Anda di halaman 1dari 4

Sebagai tambahan, infuse Magnesium sulfat intravena saat anastesi spinal dilaporkan

meningkatkan postoperative analgesia dan mengurangi penumpukan konsumsi analgesic


setelah hip replacement arthroplasty total [25]. Hasil yang sama pernah diamati oleh Agrawal et
al [26]. Penggunaan infuse Magnesium sulfat intravena paskaoperasi juga meningkatkan waktu
untuk kebutuhan analgesik dan mengurangi total konsumsi dari analgesik setelah anastesi
spinal [27].

Sebuah studi yang mengamati efek dari infuse intravena dengan Magnesium sulfat intrathecal
selama spinal anastesi pada pasieng yang menjalani bedah hip arthroplasty total. Para penulis
menyarankan bahwa kedua intravena infuse dan injeksi intrathecal Magnesium sulfat
meningkatkan analgesia postoperative. Sebagai tambahan infuse intravena Magnesium sulfat
menyebabkan hipotensi relative dan menurunkan kehilangan darah [28].

Peran epidural anastesi: Arcioni et al. mengamati bahwa intrathecal dan epidural Magnesium
sulfat memberikan potensi dan menyebabkan prolong blok motorik. Para penulis ini
menyimpulkan bahwa pada pasien yang menjalankan bedah ortopedi, suplementasi pada
anastesi spinal yang dikombinasi dengan intrathecal dan epidural Magnesium sulfat secara
signifikan mengurangi kebutuhan penggunaan analgesic postoperative pada pasien.
Magnesium menyebabkan chanel NMDA dalam arus yang berkaitan dan menghasilkan reduksi
arus NMDA [29]. Magnesium sulfat sebagai tambahan pada bupivacaine epidural menambah
durasi analgesi [30,31]

Peran pada anastesi blok: sebagai tambahan dari pentingnya lokasi reseptor NMDA, reseptor
ini telah diketahui sebagian. El Shamaa et al. mengamati bahwa campuran Magnesium sulfat
dengan bupivacaine lokal selama anastesi blok pada femoral menyebabkan penambahan
durasi pada blok sensorik dan motorik, juga mengurangi skor nyeri secara signifikan dan dosis
penuh atas penyelamatan analgesia dengan rasa nyeri yang dapat ditoleransi pada awal
postoperative [32]. Magnesium mempengaruhi syaraf perifer dengan mempengaruhi
pengeluaran neurotransmiter pada celah synaptic atau memberikan potensi untuk lokal anastesi
[2]. Hassan et al. mengevaluasi efek dari Magnesium sulfat sebagai tambahan dalam
memberikan potensi efek analgesi bupivacaine blok paravertebral dalam mastectomy radikal
yang dimodifikasi dan menyimpulkan penambahan Magnesium sulfat dalam bupivacaine
menghasilkan efek analgesi yang lebih efisien dengan opioid-sparing and menurunkan vomitus
dan nausea postoperative pada 24 jam pertama [33]. Goyal et al. menyimpulkan bahwa
penggunaan dosis kecil magnesium pada axillary sheath saat analgesi plexus brachialis
menghasilkan waktu yang lebih lama dalam menurunkan rasa nyeri atas penggunaan analgesia
postoperative tanpa efek samping yang besar [34].

Untuk mengurangi respon hipertensi atas intubasi

Magnesium telah diketahui atas kegunaan untuk memenuhi respon kardivaskular terkait dengan
intubasi trakea [35,36]. Laryngoscopy dan intubasi trakea menyebabkan pengeluaran
katekolamin endogen yang meningkatkan tekanan darah dan nadi dengan gejala sisa yang
mungkin seperti perdarahan intrakanial dan MCI. Magnesium dapat dijadikan parameter
stabilisasi kardiovaskular dan mencegah hipertensi saat intubasi. Efek ini dapat menjadi
bermakna pada kasus hipertensi pada kehamilan. James et al. mempelajari kadar katekolamin
post intubasi dan akibat dari intubasi pada nadi dan tekanan darah pada percobaan terkontrol
secara acak atas Magnesium 60 mg/kg vs. 0.9% normal saline yang diberikan sebelum
intubasi. Kadar noradrenalin secara signifikan lebih tinggi pada grup yang terkontrol
dibandingkan pada mereka yang menerima magnesium dan peningkatan kadar ini bertahan
selama 5 menit paska intubasi. Tekanan nadi sedikit meningkat atas pemberian magnesium
namun kemudian tetap stabil selama intubasi. Grup yang terkontrol menunjukkan peningkatan
yang signifikan pada nadi dan tekanan darah [37].

Dalam pheochromocytoma

Magnesium telah ditandai sebagai antiadrenergic. Menambahkan hal ini, efek vasolidatasi dan
antiaritmia dari magnesium telah menyebabkan penggunaan magnesium pada operasi
pheochromocytoma [5].

Peran dalam obstetrics dan anastesi obstetric

Magnesium mempunyai peran penting dalam treatment pada pasien inpartu dengan implikasi
yang penting bagi dokter anastesi. Magnesium telah digunakan untuk terapi krisis hipertensi
akut terutama pada manajemen pheochormocytoma dan hipertensi pada kehamilan.
Magnesium juga digunakan untuk manajemen pada PEB dan mencegah kejang eklampsi, yang
dipertimbangkan sebagai standar terapi. Magnesium mencegah atau mengkontrol kejang
dengan menyumbat transmisi neuromuskular dan menurunkan pengeluaran asetilkolin pada
syaraf motorik. Efek hipertensi dari magnesium sebagai golongan calcium channel blocker.
Penggunaan magnesium sebagai neuroprotector pada janin, mencegah terjadinya cerebral
palsy pada bayi baru lahir, tanpa diragukan lagi untuk tetap meningkat [38]. Magnesium
digunakan untuk persalinan prematur. Magnesium memiliki efek yang menguntungkan bagi
hemodinamik maternal dan uteroplacental pada preeklampsi [5].

Sebagai tambahan pada general anastesi, Lee and Kwon dalam studinya mengamati bahwa
penggunaan intravena magnesium 45 mg/kgBB sebelum induksi anastesi, menyebabkan
hemodinamik yang lebih stabil dan menurunkan terjadinya gangguan kesadaran [39]. Akan
tetapi, pretreatment dengan Magnesium sulfat tidak menurukan kadar cardiac troponin I pada
pasien preeclampsia yang menjalani operasi caesar menggunakan anastesi spinal [40].

Peran dalam anastesi cardiac

Lingkup relevansi khusus pada bidang anastesi yaitu aritmia dan operasi jantung. Ini sangat
berguna sebagai anti-aritmia agent. Ini sangat berguna dalam perawatan ventricular aritmia
yang berhubungan dengan MCI akut, sindrom QT memanjang dan keracunan digitalis [5].
Terdapat resiko yang tinggi atas penggunaan mangnesium bedah CABG dengan CPB.
Hypomangesmia ini mempercepat aritmia jantung dan vasokonstriksi baik arteri koroner
maupun penggunaan mammary graft yang mencetuskan aritmia. Suplementasi magnesium
dapat menstabilisasi sel membrane miokard dan mengembangkan efek cardioprotective
terhadap artimia. Selama bedah CABG, kombinasi magnesium dan lidokain bolus setelah
intubasi dan diikuti dengan pemberian infuse dapat mengurangi reperfusi VF sebanyak 62%
dan pada post-CPB artimia ventrikel sebanyak 70%. Penambahan magnesium telah
menstabilkan sel membran myocardial dan memberikan efek kardioprotektif terhadap
ventricular aritmia [42]. Pemberian magnesium sebelum operasi, menginduksi myocardial
ischemia dan pada saat reperfusi myocardial muncul untuk mengurangi post-ischemic
myocardial tetapi bila diberikan setelah reperfusi myocardial dimulai tidak menghasilkan efek
yang menguntungkan [43].

Menajemen tremor

Magnesium sulfat diketahui sangat efektif dalam manajemen tremor postoperative yang timbul
setelah general anastesi dan anastesi spinal [44,45]. Elsonbaty et al. menemukan bahwa
Magnesium sulfat efekti dalam mengontrol tremor dan diharapkan bahwa Magnesium sulfat
dapat menggantikan meperidine sebagai terapi untuk tremor selama anastesi spinal dengan
efek samping yang rendah efek anti tremor dimungkinkan karena blocking dari reseptor NMDA
dan menyebabkan penurunan noraprinephrine dan 5 HT dimana keduanya memiliki peran
dalam kontrol termoregulasi. Magnesium sulfat merupakan pilihan yang menarik untuk
mengontrol tremor karena hipomagnesia diamati selama induksi hipotermia. [45]. Ibrahim et al.
lebih lanjut mengamati bahwa pemberian infus Magnesium sulfat sebagai profilaksis pada
spinal anastesi menurunkan angka kejadian tremor [46].

Relaksasi otot

Magnesium menyebabkan aksi non-depolarisasi neuromuskular blocker dengan menghambat


pengeluaran asetilkolin dari saraf motorik akhir. Magnesium juga menurunkan sensitifitas
membran postjunction dan menurunkan pengeluaran dari serabut saraf. Sebagai hasil dari
dikuranginya dosis non-depolarisasi muscle relaxants sangat disarankan apabila Magnesium
sulfat digunakan [2].

Terdapat perbedaan implikasi klinis kemungkinan relaksasi oto oleh Magnesium sulfat.
Pertama, Magnesium sulfat dapat digunakan sebagai tambahan intubasi trakea. Kim et al.
mengamati bahwa Magnesium sulfat ketika dikombinasi dengan rocuronium priming,
meningkatkan efek intubasi yang lebih cepat jika dibandingkan baik dengan magnesium sendiri
atau penggunaan priming tersebut [47]. Karena efek penggunaan obat atau penyakit, terkadang
pasien menunjukkan perlawanan terhadap non-depolarisasi muscle relaxants. Pada kasus ini
magnesium dapat digunakan secara efektif. Kim et al. melaporkan asam valproat dapat
menurunkan durasi rocuronium menghasilkan peningkatan penggunaannya, namun
peningkatan ini terpenuhi oleh pemberian magnesium [48]. Anak-anak dengan cerebral palsy
juga menunjukan resistensi pada non-depolarisasi muscle relaxants. Kebutuhan recuronium
secara siginifikan menurun pada pasien yang diberikan magnesium [49]. Lebih lanjut,
pretreatment dengan Magnesium sulfat berkaitan dengan berkurangnya fasikulasi yang
ditimbulkan oleh suksinilkolin.

Peran magnesium pada perawatan kritis

Kekurangan magnesium ditemukan 65% pada pasien dewasa dan 30% pada neonates dalam
ICU sebagaimana dibandingkan dengan 11% dalam pasien rawat inap. Magnesium digunakan
pada kasus gagal nafas, hipertensi pulmonal neonates dan tetanus [5].
Banyak factor yang menyebabkan kekurangan magnesium pada pasien perawatan kritis. Factor
tersebut termasuk gangguan absorpsi GI, nasogastric suction, kurangnya formula pemberian
magnesium atau TPN solution, pemberian obat-obatan diuretics, aminoglycosides,
amphotericin-B yang menyebabkan pengeluaran magnesium melalui ginjal [50].

Hypomagnesemia dikaitkan dengan peningkatan mortalitas pasien yang kritis lebih pada pasien
dengan sepsis, diabetes dan gangguan eletrolit lainnya.

Mortalitas

Safavi et al. mengamati tingginya angka mortalitas pada pasien hipomagnesemia dibandingkan
pada normonagnesemia pasien (55% vs 35%) [51]. Limaye et al. mengamati bahwa angka
mortalitas pada pasien hipomagnesemia 57% lebih tinggi dibandingkan pada 31% pasien
normomagnesemia. Tingginya angka mortalitas pada pasien hipomagnesemi dijelaskan oleh
gangguan elektrolit khususnya hipokalemia dan cardiac aritmia dan hubungan kuat atas
hipomangesemia dengan sepsis maupun syok septic. Kebutuhan dan lama penggunaan
ventilasi secara signifikan lebih tinggi pada pasien hipomagnesemia [52].

Sepsis dan diabetes

Hipomagnesia umumnya dikaitkan dengan peningkatan pengeluaran endotelin dan sitokin


proinflamasi sehingga menyebabkan sepsis. Terdapat hubungan kuat antara hipomagnesia
dengan resisten insulin. Suplementasi magnesium menyebabkan penurunan kebutuhan insulin.

Abnormalitas elektrolit lainnya

Hipomagnesemia umumnya dikaitkan dengan abnormalitas elekrolit lainnya seperti


hipokalmeia, hipofosfatemia, hiponatremia, dan hipokalsemia. Hipokalemia terlihat pada pasien
hipomagnesia relative refrakter pada suplementasi kalium sampai kekurangan magnesium
tersebut terkoreksi. Keadaan ini terkait dengan kerusakan aktivitas membrane ATPase dan juga
disebabkan karena meningkatnya kehilangan kalsium renal akibat hipomagnesemia.
Mekanisme hubungan antara hipokalsemia dengan hipomagnesemia berkaitan dengan adanya
defek pada sintesis dan pengeluaran hormon paratiroid selain itu adanya resisten pada organ.
Sebagai tambahan, kekurangan magnesium dapat secara langsung mempengaruhi
pengurangan kalsium tulang terlepas dari paratiroid hormone. Hipokalsemia yang berkaitan
dengan deplesi magnesium juga sulit dikoreksi kecuali magnesium deplesi itu sendiri terkoreksi
[52].

Kesimpulan

Magnesium sulfat, obat yang sangat tua, pertama kali digunakan pada pasien preeclampsia,
cardiac aritmia, dan asma bronkiale, saat ini telah dipergunakan sebagai obat anestesi dan obat
analgesic pelengkap dalam praktek anestesi. Terdapat perkembangan dalam peranan
magnesium pada pasien kritis dimana magnesium telah menunjukkan pengurangan angka
mortalitas diberbagai studi, terutama pada pasien dengan sepsi dan diabetes.