Anda di halaman 1dari 26

Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No.

1, hal 20 - 45 20

Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia


Volume 14 Nomor 1, Juni 2017

PENGARUH PENGUNGKAPAN ENTERPRISE RISK MANAGEMENT


DAN PENGUNGKAPAN INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN
(The Effect of Enterprise Risk Management Disclosure and Intellectual Capital Disclosure on
Firm Value)

Sunitha Devi
Universitas Udayana1, Universitas Dhyana Pura
sunitha.devi75@yahoo.co.id

I Gusti Nyoman Budiasih


Universitas Udayana
iganbudiasih17@gmail.com

I Dewa Nyoman Badera


Universitas Udayana
dewaman@ymail.com

Abstract

This research aims to find out empirical evidences on the effect of ERM disclosure and IC disclosure
on firm value. The sample of the research is 73 non-financial companies listed in Indonesia Stock
Exchange for the period of 2010-2014. Regression analysis of panel data was applied to analyze the
data. The results show that ERM disclosure has positive and significant effect on the firm value. This
study also finds that IC disclosure has positive and significant effect on the firm value. Firm size,
profitability, and leverage, as control variables, are also contributing positive and significant effects
on the firm value. The results of this research can be used as a consideration for the companys
management to increase ERM and IC disclosures in the annual report as ERM and IC disclosures
can be a positive signal to encourage the increase in corporate value. In addition, since ERM and
IC information are very significant for investors, it can also be beneficial for the regulator to set up
and establish instruments of mandatory disclosure related to ERM and IC to minimize the asymmetry
of information which can disadvantage companys related parties.

Keywords: enterprise risk management disclosure, intellectual capital disclosure, firm value

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh pengungkapan
Enterprise Risk Management (ERM) dan pengungkapan Intellectual Capital (IC) pada nilai
perusahaan. Sampel penelitian adalah 73 perusahaan nonkeuangan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada periode tahun 2010-2014. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi
data panel. Hasil penelitian membuktikan bahwa pengungkapan ERM berpengaruh positif dan
signifikan pada nilai perusahaan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengungkapan IC
berpengaruh positif dan signifikan pada nilai perusahaan. Ukuran perusahaan, profitabilitas, dan
leverage, sebagai variabel kontrol, juga berpengaruh positif dan signifikan pada nilai perusahaan.

1
Penelitian ini dilakukan ketika penulis pertama menempuh studi Magister Akuntansi di Universitas Udayana.
21 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak manajemen perusahaan
untuk meningkatkan pengungkapan ERM dan IC di dalam laporan tahunan karena pengungkapan
ERM dan IC dapat dijadikan sebagai sinyal positif untuk mendorong peningkatan nilai perusahaan.
Selain itu, karena informasi ERM dan IC sangat penting bagi investor, maka penelitian ini
bermanfaat bagi regulator untuk menetapkan instrumen pengungkapan wajib terkait dengan ERM
dan IC untuk memperkecil asimetri informasi yang dapat merugikan pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan.

Kata kunci: pengungkapan enterprise risk management, pengungkapan intellectual capital,


nilai perusahaan

PENDAHULUAN internal perusahaan yang dapat terjadi akibat


lemahnya manajemen risiko perusahaan
Keputusan investasi yang hanya (enterprise risk management). Implementasi
berfokus pada informasi finansial yang Enterprise Risk Management (ERM) dalam
terdapat pada laporan keuangan tidak akan suatu perusahaan akan dapat membantu
menjamin bahwa keputusan investasi yang mengontrol aktivitas manajemen sehingga
dilakukan telah tepat. Fenomena yang perusahaan dapat meminimalisasi terjadinya
menyebabkan bangkrutnya perusahaan Enron fraud yang dapat merugikan perusahaan.
dan Worldcom telah memberikan bukti bahwa Pihak di luar perusahaan cenderung
perusahaan yang selalu menyajikan informasi mengalami kesulitan dalam menilai kekuatan
finansial dalam bentuk laporan keuangan yang dan risiko perusahaan yang bersifat sangat
sangat baik belum menjamin kesinambungan finansial dan kompleks sehingga diperlukan
usaha perusahaan tersebut. Informasi yang adanya pengungkapan atas risiko tersebut
hanya bersifat finansial tidak cukup dijadikan kepada pihak di luar perusahaan. Pengung-
sebagai dasar dalam menilai suatu perusahaan kapan ERM merupakan informasi pengelolaan
(Holland 2002). Pengungkapan informasi non- risiko yang dilakukan oleh perusahaan dan
finansial juga dinilai penting dalam pertim- mengungkapkan dampaknya terhadap masa
bangan keputusan investasi (Anisa 2012). depan perusahaan. Perusahaan dapat memberi-
Informasi profil risiko perusahaan dan kan informasi secara finansial dan non-
pengelolaan atas risiko merupakan informasi finansial kepada pihak luar tentang profil
finansial dan nonfinansial yang sangat diperlu- risiko melalui pengungkapan ERM. Pengung-
kan oleh investor. Kompleksnya risiko yang kapan ERM juga berfungsi sebagai sinyal
berasal dari internal ataupun eksternal perusa- komitmen perusahaan untuk manajemen risiko
haan dapat mengganggu tingkat profitabilitas (Hoyt dan Liebenberg 2011).
perusahaan sehingga perusahaan yang tidak Suatu perusahaan akan dinilai lebih baik
memiliki manajemen risiko yang baik akan jika mampu melakukan pengungkapan secara
mengalami kesulitan untuk mempertahankan lebih luas karena dinilai telah mampu
kesinambungan usaha perusahaan. menerapkan prinsip transparansi (Rustiarini
Liputan 6 News (2011) memublikasikan 2012). Sumber nilai dari program ERM
tentang salah satu fenomena risiko bisnis pada muncul karena adanya peningkatan informasi
lembaga perbankan di Indonesia yaitu kasus mengenai profil risiko perusahaan (Hoyt et al.
fraud yang dilakukan oleh karyawan internal 2008). Adanya pengungkapan ERM memung-
Citibank. Kasus fraud tidak hanya terjadi di kinkan perusahaan yang tertutup secara
lembaga keuangan bank dan nonbank, tetapi finansial akan lebih menginformasikan kepada
juga terjadi di perusahaan-perusahaan non- publik terkait profil risiko perusahaan tersebut
keuangan, seperti contohnya kasus fraud yang (Hoyt et al. 2008). Peningkatan pengungkapan
terjadi di PT. Kimia Farma Tbk yang manajemen risiko perusahaan (ERM
dipublikasikan berdasarkan siaran pers disclosure), akan mengurangi biaya ekspektasi
Bapepam-LK tertanggal 27 Desember 2002. pengawasan regulasi dan modal eksternal
Fenomena fraud tersebut adalah contoh risiko (Meulbroek 2002). Pengungkapan ERM seca-
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 22

ra lebih luas dan spesifik akan menjadi strategi komite manajemen risiko bagi perusahaan
untuk peningkatan nilai perusahaan, namun nonkeuangan hanya sekadar himbauan karena
meskipun demikian, penelitian yang dilakukan belum terdapat peraturan yang mewajibkan
oleh Syifa (2013) justru menunjukkan bahwa perusahaan nonkeuangan untuk mengungkap-
pengungkapan ERM perusahaan manufaktur kan keberadaan komite manajemen risiko.
yang terdaftar di BEI masih tergolong rendah. Kelonggaran ketentuan pengungkapan ERM
Kesadaran perusahaan-perusahaan manufaktur pada perusahaan nonkeuangan menyebabkan
di Indonesia untuk menerapkan dan mengung- perusahaan tersebut cenderung kurang
kapkan ERM masih tergolong rendah, bahkan memperhatikan kelengkapan instrumen peng-
data menunjukkan bahwa masih terdapat ungkapan ERM.
perusahaan manufaktur yang tidak menerap- Pengungkapan informasi aset tidak
kan dan mengungkapkan ERM meskipun berwujud juga merupakan informasi non-
permintaan tentang pengungkapan ERM oleh finansial yang sangat penting bagi investor.
investor semakin tinggi (Syifa 2013). Intellectual Capital (IC) merupakan bagian
Perusahaan manufaktur termasuk ke dalam dari aset tidak berwujud yang terdiri dari tiga
kelompok perusahaan nonkeuangan sehingga komponen utama organisasi, yaitu modal
dengan adanya hasil penelitian tersebut manusia (human capital), modal organisasi
menyebabkan timbulnya pertanyaan tentang (structural capital atau organizational
pentingnya ERM dan pengungkapan ERM capital), dan modal pelanggan (relational
bagi perusahaan nonkeuangan. capital atau customer capital). Ketiga
Badan regulator di Indonesia mengeluar- komponen tersebut merupakan aspek-aspek
kan aturan-aturan yang mensyaratkan adanya penting yang diperlukan oleh perusahaan
informasi terkait risiko yang dilaporkan untuk memaksimalkan kinerja perusahaan.
perusahaan dalam laporan tahunan. PSAK 60 Kemampuan bersaing juga terletak pada
(Revisi 2010) tentang Instrumen Keuangan: pengetahuan sumber daya manusia, inovasi,
Pengungkapan, dan Keputusan Ketua dan sistem informasi yang dimiliki. IC
Bapepam-LK Nomor KEP-431/BL/2012 merupakan pendekatan untuk menilai aset
tentang Penyampaian Laporan Tahunan tidak berwujud yang berupa pengetahuan
Emiten atau Perusahaan Publik, menyebutkan (Guthrie dan Petty 2000).
bahwa informasi yang dapat digunakan oleh Penguasaan perusahaan atas pengeta-
pengguna laporan keuangan untuk meng- huan dan teknologi (IC) pada umumnya tidak
evaluasi jenis dan tingkat risiko dari instrumen diikuti dengan laporan yang memadai atas
keuangan harus diungkapkan. Berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan tersebut karena
kedua aturan tersebut, seluruh perusahaan IC merupakan aset tidak berwujud sehingga
keuangan dan nonkeuangan diwajibkan untuk sulit untuk mengukur, menilai, dan
menyampaikan informasi risiko dalam laporan mewujudkannya dalam bentuk satuan angka.
tahunan, tetapi luas pengungkapan minimum Pengungkapan aset tidak berwujud melalui
tentang manajemen risiko tidak diatur dalam pengungkapan IC merupakan salah satu
kedua ketentuan tersebut. Perusahaan alternatif yang diusulkan untuk mengatasi
nonkeuangan tidak terikat aturan tentang permasalahan tersebut (Sir et al. 2010). IC
informasi praktik manajemen risiko minimum dilaporkan dalam laporan tahunan perusahaan
yang wajib diungkapkan. Peraturan Bank sebagai pengungkapan atas laporan keuangan
Indonesia Nomor 11/25/PBI/2009 tentang (Goh dan Lim 2005). Pengungkapan IC
Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia merupakan salah satu informasi relevan untuk
Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan mengurangi asimetri informasi antara emiten
Manajemen Risiko bagi Bank Umum juga dengan berbagai partisipan di pasar modal.
menyebutkan bahwa perusahaan keuangan Informasi IC sangat dibutuhkan oleh investor
diwajibkan untuk mengungkapkan keberadaan karena informasi ini mencerminkan kapabilitas
komite manajemen risiko seperti yang perusahaan di masa mendatang. Pelaporan IC
dicantumkan pada pasal 24 ayat 2 dalam yang tidak disajikan atau terbatas disajikan
peraturan tersebut. Pengungkapan keberadaan kepada pihak eksternal akan berdampak pada
23 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

kurangnya informasi bagi investor tentang bersama-sama. Hasil penelitian ini dapat
pengembangan sumber daya tak berwujud dijadikan sebagai dasar pertimbangan
perusahaan sehingga akan menyebabkan khususnya bagi pihak manajemen untuk
persepsi investor tentang kondisi dan prospek menilai pentingnya kedua jenis informasi
perusahaan menjadi lebih rendah. IC tersebut dalam meningkatkan nilai perusahaan.
merupakan kunci penggerak nilai perusahaan Hoyt et al. (2008) yang melakukan
(Bontis 2001). penelitian tentang manajemen risiko perusa-
ERM mulai diperkenalkan dan haan membuktikan adanya korelasi positif dan
dipublikasikan oleh Committee of Sponsoring signifikan antara informasi penerapan ERM
Organizations (COSO) sejak tahun 2004, dalam suatu perusahaan (ERM disclosure)
sedangkan IC mulai berkembang di Indonesia dengan nilai perusahaan. Hasil empiris
setelah munculnya PSAK 19 (Revisi 2000) mendukung bahwa adanya informasi penerap-
tentang Aktiva Tidak Berwujud. Maka dari itu, an ERM dalam suatu perusahaan kepada
pengungkapan ERM dan pengungkapan IC publik dapat meningkatkan nilai perusahaan
dapat dikategorikan sebagai dua hal baru sebesar 17% yang berarti bahwa jika perusaha-
dalam pasar modal. Pengungkapan ERM dan an menginformasikan penerapan ERM, maka
pengungkapan IC diprediksi dapat berpenga- nilai perusahaan adalah 17% lebih tinggi dari
ruh pada nilai perusahaan karena kedua jenis perusahaan yang tidak menginformasikan
informasi tersebut mengindikasikan bahwa penerapan ERM. Sumber nilai dari program
perusahaan telah menggunakan pendekatan ERM muncul karena adanya peningkatan
yang komprehensif dalam mengelola risiko informasi mengenai profil risiko perusahaan
perusahaan secara menyeluruh, meningkatkan melalui pengungkapan ERM (Hoyt et al.
kemampuan perusahaan untuk mengelola 2008). Pihak eksternal perusahaan lebih
ketidakpastian, meminimalisasi ancaman, cenderung mengalami kesulitan dalam menilai
memaksimalkan peluang, dan juga mengindi- kekuatan keuangan dan profil risiko perusaha-
kasikan bahwa perusahaan tersebut memiliki an yang sangat kompleks. Pengungkapan ERM
keunggulan bersaing. Begitu pentingnya dapat membantu pihak perusahaan untuk
pengungkapan ERM dan pengungkapan IC menginformasikan kepada pihak eksternal
bagi investor sebagai media informasi untuk perusahaan terkait profil risiko perusahaan dan
menilai prospek perusahaan, telah memotivasi juga sekaligus berfungsi sebagai sinyal
peneliti untuk melakukan pengujian tentang komitmen perusahaan terhadap manajemen
pengaruh kedua jenis pengungkapan tersebut risiko. ERM berpotensi meningkatkan kemam-
pada nilai perusahaan. Perbedaan hasil-hasil puan perusahaan untuk dapat memanfaatkan
penelitian sebelumnya tentang pengaruh peluang investasi yang menarik sehingga hal
pengungkapan ERM pada nilai perusahaan dan ini dapat dijadikan sebagai nilai implikasi yang
pengaruh pengungkapan IC pada nilai potensial untuk menarik minat investor melalui
perusahaan juga menjadi dasar motivasi bagi pengungkap-an ERM (Hoyt et al. 2008). Tahir
peneliti untuk melakukan penelitian kembali dan Razali (2011) membuktikan adanya
terkait kedua jenis pengungkapan tersebut korelasi yang positif tetapi tidak signifikan
dengan menggunakan model regresi yang antara informasi penerapan ERM (ERM
berbeda dari penelitian sebelumnya, yaitu disclosure) dengan nilai perusahaan untuk
dengan menggabungkan kedua jenis perusahaan publik yang terdaftar di Malaysia.
pengungkapan tersebut sebagai variabel bebas Praktik ERM masih berada dalam tahap
ke dalam satu model regresi. Penelitian ini permulaan bagi perusahaan publik yang
mengarah pada pengujian untuk menilai terdaftar di Malaysia sehingga pengetahuan
seberapa besar varian dari variabel tentang manfaat pengungkapan praktik ERM
pengungkapan ERM dan pengungkapan IC bagi perusahaan di Malaysia masih sangat
mampu menjelaskan varian terikat, yaitu nilai terbatas (Tahir dan Razali 2011). Perbedaan
perusahaan, jika dilakukan pengujian secara hasil penelitian yang dilakukan oleh Hoyt et al.
bersama-sama, dan menguji kelayakan model (2008) dengan penelitian yang dilakukan oleh
regresi jika dilakukan pengujian secara Tahir dan Razali (2011) tersebut mendorong
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 24

penelitian ini dilakukan untuk menguji memenangkan kompetisi dan menciptakan


kembali pengaruh pengungkapan ERM pada nilai bagi perusahaan. Stakeholders dalam
nilai perusahaan bagi perusahaan-perusahaan menilai perusahaaan masih lebih terfokus pada
yang ada di Indonesia. Penelitian tentang ROA, book value, dan faktor lain yang masih
pengung-kapan ERM yang dihubungkan menjadi ukuran utama dalam menilai
dengan nilai perusahaan bagi perusahaan kapitalisasi pasar.
nonkeuangan masih sangat jarang dilakukan di Pengembangan konsep penelitian yang
Indonesia sehingga dampak nyata dari membedakan penelitian ini dengan penelitian-
pengungkapan ERM terhadap nilai perusahaan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini
belum banyak dibuktikan secara konkret menggabungkan antara pengungkapan ERM
berdasarkan hasil-hasil penelitian. Pentingnya dan pengungkapan IC sebagai variabel
pengungkapan ERM dalam meningkatkan independen yang diuji pengaruhnya pada nilai
nilai perusahaan harus dibuktikan secara perusahaan. Sampel penelitian yang digunakan
konkret melalui hasil-hasil riset untuk dapat adalah perusahaan-perusahaan nonkeuangan
mendorong peningkatan kesadaran manaje- yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
men akan pentingnya pengungkapan ERM. selama periode tahun 2010-2014. Penelitian ini
Maka dari itu, penelitian mengenai pengaruh berfokus pada perusahaan nonkeuangan untuk
pengungkapan ERM pada nilai perusahaan mengendalikan perbedaan yang mungkin
sangat menarik untuk dilakukan di Indonesia. timbul akibat perbedaan regulasi antara
Penelitian mengenai pengungkapan IC perusahaan nonkeuangan dengan perusahaan
juga sangat menarik karena IC merupakan aset keuangan. Proksi pengungkapan ERM dan
yang vital bagi perusahaan. Meskipun IC pengungkapan IC yang digunakan adalah
tergolong aset tak berwujud (intangible indeks ERM disclosure (Meizaroh dan
assets), tetapi kepemilikan IC dapat mendo- Lucyanda 2011) dan indeks IC disclosure
rong peningkatan kinerja perusahaan untuk (Singh dan Zahn 2008) karena item-item
mencapai keunggulan kompetitif (Yuniasih et pengungkapan ERM dan pengungkapan IC
al. 2010). Jacub (2012) melakukan pengujian yang dijabarkan dalam kedua penelitian
yang menunjukkan bahwa IC dan pengung- tersebut telah sesuai dengan aturan terbaru dan
kapan IC berpengaruh posistif signifikan pada sangat relevan diterapkan secara internasional
nilai perusahaan. Semakin banyak pengung- maupun secara nasional di Indonesia. Pada
kapan IC yang dilaporkan perusahaan, akan penelitian ini, proksi nilai perusahaan yang
memengaruhi persepsi pasar terhadap kinerja digunakan adalah Tobins Q yang memban-
perusahaan tersebut yang pada akhirnya dingkan antara market value of all outstanding
meningkatkan nilai perusahaan. Selain itu, shares (MVS) ditambah nilai pasar hutang
pengungkapan IC juga memenuhi kebutuhan (debt) dengan total aset. Penelitian ini menggu-
informasi bagi pihak-pihak yang tidak terlibat nakan ukuran perusahaan, profitabilitas, dan
dalam pembuatan laporan tersebut. Hal ini leverage sebagai variabel kontrol. Tujuan
menunjukkan bahwa pengungkapan IC penggunaan ukuran perusahaan, profitabilitas,
menjadi pendorong utama bagi penciptaan dan leverage sebagai variabel kontrol adalah
nilai perusahaan farmasi di Indonesia (Jacub untuk mengendalikan pengaruh ukuran
2012). Boedi (2008) menemukan hasil yang perusahaan, profitabilitas, dan leverage pada
berbeda yaitu pengungkapan IC dalam laporan nilai perusahaan sehingga hasil prediksi
tahunan tidak memengaruhi kapitalisasi pasar pengaruh variabel pengungkapan ERM dan
perusahaan. Hal ini berarti bahwa untuk pengungkapan IC pada nilai perusahaaan yang
konteks industri di Indonesia, pengungkapan menjadi fokus utama dalam penelitian ini akan
IC belum secara maksimal dapat digunakan lebih tepat. Penggunaan variabel kontrol
untuk menilai kapitalisasi pasar. Kapitalisasi bertujuan untuk memperoleh model regresi
pasar dalam penelitian ini masih dipengaruhi yang semakin tepat dalam memprediksi
oleh ROA dan book value perusahaan. variabel dependen. Penggunaan variabel
Pengungkapan IC belum menjadi tema yang kontrol juga untuk meminimalisasi
menarik untuk dikembangkan agar dapat
25 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

kemungkinan kesalahan dalam pengambilan memengaruhi manajemen dalam proses


kesimpulan penelitian. pemanfaatan seluruh potensi dan sumber-
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sumber ekonomi yang dimiliki oleh organisasi.
untuk mendapatkan bukti empiris mengenai Hal ini karena hanya dengan pengelolaan yang
pengaruh pengungkapan ERM dan baik dan maksimal atas seluruh potensi inilah
pengungkapan IC pada nilai perusahaan. organisasi akan dapat menciptakan nilai
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat tambah untuk kemudian mendorong kinerja
memberikan kontribusi bagi pengembangan keuangan dan nilai perusahaan yang
teori akuntansi keuangan khususnya bagi merupakan orientasi para stakeholder dalam
pengembangan bidang ilmu yang berkaitan mengintervensi manajemen. Teori ini
dengan pengaruh pengungkapan ERM dan menjelaskan pentingnya perusahaan untuk
pengungkapan IC pada nilai perusahaan. Hasil memuaskan keinginan para stakeholder
penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan tersebut. Maka dari itu, perusahaan akan
sebagai bahan rujukan bagi pihak manajemen bereaksi dengan melakukan aktivitas-aktivitas
dalam mengevaluasi implementasi instrumen pengelolaan yang baik dan maksimal atas
pengungkapan ERM dan pengungkapan IC sumber-sumber ekonomi untuk mendorong
sebagai upaya untuk meningkatkan nilai kinerja keuangan dan nilai perusahaan sesuai
perusahaan. Pihak eksternal perusahaan juga dengan harapan dari para stakeholder.
akan mendapatkan informasi mengenai Stakeholder theory juga menekankan bahwa
kelengkapan instrumen-instrumen pengung- stakeholder memiliki hak untuk memperoleh
kapan yang terdapat dalam pengungkapan informasi mengenai aktivitas-aktivitas perusa-
ERM dan pengungkapan IC sehingga haan tersebut yang juga dapat berpengaruh
berdasarkan informasi tersebut, pengambilan pada stakeholder. Kelompok stakeholder
keputusan investasi oleh investor akan inilah yang menjadi pertimbangan utama bagi
semakin tepat, dan berdasarkan pengetahuan perusahaan dalam mengungkapkan atau tidak
ini pasar akan dapat bereaksi secara efisien. mengungkapkan suatu informasi di dalam
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat laporan keuangan (Ulum et al. 2008). Tujuan
dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi utama dari teori stakeholder adalah untuk
regulator untuk membuat aturan tentang membantu manajemen perusahaan dalam
instrument pengungkapan ERM dan meningkatkan penciptaan nilai sebagai
pengungkapan IC yang wajib dilaporkan oleh dampak dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan
perusahaan untuk memperkecil adanya dan meminimalkan kerugian yang mungkin
asimetri informasi khususnya bagi perusahaan muncul bagi stakeholder. Stakeholder theory
nonkeuangan yang belum memiliki aturan lebih menekankan akuntabilitas organisasi
khusus terkait hal tersebut. dibandingkan dengan kinerja keuangan atau
ekonomi sederhana (Deegan 2004).
Signalling theory menekankan pada
TELAAH LITERATUR DAN pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh
PENGEMBANGAN HIPOTESIS perusahaan bagi keputusan investasi pihak di
luar perusahaan. Manajemen selalu berusaha
Landasan Teori untuk mengungkapkan informasi privat yang
Stakeholder theory menyatakan bahwa menurut pertimbangan perusahaan sangat
perusahaan bukanlah entitas yang hanya diminati investor dan pemegang saham
beroperasi untuk kepentingan perusahaan, khususnya jika informasi tersebut merupakan
namun juga harus memberikan manfaat bagi berita baik (good news). Informasi yang
stakeholder (pemegang saham, kreditor, mengandung good news dapat berdampak pada
konsumen, pemasok, analis, karyawan, reaksi pasar pada waktu informasi tersebut
pemerintah, dan pihak lain seperti masyarakat diterima oleh pasar. Reaksi pasar yang positif
yang merupakan bagian dari lingkungan terhadap good news tersebut akan mendorong
sosial) (Ghozali dan Chariri 2007). Para semakin tingginya nilai perusahaan. Verecchia
stakeholder memiliki kewenangan untuk (1983) dalam Basamalah dan Jermias (2005)
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 26

menyatakan bahwa dari sudut pandang Aturan-aturan terkait manajemen risiko


ekonomi, perusahaan akan mengung-kapkan yang dikeluarkan oleh badan regulator di
suatu informasi jika informasi tersebut akan Indonesia telah menegaskan kewajiban bagi
meningkatkan nilai perusahaan. pihak perusahaan untuk mengungkapkan
Laporan tahunan (annual report) informasi manajemen risiko dalam laporan
merupakan laporan yang diterbitkan oleh pihak tahunan (mandatory disclosure). PSAK No. 60
manajemen perusahaan setahun sekali yang (Revisi 2010), dan Keputusan Ketua
berisi informasi finansial dan non-finansial Bapepam-LK Nomor KEP-431/BL/2012
perusahaan yang berguna bagi pihak merupakan aturan yang mewajibkan perusaha-
stakeholders untuk menganalisis kondisi an untuk menyajikan penjelasan mengenai
perusahaan pada periode tersebut. Informasi risiko-risiko yang dapat berpengaruh pada
yang dimuat dalam laporan tahunan ini lebih kesinambungan usaha serta upaya-upaya yang
dikenal dengan istilah pengungkapan laporan telah dilakukan untuk mengelola risiko
tahunan atau annual report disclosure. Ada tersebut. Bagi bank umum konvensional,
dua pengungkapan dalam pelaporan keuangan praktik manajemen risiko minimum harus
tahunan yang telah ditetapkan oleh Keputusan mencakup informasi risiko kredit, risiko pasar,
Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-38/PM/1996 risiko operasional, risiko likuiditas, risiko
(kemudian direvisi dalam Keputusan Ketua strategik, risiko reputasi, risiko kepatuhan, dan
Bapepam-LK Nomor KEP-134/BL/2006), dan risiko hukum berdasarkan ketentuan dalam
berdasarkan ketentuan dari Ikatan Akuntan Peraturan Bank Indonesia Nomor
Indonesia tentang Kewajiban Penyampaian 14/14/PBI/2012. Berdasarkan pada ketiga
Laporan Tahunan bagi Emiten atau Perusahaan regulasi tersebut, perusahaan keuangan
Publik, yaitu: (1) pengungkapan wajib memiliki ketentuan yang lebih ketat terkait
(mandatory disclosure) yaitu informasi yang pengungkapan risiko dibandingkan dengan
harus diungkapkan oleh emiten yang diatur perusahaan nonkeuangan yang terdaftar di
oleh peraturan pasar modal di suatu negara; BEI. Ketentuan yang membedakan antara
dan (2) voluntary disclosure yaitu pengung- perusahaan keuangan dan nonkeuangan adalah
kapan yang dilakukan secara sukarela oleh selain harus memenuhi ketentuan PSAK 60
perusahaan tanpa diharuskan oleh standar yang dan Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor
ada. Perusahaan akan melakukan pengungkap- KEP-431/BL/2012, perusahaan keuangan juga
an melebihi kewajiban pengungkapan minimal diwajibkan memenuhi ketentuan minimum
jika tidak ingin ketinggalan praktik-praktik pengungkap-an seperti yang disyaratkan dalam
pengungkapan kompetitif yang dapat Peraturan Bank Indonesia Nomor
memberikan manfaat bagi perusahaan. 14/14/PBI/2012. Ketentuan lain juga menye-
Pengungkapan ERM adalah informasi butkan bahwa perusahaan keuangan diwajib-
yang berkaitan dengan komitmen suatu kan mengungkapkan keberadaan komite
perusahaan dalam mengelola risiko. COSO manajemen risiko, sedangkan perusahaan
pada bulan September 2004 memublikasikan nonkeuangan hanya sekedar pada himbauan
ERM sebagai suatu proses manajemen risiko (Wardhana 2013). Peraturan Bank Indonesia
perusahaan yang dirancang dan diimplemen- Nomor 11/25/PBI/2009 tentang Perubahan
tasikan ke dalam setiap strategi perusahaan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor
untuk mencapai tujuan perusahaan. Pengung- 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen
kapan ERM terdiri dari 108 item yang Risiko bagi Bank Umum menyebutkan bahwa
mencakup delapan dimensi berdasarkan ERM perusahaan keuangan diwajibkan untuk
framework yang dikeluarkan oleh COSO yaitu: mengungkapkan keberadaan komite
(1) lingkungan internal; (2) penetapan tujuan; manajemen risiko seperti yang dicantumkan
(3) identifikasi kejadian; (4) penilaian risiko; pada pasal 24 ayat 2 dalam peraturan tersebut.
(5) respons atas risiko; (6) kegiatan Pengungkapan IC merupakan tingkat
pengawasan; (7) informasi dan komunikasi; pengungkapan atas modal intelektual yang
dan (8) pemantauan (Meizaroh dan Lucyanda dimiliki oleh suatu perusahaan yang telah
2011). diidentifikasi sebagai seperangkat aset tak
27 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

berwujud yang mendorong penciptaan nilai perusahaan dapat membantu mengontrol


karena kemampuannya dalam mendorong aktivitas manajemen sehingga perusahaan
kinerja organisasi (Bontis 1998). IC dapat dapat meminimalisasi terjadinya kecurangan
didefinisikan sebagai jumlah dari yang (fraud) yang dapat merugikan perusahaan dan
dihasilkan oleh tiga komponen utama stakeholder.
organisasi (Stewart 1998; Sveiby 1997; Saint- Pengungkapan ERM merupakan infor-
Onge 1996; Bontis et al. 2000) yaitu: (1) modal masi pengelolaan risiko yang dilakukan oleh
manusia (human capital); (2) modal organisasi perusahaan dan mengungkapkan dampaknya
(structural capital atau organizational terhadap masa depan perusahaan. ERM dalam
capital); dan (3) modal pelanggan (relational suatu perusahaan memiliki peran penting
capital atau customer capital). Galbraith dan untuk menjaga stabilitas perusahaan. ERM
Merrill (2001) berpendapat bahwa informasi yang tinggi menggambarkan adanya tata kelola
IC juga perlu disampaikan dalam laporan risiko perusahaan yang baik, termasuk juga
tahunan untuk lebih membantu investor dalam memastikan pengendalian internal perusahaan
proses pengambilan keputusan. Singh dan masih tetap terjaga. Pengungkapan ERM yang
Zahn (2007) menggunakan indeks pengung- berkualitas tinggi pada suatu perusahaan
kapan IC yang terdiri enam komponen yaitu memberikan dampak positif terhadap persepsi
karyawan, pelanggan, teknologi informasi, pelaku pasar (Baxter 2012). Persepsi positif
proses, riset dan pengembangan (R&D) serta yang dimiliki oleh pelaku pasar atas
pernyataan strategis yang dijabarkan menjadi perusahaan akan mendorong para pelaku pasar
81 item. Pengungkapan IC merupakan salah untuk memberikan harga yang tinggi pada
satu pengungkapan sukarela (voluntary perusahaan tersebut sehingga nilai perusahaan
disclosure) yang bisa menjadi sinyal positif akan menjadi tinggi. Hoyt dan Leinberg (2006)
bagi perusahaan kepada pengguna informasi menemukan bahwa informasi penerapan ERM
keuangan. melalui pengungkapan ERM dapat
Perusahaan memiliki tujuan utama yaitu meningkatkan nilai perusahaan. Hoyt et al.
peningkatan nilai perusahaan karena hal ini (2008) juga menemukan bahwa terdapat
akan berdampak pada peningkatan kemak- korelasi positif dan signifikan antara informasi
muran pemilik atau para pemegang saham penerapan ERM dengan nilai perusahaan.
(Wahidahwati 2002). Harga pasar saham H1: Terdapat pengaruh positif pengung-
perusahaan merupakan salah satu alat ukur kapan ERM pada nilai perusahaan.
nilai perusahaan karena mencerminkan
penilaian investor atas keseluruhan ekuitas Pengaruh Pengungkapan IC pada Nilai
perusahaan (Wahyudi dan Pawestri 2006). Perusahaan
Pengungkapan informasi non-finansial
Pengembangan Hipotesis lainnya yang juga penting adalah
pengungkapan kepemilikan serta pemanfaatan
Pengaruh Pengungkapan ERM pada Nilai sumber daya intelektual (IC). IC adalah
Perusahaan sekelompok aset pengetahuan yang dapat
Manajemen selalu berusaha untuk membantu meningkatkan posisi persaingan
memberikan informasi privat yang sangat (Solikhah et al. 2010). IC dapat didefinisikan
diminati oleh pemangku kepentingan sebagai jumlah dari yang dihasilkan oleh tiga
(stakeholder). Stakeholder memiliki hak untuk komponen utama organisasi yaitu: (1) modal
memperoleh informasi mengenai aktivitas- manusia (human capital); (2) modal organisasi
aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan (structural capital atau organizational
dalam meminimalkan kerugian yang mungkin capital); dan (3) modal pelanggan (relational
muncul bagi stakeholder. Salah satu informasi capital atau customer capital). Galbraith dan
yang sangat diperlukan oleh stakeholder Merrill (2001) berpendapat bahwa informasi
adalah informasi tentang profil risiko IC juga perlu disampaikan dalam laporan
perusahaan dan pengelolaan atas risiko (ERM) tahunan untuk lebih membantu investor dalam
tersebut. Implementasi ERM dalam suatu proses pengambilan keputusan.
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 28

Pengelolaan yang baik dan maksimal (annual report) perusahaan nonkeuangan yang
atas seluruh potensi kepemilikan IC akan dapat terdaftar di BEI periode tahun 2010-2014,
membantu penciptaan nilai tambah dan yang terlebih dahulu dikumpulkan dan
mendorong kinerja keuangan serta nilai dipublikasikan oleh perusahaan ataupun pihak
perusahaan yang merupakan orientasi para lain. Daftar perusahaan dan laporan tahunan
stakeholder dalam mengintervensi manaje- perusahaan diperoleh dari website resmi BEI.
men. Pentingnya IC dalam menciptakan nilai Target populasi dalam penelitian ini
tambah dan mendorong kinerja keuangan adalah perusahaan-perusahaan yang berada
menyebabkan stakeholder sangat berminat pada kelompok perusahaan nonkeuangan yang
untuk mendapatkan informasi tentang terdaftar di BEI dan tepat waktu dalam
kepemilikan dan pengelolaan IC suatu perusa- memublikasikan laporan tahunan periode
haan. Kelompok stakeholder inilah yang tahun 2010-2014 secara berkesinambungan.
menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan Berdasarkan kriteria populasi sasaran tersebut,
dalam mengungkapkan kepemilikan dan didapatkan jumlah populasi penelitian sebesar
pengelolaan IC. 272 perusahaan yang terbagi menjadi delapan
Perusahaan memiliki motivasi untuk kelompok sektor. Dalam penentuan ukuran
mengungkapkan IC secara sukarela dengan sampel, peneliti lebih memilih menggunakan
harapan bahwa informasi tersebut dapat pendekatan statistika dibandingkan dengan
diinterpretasikan sebagai upaya perusahaan pendekatan nonstatistika karena dalam
dalam memaksimalkan kinerja perusahaan. pendekatan nonstatistika, subjektifitas peneliti
Pemaksimalan kinerja perusahaan adalah cukup besar dalam menentukan ukuran sampel
merupakan harapan para stakeholder sehingga sehingga ada kecenderungan untuk lebih
hal ini akan direspons positif oleh para memilih pendekatan statistika. Rumus Slovin
stakeholder. Pengungkapan IC yang mengan- adalah salah satu model pendekatan statistika
dung nilai positif akan mendorong perubahan dalam penentuan besarnya sampel. Rumus
dalam volume perdagangan saham karena para Slovin dipilih dalam penelitian ini adalah
pelaku pasar cenderung akan membayar lebih karena alasan sebagai berikut.
tinggi saham perusahaan yang memiliki IC 1. Rumus Slovin dapat digunakan untuk
yang lebih (Chen et al. 2005) sehingga nilai menentukan ukuran sampel jika penelitian
perusahaan akan meningkat. Pengung-kapan bertujuan untuk dapat menduga proporsi
IC merupakan faktor pendorong penciptaan populasi.
nilai perusahaan (Orens et al. 2009). 2. Nilai error tolerance (e) dapat didasarkan
Abdolmohammadi (2005) dan Widarjo (2011) atas pertimbangan peneliti. Hasil penelitian
juga telah membuktikan secara empiris bahwa tidak selalu dapat diharapkan 100% benar
pengungkapan modal intelektual berpengaruh karena berbagai faktor maka hasil
positif terhadap nilai perusahaan dan penelitian dapat mengandung kesalahan
kapitalisasi pasar. (error). Kesalahan (error) yang dapat
H2: Terdapat pengaruh positif pengung- terjadi perlu direpresentasikan dengan
kapan IC pada nilai perusahaan. taraf signifikansi yang berarti bahwa
seberapa besar toleransi akan terjadinya
kesalahan karena faktor kebetulan benar.
METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, metode pengumpulan
data yang digunakan untuk menganalisis
Populasi dan Sampel pengungkapan ERM dan pengungkapan IC
Sumber data yang digunakan dalam adalah content analysis dan setiap sampel
penelitian ini adalah data sekunder yaitu memiliki cara yang berbeda dalam
sumber data penelitian yang diperoleh secara penyampaian konten setiap item ERM dan
tidak langsung atau diperoleh melalui media IC tersebut pada laporan tahunan.
perantara. Sumber data sekunder yang Keragaman dalam pengungkapan disebab-
digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kan oleh entitas yang dikelola oleh manajer
laporan keuangan dan berupa laporan tahunan yang memiliki filosofis manajerial yang
29 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

berbeda dan luasnya pengungkapan populasi sebesar 90% atau dengan tingkat
informasi kepada masyarakat. Atas dasar kesalahan sebesar 10%.
itulah, peneliti merasa perlu untuk
mencantumkan nilai error tolerance dalam
n = + (1)
penentuan besarnya sampel penelitian.
Keterangan:
Dalam pengambilan sampel, kedua
n : Jumlah sampel
aspek tersebut menjadi perhatian utama. Salah
N : Jumlah populasi
satu cara menentukan besaran sampel yang
e : Error tolerance (batas toleransi
memenuhi kedua aspek tersebut adalah yang
kesalahan)
dirumuskan dalam rumus Slovin (Ariola
2006). Champion (1981) menyatakan bahwa
Jumlah sampel dalam penelitian ini
sebagian besar uji statistik selalu menyertakan
berdasarkan perhitungan menggunakan rumus
rekomendasi ukuran sampel. Uji-uji statistik
Slovin tersebut adalah sebesar 73 perusahaan.
yang ada akan sangat efektif jika diterapkan
Pemilihan sampel dilakukan secara
pada sampel yang berjumlah 30 sampai dengan
proporsional sesuai kelompok populasi dengan
250, bahkan jika sampel di atas 500 tidak
tujuan agar mendapatkan sampel yang
direkomendasikan untuk menerapkan uji
representatif mewakili masing-masing
statistik. Besarnya sampel yang diperoleh
kelompok sektor populasi sehingga 73 sampel
melalui perhitungan menggunakan rumus
yang terpilih mampu mewakili seluruh
Slovin pada penelitian ini telah terkategori
kelompok sektor populasi penelitian.
dapat direkomendasikan untuk diuji secara
Pemilihan anggota sampel secara proporsional
statistik.
sesuai dengan kelompok populasi diuraikan
Rumus Slovin digunakan untuk
pada Tabel 1.
menentukan besarnya sampel pada penelitian
ini dengan taraf kepercayaan sampel terhadap

Tabel 1
Hasil Pemilihan Anggota Sampel Penelitian
Perhitungan Pemilihan
Sektor Anggota Sampel
Anggota Sampel
Agriculture (15/272) x 73 4
Consumer Goods Industry (19/272) x 73 5
Miscellaneous Industry (22/272) x 73 6
Mining (25/272) x 73 7
Infrastructure, Utilities and Transportation (29/272) x 73 8
Basic Industry and Chemicals (37/272) x 73 10
Property, Real Estate and Building Construction (38/272) x 73 10
Trade, Services and Investment (87/272) x 73 23
TOTAL 73

Total observasi dalam penelitian ini mulai periode 2011 (t+1) dengan alasan bahwa
adalah sebesar 292 pengamatan yang diperoleh perusahaan akan mengungkapkan informasi
dari perhitungan: (1) Pengungkapan ERM dan tahun 2010 kepada publik adalah paling lama
pengungkapan IC diamati dari periode 2010 tiga bulan setelah akhir tahun pengungkapan
sampai 2013 (4 tahun): 73 x 4 = 292; (2) (akhir tahun laporan periode 2010) sehingga
Dampak terhadap nilai perusahaan diamati dari dapat diasumsikan bahwa setelah tahun
periode 2011-2014 (4 tahun): 73 x 4 = 292. pengungkapan (tahun laporan) investor baru
Dampak terhadap nilai perusahaan diamati
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 30

menerima informasi yang diungkapkan pernyataan strategis. Selain yang dijabarkan


perusahaan (t+1). dalam penelitian Singh dan Zahn (2007),
terdapat juga checklist item pengungkapan IC
Definisi Operasional Variabel dalam penelitian lain yang mengutip dari
International Federation of Accountants
Variabel Bebas (Pengungkapan ERM dan (1998) dalam CIMA (2004) yang juga terdiri
Pengungkapan IC) dari tiga komponen utama, yaitu: (1)
Variabel bebas terdiri dari organizational capital; (2) relational capital;
pengungkapan ERM dan pengungkapan IC. dan (3) human capital. Masing-masing
Pengungkapan ERM diartikan sebagai tingkat komponen utama tersebut juga terdiri dari
pengungkapan atas risiko-risiko yang telah item-item khusus. Checklist item pengungkap-
dikelola perusahaan. Berdasarkan ERM an IC dalam penelitian Singh dan Zahn (2007)
framework yang dikeluarkan oleh COSO, lebih terkini dibandingkan dengan checklist
terdapat 108 item pengungkapan ERM yang dari International Federation of Accountants
mencakup delapan dimensi. Delapan dimensi (1998) dalam CIMA (2004) jika dilihat dari
tersebut yaitu: 1) lingkungan internal; 2) tahun publikasi. Secara umum, item-item
penetapan tujuan; 3) identifikasi kejadian; 4) pengungkapan IC dalam checklist Singh dan
penilaian risiko; 5) respons atas risiko; 6) Zahn (2007) sudah mencakup ketiga
kegiatan pengawasan; 7) informasi dan komponen utama IC tersebut. Atas dasar
komunikasi; dan 8) pemantauan (Meizaroh dan itulah, checklist pengungkapan IC dalam
Lucyanda 2011). Pada tahun 2013-2014 saat penelitian Singh dan Zahn (2007) digunakan
penelitian ini dilakukan, checklist item dalam penelitian ini.
pengungkapan ERM yang digunakan dalam Metode pengumpulan data yang
penelitian Meizaroh dan Lucyanda (2011) digunakan untuk menganalisis pengungkapan
merupakan checklist item pengungkapan ERM ERM dan pengungkapan IC adalah content
terbaru yang sesuai dengan dimensi yang analysis. Skala dikotomi tidak tertimbang
dijabarkan dalam ERM framework yang (unweighted dichotomous scale) digunakan
dikeluarkan oleh COSO. Atas dasar itulah, dalam pemberian skor untuk setiap item
penelitian ini menggunakan checklist item pengungkapan yang dilakukan oleh
pengungkapan ERM seperti yang digunakan perusahaan dalam laporan tahunan. Setiap
dalam penelitian Meizaroh dan Lucyanda pengungkapan suatu item akan diberi nilai 1
(2011). Kedelapan komponen ini diperlukan dan 0 jika item tidak diungkapkan, dan
untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan selanjutnya skor dari setiap item akan
yang meliputi tujuan strategis, operasional, dijumlahkan untuk memperoleh total skor
pelaporan keuangan, maupun kepatuhan pengungkapan setiap perusahaan. Indeks
terhadap ketentuan perundang-undangan. pengungkapan ERM ataupun indeks pengung-
Proksi yang digunakan untuk mengukur kapan IC dihitung dengan rumus berikut.
pengungkapan ERM adalah indeks ERM
disclosure.
ERMDI/ICDI = (2)
Pengungkapan IC merupakan tingkat

pengungkapan atas modal intelektual suatu


perusahaan yang menggerakkan kinerja Keterangan:
organisasi dan mendorong penciptaan nilai ERMDI / ICDI : ERM Disclosure Index atau
(Bontis 1998). Pengungkapan IC diproksikan IC Disclosure Index
dengan indeks IC disclosure sesuai dengan ij Ditem : Total skor item ERM atau IC
dimensi Pengungkapan IC yang digunakan yang diungkapkan
oleh Singh dan Zahn (2007). Indeks ini terdiri ij ADitem : Total item ERM atau IC
dari 81 item yang diklasifikasikan ke dalam yang seharusnya diungkap-
enam kategori yaitu: (1) karyawan; (2) kan
pelanggan; (3) teknologi informasi; (4) proses;
(5) riset dan pengembangan; dan (6)
31 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

Nilai Perusahaan sebagai Variabel Terikat 2007). Menurut Sujoko dan Soebiantoro
Nilai perusahaan merupakan nilai pasar (2007), ukuran perusahaan yang besar
yang mampu memberikan kemakmuran bagi menunjukkan bahwa perusahaan mengalami
pemegang saham secara maksimum jika harga perkembangan sehingga investor akan
saham perusahaan meningkat (Nurlela dan merespons positif dan nilai perusahaan akan
Ishlahuddin 2008). Rasio keuangan yang dapat meningkat. Beberapa penelitian juga menun-
digunakan untuk mengukur nilai pasar jukkan hasil yang konsisten yaitu ukuran
perusahaan adalah Tobins Q. Dalam perusahaan berpengaruh positif dan signifikan
perhitungan Tobins Q, semua unsur hutang pada nilai perusahaan, seperti pada penelitian
dan modal saham perusahaan dihitung yang dilakukan oleh Sujoko dan Soebinatoro
sehingga rasio ini dinilai dapat memberikan (2007) dan Herawaty (2008). Berdasarkan hal
informasi paling baik. Seluruh aset perusahaan tersebut, penelitian ini menggunakan ukuran
digunakan dalam perhitungan Tobins Q yang perusahaan sebagai variabel kontrol untuk
berarti bahwa perusahaan juga berfokus pada mengendalikan pengaruh ukuran perusahaan
kreditur karena sumber pembiayaan operasi- pada model penelitian agar hasil penelitian
onal perusahaan bukan hanya dari ekuitasnya tidak bias. Ukuran perusahaan digunakan
saja, tetapi juga dari pinjaman dari kreditur sebagai variabel kontrol yang diproksikan
(Sukamulja 2004). Tobins Q mencerminkan dengan logaritma dari total aktiva perusahaan.
ekspektasi pasar dan relatif bebas dari Total aset dipilih sebagai proksi ukuran
manipulasi manajerial (Lindenberg dan Ross perusahaan dengan pertimbangan bahwa nilai
1981). Modifikasi rumus Tobins Q versi aktiva relatif lebih stabil dibandingkan dengan
Chung dan Pruitt (1994) digunakan secara nilai kapitalisasi pasar dan penjualan
konsisten karena disederhanakan pada (Wuryatiningsih 2002 dalam Sudarmadji dan
berbagai simulasi. Formulasi rumus Tobins Q Sularto 2007). Selain itu, ukuran yang
versi Chung dan Pruitt (1994) yang digunakan didasarkan pada total aset yang dimiliki oleh
adalah sebagai berikut. perusahaan juga telah diatur dalam Keputusan
Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-
+ 11/PM/1997.
Tobins Q = (3)

Profitabilitas
Keterangan:
Profitabilitas adalah tingkat keuntungan
Tobins Q : Nilai perusahaan
bersih yang diperoleh oleh perusahaan pada
MVS : Nilai pasar saham (market value
saat menjalankan operasinya (Hardiyanti
of all outstanding shares) yang
2012). Profitabilitas diartikan sebagai
diperoleh dari hasil perkalian
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
jumlah saham yang beredar
laba dalam upaya meningkatkan nilai
dengan harga saham (outstanding
pemegang saham. Profitabilitas perusahaan
share x stock price)
yang tinggi akan mencerminkan prospek
D : Nilai pasar hutang yang
perusahaan yang baik. Penelitian yang
diperoleh dari hasil (kewajiban
dilakukan oleh Obradovich dan Gill (2012)
lancar asset lancar + kewajiban
serta Hermuningsih (2013) menyatakan bahwa
jangka panjang)
profitabilitas berpengaruh positif signifikan
TA : Total aset perusahaan
terhadap nilai perusahaan. Profitabilitas
digunakan sebagai variabel kontrol dalam
Ukuran Perusahaan
penelitian ini dan dapat diproksikan dengan
Ukuran perusahaan diasumsikan
Return on Asset (ROA) (Van Horne dan
memiliki efek langsung terhadap nilai
Wachowicz 2005). ROA menunjukkan
perusahaan karena perusahaan besar akan
kemampuan perusahaan menghasilkan laba
diuntungkan dari segi skala ekonomis, market
dari aset yang dipergunakan (Syahyunana
power, dan akses terhadap sumber daya
2004).
dibandingkan perusahaan kecil (Pfeffer dan
Salancik 1978 dalam Roberson dan Park
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 32

Leverage LnTA : Logaritma natural dari total aset


Leverage merupakan kebijakan ROA : Return on Asset
pendanaan yang berkaitan dengan keputusan DAR : Debt to Asset Ratio
perusahaan dalam membiayai perusahaan. it : Error term
Perusahaan yang menggunakan hutang
mempunyai kewajiban atas beban bunga dan
beban pokok pinjaman. Penggunaan hutang HASIL PENELITIAN DAN
(external financing) memiliki risiko yang PEMBAHASAN
cukup besar atas tidak terbayarnya hutang
sehingga penggunaan hutang perlu Analisis Deskriptif
memperhatikan kemampuan perusahaan Analisis deskriptif membantu untuk
dalam menghasilkan laba (Prasetyorini 2013). mendapatkan gambaran umum tentang objek
Penelitian yang dilakukan oleh Mardiyati et al. penelitian yaitu pengungkapan ERM,
(2012) dan Hermuningsih (2013) menyatakan pengungkapan IC, nilai perusahaan, ukuran
bahwa leverage berpengaruh positif terhadap perusahaan, profitabilitas, dan leverage. Hasil
nilai perusahaan. Leverage dapat diproksikan statistik deskriptif disajikan dalam Tabel 2,
dengan Debt to Asset Ratio (DAR) (Kasmir Tabel 4, Tabel 5, Tabel 6, dan Tabel 7.
2008). DAR digunakan sebagai variabel Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah data
kontrol karena diasumsikan memiliki yang diolah adalah sebanyak 292 data dengan
pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. periode pengamatan dari tahun 2010-2014
DAR mencerminkan kemampuan perusahaan pada 73 perusahaan nonkeuangan yang terpilih
dalam memenuhi seluruh kewajibannya. sebagai sampel penelitian. Berdasarkan hasil
analisis statistik deskriptif pada Tabel 2, dapat
Model Penelitian disimpulkan bahwa masih terdapat variasi
Data-data penelitian dalam bentuk dalam pengungkapan ERM dan IC yang
indeks ERM disclosure, indeks IC disclosure, dilakukan perusahaan nonkeuangan. Hal
logaritma dari total aktiva perusahaan (ukuran tersebut dikarenakan oleh belum terdapatnya
perusahaan), ROA (profitabilitas), DAR regulasi tentang luas pengungkapan minimum
(leverage), dan Tobins Q (nilai perusahaan) ERM dan IC yang wajib dilaporkan di dalam
didapatkan melalui observasi pada laporan laporan tahunan perusahaan nonkeuangan di
tahunan dengan cara mengunduh data dan Indonesia. Kelonggaran ketentuan pengung-
informasi tersebut dari situs resmi BEI kapan ERM dan pengungkapan IC pada
(www.idx.co.id). Analisis data penelitian ini perusahaan nonkeuangan menyebabkan
meliputi statistik deskriptif dan analisis regresi perusahaan tersebut cenderung kurang
data panel. Uji asumsi klasik yang dilakukan memperhatikan kelengkapan instrumen peng-
meliputi: (1) uji normalitas; (2) uji ungkapan ERM dan pengungkapan IC. Hal
multikolonieritas; (3) uji autokorelasi; dan (4) tersebut telah terbukti melalui hasil analisis
uji heteroskedastisitas. Persamaan model statistik deskriptif pada penelitian ini yang
regresi data panel adalah berikut ini. menunjukkan bahwa masih banyak perusahaan
nonkeuangan yang mengungkap-kan ERM dan
NPit = + 1ERMDIit + 2ICDIit+ IC secara berbeda dengan menyesuaikan
3LnTAit + 4ROAit + 5DARit + kompleksitas masing-masing perusahaan.
it (4) Hasil perhitungan luas pengungkapan
instrumen ERM dan IC pada 73 perusahaan
Keterangan: nonkeuangan yang dijadikan sampel juga
NP : Nilai perusahaan menunjukkan bahwa rata-rata tingkat
: Konstanta kepatuhan perusahaan nonkeuangan terhadap
1-5 : Koefisien regresi dari setiap variabel pengungkapan ERM berdasarkan indikator
independen pengungkapan ERM menurut Meizaroh dan
ERMDI : ERM Disclosure Index Lucyanda (2011) yang terdiri dari 108 item
ICDI : IC Disclosure Index adalah baru sebatas 45%. Perusahaan
33 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

nonkeuangan harus terus berupaya untuk sedang. Perusahaan yang melakukan pengung-
meningkatkan kepatuhan terhadap pengung- kapan ERM tertinggi yaitu sebesar 95% adalah
kapan ERM meskipun rata-rata tingkat Matahari Department Store Tbk. pada tahun
kepatuhan sebesar 45% sudah tergolong 2014.

Tabel 2
Hasil Statistik Deskriptif
ERMD ICD NP LnTA ROA DAR
Mean 0,45 0,35 1,17 28,24 0,06 0,54
Median 0,46 0,32 0,55 28,18 0,04 0,47
Maximum 0,95 0,77 13,17 33,00 0,39 6,50
Minimum 0,10 0,04 -7,50 23,16 -0,22 0,01
Std. Dev. 0,16 0,16 1,92 1,69 0,08 0,56
Observations 292 292 292 292 292 292

Rata-rata tingkat kepatuhan perusahaan banyak menggunakan hutang dalam


nonkeuangan terhadap pengungkapan IC pendanaannya.
berdasarkan indikator pengungkapan IC Nilai simpangan baku pengungkapan
menurut Singh dan Zahn (2007) yang terdiri ERM, pengungkapan IC, dan ukuran
dari 81 item adalah baru sebatas 35%. perusahaan yang lebih kecil dibandingkan
Perusahaan nonkeuangan harus terus berupaya dengan nilai rata-rata pengungkapan ERM,
untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengungkapan IC, dan ukuran perusahaan
pengungkapan IC meskipun rata-rata tingkat tersebut menunjukkan bahwa pengungkapan
kepatuhan sebesar 45% sudah tergolong ERM, pengungkapan IC, dan ukuran
sedang. Perusahaan yang melakukan pengung- perusahaan pada perusahaan nonkeuangan
kapan IC tertinggi yaitu sebesar 77% adalah yang terdaftar di BEI memiliki fluktuasi yang
Astra International Tbk. pada tahun 2012- kecil. Nilai simpangan baku dari nilai
2014. perusahaan, profitabilitas, dan leverage yang
Nilai rata-rata untuk nilai perusahaan lebih besar dibandingkan dengan nilai rata-rata
yang diproksikan dengan menggunakan dari nilai perusahaan, profitabilitas, dan
Tobins Q adalah sebesar 1,17, yang berarti leverage tersebut menunjukkan bahwa nilai
bahwa rata-rata nilai perusahaan untuk perusahaan, profitabilitas, dan leverage pada
perusahaan nonkeuangan di Indonesia sudah perusahaan nonkeuangan memiliki fluktuasi
cukup baik karena memiliki nilai rata-rata yang besar.
lebih besar dari 1. Nilai perusahaan yang Data penelitian diklasifikasikan menjadi
memiliki nilai negatif yaitu -7,50 menunjuk- tiga kategori dengan menggunakan rumus
kan bahwa terdapat perusahaan yang asetnya seperti pada Tabel 3 untuk mendapatkan
dinilai sangat rendah oleh pasar. Nilai rata-rata gambaran secara deskriptif mengenai data
untuk ROA adalah sebesar 0,06%, dengan nilai tingkat kepatuhan perusahaan nonkeuangan
tertinggi sebesar 0,39%, dan nilai terendah dalam mengungkapkan instrumen ERM dan IC
sebesar -0,22%. Semakin tinggi nilai ROA, pada laporan tahunan selama periode
maka kinerja perusahaan semakin baik dan penelitian. Hasil kategorisasi data penelitian
efisien. Nilai ROA yang memiliki nilai negatif dengan menggunakan rumus kategorisasi data
membuktikan bahwa pada periode pengamatan yang dirujuk dari penelitian Riwidikdo (2009)
terdapat perusahaan yang mengalami kerugian. ditunjukkan pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Nilai rata-rata untuk DAR adalah sebesar Hasil pada Tabel 4 menunjukkan bahwa
0,54%, dengan nilai tertinggi sebesar 6,5%, secara umum tingkat pengungkapan ERM
dan nilai terendah sebesar 0,01%. Semakin pada perusahaan nonkeuangan tergolong
tinggi nilai DAR, maka perusahaan lebih sedang. Kelonggaran ketentuan pengungkapan
ERM tentang syarat minimum item
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 34

pengungkapan ERM yang wajib diungkapkan kan kelengkapan instrumen pengungkapan


oleh perusahaan nonkeuangan menyebabkan ERM dan cenderung hanya menyajikan
perusahaan nonkeuangan kurang memperhati- informasi yang bersifat umum.

Tabel 3
Rumus Kategorisasi Data
Klasifikasi Interval
Tinggi X > M + 1 SD
Sedang M 1 SD < X < M + 1 SD
Rendah X < M 1 SD
Sumber: Riwidikdo (2009)

Tabel 4
Hasil Kategorisasi Data (Pengungkapan ERM)
Kategori Skor Jumlah Persentase
Tinggi > 0,61 36 12,33%
Sedang 0,29 0,61 201 68,84%
Rendah < 0,29 55 18,83%
Total 292 100%

Tabel 5
Hasil Kategorisasi Data (Pengungkapan IC)
Kategori Skor Jumlah Persentase
Tinggi > 0,51 52 17,81%
Sedang 0,19 0,51 206 70,55%
Rendah < 0,19 34 11,64%
Total 292 100%

Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa Hasil nilai rata-rata pengungkapan ERM
secara umum tingkat pengungkapan IC pada berdasarkan perhitungan pada Tabel 6 yaitu
perusahaan nonkeuangan tergolong sedang. sebesar 54.89% (berada di antara rentang skor
Pengungkapan IC merupakan pengungkapan 0,29 0,61) menunjukkan bahwa secara umum
sukarela sehingga pengungkapannya tergan- tingkat pengungkapan ERM pada perusahaan
tung pada kebijakan perusahaan. Berdasarkan nonkeuangan tergolong sedang (sesuai rentang
hasil penelitian tidak ditemukan sampel skor pada Tabel 4). Berdasarkan perhitungan
perusahaan yang memiliki nilai indeks pada Tabel 6, dimensi penetapan tujuan
pengungkapan IC sebesar 0,00, yang berarti memiliki persentase total skor yang paling
bahwa tidak terdapat perusahaan yang tidak tinggi yaitu sebesar 87,78%, sedangkan
mencantumkan pengungkapan IC dalam dimensi pengungkapan ERM yang memiliki
laporan tahunan. Perusahaan nonkeuangan nilai persentase total skor paling rendah adalah
sudah memiliki kesadaran dalam melakukan dimensi penilaian risiko. Hasil tersebut
pengungkapan IC meskipun pengungkapan IC menunjukkan bahwa secara umum perusahaan
belum diatur dalam regulasi. Meskipun nonkeuangan lebih berfokus pada
demikian, perusahaan nonkeuangan masih pengungkapan dimensi penetapan tujuan,
tetap harus meningkatkan kelengkapan instru- sedangkan pengungkapan dimensi penilaian
men pengungkapan IC dalam laporan tahunan. risiko masih kurang menjadi perhatian
perusahaan nonkeuangan.
35 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

Tabel 6
Hasil Frekuensi Pengungkapan Setiap Item Pengungkapan ERM pada Masing-Masing Dimensi
Pengungkapan ERM
Total Skor Seluruh Persentase dari
Item yang Total Skor Total Skor
Seharusnya Seluruh Item Seluruh Item
Diungkapkan, pada Masing- pada Masing-
Delapan Dimensi Pengungkapan
No. Dihitung dari Total Masing Dimensi Masing
ERM
Seluruh Pengamatan Pengungkapan Dimensi
(73 Perusahaan x 4 ERM yang Pengungkapan
Tahun = 292 Diungkapkan ERM yang
Pengamatan) Diungkapkan
1 Lingkungan Internal (13 Item) 3.796 3.327 87,64%
2 Penetapan Tujuan (6 Item) 1.752 1.538 87,78%
3 Identifikasi Kejadian (25 Item) 7.300 4.124 56,49%
4 Penilaian Risiko (25 Item) 7.300 1.026 14,05%
5 Respons Risiko (26 Item) 7.592 3.004 39,57%
Kegiatan Pengawasan/Pengendalian
6 2.044 1.168 61,06%
Kegiatan (7 Item)
7 Informasi dan (Komunikasi 3 Item) 876 249 28,42%
8 Pemantauan (3 Item) 876 562 64,15%

Rata-rata ERM Disclosure = (87,64% + 87,78% + 56,49% + 14,05% + 39,57% + 61,06% +


28,42% + 64,15%) / 8
= 54,89% (termasuk kategori sedang)

Tabel 7
Hasil Frekuensi Pengungkapan Setiap Item Pengungkapan IC pada Masing-Masing Dimensi
Pengungkapan IC
Total Skor Seluruh Total Skor Persentase dari
Item yang Seharusnya Seluruh Item Total Skor
Diungkapkan, Dihitung pada Masing- Seluruh Item
dari Total Seluruh Masing pada Masing-
No. Enam Dimensi Pengungkapan IC
Pengamatan Dimensi Masing Dimensi
(73 Perusahaan x 4 Pengungkapan Pengungkapan
Tahun = 292 IC yang ICyang
Pengamatan) Diungkapkan Diungkapkan
1 Karyawan (28 Item) 8.176 4.962 60,69%
2 Pelanggan (14 Item) 4.088 1.458 35,66%
3 Teknologi Informasi (6 Item) 1.752 272 15,52%
4 Proses (9 Item) 2.628 1.547 58,86%
5 Riset dan Pengembangan (9 Item) 2.628 958 36,45%
6 Pernyataan Strategis (15 Item) 4.380 2.277 51,99%

Rata-rata IC Disclosure = (60,69% + 35,66% + 15,52%+ 58,86%+ 36,45%+ 51,99%) / 6


= 43,19% (termasuk kategori sedang)

Rata-rata nilai IC disclosure berdasarkan skor pada Tabel 5). Dimensi karyawan
pada Tabel 7 adalah sebesar 43,19 % (berada memiliki persentase total skor yang paling
diantara rentang skor 0,19 0,51), dan secara tinggi yaitu sebesar 60,69%, sedangkan
umum tingkat IC disclosure pada perusahaan dimensi teknologi informasi memiliki nilai
nonkeuangan tergolong sedang (sesuai rentang persentase total skor paling rendah yaitu
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 36

sebesar 15,52%. Hasil tersebut menunjukkan tidak terjadi multikolonieritas, tidak terjadi
bahwa secara umum perusahaan nonkeuangan autokorelasi, dan tidak terjadi heterokedastisi-
lebih berfokus pada pengungkapan dimensi tas sehingga dapat dikatakan bahwa data telah
karyawan, sedangkan pengungkapan dimensi lolos uji asumsi klasik.
teknologi informasi masih kurang menjadi Hasil analisis regresi data panel dengan
perhatian perusahaan nonkeuangan. menggunakan model regresi GLS ditampilkan
pada Tabel 8. Tabel 8 menunjukkan hasil
Hasil Analisis Regresi regresi GLS dengan variabel kontrol. Hasil
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis 1 pada Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai F
dan 2, maka terlebih dahulu dilakukan uji sebesar 89,74 dengan signifikansi 0,00 lebih
asumsi klasik. Hasil uji asumsi klasik (awal) kecil dari 0,05. Hasil tersebut menunjukkan
menunjukkan terjadinya heteroskedastisitas bahwa model regresi dinyatakan fit (layak)
dan terjadi autokorelasi dalam model. Untuk sehingga pembuktian hipotesis dapat
menghilangkan adanya heteroskedastisitas dan dilanjutkan. Nilai Adjusted R-squared 0,60
autokorelasi tersebut, digunakanlah model menunjukkan bahwa varian dari variabel bebas
Generalized Least Square (GLS) atau juga mampu menjelaskan varian terikat yaitu
disebut dengan Random Effect (RE). Hasil uji sebesar 60%, sisanya 40% dijelaskan oleh
asumsi klasik setelah menggunakan model variabel lain yang tidak dicantumkan dalam
Generalized Least Square (GLS) menunjuk- model.
kan bahwa nilai residual terdistribusi normal,

Tabel 8
Hasil Regresi GLS
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -2,51 0,37 -6,85 0,00
ERMD 0,44 0,09 4,99 0,00
SICD 0,99 0,13 7,66 0,00
UKURAN 0,03 0,02 2,02 0,04
PROFITABILITAS 3,37 0,17 19,60 0,00
LEVERAGE 0,65 0,06 11,19 0,00
Weighted Statistics
R-squared 0,61 Mean dependent var -0,49
Adjusted R-squared 0,60 S.D. dependent var 1,46
S.E. of regression 0,92 Sum squared resid 246,80
F-statistic 89,74 Durbin-Watson stat 0,77
Prob(F-statistic) 0,00

Pembahasan haan yang berarti bahwa semakin banyak item


pengungkapan ERM yang dipublikasikan oleh
Pengaruh Pengungkapan ERM pada Nilai perusahaan, maka dapat berdampak pada
Perusahaan semakin tingginya nilai perusahaan. Hasil
Berdasarkan hasil pada Tabel 8, variabel tersebut juga menunjukkan bahwa luasnya
pengungkapan ERM memiliki nilai probabili- informasi ERM secara sukarela yang
tas signifikansi sebesar 0,00 atau lebih rendah dipublikasikan oleh perusahaan direspons
dari nilai signifikansi 0,05 ( = 5%) dan positif oleh pasar karena pasar percaya bahwa
koefisiennya memiliki nilai positif. Hasil pengungkapan ERM dapat digunakan sebagai
tersebut menunjukkan bahwa pengung-kapan salah satu informasi yang relevan dalam
ERM berpengaruh positif pada nilai perusa-
37 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

memprediksi masa depan dan keberlang- risiko suatu perusahaan dapat mendorong
sungan (going concern) suatu perusahaan. persepsi positif investor pada perusahaan
Hasil penelitian ini selaras dengan tersebut. Persepsi positif yang dimiliki oleh
stakeholder theory dan signalling theory. investor atas perusahaan akan berpengaruh
Stakeholder theory menekankan bahwa pada peningkatan nilai perusahaan tersebut.
stakeholder memiliki hak untuk memperoleh
informasi mengenai aktivitas-aktivitas Pengaruh Pengungkapan IC pada Nilai
perusahaan yang juga dapat berpengaruh pada Perusahaan
stakeholder. Tujuan utama dari teori Berdasarkan hasil analisis regresi data
stakeholder adalah untuk membantu panel dengan menggunakan model regresi
manajemen perusahaan dalam meningkatkan GLS pada Tabel 8, variabel pengungkapan IC
penciptaan nilai sebagai dampak dari aktivitas- memiliki nilai probabilitas signifikansi sebesar
aktivitas yang dilakukan dan meminimalkan 0,00 atau lebih rendah dari nilai signifikansi
kerugian yang mungkin muncul bagi 0,05 ( = 5%) dan koefisiennya memiliki nilai
stakeholder. Informasi ERM yang ditujukan positif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
pada stakeholder adalah wujud komitmen yang pengungkapan IC berpengaruh positif pada
baik dari manajemen tentang pengelolaan nilai perusahaan yang berarti bahwa semakin
risiko perusahaan, maka dari itu pengungkapan banyak item pengungkapan IC yang dipublika-
ERM merupakan good news yang dapat sikan oleh perusahaan dapat berdampak pada
dijadikan sebagai sinyal positif, karena melalui semakin tingginya nilai perusahaan.
informasi ERM investor juga akan dapat Hasil penelitian ini juga memberikan
menilai prospek perusahaan. bukti bahwa investor sebagai bagian dari
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil stakeholder akan memberikan penilaian yang
penelitian yang dilakukan oleh Hoyt dan lebih tinggi pada perusahaan yang memiliki
Leinberg (2006) serta Hoyt et al. (2008) yang pengungkapan IC yang lebih luas. Investor
menemukan bahwa terdapat hubungan yang memiliki keyakinan bahwa semakin banyak
positif dan signifikan antara pengungkapan item pengungkapan IC yang diungkapkan oleh
penerapan ERM (ERM disclosure) dengan nilai perusahaan mengindikasikan bahwa semakin
perusahaan. Pentingnya implementasi ERM banyak kepemilikan IC yang dikelola dalam
dalam menunjang pencapaian tujuan perusaha- perusahaan yang akan lebih memudahkan
an menyebabkan stakeholder terutama para perusahaan tersebut untuk mencapai kinerja
investor sangat tertarik untuk mengetahui yang maksimal. Keyakinan tersebut yang
informasi ERM sebagai dasar analisis mendorong investor untuk melakukan
keputusan investasi. Stakeholder juga dapat perdagangan saham sehingga nilai pasar saham
menilai prospek perusahaan melalui informasi pada perusahaan tersebut akan meningkat dan
ERM. Pengungkapan ERM yang memadai akan berdampak pada peningkatan nilai
diperlukan bagi investor untuk memperkecil perusahaan. Pengungkapan IC menjadi pendo-
tingkat risiko dan ketidakpastian (Sudamarji rong utama bagi penciptaan nilai perusahaan.
2007). Investor menilai positif perusahaan- Hasil ini sesuai dengan yang ditemukan oleh
perusahaan yang mengungkapkan implemen- Chen et al. (2005) dan hasil penelitian oleh
tasi ERM yang lebih luas karena semakin Orens et al. (2009) yang menemukan bahwa
banyak item pengungkapan ERM yang pengungkapan IC menjadi pendorong utama
diungkapkan oleh perusahaan juga menunjuk- penciptaan nilai perusahaan.
kan bahwa perusahaan memiliki komitmen IC merupakan sumber daya potensial
yang lebih baik tentang pengelolaan risiko yang dapat menciptakan nilai tambah dan
(Hoyt dan Liebenberg 2011). Investor dapat memaksimalkan kinerja perusahaan.
memiliki keyakinan bahwa perusahaan yang Kesejahteraan bagi investor sebagai bagian
memiliki kualitas yang tinggi akan bersedia dari stakeholder perusahaan akan tercapai
untuk melakukan pengungkapan ERM secara apabila investor berinvestasi pada perusahaan
lebih luas dan spesifik. Kepercayaan investor yang mampu meraih kinerja tinggi karena
atas kualitas dan juga komitmen pengelolaan perusahaan yang mampu mencapai kinerja
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 38

yang tinggi akan memiliki kemampuan untuk manajemen perusahaan dalam hal
memberikan dividen yang tinggi kepada pengungkapan setiap dimensi ERM. Hasil
investor dan juga memberikan manfaat bagi regresi GLS setiap dimensi pengungkapan
stakeholder lainnya. Setiap investor selalu ERM yang menunjukkan pengaruh masing-
mengharapkan pengembalian investasi berupa masing dimensi pengungkapan ERM pada
dividen yang tinggi sehingga atas dasar itulah nilai perusahaan dapat dilihat pada Tabel 9.
investor akan menghargai lebih tinggi saham Berdasarkan hasil analisis regresi GLS
perusahaan-perusahaan yang mampu mencip- pada Tabel 9, dimensi pengungkapan ERM
takan kinerja yang tinggi. Hal ini menyebab- yang paling berpengaruh pada nilai perusahaan
kan stakeholder sangat berminat untuk adalah dimensi respons risiko (ERM 5)
mendapatkan informasi tentang kepemilikan penilaian risiko (ERM 4). Kedua dimensi
dan pengelolaan IC suatu perusahaan. tersebut masing-masing memiliki nilai
koefisien regresi sebesar 0,32, dan 0,14 dengan
Pengaruh Setiap Dimensi Pengungkapan nilai probabilitas masing-masing sebesar 0,00.
ERM dan Pengungkapan IC pada Nilai Item-item yang dijabarkan dalam dimensi
Perusahaan penilaian risiko secara umum mengenai
Pengungkapan ERM dan pengungkapan penilaian perusahaan terhadap segala bentuk
IC merupakan informasi yang penting dalam risiko-risiko yang akan dihadapi oleh
memprediksi masa depan perusahaan, maka perusahaan, sedangkan item-item yang
dari itu kedua informasi ini dapat dijadikan dijabarkan dalam dimensi respons risiko secara
sebagai sinyal positif untuk para investor. Nilai umum mengenai upaya-upaya yang dilakukan
perusahaan akan meningkat dengan adanya perusahaan untuk mengatasi segala bentuk
peningkatan nilai investasi dari para investor. risiko-risko yang dihadapi oleh perusahaan.
Hubungan antara pengungkapan ERM dan Risiko adalah hal yang paling melekat dalam
pengungkapan IC dengan nilai perusahaan kegiatan investasi sehingga tingkat risiko
juga terbukti melalui hasil analisis regresi pada menjadi fokus utama para investor saat
penelitian ini yang menunjukkan bahwa memutuskan aktivitas investasi. Banyak teori
pengungkapan ERM dan pengungkapan IC investasi yang menyatakan bahwa high risk
berpengaruh positif pada nilai perusahaan. Jika high return. Menurut Tandelilin (2010), dasar
hasil analisis regresi tersebut dikaitkan dengan keputusan investasi terdiri dari return harapan,
hasil analisis deskriptif yang menunjukkan tingkat risiko serta hubungan antara return dan
bahwa pengungkapan ERM dan pengungkap- risiko. Semakin besar investasi yang
an IC pada perusahaan nonkeuangan memiliki dilakukan, maka risiko yang dihadapi akan
fluktuasi yang kecil yang diikuti dengan semakin tinggi sehingga atas dasar itulah
fluktuasi yang besar pada nilai perusahaan, investor memerlukan keyakinan yang besar
maka dapat dikatakan bahwa perubahan kecil dari pihak perusahaan bahwa perusahaan telah
pada nilai pengungkapan ERM dan melakukan penilaian risiko dengan sangat baik
pengungkapan IC dapat berdampak perubahan dan akurat yang diimbangi dengan respons
besar pada nilai perusahaan. atau pengelolaan yang baik atas risiko-risiko
Pengungkapan ERM yang dilakukan tersebut. Begitu pentingnya informasi risiko
oleh perusahaan nonkeuangan lebih berfokus bagi investor seharusnya dijadikan sebagai
pada pengungkapan dimensi penetapan tujuan, peluang bagi pihak manajemen untuk
sedangkan pengungkapan dimensi penilaian memberikan informasi terkait profil risiko dan
risiko masih kurang menjadi perhatian respons terhadap risiko perusahaan karena
perusahaan nonkeuangan. Berdasarkan hasil pengungkapan informasi tersebut akan
tersebut, peneliti termotivasi untuk melakukan membantu meningkatkan kepercayaan publik
analisis tentang pengaruh masing-masing pada perusahaan tersebut. Investor memiliki
dimensi dari pengungkapan ERM tersebut keyakinan bahwa hanya perusahaan yang
pada nilai perusahaan untuk memberikan memiliki kualitas yang tinggi yang akan
gambaran umum khususnya bagi manajemen bersedia untuk melakukan pengungkapan
perusahaan tentang ketepatan keputusan risiko perusahaan secara lebih luas dan
39 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

spesifik. Investor akan memiliki keberanian tersebut telah dikelola dengan baik. Sangat
untuk melakukan investasi yang lebih besar penting bagi perusahaan untuk memperhatikan
dalam suatu perusahaan jika perusahaan peningkatan pengungkapan dimensi penilaian
tersebut mampu memberikan keyakinan risiko dan respons risiko sebagai bagian dari
bahwa tingkat risiko dari aktivitas investasi pengungkapan ERM.

Tabel 9
Hasil Regresi GLS Dimensi Pengungkapan ERM
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
ERM 1 0,08 0,03 2,46 0,01
ERM 2 0,16 0,03 5,38 0,80
ERM 3 0,01 0,02 0,54 0,02
ERM 4 0,14 0,02 6,08 0,00
ERM 5 0,32 0,01 18,87 0,00
ERM 6 0,01 0,01 0,50 0,61
ERM 7 0,04 0,04 0,99 0,32
ERM 8 0,01 0,02 0,25 0,00

Hasil analisis deskriptif pada Tabel 7 pengungkapan IC yang menunjukkan


menunjukkan bawa pengungkapan IC yang pengaruh masing-masing dimensi pengung-
dilakukan oleh perusahaan nonkeuangan lebih kapan IC pada nilai perusahaan dapat dilihat
berfokus pada pengungkapan dimensi pada Tabel 10.
karyawan, sedangkan pengungkapan dimensi Berdasarkan hasil analisis regresi GLS
teknologi informasi masih kurang menjadi pada Tabel 10, dimensi pengungkapan IC yang
perhatian perusahaan nonkeuangan. Peneliti paling berpengaruh pada nilai perusahaan
juga termotivasi untuk melakukan analisis adalah riset dan pengembangan (IC 5) dan
tentang pengaruh masing-masing dimensi dari teknologi informasi (IC 3). Kedua dimensi
pengungkapan IC tersebut pada nilai tersebut masing-masing memiliki nilai
perusahaan untuk memberikan gambaran koefisien regresi sebesar 0,56, dan 0,51 dengan
umum khususnya bagi manajemen perusahaan nilai probabilitas masing-masing sebesar 0,00.
tentang ketepatan keputusan manajemen Kedua dimensi tersebut memiliki pengaruh
perusahaan dalam hal pengungkapan setiap yang positif pada nilai perusahaan.
dimensi IC. Hasil regresi GLS setiap dimensi

Tabel 10
Hasil Regresi GLS Dimensi Pengungkapan IC
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
IC 1 0,36 0,04 8,12 0,00
IC 2 0,23 0,04 6,15 0,00
IC 3 0,51 0,05 19,72 0,00
IC 4 0,05 0,02 3,40 0,00
IC 5 0,56 0,02 23,52 0,00
IC 6 0,44 0,04 10,03 0,00

Item-item yang dijabarkan dalam dan tujuan aktivitas riset dan pengembangan.
dimensi riset dan pengembangan adalah secara Tanpa adanya riset dan pengembangan, suatu
umum mengenai pengembangan produk, detail perusahaan dapat dikatakan sebagai
prospek masa depan, serta kebijakan, strategi, perusahaan yang tidak ingin maju. Keberadaan
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 40

riset dan pengembangan dalam suatu ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage
perusahaan sangatlah penting karena terhadap nilai perusahaan.
menyangkut keberlangsungan (going concern) Perusahaan yang tergolong besar akan
perusahaan. Riset dan pengembangan mudah mendapatkan pendanaan melalui pasar
merupakan salah satu instrumen penting dalam modal dan memiliki power yang besar dalam
menciptakan inovasi dan pengembangan transaksi kontrak keuangan. Kemampuan dan
teknologi. Item-item dalam dimensi teknologi kemudahaan perusahaan dalam memperoleh
informasi adalah secara umum mengenai sumber pendanaan yang besar merupakan
investasi perusahaan dalam bidang teknologi salah satu faktor pendorong tercapainya
informasi dan juga tentang fasilitas teknologi keuntungan yang besar. Keuntungan yang
informasi yang dimiliki dan digunakan di besar merupakan salah satu alasan investor
dalam perusahaan. Teknologi informasi saat memilih berinvestasi pada perusahan besar.
ini sedang menjadi perhatiaan bisnis global Profitabilitas yang tinggi juga menunjukkan
sehingga sangat penting juga bagi perusahaan bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik
nonkeuangan untuk lebih meningkatkan sehingga investor akan merespons positif hal
perhatian pada perkembangan teknologi tersebut. Respons positif dari para investor
informasi agar mampu bersaing dalam akan mendorong peningkatan nilai
persaingan global. Perhatian terhadap perusahaan. Selain ukuran perusahaan dan
teknologi informasi tentu juga akan sangat profitabilitas, penggunaan leverage juga
mempengaruhi penilaian investor pada mampu meningkatkan nilai perusahaan karena
perusahaan karena perkembangan teknologi perusahaan mampu meningkatkan tingkat
akan sangat membantu laju perkembangan dan produksi untuk memperoleh laba yang lebih
pertumbuhan perusahaan. Teknologi informasi besar akibat penggunaan hutang.
yang kuat akan menjadi competitive edge bagi
perusahaan dan sekaligus menjadi entry
barrier (Maruca 2004). Peningkatan pengung- SIMPULAN
kapan dimensi riset dan pengembangan serta
dimensi teknologi informasi tentu akan sangat Kesimpulan penelitan ini adalah terdapat
membantu peningkatan nilai perusahaan. pengaruh positif dan signifikan pengungkapan
Sangat penting bagi perusahaan untuk ERM dan pengungkapan IC pada nilai
memperhatikan peningkatan pengungkapan perusahaan. Pengungkapan ERM dan
dimensi riset dan pengembangan serta pengungkapan IC merupakan informasi yang
teknologi informasi sebagai bagian dari sangat diperlukan oleh stakeholder dalam
pengungkapan IC. menilai prospek perusahaan. Keyakinan
tersebut yang mendorong investor untuk
Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabili- melakukan perdagangan saham sehingga
tas, dan Leverage pada Nilai Perusahaan volume perdagangan saham akan meningkat.
Berdasarkan hasil analisis regresi data Persepsi positif yang dimiliki oleh investor
panel dengan menggunakan model regresi GLS atas perusahaan juga pada akhirnya akan
pada Tabel 8, variabel ukuran perusahaan, meningkatkan harga saham perusahaan terse-
profitabilitas, dan leverage memiliki nilai but dan akan berdampak pada peningkatan
probabilitas signifikansi yaitu masing-masing nilai perusahaan.
sebesar 0,04, 0,00, dan 0,00 atau lebih rendah Dengan terbukti adanya pengaruh positif
dari nilai signifikansi 0,05 ( = 5%). Ukuran dan signifikan pengungkapan ERM dan
perusahaan, profitabilitas, dan leverage pengungkapan IC pada nilai perusahaan
sebagai variabel kontrol juga memiliki nilai melalui penelitian ini, seharusnya dapat
koefisien regresi yang bertanda positif yaitu mengubah kebijakan manajemen perusahaan
masing-masing sebesar 0,03, 3,37, dan 0,65. tentang kelengkapan instrumen pengungkapan
Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa ERM dan pengungkapan IC yang diungkapkan
terdapat pengaruh positif dan signifikan oleh perusahaan. Hasil penelitian ini dapat
dijadikan sebagai keyakinan dasar bagi pihak
41 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

manajemen perusahaan untuk meningkatkan akan semakin maksimal serta pengambilan


implementasi ERM dan meningkatkan keputusan investasi oleh investor akan
pengelolaan IC di dalam perusahaan. semakin tepat. Dengan adanya pengetahuan ini
Peningkatan implementasi ERM dan pengelo- pasar akan mampu bereaksi secara efisien
laan kepemilikan IC di dalam perusahaan juga karena pasar akan memberikan penilaian yang
harus diimbangi dengan perluasan instrumen lebih hanya pada perusahaan yang melakukan
pengungkapannya di dalam laporan tahunan pengungkapan ERM dan pengungkapan IC
untuk lebih dapat meyakinkan para investor secara lebih luas dan maksimal sesuai dengan
dan stakeholder lainnya tentang prospek penilaian berdasarkan item-item yang seharus-
perusahaan, karena keyakinan investor nya diungkapkan dalam pengungkapan ERM
terhadap prospek perusahaan adalah kunci dan pengungkapan IC. Selain itu, dengan
penggerak utama peningkatan nilai perusa- terbuktinya informasi ERM dan IC sangat
haan. Item-item pengungkapan ERM yang penting bagi investor, maka regulator dapat
masih harus ditingkatkan adalah item-item melakukan upaya untuk menetapkan dan
pengungkapan pada dimensi penilaian risiko mengatur tentang instrumen pengungkapan
karena berdasarkan hasil analisis dimensi wajib terkait dengan ERM dan IC untuk
tersebut yang memiliki nilai total skor yang memperkecil adanya asimetri informasi karena
paling rendah. Risk and return adalah fokus asimetri informasi ini kemungkinan akan dapat
utama penilaian suatu aktivitas investasi merugikan pihak-pihak diluar perusahaan yang
sehingga informasi penilaian risiko suatu berkepentingan terhadap perusahaan. Peneliti-
perusahaan adalah hal yang sangat penting an ini juga dapat digunakan sebagai acuan,
bagi pengambilan keputusan investasi para bahan kajian teoritis, serta referensi dalam
investor. Para investor juga harus diyakinkan penelitian selanjutnya.
mengenai respons perusahaan dalam Keterbatasan penelitian ini adalah dalam
mengatasi segala bentuk risiko yang akan hal pengukuran pengungkapan (disclosure).
dihadapi perusahaan sehingga pengungkapan Skala dikotomi tidak tertimbang (unweighted
item-item pada dimensi respons risiko juga dichotomous scale) digunakan untuk memberi-
harus lebih ditingkatkan. Item-item pengung- kan skor pada setiap item pengungkapan yang
kapan IC yang masih harus ditingkatkan dilakukan oleh perusahaan dalam laporan
adalah item-item pengungkapan pada dimensi tahunan. Pada penelitian ini, setiap pengung-
teknologi informasi karena berdasarkan hasil kapan suatu item diberi nilai 1 dan 0 jika item
analisis dimensi tersebut yang memiliki nilai tidak diungkapkan, dan selanjutnya skor dari
total skor yang paling rendah. Teknologi setiap item akan dijumlahkan untuk
informasi saat ini sedang menjadi perhatiaan memperoleh total skor pengungkapan setiap
bisnis global sehingga sangat penting juga bagi perusahaan. Pemberian skor 0 dan 1 tidak
perusahaan nonkeuangan untuk lebih mampu digunakan untuk melihat dan menilai
meningkatkan perhatian pada perkembangan kualitas pengungkapan tersebut. Peneliti tidak
teknologi informasi agar mampu bersaing meninjau kualitas dari pengungkapan tetapi
dalam persaingan global. Bagi organisasi yang menilai dari segi luas atau banyaknya item
ingin maju dan berkembang, tidak ada alasan yang diungkapkan. Penelitian selanjutnya
untuk tidak menggunakan teknologi yang diharapkan dapat mencoba menggunakan
dapat mempermudah perusahaan menyesuai- skala skor 0, 1, dan 2 untuk dapat mengako-
kan diri dengan lingkungannya (Hanscombe modir kualitas dari pengungkapan tersebut.
2009). Skor 2 diberikan untuk item yang diungkapkan
Melalui penelitian ini, stakeholder dan bersifat komprehensif, sedangkan skor 1
terutama investor juga mendapatkan informasi hanya untuk item yang hanya diungkapkan
terkait instrumen-instrumen yang terdapat saja tetapi tidak komprehensif.
dalam pengungkapan ERM dan pengungkapan
IC secara keseluruhan, sehingga berdasarkan
informasi tersebut analisis investasi yang
dilakukan oleh pihak eksternal perusahaan
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 42

DAFTAR PUSTAKA Chen, M. C., S. J. Cheng, and Y. Hwang. 2005.


An Empirical Investigation of the
Abdolmohammadi, M. J. 2005. Intellectual Relationship between Intellectual
Capital Disclosure and Market Capital and Firms Market Value and
Capitalization. Journal of Intelletual Financial Performance. Journal of
Capital, 6 (3), 397-416. Intellectual Capital, 6 (2), 159-176.
Anisa, W. G. 2012. Analisis Faktor yang Chung, K. H. and S. W. Pruitt. 1994. A Simple
Mempengaruhi Pengungkapan Approximation of Tobins Q. Financial
Manajemen Risiko. Skripsi, Universitas Management, 23 (3), 70-74.
Diponegoro. Deegan, C. 2004. Financial Accounting
Ariola, M. M. 2006. Principles and Methods of Theory. Sydney: McGraw-Hill.
Research. Manila: Rex Bookstore. Galbraith, C. S. and G. B. Merrill. 2001. IPO
Basamalah, A. S. and J. Jermias. 2005. Social Performance in Business to Business
and Environmental Reporting and B2B E-commerce Firms: Effects of
Auditing in Indonesia: Maintaining Strategy and Industry. Managerial
Organizational Legitimacy?. Gadjah Finance, 27 (7), 1-15.
Mada International Journal of Business, Ghozali, I. dan A. Chariri. 2007. Teori
7 (1), 109-127. Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit
Baxter, R., J. C. Bedard, R. Hoitash, and A. Universitas Diponegoro.
Yezegel. 2013. Enterprise Risk Obradovich, J. and A. Gill. 2012. The Impact
Management Program Quality: of Corporate Governance and Financial
Determinants, Value Relevance, and the Leverage on the Value of American
Financial Crisis. Contemporary Firms. International Research Journal of
Accounting Research. 30 (4), 1264- Finance and Economics, 91, 1-14.
1295. Guthrie, J. and R. Petty. 2000. Intellectual
Boedi, S. 2008. Pengungkapan Intellectual Capital: Australian Annual Reporting
Capital dan Kapitalisasi Pasar (Studi Practices. Journal of Intellectual
Empiris pada Perusahaan Publik di Capital, 1 (3), 241-251.
Indonesia). Tesis, Universitas Hanscombe, R. and N. Philiph. 2009. Strategic
Diponegoro. Leadership: The Missing Link.
Bontis, N. 1998. Intellectual Capital: An International Edition. Singapore: Mc
Exploratory Study that Develops Grawhill Book Co.
Measures and Models. Management Hardiyanti, Nia. 2012. Analisis Pengaruh
Decision, 36 (2), 63-76. Insider Ownership, Leverage,
Bontis, N. 2001. Assessing Knowledge Assets: Profitability, Firm Size dan Dividen
A Review of the Models Used to Payout Ratio terhadap Nilai Perusahaan
Measure Intellectual Capital. (Studi Pada Perusahaan Manufaktur
International Journal of Management yang Terdaftar di BEI tahun 2007-
Reviews, 3 (1), 41-60. 2010). Skripsi, Universitas Diponegoro
Bontis, N., W. C. C. Keow, and S. Richardson. Semarang.
2000. Intellectual Capital and Bussines Herawaty, V. 2008. Peran Praktek Corporate
Perfomance in Malaysian Industries. Governance sebagai Moderating
Journal of Intellectual Capital, 1 (1), 85- Variabel dari Pengaruh Earnings
100. Management terhadap Nilai Perusahaan.
Bursa Efek Indonesia. 2015. Laporan Simposium Nasional Akuntansi XI, IAI,
Keuangan & Tahunan 2010-2014. 2008.
Diunduh tanggal 9 September 2015 15 Hermuningsih, Sri. 2013. Profitability, Growth
September 2015, http:/www.idx.co.id. Opportunity, Capital Structure and The
Champion, D. J. 1981. Basic Statistics for Firm Value. Bulletin of Monetary,
Social Research. New York: Prentice Economics and Banking.
Hall.
43 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

Holland, J. 2002. Fund Management, Meizaroh, dan Lucyanda, J. 2011. Pengaruh


Intellectual Capital, Intangibles and Corporate Governance dan Konsentrasi
Private Disclosure. Working Paper, Kepemilikan pada Pengungkapan
University of Glasgow at UK. Enterprise Risk Management.
Hoyt, R. E., and A. P. Liebenberg. 2006. The Simposium Nasional Akuntansi XIV. Hal
Value of Enterprise Risk Management: 1-30.
Evidence from the U.S. Insurance Meulbroek, L. K. 2002. Integrated Risk
Industry. Diunduh tanggal 10 Oktober Management for the Firm: A Senior
2015, Manager's Guide. Retrieved 2008, from
http://www.aria.org/meetings/2006pape Harvard Business School:
rs/Hoyt_Liebenberg_ERM_070606.pdf. www.hbs.edu/research/facpubs/working
Hoyt, R. E., D. L. Moore, and A. P. papers/papers2/0102/02-046.pdf.
Liebenberg. 2008. The Value of Nurlela, R., dan Islahuddin. 2008. Pengaruh
Enterprise Risk Management: Evidence Corporate Social Responsibility
from The U.S. Insurance Industry. Terhadap Nilai Perusahaan dengan
Journal of Financial and Quantitative Prosentase Kepemilikan Manajemen
Analysis, 26, 519-532. Sebagai Variabel Moderating.
Hoyt, R. E., and A. P. Liebenberg. 2011. The Simposium Nasional Akuntansi XI,
Value of Enterprise Risk Management. Pontianak.
Journal of Risk and Insurance, 78 (4): Orens, R., W. Aerts, and N. Lybaert. 2009.
795-822. Intellectual Capital Disclosure, Cost of
Jacub, J. O. S. 2012. Pengaruh Intellectual Finance and Firm Value. Management
Capital dan Pengungkapannya Terhadap Decision, 47 (10), 1536-54.
Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Pfeffer, J., and G. R. Salanjik. 1978. The
Perusahaan Farmasi di BEI). Jurnal External Control of Organizations: A
Ilmiah Mahasiswa Akuntansi, 1 (4), 96- Resource Dependence Perspective. New
100. York: Harper and Row. 2003 reprinted in
Kasmir. 2008. Analisis Laporan Keuangan. Stanford Business Classics, Stanford,
Jakarta: Rajawali Pers. CA: Stanford University Press.
Lindenberg, E. B, and S. A. Ross. 1981. Prasetyorini, Bhekti Fitri. 2013. Pengaruh
Tobins Q Ratio and Industrial Ukuran Perusahaan, Leverage, Price
Organization. Journal of Business. 54 Earning Ratio dan Profitabilitas terhadap
(1), hal. 1-32. Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmu
Liputan 6 News. 2011. PPATK: Malinda Manajemen. 1 (1), 183-196.
Melakukan Pencucian Uang. Diunduh Roberson, Q. M., and H. J. Par. 2007.
tanggal 15 Maret 2015, Examining the Link between Diversity
http://berita.liputan6.com/read/329437/p and Firm Performance: The Effects of
patk-malinda-melakukan-pencucian- Diversity Reputation and Leader Racial
uang. Diversity. Group & Organization
Mardiyati, Umi, Gatot Nazir Ahmad dan Ria Management, 32 (5), 548-568.
Putri. 2012. Pengaruh Kebijakan Rustiarini, N. W. 2012. Corporate
Dividen, Kebijakan Hutang, dan Governance, Konsentrasi Kepemilikan
Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan dan Pengungkapan Enterprise Risk
Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Management. Journal Manajemen
Efek Indonesia periode 2005 - 2010. Keuangan, Akuntabilitas, 11 (2), 279
Jurnal Riset Manajemen Sains 298, ISSN 14120240.
Indonesia. 3 (1). Saint-Onge, H. 1996. Tacit Knowledge the
Maruca, R. F. 2004. The Right Way to Go Key to the Strategic Alignment of
Global: An Interview with Whirlpool Intellectual Capital. Strategy &
CEO. Harvard Business Review. 135- Leadership. 24 (2), 10-16.
145.
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45 44

Singh, I., and M. V. D. Zahn. 2007. Does Perusahaan Manufaktur Di Indonesia.


Intellectual Capital Disclosure Reduce Accounting Analysis Journal, 2(3): 286-
an IPOs Cost of Capital? The Case of 294.ISSN 2252-6765.
Underpricing. Journal of Intellectual Tahir, I. M, and A.R. Razali. 2011. The
Capital, 8 (3), 178-213. Relationship Between Enterprise Risk
Sir, J., Subroto, B., dan G. Chandrarin. 2010. Management (Erm) And Firm Value:
Intellectual Capital dan Abnormal Evidence from Malaysian Public Listed
Return Saham (Studi Peristiwa Pada Companies. International Journal of
Perusahaan Publik di Indonesia). Economics and Management Sciences,
Simposium Nasional Akuntansi XIII, 13. 1(2), 2011, 32-41.
Purwokerto: 13-14 Oktober. Tandelilin, E. 2010. Portofolio dan Investasi:
Solikhah, B., A. Rahman, dan W. Merianto. Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
2010. Implikasi Intellectual Capital Kanisius.
terhadap Financial Performance, Ulum, I., I. Gozhali, dan A. Chariri. 2008.
Growth dan Market Value: Studi Intellectual Capital dan Kinerja
Empiris dengan Pendekatan Simplistic Keuangan Perusahaan: Suatu Analisis
Specification. Paper dipresentasikan dengan Pendekatan Partial Least
pada acara Simposium Nasional Squares. Paper dipresentasikan pada
Akuntansi XIII, Purwokerto. acara Simposium Nasional Akuntansi
Stewart, A. M. 1998. Empowering People XI, Pontianak.
Pemerdayaan Sumber Daya Manusia. Van Horne, J. C. dan J. M. Wachowicz. 2005.
Yogyakarta: Kanisius. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan
Sudarmadji, A. M dan L. Sularto. 2007. Buku 1, Edisi 12. Jakarta: Penerbit
Pengaruh Ukuran Perusahaan, Salemba Empat.
Profitabilitas, Leverage, dan Tipe Wahidahwati. 2002. Pengaruh Kepemilikan
Kepemilikan Perusahaan terhadap Luas Manajerial dan Kepemilikan
Voluntary Disclosure Laporan Institusional pada Kebijakan Hutang
Keuangan Tahunan. Proceeding PESAT Perusahaan: Sebuah Perspektif Theory
(Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Agency. Jurnal Riset Akuntansi
Sipil), 2, 53-61. Indonesia, 5 (1), 1-16.
Sujoko, S. dan U. Soebiantoro. 2007. Pengaruh Wahyudi, U. dan H. P. Pawestri. 2006.
Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Implikasi Struktur Kepemilikan terhadap
Faktor Intern dan Faktor Ekstern Nilai Perusahaan dengan Keputusan
terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Keuangan sebagai Variabel Intervening.
Manajemen dan Kewirausahaan, 9 (1), Paper dipresentasikan pada acara
41-48. Simposium Nasional Akuntansi IX,
Sukamulja, S. 2004. Good Corporate Padang.
Governance di Sektor Keuangan: Wardhana, A. A. 2013. Pengaruh
Dampak GCG terhadap Kinerja Karakteristik Perusahaan terhadap
Perusahaan. Benefit: Jurnal Manajemen Tingkat Pengungkapan Risiko. Skripsi,
dan Bisnis, 8 (1), 1-25. Universitas Diponegoro.
Sveiby, K. E. 1997. The New Organizational Widarjo, W. 2011. Pengaruh Modal
Wealth: Managing and Measuring Intelektual dan Pengungkapan Modal
Knowledge Based Assets. San Francisco, Intelektual pada Nilai Perusahaan.
CA: Berrett Koehler. Paper dipresentasikan pada acara
Syahyunana. 2004. Manajemen Keuangan I Simposium Nasional Akuntansi XIV,
(Perencanaan, Analisis dan Aceh.
Pengendalian Keuangan. Medan: USU Yuniasih, N. W., D. G. Wirama, dan I. D. N.
Press. Badera. 2010. Eksplorasi Kinerja Pasar
Syifa, L. 2013. Determinan Pengungkapan Perusahaan: Kajian Berdasarkan Modal
Enterprise Risk Management Pada Intelektual (Studi Empiris pada
45 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2017, Vol. 14, No. 1, hal 20 - 45

Perusahaan Keuangan yang Terdaftar


di Bursa Efek Indonesia). Simposium
Nasional Akuntansi XIII, Purwokerto.