Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sesuai dengan ketentuan SOLAS Tahun 1974 amandemen 1995 bahwa
setiap kapal harus dilengkapi dengan alat-alat keselamatan dimana alat
keselamatan sangat penting sekali untuk penyelematan jiwa di laut. Alat
keselamatan itu dibedakan dari nama dan kegunaannya. Jumlah alat
keselamatan pada setiap kapal tidak sama tergantung dari jenis kapal itu
sendiri. Mengingat makin besarnya permintaan jasa transportasi laut pada
kapal barang maupun kapal penumpang sehingga awak kapal harus memiliki
keterampilan menggunakan alat-alat keselamatan. Apabila mereka mendapat
kecelakaan di laut maka dapat menolong diri sendiri maupun orang lain secara
cepat dan tepat. Salah satu unsur penting dalam kelancaran operasional sebuah
kapal adalah tersedianya perlengkapan alat-alat keselamatan sekoci penolong
di atas kapal, namun pada kenyataan masih terdapat kurangnya kesadaran
sebagian awak kapal untuk mempelajari dan memprktekkan alat-alat
keselamatan yang ada. Keselamatan sangat diperlukan di samping
kecakapan/keterampilan para awak kapal itu sendiri dengan ditetapkannya
Safety Management System (SMS) diharapkan sekoci penolong yang
merupakan salah satu alat keselamatan dapat berfungsi dengan baik.

B. Pokok Permasalahan
Salah satu alat keselamatan di atas kapal untuk menolong awak kapal
sewaktu terjadinya kecelakaan yang dapat mengancam jiwa di laut adalah:
sekoci peolong yang memenuhi syarat agar dapat dipergunakan setiap saat
baik dalam keadaan darurat maupun latihan-latihan. Namun, dalam
kenyataannya bahwa peranan alat keselamatan sekoci penolong di

1
MV. KARYA NUSANTARA 88 tidak sesuai dengan yang diharapkan seperti
apa yang Taruna alami dan ketahui sebagai berikut:
1. Latihan sekoci di kapal MV. KARYA NUSANTARA 88 belum dilakukan
secara optimal
2. Awak kapal belum disiplin dalam latihan meninggalkan kapal.

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan


1. Tujuan
a. Untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III bidang studi Nautika di
Sekolah Tinggi Maritim dan Transportasi AMNI Semarang.
b. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam usaha
mengembangkan dan meningkatkan wawasan serta kemampuan dalam
bidang keselamatan jiwa di atas kapal.
c. Untuk memotivasi taruna Bidang Study Nautika agar dapat / mampu
menuangkan gagasan atau ide yang propesional kepelautan dalam
bentuk karya tulis yang memiliki kemampuan berfikir secara ilmiah
dan bertindak secara profesional.
2. Manfaat
Manfaat dalam dunia akademik, karya tulis ini sangat bermanfaat
untuk meningatkan ilmu pengetahuan tentang kepelautan,khususnya bagi
para pembaca dan pelaut yang belum terlalu paham dengan pentingnya
pengetahuan tentang alat-alat keselamatan di atas kapal.
Manfaat dalam dunia praktis adalah sebagai bahan informasi bagi
rekan-rekan pelaut atau yang ingin bekerja di kapal, sekaligus referensi
ilmu pengetahuan untuk menambah wawasan dalam mengenal alat-alat
keselamatan di kapal.

2
D. Lingkup Bahasan
Seperti yang sudah dijabarkan pada latar belakang bahwa alat-alat
keselamatan cukup banyak di kapal MV. KARYA NUSANTARA 88 sehingga
permasalahan yang akan dihadapi sangat luas sehingga penulis membatasi
ruang lingkup dengan membahas:
UPAYA PENINGKATAN PENGOPERASIAN SEKOCI PENOLONG
SECARA AMAN DAN EFISIEN
DI KAPAL MV. KARYA NUSANTARA 88,
yang dalam hal ini sekoci penolong merupakan satu persyaratan keselamatan
sebuah kapal sebagai alat penyelamatan jiwa di kapal, tetapi karena
keterbatasan, Taruna hanya membahas tentang cara pemakaian serta latihan-
latihan pada sekoci penolong saat penulis berada di atas kapal.

E. Metode Pengumpulan Data


Dalam pelaksanaan pengumpulan data yang digunakan penulis dalam
membuat makalah ini dengan menggunakan metode sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data
Empiris atau pengalaman Taruna dalam mengumpulkan data-data, Taruna
memperoleh data berupa pengalaman langsung pada saat Taruna berada
di atas kapal MV. KARYA NUSANTARA 88 selama 12 bulan.
2. Metode Kepustakaan
Mempelajari buku-buku dan literatur-literatur yang relevan dengan
permasalahan yang di bahas baik dari buku buku yang terdapat di atas
kapal maupun dari media lain yang penulis dapatkan.
3. Hasil pendidikan di STIMART AMNI Semarang
Selama taruna mengikuti pendidikan teori di STIMART AMNI
Semarang dari semester I (satu) sampai dengan semester IV (empat).

3
BAB II
KONDISI SAAT INI

A. Latihan Keselamatan Tentang Sekoci Belum Sesuai Prosedur


Dalam kenyataannya di atas kapal MV. KARYA NUSANTARA 88, latihan
sekoci belum dilakukan secara maksimal. Ada juga kendala yang dihadapi
baik dari perwira maupun dari bawahan. Setiap sebulan sekali diadakan safety
meeting dengan diberikan pengarahan oleh nahkoda ataupun perwira senior.
Isi dari pengarahan sering sekali tentang cara latihan alat-alat keselamatan.
Prosedur penggunaan alat keselamatan terutama sekoci penolong dijelaskan
kadang kala pengarahan tidak tepat waktunya. Pernah safety meeting diadakan
tetapi pelaksanaan latihan menurunkan sekoci tiga hari kemudian awak kapal
akan lupa dengan apa saja yang dijelaskan oleh atasan. Kemudian dilakukan
latihan sekoci tetapi pada saat diadakan latihan ada saja kesalahan yang
dilakukan oleh awak kapal, baik itu pada saat berkumpul maupun saat
menurunkan sekoci.
Saat awak kapal berkumpul, perwira senior memanggil nama dari awak
kapal satu per satu dan perwira senior mengecek anggotanya menanyakan
tugas-tugas dan tanggung jawab juga peralatan apa saja yang harus dibawa.
Kekurangannya terletak pada manajemen dan pembagian tugas yang
masih simpang siur dengan adanya emergency plan yang tidak tegas.

B. Awak Kapal Belum Familiar dengan Alat-Alat Sekoci Penolong


Pada saat diadakan latihan sekoci di kapal MV. KARYA NUSANTARA 88
Taruna menemukan awak kapal dalam mengoperasikan sarana tersebut belum
juga lancar dan ceroboh. Mereka tidak memperhatikan keselamatan diri
sendiri dan juga keselamatan orang lain.

4
Awak kapal kadang kala tidak bisa menggunakan alat-alat yang ada pada
sekoci penolong. Mereka masih sulit dalam penggunaan alat-alat keselamatan
baik yang alat-alat tetap maupun yang biasa dibawa.
Para awak kapal belum semuanya mengenal alat-alat keselamatan yang
ada di dalam sekoci penolong dengan demikian awak kapal akan sulit untuk
familiar dengan alat-alat tersebut karena mereka tidak mengerti dengan
alatnya dan juga kurangnya latihan.
Alat-alat yang berada di luar sekoci yang berhubungan dengan
kelengkapan sekoci dan dewi-dewi. Awak kapal masih banyak yang masih
belum mengerti tentang alat-alat yang harus diperhatikan dalam latihan sekoci
sehingga untuk familiar saja akan sulit. Dimana alat-alat tersebut langsung
digunakan dalam menurunkan sekoci pada saat latihan dan saat darurat untuk
meninggalkan kapal dengan menggunakan sekoci penolong, alat tersebut
adalah:
1. Pin pengaman / Harbour safety pin
2. Tali lashing / Gripes
3. Tali penahan / Tricing pendant
4. Tali lopor / Boat fall
5. Motor penggerak sekoci / Life boat Winch
6. Tali penolong / Life line
7. Tali tangkap / Painter
8. Tangga lambung / Side ladder
Sebagian awak kapal ada yang sudah mengetahui alat tersebut tetapi dalam
penggunaannya mereka belum familiar. Awak kapal kadang kala sering salah
dalam penggunaannya dan tidak cepat bertindak ketika timbul masalah.
Dengan kurangnya pengetahuan tentang alat pendukung pada sekoci penolong
sehingga belum familiar sehingga kendala seperti ini yang dijumpai pada
kapal MV. KARYA NUSANTARA 88 saat Taruna berpraktek di atas kapal.

5
C. Kurangnya Keseriusan Awak Kapal dalam Latihan Sekoci
Kebanyakan Taruna menemukan penyebab dari kurang seriusnya Awak
kapal dalam latihan sekoci adalah kurangnya koordinasi di dalam persiapan-
persiapan yang akan dilakukan pada saat akan mengadakan latihan sekoci,
sehingga pada saat diadakan latihan keselamatan sekoci penolong awak kapal
ada yang tidak disiplin. Awak kapal sering terlambat datang ke tempat latihan
dan ada yang tidak menggunakan pakaian seragam seperti yang sudah
diberikan perusahaan. Saat akan diadakan latihan dimana tanda bahaya sudah
dihidupkan semua awak kapal berkumpul di tempat muster station dimana
awak kapal ada yang terlambat ke tempat latihan sehingga pelaksanaan latihan
sering menunggu awak kapal lainnya. Awak kapal yang terlambat ini
menyebabkan latihan tertunda beberapa menit. Awak kapal suka bercanda
pada saat latihan dan kadang-kadang bicara saat menurunkan sekoci. Setelah
ditegur oleh perwira barulah mereka diam.

6
BAB III
PERMASALAHAN

A. Latihan sekoci penolong belum dilaksanakan secara optimal


Latihan sekoci belum dilakukan secara optimal selama taruna berada di
atas kapal MV. KARYA NUSANTARA 88. Kebanyakan perwira kadang kala
tidak memberikan arahan kepada anak buah kapal mungkin saja mereka tidak
mengetahui masalah dalam keselamatan, sehingga takut untuk
mengutarakannya. Pelatihan yang diadakan di atas kapal biasanya satu bulan
sekali dari pengalaman Taruna pada saat kapal letgo jangkar di Selat Panjang
anchorage indonesia, pada saat kapal menunggu dua hari untuk sandar dan
kebetulan hari minggu sehingga tidak ada kegiatan baik bagian dek maupun
mesin. Perwira senior memberitahukan akan diadakan latihan sekoci penolong
setelah dibunyikan alarm tanda latihan sekoci. Ternyata ada beberapa awak
kapal yang tidak hadir untuk mengikuti latihan. Mereka yang tidak hadir
beralasan, ini kan hari libur bukan untuk latihan akan tetapi setelah di desak
barulah mereka mengikuti latihan dengan paksaan dan rasa kesal.

B. Alat-alat sekoci keselamatan tidak memiliki petunjuk penggunaan


Pada kapal MV. KARYA NUSANTARA 88 tidak semua petunjuk
penggunaan alat-alat keselamatan sekoci penolong dicantumkan pada tempat
tempat yang mudah dibaca prosedur menurunkan sekoci penyelamatan yang
benar ada diatas kapal akan tetapi sulit dibaca karena sudah buram. Bagi awak
kapal sulit juga untuk dimengerti apalagi yang baru naik kapal jika hal ini
dibiarkan maka port state control akan melihat seperti yang terjadi pada
kejadian di bawah ini.
Pada saat ini kapal masuk pelabuhan Sunda Kelapa sewaktu kapal sedang
membongkar muatan, Port State Control ( PSC ) mengadakan pemeriksaan
pada dek sekoci. Mereka menemukan gambar tentang cara menurunkan sekoci

7
tidak jelas atau buram, PSC menyarankan supaya diganti dengan yang baru
karena ini masalah keselamatan. PSC membuat catatan pada laporannya
bahwa ditemukan kesalahan, PSC memberikan peringatan untuk segera
diganti dengan yang baru akhirnya nakhoda memohon untuk diganti pada
pelabuhan berikutnya mengingat keterbatasan waktu.
PSC menyetujui supaya diganti pelabuhan berikutnya yaitu Selat Panjang.
Hal ini akan merugikan perusahaan dan awak kapal yang tidak cakap dan lalai
bisa saja diturunkan oleh PSC. Padahal nakhoda sudah mengingatkan pada
mualim dua supaya dibuat permintaan pada perusahaan.

C. Awak kapal belum familiar dalam penggunaan alat-alat sekoci


Ada beberapa awak kapal yang sudah tahu karena mendapatkan Basic
Training Safety ( BST ) sebelum naik kapal dan ada juga awak kapal yang
lainnya mungkin belum mendapatkan, tetapi hanya sertifikat saja pada saat
naik kapal dan sertifikat itu merupakan sertifikat palsu.
Familiriasi mengenai peralatan keselamatan sekoci penolong ataupun
tanggap darurat diberikan kepada awak kapal. Hal ini menjadikan salah satu
penyebab awak kapal yang baru bekerja di atas kapal lambat untuk beradaptasi
terhadap lingkungan kerjanya ataupun untuk memahami bidang bidang
tugasnya sebagai mana yang tercantum dalam muster list. Pengenalan
terhadap lokasi dan sifat sifat peralatan yang akan dioperasikan atau
digunakan dalam menghadapi situasi darurat belum diberikan kepada awak
kapal yang baru ditempatkan.
Alat keselamatan apabila salah dalam penggunaan akan berakibat
rusaknya alat keselamatan. Akibat yang ditimbulkan cukup fatal buat awak
kapal itu sendiri, karena itu menyangkut jiwa manusia. Kesalahan dalam
prosedur akan berakibat fatal seperti yang terjadi di kapal penulis.
Pada saat latihan orang jatuh kelaut Man Over Boat ( MOB ) dialakukan di
pelabuhan Bengkalis Indonesia, sekoci penolong diturunkan untuk
mengadakan latihan orang jatuh kelaut, dimana tim penyelamat sudah ada di

8
dalam sekoci akan diturunkan. Tiba tiba sekoci meluncur dengan sendirinya
tanpa ada perintah dari perwira senior.
Awak kapal yang berada di luar sekoci terkejut mengapa sekoci turun
tanpa komando dan secara mengejutkan seorang juru mudi itu bertugas
membuka pasak sekoci yang terdapat pada dewi dewi. Seandainya juru mudi
jatuh ke dek sekoci, akan berakibat fatal bisa jadi juru mudi itu kaki dan
tanganya patah.
Setelah diselidiki ternyata hand lever ditarik oleh juru minyak yang saat
itu berada di deck sekoci. Sebenarnya tugas untuk menarik hand lever tersebut
adalah perwira dek bukan juru minyak. Kurangnya pengawasan dari perwira
yang berada di dalam sekoci mengakibatkan hand lever ditarik oleh juru
minyak.

D. Latihan sekoci penolong sulit dilakukan saat serah terima jabatan


Pada saat serah terima jabatan antara yang sign on dengan yang off
waktunya sedikit sekali awak kapal yang turun kadang selalu terburu buru
dalam menerangkan apa yang menjadi tugas dia pada saat berada di kapal.
Awak kapal terlalu singkat menerangkan pada awak kapal yang baru. Cara ini
sama juga dengan cara di atas kapal karena pelatihan langsung oleh mereka
yang baru naik. Kejadian seperti ini pernah terjadi pada saat kapal letgo
jangkar di Selat Panjang. Pergantian empat orang awak kapal dua perwira dua
bawahan pergantian tersebut memang cukup singkat Kapal Letgo jangkar
pukul 08.00 waktu setempat dan berangkat pukul 12.00 waktu setempat
setelah itu kapal berangkat menuju Bengkalis Indonesia. Pada saat itu akan
sulit dilakukan latihan sekoci karena keterbatasan waktu sehingga awak kapal
yang baru naik akan sulit dlakukan latihan sekoci karena keterbatasan waktu
sehingga awak kapal yang baru naik akan kesulitan dalam memahami alat
alat penyelamat sekoci.

9
E. Tidak tepat waktu pada saat diadakan latihan
Dari Pengamatan penulis kadang kala awak kapal sering terlambat pada
saat diadakan latihan sekoci. bermacam alasan yang dibuat oleh awak kapal
karena terlambat datang. Ada yang tidak mendengar sirine, ketiduran, lagi
sibuk kerja dikamar mesin, sedang di kamar pendingin mengambil makanan.
Dari sini Taruna memberikan beberapa masalah yang pernah terjadi di kapal
penulis.
Pada waktu kapal berada di Bengkalis - Indonesia diadakan latihan sekoci
penolong. Pada waktu latihan di Bengkalis - Indonesia yang terlambat datang
ke muster station adalah koki, awak kapal yang lain sudah berkumpul kecuali
koki belum datang, kemudian juru mudi disuruh oleh perwira senior untuk
mencari koki. Beberapa menit kemudian dia datang setelah ditanya perwira
senior koki beralasan karena tidak mendengar tanda bahaya karena sedang di
kamar pendingin pada waktu mengambil daging.
Pada waktu latihan di Cirebon yang terlambat datang adalah juru minyak
A, setelah tanda bahaya dibunyikan awak kapal berkumpul di muster station.
Perwira senior menghitung ternyata juru minyak A tidak hadir, sekarang yang
disuruh mencari adalah juru minyak C dan setelah ditunggu beberapa saat juru
minyak A muncul setelah ditanya oleh KKM dia mengatakan bahwa dirinya
ketiduran.
Masih ada lagi masalah seperti diatas yang tidak bisa penulis ceritakan
satu persatu. Panulis hanya mengambil dua saja sebagai contoh sering
terlambatnya awak kapal saat latihan.

F. Kurang serius dalam latihan sekoci


Latihan dalam meninggalkan kapal selalu dilakukan di kapal. Awak kapal
memiliki tugas masing masing dalam sijil. Dalam latihan masih ada awak
kapal yang tidak serius dalam menghadapi latihan tersebut. Awak kapal
beranggapan bahwa latihan begitu terus sehingga yang dilakkan berulang
ulang bagi mereka merasakan kejenuhan. Kurang serius dalam latihan

10
sehingga awak kapal kurang memperhatikan latihan ini. Awak kapal yang jaga
seharian kadang merasa capek sehingga kelihatan lemas dan tidak ada tenaga.
Pada saat berkumpul ada awak kapal yang tidak disiplin dalam berpakaian.
Mereka tidak menggunakan baju kerja, sepatu kerja dan helm seperti yang
sudah diberikan perusahaan.
Dari ke enam indetifikasi masalah yang penulis uraikan di atas, penulis
mendapat satu masalah yang potensial dengan cara menggunakan Urgent,
Seriusness, Growth, ( USG ) tabel USG terdapat pada halaman berikut.
Dari satu buah masalah prioritas yang didapat melalui metode pendekatan
U.S.G, maka dapat di analisis faktor faktor penyebabnya

METODE PENDEKATAN U.S.G

No Masalah Analisis Nilai T Prioritas


U S G
Perbandingan U S G

Latihan AB A A B
Sekoci AC A A C
A Belum AD A A D 6 6 1 13 I
dilakukan AE A A E
secara AF A A A
optimal
Alat
keselamatan BC A A C
tidak B-D B B D 3 2 1 6 IV
B
memiliki B-E B E E
petunjuk BF B B F
penggunaan
C Awak kapal CD C C C
belum C-E C C E

11
familiar C C C 3 3 4 10 II
dalam
penggunaan C-F
alat alat
keselamatan
Latihan D D E
sekoci sulit D E D
dilakukan DE 2 1 3 6 V
D
pada saat DF
serah terima
jabatan
Tidak tepat E E E
waktu pada 1 3 5 9 III
E EF
saat dilakukan
latihan
Kurang Serius
F dalam latihan 0 0 1 1 VI
sekoci

Keterangan :
U (URGENCY) adalah : Masalah yang apabila tidak segera diatasi akan
berakibat fatal dalam jangka panjang.
S (SERIOUSNESS) adalah : Masalah yang apabila terlambat diatasi akan
berdampak fatal terhadap kegiatan tetapi berpengaruh terhadap jangka pendek
G (GROWTH) adalah : Masalah potensial untuk tumbuh dan berkembangnya
dalam waktu jangka panjang dan timbulnya masalah baru dalam jangka
panjang.

BAB IV
PEMBAHASAN

12
A. Masalah Prioritas
Latihan Sekoci Penolong Belum Dilakukan Secara Optimal

B. Penyebabnya:
1. Pengawasan dari Atasan Tidak Dijalankan termasuk perusahaan
sebagai pemilik kapal
Nahkoda tidak memberi pengawasan penuh kepada anak buah dalam
latihan sekoci. Nahkoda hanya memberikan wewenang pada perwira
senior saja dan nahkoda tidak ikut terlibat dalam kegiatan latihan sekoci,
mungkin saja perwira senior dapat mengatasinya. Perwira junior dan
bawahan menginginkan nahkoda ikut serta memberi pengarahan langsung
dan tgerlibat saat latihan. Sehingga untuk menilai awak kapal secara
langsung akan sulit karena nahkoda sendiri tidak ikut serta. Disamping
pengawasan dari Nakhoda yang kurang, juga sering didapatkan perusahaan
yang tidak terlalu perduli dengan hal-hal yang menyangkut keselamatan
ABK kapal, yang penting kapal bisa berlayar dan segera tiba di pelabuhan
tujuan.Yang paling terpenting buat perusahaan yang menjadi kendala buat
Awak kapal adalah tidak diberinya tanggapan atau tidak terlalu diindahkan
apabila Nakhoda melaporkan bahwa alat-alat keselamatan di kapal kurang
memadai atau kurang layak untuk berlayar.
2. Latihan Belum Terprogram dengan Benar
Latihan tidak dilakukan tanpa ada program yang teratur. Latihan yang
diadakan belum dilakukan secara serius, kadang-kadang hanya untuk
mengisi buku harian saja, jika dalam buku harian sudah tertulis maka
urusan akan beres. Kenyataan yang dihadapi tidak seperti yang tercantum
dalam buku harian, awak kapal tidak ada keseriusan dalam latihan sekoci
dan beranggapan itu hanya sebagai latihan bukan kenyataan.

C. Pemecahan Masalah

13
1. Pengawasan Dari Atasan Tidak Dijalankan termasuk perusahaan
1.1. Atasan Lebih Memperhatikan Anak Buah Dan Memberikan
Petunjuk.
Dorongan untuk perwira yang terlibat langsung pada operasional
menurunkan sekoci dibutuhkan sekali dan atasan yang terlibat
langsung dapat memberikan petunjuk yang lebih jelas karena atasan
terlibat langsung dilapangan dengan anak buah. Hal ini dapat
memberi dorongan pada nak buah dengan ikut serta pimpinan dalam
latihan sekoci. Anak buah akan merasa segan dengan hadirnya atasan
saat latihan sekoci sehingga mereka lebih terkendali. Setiap diadakan
latihan maka dorongan yang nyata dari seorang pemimpin akan
berdampak pada kelancaran setiap latihan.
Baik perwira dek maupun perwira mesin dapat mempelajari dengan
seksama prosedur menurunkan sekoci dengan benar. Untuk lebih
jelasnya Taruna akan menerangkan cara menurunkan sekoci yang
penulis dapatkan pada buku Modul Survival Craft And Rescue
Boat Badan Diklat Perhubungan Edisi Tahun 2009.
1) Periksa dan cabut harbour pin
2) Lepaskan lasing grips sekoci(periksa trigger)
3) Periksa tali penahan(tricing pendants)
4) Dengan mengangkat handel rem lengan dewi-dewi segera keluar
secara maksimum, blok lopor sekoci terlepas dari kait ujung
dewi-dewi. Selanjutnya sekoci bebas dari area sampai ke geladak
embarkasi.
5) Pasang bowsing tackal dan rapatkan sekoci kelambung kapal.
6) Lepaskan tricing pendants (dengan melepaskan pelican hook).
7) ABK segera naik / masuk sekoci.
8) Area bowsing tackal, lepaskan dari blok tali lopor dan lemparkan
kekapal.
9) Turunkan sekoci sampai dipermukaan air,perhatikan ombak.

14
10) Lepaskan ganco tali lopor (hook falls) dahulukan yang diburitan
atau bersamaan dan segera pasang kemudi dan celaga (rudder
and tiller).
11) Lepaskan / cabut pasak tali tangkap (toggel painter), kemudian
tarik tali tangkap untuk memberikan laju terhadap sekoci, tukang
ganco dihaluan segera menolak tangga atau lambung kapal agar
sekoci bebas dari lambung.
12) Dayung sekoci untuk menjauh dari kapal untuk menghindari
pengisapan kapal.
Adapun jika hendak menaikkan sekoci penolong pada kedudukan
semula, maka pekerjaan tersebut di atas bisa dilaksanakan sesuai
dengan urutan kebalikan dari keterangan untuk menurunkan sekoci
penolong.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu menurunkan sekoci
penolong antara lain:
- Orang yang berada dimuka dan dibelakang dewi-dewi harus
berhati-hati karena kemungkinan sekoci meluncur secara
mendadak yang dapat membahayakan.
- Pada saat sekoci meluncur,semua orang yang berada di sekoci
harus berpegangan pada tali monyet (life line) dan tidak berpindah-
pindah. Apabila sebagian lambung sekoci telah menyentuh air,
hempasan ombak dapat membahayakan orang yang berada di
sekoci, untuk itu harus berhati-hati.
- Sewaktu sekoci sedang meluncur kemungkinan sekoci dengan
kapal saling berbenturan, yang dapat mengakibatkan kerusakan
pada sekoci untuk itu disediakan fender.
- Siapkan tangga monyet dan jala-jala yang dipasang dengan kuat di
lambung kapal.
- Perhatikan petunjuk-petunjuk dari perwira.

15
1.2. Membuat Evaluasi Tentang Kemajuan Peserta Didalam
Pelatihan.
Nahkoda harus menunjuk salah satu perwira yang sesuai
untuk melaksanakan evaluasi sejauh mana latihan keselamatan
diselenggarakan sesuai dengan program-program pelatihan. Praktek
menghadapi situasi darurat atau pun praktek meninggalkan kapal
harus dilaksanakan sesuai dengan program dalam pelatihan.
Penyimpangan-penyimpangan harus dicatat, praktek latihan
meninggalkan kapal yang dilaksanakan secara teratur dapat mengacu
keefektifan dan kejelasan rancangan darurat serta dapat
meningkatkan kemampuan dan kedisiplinan awak kapal. Evaluasi
yang dilakukan akan dapat mengetahui sejauh mana perkembangan
awak kapal dalam melaksanakan pelatihan dapat ditingkatkan serta
mencari langkah-langkah yang diperlukan apabila terjadi
penyimpangan dalam praktek maka dapat diambil tindakan-tindakan
yang diperlukan untuk memperbaiki kinerja sekaligus menganalisa
sebab-sebab terjadi kesalahan dalam pelaksanaan latihan.
Pelatihan yang sudah dilakukan oleh awak kapal dapat
diberikan penilaian oleh nahkoda. Penilaian yang dihasilkan akan
berbeda pada setiap awak kapal dan nahkoda membuat kemajuan
dari masing-masing awak kapal di dalam pelatihan. Jika hasil dari
evaluasi tersebut kurang memenuhi atau terjadi kesalahan, nahkoda
dapat mencari dimana kesalahan itu, apakah kesalahan itu berasal
dari prosedur, kesalahan peralatan, atau kesalahan pada manusianya.

1.1 Memberikan Saran-saran atau masukan kepada perusahaan mengenai


pentingnya kelayakan alat-alat keselamatan
Nakhoda sebagai wakil perusahaan di atas kapal harus selalu
memberikan masukan kepada perusahaan apabila pihak perusahaan
belum terlalu paham dengan pentingnya kelayakan alat-alat

16
keselamatan di kapal terutama sekoci penolong. Didalam Kodifikasi
Manajemen Keselamatan International ( ISM code ) telah dijelaskan
dan di atur mengenai peranan perusahaan terhadap keselamatan
kapal dan jiwa ABK pada Bab IX bagian A-Implementasi 1.4
mengenai persyaratan fungsional untuk Sistem Manajemen
Keselamatan (SMK). Didalamnya telah disebutkan bahwa Setiap
perusahaan harus mengembangkan, mengimplementasikan dan
memelihara Sistem Manejemen Keselamatan yang meliputi
persyaratan fungsional berikut:
- Kebijakan keselamatan dan perlindungan lingkungan
- Petunjuk dan prosedur untuk memastikan keselamatan
pengoperasian kapal dan perlindungan lingkungan dalam
memenuhi hukum Internasional maupun negara bendera kapal
yang berkaitan
- Menentukan tingkat otoritas dan garis komunikasi antara dan antar
personil darat dan personil kapal
- Prosedur pelaporan kecelakaan dan ketidaksesuaian dengan
ketentuan kodifikasi ini.
- Prosedur untuk siap dan tanggap terhadap keadaan darurat dan
- Prosedur untuk audit internal dan tinjau ulang manajemen.
Apabila perusahaan menjalankan hal-hal tersebut diatas,
maka kecil kemungkinan pihak kapal tidak mengetahui akan tugas-
tugasnya dalam hal pengoperasian alat-alat keselamatan di kapal,
terutama pengoperasian Sekoci penolong.

2. Latihan Belum Terprogram Dengan Benar


Pemecahannya :
2.1. Membentuk Team Penanggung Jawab Dalam Menyusun
Keselamatan

17
Di dalam amandemen 1995 terhadap konvensi Internasional STCW 1978
khusus capter VI pada section A VI/I dan Section B VI/I telah di atur
mengenai Sijil Darurat.
Sijil Darurat memberikan perincian prosedur dalam keadaan darurat
seperti:
(1) Tugas-tugas khusus yang harus dilaksanakan dalam keadaan
darurat oleh setiap ABK
(2) Sijil darurat selain menunjukkan tugas khusus, harus pula
menunjukkan tempat berkumpul (kemana ABK harus pergi).
(3) Sijil darurat bagi setiap kapal penumpang harus di buat dalam
bentuk yang harus disetujui oleh pemerintah.
(4) Sebelum kapal berangkat, sijil darurat harus sudah dibuat dan
salinannya digantung dibeberapa tempat yang strategis di
kapal,terutama di kamar ABK.
(5) Sijil darurat harus menunjukkan pembagian tugas bagi ABK,
sehubungan dengan:
- Penutupan pintu kedap air,katup-katup penutup mekanis lubang-
lubang pembuangan,lubang-lubang tuang abu dan pintu
pembakaran.
- Melengkapi sekoci penolong (termasuk portable radio) dan alat-
alat penolong lainnya.
- Peluncuran sekoci penolong
- Persiapan umum alat-alat lainnya
- Meng-apel/menghimpun para penumpang dan
- Pemadam kebakaran
(6)Sijil darurat harus menunjukkan tugas-tugas khusus yang
dikerjakan oleh Steward departemen(koki,pelayan dll), meliputi:
- Memberikan peringatan kepada penumpang
- Memperhatikan apakah mereka telah berpakaian dengan layak
dan telah memakai lifejacket dengan benar.

18
- Meng-apel para penumpang di pos darurat.
- Mengawasi gerakan para penumpang dan memberikan
petunjuk di gang-gang atau di tangga.
- Yakin bahwa persediaan selimut telah dibawah ke sekoci
penolong.
Nakhoda dapat membentuk suatu team yang beranggotakan para perwira
senior dari bagian dek dan mesin yang bertanggung jawab dalam bidang
keselamatan. Team ditugaskan untuk menyusun program rancangan
latihan menghadapi situasi darurat dan latihan meninggalkan kapal.
Dengan adanya suatu rancangan yang terprogram dengan baik
diharapkan dapat menghilangkan kendala-kendala yang menyebabkan
suatu latihan tidak berlangsung sebagaimana yang dikehendaki.
Pelatihan yang sudah dilakukan oleh awak kapal dapat diberikan
penilain oleh nakhoda. Penilaian yang dihasilkan akan berbeda pada
setiap awak kapal dan nakhoda membuat kemajuan dari masing-masing
awak kapal didalam pelatihan. Jika hasil dari evaluasi tersebut kurang
memenuhi atau terjadi kesalahan, nakhoda dapat mencari dimana
kesalahan itu apakah kesalahan itu berasal dari prosedur, kesalahan
peralatan atau kesalahan pada manusianya. Dalam Solas 1974 Chapter 4
dijelaskan bahwa:
- Kesiapan sekoci penolong rakit penolong dan alat-alat apung
sekoci penolong harus dalam keadaan siap untuk digunakan
dimana harus dapat di turunkan ke air dengan selamat dan cepat,
sekalipun dalam keadaan trim yang tidak menguntungkan dan
kapal miring 15.
- Harus memungkingkan berhasilnya embarkasi ke dalam sekoci
penolong dan rakit penolong dengan cepat dan tertib.

Dalam latihan sekoci secara individual dimaksudkan untuk menguasai


bahkan memiliki segala aspek yang menyangkut karakteristik dari

19
pada penggunaan pesawat-pesawat penyelamat yang meliputi
pengetahuan dan keterampilan tentang latihan sekoci. Adapun
beberapa hal yang harus dimengerti oleh ABK secara individual sesuai
dengan Personal Safety And Social Responsibility Modul 4 antara lain
adalah:
- Alarm signal meninggalkan kapal (Abandon Ship).
- Lokasi penempatan life jacket dan cara pemakaian oleh awak kapal
dan penumpang.
- Kesiapan perlengkapan sekoci.
- Pembagian tugas awak kapal di setiap sekoci terdiri dari komandan
dan wakil komandan.juru motor,juru motor,juru mudi, membuka
lashing dan penutup sekoci.memasang tali air / kelih tiller / tali
monyet / prop / membawa selimut / log book / kotak P3K,
mengarea sekoci melepas ganco / tangga darurat / menolong
penumpang.

2.2. Membuat Jadwal Rencana Untuk Sosialisasi Prosedur Latihan


Dalam setiap bulan nahkoda dapat menentukan jadwal pada hari
tertentu untuk mengadakan tatap muka dengan para awak kapal untuk
membahas dan mensosialisasikan latihan-latihan. Agar lebih efisien
nakhoda yang didampingi oleh para perwira senior dapat membahas
kekurangan-kekurangan pada departemen, dalam pembahasan tersebut
sekaligus mensosialisasikannya dapat dimintakan masukan-masukan dari
setiap departemen terkait mengenai pelaksanaan garis-garis panduan
terutama yang menyangkut pada pelaksanaan latihan meninggalkan
kapal ataupun pada latihan menghadapi situasi darurat. Hal-hal yang
menjadi kendala dalam pelaksanaan latihan keselamatan dapat dibahas
sekaligus dicarikan solusinya. Di dalam ISM Code telah di atur
mengenai penjadwalan latihan-latihan yang akan di adakan di atas kapal.
Dalam hal latihan sekoci penolong adalah di adakan satu kali dalam

20
setiap bulannya dan ditentukan pada minggu keberapa latihan tersebut
harus diadakan. Hal ini berlaku pada kapal-kapal Niaga. Sedangkan pada
kapal penumpang, latihan-latihan sekoci diadakan setiap satu kali
perjalanan dan di peragakan di depan penumpang kapal. Apabila telah
dibuat penjadwalan tersebut, Nakhoda dan awak kapal tidak boleh
bergeser waktunya dari yang telah direncanakan.

21
BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan yang disampaikan pada bab-bab terdahulu, maka penulis
dapat membuat kesimpulan sebagai berikut:
1. Tidak dibuat evaluasi tentang kemajuan peserta di dalam pelatihan.
2. Tidak dibentuk team penanggung jawab dalam menyusun rancangan
latihan sekoci penolong.
3. Kurangnya petunjuk pneggunaan alat-alat keselamatan yang dimengerti
awak kapal.
4. Tidak dipelajari dengan seksama standar operasional prosedur
menurunkan sekoci.

B. SARAN
1. Sebaiknya nahkoda mengevaluasi langsung setiap diadakan latihan agar
dapat diketahui kemajuan peserta.
2. Seyogyanya nahkoda menunjuk perwira senior dibantu Mualim II sebagai
team penanggung jawab dalam menyusun rancangan pelatihan agar bila
diadakan pelatihan maka seluruh awak kapal dapat melakukan dengan
tepat waktu.
3. Seharusnya perwira senior dan mualim II mengganti petunjuk penggunaan
alat-alat sekoci keselamatan yang sudah rusak atau buram agar awak kapal
dapat mempelajarinya.
4. Sebaiknya nahkoda dan perwira senior memberikan motivasi atau
dorongan kepada seluruh anak buah kapal agar mempelajari dengan
seksama standard prosedur menurunkan sekoci.

22
DAFTAR PUSTAKA

PT. PELNAS PANDU HARAPAN, Buku Saku Pedoman Keselamatan-


Keamanan Kapal, 2012

IMO, Safety Of Life At Sea, Consolidated Edition Until 2002

IMO, STCW 1978 amandement 1995

Santoso Wahyudi, Prosedur Darurat & SAR,2013

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) (2002), Kamus Bahasa Indonesia


Edisi Ketiga. Balai Pustaka Jakarta. Jakarta

Danuasmoro Goenawan (2002), Manajemen Perawatan Kapal, BP3IP, Jakarta

23
LAMPIRAN LAMPIRAN
GAMBAR

24
25