembaga, besi, timah hitam,
zinc, dan sebagainya. Dalam proses pelarutan menggunakan air raja, adanya
campuran logam-logam pengotor lain justru berpotensi menggagalkan pelarutan
logam emas karena kalahnya emas dalam kompetisi dengan logam-logam tersebut.
Pada akhirnya emas dapat larut setelah semua logam-logam pengotor terlarut,
sedangkan jumlah air raja yang diberikan dalam jumlah yang berlebih (adanya
larutan besi klorida dan naiknya pH juga dapat mengakibatkan tereduksinya
sebagian besar dari larutan kompleks emas).

Air raja juga selalu menguap mengeluarkan asam yang sangat mengganggu
penciuman, dan menyebabkan pencemaran udara yang sangat berat. Uap dari air
raja bersifat sangat korosif terhadap hampir semua jenis logam. Penggunaan air
raja dapat dilakukan jika dikombinasikan dengan jenis jenis pelarut lainnya.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Disebabkan konduktifitas dan daya hantar panasnya yang sangat baik, maka logam
emas dan berbagai jenis logam mulia lainnya mulai banyak digunakan sebagai
konduktor pada berbagai jenis perangkat elektronika digital kecepatan tinggi, relay
relay, dan penggunaan pada berbagai bagian di otomotif.

Emas dan logam logam mulia lainnya terus mengalami kenaikan harga seiring
makin tingginya tingkat konsumsi terhadap logam ini, namun tingkat suplay tak
mampu menyesuaikan terhadap tingginya permintaan. Disamping sebagai
perhiasan dan penggunaan sebagai konduktor berkecepatan tinggi, logam emas
juga digunakan sebagai pengaman nilai mata uang dalam system moneter suatu
Negara ; makin tinggi cadangan emas suatu bank sentral maka makin stabil nilai
mata uang Negara tersebut. Emas juga makin diminati sebagai alat investasi dan
simpanan, penggunaannya meningkat terutama jika terjadi gejolak system
keuangan dunia.

Kenaikan rata rata harga logam emas pertahun antara 30% - 40%, dan logam
logam mulia lainnya cenderung kompatibel dengan kenaikan ini. Tingkat kenaikan
yang sangat tinggi ini menyebabkan makin disukainya logam mulia ini digunakan
sebagai alat simpanan dibandingkan uang dan surat surat berharga (yang nilainya
terus menurun dibanding emas).

Logam logam mulia berkandungan tinggi makin sulit ditemukan di alam, sehingga
dibutuhkan teknik proses yang lebih ekonomis terhadap pengolahan batuan dengan
kandungan logam mulia yang makin rendah.nNamun karena nilai yang terus naik ini
menyebabkan industri pengolahan emas adalah industri yang paling menarik
dengan potensi keuntungan yang makin tinggi dari waktu ke waktu.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
II. PENGENALAN KIMIA DASAR

Pengolahan mineral logam tak dapat dipisahkan dari ilmu kimia, disebabkan proses-
proses yang dilakukan umumnya merupakan reaksi kimia. Agar proses dapat
dipahami, maka pengetahuan akan kimia dasar pun sebaiknya perlu dan mutlak
harus dikuasai. Ada beberapa hal yang harus dijelaskan dalam bagian ini dalam
rangka menunjang pemahaman terhadap proses ekstraksi sistem kimia.

II.1. Struktur Atom dan Senyawa

Atom.

Atom adalah satuan terkecil dari partikel unsur. Atom tersusun dari gabungan
proton, neutron, dan elektron. Proton dan neutron merupakan inti dari atom,
sedangkan elektron adalah bagian yang mengelilingi inti. Atom juga merupakan
satuan terkecil yang tak dapat diuraikan lagi dari suatu unsur dan masih
mempertahankan sifat-sifat dasarnya, terbentuk dari inti yang rapat dan bermuatan
positif dikelilingi oleh suatu sistem electron yang bermuatan negatif. Nomor atom
menunjukkan jumlah elektron yang terkandung dalam atom, berat atom adalah
jumlah proton dan neutron dalam atom tersebut. Atom emas memiliki lambang Au,
perak Ag, tembaga Cu, dan sebagainya.

Molekul dan Senyawa

Molekul merupakan bagian terkecil dari suatu senyawa kimia yang masih
mempertahankan sifat kimia yang spesifik. Suatu molekul terdiri dari dua atau lebih
atom yang terikat satu sama lain. Jika suatu senyawa disusun oleh satu atau
beberapa unsur, maka molekul tersusun dari satu atau beberapa atom.

Untuk senyawa yang disusun oleh satu jenis unsur disebut sebagai molekul unsur ;
H2, O2, Cl2, dsb. Sedangkan senyawa yang terdiri dari beberapa jenis unsur, bagian
terkecilnya disebut dengan molekul senyawa, antara lain H2O, CO2, NO2.

Senyawa adalah suatu jenis zat yang terbentuk dari satu atau lebih molekul-
molekul.
Contoh dari senyawa antara lain H2SO4, H2O, Na2S2O5, dan sebagainya.

II.2. Stoikiometri

Stoikiometri adalah cabang ilmu kimia yang berhubungan dengan perhitungan berat
dan persentase suatu unsur dalam senyawa. Istilah-istilah yang berhubungan
dengan stoikiometri antara lain mol, molar, berat atom, berat molekul, berat jenis.
Mol adalah satuan yang merupakan perbandingan antara berat unsur atau molekul

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
dalam satuan gram dan berat atom atau berat molekul zat tersebut. Molar
merupakan hasil pembagian satuan mol dan volume larutan tersebut dalam liter.
Berat jenis (tepatnya massa jenis) merupakan perbandingan antara berat suatu zat
terhadap volumenya sendiri. Molaritas suatu larutan memegang peranan yang
sangat penting dalam proses reaksi kimia larutan. Sebagai contoh, logam Pb (timah
hitam) larut dalam HNO3 pekat maksimum 8 molar, pada molaritas yang lebih tinggi
akan cenderung pasif.

Contoh ;
Hitung molaritas larutan HNO3 pekat 68%, HCl pekat 32%, H2SO4 pekat 98%.

Jawab.

HNO3 :
Berat atom (BA) ; H = 1, N = 14, O = 16.
Berat Molekul (BM) HNO3 = H + N + 3O = 1 + 14 + 3 x 16 = .63
Berat jenis (Massa Jenis) HNO3 = 1,55 kg / liter = 1550 gr / liter.
Konsentrasi 68% artinya kandungan HNO3 dalam 1 liter adalah 68% dari
volumenya, dimana sisa 32% lagi berupa air (H2O).
Molaritas HNO3 teknis 68% = (mol HNO3/1 liter) x 0,68 liter = gram/BM x 0,68 =
1550/63 x 0,68 = 16,7 M.

Jadi molaritas HNO3 68% = 16,7 M

HCl :
Berat atom (BA) ; H = 1, Cl = 17,
BM HCl = 1 + 17 = 18.
Berat jenis HCl = 1,18 kg/liter = 1180 gram/liter.
Konsentrasi HCl 32%, maka volume HCl murni dalam 1 liter adalah 0,32 liter
Molaritas HCl = (mol HCl/1 liter) x 0,32 liter = 1180/18 x 0,32 = 21 M

Jadi molaritas HCl 32% = 21 M

H2SO4 :
Berat Molekul ; H = 1 x 2, S = 32, O = 16,
BM H2SO4 = 1x2 + 32 + 16x4 = 98.
BJ H2SO4 = 1,85 kg/liter = 1850 kg / liter.
Molaritas H2SO4 = 1850/98 x 0,98 = 18,5 Molar

Molaritas H2SO4 98% = 18,5 M

II.3. Reaksi Kimia

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Reaksi kimia adalah suatu proses perubahan struktur kimia dari suatu/beberapa
atom/molekul/senyawa akibat adanya aksi fisika/kimia yang dilakukan terhadap
atom/molekul/senyawa tersebut. Reaksi dapat terjadi dalam keadaan padat, cair
maupun gas.

Ada beberapa istilah dalam reaksi kimia, antara lain ; kation dan anion, asam dan
basa, reaksi pelarutan, reaksi pengendapan, reaksi substitusi, deret elektroda dan
potensial ionisasi, reaksi reduksi dan oksidasi, dan sebagainya. Kation adalah suatu
atom/molekul/senyawa yang melepaskan elektron terluarnya sehingga mengalami
kekurangan elektron. Contoh kation ; Ca2+, Fe2+, Ag+, Au3+. Kebalikan dari kation
adalah anion, yaitu suatu atom/molekul/senyawa yang mengalami kelebihan
elektron pada kulit terluarnya. Contoh anion ; Cl-, O2-, SO42-, NO3-, S2-.

Asam dan basa adalah suatu ukuran spesifik berupa sifat dasar dari suatu unsur,
molekul, atau senyawa. Unsur-unsur memiliki kondisi dasar yang bersifat asam
ataupun basa. Molekul yang terbentuk dari unsur-unsur dikatakan basa atau asam
tergantung dari unsur-unsur pembentuknya. Skala asam dan basa memiliki rentang
ukuran antara 0 14, yang dinyatakan dalam satuan pH. pH dibawah 7 disebut
berada dalam rentang asam. Makin kuat suatu asam, maka pH nya pun akan makin
rendah, demikian juga sebaliknya. Angka pH pada posisi 7 titik netral atau pH netral.
Wilayah basa berada diatas pH 7 hingga 14. Makin basa suatu zat, maka pH nya
akan makin tinggi, dan demikian sebaliknya.

Pelarutan adalah peristiwa reaksi kimia yang merubah suatu zat padat menjadi
terlarut dalam pelarutnya. Dalam peristiwa ini susunan suatu zat pun mengalami
perubahan struktur. Sebagai contoh, logam perak terlarut dalam larutan HNO3
menjadi garam perak AgNO3, tembaga larut dalam H2SO4 menjadi CuSO4. Reaksi
pengendapan adalah peristiwa pengendapan (presipitasi) suatu larutan kimia
menjadi endapan yang tak larut. Dalam peristiwa ini pun terjadi perubahan susunan
kimia dari zat yang diendapkan. Contohnya, larutan perak nitrat AgNO3 akan
mengendap menjadi perak klorida AgCl jika ditambahkan larutan HCl encer atau
garam dapur NaCl.

II.4. Potensial Elektroda Standar

Potensial elektroda standar E0 adalah suatu besaran yang dapat diukur dan bersifat
absolut terhadap suatu unsur, satuannya dinyatakan dalam volt. Potensial elektroda
standar suatu unsur adalah ukuran potensial elektrodanya pada keadaan standar,
yaitu pada larutan 1 molar, tekanan udara 1 bar dan suhu 250C. Tiap tiap unsur
memiliki potensial elektroda yang berbeda satu dan lainnya. Potensial elektroda
memiliki rentang nilai dari negatif hingga positif. Unsur unsur yang makin sukar
berekasi memiliki nilai E0 yang makin positif, sedangkan unsur-unsur yang makin
reaktif nilai E0 nya makin rendah hingga menuju negatif.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Berdasarkan hasil pengukuran, maka dibuatlah suatu deret elektrokimia yang
disebut sebagai deret volta, sebagai pembanding reaktifitas dari berbagai jenis
logam.

Li K Ba Sr Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Cd Co Ni Sn Pb H Sb Bi Cu Mo Hg Ag Pd
Pt Au

Dari deret di atas, dari kiri ke kanan unsur-unsur logam makin sulit bereaksi ;
sebaliknya dari kanan ke kiri, logam-logam makin reaktif dan mudah bereaksi.
Unsur logam Pb lebih sulit bereaksi dibanding logam Sn (timah putih) dan logam
logam di sebelah kirinya.

Reaksi kimia umumnya merupakan reaksi oksidasi dan reduksi. Peristiwa oksidasi
dan reduksi adalah peristiwa yang serempak dan simultan. Oksidasi adalah
peristiwa lepasnya elektron dari kulit terluar suatu unsur atau senyawa, sedangkan
reduksi adalah peristiwa sebaliknya. Ditinjau dari deret volta, makin ke kanan maka
suatu unsur makin sulit teroksidasi dan makin mudah tereduksi, hal yang sebaliknya
berlaku dari kanan ke kiri. Unsur logam tembaga (Cu) lebih mudah tereduksi
dibanding logam bismuth (Bi) dan seterusnya ke kiri. Unsur logam besi Fe lebih
mudah teroksidasi dibanding logam kadmium Cd dan seterusnya ke kanan.

Dari deret volta terlihat bahwa unsur logam emas Au merupakan logam yang paling
sulit teroksidasi dan paling mudah tereduksi, bahkan dibanding platina (Pt)
sekalipun. Inilah yang menjadi dasar hampir tak ditemukannya senyawa logam
emas di alam. Emas di alam hampir selalu berbentuk logam, meskipun berasosiasi
dengan logam lain seperti perak dan tembaga.

Pada peristiwa reduksi oksidasi, zat yang mereduksi zat lainnya disebut sebagai
reduktor, dan zat yang mengoksidasi disebut sebagai oksidator. Atau dengan kata
lain ; dalam peristiwa reduksi-oksidasi, reduktor mengakibatkan suatu zat tereduksi,
dan zat yang tereduksi ini disebut sebagai oksidator terhadap zat yang mereduksi.
Berdasarkan deret volta, dari kiri ke kanan suatu unsur makin bersifat oksidator
(mudah tereduksi). Dari kanan ke kiri suatu unsur makin bersifat reduktor (makin
mudah teroksidasi). Senyawa emas merupakan oksidator yang sangat kuat, logam
lithium merupakan reduktor yang sangat kuat.

Deret volta juga menggambarkan suatu tingkat keasaman suatu unsur. Dari kiri ke
kanan, tingkat keasaman unsur-unsur makin lemah ; dari kanan ke kiri justru
sebaliknya, makin bersifat asam. Dari deret volta, asam terkuat adalah atom Li dan
asam terlemah dimiliki atom emas Au.

Contoh sederhana dari penerapan deret volta sebagai berikut :

CuSO4 (l) + Fe (s) ======> Cu (s) + FeSO4 (l)

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Cu2+ + SO42- + Fe (s) ======> Cu (s) + Fe2+ + SO42-

Dari contoh diatas dapat dijelaskan bahwa :


- Garam tembaga II sulfat akan terurai (terdisosiasi) ketika dilarutkan dalam
air, membentuk kation dan anion bebas.
- Pada deret volta, susunan logam tembaga berada di sebelah kanan logam
besi, sehingga setiap kation tembaga akan mengoksidasi logam besi
menjadi kation besi, dan kation tembaga akan tereduksi menjadi logamnya.
- Pada reaksi tembaga sulfat dan besi, terjadi reduksi kation tembaga menjadi
logam tembaga dan oksidasi logam besi menjadi kation besi II. Tembaga
dalam senyawanya bertindak sebagai oksidator logam besi, dan logam besi
bertindak sebagai reduktor kation tembaga II.

3 CuSO4 (l) + 2 Al (s) ======> 3 Cu (s) + Al2(SO4)3 (l)

3 Cu2+ + 3 SO42- + 2 Al (s) ======> 3 Cu (s) + 2 Al3+ + 3 SO42-

- Pada deret volta tembaga berada di sebelah kanan logam aluminium,


sehingga setiap larutan kation tembaga akan mengoksidasi logam
aluminium menjadi kation aluminium, sebaliknya aluminium bertindak
sebagai reduktor kation tembaga menjadi logamnya.
- Pada reaksi di atas, kation Cu2+ mengoksidasi logam aluminium menjadi
kation Al3+ dan dalam waktu yang bersamaan tereduksi menjadi logam
tembaga.

Suatu senyawa umumnya terdiri dari kumpulan kation dan anion, terutama senyawa
yang terbentuk dalam ikatan kimia. Unsur unsur dari deret volta ketika mengalami
ionisasi disebut sebagai kation. Kation dari tembaga adalah Cu+ dan Cu2+, kation
dari perak Ag+, dan kation dari logam besi adalah Fe2+ dan Fe3+ (nilai +, 2+, 3+
menunjukkan jumlah elektron valensi, atau biasanya sering disebut sebagai
bilangan oksidasi). Kation terjadi akibat suatu atom, unsur, atau senyawa
kehilangan elektron terluarnya. Kebalikan dari kation adalah anion. Anion adalah
suatu atom, unsur, atau molekul yang mendapat donor elektron sehingga
mengalami kelebihan elektron pada kulit terluarnya. Jenis-jenis anion antara lain Cl-
,O2-, SO42-, S2-, dan sebagainya.

Kation-kation bersifat asam dan anion basa. Senyawa kimia,khususnya dalam


ikatan ion, terbentuk dari kation-kation dan anion-anion. Senyawa H2SO4 terbentuk
dari kation H+ dan anion SO42-, senyawa timbal sulfida PbS yang terdapat dalam
batuan galena terbentuk dari kation Pb2+ dan anion S2-.

Senyawa (garam) yang dibentuk dari unsur basa dan asam memiliki aturan baku
dalam penentuan pasangannya. Asam lemah cenderung berpasangan dengan
basa lemah, asam yang lebih kuat berpasangan dengan basa yang lebih kuat

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
juga, dan seterusnya. Jika 2 atau lebih garam senyawa dicampurkan dalam larutan,
maka aturan di atas dapat diterapkan untuk menentukan hasil reaksi yang terjadi.

4 AgNO3 (l) + 4 HCl (l) ======> 4 AgCl (s) + 2 H2O (g) + O2 (g) + 4 NO2 (g)

Reaksi di atas jika diurai sebagai reaksi ion sebagai berikut :

4 Ag+ + 4NO3- + 4 H+ + 4 Cl- ======> 4 AgCl (s) + 2 H2O (aq) + O2 (g) + 4 NO2 (g)

Pada reaksi antara perak nitrat AgNO3 dan HCl, terjadi reaksi pertukaran ion
disebabkan anion Cl- adalah basa yang lebih lemah dari anion NO3-, dan kation Ag+
merupakan asam yang lebih lemah dari kation H+. Hasil reaksi adalah endapan
perak klorida putih AgCl. Anion NO3- dan kation H+ cenderung tereduksi menjadi gas
NO2, O2, dan H2O sebagai hasil reaksi.

Reaksi perak sulfat dan asam klorida :

Ag2SO4 (l) + HCl (l) ======> Ag2SO4 (l) + HCl (l) / tak terjadi reaksi

Diurai dalam bentuk ionik :

2 Ag+ + SO42- + 2 H+ + 2 Cl- ====> Ag2SO4 (l) + HCl (l) / tak terjadi reaksi

Pencampuran antara perak sulfat Ag2SO4 dan HCl pada larutan tak menimbulkan
reaksi disebabkan kation Ag+ dan anion SO42- lebih lemah dibanding kation H+ dan
anion Cl-.

CuSO4 (l) + ZnS (s) ======> CuS (s) + ZnSO4 (l)

Pada pencampuran antara tembaga sulfat CuSO4 dan zinc sulfida ZnS (endapan),
terjadi reaksi substitusi antara kation Cu2+ dan Zn2+ dikarenakan anion belerang S2-
lebih lemah daripada anion SO42-, dan kation tembaga Cu2+ lebih lemah daripada
kation seng Zn2+.

Reaksi tetrakloroaurat H[Au(Cl)4] dan logam tembaga :

2 H[Au(Cl)4] (l) + Cu (s) ====> 2 AuCl3 (s) + CuCl2 (l) + H2 (g) ..............(1)
2 AuCl3 (s) + 3 Cu (s) =====> 2 Au (s) + 3 CuCl2 (l) ..............(2)
_________________________________________________ +

2 H[Au(Cl)4] (l) + 4 Cu (s) ======> 2 Au (s) + 4 CuCl2 (l) + H2 (g)

Reaksi di atas dapat juga ditulis sebagai :

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
2 H+ + 2 AuCl3 + 2 Cl- + Cu =====> 2 AuCl3 + Cu2+ + 2 Cl- + H2 .......(1)

Pada reaksi di atas, garam kompleks H[Au(Cl)4] tereduksi menjadi senyawa AuCl3
akibat kehadiran logam tembaga pada larutan. Adanya kelebihan logam tembaga
dalam larutan mengakibatkan senyawa AuCl3 tereduksi menjadi logam emas, dan
tembaga menjadi kation tembaga Cu2+ yang larut (2)

2 Au3+ + 3 Cl- + 3 Cu =====> 2 Au + 3 Cu2+ + 2 Cl- ..........(2)

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
III.SIFAT SIFAT KIMIA DAN FISIKA EMAS DAN PERAK

Emas dan perak berada dalam 1 golongan pada sistem berkala tabel unsur-unsur,
tepatnya golongan I B. Golongan ini terdiri dari atom tembaga Cu pada perioda
teratas, diikuti atom perak di perioda berikutnya, dan emas pada perioda terbawah.
Dari urutan 3 logam ini, logam tembaga memiliki reaktifitas yang paling kuat, diikuti
perak dan emas. Perak dan emas adalah jenis logam yang sangat sulit bereaksi
maupun teroksidasi, sehingga golongan I B sering juga disebut sebagai golongan
logam mulia.

III.1. Perak

Perak memiliki nomor atom 47, berat atom 107.9, massa jenis 10,5 gram / ml pada
suhu kamar (250C), dan titik leleh 9600C. Titik didih 21620C, elektronegatifitas 1,93
skala Pauling. Perak memiliki 1 elektron terluar pada kulit s . Berdasarkan elektron
valensi dan kesamaan sifat kimiawi, perak digolongkan dalam golongan I dalam
kimia analisis, bersama-sama dengan logam timbal dan merkuri.

Perak merupakan logam yang memiliki daya hantar listrik tertinggi dari seluruh
konduktor logam. Namun konduktifitas yang tinggi ini dibatasi oleh tak kebalnya
logam perak terhadap beberapa oksidator, seperti belerang yang terdapat di udara
bebas. Ini yang menyebabkan penggunaan logam emas sebagai superkonduktor
tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh perak.

Perak tak larut dalam asam klorida, asam sulfat encer (1 M) atau asam nitrat encer
(2 M). Perak larut dalam asam nitrat pekat (diatas 8 M). Pelarutan dalam asam nitrat
dapat dipercepat melalui pemanasan. Kecepatan pelarutan makin tinggi seiring
peningkatan suhu di dalam larutan.

2 Ag (s) + 2 HNO3 (l) ====> Ag2O (s) + 2 NO2 (g) + H2O (aq) ........(1)

Ag2O (s) + 2 HNO3 (l) ====> 2 AgNO3 (l) + H2O (aq) ..........(2)
______________________________________________________________ +

2 Ag (s) + 4 HNO3 (l) ====> 2 AgNO3 (l) + 2 NO2 (g) + 2 H2O (aq)

Tahap pertama pelarutan adalah oksidasi logam perak yang dilakukan oleh ion NO3-
menjadi senyawa perak oksida tak larut Ag2O. Bersama oksidasi ini ion nitrat NO3-
tereduksi menjadi gas NO2, kation hidrogen H+ dan anion oksigen O2- bereaksi
membentuk air. Perak yang telah teroksidasi selanjutnya dilarutkan oleh anion nitrat
berikutnya menjadi larutan perak nitrat.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Pelarutan juga dapat dilakukan menggunakan H2SO4 pekat panas, reaksinya
sebagai berikut :

4 Ag + H2SO4 ====> 2 Ag2O + SO2 + H2 .............(1)

2 Ag2O + 2 H2SO4 =====> 2Ag2 SO4 + 2H2O ..............(2)


________________________________________ +

4Ag + 3 H2SO4 ======> 2 Ag2SO4 + SO2 + H2 + 2 H2O

Reaksi dalam asam sulfat juga berlangsung lambat, meskipun dikenai panas dari
luar sistem.

Beda dengan emas, perak sebagian besar tak larut dalam air raja disebabkan perak
nitrat yang terbentuk akan membentuk endapan dengan ion klorida. Pembentukan
endapan makin sempurna seiring menurunnya kandungan ion nitrat dan ion klorida
bebas di larutan. Reaksi dengan air raja dimulai melalui reaksi perak dan asam
nitrat:

2 Ag (s) + 2 HNO3 (l) ====> Ag2O (s) + 2 NO2 (g) + H2O (aq) ........(1)

Ag2O (s) + 2 HNO3 (l) ====> 2 AgNO3 (l) + H2O (aq) ..........(2)
__________________________________________________________ +

2 Ag + 4 HNO3 =====> 2 Ag NO3 + 2 NO2 + 2 H2O

Perak nitrat yang dihasilkan langsung bereaksi dengan HCl membentuk endapan
AgCl dan sisa larutan HCl.

2 AgNO3 (l) + 2 HCl (l) =====> 2 AgCl (s) + 2 NO (g) + 2O2 (g) + H2 (g)

Endapan perak klorida jika dipisahkan dari larutannya, kemudian dicampur dengan
HCl pekat menyebabkan terbentuknya garam kompleks perak II klorida yang larut.

2 AgCl + HCl <=======> HAg(Cl)2

Reaksi di atas dapat balik, karena garam kompleks perak tak stabil, dan cenderung
menjadi endapan perak I klorida jika konsentrasi ion klorida berkurang di larutan.

Perak membentuk ion monovalen dalam larutan yang tak berwarna. Senyawa-
senyawa perak (II) tidak stabil, tetapi memainkan peranan penting dalam proses-
proses oksidasi-reduksi yang dikataliskan oleh perak. Perak nitrat mudah larut
dalam air; perak asetat dan perak sulfat kurang larut, sedangkan senyawa-senyawa

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
perak lainnya praktis tidak larut. Halida-halida perak (AgCl, AgI, AgBr) peka
terhadap cahaya; perak halida yang terpapar cahaya ultraviolet akan tereduksi
menjadi logam perak dan gas halogen.

2 AgCl (s) + ultraviolet ======> 2 Ag (s) + Cl2 (g)

Karena kepekaan terhadap cahaya inilah maka logam perak banyak digunakan
dalam industri photographi (efek separasi antara bidang tersinari dan yang tidak
akan menimbulkan perbedaan ketika klise mengalami proses fiksasi). Perak juga
mulai banyak digunakan pada rangkaian elektronik yang membutuhkan kecepatan
tinggi dalam transmisi data. Perak, bersama-sama palladium digunakan sebagai
konduktor kecepatan tinggi, khususnya menghadapi harga logam emas yang
cenderung terus meningkat.

Perak mampu membentuk ikatan kompleks dengan pelarut-pelarut sianida,


thiosulfat, maupun thiourea. Hasil akhir reaksi dengan pelarut tersebut adalah
garam kompleks yang larut dalam air.

Reaksi perak dengan sianida hingga terjadinya kelarutan berlangsung dalam


beberapa tahap, yang secara total ditulis sebagai :

4 Ag + 8 NaCN + O2 + 2 H2O =====> 4 Na[Ag(CN)2] + 4 NaOH

Reaksi di atas sebenarnya berlangsung dalam 4 tahap, yaitu :

2 NaCN + O2 =====> 2NaOCN ...........(1)

4 Ag + 2 NaOCN =====> 2 Ag2O + 2 NaCN ............(2)

2 Ag2O + 4 NaCN + 2 H2O =====> 4 AgCN + 4 NaOH ............(3)

4 AgCN + 4 NaCN =====> 4 Na[Ag(CN)2] ............(4)


_______________________________________________________________ +
4Ag + 8 NaCN + O2 + 2 H2O =====> 4 Na[Ag(CN)2] + 4 NaOH

- Tahap (1) adalah tahapan oksidasi alkali sianida oleh oksigen menjadi alkali
oksisianida NaOCN. Oksidasi sianida oleh oksigen memerlukan waktu yang
relatif signifikan.
- Tahap ke (2) senyawa reaktif NaOCN mengoksidasi logam Ag menjadi
senyawa tak larut perak oksida Ag2O, sedangkan NaOCN tereduksi kembali
dalam peristiwa ini, menjadi NaCN. Reaksi tahap ke-2 ini berlangsung paling
lambat dibanding tahapan lainnya (1,3,4).
- Tahap (3) senyawa perak oksida yang berwarna kuning mengalami reaksi
substitusi dengan NaCN, membentuk senyawa perak sianida berwarna

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
putih, yang tak larut dalam air. Pada peristiwa ini terbentuk senyawa baru
NaOH sebagai hasil reaksi substitusi. Pada tahap ini reaksi berlangsung
lebih cepat dibanding reaksi (1) dan (2).
- Senyawa tak larut AgCN memiliki sifat yang relatif labil akibat adanya
aktifitas ion positif terluar dari logam Ag. Dengan adanya jumlah sianida
yang berlebih (tahap (4)), maka terjadi pelarutan senyawa perak membentuk
ion kompleks Ag(CN)2- yang distabilkan oleh kation Na+ di dalam larutan.
Reaksi tahap (4) berlangsung sangat cepat, tercepat dibanding tahap (1)
sampai (3). Dari persamaan reaksi di atas terlihat bahwa kestabilan senyawa
kompleks perak sianida sangat tergantung pada kehadiran anion sianida
yang berlebihan di dalam larutan. Menurunnya jumlah ion sianida akan
mengakibatkan terjadinya resiko pengendapan kembali perak sebagai
senyawa AgCN.

Adanya 4 tahapan reaksi pelarutan perak menggunakan sianida cukup menjelaskan


mengapa pelarutan menggunakan sianida berlangsung lambat.

Berkurangnya anion sianida secara signifikan akan menimbulkan reaksi yang


terbalik ; mengendapnya kembali perak dalam bentuk senyawa perak(I) sianida
AgCN yang membentuk endapan putih. Penurunan anion sianida bebas dapat
dimungkinkan jika kandungan ion hidrogen mengalami kenaikan pada larutan,
sedangkan wadah reaksi terbuka terhadap lingkungannya.

Kation hidrogen (H+) mula-mula bereaksi dengan anion hidroksida OH- membentuk
molekul air yang sangat stabil di dalam larutan. Reaksi ini mengakibatkan terjadinya
penurunan pH sebagai konsekwensi menurunnya anion hidroksida di dalam larutan.
Pada saat anion OH- sudah habis (sementara masih tersisa kation H+ dalam jumlah
signifikan), maka kation H akan bereaksi dengan anion CN- membentuk senyawa
baru HCN. HCN memiliki titik didih pada suhu 260C, sehingga pada suhu tersebut
mulai terjadi penguapan asam sianida. Penguapan berimplikasi terhadap turunnya
ketersediaan anion CN- di larutan, sehingga pada akhirnya ikatan kompleks terurai
menjadi ikatan ion AgCN yang mengendap dalam bentuk tepung putih.

Senyawa-senyawa perak (kecuali perak sulfida Ag2S yang bereaksi sangat lambat)
bereaksi dengan sianida jauh lebih cepat dibanding logamnya, disebabkan proses
pembentukan garam kompleks sianida hanya mengalami 2 tahapan reaksi, yaitu
tahap (3) dan (4). Hal ini menyebabkan senyawa perak bisa digunakan sebagai
indikator kecukupan sianida bebas di dalam larutan. Perak nitrat AgNO3 bisa
digunakan sebagai indikator sianida bebas yang memiliki respon sangat cepat.
- Jika jumlah sianida masih tersedia cukup di dalam larutan, maka pemasukan
sebagian cairan perak nitrat ke dalam larutan sianida yang mengandung
garam kompleks perak tak mempengaruhi larutan, dalam arti tak terjadi
pengendapan pada larutan.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
- Jika jumlah sianida bebas sudah tak memadai, maka penambahan cairan
perak nitrat akan mengakibatkan terbentuknya endapan perak (I) sianida
yang berwarna putih.

4Na[Ag(CN)2] + 4NaOH + 8NaCN + 4AgNO3 ===> 4Na[Ag(CN)2] + 4AgOH +


4NaNO3 + 8NaCN

4Na[Ag(CN)2] + 4AgOH + 4NaNO3 + 8NaCN ===> 4Na[Ag(CN)2] + 4AgCN +


4NaNO3 + 4NaOH + 4 NaCN

4Na[Ag(CN)2] + 4AgCN + 4NaNO3 + 4NaOH + 4NaCN ===> 8Na[Ag(CN)2] +


4NaNO3 + 4NaOH

Jika kandungan sianida bebas hampir habis, maka reaksi yang terjadi sebagai
berikut :

4Na[Ag(CN)2] + NaCN + NaOH + AgNO3 ===> 4Na[Ag(CN)2] + AgCN + NaOH +


NaNO3

Jika sianida bebas telah habis, maka penambahan AgNO3 berlebihan akan
mengakibatkan garam kompleks perak sianida (yang telah terbentuk sebelumnya)
mengalami ketakstabilan, dan berubah menjadi ikatan ion perak sianida yang
mengendap berwarna putih :

4 Na[Ag(CN)2] + 4 NaOH + 4 AgNO3 ===> 8 AgCN + 4 NaNO3 + 4 NaOH

Senyawa kompleks perak sianida Na[Ag(CN)2] maupun endapan perak sianida


AgCN dapat diekstrak menjadi logam oleh logam yang lebih reaktif, terutama logam
zinc.
Reaksi pengendapan perak dari garam kompleksnya sebagai berikut :

4Na[Ag(CN)2] + 2 Zn + 4 H2O ===> 4 AgCN + 2 Zn(CN)2 + 4 NaOH + 2H2

Kelebihan ion sianida bebas di larutan akan mengubah zinc II sianida menjadi
larutan garam kompleks zinc sianida

Zn(CN)2 + NaCN ===> Na2[Zn(CN)4]

Garam tak larut AgCN selanjutnya dapat mengendap menjadi logam perak jika
bersentuhan secara fisik dengan logam zinc.

2 AgCN + Zn ===> 2 Ag + Zn(CN)2

Terangkan reaksi terhadap thiosulfat secara jelas!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
III.2. Emas

Emas memiliki nomor atom 79, berat atom 197, massa jenis 19,30 gram / ml, dan
titik leleh 10640C, titik didih 28560C. Emas tahan terhadap asam anorganik, hanya
air raja yang mampu melarutkannya, dimana terbentuk anion kompleks
tertakloroaurat(III), [AuCl4]- . Emas melarut sangat lambat dalam kalium sianida,
pada mana terbentuk anion disianoaurat(I), [Au(CN)2]- atau secara umum disebut
sebagai emas sianida; pelarutan dapat dipercepat dengan kehadiran oksigen di
dalam larutan. Emas juga larut dalam garam thiosulfat, thiosianat, thiourea,
membentuk garam kompleks yang mirip dengan emas sianida. Baik dalam bentuk
monovalen,maupun trivalennya, emas dapat dengan mudah direduksi menjadi
logamnya. Senyawa-senyawa emas(I)
kurang stabil dibandingkan senyawa-senyawa emas (III).

Reaksi pelarutan emas dengan air raja berlangsung dalam 3 tahap :

2 Au (s) + 2 HNO3 (l) =====> Au2O3 (l) + 2 NO (g) + H2O (l)

Au2O3 (s) + 6 HCl (l) =====> 2 AuCl3 (s) + 3 H2O (l)

2 AuCl3 (s) + 2 HCl (l) =====> 2 H[Au(Cl)4] (l)


_________________________________________________ +

2 Au (s) + 2 HNO3 (l) + 8 HCl (l) ====> 2 H[Au(Cl)4] (l) + 2 NO (g) + 4 H2O (l)

Dari persamaan di atas terlihat bahwa garam kompleks emas terbentuk akibat
adanya kelebihan ion klorida bebas di dalam larutan. Turunnya ion klorida bebas
akan mengakibatkan garam kompleks tereduksi, yang pada akhirnya
mengendapnya logam emas dalam bentuk butiran halus.

Proses reduksi emas dari larutan garam kompleksnya dapat dilakukan dengan
berbagai cara, antara lain ; reaksi redoks menggunakan prinsip deret volta, reaksi
redoks menggunakan larutan besi II, reaksi redoks menggunakan larutan sodium
metabisulfit.

Reaksi redoks menggunakan prinsip deret volta, kita bisa menggunakan logam
tembaga sebagai pengendap. Sebelum logam tembaga dimasukkan perlu dilakukan
pengurangan tingkat keasaman larutan, yaitu dengan cara pemanasan untuk
menguapkan sisa asam, atau menaikkan pH mendekati 1 menggunakan larutan
basa.

2 H[Au(Cl)4] + Cu ====> 2 AuCl3 + CuCl2 + H2


2 AuCl3 + 3 Cu =====> 2 Au + 3 CuCl
_________________________________________________ +

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
2 H[Au(Cl)4] + 4 Cu ======> 2 Au + 4 CuCl2 + H2

Reaksi pengendapan menggunakan besi II dapat menggunakan besi II klorida


ataupun besi II sulfat. Pada contoh di bawah kita menggunakan besi II klorida :

2 H[Au(Cl)4] + 2 FeCl2 ====> 2 AuCl3 + 2 FeCl3


2 AuCl3 + 6 FeCl2 ====> 2 Au + 6 FeCl3
_____________________________________________ +
2 H[Au(Cl)4] + 8 FeCl2 ====> 2 Au + 8 FeCl3

Pada reaksi di atas, larutan besi II mereduksi garam kompleks emas menjadi
logamnya, dan besi II teroksidasi menjadi besi III klorida (FeCl3).

Sodium sulfide, caustic soda, dan sodium metabisulfit juga dapat mengendapkan
logam emas dari larutan kompleks kloridanya dengan metoda yang berbeda-beda.

Emas membentuk ikatan kompleks dengan pelarut-pelarut sianida, thiosulfat,


maupun thiourea dengan hasil akhir garam kompleks yang larut dalam air. Identik
dengan perak, emas larut dengan sianida dalam 4 tahap, yang secara total ditulis
sebagai :

4 Au + 8 NaCN + O2 + 2 H2O =====> 4 Na[Au(CN)2] + 4 NaOH

Reaksi di atas sebenarnya berlangsung dalam 4 tahap, yaitu :

2 NaCN + O2 =====> 2NaOCN ...........(1)

4 Au + 2 NaOCN =====> 2 Au2O + 2 NaCN ............(2)

2 Au2O + 4 NaCN + 2 H2O =====> 4 AuCN + 4 NaOH ............(3)

4 AuCN + 4 NaCN =====> 4 Na[Au(CN)2] ............(4)


_______________________________________________________________ +
4Au + 8 NaCN + O2 + 2 H2O =====> 4 Na[Au(CN)2] + 4 NaOH

- Tahap (1) adalah tahapan oksidasi alkali sianida oleh oksigen menjadi alkali
oksisianida NaOCN. Oksidasi sianida oleh oksigen memerlukan waktu yang
relatif signifikan.
- Tahap ke (2) senyawa reaktif NaOCN mengoksidasi logam Au menjadi
senyawa tak larut emas I oksida Au2O, sedangkan NaOCN tereduksi
kembali dalam peristiwa ini, menjadi NaCN. Reaksi tahap ke-2 ini
berlangsung sangat lambat.
- Tahap (3) senyawa emas I oksida yang berwarna kuning emas kecoklatan
mengalami reaksi substitusi dengan NaCN, membentuk senyawa emas I

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
sianida berwarna ungu kemerahan, yang tak larut dalam air. Pada peristiwa
ini terbentuk senyawa baru NaOH sebagai hasil reaksi substitusi. rea
- Senyawa tak larut AuCN memiliki sifat yang relatif labil akibat adanya
aktifitas ion positif terluar dari logam Au. Dengan adanya jumlah sianida
yang berlebih (tahap (4), maka terjadi pelarutan senyawa emas membentuk
ion kompleks Au(CN)2- yang distabilkan oleh kation Na+ di dalam larutan.
Reaksi tahap (4) berlangsung sangat cepat, tercepat dibanding tahap (1)
sampai (3). Dari persamaan reaksi di atas terlihat bahwa kestabilan senyawa
kompleks emas sianida sangat tergantung pada kehadiran anion sianida
yang berlebihan di dalam larutan. Menurunnya jumlah ion sianida akan
mengakibatkan terjadinya resiko pengendapan kembali emas sebagai
senyawa AuCN. Endapan ini sangat mudah tereduksi kembali menjadi
logamnya

Adanya 4 tahapan reaksi pelarutan perak menggunakan sianida cukup menjelaskan


mengapa pelarutan menggunakan sianida berlangsung lambat.

Berkurangnya anion sianida secara signifikan akan menimbulkan reaksi yang


terbalik ; mengendapnya kembali emas dalam bentuk senyawa emas (I) sianida
AuCN yang membentuk endapan ungu kemerahan. Penurunan anion sianida bebas
dapat dimungkinkan jika kandungan ion hidrogen mengalami kenaikan pada larutan,
sedangkan wadah reaksi terbuka terhadap lingkungannya.

Kation hidrogen (H+) mula-mula bereaksi dengan anion hidroksida OH- membentuk
molekul air yang sangat stabil di dalam larutan. Reaksi ini mengakibatkan terjadinya
penurunan pH sebagai konsekwensi menurunnya anion hidroksida di dalam larutan.
Pada saat anion OH- sudah habis (sementara masih tersisa kation H+ dalam jumlah
signifikan), maka kation H akan bereaksi dengan anion CN- membentuk senyawa
baru HCN. HCN memiliki titik didih pada suhu 260C, sehingga pada suhu tersebut
mulai terjadi penguapan senyawa sianida tersebut. Penguapan berimplikasi
terhadap turunnya ketersediaan anion CN- di larutan, sehingga pada akhirnya ikatan
kompleks terurai menjadi ikatan ion AuCN yang mengendap dalam bentuk tepung
ungu kemerahan.

Senyawa-senyawa emas bereaksi dengan sianida jauh lebih cepat dibanding


logamnya, disebabkan proses pembentukan garam kompleks sianida hanya
mengalami 2 tahapan reaksi, yaitu tahap (3) dan (4).

Jika jumlah sianida bebas sudah tak memadai, maka penambahan cairan perak
nitrat akan mengakibatkan terbentuknya endapan emas (I) sianida yang berwarna
ungu kemerahan.

4Na[Au(CN)2] + 4NaOH + 8NaCN + 4AgNO3 ===> 4Na[Au(CN)2] + 4AgOH +


4NaNO3 + 8NaCN

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
4Na[Au(CN)2] + 4AgOH + 4NaNO3 + 8NaCN ===> 4Na[Au(CN)2] + 4AgCN +
4NaNO3 + 4NaOH + 4 NaCN

4Na[Au(CN)2] + 4AgCN + 4NaNO3 + 4NaOH + 4NaCN ===> 4Na[Au(CN)2] + 4


Na[Ag(CN)2] + 4NaNO3 + 4NaOH

Jika kandungan sianida bebas hampir habis, maka reaksi yang terjadi sebagai
berikut :

4Na[Au(CN)2] + NaCN + NaOH + AgNO3 ===> 4Na[Ag(CN)2] + AgCN + NaOH +


NaNO3

Jika sianida bebas telah habis, maka penambahan AgNO3 berlebihan


mengakibatkan garam kompleks emas sianida (yang telah terbentuk sebelumnya)
mengalami ketakstabilan, dan berubah menjadi ikatan ion emas sianida yang
mengendap berwarna ungu kemerahan :

4Na[Au(CN)2] + 4NaOH + 4AgNO3 ===> 4AuCN + 4 AgCN + 4NaNO3 + 4NaOH

Senyawa kompleks emas sianida Na[Au(CN)2] maupun endapan emas sianida


AuCN dapat direduksi menjadi logamnya oleh logam yang lebih reaktif, terutama
logam zinc.

Reaksi pengendapan emas dari garam kompleksnya sebagai berikut :

4Na[Au(CN)2] + 2 Zn + 4 H2O ===> 4 AuCN + 2 Zn(CN)2 + 4 NaOH + 2H2

Kelebihan ion sianida bebas di larutan akan mengubah zinc II sianida menjadi
larutan garam kompleks zinc sianida

Zn(CN)2 + NaCN ===> Na2[Zn(CN)4]

Garam tak larut AuCN selanjutnya dapat mengendap menjadi logam emas dengan
kehadiran logam zinc ataupun senyawa oksidanya.

2 AuCN + Zn ===> 2 Au + Zn(CN)2

Disamping sebagai perhiasan, logam emas paling banyak disimpan dalam bentuk
batangan oleh bank-bank sentral tiap-tiap negara. Emas digunakan sebagai
indikator kekuatan perekonomian suatu negara, khususnya menyangkut nilai mata
uang negara tersebut. Emas menjadi pilihan investasi yang paling aman di saat
situasi ekonomi dalam kondisi krisis.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Di era teknologi informasi yang memerlukan kecepatan transmisi dan komunikasi
data, suara, dan gambar berkecepatan tinggi, logam emas yang memiliki
keistimewaan sebagai super konduktor makin banyak digunakan dalam rangkaian
elektronik, baik dalam bentuk komponen pasif, komponen aktif, maupun sebagai
pelapis konduktor tembaga pada papan PCB (printed circuit board).

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
IV. JENIS JENIS BATUAN EMAS

IV.1. Batuan Emas Primer (Batuan Sulfida Rendah)

Sebagian besar emas dihasilkan dari proses ekstraksi bijih emas pada batuan emas
primer (batuan sulfida rendah). Batuan emas primer dibentuk melalui proses
magmatik epitermal (hasil dari proses vulkanis gunung berapi), berupa urat urat
silica (kwarsa) yang berbentuk seperti pohon dalam timbunan batuan pegunungan.
Urat yang berbentuk pohon tersebut memiliki batang, cabang dan ranting, dengan
kandungan emas yang bervariasi dalam setiap bagiannya.

Batuan emas primer memiliki kandungan belerang (sulfide) yang rendah dan
kandungan silika sangat tinggi. Rendahnya kandungan sulfida menyebabkan
rendahnya juga kandungan logam logam lain pada batuan emas primer.

Kandungan emas dalam batuan primer bervariasi antara 7 gram/ton (terendah


secara ekonomis untuk dieksploitasi) hingga angka kilogram/ton pada bagian
bagian tertentu. Perak adalah logam pengikut utama yang bercampur secara acak
bersama bijih emas, sehingga bijih bijih emas selalu mengandung logam perak.

Kadar emas dalam bijih yang dihasilkan bervariasi dari yang tertinggi (97% emas,
3% perak) hingga terendah (kandungan emas diatas 75%, dengan kandungan
logam perak dibawah 25%).

- Emas Pasir

Emas pasir/butir ditemukan pada pasir/batuan alluvial, eluvial, atau colluvial.


Material emas jenis ini umumnya ditemukan pada daerah berpasir silika yang dekat
dengan sumber batuannya. Pelepasan butiran banyak disebabkan oleh pelapukan
batuan, sedangkan sifat logam emas yang tahan terhadap oksidasi menyebabkan
tak terjadinya perubahan susunan kimia pada logamnya. Sebaran mineral jenis ini
biasanya dekat dengan sumber-sumber utamanya, karena emas merupakan logam
berat yang sulit digerakkan oleh air.

- Batuan Silika Berkadar Sulfida Rendah

Batuan sulfida rendah berciri kandungan silika yang sangat tinggi, dengan
persentase mineral sulfida yang sangat rendah. Emas pada batuan jenis ini mampu
diekstraksi oleh sianida hingga 95% dari total kandungannya dengan tingkat
konsumsi sianida yang sangat ekonomis.Ukuran bijih emas pada batuan ini berada
pada kisaran di atas 75 mikrometer (80% dar total kandungannya), sehingga proses
amalgamasi biasa pun mampu mengekstraksi bijih emas dengan sangat baik
(hingga 70%). Pada jenis tertentu, sebagian dari mineral emas dapat diekstraksi
menggunakan prinsip grafitasi (shaking table/meja desak, dulangan, dsb),

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
khususnya bijih yang memiliki ukuran cukup besar. Kandungan mineral sulfida yang
sangat rendah membuat proses pengolahan pada batuan ini menjadi relatif paling
mudah.

- Batuan Berkandungan Besi Sulfida


- Batuan Sulfida Arsenik
- Batuan Tembaga Sulfida
- Batuan Antimon Sulfida
- Batuan Tellurida
- Batuan Berkarbon

IV.2. Batuan Sulfida Tinggi

Emas Pada Batuan Sulfida ditemukan sebagai butiran emas sangat halus yang
terjebak pada berbagai batuan mineral sulfida, sehingga menjadi tak terlihat
(invisible). Emas tersebar di setiap batuan sulfida dengan kandungan yang
bervariasi, dan umumnya sebagai berikut ;
- Batuan arsenopyrite : < 0,2 to 15200 gr/t
- Pyrite : <0,2 to 132 g/t
- Tetrahedrite: <0,2 to 72 g/t
- Chalcopyrite <0,2 to 7,7 g/t

Pada beberapa jenis batuan sulfida, kandungan logam emas menjadi penting
disebabkan nilai kandungannya bisa sangat tinggi hingga 1,5% dari total berat
batuannya (arsenopyrite), dengan nilai rata-rata minimum sekitar 10 gr/ton. Pada
batuan jenis sulfida hampir semua emas berbentuk logam sangat halus dan terjebak
di dalam mineral-mineral sulfida tersebut, sehingga menjadi tak mungkin diekstraksi
menggunakan air raksa, dan sangat sulit larut (refraktory) terhadap sianida. Pada
mineral berjenis arsenopyrite kandungan emas rata-rata berada di kisaran 250-1500
gr/ton, suatu nilai yang sangat ekonomis untuk diolah.

Perak konsumsi sebagian besar dihasilkan dari batuan sulfida tinggi (umumnya
pada batuan berkadar perak tinggi maupun dari batuan galena (galena ore).
Kandungan perak pada galena sangat tinggi, dapat mencapai 10 kg perak / 1 ton
galena ore (1% dari berat batuan).

IV.2.1. Batuan Oksida

Batuan oksida adalah batuan sulfida yang sebagian telah mengalami peristiwa
oksidasi. Oksidasi maupun peristiwa hydrotermal yang mengalir di celah-celah
batuan menghasilkan tingkat penyerapan yang jauh lebih tinggi, sehingga batuan
jenis ini sangat cocok untuk diproses secara heap/dump leaching, meskipun ukuran
partikel jauh lebih halus.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Formasi unsur dan senyawa yang terbentuk di batuan sulfida antara lain senyawa
hydrat, kristal-kristal silika dengan beragam ukuran, mineral clay, garam sulfat dari
logam-logam dasar, senyawa oksida dan hidroksida dari berbagai logam. Sebagian
besar dari jenis mineral ini bereaksi dengan sangat baik terhadap sianida
disebabkan terbukanya sebagian besar dari bijih emas akibat telah terjadinya
oksidasi secara alami di dalam batuan. Namun pada mineral oksida yag berbentuk
clay dan lumpur silika dengan berbagai ukuran penyerapan sianida menjadi
masalah serius disebabkan tingginya halangan-halangan mekanis pada lumpur.

Pada batuan oksida, emas biasanya ditemukan dalam bentuk bebas maupun
berasosiasi dengan berbagai material sulfida dan hasil oksidasi logam-logam besi
yang pada umumnya berupa senyawa hematit (Fe2O3), magnetit (Fe3O4), geothit
(FeOOH), dan limonit (FeOOH.nH2O). Emas juga berasosiasi dengan oksida
maupun hidroksida mangan. Pada umumnya tingkat liberalisasi bijih emas pada
batuan jenis ini cukup tinggi, akan tetapi pada beberapa kasus lapisan oksida dan
hirdoksida yang menutupi permukaan logam emas dapat menjadi masaGenerally
the degree of gold liberation is increased by oxidation; however in some case,
protective coatings of slah yang serius dalam proses pelarutan menggunakan
sianida.

Pada batuan berjenis clay ditemukan sebagian material yang sangat halus seperti
pyrophyllite (Al2Si4O10(OH)2), talc (Mg3Si4O10(OH)2), kaolinite (Al4Si4O10(OH)8), dan
montmorillonite (Al4Si8O20(OH)4.nH2O) yang dapat menimbulkan implikasi dalam
proses ekstraksi sianida, antara lain :
- Menurunnya daya serap cairan pada ekstraksi model heap/dump leach
- Naiknya kekentalan lumpur pada saat reaksi pelarutan sedang berlangsung.
Kekentalan yang tinggi menyebabkan rendahnya mobilitas partikel lumpur,
sehingga dibutuhkan tenaga mekanis yang lebih besar untuk menggerakkan
lumpur.
- Tertutupnya sebagian permukaan karbon aktif oleh material halus, sehingga
efisiensi penyerapan menjadi rendah dan memerlukan waktu yang lebih
lama.

Mineral karbonat seperti calcite (CaCO3), dolomite (CaMg(CO3)2), dan siderite


(FeCO3) juga ditemukan pada batuan berjenis oksida. Mineral berjenis ini memiliki
pH yang tinggi karena bersifat basa, sehingga akan mempengaruhi nilai pH pada
proses liberalisasi (oksidasi) bijih emas yang dilakukan sebelum proses sianida
berlangsung.

Tembaga juga selalu ditemukan pada batuan oksida, dan umumnya unsur logam ini
telah terlebih dahulu menjadi senyawa oksida, sehingga proses pelarutannya
menjadi sangat cepat terhadap sianida. Dalam jumlah yang banyak, tembaga dapat
menjadi masalah serius pada pelarutan menggunakan sianida, khususnya

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
menyangkut tingkat konsumsi sianida, dan pemborosan karbon (jika menggunakan
karbon sebagai penyerap emas).

IV.2.2. Batuan Berkadar Perak Tinggi


Batuan berkadar perak tinggi dapat digolongkan sebagai batuan dengan tingkat
sulfida tinggi, disebabkan mampunya logam perak teroksidasi oleh senyawa gas
belerang membentuk senyawa perak sulfida yang bersifat refraktory. Meskipun
emas hampir selalu berasosiasi dengan perak, akan tetapi jika kandungan perak
dalam batuan cukup/sangat tinggi, diperlukan modifikasi dalam proses
pengolahannya. Lapisan luar electrum maupun senyawa emas dengan kandungan
perak yang sangat tinggi dalam paduan (di atas 98%) sangat mudah teroksidasi
oleh belerang, membentuk lapisan perak sulfida Ag2S setebal 1-2 mikrometer, yang
membatasi kemampuan beramalgamasi maupun kemampuan larut dalam sianida.
Penurunan aktifitas pelarutan berpotensi mengurangi tingkat perolehan logam emas
selama proses ekstraksi menggunakan sianida.

Di alam emas selalu berasosiasi dengan perak dalam perbandingan yang


bervariasi. Kandungan perak
dengan persentase 25% hingga
55% dalam paduannya disebut
dengan nama umum electrum.
Electrum berwarna putih perak
dan sedikit agak kuning, dengan
berat jenis 13-16 gr/ml. Tingkat
kebebasan bijih emas pada
batuan electrum ditentukan oleh
tingkat persentase logam emas
pada bijih tersebut. Kadar emas
yang lebih tinggi memiliki tingkat
kebebasan (bersih dari logam pengotor) yang lebih baik, sebaliknya kadar emas
yang lebih rendah berimplikasi pada tingkat kebebasan permukaan yang kurang
baik (bijih dengan kadar emas 50% akan lebih bersih dibanding bijih berkadar emas
25%). Sebagaimana diketahui, raksa hanya akan mengamalgamsi permukaan bijih
emas yang relatif bersih, sehingga bijih-bijih emas mampu terlapisi logam raksa,
dan selanjutnya terkumpul di dalam logam raksa yang cair (ini menjelaskan
mengapa hasil amalgamasi selalu memiliki kadar emas yang lebih tinggi dibanding
hasil pelarutan sianida ataupun thiosulfat).

Perak bereaksi dengan


belerang membentuk
senyawa padat Ag2S
(argentit) yang tak larut
dalam air. Bijih emas kadar
rendah yang terkena gas
belerang akan teroksidasi

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
pada bagian logam peraknya membentuk senyawa Ag2S. Proses oksidasi belerang
dapat terjadi pada saat pembentukan batuan akibat proses epitermal-magmatik
(awal mula terbentuknya urat batuan pada perut bumi), maupun pada saat proses
penambangan, penggerusan secara fisik, dan pada saat proses leaching itu sendiri.

Bijih perak alami mampu memiliki tingkat kemurnian di atas 95%, namun ini jarang
ditemukan. Kebanyakan bijih perak berasosiasi dengan emas, timbal, tembaga,
maupun dengan berbagai jenis logam lainnya.

Tingkat persentase perolehan logam perak pada proses pengolahan batuan


berkadar perak tinggi lebih rendah dibanding emas, hal ini disebabkan banyaknya
jenis senyawa perak pada batuan, sehingga proses oksidasi maupun pelarutannya
menjadi lebih sulit dibanding emas.

Paduan emas dan tembaga juga ditemukan pada


batuan berkadar perak tinggi. Campuran emas-
perak-tembaga dalam batuan memiliki warna
yang tak homogen pada umumnya, karena pada
dasarnya emas lebih sulit membentuk paduan
logam dengan tembaga dibanding logam perak.
Mineral jenis ini antara lain auricupride (AuCu3)
dan tetra auricupride (AuCu). AuCu3 umumnya
mengandung 40 Au, tembaga sekitar of 51%,
dan sisanya logam-logam lain. Logam berwarna
merah kekuningan di bagian tengah, dan makin
kuning pada bagian pinggirnya.

IV.2.3. Batuan Besi Sulfida

Pada batuan jenis ini, emas umumnya terbungkus di dalam selubung matriks besi
sulfida. Jenis-jenis mineral besi sulfida yang sering ditemui adalah :
- Pyrite FeS2
- Marcasite
- Pyrrhotite (Fe(1-x)S), dimana x = 0,0 hingga 0,2.

Mineral sulfida yang umumnya berasosiasi dengan emas, pyrite adalah senyawa
yang sangat mudah ditemukan di seantero dunia. Pyrite sangat stabil pada kondisi
cair (lumpur), membuatnya sulit dilarutkan (refraktory) oleh sianida. Bijih emas yang
terjebak pada mineral ini memiliki ukuran yang sangat halus, sehingga sebagian
besar berada di dalam bungkus pyrite. Kandungan emas dalam mineral pyrite
bervariasi antara 0,2 ppm 132 ppm, suatu nilai yang sangat ekonomis.
Penggunaan sianida sebagai pelarut pada senyawa pyrite sangat tak efektif dan
sangat boros karena sebagian besar terpakai untuk proses liberalisasi.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Marcasite memiliki struktur kimia yang sama dengan pyrite, FeS2, akan tetapi
memiliki struktur ruang yang orthorhombic. Marcasite terbentuk pada temperatur
yang lebih rendah dibanding pyrite. Disebabkan kesamaan sifat yang hampir identik
dengan pyrite, dan biasanya selalu ada bersama pyrite dalam batuan, maka
pembahasan marcasite tidak penting dalam kaitan proses pengolahan emas.

Pyrrhotite memiliki 2 type, heksagonal (Fe9S10) dan monoclinic (Fe7S8). Senyawa ini
relatif lebih stabil dibanding pyrite, dan umumnya bersifat magnetik, sehingga bisa
dipisahkan menggunakan magnetik separator. Sama halnya dengan pyrite dan
marcasite, pyrrhotite juga mengkonsumsi oksigen dan sianida dalam jumlah yang
sangat tinggi, sehingga penggunaan sianida untuk ekstraksi mineral emas dari
batuan ini sangat tak ekonomis.

IV.2.4. Arsenic sulfide

Arsenopyrite (FeAsS) juga memiliki banyak kesamaan sifat dengan pyrite.


Arsenopyrite adalah senyawa sulfida yang paling banyak berasosiasi dengan emas.
Kandungan emas pada senyawa ini bisa mencapai angka yang menakjubkan ;
hingga 15,2 kg/ton. Secara fisik bentuk arsenopyrite mirip dengan pyrite, dengan
beberapa perbedaan seperti kekerasan yang lebih baik, namun lebih rapuh
dibanding pyrite.

IV.2.5. Copper sulfide


Batuan tembaga sulfida antara lain chalcopyrite, chalcocite, covelite, dan bornite

IV.2.6. Antimony sulfida


IV.2.7. Tellurida

Rumus kimia emas telurida


sedikit rumit dan terdiri dari
berbagai sub-jenis mineral,
namun yang sering
ditemukan pada batuan emas
adalah sylvanite
((Au,Ag)2Te4), calaverite
(AuTe2), and petzite
(Ag3AuTe2).

Emas telurida ditemukan


secara luas di hampir setiap
batuan emas, dan sering
berasosiasi dengan bijih
emas bebas dan mineral
mineral sulfida. Emas telurida memiliki berat jenis yang tinggi, antara 8 10

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
gr/ml.Mineral memiliki berbagai warna, namun secara umum ditemukan tiga warna,
sedikit putih perak, abu-abu, dan hitam.

Mineral emas tellurida sangat lambat larut dalam sianida, padahal sebagian besar
dari senyawa sulfida yang berasosiasi dengan emas adalah tellurida, disamping
arsen dan besi.

IV.2.8. Batuan berkarbon

Karbon pada batuan dapat bertindak sebagai karbon aktif pada saat pelarutan
menggunakan sianida. Pada beberapa kasus, kandungan karbon dalam batuan bisa
mencapai di atas 5%, suatu jumlah yang sangat signifikan untuk menyerap banyak
emas pada proses pelarutan menggunakan sianida.

Kandungan karbon sebanyak 0,1% dari berat batuan sudah cukup dikatakan bahwa
sebagian dari emas (pada pengolahan menggunakan sianida) terserap dan kembali
ke lumpur.

Sianida merupakan bahan pelarut yang paling efisien dan digunakan secara luas
untuk mengekstraksi emas dari batuannya. Ekstraksi emas umumnya mencapai
angka di atas 90% jika menggunakan kaidah-kaidah yang benar. Limbah padat dari
pengolahan sianida umumnya masih mengandung bijih-bijih emas yang jumlah
kandungan emasnya bervariasi. Ada beberapa kemungkinan partikel emas yang
terdapat di limbah padat hasil pengolahan sianida, antara lain :
- Partikel emas bebas yang berasal dari sisa bijih emas kasar sebelum
pengolahan. Ini mungkin terjadi disebabkan beberapa hal, antara lain; lama
waktu pelarutan belum optimal, jumlah sianida yang kurang optimal, suplai
oksigen ke dalam lumpur yang mungkin juga kurang, serta kinerja reaktor
dan peralatan pendukungnya yang kurang optimal.
- Emas terbungkus dalam silika atau senyawa oksida yang menutupi bagian
kulitnya, sehingga senyawa pelarut sianida tak bereaksi dengan selaput-
selaput ini.
- Emas terbungkus oleh mineral sulfida. Emas sangat halus selalu ditemukan
pada limbah buangan sianida. Biasanya emas jenis ini masih terbungkus
oleh mineral sulfida yang sukar larut (seperti pyrite misalnya).
- Emas terbungkus mineral oksida, khususnya oksida besi yang tak
terlarutkan oleh sianida.

Logam logam mulia memiliki sifat sifat fisika dan kimia yang lebih unggul
dibandingkan sifat sifat yang sama dari berbagai logam dasar. Emas, perak, dan
berbagai jenis logam golongan platina ( platina, palladium) memiliki konduktivitas
listrik dan thermal yang sangat baik, sehingga digunakan secara luas pada berbagai
perangkat eletronika yang membutuhkan kecepatan transmisi data dan gelombang
elektromagnetik berkecepatan tinggi.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Logam emas dan perak digunakan pada kaki kaki dan bagian transmisi dalam IC
IC berkecepatan tinggi (unit unit pemroses pusat seperti prosesor prosesor
utama dan co-prosesor pada peralatan computer), pelapis luar pada papan PCB,
dan pelapis utama pada bagian bagian transmisi (modulator/demodulator pada
pesawat telekomunikasi mobile atau handphone).

Perak sejak dahulu digunakan secara luas pada industri photographi, disebabkan
keistimewaannya yang peka terhadap cahaya (sinar ultraviolet) jika berbentuk
senyawa perak halide (AgBr ). Perak juga digunakan secara luas sebagai katalis
dalam berbagai reaksi kimia industri

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
V. PEGOLAHAN EMAS MENGGUNAKAN MERKURI

V.1. Sifat sifat Kimia dan Fisika Logam Merkuri

Merkuri (raksa) adalah logam yang berwatak cair pada sekitar suhu kamar (250C).
Logam merkuri (Hg) dihasilkan melalui proses ekstraksi Hg dari batuan berjenis
cinnabar, dimana Hg terkandung dalam bentuk seyawa Hg2S yang memiliki warna
khas merah darah hingga merah marun.

Logam merkuri memiliki berat jenis .gr/cm3 pada suhu kamar, titik cair pada
suhu.., titik didih pada suhu., dan menguap pada suhu..

V.2. Proses Amalgamasi Logam Emas dan Perak

Sebagaimana halnya ikatan logam yang terjadi pada berbagai jenis logam lainnya
(perak dan emas dalam bentuk alloy, timbale dan tembaga sebagai perunggu, seng
dan tembaga menjadi logam kuningan), maka merkuri juga dapat berikatan dengan
berbagai jenis logam lain. Ikatan antar merkuri dan logam lain ini biasa disebut
dengan istilah amalgamasi.

Ikatan antara merkuri dan logam emas yang terjadi pada suhu rendah dan
perbedaan titik cair dan didih yang sangat jauh menyebabkan ikatan logam yang
terjadi tidaklah bersifat homogen. Logam emas yang dalam fase padat pada suhu
kamar akan terlapisi oleh logam merkuri cair pada bagian kulit luar dari logam emas.
Jika bijih logam emas yang teramalgamasi relative jauh lebih kecil dari volume
logam merkuri, maka emas akan tenggelam dalam logam merkuri cair.

Ada beberapa jenis logam yang tak dapat berikatan dengan merkuri, antara lain ;
besi (Fe), zinc (Zn), wolfram (Wo), platina (Pt), palladium (Pd), dan beberapa jenis
logam lainnya.

V.3. Proses Amalgamasi Biasa

Bijih emas di dalam batuan umumnya berukuran relative kecil dan tersebar secara
acak di dalam batuan. Agar proses amalgamasi terjadi, maka ukuran batuan perlu
diperhalus agar bijih bijih emas terbebas dari lapisan yang melingkupinya.

Proses awal pada system pengolahan emas menggunakan merkuri adalah


penghancuran dan pengecilan ukuran batuan menjadi kecil (di bawah 1 x 1 cm).
Selanjutnya batuan yang telah sedikit halus tersebut dimasukkan ke dalam alat
berupa tabung besi yang berfungsi sebagai wadah landasan material batu. Di
bagian dalam tabung diisi oleh poros (as) besi yang berfungsi sebagai penggerus
material batu tersebut. Material yang telah dimasukkan ke dalam tabung selanjutnya
diisi oleh air hingga 2 x bagian volume batuan, kemudian dimasukkan sejumlah
logam merkuri ke dalam tabung yang berfungsi sebagai pengikat bijih bijih emas

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
yang telah terlepas dari unsur unsur penutupnya. Akhirnya tabung ditutup rapat
sebelum dilakukan proses penggerusan.

Proses penggerusan terjadi saat tabung diputar secara rotasi. Perputaran tabung di
bagian luar membuat terjadinya gerakan berlawanan batuan secara relative pada
bagian dalam. As-as besi yang diisi pada bagian dalam kemudian mulai melakukan
penggerusan material batuan hingga material batuan berubah ukuran menjadi pasir,
dan dalam waktu yang lebih lama ukuran menjadi sangat halus hingga menjadi
lumpur dengan ukuran diameter di bawah 0,05 mm. Pada beberapa daerah, lama
waktu penggerusan bervariasi, namun pada umumnya berkisar antara 4-6 jam.

Proses selanjutnya, batuan yang telah berubah menjadi lumpur selanjutnya


dikeluarkan dari dalam tabung dan dipindahkan ke dalam wadah bak atau ember.
Merkuri ikut serta masuk bersama Lumpur tersebut ke dalam wadah penampung.

Lumpur kemudian diaduk dan disemprot dengan air yang berlimpah agar lumpur
keluar dari wadah. Logam logam merkuri akan menuju bagian bawah dari wadah
penampung. Lakukan pencucian hingga semua Lumpur keluar dari wadah
penampung, dan diperoleh logam merkuri yang telah berkumpul menjadi 1 bagian.

Bijih emas di batuan emas primer berukuran relative kecil. Bijih bijih tersebut
terkumpul menjadi satu bagian dalam logam merkuri cair. Selanjutnya merkuri yang
telah bersih dari Lumpur diperas menggunakan kain dengan pori pori yang sangat
halus. Biasanya kain yang digunakan berjenis nilon kedap air (biasa disebut kain
jenis parasut). Sebagian besar kelebihan logam merkuri yang menutup permukaan
emas akan keluar melalui pori pori kain selama proses pemerasan berlangsung,
sedangkan bijih bijih emas yang telah teramalgamasi akan tertahan di dalam kain.
Bijih bijih tersebut bersatu akibat rekatan logam merkuri yang masih melapisi
permukaan luar logam emas.

Untuk mengurangi kandungan logam merkuri yang terjebak pada kumpulan bijih
emas, proses berikut dapat dilakukan :

Masukkan hasil perasan amalgamasi ke dalam pipa besi, tempatkan dalam posisi
miring, dengan bagian yang atas (dibuntu) diisi oleh hasil perasan. Pipa kemudian
dipanaskan dengan api yang lembut selama beberapa saat. Pada saat pemanasan
terjadi pemuaian dan makin encernya logam merkuri sehingga beberapa bagian
akan menetes dan tertampung di bagian bawah pipa besi. Selanjutnya keluarkan
logam merkuri dari pipa. Hasilnya adalah gumpalan logam emas yang masih
terlapisi oleh logam merkuri dalam jumlah yang relative sedikit.

Proses berikutnya adalah peleburan gumpalan logam menggunakan api panas.


Pada saat peleburan berlangsung gunakan borax sebagai fluks yang sekaligus
berfungsi membersihkan permukaan paduan logam emas perak dari berbagai
pengotor, seperti sebagian kecil silica, logam logam tembaga, besi, dan berbagai
jenis logam lainnya.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Pada saat awal proses peleburan, logam logam merkuri akan menguap dan
membentuk asap merkuri ; sebagian kecil berubah menjadi senyawa metil merkuri
dan merkuri oksida. Senyawa logam ini sangat berbahaya bagi kesehatan, sehingga
saat proses peleburan sebaiknya pekerja menggunakan masker pernafasan, dan
sebaiknya peleburan dilakukan pada ruang yang bercerobong udara agar asap
logam yang terbentuk sebagian besar terkoleksi dan keluar melalui cerobong udara.

Pengolahan emas menggunakan merkuri sebagai alat ekstraksi hanya mampu


mendapatkan maksimum 40% dari total kandungan emas dalam batuan. Hal ini
terjadi disebabkan beberapa hal, antara lain :

- Tingkat kehalusan bijih emas yang akan diekstraksi. Bijih emas yang
berukuran sangat halus akan mengambang di dalam lumpur, dan sangat
sulit menyentuh permukaan terbawah, dimana merkuri selalu berada. Makin
halus ukuran bijih emas maka makin sulit bijih tersebut tersalut
(teramalgamasi) oleh merkuri.
- Tingkat kepadatan lumpur dalam cairan. Makin padat lumpur di dalam cairan
mengakibatkan kenaikan tekanan dalam lumpur, sehingga partikel partikel
emas sulit menyentuh permukaan bawah dari tabung pemutar (glundung
/tromol) karena terhalang oleh partikel partikel silica di bawahnya. Makin
kental larutan lumpur akan makin sulit bijih bijih emas teramalgamasi oleh
logam merkuri yang selalu berada di bagian dasar tabung.
- Tingginya kecepatan putar dari tabung penggerus. Makin tinggi kecepatan
putar dari tabung akan menyebabkan as as yang berada di dalam tabung
akan ikut terpental, sehingga tujuan penggerusan sulit diperoleh. Tingginya
putaran tabung juga berakibat sebagian dari logam merkuri ikut bergerak ke
bagian tengah lumpur cair demikian juga dengan partikel bijih bijih emas,
sehingga tingkat probabilitas amalgamasi semakin sulit diperoleh.
- Adanya berbagai unsur pengotor yang menutupi sebagian dari permukaan
logam emas. Logam paduan emas sering tertutup oleh lapisan tipis perak
sulfide, yang terbentuk pada proses erupsi. Lapisan tipis perak sulfida
(Ag2S) terbentuk akibat adanya gas H2S yang melewatinya pada saat proses
pendinginan dan perkerasan batuan. Besi (Fe) juga sering menutupi
permukaan luar dari bijih emas, membentuk ikatan logam berwarna hitam di
bagian luar. Pada bijih jenis ini merkuri tak mampu melakukan proses
amalgamasi karena sifat dasarnya yang tak dapat berikatan dengan logam
besi maupun senyawa senyawa besi. Oksida tembaga juga sering
menutupi pemukaan bijih emas sehingga sulit terjadi proses amalgamasi.
Pada beberapa bagian, pecahan silica yang menempel pada sebagian
permukaan emas turut menyumbang gagalnya proses amalgamasi.

Pada beberapa kasus, tingkat perolehan emas pada proses amalgamasi bisa
sangat kecil, bahkan hingga mencapai hanya 5% dari total kandungan emas di
dalam batuan, sehingga menjadi tak ekonomis untuk diproduksi.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Sebagian dari batuan emas memiliki kandungan logam tembaga yang cukup
signifikan, sehingga pada system pengolahan biasa tembaga sering ikut
teramalgamasi (para pengolah sering menyebut logam ini dengan istilah perunggu).

Pada dasarnya tembaga yang terkandung dalam batuan umumnya tidaklah


berbentuk logam, melainkan berupa senyawa, baik berjenis oksida, karbonat,
maupun sulfide ; sehingga dalam kondisi biasa merkuri tak mungkin
mengamalgamasi tembaga.

Akan tetapi pada peristiwa penggerusan batuan yang dilakukan oleh media besi,
terjadi reduksi senyawa senyawa tembaga oleh logam besi tersebut. Sebagai
contoh tembaga dalam senyawa chalcopyrite :

4 CuFeS2 + 7 O2 ======> 4 CuS + 2 Fe2O3 + 4 SO2

4 CuS + 8 O2 ======> 4 CuSO4

4 CuSO4 + 4 Fe ======> 4 Cu + 4 FeSO4

Batuan yang ditromol/glundung akan mengoksidasi belerang pada senyawa


chalcopyrite, sehingga unsur besi pada senyawa menjadi terpisah dan larut
membentuk senyawa baru besi II sulfat (FeSO4) (1). Senyawa tembaga makin
reaktif karena hal ini, sehingga dengan mudahnya larut oleh oksidasi osigen
menjadi larutan tembaga sulfat (2). Disebabkan potensial elektroda standarnya yang
jauh lebih tinggi daripada logam besi, maka tembaga sulfat pun mengoksidasi
logam besi menjadi besi II sulfat, dan dalam waktu bersamaan tembaga II tereduksi
menjadi logam tembaga yang menempel di permukaan logam besi dalam tabung.
Merkuri yang melintasi lapisan tembaga ini dengan serta merta mengamalgamasi
logam tembaga, sehingga hasil perasan merkuri juga mengandung logam tembaga.

Teramalgamasinya sebagian logam tembaga sangat merugikan, disebabkan


tercemarnya logam merkuri oleh tepung tembaga, yang menyebabkan mobilitasnya
menjadi berkurang, dan kekentalannya pun makin tinggi. Efek dari kondisi ini adalah
melemahnya daya amalgamasi merkuri terhadap logam logam.

V.4. Teknik Peningkatan Hasil Pada Pengolahan Emas Menggunakan


Merkuri
Tingkat perolehan logam emas pada proses amalgamasi dapat dinaikkan hingga
70% dari total kandungan emas yang berada di dalam batuan melalui berbagai
rekayasa teknik yang berhubungan dengan kondisi riel batuan yang akan diproses.

Ada berbagai rekayasa dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil pada pengolahan
menggunakan merkuri dan cara-cara tersebut akan dijelaskan pada bagian berikut
ini.

V.4.1. Selektifitas Proses Penggerusan.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Penggerusan dimaksudkan agar terjadi liberalisasi permukaan bijih emas terhadap
berbagai penutupnya. Penggerusan yang sempurna menghasilkan ukuran partikel
yang sangat halus dan pada proses yang ini dibutuhkan waktu yang relative lama
untuk menghasilkan butiran Lumpur yang sangat halus.

Masalah timbul pada ukuran bijih emas yang juga ikut tergerus hingga menjadi lebih
halus lagi. Pada dasarnya logam-logam memiliki sifat yang khas jika berhubungan
dengan air, yaitu sifat yang tak suka akan air (hydrophobic). Sifat tak suka air
memiliki arti bahwa ikatan adhesive antara air dan logam sangat sulit terjadi pada
kondisi yang normal. Kondisi tak suka air ini mengakibatkan logam-logam yang
kontak dengan air umumnya terlapis oleh selaput udara pada kulit terluarnya. Pada
logam yang berukuran sangat halus, lapisan udara yang menyelimutinya mampu
mengambangkan bijih logam ke permukaan akibat berat jenis gabungannya lebih
kecil daripada berat jenis air. Akibat dari mengambangnya emas (flotation
processing) adalah peluang teramalgamasinya butir emas halus oleh kumpulan
merkuri menjadi rendah.

Ukuran Lumpur yang sangat halus juga berdampak terhadap tingginya kerapatan
Lumpur dalam air sehingga tingkat mobilitas partikel-pertikel dalam Lumpur menjadi
rendah. Mobilitas partikel yang rendah mengakibatkan peluang terperangkapnya
bijih emas dalam Lumpur menjadi tinggi, dan kemungkinan terjadinya proses
amalgamasi menjadi turun juga.

Untuk mengatasi efek pengambangan (flotation effect) dari bijih emas dan
penurunan mobilitas partikel, maka sebaiknya penggerusan batuan halus dilakukan
dalam waktu yang dibatasi tak terlalu lama. Pada proses biasa yang dilakukan,
penggerusan memakan waktu antara 4 6 jam ; waktu selama ini cukup untuk
menggerus dan mengecilkan ukuran bijih emas juga, suatu proses yang
kontraproduktif dan kerapatan Lumpur yang tinggi juga berdampak buruk terhadap
rendahnya mobilitas partikel emas. Untuk membuka bijih emas terhadap silica yang
membungkus tanpa harus menghancurkan ukuran bijih emas itu sendiri, lama
proses penggerusan sebaiknya dibatasi maksimum 2,5 jam saja.

Memang pada proses biasa, penggerusan yang relative singkat justru menurunkan
tingkat perolehan bijih emas yang teramalgamasi. Hal ini disebabkan sebagian bijih
emas masih terbungkus oleh partikel silica dan berbagai logam pengotor yang
menutupinya. Namun pada proses yang menggunakan rekayasa teknik, masih
terbungkusnya sebagian permukaan bijih emas pada penggerusan yang relative
singkat dapat diatasi dengan penggunaan berbagai bahan kimia yang berfungsi
meliberalisasi bijih bijih emas tanpa merusak ukurannya sendiri, sehingga tingkat
kerapatan partikel Lumpur tak begitu tinggi demikian juga ukuran yang relative
besar akan mencegahnya dari efek pengambangan.

V.4.2. Liberalisasi Bijih Emas Menggunakan Bahan Kimia

V.4.2.1. Perak Nitrat

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Perak nitrat adalah senyawa larut dalam air yang bersifat oksidator sangat kuat, dan
sangat mudah tereduksi oleh berbagai logam logam lain yang melapisi permukaan
emas. Perak nitrat dibuat melalui proses pelarutan logam perak menggunakan
pelarut asam nitrat ( nitric acid HNO3) pekat panas. Reaksi kimia yang berlangsung
pada proses ini :

2Ag(s) + 4HNO3(l) ===> 2AgNO3(l) + 2NO(g) + O2(g) + 2 H2O(aq)

Reaksi pelarutan di atas sebenarnya berlangsung dalam 2 tahap, yaitu reaksi


pertama yang merupakan tahap oksidasi logam perak menjadi senyawa padat
perak oksida yang berwarna coklat

2Ag(s) + 2HNO3(l) ====> 2Ag2O(s) + 2NO(g) + O2(g) + H2O(aq)

Selanjutnya perak oksida yang terbentuk kembali bereaksi dengan larutan HNO3
membentuk larutan perak nitrat :

2Ag2O(s) + 2HNO3(l) ===> 2AgNO3(l) + O2(g) + H2O(aq)

Keterangan symbol reaksi :

Ag : logam perak

HNO3 : larutan asam nitrat

AgNO3 : larutan perak nitrat

NO : gas nitrogen monoksida tak berwarna, yang kemudian berubah


menjadi gas NO2 berwarna coklat saat bereaksi dengan oksigen.

O2 : gas oksigen

H2O : air (aquadest)

(S) : fase zat padat atau solid

(l) : fase larut atau liquid

(g) : fase gas

(aq) : fase cair untuk air (aquadest)

Perak nitrat yang dimasukkan ke dalam lumpur akan mengoksidasi berbagai logam
yang menutupi permukaan lapisan emas dan secara simultan tereduksi menjadi
logam perak yang melapisi permukaan logam emas.

2AgNO3 + Cu ====> 2Ag + Cu(NO3)2

2AgNO3 + Fe ====> 2Ag + Fe(NO3)2

Keterangan reaksi :

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
- Cu : logam tembaga

- Fe : logam besi

- Cu(NO3)2 : larutan tembaga nitrat

- Fe(NO3)2 : larutan besi nitrat

Pada reaksi di atas, garam cair perak nitrat mengoksidasi tembaga dan besi yang
menutupi permukaan emas menjadi larutan tembaga II nitrat dan besi II nitrat, dan
pada saat bersamaan perak tereduksi menjadi logam perak yang menempel di
permukaan bijih logam emas, sehingga proses amalgamasi dapat berlangsung
dengan baik.

Jumlah perak yang digunakan sangat bergantung pada perkiraan jumlah total
kandungan bijih emas di dalam batuan. Pada batuan dengan kandungan logam
emas yang rendah, penggunaan perak dibatasi pada angka 5 gram / ton batuan,
sedangkan pada batuan dengan kandungan logam emas perak yang cukup tinggi
penggunaan perak nitrat sangat bergantung pada perkiraan jumlah total kandungan
bijih emas di dalam batuan.

V.4.2.2. Soda alkali (NaOH atau Na2CO3)

Bijih emas umumnya terbungkus oleh lapisan kwarsa (silica SiO2) sehingga proses
amalgamasi terhalang oleh lapisan ini. Proses penggerusan secara fisika dapat saja
dilakukan untuk meliberalisasi permukaan emas, akan tetapi proses penggerusan
juga mengakibatkan bijih bijih emas juga ikut tergerus dan terpotong potong
menjadi ukuran yang lebih kecil lagi. Akibat dari pengecilan uuran bijih ini adalah
makin sulitnya kemungkinan persentuhan antara permukaan bijih yang tergerus
dengan logam merkuri, sehingga proses amalgamasi makin sulit untuk terjadi.

Soda ash (Na2CO3) dan soda caustic bereaksi dan melarutkan silica menjadi
larutan alkali silica cair, atau secara umum sering disebut dengan istilah water
glass.

Na2CO3 + SiO2 ====> Na2SiO3 + CO2

NaOH + SiO2 =====> Na2SiO3 + H2O

Reaksi dapat berlangsung cepat melalui pemanasan. Soda ash bersifat lebih lembut
daripada caustic soda, dan tidak merusak wadah stainless (jika reaksi pelarutan
dilakukan pada wadah stainless). Caustic soda bersifat sangat keras, dan merusak
wadah stainless jika reaksi dilakukan di dalamnya, terutama lagi jika reaksi
berlangsung pada suhu yang tinggi.

Pelarutan silica dengan alkali soda dimaksudkan agar :

1. Sisa sisa silica yang menempel pada permukaan bijih emas aan tergerus
sehingga bijih emas akan terbebaskan dari jenis pengotor ini.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
2. Butir butir halus silica yang terjadi akibat penggerusan yang berpotensi
meningkatkan tekanan ruang dalam Lumpur menjadi larut, sehingga
kerapatan Lumpur akan berkurang setelah proses ini.
3. Bijih logam emas yang terliberalisasi masih memiliki ukuran yang relative
besar, sehingga dengan berat yang signifikan peluang terjadinya proses
amalgamasi menjadi makin tinggi.

V.4.2.3. HCl

Penggunaan HCl sebagai pembersih permukaan logam emas pada Lumpur hasil
penggerusan juga sangat membantu dalam proses liberalisasi permukaan bijih
emas. HCl bereaksi dengan sangat mudah terhadap logam besi yang menutupi
sebagian permukaan, juga bereaksi dengan sangat baik terhadap berbagai logam
lainnya, seperti mangan, cobalt, nikel, arsenic.

HCl + Fe =====> FeCl2 + H2

HCl bereaksi dengan sangat lambat terhadap logam tembaga, dan sedikit lebih
cepat terhadap senyawa oksida tembaga maupun beberapa senyawa sulfide logam
lainnya. HCl sangat tepat digunakan pada batuan dengan kandungan logam besi
yang tinggi.

V.4.2.4. H2SO4 (asam sulfat)

Asam sulfat merupakan oksidator yang cukup kuat, mampu melarutkan berbagai
jenis logam. Pada konsentrasi tertentu (di atas 2 molar) H2SO4 dapat melarutkan
logam perak secara perlahan.

Untuk mencegah terlarutnya sebagian logam perak oleh larutan H2SO4 pada
proses liberalisasi bijih emas, maka konsentrasi H2SO4 haruslah dibawah 2 M, dan
ini dapat dilakukan melalui pengenceran larutan sebelum direaksikan dengan
Lumpur.

V.4.2.5. HNO3

Penggunaan HNO3 sebagai agen pembersih permukaan bijih logam emas sangat
dimungkinkan, sepanjang konsentrasinya diturunkan hingga berada di angka 1
molar ( 1 M ). Konsentrasi yang lebih tinggi dapat menyebabkan terjadinya
pelarutan sebagian logam perak (meskipun kemungkinan reaksi berlangsung
secara perlahan).pada batuan emas berkadar perak tinggi. Untuk batuan berkadar
emas tinggi pada bijihnya (misalnya di atas 30% kandungan emas dalam bijih
paduan emasnya) , penggunaan HNO3 berkonsentrasi 2M 4M bisa saja
dilakukan.

V.4.3. Praktek Pengolahan Menggunakan Merkuri

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Siapkan bahan baku batuan emas sebanyak 50 kg tumbuk hingga berukuran kerikil
halus (1 x 1 cm) selanjutnya masukkan ke dalam mesin tromol/glundung dengan
perbandingan volume batu : air 1 : 3.

Tahapan proses selanjutnya sebagai berikut :

1. Lakukan penggerusan dengan memutar tromol selama maksimum 2,5 jam.


2. Keluarkan material yang telah digerus (telah berubah menjadi Lumpur kasar)
dan tempatkan ke dalam wadah yang terbuat dari plastic (ember/bak
plastic).
3. Biarkan beberapa saat hingga Lumpur mengendap sempurna, kemudian
buang keluar air bening yang menggenang di atas Lumpur.
4. Jika menggunakan oksidator perak nitrat AgNO3, maka penggunaan
senyawa halogen (klorida misalnya : NaCl, HCl ) maupun H2SO4 harus
dihindarkan. Penggunaan HCl pada secara bersamaan justru akan
menimbulkan endapan tak larut senyawa AgCl berwarna putih pada saat
peristiwa oksidasi ; suatu hal yang tak diharapkan. Reaksinya sebagai
berikut :

2 HCl + 2 AgNO3 =====> + 2 AgCl + H2O + 2 NO2 + O 2

Ion sulfat pada Lumpur akan melakukan reaksi substitusi dengan ion nitrat
pada senyawa perak nitrat, sehingga terbentuk senyawa perak sulfat yang
sulit larut, sehingga oksidasi yang diharapkan dapat gagal karena hal ini.

H2SO4 + AgNO3 =====> Ag2SO4 + H2O + 2 NO2 + O 2

Perak nitrat merupakan oksidator yang sangat kuat (bahkan jika terkena kulit
kation perak langsung tereduksi menjadi logam perak berwarna hitam).
Lapisan-lapisan logam pengotor yang melapisi permukaan bijih emas akan
tersubstitusi oleh logam perak yang akan menyepuh permukaan bijih emas
dalam peristiwa ini. Sebagai misal, oksidasi lapisan logam besi dan tembaga
yang reaksinya sebagai berikut :

2 AgNO3 + Fe =====> 2 Ag + Fe(NO3)2

AgNO3 + Cu =====> 2 Ag + Cu(NO3)2

Logam besi yang menempel di kulit luar bijih emas teroksidasi oleh kation
perak Ag+ sehingga larut menjadi larutan besi II nitrat, dan dalam waktu
bersamaan kation perak direduksi oleh logam besi menjadi logam perak
yang menggantikan posisi logam besi (menempel di kulit luar bijih emas).

Tembaga yang menempel di kulit luar bijih emas biasanya sebagian telah
teroksidasi oleh udara menjadi tembaga I oksida berwarna merah dan
tembaga II oksida berwarna coklat kehitaman. Perak nitrat juga akan
melarutkan oksida-oksida ini, sehingga permukaan logam emas menjadi

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
bersih dari logam-logam pengotor. Untuk 50 kg batuan (raw material),
penggunaan logam perak (yang dibuat menjadi perak nitrat) sebaiknya
berkisar 1 gram 3 gram (atau garam kristal perak nitrat 2 gram 6 gram).

5. Alternatif oksidator lain adalah HCl, HNO3, atau H2SO4. HCl merupakan
oksidator yang sangat baik, terutama jika digunakan bersamaan dengan
larutan H2O2. HCl bereaksi melarutkan logam-logam besi, mangan, nikel,
dan beberapa jenis logam lainnya dengan sangat cepat. Untuk Lumpur dari
raw material 50 kg, sebaiknya gunakan HCl konsentrasi 32% sebanyak 500
ml, diencerkan oleh air 2 liter. Masukkan HCl yang telah diencerkan ke
dalam media Lumpur, aduk merata selama 5 menit. Selanjutnya tambahkan
H2O2 (hydrogen peroksida) konsentrasi 5% atau dibawahnya sebanyak
liter, aduk kembali selama 15 menit. Pengadukan yang lebih lama membawa
efek yang lebih baik dalam pembersihan permukaan bijih emas. Bahan yang
terbuat dari besi atau stainless sangat mudah larut, oleh karena itu hindari
penggunaan bahan dari logam tersebut bersentuhan dengan Lumpur yang
sedang dicampur dengan HCl.
HNO3 bereaksi sangat baik terhadap tembaga maupun senyawa oksida dan
sulfidanya, dan sedikit lebih lamban terhadap logam besi beserta senyawa-
senyawanya. Penggunaan HNO3 pekat (di atas 2 M) berpotensi melarutkan
logam perak, oleh karena itu penggunaan HNO3 sebaiknya diencerkan
terlebih dahulu. Untuk bahan batuan seberat 50 kg, gunakan HNO3
konsentrasi 68% sebanyak 400 ml, yang diencerkan dengan air 4 liter.
Lakukan pengadukan secara merata selama 30 menit (pengadukan yang
lebih lama akan semakin menguntungkan dalam proses liberalisasi
permukaan bijih emas).

H2SO4 merupakan bahan pelarut yang relative murah disbanding HNO3


maupun HCl., namun efektifitasnya juga sangat baik sebagai oksidator.
Asam sulfat teknis memiliki konsentrasi 98%, sehingga pemakaiannya
relative lebih sedikit disbanding HCl teknis yang berkonsentrasi 32%.
Penggunaan H2SO4 untuk 50 kg bahan raw material sebanyak 250 ml,
kemudian diencerkan oleh air 3 liter (pengenceran dilakukan secara hati-
hati, karena pada peristiwa ini menghasilkan panas yang tinggi yang
berpotensi melukai !) sebelum dicampur dengan Lumpur. Lakukan
pengadukan selama pencampuran, pengadukan yang makin lama akan
lebih meningkatkan kualitas kebersihan bijih emas.

Total waktu proses pembersihan yang menggunakan oksidator kuat


sebaiknya minimum selama 4 jam, selanjutnya diamkan Lumpur beberapa
waktu sehingga mengendap. Kemudian larutan yang menggenangi Lumpur
dibuang, bilas 2 kali dengan air bersih dan buang semua air sisa bilasan.

6. Proses oksidasi logam-logam pengotor yang dilakukan oleh beragam


oksidator kuat di atas belum cukup untuk meliberalisasi seluruh kulit bijih
emas, karena lapisan silica yang masih menempel di sebagian besar bijih

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas tak mampu dilarutkan oleh oksidator tersebut. Untuk melarutkan jenis
pengotor ini (silica) dapat menggunakan bahan kimia soda ash Na2CO3
atau caustic soda NaOH. Masukkan bahan tersebut sebanyak 2 kg ke dalam
Lumpur 50 kg, kemudian aduk hingga merata. Reaksi pencampuran ini akan
menghasilkan panas, terutama jika menggunakan caustic soda (hati hati
terhadap caustic soda, khususnya bagian mata, karena dapat menyebabkan
kebutaan jika terkena caustic). Berbagai reaksi kimia akan terjadi pada tahap
ini, dan pemanasan akan meningkatkan kecepatan reaksi.
7. Masukkan 5 liter air mendidih ke dalam wadah sembari terus dilakukan
pengadukan secara berkala hingga 3 jam (lebih membantu jika
menggunakan mesin agitator sebagai pengaduk). Perebusan campuran
Lumpur dan soda akan menghasilkan proses yang terbaik disebabkan
tingkat panas yang tinggi tetap terjaga selama beberapa waktu, ini
mengakibatkan kecepatan pelarutan silica terjaga tetap tinggi selama
perebusan berlangsung. Perebusan tak dapat dilakukan jika bahan kimia
yang digunakan adalah caustic soda, karena pada suhu tinggi senyawa ini
bersifat sangat korosif terhadap apapun, meskipun terhadap wdah yang
terbuat dari stainless steel. Hasil dari proses ini adalah terlarutnya sebagian
silica terutama butiran yang sangat halus, menyebabkan berkurangnya
kerapatan partikel Lumpur. Pecahan silica yang masih menempel pada
permukaan bijih emas juga ikut terlarut, sehingga terjadi proses liberalisasi
terhadap permukaan bijih emas. Sebagian lapisan mineral pengotor yang
menyelimuti permukaan logam emas juga ikut teroksidasi selama proses
reaksi soda, sehingga permukaan bijih emas makin bersih setelah proses ini
berlangsung.
Pada proses ini, terjadi perubahan pH Lumpur selama berlangsungnya
reaksi. Pada tahap awal pH Lumpur sangat tinggi (14), nilai pH menurun
seiring terjadinya pelarutan. pH akan turun hingga angka 7, yang
menandakan bahwa seluruh soda telah bereaksi dengan silica menjadi
water glass. Akan tetapi untuk mencapai angka ini kita mengalami kesulitan
disebabkan perlunya mempertimbangkan waktu proses yang ekonomis.
Waktu moderat yang terbaik adalah 6 jam terhitung sejak awal pencampuran
soda dengan Lumpur.

8. Biarkan pengendapan cairan pada Lumpur beberapa waktu hingga terjadi


pengendapan sempurna, kemudian buang cairan yang menggenangi
Lumpur (cairan ini berupa senyawa larut water glass Na2OSiO2 dan berbagai
senyawa larut lainnya). Lakukan pembilasan Lumpur 2 x menggunakan air
panas dan selalu buang air sisa bilasannya.
9. Setelah pembilasan kemungkinan angka pH masih berada di wilayah basa
(pH di atas 7). Pada situasi ini sebagian besar bijih logam terbasahi oleh
larutan ; artinya sifat dasarnya yang hydrophobic berubah menjadi
hydrophilic (suka air), sehingga kemungkinan terjadinya amalgamasi dengan
merkuri masih rendah. pH harus diturunkan hingga berada di kisaran netral

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
(pH = 7), dan penurunan ini sebaiknya menggunakan HCl atau H2SO4 encer.
Hentikan pemberian HCl atau H2SO4 saat pH sudah mencapai nilai 7.
10. Bilas Lumpur dengan air tawar 2 x, buang sisa bilasannya. Selanjutnya
masukkan Lumpur ke dalam tromol/glundung, campur dengan air hingga 2,5
dari volumenya. Masukkan merkuri secukupnya agar terjadi amalgamasi,
masukkan 1-2 as penggerus berdiameter kecil sebagai pengaduk, lalu tutup
dan putar tromol selama 1-2 jam.
11. Hentikan mesin pemutar, keluarkan seluruh Lumpur dari tromol dan
pindahkan ke bak Lumpur. Pisahkan merkuri dari Lumpur dengan cara
mengaduk bak sembari memasukkan air hingga Lumpur secara bertahap
keluar dari bak. Bersihkan logam merkuri dari sisa-sisa Lumpur maupun
pasirnya, selanjutnya masukkan ke dalam wadah baskom yang telah diberi
bongkahan es. Penggunaan bongkahan es dimaksudkan untuk
menurunkan suhu logam merkuri, agar logam semakin mengental. Makin
kentalnya logam merkuri menyebabkan lapisan merkuri yang melapisi bijih
emas semakin tebal, sehingga tingkat kemungkinan partikel emas halus
lolos dari pori-pori kain semakin kecil akibat diameter totalnya meningkat
akibat penambahan ketebalan logam merkuri yang mengamalgamasi.
12. Masukkan hasil perasan (kumpulan bijih emas yang telah teramalgamasi) ke
dalam pipa logam yang pada ujungnya telah ditutup (buntu), tempatkan
gumpalan logam di sisi yang ditutup. Miringkan pipa, dengan sisi logam
berada di atas, panaskan dengan api bersuhu rendah pada sisi yang dihuni
gumpalan logam. Pemanasan akan memuaikan logam merkuri, sehingga
sebagian besar merkuri yang mengamalgamasi bijih emas akan keluar dari
gumpalan, dan turun dan menyatu di sisi bawah dari pipa. Hasil dari proses
ini adalah kumpulan bijih emas yang masih terikat satu dan lainnya oleh
sedikit sisa-sisa logam merkuri.
13. Masukkan gumpalan ke dalam wadah kaca pyrex (sebaiknya kaca pyrex
yang tahan panas), kemudian masukkan larutan HNO3 encer 2M sebanyak
1x volume gumpalan logam, kemudian panaskan hingga reaksi berhenti.
Hasil dari proses ini terjadi pelarutan sisa logam merkuri dan tembaga,
bagian yang tak larut adlah bijih-bijih emas perak. Pisahkan bagian padat
dari larutannya, bilas dan hasil bilasan campur dengan larutan yang
dipisahkan.
14. Endapan dilebur dengan api hingga suhu 11000C, gunakan borax sebagai
fluks dan pembersih logam cair. Hasil dari proses ini adalah cairan logam
emas yang kemudian membeku jadi logam paduan emas dan perak setelah
pembakaran dihentikan.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
VI. PROSES PENGHALUSAN BATUAN

VI.1. Pengolahan Skala Menengah-Besar

Batuan emas sebelum dilarutkan harus dihaluskan terlebih dahulu hingga


mendapatkan ukuran partikel < 0,05 mm. Tujuan penghalusan adalah untuk
mempersingkat waktu pelarutan, memaksimalisasi
hasil pelarutan dan membuka selubung logam dan
meliberalisasi logam emas dari logam-logam
pengotor.

Penghalusan dimulai dari proses penghancuran


menggunakan jaw crusher untuk memecah batuan
menjadi ukuran kecil. Proses ini disebut
crushing. Proses selanjutnya adalah grinding
menggunakan alat yang disebut hammer mill.
Hasil dari proses grinding adalah tepung batuan
dengan ukuran 1 mm. Proses terakhir adalah
milling menggunakan alat yang disebut ball
mill. Hasil dari proses ini adalah partikel lumpur
dengan ukuran diameter <0,05 mm.

Gambar VI.1. Jaw Crusher

Gambar VI.2. Hammer Mill

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Dalam proses ekstraksi emas
dari batuan, dibutuhkan
partikel lumpur yang sangat
halus agar materi logam yang
terkandung menjadi mudah
terlarutkan. Materi lumpur
yang sangat halus juga
membantu mengurangi bijih
emas yang bersifat refraktory,
sehingga makin memudahkan
proses oksidasi terjadi.Batuan
emas debu (emas ukuran
halus) memerlukan proses
liberalisasi untuk
membebaskan partikel emas dari berbagai material pembungkus lainnya. Oleh
karena itu, semakin halus ukuran partikel batuan maka akan semakin besar peluang
partikel emas terbebaskan.

Memang tak mungkin untuk meliberalisasi total seluruh partikel emas halus dari
pengotornya melalui proses mekanik, akan tetapi penggerusan yang maksimum
setidaknya membantu mempercepat proses ekstraksi berikutnya, yang merupakan
proses hydrometallurgy.

Ukuran yang paling tepat adalah mesh 300 ke atas, akan tetapi untuk mencapai
keseragaman dalam ukuran merupakan suatu hal yang sangat sulit dan
membutuhkan waktu yang relatif lama. Disamping itu harus dipertimbangkan biaya
operasional dan berbagai komponen penyusutan terhadap peralatan. Oleh karena
itu ukuran minimum yang terbaik adalah minimum mesh 200, hingga mesh 400.

Penghalusan maksimum diperoleh melalui proses milling yang menggunakan ball


mill atau bisa juga menggunakan alat yang disebut rood mill. Untuk meringankan
proses ini, dibutuhkan umpan yang juga sudah halus. Oleh karena itu tepung yang
berasal dari hammer mill sebaiknya telah memiliki ukuran minimum mesh 50
sebelum dimasukkan ke ball mill.

VI.2. Pengolahan Skala Kecil

Pada pengolahan skala kecil dan menengah, biaya investasi peralatan mekanis
pengolahan batuan menjadi masalah yang cukup serius. Pengolahan skala kecil
memiliki keterbatasan dalam penyediaan bahan baku raw material, juga
keterbatasan dalam segi permodalan.

Jaw crusher hanya efektif digunakan untuk penghancuran bahan baku dalam jumlah
yang relatif besar. Disamping itu banyak dari jaw crusher yang diperdagangkan

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
memiliki kualitas baja yang kurang baik sehingga mudah mengalami keausan,
terutama jika digunakan untuk menghancurkan batuan berjenis silika.

Hammer mill juga memiliki keterbatasan dalam skala kekerasan, terutama jika
menggunakan bahan pemukul yang tak terbuat dari baja mangan. Sebagian besar
peralatan yang diperdagangkan memiliki pemukul yang terbuat dari baja biasa,
sehingga mudah mengalami keausan jika digunakan untuk menghaluskan batuan
berjenis silika. Hammer mill dengan pemukul baja mangan juga memiliki harga yang
tinggi, khususnya harga pemukul.

Biasanya pengolahan tradisional menggunakan cara manual (menggunakan


hammer/palu) untuk pemecah batu, sehingga biaya produksi mahal karena faktor
upah tenaga kerja dan lama waktu proses pemecahan.

Pada beberapa daerah, pemecah batu sudah mulai sedikit dimodernisasi dengan
peralatan semi otomatis. Sebagian daerah di pulau Sulawesi menggunakan alat
yang dinamakan tumbuk-tumbuk, yaitu suatu silinder baja pejal yang digerakkan
oleh mesin secara vertikal. Baja pejal berfungsi menggantikan palu, dan mesin
menggantikan tenaga manusia dalam menggerakkan palu. Baja digerakkan naik
menggunakan roda gila dan turun secara gravitasi, sehingga tenaga pemukul
berasal dari tenaga gravitasi baja pejal tersebut. Baja disusun paralel 3-6 baris,
dengan pergerakan yang bergiliran satu dan lainnya. Bahan baku batuan
ditempatkan di landasan, dan hancur ketika bertumbukan dengan as baja pejal
tersebut. Sayangnya metode ini pun masih belum efisien karena masih
membutuhkan tenaga manusia yang selalu mengisi batu satu persatu pada
landasan, dan mengambil batu yang telah terhancurkan secara manual. Metode
tumbuk-tumbuk ini belum tepat untuk mengolah bahan raw material dalam jumlah
yang banyak, karena terkendala oleh proses manual dan output yang kecil.

Sebagian daerah lainnya memodifikasi tabung baja besar yang dibentuk seperti
mesin tromol (glundung). Pada bagian dalam diisi 1-2 batang as baja berdiameter
besar (3-5 inci), yang tetap (permanen) berada dalam tabung sebelum dan setelah
proses penghancuran dilakukan. Tabung berukuran diameter 70-100 cm, panjang 1-
1,25 meter. Tabung digerakkan berputar agar as baja yang berposisi di bagian
dalam bekerja menghancurkan batuan. Penggerak dapat menggunakan mesin
diesel, atau dapat juga menggunakan motor listrik. Kapasitas alat ini mampu
menghancurkan 600 kg batuan menjadi pasir dalam sekali proses, yang
berlangsung selama 2 jam. Alat seperti ini mulai banyak digunakan, terutama di
Sulawesi Utara. Dari berbagai pengalaman, penggunaan alat ini cukup efektif untuk
pengolahan batuan emas 1-2 ton per hari.

Pasir yang dihasilkan dari penghancuran batuan tersebut selanjutnya dikeluarkan


dari tabung dan ditempatkan dalam bak pasir di bagian lantai. Pasir kemudian
dimuat ke dalam tromol/glundung untuk dihaluskan hingga menjadi lumpur. Proses
penghalusan umumnya berlangsung selama minimum 4 jam, agar hasil maksimal
bisa didapatkan. Untuk memperoleh penghalusan maksimum, sebaiknya volume

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
pasir yang dimasukkan maksimum dari volume tromol/glundung. Air kemudian
diisi hingga 70% dari volume tabung agar lumpur tak terlalu kental. Kurangnya
jumlah air berpengaruh terhadap keseragaman ukuran partikel lumpur, sehingga
sebaiknya air yang dimasukkan lebih baik berlebih agar lumpur menjadi relatif
encer. Makin encer lumpur, makin seragam dan halus lumpur yang terbentuk dari
hasil penggerusan tromol/glundung.

Pada batuan yang mengandung pertikel logam emas sangat halus (emas debu),
penghalusan adalah bagian dari proses yang sangat penting. Sebagian dari butiran
emas debu terbungkus secara permanen oleh senyawa silica sehingga tak dapat
diliberalisasi oleh proses oksidasi. Agar partikel emas jenis ini terbebaskan oleh
pembungkusnya, sebaiknya proses penghalusan dilakukan dengan baik dan teliti.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
VII. PENGUJIAN MINERAL EMAS

Pengujian material batuan atau lumpur sangat perlu dilakukan sebelum proses
produksi. Pengujian, disamping untuk mengetahui jumlah logam emas di dalam
lumpur, juga dimaksudkan untuk mengetahui kandungan logam-logam pengikut
(logam pengotor) di dalam lumpur, sehingga dapat ditentukan jenis oksidator apa
yang tepat terhadap lumpur atau batuan tersebut.

Beberapa jenis logam yang penting dideteksi sebelum memutuskan mengolah


batuan atau lumpur antara lain logam emas, perak, tembaga, merkuri, timbal,
palladium, molybdenum, dan zinc. Sedangkan unsur non logam adalah karbon
bebas di dalam batuan. Pengujian deteksi awal logam-logam dapat dilakukan
secara sederhana dengan menggunakan alat yang relatif sederhana pula, seperti
penjelasan pada sub-bab VII.A berikut ini.

Langkah pertama, batuan digerus halus hingga berukuran minimum mesh 150,
ambil sampel 5 kg. Sampel digunakan untuk pengujian logam-logam pengotor, dan
pengujian kandungan emas dan perak.

VII.1. Pengujian Kandungan Logam Pengotor

Pada sub-bagian ini, pengujian logam pengotor dilakukan menggunakan metode


analisa kualitatif dan kuantitatif pada logam-logam pengotor yang umum ditemukan.

1. Sampel dipanggang (disangrai) diatas api hingga membara berwarna merah.


Tujuan pemanggangan adalah untuk mengoksidasi tepung batu secara
cepat, proses desulfurisasi terhadap mineral-mineral refraktory, dan proses
oksidasi karbon alami agar menguap dari sampel.
2. Kemudian tempatkan sampel di dalam ember plastik ukuran volume 20 30
liter. Masukkan 300 ml larutan HNO3 pekat 68% bersama 3 liter air ke
dalam ember; aduk 1 menit. Selanjutnya masukkan sampel tepung batu 5 kg
(yang telah dipanggang / sangrai) ke dalam ember secara bertahap, aduk
hingga menjadi lumpur selama 5 menit, kemudian masukkan 100 ml H2O2
50% secara bertahap (hati-hati dalam penuangan, jika dilakukan sekaligus
akan mengakibatkan reaksi yang berlebihan dan dapat menimbulkan gejolak
dan panas yang berlebihan) dan aduk kembali selama 10 menit (gunakan
masker selama proses ini) kemudian diamkan selama 30 menit. Ulangi
kembali pengadukan selama 15 menit, lalu diamkan kembali selama 30
menit.
3. Pisahkan endapan dari larutannya dengan cara penyaringan
4. menggunakan kertas saring/ kain halus mesh 250 atau lebih. Lakukan
pembilasan lumpur yang telah diperas dengan air bersih, kemudian saring

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
kembali. Tempatkan larutan yang telah bening ke dalam wadah kaca/plastik
yang bersih.
5. Masukkan HCl encer (pengenceran 4x dengan air) ke dalam larutan
sebanyak 5 ml, atau garam dapur yang belum beryodium secukupnya. Jika
terbentuk suspensi endapan putih seperti kapur, lanjutkan pemberian HCl
hingga tak terjadi lagi endapan baru. Jika terjadi endapan putih,
kemungkinan lumpur mengandung mineral logam timbal, merkuri, dan
kemungkinan sedikit logam perak. Lakukan penyaringan endapan putih dan
pisahkan dari larutan. Lebur endapan putih menggunakan caustic soda di
dalam krus (kowi/kana/kemek) hingga mencair, lalu dinginkan. Jika terdapat
bintik-bintik logam berwarna putih perak kebiruan, berarti lumpur
mengandung sejumlah besar logam timbal. Jika kandungan logam timbal
dalam lumpur di atas 1%, proses pembersihan perlu dilakukan sebelum
melakukan proses leaching (jika ekstraksi larutan menggunakan karbon
aktif). Proses pembersihan dilakukan setelah proses oksidasi, yaitu dengan
cara mengendapkan lumpur di dalam reaktor dan kemudian menguras
larutan bening yang berada di atas permukaan lumpur. Pada batuan yang
memiliki kandungan logam timbal dalam jumlah yang relative besar,
oksidator yang tepat digunakan dalam proses oksidasi adalah asam nitrat.
6. Jika larutan berwarna hijau kebiruan, ada kemungkinan lumpur juga
mengandung logam tembaga dalam jumlah yang signifikan. Masukkan
garam sodium sulphide Na2S ke dalam larutan secara bertahap. Jika
terbentuk endapan hitam, tambahkan terus Na2S hingga tak terbentuk
endapan baru lagi. Saring dan pisahkan endapan darji larutannya. Cuci
endapan dengan larutan HCl encer (pengenceran 4x), kemudian keringkan.
Selanjutnya lebur endapan dengan nyala api di dalam krus, gunakan caustic
soda sebagai fluks. Jika terbentuk logam berwarna merah, maka lumpur
mengandung sejumlah tertentu logam tembaga. Timbang butiran logam,
bandingkan dengan berat lumpur yang diproses, sehingga dapat diketahui
persentase logam tembaga terhadap batuan. Untuk batuan yang
mengandung tembaga di atas 0,025% (di atas 250 gram per ton), proses
leaching yang menggunakan karbon aktif sebagai ekstraktor tanpa terlebih
dahulu melakukan treatmen terhadap tembaga akan sangat merugikan
dalam hal penggunaan sianida dan karbon. Oleh karena itu setelah proses
oksidasi perlu dilakukan proses pengurasan cairan (seperti halnya yang
dilakukan pada nomor (4) di atau untuk jenis batuan yang memiliki
kandungan tembaga cukup tinggi, oksidator yang tepat digunakan adalah
asam nitrat, jika memang larutan hasil oksidasi dikuras sebanyak mungkin.
Akan tetapi jika kandungan tembaga cukup kecil, penggunaan oksidator
asam klorida, atau hydrogen peroksida, atau timbal nitrat menjadi lebih
tepat.
7. Batuan yang mengandung logam pengotor cukup tinggi pun dapat dileaching
tanpa proses pengurasan cairan setelah oksidasi, hal ini dapat dilakukan jika

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
proses ekstraksi tidak menggunakan karbon, akan tetapi ekstraksi dilakukan
menggunakan proses elektrowinning.

VII.2. Pengujian Kandungan Emas dan Perak

VII.2.1. Pengujian Terukur.

Lumpur ampas dari pengujian sub-bab VII.1. mengandung logam emas dan perak,
yang akan diuji pada sub-bagian ini. Pengujian emas dan perak adalah suatu
proses leaching mikro menggunakan kombinasi air raja, sianida, dan thiosulfat yang
dipercepat. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut :

Proses pelarutan silika.

1. Lumpur dari proses VII.1. kemudian dimasukkan dalam ember plastik,


campur dengan Na2CO3 secara bertahap sembari dilakukan pengecekan
pH lumpur. Hentikan penambahan Na2CO3 jika pH telah mencapai 7.
Tiriskan cairan dari lumpur.
2. Pindahkan lumpur ke media panci stainless steel, tambahkan 500 gram
Na2CO3 dan air secukupnya, aduk hingga merata.
3. Rebus lumpur di atas api selama 10 menit. Setelah perebusan biarkan
lumpur mengendap sempurna, hingga cairan di atasnya menjadi jernih.
4. Buang cairan, bilas dan buang kembali cairan hasil bilasan yang telah jernih.
Proses ini bertujuan melarutkan silika yang sebagian masih melapisi sebagian
permukaan bijih emas, menjadi larutan water glass Na2OSiO2.

Proses pelarutan dengan air raja.

1. Pindahkan lumpur ke wadah pyrex (beaker glass misalnya, atau panci pyrex
tahan api yang biasa digunakan untuk memasak). Gunakan beberapa
beaker glass atau panci pyrex agar sampel bisa dikerjakan dengan cepat.
Masukkan HCl encer, aduk merata, cek pH hingga mencapai angka 7.
Buang cairan jernih, bilas dan buang kembali cairannya.
2. Masukkan air raja ke dalam wadah pyrex sebanyak volume lumpur,
kemudian lakukan pemanasan di atas api sembari diaduk secara berkala.
Pemanasan sebaiknya dilakukan selama minimum 15 menit, untuk
memastikan sebagian besar bijih emas telah terlarut (jangan gunakan
pemanas dari gas selama proses ini, karena sangat beresiko terhadap
kebakaran akibat korosi uap/cairan air raja yang dapat dengan mudah
melubangi pipa gas). Jangan menggunakan media pengaduk yang terbuat
dari logam pada proses ini, meskipun terbuat dari stainless steel ! Setelah
pemanasan (hingga mendidih), biarkan lumpur mengendap sempurna,
hingga cairan di atasnya menjadi jernih. Hindarkan mencium bau uap air raja
selama proses ini, dan sebaiknya gunakan penutup wadah pyrex agar
uap/gas tak keluar selama proses perebusan berlangsung.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Lengkapi.................
3. Naikkan pH ke angka 10,5 dengan memasukkan caustic soda NaOH (soda
api).
5. Masukkan 25 gram sodium sianida NaCN, lakukan pengadukan selama 1
jam. Penggunaan NaCN pada proses ini dalam kuantitas yang berlebih agar
proses pelarutan dapat berlangsung lebih cepat.
6. Masukkan larutan H2O2 50% sebanyak 5 ml, lanjutkan pengadukan selama
30 menit.
7. Masukkan 50 gram karbon aktif ke reaktor, lanjutkan pengadukan selama 1
jam.
8. Masukkan kembali NaCN sebanyak 5 gram dan karbon sebanyak 25 gram,
lakukan kembali pengadukan selama 2 jam.
9. Saring lumpur di atas saringan kasa stainless (lumpur akan lolos dan karbon
tertahan oleh saringan). Cuci bersih karbon dari lumpur.
10. Tempatkan karbon yang telah dicuci tersebut di atas saringan kasa baja
stainless mesh 24-30, lakukan pembakaran dalam tungku bakar mini (dapat
menggunakan kaleng biscuit) hingga menjadi debu logam. Debu berwarna
coklat kemerahan mengindikasikan bahwa batuan mengandung logam emas
berkadar tinggi. Debu berwarna kuning kecoklatan mengindikasikan kadar
emas yang rendah (kadar perak yang tinggi). Debu berwarna putih abu-abu
mengindikasikan kandungan logam di dalam lumpur sangat rendah.
11. Masukkan debu karbon ke dalam wadah peleburan keramik (krus/kowi),
campur dengan tepung borax. Lakukan pembakaran menggunakan alat
pelebur bersuhu tinggi (burner). Hasil peleburan diperoleh berbagai
kemungkinan : 1.terbentuk lapisan logam emas berwarna kuning,
2.terbentuk lapisan/butiran logam emas berkadar rendah (warna keperakan),
3.tak terdeteksi adanya unsur logam.
12. Haluskan krus menggunakan penggerus hingga berukuran mesh 150,
campur dengan air dan logam merkuri. Butiran emas akan teramalgamasi
dan dapat disatukan dengan cara memeras cairan logam merkuri
menggunakan kain berpori halus. Hasil amalgamasi kemudian dilebur
sehingga membentuk butiran emas.
13. Timbang butiran emas tersebut. Hasil ekstraksi menggunakan metode ini
hanya menghasilkan 50% dari kandungan emas sebenarnya di dalam
lumpur. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil terukur, maka hasil yang
tertimbang harus dikali 2 untuk menghitung hasil sebenarnya.
14. Sebagai contoh, jika hasil yang diperoleh dari sampel lumpur 5 kg adalah
logam emas seberat 200 mg, maka hasil nyata dalam proses leaching
adalah 400 mg. Jika dari lumpur sebanyak 5 kg diperoleh emas sebanyak
400 mg, maka dalam 1 ton lumpur mengandung 80 gram logam paduan
emas perak.
15. Lakukan pemisahan logam dan pemurnian emas, timbang hasil logam
emasnya dan bandingkan dengan 1 ton material batuan. Dari perhitungan ini
diperoleh prediksi yang mendekati hasil nyata, sehingga kita sudah dapat

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
memperkirakan hasil yang diperoleh jika batuan tersebut diproses dengan
reaktor.

Gambar VII.1. Karbon Aktif

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Gambar VII.2. Proses peleburan sampel

Proses (10) hingga (13) dapat digantikan dengan proses yang lebih efisien dan
murah, yaitu ekstraksi menggunakan system elektrowinning sebagai berikut :

1. Gerus debu logam hingga halus (mesh 100)


2. Masukkan debu logam yang telah halus ke dalam beaker glass 2000 ml,
campur dengan air hingga mencapai ukuran 1800 ml.
3. Masukkan caustic soda untuk menaikkan pH menuju angka 10, aduk secara
merata.
4. Masukkan 10 gram NaCN, aduk isi beaker glass menggunakan magnetic
stirrer dengan kecepatan sedang, selama 60 menit.
5. Turunkan kecepatan hingga minimum, pasang 2 elektroda lempeng tembaga
pada ke-dua sisi yang berbeda. Hubungkan masing-masing elektroda
dengan sumber tegangan listrik searah dengan pengaturan tegangan yang
konstan pada angka 3,8 volt.
6. Emas yang larut akan tereduksi pada lempeng katoda (kutub negatif),
membentuk lapisan emas dan perak yang menutupi seluruh permukaan
lempeng tembaga. Lakukan elektrolisa selama 10 menit.
7. Setelah 10 menit, turunkan sedikit permukaan lempeng katoda, untuk
memastikan apakah semua logam emas telah tereduksi, atau masih ada
yang tersisa pada larutan. Jika pada permukaan lempeng yang diturunkan
terbentuk lapisan emas/perak, maka elektrolisa belum selesai. Jika tak
terbentuk lapisan emas/perak, dapat dipastikan bahwa proses elektrolisa
telah berlangsung dengan sempurna.
8. Larutkan lempeng katoda tipis dengan larutan HNO3 pekat, bilamana perlu
lakukan perebusan dalam panci stainless hingga seluruh logam tembaga

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
dan perak melarut. Sisa dari proses ini berupa tepung emas murni yang
mengendap di dasar panci.
9. Lebur tepung emas di dalam krus, gunakan tepung borax sebagai fluks
dalam proses peleburan. Hasilnya adalah logam emas murni kadar 99,99%.
10. Timbang logam emas, bandingkan dengan berat lumpur untuk mendapatkan
nilai kandungan emas dalam tiap ton material.

Ekstraksi debu logam pada proses-proses di atas dapat juga dilakukan dengan cara
kuantitatif sebagai berikut :

1. Rebus debu logam menggunakan larutan HNO3 pekat di dalam panci


stainless selama 15 menit, kemudian dinginkan dan endapkan.
2. Pisahkan larutan dari endapannya dengan cara penirisan dan penyaringan
(gunakan kertas saring). Larutan terdiri dari logam perak, tembaga dan
sebagainya yang larut dalam senyawa kimia asam nitrat.
3. Masukkan HCl encer ke dalam larutan agar logam perak mengendap dalam
bentuk garam perak klorida AgCl. Lebur perak klorida di dalam krus,
gunakan caustic soda sebagai fluks dan reduktor. Hasilnya adalah logam
perak dengan kadar kemurnian 99,99%. Timbang logam perak dan
bandingkan dengan berat batuan, untuk memperoleh persentase logam
perak per ton batuan.
4. Pindahkan endapan dari panci ke dalam beaker glass, masukkan air raja
(aquaregia) ke dalam beaker glass, aduk menggunakan magnetic stirrer
selama 3 jam. Larutan akan mengental dan berwarna merah kecoklatan
(warna larutan emas klorida yang khas).
5. Saring larutan dari endapannya, bilas kembali endapan dengan air, saring
dan satukan air bilasan dengan larutan emas. Setelah proses ini, maka
endapan sudah tak mengandung logam lagi.
6. Rebus larutan emas hingga mengental dan hampir membentuk Kristal. Sisa-
sisa larutan asam nitrat dan HCl akan menguap pada proses ini, sehingga
tak menyulitkan pada proses selanjutnya. Wadah logam tak diijinkan pada
proses ini, oleh karena itu gunakan wadah yang terbuat dari gelas pyrex
tahan api.
7. Untuk mengendapkan emas dari larutannya, kita dapat menggunakan garam
besi III klorida, atau dapat juga menggunakan logam tembaga sebagai
reduktor, atau dapat juga dilakukan elektrolisis terhadap larutan emas.
8. Tepung emas yang diperoleh dari hasil proses nomor (6) kemudian
dimasukkan ke dalam krus, lebur menggunakan borax atau caustic soda
sebagai fluks.
9. Timbang berat emas (kadar 99,99%), bandingkan dengan berat lumpur
awalnya agar dapat dihitung persentase atau ppm logam emas dalam 1 ton
batuan.

B2. Pengujian Indikasi.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Jika yang diinginkan hanya untuk mengetahui indikasi adanya kandungan emas di
dalam batuan/lumpur tanpa perlu menghitung secara akurat persentasenya di
dalam batuan, maka pengujian dapat dilakukan dengan cara lebih sederhana lagi,
seperti berikut ini :

1. Ambil material yang telah dihaluskan sebanyak lebih kurang 500 mg,
masukkan ke dalam botol air mineral ukuran 1500 ml, campur dengan air
hingga mencapai ukuran 2/3 dari volume botol. Kocok campuran hingga
menjadi lumpur.
2. Masukkan 5 ml larutan HCl pekat, kocok kembali selama 15 menit.
3. Masukkan 1 sendok makan caustic soda, kocok selama 5 menit.
4. Masukkan 7 gram (1,5 butir) NaCN, kocok selama 30 menit.
5. Masukkan 0,5-1 sendok makan karbon aktif, kocok selama 1 jam.
6. Saring karbon menggunakan screen baja mesh 24, cuci bersih dengan air
tawar.
7. Bakar karbon di atas kompor elpiji hingga menjadi abu logam. Ciri-ciri karbon
telah terbakar habis adalah jika sudah tak ada lagi bara api pada karbon.
8. Masukkan debu logam ke dalam krus keramik, campur dengan tepung
borax, kemudian lebur dengan api suhu tinggi hingga mencair.
9. Dinginkan krus, kemudian amati secara visual lapisan logam di permukaan
krus. Jika mengandung logam emas dalam jumlah yang signifikan, maka
akan terlihat dengan jelas logamnya oleh mata telanjang. Namun jika
kandungan logam dalam jumlah yang biasa saja (antara 5-10 gram per ton),
akan sedikit sulit melihat logam, kecuali dengan bantuan mikroskop mineral.
10. Jika hasil pengamatan secara visual memperlihatkan logam yang berwarna
dominan tembaga (merah), dapat dipastikan bahwa kandungan logam
pengotor cukup tinggi, khususnya menyangkut kehadiran logam tembaga di
dalam batuan.

Gambar VII.3. Wadah Sederhana Pengujian Indikasi Emas

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Gambar VII.4. Hasil Leburan Sampel Gambar VII.5. Mikroskop mini
perbesaran 100x

VIII. KARBON AKTIF

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
VIII.1. Bahan Baku

Karbon aktif (arang aktif) dibuat dari arang yang diproses sedemikian rupa hingga
memiliki rongga-rongga yang yang sangat banyak (porous/pori-pori), sehingga
mampu menyerap berbagai material/bahan kimia. Karbon yang diaktifkan memiliki
bentangan rongga yang sangat luas, hingga 500 m2 dalam tiap gramnya. Karbon
aktif (activated carbon) dapat dibuat dari berbagai jenis arang, dari arang yang
berasal dari tumbuhan, arang batubara, maupun arang yang berasal dari sisa
pemurnian minyak bumi.

Karbon yang dibuat dari tumbuhan memiliki berbagai keunggulan dibanding karbon
aktif dari batubara atau residu pemurnian minyak, karena rendahnya kadar belerang
dan unsur besi yang terkandung, dan jumlah rongga yang jauh lebih banyak pada
berat yang sama. Karbon aktif dari tumbuhan juga memiliki keunggulan dalam
kekerasan dan tingkat ketahanan terhadap erosi.

Kayu-kayu keras seperti kayu jati, kayu ulin, batok kelapa, cangkang kelapa sawit,
adalah bahan-bahan yang sangat bagus digunakan sebagai bahan baku karbon
aktif. Dari beberapa pengujian yang dilakukan, jenis bahan baku terbaik untuk
pembuatan karbon aktif adalah batok kelapa dan cangkang kelapa sawit. Kayu-
kayuan memiliki berbagai kelemahan, antara lain tingkat daya serap yang lebih
rendah, kekerasan yang kurang baik, rentan terhadap erosi.

VIII.2. Karbonisasi

Proses pembuatan karbon aktif dari bahan tumbuhan terdiri dari proses karbonisasi
(pembuatan arang biasa), dan proses aktifasi karbon (membuka ruang-ruang di
dalam karbon). Pada bagian ini kita hanya membahas pembuatan karbon dari
tempurung kelapa, karena memiliki kualitas yang sangat baik sebagai karbon aktif.

Karbonisasi dilakukan dengan memanaskan tempurung kelapa antara suhu 5000C


9000C agar unsur-unsur selain karbon menguap dari permukaan batok kelapa
tersebut. Pemanasan dalam udara terbuka membuka peluang ikut teroksidasinya
karbon menjadi gas CO2 (peristiwa pembakaran), sehingga pembentukan karbon
sangat sulit dilakukan. Agar proses pembakaran tak terjadi pada saat peristiwa
karbonisasi, maka perlu dilakukan pengusiran udara (O2) dari dalam ruang bakar.
Pengisolasian dari udara dapat dilakukan dengan 2 cara : menutup segala celah
udara dengan sangat rapat agar udara luar tak dapat memasuki ruang panas, atau
menyuntik gas nitrogen ke dalam ruang pemanas yang juga harus tertutup rapat
dari udara luar. Selama proses karbonisasi, unsur air, polymer minyak kelapa,
senyawa-senyawa mineral, dan unsur-unsur lainnya mengalami penguapan dan
perusakan struktur kimianya. Air akan menguap, polymer mengalami proses
depolimerisasi, senyawa karbon tereduksi menjadi karbon dan berbagai jenis gas,
senyawa besi terdekomposisi menjadi oksida tak larut Fe2O3.

Pada awal proses, tekanan ruang karbon akan naik. Asap putih keluar dalam jumlah
yang besar pada proses awal ini. Volume asap lambat laun berkurang seiring
perubahan warna dari tempurung kelapa, dari coklat menuju hitam. Setelah asap
putih berkurang, penguapan dan depolimerisasi minyak mulai terlihat. Pada bagian

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
dinding reaktor terbentuk lapisan minyak yang hitam kecoklatan dan lengket (biasa
disebut ter/aspal), dan aroma minyak kelapa mulai tercium keluar.

Proses karbonisasi harus berjalan sempurna agar kandungan zat abu dapat
menguap sebanyak mungkin, demikian juga dengan proses dekomposisi senyawa-
senyawa mineral yang terkandung dalam tempurung kelapa. Jika karbonisasi belum
sempurna, ada kemungkinan proses aktifasi tak menghasilkan karbon aktif yang
baik.

Hasil karbonisasi adalah naiknya persentase unsur karbon dalam material hasil.
Senyawa-senyawa karbon dari material asal (tempurung) tereduksi menjadi karbon
pada proses ini. Kandungan unsur-unsur pengotor masih cukup banyak pada
karbon hasil pemanasan ini, seperti unsur abu, senyawa-senyawa logam, dan ter.
Secara fisik bentuk material juga mengalami perubahan, terutama warna dan
fleksibilitas. Warna berubah menjadi hitam (arang), dan kelenturan jauh berkurang.
Karbonisasi yang baik menghasilkan arang yang lebih padat dan berwarna sedikit
mengkilap. Karbonisasi yang kurang baik menghasilkan arang yang kusam dengan
berat jenis yang lebih ringan.

VIII.3. Aktifasi

Proses aktifasi secara fisika : bahan karbon dipanaskan hingga 7000C 12000C,
sambil dilakukan oksidasi oleh uap air, atau karbon dioksida, atau gas nitrogen.
Proses aktifasi secara fisika berlangsung relatif lama (6-12 jam), makin lama akan
menghasilkan karbon aktif dengan daya serap yang makin baik.

Proses aktifasi secara kimia bertujuan menurunkan suhu pemanasan, memperbaiki


tingkat daya serap karbon, dan memperbaiki kekerasan karbon. Aktifasi terbaik
secara kimia menggunakan garam zinc II klorida, yang direndam bersama karbon
selama 24 jam. Aktifasi menggunakan bahan kimia sebagai katalis. Suhu aktifasi
maksimum 7000C. Sebelum aktifasi pori-pori karbon masih sangat halus, sehingga
perlu diperluas agar mampu menyerap berbagai ukuran molekul.

Proses aktifasi secara kimia sangat menguntungkan dibanding aktifasi secara fiska,
terutama menyangkut penggunaan energi pada saat proses aktifasi berlangsung.
Aktifasi secara fisika berlangsung pada suhu yang sangat tinggi (hingga 12000C)
dan dalam rentang waktu yang relatif lebih lama (6-12 jam).

Pada bagian ini kita hanya membahas proses aktifasi menggunakan bahan kimia
sebagai katalis, karena lebih menguntungkan dari biaya produksi dan kualitas
karbon aktif yang dihasilkan lebih baik dibanding karbon aktif hasil proses fisika.

Proses Aktifasi

Aktifasi secara kimia bisa menggunakan berbagai bahan kimia, namun kita akan
menitikberatkan pada zinc klorida ZnCl2 sebagai katalis, karena telah terbukti
hasilnya jauh lebih baik dari penggunaan bahan kimia jenis lainnya.
Zinc Klorida dapat dibeli dengan mudah di hampir setiap penyalur bahan kimia.
Bahan ini pun dapat dibuat dengan mudah dari logam zinc (Zn) atau dari tepung
oksida zinc (ZnO), menggunakan HCl sebagai pelarut. 1 kg HCl pekat (32%)
mampu melarutkan hingga 1 kg tepung logam zinc menjadi senyawa larut ZnCl2.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Ada baiknya melebihkan unsur zinc dalam proses pelarutan, agar diperoleh larutan
garam ZnCl2 yang jenuh dan pH yang mendekati 7.

Proses aktifasi berlangsung dalam beberapa tahap, yaitu :

 Karbon hasil karbonisasi direndam dalam larutan zinc klorida (ZnCl2) selama
24 jam. Garam ZnCl2 sebanyak 10 gram/liter air, tempatkan dalam wadah
plastik. Sebaiknya gunakan air suling (aquadest) selama proses ini, atau
setidaknya air yang memiliki kandungan mineral larut yang realtif rendah.
Penuhi cairan dengan karbon, namun sisakan bagian atas tetap harus
tergenang.
 Tiriskan karbon dari sisa air, kemudian pindahkan ke tabung reaktor tegak
untuk dilakukan proses pemanasan. Reaktor bisa terbuat dari bahan
stainless steel jika bagian dalam tidak dilapisi oleh bahan penahan panas
(pemanasan menggunakan api yang membakar tabung dari luar. Reaktor
yang baik menggunakan bahan penahan panas di bagian dalamnya, bata
tahan api misalnya, seperti proses pembuatan furnace. Pada reaktor ini,
pemanasan dilakukan langsung dari bagian dalam, menggunakan pemanas
elemen listrik, dan tabung dapat dibuat dari bahan baja saja.
 Pemanasan dilakukan selama 5 jam, dengan laju kenaikan suhu 40C/menit.
Alirkan gas nitrogen ke dalam reaktor selama proses aktifasi, agar tak terjadi
pembakaran karbon oleh udara. Pada proses ini garam ZnCl2 akan keluar
dari pori-pori karbon akibat proses thermodinamika, dan posisinya digantikan
oleh gas N2 yang terserap ke dalam rongga karbon. Pada saat suhu
mencapai puncaknya (7000C), pertahankan keseimbangan suhu selama 3
jam. Selanjutnya hentikan pemanasan, dan biarkan pendinginan secara
alami, sembari dialirkan gas nitrogen.
 Setelah mencapai suhu kamar, masukkan karbon ke dalam larutan HCl
encer 1M (pengenceran menggunakan air suling/aquadest dalam kondisi
panas), biarkan selama maksimum 5 menit.
 Selanjutnya tiriskan karbon, bilas menggunakan air dingin (aquadest), cek
pH hingga netral (6,5-7).
 Selanjutnya keringkan karbon pada suhu 1100-1200C selama 24 jam,
sebaiknya alirkan juga gas N2 secara berkala pada proses ini.
 Lakukan pendinginan secara alamiah, sembari tetap mempertahankan
kehadiran gas N2 dalam ruang karbon.

Hasil proses aktifasi adalah karbon aktif yang memiliki rongga-rongga cukup
banyak. Angka IN (iodine number) meningkat hingga 800-1200 mg/g, demikian juga
dengan MN (molasses number). Secara fisik karbon masih memiliki berbagai
ukuran, mulai dari yang terhalus (tepung karbon) hingga keping-keping karbon.

Keping karbon selanjutnya ditumbuk menggunakan crusher untuk memperkecil


ukurannya. Hasil crushing selanjutnya diayak untuk mengelompokkan masing-
masing jenis karbon.
 Karbon halus, adalah partikel arang yang lolos dari saringan mesh 25-30.
Terhadap material karbon halus ini, lakukan penggerusan hingga
memperoleh ukuran yang seragam (tepung karbon). PAC tak tepat
digunakan sebagai adsorben pada proses pengolahan emas jika
menggunakan metoda CIP, karena tak terpisahkan dari lumpur yang
memiliki ukuran relatif sama besar, namun sangat baik untuk mengekstrak

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas dari larutan beningnya. Tepung karbon (PAC = Powdered Activated
Carbon) banyak digunakan sebagai filter udara, filter air, dan banyak
penggunaan lainnya. Tepung karbon aktif memiliki tingkat serap yang lebih
tinggi dibanding karbon jenis granular, karena tingkat oksidasi yang dialami
lebih baik dibanding jenis granular.
 Karbon kasar (GAC) cocok digunakan untuk proses ekstraksi emas
menggunakan metode CIP (Carbon In Pulp = karbon yang dicampur dengan
lumpur cair). GAC memiliki ukuran yang besar dan mudah dipisahkan dari
partikel halus, utamanya debu dan lumpur. Proses pengolahan emas
umumnya menggunakan GAC karena mudah dalam penanganan dibanding
PAC. Dalam kasus tertentu, penggunaan PAC lebih menguntungkan,
khusunya berkaitan dengan sistem heap/dump leaching yang menghasilkan
larutan bening bebas dari lumpur. GAC memiliki daya serap yang lebih
rendah, dan luas bentang permukaannya lebih kecil dibanding PAC.
Biasanya karbon berjenis granular mengalami abrasi (pengikisan akibat
proses aktifasi) dan menghasilkan sebagian tepung karbon, disamping hasil
utama karbon granular. Untuk pemakaian dalam pengolahan emas yang
menggunakan metoda CIP, karbon halus ini harus dipisahkan terlebih
dahulu dari butiran karbon menggunakan air bersih atau semprotan udara
bertekanan, kemudian menyaring butir karbon menggunakan saringan mesh
30. Pemisahan diharuskan karena daya serap karbon halus jauh lebih besar
dan tak mampu dipisahkan kembali dari lumpur (pada saat pengolahan
lumpur emas).

Iodine Number (IN)

Karbon menyerap dengan sangat baik unsur iodine, sehingga daya serap terhadap
iodine menjadi patokan utama untuk menentukan kualitas suatu karbon aktif.
Kebanyakan karbon aktif mampu menyerap molekul-molekul berukuran kecil,
seperti molekul iodine. Ukuran daya serap iodine adalah miligram iodine/gram
karbon aktif. Angka 300 iodine number = 300 mg iodine/1 gram karbon aktif, angka
1100 iodine number = 1100 mg iodine terserap oleh 1 gram karbon aktif (1,1 gram
iodine berhasil diserap oleh 1 gram karbon aktif.

Iodine memiliki ukuran molekul yang relatif halus, sehingga mampu terserap dengan
baik oleh karbon. Ukuran rongga halus karbon aktif antara 0 20 A0, atau ukuran
diameter 0 2 nanometer (nm). Ukuran daya serap terhadap molekul emas tentu
berbeda dengan iodine number, meskipun secara umum peningkatan iodine
number secara signifikan akan meningkatkan jumlah rongga ukuran medium dan
besar. Molekul emas memiliki ukuran yang cukup besar, sehingga memerlukan
ukuran rongga yang lebih besar pula. Oleh karena itu pertimbangan angka iodine
number saja belum cukup untuk menentukan kualitas suatu karbon aktif dalam
penyerapan mineral emas.

Molasses Number

Molasses Number adalah kemampuan suatu karbon aktif menyerap molekul


berukuran sedang (lebih besar dari 20 A0 atau lebih besar dari 2 nm). Nilai
molasses number yang baik antara 95 600 (95 mg 600 mg molekul ukuran
menengah / 1 gram karbon aktif). Pengujian sederhana tingkat penyerapan molekul
besar dapat dilakukan terhadap larutan gula atau larutan tembaga sulfat CuSO4.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Karbon yang memiliki banyak rongga besar dapat menyerap molekul gula dengan
sangat baik. Dengan menggunakan ukuran berat karbon yang tepat dan berat gula
yang akan diserap, maka angka molasses number dapat ditentukan setelah proses
penyarapan selama 6 jam dilakukan.

Pengujian sederhana tingkat serapan karbon aktif terhadap molekul besar dapat
juga dilakukan menggunakan larutan CuSO4. Molekul CuSO4 memiliki ukuran yang
relatif besar, sehingga sangat tepat untuk menguji kualitas karbon aktif yang akan
digunakan untuk proses ekstraksi mineral emas.
 Masukkan sejumlah karbon yang telah ditimbang beratnya ke dalam media
larutan CuSO4 yang berwarna biru. Jika ingin membandingkan dengan
karbon produk lain, lakukan pengujian secara paralel, dengan berat karbon
sama dan berat CuSO4 juga sama.
 Selama proses pengujian, karbon akan menyerap garam copper sulfate
(CuSO4), dan pada akhirnya larutan akan berubah warna menjadi bening.
 Perubahan warna selama pengujian berlangsung secara linier, lakukan
pengujian selama 6 jam. Karbon aktif yang lebih baik akan menyerap copper
sulfat lebih banyak dari karbon yang berkualitas kurang baik.

Karbon aktif tak menyerap dengan baik beberapa senyawa, seperti : gas CO2, gas
CO, alkohol, glikol, asam dan basa kuat, logam-logam dan senyawa anorganiknya
(senyawa lithium, besi, timbal, arsen, fluorine, dan borax). Tingkat serapan yag
kurang baik tersebut dikarenakan jenis molekul yang terserap berukuran sangat
kecil (seperti asam-asam anorganik) atau sangat besar (senyawa timbal, borax,
dsb).

Berat jenis juga menjadi ukuran kualitas suatu karbon aktif. Berat jenis yang makin
besar memiliki kualitas yang makin baik, demikian juga sebaliknya.

Gambar Karbon Hasil Karbonisasi

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Dari gambar di atas, hasil karbonisasi menampilkan struktur atom karbon yang
sangat rapat, sehingga hanya tersedia rongga-rongga halus dalam jumlah yang
relatif kecil. Pada dasarnya peristiwa karbonisasi saja pun sudah membuka pori-pori
karbon, namun rongga yang terbentuk masih berukuran kecil dan jumlahnya pun
belum maksimal.

Daya serap iodine pada karbon hasil karbonisasi masih rendah, dibawah 100 mg / 1
gram karbon, sehingga belum layak disebut sebagai karbon aktif. Aktifasi
sebenarnya bertujuan membuka dan memperbesar volume rongga-rongga karbon,
sehingga daya serapnya terhadap partikel asing makin tinggi.

Micropore (rongga halus) Mesopore (rongga sedang Macropore (rongga besar)

Gambar Karbon aktif dengan kombinasi ukuran rongga lengkap

Gambar di atas menampilkan ilustrasi karbon yang telah diaktifasi. Hasil aktifasi adalah
terbentuknya rongga-rongga karbon dengan berbagai ukuran; rongga halus (micropore),
rongga medium (mesopore), dan rongga besar (macropore).

Untuk pengolahan emas dibutuhkan rongga-rongga medium dan rongga besar. Makin
banyak persentase rongga medium dan besar pada ruang karbon, makin tinggi kapasitas
serap karbon tersebut terhadap senyawa emas.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Molekul Ukuran Medium Molekul Ukuran Mikro Molekul Ukuran Besar

Gambar Molekul Terserap Dalam Ruang Karbon

Kekerasan dan Tingkat Ketahanan Erosi Karbon.

Kekerasan menjadi pertimbangan utama terhadap tingkat erosi suatu karbon aktif.
Kekerasan yang baik memiliki tingkat ketahanan erosi yang baik juga. Pada
pengolahan emas CIP (carbon in Pulp), terjadi persinggungan antara lumpur dan
karbon dalam waktu yang sangat lama. Kemungkinan erosi selama proses ini
sangat besar, karena silika memiliki kekerasan yang jauh lebih tinggi. Jika karbon
memiliki ketahanan erosi yang buruk, maka sebagian ikut terkikis dan bercampur
dengan lumpur, sehingga tingkat perolehan emas pun menjadi turun dari
semestinya. Kekerasan sangat bergantung pada jenis bahan baku karbon dan
sistem pemrosesan pembuatan karbon aktif.

VIII.4. Prinsip Kerja Karbon Aktif Dalam Proses Leaching

VIII.5. Regenerasi Karbon Aktif

Karbon aktif yag telah terpakai masih dapat digunakan jika diregenerasi kembali,
dengan cara menguras keluar material yang mengisi karbon.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
IX.ELECTROWINNING

(MAAF, SEDANG EDITING)

IX.1. Prinsip Dasar Electrowinning


IX.2. Reaksi Elektrokimia
IX.3. Korelasi Antara Tegangan dan Selektifitas Reaksi Redoks
IX.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kuat Arus

IX.5. Pembuatan Rangkaian Elektronika Catu Daya

IX.5.1. Input AC

Sumber daya listrik dari PLN (jala-jala) merupakan listrik dengan tegangan dan arus
bolak-balik (alternating curent). Tegangan listrik AC bervariasi dalam rentang 200 V
240 V, dan umumnya tegangan bergantung pada kondisi beban yang terpasang
pada saat yang sama. Tegangan ini memiliki perioda dan tentu saja frekwensi, yang
biasanya antara 50-60 Hertz (50-60 cycle/detik).

Artinya, tegangan silih berganti antara positif dan negatif, dengan nilai yang sama
ditinjau dari acuan sumbu X (titik netral). Siklus besar tegangan dan arus
membentuk gelombang kontinu yang berbentuk sinus, dengan nilai terkecil = 0 volt,
dan nilai terbesar 220 V. Karena siklus ini, maka tegangan bervariasi antara puncak
positif tertinggi = + 220 volt, dan puncak negatif = - 220 volt. Karena gelombang ini,
maka nilai tegangan sebenarnya adalah 440 volt, yang biasa disebut Vpp (peak to
peak voltage). Naik turunnya tegangan suplai dari jala-jala (PLN) memiliki pengaruh
terhadap hasil akhir dari elektrolisis, karena pada suplai daya dengan tegangan
yang tak terkendali, maka setiap kenaikan tegangan input akan membawa kenaikan
terhadap tegangan output pada beban.

Elektrolisis menggunakan tegangan listrik searah sebagai sumber daya nya, karena
arus mengalir hanya satu arah, dari kutub positif ke kutub negatif, dan elektron
mengalir dari arah sebaliknya. Jika menggunakan tegangan bolak-balik (AC)
sebagai suplai langsung proses elektrolisis, maka arus juga mengalir dalam 2 arah,
demikian juga halnya dengan aliran elektron, sehingga hasil yang diinginkan tak
mungkin tercapai, sebab resultansi hasil = 0.

Umumnya tegangan terpasang catu daya memiliki nilai yang sangat kecil jika
dibanding tegangan jala-jala, sehingga perlu dilakukan penurunan tegangan dan
menaikkan arus suplai agar proses elektrowinning dapat berjalan sesuai tujuan dan
memiliki kecepatan yag relatif tinggi. Transformator step-down adalah pilihan yang
tepat untuk menurunkan tegangan dan menaikkan arus suplai pada sebuah unit
catu daya.

Pada saat ini berkembang cara baru yang lebih irit dengan menggunakan
komponen semikonduktor sebagai alat penurun tegangan sekaligus menaikkan arus

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
suplai. Teknologi thyristor dengan SCR nya (silicon controlled rectifier) mulai
digunakan sebagai solusi penurun tegangan, namum penerapan dalam industri
elektronika belum banyak dilakukan karena masih adanya kendala terhadap
tegangan keluaran yang relatif masih tinggi.

Gambar gelombang sinus tegangan dan arus bolak-balik (AC)

Sumber listrik PLN ataupun generator memiliki tegangan yang tinggi (V = 220 volt,
dan Vpp = 440 volt), sedangkan elektrolisis umumnya dilakukan pada tegangan
yang cukup rendah. Oleh karena itu tegangan perlu diturunkan menggunakan
transformator. Transformator menurunkan tegangan AC, dan sekaligus menaikkan
arusnya. Tegangan yang keluar dari trafo tetap sebagai tegangan bolak-balik, yang
nilainya telah turun mendekati tegangan yang diinginkan pada proses elektrolisis.

~ ~

V1 220 V V2

~ ~

Gambar Trafo Stepdown

Tegangan yang keluar dari 2 ujung kabel trafo (sisi sekunder) memiliki nilai yang
sama, namun berlawanan fase pada saat yang sama. Untuk memperoleh tegangan
searah (DC), maka tegangan bolak-balik (AC) yang berasal dari sisi sekunder trafo
harus dipangkas sisi negatifnya menggunakan alat penyearah (dioda). Penyearahan
yang dilakukan pada satu ujung menghasilkan pemangkasan tegangan negatif pada
ujung tersebut.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Hasil dari penyearahan tunggal adalah terpotongnya gelombang sinus pada sisi
negatif, sehingga menghasilkan tegangan positif yang terpenggal pada frekwensi.
Dioda silikon memiliki tegangan jatuh 0,7 volt, sehingga tegangan terendah yang
lewat dari sisi keluar dioda minimum 0,7 volt. Jika tegangan input ke dioda kurang
dari 0,7 volt, maka tegangan output = 0 volt, karena tak terjadi aliran listrik yang
keluar dari dioda (dioda bertindak sebagai isolator jika tegangan input kurang dari
0,7 volt, untuk dioda jenis silikon).

Berikut gambar hasil osiloskop tegangan output dari anoda tunggal.

Gambar gelombang keluaran dioda tunggal

Penggunaan anoda tunggal akan memangkas daya keluar dari penyearah, oleh
karena itu hasil daya maksimum keluaran penyearah jadi berkurang separuhnya.
Untuk mendapatkan daya bersumber dari fase negatif keluaran trafo sekunder,
maka perlu dilakukan penyearahan yang lebih komplit, yaitu menggunakan dioda
jembatan.

Hasil penyearahan berupa gelombang DC yang mendekati kontinu, akibat


diubahnya fase negatif tegangan output trafo menjadi fase positif tegangan output
dari dioda.

Gambar osiloskop hasil penyearahan dioda jembatan

Hasil keluaran dioda menampilkan gelombang tegangan yang nilainya naik turun,
mulai dari terkecil 0,7 volt hingga nilai maksimum pada puncak kurva. Pada saat
tegangan input mencapai nilai 0,7 volt atau lebih, dioda bertindak sebagai
konduktor, melewatkan arus dan tegangan ke bagian output.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Bervariasinya nilai tegangan keluaran ini menunjukkan nilai tegangan yang dinamis
dan berubah secara periodik terhadap waktu dan puncak tegangan input AC. Jarak
antara tegangan terendah dan tertinggi disebut dengan istilah riak tegangan (riple).

Peristiwa elektrolisis mensyaratkan tegangan yang stabil pada titik tertentu, agar
hasil yang diharapkan mampu tercapai (terutama jika digunakan untuk menyeleksi
senyawa yang terlibat dalam proses redoks). Oleh karena itu pelrlu dilakukan
pelinieran (pelurusan garis tegangan) agar tegangan yang keluar memiliki selisih
nilai tertinggi dan terendah makin kecil.

Kapasitor memiliki sifat penampung arus listrik. Kapasitor memiliki analogi seperti
bak penampungan air. Air akan luber dari sisi bak apabila muatan bak sudah penuh,
dengan kestabilan keluaran yang lebih baik dibanding limpahan air yang masuk ke
dalam bak. Makin besar nilai kapasitasnya, makin stabil nilai tegangan keluarnya.

Gambar osiloskop penggunaan kapasitor sebagai tapis

Tegangan keluaran hasil penapisan kapasitor masih memiliki riak (riple), yang besar
gelombangnya sangat tergatung pada besaran kapasitor itu sendiri. Makin besar
nilai kapasitor, makin berkurang riak pada keluaran DC. Arus dan tegangan DC
yang terbaik adalah linier terhadap waktu. Penggunaan kapasitor saja belum
mampu menghilangkan riak, dan masih sangat mengganggu jika digunakan pada
proses elektrolisis.

Disamping itu, tegangan keluaran dari hasil penapisan ini juga berubah jika terjadi
pembebanan, kemungkinan turunnya tegangan di sisi primer, dan pemanasan trafo.
Pengaturan tegangan output dapat dilakukan menggunakan komponen pasif,
seperti resistor geser (potensiometer), yang nilai resistansinya dapat diubah
menggunakan pengaturan manual.

IX.5.2. Tegangan DC Teregulasi

Idealnya daya output dari catu daya haruslah memiliki tegangan yang konstan, akan
tetapi hal ini sulit didapatkan pada catu daya yang standar dan hanya menggunakan
komponen penyearah (dioda). Perubahan tegangan pada output DC disebabkan
beberapa hal, antara lain :

- bervariasinya tegangan pada line AC (jala-jala PLN), yang dapat naik turun
pada periode-periode tertentu.
- Tahanan yang dinamis pada beban (pembebanan dinamis). Pada proses
elektrolisis, beban dinamis berasal dari luas permukaan elektroda yang

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
berubah, jarak antar elektroda, suhu larutan, konsentrasi ion-ion dalam
larutan, dan beberapa sebab lainnya.

Pengatur tegangan dibuat agar tegangan output memiliki nilai yang tetap, dengan
toleransi 0,1% terhadap pengaruh perubahan tegangan.

Rectifier + Filter 0V Regulator 0V


Capasitor/Induktor Tegangan
Input AC Output

Gambar Blok Diagram Regulator Tegangan DC

IX.5.2.1. Pengatur Tegangan Pasif dan Manual

Regulator Seri dan Paralel.

Ada 2 jenis dasar pengatur tegangan sederhana yang menggunakan komponen


pasif, yaitu regulator seri dan regulator paralel. Pada regulator seri, pengatur
tegangan dipasang seri dengan beban, melalui pengaturan kuat arus yang mengalir.
Pada regulator paralel, pengatur tegangan dipasang paralel terhadap beban.
Regulator paralel berfungsi sebagai pembagi tegangan yang didistribusikan
berdasarkan besaran tegangan yang berubah terhadap besar tahanan di sisi
pengatur (potensiometer). Baik pada regulator seri maupun paralel, pengatur
tegangan menggunakan potensiometer, yaitu suatu tahanan yang nilainya bisa
diatur berdasarkan pergeseran manual terhadap lempeng karbon.

Regulator Seri

+
RV

Tegangan Input DC Tegangan Output RL (beban terpasang)


Tak diatur yang diatur

Gambar pengatur tegangan seri

Input arus dari penyearah pada regulator seri harus melewati resistor variabel
sebelum menuju beban. Tegangan output yang menuju beban terbagi dengan
tegangan resistor variabel, dimana tegangan total = tegangan resistor + tegangan
beban. Saat tegangan beban turun, maka nilai tahanan pada sisi resistor variabel
diatur dan diturunkan, sehingga tegangan beban naik kembali akibat arus yang
mengalir makin besar. Disaat tegangan beban naik, maka nilai resistor dinaikkan,
sehingga tegangan di sisi resistor naik, dan tegangan di sisi beban turun.
Penggunaan resistor pada bagian ini akan menghasilkan panas akibat efek tahanan

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
pada sisi resistor variabel, sehingga efisiensi daya menjadi rendah. Nilai kapasitas
daya resistor harus tinggi, untuk meredam panas yang timbul akibat tertahannya
sebagian daya pada resistor.

Regulator Paralel

R1
+

Tegangan Input Tegangan Output RL


Tak diatur VR dapat diatur

Gambar pengatur tegangan paralel.

Pengaturan secara paralel artinya resistor pengatur dipasang paralel terhadap


beban. Pada sistem ini, arus yang berasal dari sumber penyearah dibagi oleh nilai
tegangan di sisi beban dan sisi resistor variabel. Saat tegangan beban turun,
potensiometer diatur naik, sehingga arus mengalir di sisi beban makin besar, yang
mengakibatkan kenaikan tegangan pada sisi beban. Saat tegangan beban naik,
potensiometer diturunkan sehingga arus yang mengalir di sisi potensiometer naik,
mengakibatkan turunnya tegangan beban.

IX.5.2.2. Pengatur Tegangan Aktif

Pengaturan menggunakan komponen pasif bersifat manual dan insidental, sehingga


tak mungkin diterapkan pada proses elektrolisis. Pada proses elektrolisis, naik
turunnya tegangan di sisi beban hampir bersifat kontinu, sehingga sangat sulit diatur
secara manual. Untuk memperoleh nilai tegangan output yang tetap dari waktu ke
waktu, dibutuhkan pengatur tegangan yang bekerja secara kontinu, dan mampu
mengatur sendiri nilai tegangannya pada pembebanan yang berubah-ubah.

Pengaturan dinamis dapat dilakukan oleh komponen aktif, dalam hal ini
semikonduktor (kombinasi dioda transistor, dioda transistor dan IC, atau dioda dan
IC). Hasil pengaturan memiliki tegangan yang relatif konstan dan riple yang turun
secara signifikan.

Pengaturan sederhana dapat menggunakan dioda zenner, yang meng-set tegangan


ouput berdasarkan tegangan standar pada zenner tersebut. Dioda Zener adalah
dioda yang memiliki karakteristik mengalirkan arus listrik ke arah berlawanan jika
tegangan terpasang melampaui batas "tegangan tembus" (breakdown voltage) atau
"tegangan Zener". Ini berlainan dari diod biasa yang hanya menyalurkan arus listrik
ke satu arah.

Dioda silikon tak mengalirkan arus listrik secara berlawanan jika dicatu-balik
(reverse-biased) di bawah tegangan rusaknya. Jika melampaui batas tegangan

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
operasional, dioda biasa rusak karena kelebihan arus listrik.. Namun proses ini
adalah reversibel jika dilakukan dalam batas kemampuan. Dalam kasus pencatuan-
pencatu
maju (sesuai dengan arah gambar panah), diode ini akan memberikan tegangan
jatuh (drop voltage) sekitar 0.7 volt untuk dioda silikon.

Dioda zener
ener yang dicatu-balik
dicatu balik akan menunjukan perilaku tegangan tembus yang
terkontrol dan akan melewatkan arus listrik
listrik untuk menjaga tegangan jatuh supaya
tetap
tap pada tegangan zener.
z Sebagai contoh, sebuah diode zenerener 3.2 Volt akan
menunjukan tegangan jatuh pada 3.2 Volt jika diberi catu-balik.
catu

Namun, karena arusnya snya terbatasi, maka zener


ener biasanya digunakan untuk
membangkitkan
kitkan tegangan referensi, untuk menstabilisasi tegangan aplikasi-aplikasi
aplikasi
arus kecil, sedangkan untuk melewatkan arus yang besar dibutuhkan rangkaian
pendukung transistor daya atau beberapa transistor dan IC sebagai output.

Gambar Aplikasi
likasi Penggunaan Sederhana Dioda Zenner

Gambar pengaturan tegangan sederhana menggunakan 1 transistor

Tegangan masuk Uin memiliki nilai yang bervariasi dari waktu ke waktu, sedangkan
tegangan output Vout memiliki nilai yang stabil akibat pengaturan
pengaturan yang dilakukan
transistor. Tegangan masuk memiliki nilai yang lebih besar dari tegangan keluar.
Pengurangan tegangan terjadi pada bagian transistor, dioda, dan resistor.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas.com
Tegangan keluar pada gambar di atas = tegangan Vz tegangan Vbe, dimana Vbe
nilainya 0,7 volt. Jika tegangan output Uout pada beban turun, maka terjadi
kenaikan tegangan pada Vbe yang mengakibatkan terjadinya aliran arus dari
kolektor dan basis menuju emitor. Arus yag mengalir dari emitor mengakibatkan
kenaikan arus pada beban, yang menyebabkan naiknya tegangan pada beban.
Makin tajam turunnya tegangan, makin kuat arus mengalir menuju emitor, sehingga
tegangan pada sisi beban terstabilkan oleh transistor.

Tegangan keluar dari transistor masih memiliki riak dan belum terlalu stabil,
disebabkan penggunaan resistor sebagai pengatur arus di bagian basis transistor.
Untuk menaikkan kestabilan output tegangan, kita dapat menggunakan kombinasi
IC sebagai pengumpan dan pengatur arus pada transistor daya.

Kelemahan dari penggunaan komponen aktif adalah terjadinya hubungan singkat


(short circuit/korsleting) pada beban, sehingga nilai resistansi dari beban menuju
nol. Akibat dari ini adalah aliran arus yang mengalir lewat emitor menjadi sangat
besar, yag menyebabkan terjadinya overload pada transistor daya. Overload
menyebabkan rusaknya transistor daya dan berbagai komponen pasif di sekitarnya.
Untuk mencegah hal ini dapat dilakukan perlindungan terhadap hubung singkat
menggunakan rangkaian aktif juga (transistor misalnya).

Pada rangkaian di bawah, T1 berfungsi sebagai pembatas arus. Pada saat


tegangan R2+R3 naik lebih tinggi dari 0,7 volt, T1 terbuka, yang menyebabkan
pengurangan arus hingga 0 volt pada basis T2. Tegangan pada pengamanan
hubung singkat mulai bekerja, sebesar jumlah dari tegangan R2 dan R3. Tahanan
R3 dan R4 membentuk pembagi tegangan pada T2.

Gambar pengatur tegangan menggunakan sirkuit pengaman hubung singkat

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Gambar pengatur tegangan adjustable regulator voltage output sederhana

Pada gambar di atas, tegangan output mampu diatur besarannya dari 1,25 volt
(terendah) hingga 30 volt (tertinggi), dengan arus keluaran yang relatif rendah
(maksimum 1,5 ampere). Pengaturan tegangan output dilakukan menggunakan
potensiometer R2, yang berfungsi sebagai pembagi tegangan paralel dengan denga
tegangan output. Hasil tegangan keluaran menjadi makin halus akibat adanya
pengaturan ripple di sirkuit internal IC LM 317.

Gambar Pengatur tegangan menggunakan kombinasi IC dan Transistor

IC pada gambar di atas difungsikan sebagai operational amplifier, ampli yang


mengendalikan arus pada transistor. OP-AMP
OP AMP mengendalikan transistor dengan
arus yang lebih jika tegangan pada input invertingnya turun dibawah tegangan
output dari tegangan referensi pada bagian input non-inverting.
non inverting. Resistor-resistor
Resistor R1,

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas.com
R2, dan R3, berfungsi sebagai pengatur tegangan output, yaitu selisih dari tegangan
input Vin
in dan tegangan zenner Vz.

Aplikasi Regulator Tegangan dengan Kuat Arus Tinggi

Pada bagian ini kita membahas aplikasi pembuatan rangkaian pengatur tegangan
DC dengan suplai
plai arus optimum 30 ampere.

Rangkaian menggunakan 1 unit IC seri LM 7812 dan banyak transistor daya


sebagai gerbang output. Penggunaan 6 rangkaian transistor yang diparalel akan
menghasilkan arus keluaran hingga 30 ampere.

Gambar pengatur tegangan 12 volt dan arus 30 A.

Tegangan input pengatur tegangan haruslah lebih tinggi dari tegangan outputnya
(12 volt) agar regulator dapat mengatur nilai outputnya hingga 12 volt. Untuk
menghasilkan arus output sebesar 30 A, maka sebaiknya kita menggunakan trafo
yang memiliki keluaran arus sebesar 50 50 A, agar suplai daya terjamin dan
kemungkinan overload pada trafo bisa dihindarkan. IC LM 7812 hanya melewatkan
1 A arus atau kurang pada bagian outputnya, yang mana sisanya dilewatkan
sebagai suplai basis transistor-transistor.
transistor ansistor. Rangkaian didisain untuk menghasilkan
arus 30 A, yang dihasilkan oleh 6 transistor TIP 2955 yang dipasang secara paralel.
Papan pendingin dibutuhkan untuk menyalurkan panas dari masing-masingmasing
transistor. Penggunaan papan pendingin yang relatif besar
besar sangat disarankan, agar
efek pembuangan panasnya menjadi optimum, terutama pada pembebanan yang
maksimum. Penggunaan papan pendingin saja tak cukup, terutama jika terus- terus
menerus mendapat pembebanan maksimum. Pendinginan dapat dibantu
menggunakan kipas pendingin pada masing-masing
masing masing keping transistor, atau kipas
yang relatif besar sebanyak 2 buah untuk mendinginkan keping pendingin.

Efek overload dapat saja terjadi jika beban yang dipasang melebihi dari kapasitas
arusnya. Penggunaan transistor yang paralel
paralel memiliki resiko overload secara

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas.com
domino, jika terjadi kerusakan pada salah satu transistor. Kerusakan pada salah
satu unit mengakibatkan tanggungan beban dari sisa transistor melebihi dari
kapasitas beban maksimumnya, sehingga efek perusakan akan menjalar ke bagian
transistor paralelnya. Untuk mencegah hal ini terjadi, sebaiknya dipasang
pengaman arus pada masing-masing
masing keluaran transistor.

Gambar pengatur tegangan 12 volt dan arus 30 A.

Perhitungan.

egangan terpasang 24 volt. Tegangan kemudian diturunkan


Pada gambar di atas, tegangan
sebesar 4 volt pada R7, dan 20 volt melewati input dari regulator. Pada bagian
output, arus maksimum yang mengalir sebesar 30 A, yang disuplai dari 6 transistor
dan IC. Masing-masing
masing transistor menyuplai
menyuplai 4,86 A, dan IC sebesar 0,866 A,
sehingga total arus suplai maksimum = 30 A pada beban. Arus suplai pada masing-
masing
masing basis sebesar 138 A. Untuk mendapatkan perolehan arus sebesar 35x pada
sisi kolektor, dibutuhkan arus input sebesar 6 A pada masing-masing
masing sing transistor, dan
ini masih dalam batas normal pada penggunaan transistor TIP 2955.

Tahanan R1 hingga R6 berfungsi sebagai stabilisator untuk melindungi loncatan


arus pada transistor. Tahanan R7 sebesar 100 ohm dan menghasilkan
pengurangan tegangan sebesar
sebesar 4 volt pada beban maksimum. Rugi-rugi
Rugi daya pada
resistor R7 sebesar 160 mW, sehingga sebaiknya R7 menggunakan resistor
dengan daya buang panas sebesar 0,5 watt atau lebih (1 watt akan lebih baik). Arus
masuk pada regulator diumpan melalui emitor dan basis transistor.

Variabel Power Suplai

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas.com
Rangkaian berikut merupakan catu daya dengan variabel tegangan output yang
bisa diatur. Arus output diatur hingga 1,5 A, dengan nilai tegangan output yang
diatur memiliki angka yang sangat stabil pada nilai yang diatur.
Fitur sirkuit dibawah meliputi :
Proteksi terhadap polaritas yang berlawanan pada sisi output
Lampu LED sebagai indikator daya
Tegangan output yang bisa diatur
AC atau DC input
Riak rendah (low noise)

Dioda D1 hingga D4 membentuk jembatan penyearah yang mengkonversi tegangan


AC menjadi DC. Kapasitor C1 menghaluskan tegangan output DC, sedangkan C2
berfungsi sebagai peredam frekwensi tinggi. IC LM 317 T adalah IC regulator
tegangan yang dapat diatur besarnya sesuai keinginan. Dioda D5 berfungsi sebagai
pembalik tegangan bias selama pengoperasian normal, dan berfungsi sebagai
pelindung regulator jika bagian output terkoneksi oleh sumber arus yang memiliki
polaritas tegangan sama.

Regulator memiliki tegangan referensi 1,25 volt antara terminal output dan terminal
pengaturan. Pengaturan besaran VR1 menyebabkan besaran tegangannya juga
berubah, hal ini menyebabkan berubahnya juga tegangan pada beban
Tegangan output dihitung menggunakan rumus :

V(out) = 1.25(1 + VR1/R1)

Kapasitor C3 riak dari regulator, sementara kapasitor C4 dan C5 berfungsi sebagai


decoupling frekwensi tinggi dan rendah. Lampu LED mengindikasikan bahwa daya
ada pada bagian output. Arus yang melewati LED haruslah antara 5-20 mA dan
diatur oleh resistor R2. IC LM 317T mampu menyuplai 1,5 A pada tegangan input
antara 1,2 V 37 V. Alat ini membutuhkan perbedaan tegangan input dan output
minimum 2,5 volt agar mampu beroperasi.

Dalam praktek, penggunaan tegangan output yang rendah dan penggunaan arus
yang lebih kecil mengakibatkan terjadinya konversi daya menjadi panas pada
komponen IC. Jika tegangan input 30 volt dan tegangan output 10 volt, dimana arus
yang digunakan hanya 1 Ampere, maka rugi-rugi daya pada IC yang diubah menjadi
panas = (30-10) x 1 = 20 watt. Daya sebesar ini menghasilkan panas yang cukup

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
besar, sehingga IC memerlukan keping pendingin yang cukup besar agar mampu
membuang kelebihan panas pada IC.

Daftar Rangkaian Elektronik yang digunakan


R1 Resistor (0,25 W, 5%) 330 ohm
R2 1K
VR1 10K trimpot
C2,4 100 nF ceramic
C1 2200 uF 50 V electrolytic
C3,5 10 uF 63 V elektrolit
Dioda D1-D6 IN5403
IC LM 317T

IX.6. Bak Elektrolisis

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
X. EKSTRAKSI ZINC

X.1. Sifat- Sifat Fisika dan Kimia Unsur Zinc

Zinc adalah suatu logam yang berwarna abu-abu keperakan, bernomor atom 30
dalam tabel sistem periodik. Berat jenis unsur ini 7,14 gr/ml pada suhu kamar
(250C), suhu leleh 4200C, dan suhu pendidihan 9100C. Senyawa-senyawa zinc
umumnya memiliki bilangan oksidasi +2. Logam zinc bersifat keras dan getas pada
kebanyakan suhu, akan tetapi melunak pada suhu antara 1000C-1500C. Pada suhu
di atas 2100C logam zinc kembali menjadi getas.

Logam zinc terbakar dalam udara yang dipanaskan, membentuk warna biru terang
keputihan, dan asap putih zinc oksida.

2 Zn + O2 (t > 4000C) ======> ZnO

Zinc bereaksi dengan baik terhadap asam-asam anorganik dan senyawa-senyawa


alkali (termasuk sianida). Logam zinc murni bereaksi lambat dengan kebanyakan
asam pada suhu kamar. Larutan asam kuat bereaksi lebih kuat (HCl, H2SO4, HNO3)
sembari melepaskan gas hidrogen sebagai hasil reaksi (disamping larutan zinc itu
sendiri).

X.2. Produksi Logam Zinc

Di alam mayoritas logam zinc dihasilkan dari batuan berjenis sphalerite, yaitu
senyawa zinc dalam bentuk sulfida zinc. Biasanya sphalerite juga mengandung
sebagian logam tembaga dan timbal sebagai logam dasar. Emas dan perak juga
selalu ditemukan dalam batuan sphalerite. Zinc bersifat chalcophile, yang berarti
memiliki afinitas yang rendah terhadap oksida, dan lebih memilih berikatan dengan
belerang.

Logam zinc umumnya diproduksi menggunakan kombinasi metode hydrometallurgy


dan pyrometallurgy. Batuan sphallerite dihaluskan terlebih dahulu, selanjutnya
dipisahkan dari berbagai unsur pengotor menggunakan metoda flotasi. Hasil flotasi
berupa konsentrat berkandungan mineral logam zinc yang tinggi (kandungan logam
zinc hingga 50% dari total berat konsentrat).

Proses selanjutnya adalah pemanggangan konsentrat pada suhu tinggi, untuk


menguapkan zinc dalam bentuk zinc oksida yang berwarna putih.

2 ZnS + 3 O2 =====> 2 ZnO + 2 SO2

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Uap zinc oksida akan memadat pada suhu yang relatif dingin (di bawah 3000C)
sehingga terpisah dari gas SO2.

Proses selanjutnya adalah reduksi zinc oksida menjadi logam zinc. Ada 2 cara yang
dapat dilakukan, yaitu cara pyrometallurgy atau elektrolisis. Proses pyrometallurgy
bertujuan mereduksi zinc oksida menjadi logam zinc menggunakan karbon atau
karbon monoksida pada suhu tinggi. Suhu reduksi berada di atas titik didih logam
zinc (di atas 9500C), agar terjadi penguapan selama proses reduksi berlangsung.
Uap logam selanjutnya didistilasi dan dialirkan ke ruangan dingin yang kedap
oksigen (agar tak terjadi peristiwa oksidasi zinc selama proses ini) agar terbentuk
tepung logam zinc yang sangat halus.

2 ZnO + C ======> 2 Zn + CO2


2 ZnO + 2 CO ======> 2 Zn + 2 C

Proses elektrolisis zinc sulfat dimulai dari pelarutan zinc oksida menggunakan
larutan H2SO4, yang menghasilkan larutan zinc II sulfat.

ZnO + H2SO4 =====> ZnSO4 + H2O

Larutan zinc II sulfat ini selanjutnya direduksi pada kutub katoda menjadi logam
zinc, dan larutan kembali menghasilkan larutan H2SO4 pada kutub anoda.

2 ZnSO4 + 2 H2O ======> 2 Zn + 2 H2SO4 + O2

Larutan H2SO4 yang dihasilkan kembali selanjutnya dapat digunakan kembali untuk
melarutkan senyawa zinc oksida berikutnya.

Untuk memperoleh efisiensi waktu dan penggunaan logam zinc pada proses
ekstraksi emas dari larutannya, maka ukuran partikel logam zinc yang terbaik
adalah debu logam zinc. Penggunaan zinc lembaran atau irisan-irisan logam zinc
mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan zinc, dan memperlambat proses
ekstraksi logam emas.

X.3. Pengendapan Logam Dari Larutan Sianidanya Menggunakan Zinc.

Zinc logam, oksida zinc, maupun sulfidanya, larut dengan baik pada larutan alkali
sianida, membentuk larutan logam kompleks zinc sianida.
Reaksi sianida dan zinc sebagai berikut :
Isikan
Sebagaimana halnya zinc, tembaga dan merkuri bereaksi dan larut dalam sianida.
Reaksi pelarutan berlangsung relatif lebih cepat dibandingkan reaksi pelarutan
logam perak dan emas.
Reaksi pelarutan tembaga dan merkuri sebagai berikut :

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Isikan
Zinc bereaksi dengan larutan kompleks emas sianida, perak sianida, merkuri
sianida, dan tembaga sianida, menghasilkan endapan logam emas, perak, merkuri,
dan tembaga. Pada proses ini zinc mereduksi senyawa logam-logam tersebut
menjadi logamnya, dan secara simultan zinc teroksidasi menjadi oksida zinc dan
larutan kompleks zinc sianida.

Proses Merril Crowe adalah proses pengendapan menggunakan debu logam zinc.
Reaksi yang terjadi adalah reaksi pertukaran kation logam ( KTK) sebagai akibat
potensial elektroda yang lebih rendah dimiliki logam zinc.

Zn (s) + 2 Na[Au(CN)2] (l) ======> Na2[Zn(CN)4] (l) + 2 Au (s)

Zn (s) + 2 Na[Ag(CN)2] (l) ======> Na2[Zn(CN)4] (l) + 2 Ag (s)

Reaksi di atas sebenarnya berlangsung dalam 3 tahap, yaitu :

1. Pada tahap awal, logam zinc mengubah garam kompleks emas sianida menjadi
endapan halus emas sianida yang berwarna ungu kemerahan. Pada tahap ini logam
zinc teroksidasi menjadi senyawa zinc II sianida yang tak larut dan berwarna putih.

Zn + 2 Na[Au(CN)2] + 2 H2O =====> Zn(CN)2 + 2 AuCN + 2 NaOH + H2

2. Adanya logam zinc yang berlebih menyebabkan emas sianida tereduksi menjadi
butiran halus logam emas, dan logam zinc teroksidasi menjadi zinc II sianida

Zn + 2 AuCN =====> Zn(CN)2 + 2 Au

3. Jika masih ada ion sianida bebas di dalam larutan, maka zinc II sianida akan
membentuk garam kompleks sianida yang larut

2 Zn(CN)2 + 2 NaCN + 2 H2O =====> Na2[Zn(CN)4] + 2 NaOH + H2

Proses pengendapan menggunakan zinc berlangsung cepat dibanding penyerapan


menggunakan karbon aktif. Akan tetapi pengendapan menggunakan logam zinc
menyebabkan tingkat konsumsi sianida menjadi tinggi karena garam zinc II sianida
yang terbentuk cenderung bereaksi dengan sianida bebas membentuk garam
kompleks zinc sianida.

Penggunaan zinc sebagai pengendap mensyaratkan larutan emas yang jernih dan
terpisah dari lumpurnya. Larutan dapat diekstraksi dengan memisahkannya dari
material lumpur. Proses ini dilakukan melalui cara penyaringan larutan. Dengan
penyaringan maka larutan akan terpisah dari endapan lumpur. Untuk memastikan
tak ada lagi kandungan larutan logam yang terjebak di lumpur, maka lumpur yang
telah disaring dibilas kembali (dekantasi) dengan air bersih, hasil bilasan kembali
disaring dan lumpur diperas hingga semua larutan terpisahkan. Larutan yang telah
dipisahkan menjadi jernih dan bebas dari lumpur. Selanjutnya baru dilakukan
pengendapan dengan zinc (Merril Crowe Processing).

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Pada proses Merill-Crowe, emas perak dan tembaga mengendap menjadi lumpur
logam, menggantikan posisi zinc yang teroksidasi. Pada proses ini ada
kemungkinan logam merkuri juga ikut mengendap, jika lumpur mengandung mineral
merkuri (pada konsentrasi yang signifikan, maka merkuri dapat diekstrak dari
endapan menggunakan metoda retort). Lumpur logam ini selanjutnya dipisahkan
dari larutan dan dibilas sampai bersih.

Endapan logam yang masih basah biasanya mengandung sebagian senyawa


sianida, terutama zinc sianida yang tak bereaksi dengan larutan asam. Untuk
memastikan habisnya sisa sisa logam zinc di dalam lumpur, maka endapan
selanjutnya disangrai hingga kering (untuk menguapkan sisa-sisa sianida),
kemudian dicuci dengan larutan HCl encer / pekat atau larutan asam sulfat encer.
Logam zinc yang tersisa akan larut; emas, perak dan tembaga tinggal sebagai
endapan. Larutan dibuang dan lumpur logam kembali dibilas dan siap dilebur.
Hasilnya adalah paduan emas, perak, dan tembaga. Hasil dari proses Merill-Crowe
memiliki penampilan yang jauh lebih baik dibanding pemrosesan menggunakan
karbon, akan tetapi lebih rumit karena harus memisahkan larutan dari lumpurnya.

Sebelum pemisahan lumpur logam dari larutannya dilaksanakan, perlu dilakukan


pengujian larutan terlebih dahulu terhadap emas yang masih terlarut. Pengujian
dapat dilakukan menggunakan 2 cara, yaitu metoda metalisasi dan metoda reagen
identifikasi. Metoda metalisasi adalah pengujian yang dilakukan melalui
pengamatan logam yang tereduksi, sedangkan metoda berdasarkan pengamatan
visual terhadap perubahan unsur kimia senyawa emas dan perak.

Metoda metalisasi :

Langkah awal pengujian dilakukan dengan pengambilan larutan sample


sebanyak 200 ml yang selanjutnya ditempatkan pada wadah kaca bening.
Kemudian masukkan 2 gram debu zinc, aduk selama 20 menit. Selanjutnya
pisahkan endapan dari cairan menggunakan kertas saring.
Endapan kemudian dibilas dengan air panas (masih di dalam kertas
saring), tiriskan sisa-sisa airnya.
Selanjutnya lakukan peleburan di dalam krus tanah, hingga terjadi pelelehan
(logam mencair), gunakan borax dalam jumlah yang berlebihan sebagai
fluks.
Setelah dingin, amati permukaan krus secara visual terhadap adanya
kemungkian lapisan logam. Jika pengamatan menggunakan mata tak terlihat
adanya bercak logam emas, gunakan bantuan mikroskop mineral. Jika
terdapat lapisan logam (kuning emas atau putih perak), artinya proses reaksi
pengendapan belum selesai, dan jika pada pengamatan tak ditemukan lagi
indikasi logam, dapat dipastikan proses pengendapan logam emas telah
selesai.

Metoda Reagen Identifikasi

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Metoda ini didasarkan pada prinsip reduksi ion kompleks emas dan perak akibat
kehilangan sianida bebas. Hilangnya siaida bebas dimungkinkan dengan cara
merubahnya menjadi senyawa asam sianida HCN menggunakan larutan asam.
Asam nitrat atau HCl dapat digunakan untuk metoda ini. Pemberian HNO3 atau HCl
mengakibatkan terjadinya reaksi pada larutan, sebagai berikut :

HNO3 + Na[Au(CN)2] =====> NaNO3 + HCN + AuCN

Pada reaksi di atas, asam sianida HCN akan menguap saat dimasukkan HNO3 ke
dalam larutan sampel. Penguapan sianida ini menimbulkan bau yang khas dan
sangat beracun, sehingga sebaiknya dilakukan pada ruang yang terbuka. Larutan
asam dimasukkan secara bertahap hingga pH turun menuju angka 7. Pada proses
ini, jika masih tersisa logam emas maupun perak dalam larutan akan menimbulkan
endapan setelah masuknya larutan asam. Endapan berwarna ungu kemerahan
menunjukkan adanya emas di dalam larutan yang masih belum tereduksi oleh
logam zinc, endapan berwarna putih mengindikasikan perak, endapan berwarna
campuran putih dan ungu mengindikasikan perak dan emas yang belum tereduksi
oleh logam zinc.

X.4. Reaksi Zinc Sebagai Pengendap Emas dari Larutan Thiosulfatnya

Zinc juga bereaksi sangat baik dengan larutan thiosulfat (ammonium thiosulfat,
calcium thiosulfat, dan natrium thiosulfat).
Reaksi pelarutannya sebagai berikut :
Tuliskan reaksinya

Zinc mengendapkan logam-logam emas, perak, tembaga, dan merkuri, dari larutan
kompleks thiosulfatnya. Reaksi pengendapan ini sama halnya dengan reaksi zinc
dengan larutan kompleks sianida, yang merupakan reaksi redoks (reduksi-oksidasi
secara simultan).
Tuliskan reaksinya

X.5. Proses Peleburan Hasil Ekstraksi Zinc

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
XI. PERALATAN PENGOLAHAN

V.1. Mixer Penghancur Lumpur.

Jika lumpur yang akan dimasukkan ke dalam reaktror berbentuk padat kering, maka
perlu dilakukan penghancuran terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam
reactor (tong). Alat penghancur ini terdiiri dari drum besi ukuran diameter 75 cm
dengan tinggi sekitar 1 meter. Di titik tengah tabung terpasang poros yang dipasang
baling-baling penghancur, yang berfungsi sebagai penghancur lumpur. Poros
digerakkan oleh motor (bisa berupa motor listrik ataupun motor bakar) berkecepatan
tinggi, agar tanah padat yang masuk cepat hancur menjadi lumpur. Pada bagian
sedikit di bawah tabung dibuat lubang persegi sebagai celah aliran lumpur cair
keluar dari tabung mixer. Untuk lumpur yang diproduksi langsung dari ballmill dan
masih cukup cair, penggunaan mixer tidaklah diperlukan.

Pully poros mixer

Motor penggerak mixer

Pintu masuk lumpur

Tabung mixer

(a)

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Lubang/celah keluar lumpur cair

Screen penyaring lumpur mesh


28

Bak penampung sementara

Pipa penyedot lumpur ke reaktor

(b)

Gambar VIII.1. Mixer Penghancur Lumpur

V.2. Reaktor.

Reaktor/tong biasanya terbuat dari bahan logam (besi) yang relatif murah dan tahan
terhadap beban dinamis yang besar. Sebagian dari reaktor ukuran sedang (3 metrik
ton) dapat dibuat dari bahan plastik/fiber glass. Ada 2 jenis reaktor yang biasa
ditemukan ; reaktor berjenis tabung kerucut, dan reaktor berjenis tabung datar.
Reaktor kerucut biasanya lebih sederhana, karena lumpur hanya digerakkan oleh
udara bertekanan tinggi yang dimasukkan dari permukaan kerucut di bagian paling
bawah tabung.

Reaktor tabung datar biasanya digunakan untuk pengolahan skala menengah-besar


(di atas 3 metrik ton). Reaktor ini memiliki dasar permukaan bawah yang datar, agar
kuat menahan beban lumpur yang masuk. Pada reaktor ini, lumpur tak hanya
digerakkan oleh udara bertekanan tinggi, akan tetapi penggerak utamanya justru
mengandalkan baling-baling yang diputar oleh poros yang terletak di titik tengah
reaktor. Poros digerakkan oleh mesin penggerak yang dapat berupa motor listrik
ataupun motor bakar melalui transmisi antar pulley.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
` Atap penutup permukaan reaktor

Dinding reactor

Anjungan kontrol

Tangga kontrol

Sudut kolektor lumpur

Tiang fondasi reaktor

Lubang inlet udara tekanan tinggi

Pipa keluar limbah lumpur

Gambar VIII.2. Reaktor

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Oksigen yang dibutuhkan selama proses oksidasi dan leaching tetap disuplai oleh
mesin kompresor udara bertekanan tinggi, melalui selang-selang udara yang
disalurkan ke bagian dasar dari tabung reaktor.

V.3. Kompresor Udara.

Udara dimasukkan ke dalam media lumpur menggunakan selang-selang udara


bertekanan tinggi. Selang-selang ini berasal dari mesin penghasil udara bertekanan
tinggi, yang biasa kita sebut sebagai kompresor udara. Daya tekan kompresor
sangat bergantung kepada daya kompresor itu sendiri. Untuk beban lumpur seberat
1-3 metrik ton, udara dapat disuplai dengan baik oleh kompresor berdaya 1,5 Hp,
sedangkan beban lumpur yang besar (hingga 20 metrik ton) sebaiknya
menggunakan kompresor udara berdaya 5,5 Hp.

Gambar VIII.3. Kompresor Udara

V.4. Kolam Limbah

Limbah lumpur hasil dari oksidasi dan proses leaching harus dilokalisir pada wadah
yang aman dan kedap terhadap resapan. Cairan dari limbah sangat berbahaya dan
memiliki daya racun mematikan bagi mahluk hidup. Pada jangka panjang (jika
terjadi kebocoran), limbah yang tak dinetralisir (utamanya cairan garam merkuri)
sangat berbahaya terhadap lingkungan. Wadah limbah dibuat dalam bentuk kolam
ukuran besar yang dilapisi bahan penahan resapan air. Kolam limbah dibuat pada
lokasi yang dekat dengan reaktor, agar perpindahan limbah dari reaktor ke kolam
limbah mudah dilakukan dan tanpa biaya.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Bahan penahan serapan (sebagai dinding dan dasar kolam) dapat berupa tembok
semen yang diplester, ataupun terpal plastik tebal yang kuat menahan tekanan
maupun perubahan cuaca.

a.Kolam limbah dari lapisan plastic

b.Kolam limbah permanen

Gambar VIII.4. kolam limbah

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
XII. PENGOLAHAN MENGGUNAKAN SIANIDA

V.1. Proses Liberalisasi Emas dan Oksidasi

Liberalisasi merupakan suatu proses pembebasan permukaan / kulit bijih logam


emas dari berbagai unsur pembungkusnya. Liberalisasi dilakukan sebelum proses
pelarutan menggunakan sianida berlangsung. Proses penggilingan dan
penghalusan batuan menjadi lumpur belum menjamin terjadinya proses liberalisasi
total bijih-bijih emas. Sebagian dari bijih-bijih tersebut masih terbungkus oleh
berbagai jenis material, logam maupun non logam.

Pada mineral emas berkadar emas tinggi (kadar emas dalam paduan di atas 80%)
di batuan primer, liberalisasi bukan merupakan hal wajib karena sebagian besar
bijih emas hasil proses mekanis (penggerusan/penghalusan) telah terbebaskan.
Akan tetapi pada batuan berjenis electrum dan sulfida tinggi, sebagian dari bijih
emas masih tertutup oleh berbagai unsur penutup.

Batuan electrum (kadar emas dalam bijih antara 20%-80%) dan batuan berkadar
perak tinggi (kadar emas antara 0,01%-20%) umumnya memiliki sejumlah jenis
unsur pengotor, antara lain ; belerang, karbon, senyawa-senyawa logam dan
belerang yang sebagian bersifat refraktory, dan sebagian kecil masih terbungkus
dalam lapisan kwarsa (silika). Pada batuan yang mengandung emas berukuran
sangat halus, proses liberalisasi (pembebasan partikel emas dari pembungkusnya)
yang menggunakan alat mekanis tak mampu membuka tabir pembungkus,
disebabkan tingkat kehalusan yang sudah tak terjangkau lagi oleh proses mekanis.
Pada batuan berkadar perak yang sangat tinggi, sebagian besar bijih emas
terbungkus oleh lapisan perak sulfida (Ag2S) yang sulit larut dalam sianida,
sehingga liberalisasi diperlukan agar waktu pelarutan tidak terlalu lama.

Partikel emas yang masih terbungkus setelah proses mekanis bervariasi dari 5%
hingga 40% dari total kandungan emas dalam batuan. Batuan mineral emas selalu
mengandung mineral-mineral ikutan seperti unsur perak, tembaga, zinc, timbal,
besi, arsenik, tellurium, dan sebagainya. Dalam kasus-kasus tertentu dapat juga
ditemukan logam merkuri maupun senyawanya dalam jumlah yang lumayan besar.
Dalam kalimat-kalimat setelah ini, mineral-mineral pengikut ini lebih sering kita
namai sebagai logam pengotor, terkecuali logam perak yang memiliki nilai jual yang
sangat baik.

Logam-logam pengotor dalam bentuk senyawa padat seperti tembaga, zinc,


merkuri, besi, mangan, molybdenum dan sebagainya, juga larut dalam larutan alkali
sianida, bahkan kecepatan larutnya melebihi kelarutan emas dan perak. Dalam
jumlah yang besar, pengaruh logam pengotor sangat signifikan terhadap tingkat
konsumsi sianida pada proses leaching. Ekses negatif ini berlanjut pada saat proses

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
penyerapan
apan menggunakan arang aktif.
aktif Karbon aktif menyerap garam-garam
garam logam
yang terlarut di dalam lumpur, termasuk diantaranya
diantaranya garam tembaga, zinc,
zinc merkuri,
besi, dan sebagainya, sehingga
seh penggunaan karbon pun meningkat seiring
banyaknya logam pengotor yang terlarut pada proses leaching.

Proses liberalisasi tak hanya berkaitan


berkaitan dengan pembebasan logam emas dari
partikel-partikel
partikel pembungkusnya; namun jika jumlah mineral pengotor memiliki
angka yang cukup signifikan, maka proses liberalisasi adalah juga termasuk
pemisahan awal logam-logam
logam logam pengotor dari logam utama yang akan di leaching;
sehingga perhitungan yang menyangkut biaya dan waktu proses ekstraksi emas
menjadi pertimbangan utama. Suatu batuan yang memiliki kandungan tembaga
yang signifikan, jika tak dilakukan proses pemisahan awal, pada akhirnya akan
menghasilkan paduan an logam dengan kandungan emas yang rendah, namun
kandungan tembaga justru cukup tinggi.

Batuan berkandungan sulfida tinggi (pyrite, arsenopyrite, chalcopyrite, galena,


spallerite) merupakan batuan yang refraktory, dan tak mampu diekstrak
menggunakan sianida,da, meskipun telah melalui proses liberalisasi secara
hydrometallurgy. Liberalisasi kimiawi maupun secara pyrometallurgy sangat sulit
dilakukan pada batuan jenis ini, disebabkan emas merupakan partikel yang sangat
halus dan koloid (sangat sulit mengendap),
mengendap) sementara mineral pembungkus
memiliki jumlah yang sangat besar untuk diliberalisasi. Batuan sulfida tinggi hanya
bisa diekstraksi menggunakan pelarut thiosulfat yang mampu melarutkan belerang
dengan mudah.

Mineral sulfida

Partikel emas koloid

Gambar ilustrasi penampang emas koloid


oloid pada batuan sulfida tinggi

Pengaruh Logam-logam
logam Ikutan

Logam-logam
logam ikutan seperti tembaga, merkuri, zinc, palladium,
palladium, molybdenum,
sangat berpengaruh dalam proses leaching, khususnya dalam hal jumlah
penggunaan bahan pelarut sianida, penggunaan karbon, dan peleburan debu

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas.com
logam. Sianida dengan mudah bereaksi dengan logam-logam ikutan ini, sehingga
terjadi pemborosan dalam proses leaching. Disamping efek boros sianida,
penggunaan karbon aktif dalam proses ekstraksi pun menjadi sangat boros
disebabkan logam-logam tersebut terserap dengan baik oleh arang sehingga
penggunaannya menjadi semakin besar dalam poses penyerapan. Dalam proses
peleburan, adanya logam tembaga, zinc, molybdenum, besi, dapat menimbulkan
kesulitan yang tinggi untuk memperoleh hasil logam di atas 99%.

Pada batuan dengan jumlah logam pengotor yang rendah, tingkat penggunaan
sianida dalam proses pelarutan dapat ditekan melalui pengendalian pH. Namun
tingginya logam-logam pengotor akan berdampak negatif terhadap waktu pelarutan
emas sianida, tingginya pemakaian sianida, rendahnya perolehan logam,
membengkaknya pemakaian karbon sebagai penyerap. Sianida cenderung lebih
mudah bereaksi dengan logam-logam pengotor dibanding emas dan perak,
sehingga waktu pelarutan logam emas makin lama disebabkan logam emas dan
perak cenderung kalah dalam kompetisi oksidasi sianida dibanding logam-logam
lainnya.

Tembaga sebagai logam pengotor selalu ditemukan dalam batuan emas.


Kandungan tembaga bervariasi dari jumlah yang normal (10 gr/ton) hingga
mencapai 1% (10 kg/ton). Uniknya, kehadiran logam tembaga dalam jumlah yang
makin besar juga meningkatkan kehadiran logam-logam pengotor lainnya, seperti
molybdenum, timbal, mangan, besi, arsen, dan sebagainya. Pada kandungan
tembaga yang relatif tinggi (antara 200 gr-10 kg/ton), dibutuhkan suatu proses
pelarutan logam tembaga (proses oksidasi logam pengotor) dan pemisahan
larutannya sebelum proses sianida dilakukan. Proses ini diharuskan agar
penggunaan sianida dapat dioptimalkan dan ditekan jumlahnya. Jika menggunakan
karbon sebagai penyerap larutan emas sianida, maka pemisahan logam-logam
pengotor sebelum proses leaching akan sangat membantu terhadap penghematan
pemakaian karbon. Batuan emas yang mengandung tembaga dalam jumlah yang
tinggi dapat ditemui di berbagai tempat di Indonesia, antara lain di sebagian wilayah
Banten Selatan, pulau Sumbawa, Cianjur Selatan, dan sebagainya.

Secara alami, sebagian batuan emas juga mengandung logam merkuri dalam
jumlah yang bervariasi. Batuan logam merkuri (cinnabar) umumnya ditemukan
berdampingan dengan urat batuan emas, dan terkadang bercampur dalam mineral
emas dalam jumlah yang bervariasi antara 0 ppm 1000 ppm (0 gr/ton-1000
gr/ton). Pada lumpur ampas pengolahan yang menggunakan amalgamasi, tingkat
merkuri dalam lumpur dapat mencapai 0,3%; suatu nilai yang sangat besar dan
sangat mempengaruhi dalam penggunaan bahan kimia pada proses leaching, dan
tingkat konsumsi karbon dalam proses penyerapan. Sebagaimana halnya tembaga,
raksa (merkuri) juga larut dalam sianida, dan terserap dengan baik oleh karbon aktif.
Jika kandungan merkuri cukup signifikan (di atas 100 gr/ton atau 0,01%), proses
oksidasi dan pemisahan larutan merkuri mutlak dilakukan sebelum pelaksanaan
proses leaching menggunakan sianida.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Zinc, dalam jumlah besar mempengaruhi proses leaching dan penyerapan,
sehingga perlu diperhitungkan signifikansinya dalam oksidasi. Zinc, dalam bentuk
logam maupun garamnya (zinc sulfida dan zinc oksida) mudah larut dalam sianida.
Dalam jumlah besar, zinc memiliki pengaruh buruk terhadap tingginya penggunaan
sianida pada pelarutan, dan borosnya pemakaian karbon dalam proses penyerapan.

Arsenik hampir selalu ada pada setiap jenis batuan emas. Kandungan arsen
terbanyak terdapat pada batuan arsenopyrite. Emas secara signifikan selalu ada
pada mineral arsenopyrite, dalam jumlah yang bervariasi antara 0,5 gr/ton hingga
15.200 gr/ton. Mineral arsenopyrite bersifat refraktory (sulit larut) terhadap sianida.
Agar bijih emas yang terbungkus dalam mineral arsenopyrite dapat dilarutkan oleh
sianida, perlu dilakukan proses liberalisasi emas koloid terlebih dahulu sebelum
proses sianida dilakukan.

Tellurium dan mangan merupakan logam-logam yang sering terdapat dalam batuan
emas. Besi paling banyak ditemukan dalam senyawa sulfida dan oksida. Sebagian
besi dan mangan berbentuk logam yang bercampur dengan bijih emas, melapisi
permukaan bijihnya. Senyawa-senyawa logam-logam ini umumnya bersifat
refraktory terhadap sianida, bahkan dalam bentuk logam pun tellurium hampir tak
dapat dilarutkan pada proses sianidasi.

Tingkat konsumsi sianida dalam proses leaching memiliki pengaruh yang sangat
besar dalam perhitungan biaya pengolahan. Penggunaan yang sangat tinggi dapat
mengakibatkan kerugian, suatu hal yang tentu tak diinginkan dalam pengolahan
emas. Padahal jika hanya digunakan untuk pelarutan logam emas dan perak,
penggunaan sianida sebagai agent utama dalam proses pelarutan dapat ditekan
seekonomis mungkin. Oleh karena itu perlu dilakukan studi awal terhadap jenis
batuan yang akan diolah, untuk menentukan jenis oksidator yang diberikan sebelum
proses sianidasi dilakukan.

Pada pengolahan menggunakan karbon, adanya berbagai logam pengotor serta


unsur belerang yang turut larut, memiliki dampak negatif terhadap konsumsi karbon
aktif. Umumnya berbagai logam akan terserap oleh karbon, demikian juga halnya
dengan ion-ion belerang. Penyerapan unsur-unsur ini turut menyumbang terhadap
cepat jenuhnya karbon aktif, sehingga penggunaan karbon mengalami peningkatan,
dan pada akhirnya sudah pasti menaikkan biaya produksi emas.

Pengaruh Karbon Alami

Sebagian batuan emas mengandung karbon dalam jumlah yang bervariasi. Batuan
berjenis electrum, batuan electrum, batuan berkadar perak tinggi, dan batuan-
batuan berjenis oksida dan karbonat umumnya mengandung karbon alami. Karbon
yang berasal dari batuan secara alami akan bertindak sebagai karbon aktif pada
proses leaching, oleh karena itu perlu dilakukan deaktivasi pada tahapan oksidasi,
sebelum proses leaching berlangsung.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Pada beberapa jenis batuan, jumlah karbon dapat mencapai 1% dari berat batuan,
sehingga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehilangan emas dalam
proses leaching. Dalam beberapa kasus, kehilangan emas (yang terjadi akibat
terserap oleh karbon mikro) dapat mencapai 20%, suatu nilai yang cukup tinggi dan
menentukan dalam perhitungan analisis biaya produksi.

Karbon relatif sulit teroksidasi, baik secara pyrometallurgy (pemanggangan batuan


di atas api) maupun secara hydrometallurgy (menggunakan proses kimia). Cara
terbaik mengatasi permasalahan karbon alami adalah mendeaktifasi partikel-partikel
karbon tersebut sebelum proses sianida dilakukan. Deaktifasi adalah proses
pengayaan muatan karbon alami dengan senyawa logam, sehingga karbon alam
tersebut menjadi kenyang sebelum proses sianida. Kenyangnya karbon alami ini
menyebabkan karbon-karbon tersebut tak mampu lagi menyerap senyawa-senyawa
emas sianida. Garam timbal nitrat merupakan salah satu pilihan yang cukup baik
dalam mengatasi persoalan karbon aktif alami.

Timbal II nitrat ketika dilarutkan dalam lumpur terurai (terdisosiasi) menjadi kation
Pb2+ dan anion nitrat NO3-. Kation Pb2+, selain mengoksidasi logam-logam yang
lebih reaktif, juga berperan mengisi ruang-ruang karbon alami, sehingga karbon
alam yang terkandung di lumpur telah kenyang terlebih dahulu sebelum proses
pelarutan menggunakan sianida dimulai.

Untuk menentukan jumlah timbal nitrat yang digunakan sangat bergantung pada
jumlah karbon yang terkandung dalam lumpur. Jika jumlah karbon mencapai 0,1%
dari berat lumpur, maka berat total karbon tiap 1 ton material lumpur menjadi 1 kg.
Karbon seberat 1 kg mampu menyerap kandungan logam hingga 40 gram,
sehingga jumlah timbal nitrat yang dimasukkan pada proses oksidasi sebaiknya
minimum di atas 100 gram / 1 ton material lumpur.

V.1.1. Oksidasi Pyrometallurgy

Proses liberalisasi dapat dilakukan dalam suasana panas tinggi, dengan cara
perlakuan panas ke dalam sistem. Dalam proses ini, tepung batu dipanaskan pada
suhu tinggi hingga 12000C bersama kehadiran oksigen, agar terjadi oksidasi garam-
garam logam yang terdapat di batuan. Sebagai contoh, garam besi pyrite akan
teroksidasi menjadi besi III oksida Fe3O2, demikian juga halnya dengan tembaga.
Batuan karbonat pun akan berubah menjadi garam oksida logam.

2 FeS2 + O2 =====> Fe2O3 + 4 SO

Pada mineral jenis sulfida terjadi reaksi substitusi pertukaran belerang dengan
oksigen, sehingga sering disebut sebagai proses desulfurisasi. Hasil yang diperoleh
melalui proses ini adalah senyawa logam oksida, merupakan hasil penguraian
senyawa sulfida dan karbonat dari batuan. Kekurangan oksigen pada proses
pyrometallurgy bahkan dapat menciptakan logam yang dihasilkan akibat proses
reduksi senyawa-senyawa nya. Terjadinya proses reduksi sangat tak diinginkan,

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
karena justru menjadikan logam-logam pengotor makin bersifat refraktory terhadap
alkali sianida.

Setelah proses pemanasan, pada batuan kadar mineral ikutan yang tinggi perlu
dilakukan proses ekstraksi logam-logam ikutan dalam proses oksidasi lanjutan,
yang merupakan proses oksidasi hydrometallurgy yang menggunakan bahan-bahan
kimia cair. Proses pyrometallurgy bertujuan hanya membebaskan partikel emas,
akan tetapi logam-logam pengotor yang terdapat di batuan tidak serta-merta hilang,
akan tetapi mengalami perubahan struktur kimia agar proses pelarutan kimia dapat
berlangsung lebih mudah dan cepat.

Proses pyrometallurgy saat ini sudah tak ekonomis lagi digunakan dalam skala
industri, disebabkan makin tingginya biaya energi, dan masih perlunya dilakukan
proses oksidasi lanjutan berupa pelarutan logam-logam pengotor (pada batuan
dengan jumlah logam ikutan yang relatif tinggi). Industri pengolahan mineral logam
mulai beralih ke proses oksidasi yang berbasis hydrometallurgy sebagai solusi
pengolahan yang murah dan efisiensi tinggi.

Dalam rangka upaya makin menekan biaya produksi, akhir-akhir ini proses oksidasi
pyrometallurgy mulai dilakukan menggunakan bantuan bakteri sebagai pengganti
bahan kimia yang dirasakan mulai mahal, disamping kandungan logam emas dalam
batuan yang makin menurun. Bakteri yang mulai banyak dikembangkan saat ini
adalah bakteri pemakan besi dan bakteri pemakan belerang. Penggunaan bakteri
sangat cocok diterapkan pada batuan berjenis sulfida. Namun untuk proses-proses
pengujian skala laboratorium, penggunaan pyrometallurgy tetap menjadi pilihan
utama karena kecepatan dan akurasi yang lebih tinggi.

V.1.2. Oksidasi Udara (Oksigen)

Oksigen dari udara bebas dapat mengoksidasi garam-garam mineral dari tepung
batuan dalam waktu yang relatif lama. Sebagian dari pengolah batuan emas
melakukan hal ini sebagai proses awal, dengan cara menjemur lumpur kering dan
membolak-baliknya dalam waktu-waktu tertentu. Akan tetapi cara seperti ini sangat
memakan waktu dan biaya tenaga kerja yang tinggi, sehingga tidak efisien untuk
dilakukan.

Oksidasi udara secara umum sama seperti proses oksidasi pyrometallurgy, akan
tetapi waktu yang dibutuhkan menjadi relatif jauh lebih lama. Pada oksidasi udara,
karbon bebas hampir tak teroksidasi, suatu hal yang membedakannya dengan
proses pyrometallurgy. Pada proses oksidasi hydrometallurgy, udara dimasukkan ke
dalam reaktor menggunakan bantuan alat kompresor bertekanan tinggi, dalam
bentuk gelembung-gelembung udara. Penyuntikan udara ke dalam lumpur akan
meningkatkan kehadiran oksigen terlarut di dalam lumpur.

Oksidator udara memiliki penampilan dan kinerja yang cukup baik jika
dikombinasikan dengan jenis-jenis oksidator lainnya, seperti oksidator-oksidator
asam kuat dan garam-garam logam yang larut dalam air (perak nitrat atau timbal II

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
nitrat) . Oksigen bereaksi cukup cepat terhadap garam-garam sulfida logam seperti
pyrite, tembaga sulfide, dan sebagainya. Pyrite dioksidasi udara menjadi garam besi
III oksida yang tak larut dalam air maupun larutan asam.

V.1.3. Oksidasi Hydrometallurgy

Proses awal yang dilakukan dalam sistem sianidasi adalah oksidasi batuan/lumpur.
Oksidasi bertujuan membuka selubung logam logam pengotor agar tabir emas
tersingkap. Logam logam pengotor antara lain besi dalam bentuk Fe2S (pyrite)
dan CuFeS2 (chalcopyrite), zinc dalam bentuk sulfida (spallerite), palladium, dan
logam logam reaktif lainya.

Pada batuan berjenis karbonat, oksidasi sangat diperlukan untuk menghindarkan


penyerapan garam kompleks emas pada saat pelarutan berlangsung. Karbon yang
berasal dari batuan sebagian dapat bertindak sebagai karbon aktif yang akan
menyerap larutan emas, sehingga pada akhir proses pelarutan sebagian dari
larutan garam kompleks emas hilang akibat terserap kembali oleh karbon yang
berasal dari batuan. Untuk menghilangkan efek karbon ini dibutuhkan oksidasi yang
cukup baik terhadap batuan.

Selama proses oksidasi perlu disuntikkan udara bertekanan ke dalam tangki


agitator. Tujuannya adalah untuk membantu oksidasi, melarutkan tembaga sulfida,
mengoksidasi karbon yang ada di dalam batuan jenis karbonat untuk
menghindarkan penyerapan logam mulia pada saat pelarutan
berlangsung.Oksidator oksidator yang digunakan dalam proses sianidasi antara
lain gas klor (Cl), asam-asam anorganik (semisal asam nitrat, asam sulfat, asam
perklorat, dan sebagainya), garam nitrat (umumnya menggunakan timbal nitrat),
oksigen.

Oksigen memegang peranan utama dalam proses oksidasi, baik sebagai oksidator
logam logam pengotor maupun sebagai oksidator senyawa sianida itu sendiri.
Unsur logam pengotor seperti pyrite FeS2, chalcosite CuS dan senyawa-senyawa
lainnya dapat dengan mudah teroksidasi oleh oksigen menjadi Fe2O3, CuSO4 dan
sebagainya. Proses pelarutan logam emas dan perak juga memerlukan oksigen
sebagai oksidator, agar proses ekstraksi dapat berlangsung. Kandungan oksigen
yang tinggi di dalam larutan sangat membantu terjadinya proses oksidasi dan
refraktori.

Sesaat setelah pemasukan oksidator ke dalam reaktor, pH lumpur akan turun


sesaat hingga menuju angka 3 (keadaan ini tak berlaku untuk jenis oksidator garam
logam, seperti perak nitrat dan timbal nitrat). pH kemudian naik secara kontinu
menuju angka 6,0 6,5 sebagai akibat terjadinya reaksi oksidasi yang
menghasilkan garam logam, di mana pada posisi ini tercipta keadaan yang steady-
state (kondisi pH yang stabil); atau dengan kata lain reaksi oksidasi sebagian besar
telah selesai. Jikalau setelah 3 jam sejak oksidator dimasukkan namun angka pH

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
akhir berada di atas 6.5 (apalagi di atas 7), dapat dikatakan bahwa proses oksidasi
belum berlangsung secara keseluruhan.

Peristiwa oksidasi adalah reaksi redoks yang menghasilkan garam logam sebagai
produk akhir. pH garam berada di kisaran 7; sehingga jika setelah oksidasi kisaran
pH berada pada posisi 7, dapat dikatakan bahwa ada kemungkinan masih ada
bagian dari mineral pengotor emas yang belum teroksidasi. Untuk memastikan
bahwa oksidasi telah berlangsung sempurna, pH pada kondisi akhir haruslah
berada di bawah 7 (masih berada dalam wilayah asam). Pada kisaran ini, terdapat
kelebihan asam pada lumpur yang tak terlalu besar; artinya setelah oksidasi masih
terdapat kelebihan sebagian kecil asam di dalam lumpur (pH antara 6-6,5).

Selain pengaruh turunnya pH, penggunaan oksidator perlu memerhatikan wadah


reaktor. Penggunaan media berbahan logam sangat tidak tepat digunakan dalam
proses oksidasi menggunakan asam anorganik dan garam-garam logam,
disebabkan media pun akan ikut teroksidasi selama proses berlangsung, sehingga
oksidasi akan merusak media reaktor. HCl bereaksi sangat cepat dengan besi,
menghasilkan larutan besi III klorida. Asam nitrat pekat bereaksi dengan lambat,
akan tetapi pengenceran dengan air akan mempercepat reaksi. Garam perak nitrat
memiliki reaksi yang sangat cepat terhadap besi; reaksi akan lebih cepat lagi jika
larutan perak nitrat berubah menjadi senyawa perak klorida (keadaan ini bisa terjadi
jika batuan mengandung garam klorida, atau air yang digunakan terkontaminasi
oleh garam klor seperti garam dapur NaCl). Oleh karena itu suatu reaktor sudah
semestinya menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari non logam (plastik atau
polymer). Untuk reaktor yang terbuat dari bahan plat besi, maka lakukan pelapisan
pada bagian dalam menggunakan bahan yang tahan akan larutan kimia (chemical-
resistance) seperti resin fiber.

Oksidasi dapat juga dilakukan sebelum lumpur dimasukkan ke dalam reaktor untuk
menghindarkan resiko kerusakan reaktor akibat penggunaan bahan kimia. Untuk
cara ini lumpur ditempatkan terlebih dahulu pada wadah yang terbuat dari bahan
plastic/polimer, kemudian dilakukan pencampuran dengan bahan oksidator. Lumpur
baru dimasukkan ke dalam reaktor setelah proses oksidasi selesai dilakukan.

V.1.3.1. Oksidator Hidrogen Peroksida

Hidrogen peroksida H2O2 merupakan oksidator yang cukup kuat, terutama jika
digunakan pada batuan emas yang memiliki kandungan pengotor tak begitu besar
(kandungan tembaga yang masih dapat ditoleransi).

H2O2 bekerja sangat cepat pada lumpur; penggunaan cairan yang pekat
(konsentrasi 50%) pada jumlah yang relatif banyak dapat mengakibatkan
terbentuknya gelembung gelembung busa udara yang bercampur lumpur halus,
dalam jumlah yang cukup banyak.

Penggunaan H2O2 yang optimal dalam proses oksidasi sebaiknya 1,5 2 liter
(konsentrasi 50%) dalam setiap ton lumpur. Penggunaan yang berlebihan dapat

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
mengakibatkan pertumbuhan gelembung-gelembung udara yang sangat cepat,
sehingga ada kemungkinan terjadinya peluapan busa busa lumpur keluar dari
reaktor.

H2O2 bekerja lebih moderat dibanding oksidator jenis asam lainnya, karena
sebagian besar hasil oksidasi bukanlah merupakan garam logam terlarut (kecuali
batuan jenis sulfida yang mengandung tembaga dan zinc yang cukup signifikan).
Disebabkan hal ini, untuk batuan emas dengan kandungan logam pengotor yang tak
begitu tinggi, pengurasan larutan setelah proses oksidasi menjadi tak perlu.

H2O2 juga sangat cocok jika digunakan secara bersamaan dengan oksidator jenis
asam lainnya, ataupun digunakan bersamaan dengan oksidator garam logam,
seperti timbal II nitrat dan perak nitrat. Penambahan H2O2 sebagai pendamping
akan meningkatkan kinerja oksidator jenis lainnya.

V.1.3.2. Oksidator Klor (Klorinasi)

Gas klor dapat diperoleh melalui reaksi elektrolisis garam laut, atau dapat juga
menggunakan asam klorida. Kelemahan penggunaan klor dalam oksidasi adalah
sifat dasar zat tersebut yang asam, sedangkan proses sianida dilangsungkan dalam
suasana basa. Disamping itu, klorinasi akan menghasilkan garam-garam yang larut.

ZnS (s) + HCl (l) ======> ZnCl2 (l) + H2S (g)

ZnO (s) + HCl (l) ======> ZnCl2 (l) + H2S (g)

FeS2 (s) + 2HCl (l) ======> FeCl2 (l) + H2S (g) + S (s)

S (s) + 2O2 (g) + H2O (l) ======> H2SO4 (l) + O 2 (g)

CuFeS2 (s) + 2HCl (l) ======> CuS (s) + FeCl2 (l) + H2S (g)

CuS (s) + 2O2 (g) =======> CuSO4 (l)

Dari persamaan persamaan reaksi di atas, terlihat bahwa garam-garam padat dari
unsur-unsur logam pengotor akan terlarut akibat reaksi klorinasi, bahkan sebagian
diantaranya membentuk asam (H2SO4). Garam larut ini pada akhirnya berdampak
negatif pada proses sianida, antara lain terjadinya reaksi sampingan dengan larutan
sianida. Sebagai misal, garam tembaga sulfat CuSO4 bereaksi dengan alkali sianida
membentuk garam kompleks tembaga sianida, sedangkan asam yang terbentuk
akibat oksidasi udara H2SO4 akan menimbulkan penurunan pH dalam proses
sianida, yang berdampak pada terbentuknya hidrogen sianida HCN. Sebagaimana
diketahui, HCN memiliki titik didih yang rendah (260C), diatas titik ini akan terjadi
penguapan sianida. Reaksi yang tak diinginkan ini berdampak pada berkurangnya
sianida bebas disebabkan terbentuknya ikatan kompleks dengan logam-logam
tersebut. Zinc klorida yang terbentuk akibat klorinasi bereaksi dengan garam sianida
membentuk garam kompleks zinc sianida.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Untuk mengurangi resiko borosnya pemakaian caustic soda, kapur, sianida dalam
proses leaching (jika menggunakan klorinasi sebagai oksidator), dan karbon (jika
menggunakan karbon sebagai ekstraktor cairan garam kompleks emas), maka
larutan hasil klorinasi dibuang karena sifatnya yang asam, dan dilakukan dekantasi
(pembilasan dengan air) terhadap lumpur untuk membersihkan sisa sisa garam
terlarut dan asam klorida sisa. Cara sederhana untuk memisahkan larutan dari
lumpur adalah menghentikan pengadukan dan aerasi lumpur setelah proses
oksidasi selesai. Pada situasi seperti ini, terjadi pengendapan lumpur dan mulai
terlihat lapisan larutan bening di atasnya. Buang larutan bening tersebut hingga
batas permukaan lumpur di bawahnya.

Agar oksidasi dapat berlangsung dengan cepat serta penurunan pH akibat asam
klorida tak terlalu ekstrim, asupan HCl bisa diserempakkan dengan pemasukan
H2O2. Dalam hal penambahan hydrogen peroksida, jumlah HCl dapat dikurangi
menjadi separuh dari takarannya, sedangkan jumlah peroksida yang dimasukkan
sebanyak 25% dari jumlah volume HCl yang masuk. Penggunaan peroksida yang
terlalu banyak akan menimbulkan gelembung-gelembung udara (busa) yang cukup
banyak, bahkan ada kemungkinan terjadinya peluapan busa-busa udara dari bibir
reaktor.

Klorinasi memiliki kelemahan tersendiri jika lumpur yang diolah berasal dari ampas
sisa pengolahan sistem amalgamasi, dikarenakan ampas tersebut tentu telah
terkontaminasi dengan logam merkuri dalam jumlah yang signifikan. Klorinasi tidak
mampu melarutkan merkuri, sehingga sisa logam merkuri yang tertinggal dalam
lumpur akan memiliki pengaruh buruk yang signifikan dalam proses pelarutan
sianida. Dalam beberapa kasus, jumlah merkuri yang tertinggal dalam lumpur
limbah pengolahan amalgamasi bisa mencapai 3 kg per ton lumpur. Dalam proses
pengadukan lumpur di dalam reaktor, merkuri yang tertinggal dapat terus-menerus
mengamalgamasi partikel-partikel logam emas, sehingga akan menyulitkan dan
dapat menurunkan perolehan emas dalam proses leaching.

Proses klorinasi dilakukan selama 6 jam (bergantung jumlah logam pengotor dalam
batuan). Adanya banyak udara dalam lumpur sangat membantu penyempurnaan
dan percepatan oksidasi. Untuk lumpur yang berasal dari batuan kadar tembaga
tinggi, kehadiran udara menjadi sangat penting, terutama dalam proses pelarutan
garam padat tembaga sulfida menjadi larutan tembaga sulfat.

Jumlah klorida yang diberikan selama proses oksidasi bergantung pada jumlah
mineral ikutan di dalam batuan. Untuk batuan dengan persentase tembaga sebesar
0,15% (1,5 kg) dan persentase zinc sekitar 0,1% (1 kg) dalam 1 ton (dalam hal ini
jumlah logam pengotor sebanyak 2,5 kg), dibutuhkan larutan HCl pekat sebanyak
50% dari total berat logam pengotor, atau sekitar 1,25 kg HCl (konsentrasi 32%) per
ton material lumpur. Pada kasus ini, jumlah logam pengotor sudah sangat signifikan
meningkatkan penggunaan sianida, oleh karena itu larutan hasil oksidasi perlu
dibuang dan dilakukan pembilasan lumpur menggunakan air biasa.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Dalam kondisi batuan emas yang rendah mineral pengikut, jumlah HCl yang
dimasukkan berkisar 1 kg per ton material padat, dengan lama waktu oksidasi
antara 3-6 jam. Pada batuan jenis ini, larutan mineral yang teroksidasi tak perlu
dibuang sebab tak begitu signifikan terhadap peningkatan penggunaan sianida dan
karbon aktif. Untuk hasil yang lebih baik, penggunaan HCl sebanyak 1 kg dan H2O2
0,25 kg per ton material padat lebih disarankan.

Pada batuan yang mengandung logam palladium dalam jumlah yang dapat
mengganggu dalam proses penyerapan menggunakan karbon dan peleburan debu
logam (kandungan logam Pd di atas 5 gram per ton batuan), penggunaan HCl
sebaiknya dikurangi sebanyak 50% dari takaran normal (1 kg HCl / ton batuan)
menjadi hanya 0,5 kg HCl / ton batuan. Sebagai penggantinya, jumlah H2O2 dapat
dinaikkan hingga 0,5 kg / ton batuan. HCl, dalam jumlah tertentu akan bereaksi
dengan palladium membentuk senyawa logam larut PdCl2, suatu hal yang tak
diharapkan terjadi. Larutan PdCl2 bereaksi dengan NaCN menjadi garam palladium
sianida yang mudah terserap oleh karbon.

V.1.3.3. Oksidator HNO3

Disamping proses klorinasi, oksidasi juga dapat dilakukan menggunakan asam-


asam anorganik lainnya, seperti asam nitrat HNO3, air raja (campuran asam nitrat :
asam klorida 1 : 3), dan garam dari asam anorganik (seperti timbal nitrat), perak
nitrat (AgNO3).

Asam nitrat, dalam konsentrasi tinggi, dapat melarutkan hampir seluruh logam
terkecuali logam emas dan platina. Dalam proses oksidasi yang menggunakan
asam nitrat sebagai oksidator, untuk mencegah turut larutnya logam perak, perlu
dilakukan pengenceran hingga angka molaritas terbesarnya 2 M. Penggunaan air
sebagai pengencer juga turut memengaruhi hasil oksidasi lumpur. Air yang
mengandung klor mengakibatkan terendapkannya kembali logam-logam merkuri
dan timbal ke dalam lumpur (dalam bentuk garam padat berwarna putih HgCl2 dan
PbCl2). Garam yang tertinggal ini selanjutnya akan bereaksi dengan mudah
terhadap sianida membentuk garam kompleks logam sianida, yang mengakibatkan
pemborosan pemakaian sianida dalam proses leaching.

Sama halnya seperti proses klorinasi, jika jumlah logam pengotor yang terlarut
akibat teroksidasi dalam proses nitrox cukup besar, sehingga perlu dilakukan
pembuangan cairan dan pembilasan, yang bertujuan memisahkannya dari lumpur
sebelum proses leaching dilakukan. Asam nitrat merupakan oksidator asam
anorganik yang sangat kuat, akan tetapi sedikit lambat jika berhadapan dengan
karbon alami. Untuk memperkuat oksidasi nitrat, perlu ditambahkan hidrogen
peroksida sehingga proses oksidasi berlangsung lebih cepat dan oksidasi dapat
berlangsung sempurna.

Penggunaan asam nitrat sebagai oksidator memiliki berbagai keunggulan dan


kerugian. Keunggulannya antara lain merupakan oksidator yang sangat kuat,

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
mampu melarutkan sisa-sisa logam merkuri dan tembaga dari lumpur. Pada
sebagian dari pengolahan lumpur emas, bahan baku yang diolah berasal dari
lumpur limbah yang dihasilkan dari proses amalgamasi (menggunakan tromol dan
merkuri sebagai alat produksi). Lumpur jenis ini mengandung logam merkuri yang
cukup signifikan, dan sebagian diantaranya telah mengamalgamasi (melapisi dan
menutupi permukaan) butiran halus logam emas, sehingga sebagian dari butiran
emas tak bereaksi dengan larutan NaCN. Asam nitrat akan melarutkan logam
merkuri menjadi larutan merkuri nitrat, sehingga permukaan logam emas terbebas
dari lapisan merkuri.

Kelemahannya; pada tingkat molaritas yang tinggi akan melarutkan juga logam
perak, harga yang relatif mahal, boros dalam penggunaan sianida dan karbon. Pada
kasus dimana jumlah logam pengotor sangat tinggi, penggunaan asam nitrat
sebagai oksidator sudah tidak tepat disebabkan mahalnya biaya oksidasi. Seperti
halnya proses klorinasi, jumlah oksidator asam nitrat yang dibutuhkan pada proses
nitrox bergantung pada jumlah logam pengotor di dalam batuan. Jika jumlah logam
pengotor (merkuri, tembaga, dan zinc) mencapai 3 kg dalam 1 ton material lumpur,
maka dibutuhkan asam nitrat sebanyak 4,5 kg (1,5 x jumlah logam pengotor).
Larutan dari lumpur hasil proses oksidasi yang menggunakan asam nitrat perlu
dibuang dari lumpur (dikeluarkan dari reaktor) agar penggunaan sianida dapat
ditekan pada proses leaching. Untuk batuan yang mengandung logam pengotor
dalam tingkatan yang normal, penggunaan asam nitrat hanyalah 1-2 kg per ton
material. Pada batuan jenis ini, larutan hasil oksidasi tak perlu dibuang sebab tak
signifikan dalam peningkatan penggunaan sianida dan karbon pada proses
leachingnya.

Untuk kasus pengolahan lumpur batuan emas yang berasal dari limbah tromol yang
menggunakan proses amalgamasi, maka sudah dapat dipastikan bahwa lumpur
mengandung sejumlah logam merkuri yang kuantitasnya bervariasi antara 0,5 kg
2 kg per ton lumpur. Sebagian logam emas dan perak yang berasal dari limbah
tromol yang menggunakan merkuri telah mengalami proses amalgamasi (telah
terbungkus oleh lapisan merkuri pada bagian luarnya). Jika proses oksidasi tak
dilakukan sebelum proses leaching, maka sianida tak berhasil kontak dengan
permukaan logam emas ; suatu hal yang sangat merugikan dari segi perolehan
emas yang rendah.

Untuk batuan yang mengandung mineral-mineral ikutan seperti palladium (Pd),


tembaga, molybdenum (Mo), dan jenis-jenis logam bertitik leleh tinggi lainnya,
penggunaan asam nitrat sebagai oksidator akan berakibat buruk dalam proses
leaching, tingkat penyerapan yang buruk jika menggunakan karbon, dan peleburan
logam harus dilakukan pada suhu yang cukup tinggi.

Ikut sertanya logam pengotor ini larut dan terserap karbon mengakibatkan tingkat
perolehan emas menurun, pemborosan sianida dan karbon, serta makin tingginya
suhu pelelehan logam emas.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Sebagian batuan emas di sebagian besar daerah di Indonesia tidak cocok
menggunakan asam nitrat sebagai oksidator, karena mengandung mineral-mineral
ikutan yang bersifat mengganggu, dan dalam jumlah yang cukup besar. Sebagian
besar daerah di pulau Sumbawa dan Sulawesi Utara dan Tenggara sangat tak
cocok jika menggunakan asam nitrat sebagai oksidator.

V.1.3.4. Oksidator Timbal Nitrat (Lead II Nitric) Pb(NO3)2.

Dalam kasus dimana jumlah logam ikutan tidak begitu tinggi sehingga tak signifikan
jika dilakukan dekantasi (pengurasan) larutan, maka timbal nitrat Pb(NO3)2 adalah
zat oksidator yang juga tepat digunakan dalam proses sianidasi. Ion nitrat (NO3-)
merupakan oksidator yang sangat kuat. Untuk mendapatkan ion NO3- yang murah
dapat dilakukan dengan penambahan garam timbal nitrat Pb(NO3)2 ke dalam
lumpur.

Penggunaan timbal nitrat sebagai oksidator pada lumpur/batuan dengan logam


ikutan yang tinggi justru mengakibatkan peningkatan yang tajam dalam
penggunaan sianida, meskipun rendemen logam utama yang dihasilkan menjadi
signifikan jumlahnya. Hal ini terjadi karena garam timbal turut bereaksi dengan
garam sianida membentuk garam timbal sianida.

Proses oksidasi yang menggunakan timbal nitrat berdampak positif terhadap


meningkatnya perolehan logam perak yang berasal dari senyawa argentit Ag2S.
Sebagaimana diketahui secara umum, jarang ditemui logam perak bebas di alam
(kecuali yang berasosiasi dengan logam emas), melainkan sebagian besar
berbentuk garam perak ; antara lain argentit Ag2S, perak oksida Ag2O, perak klorida
AgCl, dan perak karbonat Ag2CO3. Anion dari timbal nitrat (NO3-) bekerja
mengoksidasi garam perak sulfida Ag2S, merubahnya menjadi garam perak yang
mudah terlarut oleh alkali sianida.

Batuan-batuan yang mengandung karbon alami sangat tepat dioksidasi oleh timbal
nitrat, disebabkan sebagian timbal nitrat akan terserap oleh karbon selama proses
ini, suatu hal yang sangat menguntungkan sebelum proses leaching dilakukan.
Garam terlarut dari timbal nitrat yang masih tersisa setelah proses oksidasi
mengalami perubahan menjadi endapan timbal hidroksida ketika pH dinaikkan
(proses persiapan sebelum leaching dilakukan).

Pb(NO3)2 + 2NaOH ====> Pb(OH)2 + 2NaNO3

Timbal kemudian akan terlarut akibat bereaksi dengan garam alkali sianida menjadi
larutan timbal II sianida yang akhirnya terserap oleh karbon alami yang bersumber
dari batuan.

Pb(OH)2 + 2NaCN =====> Pb(CN)2 + 2NaOH

Pada batuan dengan kandungan unsur logam tembaga yang tinggi (terutama
berjenis chalcopyrite), oksidasi menggunakan asam nitrat ataupun timbal nitrat tidak

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
tepat dilakukan, disebabkan tingkat penggunaan oksidator yang tinggi sangat
mempengaruhi biaya produksi logam emas dan perak. Ion nitrat bereaksi dengan
besi sulfida yang berasal dari chalcopyrite menghasilkan garam besi II nitrat yang
selanjutnya berubah menjadi garam besi III yang tak larut. Reaksi dengan unsur
besi ini tentu tak sebanding terhadap biaya penggunaan asam nitrat ataupun timbal
nitrat yang cukup tinggi. Pada batuan dengan kandungan arsen yang tinggi,
oksidator nitrox (asam maupun garam nitrat) sangat tepat digunakan karena
kekuatannya dalam melakukan proses oksidasi.

Larutan timbal nitrat Pb(NO3)2 Kristal timbal nitrat


Pb(NO3)2

Proses oksidasi nitrat (nitrox) menggunakan garam timbal nitrat efektif dilakukan
selama 6 jam sebelum proses leaching berlangsung. Jumlah timbal nitrat normal
antara 100 gram 200 gram per metrik ton lumpur, untuk batuan sulfida yang lebih
tinggi jumlahnya dapat dinaikkan hingga 300 gram / ton.

V.1.3.4.1. Pembuatan Timbal II Nitrat

Sebagaimana yang telah dijelaskan, timbal nitrat digunakan sebagai oksidator pada
proses leaching. Bahan-bahan baku yang digunakan untuk membuat garam timbal
II nitrat adalah logam timbal/timah hitam) dan larutan asam nitrat HNO3 atau di
pasaran sering disebut dengan nama air keras. Tiap 1 kg logam timbal
membutuhkan 1 kg HNO3 untuk diproses menjadi garam timbal II nitrat. Setelah
diproses, 1 kg logam timbal akan menghasilkan 1,7 kg garam timbal II nitrat yang
kering.

Langkah-langhkah proses pembuatan sebagai berikut :

1. Lebur kembali logam timbal hingga cair (4000C) di dalam krus tanah,
kemudian tuangkan secara bertahap ke dalam ember yang telah diisi air,
agar terbentuk butiran logam yang berukuran kecil. Tahap ini diperlukan
agar proses pelarutan dapat dilakukan dengan cepat (sebagaimana
diketahui, kecepatan suatu reaksi kimia selalu berbanding lurus dengan luas
permukaan bahan-bahan yang direaksikan).

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
2. Masukkan butiran logam ke dalam panci stainlees, kemudian masukkan air
yang bebas dari ion klor atau Cl- (sebaiknya gunakan aquadest atau air
mineral) sebanyak 3x volume logam timbal.
3. Tempatkan panci di atas kompor (sebaiknya gunakan kompor berbahan
bakar minyak tanah atau kayu), masukkan larutan HNO3 pekat 68%
sebanyak 2x volume air yang telah dimasukkan sebelumnya.
4. Rebus panci hingga mendidih, gunakan penutup yang rapat agar uap tak
keluar dari panci (sebagian dari uap mengandung gas NO2 dan uap timbal
nitrat yang cukup berbahaya bagi kesehatan). Sesekali cek dan buka
penutup panci (gunakan masker pelindung pernafasan dan mata), jika uap
coklat sudah hilang dan terlihat sebagian cairan mulai mengkristal, maka
pindahkan cairan yang bening ke dalam ember besar. Kecilkan api kompor
selama proses pendinginan larutan Pb(NO3)2 di dalam ember.
5. Setelah larutan mulai mendingin (600C), tambahkan larutan HNO3 ke dalam
ember tersebut. Jika larutan sudah cukup kental, maka akan terbentuk
kristal-kristal garam Pb(NO3)2 dengan cepat selama proses penambahan
HNO3 dilakukan. Hentikan penambahan jika sudah tak terbentuk lagi kristal-
kristal garam yang baru.
6. Selanjutnya larutan yang menggenangi kristal dimasukkan kembali ke dalam
panci stainless, dan perebusan dilanjutkan.
7. Ulangi proses-proses di atas hingga seluruh logam timbal telah habis terlarut
dengan sempurna menjadi garam timbal II nitrat.
8. Kristal-kristal yang masih basah selanjutnya dijemur di bawah matahari
hingga mengering (jangan gunakan api sebagai pengering, sebab akan
mengakibatkan timbal II nitrat dapat berubah menjadi timbal II oksida yang
berwarna kuning). Jika terjadi perubahan senyawa menjadi oksida, maka
percikkan sebagian larutan asam nitrat ke permukaan garam oksida hingga
terjadi perubahan warna dan senyawa menjadi timbal II nitrat.
9. Sisa larutan yang belum mengkristal dapat dijemur di bawah matahari
hingga berubah mengering menjadi kristal.

V.1.3.5. Oksidator Perak Nitrat AgNO3

Perak nitrat merupakan oksidator yang sangat kuat dan sangat mudah tereduksi
menjadi partikel logam perak jika bersinggungan dengan mineral-mineral yang lebih
reaktif. Akan tetapi kekuatan dalam hal oksidasi ini tak seimbang dengan harga
yang sangat tinggi, sehingga tak cocok digunakan dalam skala usaha.

Perak nitrat, karena kekuatan oksidasinya, sangat mudah tereduksi menjadi logam
perak jika bersentuhan dengan benda-benda logam seperti besi, tembaga,
kuningan, dan sebagainya.

V.1.3.5.1. Pembuatan Perak Nitrat AgNO3

Perak nitrat diproduksi dari bahan baku logam perak murni dan asam nitrat pekat
68%. Proses pelarutan perak nitrat menggunakan panci stainless dan api sebagai

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
pemanas panci. Panci stainless dapat digantikan oleh panci yang terbuat dari gelas
pyrex yang tahan terhadap suhu tinggi.

Proses pembuatan sebagai berikut :

1. Rebus logam perak di dalam panci menggunakan asam nitrat pekat tanpa
dicampur dengan air. Lakukan perebusan hingga uap coklat hilang dari
panci (pada posisi ini asam nitrat sudah bereaksi semua dengan logam
perak, membentuk larutan garam perak nitrat).
2. Jika logam perak masih ada yang tersisa, lakukan penambahan asam nitrat
hingga semua larut menjadi cairan.
3. Lakukan perebusan larutan perak nitrat, hingga mulai terbentuk Kristal
bening.
4. Selanjutnya jemur kristal perak nitrat beserta sisa cairannya hingga
mengering.
5. Kristal perak nitrat sangat sensitif terhadap barang-barang yang mudah
teroksidasi, oleh karena itu hindarkan garam perak ini bersentuhan dengan
barang-barang tersebut. Terhadap kulit, perak nitrat mudah tereduksi
menjadi lapisan perak yang berwarna hitam. Jika ini terjadi, gunakan larutan
alkali sianida yang dioleskan pada permukaan kulit yang terkena, hingga
semua lapisan hitam menghilang. Setelah itu cuci bersih dengan sabun
permukaan kulit yang bersentuhan dengan sianida (sianida sangat bersifat
racun !).

V.1.3.6. Oksidator Aqua Regia (Air Raja)

Air raja mampu melarutkan hampir semua logam beserta garam-garamnya, kecuali
logam perak dan merkuri. Logam timbal dan garam-garamnya larut sedikit dalam air
raja, terutama jika konsentrasi pelarut tak terlalu pekat.

Air raja merupakan suatu pelarut yang berasal dari pencampuran antara asam nitrat
dan asam klorida dalam perbandingan 1 : 3 volume/volume. Air raja merupakan
oksidator yang sangat kuat hingga mampu melarutkan logam emas, dan besi III
oksida (yang hampir tak larut oleh pelarut-pelarut asam anorganik lainnya).

Air raja sangat cocok digunakan pada batuan-batuan dengan jumlah kandungan
mineral pengganggu yang relatif kecil. Pada batuan yang telah tercemar logam
merkuri, penggunaan air raja tidaklah tepat disebabkan sangat sedikitnya logam
merkuri yang dapat larut. Air raja juga tidak cocok digunakan pada batuan yang
memiliki kandungan logam-logam pengotor seperti molybdenum, palladium, dan
sedikit platina. Pada batuan yang mengandung logam-logam ini, ekstraksi larutan
yang dilakukan menggunakan karbon aktif akan menyulitkan, terutama pada saat
peleburan hasil debu logam dilakukan.

Oksidator air raja mampu melarutkan logam emas, oleh karena itu larutan hasil
oksidasi tidak dibuang disebabkan adanya kemungkinan terlarutnya sebagian kecil

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
logam emas dalam air raja. Ukuran terbaik dalam penggunaan air raja sebagai
oksidator adalah 1,5 kg per ton lumpur.

V.1.4. Pengendalian Limbah Hasil Oksidasi

Pengurasan larutan hasil oksidasi (jika batuan/lumpur memiliki kandungan logam


pengotor yang cukup tinggi) perlu dilakukan setelah proses oksidasi, agar logam-
logam terlarut yang berbahaya dapat diekstrak kembali dari garam terlarutnya.
Larutan limbah proses oksidasi (terutama yang berbahan baku limbah proses
amalgamasi) seharusnya dinetralisir terlebih dahulu dari logam beratnya sebelum
dilakukan pembuangan.

Untuk mengendapkan logam-logam berat dari larutannya, kita dapat menggunakan


garam sodium sulphide (Na2S) sebagai pembentuk garam tak larut yang sangat
stabil. Hasil dari proses oksidasi yang menggunakan asam nitrat antara lain merkuri
nitrat Hg(NO3)2, Pb(NO3)2, Cu(NO3)2 yang bersifat racun terhadap mahluk hidup.
Penambahan sodium sulphide pada larutan limbah akan membentuk senyawa baru
yang sangat sukar larut, sehingga menjadi partikel baru yang sangat aman bagi
lingkungan.

Pb(NO3)2(l) + Hg(NO3)2(l) + Cu(NO3)2(l) + Na2S(l) ====> PbS(s) + HgS(s) + CuS(s) +


NaNO3(l)

Kelarutan timbal sulfida maupun merkuri sulfida yang sangat rendah pada air (
hingga 10-48 gram/liter) atau hanya 10-42 ppm membuat penggunaan sodium
sulphide sebagai penetral limbah sangat disarankan untuk diterapkan.

V.1.5. Praktek Oksidasi

Ada beberapa aspek yang pertlu diperhatikan sebelum memasukkan lumpur ke


dalam reaktor (tong), yaitu :

Pelapisan permukaan dalam dari reaktor yang terbuat dari logam (seperti
besi misalnya) menggunakan bahan yang tahan terhadap larutan kimia
(chemical resistance), seperti resin fiber, polyurethane (pernish anti gores
untuk pelapis cat mobil), dan bahan-bahan sejenis lainnya. Tujuan pelapisan
(coating) agar dinding reaktor tak ikut tergerus oleh reaksi kimia pada saat
proses oksidasi berlangsung.
Penggunaan kompresor yang memiliki tenaga cukup kuat untuk mengaduk
lumpur (jika reaktor berbentuk kerucut) ; atau sumbu dan kipas propeller
yang hampir menyentuh dasar reaktor, dan ujung-ujung kipasnya hanya
berjarak sekitar 15 cm dari permukaan dinding reaktor (jika reaktor
berbentuk tabung dengan dasar yang horizontal dan menggunakan propeller
sebagai pengaduk utama lumpur). Untuk reaktor yang berbentuk kerucut,
sebaiknya angin dari kompresor udara hanya masuk dari 1 selang saja
dengan lubang masuk (inlet) berasal dari bagian paling bawah dari reaktor,
agar tak terjadi pembagian tekanan udara. Penggunaan selang yang

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
berlebihan akan mengakibatkan terjadinya pengurangan tekanan, yang
berakibat pada terjadinya pengendapan material di dasar reaktor.
Penggunaan selang yang berlebihan dapat menimbulkan ketimpangan
tekanan antar selang, yang pada akhirnya dapat menimbulkan endapan
pada sebagian wilayah reaktor.
Lumpur yang diolah sebaiknya telah berukuran mesh 150, agar proses
oksidasi dan pelarutan bisa berlangsung sempurna. Ukuran mesh yang lebih
kasar beresiko terhadap pengendapan material di dasar reaktor, serta
kemungkinan makin lamanya waktu yang dibutuhkan dalam proses leaching.
Ukuran yang kasar tak akan mampu untuk diaduk oleh agitator, ataupun
oleh udara tekanan tinggi, sehingga akan mengendap di dasar reaktor.
Akibat dari pengendapan ini, biasanya sebagian dari karbon yang
dimasukkan ke dalam reaktor akan terjebak di dalam partikel yang
mengendap, sehingga mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan
karbon. Efek lainnya adalah kemungkinan butiran garam sianida yang
dimasukkan juga akan terperangkap dalam lumpur yang mengendap, yang
juga berakibat pada borosnya pemakaian sianida. Partikel lumpur yang
mengendap juga mengakibatkan rendahnya perolehan logam dalam proses
leaching.

V.1.6. Pengisian Lumpur ke Dalam Reaktor dan Penimbangan Berat Jenis.

Lumpur terlebih dahulu dimasukkan ke dalam alat mixer yang berfungsi


menghancurkan gumpalan-gumpalan lumpur yang telah mengeras, gunakan air
sebagai pengencer. Saring terlebih dahulu lumpur encer menggunakan saringan
kawat baja mesh 28-40 untuk memisahkan dari batu-batu ukuran kecil yang
mungkin masih tercampur dengan lumpur, kemudian lumpur dihisap menggunakan
pompa lumpur dan dimasukkan ke dalam reactor dari bagian atas. Selama proses
pengisian berlangsung, kompresor udara sebagai penyplai udara tekanan tinggi
telah dinyalakan agar tak terjadi sedimentasi lumpur, setelah semua lumpur masuk,
lakukan penimbangan berat jenis lumpur hingga tercapai angka 1,5 kg/liter atau
lebih.

V.1.7. Proses Oksidasi

Masukkan garam timbal II nitrat sebanyak 25 gram per ton material padat
(lumpur kering). Disamping sebagai oksidator, garam timbal bermanfaat
untuk menetralisir karbon aktif yang berasal dari alam. Proses timbal nitrat
berlangsung selama 1 jam sebelum proses pemasukan oksidator berikut.
Masukkan oksidator asam yang sesuai terhadap jenis batuannya dalam
proses ini. Jika menggunakan HNO3, maka masukkan HNO3 68% sebanyak
1,5 kg per ton material. Jika menggunakan HCl, masukkan sebanyak 2 kg
HCl 32% per ton material. Jika material sebanyak 4 ton, maka jumlah
oksidator HCl = 4 x 2 kg = 8 kg. Lakukan proses oksidasi selama 6 jam,
dibantu pengadukan menggunakan propeller dan udara tekanan tinggi (yang

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
berasal dari kompresor). Dalam beberapa hal, HNO3 sangat cocok
digunakan sebagai oksidator, namun dalam beberapa kasus oksidator ini
dapat menyulitkan jika batuan emas juga mengandung sejumlah tertentu
logam-logam palladium, molybdenum, dan beberapa jenis logam lainnya
yang larut terhadap sodium sianida. Sebagai misal, sebagian besar batuan
emas di pulau Sumbawa dan Sulawesi Utara tidak cocok menggunakan
HNO3 karena turut larut dan terserapnya logam-logam tersebut. Kesulitan
akan muncul ketika ekstraksi menggunakan karbon aktif, dan pada proses
peleburan akan terkendala oleh titik leleh yang tinggi. Penuangan larutan
asam sebaiknya dilakukan sekaligus agar pH awal sesaat mulai oksidasi
dapat terukur. pH awal sebaiknya berada antara 2 3 agar proses oksidasi
dapat berjalan dengan cepat dan sempurna
Setelah 6 jam, lakukan pengenceran hingga mencapai berat jenis lumpur
1,25 kg/liter. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik (jika tingkat persentase
logam pengotor cukup tinggi), setelah 6 jam masukkan air ke dalam reaktor
hingga memenuhi permukaan atas reaktor.

V.2. Proses Pelarutan Emas (Sianidasi)

Pada proses leaching, beberapa parameter harus diperhatikan secara berkala agar
pelarutan terus berlangsung hingga memperoleh hasil yang optimal. Ekstraksi yang
benar akan menghasilkan perolehan logam hingga 95%, namun sistem yang salah
dapat berakibat buruk pada perolehan logam. Untuk memperoleh hasil yang
maksimum, maka parameter-parameter yang mempengaruhi proses pelarutan
harus tetap diperhatikan dan dikendalikan. Parameter-parameter yang penting
antara lain pH larutan, tegangan oksidasi-reduksi, suhu lumpur, kadar oksigen
terlarut, dan waktu pelarutan.

V.2.1. Penetapan pH Awal.

Emas dan perak yang berada di dalam lumpur diekstraksi dengan cara dilarutkan
oleh garam sianida, sehingga secara fisik terpisah dari lumpurnya. Selama proses
oksidasi, pH larutan pada lumpur menjadi turun ke angka di bawah 7. Proses
sianidasi mensyaratkan kondisi pH yang tinggi dan beroperasi dalam wilayah basa,
oleh karena itu sebelum proses ini pH lumpur perlu dinaikkan terlebih dahulu
menggunakan garam alkali basa tinggi semacam caustic soda NaOH atau kapur
CaO. Pemilihan untuk menggunakan caustic atau kapur tergantung pada beberapa
hal, antara lain :

1. Menggunakan karbon aktif atau tidak sebagai ekstraktor? Jika menggunakan


karbon aktif, sebaiknya gunakan kapur. Alasannya adalah caustic juga bereaksi
dengan silika membentuk senyawa Na2OSiO2 (water glass), suatu senyawa
kompleks silika yang larut dalam air pada pH tinggi.

2 NaOH + SiO2 =====> Na2SiO3 + H2O, atau secara ion sebagai berikut ;

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
2 Na+ + 2 OH- + Si2+ + 2O2- =====> 2 Na+ + SiO32- + H2O

Anion kompleks silika SiO32- yang larut akan terserap oleh karbon aktif, sehingga
tingkat konsumsi karbon aktif pun menjadi naik, dan akan timbul kesulitan dalam
proses peleburan tepung logam, disebabkan ion silika yang dibakar beserta karbon
akan tereduksi kembali menjadi tepung silika yang bercampur dengan tepung
logam.

2. Jika menggunakan debu zinc atau elektrowinning dalam mengekstraksi logam


emas dari kompleksnya, maka penggunaan caustic soda yang dikombinasikan
dengan kapur sebagai reagen penaik pH adalah pilihan yang tepat. Dalam proses
penaikan pH yang dilakuka oleh caustic, maka sebagian silika turut terlarut,
sehingga membawa keuntungan berupa terbukanya sebagian selubung bijih emas
yang mungkin masih terbungkus oleh silika setelah proses oksidasi dilakukan.
Sebagaimana diketahui, silika hanya larut terhadap pelarut hidrogen fluorida (HF)
pada suasana asam; caustic soda NaOH, dan soda ash Na2CO3 pada suasana
basa. Caustic juga bereaksi dengan logam-logam dasar seperti besi, tembaga,
mangan, dan cenderung mengoksidasi logam-logam tersebut menjadi garamnya.
Dengan kata lain, penggunaan caustic sangat menguntungkan, karena proses
liberalisasi bijih emas masih berlanjut paralel dengan proses pelarutan sianida.

Sebelum sianida dimasukkan, perlu dilakukan pengukuran pH larutan dan tegangan


redoks. Tegangan redoks dalam proses sianida berada dalam kisaran (-)200 mV
hingga (-)350 mV. Pada tingkat pH di posisi 7, tegangan redoks menjadi 0 mV,
kenaikan pH lebih lanjut akan menurunkan tegangan redoks ke arah negatif. pH
awal sebelum sianidasi dimulai perlu dinaikkan hingga kisaran 10,5 11 untuk
menurunkan konsentrasi ion hidrogen bebas di dalam lumpur.

V.2.2. Komposisi Awal Sianida dan Parameter Lainnya

Garam alkali sianida (KCN / NaCN) dapat dilarutkan terlebih dahulu sebelum
dimasukkan ke tangki pelarut (reaktor), atau dapat langsung dimasukkan ke dalam
reaktor dalam bentuk butiran. Pada kondisi umum, berat jenis campuran antara air
dan lumpur yang optimal dalam proses leaching berada pada posisi antara 1,25 kg
1,3 kg per liter lumpur cair. Pada berat jenis lumpur cair 1,25 kg/liter, jumlah awal
sianida yang optimal berada pada angka 2,5 kg per ton lumpur padat, dan untuk
berat jenis lumpur 1,3, jumlah sianida awal optimal berada pada kisaran 2 kg/ton
lumpur padat. Perbedaan jumlah sianida tersebut dikarenakan berbedanya volume
air di dalam reactor (konsentrasi air yang lebih besar menuntut penggunaan sianida
yang juga lebih besar; patokan sejatinya adalah jumlah sianida terlarut, yang
dihitung dalam satuan ppm atau gram per ton). Untuk lumpur yang memiliki
kandungan logam emas yang tinggi, sebaiknya berat jenis lumpur cair berada pada
kisaran 1,25 kg per liter.

Sebelum sianida dimasukkan, perlu diketahui jumlah berat total lumpur padat yang
masuk reaktor. 1 ton lumpur, pada tahap awal memerlukan 2 kg KCN / NaCN, atau

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
800-1000 ppm NaCN (800-1000 gram NaCN / 1 ton material lumpur cair). Untuk
mengukur kadar NaCN dapat digunakan alat TDS meter (conductivity-meter). Jika
jumlah lumpur padat yang masuk sekitar 5 ton, maka jumlah NaCN awal sebanyak
5 x 2 kg = 10 kg.

Pemasukan sianida akan menaikkan pH lumpur hingga menuju angka di atas 11.
Selama proses ini lumpur terus diaduk dengan kecepatan konstan. Pemerian
suntikan udara kedalam lumpur sangat perlu, disamping berfungsi sebagai oksidator
sianida, juga membantu terjadinya oksidasi mineral sulfida, sehingga lebih
memudahkan pelarutan. Reaksi reaksi pelarutan sebagai berikut :

4 Au (s) + 8 NaCN (l) + O2 (g) + 2 H2O (aq) =====> 4 Na[Au(CN)2] (l) + 4NaOH (l)

4 Ag (s) + 8 NaCN (l) + O2 (g) + 2 H2O (aq) =====> 4 Na[Ag(CN)2] (l) + 4NaOH (l)

Dari reaksi-reaksi kimia di atas terlihat bahwa reaksi pelarutan logam emas dan
perak yang menggunakan alkali sianida sebagai pelarut, membutuhkan oksigen
yang terlarut dalam lumpur dan molekul air. Hasil dari reaksi membentuk larutan
garam kompleks emas sianida dan perak sianida serta terbentuknya garam natrium
hidroksida (NaOH / caustic soda). Tanpa kehadiran oksigen dan molekul air dalam
larutan sianida, maka pelarutan logam emas tak mungkin terjadi.

V.2.3. Pengendalian Jumlah Sianida Terlarut.

Selama proses leaching berlangsung, terjadi penurunan kuantitas alkali sianida di


dalam lumpur, sebagai akibat dari pengurangan karena proses pelarutan logam,
dan pengurangan yang terjadi akibat penguapan dari senyawa hidrogen sianida
(HCN). Menurunnya jumlah kandungan sianida terlarut mengakibatkan
melambatnya waktu pelarutan logam emas. Penambahan sianida berikutnya perlu
dilakukan jika 2 kondisi yang secara bersamaan menyertai : 1. Turunnya kandungan
NaCN dalam lumpur hingga berada di bawah angka 800 ppm, 2. Hasil pengujian
karbon sampel; jika secara visual tingkat serapan logam emas masih cukup
banyak, lakukan penambahan hingga mencapai angka 800 ppm; jika kandungan
emas dalam karbon sampel mulai menurun, penambahan dapat dilakukan dalam
jumlah yang kecil saja hingga mencapai angka 600-700 ppm. Dalam kondisi tanpa
alat pengukur, penambahan dapat dilakukan setiap 12 jam, dan penambahan juga
bergantung pada hasil peleburan karbon sampel yang digantung sedikit di bawah
permukaan cairan lumpur dalam reaktor. Penambahan NaCN pertama sebanyak
25% dari jumlah NaCN awal, selanjutnya menurun menjadi 10% setiap
penambahan. Penambahan dihentikan jika pada pengujian karbon diperoleh
indikasi kuantitas logam terserap yang menurun, serta warna mulai menunjukkan
dominasi logam perak. Memang, dalam kondisi tanpa alat pengukur, penambahan
secara perkiraan saja memiliki dampak negatif berupa pemborosan dalam konsumsi
NaCN.

V.2.4. Pengaruh pH

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Alkali sianida (NaCN / KCN) saat dilarutkan dengan air akan terionisasi menjadi Na+
dan CN-.

NaCN (s) + H2O (aq) ======> Na+ + CN- + H2O (aq)

CN- dalam larutan bersifat bebas dengan kelebihan 1 elektron pada molekulnya. pH
larutan turun disebabkan meningkatnya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam
larutan. Pada deret volta terlihat bahwa kation hidrogen memiliki tingkat reaktifitas
yang lebih rendah dibandingkan kation natrium (Na) atau kalium (K), sehingga
kation ini akan cenderung berpasangan dengan anion CN yang memiliki sifat basa
lemah. Hal ini mengakibatkan terjadinya kemungkinan terbentuknya asam HCN
(hidrogen sianida). HCN sangat mudah menguap disebabkan titik didihnya hanya
260C, sehingga sedikit di atas suhu kamar akan terjadi penguapan. Pada proses
pelarutan sianidasi, suhu lumpur meningkat hingga mampu mencapai 420C. Reaksi
pelarutan menghasilkan panas pada sistem (reaktor) sebagai akibat dari pelepasan
kalor dari logam/senyawa yang dilarutkan. Tentu saja pada suhu tersebut sangat
mudah terjadi penguapan sianida bebas. Penguapan sianida merugikan disebabkan
2 hal yaitu :

Penguapan berarti berkurangnya kadar sianida di larutan. Hal ini berdampak


pada rendahnya efesiensi pelarut.
Penguapan sianida sangat berbahaya. Senyawa sianida adalah zat yang
sangat toksik dan mematikan.

Agar peluang terbentuknya asam sianida (HCN) di larutan menurun maka


konsentrasi hidrogen (H+) harus diturunkan serendah mungkin dengan penambahan
caustic soda (NaOH) atau tepung batu kapur CaO. Penambahan zat ini akan
menekan konsentrasi hidrogen bebas dalam larutan, dan tentu saja menaikkan pH
larutan.

Selama proses pelarutan (sianidasi), 3 kemungkinan yang akan terjadi terhadap pH


lumpur ; pH naik terus, pH turun, atau nilai pH pada angka yang tetap. Kondisi nilai-
nilai dinamis pH tersebut disebabkan terjadinya beberapa peristiwa yang beriringan
dengan proses pelarutan. Pada sub-bagian berikut dijelaskan secara rinci hal-hal
yang mengakibatkan terjadinya perubahan pH selama proses leaching berlangsung.

V.2.4.1. Kenaikan pH

Pada proses sianidasi, khususnya dalam hal pelarutan emas dan perak, dihasilkan
juga caustic soda sebagai produk dari reaksi pelarutan. Penambahan caustic yang
terjadi akibat reaksi pelarutan ini menaikkan pH lumpur menjauh dari angka 10,5 -
11. Caustic soda memiliki pH yang sangat tinggi (di atas 14), sehingga peningkatan
konsentrasi caustic di dalam lumpur berdampak pada peningkatan pH lumpur itu
sendiri. Meningkatnya angka pH merupakan indikasi terhadap beberapa hal :

- Terjadinya proses pelarutan emas dan perak.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
- Kenaikan pH yang cepat pada proses leaching mengindikasikan bahwa
pelarutan berlangsung baik, dan jumlah logam emas dan perak yang terlarut
signifikan terhadap kenaikan pH.
- Sempurnanya proses oksidasi, sehingga pembentukan hidrogen bebas
akibat masih tersisanya belerang di dalam lumpur pada saat proses
leaching makin rendah. Tingginya kandungan belerang berdampak pada
larutnya belerang oleh oksigen dalam lumpur, yang pada akhirnya
membentuk larutan asam sulfat yang dapat menurunkan pH lumpur.

Kenaikan pH menyebabkan turunnya kelarutan oksigen di dalam lumpur. Oksigen


sangat dibutuhkan dalam proses pelarutan emas dan perak, khususnya emas dan
perak logam. Makin tinggi pH akan makin sulit dan lambat logam emas melarut
dalam sianida. Oleh karena itu perlu dilakukan penurunan pH mendekati angka 11,
agar pelarutan kembali optimum.

Penurunan pH dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain menyuntikkan


oksigen bertekanan untuk meningkatkan kehadiran oksigen dalam lumpur.
Penambahan hidrogen peroksida H2O2 juga menurunkan angka pH. Penyuntikan
oksigen ke dalam lumpur hanya mampu menurunkan pH dalam kisaran yang sempit
dan memiliki sifat sementara. Peroksida, terutama hidrogen peroksida, merupakan
oksidator yang sangat kuat. pH dapat diturunkan melalui penambahan H2O2.
Kehadiran H2O2 meningkatkan kadar oksigen terlarut di dalam lumpur, yang berasal
dari penguraian peroksida itu sendiri.

Pada kenyataannya, penurunan pH yang terjadi akibat pemasukan cairan peroksida


ke dalam lumpur hanya mampu menurunkan pH dalam waktu yang sesaat juga.
Berselang beberapa waktu setelah pemasukan peroksida, pH larutan kembali
berangsur-angsur naik kembali, sebagai akibat meningkatnya kembali proses
pelarutan emas yang menyebabkan terbentuknya produk sampingan caustic soda
NaOH di dalam lumpur.

H2O2 (l) ===> H2O (aq) + O2 (g)

Penambahan hidrogen peroksida yang berlebihan justru menyebabkan terjadinya


penyimpangan akhir reaksi, yang mengakibatkan sianida ternetralisir. Larutan
peroksida, sebelum ditambahkan, sebaiknya diturunkan konsentrasinya hingga di
bawah 10% melalui pengenceran dengan air. Pengenceran peroksida bertujuan
mengurangi resiko penguapan sianida bebas akibat dari pembentukan hidrogen
sianida di larutan. Penambahan peroksida pekat akan menimbulkan reaksi yang
seketika serta peningkatan panas yang cepat di dalam lumpur. Panas yang tinggi
sangat jelas beresiko terhadap terjadinya penguapan sianida. Penambahan
peroksida sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tak terjadi kejenuhan lokal,
yang justru dapat menyebabkan penyimpangan reaksi antara sianida dan
peroksida. Putaran agitator sebaiknya dilakukan secara maksimal agar
homogenisasi larutan cepat terjadi, khususnya disaat penambahan oksidator dari

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
luar. Putaran yang tinggi juga sangat berdampak positif terhadap kelarutan oksigen
di dalam lumpur.

Pemberian peroksida yang terlalu berlebihan juga berdampak terhadap makin


mudahnya logam-logam pengotor (yang masih tersisa di lumpur) larut oleh sianida.
Ukuran pH di angka 10,5 merupakan indikator yang sangat kritis terhadap
penguapan sianida dan pelarutan logam-logam pengotor. Oleh sebab itu nilai pH
selalu dikondisikan di atas 10,5 , atau 11. Pada nilai pH di posisi 12,5 - 13, pelarutan
logam makin melambat, oleh karena itu perlu dilakukan pemberian cairan peroksida
untuk menambah kelarutan oksigen di dalam lumpur.

Tingginya konsentrasi larutan garam kompleks logam dalam lumpur juga


mengakibatkan makin sulitnya oksigen larut dalam lumpur. Konsentrasi larutan
garam emas yang tinggi mengakibatkan naiknya tegangan permukaan larutan,
sehingga oksigen mengalami kesulitan untuk larut. Dalam proses leaching yang
menggunakan karbon sebagai penyerap garam kompleks emas, penambahan
karbon ke dalam tangki reaktor mampu menurunkan konsentrasi garam larut dari
emas. Akibatnya terjadi kenaikan oksigen terlarut dalam lumpur.

Untuk proses leaching yang menggunakan alat elektrowinning sebagai reduktor


garam emas dan perak, pengoperasian alat pada saat konsentrasi emas tinggi di
larutan juga dapat menurunkan konsentrasi secara signifikan.

Dari berbagai uraian di atas bisa disimpulkan bahwa kenaikan pH lumpur


disebabkan terjadinya pelarutan logam emas dan perak. Makin cepat kenaikan
terjadi, maka makin tinggi kandungan emas di dalam lumpur tersebut. Pada pH
yang terlalu tinggi, pelarutan akan melambat sehingga proses leaching memakan
waktu yang lebih lama ; oleh karena itu perlu dilakukan penurunan pH (walaupun
sifatnya hanya sementara) agar kecepatan reaksi mampu pulih kembali.

V.2.4.2. Penurunan pH

pH dapat saja turun pada proses pelarutan sianidasi. Penurunan pH dapat terjadi
akibat terbentuknya ion sulfat SO42- di dalam lumpur, banyaknya logam-logam
pengotor yang terlarut (seperti logam merkuri, tembaga, dan zinc). Ion sulfat
terbentuk akibat teroksidasinya belerang (baik belerang bebas maupun yang
berikatan secara kimia) oleh udara ataupun oksidator lainnya. Copper sulphide akan
dengan mudah teroksidasi oleh udara, menghasilkan copper sulphate. Disebabkan
ion sianida lebih stabil dan lemah dibanding sulfat, maka kation tembaga lebih
cenderung memilih berikatan secara kompleks dengan sianida dibanding sulfat.
Akhirnya anion sulfat akan menimbulkan suasana asam di larutan, dan selanjutnya
bereaksi dengan caustic soda membentuk garam sodium sulfat. Unsur belerang
dalam jumlah besar ditemukan di dalam lumpur yang tak dioksidasi sebelum proses
leaching dilakukan. Contoh reaksi pembentukan sulfat sebagai berikut :

CuFeS2 + O2 =====> CuS + FeO + SO

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
CuS + O2 =====> CuSO4

CuSO4 yang terbentuk akibat reaksi antara mineral chalcopyrite dan udara akan
terurai di dalam lumpur dalam bentuk kation dan anion bebas :

CuSO4 =====> Cu2+ + SO42-

Kation-kation bebas tembaga selanjutnya bereaksi dengan anion sianida maupun


anion hidroksida senyawa ion tembaga II sianida dan tembaga II hidroksida. Berikut
contoh reaksi garam tembaga sulfat dan NaCN dalam lumpur :

2 CuSO4 + 2 NaCN + 2 NaOH =====> Cu(CN)2 + Na2SO4 + Cu(OH)2

Dalam bentuk reaksi ion sebagai berikut ;

2 Cu2+ + 2 SO42- + 4 Na+ + 2 CN- + 2 OH- =====> Cu(CN)2 + 2 Na2SO4 + Cu(OH)2

Sama seperti caustic atau kapur, NaCN pada dasarnya memiliki pH yang tinggi.
Dengan bereaksinya sebagian sianida dan caustic/kapur membentuk garam
tembaga II sianida, tembaga II hidroksida, dan natrium sulfat Na2SO4 (yang
keduanya memiliki pH relatif netral), maka terjadi penurunan pH larutan pada
lumpur. Tembaga II hidroksida selanjutnya bereaksi dengan sianida membentuk
garam tembaga II sianida.

Masih adanya kelebihan sianida dalam larutan menyebabkan terbentuknya larutan


kompleks tembaga sianida seperti berikut :

Cu(CN)2 + 2 NaCN =====> Na2[Cu(CN)4]

Terbentuknya larutan kompleks logam mengakibatkan turunnya konsentrasi sianida


bebas dan turunnya pH lumpur. pH lumpur yang terus turun berdampak pada
mengendapnya kembali logam emas dan perak akibat berkurangnya sianida bebas;
turunnya sianida bebas mengakibatkan reaksi balik pada garam kompleks logam
sianida, sehingga peluang tereduksinya logam makin besar. Turunnya konsentrasi
sianida bebas juga berdampak pada makin tingginya tingkat konsumsi sianida pada
proses leaching, sehingga biaya produksi pun akan makin tinggi.

Turunnya pH pada proses leaching dipengaruhi oleh tingginya kandungan belerang


pada lumpur. Ini disebabkan oleh :

1. Banyaknya kandungan mineral refraktory pada lumpur.

2. Tak dilakukannya proses liberalisasi / oksidasi sebelum proses leaching


dilakukan, ataupun disebabkan kurang sempurnanya proses liberalisasi dilakukan.

Menghadapi turunnya pH, maka tindakan cepat yang harus dilakukan adalah
menaikkan kembali pH lumpur menuju angka 11. Jika penurunan terjadi dalam
waktu yang relatif cepat, maka sebaiknya pH dinaikkan hingga 12, agar proses
pelarutan belerang dapat diperlambat.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Gambar pH Saku Digital

.V.2.4.3. Nilai pH yang Hampir Tetap

Pada situasi di mana angka pH yang relatif stabil, patut dicurigai berbagai
kemungkinan yang terjadi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pH lumpur
dalam kondisi stagnan, antara lain :

1. Kandungan sianida bebas berkurang sehingga proses pelarutan menjadi sangat


lambat. Indikasi kurangnya sianida dapat diindikasikan menggunakan reagen
sianida, atau menggunakan alat pengukur sianida bebas (instrumen elektronis).

2. Adanya keseimbangan antara pelarutan logam emas dan perak di satu sisi (yang
menyebabkan terjadinya kenaikan pH), serta oksidasi belerang dan pelarutan logam
pengotor di sisi lainnya (penyebab terjadinya penurunan pH). Pada kondisi ini
proses leaching tetap berlangsung dengan baik, sehingga tak perlu dilakukan
penambahan zat apapun ke dalam lumpur.

3. Rendahnya kandungan emas dan perak di dalam lumpur, sehingga proses


pelarutan logam emas yang menghasilkan kenaikan pH akibat terbentuknya larutan
caustic soda berlangsung dalam intensitas yang lambat.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Gambar pH Portable Digital (pH + V redoks + Temp)

V.2.5. Jumlah Oksigen Terlarut

Beberapa jam setelah sianida dimasukkan, kelarutan emas dan perak mulai
meningkatkan tekanan permukaan larutan, sehingga menyulitkan oksigen untuk
larut ke dalam cairan. Naiknya tekanan permukaan disebabkan larutan garam
kompleks logam memiliki tekanan yang cukup tinggi, terutama garam kompleks
emas. Penurunan kelarutan oksigen sangat berpengaruh terhadap turunnya
kecepatan reaksi pelarutan emas. Pada proses sianidasi, faktor oksigen terlarut
merupakan faktor yang sangat menentukan dalam proses pelarutan logam emas.
Tingginya tingkat oksigen terlarut mengakibatkan makin cepatnya waktu proses
pelarutan logam, demikian juga sebaliknya. Jumlah oksigen terlarut (terukur) yang

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
optimal dalam proses leaching adalah minimum 6 miligram per liter (dapat diukur
menggunakan alat D/O meter).

Pada kenyataannya, proses pelarutan justru akan mengakibatkan turunnya tingkat


kelarutan oksigen di dalam lumpur, yang terjadi akibat :

Terkonsumsinya oksigen terlarut selama proses reaksi leaching


berlangsung. Oksigen, bersama-sama dengan air membentuk senyawa baru
NaOH sebagai hasil sampingan dari reaksi leaching. Jumlah oksigen terlarut
akan terus menurun seiring makin lamanya waktu pelarutan berlangsung,
dan tingginya kuantitas logam yang turut dalam reaksi (emas, perak, dan
tembaga misalnya). Tingkat oksigen terlarut dapat turun hingga mencapai
angka 0 miligram per liter; pada kondisi ini proses pelarutan makin melambat
dan pada akhirnya terhenti
Kenaikan pH yang disebabkan terus terbentuknya senyawa caustic soda
NaOH selama reaksi leaching berlangsung. Nilai pH yang makin tinggi
mengakibatkan oksigen makin sulit larut ke dalam lumpur.
Naiknya tekanan permukaan cairan lumpur yang diakibatkan larutnya logam-
logam. Makin banyak konsentrasi logam-logam terlarut juga menyebabkan
oksigen makin terdesak dari larutan logam tersebut.

Gambar D/O meter

Untuk menaikkan kembali tingkat kelarutan oksigen, kita dapat melakukan dengan 3
cara yaitu :

Menyuntikkan udara bertekanan tinggi ke dalam lumpur. Penggunaan


kompresor udara, disamping sebagai alat pengaduk lumpur, juga berfungsi
sebagai penyuplai oksigen ke dalam lumpur. Dalam hal-hal yang khusus,
terutama pada tingkat pH yang cukup tinggi, penggunaan udara bertekanan

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
tinggi hanya melarutkan sedikit oksigen ke dalam lumpur, sehingga
diperlukan kombinasi dengan cara-cara di bawah ini.
Memasukkan larutan hidrogen peroksida sebagai senyawa yang kaya akan
oksigen. Penambahan peroksida akan memaksa oksigen (yang berasal dari
peroksida itu sendiri) berada di dalam lumpur dalam interval waktu yang tak
terlalu lama. Penggunaan H2O2 memang sangat baik, terutama mampu
mempercepat proses leaching berlangsung. Akan tetapi penggunaan yang
berlebihan dapat mengakibatkan ternetralisirnya sebagian dari alkali sianida
sehingga justru bersifat merusak. Larutan H2O2 yang digunakan sebaiknya
memiliki konsentrasi yang lebih rendah dari 10% (jika yang tersedia
berkonsentrasi di atas 10%, lakukan pengenceran dengan air terlebih
dahulu). Penambahan peroksida sebaiknya jugs berpedoman kepada
ukuran yang tertera di alat D/O meter (pemberian H2O2 dilakukan jika tingkat
kelarutan oksigen menurun hingga di bawah 6 miligram/liter)
Memasukkan karbon aktif ke dalam lumpur. Pemasukan arang aktif
merupakan suatu solusi yang menarik dalam proses menaikkan jumlah
oksigen terlarut di dalam lumpur. Arang yang masuk akan menyerap garam-
garam logam dari larutannya, dan pada saat yang sama juga melepaskan
oksigen ke dalam lumpur (yang sebelumnya telah terkandung di dalam
arang tersebut). Terserapnya sebagian senyawa-senyawa logam ke dalam
arang akan menurunkan tegangan permukaan lumpur, sehingga oksigen
mampu larut dalam lumpur. Penambahan arang dapat dilakukan secara
bertahap dalam jumlah yang terukur, dan disesuaikan dengan jumlah ion
kompleks yang terlarut.

V.2.6. Tegangan Redoks

Tegangan redoks berbanding terbalik terhadap ukuran pH larutan. Pada angka pH


di bawah 7, nilai tegangan redoks berada pada kisaran positif. Makin rendah pH
maka makin tinggi nilai tegangan redoksnya. Pada pH 7, tegangan redoks mencapai
titik netral (0), kenaikan pH lebih lanjut akan menurunkan tegangan pada angka
negatif. Tegangan pelarutan terjadi pada kisaran (-) 200 mV (-) 350 mV,
sedangkan tegangan pelarutan optimal terjadi pada angka (-) 230 mV (-) 325 mV.
Tegangan redoks di atas (-)225 mV menyebabkan proses pelarutan logam-logam
pengotor makin cepat, sehingga memicu pemborosan dalam penggunaan sianida.
Caustic soda berfungsi menurunkan tegangan redoks dengan sangat baik
dibandingkan penggunaan kapur, sehingga ketika tegangan menyentuh angka -225
mV, maka pemberian caustic sebaiknya harus dilakukan dengan segera.

V.2.7. Temperatur Reaksi

Reaksi pelarutan makin cepat pada suhu yang makin tinggi, dan melambat pada
suhu yang rendah. Menaikkan suhu lumpur akan mempercepat proses reaksi
pelarutan emas, namun hal ini harus memperhatikan nilai pH pada lumpur. Pada pH

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
yang relatif rendah, kenaikan suhu mengakibatkan resiko terjadinya penguapan
sianida makin tinggi.

V.2.8. Durasi (Waktu) Pelarutan

Proses sianidasi berlangsung relatif lambat, namun lamanya waktu leaching lebih
ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Luas permukaan logam yang dilarutkan. Kecepatan reaksi sangat bergantung


pada luas permukaan, oleh karena itu makin luas permukaan maka makin cepat
reaksi berlangsung. Untuk memperluas permukaan bijih emas, maka sebaiknya
proses penggerusan batuan dilakukan hingga memperoleh ukuran yang sehalus
mungkin (di atas mesh 200). Makin halus permukaan lumpur, makin cepat proses
leaching berlangsung.

2. Kandungan dan konsentrasi sianida. Makin tinggi konsentrasi sianida, makin


cepat reaksi pelarutan berlangsung.

3. Jumlah mineral refraktory (mineral sulfida). Makin banyak kandungan mineral


sulfida mengakibatkan reaksi pelarutan berjalan lambat, dan tingkat konsumsi
sianida pun menjadi tinggi.

Pelarutan dikatakan selesai apabila sudah tak ditemukan indikasi adanya partikel
logam emas yang belum terlarut di dalam lumpur. Untuk mengetahui apakah
pelarutan telah berlangsung sempurna, kita dapat melakukan pengujian sederhana
sebagai berikut :

Ambil lumpur contoh lumpur cair dari dalam reactor sebanyak lebih kurang 2
kg. Saring lumpur menggunakan screen baja, untuk memisahkan karbon
(jika proses menggunakan karbon CIP).
Peras cairan dari lumpur, dan kembalikan cairan ke dalam reactor. Bilas
kembali lumpur yang telah diperas menggunakan air tawar, dan lakukan
pemerasan kembali hingga hampir seluruh cairan terpisah (lakukan proses
ini dua kali).
Encerkan kembali lumpur yang telah memadat dengan air di dalam botol air
mineral, selanjutnya lakukan pengujian seperti pada Bab VI Sub-bab B2.
Jika hasil proses pengujian tak ditemukan adanya indikasi logam
terekstraksi, maka proses pelarutan emas telah berlangsung sempurna.

Akan tetapi pada proses leaching yang disertai ekstraksi menggunakan karbon,
selesainya pelarutan tidak berarti bahwa proses leaching dapat dihentikan. Karbon
aktif, memiliki kecepatan serap yang lebih lambat dibandingkan proses pelarutan.
Boleh jadi proses pelarutan memang telah berhasil melarutkan seluruh logam emas,
akan tetapi pada saat yang sama belum tentu seluruh logam yang telah terlarut
telah terserap sepenuhnya oleh karbon aktif.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Untuk memastikan bahwa seluruh logam telah terserap ke dalam karbon, kita dapat
melakukan pengujian sederhana sebagai berikut :

Ambil setengah sendok makan karbon yang belum digunakan, bungkus


dengan kain kasa dan ikat erat-erat.
Gantung karbon sampel di atas reactor, dan celupkan pada permukaan
lumpur.
Lakukan proses di atas selama 3 jam, selanjutnya ambil kembali bungkusan
karbon, cuci bersih dari lumpurnya.
Bakar karbon di atas api menggunakan alas screen baja, hingga seluruh
bara karbon padam (kira-kira 30 menit).
Selanjutnya masukkan debu ke dalam krus tanah, campur dengan tepung
borax, dan lakukan peleburan menggunakan api bersuhu tinggi.
Lakukan pengamatan secara visual (setelah hasil leburan menjadi dingin),
atau jika perlu gunakan mikroskop mineral sebagai alat bantu.
Ada 2 kemungkinan yang terjadi ; masih terdapatnya kandungan logam
dalam leburan sampel, atau sudah tak terlihat lagi partikel logam pada hasil
leburan. Jika masih ditemukan adanya logam, maka proses leaching terus
dilakukan hingga semua garam kompleks logam terserap ke dalam karbon.
Sebaliknya, jika indikasi logam terserap sudah tak ada lagi, dapat dipastikan
bahwa proses leaching telah berlangsung sempurna dan dapat dihentikan.

V.3. Proses Ekstraksi Ion Kompleks Emas Sianida

Ada beberapa cara untuk mengekstraksi anion logam dari lumpur. Cara cara
tersebut antara lain :

A. Penyerapan dengan arang aktif (Carbon In Pulp dan Carbon In Column)


B. Pengendapan dengan debu zinc (Proses Merril Crowe)
C. Electrowinning

V.3.1. Penyerapan Arang Aktif.

Larutan hasil leaching yang telah kaya logam disebut larutan PLS (Pregnant Leach
Solution). Absorbsi terjadi akibat adanya perbedaan tekanan dalam 2 jenis bahan
yang berbeda. Dalam hal ini tekanan dalam karbon aktif lebih rendah dibanding
tekanan larutan hasil leaching (PLS), sehingga larutan masuk dan diam di dalam
media substrat (arang aktif). Daya serap karbon bervariasi antara berbagai merek,
namun rata-rata antara 10 gram logam hingga 35 gram logam per kg karbon. Untuk
karbon sebanyak 25 kg, maka kapasitas serap maksimumnya terhadap logam
(emas, perak, merkuri, tembaga, timbal, zinc) adalah 25 x 35 gram logam = 875
gram paduan logam.

Karbon aktif, dalam proses penyerapan emas, memiliki laju penyerapan yang
logaritmik terhadap waktu. Disamping waktu, ada berbagai faktor lain yang
mempengaruhi daya serap karbon terhadap logam emas, antara lain banyaknya

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
logam-logam pengotor yang ikut terlarut selama proses leaching, rendahnya
kandungan emas dalam lumpur, kurangnya pertemuan antar-muka antara karbon
dan larutan yang mengandung emas, adanya material sanga halus seperti besi III
hidroksida, besi III oksida, yang menutupi permukaan luar karbon, mobilitas lumpur
yang rendah, dan kualitas karbon itu sendiri.

Karbon yang masih segar (karbon kosong) memiliki daya serap tertinggi. Karbon
jenis ini mampu menyerap larutan kompleks emas hingga kandungan 1 mikrogram /
liter. Daya serap menurun seiring tingkat kekenyangan karbon tersebut. Kecepatan
serap karbon yang telah terisi larutan emas mulai melambat hingga mencapai titik
jenuhnya, yaitu pada saat karbon termuati hingga 35 gram emas per kg karbonnya.

Ekstraksi larutan emas dilakukan setelah proses leaching berlangsung selama 3


jam. Ekstraksi menggunakan karbon dapat dilakukan dengan 2 cara : 1.
Memasukkan karbon ke dalam reactor (CIP = Carbon In Pulp), 2. Mengalirkan
lumpur ke dalam kolom-kolom yang telah termuati oleh karbon (Carbon In Column).

A1. Karbon Dalam Reaktor (Carbon In Pulp)

Pada sistem CIP, jumlah awal karbon yang dimasukkan bergantung kepada berat
total lumpur. Untuk 1 ton lumpur padat (kering), pemasukan awal karbon sebanyak
5 kg. Penambahan karbon dilakukan berdasarkan masih tersisanya larutan komplek
emas yang hampir tak terserap oleh karbon awal (diamati menggunakan karbon
sampel). Selama karbon sampel masih termuati oleh logam emas, maka
penambahan karbon akan terus dilakukan secara periodik. Untuk system CIP,
penambahan karbon dilakukan setiap 12 jam. Penambahan pertama sebanyak 25%
dari jumlah karbon awal, penambahan berikut dan seterusnya masing-masing 10%
dari karbon awal. Penambahan karbon dihentikan jika hasil sampel terakhir
mengindikasikan kuantitas logam emas menurun secara visual dan kualitas kadar
emas pun ikut menurun (warna semakin putih keperakan).

Untuk mengetahui apakah larutan emas telah terserap oleh karbon dengan
sempurna, atau masih ada yang tersisa dalam lumpur dapat dilakukan pengujian :

a. Bungkus karbon ukuran berat 0,5 gram dalam kain kasa, gantung di
permukaan atas larutan lumpur, biarkan selama 3 jam. Proses ini dilakukan
pada saat reactor telah termuati karbon selama 9 jam.
b. Bakar karbon sampel di atas screen hingga menjadi abu logam. Selanjutnya
taruh abu logam ke dalam krus tanah (kowi), lebur menggunakan borax
(secukupnya) hingga mencair.
c. Amati hasil leburan secara visual. Jika masih terlihat adanya genangan
logam di permukaan borax, dapat dipastikan larutan emas belum terserap
secara sempurna oleh karbon yang ada, dan ada kemungkinan pelarutan
dan penyerapan masih terus berlangsung.
d. Jika hasil peleburan memperlihatkan sebaran emas yang cukup banyak,
maka dapat dikatakan perlu dilakukan penambahan karbon baru. Lakukan

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
penambahan karbon baru sebanyak 25% dari jumlah karbon awal yang
masuk.
e. Lakukan proses a-d secara berkala sejak karbon awal termuati selama 9
jam, dengan perulangan setiap 9 jam.

A2. Carbon Dalam Tangki Seri (Carbon In Column).

Sistem Carbon In Column (CIC) lebih tepat digunakan dibanding proses CIP,
disebabkan penggunaan karbon menjadi lebih ekonomis dan tingkat penyerapan
dapat mencapai 95%. CIC berdasarkan pergerakan lumpur dan karbon yang
berlawanan arah dalam ruang yang panjang dan sempit (counter current). Karbon
dapat dicampur secara memanjang, atau dikelompokkan menjadi beberapa sekat.
Lumpur dialirkan ke kolom (ruang sempit yang telah dipenuhi oleh karbon) secara
gravitasi. Dalam prakteknya, ada kemungkinan terjadinya pengendapan lumpur
dalam ruang karbon yang dapat menimbulkan kebuntuan aliran lumpur (akibat
karbon menutupi pori-pori kawat screen), sehingga proses ekstraksi tersendat.
Untuk mencegah hal ini terjadi, sebaiknya karbon juga diaduk dalam ruang tersebut,
agar aliran lumpur tidak tersendat. Pengadukan dapat dilakukan menggunakan
agitator (baling-baling), atau dapat juga menggunakan udara bertekanan tinggi
(udara dari kompresor) yang dimasukkan ke dalam ruang karbon. Arah aliran
lumpur sebaiknya berlawanan dengan gaya gravitasi (mengarah ke atas) agar
peluang karbon menutupi permukaan screen makin terhindarkan. Kelompok karbon
yang pertama dilewati aliran lumpur merupakan karbon yang paling kenyang. Makin
ke hilir, kandungan emas terlarut dalam lumpur makin rendah, hingga mencapai 1
g (1 mikrogram). Karbon segar, atau karbon yang berada di paling hilir, mampu
menyerap kandungan emas yang sangat tipis ini. Karbon yang telah kenyang (telah
menyerap paling tidak 10 gram logam per 1 kg karbon telah siap dipanen. Posisinya
kemudian digantikan oleh kelompok karbon berikutnya, demikian seterusnya.

Untuk mengetahui karbon telah cukup kenyang, lakukan pengujian sederhana


dengan cara pembakaran dan peleburan 100 gram karbon. Langkah-langkah
pengujian sebagai berikut :

Ambil 100 gram karbon kosong (karbon yang masih baru), tempatkan dalam
wadah beaker glass, ukur volumenya. Ambil karbon yang akan diuji (cuci
bersih hingga terbebas dari lumpur) sebanyak 110% x volume karbon
sebelumnya, tempatkan di wadah beaker glass.
Bakar karbon yang akan diuji menggunakan tungku bakar mini (dapat
menggunakan kaleng biscuit) hingga berubah menjadi abu logam (seluruh
bara karbon telah padam). Selanjutnya lebur debu tersebut dalam krus tanah
hingga mencair dengan tepung borax. Hasil leburan yang telah berbentuk
logam selanjutnya ditimbang untuk mengetahui beratnya. Jika hasil leburan
dari sampel karbon 100 gram menghasilkan 1 gram logam emas, maka
karbon telah termuati sebanyak 10 gram logam emas dalam 1 kg karbon.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Pada posisi ini karbon layak dikategorikan telah kenyang (siap untuk
dipanen).
Lakukan pengujian (a) dan (b) secara berkala sejak ekstraksi karbon telah
berlangsung selama 12 jam, ulangi setiap 12 jam.

an Dalam Proses CIC


Pengujian

a. Ambil karbon pada bagian hilir sebanyak 0,5 gram, bakar hingga menjadi
abu logam.
b. Lebur abu logam (bersama borax secukupnya) di dalam krus tanah hingga
mencair (10-15
15 menit).
c. Lakukan pengamatan visual terhadap hasil leburan. Jika tak terlihat
te oleh
mata, gunakan alat bantu mikroskop mineral (perbesaran 100-200
100 x). Jika
masih terdapat logam dalam jumlah yang signifikan (dapat dilihat oleh mata
telanjang), dapat dipastikan bahwa karbon pada bagian hulu sudah kenyang,
dan ada kemungkinan kekurangan
kekurangan karbon pada bagian hilir. Jika proses
pengamatan hanya dapat dilakukan dengan alat bantu mikroskop, ada
kemungkinan karbon yang digunakan hampir mencapai tingkat yang cukup,
sehingga penambahan karbon berikutnya merupakan penambahan terakhir.
Karenaa 2 kelompok sekat karbon terakhir belum mencapai tingkat
kekenyangan yang optimal (belum mencapai tingkat ekonomis), maka
karbon kelompok ini tidak diikutsertakan untuk dibakar, melainkan digunakan
untuk proses ekstraksi leaching lumpur berikutnya.

Feeder Tank

Karbon Segar

Karbon Termuati Logam

V.3.3. Electrowinning

Electrowinning merupakan cara terbaru yang paling efisien digunakan dalam


ekstraksi logam dari hasil leaching. Electrowinning adalah proses elektrokimia
elekt yaitu
proses reduksi anion emas dan perak menjadimenjad logamnya pada bagian katoda
menggunakan arus listrik yang mengalir dalam larutan elektrolit (hasil leaching).
Dalam proses electrowinning dihasilkan paduan emas perak di kutub katoda.
Pengaturan selektifitas tegangan redoks serta nilai tegangan yang konstan
kons pada
suatu angka akan menyeleksi logam-logam
logam logam yang dapat tereduksi pada kutub
katoda. Kation-kation
kation emas dan perak yang berada di dalam larutan akan tereduksi
dalam bentuk lapisan logam yang menempel di kutub katoda, sedangkan kation- kation
kation logam-logam lainnya akan tetap berada di dalam larutan.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas.com
Electrowinning adalah istilah umum untuk proses elektrolisis, dimana winning
memiliki arti sirkulasi atau perputaran. (TERANGKAN KENAPA HARUS
BERSIRKULASI, BUAT GAMBAR AGAR JELAS)

Bagian yang berhubungan dengan cairan kimia terdiri dari kutub positif dan negatif,
dimana kutub positif disebut sebagai anoda, dan kutub negatif sebagai katoda. Arus
DC (listrik searah) mengalir dari kutub positif (anoda) ke kutub negatif (katoda),
sebaliknya elektron mengalir dari kutub negatif ke positif. Aliran elektron dalam
larutan elektrolit akan mereduksi garam kompleks emas menjadi logam emas yang
menempel di lapisan lempeng (plat) katoda.

Kecepatan terbentuknya logam di lempeng katoda bergantung pada luas


permukaan katoda dan jarak antara katoda dan anoda. Makin luas permukaan
katoda,dan makin dekat jarak antara katoda dan anoda maka makin tinggi
kecepatan ekstraksi logam emas dan perak di katoda. Kecepatan ekstraksi dapat
dimonitor menggunakan ampere-meter. Makin tinggi arus yang mengalir dari anoda
ke katoda, maka ekstraksi pun meningkat secara signifikan.

Tegangan jepit antara anoda dan katoda selama proses ekstraksi berlangsung
haruslah stabil pada kisaran 3,65 volt 3,80 volt. Pada peralatan catu daya (power
supplier) yang biasa, pembebanan akan menurunkan tegangan. Hal ini berdampak
negatif pada proses elektrowinning. Tegangan yang menurun mengakibatkan
perolehan logam perak pun menurun, dan pada akhirnya pada tegangan di bawah 2
volt hanya logam emas yang terekstraksi. Penurunan tegangan juga berefek pada
menurunnya kuat arus yang mengalir, dengan demikian kecepatan ekstraksi pun
menurun. Kenaikan tegangan melebihi 3,80 volt berdampak pada ikut sertanya
logam tembaga dan merkuri tereduksi pada kutub katoda (ini tak diinginkan pada
proses ekstraksi emas).

BUAT RUMUS KIMIANYA SECARA JELAS DAN MUDAH DIMENGERTI

Kecepatan reduksi logam emas dan perak ditentukan oleh besar arus yang mengalir
dari anoda ke katoda. Besar arus diukur dalam satuan ampere (A). Makin besar
arus yang mengalir, makin tinggi kecepatan ekstraksi, demikian juga sebaliknya.
Besar arus berbanding terbalik terhadap nilai tegangan yang terukur. Beban yang
meningkat (akibat dari besarnya arus yang mengalir dalam larutan) akan
menurunkan tegangan jepit. Besar arus berbanding lurus terhadap luas permukaan
katoda. Makin luas permukaan katoda, makin tinggi arus yang mengalir dari anoda
ke katoda, demikian juga sebaliknya. Jarak antar katoda dan anoda juga
mempengaruhi besar arus yang mengalir. Makin dekat jarak antar kutub, makin
besar arus yang mengalir, demikian juga sebaliknya.

BUAT PERHITUNGAN RUMUS UNTUK MENGHITUNG KUAT ARUS TERHADAP


LUASAN BIDANG PERMUKAAN KATODA

Arus yang dicatu (disuplai) harus memiliki tegangan searah dengan ripple (riak)
tegangan yang halus, dan besaran tegangan yang konstan di angka 3,8 volt. Pada

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
larutan yang kaya, besar arus yang terbaca oleh ampere-meter akan maksimum.
Seterusnya besar arus menurun seiring makin berkurangnya larutan kompleks
emas dan perak di dalam larutan.

BUAT RANGAKAIAN ELEKTRONIKA CATU DAYA NYA, TERANGKAN


BAGAIMANA MEKANISME PENGATURAN TEGANGAN OTOMATIS BISA
BERLANGSUNG

Dalam proses elektrowinning, biasanya lempeng katoda menggunakan bahan dari


logam ferro-nikel (stainless steel), sedangkan anoda terbuat dari fero-titan (baja
titanium). Logam emas perak yang menempel di katoda berbentuk bubur halus yang
menempel, sewaktu-waktu dapat gugur di dasar permukaan tabung elektrowinning.
Oleh karena itu untuk katoda yang menggunakan bahan dari stainless steel, larutan
emas sianida yang diekstrak haruslah bebas dari partikel lumpur, dengan kata lain
harus merupakan larutan bening.

JELASKAN BAHAN ELEKTRODA APA SAJA YANG INERT TERHADAP


SIANIDA

Pada proses elektrowinning, ada penguraian anion Au(CN)2- menjadi AuCN dan
logam Au di kutub katoda. Anion-anion sianida menuju anoda, membentuk kembali
senyawa alkali sianida. Penggunaan bahan elektroda yang inert terhadap sianida
memiliki keuntungan yaitu terpulihkannya kembali senyawa alkali sianida.

Penggunaan tembaga sebagai elektroda (katoda atau anoda, atau keduanya)


berdampak pada terkonsumsinya tembaga pada saat proses elektrowinning
dilakukan. Tembaga larut oleh sianida, baik pada kutub katoda maupun anodanya,
sehingga kandungan sianida bebas justru berkurang pada saat proses
elektrowinning dilakukan.

Proses yang menggunakan elektrowinning jauh lebih efisien dan unggul dibanding
proses karbon dan zinc, apalagi jika kandungan logam pengotor cukup tinggi di
dalam batuan. Pada proses penangkapan emas yang menggunakan elektrowinning,
larutan hasil dari oksidasi tak perlu dibuang terlebih dahulu, dikarenakan hasil
penangkapan kutub katoda sangat selektif jika tegangan berada pada posisi yang
tepat.

Untuk menguji apakah proses elektrowinning telah selesai, dapat dibuat suatu
wadah kecil penampung larutan hasil leaching yang sedang dielektrowinning (bisa
menggunakan beaker glass ukuran 500 ml). Kemudian buat sambungan paralel
antar katoda dan antar anoda, sehingga katoda mini yang dipasang pada beaker
glass tersambung secara paralel dengan katoda utama, demikian juga dengan
anoda yang juga diparalel. Gunakan katoda dan anoda mini yang terbuat dari plat
logam tembaga, agar indikasi adanya logam yang tereduksi di katoda terlihat jelas.
Jika memang masih ada logam yang belum tereduksi pada proses di bak utama,
maka terlihat di kutub katoda mini adanya lapisan logam emas perak, yang

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
berwarna kuning emas untuk larutan berkadar emas tinggi, atau putih perak untuk
larutan berkadar perak tinggi.

V.4. Proses Akhir Pengolahan Karbon, Zinc, dan Elektrowinning

V.4.1. Pengolahan Karbon

Lumpur yang telah selesai dari proses leaching selanjutnya dikuras dan dialirkan ke
kolam limbah. Proses pengurasan sebaiknya dilakukan pada saat temperatur udara
pada titik yang rendah (malam hari), khususnya terhadap proses yang
menggunakan Carbon In Pulp sebagai ekstraktor. Garam emas yang terserap
karbon akan cenderung berada permanen di dalam ruang karbon, khususnya
selama keseimbangan suhu lingkungan terjaga baik. Kenaikan temperatur
mengakibatkan sebagian dari cairan garam emas yang terserap akan keluar menuju
permukaan luar karbon.

Proses pengurasan reaktor yang dilakukan pada siang hari cenderung mengalami
peningkatan suhu, dan ada kemungkinan terpapar sinar matahari pada saat
pencucian karbon berlangsung. Pada situasi seperti ini, ada kemungkinan sebagian
kecil dari garam emas keluar dari pori-pori karbon dan terbuang ke kolam limbah
bersama-sama air cucian. Keluarnya cairan disebabkan proses thermodinamika,
yaitu adanya perpindahan zat akibat perbedaan tekanan ruang yang disebabkan
perubahan suhu. Untuk mencegah kejadian ini, sebaiknya proses pengurasan
reactor dilakukan pada malam hari, atau pagi hari sebelum terbitnya matahari.

Kanal output reaktor

Tirai penahan lumpur

Selang air pencuci karbon

Screen penyaring karbon

Gambar..Proses persiapan pengurasan reactor

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
GambarProses penyaringan dan pencucian karbon

Karbon yang telah dicuci bersih selanjutnya dimasukkan ke dalam karung bersih
dan disimpan pada tempat yang sejuk sambil meniriskan sisa-sisa air.

V.4.1.1. Metoda Pembakaran Karbon

Pada sistem ini karbon yang telah termuati ion logam emas langsung dibakar untuk
menguapkan karbon menjadi gas CO2, dan sisanya berupa tepung dan butiran
logam emas dan perak.

Secara ideal, karbon aktif mampu menyerap logam hingga 35 gram emas perak
dalam setiap kilogramnya, akan tetapi dalam prakteknya mungkin saja terjadi
berbagai penyimpangan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi menurunnya daya
serap ini, antara lain :

1. Kualitas karbon yang tak merata.


2. Banyaknya jenis mineral lain yang ikut terserap karbon selama proses
leaching.
3. Lambatnya proses penyerapan pada saat karbon mulai kenyang, sehingga
pemaksaan untuk memuati karbon menjadi tak ekonomis dibanding waktu
yang terbuang dalam proses penyerapan.
4. Jumlah karbon yang kurang dibanding jumlah logam emas yang terlarut.

Karbon yang telah kenyang kemudian dibakar hingga yang tertinggal hanya debu
logam. Pembakaran karbon adalah reaksi kimia, berupa oksidasi karbon oleh
oksigen dari udara (dalam suasana panas tinggi) menjadi karbon dioksida CO2 ;

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
C (s) + O2 (g) ========= > CO2 (g)

Cara yang paling sederhana mengekstrak logam emas dari dalam karbon adalah
dengan jalan membakar karbon tersebut, hingga semua karbon menguap menjadi
karbon dioksida (CO2). Pada proses pembakaran, arang dioksidasi udara panas
menjadi uap karbon dioksida dan menyisakan sedikit endapan abu berupa tepung
logam emas perak dan tembaga yang tercampur sedikit dengan silika, besi, dan
unsur-unsur logam lainnya.

V.4.1.1.1. Proses Pembakaran Karbon

Karbon dibakar di dalam drum yang terbuat dari baja. Untuk memasukkan udara ke
dalam drum, maka bagian bawah dari drum dilubangi sebesar diameter pipa baja.
Selanjutnya pipa baja ukuran 2-3 inci, sepanjang 1,5 meter disambung (dilas)
dengan lubang drum. Ujung pipa berhubungan dengan blower udara, yang
meniupkan udara beroksigen ke dalam drum. Ion-ion logam yang terserap karbon
akan tereduksi menjadi logam selama proses pembakaran berlangsung. Suhu yang
terbentuk akibat pembakaran karbon mencapai 12000C, sehingga terjadi pelelehan
logam pada ruang karbon.

Langkah-langkah pembakaran :

1. Gunting kawat screen baja mesh 24-40 seluas permukaan atas drum
(tabung), tempatkan di atas jalinan jeruji baja penyangga, yang diletakkan
sekitar 15 cm di atas lubang udara masuik (inlet). Perhatikan bahwa seluruh
permukaan screen harus menutup total bidang permukaan drum, agar tak
ada karbon yang terjatuh ke dasar drum.
2. Bakar sedikit arang biasa hingga membara, letakkan di tengah-tengah
screen, kemudian nyalakan blower agar suplai udara masuk ke dalam drum.
3. Masukkan sebagian karbon hingga menutupi permukaan arang yang telah
membara. Jika keluar asap dan panas, maka pembakaran telah berhasil
menyalakan karbon. Selanjutnya masukkan karbon secara bertahap hingga
memenuhi permukaan atas drum.
4. Buka maksimum penutup udara dari blower hingga udara mengalir total ke
dalam drum.
5. Lakukan penambahan karbon secara bertahap hingga semuanya masuk ke
dalam drum.
6. Kurangi suplai udara secara bertahap jika permukaan karbon mulai menipis
dan mulai terlihat meratanya bara api di permukaan atas karbon. Ini artinya
proses pembakaran mulai mendekati tahap akhir. Suplai udara yang terlalu
besar dapat mengakibatkan terhamburnya sebagian dari debu logam ke luar
drum bakar, sehingga perolehan logam bisa mengalami penurunan.
7. Lakukan terus peniupan udara (yang makin diperkecil) hingga semua bara
padam. Jika tahapan ini selesai, maka dipastikan pembakaran karbon telah
selesai, dan yang tersisa hanya debu logam yang tertampung di atas screen
baja. Jika setelah bara padam namun ternyata masih terdapat sisa karbon

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
yang belum terbakar, sebaiknya pisahkan karbon-karbon tersebut dari
tepung logam. Karbon yang belum terbakar habis kemudian dibakar kembali
menggunakan wadah drum mini hingga menjadi debu logam.
8. Angkat dan kumpulkan debu logam ke dalam wadah plastic, sikat screen
secara hati-hati (untuk menghindarkan terbuangnya debu logam) dan
pindahkan dan bongkahannya ke dalam wadah.
9. Sisa screen juga telah terbungkus oleh logam emas, oleh karena itu
diproses secara terpisah dari debu utamanya. Proses ekstraksi emas dari
kawat screen dilakukan dengan cara merebus kawat dalam wadah kaca
pyrex (beaker glass) menggunakan larutan HCl pekat 32%, hingga semua
logam besi larut. Sisa endapan berupa tepung emas, saring dan pisahkan
dari larutan. Hasil endapan kemudian disatukan dengan debu utama, yang
selanjutnya siap untuk dilebur.

karbon aktif

drum baja

dasar karbon dan kasa baja

pipa masuk udara

blower peniup udara

Gambar..

Debu dan kerak logam

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Gambar.

Sisa pembakaran karbon yang tertinggal di atas kawat screen berupa kandungan
logam tembaga, perak, emas, dan sebagian pengotor seperti silica, sisa karbon
(yang tak terbakar), dan sebagainya. Sebagian dari tepung belum membentuk
logam, akan tetapi masih dalam bentuk garam oksida logam.

V.4.1.1.2. Peleburan Tepung Logam

Untuk melebur tepung logam, lazimnya para praktisi menggunakan tepung borax
sebagai pengikat debu dan pembersih logam yang cukup baik. Debu dan kerak
logam selanjutnya dipisahkan dari kawat kasa dan dinding dalam drum. Kerak dan
debu logam kemudian dihaluskan, agar memudahkan dalam proses peleburan
selanjutnya. Debu dan kerak logam yang telah menjadi tepung (akibat digerus)
kemudian ditimbang beratnya. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, selanjutnya
tepung logam dicampur merata dengan tepung borax dengan perbandingan berat 1
: 1. Hasil pencampuran borax dan tepung logam kemudian dimasukkan ke dalam
krus tanah tahan api untuk dilakukan peleburan. Peleburan dilakukan pada suhu
12000 C hingga seluruh tepung mencair dan butiran-butiran logam menyatu di dasar
wadah.

Gambar.

Selama mencair, akan timbul gelembung gelembung udara yang muncul akibat
proses reduksi dan oksidasi logam logam. Logam besi, sebagian tembaga, dan
logam lainnya akan teroksidasi oleh cairan borax, membentuk garam logam. Emas
dan perak, serta sebagian dari logam emas perak yang belum tereduksi pada
proses pembakaran karbon, akan tereduksi pada proses ini, dan kemudian menyatu
dalam butiran besar di dasar krus. Proses peleburan dihentikan jika tak muncul lagi
gelembiung udara, dan lelehan borax telah sangat mencair (relatif lebih encer)
hingga ke dasar krus.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Ada kemungkinan sebagian sisa karbon tidak terbakar oleh udara panas, padahal
karbon tersebut termuati secara penuh oleh debu logam. Meskipun terjadi pelelehan
pada krus, belum tentu karbon sisa yang sangat halus telah menguap menjadi CO2.
Untuk menguapkan karbon sisa ini, gunakan tepung sendawa atau caustic soda
yang berfungsi sebagai suplai udara ke dalam lelehan logam, sehingga terjadi
pembakaran sempurna terhadap karbon sisa. Pemberian caustic atau sendawa
dilakukan pada saat

(a) Proses peleburan (b) hasil peleburan


Gambar..

Setelah krus dingin, proses selanjutnya adalah mengumpulkan butiran emas kasar
yang berada di dasar krus, memisahkannya dari slag dan pecahan krus. Seluruh
slag (termasuk juga krus) juga mengandung butiran emas halus, oleh karena itu
bagian ini digerus di dalam tromol yang menggunakan logam merkuri sebagai
pengumpul. Hasil dari keseluruhan logam kemudian dilebur, dan selanjutnya siap
untuk dipisahkan dan dimurnikan.

Proses pengerjaan karbon diatas (pada bagian peleburan konsentrat/debu logam)


sangat tak efektif karena banyaknya pemborosan dari berbagai segi, antara lain ;

- Penggunaan tepung borax dalam jumlah yang besar, seberat tepung


(konsentrat) emas yang diperoleh dari hasil pembakaran.
- Pemborosan wadah krus (kowi) dan energi untuk proses peleburan
- Adanya kemungkinan hilangnya sebagian dari logam emas, khususnya yang
berbutir halus dan menyebar di seluruh kowi, atau butir emas yang tertutup
oleh logam-logam yang tak berikatan dengan logam merkuri pada saat slag
hasil peleburan ditromol menggunakan proses amalgamasi.

Teknik yang paling efisien pada proses ini adalah membersihkan terlebih dahulu
tepung hasil pembakaran karbon dari berbagai unsur pengotor menggunakan
proses kimia. Ada berbagai zat pengotor yang ikut serta pada debu logam emas,
antara lain ;

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
- Silika SiO2. Unsur silika diperoleh selama proses pelarutan berlangsung.
Selama proses pelarutan (jika menggunakan NaCN dan NaOH) akan terjadi
pelarutan sebagian silika oleh NaOH, membentuk senyawa kompleks
Na2SiO3 di dalam larutan. Anion silika SiO32- kemudian terserap oleh
karbon selama proses penyerapan berlangsung. Anion ini tereduksi kembali
menjadi silika pada saat pembakaran berlangsung. Silika juga muncul akibat
kurang bersihnya proses pembilasan karbon, sehingga sebagian material
lumpur terbawa oleh karbon. Silika membawa pengaruh buruk pada saat
peleburan tepung logam, disebabkan titik lelehnya yang sangat tinggi
(17600C), sehingga material ini menjadi penghalang proses penyatuan
logam cair pada wadah kowi.
- CaO dari kapur. Kalsium Oksida CaO berasal dari sisa larutan yang
mengandung senyawa basa Ca(OH)2. Pada saat pembakaran karbon,
Ca(OH)2 yang larut dalam air tereduksi menjadi CaO tepung putih. CaO juga
menyulitkan penyatuan butir-butir logam halus pada saat peleburan,
sehingga perlu dipisahkan sebelum peleburan berlangsung.
- Na2O dari hasil reduksi caustic soda maupun sisa-sisa sianida. NaOH dan
NaCN yang dipanaskan akan tereduksi menjadi garam Na2O akibat
kehilangan air.
- Logam-logam besi dan senyawa padat besi II (FeO) yang tereduksi dari
senyawa sianidanya (Na[Fe(CN)6], maupun hasil pencemaran dari ruang
bakar itu sendiri (drum bakar yang terkelupas, screen baja yang meleleh dan
menyatu dengan debu logam)
- Logam tembaga dan tembaga I oksida Cu2O yang tereduksi dari senyawa
sianidanya.
- Dan beberapa jenis unsur serta senyawa lainnya.

Proses pembersihan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu ;

1. Tahap pertama, pelarutan unsur silika, sisa-sisa senyawa kalsium dan


natrium. Proses kimia yang dilakukan pada tahap ini menggunakan pelarut
Na2CO3 (sodium karbonat / soda ash). Reaksi yang berlangsung sebagai
berikut :

Na2CO3 + SiO2 ======> Na2SiO3 + CO2, silika larut menjadi sodium silikat
Na2SiO3

CaO + 2 H2O =====> Ca(OH)2 + H2, kapur larut menjadi Ca(OH)2

Na2O + H2O =====> 2 NaOH, sodium oksida menjadi larutan caustic soda

Untuk memperoleh hasil maksimum dan waktu yang relatif cepat, maka
menaikkan suhu adalah solusi tercepat dan terbaik. Gunakan wadah stainless
untuk merebus tepung logam dengan soda ash. Lakukan perebusan selama 30
menit, gunakan soda ash sebanyak x berat tepung logam.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Hasil perebusan kemudian diendapkan pada wadah plastik transparan, biarkan
proses pengendapan berjalan sempurna (hingga larutan jernih). Selanjutnya
pisahkan larutan dari endapannya dengan cara menyaring menggunakan kertas
saring. Hasil dari proses ini adalah berkurangnya kandungan silika, calsium, dan
natrium sebagai pengotor dalam jumlah yang signifikan. Setelah proses
pengeringan, berat tepung logam akan berkurang jauh dibanding berat
sebelumnya, dan persentase kandungan logam emas dan perak akan
meningkat dari sebelumnya.

2. Proses pelarutan logam-logam pengotor menggunakan larutan HCl atau


asam sulfat H2SO4 encer 2M.

2 HCl + Fe ====> H2 + FeCl2, besi larut menjadi besi II

HCl + NaOH ====> NaCl + H2O, caustic sisa larut menjadi larutan garam dapur

2 HCl + MnO =====> MnCl2 + H2O, mangan terlarut menjadi larutan mangan

Pada proses ini gunakan larutan HCl sebanyak 2x volume endapan tepung
logam. Hasil reaksi kemudian diendapkan hingga sempurna. Selanjutnya
buang cairan bening, bilas dan saring endapan hingga kering.

Endapan kemudian dikeringkan dengan cara penjemuran (jangan disangrai


karena sisa asam akan bereaksi dengan media logam). Sertelah kering
lakukan pencampuran dengan borax, untuk mendapatkan hasil yang
sempurna gunakan borax sebanyak 1,5 dari berat tepung logam. Tepung
logam yang telah bercampur dengan borax selanjutnya siap untuk
dileburkan dalam krus (kowi).

V.4.1.2. Stripping Karbon (JELASKAN BAGIAN INI SECARA LENGKAP)

V.4.2. Peleburan Logam Hasil Ekstraksi dari Zinc

Proses peleburan lumpur logam hasil pengendapan zinc memiliki tingkat yang agak
sulit jika dilakukan tanpa terlebih dahulu membersihkan endapan logam dari sisa-
sisa logam zinc Zn, sisa senyawa zinc (ZnO dan Zn(CN)2). Zinc oksida merupakan
senyawa yang tak terleburkan, sehingga cenderung membuat waktu pelelehan
logam menjadi sangat lambat. Pembakaran terus-menerus akan menguapkan
sebagian besar partikel zinc oksida sehingga lama-kelamaan terjadi pelelehan
logam paduan emas perak dan tembaga.

Untuk mempercepat waktu peleburan maka sebaiknya dilakukan pemisahan logam


pengotor terlebih dahulu, menggunakan HCl atau H2SO4 encer 2M. Gunakan
larutan sebanyak 2 x volume logam, dan aduk selama reaksi berlangsung. Jika
reaksi selesai, lakukan pemastian habisnya logam pengotor melalui pengulangan
reaksi dengan jumlah larutan yang sama seperti sebelumnya. Pada saat reaksi
berlangsung akan terjadi pelepasan gas H2 yang dapat diamati secara visual
berupa gelembung-gelembung udara yang keluar dari larutan. Habisnya logam

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
pengotor jika tak terjadi lagi pengeluaran gelebung, sementara larutan yang
digunakan masih baru. Pisahkan larutan dari lumpurnya, bilas dan saring lumpur
hingga kering. Hasil dari proses ini berupa tepung logam emas yang makin bersih,
dan persentase kandungan logam emas dan peraknya makin meningkat sejalan
dengan penurunan berat tepung logam.

Pada proses di atas, logam tembaga belum melarut dan masih bercampur dengan
logam emas perak . Ada baiknya tembaga dipisahkan sebelum proses peleburan
dilakukan. Tembaga larut dengan sangat baik dalam HNO3 encer 2M. Pelarutan
dapat dipercepat dengan penambahan larutan H2O2 3%. Untuk melarutkan
tembaga, gunakan larutan HNO3 encer 2M sebanyak x volume tepung logam,
kemudian encerkan dengan air. Tambahkan H2O2 sebanyak dari volume larutan
HNO3 awal, ke dalam wadah reaksi. Aduk lumpur logam, selama reaksi
berlangsung. Setelah selesai, encerkan lumpur, aduk merata, biarkan mengendap
dengan sempurna, Selanjutnya buang cairan beningnya, bilas dan saring endapan
menggunakan kertas saring.

Setelah proses ini, maka endapan tepung emas telah siap untuk dilebur
menggunakan tepung borax sebagai fluks.

V.4.3. Peleburan Hasil Elektrowinning

Hasil dari proses elektrowinning berupa lembaran-lembaran tipis bercampur lumpur


paduan logam emas dan perak yang sangat lembut. Kumpulan logam ini kemudian
dilebur menggunakan api pada suhu 11000C-11500C, dibantu tepung borax sebagai
flux pembersih dari logam-logam pengotor.

Dari warna logam hasil leburan dapat diketahui sejauh mana kontaminasi logam
pengotor yang ikut tereduksi pada kutub katoda. Logam yang berwarna kehitaman
kemungkinan paduan logam emas perak tercemar sedikit oleh logam tembaga dan
molybdenum.

V.5. Proses Penanganan Limbah Cair Sianida

Limbah cair dari proses sianida sangat beracun jika dibuang langsung ke
lingkungan. Limbah perlu dinetralisir terlebih dahulu unsur unsur racunnya
sebelum dilakukan pembuangan. Limbah cair sianida terdiri dari senyawa
senyawa non toksik dan toksik. Non toksik antara lain NaOH / Ca(OH)2, senyawa
toksik antara lain kelebihan NaCN, merkuri sianida Na[Hg(CN)2]

Agar ion sianida (CN-) tak terbawa ke lingkungan dalam bentuk cair, maka perlu
dilakukan pengendapan melalui reaksi kimia dengan garam besi III sulfat Fe2(SO4)3
atau garam besi II sulfat FeSO4. Proses terakhir adalah netralisasi sianida
menggunakan peroksida.

6 NaCN (l) + Fe2(SO4)3 (l) ======> 2 Fe(CN)3 (s) + 3 Na2SO4 (l)

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Hasil reaksi di atas terbentuk endapan biru yang merupakan endapan senyawa
besi III sianida dan endapan senyawa tembaga II sianida. Kekurangan besi sulfat
menyebabkan terlarutnya sebagian endapan senyawa besi menjadi garam
kompleks larut heksasianoferat Fe(CN)6- yang tak beracun.

Fe(CN)3 + 3 NaCN =====> Na[Fe(CN)6]

Untuk mengindikasikan bahwa semua sianida bebas telah mengendap sebaiknya


gunakan garam besi secara berlebihan. Indikasinya adalah larutan yang tak
membentuk endapan baru pada saat dimasukkan larutan besi sulfat ke dalamnya.
Besi sulfat juga mereduksi senyawa kompleks merkuri sianida menjadi senyawa tak
larut merkuri I sianida yang berwarna putih.

Agar diperoleh hasil yang pasti bahwa semua logam berat telah mengendap,
demikian juga seluruh sianida bebas telah habis dari limbah cair, kita dapat
menambahkan larutan H2SO4 encer ke dalam lumpur (hati-hati pada proses ini,
karena kemungkinan lumpur akan mengeluarkan gas HCN yang sangat beracun !!)
secara bertahap. Jika masih terdapat ion sianida bebas dalam lumpur cair, maka
pada saat pencampuran dengan asam sulfat lumpur akan mengeluarkan gas HCN
yang berbau khas dan sangat beracun. Jika proses netralisasi menggunakan
larutan besi sulfat berlangsung sempurna, maka pada saat pemasukan asam sulfat
lumpur sudah tak lagi mengeluarkan gas sianida.

TIPS Pembuatan Garam Besi II atau III Sulfat

Besi III Sulfat digunakan sebagai penetralisir racun dari sodium sianida. Pembuatan
besi sulfat dapat dilakukan dengan mereaksikan logam besi dan asam sulfat,
sehingga membentuk larutan besi II sulfat yang berwarna hijau. Dalam waktu yang
lama, larutan ini berubah warna menjadi hijau kekuningan akibat besi II teroksidasi
menjadi besi III.

Reaksi dapat dilakukan dalam wadah plastik (ember) yang tertutup agar uap
hidrogen dan pelepasan sebagian gas SO2 tidak mencemari ruangan. Reaksi
pelarutan akan berhenti setelah tak terbentuk gelembung-gelembung gas lagi, yang
keluar dari logam yang dilarutkan. Larutan kemudian dijemur di bawah matahari
hingga mengering dan membentuk gumpalan-gumpalan berwarna hijau.

XII.7. Sianidasi Menggunakan Metode Heap/Dump Leach.

XII.7.1. Pertimbangan Aspek Ekonomis dan Teknis

Heap/dump leach (penyiraman ataupun perendaman) adalah salah satu pilihan


dalam mengolah batuan emas menggunakan bahan kimia sebagai pelarut.
Pemilihan heap/dump leach biasanya sangat tergantung pada aspek ekonomis
disebabkan beberapa hal :

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
- Biaya investasi awal peralatan yang jauh lebih murah dibanding sistem
reaktor. Beberapa peralatan, khususnya peralatan mekanis memerlukan
investasi awal yang cukup tinggi.
- Kandungan emas dalam batuan yang rendah. Kandungan emas yang
rendah tidak ekonomis untuk diolah menggunakan reaktor, karena biaya
produksi yang tinggi, khususnya biaya pengolahan mekanis (proses
penghalusan batuan dan biaya tenaga kerja).
- Kapasitas produksi yang jauh lebih besar. Pengolahan yang melibatkan
proses mekanis biasanya memiliki keterbatasan dalam kapasitas produksi.
Pengolahan metode heap/dump leach memiliki fleksibilitas dalam kapasitas
produksi, karena peningkatan kapasitas tak begitu signifikan terhadap
peningkatan nilai investasi. Bisa dikatakan bahwa kapasitas produksi
biasanya hanya terkendala oleh kapasitas penambangan raw material
(batuan bahan baku emas).
- Jauhnya letak bahan baku dari prasarana transportasi dan pusat-pusat
penyediaan peralatan pengolahan. Peralatan-peralatan mekanis memiliki
volume dan berat yang relatif besar. Jauhnya prasarana transportasi
menyebabkan sulitnya mobilitas peralatan untuk memasuki wilayah
penambangan dan pengolahan. Persoalan ini dapat juga dipakai sebagai
pertimbangan utama dalam memutuskan menggunakan metoda heap/dump
leach.
- Biaya operasional buruh dan pekerja pendukung. Pengolahan secara
mekanis memerlukan jumlah tenaga kerja yang relatif besar, dengan
konsekwensi pengeluaran untuk upah yang besar pula. Pengolahan
heap/dump leach relatif sedikit menggunakan tenaga kerja karena minimnya
perlakuan mekanis terhadap bahan baku.

Pertimbangan secara teknis juga harus dilakukan (yang juga memiliki faktor
ekonomi) untuk memutuskan penggunaan metode heap/dump leach. Pertimbangan-
pertimbangan tersebut antara lain :

- Jenis batuan yang akan diproses. Batuan bertipe silika solid dengan patahan
hanya pada urat-urat logam sebaiknya diproses secara mekanis, atau
setidaknya mengalami pengecilan ukuran sebelum proses heap leaching
dilakukan. Batuan yang berongga (porous ores) sangat tepat diolah
menggunakan metode heap leach karena kemampuan larutan menembus
permukaan bijih emas akibat adanya celah untuk penetrasi larutan ke dalam
batuan. Batuan berongga biasanya terjadi akibat peristiwa oksidasi batuan
dalam waktu yang sangat lama, oleh karena itu batuan rapuh biasanya
merupakan batuan yang telah berumur sangat tua. Susunan silika pada
batuan berongga biasanya telah mengalami pelapukan sehingga
membentuk retakan-retakan yang sangat massif pada hampir seluruh
struktur silikanya.
- Jumlah kandungan terukur rata-rata logam emas dalam batuan berongga.
Jika kandungan logam emas dalam batuan yang berongga memiliki nilai

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
yang cukup signifikan, maka penggunaan metode heap/dump leach justru
merugikan dibanding potensi nilai tambah yang jauh lebih tinggi jika diproses
secara mekanis. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian kandungan
logam emas per ton batuan sebelum memutuskan menggunakan proses
heap/dump leach. Jika jumlah kandungan logam emas pada batuan
berongga relatif besar, maka sebaiknya dilakukan pengecilan ukuran batuan
terlebih dahulu sebelum proses leaching dilakukan.

Proses-proses kimia selama proses leaching yang menggunakan metoda


heap/dump leach pada umumnya sama dengan proses kimia pada metode mekanis
(menggunakan reaktor), namun dalam beberapa hal ada yang perlu dan tak perlu
dilakukan pada proses dengan metode heap/dump leach.

XII.7.2. Peralatan Heap/Dump Leach

XII.7.3. Proses Pengerjaan Awal Raw Material

Pada sebagian jenis raw material (batuan) mungkin dibutuhkan proses mekanis
untuk memperkecil ukuran bahan baku. Hal ini dilakukan terhadap batuan yang
memiliki struktur silika yang solid (padat dan tidak rapuh). Proses penghancuran
bertujuan membuka urat-urat (jalur) logam dalam batuan sehingga memungkinkan
penetrasi yang lebih besar dari larutan kimia pada saat proses liberalisasi dan
leaching berlangsung.

Penghancuran dapat dilakukan menggunakan alat jaw crusher, dengan ukuran


batuan output rata-rata menjadi 1x1 cm. Ukuran yang lebih kecil lagi sangat
disarankan, misalnya 0,5x0,5 cm, agar tingkat perolehan logam emas dapat
mendekati nilai optimum (60% - 70%). Ukuran yang lebih kecil dari 0,5x0,5 cm
menjadi kurang efektif dalam proses leaching disebabkan munculnya masalah
terhadap aliran larutan dalam butir-butir batuan.

XII.7.4. Proses Liberalisasi dan Oksidasi.

Liberalisasi dan oksidasi sangat diperlukan pada metoda heap/dump leach,


khususnya jika menggunakan sianida sebagai pelarut emas. Proses liberalisasi
sebaiknya menggunakan air raja, agar efektifitas pembebasan partikel (bijih) logam
emas menjadi maksimum.

Air raja memiliki daya oksidasi yang sangat tinggi, oleh karena itu selama proses ini
semua bahan-bahan yang terbuat dari logam tak bersinggungan dengan larutan.
Batuan yang akan diliberalisasi pun harus ditempatkan pada wadah yang tahan
terhadap bahan kimia (sebaiknya dilapisi oleh bahan sejenis polimer atau plastik
yang tahan terhadap bahan kimia).

Liberalisasi dapat dilakukan dengan merendam batuan dalam larutan air raja, atau
mengalirkan larutan air raja ke dalam batuan. Proses perendaman atau pengaliran
air raja sebaiknya dilakukan selama 2x24 jam, agar sebagian besar permukaan bijih

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas terbuka dari berbagai pengotornya. Jika dilakukan sirkulasi, maka
penggunaan alat sirkulasi (pompa sirkulasi misalnya) harus terbuat dari bahan yang
tahan terhadap asam kuat (acid resistance).

Untuk batuan dengan kandungan belerang (sulfida) rendah (kandungan pyrite, atau
sejenisnya rendah) dan kadar logam emas dalam bijih di atas 80%, penggunaan air
raja antara 1 2 liter per metrik ton batuan. Batuan berjenis electrum (kadar emas
antara 20% - 80%), batuan berkadar perak sangat tinggi (kadar emas di bawah
20%), sebaiknya menggunakan 2 4 liter air raja. Pada batuan dengan konsentrasi
belerang yang relatif sedang (mengandung sebagian pyrite, arsenopyrite, galena,
dsb), penggunaan air raja sebaiknya antara 4 8 liter per metrik ton material.
Sebelum digunakan, air raja perlu diencerkan terlebih dahulu dengan air sebanyak
200 300 liter per 1 ton material.

Langkah langkah proses liberalisasi air raja sebagai berikut :

- Buat air raja dari larutan HNO3 pekat 68% dan HCl pekat 32% dengan
perbandingan 1 : 4 volume/volume. Aduk larutan hingga pencampuran
menjadi merata.
- Encerkan air raja yang telah diaduk (1 liter untuk batuan berkadar emas
tinggi, 2 liter untuk batuan kadar perak tinggi, 4 liter untuk batuan
berkandungan belerang relatif sedang) dengan air sebanyak 200 300 liter,
aduk merata selama pengenceran.
- Masukkan air raja yang telah diencerkan ke dalam wadah raw material
(direndam atau disirkulasi) selama 24 48 jam lamanya. Pada proses ini
sebagian besar unsur logam pengotor larut oleh air raja. Logam emas tak
larut oleh air raja akibat encer dan kurangnya jumlah air raja, serta selalu
tereduksinya logam emas (yang mungkin terlarut) dari larutannya oleh
logam-logam lain yang teroksidasi.
- Setelah proses perendaman/sirkulasi, tiriskan batuan dari larutan, tampung
larutan jernih dalam suatu wadah yang tahan terhadap bahan kimia.
Netralkan pH larutan hingga 7 menggunakan kapur sebelum dilakukan
pembuangan.
- Siapkan 200 gram timbal II nitrat Pb(NO3)2 kristal, larutkan dalam air
sebanyak 100 liter per ton material. Masukkan larutan timbal II nitrat ke
dalam batuan, biarkan terendam atau bersirkulasi selama 6 12 jam.
Pemberian timbal nitrat bertujuan untuk mendeaktifasi karbon alami yang
mungkin terkandung dalam batuan, agar kabon ini tak menyerap emas
selama proses sianidasi berlangsung.
- Pisahkan larutan hasil proses timbal nitrat dari batuannya, kemudian
netralkan larutan terhadap kemungkinan masih adanya sisa timbal nitrat
menggunakan sodium sulfida Na2S sebelum dilakukan pembuangan larutan.
Pada saat Na2S dimasukkan terbentuk endapan berwarna hitam. Hentikan
penambahan Na2S setelah tak terbentuknya lagi endapan baru saat
dilakukan penambahan, atau jika pH larutan telah mencapai angka 2.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Setelah ini, larutan telah aman untuk dibuang karena sisa-sisa logam timbal
telah mengendap sebagai senyawa timbal II sulfida yang berwarna hitam.

XII.7.5. Proses Pelarutan Menggunakan Sianida

Setelah proses liberalisasi batuan emas mulai terlihat bersih, dan sebagian terfraksi
menjadi ukuran yang lebih kecil akibat terjadinya pelarutan unsur-unsur logam
pengotor yang melekat pada urat-urat silika.

pH larutan setelah proses liberalisasi berada di bawah 7, sehingga perlu dinaikkan


hingga 12. Proses sianidasi menggunakan metode heap/dump leach memerlukan
pH yang lebih tinggi dibanding pH jika menggunakan metode mekanis (proses
reaktor/tong). pH yang lebih tinggi ini dimaksudkan agar tingkat penguapan sianida,
yang biasanya lebih tinggi jika menggunakan metoda heap leach, dapat dikurangi
hingga minimum.

pH dapat dinaikkan menggunakan kapur (CaO) atau caustic soda (NaOH).


Pemilihan 2 jenis senyawa basa ini tergantung pada perhitungan ekonomis
terhadap biaya produksi. Kapur memiliki harga yang relatif murah dibanding caustic
soda, akan tetapi caustic memiliki keunggulan karena mampu melarutkan sebagian
silika selama berlangsungnya proses sianidasi. Kapur cocok digunakan jika
ekstraksi emas dari larutan sianidanya menggunakan karbon, sementara caustic
sangat tepat digunakan jika ekstraksi emas dari larutannya menggunakan
elektrowinning.

Pada pengolahan mekanis (proses tong/reaktor), jumlah sianida awal sebanyak 2


kg/ton material lumpur, namum pada proses sianidasi metode heap leach
penggunaan sianida bergantung pada volume air. Perbandingan awal yang terbaik
adalah antara 1,5 2 kg sianida per ton air. Penambahan lanjutan sianida
bergantung pada jumlah hasil ekstraksi logam emas dari larutannya, dan hasil
pengujian sisa logam emas yang terkandung dalam batuan. Jika hasil ekstraksi
menunjukkan hasil logam emas yang signifikan, maka penambahan sianida
sebaiknya dilakukan sebanyak dari jumlah pemberian awal. Jika hasil pengujian
sampel batuan yang sedang dileaching menunjukkan kandungan logam emas yang
masih besar, maka penambahan sianida pun disarankan sebanyak dari jumlah
sianida awal. Penghentian penambahan sianida dilakukan berdasarkan hasil
ekstraksi terkini dari logam emasnya. Jika hasil ekstraksi menunjukkan tren
perolehan logam emas yang menurun cukup tajam, maka penambahan sianida
sebaiknya dihentikan, meskipun hasil pengujian terbaru terhadap batuan
menunjukkan hasil yang masih signifikan. Perlu diketahui, proses heap/dump leach
hanya mampu mengekstraksi 50%-70% dari jumlah logam emas yang terkandung
dalam batuan, sehingga meskipun hasil pengujian batuan masih menampilkan
angka kandungan emas yang masih tinggi, tidak serta-merta signifikan dengan hasil
logam emas yang terlarut.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Ekstraksi emas dari larutan sebaiknya dilakukan dalam periode-periode waktu yang
tertentu, misalnya tiap 3 hari atau tiap 1 minggu, agar larutan yang akan diekstrak
telah kaya akan garam kompleks emas dan perak. Meskipun ekstraksi logam emas
dilakukan tidak secara kontinu, proses sirkulasi larutan tetap harus dilakukan secara
kontinu, agar proses pengayaan larutan terus berlangsung. Ekstraksi yang
dilakukan dalam interval yang terlalu cepat menimbulkan inefisiensi penggunaan
karbon atau elektroda (jika menggunakan proses elektrowinning).

Proses ekstraksi menggunakan karbon atau elektrowinning tetap tak mampu


mengekstrak seluruh logam emas dari larutannya, sehingga masih ada sisa logam
emas yang terlarut dalam sianida setelah ekstraksi terakhir dilakukan. Hal ini
dilakukan untuk menghindarkan pemborosan dalam penggunaan karbon atau
elektroda dalam proses elektrowinning.

Penggunaan logam zinc sebagai alat ekstraksi harus dihindarkan, karena logam ini
mudah larut dalam sianida. Kelarutan yang cukup baik ini justru merugikan pada
metode heapleaching, karena tingkat konsumsi sianida menjadi naik dan harus
dilakukan penambahan setiap selesainya 1 periode ekstraksi. Zinc hanya baik
digunakan untuk mengekstraksi larutan kaya dalam 1 x ekstraksi saja, karena zinc
tak hanya mengendapkan logam-logam emas, perak, tembaga, dan merkuri ; akan
tetapi zinc juga ikut terlarut oleh senyawa alkali sianida bebas, membentuk larutan
kompleks zinc sianida.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
XIII. PENGOLAHAN EMAS MENGGUNAKAN THIOSULFAT

Dewasa ini pengolahan emas menggunakan bahan kimia sangat memerlukan


perhatian terhadap tingkat pencemaran lingkungan. Penggunaan sianida makin
dibatasi karena tingginya tingkat pencemaran yang ditimbulkan, bahkan pada
beberapa negara tertentu penggunaan sianida dalam pengolahan emas sudah tak
diperbolehkan. Thiosulfat adalah suatu reagen yang paling menjanjikan untuk
mengganti sianida dibanding reagen-reagen lainnya, karena sangat bersahabat
terhadap lingkungan.

Thiosulfat adalah bahan kimia universal, karena penggunaannya sangat luas dalam
berbagai bidang. Thiosulfat juga digunakan sebagai pupuk pada tanaman, sebab
mengandung logam-logam alkali dan alkali tanah yang merupakan sumber
makanan utama tumbuhan. Amonium thiosulfat, alkali, dan alkali tanahnya larut
dalam air, sehingga memudahkan akar tanaman menyerap mineralnya. Thiosulfat
juga digunakan sebagai bahan desulfurisasi gas SO2, aditif pada proses pembuatan
semen, deklorinasi, dan sebagainya.

X.1. Sifat Fisika dan Kimia Thiosulfat

Pada bab ini, kita membahas senyawa-senyawa thiosulfat yang digunakan dalam
pelarutan logam emas dan perak. Ada 3 jenis senyawa yang digunakan untuk
pelarutan, ke 3 senyawa thiosulfat tersebut memiliki banyak kesamaan sifat secara
umum, namun dalam hal-hal tertentu memiliki perbedaan secara fisik dan kimia.

- Ammonium Thiosulfat (NH4)2S2O3. Senyawa ini tak berwarna (bening),


sangat mudah larut dalam air. Ammonium thiosulfat selalu ditemukan dalam
bentuk cair. Pemanasan terhadap senyawa ini mengakibatkan terjadinya
perubahan struktur kimianya (terdekomposisi).
- Calcium Thiosulfat CaS2O3. Sama halnya dengan ammonium thiosulfat,
calcium thiosulfat selalu ditemukan dalam bentuk cair.
- Sodium Thiosulfat Na2S2O3. Beda dengan kedua senyawa di atas, sodium
thiosulfat sangat mudah mengkristal pada suhu kamar. Larutan dan
kristalnya berwarna bening, sama halnya dengan ammonium dan calcium
thiosulfat. Sodium thiosulfat ketika dipanaskan mampu bertahan hingga suhu
2170C tanpa terdekomposisi.

Pembuatan Sodium Thiosulfat

Sodium thiosulfate pentahidrat Na2S2O3.5H2O dibuat dengan penjenuhan larutan


sodium karbonat dengan gas SO2 , yang menghasilkan larutan sodium sulfite,

Na2CO3 + SO2 + H2O =====> Na2SO3 + CO2 + H2O

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Hasil reaksi kemudian direbus dengan tepung belerang, sehingga belerang melarut
dan menjadikan senyawa baru sodium thiosulfate.

Na2SO3 + S =====> Na2S2O3

Larutan kemudian didinginkan agar terbentuk kristal sodium thiosulfat pentahidrat.

Sifat-sifat fisika : Larutan maupun kristalnya bening tak berwarna. Pada kondisi
tetrahidrate sering disebut dengan istilah hypo. Garam ini mencair pada suhu 470C,
dan kehilangan air pada suhu 2170C.

Pemanasan yang lebih tinggi dari 2170C menyebabkan sodium thiosulfat terurai
membentuk sodium sulfat dan sodium pentasulfide,

4Na2S2O3 ======> 3Na2SO4 + Na2S5

Ammonium dan calcium thiosulfat memiliki titik dekomposisi yang lebih rendah lagi
dibanding sodium thiosulfat, sehingga sangat sensitif pada suhu tinggi.

Reaksi dengan perak halida membentuk kompleks

2 Na2S2O3 + AgBr ======> Na3Ag(S2O3)2 + NaBr

2 (NH4)2S2O3 + AgBr ======> (NH4)3Ag(S2O3)2 + NH4Br

4 CaS2O3 + 2 AgBr ======> Ca3[Ag(S2O3)2]2 + Ca(Br)2

Berbeda dengan reaksi terhadap perak halida, reaksi dengan perak nitrat justru
menghasilkan endapan perak (I) thiosulfat yang berwarna putih, yang jika dibiarkan
dalam waktu lama akan tereduksi menjadi senyawa perak sulfida (Ag2S) berwarna
hitam yang tak larut dalam air.

AgNO3 + Na2S2O3 =====> Ag2S2O3 + NaNO3

Pada awal reaksi warna endapan putih, sesaat kemudian berubah menjadi kuning,
selanjutnya orange, coklat, dan hasil akhir berwarna hitam Ag2S.

Thiosulfat stabil pada kondisi basa atau netral. Pada kondisi asam thiosulfat akan
terurai menjadi gas SO2, belerang bebas, dan air.

S2O32 (aq) + 2 H+ (aq) =====> SO2 (g) + S (s) + H2O

Na2S2O3 + 2 HCl =====> 2 NaCl + S + SO2 + H2O

(NH4)2S2O3 + 2 HCl =====> 2 NH4Cl + S + SO2 + H2O

CaS2O3 + 2 HCl =====> Ca(Cl)2 + S + SO2 + H2O

X.2. Reaksi Kompleks Thiosulfat Terhadap Logam

Pelarutan logam emas dan perak terjadi dalam beberapa tahap, yaitu :

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
1. Oksidasi thiosulfat oleh udara, dengan adanya air

4 Na2S2O3 + O2 + 2 H2O =====> 2 Na2S4O6 + 4 NaOH

4 CaS2O3 + O2 + 2 H2O =====> 2 CaS4O6 + 4 NaOH

4 (NH4)2S2O3 + O2 + 2 H2O =====> 2 (NH4)2S4O6 + 4 NH4OH

Reaksi di atas berlangsung lambat pada suhu kamar (250C), dan mengalami
percepatan jika suhu dinaikkan.

2. Thiosulfat yang telah teroksidasi selanjutnya mengoksidasi logam-logam


(utamanya emas dan perak) menjadi oksidanya

4 Ag + 2 Na2S4O6 + 4 NaOH ======> 2 Ag2O + 4 Na2S2O3 + 2 H2O

4 Au + 2 Na2S4O6 + 4 NaOH ======> 2 Au2O + 4 Na2S2O3 + 2 H2O

Hal yang sama juga dilakukan oleh 2 senyawa thiosulfat lainnya

4 Au + 2 CaS4O6 + 4 NaOH ======> 2 Ag2O + 4 CaS2O3 + 2 H2O

4 Au + 2 (NH4)2S4O6 + 4 NaOH ======> 2 Au2O + 4 (NH4)2S2O3 + 2 H2O

Proses oksidasi logam emas oleh senyawa tetrathionate (S4O62-) berjalan lambat.

3. Emas dan perak yang teroksidasi selanjutnya larut dalam thiosulfat, membentuk
larutan kompleks emas/perak thiosulfat.

2 Au2O + 4 Na2S2O3 + 2 H2O =====> 4 Na3AuS2O3 + 4 NaOH

2 Au2O + 4 Na2S2O3 + 2 H2O =====> 4 Na3AuS2O3 + 4 NaOH

Hal yang sama juga terjadi dengan calcium dan ammonium thiosulfat.

Penggunaan oksigen sebagai oksidator pada proses pelarutan menggunakan


thiosulfat menghasilkan pelarutan yang relatif lambat dibanding menggunakan
sianida sebagai pelarut.

Untuk mempercepat pelarutan, harus digunakan oksidator yang lebih kuat daripada
oksigen. Ada beberapa oksidator yang dapat digunakan, antara lain tembaga II dan
besi III. Pada buku ini kita menggunakan tembaga II sebagai oksidator, karena
memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibanding penggunaan besi III.

Tembaga II yang akan digunakan dapat berasal dari tembaga II sulfat, yang
dilarutkan oleh amoniak membentuk senyawa kompleks ion tembaga Cu(NH3)42+
(kation tetraamina). Amoniak dapat ditulis menggunakan rumus kimia sebagai
NH4OH atau NH3 saja. Pada suasana asam amoniak terurai menjadi NH4OH, dan
pada kondisi basa kation hidrogen pada kation NH4+ cenderung berpasangan
dengan anion OH- menjadi air, dan NH4- tereduksi menjadi NH3.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Reaksi lengkapnya sebagai berikut :

CuSO4 + 4 NH4OH =====> Cu(NH3)4.SO4 + 2 H2O ........(1)

2 Cu(NH3)4.SO4 + 2 Au =====> [Cu(NH3)2]2.SO4 + 2 NH3 + Au2SO4 .....(2)

Reaksi (2) secara ionik dapat ditulis sebagai berikut :

2 Cu(NH3)42+ + SO42- + 2 Au ====> 2 Cu(NH3)2+ + 2 NH3 + 2 Au+ + SO42-

Reaksi (1) adalah reaksi dari senyawa tembaga sulfat dan amoniak, yang
menghasilkan pembentukan ion kompleks tetraaminasulfat pada suasana basa.
Selanjutnya kation tetraamina mengoksidasi logam emas menjadi oksidanya, dan
tetraamina selanjutnya tereduksi diaminacoppersulfat (2). Hasil dari reaksi (2)
terbentuk oksida logam emas, yaitu emas I sulfat yang sangat tak stabil, dan mudah
tereduksi kembali menjadi logamnya, atau teroksidasi lebih lanjut membentuk
senyawa kompleks.

Adanya senyawa thiosulfat menyebabkan terjadinya reaksi pembentukan kompleks


emas thiosulfat, yang stabil dengan adanya ion sulfat berlebih dalam larutan.

Au2SO4 + 4 Na2S2O3 =====> 2 Na3(AuS2O3) + Na2SO4

Kation tetraamina yang tereduksi akibat oksidasi logam emas menjadi


diaminacoppersulfat kemudian dioksidasi oleh anion thiosulfat, membentuk ikatan
kompleks tembaga thiosulfat, seperti reaksi di bawah ini.

Cu(NH3)2+ + 2S2O32- =====> Cu(S2O3)35- + 2 NH3

Diaminacoppersulfat juga teroksidasi oleh amoniak, kembali menjadi


tetraaminacoppersulfat

2 Cu(NH3)2.SO4 + 2 NH4OH =====> 2 Cu(NH3)4.SO4

Pelarutan emas menggunakan thiosulfat :

- Penggunaan reaktor tertutup

- Kemampuan thiosulfat melarutkan merkuri, tembaga, dan hasil merkuri dari


resin ionik.

- Hasil pelarutan thiosulfat pada reaktor tertutup lebih tinggi hingga 40%
dibanding pengolahan pada reaktor terbuka, dalam waktu dan jumlah bahan kimia
yang sama.

- Efek paduan emas-perak, kelarutan emas murni lebih cepat dibanding


paduan 4-8% perak, dan kelarutan 20-50% paduan perak lebih cepat daripada
kelarutan emas murni.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
- Kelarutan perak sangat sensitif terhadap konsentrasi tembaga II, 1,67x 10-5
mol/m2.detik, pada konsentrasi tembaga II 1,25 millimol. 6,6x10-5 mol/m2.detik
pada konsentrasi tembaga II 10millimol.

- Pelarutan emas menggunakan thiosulfat selama 24 jam disarankan


menggunakan 0,2-0,4 M thiosulfat, 400 milli molar NH3, 10-20 milli molar tembaga
II, 300C, 300 rpm, tanpa suplai udara, perbandingan cairan dan lumpur 20%, dan
ukuran partikel rata-rata lebih kecil dari 106 mikrometer.

- Kelarutan merkuri dalam thiosulfat memiliki kecepatan yang sama dengan


kelarutannya dalam sianida. Kelarutan merkuri HgS2<HgO<Hg2Cl2<HgCl2

Gerakan dari pelarutan emas dan perak koloid pada larutan thiosulfat yang
beramoniak telah dipelajari menggunakan oksigen, tembaga II, pH 9-11, suhu 22
derajat celcius hingga 48 celcius. Efek konsentrasi dari reagen utama seperti
tembaga II, thiosulfat, amoniak dalam berbagai kondisi telah diselidiki. Emas koloid
memiliki karakteristik serapan puncak pada 530 nm-620 nm.

Ion thiosulfat S2O32-, memiliki struktur yang sama dengan sulfat dengan satu
oksigen diganti dengan satu atom belerang. Thiosulfat membentuk ikatan kompleks
dengan berbagai logam, termasuk emas. Pelarutan emas menggunakan thiosulfat
sebagai berikut :

4 Au + 8 S2O32- + 2 H2O + O2 = 4 Au(S2O3)23- + 4 OH-

Pelarutan emas menggunakan thiosulfat sangat sensitif terhadap konsentrasi ion


tembaga, thiourea, temperatur, dan pH larutan. Hubungan antara pelarutan emas
dan konsentrasi ion tembaga cukup kompleks dalam beberapa hal. Pada
konsentrasi rendah, tembaga memiliki kemampuan katalis, tetapi kenaikan
konsentrasinya justru merugikan dalam proses pelarutan.

Untuk memastikan efek katalis dari tembaga, perbandingan tembaga terhadap


amoniak dan thiosulfat harus dipertahankan. Perubahan dari thiosulfat menjadi
tetrathionate oleh udara dapat juga terjadi, yang menghasilkan berbagai
kemungkinan reaksi sampingan.

Reaksi dengan halogen berbeda, sebagai berikut :

2 S2O32 (l) + I2 (l) S4O62 (l) + 2 I (l)

S2O32 (l) + 4 Br2 (l) + 5 H2O(aq) 2 SO42 (l) + 8 Br (l) + 10 H+ (l)

S2O32 (l) + 4 Cl2 (l) + 5 H2O (aq) 2 SO42 (l) + 8 Cl (l) + 10 H+ (l)

Thiosulfat menyebabkan oksidasi yang cepat terhadap logam; besi dan stainless
steel sangat peka terhadap thiosulfat. Thiosulfat juga diproduksi oleh oksidasi tak
komplit dari mineral sulfida.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Pelarutan emas menggunakan thiosulfat telah diuji menggunakan 3 jenis
senyawanya, ammonium thiosulfat, kalsium thiosulfat, dan sodium thiosulfat; semua
menggunakan larutan amoniak dan katalis ion tembaga. Kalsium memberikan
tingkat reaksi yang lebih tinggi dengan mengabaikan tingkat konsumsi thiosulfat
pada proses pelarutan. Sodium memberikan hasil yang terendah dalam
penggunaan konsumsi thiosulfat, dan terendah dalam tingkat pelarutan emas.
Amonium thiosulfat memiliki tingkat ekstraksi yang lebih baik daripada sodium
thiosulfat, namun memiliki tingkat konsumsi yang tertinggi karena berada pada pH
pelarutan yang lebih rendah. Perbedaan dari pelarutan bijih emas oleh masing-
masing garam thiosulfat dikatakan sebagai kemampuan pembentukan pasangan ion
thiosulfat dengan kation-kation. Pelarutan emas rendah sulfida adalah hampir sama
dengan pelarutan bijih emas, dimana sifat-sifat pelarutan emas dengan garam
thiosulfat yang berbeda memperlihatkan tingkat ekstraksi yang berbeda.

Pelarutan emas sulfida tinggi (semacam pyrite) tak hanya tergantung pada sifat-sifat
dasar pelarutan bijih emas, tapi juga tergantung pada interaksi kumpulan mineral
sulfida. Ammonium thiosulfat memiliki tingkat pelarutan yang lebih tinggi pada
batuan sulfida tinggi dibanding calsium thiosulfat, dikarenakan memiliki tingkat
pelarutan yang lebih tinggi pada mineral tembaga sulfida, dan tingkat konsumsi
yang terendah dibandingkan calsium thiosulfat. Sodium thiosulfat memiliki tingkat
ekstraksi yang terendah terhadap mineral sulfida tinggi, dan rendah dalam hal
konsumsi thiosulfat. Ammonium thiosulfat lebih baik digunakan dalam pelarutan
emas pada batuan sulfida tinggi, dan kalsium thiosulfat lebih baik digunakan pada
batuan sulfida rendah.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
XIV. PENGOLAHAN LIMBAH SIANIDA

Pengolahan lumpur batuan emas pada beberapa daerah di seluruh Indonesia,


khususnya yang dilakukan oleh pertambangan rakyat, ternyata masih menyisakan
kandungan logam emas pada limbahnya, yang ternyata jumlahnya masih sangat
ekonomis untuk diolah kembali. Hasil riset yang dilakukan oleh Sumundo, terbukti
bahwa kandungan emas dalam limbah padat masih cukup tinggi, bervariasi mulai 7
gram/ton hingga 19 gram/ton.

Hasil penelitian terhadap limbah, ditemukan emas dalam berbagai bentuk, antara
lain:
1. Emas ukuran halus yang tersisa. Emas jenis ini dimungkinkan ada disebabkan
beberapa hal, antara lain ;
- waktu pelarutan kurang,
- jumlah sianida yang kurang pada saat pelarutan
- ukuran bijih emas terlalu besar pada saat pelarutan, yang diakibatkan oleh proses
penghalusan batuan yang kurang sempurna
- tak dilakukannya proses liberalisasi permukaan bijih emas sebelum leaching
dilakukan
2. Emas koloid, yaitu partikel emas halus yang terperangkap dalam senyawa pyrite.
Pada dasarnya setiap batuan emas primer tetap mengandung sejumlah senyawa
belerang dalam jumlah yang bervariasi. Emas koloid yang terperangkap sangat sulit
dilarutkan, karena sianida tak bereaksi dengan senyawa sulfida, sehingga partikel
emas koloid tetap utuh terperangkap di dalam senyawa pyrite.
3. Bijih emas yang masih terbungkus oleh bijih silika, ini terjadi karena proses
penghalusan batuan tidak sempurna. Silika tak larut oleh sianida, sehingga bijih
emas yang terperangkap tak terlarutkan oleh sianida.
4. Larutan emas sianida yang terserap oleh karbon yang berasal dari batuan,
maupun yang berasal dari karbon aktif yang tergerus oleh lumpur selama proses
pelarutan berlangsung.

Untuk memproses lumpur padat dari limbah ini tak bisa dilakukan menggunakan
sianida, karena tingkat perolehan sangat rendah, sehingga tak sebanding dengan
biaya produksi (yang cukup mahal jika menggunakan sianida).srtgg

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
XV. PENGOLAHAN MENGGUNAKAN AIR RAJA

Air raja (campuran HNO3 dan HCl dengan perbandingan volume 1 : 3) merupakan
pelarut yang melarutkan hampir semua jenis logam, oleh karena itu zat ini biasa
disebut sebagai pelarut universal. Sama seperti pelarut sianida dan thiosulfat, air
raja juga membentuk senyawa kompleks dengan berbagai logam yang
dilarutkannya. Emas larut dalam air raja membentuk larutan komplek yang stabil jika
kelebihan anion klor di dalam larutannya. Perak dan logam-logam golongan I (Ag,
Hg, Pb) tak larut dalam air raja karena pada akhir reaksi membentuk senyawa
klorida yang tak larut.

Batuan mineral emas mengandung berbagai jenis logam di dalamnya. Pelarutan


menggunakan air raja adalah suatu proses kompetisi antar logam dan kation-
kationnya. Logam besi cenderung lebih cepat larut dibanding logam tembaga,
demikian juga dengan beberapa senyawanya. Pelarutan logam menggunakan air
raja berlangsung sangat cepat, melibatkan banyak reaksi oksidasi-reduksi
berkecepatan tinggi selama proses pelarutan.

XI.1. Kompetisi Antar Logam

Suatu contoh pelarutan menggunakan air raja pada batuan yang mengandung
mineral besi, tembaga, perak, dan emas. Besi, tembaga, dan perak memiliki bentuk
logam maupun senyawa pada batuannya. Besi, bersama tembaga, perak, dan
emas, bisa berupa unsur logam yang terkandung dalam paduan logam pada bijih
emas. Besi juga bisa berupa senyawa sendiri bersama unsur belerang, membentuk
senyawa yang terkenal disebut dengan istilah pyrite (FeS2). Besi bisa juga
berasosiasi dengan tembaga membentuk senyawa chalcopyrite CuFeS2, yang
dapat juga ditulis sebagai CuSFeS. Besi juga memiliki senyawa oksida seperti besi
II oksida (FeO), besi III oksida (Fe2O3), Fe(OH)3, Fe3O4, dan berbagai bentuk
senyawa lainnya. Senyawa-senyawa besi sangat mudah larut dalam air raja, kecuali
beberapa diantaranya yang refraktory (sulit bereaksi), seperti besi III oksida Fe2O3,
Fe3O4 dan beberapa jenis senyawa lainnya.

Sama halnya dengan besi, tembaga juga memiliki puluhan jenis senyawa pada
batuan mineral emas, yang secara umum senyawa-senyawa ini sangat mudah larut
dalam air raja. Perak, secara mayoritas memiliki bentuk logam dan bercampur
dengan logam emas membentuk paduan logam bijih emas. Sebagian dari unsur
perak membentuk senyawa dengan belerang sebagai perak sulfida Ag2S, yang
populer disebut dengan istilah argentite. Senyawa unsur perak lainnya mencapai
puluhan jenis, namun bersifat minoritas dibanding logam perak pada paduan bijih
emas dan argentite.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Emas selalu ditemukan sebagai logam pada batuan mineral. Bijih logam emas yang
berukuran realitf besar biasanya terbungkus oleh lapisan silika. Pembebasan bijih
ini mudah dilakukan melalui proses penggerusan hingga berukuran sangat halus
(dibawah 0,05 mm). Emas berukuran lebih halus sebagian masih terbungkus silika,
namun bagian terbesarnya berasosiasi dengan mineral lain, sehingga partikel emas
halus tersebut terjebak di dalam mineral-mineral tersebut. Emas jenis ini sering
disebut dengan istilah emas koloid, karena sulitnya mengendap pada media air.
Emas-emas koloid ini umumnya memiliki sifat refraktory (sulit dilarutkan) terhadap
larutan sianida, sehingga mayoritas dibuang kembali sebagai limbah padat.

Pada deret volta, logam besi berada di sebelah kiri logam tembaga, tembaga
disebelah kiri perak, perak di sebelah kiri emas, yang deretnya ditulis sebagai
berikut :
Fe Cu Ag Au

Dari deret di atas, dapat disimpulkan beberapa hal :


1. Senyawa emas mengoksidasi logam perak, tembaga, dan besi, menjadi
senyawanya, dan pada saat bersamaan senyawa emas tereduksi menjadi
logamnya. Senyawa perak mengoksidasi logam tembaga dan besi menjadi
senyawanya, dan saat bersamaan senyawa perak tereduksi menjadi logamnya.
Senyawa tembaga mengoksidasi logam besi dan tereduksi menjadi logamnya.
Senyawa besi tak mampu mengoksidasi logam tembaga, perak, dan emas.
Senyawa tembaga tak mampu mengoksidasi logam perak dan emas, senyawa
perak tak mampu mengoksidasi logam emas.

Contoh dari kesimpulan di atas :

2 HAu(Cl)4 + 4 Cu =====> 2 Au + 4 CuCl2 + H2 ..........(1)


3 AgCl + Fe =====> 3 Ag + FeCl3 .................................(2)

Pada persamaan (1), larutan kompleks tetrakloroaurat mengoksidasi logam


tembaga yang berada dalam larutan, menjadi larutan tembaga II klorida. Pada saat
bersamaan emas tereduksi menjadi logamnya, yang mengendap dalam bentuk
tepung berwarna coklat di dasar larutan. Pada persamaan (2), senyawa tak larut
perak klorida mengoksidasi logam besi menjadi larutan besi III klorida, dan saat
yang sama perak tereduksi dari senyawanya, menjadi tepung perak yang berwarna
hitam.

2. Senyawa emas mampu mengoksidasi lebih lanjut senyawa logam lain, dan
tereduksi menjadi logamnya, senyawa perak mampu mengoksidasi senyawa logam
tembaga dan besi, dan perak tereduksi menjadi logamnya. Sebagai contoh reaksi di
bawah ini :

2 HAu(Cl)4 + 8 FeCl2 =====> 2 Au + 8 FeCl3 + H2

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Pada persamaan reaksi (2) di atas, larutan kompleks tetrakloroaurat mengoksidasi
larutan besi II klorida, dan secara bersamaan tereduksi menjadi logamnya, yang
berbutir halus dan mengendap di dasar larutan.

Jika lumpur dari batuan emas mengandung 4 jenis logam ini, maka tiap logam emas
yang terlarut oleh air raja akan terendapkan kembali oleh logam/senyawa logam lain
yang belum terlarut (perak, tembaga, dan besi). Demikian juga halnya logam perak
terhadap tembaga dan besi, logam tembaga terhadap besi, dan seterusnya. Ini
yang dimaksudkan dengan istilah kompetisi logam maupun senyawa logam dalam
pelarutan menggunakan air raja. Pada akhirnya logam emas baru akan larut setelah
seluruh jenis logam yang lebih reaktif darinya telah larut oleh air raja, dan
membentuk bilangan oksida yang paling tinggi.

Air raja tidak melarutkan logam perak, karena terbentuknya endapan perak klorida
akibat kandungan klor dari air raja. Oleh karena itu larutan hasil dari pelarutan
menggunakan air raja tidak mengandung logam perak, dan pada saat pemisahan
larutan dan lumpur dilakukan, logam perak akan tertinggal bersama lumpur. Atas
dasar ini dan beberapa sebab lainnya, maka pengolahan menggunakan air raja tak
dapat berdiri sendiri, melainkan harus terjadi kombinasi dengan berbagai pelarut
lainnya.

Pada batuan dengan kandungan logam perak tinggi (di atas 500 gr/ton),
penggunaan pelarut air raja dapat dikombinasikan dengan asam nitrat dan sianida,
atau dengan asam nitrat dan thiosulfat. Untuk kandungan logam emas yang tinggi,
air raja dikombinasikan dengan sianida atau thiosulfat. Pada batuan yang
mengandung logam tembaga tinggi, penggunaan air raja sebaiknya dikombinasikan
dengan asam sulfat dan sianida, atau asam sulfat dan thiosulfat.

Pada bagian berikut dipaparkan berbagai kemungkinan dan kombinasi-kombinasi


pelarut air raja dengan berbagai pelarut lainnya.

XI.2. Kombinasi Timbal II nitrat - Asam Nitrat - Air raja - Sianida

Pada batuan berkandungan logam perak tinggi (di atas 500 gram perak / 1 ton
batuan, penggunaan sianida saja atau thiosulfat saja sebagai pelarut sangat
memboroskan waktu dan biaya selama pengolahan. Biasanya, batuan
berkandungan perak tinggi juga memiliki kandungan karbon yang tinggi juga,
demikian juga halnya dengan kandungan senyawa belerang (yang menyebabkan
sebagian logam emas dan perak menjadi refraktory).

Perak adalah logam yang jauh lebih murah dibanding logam emas, sehingga
penggunaan sianida sebagai pelarut menjadi tak sefisien ditinjau secara ekonomis.
Adanya jumlah karbon yang tinggi pada lumpur juga menjadi masalah yang besar,
karena sebagian logam perak dan emas yang terlarut akan terserap oleh karbon

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
alami tersebut. Senyawa-senyawa sulfida yang bersifat refraktory juga menjadi
penghalang utama proses ekstraksi, disebabkan sulitnya senyawa ini bereaksi
dengan sianida.

Untuk memproses batuan jenis ini dengan menggunakan sianida sebagai pelarut
akhir, maka ada beberapa langkah yang harus dilalui sebelum penggunaan sianida
dilakukan, agar potensi biaya produksi yang tinggi dapat dikonversi menjadi potensi
keuntungan yang tinggi.

Jumlah kandungan karbon alami yang tinggi pada batuan berkandungan perak
tinggi dapat diatasi melalui pemberian larutan timbal II nitrat ke dalam lumpur.
Disamping sebagai oksidator kuat, timbal II nitrat juga bertindak sebagai
pengumpan awal bagi karbon alami yang berasal dari bahan batuan tersebut.
Timbal II nitrat memiliki kelarutan yang tinggi terhadap air. Larutan timbal II nitrat
kemudian berdisosiasi di dalam lumpur cair, menjadi kation timbal II (Pb2+) dan
anion nitrat (NO3-). Kation Pb2+ selanjutnya secara bertahap terserap oleh karbon,
dan mengisi ruang-ruang di dalam karbon. Hasil pemberian bahan kimia ini adalah
karbon yang berasal dari batuan telah terisi logam timbal, sehingga mengalami
kejenuhan sebelum pelarutan logam dilakukan. Timbal II nitrat adalah senyawa
logam berat yang memiliki tekanan yang hampir sama dengan logam emas,
sehingga kation emas sulit mendesak kation timbal untuk keluar dari ruang karbon
yang telah didiaminya. Tak seperti perak nitrat yang sangat bersifat reaktif dan
langsung mengendap jika terkontaminasi oleh garam-garam halogen (seperti NaCl,
NaBr) yang berasal dari lumpur, kation timbal yang bereaksi dengan anion halogen
tetap membentuk larutan, meskipun telah terjadi perubahan senyawa menjadi timbal
II klorida. Timbal II klorida memiliki kelarutan yang cukup baik terhadap air (9
gram/liter pada suhu 250C, dan kelarutan naik hingga 34,5 gram/liter pada suhu
1000C. Terjadinya perubahan senyawa dari timbal II nitrat menjadi timbal II klorida
(akibat adanya kontaminasi ion halogen yang mungkin ada dalam lumpur) tetap
membuat kation timbal terserap oleh karbon.

Untuk skala percobaan, siapkan batu emas sebanyak 100 kg, gerus halus dalam
ballmill atau tromol/glundung hingga berukuran mesh 200 up

Tahapan-tahapan proses selanjutnya sebagai berikut :


1. Timbang kristal timbal II nitrat kering seberat 25 gram. Masukkan
timbal II nitrat ke dalam lumpur yang telah diencerkan menggunakan
air dan ditempatkan dalam wadah plastik (ember/tong plastik). Aduk
lumpur secara merata, kemudian diamkan selama 1 jam. Pada saat
ini karbon alami yang berasal dari batuan menyerap kation Pb2+, dan
beberapa kation lain yang teroksidasi oleh Pb(NO3)2.
2. Larutan hasil proses (1) dipisahkan dari lumpurnya, dan tempatkan
pada media limbah asam (gunakan media yang terbuat dari plastik
chemical resistance). Larutan mengandung sisa-sisa timbal II nitrat,

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
dan beberapa unsur kimia lain yang larut akibat proses oksidasi yang
dilakukan oleh timbal II nitrat. Larutan ini bersifat racun, terutama
disebabkan kemungkinan masih adanya senyawa timbal yang
terlarut, disamping adanya kemungkinan senyawa-senyawa lain
seperti arsenik, besi, dan sebagainya. Oleh sebab itu larutan harus
dinetralisir sebelum dilakukan pembuangan. Pengendapan logam-
logam berat dapat dilakukan menggunakan garam sodium sulfide
Na2S. Masukkan sodium sulfide (bentuk flake) ke dalam wadah
secara bertahap. Pada saat Na2S dimasukkan terjadi reaksi
pengendapan larutan logam membentuk endapan sulfida logam yang
sangat stabil dan tak larut dalam air

Pb(NO3)2 (l) + Na2S (l) ====> PbS (s) + NaNO3 (l)

Hasil dari proses netralisir adalah endapan senyawa sulfida logam


yang sangat stabil, dan larutan garam sodium nitrat yang bersahabat
terhadap lingkungan. Setelah proses pengendapan menggunakan
Na2S selesai, larutan dan endapan telah layak untuk dibuang.

3. Tahapan berikutnya pelarutan logam perak dan senyawa-senyawa


refraktory lainnya menggunakan asam nitrat. Pada bagian ini,
gunakan asam nitrat pekat yang diencerkan dengan air 1 : 1. Untuk
100 kg bahan baku, dengan perkiraan awal kandungan logam perak
500 gram/ton (50 gram perak/100 kg batuan), gunakan HNO3 pekat
68% sebanyak 7 kg (5 liter), encerkan hingga volume larutan + air
menjadi 10 liter. Lumpur yang akan diproses dimasukkan ke dalam
media stainless besar (sebaiknya gunakan stainless steel 316 yang
tahan lama terhadap korosi), buang sisa-sisa air yang
menggenanginya. Masukkan cairan asam nitrat, aduk dan tutup
wadah stainless rapat-rapat (jumlah cairan dan lumpur jangan
melebihi 40% volume wadah, kelebihan dalam volume dapat
menyebabkan terjadinya peluapan saat lumpur direbus). Rebus
lumpur di atas api (jangan gunakan pemanas dari gas) hingga terjadi
pendidihan, biarkan hingga asap yang dikeluarkan berubah dari
coklat menjadi warna putih (uap air). Setelah selesai reaksi, lakukan
pengamatan menggunakan mikroskop terhadap kemungkinan masih
adanya logam perak yang tersisa dalam lumpur. Bijih emas kadar
rendah (mayoritas perak) dalam batuan biasanya berbentuk
lempengan tak beraturan, berwarna putih perak dan sedikit semu
kuning (pyrite dan senyawa sulfida lainnya biasanya memiliki bentuk
beraturan, bersegi-segi). Jika bijih emas perak masih ditemukan
dalam jumlah yang signifikan, maka pelarutan perak menggunakan
HNO3 belum selesai. Jika pelarutan belum selesai namun larutan
telah jenuh, maka lakukan kembali pelarutan menggunakan HNO3

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
yang dikurangi terhadap jumlah awal. Setelah selesai, pisahkan
larutan dari lumpur, dan satukan seluruh larutan perak nitrat dalam
wadah plastik yang tahan terhadap bahan kimia. Endapan lumpur
masih mengandung sebagian kecil logam perak, sedangkan logam
emas masih belum terlarut dalam proses ini.

4. Larutan yang dipisahkan dari proses (3) telah mengandung logam


perak dalam bentuk senyawa larut AgNO3, dan sebagian kecil
Ag2SO4. Endapkan larutan menggunakan sodium sulfide Na2S.
Perak, tembaga, dan beberapa jenis logam lainnya mengendap saat
diberikan Na2S ke dalam larutan. Lakukan penambahan Na2S
selama terbentuk terus endapan, hentikan penambahan setelah tak
menghasilkan endapan baru lagi. Biarkan suspensi mengendap
sempurna, saring dan pisahkan dari larutannya.

5. Larutan hasil proses (4) memiliki pH yang rendah, karena masih


kelebihan asam pada larutannya. Netralkan pH larutan menggunakan
kapur hingga mencapai pH 7, kemudian larutan telah aman untuk
dibuang.

6. Endapan hasil proses (4) kemudian dicuci menggunakan HCl encer


untuk melarutkan senyawa-senyawa logam pengotor, seperti besi II
sulfida, zinc II sulfida, dan sebagainya. Saring kembali endapan hasil
pencucian, buang larutan setelah dinetralkan pH nya menggunakan
kapur.

7. Endapan hasil proses (6) siap dilebur untuk menjadikannya logam.


Lebur endapan dalam kowi menggunakan tepung soda ash (Na2CO3)
sebagai fluks, pada suhu 11000C. Hasil peleburan adalah campuran
(paduan) logam perak dan tembaga yang telah bisa dipisahkan dan
dimurnikan peraknya.

8. Lumpur hasil proses (3) siap untuk dilarutkan menggunakan air raja.
Masukkan lumpur beserta sisa-sisa larutannya ke dalam wadah
plastik yang memiliki tutup rapat. Siapkan larutan air raja dengan
mencampur HNO3 1 bagian dan HCl 3 bagian dalam wadah yang
tertutup (jeriken bisa digunakan, namun jangan menutup terlalu rapat
karena perlu celah untuk melepaskan gas yang muncul akibat reaksi
nitrat dan klor). Aduk merata, dan biarkan hingga warna larutan mulai
memerah. Setelah memerah, masukkan larutan ke dalam lumpur,
aduk hingga merata, kemudian tutup wadah agar uap air raja tak
leluasa keluar dan mencemari udara sekitarnya. Untuk bahan baku
100 kg, penggunaan air raja awal disarankan sebanyak 5 liter.
Biarkan proses pelarutan berlangsung, aduk sesekali lumpur. Pada

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
proses ini emas melarut membentuk senyawa kompleks
tetrakloroaurat yang berwarna merah kecoklatan (proses pelarutan
memerlukan sekurangnya 2 jam). Logam-logam pengotor ikut terlarut
oleh air raja, kecuali sisa-sisa perak yang tetap berada dalam lumpur
sebagai senyawa tak larut AgCl (putih kapur). Pisahkan larutan
merah jernih dari lumpurnya, tiriskan lumpur dari sisa-sisa larutan.
Amati lumpur (menggunakan mikroskop mineral) terhadap
kemungkinan masih tertinggalnya logam emas dalam jumlah yang
signifikan (bijih emas yang tertinggal akan terlihat berwarna kuning
emas). Bijih emas yang belum terlarut kemungkinan disebabkan
jumlahnya yang relatif banyak dibandingkan jumlah air raja yang
dimasukkan. Jika jumlah bijih emas masih signifikan, maka pelarutan
dapat dilakukan kembali menggunakan air raja, dengan jumlah yang
lebih sedikit dari pemakaian awalnya. Setelah sebagian besar emas
terlarut, maka seluruh larutan dikumpulkan dalam 1 wadah yang
tahan asam. Endapan lumpur sisa proses ini masih mengandung
logam emas dalam jumlah yang sedikit, demikian juga perak. Oleh
karena itu lumpur akan diproses menggunakan sianida sebagai
proses ekstraksi terakhir logam emas dan perak.

9. Larutan hasil proses (8) kemudian dicampur dengan Na2S untuk


mengendapkan logam emas. Biarkan beberapa saat hingga suspensi
(campuran larutan dan endapan) yang terjadi mengendap dengan
sempurna di dasar larutan. Endapan mengandung logam emas dan
logam-logam ikutan, seperti tembaga, besi, dan sebagainya.
Pisahkan larutan hasil limbah pengendapan, netralkan dengan kapur
sebelum dilakukan pembuangan.

10. Lebur endapan hasil proses (9) menggunakan borax sebagai fluks.
Hasil proses ini adalah paduan logam emas dengan berbagai logam
pengotor (umumnya tembaga), yang telah dapat dipisahkan dan
dimurnikan.

11. Lumpur hasil proses (8) masih mengandung logam emas dan perak.
Emas kemungkinan dalam bentuk larutan tetrakloroaurat yang
tertinggal dan membasahi lumpur. Sebagian emas kemungkinan
masih tertinggal dalam bentuk logam halus bersama lumpur. Sisa-
sisa perak berbentuk senyawa AgCl dan Ag2SO4 yang bercampur
dengan lumpur. Naikkan pH menggunakan kapur hingga 11, sembari
mengencerkan lumpur hingga memiliki berat jenis 1,4 kg/liter.

12. Pindahkan lumpur ke dalam reaktor, masukkan sianida sebagai


pelarut logam emas dan perak. Karena jumlah emas dan perak telah
jauh berkurang setelah proses pelarutan menggunakan asam nitrat

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
dan air raja, maka penggunaan sianida pun menjadi lebih sedikit, dan
lama proses pelarutan menggunakan sianida menjadi lebih singkat.
Jumlah sianida awal pada proses ini sekitar 100 gram / 100 kg
lumpur. Proses pelarutan perak dan emas yang telah berbentuk
senyawa menjadi sangat cepat dan seketika.

AgCl (s) + NaCN (l) =====> Na[Ag(CN)2] + NaCl

Au2O + 4 NaCN + H2O =====> 2 Na[Au(CN)2] + 2 NaOH

Emas yang mengendap kembali akibat kenaikan pH sebagian


berbentuk senyawa tak larut, akan tetapi sebagian besar lainnya
justru tereduksi kembali menjadi logamnya, yang berukuran sangat
halus. Ukuran partikel emas yang sangat halus ini memudahkan
proses pelarutan, sehingga pelarutan menjadi relatif lebih cepat.
Pada situasi ini pelarutan diperkirakan menghabiskan waktu sekitar
12 jam sejak sianida dimasukkan, dengan tingkat perolehan total
logam emas dan perak mencapai 97% dari jumlah total
kandungannya dalam batuan.

13. Pindahkan lumpur dari reaktor ke wadah penyaring, biarkan hingga


semua larutan terpisah dari lumpurnya. Penyaringan dan penirisan
memakan waktu yang relatif lama, antara 6 jam 12 jam. Larutan
hasil penyaringan kemudian dimasukkan ke dalam wadah lain yang
bersih dari lumpur.

14. Masukkan debu logam zinc (zinc dust) ke dalam larutan hasil (13),
aduk secara merata selama 15 menit. Jumlah logam zinc awal yang
disarankan 10 gram. Emas dan perak tereduksi oleh zinc dan
mengendap menjadi logam emas dan perak, sedangkan logam zinc
melarut membentuk ikatan kompleks zinc sianida. Uji larutan bening
terhadap kemungkinan masih adanya logam emas yang belum
terendapkan setelah 15 menit penggunaan zinc. Pengujian dapat
dilakukan dengan mengambil cairan sampling 10 ml dan masukkan
ke beaker glass. Tambahkan larutan HNO3 encer untuk menurunkan
pH larutan menjadi 5 atau dibawahnya. Pada proses ini terjadi
penguapan sianida yang berubah menjadi gas HCN (hindarkan
mencium bau gas ini, karena sangat bersifat racun dan mematikan).
Penguapan sianida menyebabkan terjadinya perubahan senyawa
kimia yang terlarut dalam sianida. Garam kompleks sianida akan
mengendap akibat kehilangan sianida, dan berubah menjadi garam
perak I sianida yang mengendap sebagai tepung berwarna putih.
Garam kompleks emas berubah menjadi senyawa emas I sianida
berwarna ungu kemerahan dan berupa endapan, dan butiran logam

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
emas halus yang berwarna merah kecoklatan. Zinc mengendap
sebagai senyawa zinc II sianida berwarna putih. Saring endapan,
lebur menggunakan borax. Amati hasil leburan menggunakan
mikroskop mineral. Jika sudah tak ditemukan lagi adanya butiran
logam emas dan perak pada hasil leburan, maka proses
pengendapan menggunakan zinc telah selesai. Jika masih ditemukan
adanya butiran emas dan perak pada hasil leburan, maka proses
pengendapan menggunakan zinc belum selesai, dan perlu dilakukan
penambahan zinc ke dalam larutan.

15. Cuci endapan logam emas dan perak menggunakan HCl encer untuk
melarutkan sisa-sisa logam zinc yang ada di endapan. Hasil endapan
dari pencucian adalah logam emas, perak, tembaga, dan
kemungkinan adanya sedikit logam merkuri.

16. Lebur endapan hasil (15) menggunakan borax sebagai fluks. Hasil
peleburan berupa paduan logam emas dan perak yang telah bisa
dipisahkan dan dimurnikan.

17. Netralkan cairan hasil proses (14) menggunakan besi II sulfat hingga
terbentuk endapan berwarna biru kehijauan, selanjutnya cairan telah
aman untuk dibuang.

18. Lumpur padat limbah hasil proses sianida dinetralkan terlebih dahulu
dengan besi II sulfat sebelum dibuang.

XI.3. Kombinasi Soda Ash-Timbal II nitrat - Asam Nitrat - Air raja Sianida

Pada batuan berkandungan perak sangat tinggi (mulai 1000 gram/ton hingga
kandungan perak 1,5% dari berat batuan) penggunaan metoda-metoda biasa sudah
tak efektif dan sangat memboroskan. Batuan jenis ini memiliki kadar emas yang
sangat rendah dalam paduannya dengan logam perak, bahkan bisa mencapai
hanya 0,1%. Kadar perak yang berhasil ditemukan Sumundo pernah mencapai 99%
dari paduan logamnya.

Ditinjau dari nilai jual, kandungan batuan seperti ini sangat menjanjikan. Akan tetapi
umumnya para pengolah emas mengalami kebingungan menghadapi hal seperti ini,
disebabkan tak adanya metoda yang tepat dalam mengolah batuan seperti ini.
Penggunaan merkuri sebagai ekstraktor tentu saja sangat boros, karena
menghabiskan banyak logam merkuri, sementara harga merkuri terus naik sehingga
hasil yang diperoleh hampir tak sebanding dengan biaya produksi yang cukup
tinggi. Penggunaan sianida dan thiosulfat juga membutuhkan biaya yag sangat
tinggi, karena kandungan logam perak yang harus diekstrak cukup tinggi,
sementara biaya bahan kimia yang dikeluarkan juga tinggi.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Suatu terobosan baru pengolahan batuan ini telah dilakukan Sumundo.
Penggunaan soda (caustic soda atau soda ash) untuk melarutkan silika maupun
sebagian mineral pengotor sebagai langkah awal sangat disarankan terhadap
batuan jenis ini. Caustic soda memiliki sifat yang sangat korosif terhadap hampir
semua jenis logam, sehingga penulis menyarankan penggunaan soda ash, yang
relatif tak merusak media stainless steel pada saat proses perebusan dilakukan.

Batuan yang telah dilumpurkan selanjutnya dimasukkan dalam media yang terbuat
dari stainless steel. Untuk 100 kg lumpur campur dengan 10 kg soda ash,
masukkan air secukupnya ke dalam wadah (jangan terlalu banyak, karena akan
memperlambat reaksi). Penggerusan (penggilingan batuan), yang bertujuan untuk
meliberalisasi kulit bijih emas, pada dasarnya tak dapat mencapai tingkat liberal
100%, akan tetapi bervariasi dari 50%-90%. Soda ash sangat membantu proses
liberalisasi, karena melarutkan silika yang sebagian masih menutup permukaan
logam emas. Pelarutan silika juga memiliki pengaruh yang sangat positif terhadap
pengurangan volume dan berat lumpur. Perlu diketahui bahwa sebagian besar dari
kandungan lumpur adalah silika, sehingga pelarutan silika akan mengurangi berat
maupun volumenya. Pengurangan tersebut berpengaruh terhadap naiknya
persentase logam emas dan perak terhadap berat batuan. Pelarutan juga
menyebabkan peningkatan mobilitas larutan terhadap lumpur, karena partikel-
partikel halus silika sebagian besar telah terlarutkan oleh soda ash.

Secara praktek, jumlah berat material yang berkurang oleh pelarutan Na2CO3
adalah sebanyak dari berat pelarutnya. Dalam hal ini 10 kg Na2CO3 akan
melarutkan 5 kg silika dan logam-logam pengotor.

Rebus lumpur yang telah dicampur soda ash selama 1 jam, agar reaksi pelarutan
silika dan logam-logam lain berjalan lebih cepat. Reaksinya sebagai berikut :

Na2CO3 + SiO2 ====> Na2SiO3 + CO2

Pada reaksi di atas, silika larut oleh soda ash menjadi larutan Na2SiO3 yang kental.
Larutan ini sering disebut dengan istilah umum sebagai water glass. Soda ash
juga mengoksidasi logam-logam lain, seperti tembaga, besi, berbagai sulfida logam,
kandungan karbon, dan sebagainya. Hasil dari reaksi ini larutan pada lumpur
berubah warna menjadi hitam keruh. Setelah 1 jam, dinginkan lumpur pada media
plastik dan biarkan suspensi mengendap sempurna. Buang larutan yang bening,
bilas kembali lumpur dengan air bersih, dan buang kembali larutan hasil bilasan.
Tiriskan lumpur sisa-sisa larutan. Turunkan pH larutan hingga 6 menggunakan
larutan HNO3 encer, bilas kembali lumpur terhadap sisa-sisa larutan. Masukkan 100
gram Pb(NO3)2 ke dalam lumpur, aduk rata, biarkan selama 1 jam. Pisahkan
lumpur dari larutannya. Siapkan 5 kg (3,5 liter) larutan HNO3 pekat, campur dengan
air sebanyak volumenya (volume larutan akhir menjadi 7 liter). Masukkan larutan ke
dalam lumpur, aduk merata, rebus hingga asap coklat berganti dengan uap putih.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
Amati lumpur menggunakan mikroskop. Jika masih ditemukan adanya logam emas
perak dalam jumlah yang signifikan, lakukan kembali pelarutan dengan jumlah
HNO3 yang dikurangi.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
XVI. PEMURNIAN LOGAM EMAS DAN PERAK

Ada dua cara pelarutan dalam pemurnian sistem konvensional. Cara 1 adalah
pelarutan menggunakan asam nitrat (HNO3). Cara ini dilakukan terhadap emas
berkadar rendah (1% - 20%). Cara 1 sangat sulit dilakukan terhadap logam emas
berkadar tinggi disebabkan logam emas sudah membentuk tabir yang rapat.
Sebagaimana dibahas pada bagian XIII A, emas tak larut dalam asam nitrat (HNO3).
Cara 2 pelarutan dengan air raja. Cara ini dilakukan pada logam emas kadar tinggi
(90% - 99%). Masing masing cara ini akan diulas secara rinci dalam bagian ini.

A. Pelarutan Dengan Asam Nitrat (HNO3)

Emas kadar rendah sangat tepat dimurnikan dengan proses pemisahan HNO3.
Reaksinya sebagai berikut :

Au Ag Cu Pb (bullion) + 10 HNO3 Au +AgNO3 (l) + Cu(NO3)2(l)+


(s)
Pb(NO3)2(l) + 6NO(g) + 3O2(g) + 6H2O(l)

Keterangan simbol:

S = padatan , l = larutan , g = gas

Logam paduan emas perak dimasukkan ke dalam larutan HNO3 pekat. Perak akan
bereaksi menjadi larutan perak nitrat (AgNO3), sedangkan emas tertinggal dalam
endapan dalam bentuk tepung emas yang berwarna coklat.

Penggunaan larutan asam nitrat sebagai pelarut mensyaratkan wadah reaksi yang
tak boleh terbuat dari logam, kecuali wadah stainless steel yang relative dapat
bertahan lama terhadap asam nitrat. Selain stainless steel, reaksi dapat juga
menggunakan wadah kaca pyrex yang tahan terhadap panas tinggi.

Tanpa pemerian panas reaksi berlangsung sangat lambat, bahkan dapat


berlangsung berhari hari. Pemerian panas akan mempercepat reaksi pelarutan.
Pemanasan dilakukan dengan cara memasak wadah reaksi di atas nyala api
(kompor), hingga terjadi pendidihan (suhu 1250C). Selama terjadinya reaksi timbul
gas berwarna coklat kemerahan yang keluar dari larutan. Gas ini adalah uap NO2
yang terjadi akibat reaksi antara gas NO (nitrogen oksida) dengan udara.

Reaksi berlangsung sempurna jika semua endapan telah berbentuk tepung


berwarna coklat dan uap yang keluar tak berwarna coklat lagi. Teruskan
pemanasan hingga keluar uap berwarna putih dari larutan. Ini dilakukan untuk
memastikan habisnya sisa sisa asam nitrat di dalam larutan. Untuk jumlah logam
yang relative banyak, pelarutan dilakukan secara berulang-ulang ; larutan yang
telah jenuh (telah menjadi larutan logam) dipindahkan ke wadah lain ( terbuat dari
plastic atau kaca), selanjutnya masukkan kembali larutan asam nitrat baru ke dalam

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
wadah reaksi dan lakukan proses yang sama hingga semua logam berubah menjadi
tepung berwarna coklat kemerahan.

Setelah reaksi selesai, endapan dapat dipisahkan dari larutan dengan cara
penyaringan. Untuk memastikan tak ada lagi unsur perak di endapan, lakukan
pembilasan (dekantasi) dan saring hingga kering endapan tersebut. Selanjutnya
endapan telah siap untuk dilebur dengan bantuan fluks (borax atau caustic soda
misalnya). Hasilnya adalah logam mulia emas kadar 99,92% - 99,97%.

Larutan perak nitrat kemudian diproses untuk pengendapan perak menggunakan


HCl encer atau garam dapur (NaCl). Terjadi reaksi pengendapan AgCl. Mula mula
larutan menjadi keruh berwarna putih susu yang dengan cepat mengendap sebagai
tepung putih. Lakukan penambahan HCl encer atau NaCl hingga tak terjadi lagi
pengendapan susulan. Reaksi yang terjadi adalah.

AgNO3 + HCl AgCl + HNO3

AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3

Pisahkan endapan dengan larutan dengan cara penyaringan. Setelah semua


larutan tersaring, bilas kembali endapan dengan air panas untuk memastikan tak
ada lagi unsur logam lain di endapan (terutama timbal dalam bentuk PbCl2). Ada
dua cara untuk memproses garam perak AgCl hingga menjadi logam. Caranya
masing masing sebagai berikut:

1. Penjemuran Di bawah Sinar Matahari

Tepung perak klorida dijemur di bawah sinar matahari dalam lapisan tipis. Pada
penjemuran akan terjadi reaksi pelepasan gas klor ke udara. Ini sama dengan
reaksi fixasi negatif film,yang terjadi akibat rangsangan sinar ultra violet.
U.V
2AgCl 2Ag + Cl2

Dari cara ini diperoleh tepung logam perak (Ag warna hitam) yang selanjutnya
dilebur dengan bantuan borax (pijar) atau caustic soda, menjadi logam perak
dengan kemurnian 99,98% - 99,99% . Jika tepung perak hasil penjemuran
sebagian masih berwarna putih, peleburan harus dilakukan menggunakan fluks
caustic soda, disebabkan sebagian dari perak klorida masih belum mengalami
proses reduksi. Penggunaan borax dapat menggagalkan peleburan sebagian perak,
sebab borax tak mampu mereduksi tepung perak klorida menjadi logam perak.

2. Pertukaran Kation Logam

Potongan-potongan plat seng atau besi yang bebas karat dimasukkan ke dalam
endapan perak klorida (AgCl), kemudian ditambahkan air sebagai media pertukaran
ion. Lakukan pengadukan terus menerus hingga warna endapan berubah menjadi
hitam abu / abu - abu. Dalam proses ini terjadi reaksi pertukaran logam, dimana
garam perak akan berubah menjadi logam perak murni, sedangkan plat seng telarut

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
menjadi garam klorida dari seng dan besi. Selama reaksi berlangsung, suhu air
akan meningkat karena reaksi menghasilkan panas. Selanjutnya pisahkan endapan
dari larutan dan bilas endapan dengan air bersih.

4 AgCl(s) + Zn(s) + Fe(s) + H2O 4 Ag + ZnCl2 + FeCl2 + H2O

Dari reaksi di atas diperoleh tepung logam perak (hitam abu-abu). Kemudian cuci
bersih endapan dengan air sebelum dilebur. Dari hasil leburan diperoleh logam
perak dengan tingkat kemurnian 99,95% - 99,98% . Ada kemungkinan terjadi
pencemaran dari karat besi. Karat (Fe2O3) tak melakukan reaksi pertukaran kation
dan sangat sulit larut dalam asam.

Untuk membuang kotoran besi dapat dilakukan pada saat peleburan. Saat logam
mencair (pada suhu 10000C) lakukan pemurnian dengan penambahan borax (pijar).
Besi akan terusir dari lelehan logam perak dan hasilnya diperoleh bullion
perak kadar 99.99%.

Apakah logam emas kadar tinggi (86% up) mampu dimurnikan dengan cara
HNO3 ?

Sebenarnya bisa dilakukan. Logam emas kadar tinggi dicampur dengan logam
perak melalui pelelehan bersama. Campuran logam ini akan menurunkan kadar
emas namun berat bertambah. Emas kadar 90% dapat turun, dan penurunan
tergantung seberapa banyak logam perak yang tercampur pada saat peleburan.
Setelah terjadi paduan emas kadar rendah maka logam tersebut telah dapat
diproses dengan pelarutan HNO3.

B. Pelarutan dengan Air Raja.

Air raja (pekat) melarutkan logam paduan emas kadar tinggi. Prosesnya sebagai
berikut :

1. Buat air raja dengan mencampur 3 bagian HCl dan 1 bagian HNO3, tempatkan
dalam wadah yang terbuat dari pyrex.

2. Masukkan paduan emas kadar 86% dalam larutan, panaskan dengan nyala api
untuk memercepat reaksi pelarutan, teruskan pemanasan hingga semua logam
larut, lakukan terus hingga keluar asap putih dari larutan (pertanda sisa asam sudah
habis dari larutan).

3. Encerkan larutan dengan air (aquadest) hingga terbentuk endapan putih keruh
dari perak klorida (AgCl).

4. Biarkan suspensi mengendap dengan sempurna, lalu saring dan pisahkan dari
larutan emas. Lakukan dekantasi pada endapan dengan aquadest (air). Endapan
perak klorida telah dapat diproses menjadi logam menggunakan salah satu dari
metoda pada sub-bab A.1 atau A.2.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com
5. Tambahkan larutan garam ferro sulfat Fe2(SO4)3 ke dalam larutan emas AuCl3
untuk mengendapkan emas. Saring endapan, bilas dengan air bersih. Endapan
telah siap dilebur, hasilnya adalah logam emas kadar 99,99%.

C. Pemurnian Emas Menggunakan Elektrolisis

Logam emas dapat dipisahkan dari perak menggunakan alat elektrolisis, memakai
larutan emas klorida sebagai larutan elektrolitnya. Elektrolisis menggunakan prinsip
yang sama dengan elektrowinning, akan tetapi yang akan diekstrak adalah logam
yang berada di kutub anoda, bukan logam yang terlarut.

Larutan elektrolit yang digunakan adalah garam emas klorida yang mengandung ion
tetrakloroaurat ACl4-. Emas yang akan dimurnikan dipasang sebagai kutub anoda,
dan katoda merupakan plat yang terbuat dari logam emas murni. Arus listrik searah
bertegangan 2,2 volt dialirkan dari anoda sebagai kutub positif, menuju katoda yang
berkutub negative.

Logam emas dari anoda akan terionisasi dan larut menjadi ion tetrakloroaurat. Pada
kutub katoda, ion tetrakloroaurat akan tereduksi menjadi logam emas yang
menempel pada lempeng katoda. Logam perak sendiri tak akan terionisasi dan
terendapkan sebagai lapisan lumpur di dasar wadah elektrolisis. Emas yang
berpindah ke kutub katoda menjadi logam emas murni, dengan tingkat kemurnian
mencapai 99,99%.

Akan tetapi jika paduan logam emas masih mengandung logam tembaga (selain
perak), elektrolisis tidak menghasilkan logam emas yang murni, akan tetapi juga
tercampur dengan logam tembaga. Bahkan jika kandungan logam tembaga yang
tinggi, larutan emas tereduksi akibat dari reaksi redoks logam tembaga dan larutan
emas. Akhirnya seluruh larutan emas berubah menjadi larutan tembaga, dan emas
halus yang mengendap kembali bercampur dengan logam perak di dasar wadah.

Ragam Teknik Pengolahan Emas


http://www.lautan-emas.com

Anda mungkin juga menyukai