Anda di halaman 1dari 18

KESEHATAN DAERAH MILITER JAYA/JAYAKARTA

RUMKIT TK.IV CIJANTUNG

PANDUAN CUCI TANGAN SABUN DAN AIR (HAND WASH)

DAN CUCI TANGAN DENGAN HANDRUB

RUMAH SAKIT TK. IV CIJANTUNG

2014
KESEHATAN DAERAH MILITER JAYA/JAYAKARTA

RUMKIT TK.IV CIJANTUNG

KEPUTUSAN KEPALA RUMAH SAKIT TK.IV CIJANTUNG

NOMOR: KEP/ / / 2014

TENTANG

PEMBERLAKUAN PEDOMAN, PANDUAN, DAN SPO INFEKSI NOSOKOMIAL

DI RUMAH SAKIT TK IV CIJANTUNG

KEPALA RUMAH SAKIT TK IV CIJANTUNG

Menimbang:

a. Bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 43 Undang-Undang Nomor 44 tentang


rumah sakit, perlu meneteapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang keselamatan
pasien rumah sakit.
b. Bahwa untuk terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatnya
akuntabilitas, menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), dan terlaksananya
program-program pencegahan, tidak terjadi pengulangan kejadian yang tidak
diharapkan, perlu menetapkan pemberlakuan pedoman, panduan, dan SPO infeksi
nosokomial di Rumah Sakit Tk. IV Cijantung.

Mengingat:

1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran.


2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.
3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan.
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang standar
pelayanan rumah sakit.
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar
pelayanan minimal rumah sakit.
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang rekam medis.
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang persetujuan
tindakan kedokteran.
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang
keselamatan pasien rumah sakit.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Pertama : Memberlakukan pedoman, panduan, dan SPO mencuci tangan dengan sabun
(handwash), SPO mencuci tangan dengan hand rub di Rumah Sakit Tk. IV
Cijantung.

Kedua : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan diadakan
perbaikan, perubahan.

Ditetapkan di Jakarta

Pada Tanggal: 2014

Kepala Rumah Sakit,

dr. Wiganda, Sp.B

Mayor Ckm NRP 11930097170669


BAB I

DEFINISI

Istilah infeksi nosokomial saat ini berubah menjadi infeksi yang berhubungan dengan sarana
pelayanan kesehatan (Healthcare Associated Infections). Untuk infeksi nosokomial di rumah
sakit, dipergunakan istilah infeksi rumah sakit (Hospital Infections). Healthcare Associated
Infections (HAIs) adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama proses perawatan baik itu di
rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Dalam Buku Panduan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas
Pelayanan Kesehatan lainnya, yang diterbitkan oleh DepKes RI 2007 disebutkan bahwa:

Rumah sakit harus memiliki IPCN yang bekerja purna waktu, dengan ratio 1 (satu)
IPCN untuk tiap 100-150 tempat tidur.
Satu orang IPCO setiap 5 (lima) orang IPCN.
Dalam bekerjanya seorang IPCN dapat dibantu oleh IPCLN dari setiap unit Rumah
Sakit Tk.IV Cijantung.

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di rumah sakit bertujuan melindungi pasien dari infeksi
rumah sakit seperti Infeksi Saluran Kemih (ISK), Infeksi Daerah Operasi (IDO), infeksi Luka
Infus (ILI), Pneumonia (HAP/VAP), dekubitus, bakteriemia, melindungi pasien dari infeksi
lain yang mungkin didapat sebagai akibat terjadinya kontak dengan pasien lain atau tenaga
kesehatan yang memiliki koloni atau terinfeksi kuman menular lain, melindungi tenaga
kesehatan, pengunjung, dan orang-orang yang berada di lingkungan rumah sakit
(siswa/mahasiswa/cleaning service) dari risiko terpajan infeksi.
BAB II

RUANG LINGKUP

A. RUANG LINGKUP
Pelaksanaan PPI di rumah sakit dikelola dan diintegrasikan antara tenaga struktural
dan fungsional dari semua departemen/instansi/divisi yang ada di rumah sakit yang
terdiri dari:
1. Panitia Infeksi Rumah Sakit
Ketenagaan dari panitia infeksi rumah sakit melibatkan unsur:
a. Dokter UPF Medikal/Non-Medikal.
b. Dokter UPF Kedokteran Forensik.
c. Dokter UPF Patologi Anatomi/Patologi Klinik.
d. Komite Keperawatan.
e. Instalasi Bedah Sentral/R.ICU/Gawat Darurat/Rawat Jalan.
f. Instalasi Farmasi, Kesehatan Lingkungan, Binatu/dan Gizi.
2. Infection Prevention and Control Officer/Doctor (IPCO/IPCD) Kriteria:
a. Dokter yang mempunyai minat dalam PPIRS.
b. Mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPIRS.
c. Memiliki kemampuan leadership.
3. Infection Prevention and Control Link Nurse (IPCLN) Kriteria:
a. Perawat dengan pendidikan minimal D3 dan memiliki sertifikasi
PPIRS.
b. Memiliki komitmen di bidang PPIRS.
c. Memiliki kemampuan leadership.
4. Infection Prevention and Control Nurse (IPCN) Kriteria:
a. Perawat dengan pendidikan minimal D3 Keperawatan dan memiliki
sertifikasi PPIRS.
b. Memiliki komitmen di bidang PPIRS.
c. Memiliki pengalaman sebagai kepala ruangan atau setara.
d. Memiliki kemampuan leadership, inovatif, dan confident, bekerja
purna waktu.
B. PANITIA INFEKSI RUMAH SAKIT
1. Tugas panitia infeksi rumah sakit adalah
a. Mengkoordinasikan dan membuat kebijakan, prosedur-prosedur
kerja/SPO yang berkaitan dengan program PPIRS.
b. Mengeluarkan rekomendasi, laporan data survailens yang relevan yang
berkaitan dengan infeksi rumah sakit kepada kepala Rumah Sakit
Tk.IV Cijantung.
c. Mengkoordinasikan Tim PPIRS.
d. Memberikan pelatihan kepada petugas kesehatan berkaitan dengan
upaya PPIRS.
e. Melaporkan kegiatan Panitia Infeksi Rumah Sakit kepada Kepala
Rumah Sakit Tk. IV CIjantung melalui Ketua Komite Medik dan
Komite Keperawatan.
2. Tugas Tim PPIRS
a. Melaporkan kebijakan/SOP yang dibuat oleh Panitia Infeksi Rumah
Sakit.
b. Melaporkan hasil kegiatan kepada Panitia Infeksi Rumah Sakit secara
berkala.
3. Infection Prevention and Control Officer/Doctor (IPC/IPCD)
a. Berkontribusi dalam diagnosis dan terapi infeksi rumah sakit yang
benar.
b. Turut menyusun pedoman penulisan resep antibiotika dan surveilans.
c. Mengidentifikasi dan melaporkan kuman patogen dan pola resistensi
antibiotik.
d. Bekerjasama dengan IPCN dan IPCLN dalam melakukan kegiatan
surveilans Infeksi Rumah Sakit.
e. Membimbing dan mengajarkan praktek dan prosedur PPIRS yang
berhubungan dengan prosedur terapi.
f. Turut memonitor cara kerja tenaga kesehatan dalam merawat pasien.
g. Turut membantu semua petugas kesehatan untuk memahami PPIRS.
4. Tugas Infection Prevention and Control Nurse (IPCN)
a. Melaksanakan tindakan PPIRS.
b. Membantu petugas kesehatan dalam melaksanakan asuhan pasien.
c. Memonitor sanitasi ruangan.
d. Bekerjasama dengan IPCO dalam surveilans Infeksi Rumah Sakit dan
mendeteksi Kejadian Luar Biasa (KLB).
e. Melatih dan mengajarkan masalah PPIRS kepada petugas kesehatan di
bawah IPCO.
f. Melakukan pengolahan data bulanan dan tahunan tentang Infeksi
Rumah Sakit.
g. Menganjurkan, mengingatkan cara pengambilan, penyimpanan, dan
pengiriman bahan pemeriksaan mikrobiologi.
h. Memprakarsai penyuluhan bagi petugas kesehatan, pengunjung, dan
keluarga tentang topik infeksi yang sedang berkembang di masyarakat
termasuk tentang infeksi dengan insiden tinggi.
5. Tugas Infection Prevention and Control Link Nurse (IPCLN)
a. Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilans setiap pasien di unit
kerja masing-masing kemudian menyerahkan kepada IPCN secara
berkala.
b. Memotivasi pelaksanaan kewaspadaan isolasi kepada setiap personil di
unit kerja masing-masing.
c. Melaporkan apabila terdapat kecurigaan adanya Infeksi Rumah Sakit
di unit kerja masing-masing kepada IPCN.
d. Berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi Infeksi Rumah Sakit, potensial
KLB, penyuluhan bagi pengunjung di unit kerja masing-masing.
BAB III

TATA LAKSANA

A. BATASAN-BATASAN INFEKSI NOSOKOMIAL

Istilah infeksi nosokomial saat ini berubah menjadi infeksi yang berhubungan dengan
sarana pelayanan kesehatan (Healthcare Assosiated Infection). Untuk infeksi nosokomial
di rumah sakit, dipergunakan istilah infeksi rumah sakit (Hospital Infection). Healthcare
Assosiated Infections (HAIs) adalah: infeksi yang terjadi pada pasien selama proses
perawatan baik itu di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dengan
kriteria:

1. Masa inkubasi terjadi selama proses perawatan


2. Infeksi yang didapat di rumah sakit tetapi muncul setelah pasien pulang
3. Infeksi yang terjadi pada petugas atau staf karena pekerjaan (occupational
infections)

Secara umum kriteria infeksi rumah sakit adalah:

Saat masuk RS tidak ada tanda atau gejala


Saat masuk RS tidak dalam masa inkubasi
Terjadi 3x24 jam setelah pasien dirawat
Infeksi pada lokasi sama tetapi mikroorganisme penyebab berbeda dari
mikroorganisme pada saat masuk RS atau mikroorganisme penyebab sama tetapi
lokasi infeksi berbeda

B. KEADAAN YANG BUKAN INFEKSI RUMAH SAKIT


1. Kolonisasi adalah keadaan terdapatnya invasi kuman dalam tubuh, tumbuh dan
berkembang biak, tetapi tidak disertai adanya respon dari tubuh dan gejala klinis.
2. Peradangan adalah keadaan sebagai reaksi jaringan terhadap cedera atau stimulasi
benda yang tidak infeksius, seperti bahan kimia.
Faktor-faktor resiko terjadinya infeksi rumah sakit
a. Faktor pasien, yaitu:
Usia: bayi baru lahir dan lanjut usia
Hereditas: pada individu yang mempunyai suseptibikitas tertentu terhadap
infeksi
Tingkat Stress: sifat, jumlah dan durasi stressor fisik atau emosional dapat
mempengaruhi kemungkinan seseorang mendapat infeksi
Status Nutrisi
Terapi: radiasi, kemoterapi, terapi invasif, obat anti inflamasi, dll
Penyakit: penyakit-penyakit yang menurunkan mekanisme pertahanan
tubuh
b. Faktor Mikroorganisme
Konsentrasi dan virulensi kuman yang tinggi
Adanya jenis kuman baru atau yang sudah kebal terhadap antibiotika yang
lazim dipakai
c. Faktor Lingkungan
Sanitasi lingkungan yang kurang baik

C. RANTAI PENULARAN INFEKSI


D. KEWASPADAAN ISOLASI

Pedoman isolasi terbaru diterbitkan oleh CDC (Central for Disease Control and
Preventions) pada tahun 1994 dan direvisi kembali pada tahun 1997 yaitu:

1. Kewaspadaan standar (Standart Precautions)


Kewaspadaan lapis pertama ini merupakan kombinasi antara kewaspadaan
universal (Universal Precautions) dan isolasi cairan tubuh (body substance
isolations) yang bertujuan untuk menurunkan resiko penularan dari infeksi yang
sudah atau belum diketahui dan diperlakukan untuk semua pasien apapun
diagnosanya.
Prinsip Kewaspadaan Standar:
Adalah darah dan semua jenis cairan tubuh, sekret dan ekskreta (kecuali keringat
dan air mata), kulit yang tidak utuh dan membran mukosa/selaput lendir, semuanya
potensial untuk menularkan infeksi.
Penerapan/Pelaksanaan Kewaspadaan Standar:
1. Hand hygiene
2. Menggunakan Alat Pelindung Perorangan (APP) ketika akan bersentuhan
dengan darah, cairan tubuh (sekret/ekskreta), kulit yang tidak utuh dan
membran mukosa
3. Penanganan alat-alat pasien dan linen yang terkontaminasi oleh darah dan
cairan tubuh pasien
4. Pencegahan dari tertusuk jarum/benda tajam habis pakai (needlestick/sharp
injuries)
5. Pembersihan lingkungan
6. Pengelolaan sampah/limbah dengan benar
2. Kewaspadaan Berdasarkan Penularan (Transmission Based Precautions)

Ditujukan untuk pasien yang terbukti atau diduga nerpenyakit menular atau
yang secar epidemiologis mengidap kuman patogen yang memerlukan lebih dari
kewaspadaan standar untuk mencegah transmisi silangnya. Terdiri dari:

1. Kewaspadaan penularan lewat udara (airbone precautions)


2. Kewaspadaan penularan lewat droplet (droplet precautions)
3. Kewaspadaan penularan lewat kontak (contact precautions)
Jenis-jenis kewaspadaan ini pada pelaksanaannya dapat juga berupa
kombinasi, apabila suatu penyakit mempunyai beberapa cara penularan dan setiap
tipe merupakan tambahan terhadap kewaspadaan standar.

3. Kewaspadaan Penularan Lewat Udara (Airbone Precautions)


Didesain untuk mengurangi transmisi penyakit yang dapat menular melalui
udara
Transmisi lewat udara terjadi ketika partikel yang dikeluarkan berukuran <5
mikron. Partikel tersebut berada lama di udara
Contoh penyakit: TB Paru aktif, varisella, campak
Kewaspadaan yang dibutuhkan:
Laksanakan kewaspadaan lapis pertama (kewaspadaan baku)
Tempatkan pasien pada ruangan tersendiri (single room) yang mempunyai
aliran udara bertekanan negatif (ruangan bertekanan negatif) yang
termonitor. Udara yang dikeluarkan dari ruangan tersebut harus di filter
tingkat tinggi sebelum beredar diseluruh rumah sakit
Setiap orang yang memasuki ruangan tersebut harus menggunakan masker
khusus (contoh N 95)
Batasi transportasi pasien untuk hal-hal yang perlu saja. Selama transportasi
pasien, gunakan masker (masker bedah)
4. Kewaspadaan Penularan Lewat Droplet
Transmisi secara droplet terjadi apabila terdapat kontak antara membran
mukosa hidung, mulut, atau mata dari penderita yang rentan dengan sejumlah
besar partikel droplet (berukuran >5 mikron)
Partikel droplet biasanya menyebar dari pasien saat batuk, bersin, berbicara atau
ketika petugas melakukan prosedur seperti suctioning
Contoh penyakit: pneumonia, difteri, influenza tipe b, meningitis
Kewaspadaan yang dibutuhkan:
Laksanakan kewaspadaan lapis pertama (kewaspadaan baku)
Tempatkan pasien dalam ruangan tersendiri (single room), apabila tidak
tersedia tempatkan pasien bersama pasien lainnya dengan mikroorganisme
aktif yang sama (kohorting) dengan jarak tempat tidur 1-2 meter
Pergunakan masker (masker bedah) ketika bekerja dalam jarak 1-2 meter
dari pasien
Batasi transportasi pasiem untuk hal-hal yang perlu saja, selama
transportasi pasien menggunakan masker (masker bedah)
Penanganan udara dan ventilasi secara khusus tidak diperlukan.
5. Kewaspadaan Penularan Lewat Kontak (Contact Precautions)
Penyakit yang dapat ditransmisikan secara kontak meliputi infeksi-infeksi kulit,
usus serta kolonisasi atau infeksi dengan organisme yang resisten terhadap
berbagai antibiotika.
Kewaspadaan yang dibutuhkan:
Laksanakan kewaspadaan lapis pertama (kewaspadaan baku)
Tempatkan pasien dalam ruangan tersendiri (single room), apabila tidak
tersedia tempatkan pasien bersama pasien lainnya dengan mikroorganisme
aktif yang sama (kohorting)
Pergunakan sarung tangan, jubah yang bersih (non steril) ketika memasuki
ruangan pasien/kontak dengan pasien dan permukaan lingkungan
Batasi pemindahan pasien untuk hal-hal yang perlu saja

E. KEBERSIHAN TANGAN (HAND HYGIENE)


1. Pengertian :
Melakukan cuci tangan (hand washing) yang bisa menggunakan air atau tanpa air
(cuci tangan kering) / handbrush, penggunaan antiseptik untuk cuci tangan.
Cuci Tangan (Hand Washing):
Hand washing is the simple and most cost-effective way of preventing the
transmission of infection and thus reducing the incidence of health care
associated infections (pratical guidelines for infections control in health care
facilites, WHO 2009).
Mikroorganisme (Flora) Tangan :
1. Flora Transien
Diperoleh melalui kontak dengan pasien, petugas kesehatan lain atau
permukaan (meja periksa, lantai atau toilet) selama bekerja
Flora ini tinggal dilapisan luar kulit dan terangkat sebagian dengan cuci
tangan pakai sabun biasa dan air mengalir serta dapat dihilangkan dengan
cuci tangan aseptik dan cuci tangan bedah
Contoh: Eschercia Coli
2. Flora Residen
Tinggal dilapisan kulit yang lebih dalam serta didalam folikel rambut dan
dapat dikurangi dengan cuci tangan bedah
Contoh : Coagulase negative staphylococci

Kapan melakukan cuci tangan :

1. Setelah bersentuhan dengan darah, cairan tubuh pasien baik sekret maupun
ekskreta, kulit yang tidak utuh dan membran mukosa
2. Diantara kontak pasien yang berbeda
3. Sebelum dan sesudah melakukan tindakan/prosedur
4. Diantara berbagai tindakan/prosedur yang sama pada satu pasien tetapi dengan
area tubuh yang berbeda. (Untuk menghindari kontaminasi silang)
5. Sebelum dan setelah memakai sarung tangan
6. Segera setelah keluar dari toilet dan membersihkan sekresi hidung
7. Sebelum makan
8. Sebelum meninggalkan ruangan/rumah sakit

5 (LIMA) SAAT MELAKUKAN PERAKTEK MEMBERSIHKAN TANGAN


2. Fasilitas dan Material Yang Dipergunakan Untuk Mencuci Tangan
1) Air mengalir
Air yang dipergunakan tidak boleh berkontaminasi
Apabila air terkontaminasi gunakan air yang telah didihkan selama 10
telah menit dan disaring guna menghilangkan partikel kotoran (jika
diperlukan) atau mendisinfeksi air dengan cara menambahkan larutan
sodium hipoklorit dengan konsentrasi 0,001 %
Apabila air mengalir tidak tersedia pergunakan antiseptik untuk cuci
tangan kering (handrub) misal campuran 100 cc Alkohol 60%-90% (70%)
dan 2 cc gliserin 10%
2) Sabun : sabun biasa atau sabun antimikroba
3) Antiseptik :
Klorheksiden glukonat 2% - 4% (Hibiscrub, Hibitane)
Klorheksiden glukonat dan cetrimide dalam berbagai konsentrasi (Savlon)
Triklosan 0,2% - 2%
Kloroksilenol 0,5% - 4% (dettol)
4) Pengering tangan setelah cuci tangan
Handuk kertas, apabila tidak ada keringkan tangan dengan udara atau
membawa handuk kecil / sapu tangan pribadi dan cucilah setiap hari.
Tidak dibenarkan menggunakan handuk secara bersama-sama
3. Persiapan-Persiapan Sebelum Melakukan Cuci Tangan
Lepaskan perhiasan (cincin, gelang), jam tangan
Kuku harus dipotong pendek
Gulung lengan baju sampai diatas sikut
4. Prosedur Cuci Tangan yang menggunakan air (cuci tangan basah)
1. Prosedur Cuci Tangan Rutin/higienis
- menggunakan sabun, sebaiknya sabun cair dan mengalir
2. Prosedur Cuci Tangan Aseptik/Prosedural
- menggunakan antiseptik dan air mengalir
- dilakukan ketika akan melakukan tindakan-tindakan antiseptik
3. Prosedur Cuci Tangan Bedah
- Menggunakan antiseptik dan air mengalir
- Dilakukan ketika akan melakukan prosedur pembedahan
5. Prosedur Cuci Tangan Rutin/Higienis
1. Posisi tangan lebih tinggi dari sikut
2. Basahi tangan dengan air
3. Taruh sabun dibagian telapak tangan yang telah basah
4. Gosok kedua telapak tangan
5. Gosok kedua punggung tangan
6. Gosok sela-sela jari tangan
7. Gosok kedua kuku-kuku jari tangan bergantian
8. Gosok kedua ibu jari tangan bergantian
9. Gosok kedua ujung jari tangan bergantian
10. Gosok kedua pergelangan tangan bergantian
11. Keringkan dengan handuk kertas / handuk kain sekali pakai
12. Tutup kran dengan perantara sikutangan
6. Prosedur Cuci Tangan Aseptik/Prosedural
Sama dengan cuci tangan rutin hanya sabun diganti dengan antiseptik dan
setelah cuci tangan tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril
Tangan dibasahi sampai dengan setinggi pertngahan lengan bawah

CUCI TANGAN DENGAN SABUN & AIR


Prosedur Cuci Tangan Kering (tanpa air) / Handrub
Menggunakan antiseptik berbasis alkohol (etil / isopropil alkohol ) ditambah
emolien ( gliserin, glikol propilen atau sorbitol )untuk melembabkan kulit
Antiseptik untuk handrub tidak menghilangkan kotoran atau zat organik,
sehingga jika tangan sangat kotor atau terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh
harus mencuci tangan dengan sabun dan air terlebih dahulu
Untuk mengurangi penumpukan emolien pada tangan setelah pemakaian
antiseptik untuk handrub yang berulang, tetapi diperlukan mencuci tangan
dengan sabun dan air, biasanya setiap 5 10 kali aplikasi handrub
Handrub yang berisi alkohol sebagai bahan aktifnya, memiliki efek residual
yang terbatas dibandingkan dengan berisi campuran alkohol dan antiseptik
seperti klorheksiden
Kapan Melakukan Handrub ?
1. Pada kondisi dimana fasilitas cuci tangan sulit dijangkau/tidak memadai. Sehingga
handrub merupakan alternatif pengganti cuci tangan yang menggunakan air (cuci
tangan basah)
2. Saat ronde diruangan yang memerlukan antiseptik tangan
Antiseptik untuk Handrub
Rumah sakit Tk. IV cijantung membuat formula untuk handrub (sesuai yang dianjurkan oleh
CDC) dan telah dilakukan uji coba tingkat kenyamanan dalam pemakaian yaitu :
Alkohol 70 % 100 cc + Gliserin 10 % 2cc.
CUCI TANGAN DENGAN ANTISEPTIK BERBASIS ALKOHOL
BAB IV

DOKUMENTASI

Melakukan monitoring pelaksanaan pencegahan infeksi (penerapan kewaspadaan


baku) di masing-masing unit/ruangan dengan prioritas kebersihan tangan dan penggunaan
APD dan menganalisis kepatuhan mencuci tangan berdasarkan volume hands rub yang
digunakan terhadap jumlah pasien serta petugas. Melakukan monitoring kejadian luka
tusukan benda tajam/jarum bekas pakai. Monitoring hasil sterilisasi yang dilakukan oleh
CSSD. Monitoring kebersihan lingkungan dan mutu baku sumber air dilakukan oleh instalasi
kesehatan lingkungan. Membuat laporan tertulis hasil kegiatan surveilans harian infeksi
rumah sakit setiap bulan dan disampaikan kepada Kepala Rumah Sakit TK. IV Cijantung
melalui bidang perencanaan dan evaluasi. Membuat laporan tertulis hasil kegiatan surveilans
daftar tilik pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit kepada komite medik dan
komite keperawatan rumah sakit.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada Tanggal : Desember 2014

Kepala Rumah Sakit TK. IV Cijantung

Dr. Wiganda Sp.B

Mayor Ckm NRP